Anda di halaman 1dari 1

Parameter farmakokinetika suatu obat dihitung dari konsentrasi obat dalam cuplikan hayati yang sesuai, dapat berupa

: darah, urin, air ludah, dahak, cairan lainnya yang relevan atau mengandung obat, tetapi yang paling sering adalah darah atau urin. Cuplikan urin dapat digunakan dengan baik jika obat/metabolit diekskresikan cukup banyak dalam urin dan ditampung secara sempurna sampai waktu tak terhingga (t). Cuplikan darah sangat relevan, karena semua proses obat dalam tubuh melibatkan darah sebagai media, suatu alat ukur dari organ satu ke organ lain seperti absorpsi, distribusi, metabolisme, ekskresi. Oleh karena itu, agar nilai nilai parameter obat dapat dipercaya, metode penetapan kadar harus memenuhi kriteria, yaitu meliputi perolehan kembali (recovery), presisi dan akurasi. Kepekaan dan selektivitas merupakan kriteria lain yang penting hal mana nilainya tergantung dari alat ukur yang dipakai. Perolehan Kembali Perolehan kembali (recovery) adalah suatu tolak ukur efisiensi analisis dan dapat bernilai positive dan negative. Dirumuskan sebagai berikut : Perolehan kembali = kadar terukur x 100% Kadar diketahui Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut dapat memberikan nilai perolehan kembali yang tinggi (75 90%) atau lebih. Akurat Akurat atau tepat adalah bahwa hasil yang diperoleh adalah mendekati nilai yang sebenarnya. Misal dalam pengukuran sampel diperoleh nilai 100 ppm (kadar terukur), dan memang diketahui kadar sampel tersebut adalah 100 ppm (kadar sebenarnya). Akurat jika kadar terukur = kadar sebenarnya. Kesalahan sistematik merupakan tolak ukur inakurasi penetapan kadar. Kesalahan ini dapat berupa kesalahan konstan atau proposional. Rumus dari kesalahan sistematik adalah: Kesalahan sistematik = 100 P% Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut kesalahan acak kurang dari 10%. Presisi Presisi/teliti adalah dalam tiap kali replikasi pengukuran diperoleh hasil yang sama atau mendekati. Misalnya dilakukan replikasi penetapan kadar sampel x, diperoleh seperti pada tabel berikut : Percobaan Hasil 1 80 ppm 2 82 ppm 3 83 ppm Hasil pengukuran sampel dengan tiga replikasi didapatkan hasil yang mendekati, maka metode tersebut adalah teliti. Kesalahan acak (random analytical error) merupakan tolak ukur imprecision suatu analisis, dan dapat bersifat positive /negative. Kesalah acak identik dengan variabilitas pengukuran dan dicerminkan oleh tetapan variasi. Rumus dari kesalahan acak adalah : Kesalahan acak = simpangan baku x 100 % Harga rata rata Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut kesalahan acak kurang dari 10%. Sensitive Sensitive/peka adalah bahwa metode tersebut dapat/ mampu mengukur analit dalam kadar yang sangat kecil sekalipun. Selektif Bahwa metode tersebut selektif terhadap senyawa tertentu saja artinya metode terebut selektif menguukur kadar senyawa yang diinginkan dengan baik tanpa terganggu oleh senyawa pengotor yang lain. Parameter farmakokinetika obat dapat diperoleh berdasarkan hasil pengukuran kadar obat utuh dan atau metabolitnya di dalam cairan hayati (darah, urin, saliva, atau cairan tubuh lainnya). Dalam praktikum kali ini dilakukan penentuan jangka waktu larutan obat yang member respon tetap (khususnya untuk reaksi warna), pembuatan kurva baku, perhitungan nilai perolehan kembali, kesalahan acak, dan kesalahan sistemik. Oleh karena itu agar nilai-nilai parameter obat dapat dipercaya, metode penetapan kadar harus memenuhi berbagai criteria yaitu meliputi perolehan kembali, presisi, dan akurasisi. Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut dapat memperoleh nilai perolehan kembali yang tinggi (75% 90% atau lebih), kesalahan acak dan kesalahan sistemik kurang dari 10%. Kepekaan dan selektivitas merupakan criteria lain yang penting dan nilainya tergantung pula dari alat pengukur yang dipakai. Dalam percobaan ini akan dilakukan langkah-langkah yang perlu dikerjakan untuk optimalisasi analisis meliputi : a. Penentuan jangka waktu larutan obat yang memberikan respon tetap (khususnya untuk reaksi warna) b. Penetapan panjang gelombang larutan obat yang member respon maksimum c. Pembuatan kurva baku d. Perhitungan nilai perolehan kembali, dengan rumus : Perolehan kembali = kadar obat terukur x 100% kadar diketahui Faktor-faktor penentu dalam proses farmakokinetika adalah : a. Sistem kompartemen dalam cairan tubuh, seperti cairan intrasel, ekstrasel (plasma darah, cairan interstitial, cairan cerebrospinal), dan berbagai fasa lipofil dalam tubuh. b. Protein plasma, protein jaringan dan berbagai senyawa biologis yang mungkin dapat mengikat obat. c. Distribusi obat dalam berbagai system kompartemen biologis, terutama hubungan waktu dan kadar obat dalam berbagai system tersebut, yang sangat menentukan kinetika obat. d. Dosis sediaan obat, transport antar kompartemen seperti proses absorpsi, bioaktivasi, biodegradasi dan ekskresi yang menentukan lama obat dalam tubuh. Karena konsentrasi obat adalah elemen penting untuk menentukan farmakokinetika suatu individu maupun populasi konsentrasi obat diukur dalam sampel biologis seperti air susu, saliva, plasma, dan urine. Sensitivitas, akurasi, presisi dari metode analisis harus ada untuk pengukuran secara langsung obat dalam matriks biologis. Untuk itu metode penetapan kadar secara umum perlu divalidasi sehingga informasi yang akurat didapatkan untuk monitoring farmakokinetik dan klinik. Dalam sebuah analisis obat dalam cairan hayati, ada hal-hal penting dalam farmakokinetika yang digunakan sebagai parameter-parameter antara lain yaitu : a. Tetapan (laju) invasi (tetapan absorpsi). b. Volume distribusi menghubungkan jumlah obat di dalam tubuh dengan konsentrasi obat (c) di dalam darah atau plasma. c. Ikatan protein d. Laju eliminasi dan waktu paruh (t) e. Bersihan (clearance) renal, ekstra renal, dan total f. Luas daerah di bawah kurva (AUC) g. Ketersediaan hayati