Anda di halaman 1dari 14

What Triggers Financial Crisis

Manajemen Tresuri Ekaputra SE, MM]


Jubilant Arda Harmidy Harry Pascal Pardede Sofyan Harris 0806480025 0806480334 0806480201

Dosen : Edgar

ABSTRACT Krisis Financial dapat terpicu oleh berbagai macam faktor, baik itu faktor poitik maupun ekonomi.

Table of Contents
WORKS CITED..........................................................................14 WORKS CITED..........................................................................14

I. Pendahuluan Sistem finansial merupakan kumpulan institusi dan pasar yang menyediakan intermediasi keuangan melalui transfer saving menjadi investasi yang produktif. Krisis finansial dapat terlihat pada disintermediasi yang cepat pada institusi dan pasar yang disebabkan oleh kepanikan. Misalnya pada flight to quality dimana deposan/penabung/investor melakukan likuidasi asset pada lembaga keuangan disebabkan karena meningkatnya perceived risk, dan memindahkannya ke asset yang lebih aman seperti mata uang asing dan obligasi asing dalam negara yang memiliki ekonomi yang terbuka, atau emas dan obilgasi pemerintah dalam ekonomi tertutup. Manifestasi utama dari krisis finansial dapat terlihat pada kegagalan perbankan, jatuhnya pasar modal dan krisis mata uang yang dapat membawa kepada resesi. Krisis keuangan yang membawa kepada resesi dapat berdampak negative terhadap iklim usaha karena pertumbuhan GDP yang negative atau flat, krisis dalam sektor perbankan, Bank tidak mau meminjamkan dananya, Investor mencari save havens untuk investasinya, destruksi yang besar terhadap kekayaan akibat jatuhnya harga asset, jatuhnya profitabilitas perusahaan, inflasi yang tinggi disebabkan naiknya harga-harga komoditas. Secara umum krisis finansial dapat digambarkan sebagai situasi dimana institusi finansial atau aset finansial kehilangan nilai ekonomisnya. Menurut sejarah, krisis finansial sudah terjadi sejak terbentuknya kemasyarakatan. Dua ekonom terkemuka dalam bidang sejarah krisis finasial Carmen Reinhart dan Kenneth Rogoff dalam makalahnya mengatakan bahwa sovereign default ( default hutang publik ) adalah bentuk awal dari sebuah krisis sebelum abad 18. Dan setelah abad ke 18 bentuk krisis finansial (Reinhart & Rogoff, 2009). melibatkan baik default hutang publik maupun default hutang privat yang mengakibatkan perbankan menjadi bangkrut Reinhart dan Rogoff juga mengklasifikasikan hyperinflation dan penurunan nilai mata uang sebagai bentuk dari krisis finansial. Bahkan menurut hasil penelitian kedua ekonom tersebut penurunan nilai mata uang sudah terjadii pada masa kekaisaran Romawi. Krisis finansial yang pertama kali ter-register secara formal adalah krisis yang dinamakan tulipmania atau tulipomania yang terjadi pada pada tahun 1630an (Doug, 2006). Peristiwa ini terjadi pada periode the Dutch

Golden Age, dimana harga tulip pada satu waktu sangat tinggi sekali yang kemudian secara tiba tiba harga jatuh. Tulipmania juga dianggap sebagai peristiwa economic bubble yang pertama kali terjadi. Krisis finansial yang nyata terjadi pada tahun 1929 pada masa The Great Depresion. Masa tersebut merupakan masa penting dalam sejarah dimana Inggris dan Pernacis sebagai negara industri terbesar merasa terancam dengan kehadiran negara industri baru yaitu Jerman. Krisis tersebut terjadi karena perubahan standarisasi uang dari emas menjadi hanya uang kertas tanpa jaminan. Ketika itu teori full employment tidak berjalan dan runtuh, salah satu sebabnya ketika itu para ekonom hanya menganggap uang sebagai alat transaksi. Bersamaan dengan itu muncul teori John Maynard Keynes yang menganggap bahwa negara masih memiliki peranan yang sangat penting untuk tetap turut campur dalam perekonomian. Krisis finansial dapat mengakibatkan resesi ekonomi yaitu kontraksi pada suatu siklus bisnis. Suatu proses dimana aktifitas ekonomi melambat dalam satu periode tertentu. Efek domino dari krisis finansial sangat luas dampaknya. Tidak hanya berdampak secara finansial tetapi juga berdampak politik dan sosial. Pasar modal akan hancur, perusahaan banyak yang bangkrut, dan tingkat pengangguran akan meningkat. Pada jaman modern dan era globalisasi seperti sekarang ini, sistim perekonomian baik dalam suatu negara maupun regional dan global sepertinya terlihat lebih rentan terhadap krisis finansial. Kemajuan teknologi yang dapat memproses informasi dengan sangat cepat dan efek globalisasi dimana perdagangan internasional hampir tanpa batas menyebabkan sistim perekonomian menjadi lebih sensitif terhadap lingkungannya. Hal ini dapat dicermati dari catatan sejarah krisis finansial dimana siklus terjadinya menjadi lebih cepat seiring waktu berjalan, khususnya pada dua dekade terakhir. II. Tipe dari Krisis Finansial Krisis finansial memiliki beberapa bentuk. Yang pertama adalah Bank Crisis, yaitu situasi dimana bank mengalami rush dalam penarikan dana dari para deposannya, atau disebut sebagai bank run (Diamond & Dybvig, 1983). Karena bank dalam menjalankan usahanya adalah dengan meminjamkan uang yang di dapat dari para deposan. Apabila terjadi rush, akan sulit bagi

bank untuk dapat mengembalikan uang para deposan tersebut dengan segera. Bank run dapat mengakibatkan bank menghadapi kebangkrutan yang akan menyebabkan para deposan kehilangan tabungan atau deposit yang ditempatkan di bank tersebut kecuali para dana para deposan di jamin pemerintah atau asuransi. Apabila bank run ini menyebar di dalam industri perbankan maka akan menyebabkan situasi yang dinamakan systemic banking crisis. Situasi lain dalam banking crisis adalah credit crunch dimana perbankan enggan dalam menyalurkan kreditnya karena kecemasan industri perbankan dalam memiliki likuiditas yang cukup. regional. Tipe dari krisis finansial yang kedua adalah speculative bubble dan crashes. Situasi ini terjadi apabila aset finansial ( seperti : saham ) menunjukkan bubble dimana para investor mempunyai ekspektasi harga finansial aset yang dimiliki melebihi present value dari pendapatan dimasa datang yang akan diterima (Brunnermeier, 2008). Apabila terjadi bubble maka resiko terjadinya crash akan timbul. Dimana para investor melakukan aksi jual karena merasa tidak sesuai dengan ekspektasi atau karena kehilangan kepercayaan atau karena faktor eksternal lainnya, sehingga harga finansial aset itu menjadi anjlok. Akan tetapi para ekonom mengatakan bahwa dalam prakteknya sangat sulit bagi investor untuk benar benar mengetahui apakah nilai aset finansial tersebut sesuai dengan nilai fundamentalnya. Oleh karena itu menjadi sulit untuk mengetahui secara pasti apakah terjadi bubble dalam aset finansial tersebut. Contoh dari speculative bubble dimana harga saham anjlok adalah runtuhnya industri dot-com bubble pada tahun 2000 2001 dan yang terjadi pada saat sekarang yaitu United States housing bubble dimana harga properti di Amerika anjlok akibat krisis subprime mortgage. Bentuk ketiga dari krisis finansial adalah international financial crises. Krisis finansial internasional secara umum adalah bilamana suatu negara yang sebelumnya menjalankan nilai tukar tetap tiba tiba secara terpaksa harus meng-devaluasi nilai tukar mata uangnya yang disebabkan beberapa faktor tertentu ( currency crisis atau balance of payment crisis ) (Kruggman, 1995). Salah satu faktor yang dapat menyebabkan hal tersebut adalah Dengan demikian perbankan menjadi akselerator krisis finansial dalam suatu negara atau

apabila suatu negara mendapat serangan spekulasi terhadapa nilai tukar mata uangnya yang dilakukan oleh spekulator di pasar uang. Krisis finansial Asia 1997 1998 adalah salah satu contoh currency crisis terburuk yang pernah terjadi. Hal lain yang dapat menyebabkan krisis finansial internasional adalah apabila suatu negara gagal untuk membayar hutang atau lebih Gagalnya suatu negara untuk dikenal dengan istilah sovereign default.

membayar hutang bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti kebijakan finansial di negara tersebut atau faktor politik. Walaupun demikian devaluasi mata uang dan gagal bayar hutang bisa menjadi atau sengaja dilakukan karena kebijakan pemerintah negara tersebut. Namun kedual hal tersebut bisa juga terjadi karena sesuatu hal yang tidak bisa dikontrol seperti berubahnya sentimen investor yang mengakibatkan berhentinya arus investasi ( capital inflow ) di negara tersebut dan meningkatnya capital outlflow. Bentuk keempat dari krisis finansial adalah krisis yang sifatnya lebih makro karena faktor economic recession dan faktor econonmic depression. GDP growth yang negatif dalam suatu periode tertentu menyebabkan terjadinya resesi tersebut. Karena fenomena ini mempengaruhi banyak hal dan tidak hanya sektor finansial maka economic recession dan economic depression tidak bisa dikatakan murni krisis finansial. Namun beberapa ekonom memberikan argumentasi bahwa dari sekian banyak resesi yang pernah terjadi dalam sejarah disebabkan oleh krisis finansial (Bernanke, 2000). Great Depression yang terjadi di Amerika terjadi dimulai dengan jatuhnya pasar modal pada tahun 1929, disusul dengan krisis pada 1930 dan kesalahan kebijakan moneter yang dilakukan oleh Federal Reserve. Subprime mortgage cirisis yang baru baru ini terjadi membuat ekonomi Amerika Serikat masuk ke dalam resesi. Karena Amerika Serikat merupakan perekonomian yang terbesar di dunia, efek resesi ekonomi tersebut juga mempengaruhi perekonomian negara negara lain, khususnya negara yang banyak melakukan ekspor ke Amerika Serikat. Menurunnya ekspor negara peng-ekspor dapat memicu krisis finansial di negara tersebut.

III. Pemicu Krisis Finansial Krisis finansial dapat terpicu oleh banyak hal, baik dari faktor politik maupun faktor ekonomi. Di dalam pasar finansial perilaku dan sentimen investor sangat di pengaruhi oleh dua faktor tersebut. Diantara para investor sendiri, mereka saling memperhatikan dan memprediksi tindakan yang akan dilakukan agar dapat menyusun strategi untuk pencapaian investasi yang sukses. Tetapi ada juga peristiwa dimana investor berkoordinasi dalam Ekonom menamakan hal tersebut sebagai lain. Sebagai contoh, apabila investor menentukan pilihan mereka. strategi perilaku investor

strategic complementary, yaitu insentif untuk investor mengikuti trend / memperkirakan saham akan anjlok maka mereka akan melakukan aksi jual yang akan menekan harga atau apabila deposan memperirakan bahwa suatu bank akan gagal, mama deposan akan melakukan rush. Efek dari strategic complementarity dapat menimbulkan krisis finansial. Investor akan berusaha untuk menghindar dari insitusi finansial atau aset finansial karena mereka memperkirakan investor lain akan melakukan hal yang sama. Global Imbalances (ketidakseimbangan global) dapat menjadi akar krisis seperti yang terjadi pada krisis keuangan Amerika tahun 2007. Arus keuangan global belakangan ini menjadi tidak stabil dikarenakan beberapa negara seperti China, Jepang dan Jerman mendapatkan surplus perdagangan setiap tahunnya (fiskal dan transaksi berjalan) sedangkan negara lain seperti Amerika Serikat dan Inggris mengalami defisit. Defisit internal Amerika Serikat dicerminkan pada defisit konsumsi dan pemerintah. Akibat banyaknya modal yang masuk ke Amerika, tingkat suku bunga menjadi rendah dan mendorong masyarakat untuk meningkatkan konsumsi termasuk perumahan. Akibatnya terjadi bubble dalam bidang perumahan. Standar peminjaman semakin dipermudah dan banyak orang membeli rumah yang sebenarnya tidak mampu mereka beli. Ketika pinjaman semakin buruk mengakibatkan shock pada sistem keuangan. Inovasi dalam instrumen keuangan juga menjadi salah satu penyebab krisis. Instrumen keuangan baru semakin berkembang dengan cepat akan tetapi infrastruktur pasar dan sistem tidak siap saat terjadi tekanan terhadap instrumen keuangan tersebut. Seharusnya instrumen tersebut diberikan waktu untuk berkembang dan matang sebelum diperdagangkan atau

diperjualbelikan dengan jumlah yang signifikan. Hal ini untuk memberi waktu bagi akuntan, regulator, lembaga pemeringkat dan settlement system mengejar ketertinggalannya. Krisis yang terjadi pada tahun 2007 di Amerika Serikat menjadi contoh nyata akan hal tersebut yaitu inovasi pada mortgage back securities (mbs). Inovasi dimaksudkan untuk mengurangi resiko dan meningkatkan probabilitas kesuksesan instrumen keuangan. Pada dasarnya memiliki tujuan yang baik yaitu memecah dan memotong-motong mortgages serta menjualnya ke seluruh dunia untuk mengurangi resiko pemberi pinjaman mortages, meningkatkan pinjaman mortgages dan memberi kesempatan kepada setiap orang untuk memiliki rumah. Namun terdapat dua hal yang menyebabkan kegagalan instrumen ini dan menyebabkan krisis finansial berkepanjangan yaitu pertama tidak transparan dan kedua produk tersebut belum sepenuhnya dites/dicoba secara penuh di pasar. Tidak transparan karena tidak seorangpun yang tahu bagaimana bank dan lembaga pemeringkat kredit mengklasifikasikan/ mixed and match antara good dan bad, high risk atau low risk bahkan sampai sekarang bank juga kesulitan dalam menentukan harga instrumen tersebut sehingga krisis masih terus berlanjut sampai dengan saat ini. Leverage juga dapat menjadi pemicu krisis finansial. Meminjam dana untuk meningkatkan investasi sering disebut sebagai faktor yang dapat memicu krisis finansial. Karena meminjam untuk meningkatkan investasi memang memiliki potensi untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar tetapi juga memiliki potensi untuk kerugian yang lebih besar. Oleh karena itu leverage memperbesar risiko untuk terjadinya kebangkrutan. Didalam suatu ekonomi sebelum terjadi krisis finansial, level / tingkatan dari leverage biasanya meningkat cukup tajam. Minsky (1991) menjelaskan bahwa terjadinya resiko krisis finansial karena perekonomian masuk ke dalam area Ponzi. Ponzi. Minsky (1991,1995) menyebutkan terdapat 3 tipe perusahaan yaitu hedged, speculative dan Klasifikasi tersebut berdasarkan sumber dan penggunaan dana. Perusahaan diklasifikasikan sebagai hedged jika profitnya lebih tinggi dari jumlah investasi dan beban pembayaran hutang. Perusahaan yang spekulatif jika profitnya lebih tinggi daripada beban pembayaran hutang, namun tidak cukup untuk menutupi kebutuhan investasi dan pembayaran hutang secara

sekaligus

sehingga

dampaknya

perusahaan

harus

meminjam

untuk

memenuhi kebutuhan investasinya dan merupakan perilaku yang umum bagi perusahaan yang sedang berkembang. Perusahaan yang Ponzi jika profitnya tidak cukup untuk memenuhi pembayaran kewajibannya akibatnya perusahaan harus meminjam untuk memenuhi kewajibannya sehingga hutangnya lebih meningkat lagi. Perusahaan yang hedged digambarkan Secara sebagai perusahaan yang kuat secara finansial dan perusahaan yang Ponzi digambarkan sebagai perusahaan yang rapuh secara finansial. makroekonomi, pada awalnya perusahaan-perusahaan memulai dengan hedged, namun seiring dengan perumbuhan dan boom dalam perekonomian perusahaan meningkatkan pinjamannya untuk membiayai investasi baru atau memperkuat posisi dengan hutang jangka pendek yang berbunga rendah. Keadaan ini menyebabkan perusahaan bergerak dari hedged ke spekulatif ataupun Ponzi sehingga struktur finansialnya berubah dari kuat menjadi rapuh sehingga secara makroekonomi juga rapuh(Schroeder, 2002 : 8). Meningkatnya proporsi pembayaran hutang relatif terhadap cash flow perusahaan, menyebabkan lembaga keuangan semakin terbuka terhadap resiko kegagalan asset (nonperforming loan). Ketika cashflow terhadap Penolakan lembaga intermediasi tersebut turun, mereka menjadi semakin risk averse dan memotong pinjaman terhadap konsumsi dan investasi. pinjaman baru dan refinancing pinjaman lama menyebabkan supply keuangan turun dan investasi turun. Investasi turun, profit berkurang dan cashflow perusahaan makin lama makin berkurang sehingga rasio Seiring pembayaran hutang relatif terhadap cashflow perusahaan turun.

dengan supply yang berkurang dan permintaan yang meningkat, tingkat suku bunga naik dan memperparah likuiditas perusahaan dan mempersulit persyaratan pemberian pinjaman baru. Akibatnya perusahaan menjual asset untuk membayar pinjaman. Ketika asset dan nilai perusahaan/saham jatuh, investasi dan konsumsi juga jatuh dan memperburuk situasi cashflow yang dialami perusahaan, perbankan dan lembaga keuangan. Hal ini merupakan pemicu krisis keuangan Thailand pada tahun 1997. Pada tahun 1986 1990 perekonomian Thailand berada pada kondisi hedged (Schroeder, 2002) yang terlihat pada tingkat profit rata-rata (r) 31,9%, akumulasi modal rata-rata 20,1% dan tingkat suku bunga rata-rata 12,5%.

Pada masa 1991 1994 perekonomian Thailand berada pada kondisi spekulatif dengan tingkat profit rata-rata 21,3%, akumulasi modal rata-rata 21,5 % dan tingkat suku bunga rata-rata 12,4%. Dari tahun 1995-1998 perekonomian Thailand berada pada kondisi Ponzi dengan tingkat profit ratarata -12,0%, akumulasi modal rata-rata 14,4% dan tingkat suku bunga ratarata 13,7%. Asset liability mismatch juga dipercaya sebagai salah satu faktor pemicu krisis finansial. Asset liability mismatch adalah situasi dimana resiko antara asset dan liability tidak sesuai. Sebagai contoh, sebuah bank komersil biasa yang menawarkan jasa deposit kepada pelanggannya dimana dana tersebut dapat ditarik kapan saja dikehendaki. Kemudian bank tersebut menginvestasikan dana tersebut dalam jangka panjang ( kredit rumah ). Perbedaan antara asset dan liability yang besar bisa menjadi pemicu bank run. Karena apabila pelanggan dari bank tersebut mulai mengalami kesulitan dalam penarikan dana, sentimen negatif akan berpengaruh kepada pelanggan lain. Dalam konteks internasional, biasanya pemerintahan dari negara negara berkembang perlu menerbitkan bond untuk menggalang dana. Tetapi karena mata uang negara tersebut lemah maka pemerintah negara berkembang harus menerbitkan bond dengan mata uang dollar. Hal ini berpotensi untuk terjadinya asset liability mismacth. Dengan demikian kemungkinan risiko terjadinya sovereign default akibat fluktuasi nilai tukar antara mata uang negara tersebut dengan dolar meningkat / tinggi. Asset liability mismatch dapat juga terjadi apabila pelaku usaha/penduduk suatu negara tidak melakukan hedging yang cukup baik terhadap perubahan dalam nilai tukar mata uang sehingga terjadi currency mismatch. Kasus ini sering terjadi pada negara dengan asset asing yang sedikit, menghadapi hutang luar negeri yang didenominasi dalam mata uang asing, sehingga apabila terjadi depresiasi mata uang yang cukup besar akan mengakibatkan peningkatan hutang luar negeri yang besar dalam valuasi domestiknya, dan memicu turunnya net worth ekonomi yang biasanya seiring dengan jatuhnya output dan insolvency pada sebagian perusahaan-perusahaan dan perbankan. Regulasi pemerintah dalam menentukan kebijakan finansial juga dapat menjadi pemicu krisis finansial. Pemerintah negara manapun berusaha untuk

meregulasi sektor keuangan agar dapat terhindari dari krisis finansial. Tujuan dari regulasi tersebut adalah transparansi yaitu laporan keuangan institusi kepada publik dengan standard prosedur akunting. Selain itu tujuan regulasi adalah untuk memastikan institusi keuangan selalu dapat memenuhi kewajiban dalam pencapaian syarat seperti CAR dan limit leverage. Akan tetapi regulasi yang terlalu berlebihan dapat menjadi pemicu krisis finansial. Sebagai contoh Basel Accord II, yaitu regulasi perbankan internasional yang diawasi oleh Basel Committee on Banking Supervision, dimana salah satu regulasinya mengharuskan bank untuk meningkatkan capital sewaktu kredit risiko meningkat. Hal ini dapat membuat bank bank tersebut mengurangi penyaluran kredit kepada perekonomian yang dapat berpotensi untuk menimbulkan krisis. kurangnya regulasi. Akan tetapi krisis finansial juga bisa terjadi karena Sebagai contoh Managing Director IMF, Dominique

Strauss-Kahn, mengatakan bahwa krisis finansial 2008 adalah akibat gagalnya regulasi untuk mengatur masalah pengambilan resiko dalam suatu sistim finansial ( khususnya di Amerika Serikat ) (Shiller, 2008). Kompleksitas baik dalam makroekonomi maupun dalam instrumen keuangan mengakibatkan deposan maupun investor makin sulit untuk memperkirakan apa yang akan terjadi. Faktor-faktor yang menyebabkan kompleksitas seperti tingkat ekspansi dan luasnya cakupan ekonomi, perubahan teknologi dan demografi membuat terjadi informasi asimetris yaitu ketidakseimbangan informasi diantara investor mengenai keadaan yang terjadi. Kompleksitas dalam instrumen keuangan yang merupakan jantung krisis tahun 2007 mengakibatkan investor tidak dapat melakukan penilaian yang independen terhadap investasi, kaburnya resiko transaksi keuangan dan tidak di backup dengan regulasi yang jelas. Penipuan ( fraud ) yang terjadi pada industri keuangan dapat mengakibatkan institusi finansial jatuh. tahun 2008, Madoff Investment Seperti contoh yang terjadi pada Securities. Perusahaan tersebut

mendapatkan banyak deposan dengan memberikan informasi yang tidak benar terhadap strategi investasi dan menggelapkan hasil dari investasi tersebut. Penipuan juga banyak dilakukan trader dari institusi finansial yang nakal dimana mereka berusaha untuk menyembunyikan kerugian. Kerugian ini dapat membuat institusi finansial tersebut bangkrut dan memicu krisis

finansial. Contagion adalah situasi dimana krisis finansial dipicu oleh krisis finansial yang terjadi di tempat lain atau dengan kata lain dari satu institusi menyebar ke institusi lainnya ( seperti bank run menyebar ke bank lain, atau currency / stock market crash di satu negara meyebar ke negara lain ). Dan apabila kegagalan dari sebuah institusi finansial mengamcam stabilitas institusi lain maka hal ini disebut systemic risk (Laeven & Valencia, 2008). Krisis finansial di Indonesia salah satunya adalah terpicu oleh contagion (Kaufman, Krueger, & Hunter, 1999). Pada tahun 1997 Indonesia dalam keadaan atau situasi ekonomi yang cukup baik dimana inflasi rendah, trade surplus mencapai $900 juta dan cadangan devisa sebesar $20 milyar. Tetapi perusahaan perusahaan besar di Indonesia memiliki hutang dalam bentuk dollar. Hal ini dapat dipahami karena pada saat itu rupiah dalam trend menguat terhadap dollar. Sewaktu Thailand harus float mata uangnya dan terdevaluasi karena tekanan dari spekulan, rupiah terimbas dengan efek tersebut dan mengalami hal yang serupa. krisis finansial 1998 di Indonesia. Economics shock juga dapat menjadi pemicu dalam krisis finansial. Contohnya dapat berupa bencana alam (seperti gempa bumi 1906), runtuhnya kedaulatan (Russia, 1998) ataupun perang (1914). Shock tersebut harus nyata (bukan direkayasa), berbiaya besar, tidak rancu, dan tiba-tiba. Shock ini juga terlihat pada tingkat default yang besar pada sub prime mortgage di Amerika yang bermula pada tahun 2006 IV. Kesimpulan Krisis finansial terjadi sepanjang siklus perekonomian dan dapat terjadi pada negara mana saja mulai dari yang memiliki perekonomian paling lemah sampai paling kuat. Krisis finansial yang nyata terjadi terlihat pada tahun 1929 (The Great Depression) dan diikuti krisis finansial akibat berbagai perang (Dunia II, Korea, Vietnam), politik, kenaikan harga minyak tahun 1970 an, jatuhnya nilai tukar mata uang (1998) hingga akibat bubble economics dan krisis lembaga keuangan (2007). Krisis finansial tersebut dapat berskala nasional, regional maupun global. Hutang dolar yang dimiliki perusahaan perusahaan Indonesia menjadi salah satu akselerator dalam

Pemicu krisis finansial dari tiap-tiap masa tersebut sangat berbeda satu sama lain dan diikuti dampak yang berbeda pula tergantung pada cakupan ekonomi negara yang dilanda krisis tersebut. Pemicu tersebut antara lain yaitu strategic complementarity, global imbalances antara kekuatan ekonomi dunia, inovasi dalam instrument keuangan yang tidak dibarengi dengan aturan yang mengikutinya, Leverage, perekonomian yang memasuki wilayah Ponzi, asset liability mismatch, regulasi pemerintah, kompleksitas dalam makroekonomi dan instumen keuangan, penipuan pada industri keuangan, krisis finansial yang terjadi di negara lain juga dapat memicu krisis finansial di suatu negara serta shock dalam perekonomian

Works Cited
Bernanke, B. S. (2000). Essays on the Great Depression. Brunnermeier, M. (2008). 'Bubbles', New Palgrave Dictionary of Economics (Vol. 2). Diamond, D., & Dybvig, P. (1983). Bank runs, deposit insurance, and liquidity. Journal of Political Economy , 91 (3). Doug, F. (2006). The Dutch monetary environment during tulipomania. The Quaterly Journal of Austrian Economics , 9 (1), 3 - 14. Kaufman, G., Krueger, T., & Hunter, W. (1999). The Asian Financial Crisis: Origins, Implications and Solutions. Springer. Kruggman, P. (1995). Curencies and Crisis. Laeven, L., & Valencia, F. (2008). Systemic banking crises. International Monetary Fund Working Paper.

Minsky, Hyman P. Financial Factors in the Economics of Capitalism. Journal of Financial Services Research 9, 1995: 197-208. Minsky, Hyman P. The Financial Instability Hypothesis: A Clarification In The Risk of EconomicCrisis, A Bureau of Economic Research Conference report, edited by Martin Feldstein.Chicago: University of Chicago Press, 1991.
Reinhart, C., & Rogoff, K. (2009). This Time is Different: Eight Centuries of Financial Folly. Schroeder, S. K. (2002). A Minskian Analysis of Financial Crisis in Develoing Countries. Center for Economic Policy Analysis. Shiller, R. J. (2008). The Subprime Solution : How Today's Global Financial Crisis Happened and What to Do About it.