Anda di halaman 1dari 25

OSILOSKOP

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebeluma adanya osiloskop, besaran-besaran dalam listrik (tegangan, arus,
dan hambatan, dll) biasanya diukur dengan menggunakan multimeter. Multimeter
ini hanya bisa mengukur besaran-besaran listrik saja berupa nilai.
Namun dengan menggunakan osiloskop, selain bisa untuk mengukur
besaran-besaran diatas juga dapat melihat sinyal keluaran dan beda sudut fasa
tegangan dengan adanya tampilan pada layar osiloskop berupa gelombang
sinusoida.
1.2 Identifikasi Masalah
Osiloskop merupakan instrumen elektronika yang digunakan untuk mengukur
dan menganalisa bentuk-bentuk gelombang dan gejala-gejala lain dalam
rangkaian-rangkaian elektronik. Sehingga, kita mendapatkan informasi mengenai
beda sudut fase dari dua buah sinyal.
Dengan metode lissayous, osiloskop dapat mengetahui frekuensi sinyal yang
belum diketahui. Jika salah satu dari dua sinyal yang masuk ke osiloskop telah
diketahui frekuensinya. Dengan memakai osiloskop dapat dilihat sejauh mana
pengaruh resistor terhadap peredaman tegangan pada rangkaian RLC.
1.3 Tujuan Percobaan
a. Mengukur tegangan power supply.
b. Menghitung frekwensi power supply.
c. Mengukur beda sudut fase sinyal input dan output pada rangkaian RC.
d. Menghitung frekwensi resonansi pada rangkaian RLC.
e. Mengetahui sejauh mana pengaruh resistor terhadap peredaman tegangan pada
rangkaian RLC.

II. Teori Dasar
Osiloskop merupakan instrumen elektronika yang digunakan untuk
mengukur dan menganalisa bentuk-bentuk gelombang dan gejala-gejala lain
dalam rangkaian-rangkaian elektronik. Osiloskop merupakan alat untuk
menggambarkan grafik visual dari tegangan dan arus dengan tanggapan terhadap
waktu. Osiloskop sangat penting untuk analisa rangkaian elektronik. Osiloskop
digunakan oleh para montir alat-alat listrik, para teknisi dan peneliti pada bidang
elektronika dan sains karena dengan osiloskop dapat mengetahui besaran-besaran
listrik dari gejala-gejala fisis yang dihasilkan oleh sebuah transducer. Osiloskop
sinar katoda (cathode ray oscilloscope atau CRO) merupakan instrumen (peralatan) yang
digunakan secara visual untuk mengamati bentuk gelombang dan melakukan
pengukurannya.
1. Cara Kerja Dasar CRO
Subsistem utama dari sebuah CRO untuk pemakaian umum ditunjukan pada
diagram dibawah ini. Yang terdiri dari : Tabung sinar katoda (Cathode Ray Tube)
atau CRT , Penguat vertical (vertical amplifier), Saluran tunda (delay line),
Generator basis waktu (time base generator), Penguat horizontal (horizontal
amplifier), Rangkaian pemicu (trigger circuit), Sumber daya (power supply).
Komponen utama dari peralatan ini adalah tabung sinar katoda (cathode ray tube atau
CRT).






Dalam tabung sinar katoda ini dihasilkan electron dari hasil pemberian beda
tegangan antara dua elektroda yang cukup besar. Pada prinsipnya, tabung ini
terdiri atas sebuah vakum yang didalamnya terdapat penembak elektron dengan
sistem pembeloknya. Sisi tabung yang berhadapan dengan penembak elektron
ditutup dengan lapisan yang fluoresent, sehingga apabila elektron yang dilepaskan
dari kanon elektron menumbuk dari lapisan ini, maka akan terjadi fluoresensi.
Electron yang dihasilkan oleh penembak electron dalam tabung sinar katoda
ini dapat bergerak berdasarkan pengaturan tegangan. Electron dapat bergerak
horizontal dan vertical karena di dalam tabung terdapat alat pembelok berupa
lempengan horizontal dan vertical. Ketika lempeng horisontal diberikan tegangan
maka electron akan bergerak dengan arah horizontal. Ketika tegangannya
diperbesar maka elektronnya pun sehingga tingginya titik cahaya electron ini
merupakan ukuran besarnya tegangan. sumbu X atau masukan horizontal adalah
tegangan tanjak (ramp voltage) linear yang dibangkitkan secara internal, atau
basis waktu (time base) yang secara periodik menggerakkan bintik cahaya dari
kiri ke kanan melalui permukaan layar, sehingga sumbu X merupakan fungsi
waktu. Dengan demikian CRO memvisualisasikan gambar/grafik fungsi tegangan
terhadap waktu.
Pembelokan elektrositas berkas elektron dilakukan dengan dua pasang
lempengan pembelok, satu pasang pembelok horisontal dan satu pasang lagi
pembelok vertikal. Apabila pada lempengan horisontal diberi tegangan, maka titik
cahaya akan bergerak menurut arah horisontal dan begitu pula terhadap
lempengan pembelok vertikal.
Lempengan pembelok diberi tegangan dan diperbesar tegangannya itu,
maka perpindahan cahaya ke arah vertikal akan semakin besar, sehingga
perpindahan titik cahaya merupakan ukuran bagi tegangan terpasang. Karena
itulah tabung sinar katoda (CRO) dapat dipergunakan sebagai voltmeter.
2. Fungsi Tombol pada Osiloskop
- POWER, Untuk menghidupkan atau mematikan Osiloskop.
- Kontrol INTENSITY, Untuk mengatur intensitas/keterangan cahaya pada
layar. Sebaiknya dijaga agar tidak pada kedudukan maksimal.
- Pengontrol FOCUS , Untuk memperjelas/mempertajam garis atau sinyal
keluaran.
- TRACE ROTATION , Untuk mengatur kedudukan garis horisontal secara
paralel dengan garis graticule.
- Pemilih AC, GND, DC
AC : Untuk menahan sinyal dc dan melalukan sinyal ac yang masuk ke
attenuator.
GND: Sinyal masukan akan di-off-kan dan attenuator akan di ground-kan.
DC : Semua sinyal akan terhubung langsung ke attenuator.
- Saklar VOLT/DIV CH1/CH2 , Attenuator CH1 (X) dan CH2 (Y).
Faktor pemilihannya dari 5v/div sampai 5mv/div.
- VOLT/DIV : untuk menunjukkan besarnya tegangan yang tergambar pada
layar perkotak dalam arah vertikal.
- CAL (Vp-p) , Untuk mengkalibrasi Osiloskop sebelum digunakan.
- VERT MODE
CH1 : Hanya menampilkan sinyal pada CH1
CH2 : Menampilkan sinyal CH2 dan saklar (X-Y).
DUAL: Menampilkan 2 pengoperasian sekaligus (CH1 dan CH2).
CHOP: Menampilkan isyarat dari masukan yang dipotong-potong dg freq.
500 kHz. Tarik saklar HOLD OFF jika ingin menggunakan fungsi
CHOP.
ADD : Untuk mengukur jumlah atau perbedaan dari sinyal CH1 dan CH2.
Tarik saklar PULL INV jika ingin menggunakan fungsi ADD.
- TRIGGER SOURCE (sumber pemicu)
CH1 : Sinyal CH1 sebagai sumber pemicu.
CH2 : Sinyal CH2 sebagai sumber pemicu.
LINE: Sinyal AC line sebagai sumber pemicu.
EXT : Sumber picu diambil dari EXT TRIG.
- TRIGGER COUPLING
AUTO: Pemicuan dilakukan secara otomatis.
NORM: Pemicuan dilakukan secara normal.
- SLOPE and TRIG LEVEL
+ : Pemicuan terjadi ketika sinyal picu memotong taraf picu positip.
- : Pemicuan terjadi ketika sinyal picu memotong taraf picu negatip.
- TRIG LEVEL:
Untuk menampilkan bentuk gelombang sinkron dan men-set bentuk
gelombang awal.
- Pengontrol HOLD OFF
Untuk menstabilkan sinyal dengan periode berulang yang komplek.
- TIME/DIV
Menyatakan faktor pengali untuk waktu dari gambar pada layar dalam arah
horisontal.
3. Kegunaan Osiloskop
Adapun beberapa kegunaan osiloskop, yaitu:
- Pengukuran Tegangan
Tegangan adalah besar beda potensial listrik, dinyatakan dalam Volts,
antara dua titik pada rangkaian. Biasanya salah satu titiknya adalah titik ground,
tapi tidak selalu. Tegangan juga diukur dari puncak ke puncak, yaitu dari titik
puncak maksimum ke titik muncak minimum. Dan kita harus hati-hati
menspesifikasikan tegangan apa yang dimaksud.
Pada dasarnya osiloskop adalah alat ukur tegangan. Sekali anda mengukur
tegangan, maka besaran lain bisa di ketahui melalui penghitungan. Sebagai contoh
pengukuran arus dengan menerapkan hukum Ohm arus dapat diketahui melalui
pengukuran tegangan dan membaginya dengan besar hambatan yang digunakan.
Pengukuran tegangan dilakukan dengan menghitung jumlah pembagi yang
meliputi muka gelombang pada bagian skala vertikal. Untuk mengatur sinyal
adalah dengan mengubah-ubah kontrol vertical dan untuk pengukuran terbaik
mengatur skala volts/div yang paling cocok.








- Pengukuran waktu dan frekuensi
Ambil waktu pengukuran dengan menggunakan skala horizontal pada
osiloskop. Pengukuran waktu meliputi perioda, lebar pulsa(pulse width), dan
waktu dari pulsa. Frekuensi adalah bentuk resiprok dari perioda, jadi dengan
mengukur perioda frekuensi akan diketahui, yaitu satu per perioda. Seperti pada
pengukuran tegangan, pengukuran waktu akan lebih akurat saat meng-adjust porsi
sinyal yang akan diukur untuk mengatasi besarnya area pada layar. Ambil
pengukuran waktu sepanjang garis horizontal pada tengah-tengah layar, atur
time/div untuk memperoleh pengukuran yang lebih akurat.


- Pengukuran beda fasa
CRO juga dapat memberikan informasi mengenai beda sudut fase dari dua
buah sinyal. Dengan menggunakan metode Lissoyous, Osiloskop atau CRO ini
dapat mengetahui frekuensi sinyal yang belum diketahui, jika salah satu dari dua
sinyal yang masuk ke Osiloskop telah diketahui frekuensinya.
Dalam metode Lissoyous, jika dua buah sinyal dimasukkan ke input X dan
input Y, dengan :
X = A sin (
1
t) dan Y = B sin (
2
t + )
dan berlaku : n
2
= n
1

1
2
1
2
2
2
f
f
f
f
m
n
= =
t
t

Jika pada persamaan (1) e
1
= e
2
maka diperoleh
| |
2
2
2
2
2
sin cos
2
= |
.
|

\
|
+
AB
XY
B
Y
A
X

Sinar sudut fasa antara kedua sinyal sama dengan perbandingan antara titik
potong pada sumbu Y yang dinyatakan oleh b terhadap defleksi vertikal maksimal
yang dinyatakan oleh B. Sesuai dengan gambar elips maka berlaku :
dengan :
f
1
adalah frekuensi sinyal yang masuk ke input X
f
2
adalah frekuensi sinyal yang masuk ke input Y
m adalah jumlah loop pada arah vertikal
n adalah jumlah loop pada arah horizontal

b B


Sinus sudut fasa antara kedua sinyal sama dengan perbandingan antara
titik potong pada sumbu Y yang dinyatakan oleh b terhadap defleksi
vertical maksimal yang dinyatakan oleh B, sehinnga dapat dituliskan :
Sin u = b/B
Bagian pengontrol horizontal memiliki mode XY sehingga kita dapat
menampilkan sinyal input dibandingkan dengan dasar waktu pada sumbu
horizontal. (Pada beberapa osiloskop digital digunakan mode setting tampilan).
Fase gelombang adalah lamanya waktu yang dilalui dimulai dari satu loop
hingga awal dari loop berikutnya diukur dalam derajat. Salah satu cara mengukur
beda fasa adalah menggunakan mode XY. Yaitu dengan memplot satu sinyal pada
bagian vertical (sumbu Y) dan sinyal lain pada sumbu horizontal (sumbu X).
Metoda ini akan bekerja efektif jika kedua sinyal yang digunakan adalah sinyal
sinusioda. Bentuk gelombang yang dihasilkan adalah berupa gambar yang disebut
pola Lissajous (diambil dari nama seorang fisikawan asal Perancis Jules Antoine
Lissajous). Dengan melihat bentuk pola Lissajous kita bisa menentukan beda fasa
antara dua sinyal. Juga dapat ditentukan perbandingan frekuensi. Gambar di
bawah ini memperlihatkan beberapa pola Lissajous dengan perbandingan
frekuensi dan beda fasa yang berbeda-beda.







4. Aplikasi dalam Rangkaian Listrik

- Rangkaian RC
Karena beda fase tegangan dan fase arus pada R adalah nol, sedangkan
pada C adalah -90
o
, yaitu arus mendahului tegangan, maka pada rangkaian RC
ini, arus akan mendahului tegangan
- Rangkainan RLC
Karena beda fase tegangan dan fase arus pada R adalah nol, pada L adalah
90
o
(tegangan mendahului arus), dan pada C adalah -90
o
(arus mendahului
tegangan), maka pada rangkaian RLC ini, karakteristik akan ditentukan oleh besar
C dan L.


Ada tiga kemungkinan yang terjadi yaitu :
1. Reaktansi induktif lebih besar daripada reaktansi kapasitif, X
L
>X
C
, sudut
fase impedansi Z bernilai positif (u > 0
o
) sehingga rangkaian seri RLC
dikatakan bersifat induktif.
2. Reaktansi induktif lebih kecil daripada reaktansi kapasitif, X
L
<X
C
, sudut
fase impedansi Z bernilai negatif (u < 0
o
) sehingga rangkaian seri RLC
dikatakan bersifat kapasitif.
3. Reaktansi induktif sama dengan reaktansi kapasitif, X
L
=X
C
, sudut fase
impedansi Z bernilai positif (u = 0
o
) sehingga rangkaian seri RLC dikatakan
bersifat resistif murni. Keadaan ketika sifat induktif saling meniadakan
dengan sifat kapasitif inilah yang disebut keadaan resonansi.
Dengan demikian syarat terjadinya resonansi adalah :
C L
X X =
Pada rangkaian RL, RC, RLC maka arus listrik bolak-balik yang masuk
pada rangkaian tersebut, maka output dari rangkaian itu akan mengalami
pergeseran sudut fase terhadap inputannya, untuk rangkaian RC beda fasa dapat
dinyatakan :
Z =
2 2
xC xR +
c
Xc
Xr
Xc
tg
e
|
1
= =
RC
tg
e
|
1
=
Untuk rangkaian RL, maka beda fasa dapat dinyatakan :
Z =
2 2
xC xR + , L XL
XR
XL
tg e | = =
R
L
tg
e
| =
Dalam suatu rangkaian seri RLC dikatakan dalam keadaan resonansi bila
impendansi totalnya adalah real dicapai, bila:
LC
r
1
= e
Beda sudut fasa antara arus yang melalui rangkaian dari sumber adalah
nol. Dalam rangkaian RLC berlaku : 0
2
2
= + +
LC
q
dt
dq
L
R
dt
q d


III. Prosedur Percobaan
3.1 Alat dan Bahan Percobaan beserta fungsinya
1. Osiloskop
Osiloskop merupakan alat untuk menggambarkan grafik visual dari
tegangan dan arus dengan tanggapan terhadap waktu dan untuk menghitung
tegangan, frekuensi.
2. Power supply
Berfungsi sebagai sumber tegangan.
3. Frekuensi counter
Berfungsi sebagai alat penghitung frekuensi.
4. Rangkaian RC
Berfungsi sebagai rangkaian yang akan diukur tegangan dan beda fasanya.
5. Induktor (1,4 H dan 1,7 H)
Berfungsi sebagai komponen pembentuk rangkaian.
6. Variabel resistor (R-box)
Berfungsi sebagai alat yang digunakan dalam peredam.

3.2 Prosedur Percobaan

A. Kalibrasi osiloskop
Meminta bantuan asisten apabila tidak mengerti cara mengkalibrasi alat.
B. Menentukan tegangan dan frekuensi
1. Menjadikan salah satu dari output trafo sebagai ground, dan yang lainnya
sebagai masa.
2. Mengambil sinyal pada output 4 Volt dengan input A atau input B pada
osiloskop.
3. Mengatur AMP/DIV dan TIME/DIV, sehingga sinyal pada layar dapat
diamati dengan jelas.
4. Mencatat amplitudo dan periode sinyal tersebut.
5. Mengulangi percobaan 2 s.d. 4 minimal 5 kali.
6. Mengukur output trafo tersebut dengan voltmeter (minimal 5 kali).
7. Melakukan percobaan 2 s.d. 6 untuk output trafo 6 V, 10 V dan 20 V.
C. Menentukan frekuensi dengan Lissayous
1. Memasukkan sinyal input 4 V dari output trafo ke input A dan sinyal (2V
atau 4 V)
dari generator ke input B.
2. Menempatkan selektor TIME/DIV pada posisi X-DEFL.
3. Mengatur frekuensi generator hingga terbentuk gambar lissayous dengan
n/m = 1.
4. Mencatat frekuensi generator tersebut.
5. Melakukan percobaan 3 dan 4 untuk n/m = , 1/3, , 1/5, 2, 3, 4, dan 5.
D. Menentukan beda sudut fasa input dan output
1. Menyusun rangkaian seperti pada gambar berikut :
X
Y
C = 0,1
R = 100
G

2. Memasukkan sinyal input(150 Hz , 5 V) dari sinyal generator.
3. Memasukkan sinyal input rangkaian ke input A dan output rangkaian ke
input B.
4. Menempatkan selektor TIME/DIV pada posisi X-DEFL.
5. Menentukan nilai b dan B dari gambar elips yang terbentuk untuk masing-
masing sinyal A(input) dan sinyal B(output). (melihat gambar 1).
6. Melakukan Percobaan 2 s.d. 5 untuk frekueksi 300, 400, 500, 600, 700, 800,
900, dan 1000 Hz.
E. Resonansi listrik
1. Menyusun rangkaian seperti pada gambar berikut :
X
Y
C = 0,1
R = 100
G
L = 7,2 mH

2. Memasukkan sinyal input pada rangkaian (3 KHz, 5 V) sinyal input dari
generator.
3. Memasukkan sinyal input pada rangkaian ke input A dan sinyal output
rangkaian ke input B.
4. Menempatkan selektor TIME/DIV pada posisi X-DEFL.
5. Menentukan nilai b dan B dari gambar elips yang terbentuk untuk sinyal
input dan output.
6. Melakukan prosedur 2 s/d 5 untuk frekuensi 3,5 KHz s/d 10 KHz, dengan
kenaikan 0,5 KHz.

F. Tahanan sebagai peredam
1. Menyusun rangkaian seperti pada gambar berikut :
X
Y
R = 1,5 K
C = 0,1
L = 1,4 mH
Rbox

2. Memasukkan sinyal persegi dari sinyal generator pada rangkaian tersebut.
3. Menentukan posisi selektor Rbox pada posisi nol.
4. Memasukkan sinyal input rangkaian pada input A dan output rangkaian
pada input B.
5. Mengatur tegangan dan frekuensi sinyal input sehingga diperoleh sinyal
output yang dapat diamati. Mencatat tegangan dan frekuensinya.
6. Mengukur amplitudo Vopada saat t = 0 s,kemudian V1 untuk t = T, V2
untuk t = 2T, V3 untuk t = 3T dan seterusnya hingga amplitudo yang masih
dapat diamati.
7. Melakukan percobaan 4-7 untuk Rbox 100,250 dan 500 ohm.

IV. Data dan Analisa
4.1 Data
- Mengukur Tegangan dan Frekuensi
Vin(Volt) Amplitudo Perioda(s) Ampl/div(Volt) Time/div(ms) n
4
11 20 1 5 2,5
11 10 1 10 5
11 5 1 20 10
11 50 1 2 1
11 100 1 1 0,5
6
4 100 1 1 0,5
5 50 0,5 2 1
4 20 0,5 5 2,5
7 10 0,5 10 5
9 5 0,5 20 10
10
11 10 5 10 5
13 20 5 5 2,5
11 50 5 2 1
11 100 5 1 0,5
13 5 5 20 10
20
11 100 5 1 0,5
11 50 5 2 1
19 50 5 2 1
19 20 5 5 2,5
19 10 5 10 5

- Mengukur Frekuensi dengan lissayous
N m frekuensi(Hz)
1 1 52
1 2 102
1 3 152
1 5 258
2 1 26
3 1 17,9
2 5 128
2 6 182
1 6 310

- Mengukur Beda Fase pada Rangkaian RC
frek.(Hz) b B
A
(Ampl/div)
B
(Ampl/div)
150 2,5 11 1 0,1
200 4 11 1 0,1
300 6 12 1 0,1
400 8 13 1 0,1
500 10 15 1 0,1
600 12 17 1 0,1
700 14 18 1 0,1
800 16 20 1 0,1
900 6 12 1 0,2
1000 6,5 12,5 1 0,2

- Mengukur Beda Fase pada Rangkaian RLC
frek.(kHz) b B
A
(Ampl/div)
B
(Ampl/div)
3 1 13 1 5
3,5 1 13,5 1 5
4 1 13,5 1 5
4,5 1 14 1 5
5 0,5 14 1 5
5,5 0,5 14 1 5
6 1 12,5 2 2
6,5 1,2 12,5 2 2
7 1 12,5 2 2
7,5 0,2 13 2 2
8 0,2 13 2 2
8,5 0,2 14,8 1 5
9 0,25 14,8 1 5
9,5 0,2 14,8 1 5
10 0,3 14,8 1 5

4.2 Pengolahan Data
- Menghitung Tegangan dan Frekuensi terbaik serta sesatannya
Teganagan : V = amplitudo
Hz
T
f Frekuensi 05 , 0
20
1 1
: = = =
Hasil Perhitungan :
Vin
(Volt) Amplitudo
Perioda
(s)
Ampl/div
(Volt)
Time/div
(ms) n
V
(Volt)
Frekuensi
(Hz)
4
11 20 1 5 2,5 11
0,125
11 10 1 10 5 11
0,5
11 5 1 20 10 11
2
11 50 1 2 1 11
0,02
11 100 1 1 0,5 11
0,005
6
4 100 1 1 0,5 4
0,005
5 50 0,5 2 1 5
0,02
4 20 0,5 5 2,5 4
0,125
7 10 0,5 10 5 7
0,5
9 5 0,5 20 10 9
2
10
11 10 5 10 5 11
0,5
13 20 5 5 2,5 13
0,125
11 50 5 2 1 11
0,02
11 100 5 1 0,5 11
0,005
13 5 5 20 10 13
2
20
11 100 5 1 0,5 11
0,005
11 50 5 2 1 11
0,02
19 50 5 2 1 19
0,02
19 20 5 5 2,5 19
0,125
19 10 5 10 5 19
0,5

Menghitung Tegangan dan Frekuensi terbaik serta sesatannya:
Disini berarti Teganga dan frekuensi terbaik adalah rata-rata dari data yang
diperoleh, maka :
V rata-rata =
n
v
n
i
i
=1

V = (11+11+11+11+11)/5= 11
f rata-rata =
n
f
n
i
i
=1

f = (0,125+0,5+2+0,02+0,005)/5 = 0,53
V =
) 1 (
) (
2
1
_

=
N N
V V
n
i
i

V =
) 1 5 ( 5
0 0 0 0 0

+ + + +

= 0
f =
) 1 (
) (
2
1
_

=
N N
f f
n
i
i

f =
) 1 5 ( 5
276 , 0 26 , 0 16 , 2 0009 , 0 164 , 0

+ + + +

= 3782 , 0 143 , 0
20
8609 , 2
= =

Hasil Perhitungan :
Vin
(Volt)
T (s) n
V
(Volt)
f (Hz)
V
(rata")
f
(rata")
V f
4
20 2,5 11 0,125
11 0,53 0 0,3782
10 5 11 0,5
5 10 11 2
50 1 11 0,02
100 0,5 11 0,005
6
100 0,5 4 0,005
5,8 0,53
1,083974 0,422903
50 1 5 0,02
20 2,5 4 0,125
10 5 7 0,5
5 10 9 2
10
10 5 11 0,5
11,8 0,53
0,547723 0,422903
20 2,5 13 0,125
50 1 11 0,02
100 0,5 11 0,005
5 10 13 2
20
100 0,5 11 0,005
15,8 0,134
2,19089 0,10508
50 1 11 0,02
50 1 19 0,02
20 2,5 19 0,125
10 5 19 0,5

- Menghitung frekuensi terbaik dan sesatannya dari sinyal generator berdasarkan
gambar lissayous.

Untuk f
1
: 52 Hz
n/m : 1/1
maka :
Hz
f
m
n
f
m
n
f
f
52
) 52 ).( 1 / 1 (
.
1 2
1
2
=
=
=
=

Hasil Perhitungan :
N m frekuensi(Hz) f2(Hz)
1 1 52 52
1 2 102 51
1 3 152 50,66666667
1 5 258 51,6
2 1 26 52
3 1 17,9 53,7
2 5 128 51,2
2 6 182 60,66666667
1 6 310 51,66666667

- Menghitung Beda Sudut Fase pada Rangkaian RC
Menghitung sudut fasa untuk setiap frekuensi.
B
b
arc
B
b
sin
sin
=
=
|
|

Untuk : f = 150 Hz
b = 2,5 dan B = 11
= =
= =
13,13753 sin
0,227273
11
5 , 2
sin
B
b
arc |
|

Hasil perhitungan :
frek.(Hz) b B
A
(Ampl/div)
B
(Ampl/div)
b/B ( )
150 2,5 11 1 0,1 0,227273 13,13753
200 4 11 1 0,1 0,363636 21,32526
300 6 12 1 0,1 0,5 30,00221
400 8 13 1 0,1 0,615385 37,98267
500 10 15 1 0,1 0,666667 41,81339
600 12 17 1 0,1 0,705882 44,90418
700 14 18 1 0,1 0,777778 51,06132
800 16 20 1 0,1 0,8 53,13402
900 6 12 1 0,2 0,5 30,00221
1000 6,5 12,5 1 0,2 0,52 31,33456

Menghitung sudut fase dengan menggunakan harga R dan C ( persamaan 5)
Rumus yang digunakan:
RC
tg
e
u
1
=
Untuk : R = 100
C = 0,1 F = 10
-7
F
= 150 Hz; =2f

5 106,157112
) 10 )( 100 )( 150 )( 14 , 3 ( 2
1
1
7
=
=
=

RC
tg
e
u


=
=
9 89,4668794
1
RC
tg arc
e
u

Hasil perhitungan :
frek.(Hz) R (ohm) C (Farad) 1/RC ( )
150 100 0,0000001 106,1571125 89,46687949
200 100 0,0000001 79,61783439 89,28697937
300 100 0,0000001 53,07855626 88,92722522
400 100 0,0000001 39,8089172 88,56755617
500 100 0,0000001 31,84713376 88,2080005
600 100 0,0000001 26,53927813 87,84858646
700 100 0,0000001 22,74795268 87,48934223
800 100 0,0000001 19,9044586 87,13029591
900 100 0,0000001 17,69285209 86,77147551
1000 100 0,0000001 15,92356688 86,41290892

Menghitung KSR Beda sudut Fase dari grafik dengan persamaan (5) :
KSR = % 100
2
1 2

hit
hit hit
u
u u

% 31577 , 85 % 100
46688 , 89
13753 , 13 46688 , 89
=

= KSR


Hasil Perhitungan :
KSR Beda Sudut Fase
( ) ( ) KSR(%)
89,46688 13,13753 85,31577
89,28698 21,32526 76,11605
88,92723 30,00221 66,26206
88,56756 37,98267 57,11447
88,208 41,81339 52,59682
87,84859 44,90418 48,88457
87,48934 51,06132 41,6371
87,1303 53,13402 39,01775
86,77148 30,00221 65,42388
86,41291 31,33456 63,73857

- Resonansi pada rangkaian RLC
Menghitung Beda Fasa Rangkaian RLC
Sama seperti perhitungan beda fasa pada rangkaian RC
Hasil Perhitungan :
frek.
(kHz)
b B
A
(Ampl/div)
B
(Ampl/div)
b/B ( )
3 1 13 1 5 0,076923077 4,4120508
3,5 1 13,5 1 5 0,074074074 4,2483356
4 1 13,5 1 5 0,074074074 4,2483356
4,5 1 14 1 5 0,071428571 4,0963455
5 0,5 14 1 5 0,035714286 2,0468639
5,5 0,5 14 1 5 0,035714286 2,0468639
6 1 12,5 2 2 0,08 4,5889037
6,5 1,2 12,5 2 2 0,096 5,5092845
7 1 12,5 2 2 0,08 4,5889037
7,5 0,2 13 2 2 0,015384615 0,8815732
8 0,2 13 2 2 0,015384615 0,8815732
8,5 0,2 14,8 1 5 0,013513514 0,7743479
9 0,25 14,8 1 5 0,016891892 0,9679514
9,5 0,2 14,8 1 5 0,013513514 0,7743479
10 0,3 14,8 1 5 0,02027027 1,161566

- Grafik menyatakan Beda sudut fasa terhadap frekuensi pada rangkaian RLC

y = -0.5651x + 6.4216
R = 0.4977
0
2
4
6
0 2 4 6 8 10 12
B
e
d
a

F
a
s
a

(


)

frekuensi (kHz)
Grafik beda sudut fasa terhadap frekuensi
Dari grafik tersebut, maka Frekuensi Resonansinya adalah saat
frekuensinya memiliki sudut fase = 0 atau yang paling mendekatinya yaitu :
0,7743479.
Dengan begitu frekuensi resonansinya adalah : 8,5 atau 9,5 kHz.
Menghitung Frekuensi Resonansi dari persamaan (7) :
7,5kHz Hz 506 . 7
,0000001) (0,0045)(0 )( 14 , 3 ( 2
1
2
1
1
= =
=
=
=
f
f
LC
f
LC
t
e

Menghitung KSR frekuensi resonansi dari grafik dengan persamaan (7)
% 3 , 13
% 100
5 , 7
5 , 7 5 , 8
% 100
=

=
KSR
KSR
f
f f
KSR
hitung
hitung grafik


4.3 Analisa
- Analisa Data dan Perhitungan
Setelah mempelajari tombol-timbol pada osiloskop, kita dapat mengetahui
fungsi-fungsi tombol tersebut, antara lain : Intent, untuk mengatur intensitas;
Vertical dan Horizontal, untuk mengatur posisi sinyal pada sumbu x dan y;
Ampl/div, untuk mengatur besar amplitudo pada sinyal; Time/div, untuk
mengatur waktu atau kecepatan sinyal, semakin besar time/div maka sinyal
bergerak semakin lambat, begitu sebaliknya. Dalam osiloskop terdapat 2 tombol
time/div yang digunakan untuk mengatur amplitudo pada channel 1 dan 2.
Pada percobaan pertama adalah mengukur tegangan dan frekuensi. Kita
gunakan trafo dengan tegangan masukan 4 V, 6 V, 10 V, dan 20 V. Untuk
mengukur tegangan yang kita lakukan adalah mengukur amplitudo pada sinyal di
osiloskop, yaitu pada sumbu y. Dan untuk mengukur frekuensi, kita peroleh dari
perioda dengan persamaan f = n / T, untuk mengetahui periodanya kita bisa
mengukur panjang atau skala pada sumbu x. Dari data tersebut diperoleh
hubungan bahwa semakin besar perioda, maka semakin kecil frekuensinya dan
seharusnya tegangan keluaran V adalah sama seperti tegangan masukan, namun
menurut data tidak demikian. Hal tersebut mungkin dikarenakan kekurang telitian
praktikan dalam mengamati besar skala amplitudo atau karena kesalahan pada
pengturan Ampl/div, sehingga mempengaruhi besarnya tegangan yang kita
hitung.
Pada percobaan kedua adalah mengukur frekuensi dengan menggunakan pola
Lissayous, untuk mendapatkan pola Lissayous kita set time/div pada posisi X-
DEFL. Dengan mengubah-ubah frekuensi pada generator kita dapat memperoleh pola
lissayous. Data yang diperoleh yaitu jumlah sinyal horizontal (n) dan jumlah sinyal
vertkal (m), dimana n/m ini menujukkan f2/f1. Setelah dibandingkan antara frekuensi
pada perhitungan sebelumnya dengan frekuensi Lissoyous tersebut. Percobaan ini
mempunyai tingkat kesalahan yang besar .Kesalahan ini disebabkan sinyal yang dibaca
pada osiloskop kurang bagus, sehingga untuk menentukan frekuensi yang tepat cukup
sulit.
Percobaan ketiga adalah mengukur beda sudut fase pada rangkaian RC.
Dengan menggunakan frekuensi masukan 150, 300 hingga 1000 Hz, dan
digunakan resistor R=100 dengan Induktor L=0,1F. Data yang diperoleh
adalah berupa amplitudo (B) dan sinyal yang berpotongan dengan sumbu y (b).
Kemudian dari data tersebut kita dapat menghitung besar beda sudut fasenya dengan
menggunakan persamaan =
B
b
arc sin . Selain itu, kita dapat menghitung beda sudut
fase dengan menggunakan karakteristik dari komponen R dan C menggunakan
persamaan (5) yaitu :
RC
tg
e
u
1
= . Berdasarkan data yang diperoleh beda sudut fase
terbesar adalah 53. Sedangkan berdasarkan perhitungan menggunakan persamaan (5),
beda sudut fasenya antara 86 sampai 89. Sehingga faktor kesalahan dari data cukup
besar hingga mencapai 85%. Hal ini terjadi karena kekurang telitian praktikan dalam
mengamati panjang B dan b pada osiloskop, selain itu osiloskop hanya memiliki skala
yang kurang teliti, sehigga kita sulit menentukan besarnya b yang berada diantara 2 titik
skala.
Percobaan keempat adalah mengukur frekuensi resonansi pada rangakaian RLC,
disisni kita gunakan R=1,5k , C=0,1F dan L=4,5mH dan menggunakn frekuensi
masukan 3kHz hingga 10 kHz dengan kenaikkan 0,5kHz. Data yang diperoleh adalah
berupa amplitudo (B) dan sinyal yang berpotongan dengan sumbu y (b). Dengan
informasi b dan B, dapat kita hitung besar sudut fasenya dengan menggunakan
persamaan : =
B
b
arc sin . rangkaian seri RLC dikatakan dalam keadaan
resonansi apabila impedansi totalnya adalah real. Sehingga beda sudut fasa antara
arus yang melalui rangkaian dan sumber akan sama dengan nol. Sehingga dari data
beda sudut fase tersebut kita dapat mengetahui besarnya frekuensi resonansi. Disamping
itu, kita hitung besarnya frekuensi resonanasi menggunkan persamaan(7). Kemudian kita
hitung besarnya kesalahan perhitungan pada grafik relatif terhadap perhitungan
persamaan (7). Berdasarkan perhitungan grafik diperoleh frekuensi resonansi antara 8,5
dan 9,5kHz dan perhitungan pada persamaan (7) adalah 7,5kHz. Dengan demikian besar
kesalahan / KSR yang didapat cukup kecil yaitu 13,3%. Ini berarti data yang diperoleh
sudah mendekati nilai sebenarnya.
- Analisa Grafik
Grafik yang kita dapat adalah hubungan antara beda sudut fase terhadap
frekuensi pada rangkaian RLC. Dari grafik terlihat bahwa tidak ada keteraturan,
namun sedikit menunjukkan bahwa semakin besar frekuensi, maka semakin kecil
beda sudut fase.




KESIMPULAN
Setelah dilakukannya percobaan mengenai osiloskop, apat diperoleh
beberapa kesimpulan, sebagai berikut :
- Osiloskop merupakan instrumen elektronika yang digunakan untuk mengukur
dan menganalisa bentuk-bentuk gelombang dan gejala-gejala lain dalam
rangkaian-rangkaian elektronik.
- Keunggulan Osiloskop dibanding pengukur dalam elektronika adalah
osiloskop dapat menggambarkan secara visual sinyal keluaran mengukur
beda sudut fase pada sinyal tersebut.
- Kegunaan atau fungsi Osiloskop yaitu : mengukur tegangan, mengukur
frekuensi, mengukur frekuensi dengan pola Lissayous, mengukur beda sududt
fase dan mengukur seberapa pengaruh redaman atau hambatan terhadap
tegangan.
- Pada rangkaian RLC, frekuensi resonansi terjadi apabila impedansi totalnya
adalah real. Sehingga beda sudut fasa antara arus yang melalui rangkaian dan
sumber akan sama dengan nol.








DAFTAR PUSTAKA

Giancoli,Douglas C.2001. Fisika Jilid 2. Erlangga : Jakarta
Sutrisno. 1987. ELEKTRONIKA Teori dan Penerapannya. Bandung: Penerbit ITB.
http://elektronikatea.blogspot.com/2010/05/fungsi-tombol-pada-osiloskop.html
dikutip pada 19 Oktober 2011