Anda di halaman 1dari 20

BAB I STATUS PASIEN

I. Identitas pasien Nama Umur Jenis kelamin Alamat Pekerjaan Agama Status Tanggal masuk : Dini Suwarno : 33 tahun : perempuan : Jl. Simpang tiga no.33, Ramanuju-Purwakarta. : guru : islam : menikah : 9 Agustus 2012

Jenis pembedahan : SC Tehnik anestesi : SAB SP L3-L4 LCS (+) 27

II. Anamnesis Pada anamnesis didapatkan bahwa pasien belum pernah dilakukan SC sebelumnya dan juga tidak mempunyai riwayat operasi. OS juga mengaku tidak mempunyai riwayat asma, alergi terhadap sesuatu seperti telur dan kacang-kacangan, penyakit hipertensi, jantung, diabetes melitus dan juga riwayat batuk yg lama. Selain itu pasien tidak memiliki memiliki gigi goyang dan tidak memakai gigi palsu, tidak
1

ada kebiasaan merokok, minum alkohol, menggunakan obat-obat tertentu dan memiliki tattoo.

III.Pemeriksaan Fisik a. Keadaan umum Kesadaran : baik : compos mentis

BB sebelum hamil : 42 kg BB saat hamil LILA TB b. Tanda-tanda vital TD Nadi RR Temp IMT Sianosis Udema umum : 110/70 mmHg : 90 x/menit : 20 x/menit : 36,50C : 19,56 Kg/m2 (Gizi kurang) : Tidak ada : Tidak ada : 47 kg : 24 cm : 155 cm

Kulit Warna Efloresensi Jaringan parut Pigmentasi Pertumbuhan rambut : sawo matang :(-) : Tidak ada : Tidak ada : Distribusi baik merata
2

Lembab/kering Suhu raba Pembuluh darah Keringat Turgor Ikterus Lapisan lemak

: Kering : Hangat : Tidak ada pelebaran pembuluh darah : Umum : Baik : Tidak : Normal

Kepala Ekspresi wajah Rambut Simetri muka : Gelisah : Hitam dan merata : Simetris

Mata Exopthalamus Enopthalamus Kelopak Lensa Konjungtiva Visus Sklera Nistagmus Lapangan penglihatan Tekanan bola mata Gerak bola mata : Tidak ada : Tidak ada : Udema ( - ) : Jernih : Anemis ( - ) : Tidak dilakukan : Ikterik ( - ) : Tidak ada : Normal : Normal : Normal
3

Telinga Tuli Selaput pendengaran Lubang Penyumbatan Serumen Perdarahan Cairan : -/: Utuh : Liang telinga lapang : -/: +/+ : -/: -/-

Mulut Bibir Tonsil Langit-langit Bau pernpasan Gigi geligi : Tidak sianosis, kering : T1/T1 : Tidak ada kelainan : Tidak ada : Tidak lengkap, tidak memakai gigi palsu, tidak ada gigi goyang Trismus Faring Selaput lendir Lidah : Tidak ada : Tidak hiperemis : Normal : Tidak tampak atrofi papil lidah, lidah tidak besar

Leher Bentuk JVP : tidak terlalu pendek dan tidak kaku : 5+1 cmH2O
4

Kelenjar tiroid Kelenjar limfe kanan

: Tidak tampak membesar : Tidak tampak membesar

Dada Bentuk Pembuluh darah Buah dada : Simetris : Tidak tampak pelebaran, tidak ada spider nevi : Simetris, normal

Paru-paru Depan Simetris saat Inspeks i Kiri Kan an


-

Belakang Simetris saat statis dan dinamis Simetris saat


-

statis dan dinamis Simetris saat statis dan dinamis Ttidak ada benjolan Ffremitus simetris Ttidak ada benjolan Ffremitus simetris Rredup RRedup SSuara bronkial TTidak ada wheezing TTidak ada Ronkhi SSuara bronkial TTidak ada wheezing RRonkhi basah halus

statis dan dinamis Ttidak ada benjolan Ffremitus simetris Ttidak ada benjolan Ffremitus simetris Rredup RRedup SSuara bronkial TTidak ada wheezing TTidak ada Ronkhi SSuara bronkial TTidak ada wheezing RRonkhi basah halus

Kiri Palpasi Kan an Kiri Kan an


-

Perkusi

Kiri Auskult asi Kan

an
-

Jantung
5

Inspeksi Palpasi
-

Tampak pulsasi iktus cordis Teraba iktus cordis pada ICS V, 2 jari sebelah lateral dari garis midklavikula kiri Batas kanan :ICS IV linea sternalis kanan Batas kiri :ICS V linea midklavikula kiri Batas atas: ICS II linea parasternal kiri Bunyi jantung I-II murni reguler, Gallop (-), Murmur (-)

Perkusi

Auskultasi

XI. Hasil laboratorium Tanggal 9 Agustus 2012 pukul 11.59 WIB Pemeriksaan Hematologi Hemoglobin Leukosit Laju endap darah Hematokrit Eritrosit Trombosit Total eosinofil Masa pendarahan Masa pembekuan Golongan darah 9,9 g/dl 10.270/uL 28.4% 274.000/uL 2 menit 10 menit B rhesus (+) P:14-18 W:12-16 5000-10000 P:0-10 W:0-15 P:40-48 W:37-43 P:4.5-5.5 W:4-5 150-450rb/u 50-350 1-6 5-15 Hasil Nilai normal

XII.

Kesimpulan

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat disimpulkan diagnosis preoperatif: G1P0A0 hamil 38 minggu dengan inversio uteri inpartu kala 1fase laten Status operasi: ASA 1 E Mallampati 1 Jenis operasi: sectio caesarea Jenis anestesi: regional anestesi

BAB II TINDAKAN ANESTESI


Berikut di bawah ini adalah sistemasi tindakan yang dilakukan dari awal sampai akhir operasi: A. Preoperasi . Keadaan umum Kesadaran Tanda-tanda vital TD Nadi RR : 110/70 mmHg : 90 x/menit : 20 x/menit : baik : compos mentis

Infus di tangan kiri RL 500 cc Telah terpasang kateter

B. Monitoring Tindakan Operasi Jam Tindakan Tekanan Darah 13.00 -Pasien masuk ke ruang OK (mmHg) dan 123/70 Nadi (kali/m enit) 72 Saturasi O2 (%) 100
8

dipindakan ke meja operasi - Pemasangan monitor tekanan darah dan Saturasi O2. . Infus RL terpasang pada tangan kiri pasien. 13.10 13. 15 - Pemberian Ondansentron 4 mg bolus iv. Penggantian cairan infus RL 500 mL - Disinfeksi lokasi suntikan anestesi spinal Dilakukan tindakan anestesi 123/72 120/69 84 80 100 100

menggunakan jarum spinal no. 27, pasien posisi duduk tegak kepala menunduk, diantara L3-L4 dengan Bupivacain Spinal 13.20 13.25 13.30 15 mg, LCS (+), parese (+) Operasi dimulai Dilakukan skintest Cefotaxime Bayi lahir Injeksi Induxin 10 iu drip 13.45 13.50 Injeksi pospargin 0,2mg iv Pemberian injeksi Cefotaxime 1.0g - Infus RL habis lanjut dengan RL 500 cc - Pemberian injeksi Ketrolac 30mg/ml, 1ml bolus IV dan Tramadol 100mg/2 ml, 2 ml 13.55 drip. - Operasi selesai - Pemasangan kateter - Pemberian Pronalges supp 100 mg 14.00 - Alat- alat monitoring dilepaskan Pasien dipindahkan ke Recovery Room 106/51 66 98 100/57 101/60 66 65 98 98 112/80 105/60 62 66 98 98 120/70 90 98

C. Laporan Anestesi Lama operasi : 40 menit (13.20-14.00) Lama Anestesi: 45 menit ( 13.15-14.00) Jenis Anestesi : regional anestesi dengan teknik spinal anestesi menggunakan bupivacaine spinal 15mg (1 ampul 4ml, 20 mg). Posisi : duduk

Pernapasan : spontan Infus Medikasi 100mg. Cairan : cairan masuk: 2x RL 500 cc Cairan output 100 ml urine D. Keadaan akhir pembedahan Pasien dipindahkan ke recovery room, diobservasi terlebih dahulu tanda vitalnya dan dinilai pemulihan kesadarannya sebelum kemudian dipindahkan ke ruang rawat. Pasien masuk recovery room pukul 14.05 dan keluar pukul 14.15. berdasarkan observasi didapatkan: Kesadaran : compos mentis : tangan kiri, Ringer laktat 500 ml : Induxin 10 iu, pospargin 0,2, cefotaxim1 g, ketorolac 30 mg, tramadol

Tekanan darah: 120/70 Nadi : 80x/menit


10

Pernapasan : 20x/menit Saturasi : 99%

Penilaian Pemulihan Kesadaran Pada anestesi spinal digunakan Bromage Score untuk menentukan apakah pasien bisa dipindahkan ke bangsal atau masih butuh observasi di recovery room. Kriteria nilai Gerakan penuh dari tungkai, 0 Tak mampu ekstensi tungkai, 1 Tak mampu fleksi lutut, 2 Tak mampu fleksi pergelangan kaki, 3 Jika bromage score 2 dapat dipindahkan ke bangsal Pada pasien ini, pasien mampu fleksi lutut tapi tidak mampu ekstensi tungkai sehingga bromage score didapatkan 1, pasien bisa pindah ke bangsal. Post operasi Pasien mengaku merasa nyeri pada derah bekas dioperasi, pusing dan mual.

11

BAB III DISKUSI KASUS


Berdasarkan beberapa pertimbangan dan alasan maka tindakan dan pengobatan yang akan diberikan dari awal sampai akhir operasi adalah sebagai berikut: I. Premedikasi Premedikasi berupa ondansetron 4 mg i.v. Ondancentron adalah suatu antagonis selektif dan bersifat kompetitif terhadap reseptor 5-HT3, diberikan dengan tujuan mencegah mual dan muntah pasca operasi.

II. Tindakan Anestesi Pada kasus ini, dipilih teknik anestesi regional menggunakan bupivacain 15 mg. Teknik anestesi regional (spinal) dipilih karena tindakan pembedahan dilakukan pada abdomen bagian bawah, dalam kasus ini adalah sectio cesaria. Selain itu, hal yg menjadi pertimbangan dalam pemilihan teknik ini adalah pada ibu hamil terjadi perubahan fisiologi dimana pada sistem gastrointestinal, pengosongan lambung lebih lambat dan tekanan intragastrik meninggi sehingga lebih mudah terjadi regurgitasi. Apabila dilakukan teknik intubasi maka dapat terjadi aspirasi. Selain itu pada ibu hamil juga terjadi perubahan pada sistem traktus respiratorius
12

dimana vaskularisasi mukosa traktus respiratorius meningkat sehingga ada kecenderungan mukosa laring udem dan hal ini menyulitkan intubasi.
III. Pemilihan Obat Anestesi

Bupivacaine dipilih karena sifatnya yang hiperbarik yaitu mempunyai berat jenis 1.027 (dosis 5-15 mg). Berat jenis cairan serebrospinalis pada suhu 37 derajat celcius ialah 1.003-1.008. Bupivacaine yg memiliki berat jenis lebih besar dari CSS disebut hiperbarik. Karena sifatnya ini, bupivacaine terpengaruh oleh gaya gravitasi sehingga dapat dimanipulasi. Misalnya apabila kaki pasien direndahkan, obat pun akan ikut turun ke bawah. Hal ini menyebabkan obat tidak jadi naik ke atas dan menurunkan risiko total blok. Pemilihan bupivacaine 15 mg juga dikaitkan dengan fisiologi ibu hamil. Pada saat hamil, aliran balik vena pada vena cava inferior tertekan sehingga menyebabkan aliran ke atas tertahan. Hal ini mengakibatkan pelebaran pembuluh darah perifer termasuk pembuluh darah di medulla spinalis. Pelebaran pembuluh darah di medulla spinalis membuat ruangannya menjadi kecil. Apabila volume cairan yg kita berikan terlalu banyak maka blok-nya akan menjadi tinggi dan dapat mengakibatkan total blok. Oleh karena itu kita memilih bupivacaine 15 mg. Mekanisme kerja bupivakain adalah mencegah konduksi rangsang saraf dengan menghambat aliran ion, meningkatkan ambang eksitasi elekton, memperlambat perambatan rangsang saraf dan menurunkan kenaikan potensial aksi. Durasi analgetik pada L3-L4 selama 2-3 jam, dan Bupivakain spinal menghasilkan relaksasi muskular yang cukup pada ekstremitas bawah selama 22,5 jam Adapun obat lain yang diberikan selama operasi berlangsung sebagai berikut:
13

Induxin 10 iu drip, dipergunakan untuk menginduksi atau menstimulasi persalinan dan mengatasi perdarahan uterus pasca partum.

Pospargin 0,2mg bolus, diberikan setelah bayi lahir. Dipergunakan selain untuk Mencegah dan mengobati pendarahan uterus karena pembedahan caesaria.

Ketorolac 30mg bolus, diberikan sebagai analgetik non opioid sebagai kombinasi obat opioid dosis rendah. Obat ini memiliki efek analgetik yang cukup kuat namun aefek anti-inflamasi dan antipiretiknya lemah.

Tramadol 100mg drip, sebagai analgetik narkotik. Efektif untuk pengobatan nyeri akut dan kronik yang berat, nyeri pasca pembedahan. Cefotaxime 100mg bolus, merupakan antibiotik sefalosporin generasi ketiga

yang mempunyai khasiat bakterisidal dan bekerja dengan menghambat sintesis dinding sel bakteri. Aktivitasnya lebih besar terhadap bakteri gram negatif sedangkan aktivitas terhadap bakteri gram positif lebih kecil, tetapi beberapa streptococci sangat sensitif terhadap obat ini.

IV. Terapi Cairan Pasien diberikan infus ringer laktat 1000 ml. Ringer laktat adalah cairan dengan osmolaritas (tingkat kepekatan) mendekati serum (bagian cair dari komponen darah) sebesar 285 mOsmol/L, sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Kebutuhan cairan pada pasien adalah sebagai berikut:

14

1. Kebutuhan cairan basal: 4 ml/kgbb/jam utk 10kg pertama: 4x10=40 2 ml/kgbb/jam utk 10kg kedua: 2x10=20 1 ml/kgbb/jam utk sisa berat badan: 1x27=27 Total: 87 cc 2. Kebutuhan cairan operasi Operasi sedang x BB = 6 ml x 47 = 282 cc 3. Kebutuhan cairan puasa Lama jam puasa x kebutuhan cairan basal = 6 x 87 = 522 cc

V. Persarafan Uterus Inervasi uterus terutama terdiri atas sistem saraf simpatetik dan untuk sebagian terdiri atas sistem parasimpatetik dan serebrospinal. Sistem parasimpatetik

berada di dalam panggul sebelah kiri dan kanan Os sakrum berasal dari saraf sakral 2,3 dan 4 yang selanjutnya memasuki pleksus frankenhauser. Sistem simpatetik masuk ke rongga panggul sebagai pleksus hipogastrikus melalui bifurkasio aorta dan promontorium terus ke bawah menuju ke pleksus frankenhauser. Pleksus ini terdiri atas ganglion-ganglion berukuran besar dan kecil terletak terutama pada dasar ligamentum sakrouterina. Serabut-serabut saraf tersebut diatas memberi inervasi pada miometrium danendometrium. Kedua sistem simpatetik dan parasimpatetik mengandung unsur motorik dan
15

sensorik. Kedua sistem bekerja antagonistik. Saraf simpatetik menimbulkan kontraksi dan vasokontraksi. Sedangkan yang parasimpatetik sebaliknya, yaitu mencagah kontraksi dan menimbulkan vasodilatasi. Saraf yang berasal dari torakal 11 dan 12 mengandung saraf sensorik dari uterus dan meneruskan perasaan sakit dari uterus ke pusat saraf (serebrum). Saraf sensorik dari serviks dan bagian atas vagina melalui saraf sakral 2,3 dan 4. Sedangkan yang dari bagian bawah vagina melalui nervus pundedus dan nervus ileoinguinals.

Prosedur a. Persiapan 1. 2. sama dengan persiapan general anestesi Persiapan pasien 3. Informed consent Pasang monitor ukur tanda vital Pre load RL/NS 15 ml/kgBB

Alat dan obat Spinal nedle G 27 Spuit 5cc/ Bupivacaine hiperbarik Efedrin, SA

16

Petidin, katapres, adrenalin Obat emergency

Posisi pasien

Posisi pasien duduk atau dekubitus lateral. Posisi duduk merupakan posisi termudah. Biasanya dikerjakan di atas meja operasi tanpa di pindah lagi,karena perubahan posisi berlebihan dalam waktu 30 menit pertama akan menyebabkan penyebaran obat. Jika posisinya duduk, pasien disuruh memeluk bantal, agar posisi tulang belakang stabil, dan pasien membungkuk agar prosesus spinosus mudah teraba. Jika posisinya dekubitus lateral, maka beri bantal kepala, agar pasien merasa enak dan menstabilkan tulang belakang.

Tentukan tempat tusukan. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua krista iliaka dengan tulang punggung ialah L4 atau L4-5. Untuk operasi ini, dilakukan tusukan pada L3-4. Tusukan pada L1-2 atau di atasnya berisiko trauma terhadap medulla spinalis.

Sterilkan tempat tusukan dengan betadin atau alcohol


17

Beri anestetik lokal pada tempat tusukan. Pada kasus ini diberikan obat anestesi lokal bupivakain.

Lakukan penyuntikan jarum spinal di tempat penusukan pada bidang medial dengan sudut 10-30 derajad terhadap bidang horizontal ke arah cranial. Jarum lumbal akan menembus kulit-subkutis-lig.supraspinosum-lig.interspinosum-lig.flavum-ruang

epidural-duramater-ruang sub arakhnoid. Kira-kira jarak kulit-lig.flavum dewasa 6cm. Cabut stilet maka cairan serebrospinal akan menetes keluar. Pasang spuit yang berisi obat, masukkan pelan-pelan (0,5 ml/detik) diselingi aspirasi sedikit, untuk memastikan posisi jarum tetap baik.

Posisi duduk Keuntungan : lebih nyata, processus spinosum lebih mudah diraba, garis tengah lebih teridentifikasi (gemuk) & posisi yang nyaman pada pasien PPOK

18

DAFTAR PUSTAKA

19

1. Latief. S. A, Suryadi K. A, dan Dachlan M. R, Petunjuk Praktis

Anestesiologi, Edisi II, Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FK-UI, Jakarta, Juni, 2001, hal ; 77-83, 161.
2. Dobson MB. Penuntun Praktis Anestesi. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Jakarta: 1988.
3. Muttaqien F. Menguak Misteri Kamar Bius. Available at:

http://www.scribd.com/doc/51439743/Menguak-Misteri-Kamar-Bius. Accessed: August, 11th 2012.


4. Anestesi Spinal. Available at:

http://www.scribd.com/doc/79664764/Anestesi-Spinal. Accessed: August, 11th 2012.


5. Analgesik Opioid. Available at:

http://www.scribd.com/doc/57353203/ANALGESIK-OPIOID. Accessed: August, 11th 2012.

20