Anda di halaman 1dari 17

TUGAS KEPANITERAAN BAGIAN RADIOLOGI KLINIK LAPORAN ANALISIS BITE MARK

Oleh: Tiar Rennyka Iffah Mardhiyah Adisty Restu Poetri (06/8037) (06/8041) (06/8043)

Desi Widyaningrum (06/8039)

Dosen Pembimbing: drg. Rurie Ratna S., MDSc BAGIAN RADIOLOGI KLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2011

I. PENDAHULUAN
A. Definisi

Bite mark merupakan pola dalam suatu objek atau jaringan dengan struktur gigi hewan atau manusia. Menggigit tanda lebih lanjut digambarkan sebagai cedera melingkar atau oval bermotif terdiri dua menentang Uberbentuk lengkungan di pangkalan mereka dipisahkan oleh ruang terbuka bahwa, dalam kehidupan, mewakili tenggorokan atau bagian posterior mulut. Bersama tepi luar atau pinggiran tayangan dari lengkungan biasanya ada serangkaian lecet, atau memar, dengan atau tanpa laserasi, yang mencerminkan ukuran, bentuk dan susunan karakteristik kelas insisal atau oklusal permukaan gigi yang membuat menandai. Variasi akan ditemukan dalam banyak bekas gigitan. Pusat ecchymosis (atau kontusio), ketika ditemukan, dapat disebabkan oleh tekanan pada gigi, dengan distorsi, kebocoran, atau pecahnya kecil pembuluh kapiler dan sekarang. Hal ini juga dapat disebabkan oleh aplikasi tekanan negatif yang disebabkan oleh menghisap atau tekanan negatif yang dihasilkan oleh penggigit pada saat menggigit. Linear lecet, striations, dan kontusio dapat disebabkan oleh pergerakan gigi atas kulit, atau dengan pencetakan bagian dalam permukaan gigi terhadap kulit (tanda bahasa).ini telah juga disebut tarik tanda. Kadang-kadang pola gigitan ganda terlihat, di mana dua gigitan dilakukan dengan cepat di lokasi yang sama atau slip kulit dan gigi cepat kontak kedua kalinya. Pola gigitan yang paling sering terdapat pada buah buahan yaitu buah apel,pear,dan bengkuang yang sangat terkenal dengan istilah Apple Bite mark. Pola gigitan yang ditimbulkan oleh hewan berbeda dengan manusia oleh karena perbedaan morfologi dan anatomi, gigi geligi, serta bentuk rahangnya.
B. Kegunaan Analisis Bite mark

Dalam kasus sehari-hari penggunaan analisis bite mark kerapkali digunakan untuk mengidentifikasi pelaku khususnya dalam tindakan kriminal.

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Bite mark Pola gigitan ialah bekas gigitan dari pelaku yang tertera pada kulit korban dalam bentuk luka, jaringan kulit maupun jaringan ikat di bawah kulit sebagai akibat dari pola permukaan gigitan dari gigi-gigi pelaku dengan perkataan lain pola gigitan merupakan suatu produksi dari gigi-gigi pelaku melalui kulit korban (Eckert, 2008). Menurut Levine (1977), pola gigitan baik pola permukaan kunyah maupun permukaan hasil gigitan yang mengakibatkan putusnya jaringan kulit dan dibawahnya baik pada jaringan tubuh manusia maupun pada buah-buahan tertentu misalnya buah apel dapat ditemukan baik korban hidup maupun yang sudah meninggal. Analisis pola gigitan pada buah hanyalah buah tertentu saja misalnya pada apel yang dikenal dengan Apple Bite mark, dapat pula dengan buah pear dan bengkuang. Pola gigitan ini adalah penapakan dari hasil gigtan yang putus akibat gigi atas yang beradu dengan gigi bawah, sehingga terlihat hasil dari gigitan permukaan bukalis dari gigi atas dengan gigi bawah (Lukman, 2006). Menurut Bowers (2004), analisis pola gigitan berdasarkan pada dua konsep, yakni: 1. Karakteristik gigi anterior pada gigitan setiap individu unik atau khas. 2. Keunikan tersebut dapat tercatat pada luka yang ditinggalkan. Gigi-geligi setiap manusia berbeda antara satu dengan yang lain karena masing-masing memiliki ciri khas. Ciri khas ini dapat berupa ada tidaknya malposisi, bentuk lengkung gigi, lebar/besar gigi, jumlah gigi, dan lain sebagainya Pola gigitan yang terbentuk pada objek dibandingkan dengan kontur, bentuk, ukuran, dan susunan gigi yang ada pada model gigi.. Pemeriksaan pola gigitan juga dapat dilakukan analisis terhadap: gigi yang 3

hilang, ruang antar gigi, rotasi gigi, adanya kondisi spesifik seperti gigi supernumerari, fraktur. Teknik analisis ini dapat dimanfaatkan dalam bidang kedokteran gigi forensik. Analisis dan perbandingan bitemark merupakan hal yang rumit. (Stimson, 1997; Van der Velden et al, 2006). Untuk membedakan gigitan dewasa dengan anak di bawah 8 tahun harus diingat bahwa jarak intercaninus (jarak antara kedua gigi taring kiri dan kanan) lebih besar dari 3 cm pada dewasa atau anak yang sudah dewasa dan kurang dari 3 cm pada anak dengan gigi susu. Perbedaan jarak intercaninus di rahang atas baik pada orang dewasa dan anak-anak adalah 4.4 mm. Sedangkan perbedaan jarak tersebut pada rahang bawah pada keduanya adalah 2.5 mm (Brogon, 1998). B. Keuntungan Gigi Sebagai Objek Pemeriksaan Keuntungan gigi sebagai objek pemeriksaan antara lain: a. Gigi-geligi merupakan rangkaian lengkungan secara anatomis, antropologis dan morfologis mempunyai letak yang terlindung dari otot-otot bibir dan pipi. b. Gigi-geligi sukar untuk membusuk kecuali gigi tersebut sudah mengalami c. nekrotik atau ganggren, meskipun dikubur, umumnya organ-organ tubuh lain bahkan tulang telah hancur tetapi gigi tidak (masih utuh). d. Gigi-geligi di dunia ini tidak ada yang sama karena menurut SIMS dan Furnes bahwa gigi manusia kemungkinan sama ada alh satu dibanding dua milyar. e. Gigi-geligi mempunyai ciri-ciri khusus apabila ciri-ciri gigi tersebut rusak atau berubah maka sesuai dengan pekerjaan dan kebiasaan menggunakan gigi bahkan setiap ras mempunyai ciri yang berbeda. f. Gigi-geligi tahan asam keras. g. Gigi-geligi tahan panas, apabila terbakar sampai dengan suhu 400oC gigi tidak akan hancur. Gigi menjadi abu sekitar suhu lebih dari 649oC. Apabila gigi tersebut ditambal menggunakan amalgam maka bila terbakar akan menjadi abu sekitar di atas 871oC, sedangkan bila gigi tersebut memakai mahkota logam atau inlay alloy emas maka bila terbakar akan menjadi abu 4

sekitar suhu yang sangat tinggi. h. Gigi-geligi dan tulang rahang pada rontgenogramnya dapat dilihat kadangkadang terdapat anomali dari gigi dan komposisi tulang rahang yang khas. 8. Apabila korban telah dilakukan pencabutan gigi umumnya ia memakia gigi palsu dengan brbagai macam model gigi palsu dan gigi palsu tersebut dapat ditelusuri atau diidentifikasi. i. Gigi-geligi merupakan sarana terakhir di dalam identifikasi apabila sarana lain atau organ tubuh lain tidak ditemukan. C. Karakteristik dan Klasifikasi Bite mark Menurut Bowers (2004), karakteristik fisik pola catatan gigitan adalah: 1. Lebar gigi Merupakan jarak mesial-distal terlebar dari suatu gigi. 2. Tebal gigi Adalah jarak dari labial ke lingual suatu gigi. 3. Lebar rahang Ialah jarak pada rahang yang sama dari satu sisi ke sisi lainnya (antartonjol). Karakteristik gigi pada catatan gigitan: 1. Gigi anterior adalah gigi yang umumnya tercatat pada pola catatan gigitan. Gigi anterior rahang: Incisivus sentral lebar, incisivus lateral lebih sempit, kaninus berbentuk konus. Gigi anterior rahang bawah: Lebar incisivus sentral dan incisivus lateral hampir sama, kaninus berbentuk konus. 2. 3. Rahang atas lebih lebar dibandingkan rahang bawah. Jumlah gigi pada bekas gigitan biasanya berjumlah 12 sebanyak

jumlah gigi anterior kedua rahang (6 anterior rahang atas dan 6 anterior rahang bawah).

Lukman (2006) mengatakan bahwa karakteristik catatan gigitan meliputi: 1. Bentuk empat gigi anterior rahang atas adalah segi empat dengan gigi sentral memiliki bentuk yang lebih lebar. 2. Bentuk kaninus atas adalah bulat atau oval. 3. Bentuk gigi anterior rahang bawah adalah segi empat dengan lebar gigi yang hampir sama. 4. Bentuk kaninus bawah adalah bulat atau oval. 5. Adanya jarak kemungkinan disebabkan oleh: Pelaku tidak memiliki gigi. Gigi lebih pendek dari ukuran normal. Terdapat benda yang menghalangi gigitan. Obyek yang digigit bergerak.

Karakteristik pola gigitan dibagi menjadi dua kelompok besar yakni: a. Karakteristik kelompok Karakteristik kelompok adalah fitur, pola, atau sifat yang biasanya terlihat, atau mencerminkan diberikan kelompok. Temuan biasa kotak persegi panjang atau kecil seperti bentuk atau linier memar di bagian tengah bekas gigitan merupakan karakteristik kelompok manusia Gigi atas akan menciptakan pola-pola yang lebih besar, karena ukuran mereka. Nilai ini adalah bahwa ketika terlihat di foto, tayangan atau pada kulit individu yang hidup atau meninggal mereka memungkinkan kita untuk mengidentifikasi kelompok (gigi sini atas atau bawah) dari mana mereka berasal. b. Karakteristik individu Karakteristik individu adalah fitur, pola, atau sifat yang merupakan variasi dari diharapkan menemukan dalam sebuah kelompok tertentu. Contoh ini akan menjadi diputar gigi, atau mungkin gigi cacat, rusak, atau pecah yang akan membantu untuk membedakan antara dua dentitions berbeda untuk membantu dalam menentukan gigi yang menyebabkan cedera atau tanda gigitan. Ini adalah penjumlahan dari individu karakteristik yang menentukan, 6

ketika mereka hadir dalam bekas gigitan, gigi yang paling cocok ini tanda yang unik atau berbeda ketika hadir di gigi seorang tersangka, jika dibandingkan dengan tersangka lain dalam kasus ini. D. Klasifikasi Pola Gigitan Pola gigitan mempunyai derajat perlakuan permukaan sesuai dengan kerasnya gigitan, pada pola gigitan manusia terdapat 6 kelas (Lukman, 2006), yaitu: a. Kelas I : pola gigitan terdapat jarak dari gigi incisivus dan kaninus.

b. Kelas II : menyerupai pola gigitan kelas I tetapi terlihat pola gigitan cusp bukal dan palatal maupun cusp bukal dan cusp lingual gigi P1, tetapi derajat pola gigitannya masih sedikit.

c. Kelas III : derajat luka lebih parah dari kelas II, yaitu permukaan gigit incisivus telah menyatu akan tetapi dalamnya luka gigitan mempunyai derajat lebih parah dari pola gigitan kelas II.

d. Kelas IV : terdapat luka pada kulit dan otot di bawah kulit yang sedikit terlepas atau rupture sehingga terlihat pola gigitannya irreguler.

e. Kelas V : terlihat luka yang menyatu pola gigitan incisivus, kaninus, dan premolar baik pada rahang atas maupun rahang bawah.

f. Kelas VI : memperlihatkan luka dari seluruh gigitan dari gigi rahang atas dan bawah, serta jaringan kulit dan otot terlepas sesuai dengan kekerasan oklusi dan pembukaan mulut

III. CARA KERJA ANALISA BITE MARK Cara Kerja Studi analisis bite mark ini dilakukan oleh subkelompok yang terdiri dari empat orang anggota, dengan tahap-tahap kerja sebagai berikut : a. Model gigi rahang atas (RA) dan rahang bawah (RB) masing-masing anggota dikumpulkan terkebih dahulu pada pembimbing. b. Salah satu anggota kelompok melakukan gigitan (gigitan dangkal dan gigitan dalam) pada apel hijau yang telah disediakan. c. Hasil gigitan dicetak dengan alginate dengan perluasan tepi area gigitan 1 cm. cetakan kemudian diisi gips stone.
d.

A.

Identifikasi pola gigitan dan cirri spesifik gigi-gigi yang terlihat pada cetakan bite mark. Dilakukan penapakan (tracing) pada cetakan bite mark menggunakan plastic transparan dan kemudian dihitung lebar mesiodistal gigi yang teridentifikasi pada bite mark. Membandingkan ciri spesifik yang telah diidentifikasi pada cetakan bite mark dengan model gigi RA dan RB milik masing-masing anggota kelompok.

e.

f.

g. Menentukan satu anggota kelompok sebagai pelaku gigitan sesuai dengan hasil perbandingan yang telah dilakukan. h. Dilakukan hasil perhitungan lebar mesiodistal dari model gigi orang yang dianggap sebagai pelaku gigitan.
i.

Membandingkan hasil pengukuran lebar mesiodistal gigi dari hasil penapakan bite mark dan dari model gigi, kemudian distorsi yang diperoleh dicatat dalam tabel.

10

B.

Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan yaitu : a. Dua buah apel hijau untuk satu kelompok b. Model gigi RA dan RB milik masing masing anggota kelompok c. Spatula, rubber bowl, alginate, dan gips stone d. Wadah untuk mencetak apel e. Plastic transparan dan spidol marker f. Plat kaca g. Sliding caliper

11

IV PEMBAHASAN
A. Analisis Bite mark

Pada bite mark gigitan dangkal RA terdapat 4 catatan gigitan sedangkan pada gigitan dalam RA

sempurna, yaitu gigi 2 1 1 2 gigitan tidak sempurna, yaitu gigi 3.

terdapat 5 catatan gigitan sempurna, yaitu gigi 3 2 1 1 2 dan 1 catatan Pada bite mark gigitan dangkal RB terdapat 6 catatan gigitan

sempurna, yaitu gigi 3 2 1 1 2 3 sedangkan pada gigitan dalam RB terdapat 6 catatan gigitan sempurna, yaitu gigi 3 2 1 1 2 3.

Pada gigitan dalam cukup sulit membedakan antara gigi yang satu

dengan yang lainnya karena bite mark yang terbentuk kurang terlihat dengan jelas. Gigitan dangkal lebih mudah diidentifikasi karena batasnya masih cukup terlihat, hal ini mungkin disebabkan oleh kulit apel yang belum terlalu rusak.

Cetakan gigitan RA pada gigitan dalam terlihat sama kurang

jelasnya dengan RB. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh tekanan gigitan yang kurang seimbang antara gigi-gigi RA dengan gigi-gigi RB. Batas incisal gigi RA dan RB tampak sedikit kurang jelas.

Pada bite mark RA, pada gigitan dalam, tampak adanya daerah

gigitan yang lebih dalam pada sisi distal gigi 1 . Gigi-gigi RA tidak tampak berjejal, disertai 1 gigi yang malposisi.

Pada bite mark RA, pada gigitan dangkal, tampak adanya

malposisi pada gigi 1, di mana gigi tersebut tampak tidak berada di luar lengkung gigi RA. Gigi 1 tampak distolabiotorsiversi.

Pada bite mark RB, pada gigitan dalam, tampak daerah gigitan Pada bite mark RB, pada gigitan dangkal, tampak daerah gigitan

yang sama dalamnya pada gigi 2112.

yang sama jelas.

12

B. Perbandingan Bite mark dengan Beberapa Model Gigi 1.

Cetakan model gigi Rusiana Rahayu Berdasarkan perbandingan antara bite mark dengan cetakan model gigi

RA, terlihat perbedaan jenis malposisi gigi pada bite mark, yaitu pada bite mark gigi 1 dalam kondisi distolabiotersiversi, sedangkan pada model gigi dalam kondisi normal. Selain itu pada model gigi, kondisi gigi 1 mengalami labioversi dan gigi 2 distolabiotorsiversi. Pada model gigi RB dan bite mark, terlihat adanya perbedaan jenis malposisi gigi pada bite mark, yaitu pada bite mark tampak gigi 1 mengalami mesiolinguotorsiversi sedangkan pada model gigi tersebut mengalami ditolabiotorsiversi. Selain itu, pada model gigi 1 mengalami labioversi disertai mesiolabiotorsiversi dan gigi 2 distolinguotorsiversi. Kedua perbedaan pada RA dan RB model gigi dengan bite mark tersebut menyebabkan Rusiana Rahayu dieksklusi dari pelaku penggigitan.
2.

Cetakan model gigi Rahadian Alif Berdasarkan perbandingan antara bite mark dengan cetakan model gigi

RA, terlihat terdapat perbedaan, yaitu pada bite mark tampak gigi 1 mengalami mesiolinguotorsiversi sedangkan pada model dalam kondisi normal. Pada model gigi RB dan bite mark, terlihat adanya perbedaan jenis malposisi gigi pada bite mark, yaitu pada bite mark tampak gigi 1 mengalami mesiolinguotorsiversi sedangkan pada model, gigi yang mengalami malposisi adalah gigi 1 dengan kondisi distolabiotorsiversi Kedua perbedaan pada RA dan RB model gigi dengan bite mark tersebut menyebabkan Rahadian Alif dieksklusi dari pelaku penggigitan.
3.

Cetakan model gigi L Radito.

13

Berdasarkan perbandingan antara bite mark dengan cetakan model gigi RA, terlihat kesamaan, yaitu pada model gigi dan bite mark tampak adanya persamaan malposisi gigi pada RA, yaitu gigi 1 labiotorsivesi. Pada model gigi RB dan bite mark, tampak adanya kesamaan malposisi gigi, yaitu gigi 1 dalam kondisi mesiolinguotorsiversi. Adanya kesamaan antara model RA dan RB dengan bite mark menyebabkan L Radito menjadi tersangka pelaku pengigitan.
C. Hasil Pengukuran Mesiodistal Gigi pada Model Gigi dan Bite mark

(dalam mm) Lebar Elemen Mesiodistal Gigi pada Model 9,02 7,46 9,1 9 7,46 9 5,3 6 7,46 5,3 6,3 7 Rata-rata Gigitan Dangka l 9,12 7,57 9,22 7,56 5,7 6,1 7,7 5,8 6,6 7,14 0,1 0,11 0,22 0,1 0,4 0,1 0,24 0,5 0,3 0,14 0,221 Distorsi Gigitan Dalam 9,6 7,8 9,7 9,26 8,2 9,5 6 6,2 8,1 6,1 6,7 7,28

Distorsi

1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3

0,58 0,34 0,6 0,26 0,74 0,5 0,7 0,2 0,64 0,8 0,4 0,28 0,5

14

D. Determinasi Lengkung Bite mark

Hasil penapakan model rahang pelaku penggigitan

Hasil Penapakan Pencetakan Gigitan Dangkal

Hasil Penapakan Pencetakan Gigitan Dalam

Cetakan Model Gigi Rahang Atas L Radito

Cetakan Model Gigi Rahang Bawah L Radito

Pengukuran dari hasil penapakan bite mark pada gigitan dangkal maupun gigitan dalam menunjukkan adanya distorsi ukuran mesiodistal dibandingkan dengan pengukuran pada cetakan model gigi. Meskipun demikian masih terdapat kemiripan pola lengkung gigi antara model gigi dengan bite mark pada apel. Distorsi lebar mesiodistal tersebut disebabkan oleh beberapa hal seperti yang dikemukakan oleh Van der Velven dkk. (2006), bahwa distorsi pada bite mark antara lain disebabkan karena adanya perbedaan tekanan dengan sudut maksila dan mandibula, serta posisi tubuh saat melakukan bite mark dapat mengubah bentuk bite mark. Faktor lain yang mempengaruhi distorsi tersebut pada kasus ini kemungkinan karena proses pencetakan yang kurang baik, seperti adanya porus dan undercut yang dapat mengurangi akurasi. 15

V KESIMPULAN Berdasarkan analisis bite mark yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
-

Pelaku yang menggigit apel pada kasus bite mark ini adalah Ika Yulia. Terdapat distorsi lebar mesiodistal gigi pada bekas gigitan dengan lebar

mesiodistal gigi pelaku. Distorsi gigi yang terjadi disebabkan oleh adanya perbedaan tekanan dengan sudut rahang, posisi badan saat menggigit, serta faktor lain seperti pencetakan yang kurang baik.

VI Bowers, M., 2004,

DAFTAR PUSTAKA

Forensic Dentistry: A Field Investigators Handbook,

Academic Press (Elsevier Publishing). Lukman J, 2006, Buku Ajar Ilmu Kedokteran Gigi Forensik Jilid 2, CV. Sagung Seto, Jakarta, 115-134. Van der Velden A., Spiessens M., and Willems G., 2006, Bite mark Analysis and Comparison Using Image Perception Technology, The Journal of Forensic Odonto-Stomatology, 24 (1):14-17.

LAMPIRAN

16

Hasil Pencetakan Gigitan Dalam

Hasil Pencetakan Gigitan Dangkal

Model Gigi Rahang Atas Rusiana Rahayu

Model Gigi Rahang Bawah Rusiana Rahayu

Model Gigi Rahang Atas Rahadian Alif

Model Gigi Rahang Bawah Rahadian Alif

17