P. 1
IMUNISASI ANAK materi (5-6)

IMUNISASI ANAK materi (5-6)

|Views: 58|Likes:
Dipublikasikan oleh xiaou123
macam - macam imunisasi pada anak
macam - macam imunisasi pada anak

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: xiaou123 on Mar 04, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/27/2013

pdf

text

original

IMUNISASI ANAK

IMUNOLOGI

Imunologi : ilmu yg mempelajari tentang sistem imun / kekebalan tubuh. Pengenalan, memori, serta kespesifikan terhadap benda asing merupakan inti imunologi Konsep dasar Respon Imun : Reaksi terhadap sesuatu yang asing. Kata imun berasal dari bahasa Latin „immunitas‟ yang berarti pembebasan (kekebalan) Kemudian berkembang sehingga pengertiannya berubah menjadi perlindungan terhadap penyakit, dan lebih spesifik lagi, terhadap penyakit menular.

…IMUNOLOGI
Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman penyakit atau racunnya, yang masuk ke dalam tubuh.  Imunitas adalah keadaan menjadi imun, atau perlindungan tertentu, tidak rentan terhadap efek invasif atau efek patogenik mikroorganisme asing

 

 

Imun dihasilkan sebagai respon terhadap penolakan antigenik. Bersifat resisten terhadap penyakit karena pembentukan antibodi humoral atau perkembangan imunitas selular atau keduanya atau dari hasil mekanisme lainnya, seperti aktivitas interferon pada infeksi virus. Ditandai dengan oleh perkembangan antibodi humoral atau imunitas selular atau keduanya setelahpenolakan antigenik Pemicunya disebut dengan antigen Antigen yaitu substansi yg mampu merangsang respon imun, berupa bahan infeksiosa biasanya berbentuk protein atau karbohidrat, atau lemak. Antigen akan berkontak dengan sel tertentu, memacu serangkaian kejadian yang mengakibatkan destruksi, degradasi atau eliminasi.

Apabila seseorang secara imunologis terpapar pertama kali dengan antigen kemudian terpapar lagi dengan antigen yang sama, maka akan timbul respon imun sekunder yang lebih efektif.  Reaksi tersebut dapat berlebihan dan menjurus ke kerusakan individu mempunyai respon imun yang menyimpang.

bahkan pada dunia  .IMUNISASI Difinisi Imunisasi : suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang menjadi aktif terhadap suatu antigen. sehingga bila nanti terpajan antigen yang serupa tidak menjadi penyakit.  Tujuan  Mencegah terjadinya penyakit pada seseorang  Menghilangkan penyakit pada populasi.

rubela. virus. atau komponennya yang dibuat tidak aktif  Vaksin tak hidup dan tak dapat tumbuh sehingga seluruh dosis antigen dimasukkan dalam suntikan  Membutuhkan dosis multipel . polio. Inactivated: bakteri. Live attenuated :bakteri atau virus liar yang dilemahkan  Virus: campak. gondongan.MACAM IMUNISASI Macam imunisasi: 1. rotavirus  Bakteri: BCG dan tifoid oral 2.

botulinum  Polisakarida murni: pneumokokus. kolera  Fraksional: Hepatitis B. hepatitis A  Seluruh bakteri inactivated: pertusis.IMUNISASI TIDAK AKTIF Seluruh sel inactivated: influenza. tetanus. Haemophilus influenzae tipe b  . Haemophilus influenzae tipe b  Gabungan polisakarida: pneumokokus . tifoid-vi  Toksoid: difteri. meningokokus. influenza. tifoid. pertusis aseluler. rabies. polio suntikan.

TATA-CARA PEMBERIAN IMUNISASI Sebelum divaksinasi  Memberitahukan orangtua risiko vaksinasi dan risiko bila tidak divaksinasi  Periksa persiapan penangangan KIPI  Teliti vaksin dan minta persetujuan orangtua  Anamnesis dan periksa kondisi kesehatan anak  Adakah kontra indikasi pada pasien  Periksa vaksin dan pastikan dalam kondisi baik  Sesuaikan jadwal imunisasi dengan vaksin. tawarkan imunisasi berikutnya  Berikan imunisasi dengan teknik yang benar .

…TATA CARA Setelah pemberian imunisasi:  Berikan petunjuk pada orang tua mengatasi reaksi imunisasi yang timbul  Catat dalam rekam medis pribadi dan catatan klinis  Berikan obat penurun panas bila perlu .

PENYIMPANAN DAN TRANSPOR VAKSIN Vaksin disimpan pada tempat khusus dengan temperatur 2-80C dan tidak beku  Lemari pendingin tak boleh untuk menyimpan makanan atau minuman  Vaksin dibawa dengan menggunakan kotak khusus dengan pendingin ( cold chain)  .

PROSEDUR PENGGUNAAN VAKSIN Keluarkan vaksin kaduluarsa dari lemari pendingin  Keluarkan vaksin hanya saat akan digunakan dan segera dikembalikan setelah selesai.  Vaksin yang sudah terbuka atau sedang dipakai diletakkan di wadah khusus  Vaksin BCG yang sudah dipakai. setelah pemeriksaan harus dibuang  Vaksin polio oral dapat dipakai beberapa kali pemeriksaan  Vaksin campak dan MMR yang sudah dilarutkan dibuang setelah 8 jam  Vaksin Hib yang sudah dilarutkan dibuang dalam 24 jam  .

MENGENALI KONDISI VAKSIN Tanggal kadaluarsa  Warna cairan (polio kuning oranye)  Kejernihan  Endapan  Warna vaccine vial monitor  Kerusakan label  Sisa vaksin yang sudah dilarutkan  .

UJI KOCOK VAKSIN .

VAKSIN VIAL MONITOR .

JADWAL IMUNISASI IDAI .

varisela. MMR. tifoid. BCG. rotavirus dan HPV  . pneumokokus. hepatitis A. Polio. DPT dan campak  Wajib untuk semua bayi  Imunisasi dasar Imunisasi yang dianjurkan: Haemophillus influenzae tipe b (Hib). influenza.PROGRAM IMUNISASI  Program Pengembangan Imunisasi (PPI):  Hepatitis B.

B-Hepavac II. Engerik-B  . suntikan ke II dan ke III 6 bulan dari suntikan I  Vaksin yang beredar di Indonesia: Hevac-B. Hepaccine. Hepa-B.HEPATITIS B Dosis 0.5 ml intramuskular di deltoid atau paha anterolateral  Usia vaksinasi: sejak lahir  Vaksinasi diberikan 3 kali. Jarak suntikan I dan ke II 1-2 bulan.

sejak lahir – 3 bulan  Lokasi suntikan deltoid kanan  Vaksin hindari dari paparan sinar matahari.05 ml intradermal. simpan dengan suhu 2-80C.BCG Vaksin hidup  dari Myco Bacterium Bovis  Dosis 0.  Buang setelah 3 jam diencerkan  Vaksinasi tidak mencegah infeksi tuberkulosis tapi mengurangi infeksi berat (meningitis dan tuberkulosis milier)  Proteksi 8-12 minggu pasca suntikan  Efek proteksi 0-80%  . tidak boleh beku.

satu tahun setelah polio-4.POLIO Ada 2 kemasan vaksin:  Oral polio vaksin (OPV): vaksin hidup yang dilemahkan.5 ml  Jadwal: saat lahir (polio-0)  Imunisasi dasar ( polio-2.6 bulan  Imunisasi ulangan. selanjutnya saat masuk sekolah (5-6 tahun)  .4) usia 2. o. suntikan. oral.3.4. 2 tetes  Inactivated polio vaccine ( IPV): in-aktif.

DTP Jadwal : Imunisasi primer 3 kali sejak usia 2 bulan dengan interval 4-8 minggu ( usia 2.6 bulan)  Ulangan booster DTP-4 satu tahun setelah DTP-3 yaitu usia 18-24 bulan.5 ml intramuskular  Pemberian dapat dikombinasikan dengan hepatitis B.4. dan DTP-5 saat masuk sekolah usia 5 tahun. Hib. dan IPV sesuai jadwal  .  Dosis : 0.

CAMPAK Vaksin diberikan satu dosis 0.5 ml sub-kutan pada usia 9 bulan  Vaksin setelah dilarutkan hanya stabil 6-8 jam  Imusisasi campak dosis kedua dapat diberikan pada usia masuk sekolah SD kelas 1 dalam program BIAS. ulangan campak SD kelas 1 tak diperlukan  .  Bila telah mendapat imunisasi MMR usia 15-18 bulan dan ulangan umur 6 tahun.

5 ml intramuskular Vaksin dibuang setelah 24 jam dilarutkan Perlu diulang usia 18 bulan Bila anak datang usia 1-5 tahun berikan hanya 1 kali saja       . 4 dan 6 bulan .HIB  Haemophylus influenzae tipe b (Hib) merupakan bakteri Gram negatif Tujuan. mencegah infeksi meningitis dan pneumonia Jadwal vaksinasi: usia 2. ulangan diberikan satu tahun setelah suntikan terakhir Dosis: 0.

GONDONGAN DAN RUBELA (MEASLES. RUBELLA = MMR) Dosis: 0.5 ml IM atau subkutan dalam  Usia: 12-18 bulan  Rekomendasi: tetap diberikan meski ada riwayat infeksi campak. gondongan dan rubela atau imunisasi campak  Harus diberikan pada anak dengan riwayat kejang atau keluarga pernah kejang. MUMPS.  .CAMPAK.

meningitis. bakteriemia. 4. 6 bulan dan diulang usia 1215 bulan  Minimal dimulai usia 6 minggu  Interval dua dosis 4-8 minggu  . dan invasive pneumococcal disease (IPD) di tempat lain  Ada 2 jenis vaksin:  Pneumokokus polisakarida (PPV 23)  Pneumokokus polisakarida konjugasi (PCV)  Pemberian usia 2.PNEUMOKOKUS Tujuan: mencegah imunisasi invasif pneumonia.

ROTAVIRUS Live attenuated  Pemberian secara oral dalam kemasan  2 dosis pada umur 6-12 minggu dengan interval 8 minggu  .

25 ml dan > 3 tahun 0.INFLUENZA Berasal dari virus yang tidak aktif  Dosis: < 3 tahun 0.5 ml.  Bila usia anak >9 tahun berikan satu kali saja. tiap tahun.  Secara intramuskular di otot deltoid pada dewasa dan anak lebih besar.  . kemudian di imunisasi ulang tiap tahun.  Bila usia ≤ 8 tahun diberikan 2 dosis dengan interval 4 minggu. teratur. paha anterolateral pada bayi .

individu imunokompromais serta remaja ≥ 13 tahun dan dewasa memerlukan 2 dosis dengan interval 1-2 bulan.  Usia pemberian: diatas 1 tahun  Dosis: 0. defisiensi imun.5 ml subkutan  Kontra indikasi : demam tinggi.VARISELA Vaksin virus hidup yang dilemahkan 0  Disimpan pada suhu 2-8 C  Setelah dilarutkan 30 menit harus dibuang  Anak hanya perlu 1 dosis.  . dalam penghobatan steroid dosis tinggi.

HEPATITIS A Vaksin berasal dari virus yang dimatikan  Usia: ≥ 2 tahun  Pemberian vaksin 2 kali . suntikan kedua diberikan 6-18 bulan setelah yang pertama  Imunogenisitas baik  .

DEMAM TIFOID Ada 2 vaksin: o o Vaksin demam tifoid oral (Ty-21a) Vaksin polisakarida parenteral .

3.5 dan 7 satu jam sebelum makan dengan minuman bersuhu < 370C  Kapsul harus ditelan utuh  tak tahan asam lambung  Tak bersamaan dengan antibiotik. sulfonamid atau anti malaria  Imunisasi diulang tiap 5 tahun  Daya proteksi 50%-80%  .VAKSIN DEMAM TIFOID ORAL Terbuat dari Salmonella typhi galur non patogen yang dilemahkan 0  Disimpan pada suhu 2-8 C  Kemasan kapsul untuk usia ≥ 6 tahun  Cara pemberian:  1 kapsul pada hari ke 1.

jangan beku  Kadaluarsa dalam 3 tahun  Imunisasi diulang tiap 3 tahun  Daya proteksi 50%-80%  .5 ml intramuskular atau subkutan 0  Disimpan pada suhu 2-8 C.VAKSIN DEMAM TIFOID PARENTERAL Dosis 0.

2 dan 6 bulan  .5 ml intramuskular pada daerah deltoid  Jadwal  Vaksin bivalen  0. 1 dan 6 bulan  Vaksin kuadrivalen  0.HUMAN PAPILOMA VIRUS (HPV) Imunisasi diperuntukkan untuk anak perempuan usia > 10 tahun  Dosis: 0.

DPT  Panas sore hari setelah mendapatkan imunisasi.EFEK SAMPING IMUNISASI    BCG (limfadenitis TB) Pembengkakan kecil dan merah di tempat suntikan 2 minggu setelah imunisasi . . bengkak dan sakit. tetapi akan turun dalam 1 – 2 hari.  Anak menangis terus menerus Campak Panas disertai kemerahan yang timbul 4 – 10 hari setelah penyuntikan. seterusnya timbul bisul kecil dan menjadi luka parut.  Di tempat suntikan merah. namun tidak berbahaya dan akan sembuh sendiri.

 Kehamilan “live-attenuated vaccines” tidak boleh diberi  .  Keadaan imunodefisiensi merupakan kontraindikasi kepada “live-attenuated vaccines”sahaja. “Killed vaccines” boleh diberi.KONTRAINDIKASI IMUNISASI Demam karena sakit serius.

Imunisasi ditangguhkan sehingga 3 bulan selepas habis rawatan. penyakit Hodgkin‟s dan sebagainya. (iv) rawatan dengan kortikosteroid seperti Prednisolone 2 mg/kg/hari untuk > 7 hari atau dos rendah/sederhana tiap-tiap hari untuk > 2 minggu. lymphoma. Imunisasi ditangguhkan sehingga 6 bulan selepas habis rawatan. (iii) rawatan imunosupresif dan radiasi. Imunisasi ditangguhkan sehingga 6 bulan selepas habis rawatan. .KEADAAN IMUNODEFISIENSI    (i) sakit imunodefisiensi yang diwarisi (ii) leukemia.

KONTRAINDIKASI SPESIFIK BCG – Jangkitan HIV yang bersimptomatik  Pertussis penyakit neurologikal yang progresif seperti infantile spasms  Rubella – Kehamilan  Campak  Anafilaksis terhadap protein telur  .

KONTRA INDIKASI BCG Reaksi uji tuberkulin > 5 mm  Menderita HIV atau dengan risiko tinggi HIV. menderita penyakit keganasan  Menggunakan kortikostreroid. obat imunosupresif. sedang dalam pengobatan radiasi  Gizi buruk  Demam tinggi  Menderita infeksi kulit luas  Pernah sakit tuberkulosis  Hamil  .

sawan kerana demam. bisul dan kurap Berat lahir yang rendah Malnutrisi Penyakit neurological yang tidak progresif seperti palsi serebrum. sawan yang terkawal serta sindrom down. perkembangan lewat. Penyakit kulit seperti eczema. diare.BUKAN INDIKASI KONTRA IMUNISASI             Demam rendah < 38. kekurangan G6PD Sejarah penyakit campak tanpa bukti serologi Ibu mengandung (melainkan vaksin rubella) Sejarah keguguran dalam ibu-ibu yang mengandung (ATT) Jangkitan HIV (rujuk kepada BCG) Riwayat epilepsi di dalam keluarga Penyakit jantung congenital . Ikterus neonatorum.5 C disebabkan oleh sakit biasa seperti batuk. flu.

intoleransi.FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFEK SAMPING   Unsur kuman dari vaksin maupun zat-zat tambahan  Reaksi-reaksi tersebut dapat sebagai akibat dari efek farmakologi. atau semata-mata kejadian yang timbul secara kebetulan .  Reaksi alergi adalah reaksi yang timbul akibat kepekaan seorang anak yang berhubungan dengan faktor genetik (keturunan). efek samping. Unsur non vaksinnya sendiri Kesalahan tehnik pembuatan. reaksi idiosinkrasi dan reaksi alergi. pengadaan dan distribusi vaksin. kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan imunisasi. interaksi obat.

segera atau lambat. dapat terjadi 4-24 jam setelah imunisasi. .  Episode hipotonik/hiporesponsif juga tidak jarang terjadi.000 dosis DPT  Anak yang lebih besar dan orang dewasa lebih banyak mengalami sinkope.KIPI   KIPI adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa satu bulan setelah imunisasi. yang diduga ada hubungannya dengan pemberian imunisasi. KIPI  Reaksi anafilaksis (paling berat  angka kejadian diperkirakan 2 dalam 100.

Campak.eksisi dapat dianjurkan.PENANGANAN MASALAH PASKA IMUNISASI   BCG-itis  luka tidak perlu diobati cukup dibersihkan atau dikompres dengan air hangat atau larutan fisiologis NaCl. sudah terjadi bentuk sinus. Operasi pengambilan kelenjar tidak perlu dilakukan. hasilnya tidak memuaskan. atau kelenjarnya multipel. Eksisi lebih diindikasikan pada kosmetik yaitu mencegah pecahnya kelenjar secara tidak beraturan     Insisi pada limfadenitis BCG tidak dianjurkan.  Tipe limfadenitis non-supuratif.  Eksisi dilakukan apabila dengan aspirasi tidak menunjukkan hasil yang baik. DPT. Limfadenitis BCG  Isoniasid (INH) . bila panas atau rewel diberikan obat penurun panas dan berikan kompres dingin. pada tipe supuratif. eksisi tidak dianjurkan. bila timbul panas atau rewel berikan obat panas .

PENANGANAN MASALAH ….5°C diberi antipiretik atau analgesik Osteomielitis  Osteomielitis adalah proses inflamasi atau peradangan tulang. tingginya tekanan jaringan dan pembentukan involukrum (pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan tulang mati). respons jaringan terhadap inflamasi.  Masalah kronis yang akan mempengaruhi kualitas hidup  antipiretik atau analgesik sejenis paracetamol atau NSID lainnya. Menangis menjerit yang terus menerus (3jam) diberi antipiretik atau analgesik .    Demam tinggi >38.  Sulit disembuhkan karena terbatasnya asupan darah.

dermatitis.PENANGANAN MASALAH …. Gejala ini dalam beberapa saat akan membaik.. edema dalam keadaan tertentu dapat diberikan antihistamin. takikardia. . antipiretik atau analgesik Artralgia bila mengganggu diberi antipiretik atau analgesik sejenis paracetamol atau NSID lainnya Reaksi alergi: urtikaria. sebaiknya tidak diberikan kortikosteroid.     Neuritis brakhial diberi vitamin neurotropik . Syok anafilaksis adalah suatu syndroma klinis yang ditandai dengan adanya hipotensi. pucat. perubahan status mental. kulit yang dingin. hiperventilasi. penurunan produksi urine yang diakibatkan oleh reaksi anafilaksis. basah.

4.1. 7. 2.25 ml sk Monitor pernafasan dan hemodinamika Berikan suplemen oksigen . 6. Penanganan Syok anafilaksis: Baringkan penderita dalam posisi tidur terlentang dengan tungkai lebih tinggi dari kepala pada alas yang keras Bebaskan jalan nafas Tentukan penyebab dan lokasi masuknya bahan alergen Bila masuk melalui ekstremitas pasang torniquette Berikan Adrenalin 1 : 1000 sebanyak 0. 3. 5.

Berikan Aminophillin 5 – 6 mg/ kg BB Iv bolus diikuti 0. Bila berat berikan Adrenalin 1 : 100.sebanyak 2.4 – 0.Berikan cairan infus dengan berpedoman pada kadar hematokrit 13.25 ml intra muskuler 9.5 – 5 ml intra vena 10. Untuk kasus yang sedang berikan Adrenalin 1 : 1000 sebanyak 0.9 mg/kg BB/ menit per drip ini untuk bronchospasme yang persisten 12.8.Bila tidak membaik rujuk ke institusi yang lebih tinggi .Bila vena colaps berikan Adrenalin sub lingual atau trans tracheal 11.Monitor hemodinamika dan pernafasan 14.

UJI MANTOUX (TUBERKULIN) .

.

Imunisasi tidak sama dengan vaksinasi  Imunisasi: transfer antibodi secara pasif  Vaksinasi: pemberian vaksin (antigen) yang dapat merangsang pembentukan imunitas (antibodi) dari sistim imun di dalam tubuh  .

bila pasien kontak sudah tenang bayi dapat diberikan BCG .KIPI vaksinasi BCG  Limfadenitis Sembuh sendiri tanpa diobati  BCG-itis diseminata Berhubungan dengan imunodefisiensi berat  Rekomendasi  BCG diberikan usia <2 bulan  Bayi yang kontak erak dengan penderita TB dengan bakteri tahan asam +3 berikan INH profilaksis.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->