Anda di halaman 1dari 4

BAB III METODOLOGI

3.1. KONSEPSI DASAR DESAIN REHABILITASI SALURAN Tahap I : merupakan tahapan awal untuk memperoleh suatu gambaran perencanaan. Temuan perbedaan yang mungkin muncul dapat diketahui apakah bersifat non teknis atau teknis dan seberapa jauh gangguan yang mengakibatkan menurunnya pelayanan irigasi. Penjabaran uraian ini akan dituangkan dalam bentuk Laporan Pendahuluan. Tahap II : merupakan tahap lanjutan yang berupa kegiatan survey dan inventory serta pengukuran yang bertujuan untuk mendiskripsikan dari dugaan-dugaan yang muncul dalam kajian awal di Laporan Pendahuluan. Selain itu, dengan hasil kegiatan tersebut dibuat suatu System Planning yang menjabarkan orientasi perencanaan dan penilaian sistem irigasi untuk mendasari usulan program dan kegiatan. Tahap III : merupakan tahap akhir dari pekerjaan yang berisi analisa detail dari berbagai aspek teknis berdasarkan usulan program dan kegiatan dari system planning yang dituangkan dalam Laporan Akhir.

BAB V PEDOMAN O & P


5.1. PEDOMAN OPERASI A. FPR & LPR Berdasarkan dari evaluasi kebutuhan air irigasi dengan tingkat pencapaian tanam setiap periode musim tanam selama kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir (2003 hingga 2008), maka diperoleh nilai FPR dan LPR di lokasi studi dengan kriteria seperti tabel berikut ini : Pedoman Pemberian Air Musim Tanam 1 Musim Tanam 2 Musim Tanam 3 Giliran Perlu Jenis Tanaman Palawija Padi Rendeng a. Untuk pembibitan/persemaian b. Untuk pengolahan tanah c. Untuk pemeliharaan tanaman Padi Gadu Ijin Padi Gadu Tak Ijin Tembakau Mungkin FPR (lt/dt/ha.pol) Air Kurang <0,06 Air Cukup 0,06 - 0,12 0,1 0,1 0,15 Tidak Air Memadai >0,12

Kebutuhan (x Palawija) 1 5 10 3 Sama dengan padi rendeng 1 1

B. FAKTOR K Jenis pemberian air irigasi dikelompokkan menjadi dua cara, yaitu (1) Terus menerus dan (proporsional pada kondisi debit puncak dan debit berubah) (2) Secara Giliran (berselang untuk kondisi debit tetap). Cara pemberian terus-menerus bisa diberikan pada K>1 Sedang untuk berselang hanya pada K<1.

Tabel Kriteria Pemberian Air dengan Faktor K 1 2 3 4 Faktor K > 1.00 Faktor K = 0.75 - 1.00 Faktor K = 0.50 - 0.75 Faktor K = 0.25 - 0.50 : terus menerus : giliran di Blok D : giliran di Blok C, D : giliran di Blok B, C, D

5 Faktor K < 0.25 : giliran di Blok A, B, C, D Tabel Konversi Faktor K dan FPR untuk pembagian air Pembagian Air FPR No. Faktor K (lt/dt/ha.pol) Faktor K FPR 1 > 0,75 > 0,12 terus menerus Memadai 2 0,25 - 0,75 0,06 0,12 Gilir Blok B, C, D Cukup 3 < 0,25 < 0,06 Gilir Blok A, B, C, D Kurang C. PEMBAGIAN BLOK GOLONGAN Dalam pengaturan pelaksanaan penanaman dengan sistim golongan dan pengaturan pembagian air irigasi di lokasi studi mempertimbangkan beberapa hal berikut : a) Kegiatan penanaman sistim golongan dan pembagian blok golongan untuk kepentingan pengaturan pembagian air maksimum berjumlah 3 (tiga). b) Jumlah luas masing-masing blok golongan diupayakan sama atau minimal mempunyai perbedaan luasan yang tidak terlalu besar. Pembagian blok golongan ditetapkan dengan mempertimbangkan kesatuan sistem bangunan, wilayah pengairan (juru pengairan, juru pintu air dan P3A), dan wilayah administratif (desa). Kegiatan penanaman sistim golongan dan pembagian blok golongan untuk kepentingan pengaturan pembagian air berjumlah 3 (tiga) golongan utama dari 4 (empat) daerah irigasi yang berada di wilayah Lombok Tengah, dengan rincian sebagai berikut :
Gol I (4239 ha) - Jurang Sate Hulu (Pringgarata) Gol II (6627.3 ha) - Jr. Sate Hilir (Jonggat) - Jr. Sate Hilir (Praya) Gol III (3500 ha) - Jurang Batu (Praya Tengah)

5.2.

PEDOMAN PEMELIHARAAN

A. Pekerjaan pemeliharaan rutin atau teratur 1. Pemeliharaan pertanaman dan kebersihan di sekitar bangunan. 2. Pengecekan pintu-pintu air dan pemberian pelumas 3. Pembersihan rumput, tumbuh-tumbuhan, dan barang lain yang mengganggu 4. Pembersihan endapan sedimen (waled) pada bangunan pengatur dan bangunan ukur debit. 5. Penutupan bocoran air di sepanjang saluran dan bangunan. 6. Penutupan retakan-retakan pada badan tanggul saluran. B. Pekerjaan pemeliharaan periodik atau berkala 1. Pengeringan saluran dilakukan 2 (dua) kali dalam setiap tahunnya. 2. Melakukan pemeriksaan kondisi fisik saluran dan bangunan. 3. Pembersihan endapan sedimen (waled) pada saluran dan bangunan. 4. Pengecatan pintu-pintu air dan perbaikan (service) pintu 5. Pemeliharaan dan perbaikan pada bangunan utama, bangunan pelengkap, 6. Perbaikan ambang pintu dan ambang bangunan ukur

C. Pekerjaan pemeliharaan darurat 1. Untuk membatasi meluasnya kerusakan, antara lain perbaikan pada pasangan dinding bangunan yang mengalami longsor akaibat gerusan air (scouring). 2. Untuk mengamankan stabilitas bangunan, antara lain perbaikan pada pasangan kaki pondasi (koperan) yang tergerus. 3. Untuk menjamin kontinyuitas pelayanan air irigasi, antara lain perbaikan bangunan dan saluran yang mengalami kerusakan akibat bencana alam. D. Pemeliharaan jangka panjang antara lain : 1. Pengerukan endapan sedimen (waled) pada bangunan utama 2. Normalisasi penampang saluran 3. Perbaikan fasilitas eksploitasi, meliputi : 4. Perbaikan rumah pintu 5. Perbaikan rumah juru 6. Perbaikan papan eksploitasi