Anda di halaman 1dari 11

TUGAS MANAJEMEN KEPERAWATAN KOMUNIKASI DALAM MANAJEMEN KEPERAWATAN

Disusun oleh : Kelompok 4 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Margarita Siamsih (1001071) Matilda Dhini Mahanani (1001076) Ni Luh Putu Eka (1001087) Oda Genittya (1001094) Rahel Binbena E.A (1001103) Sabtuti Mrih.D (1001111) Weny Ambar. K (1001131)

PRODI DIII KEPERAWATAN STIKES BETHESDA YAKKUM YOGYAKARTA 2012

A. Pendahuluan Komunikasi merupakan unsur yang penting dalam aktivitas manajer keperawatan dan sebagai bagian yang selalu ada dalam proses manajeman keperawatan. Tergantung dari mana posisi manajer dalam struktur organisasi. Berdasarkan hasil penelitian Swansburg (1990), bahwa lebih dari 80% waktu yang digunakan manajer untuk berkomunikasi, 16% untuk membaca,, (% untuk menulis. Pengembangan ketrampilan dalam komunikasi merupakan diat sukses bagi seoran manajer keperawatan. Karena banyak waktu yang digunakan oleh manajer adalah untuk komunikasi: mendengar dan berbicara, jadi jelas bahwa manajer harus mem[unyai ketrampilan komunikasi interpersonal yang baik. Manajer berkomunikasi dengan staf, pasien, atasan setiap hari. Karena praktik keperawatan berorientasi pada kelompok/hubungan interpersonal dalam mencapai suatu tujuan organisasi, maka untuk menciptakan komitment dan rasa kebersamaan perlu ditunjang ketrampilan manajer dalam berkomunikasi.

Pengertian komunikasi komunikasi menururut Tappen (1995) mendefinisikan komunikasi sebagai suatu

pertukaran pikiran, perasaan, pendapat, dan pemberian nasihat yang terjadi antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama. Komuniksi juga merupakan suatu seni untuk dapat menyusun dan menghantarkan suatu pesan dengan cara yang gampang sehingga orang lain dapat mengerti dan menerima. Proses pertukaran informasi atau proses yang menimbulkan dan meneruskan makna atau arti (Taylor C,Lilis C,LC.Mone,93) Proses penyampaian informasi, makna, arti/pemahaman dari pengirim pesan kpd penerima pesan ( Burgess, 93) Kegiatan mengajukan pengertian yg diinginkan dr pengirim informasi kpd penerima informasi & menimbulkan tingkah laku yg diinginkan, dr penerima pesan (Yuwono, 1985) Proses pengoperan lambang-lambang yg mengandung arti ( Dr.Phil Astrid Susanto) Suatu proses dua arah yang meliputi pengiriman dan penerimaan pesan (Kozier, 2000) Berbagi pengalaman dan berbagi perasaan dan emosi (Sherman, 1994).

Kesimpulan : Dlm komunikasi terjadi penyampaian pengertian dari seseorang ke orang lain Penyampaian arti tsb merupakan suatu proses (urutan) Penyampaian pesan tsb menggunakan lambang-lambang.

Komponen komunikasi Terdapat 6 komponen komunikasi sebagai berikut: 1. Komunikator, yaitu orang yang menyampaikan atu mengirim pesan 2. komunikan , yaitu orang yang menerima pesan 3. pesan, yaitu sesuatu yang disampaikan oleh pengirim kepada seseorang yang dituju (penerima) dengan maksud dan tujuangan tertentu. Pesan yang disampaikan dapat berupa verbal tertulis, ataupun non verbal. 4. lingkungan, yaitu tempat dimana komunikasi dilaksanakan. Lngkungan ini dapat berupa lingkungan internal maupun lingkungan eksternal. Lingkungan internal meliputi nilai-nilai, kepercayaan, temperamen dan tingkat stres pengirim pesan dan penerima pesan. Sedangkan lingkungan eksternal meliputi keadaan cuaca, suhu, faktor kekuasaan, dan waktu. 5. media pesan, yaitu alat atau sarana perantar yang digunakan oleh pengirim pesan dengan tujuan agar pesan bisa sampai kepada penerima.misalnya pendengaran, penlihatan, sentuhan media cetak, ataupun media elektronik. 6. tingkat pesan yaitu tingkat pentinnya pesan yang dapat berbentuk informasi, kata, atau simbol lain.

B. Iklim Komunikasi Iklim komunikasi harus harmonis dengan kultur perusahaan dan harus dimanfaatkan untuk meningkatkan nlai-nilai positif diantara pegawai-pegawai keperawatan, termasuk nilai dari kualitas kemandirian, objektifitas dan pelayanan klien. Komunikasi dimanfaatkan untuk mendukung misi dan pandangan organisasi keperawatan. Komunikasi digunakaan untuk menyampaikan kepada konsumen atau klien bahwa perawatan merupakan kualitas tinggi. Media yang dipakai termasuk penampilan, catatn keperawatan dan pemasaran. Akan menjadi objektif apabila digambarkan secara akurat dengan penjelasan-penjelasan hasil yang faktual, berdasarkan kriteria hasil tujuan Sifat iklim komunikasi Komunikasi yang penting terjadi antara penyedia dan pegawai pada tngkat kerja dimana suasana terbentuk. Iklim yang mendukung akan mendorong pegawai untuk menyakan suatu pertanyaan dan memberikan pemecahan permasalahan.

Iklim pendukung dan penentang Iklim pendukung 1. Setiap individu bebas untuk 1. Setiap Iklim defensif individu berkerja : dalam prinsipgaris

berbicara kepada manager pada tingkat manapun dalam organisasi tanpa perasaan takut balas jasa apapun. Kesempatan untuk ini telah direncanakan dan harus

managemen prinsip

tradisional

ranntai

komando,

kewenangan, dan rentang kendali.

diketahui oleh seluruh staf. 2. Persamaan melalui hak : manajemen (MBO) 2. keunggulan jabatan (superioritas) : piramid, herarki dan rantai komando mendukung superioritas.

objektis

mendukung persamaan hak dengan meganjurkan komunikasi dua arah dimana penyedia dan pegawai, keduanya mengadakan evaluasi

kemajuan-kemajuan dan membuat rencana masa depan

3. evaluasi deskriptif dengan analisa manjemen dan masukan dari

3.Evaluasi tradisional dengan komunikasi satu arah dilakukan berdasarkan jadwal tahunan.

pegawai. Para pegawai mendapat informasi pada interval tertentu dan apabila ada alasan untuk

menyampaikannya. 4.Spontanitas 4.strategi disimpan pada tingkat manajer perencanaan. 5.orientasi masalah dititiberatkan pada pandangan bersama dengan 5.pengawasan dititikberatkan pada

pandangan dari penyedia.

membawa pegawai pada proses. 6.provisionalisme (hal yang bersifat sementara) mendorong adaptasi 6.kepastian merupakan dogma (ajaran); ini sangat menindas

dan mengadakan eksperimen. 7.empati menunjukan perhatian dan 7.kenetralan penghargaan. Gunakan untuk perhatian. menunjukan Hal itu tidak ada

dibantu

dengan

menghilangkan kenetralan dengan memakai teknik-teknik manajemen non tradisional.

orientasi pada angka seperti : hasil, keuntungan, juga standarisasi dari

prosedur orientasi

Bagan tersebut menerangakan karakteristik iklim komunikasi yang mendukung dan menentang. Manajer perawat akan berusaha untuk suasana yanng mendukung. Ada hbungan yang kuat antara ketrampilan komunikasi yang baik dan kepemimpinan yang baik.

C.

Pendengar yang baik Sifat pendengar : 1. MARGINAL Proses memberikan sedikit perhatian pada pembicara. Kelemahan mudah terjadi salah paham. 2. EVALUATIF Penuh perhatian 3. PROJEKTIF Mendengarkan, memberi kritik, menyetujui atau tidak menyetujui.

Dalam setiap aktivitas orang tidak lepas dari mendengarkan. Paul Tory, dalam komunikasi: 42% waktu untuk mendengarkan 32% untuk berbicara 15% untuk membaca 11% untuk menulis

Tipe mendengarkan: 1. Mendengarkan Isi Pesan. Bertujuan untuk memahami isi pesan & mengidentifikasi pokok pembicaraan. Tidak menilai atau mengevaluasi baik pembicara maupun pokok pembicaraan. 2. Mendengarkan Untuk Penilaian. Bertujuan untuk memahami dan mengevaluasi pesan informasi yang disampaikan oleh pembicara. 3. Mendengarkan aktif atau empatik. Bertujuan untuk memahami perasaan, kebutuhan dan keinginan pembicara dan menghargai pandangan tentang sesuatu pokok pembicaraanya tanpa memberikan penilaian atau saran karena pembicara ingin melampiaskan emosi.

Aktivitas dalam proses mendengarkan 1. Memperhatikan. Mendengarkan dan mencatat pesan 2. Menafsirkan. Memahami pesan sesuai dengan penilaian, ide, harapan & pengalaman pribadi. 3. Mengingat. Menyimpan pesan dlm memori untuk referensi pada waktu yang akan datang. Audience membuat catatan di dalam ingatan tentang pokok informasi yang disampaikan pembicara. 4. Mengevaluasi. Menilai pernyataan yg diungkapkan pembicara, membedakan antara fakta dan opini. 5. Memberi respon.

Pedoman untuk mendengar dengan baik: Berhenti berbicara a. Anda tidak bisa mendengar jika anda berbicara. b. Berikan setiap orang telinga tetapi sedikit suara (POLONIUS) Berikan kenyamanan pada orang yang bicara. Berikan kesempatan seseorang agar bebas bicara Tunjukkan bahwa anda ingin mendengar. Diperlihatkan bahwa anda memperhatikan Jangan mengalihkan perhatian. Jangan membuat suara, coret-coret kertas Bersikap empati kpd komunikator Bersabar :jangan mendengar sambil berjalan/ menjauh Kendalikan emosi : orang nyg marah dapat menyalah artikan kata-kata yang ia dengar Tenang dalam memberikan argumen/ kritik Ajukan pertanyaan. Akan menambah semangat komunikator dan perhatian memperlihatkan

Strategi Untuk Mendengarkan dengang Efektif, Mahmud Machfoedz,2009. 1. Mengetahui kelebihan pembicara dalam subyek yang merupakan sesuatu yang blm diketahui audience. 2. Bersikap netral agar dapat mengurangi dampak emosional terhadap sesuatu yang dikatakan pembicara dan menahan sikap menolak sampai seluruh pesan yg disampaikan didengar. 3. Mengatasi gangguan dengan menutup pintu atau jendela dan lebih mendekati pembicara. 4. Mendengarkan konsep dan pokok pikiran. 5. Meninjau ulang pokok pembicaraan 6. Tetap berpikiran terbuka dengan mengajukan pertanyaan untuk mengklarifikasi pemahaman. 7. Tidak menyela pembicaraan 8. Mengevaluasi dan mengkritik isi pembicaraan, bukan pembicaranya. 9. Memberikan umpan balik 10. Membuat catatan tentang pokok pembicaraan.

D. Model Komunikasi Terdapat beberapa model yang dapat digunakan untuk menjelaskan bagaimana organisasi dan orang berkomunikasi. Komunikasi dalam hal ini adalah sesuatu yang komplek. Model-model komuniksi diantaranya adalah sebagai berikut. 1. Komunikasi tertulis Komunikasi tertulis adalah bagian yang terpenting dalam organisasi. Dalam mencapai kebutuhan individu atau staf, setiap organisasi telah mengembangkan metode penuluasan dalam mengkomunikasikan pelaksanaan dan pengelolaan, misalnya publikasi

perusahaan,surat-menyurat ke staf, pembayaran, dan jurnal. 2. Komunikasi langsung atau verbal Tujuan komunikasi verbal adalah assertiveness. Perilaku asertif (assertiveness) adalah suatu cara komunikasi yang memberikan kesempatan bagi individu untukmengekspresikan perasaannya secara langsung, jujur, dan dengan cara yang sesuai tanpa menyinggung perasaan lawan bicara. Manajer selalu mengadakan komunikasi verbal kepada atasan dan bawahan secara formal maupun informal. Mereka juga melakukan komunikasi secara verbal pada pertemuan formal, baik kepada individu dalam kelompok atau persentasi secara formal. 3. Komunikasi non verbal Komunikasi non verbal adalah komunikasi dengan mengguanakan ekspresi wajah, gerakan tubh, dan sikap tubuh atau body language. Menurut Arnold and Boogs ()1989), komunikasi non verbal meliputi komponen emosi terhadap pesan yang idterima atau disampaikan. Oleh sebab itu, komunikasi non verbal lebih mengandung arti yang signifikan dibandingkan komunikasi verbal akan tetapi dapat menjadi sesuatu yang membahayakan jika komunikasi non verbal diartikan salah tanpa adanya penjelasan secara verbal. Ada beberapa hal kuncidalam komuniakasi non verbal yang dapat terjadi tanpa atau dengan komunikasi non verbal.

a. Lingkungan: tempat dimana komunikasi dilaksanakan merupakan bagian penting pada proses komunikasi. b. Penampilan: pemakaian pakaian, kosmetik, dan sesuatu yang menarik merupkan bagian dari komunikasi non Verbal yang perlu diidentifikasi. c. Kontak mata: kontak mata merupakan kesediaan seseorang untuk berkomunikasi. d. Postur tubuh ()gesture) : bobot suatu pesan bisa ditingkatkan dengan orang yang menunjukkan telun juknya, berdiri, atau duduk. e. Ekspresi wajah: komunikasi yang efektif memerlukan respon wajah yang setuju terhadap pesan yang disampaikan. f. Suara, intonasi, isi (volume), dan refleksi :cara tersebut menandakan bahwa pesan dapat ditransfer dengan baik. Manajer yang efektif akan melakukan komunikasi verbal dan non verbal, supaya individu (atasan/bawahan) akan menerima pesan dengan jelas.

4. Komunikasi melalui telepon Pada era modern ini (bahkan sudah post modern), media komunikasi semakain berkembang pesat. Salah satu diantaranya adalah media telekomunikasi seperti telepon atau handphone. Saat ini manajer sangat bergantung pada komunikasi dengan menggunakan telepon atau handpone ini. Dengan kemudahn sarana komunikasi tersebut, memungkinkan manajer untuk merespon setiap perkembangan dan masalah dalam organisasi. Oleh sebab itu, untuk menjaga citra organisasi, manajer dan semua staf harus sopan dan menghargai lawan bicar setiap berbicara melalui telepon. Jika ada orang lain yang sedang menunggu untuk berbicara dan menggunakan pesawat telepon bersama, maka waktu yang digunakan harus singkat dan berbicara seperlunya saja untuk menghindari kesan negatif.

DAFTAR PUSTAKA

Ann Gillies Dee. 2002. Manajemen Keperawatan Sebagai Suatu Pendekatan Sistem. Bandung : Yayasan IAPKP. Handoko Thani. 2009. Manajemen. Yogyakarta : BPFE. Nur Salam. 2002. Manajemen Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika. Suali. S,Yanyan Bahtiar. 2002. Manajemen Keperawatan. Jakarta : Erlangga. Swanburg Russel. C. 2000. Kepemiminan dan Manajemen Keperawatan untuk Perawat Klinis. Jakarta : EGC.