Anda di halaman 1dari 8

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Gangguan dismorfik tubuh didefinisikan sebagai preokupasi dengan suatu khayalan kecacatan pada penampilan seseorang. Alternatifnya di mana ada sedikit fisik anomali atau kecatatan minimal, namun kekhawatiran pasien ternyata berlebihan.1 Preokupasi dikaitkan dengan memakan banyak waktu seperti menatap cermin secara terus-terusan atau dengan segera melakukan perbandingan.5 Pada pasien dengan gangguan dismorfik tubuh memiliki pencitraan tubuh yang terdistorsi, yang mungkin terkait dengan penderaan sewaktu kanak-kanak atau remaja. Pasien akan memiliki kualitas hidup yang buruk, terisolasi secara sosial, depresi, dan beresiko tinggi membunuh diri. Mereka sering mendapatkan pengobatan dermatologis dan kosmetik bedah yang tidak dibutuhkan. Kondisi ini mudah disepelekan dan stigma. Ada bukti terapi teknik kognitif behavioral, terapi perilaku dan serotonin reuptake inhibitor dalam dosis tinggi untuk setidaknya 12 minggu, seperti dalam pengobatan gangguan obsesif-kompulsif. Tidak ada bukti adanya manfaat dari obat antipsikotik atau obat psikoterapi yang lain.

1.1 Tujuan Mengetahui dasar gangguan dismorfik tubuh. Mengetahui penatalaksanaan gangguan dismorfik tubuh.

1.2 Manfaat Menambah informasi ilmiah mengenai gangguan dismorfik tubuh.

Memahami lebih baik mengenai dasar diagnosis dan penatalaksanaan gangguan dismorfik tubuh.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Gangguan dismorfik tubuh menerangkan adanya preokupasi seseorang memiliki cacat tubuh khayalan atau suatu interpretasi berlebihan dari cacat yang minimal atau kecil. Inti gangguan ini adalah bahwa seseorang yakin atau takut bahwa dirinya tidak menarik atau bahkan menjijikkan.1 Preokupasi tubuh bukan terjadi karena penyakit mental lain, contohnya kurang berpuas dengan bentuk tubuh pada pasien anoreksia nervosa.2 Untuk dapatnya masalah tersebut dianggap sebagai suatu gangguan mental, permasalahan harus menyebabkan penderitaan yang bermakna bagi pasien atau disertai dengan gangguan dalam kehidupan pribadi, sosial, dan pekerjaan pasien. Pada DSM-III di tahun 1980 dikatakan bahwa dismorfofobia adalah suatu contoh dari gangguan somatoform atipikal. Dalam DSM-III-R dan DSM-IV, keadaan ini dikenal sebagai gangguan dismorfik tubuh, karena editor DSM berpendapat bahwa isitilah dismorfofobia secara tidak akurat berarti adanya pola perilaku penghindaraan fobik.1 Pasien sering datang dengan keluhan yang dikhayalan atau karena terdapat kecacatan yang minimal sekali pada muka atau kepala seperti penipisan rambut, jerawat, garis-garis halus akibat penuanan, koloid, disporposi, tidak simetris, terlalu banyak bulu dan sebagainya. Manakala preokupasi lain termasuk ukuran, saiz, atau aspek lain mengenai hidung, mata, alis mata, telinga, mulut, bibir, gigi, dagu, pipi dan sebagainya. Selain itu, bagian tubuh lain juga dapat menjadi keluhan pasien contohnya, alat genitalia, payu dara, bokong, abdomen, tangan, lengan, kaki, paha dan sebagainya.2

2.2. Epidemiologi Ganguan dismorfik tubuh sering tidak terdeteksi dari awal karena pasien sering pergi ke dokter ahli penyakit kulit, ahli penyakit dalam dan ahli bedah plastik.4 Onset usia tersering yaitu antara 15 dan 20 tahun dan wanita lebih sering terkena dibandingkan pria serta pasien yang terkena juga kemungkinan tidak menikah.1,4,5 Namun ada yang mengatakan insidensi terkena pada pria dan wanita sama.5 Gangguan dismorfik tubuh sering kali ditemukan bersama-sama dengan gangguan mental lainnya. Suatu penelitian menyatakan bahwa lebih dari 90% pasien gangguan dismorfik tubuh pernah mengalami episode depresif berat, sekitar 70% pernah mengalami gangguan cemas, dan sekitar 30% pernah menderita gangguan psikotik.1

2.3. Etiologi Penyebab gangguan dismorfik tubuh tidak diketahui. Patofisiologi gangguan mungkin melibatkan serotonin dan dapat berhubungan dengan gangguan mental lain. Mungkin juga terdapat pengaruh kultural atau sosial yang bermakna bagi pasien. Dalam psikodinamika, gangguan dismorfik tubuh mencerminkan pengalihan konflik seksual atau emosional ke dalam bagian tubuh yang tidak berhubungan. Asosiasi timbul melalui mekanisme pertahanan represi, disosiasi, distorsi, simbolisasi, dan proyeksi.1 Selain itu, seseorang itu sering didera atau diganggui sejak kecil lagi oleh orang tua dan teman-teman sekolah sehingga terjadinya gangguan dismorfik tubuh.5

2.4. Diagnosis Kriteria diagnosis berdasarkan DSM-IV-TR:2,3 A. Preokupasi akan defek khayalan pada penampilan. Bila terdapat anomali fisik kecil, maka pasien menanggapinya secara berlebihan. B. Preokupasi mengakibatkan distres klinis atau hendaya berat dalam sosial, pekerjaan, atau bidang lainnya.

C. Preokupasi tidak lebih baik dijelaskan dengan gangguan mental lainnya (contoh : ketidakpuasan dengan bentuk dan ukuran tubuh pada anoreksia nervosa). 2.5. Gambaran Klinis Perhatian paling sering melibatkan cacat wajah, khususnya pada bagian spesifik (contoh: hidung). Terkadang keluhan tidak jelas dan sulit dimengerti. Sebuah penelitian menemukan bahwa, rata-rata, pasien mempermasalahkan empat regio tubuhnya, selain wajah adalah rambut, buah dada, dan genitalia. Variasi pada pria adalah keinginan untuk bulk-up dan membentuk massa otot yang besar. Gejala lain yang umum ditemukan meliputi ide atau waham referensi (biasanya mengenai bagian tubuh yang diperhatikan pasien), seperti terlalu sering bercermin atau menghindari permukaan yang menampilkan bayangan, dan usaha untuk menyembunyikan kecacatannya (dengan kosmetik atau pakaian). Efek pada kehidupan pasien dapat signifikan; sebagian besar pasien menghindari ekspos hubungan sosial atau pekerjaan. Diagnosis komorbid dengan gangguan depresi dan cemas sering ditemukan, dan pasien juga dapat memiliki ciri kepribadian obsesif-kompulsif, skizoid, dan narsistik.1 Antara gejala klinis yang tampak adalah:5,6,7 Sering membandingkan penampilan dari cacat yang dirasakan dengan orang lain. Sering memeriksa penampilan bagian tertentu di cermin dan permukaan reflektif lainnya. Menyamarkan cacat yang dirasakan dengan pakaian, make-up, topi, tangan, atau postur. Mencari operasi, pengobatan dermatologi, atau pengobatan medis yang lain ketika dokter atau orang lain mengatakan bahwa kekurangan yang minimal atau tidak ada atau bahwa pengobatan tersebut tidak diperlukan. Mencari kepastian tentang cacat atau mencoba untuk meyakinkan orang lain dari keburukannya. Berlebihan perawatan (misalnya, menyisir rambut, mencukur, menghapus atau memotong rambut, menerapkan makeup) Menghindari cermin. Sering menyentuh cacat yang dirasakan Memilih kulit seseorang Sering mengukur bagian tubuh yang tidak disukai Berlebihan membaca tentang bagian tubuh yang dirasakan rusak Menghindari situasi sosial di mana cacat yang dirasakan mungkin dilihat ramai orang
4

Merasa cemas dan sadar diri di sekitar orang lain karena cacat yang dirasakan. 2.6. Diagnosis Banding Pada gangguan kepribadian narsistik, perhatian terhadap salah satu bagian tubuh tidaklah menonjol. Pada gangguan depresif, obsesif-kompulsif dan skizofrenia, ditemukan gejala-gejala dengan gangguan terkait, meskipun gejala utamanya adalah perhatian berlebih akan suatu bagian tubuh. Pada sindroma perilaku makan berupa anoreksia nervosa, gangguan identitas terkait gender dan kerusakan otak juga ditemukan distorsi dalam Body Image. Dibandingkan orang normal, seseorang dengan gangguan dismorfik tubuh dapat dibedakan jika perhatian tersebut bersifat berlebihan, sehingga dapat mengganggu emosi dan fungsi hidup orang tersebut.1,2

2.7. Perjalanan Penyakit dan Prognosis Gangguan bersifat gradual, timbulnya perhatian berlebih jika disadari telah terjadi adanya gangguan fungsi dan timbul keinginan untuk mencari pertolongan medis atau tindakan operasi. Tingkat keprihatinan tentang masalah mungkin hilang dan timbul dengan berjalannya waktu, namun gangguan ini biasanya bersifat kronis jika terabaikan dan tidak diobati.1,5

2.8. Penatalaksanaan Pengobatan pasien gangguan dismorfik tubuh dapat dilakukan dengan terapi bedah, pengobatan dermatologis, pengobatan gigi dan mulut dan prosedur medis yang lain namun untuk menyelesaikan defek yang dideritanya hampir selalu tidak berhasil.1,1,6,7 Farmakoterapi seperti, trisiklik, anti-depresan, inhibitor monoamin oksidase dan pimozide (Orap), bermanfaat pada beberapa kasus. Obat-obatan Pro-Serotonin spesifik, seperti clomipramine (Anafranil) dan fluoxetine (Prozac) dapat mengurangi gejala pada sekitar 50% pasien. Jika disertai adanya gangguan mental, maka dilakukan farmakoterapi dan psikoterapi yang sesuai. Lama pengobatan berbeda mengikuti individu, serta pengobatan harus dilanjutkan jika gejala gangguan dismorfik tubuh telah menghilang adalah tidak diketahui.1,7

BAB 3 KESIMPULAN & SARAN 3.1. KESIMPULAN Orang dengan gangguan dismorfik tubuh (body dismorphic disorder/BDD) terpaku pada kerusakan fisik yang dibayangkan atau dibesar-besarkan dalam hal penampilan mereka. Mereka dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk memeriksakan diri didepan cermin dan mengambil tindakan yang ekstrem untuk mencoba memperbaiki kerusakan yang dipersepsikan, bahkan menjalani operasi plastik yang tidak dibutuhkan. Lainnya dapat membuang setiap cermin dari rumah mereka agar tidak diingatkan akan kecacatan yang mencolok dari penampilan mereka. Orang dengan gangguan ini dapat percaya bahwa orang lain memandang diri mereka jelek atau berubah bentuk menjadi rusak dan bahwa penampilan fisik mereka yang tidak menarik mendorong orang lain untuk berpikir negatif tentang karakter atau harga diri mereka sebagai seorang manusia. Angka gangguan ini tidak diketahui secara jelas, karena banyak orang dengan gangguan ini yang gagal mencari bantuan atau mencoba untuk merahasiakan simtom mereka. Orang dengan gangguan dismorfik tubuh sering menunjukkan pola berdandan atau mencuci, menata rambut secara kompulsif, dalam rangka mengoreksi kerusakan yang dipersepsikan. Penanganan gangguan ini dengan teknik kognitif behavioral, paling sering pemaparan terhadap pencegahan respons dan restrukturisasi kognitif, juga mencapai hasil yang memberikan harapan. Pemaparan dapat dilakukan dengan sengaja memunculkan kerusakan yang dipersepsikan didepan umum, dan bukan menutupinya melalui penggunaan rias wajah atau pakaian. Pencegahan respons berfokus pada pemutusan ritual kompulsif, seperti memeriksa didepan cermin (misalnya, dengan menutup semua cermin dirumah) dan berdandan yang berlebihan. Dalam restrukturisasi kognitif, terapis menantang keyakinan klien yang terdistorsi mengenai penampilan fisiknya dengan cara menyemangati mereka untuk mengevaluasi keyakinan mereka dengan bukti yang jelas.

3.2. SARAN
6

Masalah ini sering terjadi kepada individu yang sering didera dan dibuli sejak kecil lagi sehingga setelah dewasa mereka mengalami gangguan dismorfik tubuh serta mungkin saja ganguan-ganguan jiwa yang lain. Pasien-pasien tersebut mempunyai kualitas hidup yang rendah, sering suka menyendiri, depresi dan mempunyai resiko tinggi untuk membunuh diri. Jadi sejak kecil lagi, orang tua memainkan peranan mendidik anak mereka suka menghargai pemberian tuhan, bersyukur dikurniakan anggota tubuh yang lengkap tanpa cacat dan jangan mendera atau memukul anak-anak dengan terlalu agresif walaupun ia dilakukan untuk kebaikan anak-anak tersebut agar tidak melakukan sesuatu yang buruk atau kesalahan yang berulang. Sering pada pasien dewasa dengan gangguan dismorfik tubuh perlu mengikuti teknik kognitif behavioral dan rutin mengambil obat yang diberikan dokter ahli kedokteran jiwa supaya prognosis dan masa depan pasien baik.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan., Synopsis of Psychiatry, Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10thed. Philadelphia; Lippincott Williams and Wilkins, 2007. 1. Kaplan H.I, Sadock B.J, Grebb J.A., Sinopsis Psikiatri, Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis, Jilid 2, Binarupa Aksara, 2010; 97-101 2. American Psychiatric Association: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition, Text Revision. Washington, DC, American Psychiatric Association, 2000; 507510 3. Maslim R, Diagnosis Gangguan Jiwa dari PPDGJ-III, F45 Gangguan Somatoform, Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya, Jakarta, 2001; 71 4. Oyama O, Paltoo C, Greengold J., Somatoform Disorders, American Family Physician, Volume 76, No.9, 1 Nov 2007; 1336-1337 5. Veale D., Body dysmorphic disorder, Postgrad BMJ Med J, 2004; 80:6769 6. Veale D, Kinderman P, Riley S, Lambrou C., Self-discrepancy in body dysmorphic disorder, British Journal of Clinical Psychology (2003), 42, 166-167 7. Castle D.J, Rossell S, Kyriosv M, Body Dysmorphic Disorder, Psychiatr Clin N Am 29, 2006 ;521538