Anda di halaman 1dari 23

TUGAS ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI

Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Andrik Purwasito, DEA

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Uji Kompetensi III dan IV Disusun oleh:
1. 2. 3. 4.

Eka Sulistiana Henridho Kharisma Arif Iksan Jaid Saputra Reza Kurniawan

(D0209027) (D0209039) (D0209041) (D0209069)

ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2011
I. Tentang Kode Etik Jurnalistik 1. Mengapa dibutuhkan Undang-Undang tentang Pers? Pada dasarnya tugas dan fungsi per itu sendiri menurut Muhammad budyatna (2006;27) adalah mewujudkan keinginan ini melalui media cetak maupun media elektronik seperti radio, televisi dan internet. Tetapi, tugas dan fungsi pers tidaklah hanya sekedar itu, melainkanlebih dalam lagi yaitu mengamankan hak-hak warga negara dalm kehidupan bernegaranya. Semenjak bergulirnya reformasi, diskursus mengenai kebebasan pers mulai ramai kembali. Iklim orde baru yang tidak bersahabat dengan pers telah berlalu, insan pers pun mulai menyambut harapan bahwa mereka dapat menjalankan profesionalismenya sebagai jurnalis yang bertanggung jawab dan mengedepankan kebenaran.Usaha pemerintah untuk menjamin kebebasan ini kemudian dituangkan melalui undang-undang pers yang dikeluarkan pada 1999. UU Nomor 40 Tahun 1999 ditandatangani oleh Menteri Sekretaris Negara RI, Muladi, dan disahkan Presiden RI pada saat itu, B.J. Habibie. Menurut ketentuan UU tersebut, pers memiliki fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Masih dalam pasal yang sama (pasal 3), pers pun berfungsi sebagai lembaga ekonomi Masih dalam UU tersebut, pasal 6 menyatakan bahwa pers harus melaksanakan peran, di antaranya; pertama, memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui. Peran ini tentu tidak lepas dari kondisi masyarakat Indonesia selama 32 tahun di bawah kekuasaan Orde Baru yang absolut. Segala informasi pada saat itu dipilih-pilih dan disembunyikan. Informasi yang tampil ke hadapan publik hanyalah informasi yang berkaitan dengan kegiatan Suharto dan kroninya. Kantung-kantung informasi tertutup bagi publik dan juga pers. Peran pertama ini tentu menjadi pengobat masyarakat dari kondisi yang serba terbatas tentang informasi yang ingin mereka ketahui. Terdapat dua sisi kepentingan dalam bidang media, yaitu : pertama, pertimbangan kepentingan umum atau kepentingan publik. Atas nama kepentingan umum atau kepentingan publik. Atas nama kepentingan umum atau kepentingan masyarakat negara harus mengatur dalam konstitusinya mengenai Hak Asasi Manusia (HAM). Salah satu HAM adalah hak menyatakan pendapat. Salah satu cara menyatakan pendapat di muka 2

umum adalah dengan menggunakan media massa. Oleh karena itu, media pada dasarnya adalah alat bagi masyarakat luas untuk menyatakan pendapat secara bebas. Dari sisi ini media harus dilindungi dari segala bentuk pengekangan atau gangguan lainnya, agar rakyat tidak terganggu dalam menyatakan pendapatnya. Terganggunya keberadaan media akan merupakan gangguan bagi rakyat untuk menyampaikan pendapat berarti terhambatnya pelaksanaan HAM. Melemahnya pelaksanaan HAM sama dengan mlemahnya penegakan konstitusi. Kedua, kepentingan bisnis. Pada sisi lain, telah menjadi kenyataan bahwa pengelolaan media dilakukan oleh sebuah organisasi yang pada umumnya untuk mencari laba dalam sistem ekonomi kapitalis. Karena itu kepentingan umumnya pada media bisa terkontaminasi oleh kepentingan privat perusahaan. Dari sisi ini media harus dikendalikan agar tidak merugikan rakyat. Hubungan tiga pihak antara media, kepentingan umum, dan kepentingan privat ini lah yang menjadi dasarnya atau inti dari hukum media. Hukum media menjaga agar kepentingan umum dapat terjada dalam media. Namum hukum media juga menyadari bahwa media harus dapat menghidupi dirinya. 1 Secara teori, pelaksanaan kemerdekaan pers di Indonesia sesungguhnya telah diatur dalam Undang-undang No.40 Tahun 1999 tentang Pers. Dalam praktiknya, Undang-undang Pers yang mengatur dan memberikan perlindungan terhadap kemerdekaan pers tersebut ternyata selalu berhadapan dengan pendekatan-pendekatan lain dari sisi hukum, termasuk adanya beragam penafsiran. Dari materi yang dikandungnya dan apa yang telah dijelaskan di atas, UU Pers No. 40 Tahun 1999 sebenarnya telah menjamin kebebasan pers sebagai hak asasi warga negara dan wujud kedaulatan rakyat. Undang-Undang ini juga dengan tegas menolak sejumlah ancaman eksternal terhadap kebebasan pers, khususnya: (1) Penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran (pasal 4 ayat 2); (2) Tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan hak pers untuk mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi (Pasal 4 ayat 3). Kepada siapa saja yang melakukan ancaman terhadap pers.

Hari Wiryawan. Dasar-Dasar Hukum Media (Yogyakarta,apustaka Pelajar,2007) hlm.134

Selain melindungi kebebasan pers, asas tanggung jawab (responsibility) media terhadap publik juga dikandung oleh UU Pers. Dalam bekerja pers berpotensi melakukan kekeliruan hingga menyangkut kepentingan orang atau sekelompok orang. Bagaimanapun ketika persoalan ini terjadi, bukan berarti pers bisa bebas lepas dari pertanggungjawaban atas kekeliruan yang dilakukannya. Karena pers diwajibkan menyelesaikan persoalan ini sesuai ketentuan yang diperuntukkan kepada pers. Ketika persoalan terjadi akibat karya jurnalistik yang dihasilkan oleh pers, masyarakat berhak menuntut pers untuk mempertanggungjawabkannya. Dan persoalan jurnalistik diselesaikan dengan mekanisme jurnalistik, berupa Hak Jawab dan Hak Koreksi sesuai UU Pers. Karena itulah, UU Pers membatasi kebebasan pers dengan beberapa kewajiban hukum, antara lain: 1) Memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah (Pasal 5 ayat 1); 2) Melayani hak jawab (Pasal 5 ayat 2), hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya (Pasal 1 ayat 11); 3) Melayani hak koreksi (Pasal 5 ayat 3), hak setiap orang untuk mengoreksi atau membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain (Pasal 1 ayat 12). Dalam praktiknya, beberapa media juga menggunakan lembaga mediator sendiri untuk persoalan yang diakibatkan karya jurnalistik, yakni ombusdman. Ombusdman yang akan membantu penyelesaian persoalan akibat pemberitaan dengan muaranya adalah dikeluarkan hakjawab dan hak koreksi oleh media yang dituduh bersalah. 4) Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar (Pasal 6 ayat c); 5) Wartawan memiliki dan menaati kode etik (Pasal 7 ayat 2). 2. Apakah undang-undang tersebut mengatur tentang Etika Komunikasi? Hukum komunikasi adalah hukum yang mengatur tentang berbagai masalah yang berkaitan dengan aspek-aspek telekomunikasi atau yang berkaitan dengan aspek-aspek telekomunikasi atau yang berkaitan dengan penggunaan ranah publik gelombang radio, 4

termasuk aspek teknisnya, hukum komunikasi juga mengatur tentang masalah kepemilikan dan perizinan, hal-hal yang diatur misalnya telekomunikasi, telepon, radio, TV, satelit komunikasi dan aspek teknis komunikasi laiinya dalam bidang etika komunikasi pada dasarnya. 3. Bagaimana PWI bersama Komponen Pers membangun Etika Jurnalistik Hukum pers biasanya diasumsikan sebagai hukum pers cetak. Dalam hukum pers cetak di indonesia banyak membahas aspek hukum pidana. Sementara di negara maju hukum pers hanya meliputi dua aspek saja yaitu pembatasan kepemilikan dalam hal ini berhubungan dengan hukum penyiaran dan maslah hukum dagang dalam hal ini untuk mencegah monopoli pasar informasi yang ada. Dengan asumsi diatas dalam kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama. Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers menghormati hak asasi setiap orang, karena itu pers dituntut profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat. Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik. 4. a) Jelaskan pengertian tentang Pers? Right to Know : Kebebasan pers merupakan salah satu dimensi hak asasi manusia, yaitu hak manusia untuk membentuk pendapatnya secara bebas. Istilah kebebasan pers 5

(KEJWI)?

sebenarnya nama generik untuk seluruh hak bersifat asasi warga masyarakat, berupa hak untuk memperoleh informasi yang diperlukan dalam membentuk dan membangun secara bebas pemikiran dan pendapatnya di satu pihak, dan hak untuk menyatakan pikiran dan pendapat di pihak lain. Makna ini berkaitan dengan tersedianya informasi secara bebas, baik informasi sosial maupun estetis di tengah masyarakat. Dan kiranya kegiatan ini menjadi penyangga bagi terbangun dan terpeliharanya peradaban manusia. Media pers dan jurnalis hanya salah satu di antara sekian banyak pelaksana bagi kedua hak asasi ini. b) Fairness big name (name) make news : Tidak pilih kasih Istilah ini khususnya yang menyangkut komunikasi massa yang meliputi beberapa aspek etis, misalnya menerapkan etika kejujuran atau obyektivitas berdasarkan fakta, tidak memihak dengan menulis berita secara berimbang sertamenerapkan etika kepatutan atau kewajaran. Aspek kejujuran atau obyektivitas dalam komunikasi merupakan etika yang didasarkan kepada data dan fakta. Faktualitas menjadi kunci dari etika kejujuran; menulis dan melaporkan dilakukan secara jujur, tidak memutarbalikkan fakta yang ada. Dalam istilah lain adalah informasi yang teruji kebenarannya dan orangnya terpercaya atau dapat diakui integritas dan kredibilitasnya. c) Cover both-side and justice : Keberimbangan memberikan pendapat Keseimbangan juga menjadi unsur penting untuk menjaga kredibilitas penulis. Sering terjadi, tulisan terhadap sebuah persitiwa berkesan berat sebelah dan menguntungkan sebuah pihak sambi merugikan pihak lain. Menurut penelitian kelemahan mendasar dari ketidak seimbangan ini sering muncul sebagai contoh pemberitaan condong ke suara pejabat dan institusi pemerintah, kurang memberi kesempatan pada munculnya suara masyarakat. d) Abuse : Penyelewengan dalam artian jurnalistik tidak boleh memberikan opini tentang fakta, harus berkata benar atau tidak boleh membohongi masyarakat, karena ketergantungan masyarakat kepada pers dalam memperoleh informasi yang kian 6

besar. Sehingga pers atau jurnalistik wajib memberi kebebasan bagi masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. e) Bias : Jurnalis tidak boleh melakukan manipulasi menambah atau mengurangi fakta f) Plagiarisme : Mencontek pemberitahuan dari sumber lain plagiarisme dapat dikatakan sebagai perilaku mencontek karya orang lain tanpa mencantumkan sumbernya dan menganggap tulisan tersebut adalah hasil karya pribadinya. Perilaku plagiarisme terkait masalah etika, kejujuran dan karakter seseorang. g) Accuracy : Akurat dalam isi berita Akurasi atau keakuratan disebut-sebut sebagai dasar untuk segala macam bentuk penulisan jurnalistik. Apabila seorang jurnalis ceroboh dalam akurasi, artinya sang jurnalis membodohi atau membohongi khalayak. h) Off the Record : Hak tolak nara sumber menyatakan tidak dipublikasikan sebagai contoh permintaan dari sumber berita untuk tidak menyiarkan keterangan yang diberikan oleh sumber berita. Menurut penjelasan pasal 14 kode etik jurnalistik PWI bahwa off-the-record terjadi berdasarkan perjanjian antara sumber berita dan wartawan yang bersangkutan untuk tidak menyiarkan informasi yang telah diberikan sumber berita.2

Muhammad budyatna, Jurnalistik Teori dan Praktik (Bandung,PT Remaja Rosdakarya,2006).hlm.107

II.

Tentang Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran 1. Mengapa dibutuhkan Undang-Undang Penyiaran? a. right to know --- media contents Perlunya pengaturan bagi media massa baik media penyiaran hal ini dilakukan untuk menyampaikan pesan kepada massa, media penyiaran yang dalam menyampaikan pesan melalui teknologi telekomunikasi baik berupa suara, pesan berupa suara dan kemudian didistribusikan melalui frekuensi gelombang radio. Frekuensi gelombang radio ini secara hukum dinyatakan milik publik atau ranah publik. Karena itu, penggunaannya harus memperoleh izin dari publik. Penggunaan frekuensi gelombang radio tersebut juga harus dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.Oleh karenanya media penyiaran menggunakan fasilitas publik dalam distribusinya, maka media ini memperoleh pelakuan yang lebih ketat dimata hukum.3 Konsekuensi penggunaan ranah publik oleh media penyiaran antara lain adalah perlunya wadah yang dapat mewakili kepentingan umum untuk mengawasi penggunaan frekuensi gelombang radio. Wadah disini memiliki fungsi sebagai regulator atau pengatur. Di Indonesia wadah tersebut bernama Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Gerakan reformasi yang dimotori para mahasiswa, pada tahun 1998, berhasil menumbangkan rezim Orde Baru. Secara hakiki, gerakan reformasi juga menumbangkan model birokrasi otoriter yang diterapkan rezim. Represi politik serta konsentrasi kekuasaan media, mendapat resistansinya. Kontrol negara yang begitu powerfull di masa Orde Baru tidak lagi bisa diberlakukan. Sistem sensor ketat, pembredelan media, hingga TV Poll misalnya, menghadapi perlawanan justru dari insan media. Muara dari nuansa pemberontakan terhadap rezim kemudian terakumulasi pada tuntutan demokratisasi penyiaran yang dipersonifikasi pada revisi UU Penyiaran yang berlaku ketika itu. Desakan bagi demokratisasi penyiaran mulai bergulir ketika pada tanggal 7 Juni 2000, 26 anggota DPR yang terdiri dari berbagai fraksi mengajukan usul inisiatif RUU tentang penyiaran. Hal ini dimungkinkan karena sesuai dengan bunyi Peraturan Tata Tertib DPR RI pasal 125 Ayat (1) menyatakan bahwa, sekurang kurang nya 10

Hari Wiryawan. Loc . Cit

(sepuluh) orang anggota dapat mengajukan usul rancangan undang undang usul inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat. Berdasarkan penjelasan yang disampaikan oleh para pengusul pada Rapat Paripurna tanggal 21 Juli 2000, maka pada tanggal 4 September 2000, masing-masing fraksi di DPR telah memberikan tanggapan atas usul inisiatif RUU tentang Penyiaran yang semula berupa usul inisiatif beberapa inisiator secara resmi telah berubah menjadi usul inisiatif DPR-RI.4 b. bussiness ---- kepemilikan, monopoli informasi Ada dua aliran besar yang menaungi ekonomi-politik penyiaran dalam diskursus komunikasi. Yang pertama, liberal political economy. Mufid (2005: 83) menerjemahkannya sebagai instrumen untuk melihat perubahan sosial dan transformasi sejarah sebagai suatu doktrin dan seperangkat prinsip untuk mengorganisasi dan menangani ekonomi pasar, guna tercapainya suatu efisiensi yang maksimum, pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan individu; sedangkan yang kedua, critical political economy yang melihat relasi antara agensi (individu dalam tema liberal) dan strtuktur (pasar dan negara) dengan lebih dinamis Hidayat (2001:3). Critical political economy atau kajian ekonomi politik kritis memiliki tiga varian10: instrumentalis yang banyak dikembangkan oleh Herman dan Chomsky cenderung menempatkan agen (tindakan yang secara nyata dilakukan oleh aktor sosial atau agen) pada posisi lebih dominan dalam suatu struktur atau kultur. Media dipandang sebagai instrumen dominasi yang bisa dipergunakan sepenuhnya untuk kepentingan penguasa politik dan pemilik modal. Varian kedua adalah strukturalis yang cenderung melihat struktur sebagai totalitas yang solid dan permanen. Struktur dianggap memiliki superioritas terhadap agen. Sedangkan Golding dan Murdock (Sudibyo, 2004: 3) mengembangkan varian konstruktivis yang pada intinya melihat adanya interplay atau interaksi timbal balik antara struktur dan agen. Dalam pandangan ini, para aktor sosial (agensi) dianggap mampu merubah dan mereproduksi struktur yang merupakan konstruksi sosial secara konstan. Varian ekonomi politik

Muhammad mufid, Komunikasi dan regulasi penyiaran (Jakarta, Kencana, 2007) hlm. 98

yang terakhir inilah yang akan digunakan untuk menelisik sistem siaran berjaringan di Indonesia. Varian ekonomi politik kritis konstruktivis yang selanjutnya disebut ekonomi politik konstruktivis digunakan sebagai kerangka pemikiran dalam kajian ini karena beberapa alasan. Pertama, varian ini tidak menempatkan faktor ekonomi atau politik sebagai satu-satunya faktor yang dominan dalam penyiaran. Kedua, dalam perspektif ini media tidak hanya dipandang sebagai instrumen dominasi namun juga berpotensi untuk menghambat struktur. Ketiga, konstruktivis menurut Mufid (2005: 84) melihat struktur sebagai suatu formasi yang dinamis yang secara konstan terproduksi dan berubah melalui keseluruhan praktik sosial. Keempat, adanya interaksi kekuasaan yang intens dalam penyelenggaraan sistem penyiaran di suatu negara. Konteks ekonomi politik ini seringkali dikaitkan dengan isu demokrasi. Mufid (2005: 85) mencatat bahwa konteks ekonomi-pollitik media memiliki tiga tolok ukur sistem sosial politik yang demokratis. Pertama, peniadaan ketimpangan sosial dalam masyarakat. Kedua, pembentukan kesadaran bersama (shared consciousness) mengenai pentingnya meletakkan kepentingan bersama (public interest) di atas kepentingan pribadi. Terakhir, demokrasi membutuhkan sistem komunikasi politik yang efektif. Warga negara harus terlibat secara aktif dalam proses-proses pembentukan kebijakan yang menyangkut kepentingan umum. Mufid (ibid) merangkum tema demokrasi dalam konteks ekonomi-politik ini sbb: Tema demokrasi, dengan demikian bisa diartikan sebagai suatu sistem sosial politik yang memberikan jaminan penuh terhadap kebebasan individu. Hanya, kebebasan tersebut baru akan berarti bila setiap individu warga negara dapat memproleh innformasi yang cukup serta memiliki keterlibatan dan partisipasi politik yang tinggi. Sebaliknya, ketiadaan informasi serta tertutupnya ruang politik bagi masyarakat hanya akan mempersulit warga untuk mempersoalkan proses alokasi kekuasaan dan sumber daya. 2. Semangat/substansi dalam Undang-Undang Penyiaran? a. Desentralisasi/localism Semangat otonomi daerah sangat mewarnai pembahasan RUU Penyiaran. Hal ini misalnya terlihat dari DIM (Daftar Inventarisasi Masalah) No.43 Ayat (3) yang 10

berbunyi, Komisi Penyiaran Indonesia terdiri atas Komisi Penyiaran Indonesia Pusat dibentuk ditingkat pusat dan Komisi Penyiaran Daerah dibentuk ditingkat provinsi. Juga DIM No.77 Ayat (3) Anggota Komisi Penyiaran Indonesia Pusat secar administratif ditetapkan oleh Presiden selaku Kepala Negara atas usul Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia, dan anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah secara administratif ditetapkan oleh Gubrernur selaku Kepala Daerah atas usul Dewan Perwakilan Daerah.5 Atas nama otonomi daerah anggota Dewan juga menolak semangat sentralistik pemerintah terhadapa RUU DPR tersebut. Untuk DIM No. 43 misalnya, pemerintah mengusulkan agar, Komisi Penyiaran Indonesia berkedudukan di Ibu Kota Negara Republik Indonesia dan dapat mempunyai perwakilan di tempat-tempat lain sesuai kebutuhan. Dengan catatan bahwa yang dimaksud dengan perwakilan yaitu hanya menjalankan fungsi administratif dan monitoring. Sedangkan untuk DIM No. 77 pemerintah mengusulkan agar ayat tersebut diubah menjadi anggota KPI diangkat oleh presiden atas usul Dewan Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia. Para narasumber sendiri mengakui kuatnya konteks daerah dan semangat antisentralisme penyiaran dalam proses penyusunan RUU Penyiaran tersebut. Paulus Widayanto misalnya mengatakan bahwa demokratisasi sistem penyiaran harus menjamin sebanyak-benyak orang/ pihak untuk (dapat) berusaha di dunia penyiaran (wawancara Tanggal 24 Juni 2003). Dewan kemudian mengidentifikasi demokratisasi penyiaran dengan pola berjaringan, sehingga memungkinkan daerah untuk berkiprah di dunia penyiaran sekaligus mengikis semangat sentralisme UU Penyiaran yang lama yang ditandai dengan kentalnya bau Jakarta. Sistem berjaringan dianggap jawaban terhadap tuntutan masyarakat yang hendak mengubah tampilan dunia penyiaran. Kita juga tidak (akan lagi) memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan monopoli. Kalau dia bisa bersiaran nasional, maka bisa saja mereka akan memiliki (stasiun) transmisi sampai seribu dan daerah hanya menjadi tiangtiang pancang transmisi saja. Sistem penyiaran jaringan akan memunculkan (stasiun) siaran lokal. Kalau nanti TV lokal Bandung hanya mampu siaran selama 4
5

Muhammad mufid , Op. Cit. hlm. 101

11

jam misalnya, maka yang 20 jam digunakan untuk TV jaringan. Local content-nya kan jadi ada. Kita memanfaatkan frekuensi secara maksimal. Dengan demikian, TV jaringan harus mempunyai kekuatan programming. Sistem ini ditolak oleh mereka mereka (industri). Padahal kita bertugas untuk membagi seadil-adilnya. Mereka tidak mau, dengan alasan sudah investasi (Paulus Widayanto wawancara Tanggal 24 Juni 2003)6 b. Diversity of content Prinsip demokrasi di ranah penyiaran dijalankan dengan sistem diversity of content (keberagaman isi) dan diversity of ownership (keberagaman pemilik). Semakin beragam isi siaran sesuai target komunitas pemirsa dan semakin meluasnya distribusi kepemilikan media penyiaran, maka semakin demokratislah ranah penyiaran itu Sudibyo (2004: xi). Sistem siaran sebagai upaya memaknai demokrasi bertolak dari dua pijakan. Yang pertama adalah pijakan politis. Secara politis, demokrasi menghendaki adanya sesuatu yang menjamin keberagaman atau diversitas politik Muffid (2005 : 68). Diversitas memungkinkan terjadinya aliran ide secara bebas melalui suatu instrument yang berpotensi dapat diakses oleh semua orang secara merata. Jika satu dua orang atau kelompok mendominasi kepemilikan media, dan menggunakan posisi tersebut untuk mengontrol isi tampilan media, maka ketika itulah terjadi reduksi keberagaman sudut pandang (heterodox view) (Muffid, 2005 : 69). Pijakan kedua adalah aspek kultural. Salah satu keresahan Diversitas memungkinkan terjadinya aliran ide secara bebas melalui suatu instrument). c. Diversity of ownership Jaminan bahwa kepemilikan media massa yang ada di Indonesia tidak terpusat dan dimonopoli oleh segelintir orang atau lembaga saja. Prinsip Diversity of Ownership juga menjamin iklim persaingan yang sehat antara pengelola media massa dalam dunia penyiaran di Indonesia.

Muhammad mufid , Op. Cit. hlm. 102

12

III.

Etika Komunikasi dalam New Media Kami mengambil satu artikel beserta seluruh dialog komentar yag mengikuntinya dari www.kompasiana.com. CATATAN KECIL UNTUK PARA SELINGKUHAN SAYA Perhelatan MPK baru saja berakhir. Hasilnya masih hangat dan akan selalu terasa enak untuk dinikmati. Ibarat kue, prosa-prosa ini tak pernah basi untuk dinikmati. Ibarat kopi, cerita-cerita ini tak pernah dingin. Selalu hangat dan siap menghangatkan tubuh. Sebentar lagi, acara ini hendak ditutup. Namun, sebelumnya saya ingin menyampaikan kesan-kesan saya mengikuti MPK ini terutama tentang teman kolaborasi saya. Berkolaborasi dengan banyak orang dari beragam latar belakang membuat saya mendapatkan pengalaman baru yang luar biasa. Kolaborator -yang biasa disebut dengan selingkuhan- saya lumayan banyak dan berasal dari beragram profesi, bahkan ada juga yang saya tak tahu profesinya. Model selingkuhnya pun bermacammacam. Ada yang saya lempari bola panas, ada yang melempari saya bola salju, namun ada pula yang cukup membagi tugas saja, selanjutnya tinggal mengembangkan sendiri-sendiri. Sebisa saya. Itu yang saya lakukan. Dan ternyata saya memang kecacalan (istilah Bahasa Indonesianya apa, ya?). Kalau pelari sudah ngos-ngosan kehabisan nafas. Tak banyak sih, hanya 8. Tapi ide yang tak kunjung datang ketika sedang ada waktu senggang dan ide yang datang di saat sedang sibuk sempat membuat saya pusing. Maklum, bukan keahlian saya untuk membuat cerpen sedemikian banyak dalam waktu sedemikian singkat. Pengalaman saya, sih, menulis cerpen ketika sedang patah hati saja, hahaha. 1. Edi Kusumawati Entah mengapa, saya merasa begitu akrab dengan ibu dari Bontang, Kalimantan ini. Mungkin karena kami sering bersahut kata di Kompasiana, berlanjut dengan meronda di Paradoks, kemudian, DAN, dan terakhir MPK ini. 13

Awalnya, beliau mengirimi saya pesan, intinya mengatakan kalau Langit punya acara MPK. Nanti kita kolab berdua, ya, begitu katanya. Ia juga berpesan agar saya yang daftar. Saya pun mengiyakan, meskipun akhirnya ia yang mendaftarkan kami ketika Langit sudah teringat untuk memasukkan namanya ke grup MPK. Hahaha ternyata yang biasa meronda bersama justru malah terlupakan. Kolab dengan Mbak Edi segar rasanya. Orangnya lucu, apa yang dikatakan selalu mengundang tawa. Idenya ada-ada saja. Pertama kali, ia melemparkan ide pada saya, berbasis pada kisah nyata yang dialami tetangganya. Saya sambut lemparannya itu dengan tangan terbuka dan jadilah sebuah bola salju kecil yang saya lemparkan kembali padanya. Ternyata bola salju kecil itu diubahnya menjadi bola yang sangat besar. Saya pikir bukan bola lagi, melainkan balon udara, saking besarnya. Cerita tentang wanita yang dianiaya suaminya hingga wanita itu memberontak pun akhirnya harus tertuang dalam 2 seri tulisan Ketika Noda Lipstik Bercerita, Mandau Pun Ikut Bicara 1 dan 2. Bahkan, saking panjangnya, cerita itu hampir saja dibagi menjadi 3 2. Dyah Chamidiyah Ibu guru yang berasal dari Pati ini baru saya kenal lewat Mak Comblang, Langit Queen. Meskipun belum saling mengenal, kami langsung saling indoks karena untuk chat kami kesulitan menyesuaikan waktu. Waktu saya pagi hari, sedangkan beliau sore hari. Malam hari saya bisa, tapi beliau tak bisa. Karena saya kesulitan menemukan ide, maka bu guru ini yang memberikan ide, sekaligus melemparkan bola saljunya kepada saja. Untungnya, bola salju itu sudah besar, sehingga saya hanya sedikit menambahinya. Ternyata oh ternyata, ketika saya longok lapaknya, dia belum menjadi teman saya di Kompasiana. Hahaha Tentu, saya berharap agar Mbak Diah tak kecewa berkolaborasi dengan saya. 3. Shofya Edi Pasangan selingkuh saya ini adalah satu-satunya yang saya kenal di dunia nyata. Dia adalah senior saya di MGMP dan kebetulan kami adalah anak buah kesayangan koordinator MGMP sehingga sering mendapat tugas bersama. 14

Alhasil, kami pun akrab pula di dunia nyata. Beliau masuk ke Kompasiana ini juga karena terpengaruh ajakan saya, meskipun tulisannya tak sebanyak saya. Ketika ada MPK, maka saya pun menawarkan pada beliau untuk ikut dan beliau langsung meng-iya-kan. Kolaborasi ini adalah kolaborasi kami yang kedua. Sebelumnya kami berkolaborasi menulis soal UKK kelas VII, hahaha. Bukan prosa, memang. Sayangnya, event ini bertepatan dengan persiapan beliau mengikuti Lomba Guru Berprestasi Tingkat Jawa Tengah. Alhasil, sampai mendekati hari H, kami belum sempat ngobrol untuk membicarakan cerpen kami. Karena terbatasnya waktu yang beliau punya, maka saya pun berpesan agar dikirimi puisi. Puisi cinta juga tak apa, ambil dari file yang tersedia. Akhirnya saya dikirimi dua buah puisi, namun satu di antaranya tersesat di email saking banyaknya email sampah yang ada di ymail saya. Jadilah saya mengembangkannya menjadi prosa dengan menyesuikan isinya dengan isi puisi dan hasilnya adalah cerpen yang berjudul Selamat Pagi, Cantik! Cerpen ini kemudian saya kirimkan ke indok FB-nya, tetapi saya yakin saat ini beliau belum sempat buka karena sedang bertarung di LPMP dengan para guru berprestasi lainnya. Mohon doanya, ya 4. Odi Sholahuddin Awalnya, saya tak percaya diri untuk berkolaborasi untuk maestro cerpen di kompasiana ini. Saya hanyalah penulis ecek-ecek sedangkan tulisan beliau sudah saya baca di media cetak sejak bertahun-tahun lalu. Oleh karenanya, ketika Langit menawarkan pada saya, saya membutuhkan waktu berjam-jam untuk menjawab. Setelah didesak-desak, akhirnya saya mau juga. Siapa tahu, saya bisa menyerap ilmu menulisnya, hehehe. Namun, beberapa waktu kemudian, saya terancam patah hati karena tiba-tiba Mas Odi mengatakan kalau hendak puasa nulis di Kompasiana. Yah, tak jadi ngintip ilmunya Mas Odi, deh. Namun, ternyata kekhawatiran saya tak terbukti. Beberapa hari kemudian, munculah tulisan-tulisan dari mas Odi pas hari ulang tahunnya masuk di Kompasiana. Namun, bukan berarti kolab ini berlangsung lancar. Kesibukan 15

beliau membuat kami tak bisa berkomunikasi. Saya pun hanya mengatakan ide saya untuk menuliskan tentang ABG yang terpaksa menjual diri demi melanjutkan sekolahnya. Setelah itu, saya membuat sebuah cerpen tentangnya, kemudian saya lemparkan bola panas ini kepada beliau. Ibarat kayu maka saya sampaikan kayu dengan ukiran sederhana yang sangat kasar. Dan Mas Odi mengolahnya menjadi sebuah ukiran halus nan indah dalam prosa kolaborasi kami yang berjudul Anak-anak yang Terjajah Malam. Ketika saya bandingkan, nyata benar beda dua cerpen itu: cerpen yang saya lemparkan dan yang dilemparkan kembali oleh Mas Odi. Hahaha ya bedalah, antara yang ahli dan yang amatir. Bahkan dua cerpen itu menjadi sangat berbeda sama sekali, meskipun ruh-nya sama. Berkolaborasi dengan maestro cerpen memang membuat saya kolab. Lemparan itu baru saya buka pukul setengah sepuluh malam dengan koneksi internet yang lemot. Saya pun kemudian mengeposnya, namun karena leletnya koneksi ini, yang termuat hanya separuh. Dorrr!!! Kagetlah saya ketika di facebook Mas Odi mengatakan kalau cerpen kami baru separuh. Buru-buru saya edit lagi, pos lagi. Ternyata, setelah saya lihat, nama penulisnya belum termuat. Edit lagi. Padahal itu sudah lewat tengah malam. Ngos-ngosan rasanya. Mungkin saking nervous-nya, ya, hehehe. Meskipun kinerja saya buruk, saya harap Mas Odi tak kecewa. Dan meskipun tak dapat HL, cerpen ini selama sehari menempati kolom termenarik selama seharian penuh. Lumayanlah. 5. Trio Kewer-Kewer ( Edi Kusumawati, Valentino, Afandi) Mengapa Trio Kewer-kewer? Panjang ceritanya. Ini kami peroleh dari obrolah panjang yang lucu sekali di inboks kami. Kalau saya pikir, kasihan si Fandi yang terpaksa ngobrol dengan orang-orang dewasa sedikit kenthir macam kami. Tapi, lumayan untuk nambah ilmunya, hahaha. Kolab ini unik, karena kami hanya berbagi tema untuk menceritakan tokoh yang bernama Bima dan Sinta. Masa kecil diceritakan oleh Bang Valen, masa remaja oleh Afandi, kuliah oleh Mbak Edi, dan saya menceritakan masa menikah. Lumayan membingungkan, namun akhirnya jadi juga. Lucunya, malam itu Afandi lupa kalau harus posting tulisan, sehingga kami 16

menunggunya cukup lama. Hampir fajar, baru saya kebagian waktu untuk mengeposkan cerpen kami yang berjudul Karena Cinta AKu di Sini. 6. Granito Adam Sejak awal, saya memang menyukai gaya penulisan Granito yang bersayap sayap. Selama ini, saya memang tak bisa membuat cerpen dengan bahas bersayap. Banyak orang bilang kalau menyukai alur cerita yang saya tulis, namun saya sendiri merasa tak cukup puas karena tulisan saya tak indah. Ibarat jalan, tulisan saya adalah jalan tol yang kiri kanannya adalah padang pasir. Cepat sampai, namun tak ada keindahan di sana. Ibarat, pohon, cerpen saya adalah pohon bambu dan saya ingin mengubahnya menjadi tebu yang manis. Saya rasa, pelengkap yang paling tepat adalah Granito. Namun, kolaborasi dengan dia? Tahu dirilah, hahaha. Selingkuhannya sudah banyak dan kelihatannya semuanya perempuan. Kalau tidak semuanya, maka sebagian besar perempuan. Maka saya pun tak berusaha untuk melamarnya. Namun, ternyata pucuk dicinta ulam pun tiba. Melalui komentar pada sebuah tulisannya, ia pun menawarkan pada saya untuk berkolaborasi. Tak segera saya jawab, tetapi saya benar-benar berminat. Esok harinya, saya tanyakan kembali tentang tawarannya itu dan ternyata masih berlaku. Model kolaborasi dengan Granito hampir sama dengan Mas Odi. Saya lempar dia dengan cerpen jadi, kemudian saya minta dia untuk mengolahnya dengan bahasanya yang bersayap. Kebetulan cerpen ini sudah lama berhenti di file saya. Beberapa waktu kemudian, dikembalikannya cerpen saya itu dengan catatan. sudah aku baca, sambil miris2 sebenarnya sudah 95% jadi itu.palingpaling aku retouch dikit ya?.mau dibuat makin menyayat atau diperindah seperti pesona sejuta taman? dan bunaku nggak tega. alur dan dialognya ketat. nyaris sempurna secara struktur..cuman sedikit aku sentuh.udah aku kirim via email ya.. Dan ketika saya baca kembali, sentuhan itu memang membuat cerpennya menjadi lebih memiriskan hati. Hasil perselingkuhan kami adalah Sisi Gelap Sang Rembulan. 17

7.

Admin DAN: Valentino, Afandi, Edi Kusumawati, R-42, Hamzet,

Princess Model kerja kami hampir sama dengan kolab kami berempat. Bagi tema, bagi judul, menyamakan tokoh, tapi tetap saling berhubung. Hasilnya, diposting pada wall masing-masing. Saya urutan kedua, setelah Fandi. Eh, ternyata Afandi lupa kalau harus menulis cerita itu. Jadilah ia ngebut menyelesaikan PR-nya. Mbak Edi pun akhirnya menulisnya kembali, menjadikan ceritanya yang selalu panjang menjadi lebih pendek. Semua cerita itu bisa dibaca secara bersambung di wall masing-masing anggota kolab. 8. Dwi Ilyas Ini selingkuhan saya yang terakhir. Bu guru ini baru saja diputuskan oleh sang pacar yang ngambeg, sehingga ia kehilangan teman kolab. Akhirnya, ia pun saya minta untuk melempari saya dengan bola panas karena saya memang sedang kehabisan ide. Ia pun melemparkannya dan saya menyambutnya dengan sedikit pusing karena keterbatasan waktu. Kebetulan saat itu saya sedang sibuk jaga tes UKK sehingga saya jaga sambil ngetik cerpen. Untung si Bos sedang tak bawel sehingga saya didiamkan saja meskipun membawa laptop ke ruang tes. Saya buat sejadinya dan saya lemparkan lagi ke Mbak Dwi biar disesuaikan dengan tema awalnya. Selesai sudah. Kok jadi panjang begini, ya. Tulisan ini saya buat sejak kemarin dan baru selesai sekarang, ketika MPK sudah ditutup. Untuk semua selingkuhan eh partner kolab saya, saya ucapkan terimakasih yang sebesarbesarnya atas pengalaman dan atas ilmu yang tersampaikan kepada saya. Apabila ada kesalahan selama kita berinteraksi, saya minta maaf yang sebesarbesarnya dan tentu saya sampaikan pula: Jangan kapok, ya Daaaggg 13 Juni 2011 Dian/Bunda Ninha FB: http://www.facebook.com/diankhristiyantinugrahaningtyas 18

KOMENTAR 1. 2. Lakeisha, menarik tante . Balas Dian, Makasih, Syasya cantik.. Granito Ibrahim, maaf kan jika aku hanya sedikit menyentuhmu namun bila ku harus berbuat sesuatu sekedar menyibak tirai yang menutupi cantik wajahmu. Balas Dian, Thanks, ya Nito Kalimat-kalimatmu kepayang. Terimakasih untuk polesan yang sederhana tapi indah itu. Jangan kapok, yaaaa. 3. Manusia1991. alau ane kapan di Posting orang ya. Huh !! memang susah jadi pemula. Tapi aku Teeeetaaaaaap Seeeeemaaaaaaangaaaaaat,,,,,, Makasih ya kak atas ilmunya Balas Dian, Sama-sama, Dhek Eh, ilmu yang mana nih? Kemarin ikut MPK? 4. Odi Shalahuddin, Wah..wah..wah.. menjadi tidak enak hati nih deg-deg-kannya pasti juga lantaran penyelesaiannya saat hari terakhir hi..hi..hi..hi..hi. wah senang berkolaborasi dengan dirimu Sebenarnya ingin lagi, kelak, mungkin juga tidak dalam rangka acara memulai dari awal, dan berproses bersama hingga akhir Imajinasi dan pendeskripsiannya luar biasa loh, Mbak Dian memang dalam konteks tertentu bila ada pengamatan 19 itu memang membuatku mabuk maksud hati tak ingin membuat wajahmu tebal dan bergincu

pastilah akan lebih luar biasa lagi Saya yakin kamu bisa menulis yang sangat menarik pada dunia yang kamu kenali dan mampu mendeskrisikannya secara detil (loh kok malah mengkritik dan kasih masukan di sini.. ha.ha.h.ah.a.h.ah.a.ha. Semoga tidak marah ya A. Analisis Isi Konten Dari segelumit cerita diatas, ada hubungan yang menarik antara judul dengan isi bacaan. Bisa dipastikan, mayoritas dari mata dan pikiran kita akan langsung tertuju dan tertarik pada kata / kalimat Untuk Selingkuhan Saya. Namun, bisa digaris bawahi ketika kita menghayati dan memahami tulisan yang dipaparkan melainkan sebuah makna denotatif dari kata Selingkuh. Yang dimaksud selingkuh dalam cerita diatas adalah mengenai banyaknya partisipan dan begitu banyak rekan yang turut andil dalam MPK. Apa itu MPK dalam Kompasiana? MPK yang dimaksud bukanlah Metode Penelitian Kual/Kuantitatif, melainkan Malam Prosa Kolaborasi. Dari cerita diatas, banyak sekali ditemukan sebuah motivasi, bahwasanya usia, profesi, tidaklah menjadi hambatan untuk kita senantiasa berkreasi. Memotivasi satu sama lain, menjadikan sebuah pengalaman sebagai induk dimana kita akan belajar lebih dan lebih. Adanya gagasan dimana usia dan profesi tidak menjadi hambatan untuk berkreasi adalah dengan munculnya sebuah cerita, berdasar pengalaman yang ada. Antara tua, muda bukanlah masalah untuk menyatukan pikiran. Bunda ninha, begitu ia biasa dipanggil merupakan seorang lulusan dari salah satu SMA di Kudus yang kemudian melanjutkan study nya ke IKIP semarang dijurusan Bahasa Indonesia. Darisini saya ambil beberapa komentar dimana terlihat adanya kelekatan antara para komentator dengan narasi yang ditulis. 1. dari Lakeisha, menarik tante . bisa dilihat bahwa adanya nilai menarik ketika kita melihat judul bacaan dengan tulisan yang ada, Rasa ingin tahu, mendorong untuk kita menelusuri apa yang menjadi bahan utama dalam cerita ini, kemudian disampaikan oleh seorang

20

Lakeisha sebagai ketertarikan terhadap tulisan. Inilah bentuk rasa perhatian atas ketertarikan tersebut. 2. Odi Shalahuddin, Wah..wah..wah.. menjadi tidak enak hati nih deg-deg-kannya pasti juga lantaran penyelesaiannya saat hari terakhir hi..hi..hi..hi..hi. wah senang berkolaborasi dengan dirimu Sebenarnya ingin lagi, kelak, mungkin juga tidak dalam rangka acara memulai dari awal, dan berproses bersama hingga akhir Imajinasi dan pendeskripsiannya luar biasa loh, Mbak Dian memang dalam konteks tertentu bila ada pengamatan pastilah akan lebih luar biasa lagi Saya yakin kamu bisa menulis yang sangat menarik pada dunia yang kamu kenali dan mampu mendeskrisikannya secara detil (loh kok malah mengkritik dan kasih masukan di sini.. ha.ha.h.ah.a.h.ah.a.ha. Semoga tidak marah ya http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/06/13/catatan-kecil-untuk-paraselingkuhan-saya/ Dari komen yang dipaparkan oleh Odi Shalahuddin, betapa bentuk perhatian dicurahkan senantiasa untuk membangun semangat untuk berkarya. Adanya nilai etika mengkritik yang dipaparkan Odi tersebut tidak menyimpang dari yang seharusnya, kenapa? Telah dijelaskan dalam buku Etika sosial lintas budaya,oleh Albert T. Adeney ( hal.200 ) bahwa mengkritik dalam komunitas itu merupakan bagian dimana pribadi sendiri telah mengadosi untuk senantiasa saling membantu dan memberi, namun tidak berlaku untuk lingkungan yang lebih luas.

21

Etika yang terjadi..? *etika kesopanan sangat dijunjung tinggi dalam postingan ini, mengapa tidak, karena dalam postingan ini sarat akan ilmu pengetahuan dan kekeluargaan. Kedekatan emosional antara penulis cerita dan komentator yang tergabung didalamnya sangatlah erat kaitannya dengan isi cerita. Disini penulis menuliskan tentang isi hatinya tentang penyikapan dirinya atas MPK yang telah terjadi. B. Kesimpulan Banyak orang menggunakan news media untuk mengungkapkan, menshare segala bentuk pengalaman yang didapatnya. Untuk menggambarkan sebuah bentuk kekaguman yang fantantis bagi mereka yang mendapati, maupun mengalami hal tersebut. Dalam MPK kali ini, Dian Khristiyanti Nugrahaningtyas, sang penulis ingin memaparkan pengalamannya dengan menjadikan pengalamannya sebagai cerita yang digambarkan didalamnya adalah mereka, teman teman yang mendampingingi nya sebagai selingkuhannya. Mengingat komen yang tertera dalam cerita tersebut sangat memegang nilai etika dalam news media, karena tidak adanya manipulas / mengasingkan audien, etika berekspresi yang tidak berlebihan, adanya etika hubungan secara langsung melalui media / lembaga seperti keluarga. (Masyarakat Indonesia Vol22, hal 192). Jadi pada intinya dengan adanya fasilitas yang mendukung seperti teknologi, bisa dikatakan semua orang dapat menjadi jurnalis. Jurnalis atau wartawan dalam artian luas, yakni orang yang menulis dan mengumpulkan berita (KBBI, 2007). Jika dilihat hanya dalam arti luas ini, dapat kita anggap jika slogan Everyone can be a journalist benar adanya. Melihat bukti dan fakta yang ada jika semua orang dapat menjadi jurnalis diikuti perkembangan teknologi informasi, beberapa orang biasa atau awam dapat memproduksi sebuah informasi menjadi berita. New media, yakni internet telah membuat sebuah tren-tren baru

22

dalam masyarakat. Sering kita sapa dengan citizen journalism yang kian berkembang seiring jaman dan online journalism yang muncul belakangan.

DAFTAR PUSTAKA

Haryatmoko. Etika Komunikasi : Manipulasi Media, Kekerasan dan Pornografi. Yogyakarta : Kanisius, 2007 Mufid, Muhamad. Komunikasi dan Regulasi Penyiaran. Jakarta : Kencana,2007 Limburg. Etika Media Elektronik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008 Riswandi. Dasar-Dasar Penyiaran. Yogyakarta : Graha Ilmu, 2009 Wiryawan Hari. Dasar-Dasar hukum Media. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007 Kusumaningrat, Hikmat. Jurnalistik Teori dan Praktik. Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2006 Sumadiria, Haris. Jurnalistik Indonesia Menulis Berita dan Feature. Bandung : Simbiosa Rekatama Media, 2006 http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/06/13/catatan-kecil-untuk-paraselingkuhan-saya/ (Diunduh pada tgl 13 juni 2011 )

23