Anda di halaman 1dari 23

BULLDOZER

(Pemindahan Tanah Mekanik dan Alat Berat)

Nama: Siti Amalia NIM: 4110110022 Kelas: 3 S1 Terapan Jalan Tol Teknik Sipil

2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat dan kesempatan kepada penulis dan kita semua. Sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul Bulldozer. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Orang Tua, Bapak Kusumo D.S selaku dosen pengajar mata kuliah Pemindahan Tanah Mekanik (PTM) dan Alat Berat, teman-teman mahasiswa serta semua pihak yang selalu memberikan bantuan baik secara moral maupun materi hingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pengetahuan dalam mengembangkan wawasan kepada para pembaca. Penyusun menyadari adanya kekurangan dalam penyajian makalah ini, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan untuk kesempurnaan makalah ini, atas perhatiannya mohon maaf dan terima kasih penyusun sampaikan.

Depok, Desember 2012

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.................................................................................................................... 2 Daftar Isi............................................................................................................................... 3 I. Pendahuluan............................................................................................................... 4 I.1 Latar Belakang................................................................................................... I.2 Tujuan............................................................................................................... I.3 Metode Penulisan............................................................................................... 4 II. Pembahasan................................................................................................................ 5 II.1 Pengertian Bulldozer........................................................................................ II.2 Kegunaan Bulldozer.................................................................................. 5 5 4 4

II.3 Bagian Utama Bulldozer.................................................................................... 8 II.4 Tipe-Tipe Bulldozer...... 8 II.5 Operasi Bulldozer...................................................................................... II.6 Produktivitas Bulldozer.................................................................................. II.7 Keselamatan dan Kesehatan Kerja................................................................... 12 13 19

III.

Penutup....................................................................................................................... 23 III.1 Kesimpulan....................................................................................................... 23 III.2 Saran................................................................................................................. 23

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 I.1. Latar Belakang Alat berat yang kita kenal didalam ilmu teknik sipil adalah alat yang digunakan untuk membantu manusia dalam melakukan pekerjaan pembangunan suatu struktur. Penggunaan alat berat yang kurang tepat dengan kondisi dan situasi lapangan pekerjaan akan berpengaruh berupa kerugian antara lain rendahnya produksi, tidak tercapainya jadwal atau target yang telah di tentukan, atau kerugian perbaikan yang tidak semestinya. Oleh karena itu sebelum menentukan tipe dan jumlah peralatan dan attachmentnya, haruslah dipahami fungsi dan aplikasinya. Terdapat beraneka macam alat yang sering di gunakan dalam pekerjaan konstruksi, tetapi yang akan dibahas dalam makalah ini hanya bulldozer saja. Disini akan diberikan juga contoh perhitungan prodktivitas untuk bulldozer.

I.2. Tujuan 1.2.1. Tujuan Umum Memenuhi tugas akhir semester V untuk mata kuliah Pemindahan Tanah Mekanis (PTM) dan Alat Berat. 1.2.2. Tujuan Khusus Mengetahui kegunaan bulldozer, tipe-tipe bulldozer, pengoperasian bulldozer, serta menghitung produktifitas bulldozer.

I.3. Metode Penulisan Metode penulisan makalah ini berdasarkan studi kepustakaan. Studi kepustakaan dilakukan untuk pengambilan bahan dan pengumpulan data berdasarkan pada buku-buku, majalah, jurnal dan lain-lain yang menggambarkan gambaran secara umum serta informasi terhadap materi yang dibahas dalam makalah.

BAB II PEMBAHASAN 2. III.1. Pengertian Bulldozer Bulldozer adalah suatu alat berat yang mempunyai roda rantai (track shoe) untuk pekerjaan serbaguna yang memiliki kemampuan traksi yang tinggi. Bisa digunakan untuk menggali (digging), mendorong (pushing), menggusur meratakan (spreading), menarik beban, menimbun (filling), dan banyak lagi. Mampu beroperasi di daerah yang lunak sampai daerah yang keras sekalipun. Dengan swamp dozer untuk daerah yang sangat lunak, dan daerah yang sangat keras perlu dibantu dengan ripper (alat garu), atau dengan blasting (peledakan dengan tujuan pemecahan pada ukuran tertentu). Mampu beroperasi pada daerah yang miring dengan sudut kemiringan tertentu, berbukit, apalagi didaerah yang rata. Jarak dorong efisien berkisar antara 25-40 meter dan tidak lebih dari 100 meter. Jarak mundur tidak boleh terlalu jauh, bila perlu gerakan mendorong dilakukan secara estafet. Mendorong pada daerah turunan lebih efektif dan produktif daripada di daerah tanjakan. Attachment yang biasanya menyertainya antara lain: bermacam-macam blade, towing, winch, ripper, tree pusher, harrow, disc plough, towed scraper, sheep foot roller, peralatan pipe layer, dan lain-lain. Pada dasarnya bulldozer adalah alat yang menggunakan traktor sebagai penggerak utamanya, artinya traktor yang dilengkapi dozer attachment dalam hal ini perlengkapannya attachment adalah blade. Sebenarnya, bulldozer adalah nama jenis dari dozer, selain mendorong lurus ke depan, juga memungkinkan untuk mendorong ke samping dengan sudut 250 terhadap kedudukan lurus.

III.2.

Kegunaan Bulldozer II.2.1. Pembabatan atau penebasan (cleraring) lokasi proyek. Buldoser mampu membersihkan lokasi dari semak-semak, pohon besar/ kecil, sisa pohon yang sudah ditebang, menghilangkan/ membuang bagian tanah atau batuan yang menghalangi pekerjaan pekerjaan selanjutnya. Seluruh pekerjaan ini dapat dikerjakan sebelum pemindahan tanah itu sendiri dilakukan atau dikerjakan bersama-sama. Pembabatan ada beberapa cara, tergantung dari keadaan lapangan; bila daerah itu hanya ditumbuhi semak dan pohon kecil dengan diameter yang

kurang dari 10 cm, cukup langsung didorong. Kalau diameternya agak besar (10 cm < < 25 cm) dan akarnya kokoh, ada dua cara untuk merobohkannya. Didorong bebarapa kali dengan perlahan supaya bagian pohon yang kering gugur, lalu didorong secara mendadak dengan sedikit mengangkat sudunya sampai pohon roboh. Pohon dilingkari dengan rantai lalu ditarik oleh dia buah Buldoser. Jika diameter pohon itu lebih besar dari 25 cm, ada tiga cara yang dapat dilakukan. Tanah disekeliling pohon digali supaya akar-akarnya putus, lalu pohon didorong. Bila pohon tidak roboh, pohon dililit dengan rantai lalu ditarik Buldoser, tetapi jika di lokasi terdapat dua atau tiga Buldoser, lebih baik jika ditarik dengan Buldoser pada arah masing-masing mendorong agar supaya lebih aman. Jika dengan cara-cara di atas pohon itu tetap tidak roboh, batang digergaji, kemudian tunggulnya diangkat dengan peledakan. Jika di lokasi proyek terdapat bongkahan batu besar yang mengganggu pekerjaan, maka batu harus dicongkel dan didorong dari sebelah luar sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya sampai pada batas luar daerah kerja. Jika batu tersebut ada disebuah lembah, maka lerengnya harus digali dulu agar tidak terlalu curam, sebab ada kemungkinan Buldoser akan terbalik. II.2.2. Merintis (pioneering) jalan proyek. Pekerjaan perintisan merupakan kelanjutan dari pekerjaan pembabatan/penabasan. Pekerjaan merintis meliputi: pekerjaan perataan tanah, pembuatan jalan darurat untuk transportasi alat mekanis, dan jika perlu adalah pembuatan saluran air untuk drainase tempat kerja. II.2.3. Gali/angkut jarak pendek. Menggali lalu mendorong tanah galian itu ke suatu tempat tertentu, misalnya pada pembuatan jalan raya, kanal, dan sebagainya. Bila kondisi jalan tidak licin, penggunaan Buldoser roda karet akan lebih efisien. Jika dibandingkan dengan cara pemindahan tanah yang lain, pada tahaptahap tertentu cara gali/ angkut menggunakan Buldoser tidak selalu ekonomis; penggunaan Buldoser untuk gali angkut sangat efisien jika:
6

1) Jarak dorong Buldoser roda besi < 200 ft, dan untuk roda karet < 400 ft, pemakaian lebih dari itu sangat tidak efisien, dan 2) Volume material yang akan dipindahkan tak lebih dari 500 m3; jika lebih dari itu penggunaan Buldoser perlu dipertimbangkan lagi. II.2.4. Pusher loading. Membantu Power Scrapper konvensional (standar) dalam mengisi muatan. Bantuan Buldoser itu diperlukan untuk menambah tenaga agar diperoleh kecepatan pengisian yang lebih tinggi. II.2.5. Menyebarkan material. Menyebarkan tanah ke tempat-tempat tertentu denganketebalan yang dikehendaki; misalnya material yang ditumpuk disuatu tempat oleh truck atau alat angkut lainnya. II.2.6. Penimbunan kembali Pekerjaan penimbunan kembali terhadap bekas lubang-lubang galian seperti menutup kembali gorong-gorong di bawah tanah, penimbunan lubang fondasi atau tiang penyangga bangunan besar (jembatan, menara beton, dan lain-lain), dan menutup kembali pipa minyak, pipa gas alam, atau pipa air minum bila sudah terpasang. II.2.7. Trimming dan sloping Pekerjaan pembuatan kemiringan tertentu pada suatu tempat; misalnya tanggul, dam, kanal besar, tepi jalan raya, dan sebagainya. Pekerjaan ini hanya dapat dilakukan oleh operator yan sudah berpengalaman, lebih lebih jika sudut kemiringannya besar, sebab ada kemungkinan Buldoser tergelincir ke bawah. II.2.8. Ditching Kegiatan menggali saluran/ selokan/ kanal yang penampangnya berbentuk U atau V. II.2.9. Menarik
Pekerjaan untuk menarik benda-benda berat atau peralatan mekanis yang

sedang rusak, agar dapat dipindahkan ke tempat yang diinginkan. II.2.10. Memuat. Memuat menggunakan Buldoser diperlukan pada kondisi-kondisi tertentu, misalnya medan dengan topografi tertentu truck tak dapat langsung dikendarai menuju lokasi. Buldoser dapat digunakan untuk memuat truck tersebut.

III.3.

Bagian-Bagian Utama Bulldozer

1) Blade 2) Lift Silinder 3) Carier Roller 4) Ripper 5) Sproket 6) Main Frame

: Untuk Mendorong Material : Menggerakkan Blade : Penahan Main Frame : Pengeruk : Menggerakkan Track : Alur Carier Roller

7) Staright Frame : Batang Penyanggah Blade 8) Track 9) Cutting Edge 10) End Bit : Sebagai roda untuk excavator : Meratakan Permukaan Tanah : Menyerok Material

III.4.

Tipe-Tipe Bulldozer II.4.1. Berdasarkan Alat Geraknya Pada dasarnya Buldoser menggunakan traktor sebagai tempat dudukan penggerak utama, tetapi lazimnya traktor tersebut dilengkapi dengan sudu sehingga dapat berfungsi sebagai Buldoser yang bisa untuk menggusur tanah. Buldoser digunakan sebagai alat pendorong tanah lurus ke dapan maupun ke samping, tergantung pada sumbu kendaraannya. Untuk pekerjaan di rawa digunakan jenis Buldoser khusus yang disebut Swamp Bulldozer. Perbandingan antara Crawler Tractor Dozer dan Wheel Tractor Dozer disajikan dalam tabel berikut ini:

Crawler Tractor Dozer Punya daya dorong besar, terutama pada tanah lunak karena bidang geser besar Dapat digunakan pada tanah lumpur maupun berbatu tajam Untuk membawa ke lokasi harus diangkut, karena jika berjalan di aspal dapat merusak aspal Memiliki jarak angkut yang pendek (maksumum 30 feet) Operator cepat lelah Jalan proyek tak perlu dipelihara

Wheel Tractor Dozer Daya dorongnya lebih kecil tapi kecepatannya lebih besar Tak dapat digunakan pada tanah lumpur, jika digunakan pada tanah berbatu usia ban menjadi lebih pendek

Dapat dibawa ke lokasi tanpa diangkut

Jarak angkutnya bisa jauh Enak dikendarai Jalan proyek harus dipelihara

1) Crawler tractor Dozer (roda rantai)

2) Wheel tractor Dozer (roda karet)

3) Swamp Bulldozer (untuk daerah rawa)

II.4.2. Berdasarkan Alat Kendali Menurut alat kendali pisau dozer (blade)-nya, dibedakan dalam: 1) Cable controlled 2) Hydraulic controlled Perbandingan Cable controlled dengan Hydraulic controlled: Cable Controlled Sederhana dalam pemasangan dan pemakaian Pemeliharaan mudah Daya apung (floating) besar Kedudukan pisau mudah diatur Tidak dapat bekerja pada medan yang jelek, becek, lembek Tidak cocok untuk tanah yang keras Kadang-kadang kesulitan untuk menyiapkan minyak hidrolis jika lokasi jauh dari kota Hydraulic Controlled Tekanan pisau lebih besar

II.4.3. Berdasarkan Blade/Pisau Posisi blade pada bulldozer ada 2(dua), yaitu posisi tegak lurus dan posisimiring. Posisi blade tegak lurus hanya dapat bergerak maju, dan posisi miring dapat bergerak-gerak sesuai dengan jarak kemiringannya (kedepan dan kesamping). Jenis blade yang digunakan pada bulldozer adalah :

10

1) Universal Blade (U Blade) Blade ini dilengkapi dengan sayap yang bertujuan meningkatkan produktivitas. Sayap ini akan membuat bulldozer mendorong/membawa muatan lebih banyak, karena memungkinkan kehilangan muatan lebih kecil. Kebanyakan blade tipe ini dipakai untuk pekerjaan reklamasi tanah, pekerjaan penyediaan bahan (stock pilling) dan lain-lain. 2) Straight Blade (S Blade) Blade jenis ini sangat cocok untuk berbagai kondisi medan, blade ini merupakan modifikasi dari U-blade. Banyak digunakan untuk mendorong material cohesive, penggalian struktur dan penimbunan. Dengan memiringkan blade dapat berfungsi untuk menggali tanah keras. Manuver blade jenis inilebih mudah dan dapat menangani material dengan mudah. 3) Angling Blade (A Blade) Blade dengan posisi lurus dan menyudut, juga dibuat untuk: Pembuangan kesamping (side casting) Pembukaan jalan (pioneering roads) Penggalian saluran (cutting ditches) Sangat effektif untuk pekerjaan side hill cut atau back filling dan lain-lain pekerjaan yang sesuai

4) Cushion Blade (C Blade) Blade tipe ini dilengkapi dengan rubber cushion (bantalan karet) untuk meredam tumbukan. Selain untuk push dozing, blade juga dipakai untuk pemeliharaan jalan dan pekerjaan dozing yang lain. Lebar C-blade memungkinkan peningkatan manuver. Selain perlengkapan standar Bulldozer ini juga memiliki beberapa option/Peralatan tambahan seperti: Pisau garuk, Garu batuan, Pembajak akar, Pemotong pohon jenis V, Kanopi pelindung operator, Roda pencacah, Kap pelindung untuk pekerjaan berat dsb. 5) Bowl dozer Blade ini dibuat untuk membawa /mendorong material dengan kehilangansesedikit mungkin, karena adanya dinding besi pada sisi blade yang cukup lebar. Bentuknya seperti mangkuk, menyebabkan ia disebut bowl-dozer
11

6) Light material U Blade (U Blade, material ringan) Alat ini didesain untuk pekerjaan material non-kohesif yang lebih ringan.Contohnya seperti stock pile dari tanah lepas/gembur.

Gambar: Jenis Blade pada Bulldozer

III.5.

Operasi Bulldozer Untuk meningkatkan produksi ada beberapa cara operasi menggunakan bulldozer,

antara lain: 1) Slot Dozing Membuat beberapa lintasan dan membiarkan tanah yang berceceran di kirikanan dozer, hal ini akan menghalangi tercecernya tanah pada lintasan-lintasan berikutnya. Cara ini dapat meningkatkan produksi sebesar 20%. 2) Side by Side Dozing atau Blade to Blade Dozing Cara bekerja dengan dua dozer berdampingan, sehingga ujung blade dozer yang satu dengan ujung blade dozer yang lain hampir bersentuhandan berjalan pada arah yang sama. Cara ini dapat meningkatkan produksi sebesar 15 20%. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian Bulldozer :

12

1) Bulldozer tidak boleh digunakan pada tanjakan yang melebihi 45 . 2) Peralatan pelengkapan (option equipment) akan mengakibatkan berubahnyaKeseimbangan Bulldozer. 3) Bulldozer dapat tergelincir bila berada diatas tanah timbunan baru pada daerah kemiringannya, terutama bila timbunan tersebut terdiri dari batuan. 4) Slipnya track akibat berat yang melampaui batas akan mengakibatkan terjadinya down hill track (track sebelah menurun) dan akan membuat lubang yang akan menambah kemiringan traktor. 5) Menarik beban yang diikatkan pada drawbar akan mengurangi tekanan pada up hill track. 6) Tingginya titik gandulan melebihi titik yang telah ditentukan pada traktor, akan mengakibatkan berkurangnya kestabilan. 7) Track-track lebar akan mengurangi digging in sehingga traktor lebih stabil. 8) Dalam mengoperasikan alat, agar hati-hati terhadap stability alat-alat perlengkapan penting. 9) Jangan memaksakan Bulldozer beroperasi untuk hal-hal yang tidak perlu,seperti mendorong tanah melebihi ketentuan 100 m, karena tidak effektif. 10) Dalam mengoperasikan Bulldozer harus direncanakan dengan baik, harus diketahui dimana pass berikutnya yang harus dikerjakan. 11) Dalam menggunakan tilt dan angling adjustment harus bergantian, agar keausan blade dan steering dapat merata. 12) Dalam keadaan berjalan tanpa dozing maka blade atau pisau harus terangkat tidak boleh melebihi 35 cm untuk melindungi bagian bawah tractor.

III.6.

Produktifitas Bulldozer Kapasitas operasi alt berat biasa dinyatakan dalam m/jam atau cuyd/jam, sedangkan

produksi alat dinyatakan dalam volume pekerjaan yang dikerjakan per siklus waktu dan jumlah siklus dalam satu jam kerja.

dimana, Q : produksi per jam dari alat (m). q : produksi (m) dalam saatu siklus kemampuan alat untuk memindahkan tanah lepas.
13

N : jumlah siklus dalam satu jam. dimana N = 60/cm E : efisiensi kerja. Cm : waktu siklus dalam menit

Efisiensi kerja (E) : Produktivitas kerja dari suatu alat yang diperlukan merupakan standard dari alattersebut bekerja dalam kondisi ideal dikalikan suatu faktor dimana faktor tersebutmerupakan faktor efisiensi kerja (E). Efisiensi sangat tergantung kondisi kerjadan faktor alam lainnya seperti topografi, keahlian operator, pemilihan standar perawatan dan lain-lain yang berkaitan dengan pengoperasian alat.Pada kenyataan yang sebenarnya sulit untuk menentukan besarnya efisiensi kerjatetapi berdasarkan pengalaman-pengalaman dapatlah ditentukan faktor efisiensiyang mendekati kenyataan

Kondisi kerja tergantung dari hal-hal berikut: 1.Apakah alat sesuai dengan topografi yang ada. 2.Kondisi dan pengaruh lingkungan seperti : ukuran medan dan peralatan 3.Pengaturan kerja dan kombinasi kerja antara peralatan dan mesin. 4.Metode operasional dan perencanaan persiapan kerja. 5.Pengalaman dan ketrampilan operator dan pengawas untuk pekerjaantsb.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan alat adalah : 1. Penggantian pelumas atau grease (gemuk) secara teratur. 2. Kondisi peralatan pemotongan (blade, bucket, bowl). 3.Persediaan suku cadang yang sering diperlukan untuk alat yang bersangkutan.

14

Produksi per siklus : Produksi kerja Bulldozer pada saat penggusuran adalah sebagai berikut : Produksi (q) = L x H x a dimana, L = lebar blade/sudu (m , yd) H = tinggi blade (m) a = faktor blade.

Untuk menghitung produktivitas standar dari Bulldozer, volume tanah yang dipindahkan dalam satu siklus dianggap sama dengan lebar sudu x (tinggi sudu).Pada kenyataannya dilapangan produksi per siklus akan berbeda-beda tergantungdari jenis tanah, sehingga faktor sudu perlu disesuaikan karena pengaruh tsb.

15

Waktu siklus : Waktu siklus yang dibutuhkan Bulldozer untuk menyelesaikan pekerjaan adalahdimulai pada saat menggusur, ganti persneling dan mundur.Diperhitungkan dengan rumus :

dimana, D : jarak angkut (gusur) (m, yd). F : kecepatan maju (m /menit), berkisar 3 - 5 km /jam. R : kecepatan mundur (m /menit), berkisar 5 - 8 km/jam. Z : waktu ganti persneling (menit), berlisar 0,10 - 0,20 menit.

RIPPER Bulldozer sulit untuk menggusur dan meratakan tanah yang keras jika terdapat dilokasi proyek. Pelaksanaan pembersihan dengan Bulldozer akan menurunkan produksi Bulldozer bahkan akan mudah rusak. Untuk keadaan tersebut diper lukan alat bajak (ripper). Ripper adalah alat yang menyerupai cakar (shank) yang dipasangkan dibelakang traktor. Fungsi dari alat ini untuk menggemburkan
16

tanahkeras, jumlah cakar ripper antara 1 - 5 buah. Bentuk shank ada yang lurus danlengkung, shank lurus dipakai untuk material padat dan batuan berlapis sedang yang lengkung dipakai untuk batuan yang retak. Perhitungan produksi Ripper sangat sulit untuk diperkirakan, salah satu fak tor adalah karena pekerjaan itu tidak dilakukan terus menerus. Biasanya pekerja-an ini bersamaan dengan pemuatan material, hingga sering dijumpai dilapangansebuah traktor dipasangkan blade dan ripper pada waktu bersamaan.Perhitungan produksi Ripper ini dapat dilakukan dengan beberapa cara. Cara pertama adalah dengan mengukut potongan topografi dilapangan dan waktuyang dibutuhkan untuk menggemburkan tanah. Cara ini memberi hasil yang akurat. Cara lain dengan mengasumsikan kecepatan rata-rata Ripper yang bekerja disuatu area, dengan mengetahui jarak tempuh setiap pass maka waktu berangkatdapat dicari. Total waktu siklus merupakan penambahan waktu berangkat denganwaktu yang dibutuhkan Ripper untuk mengangkat/menurunkan cakarnya.

17

Kapasitas Produksi Ripping dengan Multy Shank Ripper adalah sbb:

Keterangan: KP = Kapasitas produksi ripping LK = Lebar kerja (meter) P = Kedalaman penetrasi (meter) J = Jarak ripping (meter) FK = Faktor koreksi F = Kecepatan maju (m/menit) R = Kecepatan mundur (m/menit) Z = Waktu tetap Contoh Hitungan Contoh hitungan: Sebuah bulldozer D35A digunakan untuk pekerjaan ripping. Jarak ripping ratarata 30 meter. Data teknis bulldozer dan ripping adalah sbb: Attachment yang digunakan adalah Giant ripper Kedalamaan penetrasi = 0,30 meter Konversi material dari bank ke loose = 1,25 Faktor effesoensi waktu = 0,83 Effisiensi kerja = 0,75 Effisiensi operator = 0,80 Berapa produksi ripping dari bulldozer tersebut? Jawab: LK = Lebar kerja = 2 P = 2 x 0,3 = 0,6 meter P = Kedalaman penetrasi = 0,3 meter J = Jarak kerja = 30 meter F = Kecepatan maju gigi 1 terkoreksi = 0,75 x 3,3 = 2,48 km/jam = 41,25 m/menit R = Kecepatan mundur gigi 1 terkoreksi = 0,85 x 3,2 = 2,72 km/jam = 45,33m/menit Z = Waktu tetap = 0,05 menit
18

FK = Faktor koreksi total, terdiri dari :

---------------------------------------0,83 x 0,75 x 0,80 = 0,50

Kapasitas Produksi gabungan Ripping Dozing Pada prakteknya pekerjaan ripping merupakan pekerjaan bantuan untuk dozing, terhadap material yang keras. Untuk mengetahui kapasitas produksi gabungan ripping-dozing, digunakan rumus sbb:

Keterangan: TD = Kapasitas produksi dozing TR = Kapasitas produksi ripping

III.7.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Dalam bidang konstruksi, ada beberapa peralatan yang digunakan untuk melindungi

seseorang dari kecelakaan ataupun bahaya yang kemungkinan bisa terjadi dalam proses konstruksi. Peralatan ini wajib digunakan oleh seseorang yang bekerja dalan suatu lingkungan konstruksi. Peralatan ini wajib digunakan oleh seseorang yang bekerja dalam suatu lingkungan konstruksi. Namun tidak banyak yang menyadari betapa pentingnya peralatan-peralatan ini untuk digunakan. Kesehatan dan keselamatan kerja adalah dua hal yang sangat penting. Oleh karenanya, semua perusahaan konstraktor berkewajiban menyediakan semua keperluan peralatan/ perlengkapan perlindungan diri atau personal protective Equipment (PPE) untuk semua karyawan yang bekerja, yaitu : II.7.1. Pakaian Kerja

19

Tujuan pemakaian pakaian kerja adalah melindungi badan manusia terhadap pengaruh-pengaruh yang kurang sehat atau yang bisa melukai badan. Megingat karakter lokasi proyek konstruksi yang pada umumnya mencerminkan kondisi yang keras maka selayakya pakaian kerja yang digunakan juga tidak sama dengan pakaian yang dikenakan oleh karyawan yang bekerja di kantor. Perusahaan yang mengerti betul masalah ini umumnya menyediakan sebanyak 3 pasang dalam setiap tahunnya.

II.7.2. Sepatu Kerja Sepatu kerja (safety shoes) merupakan perlindungan terhadap kaki. Setiap pekerja konstruksi perlu memakai sepatu dengan sol yang tebal supaya bisa bebas berjalan dimana-mana tanpa terluka oleh benda-benda tajam atau kemasukan oleh kotoran dari bagian bawah. Bagian muka sepatu harus cukup keras supaya kaki tidak terluka kalau tertimpa benda dari atas.

II.7.3. Kacamata Kerja Kacamata pengaman digunakan untuk melidungi mata dari debu kayu, batu, atau serpih besi yang beterbangan di tiup angin. Mengingat partikel-partikel debu berukuran sangat kecil yang terkadang tidak terlihat oleh mata. Oleh karenanya mata perlu diberikan perlindungan. Biasanya pekerjaan yang membutuhkan kacamata adalah mengelas.

II.7.4. Sarung Tangan Sarung tanga sangat diperlukan untuk beberapa jenis pekerjaan. Tujuan utama penggunaan sarung tangan adalah melindungi tangan dari benda-benda keras dab tajam selama menjalankan kegiatannya. Salah satu kegiatan yang memerlukan sarung tangan adalah mengangkat besi tulangan, kayu. Pekerjaan yang sifatnya berulang seperti medorong gerobag cor secara terus-meerus dapat mengakibatkan lecet pada tangan yang bersentuhan dengan besi pada gerobag.

II.7.5. Helm Helm (helmet) sangat pentig digunakan sebagai pelindug kepala, dan sudah merupakan keharusan bagi setiap pekerja konstruksi untuk mengunakannya dengar benar sesuai peraturan. Helm ini diguakan untuk melindungi kepala dari
20

bahaya yang berasal dari atas, misalnya saja ada barang, baik peralatan atau material konstruksi yang jatuh dari atas. Memang, sering kita lihat kedisiplinan para pekerja untuk menggunakannya masih rendah yang tentunya dapat membahayakan diri sendiri.

II.7.6. Sabuk Pengaman Sudah selayaknya bagi pekerja yang melaksanakan kegiatannya pada ketinggian tertentu atau pada posisi yang membahayakan wajib mengenakan tali pengaman atau safety belt. Fungsi utama talai penganman ini dalah menjaga seorang pekerja dari kecelakaan kerja pada saat bekerja, misalnya saja kegiatan erection baja pada bangunan tower.

II.7.7. Penutup Telinga Alat ini digunakan untuk melindungi telinga dari bunyi-bunyi yang dikeluarkan oleh mesin yang memiliki volume suara yang cukup keras dan bising. Terkadang efeknya buat jangka panjang, bila setiap hari mendengar suara bising tanpa penutup telinga ini.

II.7.8. Masker Pelidung bagi pernapasan sangat diperlukan untuk pekerja konstruksi mengingat kondisi lokasi proyek itu sediri. Berbagai material konstruksi berukuran besar sampai sangat kecil yang merupakan sisa dari suatu kegiatan, misalnya serbuk kayu sisa dari kegiatan memotong, mengampelas, mengerut kayu.

II.7.9. Tangga Tangga merupakan alat untuk memanjat yang umum digunakan. Pemilihan dan penempatan alat ini untuk mecapai ketinggian tertentu dalam posisi aman harus menjadi pertimbangan utama.

II.7.10. P3K Apabila terjadi kecelakaan kerja baik yang bersifat ringan ataupun berat pada pekerja konstruksi, sudah seharusnya dilakukan pertolongan pertama di proyek.

21

Untuk itu, pelaksana konstruksi wajib menyediakan obat-obatan yang digunakan untuk pertolongan pertama. Demikianlah peralatan standar k3 di proyek yang memang harus ada dan disediakan oleh kontraktor, barangkali sifatnya wajib. Ingat tindakan preventif jauh lebih baik dan murah ketimbang sudah kejadian.

22

BAB III PENUTUP

3. A III.1. Kesimpulan Pembangunan yang pesat dan semakin berkembangnya teknologi membuat pelaksanaan pekerjaan konstruksi harus dibantu dengan peralatan berat, terlebih untuk pekerjaan berat yang tidak dapat ditangani oleh tenaga manusia. Maka dari itu digunakanlah alat berat guna membantu pekerjaan konstruksi tersebut. Bulldozer merupakan salah satu alat berat yang digunakan dalan pelaksanaan konstruksi, seperti pembabatan atau penebasan (clearing), perintisan (pioneering), gali atau angkut jarak pendek, pusher loading, menyebarkan material, penimbunan kembali, trimming dan sloping, ditching, menarik (winching), memuat, bentuk sudut/bilah/blade. Agar dalam penggunaan alat berat sesuai dengan kebutuhan, efisiensi waktu dan tidak menimbulkan kerugian, maka kita harus mengetahui secara mendalam hal-hal yang berhubungan dengan alat berat.

III.2.

Saran Semua pengetahuan mengenai alat berat tentunya akan sangat bermanfaat untuk kita

semua , terlebih jika sudah terjun di dunia kerja. Untuk itu semoga kita dapat lebih memanfaatkan waktu yang ada untuk belajar dengan sebaik-baiknya.

23