Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN I.

Latar Belakang Ekstraksi merupakan salah satu perawatan dibidang kedokteran gigi, yaitu merupakan pencabutan gigi yang sesuai indikasi. Ekstraksi memiliki berbagai indikasi diantaranya gigi yang dapat direstorasi lagi, gigi yang berlebih (over eruption), permintaan pasien sendiri dan lain sebagainya. Selain indikasi ekstraksi juga mempunyai faktor kontraindikasi, artinya ada beberapa faktor yang memnyebabkan gigi tersebut tidak boleh dicabut. Ekstraksi juga memiliki komplikasi dari perawatan yang dilakukan. Banyak masyarakat umum menilai, bahwa komplikasi ekstraksi adalah kesalahan dokter gigi namun, sebenarnya hal ini merupakan komplikasi. Keadaan tersebut tentunya harus dijelaskan kepada pasien dengan sejelas-jelasnya. Untuk lebih memudahkan perawatan, pra atau pasca ekstraksi bisa (jika diperlukan) digunakan pemeriksaan tambahan (penunjang) yaitu radiografi. Radiografi yang dipakai dapat ekstra oral juga intra oral. radiografi sebelum ekstraksi harus disesuaikan dengan indikasi penggunaannya, diantara mahkota yang besar, gigi impaksi, gigi yang mengalami trauma dan lain sebagainya. Untuk pasca ekstraksi biasanya radiografi digunakan untuk melihat gigi yang fraktur yang masih tertinggal dalam soket atau yang telah bermigrasi ke sinus maksilaris. II. Deskripsi Topik

Nama Pemicu : Sakit setelah Cabut Gigi Seorang pasien laki-laki bernama Rusli berusia 40 tahun datang ke rumah sakit gigi dan mulut pendidikan (RSGMP) dengan keluhan gigi belakang bawah kanan sakit terutama kalau dipakai makan. Hasil pemeriksaan klinis diperoleh gigi 46 telah ditambal dengan amalgam, gigi berwarna keabu-abuan, perkusi dan palpasi (+).

More info Setelah dilakukan anestesi, dokter gigi melakukan pencabutan pada gigi 46 tersebut. Namun saat dilakukan pencabutan, gigi mengalami fraktur sehingga masih ada akar mesial yang tinggal. Akar mesial yang fraktur tidak terlihat secara klinis namun dapat dilihat dengan gambaran radiografi bahwa masih ada akar gigi yang tertinggal. More info Dua hari setelah gigi diekstraksi, pasien datang lagi ke dokter gigi dengan keluhan daerah gigi yang dicabut sangat sakit walaupun telah minum obat penahan sakit. Hasil pemeriksaan dokter gigi pada daerah bekas pencabutan terlihat jaringan nekrotik berwarna keabuan di soket gigi dan adanya daerah inflamasi pada gingival sekitarnya.

BAB II PEMBAHASAN I. Eksodonsi Meurut Pedlar dkk (2001) pencabutan gigi merupakan suatu prosedur bedah yang dapat dilakukan dengan tang, elevator atau pendekatan transalveolar.1 Eksodonsi atau pencabutan gigi yang ideal adalah pencabutan tanpa rasa sakit satu gigi yang utuh, atau akar gigi, dengan trauma yang minimum terhadap jaringan pendukung gigi, sehingga bekas pencabutan dapat sembuh dengan sempurna dan tidak terdapat masalah prostetik pascaoperasi di masa mendatang.2 Ada beberapa factor yang membuat pencabutan lebih sulit dilakukan, yaitu:3 a. Terlihat secara klinis Ukuran mahkota: mahkota yang besar mempunyai akar yang besar. Mahkota yang pendek atau gigi yang erupsi sebagian menghalangi adaptasi tulang. Mahkolta yang patah menyulitkan aplikasi tang. Restorasi yang luas atau mahkota protesa mudah fraktur atau tergeser pada waktu pencabutan. Gigi berjejal : gigi berjejal menyulikan masuknya instrumen.

b. Dilihat dengan radiografi Akar yang panjang, bengkok atau resorb cenderung mudah fraktur. Gigi yang dirawat endodontic biasanya getas dan mudah fraktur. Tulang padat, sangat termineralisasi dan celah lingamen periodontal yang sempit atau tidak ada, menunjukkan bahwa perlu tekanan yang lebih besar untuk melonggarkan alveoulus. Akar bulbus, hipersementosis apical atau ankilosis merupakan kontraindikasi pencabutan dengan tang. Akar yang delaserasi di dekat struktur vital memerlukan tindakan pembedahan (open procedure).

Indikasi Pencabutan Menurut starhak (1980) dan Kruger (1974), indikasi dilakukannya pencabutan gigi adalah sebagai berikut:1 1. Gigi dengan patologis pulpa, baik akut maupu kronis, yang tidak mungkin dilakukan terapi endodontik harus dicabut. 2. Gigi dengan karies yang besar, baik dengan atau tanpa penyakit pulpa atau periodontal, harus dicabut ketika restorasinya akan menyebabkan kesulitan keuangan bagi pasien. 3. Penyakit periodontal yang terlalu parah untuk dilakukan perawatan merupakan indikasi ekstraksi. Pertimbangan ini juga meliputi keinginan pasien untuk koopertif dalam rencana perawatn total dan untuk meningkatkan oral higine menghasilkan perawatan yang bermanfaat. 4. Gigi malposisi dan overeruption. 5. Gigi impaksi dalam denture bearing area harus dicanut sebelum dilakukan pembuatan protesa. 6. Gigi yang mengalami trauma harus dicabut untuk mencegah kehilangan tulang yang lebih besar lagi. 7. Beberapa gigi yang terdapat pada garis fraktur rahang harus dicabut untuk meminimalisasi kemungkinan infeksi, penyembuhan yang tertunda atau tidak menyatunya rahang. 8. Tipe dan desain protesa gigi dapat membutuhkan satu atau beberapa gigi yang sehat sehingga dapat dihasilkan protesa yang diharapkan. 9. Ekstraksi profilaksis harus diperhatikan. 10. Pasien yang menjalani terapi radiasi. Kontraindikasi pencabutan Menurut laskin (1985) kontraindikasi pencabutan gigi adalah sebagai berikut:1 1. Infeksi dental akut harus dievaluasi tergantung dengan kondisi pasien. 2. Perawatan infeksi perikoronal akut berbeda dengan abses apical. Kontraindikasi sistemik :

Penyakit medis yang tidak terkontrol dapat diperhatikan sebagai kontraindikasi ekstraksi gigi.

Pasien terlalu muda dan terlalu tua membutuhkan perhatian lebih. Penyakit kronik seperti DM, nefritis dan hepatitis menyulitkan pencabutan gigi. Neuroses dan psychoses merupakan kontraindikasi yang cenderung penyulitkan perawatan dental.

Kehamilan merupakan kondisi fisiologis normal dan tidak diperhatikan sebagai kontraindikasi bagi ekstraksi kecuali terdapat beberapa komlikasi.

Alat dan teknik pencabutan 1. Alat pencabutan Tang ekstraksi Tang Rahang Atas Paruh dan pegangan hamper satu garis lurus Tang Rahang Bawah Paruh dan pegangan bersudut, yaitu antar 45o90o Bila dilihat dari samping seperti garis lurus Untuk gigi depan dan samping,paruh keduanya tumpul. Instrument dasar Spuit injeksi Tang ekstraksi Elevator Rounger forceps Mallet & chisel Curetase Bone File Alat-alat lain sesuai kebutuhan

Gambar 1. Tang Gigi4 Elevator Elevator memiliki dua jenis, yaitu elevator lurus dan bengkok. Fungsinya:3 1. Untuk mengetes anestesi 2. Memisahkan perlekatan epitel 3. Ekspansi evaluasi 4. Evaluasi mobilitas 5. Mengungkit ujung akar dan frakmennya

Gambar 2. Bein/Elevator5

2. Teknik pencabutan Tang a. Rotasi : gerakan memutar sebesar (+/-) sebesar 10 derajat ke arak disto mesio lingual. Dilakukan pada gigi berakar satu dan berbentuk konus. a. Elevasi Bein : gerakan pengungkit ujung

elevator diletakkan antara akar gigi dengan tulang alveolus dan hanya diperbolehkan untik gigi berakar satu.

b. Luksasi : : gerakan kearah labio/buko b. Ekstraksi : yaitu dimana ujung elevator yang lingual gerakan luksasi pada rahang lurus di dorongkan diantara akar gigi dan bawah lebih mudah karena dinding tulang alveolus sambil gerakan rotasi dari sebelah bukal lebih tipis dibandingkan elevator. lingual. c. Ekstaksi : gerakan menarik gigi dari alveolus. Tidak boleh memakai

kekuatan yang terlalu bsar karena dapat menyebabkan trauma terhadap gigi antagonis.

II.

Komplikasi Ekstraksi

Menurut Pederson (1996), komplikasi adalah suatu respon pasien tertentu yang dianggap sebagai kelanjutan normal dari pembedahan, yaitu perdarahan, rasa sakit dan edema.1 Komplikasi yang dapat terjadi :2 1. kegagalan 2. Pemberian anestesi Mencabut gigi dengan tang dan elevator

fraktur dari mahkota gigi yang akan dicabut akar gigi yang akan dicabut tulang alveolar tuberositas maksila

3. 4. 5. 6. 7. 8.

gigi sebelahnya atau gigi antagonis mandibula

dislokasi dari gigi sebelahnya sendi temporomandibula

berpindahnya akar gigi ke jaringan lunak ke dalam sinus maksilaris

perdarahan berlebihan selama pencabutan gigi setelah pencabutan selesai pascaoperasi

kerusakan dari Gusi Bibir Saraf alveolaris inferior dan cabangnya Saraf lingualis Lidah dan dasar mulut

Rasa sakit pascaoperasi karena Kerusakan dari jaringan keras dan lunak Dry soket Osteomeilitis akut dari mandibula Artitis traumatic dari senditemporomandibula

Pembengkakan pascaoperasi karena: Edema Terbentuknya hematoma Infeksi Trismus Sinkop Terhentinya respirasi

Terhentinya jantung Keadaan darurat akibat anestesi

III.

Gambaran Radiologi Gigi Indikasi Pencabutan Gigi dan Komplikasi Pencabutan a) Indikasi pencabutan

Indikasi untuk pemeriksaan radiografi sebelum pencabutan gigi,yaitu :6 1. Adanya riwayat kesulitan dalam pencaburtan gigi sebelumnya. 2. Adanya gigi yang secara abnormal menghambat pencabutan gigi dengan tang. 3. Bila setelah pemeriksaan klisnis diputuskan untuk mencabut gigi dengan pembedahan. 4. Adanya gigi atau akar gigi yang berdekatang dengan tantrum (sinus) maksilaris, saraf inferior, dan saraf mentalis. 5. Semua gigi molar ketiga bawah, termasuk premolar atau gigi kaninus yang berubah posisinya. 6. Gigi restorasi besar atau tidak berpulpa lagi. Gigi ini secara normal sangat rapuh. 7. Gigi yang terkena penyakit periodontal disertai skerosis tulang pendukungnya. Gigi seperti ini terjakadang mengalami hipersementasi dan rapuh. 8. Gigi dengan riwayat trauma. Fraktur akar gigi dengan atau tanpa tulang alveolar dapat tejadi. 9. Gigi molar atas yang terisolasi, khususnya bila gigi tersebut tidak mempunyai antagonis dan supra-erupsi. Tulang pendukung dari gigi tersebut sering diperlemah dengan adanya sinus maksilaris yang besar. 10. Gigi dengan erupsi sebagian atau tidak erupsi. 11. Gigi dengan mahkota gigi abnormal atau erupsi terlambat, mungkin menunjukkan adanya dilaserasi, geminasi atau odontoma yang besar. 12. Setiap keadaan yang memicu abnormalitas gigi atau tulang alveolar, seperti : a) Osteotis deformans, yaitu akar gigi hipersementosis dan terdapat

kecendrungan osteomeilitis kronis. b) Disostosis kledo-kranial, karena pada tulang keadaan ini terjadi

psedoanodonsia dan akar gigi yang bengkok.

c) Pasienyang menerima terapi radiasi pada rahang biasanya memiliki kecendrungan osteodionekrosis. d) Osteoporosis, yang menyebabkan pencabutan gigi menjadi sulit dan cenderung menimbulkan osteomeilitis kronis. Persyaratan dari radiografi prapencabutan Gambaran radiografi sebelum pencabutan gigi harus menunjukkan struktur akar gigi dan tulang alveolar yang mengelilingi gigi secara keseluruhan. Pada banyak kasus, foto periapikal intraoral sudah cukup, tapi kadang-kadang foto oblik lateral ekstraoral dari mandibula diperlukan untuk melihat keseluruhan akar gigi, atau kondisi, struktur dan jumlah tulang pendukung.

Foto radiografi beberapa gigi dengan indikasi pencabutan

Gambar 3. Overeruption Teeth7

Gambar 4. Nekrosis Pulpa dengan Lesi Periapikal8

Gambar 5. Gigi Impaksi9

b) Komplikasi pencabutan

Foto radiografi komplikasi pencabutan

Gambar 6. Fraktur akar gigi

BAB III PENUTUP

Setiap perawatan yang akan dilakukan oleh seorang dokter gigi, harus disesuaikan dengan indikasi. Begitu juga ekstraksi, untuk melakukan pencabutan harus disesuaikan dengan indikasi pencabutan. Ada banyak indikasi pencabutan yang harus diketahui oleh dokter gigi. Begitu juga dengan kontraindikasinya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dokter gigi harus lebih memahami setiap poinnya. Selain indikasi dan kontra indikasi, ekstraksi juga memiliki komlikasi, komlikasi ini dipengaruhi banyak hal, seperti alat-alat yang digunakan, tekanan yang diperikan, anatomis gigi dan lain sebagainya. Untuk memudahkan pekerjaan seorang dokter gigi, ada pemeriksaan penunjang yang tersedia. Namun pemeriksaan ini dilakukan jika diperlukan. Pemeriksaan tersebut adalah radiografi. Seperti halnya pemeriksaan lain, radiografi dilakukan jika sesuai indikasi. Selain sebelum melaukan ekstraksi radiografi juga dipakai untuk melihat komlikasi (jika terjadi) dari pencabutan yang dilakukan.