P. 1
contoh cerpen untuk SMA

contoh cerpen untuk SMA

|Views: 41|Likes:
Dipublikasikan oleh AnnisaUlfaSyafza
ini tugas cerpen dari guru bahasa indonesia saya. :)
ini tugas cerpen dari guru bahasa indonesia saya. :)

More info:

Published by: AnnisaUlfaSyafza on Mar 04, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/18/2014

pdf

text

original

KEHILANGAN

“Kehilangan selalu menjadi hal yang terberat bagi siapapun. Kepergian orang yang sangat kita cintai merupakan suatu beban berat yang mungkin tidak akan pernah hilang” Namanya Putra dan ia masih duduk di bangku kelas XI di sebuah sekolah menengah atas. Hari-hari yang dilaluinya selama ini sangat sempurna. Ia memiliki orangtua yang lengkap dan dua orang saudara laki-laki yang sangat ia sayangi. Ia pun mempunyai banyak teman. Semua orang senang berteman dengannya. Pagi itu, ia bersiap-siap akan pergi ke sekolah. Ia sudah menyalakan mesin sepeda motor kesayangannya. Tiba-tiba dari arah rumah terdengar suara jeritan ibunya. Tanpa mempedulikan sepeda motor yang sudah menyala itu, Putra segera masuk kembali ke dalam rumah. Pemandangan yang ada dihadapannya membuat Putra terkejut. Ayahnya pingsan. “Ayah!” seru Putra. Dari lantai dua, terdengar derap langkah kedua saudara Putra, Ridho –kakak laki-laki Putradan Kiano -Adik laki-lakinya-. “Ayah! Ayah kenapa?” tanya Kiano. “Tadi ayah tiba-tiba pingsan” jawab ibu yang masih kalap. Putra menenangkan ibunya, sementara Ridho dan Kiano membawa ayahnya kedalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, dokter mengatakan bahwa ayahnya harus dirawat di rumah sakit akibat diabetes. Memang, ayah Putra memiliki penyakit diabetes. Tapi, tidak pernah terbayang olehnya, sosok ayah yang ia cintai harus dirawat di rumah sakit. Dan entah mengapa, firasatnya mengatakan akan ada hal buruk yang terjadi tepat setelah ayahnya masuk rumah sakit. Hari berganti hari, ayah Putra pun mulai menunjukkan tanda-tanda pulih. Firasat buruk yang selama ini ia miliki pun perlahan ia lupakan. Kehidupan keluarga Putra kembali seperti semula. Setiap hari sepulang sekolah, Putra selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi ayahnya di rumah sakit.

. Keesokan harinya. Ia menangisi kepergian sang ayah yang secepat ini. Ternyata. firasat Putra tepat. ia melihat sesosok tubuh kaku yang tak bernyawa lagi berbaring di hadapannya. Setelah itu Putra pun pamit pulang karena ayahnya harus istirahat. ayah sayang kalian semua” Putra merasa heran kenapa ayahnya berkata seperti itu. Putra janji” Putra memegang tangan ayahnya. sosok kepala keluarga yang baik untuknya telah diambil. kenapa pergi secepat ini? Kenapa ayah harus meninggalkan kami?” Untuk sesaat. Seketika itu juga airmata tak lagi terbendung. gue yakin Tuhan bakal ngasih yang terbaik buat ayah lo” Gio menepuk bahu Putra. Tapi. awalnya ia tidak percaya dengan hal itu. Bagaikan petir di siang bolong. Putra? Galau amat tu muka” “Gue kepikiran soal ayah. Hari itu. dan waktu pun akan berjalan dengan sangat cepat. “Ayah. “Sebentar lagi kamu kelas XII. sosok yang menjadi panutannya. Wujudkan impian kamu. ia merasakan firasat buruk tentang ayahnya. Mencabut nyawa ayahnya disaat ia masih membutuhkan bimbingan ayah. Ia menangis. “Lo kenapa. buat ayah dan ibu bangga. teman Putra menghampirinya. “Ayah kok ngomong gitu?” Ayahnya hanya tersenyum. Tuhan memberikannya satu cobaan yang mengubah hidupnya secara drastis. Ayah percaya kamu akan jadi pemimpin yang baik. “Berdoa aja. dan jaga ibu beserta adikmu Kiano. “Kamu mau kan janji sama ayah?” “Iya yah.” ujar ayahnya.“Putra. Ridho pun sebentar lagi akan menyelesaikan kuliahnya. Sosok kebanggaannya. saat Putra berada di kelas. Gio” raut wajah Putra tampak sedih. Kamu akan kuliah. Gio. ia menganggap Tuhan sangat jahat kepada dirinya dan keluarganya. Ayah tercintanya meninggal dunia pada hari itu.

IPA. Dan adik laki-lakinya menjadi pribadi yang sangat berbeda dengan sebelumnya. jika ia memperlihatkan kesedihannya. kehidupan di rumah tidak seperti dulu lagi.“Bagaimana dengan nasib kami selanjutnya? Tanpa ayah. harus menjadi ibu sekaligus ayah dalam mendidik ketiga putranya. Aku masih butuh ayah” Ia kembali menangis mengingat kepergian ayahnya. Masih ada teman-teman dekatnya yang selalu menghiburnya. Karena ia tahu. Kakak laki-lakinya yang belum menyelesaikan kuliah. luka disana masih basah dan akan selalu basah oleh airmata dan kesedihan. aku takut kami bertiga tidak bisa membahagiakan ibu. Bagaimana dengan Putra sendiri? Ia masih tetap sama. hidupnya tidak akan berlanjut dan impiannya untuk membahagiakan ibu beserta almarhum ayahnya tak akan tidak akan tercapai. Putra menjadi sosok yang selalu memendam kesedihan yang ia rasakan. Sekarang. Kepedihan tak terlihat di wajahnya. Semenjak ayahnya tiada. Sementara ibunya. harus menjadi kepala keluarga. Tapi. kepedihan susungguhnya ada di dalam hati Putra. By : Annisa Ulfa XII.3 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->