Anda di halaman 1dari 14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1.

Tinjauan Geologi

II.1.1. Tinjauan Posisi Yogyakarta Terhadap Lempeng Tektonik Kepulauan Indonesia terletak pada pertemuan tiga Lempeng aktif dunia yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Samudera Hindia- Australia dan Lempeng Samudera Pasifik. Lempeng Samudera Hindia Australia bergerak relatif kearah utara relatif terhadap Lempeng Eurasia (7,0 cm/tahun), Lempeng Pasifik serta Lempeng Philipina di bagian Timur bergerak ke barat keduanya menumpu di bawah pinggiran Lempeng Asia Tenggara (10 cm/th), sebagai bagian dari Lempeng Eurasia. Pergerakan Lempeng besar dalam bentuk penumpuan dan papasan menimbulkan beberapa zona subduksi dan patahan. Selain itu pergerakan ini akan membebaskan sejumlah energi yang telah terkumpul sekian lama secara tiba-tiba, di mana proses pelepasan tersebut menimbulkan getaran gempa dengan nilai yang beragam (Kertapati, 2004). Dari gambar 2.1 dapat dilihat didaerah selatan pulau Jawa terjadi tumbukan antara Lempeng Hindia- Australia dan Lempeng Eurasia yang mengakibatkan daerah selatan jawa merupakan daerah dengan aktivitas seismik yang tinggi. Daerah Yogyakarta yang berjarak sekitar 250 Km dari tumbukan lempeng tersebut merupakan daerah yang sangat rentan terhadap gempa tektonik.

Gambar 2.1. Peta tektonik Indonesia (www.bmg.co.id)

II. 1. 2. Struktur Geologi dan Topografi Daerah Yogyakarta Daerah Yogyakarta terletak pada ketinggian sekitar 0-2900 m diatas permukaan air laut dan dikelilingi oleh dataran tinggi, antara lain Pegunungan Seribu disebelah tenggara, pegunungan Menoreh disebelah barat daya dan gunung Merapi disebelah utara. Struktur geologi yang terdapat di Yogyakarta antara lain adalah lipatan dan sesar. Perlipatan dan pensesaran yang terjadi pada batuan pra-kuarter dan segala sesuatu yang berhubungan dengan hal tersebut telah diteliti oleh van Bemmelen (1949). Sesar utama dengan arah relatif utara-selatan ditafsirkan berada pada sepanjang Kali Opak dan memanjang melewati Yogyakarta, Bantul sampai ke Laut Selatan. Untung et al. pada tahun 1973 (Budianta, 2000 dalam Feisal, 2008 dan Safri, 2010) menyatakan bahwa sesar yang berpasangan juga memotong wilayah kaki Merapai dan membentuk graben Yogyakarta dan graben Bantul. Sesar-sesar ini diperkirakan aktif hingga Pliosen Akhir dan mungkin sampai kuarter, dimana proses sedimentasi yang cepat juga terjadi pada saat itu sebagai akibat dari adanya aktivitas Gunung Merapi yang masih aktif hingga saat ini. II. 1. 3. Geologi dan Stratigrafi Regional Secara umum, fisiografi Jawa Tengah bagian selatan-timur yang meliputi kawasan Gunungapi Merapi, Yogyakarta, Surakarta dan Pegunungan Selatan dapat dibagi menjadi dua zona, yaitu Zona Solo dan Zona Pegunungan Selatan (Bemmelen, 1949) .Zona Solo merupakan bagian dari Zona Depresi Tengah (Central Depression Zone) Pulau Jawa. Zona ini ditempati oleh kerucut G. Merapi ( 2.968 m). Kaki selatan-timur gunungapi tersebut merupakan dataran Yogyakarta-Surakarta ( 100 m sampai 150 m) yang tersusun oleh endapan aluvium asal G. Merapi. Di sebelah barat Zona Pegunungan Selatan, dataran Yogyakarta menerus hingga pantai selatan Pulau Jawa, yang melebar dari pantai Parangtritis hingga sungai Progo. Aliran sungai utama di bagian barat adalah sungai Progo dan sungai Opak, sedangkan di sebelah timur ialah sungai Dengkeng yang merupakan anak sungai Bengawan Solo (Bronto dan Hartono, 2001, Geologi daerah Yogyakarta telah dipetakan oleh Wartono Rahardjo, dkk (1977) (gambar 2.2).

Gambar 2.2 Peta geologi daerah Yogyakarta ( Wartono Rahardjo, dkk 1977)

Secara Umum stratigrafi di Pegunungan Selatan bagian barat telah banyak diteliti oleh para peneliti antara lain oleh Bothe (1929), van Bemmelen (1949), Sumarso dan Ismoyowati (1975), dan Wartono dan Surono dengan perubahan (1994) pada gambar 2.3 .

Gambar 2.3. Tatanan Kolom Stratigrafi Pegunungan Selatan Bagian Barat oleh beberapa peneliti (Bronto dan Hartono, 2001)

Secara stratigrafi, urutan satuan batuan dari tua ke muda menurut penamaan litostratifrafi menurut Wartono dan Surono dengan perubahan (1994) adalah : 1. Formasi Wungkal-Gamping Lokasi tipe formasi ini terletak di Gunung Wungkal dan Gunung Gamping, keduanya di Perbukitan Jiwo. Satuan batuan Tersier tertua di daerah Pegunungan Selatan ini di bagian bawah terdiri dari perselingan antara batupasir dan batulanau serta lensa batugamping. Pada bagian atas, satuan batuan ini berupa napal pasiran dan lensa batugamping. Formasi ini tersebar di Perbukitan Jiwo, antara lain di Gunung Wungkal, Desa Sekarbolo, Jiwo Barat, menpunyai ketebalan sekitar 120 meter (Bronto dan Hartono, 2001). 2. Formasi Kebo-Butak Lokasi tipe formasi ini terletak di Gunung Kebo dan Gunung Butak yang terletak di lereng dan kaki utara gawir Baturagung. Litologi penyusun formasi ini di bagian bawah berupa batupasir berlapis baik, batulanau, batulempung, serpih, tuf dan aglomerat. Bagian atasnya berupa perselingan batupasir dan batulempung dengan sisipan tipis tuf asam. Setempat di bagian tengahnya dijumpai retas lempeng andesit-basal dan di bagian atasnya dijumpai breksi andesit.

3. Formasi Semilir Formasi ini berlokasi tipe di Gunung Semilir, sebelah selatan Klaten. Litologi penyusunnya terdiri dari tuf, tuf lapili, lapili batuapung, breksi batuapung dan serpih. Komposisi tuf dan batuapung tersebut bervariasi dari andesit hingga
7

dasit. Di bagian bawah satuan batuan ini, yaitu di Kali Opak, Dusun Watuadeg, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, terdapat andesit basal sebagai aliran lava bantal (Bronto dan Hartono, 2001). Penyebaran lateral Formasi Semilir ini memanjang dari ujung barat Pegunungan Selatan, yaitu di daerah Pleret-Imogiri, di sebelah barat Gunung Sudimoro, Piyungan-Prambanan, di bagian tengah pada G. Baturagung dan sekitarnya, hingga ujung timur pada tinggian Gunung Gajahmungkur, Wonogiri. Ketebalan formasi ini diperkirakan lebih dari 460 meter. 4. Formasi Nglanggran Lokasi tipe formasi ini adalah di Desa Nglanggran di sebelah selatan Desa Semilir. Batuan penyusunnya terdiri dari breksi gunungapi, aglomerat, tuf dan aliran lava andesit-basal dan lava andesit. Breksi gunungapi dan aglomerat yang mendominasi formasi ini umumnya tidak berlapis. Kepingannya terdiri dari andesit dan sedikit basal, berukuran 2 50 cm. Di bagian tengah formasi ini, yaitu pada breksi gunungapi, ditemukan batugamping terumbu yang membentuk lensa atau berupa kepingan. Secara setempat, formasi ini disisipi oleh batupasir gunungapi epiklastika dan tuf yang berlapis baik.

5. Formasi Sambipitu Lokasi tipe formasi ini terletak di Desa Sambipitu pada jalan raya YogyakartaPatuk-Wonosari kilometer 27,8. Secara lateral, penyebaran formasi ini sejajar di sebelah selatan Formasi Nglanggran, di kaki selatan Subzona Baturagung, namun menyempit dan kemudian menghilang di sebelah timur. Ketebalan Formasi Sambipitu ini mencapai 230 meter. Batuan penyusun formasi ini di bagian bawah terdiri dari batupasir kasar, kemudian ke atas berangsur menjadi batupasir halus yang berselang-seling dengan serpih, batulanau dan batulempung. Pada bagian bawah kelompok batuan ini tidak mengandung bahan karbonat. Namun di bagian atasnya, terutama batupasir, mengandung bahan karbonat. Formasi Sambipitu mempunyai kedudukan menjemari dan selaras di atas Formasi Nglanggran.

6. Formasi Oyo Lokasi tipe formasi ini berada di Kali Oyo. Batuan penyusunnya pada bagian bawah terdiri dari tuf dan napal tufan. Sedangkan ke atas secara berangsur dikuasai oleh batugamping berlapis dengan sisipan batulempung karbonatan. Batugamping berlapis tersebut umumnya kalkarenit, namun kadang-kadang dijumpai kalsirudit yang mengandung fragmen andesit membulat. Formasi Oyo tersebar luas di sepanjang Kali Oyo. Ketebalan formasi ini lebih dari 140 meter dan kedudukannya menindih secara tidak selaras di atas Formasi Semilir, Formasi Nglanggran dan Formasi Sambipitu serta menjemari dengan Formasi Oyo. 7. Formasi Wonosari Formasi ini oleh Surono dkk., (1992) dijadikan satu dengan Formasi Punung yang terletak di Pegunungan Selatan bagian timur karena di lapangan keduanya sulit untuk dipisahkan, sehingga namanya Formasi WonosariPunung. Formasi ini tersingkap baik di daerah Wonosari dan sekitarnya, membentuk bentang alam Subzona Wonosari dan topografi karts Subzona Gunung Sewu. Ketebalan formasi ini diduga lebih dari 800 meter. Kedudukan stratigrafinya di bagian bawah menjemari dengan Formasi Oyo, sedangkan di bagian atas menjemari dengan Formasi Kepek. Formasi ini didominasi oleh batuan karbonat yang terdiri dari batugamping berlapis dan batugamping terumbu. Sedangkan sebagai sisipan adalah napal. Sisipan tuf hanya terdapat di bagian timur.

8. Formasi Kepek Lokasi tipe dari formasi ini terletak di Desa Kepek, sekitar 11 kilometer di sebelah barat Wonosari. Formasi Kepek tersebar di hulu Kali Rambatan sebelah barat Wonosari yang membentuk sinklin. Batuan penyusunnya adalah napal dan batugamping berlapis. Tebal satuan ini lebih kurang 200 meter.

9. Endapan Permukaan
9

Endapan permukaan ini sebagai hasil dari rombakan batuan yang lebih tua yang terbentuk pada Kala Plistosen hingga masa kini. Terdiri dari bahan lepas sampai padu lemah, berbutir lempung hingga kerakal. Surono dkk. (1992) membagi endapan ini menjadi Formasi Baturetno (Qb), Aluvium Tua (Qt) dan Aluvium (Qa). Sumber bahan rombakan berasal dari batuan Pra-Tersier Perbukitan Jiwo, batuan Tersier Pegunungan Selatan dan batuan G. Merapi. Endapan aluvium ini membentuk Dataran Yogyakarta-Surakarta dan dataran di sekeliling Bayat. Satuan Lempung Hitam, secara tidak selaras menutupi satuan di bawahnya. Tersusun oleh litologi lempung hitam, konglomerat, dan pasir, dengan ketebalan satuan 10 m. Penyebarannya dari Ngawen, Semin, sampai Selatan Wonogiri. Di Baturetno, satuan ini menunjukan ciri endapan danau, pada Kala Pleistosen. Ciri lain yaitu: terdapat secara setempat laterit (warna merah kecoklatan) merupakan endapan terarosa, yang umumnya menempati uvala pada morfologi karst.

II. 1. 4. Geologi Lokal

10

Gambar 2.4. Peta geologi daerah penelitian..( Wartono Rahardjo, 1995)

Secara umum geologi lokal daerah penlitian didominasi oleh endapan merapi muda dan formasi semlir. Satuan Endapan Gunung Merapi Muda diperkirakan berumur Pleistosen atas, dengan litologi penyusun berupa material hasil aktivitas Gunug Merapi Muda yaitu tuff, aliran lava andesit, breksi serta endapan lahar. Batuan ini tersebar merata secara radial disekitar puncak Gunung Merapi yang umumnya masih berkonsolidasi lemah. Formasi semilir memiliki Litologi penyusun yang terdiri dari tuf, tuf lapili, lapili batuapung, breksi batuapung dan serpih. Komposisi tuf dan batuapung tersebut bervariasi dari andesit hingga dasit. Di bagian bawah satuan batuan ini, yaitu di Kali Opak, Dusun Watuadeg, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, terdapat andesit basal sebagai aliran lava bantal (Bronto dan Hartono, 2001). Penyebaran lateral Formasi Semilir ini memanjang dari ujung barat Pegunungan Selatan, yaitu di daerah Pleret-Imogiri, di sebelah barat Gunung Sudimoro, PiyunganPrambanan, di bagian tengah pada G. Baturagung dan sekitarnya, hingga ujung timur pada tinggian Gunung Gajahmungkur, Wonogiri. Ketebalan formasi ini diperkirakan lebih dari 460 meter.

II.2.

Tinjauan Geofisika

II.2.1. Site Effect Focus dari site effect adalah pengaruh dari permukaan lokal terhadap pergerakan tanah akibat gempa bumi. Pada beberapa kasus mikrozonasi, geologi permukaan dapat menghasilkan modifikasi yang signifikan secara drastis pada surface ground motion. Gambar 2.5 adalah salah satu contoh rekaman akselerasi getaran 2 lokasi berbeda kedalaman dimana sumbernya adalah getaran kecil.

11

Gambar 2.5. Rekaman akselogram permukaan dan bawah permukaan didaerah Urayasu, Jepang, 1973 (Lomaith, 1976)

Hasil dari gambar 2.5 menunjukkan bahwa terdapat suatu modifikasi yang dihasilkan oleh subsoil lokal pada gelombang seismik yang mengenainya, termasuk adanya peningkatan pada puncak amplitudo pada lapisan tertentu serta bertambah lamanya getaran berlangsung. Fenomena ini disebut site effect dimana geologi permukaan berpengaruh pada modifikasi getaran. Site effect memiliki peran penting dalam mengkarakterisasi getaran seismik karena dapat mengamplifikasi atau juga deamplifikasi gerakan seismik sesaat sebelum mencapai permukaan tanah atau struktur dasar buatan manusia. Akibat tingginya pengaruh amplifikasi site effect, maka kita tidak dapat mengabaikannya dalam praktek teknis terkait dengan konstruksi bangunan serta penggunaan area untuk bangunan yang kritis dalam rangka mereduksi kerusakan akibat gempa bumi. Salah satu contoh nyata yakni kasus Meksiko tahun 1995 selama gempa lepas pantai melalui rekaman akselerogram ( gambar 2.6)

Gambar 2.6. Rekaman akselogram komponen U-S selama gempa bumi dilembah Meksiko 1995 (Singh,2003).

Gempa Copolla Meksiko pada gambar 2.6 Secara litologi daerah tersebut terpisah menjadi 3 jenis litologi yang berbeda dengan respon akselogram yang berbeda beda. Pada daerah berwarna putih yang merupakan endapan danau, tampak
12

bahwa penguatan jauh lebih besar dibandingkan area yang di arsir terang yang merupakan daerah transisi dan area yang di arsir gelap yang merupakan daerah perbukitan dengan litologi yang lebih kompak seperti lava dan tuff vulkanik. Rekaman akselogram area endapan danau memiliki rentang waktu yang lebih panjang dibandingkan 2 daerah lainnya. Efek geologi permukaan (site effect) ini yang sangat mempengaruhi perbedaan amplifikasi area satu dengan yang lainnya.

II.2.2. Mikrotremor Untuk memperoleh data site effect dapat dilakukan dengan melakukan pengukuran mikrotremor. Menurut Lang (2004) mikrotemor merupakan noise periode pendek yang berasal dari sumber artifisial. Gelombang ini bersumber dari getaran dari segala arah yang saling beresonansi. Penggunaan mikrotremor untuk studi site effect dapat terbagi menjadi beberapa macam cara. Menurut Bard (1998), salah satu cara yang dapat digunakan untuk mendapatkan frekuensi dominan yang nantinya dapat digunakan dalam studi site effect adalah dengan membandingkan spektrum komponen horisontal dan komponen vertikal rekaman seismogram 3 komponen (Horisontal to Vertikal Spectral Rasio-HVSR). Metode ini pertama kali di populerkan oleh Nakamura melalui papernya pada tahun 1989 yang berjudul A Method for Dynamic Characteristics Estimation of Subsurface using Microtremor on the Ground Surface. Nakamura menjelaskan adanya metode yang dapat menjelaskan fenomena frekuensi resonansi lapisan permukaan tanpa harus menggunakan referensi dari batuan bedrock. Teknik ini mengukur di satu tempat dengan hasil 3 komponen yaitu vertikal, Hy (utaraselatan), Hx (timur-barat). Menurut Nakamura fenomena HVSR secara tidak langsung berhubungan dengan eliptisitas gelombang Rayleigh. Metode ini berguna untuk mengidentifikasi respon resonansi pada lembah sedimen atau cekungan, berdasar pengukuran noise satu stasiun tunggal. Metode ini menunjukkan adanya korelasi yang
13

bagus dengan frekuensi resonansi dasar medium yang lapuk. Kelebihan dari metode ini yaitu biayanya yang relatif murah dalam hal operasional dan tidak perlu banyak melakukan pemboran dengan syarat pengukuran dilakukan dengan rapat (Nakamura, 1989). Sedangkan kelemahan dari metode ini yaitu frekuensi resonan yang didapatkan memiliki keakuratan yang tidak terlalu baik pada daerah penelitian dengan kontras impendansi yang rendah (F.luzon, etc, 2001). Kekurangan lainnya yaitu metode ini tidak memperhitungkan keberadaan sistem multilayer pada sedimen permukaan dan keadaan geologi yang kompleks (Konno Ohmachi, 1998)

II.2.3. Percepatan Getaran Tanah Secara umum percepatan getaran tanah dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik site effect (respon permukaan lokal) terhadap getaran gempa bumi dalam kaitannya dengan mitigasi bencana gempa bumi. Pada beberapa contoh rekaman akselogram, kondisi geologi permukaan akan memberikan respon yang berbeda dalam memodifikasi getaran lain menggunakan pengukuran langsung melalui akselogram, percepatan getaran tanah dapat diturunkan dengan berbagai macam metode empiris. Hal ini dikarenakan dibeberapa Negara banyak yang tidak menggunakan akselogram tetapi hanya menggunakan seismometer biasa. Menurut Douglas (2004), Perhitungan percepatan getaran tanah maksimum dapat menggunakan berbagai macam formula yang berbeda yang dapat diturunkan dari data kegempaan. Sebagian besar metodemetode perhitungan yang digunakan hanya memasukan data magnitude gempa dan jarak hiposenter gempa bumi tanpa mempertimbangkan kondisi geologi daerah penelitian. Daerah dengan kondisi geologi yang berbeda akan memberikan nilai percepatan getaran tanah maksimum yang berbeda pula sehingga perlu memperhitungkan kondisi geologi daerah tersebut atau menggunakan studi site effect di daerah tersebut (Trifunac dan Brady, 1975). Kirbani et all (2006), melakukan penyelidikan percepatan getaran tanah maksimum didaerah propinsi Dearah Istimewa Yogyakarta menggunakan data gempa bumi besar dari tahun 1943 2006. Untuk mendapatkan percepatan getaran tanah tersebut, Kirbani et all (2006) menggunakan pengukuran mikrotremor secara regional
14

di beberapa titik yang dianggap mewakili daerah telitian. Adapum metode yang digunakan yaitu metode HVSR untuk mendapatkan periode dominan yang kemudian bersama dengan data gempa digunakan untuk menghitung percepatan getaran tanah maksimum. Berdasarkan hasil pengolahan data, didapatkan bahwa percepatan getaran tanah daerah DIY yang didapatkan memiliki range (38.68 531.619) gal dengan percepatan tanah tertinggi berada didaerah selatan propinsi DIY yaitu daerah kabupaten Bantul. Kirbani et all (2006), juga menyimpulkan bahwa nilai percepatan tanah yang tinggi lebih disebabkan oleh dekatnya sumber gempa dan besarnya gempa dari pada periode dominan tanah khususnya untuk gempa 27 Mei 2006.

Gambar 2.6. Peta percepatan getaran tanah maksimum daerah DIY tahun 1973 - 2005 dan 27 Mei 2006 (Kirbani et all, 2006)

Hubungan antara percepatan getaran tanah dengan Skala Intensitas, secara empiris telah dikembangkan rumus-rumus yang bisa digunakan unutk memprediksi intensitas gempa bumi. Wald (1999) menemukan hubungan regresi antara percepatan getaran tanah maksimum dan intensitas gempa bumi dalam skala MMI (modified Mercalli Intensity) dengan menggunakan data gempa yang terjadi di california tahun 1971 sampai dengan 1994. Trifunac dan Brady (1975) juga melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara percepatan getaran tanah maksimum dengan intensitas gempa bumi dalam skala MMI.
15

II.2.4. Penelitian Terdahulu Penelitian menggunakan metode HSVR dibeberapa Negara telah dilakukan sejak tahun 2989. HSVR merupakan suatu perbandingan antara komponen horizontal terhadap komponen vertikal dari suatu data terukur. Penelitian menggunakan metode ini biasanya untuk meneliti site effect (respon permukaan lokal) dari suatu daerah. Penelitian site effect di Yogyakarta dengan menggunakan metode HSVR telah dilakukan disekitar Candi Sambisari, Sleman, DIY pada tahun 2003 dengan memperoleh hasil bahwa area sambisari memiliki frekuensi resonansi dominan antara 17.5 20 Hz (Kusumaningsih,2004). Widigdo (2006) menggunakan metode ini untuk mencari frekuensi resonansi dominan yang akan digunakan untuk menghitung percepatan getaran tanah maksimum Daerah Istimewa Yogyakarta. Saesarianti (2007) menggunakan metode ini untuk mencari frekuensi resonansi dominan dan ketebalan lapisan lapuk didaerah Lemahabang, Jepara, Jawa Tengah. ( Al safri Feangi, 2010) menggunakan metode ini untuk mencari frekuensi resonansi dominan, ketebalan lapisan permukaan, percepatan getran tanah, periode dominan dan nilai intensitas gempa daerah Gondokusuman Umbulharjo, Yogyakarta. (Astuti B.A, 2010) menggunakan metode ini untuk menghitung nilai percepatan getran tanah maksimum dan kaitannya terhadap litologi. Feisal dirgantara (2008), melakukan pemetaan amplifikasi di Kabupaten Sleman untuk mengetahui frekuensi resonansi dominan, ketebalan endapan Kuarter, dan respon amplifikasi. Pengolahan data yang dilakukan menggunakan metode HSVR, penelitian ini dilakukan pada area seluas 572,84 km2 dengan spasi titik pengukuran berjarak 500m. berdasarkan hasil pengolahan didapatkan hasil frekuensi dominan berkisar antara 1,25 Hz 5 Hz, ketebalan endapan kuarter berkisar antara 25m hingga lebih dari 100m, dan tingkat amplifikasi berkisar antara 3 9 pada skala amplifikasi.

16

Gambar 2.7. Peta Amplifikasi Kabupaten Sleman tahun 2008.( Feisal Dirgantara)

Daryono et all (2009), melakukan penyeledikan efek tapak lokal (site efek) di graben Bantul berdasarkan pengukuran mikrotremor. Pengolahan data yang dilakukan menggunakan metode HVSR untuk mendapatkan frekuensi resonan. Berdasarkan hasil pengolahan data didapatkan adanya frekuensi resonansi yang sangat bervariasi didaerah graben Bantul (0 14) Hz. Berdasarkan hasil tersebut, frekuensi tinggi (8 14) Hz tersebar di bagian timur dan barat dari graben Bantul. Daerah tersebut didominasi oleh perbukitan struktural dengan material batuan yang masif. Sedangkan didaerah graben Bantul, frekuensi rendah mendominasi (0 7) Hz. Dari frekuensi resonansi yang beragam ini dapat disimpulkan bahwa didaerah graben bantul memiliki keragaman kedalaman batuan dasar. Sedangkan dari analisa kerentanan seismik didapatkan adanya nilai yang tinggi (6 28) didaerah barat sesar opak.

Gambar 2.8. Peta frekuensi reonansi daerah Graben Bantul dan sekitarnya ( Daryono et all, 2009)

17