Anda di halaman 1dari 3

DARI DESA MEMANDANG JAKARTA Sekarang adalah tahun 2011, terhitung sampai sekarang, Jakarta sudah mencapai usia

yang sangat tua, juga semakin rapuh. Pada musim hujan sering kebanjiran, saban hari jalanan dilanda Macet, polusi udara tinggi, dipenuhi kaum miskin kota, dan lain-lain. Namun, Kota Jakarta adalah satu-satunya kota paling maju di Indonesia. Masa Orde Baru, segala hal yang terkait dengan tanah dan air Nusantara berada dalam otoritas Jakarta sebagai pusat kekuasaan. Era Reformasi, seiring dengan kebijakan otonomi daerah, peran Jakarta menjadi tidak terlalu dinomorsatukan.

Jakarta sekarang dipenuhi oleh pendatang dari desa ataupun kota kecil. Mereka berkompetisi mencari uang, namun adapula yang berkutat untuk melanjutkan studi. Sebagian ada yang sukses menjadi kaya, sebagian lagi ialah orang gagal dan menjadi kaum miskin kota sehingga kadang pernah merasakan dikejar-kejar oleh Polisi Pamong Praja, atau menjadi penjahat. Sisanya ada yang rela menyandang status fakir-miskin atau hidup sederhana, tapi menjaga diri dengan perbuatan mulia. Sisa yang lain memaksakan penampilannya dengan berpura-pura kaya, walaupun hidupnya dikejar-kejar utang. Tuhan pasti memberkati mereka yang bermoral, tapi sekaum yang mapan belum tentu mau membagi rezekinya. Prinsip berkompetisi di sini tak mengenal belas kasih, tak menghitung halal-haram. Nostalgia desa Dalam satu musim kehidupan, orang-orang desa yang tinggal di Jakarta, baik miskin maupun kaya, sulit menyembunyikan nostalgianya. Nostalgia ini merupakan luapan keterasingan dari kultur kota. Mereka berbondong-bondong mudik alias pulang kampung ke desanya saat tiba hari libur nasional, seperti Lebaran, Natal, dan tahun baru. Kala itu Kota Jakarta senyap bagai kota mati beberapa hari. Rupa Jakarta kembali asli sebagai "desa" terbesar di Indonesia dengan infrastruktur paling komplet dan termegah. Siapa pun suka tinggal di Jakarta yang menawan itu, meskipun tampilannya ambigu. Tidak seperti di provinsi lain, batasan gaya hidup desa dan kota di Jakarta bertumpang-tindih, campur-aduk, berpuntal-puntal menjadi kesatuan sosial yang tegang, keras, dan rumit. Banyak perkampungan penduduk dengan rumah-rumah berimpit dan sanitasi kumuh dihuni orang-orang dari beragam etnis yang berarti sangat desa (ndeso). Namun, di tengah-tengah atau di samping perkampungan itu berdiri gedung-gedung bertingkat sejenis perkantoran, hotel, restoran mewah, gedung hiburan, apartemen, super atau hipermarket, dan mungkin sekompleks perumahan mewah. Tata ruang Kota Jakarta memang terus berloncatan saling memotong tak beraturan antara kepentingan kapitalisasi (komersial) dan kebutuhan nostalgis terhadap naluri komunal. Tak mengherankan bila orangorang saling asing dan waspada karena kebaikan bisa dijual, keramahan dimanipulasi, dan keakraban dibalut banyak kepentingan mencari untung. Di Jakarta, hal yang aneh, unik, dan mahal ialah perilaku dan gaya hubungan sosial seperti orang di desa-desa: familiar, karib, tulus, gotong-royong, tradisi yang

seragam, dan tentunya memiliki solidaritas komunal yang disebut oleh guru besar ilmu sejarah UGM, Prof. Sartono Kartodirdjo (2005: 219), sebagai "etos paguyuban yang menjamin keamanan sosial (social security)". Siapa pun yang berbeda pandangan dengan uraian di atas pasti telah menemukan mutiara kearifan yang sangat istimewa di Kota Jakarta. Ini poin yang sangat dirindukan setiap penghuni Jakarta, karena tak mudah didapat secara gratis. Begitulah realitas Jakarta yang selalu diyakini sebagai tanah harapan oleh kalangan pencari kerja dari desa ataupun kota kecil. Nasionalisme desa Sampai kini, mobilitas sosial-ekonomi masyarakat masih bergerak dari desa ke kota. Bahkan orang-orang desa berhamburan ke luar negeri menjadi tenaga kerja murah. Tak sedikit dari mereka yang pulang tinggal nama atau cacat badan akibat disiksa majikannya. Sebagian penduduk di perbatasan Malaysia malah bekerja untuk negara tetangga itu dan pindah kewarganegaraan. Nun jauh di desa-desa, segelintir warganya mematut diri meniru-niru gaya "orang Jakarta" lewat pelajaran sinetron picisan televisi berdialek elu-elu, enggak-enggak, gue-gue, emang gue pikirin, dan seterusnya. Pada bagian lain, galau kita mendengar 12 desa di Sidoarjo, Jawa Timur, lenyap ditimbun luapan lumpur Lapindo sejak 2006. Selain itu, muncul desa-desa miskin baru akibat pemekaran kabupaten atau provinsi sebagai buah petualangan politik, di samping kabar tentang desa-desa yang hancur diterjang tanah longsor dan banjir. Konteks inilah yang menarik dihubungkan dengan pemikiran Profesor Sartono tentang nasionalisme dan transformasi struktural atau kultural desa, terutama soal solidaritas komunal menuju solidaritas asosiasional. Prof Sartono menginginkan desa dengan seluruh modal sosialnya dijadikan basis kekuatan nasionalisme kultural Indonesia. Desa dikuak menjadi sentra kekuatan etos kerja, kreativitas, kewiraswastaan, solidaritas, dan produktivitas. Desa bukan lagi semacam teritori taklukan pemerintah pusat dan daerah, melainkan sebagai wilayah konsentrasi keamanan sosial dan akar kesadaran identitas nasional yang tak bisa dijamin di masyarakat kota. jadi, dari desalah kita merevitalisasi nasionalisme yang selama ini sering terselewengkan atau diselewengkan negara. Desa-desa petani, nelayan, atau pedalaman tentulah bisa dimungkinkan menjadi basis kekuatan nasionalisme baru. Apalagi, kebijakan otonomi daerah sudah menyediakan ruang untuk itu.