Anda di halaman 1dari 3

Laporan jurnal Reading Pendahuluan

Sebuah penelitian dilakukan di lima peru,dimana penilitian ini dilakukan diantara pasien yang tb disertai dengan hiv.tetapi disini terdapat hambatan dimana ada hambatan berupa individual dan structural. Komunitas ini juga menyediakan konseling dan test rapid hiv Selama November 2009-april 2010 dimana test ini menggunakan oral quick rapid hiv.test ini dilakukan di 22 tempat kesehatan. Target potensial dari penelitian ini adalah populasi yang terontaminasi denganorang hiv positif dan wanita hamil. Tb merupakan penyebab kematian utama pada pasien yang postif hiv diseluruh dunia.diantara individu tb yang terdiagnosis terinfeksi hiv ,terapi akif sangat penting dilakukan atau HAART tetapi juga berfungsi untuk mengarahkan keputusan terhadap pengobatan dari rehimen Tb tersebut serta mencegah terjadi nya penyebaran karena keterlambatan dalam pemberian dam inisiasi HAART dapat menyebabkan pemburukan dan kematian Sebuah studi yang dilakukan berdasarkan wawancara terhadap suatu kelompok pekerja kesehatan masyarakat (CHWs) dan ini dilakukan didaerah Afrika selatan. Tetapi berbagai factor menghambat penilitian ini. Individu faktor termasuk ketakutan HIV/acquired immunodeficiency syndrome (AIDS), TB-HIV co-infection, kematian, stigma dan dirasakan kurangnya kerahasiaan hasil tes HIV menjadi penghambat faktor untuk pengujian.Pengiriman terkait faktor termasuk kekurangan staf dan beban kerja yang tinggi, dan miskin infrastruktur untuk mendorong pengujian dan alamat berriers. Sebuah studi di Uganda juga menggunakan data kualitatif dari penyedia dan pasien dijelaskan bahwa hambatan berikut untuk tes HIV universal untuk pasien tb: Kurang nya perencanaan untuk hiv tb, koordinasi dan kepemimpinan , inade-quated penyedia pengetahun. TB-HIV terbatas klinik arahan, biaya tinggi pelayanan, penyedian layanan yang kurang di tengahtengah banyak nya pasien. keengganan untuk tes HIV disebabkan oleh invasiveness darah, ketakutan akan jarum Hail dari penilitian menghasilkan bahwa Test HIV oleh CHWS pada pasien TB dengan menggunakan test non invasive rapid test disuatu komunitas dapat sangat menguntungkan dan bisa menjadi langkah awal untuk pertahanan hiv Dalam studi lain,sena dan lain-lain menyediakan rumah untuk test rapid HIV dan pre-test untuk konseling yang diadakan bagi 315 penduduk latin dengan memenuhi syarat dimana menggunakan promotor ksehatan yang terlatih. Namun dari 171 orang yang ditest Rapid HIV tidak ditemukan hasil yang postif HIV. Test rapid ini juga dilakukan pada masyrakat miskin dengan sumber daya yang kurang.dalam studi eksplorasi Baiden dan lain-lain. Baiden dan lain-lain memberikan penyuluhan kepada 403 orang di pedesaan Ghana tentang stigma HIV dan pemberian Tes Rapid HIV serta tentang peran kader kesehatan masyarakat sebagai konselor dan pemberi Tes Rapid. Mereka melaporkan bahwa rumah berbasis

konseling yang diadakan pengujian oleh kader kesehatan, 98,7% diantaranya akan menerima dan menunjukan empati yang bisa dijadikan sebagai kekuatan utama dalam menjalankan program pengujian Tes Rapid HIV ini. Studi lain juga dilakukan di malawai dimana menggunakan orang kesehatan non medis untuk test blood based rapid test dimana 10819 orang peserta yang diambil dari rumah kerumah dan dimana ditemukan815 orang positif HIV. Di tahun 2004 juga dilakukan test oral dimana test ini dilakukan di public area dan merekrut peserta nya dimana peserta tersebut disuruh kembali taip minggu nya. Di tahun 2006 juga dilakukan rapid prick test. Studi ketiga juga dilakukan di suatu komunitas di danau Malawi meliputi test rapid blood test based hiv dan melakukan konsultasi pada 1030 orang dewasa.dimana mereka tidak dipungut biaya dan ditest dari rumah kerumah. Setelah sukses test dengan 582 orang partisipan ditemukan korelasi antara antara factor ekonomi dengan infeksi HIv serta juga melakukan control dari penyebaran Virus HIV tersebut Studi pengaturan dan perawatan rutin. di peru, di mana strategi DOTS untuk TB bekerja untuk mengekang kejadian TB pada 1990-an, tes HIV secara universal dari pasien TB yang terinfeksi tetap sulit dipahami. pada tahun 2009, yang bersatu bersama negara program pada HIV / AIDS (UNAIDS) dan organisasi kesehatan dunia diperkirakan sekitar 75.000 kasus HIV di peru, dengan Lima dan callao mengandung 73% dari total kasus. sejak diperkenalkannya ART disponsori pemerintah pada tahun 2004, TB / HIV co-tingkat infeksi telah menurun, dan meskipun tidak ada data terakhir, co-tingkat infeksi diyakini tetap stabil sejak tahun 2006. tes untuk HIV biasanya terjadi di pusat-pusat kesehatan per pelayanan kesehatan standar. Penyedia Tuberkulosis direkomendasikan tes HIV pada semua pasien baru dan menginformasikan peserta kapan dan di mana konseling dan tes sukarela ditawarkan (biasanya di pusat kesehatan yang sama). di pusat, kesehatan profesional terlatih memberikan konseling dan menawarkan tes gratis HIV. untuk screening awal untuk HIV, laboratorium di Departemen pendirian kesehatan melakukan enzim-linked imunosorbent ELISA dalam darah. Jika pengujian terjadi, pasien di beri janji untuk kembali untuk hasil dan konseling pasca test. Untuk hasil yang positif, perawat membantu pasien mengelola tes HIV konfirmasi menggunakan uji imunifluoresensi di klinik terdekat, jika di konfirmasi positif, pasien diberi rujukan pelayanan HIV, dan diperintahkan untuk mengatur janji di situs pengobatan HIV terdekat. Semua pasien di konfirmasi HIV posited yang di tawarkan konseling psikologis dan dukungan sebaya. Screening kontak beresiko HIV juga di anjurkan Hasil yang ditemukan pada penilitian ini akan disampaikan kepada penyedia kesehatan jumlah peserta,sehingga dapat dilakukan pengobatan ) OraQuic 100%. Para kader kesehatan masyarakat juga akan memastikan orang-orang yang memiliki hasil positif akan mendapat kan perawatan yang optimal. 3 dari orang-orang yang menyatakan diberi diagnosis dari sero positif akan diuji Ora Quick. Ketiga peserta ditindak lanjuti melalui inisiasi ART.untuk ketiga pasien, rujukan kelayanan HIV pada 19 hari. Mulai hari ke 7 sampai 35 hari, dan memulai HAART dalam 57 hari, mulai 46 sampai 57 hari. Kami belajar bahwa strategi dimana CHWs mengelolah tindak-invasiftes HIV yang cepat dan di lokasi yang disukai pasien sebagai penanda universal diantara populasi

yang beresiko tinggi terkena HIV.Penyaringan melalui strategi konvensional konseling sukarela dan penguji di perusahan kesehatan. Adapun kesimpulan yang didapat dari jurnal ini adalah Hasil penilitian yang dilakukan oleh CHW dalam penjangkauan hiv untuk pasien TB dengan menggunakan penyaringan test tidak infasiv disuatu komunitas dapat berpengaruh dalam mengatasi masalah hambatan untuk pengujian hiv. Dan model dari penilitian ini diharapkan dimasa depan nya bisa menjadi contoh untuk menangani hambatan untuk pengujian HIV diseluruh dunia. penilitian ini juga dipercaya dapat dilakukan di suatu daerah yang beresiko TB tinggi yang miskin sumber daya.