Anda di halaman 1dari 4

BAHAN KULIAH VI KASTRASI 1.

PENGERTIAN Kastrasi adalah suatu tindakan yang sengaja dilakukan untuk menghilangkan fungsi dari alat reproduksi dengan jalan mematikan sel kelamin jantan dan betina sehingga ternak bersangkutan tidak mampu menghasilkan keturunan ataupun menghilangkan sifat2 kejatanan bagi steer. Pada umumnya kastrasi dilakukan pada ternak jantan. Ternak yang akan dikastrasi adalah ternak yang tidak akan dijadikan bibit, oleh karena itu waktu terbaik melakukan kastrasi yaitu setelah program seleksi selesai dilaksanakan sehingga ternak yang tidak mencapai standar seleksi dikastrasi untuk menghasilkan daging. Umumnya umur ternak yang akan dikastrasi haruslah yang berumur muda karena mengkastrasi ternak tua membawa resiko yang lebih berat dan akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ternak selanjutnya yang dipersiapkan sebagai ternak potong.

2. TUJUAN Ada banyak tujuan dari perlakuan kastrasi terhadap ternak peliharaan, tetapi secara umum tujuan kastrasi adalah sebagai berikut: 1. Mempersiapkan ternak potong dengan mutu daging yang lebih bagus 2. Meredam atau mengurangi tingkat agresifitas ternak jantan 3. Mencegah terjadinya perkawinan ternak yang tidak diinginkan atau ternak yang tidak lolos seleksi sesuai standar produksi yang ditargetkan 4. Menerapkan strategi tatalaksana pemeliharaan ternak yang mendukung usaha 3. MANFAAT Sedangkan manfaat dari pelaksanaan kastrasi terhadap ternak antara lain: Mendapatkan ternak yang bertempramen lebih jinak sehingga memudahkan dalam menghandel ternak tersebut Latar belakang penerapan kastrasi pada usaha penggemukan ternak adalah untuk mengontrol tingkat pertumbuhan ternak (birth control) dan untuk meningkatkan produktivitas serta efisiensi pertambahan bobot ternak. prinsip kastrasi adalah membuat mandul ternak jantan, sehingga hilang libido seksual dan sifat kelamin sekundernya. Akibatnya, ternak-ternak yang telah dikastrasi cenderung menjadi pemalas. mulanya penggemukan sapi dilakukan dengan ternak jantan dan betina dipelihara dalam satu kandang. Faktanya, pejantan-pejantan yang bercampur dengan betina cenderung bersifat agresif karena berusaha menunjukkan sifat dominan dalam kelompok. Akibatnya handling (penanganan) ternak cukup menyusahkan peternak. Cara pemeliharaan kemudian diubah, ternak jantan dipisahkan dengan yang betina. Meski demikian ternak-ternak jantan tetap terpacu libido seksualnya kendati tak ada betina dalam kandangnya. Fenomena tersebut kemudian mendorong peternak mencoba melakukan usaha penghilangan libido seksual ternak jantan dengan teknik kastrasi atau pengebirian. Ternak yang jinak lebih cenderung sedikit aktivitas geraknya sehingga energinya bisa dihemat untuk pembentukan daging. Dengan menghilangkan libido, maka ternak cenderung untuk lebih jinak sehingga menjadi pemalas. Pada usaha penggemukan, ternak pemalas bukanlah suatu hal yang buruk karena akan memiliki konversi pakan menjadi daging (feed convertion ratio) lebih baik dari pada ternak aktif atau tanpa dikastrasi. Perbaikan genetik Selain bertujuan penggemukan dan handling, kastrasi dilakukan untuk menghindari pengawinan betina produktif oleh pejantan berkualitas rendah. ini sejalan dengan Undang-Undang nomor 6 tahun 1967 pasal 13 tentang tata cara perkembangbiakan, yang menghimbau pelaksanaan kastrasi pada ternak jantan yang kurang baik atau tidak sesuai dengan jurusan produksi di suatu wilayah, di Indonesia. Penerapan kastrasi pada pejantan berkualitas rendah, bertujuan untuk perbaikan genetik dalam jangka panjang. Karena dengan pemandulan pejantan berkualitas rendah, maka kemungkinan besar hanya ternak berkualitas bagus yang bisa melanjutkan keturunan. Dengan begitu, maka mutu sapi bakalan dapat terkontrol, karena keturunan hanya diperoleh dari induk jantan yang berkualitas baik dan bukan sembarang pejantan Perbaikan kualitas Daging efek tidak langsung dari kastrasi adalah memperbaiki kualitas daging dan penimbunan lemak lebih cepat. Karena itu, daging sapi kastrasi cenderung lebih empuk dibanding daging sapi tanpa kastrasi yang dipelihara dengan pola pemeliharaan yang sama, kemudian kualitas karkas sapi yang di kastrasi lebih baik

dari kualitas karkas sapi non kastrasi. Selain itu, perbedaan antara sapi kastrasi (steers) dan non kastrasi (bulls) tidak terlalu mencolok kecuali dalam hal perlemakan, sapi sapi yang tidak dikas sapi-sapi dikastrasi cenderung lebih sedikit perlemakan (lean) dibandingkan sapi kastrasi. Mengurangi biaya produksi atau pemborosan biaya yang tidak diinginkan Penyelamatan Aset negara Kastrasi juga memiliki tujuan penyelamatan aset bangsa. Ekspor ternak potensial asli Indonesia ke negara lain, seharusnya dilakukan kastrasi untuk menghindari pencurian plasma nutfah, seperti sapi Bali dan sapi Madura. 4. METODE Teknik kastrasi bisa dilakukan dengan dua cara, metode terbuka atau tertutup. Metode terbuka adalah dengan operasi membedah scrotum untuk mengangkat testis (organ penghasil sperma). Sedangkan metode tertutup dilakukan dengan jalan mengikat/memotong saluran sperma, misalnya dengan Burdizzo (tang penjepit) atau dengan cincin elastrator (cincin karet). Metode Terbuka Kastrasi dilakukan dengan jalan operasi dengan menggunakan pisau steril dan tajam. Dalam prakterk ini yang paling efektif karena testis sapi jantan langsung diambil sehingga tidak ada kemungkinan lagi untuk bisa memproduksi sperma. Pelaksanaannya membutuhkan keterampilan serta keahlian agar tidak terjadi infeksi yang membahayakan kesehatan ternak. Untuk menjaga keselamatan ternak kastrasi dilakukan kepada sapi yang sudah dewasa. Agar sapi tidak dilakukan bergerak maka sapi diikat keempat kakinya dan direbahkan. Selanjutnya operasi melalui tahapan : a. Scortum atau kantong buah pelir (testis) harus dicuci terlebih dahulu dengan air desinfektan, sedangkan bagian yang akan diiris didesinfektan dengan alcohol atau diolesi dengan yodium tinctur. Jika dipandang ian perlu maka dapat dilakukan pembiusan lokal yaitu pada bagian scortum, shg sapi tidak merasa sakit waktu dioperasi. Sapi dikastrasi sebaiknya di bawah umur 3 bulan, karena pada ternak sapi yang berumur 3 bulan kastrasi harus melalui proses anastesi (pembiusan) tersebut.

b. Oprasi bisa dilakukan dengan peralatan untuk memotong dan harus tajam (pisau, silet atau alat pemotong lainnya) dan harus dalam keadaan steril untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan misalnya terjadinya hal infeksi terhadap luka yang dihasilkan. c. Irislah scortum tepat pada letak testes berada, lebar irisan tidak perlu terlalu besar cukup untuk mengeluarkan testis saja. Usahakan pelepasan scortum tersebut dilakukan satu per satu, yakni pengeluaran testis yang sebelah kiri, kemudian disusul dengan pengeluaran testis yang sebelah kanan, atau sebaliknya. pengeluaran

d. Setelah scortum tersebut benar benar terbuka secukupnya, testis dikeluarkan dari kantongnya. Pembuluh benar-benar darah dan saluran sperma yang menuju ke testes harus diikat dengan benang. Hal ini dilakukan untuk mencegah pendarahan yang berlebihan. Selajutnya pemotongan terhadap testes yang akan dibuang dilakukan tepat dibawah bagian yang diikat dengan benang tadi.

e. Setelah testes benar-benar dikeluarkan maka bekas irisan pada scortum harus dijahit. Sebe benar Sebelum dijahit bekas irisan diobati dengan penicilin, sulfanimilade dan yodium tinctur untuk mencegah terjadinya infeksi. f. Setelah penjahitan kedua scortum itu selesai, bagian jahitannya sebaiknya diolesi dengan vaselin amipvet hitan vaselin, atau sejenisnya, untuk menghindari kerumunan lalat atau dengan ampivet powder untuk mepercepat uk pengeringan luka, penyembuhan dan pencegahan infeksi.

Catatan penting untuk diperhatikan Dalam kondisi atau suasana di daerah pedesaan, pelaksanaan kastrasi terkadang tidak mengikuti prosedur atau sejalan dengan standar operasional kesehatan yang diinginkan. Misalnya, kalau tidak tersedia alat potong atau alat bedah, maka masyarakat menggunakan bambu yang diruncingkan untuk memudahkan peternak melakukan pembedahan atau pemot pemotongan. Hal lain sering dilakukan, yaitu dalam kondisi sederhana, selesai proses pembedahan, jika tidak tersedia yodium atau alcohol, maka abu yang berasal dari perapian atau tungku di dapur digunakan untuk mengobati atau mengeringkan luka pada bagian yang dibedah sekaligus mempercepat proses penyembuhan dan pencegahan infeksi. Yang perlu diperhatikan yaitu dampaknya terhadap ternak yang dikastrasi. Oleh karenanya sepanjang bisa dilakukan secara sederhana, aspek kebersihan peralatan dan kondisi kesehatan ternak menjadi hal utama yang harus diperhatikan

Metode Tertutup Kastrasi ini dilakukan dengan peralatan khusus dan obat obatan. Dengan metode tertutup ini maka obat-obatan. pelaksanaan kastrasi lebih mudah dan sederhana, meski sering kurang efektif. Ada beberapa cara yang dilakukan dengan metode kastrasi tertutup ini yakni : a. Menggunakan hormon atau preparat tertentu seperti hormon sinthesis Diethyl stilbestrol dengan implantasi. b. Mempergunakan gelang karet atau karet khusus yang dinamakan elastrator yang dipasang pada pangkal scortum untuk menjepit. Selain itu, bisa digunakan karet biasa yang diikatkan sedemikian rupa. Diusahakan agar karet tersebut tidak mengendor sehingga darah tidak lagi mengalir melalui pembuluh darah. Scortum akan mengering dan l lepas setelah 10 hari 3 minggu.

c.

Menggunakan alat Tang Burdizzo. Lebih cepat dan mudah dilaksanakan serta alatnya mudah didapatkan di Dinas peternakan setempat.

5.

KONTROVERSI PADA LINGKUNGAN USAHA Permintaan Untuk hewan qurban di Indonesia Syarat halal suatu hewan kurban Bagi dunia peternakan, penyediaan ternak qurban untuk memenuhi kriteria yang diajarkan oleh fiqih Islam yaitu hewan-hewan yang memenuhi kriteria pokok kesempurnaan; dalam keadaan tidak cacat, cukup umur, sehat dan jantan merupakan suatu hal yang sangat menguntungkan.