Anda di halaman 1dari 5

Nama : I Komang Kabeh NIM : 1014041039 Jurusan : PPKn Tugas : Hukum Tata Negara Pertanyaan :

1. Apa yang menyebabkan TNI/POLRI tidak diberikan untuk menggunakan hak pilih saat

Kelas : B

PEMILU dibandngkan dengan PNS yang diberikan hak memilih? 2. Apakah PEMILU tahun 1955 dapat berjalan dan berhasil? 3. Bagaimana perbandingan pemilu orde baru dengan reformasi dilihat dari makna demokrasi dan tercapainya tujuan Negara ?

Jawaban :
1. Pro kontra mengenai hak memilih TNI/POLRI pada PEMILU hingga sekarang ini masih

berlangsung, tentu masyarakat luas bertanya-tanya , kenapa TNI tidak dikasi hak pilih ? sehingga berkembang di masyarakat umum mengenai alasannya bahwa jika TNI/POLRI dibrikan hak pilih mereka di kawatirkan akan terjadi perpecahan, dan kubu-kubu tertentu dalam TNI/POLRI yang akan mnggganggu tugas mereka untuk menjaga keamanan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kemudian apakah ini tidak bertentangan dengan pasal 28 UUD 1945 yang menghargai, melindungi HAM ? pertanyaan inilah yang merupakan bentuk kritikan yang berarti bahwa HAM TNI/POLRI tidak dihargai, dan dilindungi dalam PEMILU. Adapun landasan hukumnya terdapat pada pasal 145 UU PEMILU NO.12 Tahun 2003, yang menyatakan bahwa didalam PEMILU , anggota TNI / POLRI tidak menggunakan hak pilihnya. Adapun beberapa alasan yang mendasar lainnya terkait netralitas TNI / POLRI seperti :

Status sebagai anggota TNI membuka peluang digunakannya institusi TNI untuk kepentingan politik

Anggota-anggota TNI/Polri dinyatakan belum siap menggunakan hak memilih, TNI yang mengaku belum siap mempergunakan hak tersebut dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU). Pansus telah mengundang TNI untuk mendengarkan pandangan mereka. Namun, dengan iklim demokrasi sekarang, TNI menolak mempergunakan hak pilih. Alasan ketidaksiapan TNI menggunakan hak pilihnya karena mereka khawatir akan terjadi perpecahan internal dan muncul kubu-kubu. TNI juga khawatir masyarakat belum bisa menerima keterlibatan mereka secara aktif dalam pemilu

pemberian hak pilih bagi TNI dan Polri tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Perlu kajian yang mendalam dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Salah satu faktor tersebut adalah revisi UU No 31/1997 tentang Peradilan Militer. Pemulihan hak pilih bagi TNI baru dapat dilakukan setelah merevisi UU Peradilan militer tersebut. Hal ini untuk memberikan jaminan peradilan yang independen bila terjadi penyimpangan oleh anggota TNI

ada ketakutan, jika TNI berpolitik akan menggunakan otoritas kekuatan untuk mengarahkan pada kepentingan partai politik. Ketakutan itu beralasan, karena pengalaman orde baru membuat trauma politik (ketakutan politik) itu mengkristal di masyarakat Indonesia., membuka jalan terjadinya perpecahan di tubuh internal TNI., Apabila TNI sibuk dengan urusan politik maka dikhawatirkan akan menjauhkan TNI dari tugas pokoknya sebagai alat pertahanan negara. Kader-kader terbaik TNI yang harusnya bisa dimanfaatkan dalam upaya profesionalisme TNI akan banyak tersedot ke wilayah politik., kemungkinan penyalahgunaan status militer dalam proses memenangkan pertarungan politik masih sangat mungkin terjadi. Selama ini penulis mencatat, pro kontra Hak Pilih TNI selalu Kekhawatiran seperti itu sah saja, akibat trauma masa lalu, namun di era reformasi saat ini dimana supremasi hukum dijunjung tinggi pendapat tersebut mungkin terlalu dini, karena pada hakekatnya prajurit TNI adalah Warga Negara Indonesia yang memiliki hak dan kedudukan sama dengan Warga Negara lain dalam berdemokrasi.

Berbeda dengan pegawai negeri sipil (PNS) mempunyai hak memilih dan hak dipilih (dengan syarat-syarat seperti telah disinggung), namun tidak terlibat dalam kegiatan-kegiatan partai politik, termasuk menjadi calon dalam pemilu. Hak memilih memberi semua pegawai negeri tanggung jawab untuk tidak buta politik. Mereka dituntut mengikuti perkembangan politik sehingga memperoleh informasi cukup untuk menjatuhkan pilihan secara tepat terhadap partai politik atau calon dalam pemilu. Netralitas mengharuskan mereka tidak menyatakan dukungan secara terangterangan di depan publik kepada salah satu partai politik atau calon yang bersaing dalam pemilu.

2. Pemilihan Umum Indonesia 1955 Pemilihan umum pertama di Indonesia dan diadakan pada tahun 1955. Pemilu ini sering dikatakan sebagai pemilu Indonesia yang paling demokratis. Pemilu tahun 1955 ini dilaksanakan saat keamanan negara masih kurang kondusif; beberapa daerah dirundung kekacauan oleh DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) khususnya pimpinan Kartosuwiryo. Dalam keadaan seperti ini, anggota angkatan bersenjata dan polisi juga memilih. Mereka yang bertugas di daerah rawan digilir datang ke tempat pemilihan. Pemilu akhirnya pun berlangsung aman. Pemilu ini bertujuan untuk memilih anggota-anggota DPR dan Konstituante. Jumlah kursi DPR yang diperebutkan berjumlah 260, sedangkan kursi Konstituante berjumlah 520 (dua kali lipat kursi DPR) ditambah 14 wakil golongan minoritas yang diangkat pemerintah. pemilu tersebut merupakan peristiwa yang membanggakan karena prosesnya berjalan tertib dan bersih serta bebas dari bentrokan. Hal ini terjadi karena adanya partisipasi rakyat dan kesadaran yang cukup tinggi akan pentingnya pesta demokrasi bagi rakyat Indonesia. Akan tetapi pemilu ini tidak menghasilkan solusi dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi. Badan konstituante yang telah terbentuk tidak segera melaksanakan tugasnya sampai pada bulan November 1956. Bahkan badan ini pada akhirnya dibubarkan tanpa

menghasilkan UUD yang baru. Demikian pula pemilu yang diharapkan akan menghentikan pergantian pemerintahan dalam waktu yang singkat karena dijatuhkan oleh oposisi ternyata tidak terwujud. Penyelenggaraan pemilu tahun 1955 banyak kalangan menyebut sebagai pemilu yang paling ideal dan paling demokratis. Idialitas yang dibangun berdasarkan kebebasan dan pluralitas kontestan pemilu, netralitas birokrasi dan militer setidaknya dalam konsep, tidak terjadi kerusuhan atau bentrok masa, diwakilinya semua partai dalam badan penyelenggara pemilu dan antusiasme pemilih.

3. Perbandingan pemilu orde baru dengan era reformasi dilihat dari makna demokrasi sebagai berikut : Masa Orde Baru : UU yang dipakai, UU no 15tahun 1969, Asas yang dipakai, Jujur dan adil (JURDIL) Asas Jujur artinya dalam penyelenggaraan pemilu, penyelenggara atau pelaksana, pemerintah dan partai politik serta pemilu, pengawas dan pemantau pemilu, termasuk pemilih, serta semua pihak yang terlibat secara tidak langsung bersikap dan bertindak jujur sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Kekuasaan Orde Baru sampai tahun 1998 dalam ketatanegaraan Indonesia tidak mengamalkan nilai-nilai demokrasi. Praktik kenegaraan Orde Baru dijangkiti korupsi, kolusi, dan nepotisme. Pemilu pada masa orde baru menggunakan asas langsung, umum, bebas dan rahasia berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Namun, dalam kenyataannya banyak terdapat penyimpangan, terdapat unsure paksaan dan biasanya melalui orang lain seperti: (perantara) 1. Banyak pemilih yang hak suaranya diberikan pada calon atau partai tertentu karena 2. Meniadakan hak memilih maupun dipilih bagi bekas anggota organisasi terlarang yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI) 3. Kebebasan dalam memilih untuk menentukan pilihan dipengaruhi oleh beberapa hal dengan cara apapun. Namun, dapat dilihat bahwa terdapat banyak orang yang memilih karena tekanan atau paksaan dari seseorang dengan ancaman

4. Kerahasiaan tidak berjalan dengan baik karena dengan cara tertentu ada pihak-pihak yang mengetahui apa yang dipilih oleh seseorang/ masyarakat. Sehingga dapat diketahui tokohh yang dipilihnya Era Reformasi : UU yang dipakai, UU no 3 tahun 1999 Asas yang dipakai, Langsung, umum, bebas, rahasia, serta jujur dan adil (LUBER JURDIL) Asas Langsung berarti pemilih secara langsung memberikan suaranya tanpa perantara dan tingkatan. Pemilu pertama di masa reformasi hampir sama dengan pemilu pertama tahun 1955 diwarnai dengan kejutan dan keprihatinan. Pertama, kegagalan partai-partai Islam meraih suara siginifikan. Kedua, menurunnya perolehan suara Golkar. Ketiga, kenaikan perolehan suara PDI P. Keempat, kegagalan PAN, yang dianggap paling reformis, ternyata hanya menduduki urutan kelima. Kekalahan PAN, mengingatkan pada kekalahan yang dialami Partai Sosialis, pada pemilu 1955, diprediksi akan memperoleh suara signifikan namun lain nyatanya. Walaupun pengesahan hasil Pemilu 1999 sempat tertunda, secara umum proses pemilu multi partai pertama di era reformasi jauh lebih Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia (Luber) serta adil dan jujur dibanding masa Orde Baru. Hampir tidak ada indikator siginifikan yang menunjukkan bahwa rakyat menolak hasil pemilu yang berlangsung dengan aman. Realitas ini menunjukkan, bahwa yang tidak mau menerima kekalahan, hanyalah mereka yang tidak siap berdemokrasi, dan ini hanya diungkapkan oleh sebagian elite politik, bukan rakyat. Jadi pelaksanaan PEMILU era reformasi lebih demokratis disbanding orde baru dimana banyak terjadi pelanggaran akan asas LUBER itu.