P. 1
Buku Panduan Skillab Kulit

Buku Panduan Skillab Kulit

|Views: 213|Likes:
Dipublikasikan oleh Afriyani Khusna
unsyiah 2013
unsyiah 2013

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Afriyani Khusna on Mar 06, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/03/2015

pdf

text

original

BUKU PANDUAN SKILLS LAB

SEMESTER GENAP 2012/2013

SEMESTER 4

PEMERIKSAAN SISTEM ORGAN II

LABORATORIUM KETERAMPILAN MEDIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA Alamat: Darussalam - Banda Aceh Telepon: (0651) 7555184

Copyright@2010 oleh Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

Pertama kali dicetak : Februari 2008 Edisi revisi I: Pebruari 2009 Edisi revisi II: Januari 2010 Edisi revisi III: November 2011 Edisi revisi IV: November 2012 Desain sampul oleh : Rahmawati, S.Si Diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Semua Hak Cipta Terpelihara

Penerbitan ini dilindungi oleh Undang-undang Hak Cipta dan harus ada izin oleh penerbit sebelum memperbanyak, disimpan, atau disebarkan dalam bentuk elektronik, mekanik, fotocopy, dan rekaman atau bentuk lainnya. ii

PENYUSUN BUKU
dr. Tgk. Puspa Dewi, Sp.OG Bagian lmu Kebidanan & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUZA dr. Azharuddin Sp.BO, FICS K-Spine Bagian Ilmu Bedah/Orthopedi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUZA Dr. dr. Endang Mutiawati R, Sp.S Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUZA dr. Dessi Rakhmawaty Emril, Sp.S Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUZA dr. Nanda Earlia, Sp KK Bagian Ilmu Penyakit Kulit-Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUZA dr. Devi HP, Sp.M Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUZA dr. Lili Setiani Sp.THT-KL Bagian Ilmu Penyakit THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUZA dr. Iskandar Zakaria, Sp.R Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUZA dr. T.H. Makmur Mohd. Zein, SKM, PKK Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala dr. Roziana Bagian Anatomi Laboratorium Keterampilan Medik Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala dr. Teuku Renaldi Tim Kurikulum Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Rahmawati, S.Si Tim Kurikulum Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Dewi Malahayati, SH Laboratorium Keterampilan Medik Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala dr. Hirsa Agriani Tim Kurikulum Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

iii

PENANGGUNG JAWAB Dr. dr. Mulyadi, Sp P (K) Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

dr. Teuku Mamfaluti, M. Ke, Sp PD Laboratorium Keterampilan Medik Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

iv

KATA PENGANTAR

Buku Panduan skills lab ini memuat tentang Keterampilan Pemeriksaan Genitalia Pria, Pemeriksaan Genitalia Wanita, Teknik Pemasangan Kateter Uretra, Urologic Radiology, Komunikasi Kasus Sensitif, Pemeriksaan Fisik Muskuloskeletel, Pemeriksaan Neurologi, Pemeriksaan Fisik Diagnostik THT, Pemeriksaan Fisik Diagnostik Mata, dan Pemeriksaan Fisik Diagnostik Kulit Kami berharap buku panduan ini dapat mempermudah mahasiswa dalam melatih kemampuan dasar ilmu kedokteran di laboratorium keterampilan medik. Kami mengucapkan terimakasih dan penghargaan sebesarbesarnya atas segala konstribusi Teman Sejawat Penulis dalam penyelesaian dan penyempurnaan materi di dalam buku panduan ini sehingga dapat tercapai tujuan kita bersama yaitu menghasilkan dokter yang berkompetensi.

Banda Aceh, November 2012 Tim Skills Lab & Tim Kurikulum

v

.....................................................................................................................................DAFTAR ISI Kata Pengantar . v vi Benang Merah Klinis ..................... 41 6...... Teknik Pemasangan Kateter Uretra .................... Pemeriksaan Neurologi ................................... Pemeriksaan Fisik Muskuloskeletel ........ 157 10................................................................ Pemeriksaan Genitalia Pria ....... 27 4.................. 13 3.................... Pemeriksaan Fisik Diagnostik THT .. 206 vi .................... 1 2.................................................................. 120 9.. Daftar Isi ............ 186 11....................................................... Komunikasi Kasus Sensitif ............ Pemeriksaan Perineum dan Rectal ....................... Pemeriksaan Fisik Diagnostik Kulit ........... Pemeriksaan Fisik Diagnostik Mata ............................................................ 61 8.............................. vii 1......... Pemeriksaan Genitalia Wanita ............. 50 7....................................................................... Urologic Radiology ........ 35 5..................................

BENANG MERAH KLINIS Pada hari selasa. dan ia sendiri mengeluh kedua kakinya terasa sulit berjalan terutama tungkai kanan. Sejak 2 bulan terakhir si Kakek sudah sering mengeluhkan kencing tidak tuntas. Menurut sang suami. 14 tahun mengeluh sering hidungnya gatal dan berair. Ayahnya telah lama menderita asma. Pada kulit kedua lipatan lututnya tampak luka kecil bekas garukan & tampak pula kulit menebal bekas garukan berulang. lakukan pemeriksaan yang tepat atas kedua pasangan tersebut secara sistematis dan benar. Sang suami datang sambil mengendong isterinya yang terlihat sangat lemas.00 seorang Kakek berumur 65 tahun datang ke RS dengan keluhan tidak bisa kencing sejak 8 jam yang lalu. 3. Pada jam 11. 24 Januari 2010. Tidak lama kemudian. 1. Tindakan apa yang dapat lakukan dalam menentukan ada/tidak kelainan pada mereka. datang sepasang suami isteri ke IGD setelah jatuh dari sepeda motor. bersin > 5x dalam sehari terutama pagi hari. Menurut Yuli. Apa yang tejadi pada Yuli? Deskripsikan tanda yang terdapat di kedua lipatan lututnya! Lakukan pemeriksaan fisik yang tepat pada hidung. yang disertai kedua matanya terasa gatal. mata & kulit Yuli agar diagnosis yang tepat dapat anda tegakkan ! vii . isterinya tadi sampai tidak sadar diri sesaat setelah jatuh dari motor. suasana IGD sangatlah sibuk. perih & berair. Ibu & kakaknya juga mengeluh gejala serupa. Anda sebagai dokter jaga di IGD saat ini. Saat ini Kakek merasa nyeri di daerah bawah pusatnya.45 datang lagi pasien bernama Yuli. Prosedur tindakan apa yang harus anda lakukan untuk membantu menegakkan diagnosa dan membantu si Kakek 2. Jam 09.

PEMERIKSAAN GENETALIA PRIA (MALE GENITALIA EXAM) Tujuan belajar : Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fisik pada genetalia pria secara sistematis dan benar. sehingga dapat mengaitkan dengan kemungkinan diagnosis pasien.1. Anatomi & Fisiologi Penampang lintang dan pandangan frontal genetalia pria. sebagai berikut : Penampang Lintang Genetalia Pria 1 .

Pada ujung distal penis. tipis dan tidak berambut. 2 . Uretra melintasi korpus spongiosum.Genetalia Pria Penis terdiri dari 3 struktur memanjang : dua pasang korpora kavernosa dan satu buah korpus spongiosum. batang dan kepala. Korpus spongiosum membungkus uretra mulai dari diafragma urogenitalis dan di sebelah proksimal dilapisi otot bulbokavernosus. Kulit penis halus. Penis mempunyai 2 permukaan. Korpora kavernosa mengandung otot polos yang berkontraksi selama ejakulasi. Korpora kavernosa dibungkus oleh jaringan fibroelastik tunika albuginea sehingga merupakan satu kesatuan. dorsal dan ventral (uretral). Korpus spongiosum ini berakhir di bagian distal sebagai glans penis. Kedua korpora dibungkus oleh fasia Buck dan lebih superfisial lagi oleh fasia Colles atau fasia Dartos. Batang penis terdiri dari jaringan erektil. dan terdiri dari pangkal. terdapat suatu lipatan kulit bebas yang disebut preputium. yang menimbulkan ereksi bila terisi penuh oleh pembuluh darah. sedangkan di sebelah proksimal terpisah menjadi dua sebagai krura penis.

sedangkan arteri menyempit sebagian. Skroum di bagi menjadi dua oleh septum interskrotal. disebut tunika albugenia testis. yang berbentuk koma.5-5 cm. Peranan utama skrotum adalah mengatur suhu testis. Uretra pria dewasa. preputium di insisi. Vena-vena bermuara ke dalam vena dorsalis penis. Masing-masing testis mengandung tubulus seminiferus yang panjang. memiliki panjang 23-25 cm dan dibagi atas :  Pars prostatika  Pars membranasea Posterior  Pars kavernosa AnteriorZ Sfingter uretra eksterna mengelilingi uretra membranasea dan pada kedua sisinya terletak kelenjar bulbouretral Cowper. 3 . Selama sirkumsisi. Skrotum adalah kantong yang mengandung testis. Tubulus ini berakhir di dalam epididimis. yang tergantung di luar dari perineum.Sekresi mukus dan lapisan sel epitel yang disebut smegma terkumpul di antara preputium dan glans. Dalam keadaan tidak ereksi. Suplai darah ke penis berasal dari arteri pudendus interna. Dinding skrotum mengandung otot polos involunter dan otot lurik volunter. mikroskopis dan berkelok-kelok yang menghasilkan sperma. hingga meatus eksternus di penis. Testis kiri biasanya terletak lebih rendah dibandingkan kanan. Testis di bungkus oleh suatu lapisan fibrosa kuat. Dalam keadaan ereksi. halus dan panjangnya kira-kira 3. Testis berbentuk oval. memberikan efek lubrikasi selama koitus. dan terletak di batas posterior testis. saluran vena dan anastomosis arteriovenosa terbuka lebar. yang dipertahankan kira-kira 2ºC di bawah suhu rongga peritoneum. suatu keadaan yang penting untuk spermatogenesis. Uretra terbentang mulai dari meatus urinarius internus di vesika urinaria. Pars inferior epididimis melanjutkan diri sampai vas deferens. yang mempercabangkan arteri dorsal dan arteri profunda pada korpora kavernosa. saluran arteriovenosa tertutup dan arteri-arteri terbuka lebar.

Pemeriksaan genetalia pria terdiri atas :  Inspeksi dan palpasi dengan pasien berbaring  Inspeksi dan palpasi dengan pasien berdiri  Pemeriksaan hernia 4 . Prostat menghasilkan suatu cairan yang merupakan salah satu komponen cairan ejakulat. yang menembus kelenjar prostat. kemudian dilanjutkan pada posisi berdiri. Vena testis kanan mengalir langsung ke dalam vena kava inferior. yang memasuki kanalis inguinalis. tidak akan menjadi sumber rangsangan bagi pasien.Arteri testis memasuki testis pada bagian tengah posteriornya. Pemeriksaan genetalia pria dilakukan mula-mula pada saat pasien dalam posisi berbaring. Kelenjar prostat kira-kira berukuran. Di dekat basis prostat. Jika pemeriksaan dilakukan secara objektif. Vas deferens adalah suatu struktur seperti tali. sehingga kemungkinan munculnya ereksi yang dapat mengganggu pemeriksaan dapat dihindarkan. vas deferens bergabung dengan duktus vesikula seminalis membentuk duktus ejakulatorius. Pemeriksaan Fisik Genetalia Pria Pemakaian sarung tangan karet yang disposible harus dipakai. panjang 3. arteriarteri testis dan vena-vena membentuk korda spermatika. sedangkan kiri mengalir ke dalam vena renalis kiri. Di bagian tengah ditembus uretra posterior. Perubahan sikap tubuh ini penting karena hernia atau massa skrotum mungkin tidak terlihat jelas dalam posisi berbaring. Volume cairan prostat merupakan ± 25 % dari seluruh volume ejakulat. sedangkan vena yang berfungsi sebagai drainase testis membentuk jaringan padat yang disebut pleksus pampiniformis. Vas deferens. yang mengalir ke dalam vena testis.5 cm dan lebar 3 cm. yang dapat diraba dengan mudah di dalam skrotum.

disebut angiokeratoma dan bersifat jinak.1.5 cm) dan dapat digerakkan dengan bebas ditemukan di daerah ini. Skrotum diangkat oleh pemeriksa untuk memeriksa perineum dengan cermat. abses. kutil. melihat adanya peradangan. ekskoriasi atau ruam lainnya. Periksalah rambut pubis untuk melihat adanya kutu rambut atau nits (kumpulan telur) yang melekat pada rambut tersebut. Pembesaran skrotum karena hidrokel dapat diperiksa dengan transluminasi. 5 . merah tua. agak menonjol pada skrotum lazim ditemukan pada pria di atas 50 tahun. pemeriksa dapat menentukan adanya adenopati inguinal. atau mengejan sementara anda memeriksa lipat paha. Perhatikanlah distribusi rambut. Palpasi Nodus Inguinal Dengan menggerakkan jari secara memutar sepanjang ligamentum inguinal. ulserasi. atau lesi lain. Inspeksi dan Palpasi dengan Pasien Berbaring Inspeksi Kulit dan Rambut Kulit lipat paha harus diperiksa untuk melihat adanya infeksi jamur superfisial. perhatikanlah hal-hal berikut :  Apakah pria ini disunat ?  Perhatikan ukuran penis dan skrotum. Inspeksi Penis dan Skrotum Pada pemeriksaan penis dan skrotum. Biasanya nodus-nodus limfe berukuran kecil (0. Inspeksi Massa di Lipat Paha Pasien di suruh untuk batuk. Ekskoriasi mungkin menunjukkan infeksi skabies.  Apakah terdapat lesi dan edema di penis dan skrotum ? Lesi telengiektasis kecil. Suatu tonjolan yang timbul secara tiba-tiba mungkin menunjukkan suatu hernia inguinal atau femoral.

Inspeksi Penis Jika pasien tidak disunat.2. Glans diperiksa untuk melihat adanya ulkus. disebut balanopostitis. smegma tertumpuk. kutil. nodulus. kulupnya (preputium) harus diretraksikan. Inspeksi dan Palpasi Dengan Pasien Berdiri Pasien kemudian diminta berdiri sementara pemeriksa duduk di depannya. Meatus diperiksa oleh pemeriksa dengan meletakkan kedua tangannya di sisi glans penis dan membuka meatus. Parafimosis merupakan suatu keadaan dimaa kulup dapat diretraksikan tetapi tidak dapat dikembalikan ketempat semula dan tertahan di belakan korona. Bila juga melibatkan peradangan preputium. untuk menentukan keketatan katup. Inspeksi Meatus Eksternus Pemeriksa harus memperhatikan posisi meatus uretra eksternus. Fimosis ada jika kulup tidak dapat diretraksikan dan meghalangi pemeriksaan glans secara memadai. Letaknya harus ditengah glans. yang disebut balanitis. sehingga dapat menimbulkan peradangan glans. parut atau tanda peradangan. 6 . Iritasi kronis ini dapat menjadi faktor penyebab kanker penis. Bahan putih seperti keju di bawah kulup adalah smegma dan itu adalah normal. Karena glans juga tidak dapat dibersihkan.

yaitu suatu keadaan diamana meatus terletak pada permukaan dorsal penis. 7 . di glans. suatu keadaan yang disebut hipospadia. Secara khas. Kadang-kadang meatus uretra akan bermuara pada permukaan ventral penis. Keadaan yang jarang ditemukan adalah epispadia. Pasien dengan keadaan ini mungkin mengeluh deviasi penis selama ereksi. Adanya indurasi yang tidak nyeri tekan atau daerah fibrotik di bawah kulit batang penis mengarah ke penyakit Peynorie.Meatus harus diperiksa untuk melihat adanya sekret. anus atau batang penis. yang disebut kondiloma akuminata. ulkus. Kutil venereal. kutil atau stenosis. Palpasi korpora kavernosa dilakukan dengan memegang penis diantara jari-jari kedua tangan dan memakai jari telunjuk untuk memeriksa indurasi. indurasi. kutil ini mempunyai permukaan verukosa yang menyerupai kembang kol. Palpasi Penis Palpasi batang mulai dari glans sampai basis penis. perineum. Adanya parut. nodulus. dapat ditemukan di dekat meatus. atau tanda-tanda peradangan harus dicatat.

Bantal jari telunjuk kanan harus mempalpasi seluruh korpus spongiosum mulai dari meatus sampai ke pangkalnya. Harus ada 2 testis. Nyeri tekan dan nodularis tidak boleh ada. Palpasi Skrotum Skrotum diperiksa kembali dalam posisi berdiri. Pakailah kedua tangan untuk memegang testis dengan lembut. bentuk dan konsistensi tiap testis. Sementara tangan kiri memegang kutub superior dan inferior testis. Testis normal mempunyai konsistensi seperti karet. Untuk palpasi pangkal uretra. Jika terdapat sekret. Palpasi Testis Tiap testis di palpasi secara terpisah. tangan kanan melakukan palpasi permukaan anterior dan posterior. melalui korpus spongiosum sampai ke pangkalnya. Perhatikan ukuran. Perhatikan kontur dan isi skrotum. Biasanya testis kiri lebih rendah dibandingkan yang kanan.Palpasi Uretra Uretra harus dipalpasi mulai dari meatus eksternus. Adanya massa yang tidak terlihat ketika pasien berbaring harus dicatat. Ukuran dan konsistensi satu testis di bandingkan dengan testis 8 . ‘pemerahan uretra’ dapat menghasilkan setetes sekret yang harus ditempatkan di atas gelas objek untuk pemeriksaan mikroskopis. pemeriksa mengangkat penis dengan tangan kiri sementara jari telunjuk kanan menekan skrotum di garis tengah dan mempalpasi jauh ke pangkal korpus spongiosum.

Pasien diminta memutar kepalanya dan batuk sementara korda spermatika 9 . atau massa dari bagian superior (kepala) hingga inferior epididimis (ekor). Pemeriksa harus memegang skrotum di garis tengah dengan meletakkan kedua ibu jari di depan dan kedua telunjuk pada sisi perineal skrotum. Vasa ini teraba sebagai tali yang keras kira-kira berdiameter 2-4 mm dan teraba sebagai spaghetti seperti setengah di masak. nodul. Hanya terlihat pada saat pasien berdiri oleh karena pengaruh gravitasi. Pembesaran korda spermatika yang lazim dijumpai yang disebabkan oleh dilatasi pleksus pampiniformis adalah varikokel. tangan pemeriksa dapat masuk. dapatkah jari pemeriksa masuk di atas massa di dalam skrotum ? Jika hernia ingunalis. tangan pemeriksa tidak dapat masuk karena massa berasal dari rongga perut. pemeriksa secara serentak harus melakukan palpasi kedua korda spermatika di antara ibu jari dan jari telunjuk ketika jari-jari itu digerakkan ke arah lateral pada permukaan skrotum. biasanya timbul di sisi kiri seperti meraba sekantong/kumpulan cacing. Korda spermatika di palpasi mulai dari epididimis pada sampai ke cincin abdomen eksternal. Struktur yang paling menonjol pada korda spermatika adalah vas deferens.lainnya. Apakah satu testis terasa lebih berat di banding lainnya ? Jika ada massa. Dengan memakai kedua tangan. namun bila berasal dari dalam skrotum. Jika penisnya di angkat terlalu tinggi. Ukurannya dibandingkan dan setiap nyeri atau benjolan di catat. Palpasi Epididimis dan Vas deferens Tentukan lokasi dan palpasi epididimis pada bagian posterior testis. kulit skrotum akan berkurang dan pemeriksaan akan lebih sulit. Tentukan adanya nyeri tekan. Pasien diminta untuk mengangkat penisnya dengan hati-hati.

yang menunjukkan adanya hernia. ulang kembali untuk membandingkan dengan sisi lainnya. Cincin eksterna (kanalis inguinalis) dapat diperlebar dan dimasuki oleh jari tangan. Telunjuk kanan pemeriksa harus mengikuti korda spermatika di lateral masuk ke dalam kanal inguinal sejajar dengan ligamentum inguinal dan digerakkkan ke atas ke arah cincin inguinal eksterna. 10 . tentukanlah lokasi nyeri dan periksalah kembali daerah tersebut. Jika pasien mengeluh nyeri selama batuk. Pemeriksaan Hernia Inspeksi Daerah Inguinal dan Femoral Suruhlah pasien memutar kepalanya kesamping dan batuk atau mengejan. yang terletak superior dan lateral dari tuberkulum pubikum. Palpasi Hernia Inguinalis Dilakukan dengan meletakkan jari telunjuk kanan pemeriksa di dalam skrotum di atas testis kiri dan menekan kulit skrotum ke dalam. Jika teraba.3. Lakukan inspeksi daerah inguinal dan femoral untuk melihat timbulnya benjolan mendadak selama batuk.

Dengan jari telunjuk di kanalis inguinal. akan terasa impuls tiba-tiba yang meyentuh jari pemeriksa. memastikan adanya hernia inguinalis indirek. Ulangi pada sisi lainnya. Seandainya ada hernia. mintalah pasien untuk memutar kepalanya ke samping dan batuk atau mengejan. 11 . minta pasien berbaring terlentang dan perhatikan apakah hernia dapat direduksi dengan tekanan yang lembut dan terus-menerus pada massa itu. Jika ada hernia. Bila ditemukan bunti usus di dalam skrotum pada pemeriksaan auskultasi.

meatus uretra eksternus : letak ( normal/dorsal. hidrokel : (posisi berdiri/tidur) Melakukan inspeksi inguinal. ukuran. parut. kutil. ulserasi. kutil. sekret.ventral). Aspek yang dinilai Persiapan : Memberi penjelasan dengan benar.penis : di sunat/tidak. b. angiokeratoma .penis : parut.testis : ukuran (bentuk./40 x 100% = % 12 . ruam.epididimis & vas deferens : ada/tidaknya pembesaran (varikokel). varikokel. stenosis) Melakukan palpasi : . c.massa di lipat paha : terdapat nodus/tidak Melakukan palpasi : ada/tidaknya massa/tonjolan di inguinal. d. abses). d. nyeri tekan . a. nyeri tekan . kutu rambut.funiculus specmaticus : vas deveren (ada/tidak).. konsistensi. jelas. nyeri tekan (ada/tidak) Melakukan inspeksi dan palpasi saat pasien berdiri : Mempersilahkan pasien untuk berdiri Pemeriksa duduk di depan pasien Melakukan inspeksi : . nodulus. b. nits . radang (ada/tidak) . femoral. kutil. 4. scrotum : benjolan Melakukan palpasi inguinal. testis (ada/tidak) . nyeri tekan. b. nyeri tekan Melakukan auskultasi skrotum : terdengar/tidak bunyi usus (hanya pada hernia scrotalis) Hidrokel : Transicuminasi (ada/tidak) Memberikan informasi mengenai hasil pemeriksaan dan follow up lebih lanjut 0 Skor 1 2 c. ulkus. tanda peradangan warna hipopigmentasidiglan penis . . ulkus..Checklist Skills : Male Genetalia Exam No 1.. pembesaran vena (ada/tidak). simetris (ada/tidak). massa (ada/tidak). lesi (peradangan. a.skrotum : kontur. Keterangan: 0 = tidak dilakukan 1 = dilakukan tetapi kurang sempurna 2 = dilakukan dengan sempurna instruktur Cakupan penguasaan keterampilan: Skor total . nodul. tanda peradangan. lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan & efek yang ditimbulkan Pemeriksa mencuci tangan & memakai sarung tangan Melakukan inspeksi dan palpasi pada saat berbaring : Mempersilahkan pasien untuk berbaring & Pemeriksa berdiri di sebelah kanan pasien Melakukan inspeksi : .. 2. ekskoriasi. 5... isi testis. scrotum : adanya benjolan. massa(ada/tdk) Pemeriksaan Hernia. a.. bandingkan kiri dan kanan. smegma(bila tdk disunat). a. 3.kulit dan rambut : tanda peradangan. b. single/multiple.Scrutum : Rugae (tada/tidak).penis : fimosis. nodul. c.uretra : sekret . indurasi.

Perineum 2. Alat Genetalia Interna . penuh dengan urat saraf.Ovarium 13 .Labia Minor . PEMERIKSAAN GENETALIA WANITA (FEMALE GENETALIA EXAM) Tujuan belajar : Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fisik pada genetalia wanita secara sistematis dan benar.Vulva .Klitoris.Tuba fallopi .Vagina . Alat Genetalia Eksterna .Uterus .2.Introitus vagina .Mons Veneris : tonjolan bulat dari jaringan lunak diatas simfisis pubis.Bulbus vestibuli sinistra et dekstra .Labia Mayor . ditutupi rambut kemaluan . terdiri atas jaringan yang dapat mengembang. Anatomi & Fisiologi 1. sangat sensitif .

Kepala meja pemeriksaan ditinggikan sehingga terjadi kontak mata dengan pasien . .Pemeriksaan spekulum .Pasien dibantu menaiki meja pemeriksaan dengan bokong pasien diletakkan didekat ujungnya .Lutut ditarik ke atas untuk merelaksasikan otot-otot perut ketika paha diabduksikan .Minta pasien untuk membiarkan tungkainya jatuh pada sisi tubuhnya. termasuk sumber cahaya yang diarahkan kedalam vagina Pemeriksaan genetalia wanita terdiri dari : .Pasien seharusnya disuruh untuk mengosongkan kandung kemih dan rektum sebelum pemeriksaan .Persiapan Pemeriksaan .Inspeksi dan palpasi genetalia eksterna .Pemeriksa memakai sarung tangan dan duduk diatas bangku diantara kedua tungkai pasien .Atur pencahayaan yang baik.Palpasi rektovaginal 14 .Pijakan meja pemeriksaan dikembangkan dan pasien disuruh meletakkan tumitnya pada tempat berpijak tersebut .Palpasi bimanual .

.Catat setiap lesi peradangan.Kulit vulva diperiksa untuk melihat adanya kemerahan. Dengan tangan kanan. . .Inspeksi & Palpasi Genetalia Interna Untuk membuat pasien wanita merasa lebih nyaman selama pemeriksaan.Melihat hymen : ada/tidaknya.Beritahukan kepada pasien pada saat hendak membuka labia. Biasanya klitoris berukuran 3-4 mm .Mons veneris diperiksa untuk melihat adanya lesi atau pembengkakan. Kraurosis vulva adalah keadaan dimana kulit vulva kemerahan. parut. bengkak. perubahan atrofik atau massa yang ditemukan. halus. seringkali akan bermanfaat jika pemeriksa menyentuh tungkainya dengan menggunakan sisi punggung tangan.Rambut pubis diperiksa untuk melihat polanya dan adanya kutu pubis .Klitoris diperiksa untuk melihat ukuran dan adanya lesi. massa. gambaran hymen Macam-macam bentuk hymen : 15 . leukoplakia atau pigmentasi. trauma. pengeluaran sekret. Setiap lesi harus dipalpasi untuk mengetahui adanya yeri tekan. Beritahukan pasien sewaktu akan menyentuh tungkainya. hampir transparan secara merata (sering pada wanita pasca menopause). . . Bercak putih karena hiperkeratosis yang dikenal sebagai leukoplakia vulva biasanya mendahului timbulnya karsinoma. Genetalia eksterna harus diinspeksi dengan cermat. ulserasi. labia mayor dan minor dibuka terpisah di antara ibu jari dan jari telunjuk tangan kanan. ekskoriasi. berkilat. kutil.

Jika ada inkontinensia stres. Pemeriksaan relaksasi pelvis : dengan kedua labia terpisah lebar. Celupkan kapas lidi kedalam sekret dan oleskan pada slide mikoskop untuk pemeiksaan lebih lanjut. Selanjutnya memakai tangan kiri untuk memeriksa daerah kelenjar kiri (jam 4-5). atau fistel. bengkak atau pus? Biasanya kelenjar Bartholin tidak dapat dilihat maupun diraba. penonjolan dinding posterior menunjukkan adanya suatu rektokel. Perineum : perineum dan anus diperiksa untuk melihat adanya massa (termasuk hemorroid). Apakah ada nyeri tekan. mungkin akan terlihat penggembungan dinding anterior atau poterior. Jika ada relaksasi vagina. 16 . Beritahukan pasien ketika anda hendak melakukan palpasi kelenjar-kelenjar labia. Penonjolan dinding anterior berkaitan dengan sistokel . batuk atau mengejan dapat menyebabkan menyemprotnya urin dari uretra. dengan memegang bagian posterior labia kanan di dalam vagina dan ibu jari kanan diluar.- - Inspeksi meatus uretra: apakah ada pus atau peradangan? Jika ada pus. tentukan sumbernya. parut. pasien dimita untuk mengejan atau batuk. fissura. Palpasi dilakukan pada area jam 7-8 untuk daerah kelenjar kanan.

adalah yang paling populer digunakan. Spekulum Pedersen mempunyai daun yang lebih sempit dan rata. Pada dasarnya ada dua macam spekulum dua daun . pasien harus diberitahukan bahwa akan timbul bunyi klik ini. Spekulum ini terdiri dari dua daun yang dimasukkan dalam keadaan tertutup dan kemudian di buka dengan menekan pegangannya. Daun-daunnya lebih lebar dan melengkung pada sisi-sisinya. Ada beberapa macam spekulum : spekulum metal Cusco atau bivalve. spekulum logam Graves ukuran besar dan spekulum Pedersen plastik ukuran besar. Spekulum dua daun yang terbuat dari plastik dan sekali pakai. Kekurangan alat ini adalah bunyi klik yang keras yang timbul ketika daun bawah dilepaskan selama dikeluarkan dari vagina.Pemeriksaan Spekulum Persiapan Pemeriksaan spekulum dilakukan untuk mengamati vagina dan serviks. dan dipakai untuk wanita dengan introitus kecil. sehingga dapat tercapai visualisassi vagina dan serviks secara memadai. spekulum logam Graves ukuran sedang. Dari kiri ke kanan : spekulum logam Pedersen ukuran kecil. graves dan Pedersen. Spekulum Graves adalah spekulum yang lebih umum dan dipakai untuk kebanyakan wanita dewasa. spekulum logam Pedersen ukuran sedang. 17 . Dinding vagina dipisahkan oleh kedua daun spekulum. Jika memakai spekulum plastik.

. dimasukkan secara miring dengan perlahanlahan ke dalam introitus di atas jari-jari tangan kiri.Prosedur pemeriksaan : .Sebelum memakai spekulum.Beritahukan pasien ketika akan melakukan pemeriksaan dengan menggunakan spekulum . Spekulum tidak boleh dimasukkan secara vertikal.Spekulum yang masih tertutup. dan kemudian menyentuhnya dengan punggung tangan untuk menentukan bahwa suhunya sudah tepat. sebaiknya spekulum diperlihatkan terlebih dahulu kepada pasien.Jari telunjuk dan tengah kiri pemeriksa memisahkan labia dan menekan perineum . Jika pasien belum pernah menjalani pemeriksaan dengan spekulum. . berlatihlah membuka dan menutupnya.Lubrikasi jeli sebaiknya jangan dipakai karena dapat mengganggu pemeriksaan sitologi serviks dan biakan gonococcus. karena dapat timbul cedera pada uretra dan meatus. Spekulum dihangatkan terlebih dahulu dengan air hangat. dengan dipegang oleh tangan kanan pemeriksa. A Posisi saat hendak masuk B Posisi saat di dalam 18 .

Langkah-langkah masuknya spekulum hingga serviks jelas terlihat 19 .

Biasanya ada mukus tak berwarna atau putih dalam jumlah cukup banyak. dan di buka dengan perlahan-lahan. erosi. laserasi. 20 . Warna kebiru-biruan mungkin menunjukkan kehamilan atau tumor berukuran besar. Serviks harus berada di dalam daun-daun spekulum. Dinding vagina : beritahukan pasien bahwa spekulum sekarang akan diangkat. kemudian spekulum diputar ke posisi transversal.- - - Serviks : spekulum dimasukkan sejauh mungkin kedalam vagina. dan dari endoserviks. Ujung spatula yang lebih panjang dimasukkan ke dalam orrifisium eksterna servicis. Perhatikan : sekret. harus dihilangkan dengan kapas lidi dan dihapuskan di atas slide. dengan pegangannya sekarang mengarah ke bawah. Contoh lain diambil dengan memakai kapas lidi dari forniks posterior dan lateral vagina. kemudian spatulanya diputar 3600 sementara mengerok sel-sel dari orifisium eksterna servicis. Apuskan di atas slide kaca dan difiksasi dengan memasukkannya ke dalam larutan yang mengandung campuran metil alkohol 95% dan eter dengan perbandingan 1:1. Apa bentuk orrifisium ekterna servicis ? Apa warna seviks ? Orrifisium eksterna servicis bentuk linier. Sekrup spekulum dikendurkan dengan jari telunjuk kanan dan spekulum diputar kembali ke posisi semula (miring). dengan hati-hati daun spekulum diputar ke berbagai arah untuk melihat serviks. Cara membuat apusan PAP : diperoleh dengan memakai spatula kayu yang dimasukkan melalui spekulum. leukoplakia. Dinding vagina harus halus dan tidak nyeri tekan. Jika serviks tidak segera terlihat. merupakan ciri serviks wanitaa yang telah melahirkan melalui vagina. leukoplakia atau massa. atau laserasi. ulserasi. Ketika spekulum perlahan-lahan ditarik dan ditutup. sekrupnya dapat dikencangkan. Untuk menjaga agar spekulum tetap terbuka. dinding vagina diperiksa untuk melihat adanya massa. Jika ada sekret yang mengaburkan setiap bagian dinding vagina atau serviks. Atau dengan menyemprotkan fiksatif yang mengering dengan cepat. eritema.

pemeriksa meletakkan kaki kanannya diatas bangku kecil .Lubrikasi jelli. bukan yang di dalam vagina. Kemudian dilakukan penekanan ke bawah ke arah perineum. Tangan yang diperut.Pasien diberitahukan bahwa “pemeriksaan dalam” akan segera dimulai . . ketika pemeriksaan dilakukan .Palpasi Bimanual Dipakai untuk palpasi uterus dan adneksanya.Tangan kiri diletakkan di atas abdomen kira-kira sepertiga jarak simfisis pubis dengan umbilikus. .Perhatikan ekspresi wajah pasien. dipegang dengan tangan kiri. Jari keempat dan kelima kanan difleksikan ke dalam telapak tangan. sementara organ-organ itu di palpasi oleh tangan kiri (di abdomen). dan sejumlah kecil diteteskan ke atas jari telunjuk dan tengah tangan kanan pemeriksa yang sudah memakai sarung tangan.Tangan kanan (di dalam vagina) mengangkat organ-organ pelvis ke atas pelvis dan menstabilkannya.Pergelangan tangan yang berada di abdomen tidak boleh difleksikan atau disupinasikan.Posisi dokter harus berada diantara kedua tungkai pasien . 21 .Jika tangan kanan dimasukkan kedalam vagina. . Punggung tangan kiri harus menyentuh sisi dalam paha kanan pasien. yang melakukan palpasi. Ibu jari kanan diekstesikan. Teknik pemeriksaan : .Beritahukan kembali bahwa pemeriksa akan menyentuh kembali tungkainya ketika memulai pemeriksaan. . Tangan kanan yang telah memakai sarung tangan tidak boleh menyentuh tube jelli .Labia dibuka lebar dan jari telunjuk telunjuk dan tengah tangan kanan yang berpelumas dimasukkan secara vertikal kedalam vagina.

Serviks di dorong kebelakang dan ke atas ke arah tangan yang berada di permukaan perut ketika tangan itu mendorong ke bawah. . konsistensinya. Palpasi Serviks dan Korpus Uterus Palpasi bimanual dapat dilakukan jika uterus anteversi dan antefleksi yang merupakan posisi uterus yang paling lazim. Dengan cermat. bentuk. ukuran. Tentukan uterus anteversi atau retroversi.serviks di palpasi.Gerakkan serviks ke berbagai arah. perhatikan : posisi. rapuh)? . keras. Setiap keterbatasan gerakan atau timbulnya nyeri karena pergerakan tersebut harus di catat. nodular. keras dan mobilitas. Mendorong serviks ke atas dan ke belakang cenderung menggerakkan uterus yang berada dalam posisi anteversi dan antefleksi ke dalam posisi yang lebih mudah di palpasi. mobilitas dan nyeri tekan. membesar. Apakah teraba ketidakaturan ? Apakah ada nyeri tekan pada saat uterus digerakkan ? 22 . Biasanya serviks dapat digerakkan 2-4 cm dalam segala arah.Uterus kemudian di palpasi diantara kedua tangan.Pemeriksaan Bimanual A.Beritahukan pasien sebelum dilakukan perabaan serviks . perhatikan : konsistensinya (lunak. .

adneksa kanan dipalpasi dengan memindahkan tangan kanan (vagina) ke forniks lateral kanan dan tangan kiri (perut) ke kuadran kanan bawah pasien . yang berusaha melakukan palpasi struktur-struktur adneksa.Pemeriksaan Bimanual B. . Nyeri tekan yang jelas dan nodularitas mengarah kepada adanya endometriosis. mulailah pemeriksaan pada sisi lainnya . Jari-jari di dalam vagina mengangkat adneksa ke arah tangan yang dipermukaan perut.Ovarium normal peka terhadap tekanan.Jika pasiennya seorang gadis. 23 .Setelah memeriksa sisi kiri. . bentuk. jari pemeriksa yang berada di dalam vagina dipindahkan ke forniks posterior untuk melakukan palpasi ligamentum uterosakral dan kantong Douglas. . sementara tangan kiri (yang dipermukaan perut) pindah ke kuadran kiri bawah pasien.Setelah pemeriksaan adneksa. .Tangan kanan pemeriksa dipindahkan ke forniks lateral kiri. pakailah jari tengah kanan saja.Palpasi dilakukan di adneksa kanan dan kiri .Perhatikan : ukuran. Palpasi Adneksa . mobilitas dan nyeri tekan struktur-struktur adneksa.Jika pasien sudah mengeluh nyeri pada satu sisi. konsistensi.

.Palpasi Rektovaginal . periksa apakah ada sekret atau darah. ditarik ke luar sedikit sehingga jari tengah kanan secara perlahan-lahan dimasukkan ke dalam rektum.Beritahukan pasien bahwa akan dilakukan pemeriksaan vagina dan rektum .Pasien diberitahukan bahwa “pemeriksaan dalam” sudah selesai dan bahwa tangan pemeriksa akan segera dikeluarkan.Pada saat tangan pemeriksa dikeluarkan.Tangan kanan. 24 . massa atau ketidakaturan di dalam rektum. Jari telunjuk kanan diletakkan sejauh mungkin ke atas pada permukaan posterior vagina . . apakah menebal atau nyeri tekan ? Apakah nodulus atau massa ? Jari tengah kanan harus meraba untuk mencari nyeri tekan.Septum rektovagina dipalpasi. masih di dalam vagina.

eritema. penyemprotan urine Pemeriksaan dengan Spekulum Pemeriksa duduk diantara tungkai pasien Memberitahukan pasien ketika akan melakukan pemeriksaan dengan menggunakan spekulum Memisahkan labia dengan satu jari Dengan tangan kanan. kutil. b. ulserasi. kemudian mempersilahkan untuk tidur dengan posisi litotomi Mempersiapkan alat termasuk mengatur pencahayaan kemudian pemeriksa mencuci tangan & memakai sarung tangan steril secara aseptik Melakukan Inspeksi & Palpasi Genetalia Eksterna Mons veneris : melihat adanya lesi atau pembengkakan Rambut pubis : melihat polanya dan adanya kutu pubis Kulit vulva : melihat adanya kemerahan. Persiapan Memberi penjelasan dengan benar. ulserasi. nyeri tekan Aspek yang dinilai 0 1 2 e. lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan serta efek yang ditimbulkan Menyuruh pasien mengosongkan rektum & kandung kemih. 3. b. d. h. c. bengkak. Klitoris : melihat ukuran dan adanya lesi.Checklist Skills : Female Genetalia Exam Skor No 1. b. 2. a. memasukkan secara miring spekulum yang masih tertutup dengan perlahan-lahan ke dalam introitus di atas jari-jari tangan kiri Serviks : sekret. gambaran hymen Inspeksi meatus uretra : apakah ada pus atau peradangan ? Jika ada pus. Melihat hymen : ada/tidak. e. tentukan sumbernya. Palpasi kelenjar bartholin kiri & kanan. jelas. laserasi. d. j. bengkak atau pus? Perineum & anus : melihat adanya massa (termasuk hemorroid) Pemeriksaan relaksasi pelvis : rektokel. c. permukaaan. Memberitahukan kepada pasien pada saat hendak membuka labia : lesi peradangan. leukoplakia atau massa. a. trauma. laserasi. Palpasi : adan/tidak nyeri tekan. pengeluaran sekret. parut. c. erosi. Apa bentuk orrifisium ekterna servicis ? Apa warna seviks ? Dinding vagina : massa. leukoplakia. i. sistokel. a. perubahan atrofik atau massa yang ditemukan. ekskoriasi. 25 . Apakah ada nyeri tekan. f. f. massa. g. leukoplakia atau pigmentasi.

ukuran. ditarik ke luar sedikit sehingga jari tengah kanan secara perlahan-lahan dimasukkan ke dalam rektum.. perhatikan : ukuran.. Keterangan: 0 = tidak dilakukan 1 = dilakukan tetapi kurang sempurna 2 = dilakukan dengan sempurna Banda Aceh... b.. Jari keempat dan kelima kanan difleksikan ke dalam telapak tangan. d. lubrikasi jelli dan memberitahukan pasien bahwa “pemeriksaan dalam” akan segera dimulai Labia dibuka lebar dengan jari telunjuk & ibu jari tangan kiri... perhatikan : darah/sekret di sarung tangan kemudian membersihkan sisa jelly pada pasien. Serviks di dorong kebelakang dan ke atas ke arah tangan yang berada di permukaan perut ketika tangan itu mendorong ke bawah : gerakan terbatas/tidak. c.. d.. b. jari telunjuk dan tengah tangan kanan dimasukkan secara vertikal kedalam vagina.. massa atau ketidakaturan di dalam rektum. Tentukan uterus anteversi atau retroversi.. Palpasi dilakukan di adneksa kanan dan kiri.Skor No 4. apakah menebal atau nyeri tekan ? Apakah nodulus atau massa ? Jari tengah kanan harus meraba untuk mencari nyeri tekan. bentuk. keras dan mobilitas... a. Memberitahukan pasien bahwa “pemeriksaan dalam” sudah selesai dan bahwa tangan pemeriksa akan segera dikeluarkan.. Ibu jari kanan diekstensikan.. konsistensi. Tangan kiri diletakkan di atas abdomen kira-kira sepertiga jarak simfisis pubis dengan umbilikus & pergelangan tangannya tidak boleh difleksikan atau disupinasikan Tangan kanan (di dalam vagina) mengangkat organ-organ pelvis ke atas pelvis dan menstabilkannya A.... 5.. b. mobilitas dan nyeri tekan struktur-struktur adneksa Palpasi cavum Douglas : Nyeri tekan dan nodularitas Palpasi Rektovaginal Memberitahukan pasien bahwa akan dilakukan pemeriksaan vagina dan rektum Tangan kanan. a. keras.. d. c. membesar. konsistensinya. Memberikan informasi mengenai hasil pemeriksaan dan follow up lebih lanjut Aspek yang dinilai 0 1 2 c. Palpasi Bimanual Dokter berdiri diantara kedua tungkai pasien. Jari telunjuk kanan diletakkan sejauh mungkin ke atas pada permukaan posterior vagina Septum rektovagina dipalpasi.. b. mobilitas dan nyeri tekan.... apakah ada nyeri tekan pada saat uterus digerakkan ? B. Palpasi Serviks dan Korpus Uterus a...2012 Instruktur 26 . masih di dalam vagina. nyeri/tidak Palpasi corpus uterus : posisi.. Kemudian dilakukan penekanan ke bawah ke arah perineum. rapuh)? Menggerakkan serviks ke berbagai arah.. Palpasi Adneksa a. nodular.. 6.. Apakah teraba ketidakaturan ?.. Memberitahukan pasien sebelum dilakukan perabaan serviks Melakukan palpasi serviks : konsistensinya (lunak. bentuk..

3.Sebagai splint setelah operasi rekonstruksi uretra untuk tujuan stabilisasi uretra .Mengukur residu (sisa) urine yang dikerjakan sesaat setelah pasien miksi .Kateterisasi pada wanita dewasa untuk memperoleh contoh urine untuk pemeriksaan kultur urine.Mengeluarkan urine pada disfungsi buli-buli .Memasukkan obat-obatan intravesika.Diversi urine setelah tindakan operasi sistem urinaria bagian bawah yaitu pada prostektomi. vesikolitotomi . Tujuan terapi : .Menilai produksi urine pada saat dan setelah operasi besar 2. Tujuan kateterisasi : 1.Pemeriksaan urodinamik untuk menentukan tekanan intra vesika .Memasukkan bahan kontras untuk pemeriksaan radiologi antara lain : sistografi atau pemeriksaan adnya refluks vesicoureter melalui pemeriksaan voiding cysto-urethrography (VCUG) . antara lain : sitostatika atau antiseptik untuk buli-buli 27 .Mengeluarkan urine dari buli-buli pada keadaan obstruksi infravesikal baik yang disebabkan oleh hiperplasi prostat maupun oleh benda asing (bekuan darah) yang menyumbat uretra . TEKNIK PEMASANGAN KATETER URETRA Tujuan Belajar : Mahasiswa mampu melakukan pemasangan kateter urine secara aseptik dan tepat Kateterisasi uretra adalah memasukkan kateter ke dalam bulibuli melalui uretra. Tindakan ini diharapkan dapat mengurangi resiko terjadinya kontaminasi sample urine oleh bakteri komensal yang terdapat disekitar kulit vulva atau vagina . Tujuan diagnosis : .

tetap dipertahankan hingga tujuan terpenuhi. tetapi yang ditujukan untuk terapi. Retentio urine 2. Monitoring ketat produksi urin 3. Indikasi kateterisasi : 1. Keterangan : A. bahan. sifat pemakaian. Urine sampling 6.Kateter yang dipasang untuk tujuan diagnostik secepatnya di lepas setelah tujuan selesai. Spalk urethra Indikasi kontra : Radang akut urethra Macam-macam kateter Kateter dibedakan menurut ukuran. D : kateter Tiemann E : kateter Malecot empat sayap F : kateter Malecot dua sayap G : kateter Pezzer H : Foley two way catheter I : Folley three way catheter 28 . Instilasi ke dalam buli-buli 7. system retaining (pengunci) dan jumlah percabangan. bentuk. Buli-buli neuropathy 5. B : kateter Nelaton C. Operasi urethra / bladder outlet 4.

33 mm.Dilakukan secara aseptik dengan melakukan desinfeksi secukupnya memakai bahan yang tidak menimbulkan iritasi pada kulit genetalia . Kateter logam tidak digunakan pada tindakan kateterisasi pada pria karena akan menimbulkan kerusakan uretra ..Jika dibutuhkan pemakaian kateter menetap. Perbedaan bahan kateter menentukan biokompatibilitas kateter di dalam buli-buli. 29 . Memperhatikan prinsip pemasangan kateter : .Diusahakan tidak menimbulkan rasa sakit pada pasien . Makin lama kateter dipasang. 1 Cheriere (Ch) atau 1 French (Fr) = 0. Informasi lengkap dan informed consent 2. penyulit berupa infeksi atau cedera uretra semakin mungkin terjadi.Ukuran kateter Ukuran kateter dinyatakan dalam skala Cheriere’s (French). lateks dengan lapisan silicon (siliconized) dan silicon. atau 1 mm = 3 FR Jadi kateter yang berukuran 18 Fr artinya diameter luar kateter tersebut adalah 6 mm. karet (lateks). sehingga akan mempengaruhi pula daya tahan kateter yang terpasang di buli-buli.Dipakai kateter dengan ukuran terkecil yang masih cukup efektif untuk melakukan drainase urine.Kateter menetap dipertahankan sesingkat mungkin sampai dilakukan tindakan definitif terhadap penyebab retensi urine. yaitu untuk orang dewasa ukuran 16Fr-18Fr. Kateter yang mempunyai ukuran sama belum tentu mempunyai diameter lumen yang sama karena perbedaan bahan dan jumlah lumen pada keteter itu. Ukuran ini merupakan ukuran diameter luar kateter. Bahan kateter Bahan kateter dapat berasal dari logam (stainless). Persiapan kateterisasi 1. diusahakan memakai sistem tertutup yaitu dengan menghubungkan kateter pada saluran penampung urine (urine bag) .

Baringkan pasien .Dokter memakai sarung tangan steril . kateter dihubungkan dengan urine bag 30 . Pada Pria . keruh. Kateter terus di dorong hingga masuk ke dalam buli-buli yang ditandai dengan keluarnya urine dari lubang kateter.Setelah dilakukan desinfeksi pada penis dan daerah sekitarnya.Kateter yang telah diolesi dengan pelicin/jelly dipegang seperti memegang pensil. daerah genetalia dipersempit dengan kain steril (doek steril) . merah.Teknik Kateterisasi 1. vo lume total (dicatat) Sebaiknya kateter terus di dorong hingga masuk ke buli-buli lagi hingga percabangan kateter menyentuh meatus uretra eksterna Balon kateter dikembagkan dengan 5-10 ml air steril Jika diperlukan kateter menetap. dalam hal ini pasien diperintahkan untuk mengambil napas dalam/menelan supaya sfingter uretra eksterna menjadi lebih relaks. Perhatikan urine : jernih.Dokter berdiri disebelah kiri pasien . kemudian dimasukkan ke dalam orrifisium uretra eksterna - - Pelan-pelan kateter di dorong masuk dan kira-kira pada daerah bulbomembranasea (daerah sfingter uretra eksterna) akan terasa tahanan.

karena uretra wanita lebih pendek. teknik pemasangan kateter pada wanita jarang menjumpai kesulitan. Selanjutnya di tempat ini akan timbul striktura uretra atau fistel uretra. 31 . Fiksasi kateter yang tidak tepat. 2.- Kateter di fiksasi dengan plester di daerh inguinal atau paha bagian proksimal. Pada Wanita Berbeda dengan pria. Kesulitan yang sering dijumpai adalah pada saat mencari muara uretra karena terdapat stenosis muara uretra atau tertutupnya muara uretra oleh tumor uretra/tumor vagina/serviks. akan menyebabkan terjadinya penekanan pada uretra bagian peno skrotal sehingga terjadi nekrosis. yaitu yang mengarah ke kaudal.

Karena itu beberapa hal yang perlu dijelaskan pada 32 .Menekan tempat itu selama beberapa menit dengan ujung kateter sampai terjadi relaksasi sfingter dan diharapkan kateter dapat masuk dengan lancar ke buli-buli .Pada pria kateter sering tertahan d uretra pars bulbosa yang bentuknya seperti huruf “S” . kontraktur leher buli-buli.Ketegangan dai sfingter uretra eksterna karena pasien merasa kesakitan dan ketakutan . striktur uretra. sebelum dilakukan kateterisasi .Pemberian anastesi topikal berupa campuran lidokain hidroklorida 2% dengan jelly 10-20 ml yang dimasukkan peruretram.Terdapat sumbatan organik di uretra yang disebabkan batu uretra.Kesulitan dalam memasukkan kateter : .Pemberian sedatif per enteral sebelum kateterisasi Pemakaian kateter menetap akan mengundang timbulnya beberapa penyulit jika pasien tidak merawatnya dengan benar. atau tumor uretra Ketegangan sfingter uretra eksterna dapat diatasi dengan : .

Batu buli-buli Kateter tidak dapat dibuka. Jangan sering membuka saluran penampung yang dihubungkan dengan kateter karena akan mempermudah masuknya kuman 5.Uninhibitory detrusor contraction . Pasien harus banyak minum untuk menghindari terjadinya enkrustasi pada kateter dan tertimbunnya debris/kotoran dalam buli-buli 2.Striktura uretra . Mengganti kateter setiap 2 minggu sekali dengan yang baru untuk kateter jenis lateks atau 4 minggu sekali untuk jenis silikon. fistel . pernah di klem (dijepit) atau karena pemasangan terlalu lama. Checklist Skills : Male Catheter Urethtra Exam 33 .Hematuria .Bakteriuria persisten . mungkin diakibatkan oleh : . Kateterisasi gagal mungkin diakibatkan : .kesalahan pabrik.Lesi mukosa . Jangan mengangkat/meletakkan kantong penampung urine karena dapat terjadi aliran balik urine ke buli-buli 4.Salah teknik . Dapat diatasi dengan : isi eter ± 10 ml atau tusuk jarum dengan USG.Kontraktur leher buli-buli Apabila kateterisi gagal. Penyulit yang bisa terjadi pada tindakan kateterisasi : .Pasien adalah : 1.Uretritis. maka indikasi untuk dilakukannya sistotomi (pembuatan lubang di daerah buli). Selalu membersihkan nanah.Infeksi .Batu “impacted” . darah dan getah/sekret kelenjar periuretra yang menempel pada meatus uretra/kateter dengan kapas basah 3.False route . abses.

.Checklist Skills : Male Catheter Urethtra Exam No Aspek yang dinilai 0 1../36 x 100% = % Banda Aceh... h.. merah Mengembangkan balon kateter sesuai volume kateter bersangkutan (5-10 ml) aquades steril. f. pinset. urine bag. kemudian tarik kembali.. akuades & NaCl 0.. d. 4..... Keterangan: 0 = tidak dilakukan 1 = dilakukan tetapi kurang sempurna 2 = dilakukan dengan sempurna Instruktur Cakupan penguasaan keterampilan: Skor total . meminta pasien untuk rileks misalnya dengan bernapas dalam agar sfingter uretra eksternal relaks Mendorong terus katetr hingga percababngan kateter menyentuh meatus uretra eksternal Bila urin keluar dari lubang kateter ditampung dengan kidney basin dan diukur jumlahnya..9 % 10 cc. kateterisasi dihentikan Membersihkan kembali area genetalia dan doek steril dibuka Daerah antara ujung penis dan kateter ditutup dengan kasa Memfiksasi kateter menggunakan plster di daerah inguinal atau perut bagian bawah (suprapubik) Memberikan informasi bahwa pemasangan telah selesai dan follow up lebih lanjut Menuliskan laporan pemasangan dalam rekam medik (termasuk beberapa volume berapa aquades yang dipakai untuk mengembangkan balon) Skor 1 2 c. 3. jelas. anak-anak (3-5cc) dan biarkan selama 3-5 menit Memasukkan kateter dengan menggunakan pinset secara perlahan Pada saat terasa tahanan (daerah bulbomembranasea).. kemudian membatasi dengan menggunakan doek steril Membuat larutan lubricant (2cc lidocain+8cc gelly) dalam spuit 10cc lalu menyemprotkan secara gentle kedalam uretra : dewasa (10cc).. Persiapan Memberi penjelasan dengan benar.20121 34 ..9%. doek steril.... keruh. b.. Perhatikan urine : jernih. jelly yang mengandung obat anestesi. a.. lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan & efek yang ditimbulkan. b.. Apabila gagal. j.. spuit 5 cc/10cc.... serta meminta persetujuan pasien Mempersiapkan alat dan bahan: kateter urine dengan ukuran sesuai.. e.... i.. e. k..... memasang urin bag lalu kateter ditarik mundur sampai tertahan oleh balon Bila urine tidak keluar. g.. povidone iodine Meminta pasien untuk berbaring Dokter berdiri disebelah kiri pasien (kecuali kidal) Dokter mencuci tangan dan memakai sarung tangan steril secara aseptik Teknik Melakukan desinfeksi area muara uretra eksterna sampai perineum... 2. sarung tangan steril. c. uji coba dengan memasukkan NaCl 0.. a. d..

tumor. Kulit anus iperiksa untuk tanda-tanda peradangan. 35 .4. Posisi berbaring miring ke lateral kiri. jari telunjuk di dalam rektum bersamaan dengan tangan kiri pemeriksa yang diletakkan di abdomen. ekskoriasi. Posisi pasien litotomi (pasien terlentang dengan kedua lutut difleksikan) : Pemeriksa menjulurkan tangan kanannya di bawah paha kanan pasien. membungkuk. pada meja pemeriksaan 1. Tangan kanan pemeriksa dengan memakai sarung tangan memeriksa anus dan jaringan ekitarnya sementara tangan kiri dengan hati-hati merentangkan bokong. Posisi berdiri merupakan posisi yang paling banyak dipakai dan dengan posisi ini dapat dilakukan inspeksi menyeluruh pada anus dan palpasi rektum. kedua tangan pemeriksa harus memakai sarung tangan. 2. cara pemeriksaan bimanual ini berguna dan menimbulkan gangguan minimal pada pasien yang kesakitan. fisura. Setiap daerah abnormal harus dipalpasi. Jika mencurigai adanya infeksi. Dalam posisi ini tungkai kanan atas harus difleksikan sedangkan tungkai kiri bawah setengah diekstensikan 3. yang disebut posisi Sims. biasanya dipakai pada wanita atau jika pasian sangat lemah dan harus terpaku di tempat tidur. parut. PEMERIKSAAN PERINEUM & RECTAL Tujuan belajar Mahasiswa mampu melakukan prosedur pemeriksaan perineum rektal secara sistematis & tepat Posisi Pasien Pemeriksaan rektum dapat dilakukan dengan pasien berbaring terlentang/berbaring pada sisi kiri tubuh atau berdiri. Pasien disuruh berdiri membungkuk dengan bahu dan sikunya di sokong di atas tempat tidur atau meja pemeriksaan. fistula. Pasien diminta mengedan sementara pemeriksa menginspeksi anus untuk melihat adanya hemorroid atau fissura. nodulus. atau hemorroid.

Teknik . Jari itu harus dimasukkan sejauh mungkin ke dalam rektum. - - Pasien di suruh mengambil napas dalam. Sfingter harus menutup dengan sempurna disekitar jari pemeriksa. Sfingternya harus direlaksasikan dengan tekanan lunak oleh permukaan palmar jari telunjuk. 36 . sementara jari telunjuk kanan memeriksa rektum.Pasien diberitahukan bahwa pemeriksaan rektum sekarang akan segera dilakukan .Pemeriksa memberitahukan pasien bahwa lubrikan yang memberikan sensasi dingin akan dipakai. pasien harus diberikan jaminan bahwa sebenarnya ia tidak akan buang air besar. dan pada saat itu jari telunjuk kanan dimasukkan ke dalam anal anus ketika sfingter anus mengendur. Ketika tangan kiri merentangkan bokong pasien. . Tonus sfingter harus dinilai.Pemeriksa melaburi pelumas pada jari telunjuk tangan kanan yang bersarung tangan dan meletakkan tangan kirinya pada bokong pasien. Tangan kiri kemudian dapat dipindahkan ke bokong kiri pasien. meskipun 10 cm merupakan batas eksplorasi jari yang mungkin dilakukan. jari telunjuk kanan dengan perlahan-lahan diletakka pada pinggir anus. dan ini akan diikuti dengan sensasi seperti akan buang air besar.

dan bentuk kelenjar prostat harus diperiksa.Catatlah setiap massa.Kelenjar prostat terletak di sebelah anterior rektum.Nodulus keras.Vesikulus seminalis terletak terletak di bagian atas kelenjar prostat dan jarang teraba. . Palpasi Kelenjar Prostat . berbentuk seperti hati. simetris/tidak. . permukaannya halus dan kokoh. dimana apeks hati mengarah ke anus. diameter kira-kira 4 cm.Dinding lateral. posterior dan anterior rektum di palpasi.Spina ischiadika. kelenjar prostat membesar secara simetris dan lunak yang menonjol ke dalam lumen rektum. . . mempunyai konsistensi seperti bola karet keras.Ukuran. . sedangkan Benign Hipertrofi Prostat (BPH). . . . pemeriksa harus memutar punggungnya menghadapi pasien sehingga pemeriksa dapat melakukan hiperrotasi tangannya.Kenalilah sulkus median dan lobus-lobus lateral. konsistensi.Agar seluruh keliling dinding rektum dapat diperiksa.Dinding lateral diraba dengan merotasikan jari sepanjang sisi-sisi rektum. asimetris mengarah ke kanker prostat dan paling sering menterang lobus posterior. . kecuali jika membesar. Dalam keadaan normal. yang dapat melekat pada dasarnya (sesil) atau melekat pada tangkainya (pedunkulus).Dinding rektum dipalpasi untuk mengetahui adanya polip.Dengan perlahan-lahan keluarkan jari pemeriksa. .Palpasi Dinding Rektum . permukaan. Margo superior biasanya terlalu tinggi untuk dapat dijangkau.Pemeriksaan rektum diakhiri dengan memberitahukan pasien bahwa pemeriksa akan segera menarik jari telunjuk pemeriksa. os coccygeus. nyeri tekan atau nodulus. dan sakrum bawah dapat diraba dengan mudah. . Setiap ketidakaturan atau nyeri tekan yang tidak semestinya harus dicatat. 37 .

38 .

posterior dan anterior rektum) : polip.. Palpasi Dinding Rektum (Dinding lateral. d./28 x 100% = 39 .. termasuk efek lubrikasi yang diberikan Persiapan Mengatur posisi pasien : sims/litotomi/berdiri Memakai sarung tangan Dokter berdiri di kanan/belakang/di depan tungkai pasien (tergantung posisi pasien) Teknik (posisi pasien :sims) Melaburi pelumas pada jari telunjuk tangan kanan yang bersarung tangan dan meletakkan tangan kiri pada bokong pasien Tangan kiri merentangkan bokong pasien.. jari telunjuk kanan dengan perlahan-lahan diletakkan pada pinggir anus.. h. g. Keterangan: 0 = tidak dilakukan 1 = dilakukan tetapi kurang sempurna 2 = dilakukan dengan sempurna Banda Aceh. 3... a... b. c...Checklist Skills : Perineal & Rectal Exam No Aspek yang dinilai 0 1. Memasukkan jari telunjuk kanan sejauh mungkin ke dalam rektum.. f.. permukaan... tangan kiri kemudian dapat dipindahkan ke bokong kiri pasien. sementara jari telunjuk kanan memeriksa rektum. e.... feses. 2. lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan...... b. konsistensi dan bentuk kelenjar prostat. nyeri tekan atau nodulus Memberitahukan pasien bahwa pemeriksa akan segera menarik jari telunjuk pemeriksa secara perlahan-lahan Melihat pada sarung tangan kemungkinan adanya : darah. lendir. dan pada saat itu jari telunjuk kanan dimasukkan ke dalam anal anus ketika sfingter anus mengendur. ketidakaturan atau nyeri tekan yang tidak semestinya. Kemudian membersihkan sisa jelly dengan tissue Memberikan informasi hasil pemeriksaan dan follow up lebih lanjut Skor 1 2 c.2012 Instruktur % Cakupan penguasaan keterampilan: Skor total .. Sfingternya harus direlaksasikan dengan tekanan lunak oleh permukaan palmar jari telunjuk Menyuruh pasien untuk mengambil napas dalam... Memberitahukan kemungkinan adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang timbul selama pemeriksaan dilakukan. b. massa intra lumen (ada/tidak) Palpasi Kelenjar Prostat : Ukuran.... jelas.. 4. a.. a.... Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stress sebelum melakukan pemeriksaan perineum & rektal : Memberi penjelasan dengan benar.. Sulkus median dan lobus-lobus lateral : massa......

2002.. 9th Ed. 7th Ed. Lange Medical Books / McGraw-Hill. L. Salt & Water Balance : Color Atlas of Physiology. Walsh PC. WB Saunders Co. Vasavada SP. Errol MD.). and Voiding Dysfunction. Retik AB. Basuki. INFOMEDIKA : Jakarta. Bates. Wein AJ I (eds.. PhD. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta. McAninch JW (eds. Sulbernagl S. Sttugart : New York. Urogynecology. 2000. B. 2006. Blackwell Science Ltd : Osney Mead-Oxford. 2003. M. Campbell’s Urology. Smith’s General Urology. 2005. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta. Kidney. 15th Ed. Purnomo.2003. Vaughan ED.D et all.. FKUI : Jakarta. Dasar-Dasar Urologi.). Guide to Physycal Examination and History Taking..MH. Diagnosis Fisik Evaluasi : Diagnosis & Fungsi di Bangsal. Female Urology. CV. Tanagho EA.. 1998. R. Buku Ajar Diagnostik Fisik. Thieme. 2001. Philadelphia : Lippincot Williams & Wilkin Despopoulos A. Swartz. Edisi IV : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Indonesia. 40 ..DAFTAR PUSTAKA Bagian Penyakit Dalam FKUI. Bickley LS. 2005. Willms J. Obsterics and Gynecology at a Glance. 2007. 5th Ed. Maecel Dekker : New York. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I.. Norwitz.

Plain Photo Abdomen. Nama lain dari foto ini adalah : 1. BOF ( Buik Overzicht Film) 3. Cystography 7. radioisotop. Caversonography 8. Retrogade Pyelography (RPG) 5. frekuensi radio dalam medan magnet. 1. Angiography. 41 . FOTO POLOS ABDOMEN Foto abdomen yang dibuat tanpa pemberian bahan kontras. UROLOGIC RADIOLOGY Tujuan Belajar Mahasiswa mampu menganalisa hasil foto plain foto BNO dengan baik dan benar. Kedokteran Nuklir (Renogram) 12. Magnetic Resonance Imaging (MRI) 11. Antegrade Pyelography (APG) 4. Computed Tomography Scanning (CT Scan) 10. BNO (Buik Nier Overzicht) 2. Foto Iktisar Rongga Perut 5. Urethography 6. Foto Polos Abdomen 2. KUB ( Kidney Ureter Bladder) 4. Intravenus Pyelography (IVP) 3. Masing-masing teknik mempunyai kelebihan dan kekurangan dalam pencitraan atau pembangkitan image (gambar) dari saluran kemih.5. Ultrasonography (USG) 9. Pendahuluan Radiologi yang khusus mempelajari traktus urinarius dengan berbagai teknik imaging baik menggunakan sinar x. Modalitas radiologi untuk traktus urinarius antara lain adalah : 1. gelombang suara maupun gelombang elektromagnetik lainnya dalam usaha menampilkan citra atau image dari tractus urinarius tersebut.

Foto akan memberikan hasil yang optimal apabila penderita dipersiapkan terlebih dahulu supaya foto bersih.  Satu malam sebelum foto.Tidak ada rotasi: Columna vertebralis harus ditengah film dengan pressus spinosus ditengah vertebra. proyeksi AP. Evaluasi Foto Polos Abdomen . Persiapan Penderita  Prinsipnya adalah usus harus bersih. jenis kelamin dan tanggal pemeriksaan harus ada.  Kemudian dibuat foto polos abdomen.00). bebas dari fecal material dan udara yang banyak didalam usus yang akan menggangu interpretasi hasil. Pelvis dan iliac wing kanan/kiri tampak simetris. hasilnya diinterpretasi. bebas dari fecal mass dan udara yang banyak. umur. 42 .  Pagi hari sebelum dilakukan pemeriksaan.batas lateral film: bayangan abdomen tidak terpotong). foto dibuat tanpa persiapan dari penderita dengan konskwensi beberapa kelainan mungkin tidak terlihat pada film.  Dua hari sebelum pemeriksaan. tablet Dulcolax 2-4 tablet atau dapat pula Castor olie 30cc.Data teknis : marker R atau L harus ada. . batas atas film: harus tampak permukaan atas ginjal. diberikan Laxatian (obat pencahar) seperti: garam inggris atau magnesium Sulphat (MgSo4) 25-30 gram. seluruh lapangan abdomen tampak pada film (batas bawah film: harus tampak petrmukaan atas simphisis pubis.  Setelah minum Laxan (kurang lebih pada jam 21. penderita makan bubur kecap.Identitas penderita: nama. Pada keadaan tertentu. dapat pula dilakukan Clysma/lavement jika masih ada keraguaan terhadap kebersihan usus  Cegah aerophagi dengan cara penderita diminta tidak banyak bicara/ketawa dan tidak boleh merokok. . maka penderita sudah tidak boleh makan apa-apa lagi dan hanya boleh minum sedikit saja sampai selesai pemeriksaan besok pagi.

Bayangan urine didalam vesica urinaria tampak lebih dens dan jika urine sangat penuh akan memberikan gambaran ground glass appearance.Ginjal a. Distribusinya: sesuai dengan topografi/letak bagian bagian usus/kolon. sedangkan bayangan udara usus halus terdistribusi di bagian tengah abdomen. bentuknya. Ukurannya : kurang lebih 3. Letaknya : kanan lebih rendah dari kiri d. kanan relatif lebih kecil dari kiri c. petanda ada suatu proses abdomen.Daerah vesica urinaria/ simphisis.3 ½ vetebra. Pada usus halus tidak boleh ada bayangan udara. mulai dari setinggi V T.Garis Psoas ( psoas line atau psoas shadow). hanya berupa suatu distended abdomen. Pada abdomen yang normal. Jumlahnya: tidak meningkat. b.Hepar dan Lien Membesar atau tidak . ukurannya dan lokasinya. . 43 . Harus jelas dan simetris. d.Bayangan kalsifikasi atau batu Jika ada bayangan kalsifikasi/batu. Bila telihat banyak bayangan udara didalam colon atau usus halus. Aksisnya : sejajar dengan psoas shadow . tetapi belum tampak gambaran air fluid level (tanda-tanda ileus). maka bayangan udara hanya terlihat pada fudus ventriculi (gaster).Gambaran udara usus a. Bayangan udara kolon tampak seperti bingkai foto (Frame like appearance) segi empat sesuai letak anatomi colon. Countournya : rata b. tetapi juga tidak boleh berlebihan.- Evaluasi bagian-bagian foto: . c. maka keadaan ini disebut meteorismus atau sub-ileus. orang tua lanjut usia (>60 tahun). bulbus duodeni dan colon. jika bayangan psoas menghilang. 12 dan berakhir pada crista iliaca. sebutkan jumlahnya. . . kecuali pada anak-anak (sebab selalu menelan udara).

bila menghilang: tanda metastasis tumor ganas ketulang belakang. Foto Polos Abdomen 2. Diafragma (jika terlihat) Diafragma kanan letaknya lebih tinggi dari diafragma kiri. Corpus vetebra : bentuknya. b. ureter dan buli-buli dengan menggunakan bahan kontras larut air (Water Soluble media) yang diinjeksikan melalui intravena untuk menilai bentuk anatomi dari ginjal dan salurannya dan menilai fungsi ekskresi dari ginjal. Gambar 1.Pyelografi intravena (PIV) Pemeriksaan radiology terhadap ginjal. Pedicle : harus tampak. 44 . Diskus intervertebralis: harus sama jaraknya.peritoneal fat line Harus terlihat.Excrerory Urography (EU) . INTRAVENOUS PYELOGRAPHY (IVP) Nama lain adalah: . Vertebrae. ostelitic atau osteoblastic proses. berupa gasis radioluscent pada dinding abdomen lateral kanan dan kiri yang makin kebawah makin menebal. ada tidak osteofite. c.- - - Pre. a.

Foto 30 menit . .Persiapan penderita sama seperti pada foto polos abdomen (BNO) .Dibuat foto empat-lima menit setelah injeksi bahan kontras.Jika ada kecurigaan ren mobilis. ANTEGRADE PYELOGRAPHY (APG) Menilai anatomi tractus urinarius bagian atas dengan menggunakan media kontras yang dimasukkan melalui kateter cystostomi.Foto terlambat. dibuat foto dalam posisi berdiri (erect) Gambar 2. jika konsentrasi dan ekskresi bahan kontras pada 1-8 jam. . . Teknik: .Foto 15 menit . 45 .Dibuat foto pendahuluan atau foto control (BNO) sebelum diinjeksikan bahan kontras.Indikasinya: Setiap kecurigaan adanya kelainan dari tractus urinarius. IVP 3.

Oblique kanan.4. Oblique kiri dan Lateral. RETROGRADE PYELOGRAPHY (RPG) Menilai anatomi traktus urinarius bagian atas dengan menggunakan media kontras melalui kateter yang dimasukkan kedalam lumen ureter melalui cystoscopy. URETHRO-CYSTOGRAPHY. Gambar 3. Gambar 4. Uretro-cystography 46 . kemudian dibuat foto proyeksi AP. RPG 5. Memasukkan larutan bahan kontras kedalam lumen urethra hingga vesica urinaria.

kemudian radiasi dari ginjal penderita ditangkap oleh 2 detektor yang diletakkan pada punggung penderita setinggi ginjal kanan dan kiri. CT SCAN A B C Gambar 5. irisan ureter (B) dan irisan setinggi buli-buli (C) Tanda panah menunjukkan ureter yang telah terisi bahan kontras.6. 7. RENOGRAM Sebanyak 20-30 µCi dari 131 I. A B Gambar 6. Irisan setinggi ginjal (A). Hasil ditampilkan berupa grafik seperti dibawah ini. Renogram : (A) renogram normal (B) stenosis arteri renalis kiri 47 .hippuran (suatu radiofarmaka) diinjeksikan intravena.

48 . ujung cateter diarahkan ke dalam lumen arteri renalis. ANGIOGRAPHY Dengan teknik Seldinger. kemudian diinjeksikan bahan kontras.8.

Keterangan: 0 = tidak dilakukan Banda Aceh. mulai dari setinggi V T... ukuran.. b. f. aksis Daerah vesica urinaria/symphysis Bayangan kalsifikasi atau batu... pedicle.. 3. pertanda ada suatu proses abnormal Ginjal : kontur... c. 4. 2....2012 1 = dilakukan tetapi kurang sempurna 2 = dilakukan dengan sempurna Instruktur % Cakupan penguasaan keterampilan: Skor total . Aspek yang Dinilai Persiapan penderita Evaluasi teknis Data teknis : marker R atau L harus ada. letak./28 x 100% = 49 .. letak Menyimpulkan hasil pembacaan foto 0 Skor 1 2 b.. bentuk. d.... discus intervertebralis Diafragma (jika terlihat) : bentuk.. jika bayangan psoas menghilang... h. distribusi Hepar dan Lien : membesar atau tidak Garis Psoas (psoas line atau psoas shadow) : harus jelas dan simetris. i... batas lateral filem: bayangan abdomen tidak terpotong) Tidak ada rotasi : Columna vertebralis harus ditengah filem dengan processus spinosus di tengah vertebra. makin ke bawah makin tebal Vertebrae : corpus vertebra... pelvis dan iliac wing kanan/kiri tampat simetris Evaluasi bagian-bagian foto: Gambaran udara usus : jumlah..... jika ada: jumlah.. g. a... seluruh lapangan abdomen tampak pada filem (batas bawah filem: harus tampak permukaan atas symphysis pubis. a.. e..Cheklist Urologic Radiology No 1..12 dan berakhir pada os ilium... ukuran... batas atas filem: harus tampak permukaan atas ginjal.. lokasi Pre-peritoneal fat line : terlihat garis radioluscent dinding abdomen lateral kiri-kanan..

KOMUNIKASI KASUS SENSITIF Anamnese Pasien menggunakan Ketrampilan Komunikasi untuk Kasus Sensitif Dalam Diagnosis Fisik Tujuan Belajar : Mahasiswa mampu melakukan teknik komunikasi dengan menggali & mengumpulkan informasi seluas mungkin mengenai perjalanan alamiah penyakit yang bersifat sensitif. sehingga mau bekerja sama untuk melaksanakan pengobatannya. diet. yaitu usaha untuk mencari dan mengetahui riwayat penyakit pasien. dalam meminta informasi pada pasien anda. Dokter dituntut punya ketrampilan dalam melakukan komunikasi dan mampu memotivasi pasiennya. sehingga waktu penyembuhan menjadi lebih singkat. roentgen. yang terdiri dari Allonamnese dan Heteroanamnese. istirahat. keluhannya. yaitu pemeriksaan melalui.lain sesuai dengan kebutuhannya. perkusi. Anamnese. Dalam melakukan Diagnosis Fisik terhadap pasien atau kliennya. baik keadaan sekarang. dan lain. Anda dituntut menjadi pendengar yang baik. kalau perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan tambahan. dengan urutan pemeriksaan sebagai berikut : anamnese.6. Pekerjaan ini dilakukan melalui wawancara (anamnese) dengan pasien atau keluarganya. laboratorium klinik. maupun Riwayat Sosialnya. EKG. II. auskultasi. sehingga berlangsung secara efektif & efisien I. menggunakan kata-katanya sendiri. riwayat penyakit masa lalu. anda “bukan sebagai penyidik perkara”. Diharapkan perasaan yang tersembunyi didalam dirinya yang menyangkut tentang rahasia penyakitnya. Rahasia penyakit pasien dapat 50 . Alloanamnese dilakukan melalui tatap muka antara anda sebagai dokter dengan pasien anda (klien medik). Pasien harus diberikan waktu yang cukup untuk menjelaskan riwayat penyakitnya. Tulisan ini hanya membicarakan tentang Anamnese terhadap kasus sensitif dalam sistem Diagnostik Fisis. palpasi.

Audible. Visual. Dittman mengatakan ada 3 saluran yang digunakan untuk menyatakan perasaa. yang seluruhnya sangat tergantung dari tingkat partisipasi. adalah keterangan tentang perjalanan penyakit pasien. merupakn saluran pernyataan emosi melalui tampilan raut wajah dan gerakan anggota tubuh.. 51 . sampai mencapai titik klimak. pada pasien dewasa termasuk teman dekatnya. malalui wawancara malalui orang ketiga (orang lain). manusia menjadikan wajahnya sebagai media ekspresi perasaan. memukul-mukul kepala (gambaran ketakutan dan kebingungan). Dalam komunikasi ini anda jangan membuat pertanyaan dengan jawaban “ ya atau tidak” Menurut Dittman. antara lain gerak-gerik anggota tubuh. Pertanyaan yang diajukan makin lama makin mendalam. 2. Data yang diperoleh belum tentu valid. Saluran Komunikasi Perasaan. Pada pasien anak. Contoh. sebagian kecil manusia juga menyatakan perasaan melalui perilaku non verbal lainnya. maka perlu diadakan cross-check terhadap hasil wawancaranya dan perlu konsistensi jawaban yang diberikan. Heteroanamnese. situasi dan kondisi serta latar belakang kebudayaan komunikan (misalnya parasaan malu). yaitu orang-orang yang mengetahui banyak hal ihwal dan perjalanan penyakit si penderita. merupakan saluran pernyataan emosi berupa “tanda” yang memancar dari dari fungsi gerakan-gerakan tubuh. ruang antar pribadi. mungkin si anak tidak mampu berkomunikasi dengan baik tentang masalah penyakitnya.terungkap juga melalui ekspresi wajahnya (wajah sebagai media ekspresi perasaan). Pycho-psysiological. Dokter harus mampu mengorek keterangan-keterangan khusus dari penderita tentang perjalanan penyakitnya. Kemudian lanjutkan lagi wawancara anda kepada pertanyaan-pertanyaan terbuka dan santai. suara terengah-engah. yaitu: 1. 3. semakin khusus. kata-katanya yang digunakannya. merupakan saluran pernyataan emosi melalui bahasa dari pralinguistik. mungkin juga saudaranya. maka orang tuanya yang di wawancarai. penyuaraan.

dokter tidak mendapat informasi yang lengkap. Pasien dalam menjawab pertanyaan dokter menggunakan bahasa isyarat yang tidak dapat di mengerti oleh dokter. berkaitan dengan hubungan organ seksual. (pasien tidak berterus terang) dokter enggan untuk menggali informasi lebih lanjut. Perbedaannya terletak orang atau individu yang di wawancarai atau individu yang diminta data atau keterangannya. walaupun informasi tersebut sangat membantu dokter dalam menegakan diagnosisnya. ialah keluarga atau orang terdekat dengan kliennya dan yang bersangkutan mengetahui benar tentang data penyakit si klien tersebut. ANAMNESIS KASUS SENSITIF Anamnesis kasus sensitif meliputi anamnesis yang menyangkut informasi yang berkaitan dengan hal-hal yang tabu.Pada dasarnya heteroanamnese tidak jauh berbeda dengan anamnese biasa. Keadaan 52 . perbuatan-perbuatan yang dilakukan klien melanggar agama atau melanggar kesusilaan. Hal ini diperlukan untuk kelengkapan data dan penegakan diagnosis yang tepat dan benar. hal-hal yang tidak umum dibicarakan sehingga dapat menurunkan martabat pribadinya. maka terapinya juga tidak maksimal. dimana si pasien tidak mengemukakan semua keluhannya atau tanda-tanda penyakit yang dideritanya. pekerjaan yang memalukan. sehingga pasien sangat enggan memberikan informasinya. Heteroanamnese banyak digunakan pada pasien anak-anak dan pasien gangguan jiwa. sama cara melakukan anamnese biasa. yang perlu ditekankan identitas keduanya dicatat. Dokter maupun pasien sering akan mendapat kesulitan dalam berkomunikasi. bagaimana kedekatannya sehingga keterangan yang didapat betul-betul akurat. III. bagaimana hubungan antara pasien dengan sipemberi informasi. Tahapan-tahapan dalam melakukan heteroanamnese. Hal-hal diatas akan dapat merugikan kedua belah pihak. sehingga dalam memberi diagnosis tidak tetap. Dalam pemeriksaan anamnese dokter meminta bantuan untuk dapat mendatangkan keluarga atau temannya si klien yang benar-benar tahu tentang keadaan si pasien.

sangsi-sangsi dalam mengutarakan keluhannya. pernah di rawat di rumah sakit jiwa. penggunaan obat kuat untuk seksual dan sebagainya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan anamnesis pada kasus sensitif. antara lain adalah. Identitas yang diperlukan. timbul sambung rasa awal sampai akhir pelaksanaan anamnesis. serta data pribadi lainnya misalnya teman sekamar. pasangan muda-mudi yang belum menikah. Sejak pasien masuk keruang periksa dokter. ada rasa malu. keengganan pasien mengungkapkan hal-hal yang tabu. cara memperoleh penghasilan tambahan dan sebagainya. Doker harus berprasangka ada sesuatu yang disembunyikan pasiennya. ataupun menggunakan istilah khusus. Dokter sudah harus siap dengan yang berkemungkinan terhadap hal-hal yang sensitif.ini akan menimbulkan biaya pengobatan menjadi lebih tinggi dan masa penyembuhan penyakit menjadi lebih lama. teman sekantor. umur. teman berkencan. atau di bangsal. Nama seseoang dapat menjelaskan tempat asalnya. pernah menggunakan jasa paranormal. Hal ini menjadi lebih sensitif atau menjadi lebih peka apabila menyangkut pertanyaan tentang organ kelamin. 53 . pernah di penjara. pasien menggunakan bahasa non verbal. baik sebagai orang tuanya yang mengantar anaknya dengan retardasi mental. pernah menggunakan narkoba. alamat tempat tinggal. Keadaan ini juga menunjukkan sifat terbuka atau tertutup dari si pasien. Sering juga pasien segan menyebutkan umur yang sebenarnya. terutama pada wanita yang belum kawin ataupun kawin dini. seharusnya dokter sudah harus mengetahui kemungkinan akan adanya hal-hal yang sangat sensitip dari si pasien maupun dari pengantar pasien. berbicara lirih. sehingga si pasien sering memberi nama samarannya dan enggan memberikan nama lengkap serta pekerjaannya atau kedudukannya. pangkat dan keturunannya. kemampaun seksual/impotensi. nama keluarga. pekerjaan.Identitas Penderita Komunikasi antara dokter dengan pasien berlangsung sejak bertemu pertama di kamar dokter. pernah mengunjungi tempat prostitusi. minta hanya ditulis umur dewasa. meliputi : nama. . keturunannya.

kotor. berwibawa dan sopan.Cara melakukan anamnese Hambatan komunikasi. Dokter harus dapat menunjukkan sikap formal sebagai dokter. sikap pasien yang berusaha untuk menutupi informasi. mungkin juga menggunakan istilah khusus untuk bagian badannya yang tabu (organ kelamin). . wanita penghibur. tetapi dapat sebaliknya. pasien berbicara lirih atau sangsi-sangsi melihat kiri kiri kanan seakan-akan rahasianya kurang terjamin karena kamar praktek dokter tidak tertutup rapat. untuk lebih akuratnya diagnosis dan pengobatannya yang diberikan dokter. ruang praktek juga terjamin kerahasiaannya.Alamat yang disembunyikan si pasien. berkaitan dengan desanya/kampungnya terkenal kampung kambuh. mampu memperhatikan bahasa non verbal. misalnya kawin sudah berkali-kali. data yang diberikan pasien betul-betul untuk kelengkapan informasi medis. lelaki penghibur. atau status pisah ranjang dan sebagainya termasuk dalam hal yang sensitif. Informasi tentang pekerjaan sering juga di sembunyikan. Status perkawinan pasien juga merupakan hal yang sensitif. kampung muslim/perumahan elite yang bersangkutan merasa malu atau kampungnya tercemar karena ulahnya. dokter punya sifat terbuka. dokter sudah harus mampu mengetahui atau mengidentifikasi sejak awal. maka dokter haruas mampu menyakinkan rahasia yang disampaikan pasien cukup terjamin. Dokter harus mampu memberikan keyakinan pada pasien. Si pasien memberi alamat lain atau menyebutkan tinggal di sekitar atau seputar terminal. pemulung dan sebagainya. bahasa ini dapat lebih jujur dalam menyuarakan isi hati. status janda. duda. pekerja diskotik. Untuk mendapat yang konkrit. Kalau si dokter telah memutuskan menghadapi pasien dengan kasus sensitif. misalnya mucikari. Mengatasinya sejak terjalinnya sambung rasa. karena pekerjaannya kurang wajar. Dokter harus serius dalam mendengar keluhan pasien. mampu berkomunikasi yang baik dan pasien tidak boleh dihakimi. apakah suka 54 . banyak pemuda nakal dan sebagainya. terlihat adanya sikap malu-malu dari si pasien. Hal-hal diatas memperlihatkan sebagai suatu isyarat bahwa pasien mempunyai masalah yang berkaitan dengan hal-hal yang sensitif. Perhatikan pola pasien dalam berkomunikasi.

dalam anamnese keluhan sensitif harus di kuasai oleh dokter. atau suka berbelit-belit dan sebagainya. Dokter tidak boleh memvonis si pasien dengan sakit epilepsi atau ayan. Dalam wawancara jangan dokter bertindak menebak informasi dari si kliennya. kecuali bila melakukan cross-check. biarkan pasien menjawab dengan bebas. Penguasaan bahasa non verbal dari dokter sangat diperlukan yaitu membantu dokter dalam menangkap semua informasi yang di sampaikan si pasien. biasanya pasien tidak merasa senang bila ditebak. epilepsi dengan sawan/santet. Istilah tersebut harus di mengerti si dokter. pengobatan yang tepat. sehingga waktu pengobatan menjadi lebih singkat. tetapi harus kontrol dan makan obat yang teratur. misalnya penyakit TBC dikenal dengan istilah flek paru. Dokter harus menyampaikan pada pasiennya informasi dari si pasien sangat diperlukan untuk mampu menegakkan diagnosa. tetapi jelaskan tentang penyakit tersebut dapat diobati. Istilah-istilah diagnostik kedokteran. kalau di diagnosa sawan atau epilepsy. Orang tua barangkali mengatakan anaknya kena penyakit santet atau kena guna-guna disetai kejang. Gunakan pertanyaan terbuka. apalagi kalau pengobatannya tidak benar karena dokter tidak mendapat informasi yang benar dari si pasien. malahan pasien orang dewasa juga tidak dapat menerima.berbicara terus terang. Istilah atau bahasa-bahasa yang sering dipakai masyarakat. Dokter sebaiknya menjelaskan perjalanan penyakit tersebut dengan bahasa yang di mengerti si pasien. Kalau informasi tidak lengkap dokter harus melengkapi pada kunjungannya yang berikutnya. pasien anak yang dibawa orang tuanya.Penggalian riwayat penyakit dengan kasus sensitif 55 . . retardasi mental dengan kurang tanggap atau kurang perhatian. barangkali untuk menjaga proses komunikasi yang baik dengan pasiennya. juga sebaliknya kalau dokter perempuan dengan pasien laki-laki. juga sering bermasalah. gonorhoe dengan istilah flek alat kelamin. Dokter pria sangat sulit mendapat informasi dari pasien perempuan kalau menyangkut informasi tentang kelainan yang menyangkut organ kelamin. tetapi dokter harus mampu menjelaskan pada kliennya tentang segala resiko dari penyakit tersebut.

Permohonan pemeriksaan bagian tubuh yang dianggap sensitif Sebagai kelanjutan dari anamnese. memotivasi pasien dengan baik.Penyampaian diagnosis kasus sensitif Dalam menginformasikan prognosis penyakit pada si pasien. epilepsi. . yang meliputi organ vital/kelamin. Ajak 56 . Dokter harus memberikan penjelasan yang tepat dan pasien harus memberikan persetujuan sebelum tindakan dilaksanakan. waktu penyembuhan/perawatan menjadi singkat. biasanya pasien akan mampu menerima dan mau melakukan dengan rela apa yang diminta dokter. TBC dll. tidak mengganggu perasaan pasien. dokter perlu memeriksa bagian tubuh tertentu dari pasien yang merupakan daerah tubuh yang dianggap sangat sensitif oleh si pasien. penyakit kelamin. kelompok penyakit kelamin. mammae. Dokter sangat mengharapkan keterbukaan pasien sehingga ada kerelaan si pasien dalam memberikan informasi. dokter seharusnya mengetahui tingkat sensitivitas pasien dalam menerima diagnostik penyakitnya. barangkali dapat menyinggung perasaan pasien. . anak retardasi mental. untuk kesembuhan penyakitnya.Penyampaian informasi kasus sensitif Dokter harus mampu berkomunikasi. Dokter harus mampu menggunakan bahasa yang dipakai masyarakat tentang istilah penyakit tersebut. semua informasi untuk membantu menegakkan diagnostik penyakitnya. epilepsi. HIV/AIDS dan lainlain.Usaha untuk mengetahui riwayat penyakit yang diderita pasien. kasus-kasus depresi. Yang termasuk kelompok penyakit sensitif. gangguan jiwa. antara lain retardasi mental. sehingga pengobatan tetap sasaran. deviasi seksual (lesbian. Penyakit yang masuk dalam kelompok ini antara lain. beritahukan juga kadang kala pemeriksaan ini menimbulkan rasa sakit. Apabila sudah terjalin sambung rasa yang mantap. Dokter harus mampu menyakinkan pasien. harus di anamnesis dengan hati-hati. dubur dan sebagainya. homoseksual). gangguan seksual. terutama penyakit-penyakit yang sensitif dan stressor. untuk itu si pasien diajak terus berbicara ringan untuk mengalihkan perhatian si pasien . semua informasinya adalah kerahasiaan pasien.

dengan harapan pasien dapat membantu dalam menyelesaikan masalahnya. misalnya terkena infeksi gonorhoea. penyakit ini bukan karena faktor keturunan saja. 57 . juga dapat terjadi karena proses pertumbuhan janin dalam kandungan. jelaskan bagaimana kemungkinan terifeksinya dan karena adanya perselingkuhan. Hindari hal-hal yang dapat mencetuskan keributan dalam keluarga atau pasangan suami isteri yang berkaiatan dengan terinfeksinya salah seorang dari mereka dengan infeksi penyakit kelamin. tetapi juga dapat disebabkan faktor eksternal diluar kemampuan suami-isteri.pasien mau berdiskusi tentang penyakit yang dideritanya. Kasus anak dengan retardasi mental. Dengan pemberian informasi yang jelas serta tidak menyinggung perasaan dan tidak mengganggu pola sentra si pasien diharapkan menimbulkan ketentraman dalam keluarga si pasien. Konselor (dokter) harus mempunyai sifat kepekaan dalam menerima dan memberi informasi dan penjelasan yang baik pada kasus-kasus sensitif.

RD (1994) Counseling Strategies And Intervention Techniques For The Human Services.Jusuf Hanafiah & Amri Amir (1999). EGC Gerungan. WA (1994) Psikologi Sosial. Jakarta.Daftar Pustaka Adams. Eresco M. Boston. EGC Parsons. Allyn and Bacon 58 . Jakarta. Bandung. Bandung. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan. EGC Alo Leliweri. Jakarta. Citra Aditya Bakti Delp & Manning (1996) Diagnosis Fisik. (1997) Komunikasi Antarpribadi. (1995) Diagnosis Fisik.

Menunjukkan empati . Aspek yang dinilai Aspek keterampilan komunikasi : Membina sambung rasa .Menjelaskan kepentingan penggalian data yang sensitif . berwibawa 4.Mampu mencatat/mengutarakan kembali secara sistematis & benar Keterampilan menjaga proses anamnesis : .Memperlihatkan sikap menerima .Cheklist Skill Penilaian Komunikasi Kasus Sensitif Skor No I 1.Memberikan informasi dengan bahasa yang mudah dipahami terhadap hal-hal yang bersifat sensitif 0 1 2 2. 3. Keterampilan menggali dan mendiskusikan hal yang sensitif : .Menggunakan bahasa verbal yang dipahami dan non verbal .Menyebutkan nama pasien pada awal anamnesis Keterampilan mengumpulkan informasi : .Penampilan baik.Meyakinkan kerahasiaan data tersebut .Mengajukan pertanyaan yang tepat . 59 .Menjadi pendengar yang baik .Melakukan cross check . ramah.Mempersilahkan duduk .

Sifat ..Kapan mulai .... Menggali riwayat penyakit dahulu . Melakukan anamnesis sistem . Menanyakan keluhan utama 7.Penyebaran .Menanyakan alamat dan pekerjaan 6.2011 0 = tidak dilakukan 1 = dilakukan tetapi kurang sempurna 2 = dilakukan dengan sempurna Cakupan penguasaan keterampilan : skor total /58 x 100% = % Instruktur II 5.Aspek keterampilan menggali informasi : Menanyakan identitas : ... 60 ....Penyakit lain yang pernah diderita 9.Menanyakan apakah ada anggota keluarga/tetangga yang sakit serupa 10...Lama diderita ..Ada/tidaknya penyakit sebelumnya.Letaknya . Menggali penyakit keluarga dan lingkungan . .Pengobatannya 8. Menggali riwayat penyakit sekarang : . khususnya berkaitan dengan keluhan .Sistem lain yang ada Keterangan Banda Aceh.Akibatnya ...Keluhan sistem yang berkaitan dengan keluhan utama ...Menanyakan nama.Frekuensi ..... umur ...

pemeriksaan fisik pada dasarnya dibagi atas dua jenis. tetapi pada dasarnya dibutuhkan suatu pemeriksaan yang rutin atau baku. PEMERIKSAAN FISIK ORTOPEDI  PEMERIKSAAN FISIK ORTOPEDI UMUM Pemeriksaan fisik pada penderita memerlukan beberapa prinsip pemeriksaan. Pemeriksaan fisik mempunyai arti yang penting dalam menguatkan data-data yang kita temukan dalam anamnesis dan sekaligus memberikan kepada kita pilihan terhadap pemeriksaanpemeriksaan khusus/tambahan lainnya yang perlu kita lakukan. misalnya penderita yang memerlukan penanganan darurat 61 . Pada bidang ilmu bedah ortopedi. Pemeriksaan fisik umum 2. Pemeriksaan fisik juga disesuaikan dengan keadaan dan kondisi penderita. PEMERIKSAAN FISIK MUSKULOSKELETAL Tujuan Belajar :  Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fisik muskuloskeletal secara benar & mampu mengaitkan dengan keadaan klinis pasien sehingga kemungkinan diagnosis dapat ditentukan. tahap demi tahap agar pemeriksaan tidak berulang. Pemeriksaan fisik ortopedi a. yaitu: 1. Pemeriksaan fisik ortopedi umum b. Teknik pemeriksaan secara alami bervariasi pada setiap individu. Pemeriksaan dilakukan secara sistematik karena sebagian penderita yang datang adalah penderita yang sudah berumur dan biasanya mempunyai kelainan lain selain kelainan muskuloskeletal yang dikeluhkan. Pemeriksaan fisik ortopedi regional 1.7. 2. PEMERIKSAAN FISIK UMUM Pemeriksaan fisik ini dilakukan sebagaimana pemeriksaan fisik bidang kedokteran lainnya dan bertujuan untuk mengevaluasi keadaan fisik penderita secara umum serta melihat apakah ada indikasi penyakit lainnya selain kelainan muskuloskeletal.

Tetapi harus diingat bahwa keluhan pada satu tempat mungkin akibat dari kelainan pada tempat lain. sehingga tidak cukup hanya dengan memeriksa pada tempat dengan keluhan utama. Pemeriksaan fisik ortopedi yang dilakukan meliputi:  Pemeriksaan bagian dengan keluhan utama. Kapas 2. Selalu menyiapkan perlengkapan pemeriksaan (gambar 4. Pensil untuk kulit (marker) 7. Refleks hammer 6. sistematik dan terarah Periksa tempat lain yang mungkin ada hubungannya Pemeriksaan secara cepat di daerah lain yang mungkin ada hubungannya untuk menegakkan diagnostik. Status generalis Dalam pemeriksaan ortopedi secara umum.maka pemeriksaan fisik yang dilakukan seperlunya saja sesuai kebutuhan yang ada.1) Pemeriksaan bagian badan secara hati-hati. 1. saat penderita datang pada kita sudah merupakan suatu pemeriksaan awal menyeluruh secara sambil lalu dengan melihat postur dan cara berjalan penderita.  Pemeriksaan kemungkinan nyeri kiriman dari sumber di tempat lain (referred pain) Prinsip-prinsip dasar pemeriksaan ini terdiri atas:       Perlu cahaya yang baik atau terang dan bagian tubuh yang diperiksa tidak tertutup atau telanjang. Pemeriksaan bagian dengan keluhan utama yang dikeluhkan dilakukan secara teliti. Jarum kecil 3. Meteran 8. Untuk pemeriksaan muskuloskeletal diperlukan peralatan: 1. Anggota gerak yang sehat diperiksa dan harus terbuka Jangan memeriksa secara tergesa-gesa dan hadapkan muka pemeriksa ke muka penderita untuk memberikan kepercayaan. Goniometer peralatan- 62 . Senter saku 4. Stetoskop 5.

63 . raut muka. cara berjalan. ekspresi wajah. kecemasan serta reaksi emosional lainnya untuk melihat aspek-aspek emosional dan somatis dari penderita. proporsi tinggi badan terhadap anggota tubuh lainnya. cara duduk dan cara tidur. keadaan simetris bagian tubuh kiri dan kanan. Pemeriksaan fisik mempunyai nilai yang paling penting di dalam memperkuat penemuan-penemuan yang berhasil kita dapatkan dari riwayat / anamnesis yang telah kita buat dan menambah atau mengurangi pilihan diagnosis yang dapat kita lakukan.Pemeriksaan fisik sebenarnya sudah dimulai ketika penderita datang ke dokter dengan mengamati penampakan umum penderita. cara berjalan dan tingkah laku.

2. Status Lokalis Pemeriksaan dilakukan secara sistematis dengan urut-urutan sebagai berikut:  Insoeksi (Look)  Palpasi (Feel)  Kekuatan otot (Power)  Penilaian gerakan sendi baik pergerakan aktif maupun pasif (Move)  Auskultasi  Uji-uji fisik khusus

Inspeksi (Look) Inspeksi sebenarnya telah dimulai ketika penderita memasuki ruangan periksa. Pada inspeksi secara umum diperhatikan raut muka penderita, apakah terlihat kesakitan. Cara berjalan sekurangkurangnya 20 langkah, cara duduk dan cara tidur. Inspeksi dilakukan secara sistematik dan perhatian terutama ditujukan pada: a. Kulit, meliputi warna kulit dan tekstur kulit. b. Jaringan lunak, yaitu pembuluh darah, saraf, otot, tendo, ligamen, jaringan lemak, fasia, kelenjar limfe. c. Tulang dan sendi. d. Sinus dan jaringan parut :  Apakah sinus berasal dari permukaan saja, dari dalam tulang atau dalam sendi.  Apakah jaringan parut berasal dari luka operasi, trauma atau supurasi Palpasi (Feel) Yang perlu diperhatikan pada palpasi adalah: a. Suhu kulit, apakah lebih panas/dingin dari biasanya, apakah denyutan arteri dapat diraba atau tidak. b. Jaringan lunak; palpasi jaringan lunak dilakukan untuk mengetahui adanya spasme otot, atrofi otot, keadaan membran sinovia, penebalan membran jaringan sinovia, adanya tumor dan 64

c.

d.

e.

f.

sifat-sifatnya adanya cairan di dalam/di luar sendi atau adanya pembengkakan. Nyeri tekan; perlu diketahui lokalisasi yang tepat dari nyeri, apakah nyeri setempat atau nyeri yang bersifat kiriman dari tempat lain (referred pain). Tulang; diperhatikan bentuk, permukaan, ketebalan, penonjolan dari tulang atau adanya gangguan di dalam hubungan yang normal antara tulang yang satu dengan lainnya. Pengukuran panjang anggota gerak; terutama untuk anggota gerak bawah dimana adanya perbedaan panjang merupakan suatu hal yang penting untuk dicermati. Pengukuran juga berguna untuk mengetahui adanya atrofi/pembengkakan otot dengan membandingkannya dengan anggota gerak yang sehat. Penilaian deformitas yang menetap; pemeriksaan ini dilakukan apabila sendi tidak dapat diletakkan pada posisi anatomis yang normal.

Kekuatan Otot (Power) Pemeriksaan kekuatan otot penting artinya untuk diagnosis, tindakan, prognosis serta hasil terapi. Penilaian dilakukan menurut Medical Research Council dimana kekuatan otot dibagi dalam grade 0-5 (gambar 4.2), yaitu: Grade 0 Grade 1 : Tidak ditemukan adanya kontraksi pada otot : Kontraksi otot yang terjadi hanya berupa perubahan dari tonus otot yang dapat diketahui dengan palpasi dan tidak dapat menggerakkan sendi : Otot hanya mampu menggerakkan persendian tetapi kekuatannya tidak dapat melawan pengaruh gravitasi : Di samping dapat menggerakkan sendi, otot juga dapat melawan pengaruh gravitasi tetapi tidak kuat terhadap tahanan yang diberikan oleh pemeriksa : Kekuatan otot seperti pada grade 3 disertai dengan kemampuan otot terhadap tahanan yang ringan : Kekuatan otot normal

Grade 2 Grade 3

Grade 4 Grade 5

65

Pergerakan (Move) Pada pergerakan sendi dikenal dua istilah yaitu pergerakan yang aktif merupakan pergerakan sendi yang dilakukan oleh penderita sendiri dan pergerakan pasif yaitu pergerakan sendi dengan bantuan pemeriksaan. Pada pergerakan dapat diperoleh informasi mengenai: a. Evaluasi gerakan sendi secara aktif dan pasif  Apakah gerakan ini menimbulkan rasa sakit.  Apakah gerakan ini disertai dengan adanya krepitasi. b. Stabilitas sendi Terutama ditemukan oleh integritas kedua permukaan sendi dan keadaan ligamen yang mempertahankan sendi. Pemeriksaan stabilitas sendi dapat dilakukan dengan memberikan tekanan pada ligamen dan gerakan sendi diamati. c. Pemeriksaan ROM (Range of Joint Movement) Pemeriksaan batas gerakan sendi harus dicatat pada setiap pemeriksaan ortopedi yang meliputi batas gerakan akti dan batas gerakan pasif. Setiap sendi mempunyai nilai batas gerakan normal yang merupakan patokan untuk gerakan abnormal dari sendi. Di kenal beberapa macam gerakan pada sendi, yaitu: abduksi, adduksi, ekstensi, fleksi, rotasi eksterna, rotasi interna, pronasi, supinasi, fleksi lateral, dorso fleksi, plantar fleksi, inversi dan eversi. Gerakan sendi sebaiknya dibandingkan dengan mencatat gerakan sendi normal dan abnormal secara aktif dan pasif.

66

Auskultasi Pemeriksaan auskultasi pada bidang bedah ortopedi jarang dilakukan dan biasanya dilakukan bila ada krepitasi misalnya pada fraktur atau untuk mendengar bising fistula arteriovenosa.  PEMERIKSAAN FISIK ORTOPEDI REGIONAL

Beberapa Terminologi Dalam Ortopedi Untuk memudahkan pemahaman maka sebelum pemeriksaan regional ortopedi dibahas, akan dijelaskan terlebih dahulu beberapa terminologi yang sering digunakan dalam bidang ilmu bedah ortopedi, yaitu: 1. Terminologi dari gerakan sendi. ROM merupakan istilah baku untuk menyatakan batas/besarnya gerakan sendi dan sebagai dasar untuk menetapkan adanya kelainan atau menyatakan besarnya gerakan sendi yang abnormal. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, dikenal gerakan sendi aktif dan pasif sehingga penilaian ROM juga terbagi dua yaitu ROM pada gerakan sendi aktif dan ROM pada gerakan sendi pasif. 2. Terminologi klinik yang berpasangan dalam bedah ortopedi Abduksi dan Adduksi Gerakan abduksi dan adduksi dapat ditemukan pada sendi bahu, panggul, sendi metakarpo-falangeal dan metatarso-falangeal. Abduksi adalah gerakan yang menjauhi garis tengah tubuh. Adduksi adalah gerakan yang mendekati garis tengah tubuh. Pada tangan dan kaki, garis tengah terletak pada jari tengah tangan dan kaki (gambar 4.3).

67

Dorso Fleksi dan Plantar/palmar Fleksi Dorso fleksi adalah gerakan dari jari-jari kaki atau ibu jari kaki dengan arah permukaan ke dorsal sedangkan gerakan dorso fleksi pada jari-jari tangan dan pergelangan tangan juga terhadap permukaan dorsal. Plantar fleksi adalah gerakan pada jari kaki dan ibu jari kaki ke arah permukaan plantar kaki. Palmar fleksi adalah gerakan pada jari tangan kea arah permukaan palmar (gambar 4.4) Inversi dan Eversi Gerakan eversi dan inversi terjadi secara simultan pada sendi subtalar dan midtarsal kaki. Eversi adalah gerakan berputar permukaan plantar kaki ke arah luar terhadap tungkai bawah. Inversi adalah gerakan berputar permukaan plantar kaki ke arah dalam terhadap tungkai bawah (gambar 4.5)

68

panggul dan sedikit pada lutut. Rotasi interna adalah gerakan berputar dari permukaan depan anggota gerak ke dalam/ke medial. 69 .6) Pronasi dan Supinasi Gerakan pronasi dan supinasi terjadi pada anggota gerak lengan bawah melalui sendi siku dan sendi pergelangan tangan (gambar 4.7) serta pada kaki depan (forefoot) melalui sendi midtarsal.Rotasi Interna dan Rotasi Eksterna Rotasi interna/rotasi media dan rotasi eksterna/lateral dapat terjadi pada sendi bahu. Rotasi eksterna adalah gerakan berputar dari permukaan anggota gerak ke arah luar/lateral (gambar 4.

Kalkaneus adalah deformitas pada kaki di mana telapak kaki dalam posisi dorso fleksi sehingga beban tubuh (weight bearing) hanya ditopang oleh tumit sewaktu menapak pada lantai.8) Kavus dan Planus Deformitas ini hanya terjadi pada kaki yang disebut sebagai pes kavus dan pes planus. Kalkaneus dan Ekuinus Deformitas ini hanya terjadi pada pergelangan kaki. Deformitas terfiksasi atau struktural adalah deformitas yang tidak dapat dikoreksi dengan bantuan secara pasif. Deformitas dinamik terjadi oleh karena aksi dari otot penderita sendiri dan biasanya terjadi akibat ketidakseimbangan otot.3. Sedangkan ekuinus adalah deformitas pada kaki dalam keadaan fleksi plantar sehingga beban tubuh hanya ditopang oleh kaki bagian depan sewaktu menapak pada lantai (gambar 4. Terminologi beberapa deformitas pada anggota gerak Beberapa terminologi deformitas yang biasa dipergunakan di klinik pada deformitas sendi adalah: Deformitas Postural Deformitas postural adalah suatu deformitas yang terjadi karena kebiasaan sikap/posisi tubuh. Kombinasi antara 70 . Deformitas ini dapat dikoreksi oleh aksi dari otot penderita sendiri. Pes kavus adalah lengkung telapak kaki meninggi dibandingkan dengan yang normal.

aspek anterior dari bagian distal tulang panjang berputar keluar/lateral terhadap aspek anterior bagian proksimal ini. misalnya torsi femoral eksterna dan torsi tibial eksterna. Pada torsi interna. Deformitas ini biasanya terjadi pada sendi atau tulang dekat sendi. Anteversi dan Retroversi Deformitas ini menjelaskan hubungan antara leher dan batang femur. Disebut anteversi femoral bila lutut menghadap ke depan dan leher femur mengarah ke depan dalam derajat tertentu.  Varus 71 . Varus dan valgus Istilah varus dan valgus dipergunakan untuk angulasi abnormal dari anggota gerak. Pada torsi eksterna. Pes planus adalah hilangnya arkus kaki menjadi rata sehingga membentuk kaki yang disebut kaki ceper (flat feet) (gambar 4.kalkaneus dan kavus disebut kalkaneokavus. aspek anterior dari bagian distal tulang berputar ke arah dalam/medial terhadap aspek anterior dari tulang proksimal misalnya torsi tibia interna atau torsi femoral interna. Disebut retroversi femoral bila lutut menghadap ke depan & leher femur mengarah ke posterior dalam derajat tertentu.9) Torsi Interna dan Torsi Eksterna Deformitas ini menunjukkan adanya perputaran aksis longitudinal dari tulang dan biasanya ditemukan pada femur dan tibia.

72 .12) o Matatarsus varus (metatarsus adduktus) Deformitas adduksi dari kaki depan terhadap kaki belakang (gambar 4.13) o Haluks varus adalah deformitas adduksi dari ibu jari kaki terhadap sendi metatarsofalangeal.10) o Genu varum (bow legs) adalah lutut berjauhan apabila kaki berdekatan (gambar 4. Kombinasi ini misalnya pada ekuinus varus bawaan (gambar 4.Varus adalah angulasi secara imajiner yang menunjukkan lingkaran imajiner dimana penderita berada.11) o Talipes ekuinovarus o Deformitas ini terjadi bersama dengan deformitas plantar fleksi dari pergelangan kaki. o Koksa vara adalah berkurangnya sudut leher femur dan batang femur dari normal misalnya sudutnya 900 (normal = 1300) o Kubitus varus adalah berkurangnya sudut normal dari sendi siku (gambar 4.

13) o Hip valgus adalah bertambahnya sudut antara aksis dari tungkai dan tumit dalam posisi eversi. o Talipes kalkaneovalgus adalah deformitas eversi pada kaki disertai dengan kalkaneus atau deformitas dorsofleksi dan pergelangan kaki (gambar 4.14) o Haluks valgus adalah deformitas abduksi dari ibu jari kaki terhadap metatarsofalangeal. Valgus Valgus adalah angulasi secara imajiner yang tidak ada hubungannya dengan lingkaran imajiner dimana penderita ditempatkan. 73 . o Kubitus valgus adalah bertambahnya carryin angle dari sendi siku (gambar 4.11) o Metatarsus abduktus adalah deformitas adduksi dari kaki depan terhadap kaki belakang (gambar.10) o Koksa valga adalah bertambahnya sudut leher dan batang femur melebihi normal (1300) misalnya 1700 o Genu valgum (knock knees) adalah bila lutut didekatkan maka kaki akan berjauhan (gambar 4.

PEMERIKSAAN REGIONAL Pemeriksaan ortopedi regional terdiri atas:  Pemeriksaan tulang belakang  Pemeriksaan leher dan vertebra servikalis  Pemeriksaan vertebra torakal dan lumbal  Pemeriksaan sendi bahu  Pemeriksaan lengan atas dan sendi siku  Pemeriksaan lengan bawah. pergelangan kaki dan jari-jari kaki 74 . pergelangan tangan dan jari-jari tangan  Pemeriksaan sendi panggul  Pemeriksaan lutut  Pemeriksaan tungkai bawah.

siku atau saraf torakal bagian perifer.1. Kelainan pada vertebra sevikalis sering disertai dengan kelainan pada pangkal pleksus brakialis yang menyebabkan nyeri. 75 . Gejala pada anggota gerak atas melibatkan pleksus brakialis berupa gangguan pada bahu. Tabel 4. Pemeriksaan lokal leher disertai pemeriksaan neurologik dan servei vaskuler dari anggota gerak atas Inspeksi  Kontur tulang apakah terjadi deformitas  Kontur jaringan lunak  Warna dan tekstur kulit  Ada jaringan parut atau sinus Palpasi  Suhu kulit  Kontur tulang  Kontur jaringan lunak Pergerakan  Fleksi-ekstensi 1300  Fleksi lateral 450  Rotari 800  Apakah ada rasa nyeri pada saat digerakkan  Apakah ada krepitasi bila digerakkan Status neurologik anggota gerak atas  Sistem muskuler  Sistem sensoris  Keringat  Refleks Status vaskuler anggota gerak atas  Warna  Suhu  Nadi 2.PEMERIKSAAN TULANG BELAKANG  Pemeriksaan Leher dan Vertebra Servikalis Kelainan yang paling sering ditemukan pada leher adalah degenerasi vertebra servikalis dan osteoartritis sekunder pada diskus intervertebra servikalis yang dapat mengakibatkan prolapsus dari diskus dan spondilosis servikal. Pemeriksaan klinik rutin pada kelainan di daerah leher 1. Gangguan pada leher bisa akibat manifestasi klinis dari suatu penyakit sistematik. Pemeriksaan gejala yang bersifat simptomatik pada leher Gangguan pada leher dapat berasal dari kelainan pada telinga atau tenggorokan. Pemeriksaan umum Pemeriksaan daerah bagian tubuh lainnya juga perlu dilakukan. 3. kelemahan otot atau gangguan sensibilitas pada anggota gerak yang bersangkutan..

Pergerakan Gerakan pada leher yang diperiksa meliputi rotasi. Juga diperhatikan deformitas vertebra ke lateral atau rotasi.Anamnesis Yang perlu ditanyakan pada anamnesis adalah:  Adakah hubungan antara gejala sekarang dengan keluhan pada leher sebelumnya. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dalam keadaan penderita berdiri ataupun duduk.1 yang ada (gambar 4. Gerakan fleksi dan ekstensi maksimal terjadi pada sendi oksipito-atlantoid. Gejala saraf bisa berupa parestesia. Nyeri ini menjalar ke lengan atas dan bawah pada satu jari atau lebih. fleksi-ekstensi.15). Tekanan saraf pada daerah servikal memberikan gambaran klinis sesuai dengan distribusi sarafnya. Perubahan kurva ini menjadi lurus atau melengkung kebelakang (kifosis) merupakan tanda adanya kelainan yang mencurigakan. 76 . Besarnya pergerakan pada vertebra servikalis dapat dilihat pada tabel 4. baju harus dibuka dan harus terlihat jelas bagian leher secara keseluruhan. fleksi lateral ke kanan /ke kiri.  Nyeri pada anggota gerak atas harus diketahui sumbernya.  Apakah ada trauma pada leher. Pemeriksaan Pada pemeriksaan leher.  Apakah ada gejala kekakuan pada leher yang merupakan gejala awal prolapsus diskus intervertebra servikalis. Deformitas Kolumna vertebra servikalis biasanya sedikit lordosis ke depan. rasa kram atau rasa seperti tersusuk jarum di tangan.

 Kelenjar keringat Keringat timbul bila terjadi hubungan serabut saraf sudomotor. lengan atas.16) 77 . rasa panas dan dingin.  Sistem sensoris Pemeriksasan sensibilitas penderita meliputi rasa raba dan tusuk. Refleks yang ditemukan menentukan apakah ada gangguan neurologis dan jika ada apakah jenis upper motor neuron atau lower motorneuron dan asal dari akar atau cabang saraf (gambar 4. posisi sendi. triseps (C7) dan brakioradialis (C6) dari lengan kiri dan kanan.  Refleks Pemeriksaan refleks otot dilakukan dengan membandingkan refleks biseps (C6). maka kita dapat memperkirakan lesi terjadi pada saraf yang mana sesuai dengan percabangan/distribusi dari saraf yang mengalami gangguan.  Sistem muskuler Otot bahu. lengan bawah dan tangan harus diperiksa apakah ada kelemahan atau fisikulasi otot. Pemeriksaan meliputi tonus dan kekuatan dari setiap otot dan membandingkannya dengan anggota gerak yang berlawanan. Daerah lesi sesuai dengan distribusi saraf yang mengalami gangguan sehingga bila terdapat gangguan sensoris pada daerah tertentu. vibrasi.Pemeriksaan neurologik anggota gerak atas Pemeriksaan neurologik perlu dilakukan pada kelainan di daerah leher karena lesi pada daerah servikal sering menyebabkan gangguan pada pleksus brakhialis. Pada kasus tertentu juga dilakukan uji sensibilitas stimulus yang dalam.

tenggorokan dapat menyebabkan rasa nyeri pada leher dan disebut nyeri kiriman (referred pain). kemudian bahu ditekan dan dilakukan rotasi pada kaput anggota gerak yang diperiksa. Gangguan ekstrinsik yang menyebabkan gangguan pada leher Kadang-kadang gangguan pada daerah sekitar leher misalnya pada telinga. Tabel 4. denyut radialis kiri dan kanan dimana pemeriksaan pertama-tama pada saat anggota gerak dalam keadaan diam. Gangguan pada anggota gerak atas juga dapat bermanifestasi pada leher yang melibatkan pleksus brakhialis. Untuk itu pemeriksaan daerah sekitar leher dilakukan sebagai pemeriksaan rutin bila ditemukan kelainan pada leher. Sistem sirkulasi yang efesien dari tiap anggota gerak atas diperhatikan. tangan dan jari. Klasifikasi gangguan pada leher dan servikal  Tortikolis infantil  Kelainan bawaan leher  Kelainan bawaan skapula tinggi pendek Deformitas Artritis sendi spinal  Artritis reumatoid  Ankilosing spondilitis  Osteoartritis vertebra servikal (spondilosisi servikal) Gangguan mekanik  Prolapsus diskus intervertebralis  Kosta servikal  Spondilolistesis servikal  Tuberkulosis servikal  Infeksi piogenik vertebra servikal Tumor Infeksi tulang  Tumor jinak dan ganas yang ada hubungannya dengan vertebra servikal dan akar saraf 78 .Pemeriksaan vaskuler anggota gerak atas Kadang-kadang kelainan pada leher terjadi akibat gangguan pada arteri subklavia.2. dibandingkan warna dan rasa hangat pada kedua sisi lengan.

Nyeri punggung bawah sering disertai penjalaran nyeri ke bokong. Pada kasus dimana tomografi sulit dilakukan. PEMERIKSAAN VERTEBRA TORAKAL DAN LUMBAL Nyeri pada punggung terutama punggung bawah merupakan kelainan yang sering ditemukan dalam praktek bedah ortopedi sehari-hari. 79 . Ct-scan dan MRI dilakukan pada keadaan-keadaan tertentu. Pemeriksaan radiologis tambahan dilakukan bila dibutuhkan gambaran yang lebih jelas. Dalam kelompok ini termasuk chronic ligamentous strain atau postural back pain. tungkai atas dan tungkai bawah baik unilateral maupun bilateral. maka dibandingkan foto lateral posisi fleksi dan ekstensi. Lokalisasi dari nyeri punggung serta sifatsifatnya juga harus ditentukan secara jelas. apakah bersifat periodik atau menetap. Pemeriksan radiologis lainnya adalah radioisotope scanning.Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan radiologis rutin vertebra servikal berupa foto polos AP dan lateral. Mielografi dilakukan bila terjadi lebi intraspinal. diagnosis dan pengobatan yang tepat dapat dilakukan. bertambah buruk atau bertambah baik dan hal-hal apa yang dapat menyebabkan nyeri bertambah/berkurang. Sebagian dari kelainan ini gambarannya jelas sehingga penyebab. Anamnesis Perhatikan terutama harus ditujukan pada kelangsungan/onset penyakit. Foto oblik dilakukan untuk mellihat foramina intervertebra dan permukaan sendi serta melihat ukuran dan bentuk regio servikal yang lebih rendah. Sebagian lagi tidak dapat diketahui dengan jelas penyebabnya baik melalui pemeriksaan fisik maupun radiologi sehingga hasil pemeriksaan tidak jelas. Dapat pula dilakukan sineradiografi atau stereoskopik radiografi. Untuk mempelajari densitas diperlukan foto polos AP dengan teknik khusus. Nyeri yang bersifat menjalar ini disebut skiatika.

Pemeriksaan meliputi:  Pemeriksaan abdomen  Pemeriksaan pelvis termasuk pemeriksaan rektal  Pemeriksaan anggota gerak bawah  Pemeriksaan sistem vaskuler perifer 3.3. Gejala lokal dapat merupakan salah satu manifestasi klinis dari suatu penyakit sistematik.17)  Pemeriksaan sistem muskuler  Pemeriksaan sistem sensoris  Pemeriksaan refleks  Nyeri pada gerakan  Spasme otot b. Pemeriksaan lokal punggung dan servei neurologis anggota gerak bawah a. 80 . Pemeriksaan ekstrinsik punggung dan skiatika Hal ini perlu bila tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan lokal. Pemeriksaan klinik rutin gangguan pada punggung 1. Penderita berdiri Inspeksi  Kontur tulang  Kontur jaringan lunak  Warna dan tekstur kulit  Adanya jaringan parut atau sinus Pergerakan (gambar 4. Pemeriksaan umum Pemeriksaan umum bagian-bagian tubuh yang lain. Penderita berbaring Palpasi fossa ilika  Pemeriksaan khusus abses atau adanya massa 2.Tabel 4.18)  Sendi spinal  Fleksi 800  Ekstensi 300  Fleksi lateral 350  Rotasi 450 Palpasi  Suhu kulit  Kontur tulang  Kontur jaringan lunak  Nyeri lokal Sendi konstovertebral  Jarak indikasi ekspansi dada Sendi sakroiliaka  Nyeri pada pergerakan Status neurologis anggota gerak bawah  Uji Straight Leg Raising (SLR) (gambar4.

Ada dua jenis skiatika yang diketahui. Penilaian deformitas Setiap kelainan bentuk yang ditemukan baik pada inspeksi maupun palpasi harus dicatat dengan baik. Deformitas tulang belakang dapat berbentuk kifosis. apalagi bila disertai kelainan motoris.19). sensoris dan refleks. maka pasti ini merupakan kelainan mekanik yang memberikan gangguan dari serabut saraf pleksus lumbalis atau sakralis. Jenis skiatika lain berupa rasa nyeri yang samar-samar disertai distribusi nyeri yang tidak jelas dan lebih menyerupai suatu nyeri kiriman akibat kelainan sendi/ligamen. lordosis atau skoliosis (gambar 4. Apabila nyeri hebat dan menjalar dengan arah dan lokalisasi yang jelas pada kulit.Tanda-tanda Skiatika Nyeri skiatika ditandai dengan perjalanan nyeri sepanjang persarafan nervus skiatika pada tungkai bawah. 81 .

Tabel 4.4. Klasifikasi gangguan pada vertebra torakal dan lumbal Kelainan kongenital  Variasi lumbal dan sakral  Hemivertebra  Spina bifida Deformitas  Skoliosis  Kifosis  Lordosis Infeksi tulang  Tuberkulosis torakal atau lumbal  Infeksi piogenik torakal atau lumbal Artritis sendi spinal  Artritis reumatoid  Osteoartritis  Ankilosing spondilitis Lokalisasi lain pada tulang  Kifosis Scheuermann  Kompresi vertebra Calve Gangguan mekanik  Prolapsus diskus lumbal  Lumbago akut  Spondilolisis  Spondilolistesis  Stenosis spinal Tumor  Tumor yang ada hubungannya dengan kolumna vertebralis. batang & akar saraf medula spinalis Kronik strain  Kronik strain ligamentum lumbal  Koksidinia Lain-lain  Osteoporosis senil Gangguan pada sendi sakroiliaka  Tuberkulosis sendi sakroiliaka  Ankilosing spondilitis  Jenis artritis yang lain  Strain ligamentum sakroiliaka 82 .

Nyeri pada bahu dan lengan harus dibedakan dengan seksama apakah kelainan ini berasal dari bahu sendiri atau nyeri yang berasal dari vertebra servikalis atau toraks. panggul dan sendi panggul. sendi akromioklavikular. Bila terdapat keragukeraguan maka dilakukan foto oblik untuk melihat sendi sakroiliaka dan faset posterior sendi intervertebra dari vertebra lumbal. tetapi juga mencakup sendi sakroiliaka. dapat dilakukan mielografi atau radikulografi. Kedua sendi lainnya bersama-sama memberikan pergerakan 900 berupa rotasi skapula terhadap toraks dan sedikit perputaran anteroposterior skapula. 83 . Foto polos AP dan lateral dilakukan tidak hanya mencakup daerah vertebra lumbal. sendi sternoklavikular. Bila ada kecurigaan tumor spinal. fleksi dan rotasi di bawah kontrol otot skapulohumeral. Pemeriksaan radiologis lain yang dapat membantu adalah:  Radioisotope bone scanning  CT-scan  MRI  Diskografi Pemeriksaan Sendi Bahu Sendi bahu merupakan suatu sendi yang secara mekanik sangat kompleks dan terdiri atas tiga komponen persendian yaitu sendi glenohumeral. Pada keadaan yang meragukan pemeriksaan tomografi dapat bermanfaat. b. Sendi glenohumeral memungkinkan untuk gerakan abduksi.Pemeriksaan Radiologis a. Pemeriksaan foto rontgen Foto polos AP dan lateral dilakukan jika gejala vertebra torakal bersifat lokal.

5. jantung dan pleura  Abdomen dan lesi subdiafragma 3. rotasi medial 800. Pemeriksaan lokal sendi bahu Inspeksi  Kontur tulang  Kontur jaringan lunak  Warna dan tekstur kulit  Adanya jaringan parut atau sinus Pergerakan  Membedakan pergerakan antara sendi glenohumeral dan sendi skapula pada gerakan abduksi. retraksi skapula. ekstensi. nyeri bila digerakkan dan stabilitas Palpasi  Suhu kulit  Kontur tulang  Kontur jaringan lunak  Nyeri lokal Kekuatan  Kekuatan otot servikoskapula dan otot torakoskapula  Uji elevasi skapula. rotasi lateral dan rotasi medial (gambar 4. Jarang sekali nyeri pada bahu yang menjalar melewati sendi siku. Anamnesis Pada nyeri bahu harus ditentukan dengan jelas lokasi dan distribusi nyeri. Pemeriksaan umum Pemeriksaan umum bagian tubuh lainnya. fleksi.Tabel 4. Sendi sternoklavikula  Pemeriksaan pembengkakan. rasa panas. Pemeriksaan klinik rutin gangguan pada sendi bahu 1. Nyeri biasanya berasal dasri ujung akromion menjalar ke bawah pada lengan atas sampai pada insersi otot deltoid. fleksi 1800. rasa panas. rotasi lateral 800. adduksi 750. Pemeriksaan gejala yang kemungkinan merupakan faktor ekstrinsik pada sendi bahu Pemeriksaan ini penting untuk menerangkan gejala yang tidak ditemukan pada pemeriksaan lokal. nyeri. abduksirotasi skapula  Otot skapulo-humeral (mengontrol pergerakan sendi glenohumeral) yiatu pergerakan abduksi 1800.20-21)  Nyeri pada saat pegerakan  Spasme otot  Krepitasi pada saat pergerakan Sendi akromioklavikular  Pemeriksaan pembengkakan. Pemeriksaan meliputi:  Pemeriksaan leher dengan pleksus brakialis  Toraks. ekstensi 600. nyeri. nyeri bila digerakkan dan stabilitas 2. 84 .

Kelainan pada sendi bahu akan memberikan hambatan pada gerakan sendi glenohumeral tetapi tidak pada gerakan skapula (gambar 4. Gerakan sendi bahu Pada pemeriksaan sendi bahu sangat penting diketahui berapa besar gerakan yang terjadi pada sendi glenohumeral dan berapa besar gerakan rotasi skapula.22). Untuk membedakan maka pemeriksa perlu memegang atau memfiksasi bagian bawah skapula. Dalam keadaan normal gerakan sendi bahu berupa abduksi yang terjadi dari sebagaian sendi glenohumeral dan sebagian dari rotasi sendi skapula sendiri.Nyeri kiriman pada daerah bahu Nyeri kiriman biasanya berupa iritasi dari pleksus. 85 . menjalar dari leher pada bagian atas dari bahu kemudian kelengan.

Fungsi otot ini untuk gerakan elevasi skapula yaitu levator skapula dan bagian atas dari otot trapezius. MRI 86 . Rektaktor dari skapula yaitu otot rhomboid dan bagian tengah dari otot trapezius. ada dua kelompok otot pada daerah bahu yang harus dibedakan yaitu: 1. rotasi lateral. Pemeriksaan radiologis  Pemeriksaan foto polos sendi glenohumeral Pemeriksaan proyeksi AP dalam posisi anatomis anggota gerak atas.Estimasi kekuatan otot Untuk memperkirakan besarnya kekuatan. Pada keadaan tertentu diperlukan posisi khusus yaitu proyeksi aksiler dimana lengan dalam keadaan abduksi 900. fleksi. bagian tengah dan bagian bawah dari otot trapezius. ekstensi. Otot servikoskapula dan otot torakoskapula Otot servikoskapula dan otot torakoskapula mengontrol gerakan skapula. Gerakan sendi akromioklavikular dan sternoklavikular terjadi pada umumnya setelah elevasi dari lengan atas sebesar 900 dan gerakan sendi bahu ke belakang atau ke depan. rotasi medial.  Pemeriksaan radiologis dengan kontras berupa penyuntikan cairan kontras Pemeriksaan radiologis yang lain yaitu radioisotope scanning. 2. Abduktor rotator dari skapula yaitu otot seratus anterior. Untuk menguji perlu dilakukan pemeriksaan fungsi dan kekuatan otot dengan pemeriksaan khusus. adduksi. Otot skapulahumeral Kelompok otot ini mengontrol sendi glenohumeral yaitu gerakan yang berfungsi untuk abduksi.CTscan. Sendi akromioklavikular dan sternoklavikular Klavikula merupakan suatu jembatan yang menghubungkan skapula dan sternum.

Kelainan lain yang biasa ditemukan adalah osteoartritis disekans dan bergesernya sendi siku dan beberapa kelainan akibat jepitan pada saraf. Nyeri pada lengan atas mungkin merupakan nyeri yang berasal dari bahu. Gerakan sendi siku Pada sendi siku terdapat dua komponen persendian yaitu antara humerus dengan ulna dan antara ulna dengan radius yang memberikan kemungkinan gerakan fleksi dan ekstensi serta rotasi pada lengan bawah. infeksi pada tulang.6. 87 .Tabel 4. distribusi dan asal dari nyeri. Gerakan fleksi dan ekstensi bervariasi antara 01500 serta pronasi dan supnasi masing-masing sebesar 0-900 (gambar 4. tumor tulang terutama oleh karena metastasis. Klasifikasi kelainan pada daerah bahu Kelainan pada sendi bahu (glenohumeral) Artritis  Artritis piogenik  Artritis reumatoid  Artritis tuberkulosis  Osteoartritis  Bahu beku (frozenshoulder)  Sindroma nyeri arkus (termasuk deposisi kalsifikasi pada tendo)  Tenosinovitis dari tendo bisep  Ruptur tendo bisep Gangguan mekanik  Dislokasi rekuren  Robekan lengkap dari tendo rotator cuff Gangguan sendi sternoklavikular  Dislokasi rekuren atau persisten Gangguan sendi akromioklavikular  Artritis  Osteoartritis  Dislokasi persisten atau subluksasi Pemeriksaan Lengan Atas dan Sendi Siku Kelainan yang biasa ditemukan pada humerus adalah trauma.23). Anamnesis Harus diketahui dengan tepat lokalisasi. Sedangkan pada sendi siku biasanya berupa artritis. Pada sendi siku sebaiknya ditanyakan adanya riwayat trauma sebelumnya misalnya trauma ketika masih kanak-kanak.

88 . Pemeriksaan radiologis yang lain yaitu radioisotope scanning dengan 99mTc. nervus medianus dan nervus radialis.Pemeriksaan neurologis Perlu dilakukan pemeriksaan neurologi dari nervus ulnari. CT-scan dan MRI. Pemeriksaan radiologis Pada foto polo humerus dilakukan foto AP dan proyeksi lateral dengan kedua sendi yaitu sendi bahu dan sendi siku harus dapat terlihat dengan baik pada foto.

Tabel 4. ibu jari. Pemeriksaan nyeri lengan yang disebabkan oleh faktor ekstrinsik Pemeriksaan ini penting untuk menerangkan gejala yang tidak ditemukan pada pemeriksaan lokal. Pemeriksaan lokal lengan dan sendi siku Inpeksi Kekuatan  Kontur tulang  Fleksi 1500  Kontur jaringan lunak  Ekstensi 00  Warna dan tekstur kulit  Supinasi 800  Adanya jaringan atau  Pronasi 900 sinus Stabilitas Palpasi  Ligamentum lateral  Suhu kulit  Ligamentum medial  Kontur tulang Nervus medianus  Kontur jaringan lunak  Fungsi sensoris  Nyeri lokal  Fungsi motoris (gerakan openen)  Kelenjar keringat Pergerakan (aktif dan Nervus radialis pasif)  Fungsi sensoris  Sendi humero-ulnar  Fungsi motoris (ekstensi pergelangan tangan. 0  Fleksi 150 dan jari-jari) 0  Ekstensi 0 Nervus ulnaris  Fungsi sensoris  Sendi radio-ulnar  Fungsi motoris  Supinasi 800  Kelenjar keringat  Pronasi 900 pergerakan 2.7. Tahap-tahap pemeriksaan rutin kelainan lengan atas dan sendi siku 1.  Nyeri pada pergerakan  Krepitasi pada 89 . Gejala lokal yang terjadi mungkin merupakan manifestasi dari penyakit lain. yang meliputi:  Leher dan pleksus brakialis  Pemeriksaan bahu 3. Pemeriksaan umum Pemeriksaan pada bagian tubuh lainnya.

8. Pergelangan Tangan dan Jari-Jari Dalam kehidupan sehari-hari suatu pekerjaan sangat tergantung dan efisiensi fungsi tangan dan akan memberikan implikasi ekonomi apabila terjadi kecatatan pada tangan baik akibat trauma ataupun akibat penyakit. 90 .Faktor Ekstrinsik Nyeri Lengan Atas Pada nyeri lengan atas harus dipertimbangkan bahwa nyeri ini kemungkinan berasal dari bahu atau leher akibat kelainan kelalaian pada pleksus brakialis Tabel 4. Pengobatan pada kelainan ini terutama ditujukan untuk melakukan pemulihan/restorasi fungsi tangan semaksimal mungkin. bedah plastik dan rekonstruksi. Klasifikasi gangguan lengan atas dan siku Gangguan pada lengan atas Infeksi  Osteomielitis akut  Osteomielitis kronik Gangguan pada siku Deformitas  Kubitus valgus  Kubitus varus Tumor  Tumor jinak tulang  Lesi kistik  Kista tulang  Tumor ganas tulang Gangguan mekanik  Osteokondritis disekans  Benda asing pada siku Gangguan ekstra-artikuler  Tennis elbow  Neuritis saraf ulnaris  Bursitis elekranon Artritis  Artritis piogenik  Artritis reumatoid  Artritis tuberkulosis  Osteoartritis  Artritis neuropatik  Artritis hemofilik Pemeriksaan Lengan Bawah. bedah mikrovaskuler dan bedah saraf memegang peranan yang sangat penting. Bedah tangan merupakan suatu seni dan ilmu tersendiri yang pada saat ini merupakan suatu spesialisasi khusus dalam ilmu bedah ortopedi dimana pengetahuan dan pengalaman bedah ortopedi.

untuk melakukan pemeriksaan secara akurat terhadap kedua gerakan ini maka sendi siku difleksikan 900 untuk menghilangkan rotasi pada sendi bahu (gambar 4. yaitu: 1.24 dan 4. ekstensi 900 abduksi/deviasi 250. Sendi karpometakarpal ibu jari Pada sendi karpometakarpal ibu jari terdapat lima macam gerakan yaitu fleksi. abduksi.26).Gerakan pada pergelangan tangan Pegelangan tangan mempunyai dua komponen utama yaitu sendi radiokarpal (termasuk sendi interkarpal yang memungkinkan fleksi 800. ekstensi. adduksi dan oposisi (gambar 4. adduksi/deviasi ulnar 300) dan sendi radioulnar inferior yang memungkinkan gerakan supinasi 900 dan pronasi 900. 91 .25) Gerakan pada jari-jari Gerakan pada jari-jari dibagi dalam tiga kelompok sendi.

Pemeriksaan lokal lengan bawah.ekstensi. Pemeriksaan bagian yang kemungkinan dapat merupakan faktor ekstrinsik gangguan pada lengan bawah. oposisi Denyut arteri. pergelangan tangan dan jari-jari 1.26 dan 4.Tabel 4. adduksiabduksi  Stabilitas  Sendi radio-ulnar  Uji untuk pergerakan abnormal inferior: supinasi dan pronasi Fungsi saraf Uji fungsi sensoris.26 dan 4. Pemeriksaan meliputi:  Pemeriksaan leher dan toraks  Pemeriksaan lengan atas secara tersendiri  Pemeriksaan siku secara tersendiri 3. adduksiabduksi  Sendi interfalangeal: fleksi-ekstensi 2.27). Pemeriksaan umum Pemeriksaan umum pada bagian-bagian tubuh lainnya. 92 . pergelangan tangan dan jari-jari Pemeriksaan ini penting untuk menerangkan gejala yang tidak ditemukan pada pemeriksaan lokal. Sendi interfalangeal Pada sendi interfalangeal ibu jari dan jar-jari hanya terdapat gerakan fleksi dan gerakan ekstensi (gambar 4. pengisian kembali kapiler. 3. Gejala pada tangan mungkin hanya merupakan salah satu manifestasi klinis dari penyakit yang lain.9. sensibilitas kulit  Awnsi metakarpofalangeal: fleksi-ekstens.27). fungsi motoris dan kelenjar keringat pada  Tangan bagian medial saraf ulna dan radius  Sendi karpometakarpal ibu jari: fleksi. Sendi metakarpofalangeal Pada sendi metakarpofalangeal ibu jari dan jari-jari terdapat gerakan fleksi dan gerakan ekstensi sebesar 900 (gambar 4. Pemeriksaan klinik rutin gangguan lengan bawah. Sirkulasi adduksi-abduksi. 2. warna dan rasa hangat. pergelangan tangan dan jari-jari Inspeksi Palpasi  Kontur tulang  Suhu kulit  Kontur jaringan lunak  Kontur tulang  Warna dan tekstur kulit  Kontur jaringan lunak  Adanya jaringan parut dan  Nyeri lokal sinus Kekuatan Pergerakan (aktif dan pasif)  Kekuatan tiap kelompok otot dikontrol oleh:  Pergelangan tangan  Pergerakan pergelangan tangan  Sendi radiokarpal: fleksi Pergerakan ibu jari dan jari-jari ekstensi.

ekstensor (longus dan brevis). Klasifikasi gangguan pada lengan bawah.10. Sementara pada jari-jari dilakukan pemeriksaan otot fleksor profundus dan superfisial. fleksor (longus dan brevis) serta otot-otot oponens. Tabel 4. Gangguan ekstra-artikuler pergelangan tangan dan jari-jari Infeksi Gangguan neurologis  Infeksi akut sarung fasia  Penekanan nervus medianus pada terowongan karpal  Infeksi kronik tenosinovitis Lain-lain Tumor  Ganglion  Tumor tulang  Kontraktur Dupuytren  Tumor jaringan lunak  Ruptur tendo  Tenovaginitis de Quervain  Tenovaginitis stenosis jari-jari 93 . Pemeriksaan otot-otot ibu jari meliputi pemeriksaan otot abduktor. Gangguan pada lengan bawah Infeksi tulang Tumor tulang  Osteomielitis  Tumor akut jinak  Osteomielitis  Tumor kronik ganas Lain-lain  Iskemik kontraktur Volkmann  Tenosinovitis krepitans 2.Kekuatan otot Pemeriksaan kekuatan otot tangan perlu dilakukan secara teliti dan sabar. Untuk setiap kelompok otot harus dilakukan uji secara tersendiri. Gangguan pada sendi pergelangan tangan dan jari-jari Deformitas Artritis Lain-lain  Deformitas  Artritis  Penyakit Kienbock Madelung piogenik (diskondrosteosis  Artritis ) reumatoid  Osteoartritis 3. otot interoseus dan otot lumbrikal. ekstensor indisis. pergelangan tangan dan jari-jari 1. ekstensor digitorum. adduktor.

Fungsi saraf Pemeriksaan fungsi ketiga saraf yaitu nervus ulnaris. sensoris serta fungsi keringat. Pada kasuskasus tertentu diperlukan juga pemeriksaan radiologis lainnya yaitu radioisotope scanning. 94 . Faktor ekstrinsik pada lengan bawah dan jari-jari Seringkali sulit dibedakan gelaja dan tanda klinis lengan bawah atau jari-jari merupakan gangguan lokal atau bukan. nervus radialis harus dilakukan secara tersendiri baik fungsi motoris. Untuk itu harus dilakukan pemeriksaan dengan baik agar dapat membedakannya dengan jelas. Pemeriksaan Sendi Panggul Pemeriksaan sendi panggul merupakan pemeriksan yang penting dalam ortopedi oleh karena trauma/penyakit pada panggul akan menyebabkan gangguan yang berkepanjangan dan mungkin memberikan kecacatan yang serius atau lebih parah lagi menyebabkan ketidakmampuan untuk bekerja serhingga memberikan dampak ekonomis dalam kehidupan.Kekuatan pegangan otot Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan pegangan yang merupakan kombinasi gerakan otot fleksor dan ekstensor pergelangan tangan serta fleksor jari-jari dan ibu jari. pergelangan tangan serta jari-jari. sulit diperksa secara akurat. Daerah panggul ini merupakan suatu daerah yang penting oleh karena sendi panggul merupakan sendi yang sangat kompleks. nervus medianus. suhu dan warna jari-jari. Sirkulasi Sirkulasi pada jari diamati melalui pemeriksaan denyut nadi pada arteri. Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan radiologis yang rutin dilakukan yaitu foto polos AP dan lateral lengan bawah.

garis dari Schoemaker  Di bawah trokanter 95 . transien sinovitis Penyakit legg-Calve-Perthes Slipped upper femoral epiphysis Osteoartritis sekunder oleh karena trauma atau penyakit Osteoartritis primer Anamnesis Karakteristik nyeri daerah panggul adalah nyeri tidak selamanya dari panggul itu sendiri tetapi mungkin berasal dari tulang belakang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan sendi panggul.Tabel 4.28). Pengukuran panjang klinik (panjang sebenarnya=true leg length) Panjang klinik diukur dari spina ilika anterior sampai pinggi bawah maleolus lateralis atau pinggir maleolus medialis (gambar 4.100 Kelainan panggul Dislokasi kongenital Artritis tuberkulosis. Beberapa kelainan pada panggul yang ditemukan pada umur tertentu Umur (tahun) 0–2 2–5 5 – 10 10 – 20 20 – 50 50 . Sering nyeri ini dirasakan pada daerah lutut dan kadangkala merupakan nyeri yang dominan pada kelainan sendi panggul. sehingga harus diperiksa kemungkinan adanya faktor-faktor ekstrinsik. Pengukuran panjang anggota gerak dan ukuran-ukurannya Secara ideal pengukuran dilakukan pada aksis gerakan panggul. Nyeri pada sendi panggul biasanya dikeluhkan pada daerah lipa paha bagian dalam dan bagian depan. yaitu titik tengah kaput femur. Apabila ditemukan adanya pemendekan maka harus ditentukan apakah ditemukan:  Diatas trokanter. Nyeri pada panggul sendiri biasanya akan bertambah berat apabila penderita berjalan atau menggerakkan sendi panggul. Tetapi secara klinik hal ini sulit dilakukan. garis dari nelaton. Dengan pengukuran ini dibandingkan antara kiri dan kanan. sehingga titik ukur diambil dari titik yang paling mendekati yaitu spina iliaka anterior superior. melalui pengukuran segitiga dari Bryant. 1.11.

Pemeriksaan lokal sendi panggul a. b.12. Penderita berbaring Penderita berbaring dan membentuk sudut terhadap tungkai bila mungkin : Inspeksi  Kontur tulang  Kontur jaringan lunak  Warna dan tekstrur kulit  Adanya jaringan parut atau sinus Palpasi  Suhu kulit  Kontur tulang  Kontur jaringan lunak  Nyeri lokal Pergerakan (aktif dan pasif)  Fleksi  Abduksi saat fleksi  Rotasi medial (interna)  Rotasi lateral (eksterna) Pemeriksaan adanya deformitas  Dilakukan uji Thomas untuk mendeteksi dan mengukur deformitas pada posisi fleksi Kekuatan (dilakukan uji yang berlawanan dengan tahanan pemeriksaan) abduktor. Pemeriksaan faktor ekstrinsik yang mungkin memberikan gejal pada panggul Pemeriksaan ini penting untuk menerangkan gejala yang tidak ditemukan pada pemeriksaan lokal.Tabel 4. Penderita berdiri Pemeriksaan stabilitas postural Cara berjalan (gait)  Uji Trendelenburg 2. Pemeriksaan umum Pemeriksaan terhadap bagian tubuh lainnya untuk mencari kemungkinan gangguan merupakan manifestasi dari suatu penyakit sistemik pada tubuh 96 . ekstensor. adduktor dan rotator Pengukuran panjang tungkai  Panjang klinik (true/real length)  Panjang yang tampak (apparent length) Pemriksaan pergerakan abnormal  Uji pergerakan longitudinal (teleskopik)  Uji klik (pada bayi baru lahir)  Estimasi kekuatan pada kelompok otot fleksor. Pemeriksaan klinik rutin gangguan pada panggul 1. meliputi:  Pemeriksaan sendi sakroilika  Pemeriksaan abdomen dan pelvis  Pemeriksaan pembuluh darah besar (sirkulasi arteri) 3.

dari pusat atau dari pubis ke maleolus medialis. Panggul miring umumnya disebabkan oleh deformitas adduksi yang menetap yang membuat sisi tersebut terlihat lebih panjang (gambar 4. Pemeriksaan deformitas rotasi yang menetap Adanya deformitas rotasi dapat dinilai dari posisi patela yang dalam keadaan normal merupakan suatu garis lurus dari spina ilika anterior superior. Pemendekan yang palsu dari panjang tungkai biasanya disebabkan oleh karena panggul miring dimana koreksi sepenuhnya tidak dapat dilakukan.29).2. Apabila terdapat rotasi baik ke dalam maupun keluar maka konfigurasi garis ini berubah. Pengukuran panjang tampak (palsu=apparent leg length) Kadang-kadang ditemukan tungkai bawah tampak panjang sebelah tapi sebenarnya ukurannya sama. Pada keadaan ini pemeriksaan diukur dari titik di garis tengah tubuh yaitu dari xiphisternum. 97 . pertengahan patela dan jari kaki kedua.

Apabila terdapat kelainan maka aksis transversal panggul yaitu garis yang menghubungkan kedua spina ilika anterior superior tidak dapat diletakkan dalam garis tegak lurus terhadap anggota gerak yang terkena.  Deformitas abduksi yang menetap Sama dengan yang pertama. maka penderita berusaha mengkompesasikannya sehingga terjadi lordosis pada tulang belakang. 98 . penderita dalam keadaan berbaring dan lordosis dihilangkan dengan melakukan fleksi pada tungkai.Pemeriksaan adanya deformitas menetap  Deformitas adduksi yang menetap Deformitas ini dapat diketahui dengan menilai hubungan antara pelvis dan panggul. tetapi sudut antara pelvis dan tungkai melebihi 900  Deformitas fleksi yang menetap Deformitas ini dapat diketahui melalui uji Thomas. Sudut antara tungkai ata dan garis horisontal yang terbentuk merupakan derajat besarnya deformitas fleksi (gambar 4. Untuk mengukur derajat derformitas ini.30). Prinsip pelaksanaan uji Thomas: Bilamana penderita mengalami deformitas fleksi menetap pada panggul.

99 .

Fleksi Pergerakan fleksi pada sendi panggul sebaiknya dilakukan bersama-sama dengan fleksi pada lutut. 2.A). Rotasi lateral dan medial masing-masing diperkirakan melalui garis imajiner pada patela. Ekstensi dengan meluruskan kaki. Adduksi dilakukan dengan menyilangkan kedua kaki.B). Sebaiknya disebut uji Trendelenburg negatif apapbila otot-otot abduktor dapat bekerja secara normal mengangkat pelvis ke atas apabila tungkai yang lain diangkat (gambar 4. 100 . Jika otot-otot ini tidak berfungsi maka pada inspeksi panggul miring/jatuh ke sisi kaki yang diangkat.32). Abduksi dilakukan dengan cara tangan berada di antara spina isiadika anterior superior kiri dan kanan dan tangan yang satu melakukan abduksi kaki.31.Pergerakan pada sendi panggul 1. 5. Cara pemeriksaannya: Satu tungkai diangkat dalam keadaan fleksi 900 sambil berdiri di atas kaki yang lain. Dalam keadaan ini diperoleh nilai 00 (gambar 4.33). Pemeriksaan ini dilakukan menuru uji Duschene-Trendelenburg. Pemeriksaan stabilitas postural Pemeriksaan ini untuk menentukan stabilitas panggul terutama kemampuan otot abduktor panggul (otot gluteus medius dan minimus) dalam menstabilisasi panggul terhadap femur. 3. dengan kata lain otot-otot panggul tidak mampu menstabilisasi panggul dan disebut uji Trendelenburg positif.31.34). Normal didapatkan abduksi sebesar 30-400 aksial (gambar 4.32). 4. yang normalnya sebesar 400 (gambar 4. Nilai normal gerakan ini besarnya 1200 (gambar 4. Dalam keadaan normal didapatkan besarnya adduksi 300 (gambar 4. Panggul akan ditahan oleh otot panggul yaitu muskulus gluteus medius dan minimus.

Origo dan insersi otot-otot abduktor terlalu berdekatan sehingga daya kontraksinya hilang. 3. misalnya fraktur leher femur yang tidak menyambung. biasanya penderita menggunakan tongkat pada sisi yang sebaliknya. yaitu: 1. Cara berjalan (gait) Gait perlu diperhatikan pada waktu penderita berdiri dan berjalan. Hilangnya stabilitas pada komponen sendi panggul. Ada beberapa jenis karakteristik cara berjalan.Ada tiga kelainan yang dapat menyebabkan uji Trendelenburg positif. 2. yaitu cara berjalan dengan berupaya mengurangi berat untuk mengurangi nyeri  Cara berjalan kaki pendek  Cara berjalan Trendelenburg 101 .  Cara berjalan antalgik. Paralisis otot abduksi misalnya pada poliomielitis. Keadaan dapat terjadi pada semua kelainan yang menyebabkan trokanter letak tinggi. Apabila penderita mengalami nyeri pada panggul atau panggul yang tidak stabil.

Faktor intrinsik yang menyebabkan nyeri pada panggul Pemeriksaan yang teliti dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan nyeri panggul berasal dari tulang belakang dan sendi sakroilika.13. radioisotope scanning tulang. CT-scan dan MRI mungkin diperlukan apabila ada indikasi. Pemeriksaan yang perlu dilakukan meliputi pemeriksaan neurologis dari anggota gerak bawah. Pemeriksan radiologis lainnya pada panggul yaitu tomografi. Gangguan ekstra-artikuler tungkai Deformmitas  Penyakit Legg-Calve-Perthes Gangguan mekanik  Slipped upper femoral epiphysis  Koksa vara  Tuberkulosis bursa trokanter Infeksi Gangguan mekanik  Snapping tungkai 102 . Klasifikasi gangguan tungkai 1. artrografi. Gangguan artikuler tungkai Kelainan kongenital Osteokondritis  Kelainan kongenital dislokasi tungkai Artritis  Transient sinovitis pada anakanak  Artritis piogenik  Artritis reumatoid  Artritis tuberkulosis  Osteoartritis 2. juga pemeriksaan abdomen dan panggul yaitu pemeriksaan rektal dan pemeriksaan bimanual serta pemeriksaan sistem vaskuler. Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan foto polos AP dan lateral meliputi seluruh daerah panggul. Tabel 4.

Pemeriksaan artroskopi belakangan ini memegang peranan dan merupakan pemeriksaan rutin yang sering dilakukan dalam menegakkan diagnosis kelainan-kelainan lutut. Anamnesis Anamnesis sangat penting dalam menegakkan diagnosis sendi lutut misalnya pada robekan menikus. Beberapa penderita dapat dengan jelas mengutarakan lututnya menjadi terkunci (locking). Daerah lutut juga termasuk daerah dimana terjadi pertumbuhan anggota gerak bawah (daerah yang aktif) dan ini mungkin sebagai salah satu sebab daerah metafisis dari lutut sering mengalami infeksi osteomielitis atau tumor-tumor ganas primer.Pemeriksaan Lutut Stabilitas lutut sangat ditentukan oleh ligamentum dan otot kuadrisep. penyembuhan lebih baik dan masa pemulihan serta perawatan diperpendek. Otot kuadrisep yang kuat dapat mengontrol stabilitas lutut walaupun terdapat keregangan dari ligamen. Penebalan dapat disebabkan oleh infeksi. Pembengkakan pada lutut terutama disebabkan oleh tiga hal. Menentukan kausa pembengkakan pada sendi Pembengkanan yang difus pada lutut dapat diketahui dengan mudah dengan jelan membandingkan kedua lutut. apakah dapat berjalan. Efusi sendi 103 . Pembedahan dengan teknik artroskopi digunakan sebagai prosedur rutin pada robekan meniskus dan adanya benda asing dalam sendi. dapat meluruskan atau membengkokkan lutut. hal-hal yang terjadi sesudahnya serta mekanisme dari trauma. Penebalan tulang Penebalan tulang dapat diketahui dengan palpasi pada daerah yang sakit lalu dibandingkan dengan yang normal. Lutut sangat mudah mengalami trauma dan berbagai jenis artritis. 2. Keadaan yang perlu ditanyakan yaitu apakah dapat menyelesaikan pertandingan waktu itu. Dalam anamnesis harus ditanyakan kapan terjadinya trauma. yaitu: 1. Keuntungan pembedahan dengan teknik ini adalah tidak dilakukan operasi terbuka pada lutut. tumor atau kista tulang.

Efusi sendi bisa karena penimbunan cairan serosa. Cairan di dalam sendi dapat pula dideteksi dengan cara aspirasi. Cairan dalam sendi diketahui dengan melakukan pemeriksaan yang disebut uji fluktuasi. 3. Pada pemeriksaan ini telapak tangan diletakkan diatas femur distal di bagian atas dari patela pada daerah kantung suprapatelar sementara tangan lainnya diletakkan pada sisi sebaliknya dimana ibu jari telunjuk pada pinggir patela. Efusi yang terjadi dapat dengan muda dideteksi karena adanya impuls hidraulik pada jari-jari dan ibu jari yang di distal (gambar 4. Penebalan membran umumnya terjadi di atas patela dan dapat diraba pada palpasi dan biasanya lutut juga terasa hangat oleh karena proses inflamasi yang ada.35). Tekanan dilakukan oleh tangan yang di proksimal kantung suprapatelar sehingga cairan terdorong ke dalam kantung persendian. Tabel 4. Penebalan membran sinovia Penebalan membran sinovia merupakan suatu gambaran artritis inflamasi kronik. pus atau oleh darah.14. Pemeriksan turin kelainan pada lutut 104 .

Pemeriksaan meliputi pemeriksaan tulang belakang dan panggul 3. Uji stabilitas sendi lutut yang dapat dilakukan: 105 . Pemeriksaan gejala yang mungkin merupakan akibat faktor ekstrinsik Pemeriksaan ini penting bila tidak ditemukan kelainan lokal pada pemeriksaan.1. Pemeriksaan umum Pemeriksaan umum pada setiap anggota tubuh. Gerakan sendi lutut Pemeriksaan gerakan sedi lutut sangat penting oleh karen setiap kelainan pada lutut akan memberikan gangguan pergerakan lutut. Pada pemeriksaan perlu diketahui apakah gerakan disertai nyeri atau krepitasi. uji Lachman. Gejala lokal pada lutut dapat ditimbulkan oleh adanya penyakit sistemik. Secara normal gerakan fleksi pada sendi lutut sebesar 1201450 dan gerakan ekstensi 00 dan mungkin dapat ditemukan hiperekstensi sebesar 100 (gambar 4. Pemeriksaan lokal pada lutut Inspeksi  Kontur tulang  Kontur jaringan lunak  Warna dan tekstrur kulit  Adanya jaringan parut atau sinus Pergerakan (aktif dan pasif dan di bandingkan dengan lutut yang normal) Palpasi  Suhu kulit  Kontur tulang  Kontur jaringan lunak  Nyeri lokal Kekuatan (membandingkan dengan tahanan dari pemeriksaan)  Fleksi  Ekstensi  Nyeri bila digerakkan  Krepitasi bila digerakkan Stabilitas  Fleksi ekstensi Uji rotasi Mc Murray Cara berjalan (gait)  Ligamentum medial  Ligamentum lateral  Ligamentum krusiatum anterior  Uji drawer.36). uji  Ligamentum krusiatum posterior pivot shift lateral 2.

Pemeriksaan ligamentum krusiatum anterior dan posterior Kedua ligamentum ini berfungsi untuk stabilisasi sendi lutut ke arah depan dan belakang. Ara pemeriksaan:  Uji Drawer Lutut difleksikan 900 dan pemeriksa duduk pada kaki penderita untuk mencegah gerakan kaki.38 ). Sedangkan ligamentum krusiatum posterior pada arah sebaliknya. Ligamentum krusiatum anterior berfungsi untuk mencegah tibia tergelincir ked depan femur. 2. Dengan kedua tangan dilakukan abduksi untuk menguji ligamentum medial dan adduksi untuk menguji ligamentum lateral.37). Pada pemeriksaan ini sendi lutut dalam keadaan ekstensi penuh. Kecurigaan adanya robekan pada ligamentum krusiatum apabila ada gerakan yang abnormal.1. satu tangan pemeriksaan memegang pergelangan kaki dan satunya pada lutut. Apabila ada robekan ligamentum maka dapat dirasakan sendi bergerak melebihi batas normal (gambar 4. 106 . baik ke depan ataupun kebelakang (bandingkan dengan yang normal) (gambar 4. Dengan meletakkan kedua tangan di belakang tibia bagian proksimal dan kedua ibu jari pada kondilus femur. kemudia dilakukan tarikan pada tibia ke depan dan kebelakang. Pemeriksaan ligamentum media dan lateral Robekan pada ligamentum medial dapat diperiksa melalui uji abduction stress dan pada ligamentum lateral melalui uji adduction stress.

 Pemeriksaan pivot shift lateral Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan tambahan untuk mengetahui defisiensi pada ligamentum krusiatum anterior. Satu tangan memegang tungkai atas pada kondilus femur.40). Pada saat yang bersamaan tibia dirotasi ke medial. Kedua tangan kemudian digerakkan ke depan dan ke belakang antara tibia proksima dan femur (gambar 4. dimana kaki kanan diangkat oleh tangn kanan dan kaki kiri diangkat oleh tangan kiri dan lutut dalam keadaan ekstensi maksimal.39). Selanjutnya lutut difleksi secara perlahan-lahan dari posisi ekstensi. Uji Lachman Pada pemeriksan ini lutut difleksi 15-200. Dengan satu tangan pemeriksa memutar dari arah luar tungkai bawah persis di sebelah bawah lutut sehingga terjadi tekanan valgus. 107 . sedangkan tangan lainnya memegang tibia proksimal. Pemeriksaan positif apabila kondilus lateralis tibia terelokasi secara spontan pada kondilus femur ketiak fleksi mencapai 30-350 (gambar 4. Caranya kaki yang mengalami kelainan diangkat oleh pemeriksa.

maka 108 . tungkai bawah dipegang. Pada kerusakan meniskus. Penderita berbaring terlentang. Pada pemeriksaan ini lutut di ekstensikan kemudia dilakukan eksorotasi maksimal untum memeriksa meniskus medial atau dengan endorotasi maksimal untuk memeriksa menikus lateral. Uji rotasi Uji rotasi dilakukan untuk mengetahui adanya robekan meniskus dan dikenal sebagai uji Mc Murray. lutut difleksikan 900 dan dilakukan eksorotasi maksimal dan kemudian tungkai diluruskan sambil mempertahankan eksorotasi.

41). Pemeriksaan lain adalah Sky line atau pemeriksaan tangesial yang berguna untuk mengetahui osteoartritis patelo-femoral. Pemeriksaan lainnya yaitu radioisotope scanning. Pemeriksaan meniskus medial dilakukan dengan endorotasi maksimal dan mempunyai prinsip serta prosedur pemeriksaan yang sama dengan pemeriksaan eksorotasi maksimal (gambar 4. mungkin dapat diraba adanya krepitasi atau terdengar suara klik dari tanduk depan/belakang atau bagian dari meniskus yang lompat keluar dari antara kondilus femur.penderita merasa nyeri. Pemeriksaan radiologi Pemeriksaan radiologis rutin pada kelainan sendi lutut yaitu foto polos AP dan alteral dimana bagian dari femur dan tibia harus terlihat. Faktor eksterna penyebab nyeri lutut Nyeri pada lutut tidak selalu oleh karena kelainan pada lutut itu sendiri tapi juga mungkin oleh karena kelainan pada panggul atau daerah lain misalnya nyeri skiatika oleh karena adanya prolapsus diskus intervertebralis. Pemeriksaan radiologis dengan kontras yaitu artrografi kadangkala bermanfaat pada kelainan-kelainan yang tidak jelas pada sendi lutut. 109 .

Beberapa penyebab kelainan pada kaki yaitu:  Faktor herediter Kaki merupakan bagian dari badan yang relatif cepat berevolusi sebagai konsekuensi untuk mennunjang dan menopong tubuh yang tegak.  Tekanan postural Beban tubuh yang berlebihan menyebabkan beban yang harus ditanggung oleh kaki bertambah dan dapat menimbulkan kelainan pada kaki.15. Pergelangan Kaki dan Jari-jari Kaki Kelainan pada kaki menempati frekuensi yang kedua setelah kelainan punggung dalam kasus bedah ortopedi. Kelainan artikuler sendi lutut Artritis Kelainan mekanik  Artritis piogenik  Artritis reumatoid  Artritis tuberkulosis  Osteoartritis  Artritis hemofilik  Artritis neuropatik  Nyeri anterior lutut  Robekan meniskus  Kista meniskus  Diskoid lateral meniskus  Osteokondritis disekans  Benda asing intra-artikuler  Dislokasi rekuren patela  Disloksai habitual patela 2. Klasifiksi kelainan pada sendi lutut 1. Oleh karena itu struktur dan bentuk kaki cenderung bervariasi dan mungkin terjadi gangguan dalam efisiensinya. Kelainan ekstra-artikuler sendi lutut Deformitas Pembengkakan kistik  Genu varum  Genu valgum Trauma kuadriseps  Bursitis pre-patelar  Kista poplitea  Ruptur aparatus  Apofisitis dari tuberkel tibia (penyakit OsgoodSchlatter) Osifikasi pasca trauma Penyakit Pellegrini-Stieda pada kondilus femur medial Pemeriksaan Tungkai Bawah.Tabel 4. 110 .

 Pemakaian alas kaki Pemakaian alas kaki terutama pada wanita seperti pemakaian sepatu dengan bentuk dan posisi yang tidak sesuai akan mempengaruhi secara mekanik pada kaki. kebiasaan penderita. riwayat trauma sebelumnya serta gangguan yang terjadi pada saat berdiri dan berjalan. di samping riwayat pekerjaan. 111 . Anamnesis Pada anamnesis harus ditanyakan secara jelas distribusi nyeri yang terjadi.

pergelangan kaki dan kaki Pergerakan (aktif dan pasif.16. Pemeriksaan klinik pada tungkai bawah. tibialis posterior  Jari kaki  Denyut a. Palpasi 112 . femoral Ekstensi  Pemeriksaan adanya sianosis Stabilitas pada kaki  Integritas ligamen khususnya ligamentum Kekuatan lateral dari pergelangan kaki  Setiap otot harus di uji dan di Cara berjalan (gait) bandingkan dengan sisi yang Keadaan alas kaki (sepatu) sebelah  Bandingkan dengan sisi yang sebelah Penapakan kaki saat berdiri  Bentuk arkus longitudinal  Bentuk kaki  Efisiensi jari kaki  Efisiensi otot betis  Suhu kulit  Kontur tulang  Kontur jaringan lunak  Nyeri lokal 2. poplitea Fleksi  Denyut a. dibandingkan Inspeksi dngan sisi yang normal)  Kontur tulang  Pergelangn kaki  Kontur jaringan lunak Plantar fleksi  Warna dan tekstur kulit Ekstensi (dorsofleksi)  Adanya jaringan parut atau  Sendi subtalar sinus Inversi-adduksi Eversi-abduksi Sirkulasi perifer  Sendi midtarsal  Denyut a. dorsalis pedis Inversi-adduksi Eversi-abduksi  Denyut a. Pemeriksaan umum Pemeriksaan anggota tubuh lainnya untuk menentukan apakah gejala yang terjadi merupakan manifestasi dasri suatu penyakit sistemik tubuh. Pemeriksaan klinik pada tungkai bawah.Tabel 4. pergelangan kaki dan kaki 1.

menebal dan ireguler. Kaki lebih dingin. 113 . berwarna merah bata atau kebiruan (sianotik) pada uji Buerger. Bila terdapat iskemik. maka kulit menipis dan tidak elastis. Kuku menjadi buram. kuku. Pemeriksaan gerakan pada pergelangan kaki dan sendi tarsal  Secara normal pergerakan pergelangan kaki ke arah ekstensi atau dorso fleksi sebesar 15-200 dan plantar fleksi sebesar 40-500 (gambar 4.43).  Pemeriksaan aliaran darah kaki dengan menggunakan prinsip teknik Doppler  Pencatatan volume denyut  Arteriografi  Struktur arterial serta adaya penyumbatan vaskuler dapat terlihat melalui pemeriksaan radiologis setelah penyuntikan zat kontras. perubahan warna. suhu.Evaluasi status sirkulasi perifer  Evaluasi klinik yang dilakukan meliputi keadaan kulit dari kaki. denyutan arteri dan toleransi latihan  Pencatatan tekanan sistolik.

pers valgus atau pes varus. pes planus. Pemakaian alas kaki Pemeriksaan pada kaki tidak lengkap tanpa disertai dengan pemeriksaan alas kaki yang dipakai. 114 .apakah ada tekanan-tekanan tertentu pada alas kaki atau alas kaki tidak sesuai/sempit. Gerakan ini meliputi: o Kombinasi gerakan inversi dan adduksi (supinasi) sebesar 50 o Kombinasi gerakan eversi dan abduksi (pronasi) sebesar 50 Pada saat kedua kaki menginjak diperhatikan arkus longitudinalis apakah bentuknya normal atau ceper.44).   Pergerakan sendi subtalar dan midtarsal Gerakan pada sendi subtalar dan sendi midtarsal terjadi secara bersama-sama sebagai satu uni kesatuan (gambar 4. apakah ada pes kavus.

Kelainan jari-jari kaki Deformitas  Haluks valgus  Hammer toe  Under-riding toe Artritis  Artritis reumatoid  Osteoartritis  Artritis gout Tumor  Tumor jinak tulang  Tumor ganas tulang Kelainan sirkulasi  Klaudikasio intermiten Gangguan mekanik pasca trauma  Subluksasi rekuren Osteokondritis  Osteokondritis tulang navikular (penyakit Kohler) Artritis  Osteoartritis sendi tarsal Lain-lain  Nyeri tumit  Nyeri alas kaki  Kutil plantar  Kalositis  Ganglion Osteokondritis  Osteokondritis pada kaput metatarsal (penyakit Freiberg) Lain-lain  Pertumbuhan kuku kaki  Eksostosis sub-ungualonikogriposis Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan radiologis rutin yang dilakukan adalah pemeriksaan foto polos AP dan lateral pergelangan kaki 115 . Klasifikasi kelainan pada tungkai bawah. Kelainan pergelangan kaki Artritis  Artritis piogenik  Artritis reumatoid  Artritis tuberkulosis  Osteoartritis  Artritis gout  Artritis hemofilik  Artritis neuropatik 3. Kelainan pada kaki Deformitas  Kongenital club foot (talipes ekuinovarus)  Talipes asesoris valgus  Tulang asesoris pada kaki (tulang navikular)  Pes kavus  Pes planus (kaki ceper) Kelainan postural  Strain kaki  Bentuk artritis tarsal yang lain 4. Kelainan pada tungkai bawah Trauma  Ruptur tendo Achilles Infeksi  Osteomielitis akut  Osteomielitis kronik  Infeksi sifilis 2.17.Tabel 4. pergelangan kaki dan kaki 1.

drop foot atau adanya atropi otot pada daerah tertentu 116 . Pemeriksaan yang sama misalnya pada paraparesis/paraplegi oleh karena adanya kelainan pada tulang belakang torakal atau lumbal. Pemeriksaan neurologis disesuaikan dengan kelainan yang didapatkan atau dicurigai seperti kelemahan otot anggota gerak atas pada spondilosis servikal atau tetraparesis/ tetraplegi setelah suatu trauma pada tulang belakang servikal.PEMERIKSAAN NEUROLOGIS Pada penderita kelainan bedah ortopedi perlu dilakukan neurologis lengkap apabila ditemukan adanya gangguan yang berupa kelemahan otot. gangguan kordinasi serta perubahan sensibilitas. Juga harus diperiksa adanya gambaran kelainan pada anggota gerak misalnya claw hand.

3. ekstensi 300. warna & tekstur kulit. 3.Checklist : Muskuloskeletal Exam Skor No I. 3. 2. Look : kontur tulang. kontur jaringan lunak. kontur tulang. kontur jaringan lunak. Pemeriksaan daerah leher 1. kontur tulang. Pemeriksaan Sendi Bahu 1. ada/tidak jaringan parut/sinus Feel : suhu kulit. Look : kontur tulang. Persiapan pasien Menyapa/mengucapkan salam dan memperkenalkan diri Memberikan penjelasan dengan benar. nyeri lokal Move : Sendi spinal : fleksi 800. kontur jaringan lunak. spasme otot IV. kontur jaringan lunak Move : Fleksi-ekstensi 1300. 2. 1. Fleksi lateral 450. 3. 2. kontur jaringan lunak. lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan Memberitahukan kemungkinan adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang timbul selama pemeriksaan dilakukan Aspek Yang Dinilai 0 1 2 II. 2. ada/tidak jaringan lunak Feel : suhu kulit. Look : kontur tulang. fleksi. kontur jaringan lunak. nyeri lokal Move : · membedakan pergerakan sendi glenohumeral & sendi skapula pada gerakan abduksi. ekstensi. rotasi lateral & rotasi medial · ada tidaknya kelainan : nyeri saat pergerakan. jelas. 4. warna & tekstur kulit. warna & tekstur kulit. fleksi lateral 350. kontur tulang. ada/tidaknya jaringan parut/sinus Feel : suhu kulit. ada/tidak : nyeri saat pergerakan. spasme otot & krepitasi 117 . ada/tidaknya krepitasi III Pemeriksaan punggung (pasien dalam posisi berdiri) 1. rotasi 450. Rotasi 800 Kelainan saat pergerakan : Ada/tidak rasa nyeri.

2. pronasi 900 Stabilitas : lig. warna & tekstur kulit. Aspek Yang Dinilai 0 Pemeriksaan sendi akromioklavikular : bengkak. krepitasi 4. Medial 1 2 VI. 6. warna & tekstur kulit. ekstensi 00. Medianus : fungsi sensorik dan fungsi motorik · N. skapulohumeral Pemeriksaan lengan atas & sendi siku Look : kontur tulang. 3. nyeri & stabilitas Pemeriksaan sendi sternoklavikular : bengkak. kontur jaringan lunak. Pemeriksaan lengan bawah. ada/tidak jaringan parut/sinus Feel : suhu kulit. rasa panas. kontur jaringan lunak. rasa panas. pengisian kembali kapiler Kekuatan otot & stabilitas 118 . 4. nyeri lokal Move (aktif & pasif) : pergelangan tangan. kontur jaringan lunak. tangan. ada/tidaknya jaringan parut Feel : suhu kulit. Kekuatan otot : fleksi 1500. Sirkulasi : denyut arteri. supinasi 800. 2. pronasi 900 · Kelainan saat pergerakan : nyeri. 3. torakoskapula. pergelangan tangan & jari-jari 1. nyeri lokal Move (aktif & pasif) : · Sendi humero-ulnar : fleksi 1500. ekstensi 00 · Sendi radio-ulnar : supinasi 800. 5. 5. kontur tulang. Look : kontur tulang. kontur jaringan lunak. V. rasa hangat. nyeri & stabilitas Kekuatan otot : otot servikoskapula. Radialis : fungsi sensorik dan fungsi motorik · N. 6. 1.Skor No 4. jari-jari Saraf : · N. kontur tulang. warna. Lateral & lig. Ulnaris : fungsi sensorik dan fungsi motorik 5.

ada/tidak jaringan parut Feel: suhu kulit. rotasi medial (interna). warna & tekstur kulit. Medial. kontur jaringan lunak. kontur tulang. warna & tekstur kulit. krepitasi Kekuatan : fleksi-ekstensi Stabilitas : lig. Feel: suhu kulit. 3. Look : kontur tulang. kontur jaringan lunak. Krusiatum anterior & posterior Uji rotasi Mc Murray 119 . Pemeriksaan Panggul 1. 2. kontur jaringan lunak. Move (aktif/pasif) : fleksi. rotasi lateral (eksterna) d. Cara berjalan (gait) VIII Pemeriksaan Lutut 1. Pengukuran panjang tungkai : panjang klinik & panjang yang tampak f. abduksi saat fleksi. Lateral. nyeri lokal c. 4. 5. kontur jaringan lunak. nyeri lokal Move (aktif&pasif) : fleksi. kontur tulang. Pemeriksaan adanya deformitas : uji Thomas e. Pemeriksaan stabilitas postural : uji Trendelenburg b.Skor No Aspek Yang Dinilai 0 1 2 VII. Kekuatan otot 2. 6. nyeri bila digerakkan. Look: kontur tulang. ekstensi. Pasien berdiri : a. ada/tidak jaringan parut b. lig. Pasien berbaring: a. lig.

ada/tidak sianosis kaki Status neurologik anggota gerak bawah : Uji Straight Leg Raising (SLR) Melaporkan hasil pemeriksaan dan follow up 1 2 Keterangan : 0: Tidak dilakukan 1: Dilakukan tapi kurang benar 2: Dilakukan dengan benar % cakupan penguasaan keterampilan : Skor total/114 x 100% = % Banda Aceh.Skor No IX. kontur tulang. 3. warna & tekstur kulit Feel: suhu kulit. 2. kontur jaringan lunak. 6. 7. eversi-abduksi . Femoralis. a.jari kaki : fleksi & ekstensi 4. 1. Dorsalis pedis. Tibialis posterior. eversi-abduksi . 8. 5. X Kekuatan otot Stabilitas : integritas ligamen khususnya ligamentum lateral kaki Penapakan kaki saat berdiri : bentuk arkus longitudinal.2012 Nama Instruktur 120 . a.sendi subtalar : inversi-adduksi. nyeri lokal Move (aktif&pasif) : . Aspek Yang Dinilai 0 Pemeriksaan tungkai bawah.sendi midtarsal : inversi-adduksi.. Poplitea. bentuk kaki Sirkulasi perifer : denyut a. dorsofleksi . a. kontur jaringan lunak.pergelangan kaki : plantar fleksi. pergelangan kaki & kaki Look: kontur tulang. …………….

Untuk mengetahui fungsinya apakah normal atau tidak adalah dengan cara memberikan stimulasi pada target organ yang disarafi. VI. pemeriksaan neurologi dan pemeriksaan penunjang. fungsi kortikal luhur .pemeriksaan nervus kranialis .pemeriksaan gerak abnormal .pemeriksaan kesadaran. pemeriksaan umum.pemeriksaan sensorik .pemerikssan otonom Seluruh pemeriksaan ini harus dilakukan dengan sempurna. V. 121 . agar tidak terjadi salah interpretasi. PEMERIKSAAN NEUROLOGI Tujuan Belajar :  Mahasiswa mampu & terlatih melakukan pemeriksaan neurologi secara sistematis & tepat. akan tetapi diagnosis tetap ditentukan berdasarkan anamnesis.pemeriksaan koordinasi .pemeriksaan rangsangan meningeal . mencakup :  Pemeriksaan GCS (Glasgow Coma Scale)  Pemeriksaan Fisik saraf Otak : I.8.pemeriksaan motorik . IV. Jenis-jenis pemeriksaan neurologi adalah : . tidak terlihat secara makroskopis. III. Stimulasi tersebut dilakukan dengan menyesuaikan fungsi organ tersebut. VII & XII secara sistematis & tepat  Mahasiswa mampu menentukan kesimpulan atas pemeriksaan yang dilakukan (normal/terdapat gangguan) & mengaitkannya dengan kemungkinan diagnosis Sistim saraf pada manusia terletak di dalam tubuh. Pemeriksaan neurologi ini tidak dapat untuk mengambil keputusan diagnosis secara tersendiri.

Dengan adanya dua lintasan aferen tersebut maka terdapat penghantaran aferen yang pada pokoknya berbeda. 2. 1. atau dapat dibangunkan olah suruhan atau pertanyaan yang disampaikan dengan suara yang kuat. auditoar dan taktil yang ada disekitarnya. Nyeri.Pemeriksaan Kesadaran. Sebaliknya lintasan aferen nonspesifik menghantarkan setiap impuls dari titik manapun pada tubuh ke titik-titik pada seluruh korteks serebri kedua sisi. Lintasan spesifik menghantarkan impuls dari satu titik pada reseptor ke satu titik pada kortek perseptif primer. Apakah pasien memberi reaksi wajar terhadap suara konversasi. Bagaimana respon pasien terhadap rangsang nyeri. 3. Substrat Anatomik dari Kesadaran Jumlah input susunan saraf pusat menentukan derajat kesadaran sedangkan cara pengolahan input tersebut sehingga menghasilkan pola output susunan saraf pusat menentukan kualitas kesadaran. 122 . konversasi dan bila perlu memberikan rangsang nyeri. Perhatikan apakah pasien berespon secara wajar terhadap stimulus visual. Inspeksi. seorang dokter melakukan inspeksi. Konversasi. Dalam memeriksa tingkat kesadaran. Input susunan saraf pusat dapat dibedakan dalam input yang bersifat spesifik dan non spesifik.

Secara sederhana tingkat kesadaran dapat dibagi atas: kesadaran normal (kompos mentis). Penderita sama sekali tidak dapat dibangunkan. Tidak ada gerakan spontan. Tidak dapat diperoleh jawaban verbal dari penderita. Dengan rangsang nyeri penderita tidak dapat dibangunkan sempurna. Gerakan motorik untuk menangkis rangsang nyeri masih baik. sopor. Refleks (kornea. Tidak ada jawaban sama sekali terhadap rangsang nyeri yang bagaimanapun kuatnya. Tingkat Kesadaran Tingkat kesadaran dapat dinilai berdasarkan respon seseorang terhadap stimulus. Koma-ringan (semi koma). komaringan. pupil. mampu memberi jawaban verbal dan menangkis rangsa ngan nyeri. Reaksi terhadap perintah tidak konsisten dan samar. Pada keadaan ini tidak ada respon terhadap rangsang verbal. Somnolen disebut juga sebagai letargi. Penderita masih dapat dibangunkan dengan rangsangan yang kuat. Somnolen. Tingkat keasadaran ini ditandai oleh mudahnya penderita diba ngunkan. Sopor. obtudansi. dll) masih baik. Keadaan mengantuk.Neuron-neuron di seluruh kortek serebri yang digalakkan impuls aferen non spesifik biasa disebut sebagai neuron pengemban kewaspadaan. Aktivitas neuron tersebut digalakkan oleh neuron yang menyusun inti talamik yang dinamakan nuclei intralaminares dan disebut sebagai neuron penggalak kewaspadaan. Ia dapat mengikuti suruhan yang singkat dan masih terlihat gerakan spontan. Kesadaran dapat pulih penuh bila dirangsang. namun kesadarannya menurun lagi. Pembagian tingkat kesadaran seperti di atas merupakan 123 . dan koma. Gerakan terutama timbul sebagai respon terhadap rangsang nyeri dan tidak terorganisasi. Kantuk yang dalam. Koma (dalam). somnolen.

Pembagian tingkat kesadaran tersebut memiliki kemungkinan diinterpretasikan beragam oleh pemeriksa dan agak sulit untuk diterapkan. Tanggapan/respons penderita yang perlu diperhatikan adalah : a. Oleh karena itu di bidang neurologi dibuat sebuah skala yang obyektif untuk menentukan tingkat kesadaran yang dikenal sebagai SKALA KOMA GLASGOW (Glasgow Coma Scale). Skala Koma Glasgow Untuk menentukan tingkat perkembangan kesadaran dapat digunakan Skala Koma Glasgow yang memperhatikan tanggapan (respons) penderita terhadap rangsang dan memberikan nilai pada respon tersebut. Respon verbal (bicara) (verbal) c.pembagian dalam pengertian klinis dan tidak ada batasan yang jelas antara tingkatan ini. Membuka mata  spontan  Terhadap bicara (suruh pasien membuka mata)  Dengan rangsangan nyeri (tekan pada saraf supraorbita atau kuku jari)  Tidak ada reaksi (dengan rangsang nyeri pasien tidak membuka mata) 4 3 2 1 124 . Respon motorik (gerakan) (motorik) A. Membuka mata (eye) b.

hanya suara mengerang) Tidak ada jawaban 2 1 C. bulan) Kacau (“confused”) dapat bicara dalam kalimat. 125 . Ini selalu disertai fleksi spastic pada pergelangan tangan) Tidak ada reaksi 1 (Sebelum memutuskan bahwa tidak ada reaksi. Respon motorik (gerakan) Menurut perintah Misalnya. hari. namun tidak berupa 3 kalimat dan tidak tepat) Mengerang (tidak mengucapkan kata. Bila sebagai jawaban siku memfleksi. bicara dan gerakan dengan jumlah nilai = 3. misalnya menekan dengan jari pada supraorbita. pada jari kuku. harus diyakinkan bahwa rangsang nyeri memang cukup adekuat diberikan) - - - Bila kita gunakan skala Glasglow sebagai patokan untuk koma. bila oleh rasa nyeri pasien mengangkat tangannya sampai melewati dagu untuk maksud menapis rangsang tersebut berarti ia dapat mengetahui lokasi nyeri) Reaksi menghindar 4 Reaksi fleksi (dekortikasi) 3 (Berikan rangsang nyeri. Tidak tepat (dapat mengucapkan kata-kata. suruh: “Angkat tangan”) 6 Mengetahui lokasi nyeri 5 (Berikan rangsang nyeri. Respon verbal (bicara) Baik dan tak ada dis orientasi (dapat menjawab dengan kalimat 5 yang baik dan tahu dimana ia berada. misalnya menekan dengan objek keras seperti ballpoint. terdapat reaksi fleksi terhadap nyeri (fleksi pada pergelangan tangan mungkin ada atau tidak ada Reaksi ekstensi (deserebrasi) 2 (dengan rangsang nyeri tersebut diatas terjadi ekstensi pada siku. namun ada 4 disorderientasi waktu dan tempat. tahu waktu. maka koma = tidak didapatkan respons membuka mata.B.

PEMERIKSAAN SKALA KOMA GLASGOW 126 .

2.2012 Tanda Tangan Nama Observer 127 . 3. Aspek Yang Dinilai Melakukan pemeriksaan SKG komponen mata (eye/E) Melakukan pemeriksaan SKG komponen motorik (M) Melakukan pemeriksaan SKG komponen verbal (V) Menyebutkan hasil pemeriksaan SKG Menginterprestasikan hasil SKG ke dalam kondisi klinis (sadar/penurunan kesadaran) Skor 0 1 2 Keterangan: 0 : tidak dilakukan 1 : dilakukan tapi kurang benar 2 : dilakukan dengan benar % cakupan penguasaan keterampilan : Skor total/10 x 100% = % Banda Aceh.Checklist : Pemeriksaan Tingkat Kesadaran (GCS) No 1. 5. …….. 4.

PEMERIKSAAN FISIK SARAF OTAK 128 .

129 .

timah). tetapi jangan berikan zat stimulus dan tanyakan seperti diatas. Selanjutnya periksa lubang hidung tadi dengan zat stimulus dan bandingkan hasil keduanya 8. Gunakan alat pengetes yg dikenal sehari-hari (mis. hiperakusis. aging.I ( Nervus Olfaktorius ) Fungsi : Sensorik khusus menghidu Cara pemeriksaan : 1. zat toksik (Ca. hiperemesis gravidarum. amoniak. jeruk). jangan gunakan zat yang merangsang mukosa hidung seperti mentol. tembakau. migrain. penggunaan amfetamin & coccaino jk. Hal ini untuk menilai perhatian dan kebenaran laporan yang diberikan pasien 7. Periksa lubang hidung yang lain. alkohol. Tanyakan apakah dia dapat mencium bau tersebut dan mengidentifikasinya 6. 130 . suruh pasien untuk menciumnya 5. Tes ini merupakan tes subyektif.panjang). Periksa kemampuan pasien dalam persepsi. Addison’s dis. Dengan mata tertutup.pd anemia pernisiosa)  Hiposmia / anosmia parsial : dapat terjadi dgn lesi di n.trigeminalis  Hipersomia : pada histeria. berdasarkan penilaian kualitatif. anosmia sering disertai dengan berkurangnya rasa pengecapan (mis. periode haid. cuka 4. keracunan striknine. tutup salah satu lubang hidung. tergantung dari laporan yang diberikan pasien Penilaian :  Anosmia : terjadi pada trauma & infeksi lobus frontal. Pastikan lubang hidung tidak ada sumbatan atau kelainan setempat 3. hidrosefalus. overstimulation (perokok berat. Kopi.N. identifikasi dan menamakan zat yang akan dites persepsi lebih penting daripada kemampuan mengidentifikasi 2. ensefalitis. tumor ( meningioma→Sindrom Foster Kannedy ).

pastikan bahwa bila satu mata diperiksa. Psikiatrik. mata yang lain ditutup.    Parosmia : salah menghidu terjadi pd gg. trauma terutama didaerah unkus Kakosmia : persepsi bau busuk Halusinasi penciuman : pada lesi vaskular & tumor di korteks. kecuali lesi terjadi bilateral. halusinasi olfaktorius Lesi perifer (bulbus/traktus olfaktorius)  Dapat bilateral/bilateral anasmia N. pasien dapat mengenalinya. tapi pada histeria.II (Nervus optikus) Fungsi : sensorik khusus melihat Cara pemeriksaan : Mata diperiksa secara bergantian.II dan pemeriksaan juga tidak mencurigai adanya gangguan. Pemeriksaan akan lebih akurat bila penderita dalam keadaan alert (sadar) dan kooperatif Jika pasien tidak mempunyai keluhan yang berhubungan dengan N. dengan jarak 6 meter. tetapi dapat terjadi hipesmia/smell agnesia  Dapat terjadi parosmia. Lokasi Lesi : Lesi korteks olfaktorius ( lobus temporal )  Jarang terjadi anosmia. pasien tidak dapat mengenalinya. maka biasanya hanya dilakukan pemeriksaan N. baca huruf dari yang besar ke kecil. epilepsi Cara membedakan Anosmia pada histeria (bukan kelainan organik) : rangsang dengan zat iritatif yang akan menstumulasi n. terjadi relaksasi akomodasi dan sinar yang masuk paralel 131 . dan oftalmoskopik sebagai pemeriksaan rutin Ketajaman penglihatan (visual acutiy) menggunakan :  Snellen Chart dengan jarak G m (Normal = 6/6)→untuk lihat jauh.II secara kasar (ketajaman penglihatan & lapangan pandang). Pada anosmia organik. Trigeminal.

Bila terdapat gerakan mata keobjek tersebut mengidinkasikan bahwa objek tersebut terlihat oleh pasien. tes dilakukan dengan dan tanpa kacamata Untuk bedside test : gunakan bacaan dari buku.uveitis. atau keduanya. dan malingerers. Letakkan tangan pada kedua sisi kira kira 30cm diatas mata. Pada kelainan okular atau optikal. dengan cara menggerakkan objek benda yang menarik bagi pasien (mis. Warna → menggunakan Ishihara card test (tidak rutin dilakukan) 3. anak -anak. Lapangan pandang  Tes kelainan lapangan pandang secara kasar : Pasien diminta untuk melihat dengan kedua matanya kearah mata pemeriksa. Cara lain adalah dengan menggunakan cahaya lampu atau menggerakkan tangan dan sisi tertentu 132 . 2. pada keadaan atas temporel suruh pasien memberitahu jari mana yang bergerak : kiri.permen) dari sisi tertentu. Bila terdapat visus yang sangat menurun (tidak dapat melihat huruf yang paling besar)→lakukan tes hitung jari (1/60).atasia.glaukoma.segelas air. bandingkan ketajaman penglihatan denga pemeriksa (dalam hal ini visus pemeriksa harus normal).benda asing. perhatikan apakah ada kelainan okular lokal (katarak. iritsi.   Jaoger reading cards.5cm→untuk lihat dekat Bila pasien menggunakan kacamata. kemampuan membedakan terang dan gelap (1/00) Penilaian : jika terdapat penurunan visus.sikatris. objek bergerak (1/300). tetapi dapat dilihat bila digerakkan sendiri →visual inattention Tes ini juga dapat dipakai pada penderita semitopor. kanan. visus akan membaik bila ditest denga pinhole. Ulangi seperti diatas dengan posisi kedua tangan 30cm dibawah mata. Jika salah satu sisi diabaikan ketika kedua jari digerakkan bersamaan.arcus senilis) Pinhole test : menentukan apakah gangguan visus disebabkan kelainan refraksi atau kelainan di jalur visual.iritasi konjungtiva. Pinhole digunakan agar sinar sentral saja yang masuk ke mata. dengan jarak 35.

133 . posisi mata pada orbita dan lebarnya fissura palpebra Penilaian :  Monocular field defects→lesi anterios dari klasma optikum  Bitemporal field defects→lesi di klasma optikum  Homonymous field defects→lesi dibelakang klasma optikum  Congruous homonymous field defects→lesi dibelakang korpus geniculatum lateral 4.secara cepat kearah pasien. bentuk orbita. Gunakan pin putih (untuk lap. tetapi boleh mengedipkan matanya.pdg perifer)atau pin merah (untuk lap. Tutup mata kanan Pm dan mata kiri Ps. Funduskopi  Pemeriksaan dilakukan dalam keadaan gelap  Cari fokus untuk pemeriksaan yang sesuai. Ps diminta untuk memberitahukan bila dia melihat gerakan obyek pertama kali   Perimeter. Normalnya lapangan pandang lebih luas pada kuadran interior lateral Hal ini juga tergantung dari bentuk wajah.pandang sentral). Penderita tidak boleh menggerakkan bola matanya. Tes melalui berbagai meridian penglihatan dari arah luar ke dalam (biasanya dalam 4 arah). Perhatikan apakah pasien berkedip (blink reflex) Tes konfrontasi →pemeriksa (Pm) duduk berhadapan dengan pasien (Ps) pada jarak ½ m. jika mata pasien atau pemeriksa hipermetrop → putar focus ring searah dengan jarum jam Blia miopia → putar berlawanan arah dengan jarum jam. Kampimeter. Cari koreksi yang sesuai  Suruh pasien melihat jauh kedepan dalam jarak tertentu dan fiksasi matanya dengan melihat benda di depannya. Periksa masing-masing mata. Fiksasi mata Ps dengan melihat hidung Pm. Tangent screen.

ukuran dan warna dari papil. pembuluh darah.  Batas nasal kabur & temporal pucat. dengan diameter <50% dari disc. Optic disc (papilla)  Normal : cuping terletak sedikit ke arah nasal dari pusat optic disc.  Perhatikan batas. maka terlihat sebagai suatu silhouettes (web like appearance)  Perlahan dekatkan oftalmoskop 1-2 cm dari mata pasien Perhatikan optic disc. retina Penilaian : 1. waarna fundus lebih merah pada hipermetrop → normal  Papil edema : “ you see nothing (can’t find disc) + patient sees everything”  Papilitis : “ you see nothing + patient sees nothing”  Retrobulbar nouritis : “you see everything (normal disc) + patient sees nothing 134 . Lihat mata kanan pasien dengan oftalmoskop pada jarak 30cm dan 15" horisontal dari garis fiksasi  Pupil berwarna pink (red reflex). Pegang oftalmoskop dengan tangan kanan. bila terdapat katarak. papil pucat pada myopic fundus.

konsensual.perhatikan bentuk. retinitis pigmentosa. akomodasi → konstriksi pupil refleks : Ciliospinal reflek → pupil dilatasi pada perangsangan nyeri di leher Oculopupillary reflek → pupil konstriksi pada perangasangan nyeri dimata dan sekitarnya Orbicularis reflek → konstriksi pupil pada penutupan mata secara paksa 135 . dengan perbandingan 2:3 – 4:5. subhyaloid haemonages  White/yellow lesions : hard exudates.IV (Nervus trokhlearis) N. melanoma N.III (Nervus okulamotorius) N. laser burns.2. Pembuluh darah  Arteri mempunyai ukuran lebuh kecil dari vena. arteriovenous nipping. neovascularisation. Retina :  Red lasions : dot haemonhages.VI (Nervus abdusen) Fungsi :  Pergerakan bola mata (gerak sakadik. pursuit.konvergensi)  Posisi bola mata  Pupil dan kelopak mata Cara pemeriksaan :  Pupil : . berwarna merah keunguan dan lebih tebal serta berkelok – kelok  Ukuran arteri irregular. cotton wool spots  Black lesions : moles (Normal). name haemonhages. cholesterol embolus 3. blot haemonhages. ukuran. warnanya lebuh terang dan terdapat refleks cahaya sepanjang permukaannya vena. isokor atau tidak refleks : cahaya langsung. vestibular posisional.

atau ada yang tertinggal . tutup 136     . konvergen.Pseudoptosis → turunnya kelopak mata sampai dibawah batas pupil. dan tanyakan apakah dia melihat double . tetapi pasien secara volunter dapat mengangkatnya dengan penuh .pasien diminta mengikuti gerak jari tersebut tanpa menggerakkan kepalanya.IV. skew deviation. kepala miring menjauhi arah lesi Lihat posisi bola mata → devergen.Cochleopopillary reflek → pupil dilatasi pada perangsangan suara keras Vestibulopupillary reflek → pupil dilatasi pada perangsangan labirin Psychic reflek → dilatasi pupil sebagai respon terhadap rasa takut. atas bawah dari medial dan atas bawah dari lateral . pastikan apakah bayangan yang timbul : bersebelahan atau atas bawah. deviation conjugee Lakukan cover test : (untuk strabismus laten). Kemudian tutup mata kiri Ps (mata yang paresis).ptosis Lihat posisi kepala → pada lesi N.bila terdapat melihat double. sexual orgasm  Kelopak mata : . Dalam posisi tersebut. maka mata kiri berusaha akan mengadakan koreksi setelah tutup mata dibuka dengan kembali ke posisi semula Gerak pursuit .jari pemeriksa diletakkan kira – kira 50cm dari tengah pasien . maka posisi mata akan menjauhi posisi mata yang paresis. Jika terdapat Strabismus.gerakkan jari tersebut dari sisi satu ke sisi lain secara horisontal. cemas.perhatikan apakah kedua mata bergerak dengan mulus dan serempak. Tentukan arah dimana bayangan lebih jelas terlihat. minta pasien (Ps) untuk melihat dengan kedua matanya ke arah mata kanan pemeriksa (Pm). lalu buka dengan cepat dan tutup mata kanan Ps.

dan menggerakkan rahang  Sensorik : wajah Cara pemeriksaan : 1.suruh pasien untuk melihat secara cepat bergantian kekanan. kiri.suruh pasien untuk melihat jauh dan kemudian lihat ke jari pemeriksa yang diletakkan ± 50cm didepan pasien.V (Nervus trigeminalis) Fungsi :  Motorik : otot mengunyah. atas bawah . maka refleks intak N.   salah satu mata dan tanyakan bayangan mana yang hilang : bagian luar atau dalam. perhatikan tonus dan kontraksinya. Bila terdapat paralisis otot. fleksi dan ekstensi . secara perlahan gerakkan jari kearah mata pasien. Paralisis otot pterigoideus lateralis ditandai dengan deviasi rahang ke arah 137 . maka pemeriksa dapat menarik tongue depressor tersebut dengan mudah pada sisi yang lemah .Inspeksi kening dan pipi.suruh pasien untuk melihat jauh dan terfiksasi .Suruh pasien untuk menggigit tongue depressor.kemudian putar kepala pasien secara cepat kekanan.Suruh pasien untuk membuka mulutnya.jika gerakan mata berlawanan dengan arah putaran kepala. membuka menutup mulut. Motorik . . apakah ada atrofi dan otot – otot masseter dan temporalis . kiri. Arah posisi bayangan yang salah menunjukkan gerakan otot yang lumpuh Gerak sakadik .perhatikan apakah gerakan mulus dan penuh Konvergensi . Perhatikan adanya konvergensi dari otot-otot bolamata Gerak vestibular – posisional (vestibulo-ocular reflex) .Palpasi otot – otot tersebut sambil pasien disuruh merapatkan giginya sekuat mungkin.

akan menyebabkan pasien tidak mampu menggerakkan rahangnya ke sisi yang berlawanan arah dengan otot yang lumpuh 2. Auricularis 3.perhatikan refleks kornea langsung dan refleks konsensual pada mata kontralateral. atau bahkan sama sekali tidak ada kontraksi .sisi lesi. yang menyebabkan mulut tertutup. Refleks  Jaw / masseter / mandibular reflex . dengan posisi mulut sedikit terbuka dan rahang dalam keadaan relaks . untuk menghindari adanya refleks visual palpebral atau “ blink reflex” .pemeriksa meletakkan jari telunjuknya pada pertengahan dagu pasien. . Paralisis otot disatu sisi.bila terdapat refleks meningkat → menandakan lesi supranuklir  Refleks kornea .pemeriksa mengetukkan refleks hammer keatas jarinya . Sensorik Pemeriksaan sensorik dilakukan dalam berbagai modalitas sesuai dengan distribusi daerah seperti yang ditunjukkan pada gambar. tetapi oleh C2-3 melalui N.V.pasien melirik kearah yang berlawanan dengan arah yang akan dirangsang. Positif jika terdapat kedipan palpebra 138 . bila ada deviasi maka ada pergeseran dari posisi gigi semula sewaktu membuka mulut. Perlu diingat bahwa bagian bawah dan rahang bawah dipersarafi bukan oleh N.pemeriksa merangsang dengan mengadakan sentuhan ringan langsung ke kornea menggunakan ujung kapas . Masseter dan temporalis. Adanya deviasi ditandai dengan cara pemeriksa meletakkan pena atau penggaris didepan hidung pasien secara vertikal.Minta pasien untuk menggerakkan rahangnya dari satu sisi ke sisi lain melawan tahanan. Jangan berpatokan apda posisi bibir. kemudian diambil patokan gigi incisivus atas dan bawah.normal : terjadi kontraksi ringan dari M.

Jika terjadi kelumpuhan maka pasien tidak dapat mempertahankan pejamannya pada sisi yang lumpuh . Pada sisi yang lumpuh kerutan berkurang atau menghilang. IX. Viseromotorik (fungsi sekresi) :  schimer’s test (Lacrimal reflex) → dengan meletakkan kertas saring atau litmus dibawah kelopak mata bawah. otot platisma. Suruh pasien memejamkan mata. lihat apakah simetris atau tidak 2.perhatikan muka penderita simetris atau tidak . sudut mulut. palatum. sama atau tidak 139 . glandula submaksilar. C2-3.minta pasien mengangkat alis dan mengerutkan dahi.perhatikan kerutan pada dahi. sinus paranasal. dapat diberikan rangsang nyeri dengan menekan sudut rahangnya. kemudian pemeriksa mengangkat kelopak mata pasien sementara pasien masih tetap memejamkan matanya. plika nasolabialis. stilohioid. mencucurkan bibir. X.VII (Nervus Fasialis) Fungsi :  Somatomotorik otot – otot wajah. lihat kerutannya simetris atau tidak. fissura palpebra .V. menggembungkan pipi.Minta pasien menyeringai. Motorik : . digastrikus posterior. Bandingkan sekresi air mata pada kedua sisi. Pada sisi yang lumpuh sudut mulut tertinggal. sulit untuk diperiksa secara spesifik Cara pemeriksaan : 1. sublingual dan lakrimalis  Viserosensorik : pengecapan 2/3 anterior lidah  Somatosensorik : eksteroseptif overtapping dengan daerah yang juga dipersarafi oleh N.N. rongga hidung. Pada pasien yang tidak sadar. stapedius telinga tengah  Viseromotorik (parasimpatis) : glandula dan mukosa jaring.

pretrusi bibir sampai pada batas hidung bawah → snout reflex 140 . Positif pada lesi kortikobulbar dan ekstrapiramidal. penderita tidak boleh menarik lidahnya kedalam mulut. dan taruh pada lidahnya ke 4 macam rasa tadi secara bergantian. Sensorik pengecapan :  Gunakan 4 macam rasa dalam larutan : gula. 3. Bila ketukan dilakukan pada mentalis → terjadi elevasi dan protrusi bibir bawah dan kerutan kulit pada daru = perioral. Rasa pahit sebaiknya dites terakhir karena meninggalkan rasa yang lebih lama 4. terjadi kontraksi otot yang dipersarafi → dapat normal atau tetani  Refleks orbikularis oris : lakukan ketukan diatas bibir atas → terjadi kontraksi dari bibir atas ipsilateral. buccal. Bila respon semakin meningkat dan terjadi kerutan. kemudian suruh penderita untuk menaikkan lidahnya. oral. asam asetat. kuinine  Pasien diminta untuk menjulurkan lidahnya keluar. nasomental reflex. salivary reflex → letakkan substansi yang merangsang (lemon drop) diatas lidah. Refleks  Chovstek sign : lakukan ketukan ringan dibagian depan telinga. Jika tidak ada gangguan pada fungsi sekretorik. Pasien disuruh menyatakan pengecapan yang dirasakannya dengan isyarat atau dengan menulis diatas kertas  Mulut harus dibersihkan denga air antara tes rasa yang satu dengan lainnya. Pastikan bahwa substansi itu ditaruh hanya di 2/3 anterior lidah. garam. maka terlihat aliran saliva dari duktus submaksilar. Bila positf . Gunakan cotton aplicator untuk menaruh substansi tadi  Apabila cairan ditaruh.

Perhatikan apakah ada deviasi  Past pointing (kinetic deviation) : penderita disuruh 141 . 256. waber. lateralisasi ke telinga sakit 2. Kokhlearis → pendengaran  N. Keseimbangan. audiogram gunakan garputala berfrekuensi 128. Vestibularis → keseimbangan. Normalnya rotasi badan < 30°. Dengan mata tertutup (Romberg test). schewabach.N.VIII (Nervus vestibulo – kokhlearis) Fungsi :  N. koordinasi dan orientasi :  Vertigo  Fukuda’s stepping test → pasien disuruh berjalan di tempat dengan mata tertutup selama ± 1 menit (50x). Jika terdapat kelainan akan jatuh ke sisi lesi  Berjalan tandem → penderita berjalan dengan tumit kaki yang satu di depan jari – jari kaki yang lainnya.. Bila terdapat perbedaan gunakan tes Rinne. 512 Hz  Tes Rinne : . Pendengaran :  lakukan tes secara kasar dahulu dengan menyuruh pasien mendengarkan bisikan pada jarak tertentu atau gosokkan ibu jari dan telunjuk.bila konduksi tulang lebih baik dari pada udara Tes Weber : lateralisasi suara kearah telinga yang lebih keras Penilaian :  tuli persepsis : Rinne + . dan pergerakan maju atau mundur < 1m  Dengan mata terbuka dan penderita berdiri dengan merapatkan kedua kakinya.Membandingkan konduksi tulang dan udara + bila konduksi udara lebih baik daripada tulang . lateralisasi ke telinga sehat  tuli konduktif : Rinne . koordinasi dan orientasi Cara pemeriksaan : 1. perhatikan jatuh ke sisi mana. tangan dilipat pada dada atau direntangkan ke depan.

Kemudian ulangi pemeriksaan dengan kepala menoleh ke sisi lainnya  Bedakan vertigo dan nistagmus yang timbul baik dari berat ringannya. Bila terdapat perforasi gunakan larutan antiseptik Pasien dalam posisi berbaring dengan kepala 30° ke depan. Selanjutnya kepala ditolehkan ke kiri 45°. dan kemudian kembali ke posisi semula. atau duduk dengan kepala miring 90°-120° ke depan atau 60° ke belakang. Air yang digunakan 142  . pastikan kanal bersih dari serumen dan darah. onset. agar posisi kanal lateral labirin berada dalam posisi vertikal Fiksasi mata pasien terhadap objek diam. dan perhatikan apakah timbul vertigo dan nistagmus. Perhatikan apakah ada deviasi. Vertigo Latensi Latique habituasi Arah Lesi perifer Berat + (2-20 dtk) ++ (<1mnt) + Horisontal onidireksional. Kemudian rebahkan secara mendadak sampai kepalanya menggantung di pinggir tempat tidur dengan sudut 45° dibawah bidang horisontal. Bila tes ini dilakukan berulang – ulang. habituasi dan arahnya. Pergerakan harus terjadi pada sendi bahu.rotatoar Lesi sentral Ringan . Kemudian ia disuruh menutup mata. mengangkat lengannya tinggi – tinggi atau menurunkan lengannya sampai posisi vertikal. vertikal Tes kalori   Sebelum melakukan tes. Periksa apakah membran timpani dalam keadaan intak. Penderita disuruh tetap membuka matanya. Hal ini dilakukan bergantian pada lengan kanan dan kiri. maka akan meningkatkan deviasinya Nylen Barany maneuver ( Ballpike maneuver ) :  Pasien disuruh duduk di tempat tidur. durasi.(>1mnt) Horisontal bidireksional.merentangkan lengannya dan telunjuknya menyentuh telunjuk pemeriksa.

Gunakan air hangat terlebih dahulu Setelah istirahat 5 menit. semprotkan sebanyak 5cc selama 20 detik. masukkan 20cc selama 30 detik. dianggap labirin tidak berfungsi Refleks :  Vestibulopupillary reflex : dilatasi pupil pada perangsangan sistem labirin  Vestibulo-oculogyric reflex (Doll’s head phenomenon) : pergerakan bola mata pada perubahan posisi kepala  Vestibulospinal reflexes → fukuda test 143 . Bila masih tidak timbul respon. tetapi ada juga orang yang pada stimulasi minimal tidak timbul nistagmus. dan dapat diulangi bila belum timbul respon. Air disemprotkan dengan menggunakan tabung suntik Masukkan ±100cc air untuk menimbulkan respon dalam waktu 40 detik. lama nistagmus yang timbul hampir serupa. Untuk itu dapat digunakan air es 0-5°.   biasanya sekitar 7°-8° di atas atau dibawah suhu tubuh normal. dan bandingkan respon yang timbul Pada orang normal. tes telinga yang lainnya. bila tidak timbul respon.

Fungsi sensorik  Pemeriksaan somatosensorik sulit untuk dites secara spesifik.X (Nervus vagus) Pemeriksaan : 1..IX (Nervus glosofaringeas) N. Tidak diperiksa secara rutin.... Bila terdapat kelumpuhan penderita tidak dapat melakukannya karena udara keluar melaui hidung  Penderita disuruh memakan makanan.. Fungsi motorik :  Pasien disuruh menyebutkan aaaaa. dan seolah – olah uvula tertarik ke bagian yang sehat  Fungsi viseromotorik : mengatur kelenjar untuk salivasi 2. apakah kedudukan simetris. Refleks positif bila terjadi elevasi dan konstriksi otot faring. Jika rangsang cukup kuat dapat juga membangkitkan refleks muntah  Refleks palatal / uvular : stimulai darah lateral dan inferior uvula atau pallatum molle dengan tongue spatel. apakah ada disfagia terutama bila menelan cairan  Penderita disuruh membuka mulutnya.... arkus faring dan uvula.. maka palatum molle.. karena banyak persarafan yang overlapping  Fungsi viserosensorik → 1/3 posterior lidah. bila terjadi kelumpuhan. perhatikan kualitas suara pasien : disfonia.... perhatikan palatum molle. Refleks ini kurang sensitif dibandingkan dengan refleks faring 144 .. disertai dengan retraksi lidah.N. Kemudian suruh penderita untuk menyebut aaa. karena sukar. 3. uvula dan arkus faring sisi yang lumpuh letaknya lebih rendah dari sehat... Periksa juga dengan menyuruh penderita menggembungkan pipi.. afonia  Perhatikan apakah ada disartria berupa sengau. Refleks :  Refleks faring (gag reflex) : rangsang ringan dinding faring atau tonsil atau lidah belakang dengan tongue spatel. Refleks positif jika terdapat elevasipallatum molle dan retraksi uvula.

Bandingkan kekuatan kiri dan kanan 145 .XI (Nervus aksesorius) Fungsi :  Memiringkan kepala  Pergerakan mengangkat bahuPergerakan rotasi leher. maka akan terjadi penurunan detak jantung N. Kita suruh pasien menoleh kekanan. Lakukan juga pada sisi yang lain. percabangan bronkus menimbulkan batuk Hiccup (singultus) : kontraksi diafragma. sneeze. menimbulkan bersin. Tetapi pemeriksaan ini tidak dilakukan secara rutin Nasal. Periksa apakah posisi bahu simetris.Lakukan inspeksi : perhatikan apakah ada atrofi . stimutatory reflex : perangsangan mukosa hidung dengan sentuhan kapas. laring. kemudian pasien disuruh mengangkat kedua bahunya.     Refleks sinus karotikus : kita tekan sinus karotikus pada perabaan arteri karotis komunis.Periksa kekuatan otot antara kedua sisi. penurunan tekanan darah dan curah jantung. kemudian kita tahan dengan tangan kita yang ditempatkan di dagu. trakea. Palpasi otot yang berkontraksi. dan pasien disuruh memfleksikan kepalanya ke depan  Otot trapezius . Terjadi karena spasme laringeal Refleks okulokardiak : bila mata ditekan ringan.Kemudian lakukan palpasi untuk mengetahui konsistensinya .Kekuatan otot kedua sisi juga dapat diperiksa secara bersamaan dengan menahan kepala pasien pada dahi. atau yang lebih rendah . sehingga udara diinspirasi dengan kuat. serta vasodilatasi perifer. Pemeriksaan :  Otot sternokleidomastoideus .Pada inspeksi : perhatikan apakah ada atrofi dan bagaimana kontur otot.Tempatkan tangan pemeriksa pada bahu pasien. Refleks batuk : stimulasi pada faring. timbul bradikardi. Bandingkan kekuatan dan kontraksi otot keduanya .

Bila disertai kelumpuhan N. tremor berkurang atau menghilang. Membedakan tremor dan fasikulasi agak sulit.- - Pada sisi yang paralisis dapat juga terdapat winging scapula. perhatikan batas atas skapula cenderung jatuh ke lateral dan sudut bawahnya masuk kedalam Bila terdapat kelumpuha bilateral.XII (Nervus hipoglosus) Fungsi : pergerakan dan artikulasi lidah Pemeriksaan :  Suruh penderita membuka mulut dan perhatikan lidah dalam keadaan istirahat dalam mulut. sebagai patokan gunakan garis antar kedua gigi insisivus  Kita juga menilai kekuatan lidah. fasikulasi dan tremor. 146 . lidah tidak dapat digunakan atau dijulurkan. Perhatikan adanya atrofi. Suruh penderita untuk menekankan lidah pada pipinya. maka posisi mulut juga mencong. Jika terdapat kelumpuhan. maka lidah akan berdevisiasi ke arah yang sehat  Suruh penderita untuk menjulurkan lidahnya. maka lidah tidak dapat ditekankan ke pipi sebelah kanan  Jika terdapat kelumpuhan bilateral. lidah akan mencong kesisi yang lumpuh. Bila ada kelumpuhan. bahu jatuh seithimgga bentuknya seperti persegi (drooping sagging appearance) N. Bila terdapat paresis lidah bagian kiri. kepala cenderung jatuh ke depan dan penderita tidak mampu mengangkat dagunya. tetapi biasanya pada lidah dalam keadaan istirahat. Kita nilai kekuatannya dengan menekankan jari kita pada pipi sebelah luar. dimana bila penderita mengekstensikan lengannya ke anterior horisontal.VII.

IV. VI & V No Aspek Yang Dinilai Skor 0 1 2 1 Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stress sebelum melakukan pemeriksaan fisik : a. deviation conjugee d. Memberi penjelasan dengan benar. Mempersiapkan bahan perangsang bau : Kopi. IV.Checklist Pemeriksaan saraf Kranialis I. jeruk c. Pemeriksaan kelopak mata : adakah pseudoptosis. lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan. kemudian menggerakkan mengikuti huruf "H" 147 . kemudian identifikasikan bau bahan tersebut e. Pemeriksaan gerak pursuit : . Pemeriksaan pupil : perhatikan bentuk. Memberitahukan kemungkinan adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang timbul selama pemeriksaan dilakukan. convergen. tembakau. Melakukan pemeriksaan hidung sebelahnya dengan zat stimulus dan bandingkan hasil keduanya g. VI a. Pasien menutup mata kemudian menutup salah satu lubang hidung dan pasien disuruh untuk mencium bahan yang di dipersiapkan d. reflek cahaya langsung. Lihat posisi bola mata: orto. divergen. konsensual. Memastikan lubang hidung tidak ada sumbatan atau kelainan setempat b. Menilai apakah : pasien dapat menciumnya/tidak. akomodasi b. skew deviation. Lakukan pada hidung sebelahnya tanpa pemberian stimulus f. 2 Melakukan pemeriksaan saraf kranialis I a. III. isokor atau tidak. jelas. Memberikan informasi hasil pemeriksaan : normal/tidak 3 Melakukan pemeriksaan saraf kranilais III.Jari pemeriksa diletakkan 50 cm dari mata pasien. ptosis c. b. ukuran.

Pemeriksaan Sensorik : sensasi raba halus dermatom nervus V 1. Pemeriksaan Motorik · Inspeksi kening dan pipi. Refleks : masseter/mandibular d.No Aspek Yang Dinilai . IV. VI Skor 0 1 2 4 Melakukan pemeriksaan saraf kranialis V a. ……………. apakah ada atrofi dan otot-otot massseter dan temporalis · Palpasi otot-otot tersebut sambil pasien disuruh merapatkan giginya sekuat mungkin..Menyuruh pasien mengikuti arah jari pemeriksa tanpa menggerakkan kepalanya .Memperhatikan kedua mata bergerak : mulus & serempak atau ada yang tertinggal . 3 c. Melaporkan hasil pemeriksaan N. perhatikan tonus dan konstraksinya · Menyuruh pasien untuk menggigit tongue depressor.2012 148 .Memberikan informasi hasil pemeriksaan saraf kranialis III. V 5 Melaporkan hasil pemeriksaan & follow up Keterangan : 0: Tidak dilakukan 1: Dilakukan tapi kurang benar 2: Dilakukan dengan benar % cakupan penguasaan keterampilan : Skor total/52 x 100% = % Banda Aceh. 2. kemudian tariklah: apakah terdapat paralisis otot atau tidak · Menyuruh pasien untuk membuka mulutnya: apakah terdapat deviasi atau tidak · Menyuruh pasien untuk menggerakkan rahangnya dari satu sisi ke sisi lain melawan tahanan: apakah terdapat paralisis atau tidak b.

menilai : kekuatan lidah 4 Melaporkan hasil pemeriksaan & follow up 1 2 Keterangan : 0: Tidak dilakukan 1: Dilakukan tapi kurang benar 2: Dilakukan dengan benar % cakupan penguasaan keterampilan : Skor total/34 x 100% = % Banda Aceh. menyuruh pasien membuka mulut & memperhatikan keadaan lidah saat istirahat : deviasi. menyuruh pasien menyebutkan pengecapan yang dirasakannya dengan isyarat e. Melakukan pemeriksaan saraf kranialis VII Pemeriksaan motorik a. Aspek Yang Dinilai 0 Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stress sebelum melakukan pemeriksaan fisik : Memberi penjelasan dengan benar. mencucurkan bibir & mengembungkan bibir (simetris/tidak) II. menyuruh pasien metup mata & menyulurkan lidah keluar c. menyuruh pasien berkumur-kumur sebelum melanjutkan dengan pemeriksaan larutan selanjutnya f. 2 I. atrofi. Memberitahukan kemungkinan adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang timbul selama pemeriksaan dilakukan. lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan. memperhatikan kerutan plika nasolabialis. ……………. kina & asam asetat b.menyuruh pasien menyeringai.2012 Nama Instruktur 149 . garam.. menyuruh pasien memejamkan mata & mengangkat kelopak mata e.Checklist Pemeriksaan saraf Kranialis VII & XII Skor No 1 a. meletakkan larutan yang diperiksa di 2/3 anterior lidah menggunakan aplikator d. Pemeriksaan Sensorik a. menyuruh pasien menekankan lidah ke bagian dalam pipi & menahannya dengan jari. mempersiapkan larutan gula. jelas. memperhatikan kesimetrisan wajah pasien b. menyuruh pasien menjulurkan lidah untu kmelihat : deviasi/tidak c. melaporkan hasil pemeriksaan 3 Melakukan pemeriksaan saraf kranialis XII a. b. fasikulasi & tremor b. menyuruh pasien mengangkat alis & mengerutkan dahi (simetris/tidak) d. sudut mulut & fissura palpebra c.

Jadi bukan karena teregangnya otot seperti pada refleks dalam. ganglion spinal.PEMERIKSAAN REFLEKS Tujuan Belajar :  Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan reflek secara benar & mampu mengaitkan dengan keadaan klinis pasien sehingga kemungkinan diagnosis dapat dilakukan Secara sederhana dapat dikatakan bahwa refleks adalah jawaban atas rangsangan. yaitu: refleks dalam dan refleks superfisial.Bila lengkung ini rusak maka refleks akan hilang. refleks miotatik dan refleks fisiologis. Refleks Dalam (refleks regang otot) Refleks dalam timbul oleh regangan otot yang disebabkan oleh rangsangan dan sebagai jawabannya maka otot berkontraksi.refleks dalam juga dinamai refleks regang otot. reseptor. Tingkat jawaban Refleks 150 . neuron perantara. serta hubungan antara kedua komponen ini. Misalnya : refleks tendon lutut timbul karena adanya rangsangan (ketokan). Refleks Superfisial Refleks ini timbul karena terangsangnya kulit atau mukosa yang mengakibatkan berkontraksinya otot yang ada dibawahnya atau disekitarnya. Nama lain refleks ini adalah refleks tendon. Hal ini dinamakan lengkung refleks (refleks arc). Refleks dalam dapat dinamai menurut otot yang bereaksi atau menurut tempat merangsang. Jenis Refleks Dalam praktek sehari-hari biasanya memeriksa 2 macam refleks. sel neuron motorik. Refleks neurologik bergantung pada suatu lengkungan (lengkung refleks) yang terdiri atas jalur aferen yang dicetus oleh reseptor dan sistem eferen yang mengaktifasi organ efektor. refleks periostal. yaitu tempat insersio otot. serabut eferen dan efektor (otot). serabut aferen.

kita perlu mempalpasi otot untuk mengetahui apakah ada kontraksi.  Ibu jari kemudian diketok Hasil : gerakan fleksi lengan bawah Pusat refleks : C5-C6 2. Refleks Biseps Cara :  Pegang lengan pasien yang disemifleksikan sambil menempatkan ibu jari diatas tendon otot biseps. tetapi bila refleks pada sisi kanan berbeda dari sisi kiri.Jawaban refleks dapat dibagi atas beberapa tingkat. Refleks Fisiologis 1. Refleks yang meninggi tidak selalu berarti adanya gangguan patologis. Refleks Triceps 151 . kadang-kadang kita perlu pula melakukan sedikit upaya untuk memperjelas refleks yang lemah. besar sekali kemungkinan hal ini disebabkan oleh keadaan patologis Pada pemeriksaan refleks jangan lupa membandingkan bagianbagian yang simetris (kanan dan kiri) - I. refleks meningkat Pada refleks yang lemah. jawaban lemah + : Jawaban normal ++ : jawaban berlebih.( negatif) : tidak ada refleks sama sekali ± : kurang jawaban. yaitu: .

Cara :  pegang lengan bawah pasien yang difleksikan setengah ( semi fleksi)  kemudian diketok pada tendon insersi m. Hasil : ekstensi dari lengan bawah Pusat refleks : C6-C8 152 .triseps yang berada sedikit diatas olekranon.

refleks patella) Cara :  tungkai difleksikan dan digantungkan.3. L4 153 .dibawah atau diatas patella (biasanya dibawah patella ) Hasil : kontraksi kuadriceps femoris dan ekstensi tungkai bawah Pusat refleks : L2. L3.misalnya pada tepi tempat tidur  ketok pada tendon muskulus kuadriceps femoris. Refleks Kuadricep femoris (refleks tendon lutut.

mulai dari tumit menuju pangkal jari. Refleks Patologis 1.4. Reaksi Positif: gerakan dorsofleksi ibu jari yang dapat disertai dengan gerak mekarnya jari-jari lain 154    . Refleks tendon Achilles/ refleks triceps sure Dalam bahasa belanda disebut Achilles Pees Reflex disingkat APR Cara :  Tungkai bawah difleksikan sedikit.triceps sure dan memberikan gerak plantar fleksi pada kaki Pusat refleks: S1. S2 II. Refleks Babinski Cara : pasien berbaring dan istirahat dengan tungkai diluruskan pegang pergelangan kaki tetap pada tempatnya lakukan goresan pada telapak kaki bagian lateral. kemudian kita pegang kaki pada ujungnya untuk memberikan sikap dorsofleksi ringan pada kaki tendon Achilles diketok Hasil : kontraksi dari M.

Refleks Chaddock Cara :  Pasien baring dan istirahat dengan tungkai diluruskan  melakukan goresan pada bagian lateral malleolus Reaksi Positif: gerakan dorsofleksi ibu jari yang dapat disertai dengan gerak mekarnya jari-jari lain 3.2. Refleks Gordon Cara :  Pasien baring dan istirahat dengan tungkai diluruskan  Melakukan cubitan pada otot betis Reaksi Positif : gerakan dorsofleksi ibu jari yang dapat disertai dengan gerak mekarnya jari-jari lain 4. Refleks Oppenheim Cara :  Pasien baring dan istirahat dengan tungkai diluruskan  Mengurut dengan kuat tibia dan otot tibialis anterior. arah mengurut kebawah (distal) Reaksi Positif : gerakan dorsofleksi ibu jari yang dapat disertai dengan gerak mekarnya jari-jari lain 155 . Refleks Schaefer Cara :  Pasien baring dan istirahat dengan tungkai diluruskan  Melakukan Cubitan pada tendon Achilles Reaksi Positif : gerakan dorsofleksi ibu jari yang dapat disertai dengan gerak mekarnya jari-jari lain 5.

156 .

c d. a. jelas. 5 Aspek Yang Dinilai Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stress sebelum melakukan pemeriksaan fisik : Memberi penjelasan dengan benar. ……………. Melakukan pemeriksaan refleks fisiologis Melakukan pemeriksaan refleks Biceps Melakukan pemeriksaan refleks Triceps Melakukan pemeriksaan refleks Patella Melakukan pemeriksaan refleks Tendon Achilles Melaporkan hasil pemeriksaan refleks fisiologis Melakukan pemeriksaan refleks patologis Melakukan pemeriksaan refleks Babinski Melakukan pemeriksaan refleks Chaddock Melakukan pemeriksaan refleks Oppenheim Melakukan pemeriksaan refleks Gordon Melakukan pemeriksaan refleks Schaefer Melaporkan hasil pemeriksaan refleks patologis Keterangan : 0: Tidak dilakukan 1: Dilakukan tapi kurang benar 2: Dilakukan dengan benar % cakupan penguasaan keterampilan : Skor total/26 x 100% = % Banda Aceh. c. e.. 2.2012 Nama Instruktur 157 . b. b. b. a. Memberitahukan kemungkinan adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang timbul selama pemeriksaan dilakukan. 3. lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan.Check list Pemeriksaan Refleks Skor 0 1 2 No 1. 4 a. d.

PEMERIKSAAN FISIK TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROK (ENT Physical Examination) PENDAHULUAN Pemeriksaan fisik telinga. oleh karena bagian yang akan diperiksa misalnya telinga. Dilakukan dalam ruangan yang sedikit gelap dan tenang. yaitu : 1. mulai dari telinga bagian luar sampai telinga dalam yang dapat memberikan gangguan fungsi pendengaran dan keseimbangan. Memakai alat dan bahan khusus. Pemeriksaan THT membutuhkan beberapa syarat. hidung dan tenggorokan. kelainan-kelainan pada hidung dan tenggorok yang dapat memberikan gangguan penghidu dan pengecapan. Mengenal dan menjelaskan alat dan bahan yang akan digunakan dalam pemeriksaan THT.9. topografi dan fisiologi telinga hidung dan tenggorok. karena kemampuan ini merupakan bagian dari pemeriksaan fisik sebagai syarat bila terdapat keluhan atau gejala yang berhubungan dengan kepala dan leher. Tujuan Khusus Setelah mengikuti skill lab ini mahasiswa diharapkan mampu : 1. hidung dan tenggorok adalah suatu pemeriksaan yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya kelainan-kelainan pada telinga. TUJUAN PEMBELAJARAN Tujuan Umum Setelah mengikuti skill lab ini mahasiswa diharapkan terampil dalam melakukan pemeriksaan fisik telinga hidung dan tenggorok secara baik dan benar. Memakai lampu kepala atau reflektor. Menjelaskan anatomi. 2. 158 . Dalam penegakan diagnosis penyakit THT memerlukan kemampuan dan keterampilan dalam melakukan anamnesis dan pemeriksaannya. terletak jauh ke dalam dan harus dilihat dengan cahaya. 3. 2.

3. Mempersiapkan penderita dalam rangka persiapan pemeriksaan fisik telinga, hidung dan tenggorok. 4. Menginterpretasikan hasil pemeriksaan fisik telinga, hidung dan tenggorok. Persiapan sebelum melakukan pemeriksaan THT-KL antara lain : 1. Persiapan alat dan bahan Telinga : - Lampu kepala (head lamp) - Corong telinga dengan berbagai ukuran - Aplikator (alat pelilit) kapas - Pinset telinga - Cerumen hook dan cerumen spoon (pengait serumen) - Otoskop - Otopneumoscope - Suction, dengan tip suction berbagai ukuran - Nierbekken - Spuit irigasi telinga - Garpu tala 1 set (128 Hz, 256 Hz, 512 Hz, 1024 Hz, 2048 Hz) - Alkohol 70% - Merkurokrom atau Betadine - Salep kloramfenikol, salep kortikosteroid - Kapas - Tampon telinga - Lampu spiritus (Bunsen) & korek api Hidung : - Spekulum hidung dengan berbagai ukuran - Cermin nasofaring (no. 2-4) - Pinset bayonet - Suction - Pengait benda asing hidung - Spatula lidah - Larutan xylocain spray 159

Tenggorok : -

Adrenalin 1/10.000 Pantokain 2% Salep antibiotika atau vaselin Kapas Tampon hidung Lampu spiritus (Bunsen) & korek api Spatula lidah Cermin laring (no. 5-8) Nierbekken Lampu spiritus (Bunsen) & korek api Kapas Kassa

2. Posisi duduk antara pemeriksa dengan penderita Pemeriksa dan pasien masing-masing duduk berhadapan dengan sedikit menyerong, kedua lutut pemeriksa dirapatkan dan ditempatkan berdampingan dengan kaki penderita. Bila diperlukan posisi-posisi tertentu penderita dapat diarahkan ke kiri atau kanan. Kepala penderita difiksasi dengan bantuan seorang perawat. Pada anak kecil yang belum koperatif selain diperlukan fiksasi kepala, 160

sebaiknya anak dipangku oleh orang tuanya pada saat dilakukan pemeriksaan. Kedua tangan dipeluk oleh orang tua sementara itu, kaki anak difiksasi diantara kedua paha orang tua.

3. Pemasangan lampu kepala - Sebelum diletakkan di kepala, ikatan lampu kepala dilonggarkan dengan memutar pengunci ke arah kiri. - Posisi lampu diletakkan tepat pada daerah glabella atau sedikit miring ke arah mata yang lebih dominan. - Bila lampu kepala sudah berada pada posisi yang benar, ikatan lampu dieratkan dengan memutar kunci ke arah kanan. Pungunci ikatan lampu kepala harus berada di sebelah kanan kepala. 161

- Fokus cahaya lampu diatur dengan memfokuskan cahaya ke arah telapak tangan yang diletakkan kurang lebih 30 cm dari lampu kepala. Besar kecilnya fokus cahaya diatur dengan memutar penutup lampu kepala ke arah luar sampai diperoleh fokus cahaya lampu yang kecil, bulat dengan tingkat pencahayaan yang maksimal. Lingkaran fokus dari lampu dengan diameter 1 cm. - Diusahakan agar sudut yang dibentuk oleh jatuhnya sumber cahaya kearah obyek yang berjarak kurang lebih 30 cm dengan aksis bola mata, sebesar 15 derajat.

I. PEMERIKSAAN TELINGA (OTOSKOPI)
Pasien duduk dengan posisi badan condong sedikit ke depan dan kepala lebih tinggi sedikit dari kepala pemeriksa untuk memudahkan melihat liang telinga dan membrana timpani. Sebelum melakukan otoskopi kita perhatikan dahulu keadaan dan bentuk daun telinga dan daerah sekitarnya. Telinga luar diperiksa dengan inspeksi dan palpasi langsung. Mula-mula dilakukan inspeksi telinga luar, perhatikan apakah ada kelainan bentuk daun telinga, tanda-tanda peradangan, sikatrik, tumor dan sekret yang keluar dari liang telinga. Pengamatan dilakukan pada telinga bagian depan dan belakang. Setelah mengamati bagian-bagian telinga, lakukan palpasi pada telinga, apakah ada nyeri tekan (Tragus sign), nyeri tarik (Auricular sign) atau tanda-tanda pembesaran kelenjar pre dan post 162

aurikuler (retroaurikuler). Pada daerah mastoid (di belakang telinga) amati adakah abses atau fistel. Mastoid diperkusi untuk menentukan nyeri ketok.

Pemeriksaan liang telinga dan membrana timpani dilakukan dengan memposisikan liang telinga sedemikian rupa agar diperoleh aksis liang telinga yang sejajar dengan arah pandang mata sehingga keseluruhan liang telinga sampai permukaan membrana timpani dapat terlihat. Posisi ini dapat diperoleh dengan menjepit daun telinga dengan menggunakan ibu jari dan jari tengah dan menariknya ke arah superior-dorso-lateral dan mendorong tragus ke anterior dengan menggunakan jari telunjuk. Cara ini dilakukan dengan tangan kiri bila akan memeriksa telinga kanan dan sebaliknya digunakan tangan kanan bila akan memeriksa telinga kiri. Sedangkan pada anak ditarik ke arah inferior-dorso-lateral. Pada kasus-kasus dimana kartilago daun telinga agak kaku atau kemiringan liang telinga terlalu ekstrim atau terlalu banyak rambut liang telinga dapat digunakan bantuan corong telinga yang disesuaikan dengan besarnya diameter liang telinga. Corong telinga dipegang dengan menggunakan tangan yang bebas. Pada anak oleh karena liang telinganya kecil lebih baik menggunakan corong telinga.

163

polip. prosesus brevis. serumen obsturan. kepala pasien sedikit dijauhkan dari pemeriksa. Untuk dapat melihat bagian-bagian membrana timpani lebih jelas dapat menggunakan alat otoskop.Untuk memeriksa liang telinga dan membrana timpani. Liang telinga dibersihkan dari sekret dan serumen dengan menggunakan aplikator kapas. obstruksi yang disebabkan oleh sekret. benda asing. ada tidaknya perforasi. ada stenosis atau atresia meatal. Teknik menggunakan otoskop Otoskop dipegang seperti memegang pensil. refleks cahaya. Supaya posisi 164 . jaringan ikat. jaringan granulasi. struktur telinga tengah yang terlihat pada permukaan membrana seperti manubrium mallei. gerakannya. Semua sumbatan ini sebaiknya disingkirkan agar membrana timpani dapat terlihat jelas. Amati liang telinga dengan seksama apakah lapang atau sempit. plika maleolaris anterior dan posterior. warna. hiperemis. Diamati pula dinding liang telinga ada atau tidak laserasi. bilas telinga atau dengan suction. edema atau furunkel. posisi membrana. Pengamatan terhadap membrana timpani dilakukan dengan memperhatikan permukaan membrana timpani. Untuk mengetahui mobilitas membrana timpani digunakan otopneumoskop. Dipegang dengan tangan kanan untuk memeriksa telinga kanan pasien dan dengan tangan kiri bila memeriksa telinga kiri.

maka tekanan harus benar-benar ringan agar tidak menimbulkan nyeri. Cara ini akan membuat lurus kanal pada orang dewasa. Karena bagian distal kanalis adalah tulang dan ditutupi selapis epitel yang sensitif. dan mata didekatkan ke lensa pembesar otoskop untuk melihat kanalis dan membran timpani. 165 . Spekulum dari otoskop dimasukkan dengan lembut dan perlahan ke kanalis telinga. sehingga memungkinkan pemeriksa melihat lebih jelas membrana timpani. Sedangkan pada anak ke arah postero inferior.otoskop ini stabil maka jari kelingking tangan yang memegang otoskop ditekankan pada pipi pasien. Otoskop dipegang dengan satu tangan sementara aurikulus dipegang dengan tangan lainnya dengan mantap dan ditarik ke atas. Spekulum terbesar yang dapat dimasukkan ke telinga (biasanya 5 mm pada orang dewasa) dipandu dengan lembut ke bawah ke kanal dan agak ke depan. ke belakang dan sedikit ke luar (arah postero superior).

Setiap adanya cairan, inflamasi, atau benda asing; dalam kanalis auditorius eksternus dicatat. Membran timpani sehat berwarna putih mutiara. Bentuknya tidak datar akan tetapi berbentuk kerucut dengan puncaknya atau umbo mengarah ke kavum timpani. Letaknya tidak tegak lurus pada liang telinga akan tetapi membuat suatu sudut 45˚ dengan permukaan horizontal dan sagital. Liang telinga dasarnya agak menurun dekat membrana timpani sehingga terdapat suatu ruangan yang dinamakan sinus meatus. Disini sering air berkumpul setelah mandi hingga pendengaran berkurang. Penanda harus dilihat mungkin pars tensa dan reflek cahaya, umbo, manubrium mallei, dan prosesus brevis. Gerakan memutar lambat spekulum memungkinkan penglihatan lebih jauh. Gambaran yang dapat dilihat pada membrana timpani : 1. Refleks cahaya (Cone of light), jalannya dari sentrum (umbo) menuju ke muka bawah. Refleks cahaya ini disebabkan oleh karena pada bagian ini letak membrana timpani tegak lurus pada cahaya yang masuk sehingga cahaya lampu kembali mengenai mata kita. 2. Dari umbo ke arah atas muka tampak manubrium malei. 3. Pada ujung membrana timpani tampak titik putih, juga merupakan bagian dari malleus yang dinamakan prosessus brevis. 4. Dari sini tampak adanya lipatan ke muka dan ke belakang disebut plica malleolaris anterior dan posterior, sehingga 166

membrana timpani dibagi atas: pars flaccida (bagian atas) dan pars tensa (bagian bawah). 5. Karena membrana timpani tipis dan dapat ditembus cahaya sehingga ada kalanya nampak incus dan promontorium Pada lipatan malleus, daerah perifer dan warna membrana begitu juga tanda yang tak biasa atau deviasi reflek cahaya dicatat. Adanya cairan, gelembung udara, atau massa di telinga tengah harus dicatat.

Kelainan-kelainan pada membrana timpani : 1. Warna - agak merah : pada tuba katar akut - merah : pada otitis media akut - putih :pada tuba katar kronik, otitis media kronik yang sembuh. - biru : pada perdarahan dalam kavum timpani - agak kekuning-kuningan mengkilat: pada tuba katar eksudativa - bercak-bercak putih :perkapuran pada membrana timpani 2. Retraksi : pada tuba katar akut dan tuba katar kronik 3. Membrana timpani menonjol keluar (bulging) : pada otitis media akut disebabkan adanya tekanan cairan dalam kavum timpani. 4. Perforasi : Letak sentral (tipe rinogen) atau marginal (attik, tipe mastoid). Bila letaknya sentral biasanya pada bagian belakang bawah 167

disebabkan komplikasi penyakit di hidung atau faring. Bentuk perforasi : a. besar, kecil, bundar, oval, bentuk ginjal atau hati b. bila besar dinamakan perforasi subtotal c. bila tidak ada membrana timpani lagi sama sekali dinamakan perforasi total 5. Granulasi atau polip : Berasal dari kavum timpani. Granulasi warnanya merah, mudah berdarah. Polip warnanya pucat mengkilat. 6. Cairan : Dapat serous, seromucous, mukopurulen, pus, sanguineus. Tidak busuk : berasal dari perforasi sentral, tapi lama-lama dapat juga menjadi busuk. Busuk : pada perforasi marginal, karena ada nekrose tulang. Bila cairan berbenang-benang menandakan berasal dari cairan kavum timpani. Pemeriksaan otoskop kanalis auditorius eksternus dan membrana timpani yang baik hanya dapat dilakukan bila kanalis tidak terisi serumen yang besar. Serumen terdapat di kanalis eksternus, dan bila jumlahnya sedikit tidak akan mengganggu pemeriksaan otoskopi. Bila serumen sangat lengket maka sedikit minyak mineral atau pelunak serumen dapat diteteskan dalam kanalis telinga dan pasien diinstruksikan kembali lagi.

II. PEMERIKSAAN PARANASALIS

HIDUNG

DAN

SINUS

Pemeriksaan Hidung dari luar Pemeriksaan hidung diawali dengan melakukan inspeksi dan palpasi hidung bagian luar dan daerah sekitarnya. - Inspeksi dilakukan dengan mengamati ada tidaknya kelainan bentuk hidung, tanda-tanda infeksi dan sekret yang keluar dari rongga hidung.

168

Bila punggung hidung lebar, kemungkinan dalam hidung ada polip, bila punggung hidung turun, kemungkinan ada perforasi pada septum nasi. - Palpasi dilakukan dengan penekanan jari-jari telunjuk mulai dari pangkal hidung sampai apeks untuk mengetahui ada tidaknya nyeri, massa tumor atau tanda-tanda krepitasi. Krepitasi dan deformitas dorsum nasi dapat kita temukan pada palpasi hidung. Deformitas dorsum nasi merupakan tanda terjadinya fraktur os nasalis. Ala nasi penderita terasa sangat sakit pada saat kita melakukan palpasi. Tanda ini dapat kita temukan pada furunkel vestibulum nasi.

Rinoskopi Anterior (RA) Pemeriksaan RA memakai lampu kepala dan spekulum hidung (Hartmann) yang sesuai dengan besarnya lubang hidung. Cara menggunakan spekulum hidung : Spekulum digenggam sedemikian rupa dengan tangkai bagian bawah dari spekulum ditekan oleh jari tengah, jari manis dan jari kelingking dari tangan sebelah kiri sehingga tangkai bawah dapat digerakkan bebas dengan menggunakan jari-jari tersebut. Ujung jari telunjuk diletakkan pada ujung hidung pasien sebagai fiksasi disekitar hidung dan ibu jari diluruskan. Ujung spekulum dimasukkan dengan hati-hati dan dalam keadaan tertutup ke dalam rongga hidung, jangan mengenai bagian dalam hidung karena nanti 169

yang diperiksa merasa nyeri. Di dalam rongga hidung ujung spekulum dibuka. Jangan memasukkan ujung spekulum terlalu dalam atau membuka ujung spekulum terlalu lebar. Oleh karena itu membuka lubang hidung jangan keras-keras, harus perlahan-lahan dan tenang (with a ladies hand). Dilihat dahulu vestibulum nasi. Pemeriksaan vestibulum dapat juga dengan cara mendorong ujung hidung ke atas (pada anak-anak). Amati struktur yang terdapat di dalam rongga hidung mulai dari luasnya lapang/sempit, dasar rongga hidung, konka-konka, meatus dan septum nasi. Perhatikan warna dan permukaan mukosa rongga hidung, ada tidaknya massa, benda asing dan sekret. Struktur yang terlihat pertama kali adalah konka inferior. Bila ingin melihat konka medius dan superior pasien diminta untuk tengadahkan kepala. - Konka warnanya merah muda (normal), pucat atau hiperemis. Besarnya, eutrofi, atrofi, edema atau hipertrofi. - Septum nasi cukup lurus, deviasi, krista atau spina. - Jika terdapat sekret kental yang keluar dari daerah antara konka media dan konka inferior kemungkinan sinusitis maksilaris, sinusitis frontalis dan sinusitis ethmoid anterior, sedangkan sekret yang terdapat di meatus superior berarti sekret berasal dari sinus ethmoid posterior atau sinus sphenoid.

Pada saat mengeluarkan ujung spekulum dari rongga hidung, ujung spekulum dirapatkan tetapi tidak terlalu rapat kira-kira 90%. 170

Septum nasi (di medial) membagi kavum nasi dalam bagian kanan dan kiri. Bagian depan ada suatu venen flexus (little’s area atau pleksus Kisselbach). sekali-sekali tampak : a. Konka Nasi a. biasanya ada sedikit bengkok. Pandangan mata tertuju pada daerah nasofaring sambil mengamati turun naiknya palatum molle pada saat pasien mengucapkan huruf “ i ”. atau terdapat kelumpuhan otot-otot levator dan tensor velli palatini. Di bawah mucosa terdapat Korpora cavernosa yang menyebabkan konka dapat membesar atau mengecil. yang jalannya dari muka bawah ke atas belakang b.Jangan menutup ujung spekulum 100% karena bulu hidung pasien dapat terjepit dan tercabut keluar. Fenomena Palatum Molle akan negatif bila terdapat massa di dalam rongga nasofaring yang menghalangi pergerakan palatum molle. Krista. Pada waktu melakukan penilaian fenomena palatum molle usahakan agar arah pandang mata sejajar dengan dasar rongga hidung bagian belakang. tampak dibagan atas belakang. Bila rongga hidung sulit diamati oleh adanya edema mukosa dapat digunakan tampon kapas efedrin yang dicampur dengan lidokain yang dimasukkan ke dalam rongga hidung untuk mengurangi edema mukosa. Deviasi septum dapat pada bagian depan (tulang rawan) dan dapat juga pada bagian belakang (bagian tulang). Pada pemeriksaan RA dapat pula dinilai Fenomena Palatum Molle yaitu pergerakan palatum molle pada saat pasien diminta untuk mengucapkan huruf “ i “. Spina (duri). Pada anak kecil sering mengakibatkan perdarahan. spima ini sering mengadakan gangguan karena melekat pada konka. Septum nasi tidak terlalu lurus. 2. 171 . Konka Inferior Warnanya merah muda. Dalam kavum nasi tampak : 1.

Pada sinusitis tampak pus keluar dari metus nasi media. atau nampak seperti garis putih melalui 172 . sehingga bila menangis air mata bisa masuk ke dalam rongga hidung. Konka ini tidak tampak seluruhnya yang jelas hanya kepala (kaput).cellulae ethmoidal anterior : terletak di bagian supero-posterior Kelainan-kelainan di dalam kavum nasi : 1.sinus maksila : terletak di belakang duktus nasofrontalis . Untuk melihat konka media kepala harus ditengadahkan. Bila kavum nasi lapang misalnya pada rinitis atrofi maka dapat pula kita melihat muara kavum nasi. Pada trauma kapitis yang keluar liquor cerebrospinalis b. Cairan a. 6. Serous : pada permulaan rinitis akut dan rinitis alergi. Pus : pada corpus alienum. Pada meatus nasi inferior terdapat muara duktus nasolakrimalis. 4. sinusitis maksila.sinus frontal : pada bagian depan (duktus nasofrontalis) . Meatus Nasi Dibawah konka terdapat meatus nasi (inferior. b. Konka Media Letaknya diatas konka inferior. Meatus nasi superior tidak dapat kita lihat. Di dalam hidung terdapat lubang-lubang yaitu muara-muara dari saluran sinus dan mata. Mucous : pada rinitis akut yang sudah beberapa hari Pada rinitis kronik simpleks c. Dasar hidung Bila kavum nasi tidak sempit dapat kita lihat koana yang merupakan pintu belakang dari kavum nasi. .3. Yang tampak meatus inferior dan meatus media. media dan superior). 5. Pada radang warnanya merah. pada alergi warnanya pucat atau kebiru-biruan 2. Warna : normal warna mukosa hidung merah muda.

padat (tipe fibrous) b. sinus maksila dan nasofaring) PEMERIKSAAN SINUS PARANASALIS Inspeksi dilakukan dengan melihat ada tidaknya pembengkakan pada wajah. Krusta : pada rinitis atroficans e. Hipertrofi : pada rinitis alergi yang sudah lama c. Pembengkakan dan kemerahan pada pipi. 173 . Konka a. Darah : pada trauma atau tumor 3. dapat besar atau kecil. Nyeri tekan pada pipi dan nyeri ketuk pada gigi bagian atas menunjukkan adanya Sinusitis maksilaris. Nyeri tekan di daerah kantus medius menunjukkan adanya kemungkinan sinusitis etmoidalis. Oedema : pada rinitis akut Pada rinitis kronika simpleks b. warna pucat mengkilat.konka media atau berkumpul pada dasar sinus d. kelopak mata bawah menunjukkan kemungkinan adanya sinusitis maksilaris akut. Jaringan a. Nyeri tekan pada medial atap orbita menunjukkan adanya Sinusitis frontalis. Atrofi : pada rinitis atroficans 4. Pembengkakan pada kelopak mata atas kemungkinan sinusitis frontalis akut. Tumor : biasa ganas (karsinoma yang berasal dari ethmoid. Polip : dapat pada sebelah atau kedua belah hidung. konsistensi lembek (tipe serous).

perhatikan struktur di dalam cavum oris mulai dari gigi geligi.  Lidah: gerakannya dan apakah ada massa tumor.  Pemeriksaan Rongga Mulut dan Faring Untuk pemeriksaan rongga mulut dan faring diperlukan spatula lidah. sekret ada atau tidak dan gerakan arkus faring. PEMERIKSAAN MULUT DAN FARING (OROFARING)  Inspeksi bibir : perhatikan warna dan kelembaban. Lakukan penekanan pada dua per tiga bagian depan lidah secara lembut dengan spatula lidah. juga perhatikan adanya ulkus. kemudian diperhatikan :  Dinding belakang faring: warnanya. apakah ada detritus. atau kelainan kongenital. adakah perlekatan.  Tonsil: besar. atau adakah berselaput 174 . dan bukkal. Penderita diinstruksikan membuka mulut. kripta. Lihat ada tidaknya kelainan berupa. warna. hiperemis. pembengkakan. lidah. licin atau bergranula. palatum. massa.III.

tetapi belum melewati garis paramedian T3 . kista. dasar lidah dan daerah palatum untuk menilai adanya kelainan-kelainan dalam rongga mulut (tumor.Penilaian besarnya Tonsil : T0 .T3 = Tonsil kiri dan kanan sudah melewati garis paramedian tapi belum melewati garis median T4 .T4 = Tonsil sudah berada/bertemu atau melewati garis median Dengan menggunakan sarung tangan lakukan palpasi pada daerah mukosa bukkal.T0 = Tonsil kiri dan kanan sudah diangkat/tidak ada lagi T1 .T2 = Tonsil kiri dan kanan sudah melewati plika posterior. dll).T1 = Tonsil kiri dan kanan masih berada di dalam fossa tonsilaris T2 . 175 .

176 .

Palpasi Kelenjar Limfa leher: Cara : . 177 . perlekatan dengan jaringan sekitarnya dan lokasinya. tentukan ukuran. pembesaran kelenjar parotis. kelenjar limfa leher dan kelenjar tiroid. . bentuk.Bila terdapat pembesaran kelenjar limfa. konsistensi. kelenjar submandibula.IV. adanya massa atau jaringan parut. PEMERIKSAAN LEHER Inspeksi Leher: Perhatikan simetris atau tidak.Pemeriksa berdiri di depan/belakang pasien dan meraba dengan kedua belah tangan seluruh daerah leher dari atas ke bawah.

Keterangan : Daerah kelenjar limfa leher 1. Superficial cervical 3. Tonsilar 9. Deep cervical 5. Preaurikular 6. Posterior cervical 4. Posterior Aurikular 7. Sub Mental 2. Submandibular 178 . Oksipital 8.

Selama menelan lobus tiroid kanan dipalpasi dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri . laring digeser kekiri dan lobus kiri dievaluasi dengan cara yang sama dengan tangan sebelahnya.Pemeriksa memakai tangan kirinya mendorong trakea ke kanan .Pemeriksa meraba kelenjar tiroid berlatar belakang musculus sternocleidomastoideus kiri dengan tangan kiri. Cara Posterior : . nilai : konsistensinya.Pasien dan pemeriksa duduk berhadapan .Tangan kanan pemeriksa menggeser laring ke kanan . 2. yang posisinya sedikit ekstensi . besarnya. sementara tangan kanan pemeriksa meraba tulang rawan tiroid berlatar belakang musculus sternocleidomastoideus . Normal : kelenjar tiroid jarang teraba Jika teraba.Pemeriksa berada di belakang pasien .Setelah memeriksa lobus kanan.Pasien diminta sekali lagi menelan saat trakea terdorong ke kiri . nyeri tekan atau tidak. 179 .Pasien disuruh menelan .Pemeriksa meletakkan kedua tangannya pada leher pasien.Leher pasien difleksikan atau memutar dagu sedikit kekanan (untuk merelaksasikan musculus sternocleidomastoideus pada sisi tersebut) . Cara anterior : .Pasien diminta untuk menelan.Palpasi Kelenjar Tiroid Terdapat 2 cara: 1.

Telinga yang akan diperiksa diarahkan pada pemeriksa dan diberikan suara berbisik atau bicara. dimana penderita dapat mendengar suara pemeriksa baik secara berbisik ataupun suara percakapan.V. Pemeriksaan Fungsi Pendengaran 1. Bila penderita dapat mendengar dengan jelas berarti telinga tersebut normal atau dinotasikan sebagai 180 . Tes Berbisik dan Tes Suara Untuk ini dibuat jarak tertentu antara penderita dan pemeriksa yaitu 6 meter.

dan selanjutnya hingga penderita dapat mendengar dengan jelas.Hantaran udara (AC) : arah kedua kaki garpu penala sejajar dengan arah liang telinga kira-kira 2.5 cm . yang dinyatakan sebagai ad concham.Penting : telinga tidak tertutup. karena intensitas suara pemeriksa tidak tetap. Tes ini sangat subjektif.Getarkan kedua kaki garpu penala dengan jari telunjuk dan ibu jari dengan cara dipetik atau mengetuk kakinya pada lengan . tidak boleh menyinggung daun telinga 181 . 2. Tes Garpu Penala Manfaat : untuk mengetahui jenis ketulian.Arah getaran kedua kaki garpu penala searah dengan kedua kaki garpu penala - Posisi atau letak garpu penala : . kaca mata. giwang dilepas .6 meter. bila penderita tidak mendengar.Hantaran tulang (BC) : pada prosessus mastoid. Cara menggetarkan garpu penala : . maka pemeriksa maju 1 meter mendekati penderita. Bahkan bila penderita tidak mendengar sama sekali maka pemeriksa dapat berbisik ke telinga penderita. Namun.

Bila tidak mendengar. 182 . dahi atau gigi insisivus atas.Tes Rinne (+)  normal atau gangguan sensorineural . pendengaran lebih baik pada telinga yang sakit. Pemeriksa memberitahu kepada pasien untuk mengangkat tangannya bila ia tidak mendengar lagi. sedangkan pada kekurangan pendengaran konduktif. Pasien dengan kehilangan pendengaran sensoris akan mendengar lebih baik pada telinga yang sehat.Tes Rinne (-)  gangguan konduksi Tes Weber Tes ini mempergunakan getaran garpu penala 256 atau 512 Hz yang diletakkan di linea mediana seperti vertek. Rinne tes negatif. kemudian tangkainya diletakkan di prosessus mastoideus. Interpretasi : . Garpu Penala digetarkan.Tes Rinne Biasanya digunakan garpu penala 512 Hz. dan kemudian secepatnya posisi garpu penala dipindahkan kira-kira 2. Penggunaan garpu penala harus berhati-hati untuk menghasilkan suara dan pangkalnya diletakkan pada prosessus mastoid. Pada telinga normal akan mendengar suara sama kuat digaris tengah. Rinne tes positif. Tes ini membandingkan hantaran tulang dari kedua telinga penderita. tapi bila diperlukan bisa diulangi dengan memakai garpu penala 128 .2048 Hz. Bila pasien dapat mendengar. pada telinga sebelah mana yang mendengar lebih kuat.5 cm arah lateral dari meatus akustikus eksternus.

183 . Bila suara yang didengar hampir menghilang secepatnya dipindahkan ke prosessus mastoid pemeriksa. Dari perbedaan ini dinilai keadaan telinga yang diperiksa. Kemudian dilakukan sebaliknya. kemudian diletakkan di prosessus mastoid penderita dan ditanyakan pada penderita apakah suara yang didengarnya hampir menghilang. Disini dinilai apakah pemeriksa masih dapat mendengar suara tersebut.Lateralisasi ke telinga yang sehat (tuli perseptif pada telinga yang sakit) Tes Schwabach Tes ini membandingkan hantaran tulang penderita dengan pemeriksa yang dianggap mempunyai pendengaran yang normal. Interpretasi: . Penilaian yang dilakukan adalah pendengaran penderita sama dengan pemeriksa.Tes ini baru bermakna bila salah satu telinga sakit. memanjang atau memendek. Pertama garpu penala digetarkan. pemeriksa dahulu baru kemudian penderita.Lateralisasi ke telinga yang sakit (tuli konduktif pada telinga yang sakit) . Penilaiannya ada atau tidak ada lateralisasi.

Schwabach memanjang  gangguan konduksi .Schwabach memendek  gangguan sensorineural .Schwabach sama dengan pemeriksa  normal 184 .Interpretasi : .

Checklist Pemeriksaan Fisik THT No 1. 2. Aspek yang dinilai Memberikan salam pembuka dan memper-kenalkan diri Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stress sebelum melakukan pemeriksaan fisik :
 Memberi penjelasan dengan benar, jelas, lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan Memberitahukan kemungkinan adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang timbul selama pemeriksaan dilakukan

Skor 0 1 2 3

3. 4. 5.

Mengatur posisi duduk antara pemeriksa dan pasien Memasang lampu kepala dengan benar Melakukan Pemeriksaan Telinga (Otoskopi)
 Memperhatikan keadaan dan bentuk daun telinga serta daerah depan dan belakang telinga Memeriksa telinga luar, menentukan nyeri tekan atau nyeri tarik Melihat liang telinga dengan lampu kepala Memeriksa telinga dengan otoskop Mempresentasikan membrana timpani

   

6.

Melakukan Pemeriksaan (Rinoskopi Anterior)
   

Hidung

Memeriksa hidung luar Memegang spekulum hidung dengan benar Membuka lubang hidung dengan perlahan-lahan dan tenang Memeriksa vestibulum nasi

185

Memeriksa kavum nasi : - Memperhatikan kavum nasi, dasar hidung, atap hidung, septum nasi, konka nasi dan meatus nasi

7.

Pemeriksaan (Orofaring)
 

Mulut

dan

Faring

Inspeksi bibir Pemeriksaan rongga mulut dan faring : - Menekan dua per tiga bagian depan lidah dengan spatula lidah - Memeriksa orofaring : - Dinding belakang faring - Tonsil (tentukan ukurannya) - Lidah, palatum, gigi geligi, bukkal Inspeksi leher Palpasi kelenjar limfa leher Pemeriksaan kelenjar tiroid

8.

Pemeriksaan Leher
  

9.

Pemeriksaan Pendengaran Garpu Penala
     

dengan

Mengetahui frekuensi garpu penala Menggetarkan garpu penala dengan benar Melakukan tes Rinne pada kedua telinga Melakukan tes Weber Melakukan tes Schwabach Mampu melakukan interpretasi sederhana

Keterangan Skor : 0 = tidak dilakukan sama sekali 1 = dilakukan dengan banyak perbaikan 2 = dilakukan dengan sedikit perbaikan 3 = dilakukan dengan sempurna

Banda Aceh…..2013 Observer ………………………… x 100% = %

Cakupan penguasaan keterampilan : Skor total ./87 186

10. PEMERIKSAAN FISIK DIAGNOSTIK MATA (EYE PHYSICAL EXAM) Tujuan Belajar : Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fisik mata secara sistematis dan benar PENDAHULUAN Mata adalah suatu struktur sferis berisi cairan yg dibungkus oleh 3 lapisan: 1. Sklera dan kornea 2. Koroid,badan siliaris dan iris 3.Retina - Sebagian besar bola mata dilapisi oleh sebuah lapisan jaringan ikat protektif yang kuat disebelah luar : sklera yang membentuk bagian putih mata - Dianterior (kearah depan) lapisan luar terdiri dari : Kornea bagian yang transparan, tempat lewatnya berkas cahaya kearah anterior mata ⌐■ Koroid: - Lapisan tengah dibawah sklera, yang sangat berpigmen, dan mengandung pembuluh darah untuk memberi makan retina - Lapisan koroid disebelah anterior mengalami spesialisasi untuk membentuk : badan siliaris dan iris. ⌐■ Retina: - Lapisan paling dalam dibawah koroid - Terdiri dari sebuah lapisan berpigmen sebelah luar dan sebuah lapisan jarigan saraf didalam - Retina mengandung sel batang dan kerucut. Bagian dalam mata terdiri dari:  Dua rongga berisi cairan yang dipisahkan oleh sebuah lensa yang jernih yang memungkinkan cahaya lewat menembus mata dari kornea ke retina  Rongga anterior (depan) : Aqueous Humor terletak antara kornea dan lensa mengandung cairan encer jernih.  Rongga posterior (belakang) : Vitreous Humor terletak antara lensa dan retina 187

Bagian bagian eksternal mata yang penting diperhatikan diperlihatkan pada gambar dibawah ini :  Palpebra dan silia berfungsi untuk melindungi mata, menutupi bola mata dan melumas permukaannya.  Konjungtiva adalah membran mukosa tipis yang vaskular dan transparan, yang melapisi palpebra dan bagian anterior bola mata  Sklera adalah lapisan luar bola mata yang putih, terletak dibawah konjungtiva  Kornea : jaringan yang transparan, licin dan avascular yang menutupi iris, dan menyatu pada sklera pada limbus  Iris : bagian sirkular yang berwarna pada mata  Pupil : lubang bulat dan kecil ditengah iris

188

B

A & B Gambar Anatomi Mata Manusia

Jalur visual dari retina ke korteks visual

189

astigmat atau silindris  Kelainan media penglihatan seperti kornea. Pada jarak ini pasien yang memiliki penglihatan normal dapat melihat huruf pada baris dengan angka 6 di sebelahnya. hipermetropia (rabun dekat). pasien ini mempunyai tajam penglihatan 6/6. Pemeriksaan dilakukan tanpa dan dengan kacamata yang sedang dipergunakan. Alat :  Kartu Snellen atau E  Lensa Coba  Gagang Lensa Coba 190 . Tajam penglihatan dapat berkurang pada keadaan berikut :  Kelainan refraksi seperti miopia (rabun jauh).  Saraf penglihatan terganggu.Pemeriksaan tajam penglihatan Tajam penglihatan adalah suatu metode pengukuran yang mana seseorang dapat mengenal objek terkecil pada jarak tertentu dari mata. lensa dan badan kaca yang keruh. akuos humor. Beberapa istilah yang sering dipergunakan dalam pemeriksaan tajam penglihatan adalah :  AV : aksis visual (tajam penglihatan )  OD : oculus dexter ( mata kanan )  OS : oculus sinistra ( mata kiri )  OU : oculus uterque ( kedua mata ) Tajam penglihatan ditentukan dengan memakai kartu Snellen yang merupakan kartu dengan huruf/angka/simbol yang mempunyai ukuran berbeda pada setiap barisnya. Kartu Snellen ditempatkan pada jarak tertentu (biasanya 6 meter) di depan pasien yang akan diperiksa. Besar huruf pada kartu Snellen berbeda sehingga setiap huruf tertentu hanya dapat dibaca pada jarak tertentu (kartu untuk jarak 6 meter dan 5 meter) membentuk sudut 5 menit dengan nodal point. Baris huruf/angka/simbol mempunyai angka disebelah kanannya yang menunjukkan jarak seseorang normal dapat melihat huruf pada baris tersebut dengan jelas.

Nilai atau hasil pemeriksaan Bila huruf yang terbaca tersebut :  Terdapat pada baris dengan tanda 30. biasanya yang diperiksa mata kanan terlebih dahulu. Bila jari yang diperlihatkan dikenal pada jarak 1 meter maka dikatakan tajam penglihatan seseorang adalah 1/60. Uji hitung jari Dasar : Jari dapat dilihat terpisah oleh orang normal pada jarak 60 meter Teknik : Pasien duduk di kamar yang terang Pasien diminta melihat atau menentukan jumlah jari yang diperlihatkan pada jarak tertentu.  Ditentukan letak baris terakhir yang masih dapat dibaca.  Dipasang gagang lensa coba  Mata yang tidak akan diperiksa ditutup. berarti tajam penglihatan 6/30  Bila pasien tidak dapat mengenal huruf terbesar pada kartu Snellen dengan jarak 6 meter maka dilakukan uji hitung jari. yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 6 meter. dikatakan tajam penglihatan 6/30  Terdapat pada baris dengan tanda 6. Bila pasien tidak dapat melakukan uji hitung jari dilakukan uji lambaian 191 . Tajam penglihatan seseorang dikatakan normal bila tajam penglihatan adalah 6/6 atau 100%. berarti ia dapat melihat pada jarak 6 meter.  Bila pasien hanya dapat melihat huruf pada baris yang menunjukkan angka 30. Dengan kartu standar dapat ditentukan tajam atau kemampuan dan fungsi mata penglihatan seseorang :  Bila tajam penglihatan 6/6 .Tehnik pemeriksaan  Pasien duduk menghadapi kartu Snellen dengan jarak 6 meter. dikatakan tajam penglihatan 6/6.  Pasien diminta membaca huruf yang tertulis pada kartu Snellen dimulai pada baris paling atas dan bila telah terbaca dilanjutkan dengan membaca baris bawahnya.

 Pada mata tersebut dipasang lempeng pinhole Pasien diminta membaca kembali kartu Snellen. Bila pasien hanya dapat melihat lambaian tangan pada jarak 1 meter. Dengan uji lambaian tangan. Keadaan ini disebut sebagai tajam panglihatan tidak berhingga ( 1/~ ). berarti tajam penglihatannya adalah 1/300. Alat :  Lempeng pinhole  Kartu snellen  Di kamar ruangan biasa Tehnik :  Pasien duduk menghadap kartu Snellen dengan jarak 6 meter  Pasien diminta membaca huruf terkecil yang masih terbaca. Kadangkala seseorang hanya dapat mengenal adanya sinar saja dan tidak dapat melihat lambaian tangan.tangan. Bila pasien sama sekali tidak mengenal adanya sinar disebut tajam penglihatan nol/buta.  Bila huruf yang terbaca lebih besar daripada huruf sebelumnya berarti terdapat kelainan pada media penglihatan 192 . maka dapat dinyatakan tajam penglihatan pasien lebih buruk dari 1/60. Uji Lobang Kecil ( Pinhole Test ) Pemeriksaan ini bermaksud untuk mengetahui apakah tajam penglihatan terganggu akibat kelainan refraksi atau kelainan media penglihatan atau saraf optik. Orang normal dapat melihat gerakan atau lambaian tangan pada jarak 300 meter. Nilai :  Bila dapat baca huruf yang lebih kecil daripada sebelumnya pada kartu Snellen berarti terdapat kelainan refraksi yang dapat dikoreksi penuh.

Alat : Sentolop Tehnik : Sentolop disinarkan setinggi mata pasien dengan jarak 30 cm. Kedudukan bola mata 1. Bila terdapat fiksasi sentral pada satu mata maka refleks sinar yang diberikan pada kornea mata lainnya dapat menentukan deviasi secara kasar. II.15 derajat. Uji posisi otot mata luar Bertujuan untuk memeriksa fungsi gerak otot penggerak bola mata. deviasi berkisar 12. deviasi berkisar 25. sebagai sinar fiksasi. Dengan mempergunakan suatu obyek dilihat kemampuan pergerakan otot pada posisi yang dibuat untuk mendapatkan nilai kemampuan pergerakan otot pada saat mengikuti obyek tersebut. 193 . Bila refleks terletak antara pinggir pupil dan limbus. Pada keadaan normal refleks kornea sedikit ke arah nasal dari sentral kornea.Pemeriksaan Segmen Anterior I.1 Uji Refleks Kornea ( Hirscberg ) Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai kedudukan bola mata dengan melihat refleks pada kornea.30 derajat dan bila pada pinggir limbus deviasi berkisar 45-60 derajat. maka mungkin terdapat parese otot tersebu. Refleks sinar pada mata fiksasi diarahkan pada tengah pupil kemudian dilihat refleks sinar pada kornea mata yang lain. Refleks cahaya pada mata berdeviasi bila: Pada tepi pupil. Bila ternyata otot tertentu tidak mampu mengikuti gerakan obyek.

1. hiperemi. adakah tampak benda asing. Kelopak Mata III. Melihat gangguan sekunder fungsi kelopak mata akibat penyakit lain. folikel atau papil III. ophthalmopaty tiroid. entropion. pasien diminta dilihat keatas.3. pinguecula.2. Bila pada saat melihat keatas tarsus yang sudah di eversi kembali ke kedudukan normal. apakah kelainan tersebut merupakan perdarahan subkonjungtiva. injeksi konjungtiva atau kombinasi keduanya.  Melihat adakah sekret yang dikategorikan berdasarkan kuantitas. Pada saat eversi kelopak mata dilakukan juga penilaian kelainan pada konjungtiva tarsal. sepertitosis. mis Bell’s palsy. xantelasma dan lain-lain. karakter sekret.1 Inspeksi : Melihat keadaan kedua kelopak mata untuk menentukan kelainan yang ada. Uji eversi kelopak Dilakukan untuk mengetahui apakah ptosis yang terjadi akibat parese levator palpebra. misalnya pterigium. IV.III. ektropion.  Mencari kelainan yang terdapat pada konjungtiva. Dilakukan dengan membalik kelopak ke atas. 194 . III. lagofthalmus. skleritis dll. berarti tidak terdapat parese otot levator dan otot orbikularis okuli.Inspeksi  Pemeriksaan dilakukan dengan mempergunakan bantuan loup dan senter  Melihat pola perdarahan di konjungtiva. Konjungtiva IV. injeksi siliar.

rabaan pada kornea.Uji sensibilitas Kornea Tujuan : Tes untuk pemeriksaan fungsi saraf trigeminus yang memberikan sensibilitas pada kornea. V.Plasidoskop diletakkan setinggi mata pasien 3. infiltrat.1. Dasar : Mata akan berkedip bila terkena sinar kuat.V. Pasien membelakangi sinar (jendela) 2.  Melihat kejernihan dari kornea.  Bila garis lingkaran lonjong berarti terdapat astigmat  Bila garis tidak beraturan atau lingkaran tidak simetris berarti adanya astigmat ireguler. Pemeriksaan Plasidoskopi Alat : Papan dengan gambaran lingkaran konsentrik putih hitam Tehnik : 1. ulkus. Refleks taktil kornea didapat melalui saraf serabut aferen saraf trigeminus dan serabut eferen saraf 195 . benda yang bergerak cepat mendekati mata. suara keras.Melalui lobang plasidoskop dilihat gambaran pada kornea pasien.2. misal : sikatriks. benda asing dan lain-lain.  Bila garis kurang tegas mungkin karena kornea tidak jernih atau adanya edema kornea. Nilai :  Bila bayangan pada mata terlihat konsentrik berarti tidak ada kelaianan kecembungan kornea. Kornea  Pemeriksaan dilakukan dengan mempergunakan bantuan loup dan senter. Bila garis konsentrik terlihat padat ditengah berarti kornea menonjol atau yang disebut keratokonus. V. kelainan yang dapat ditemukan pada kornea.

yang dinyatakan dengan perasaan sakit 3.fasial. Alat : Zat warna fluoresein 0.  Zat warna diirigasi dengan garam fisiologis sampai seluruh air mata tidak berwarna hijau lagi.  Kapas ditempel pada permukaan kornea.5%-2% tetes mata atau kertas flouresein Tehnik  Mata ditetes pantokain 1%  Zat warna fluoresein diteteskan pada mata atau kertas fluoresein ditempatkan pada forniks inferior selama 20 detik. Refleks kedip menurun pada keratitis atau ulkus herpes simpleks dan herpes zoster. Timbulnya lakrimasi. Terjadinya refleks mengedip. Apabila terjadi refleks mengedip berarti sensibilitas kornea baik dan fungsi trigeminus normal. Alat : 1. Terdapat hubungan dengan korteks yang berupa rasa sakit. V. 196 . Nilai : 1. Kapas Teknik :  Pasien diminta melihat ke sisi yang berlawanan dari bagian kornea yang di tes  Pemeriksa menahan kelopak mata pasien yang terbuka dengan jari telunjuk dan ibu jari.3. Perasaan tidak enak oleh pasien. Uji Fluoresein Tujuan : Untuk mengetahui terdapatnya kerusakan pada lapisan kornea.  Diusahakan mendekatkan kapas tidak disadari pasien.  Dari sisi lain (untuk mencegah terlihat) kapas digeser sejajar dengan permukaan iris menuju kornea yang akan diperiksa. Dasar : Zat warna fluoresein bila menempel pada epitel kornea yang defek akan memberikan warna hijau karena jaringan epitel rusak bersifat lebih basa. 2.

Bila sinar dinaikkan perlahan-lahan maka reaksi akan terjadi sampai ambang rangsang. Hal ini menunjukkan refleks pupil langsung +  Pada refleks + atau normal berarti visus ada dan motorik saraf ke III berfungsi baik 197 . infiltrat atau ulkus. Tehnik :  Mata disinari  Dilihat keadaan pupil pada mata yang disinari apakah terjadi miosis (mengecil) pada saat penyinaran. Mata normal akan memberikan ambang dan intensitas lampu kedua refleks sama. Refleks sinar langsung. VI. Refleks tidak langsung terjadi bila mata sebelah dari mata yang disinari memberikan refleks atau reaksi.1. Sesudah pupil berkontraksi kuat akan disusul dilatasi ringan terutama bila penyinaran tidak keras. Pada suatu lingkaran refleks sinar dengan motorik pupil. Nilai :  Periode laten 0. Uji refleks pupil Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat refleks miosis pupil akibat suatu penyinaran pada mata. VI. IRIS/ PUPIL VI. yang langsung mengenai mata yang disinari disebut refleks langsung. baik reaksi penyinaran langsung atau tidak langsung pada mata lainnya.2 detik setelah rangsangan.2.  Defek dapat berupa erosi. Dilihat bagian pada kornea yang berwarna hijau Nilai  Bila terdapat warna hijau pada kornea berarti terdapat defek pada epitel kornea.

VI. Kontraksi pupil bereaksi sama dengan mata yang disinari langsung. Nilai :  Terdapat periode laten seperti pada mata yang disinari langsung. Dilihat keadaan pupil mata yang tidak disinari apakah terjadi miosis (mengecil) pada saat penyinaran mata sebelahnya. Bila terjadi refleks miosis disebut refleks pupil tidak langsung +. Refleks langsung terganggu bila saraf optik mengalami gangguan atau pada kerusakan saraf okulomotor mata yang disinari 198 . Refleks sinar konsensual Mata disinari dengan diusahakan sinar tidak masuk pada mata yang lain.  Pada keadaan ini dinilai fungsi saraf motorik ke III untuk membuat konstriksi atau miosis dari mata yang tidak disinar.3.

4. Alat : 1.). Bila kekeruhan lensa semakin tebal maka semakin kecil bayangan iris pada lensa yang keruh. LENSA VII. refleks abnormal berwarna putih yang disebut leukokoria.1 Oftalmoskopi Funduskopi Bertujuan untuk melihat dan menilai kelainan pada fundus okuli. Katarak hipermatur bila lensa telah keruh seluruhnya. VIII. Refleks pupil normal berwarna merah. Tes bayangan iris ( shadow test ) Pemeriksan ini dilakukan untuk mengetahui derajat kekeruhan lensa. Cahaya yang dimasukkan ke dalam fundus akan 199 . Refleks pupil Diperiksa di kamar gelap dengan mempergunakan oftamoskop direk pada jarak 1-2 kaki.Refleks tidak langsung terganggu bila pada saraf mata yang disinari ada kelainan atau terdapat kerusakan saraf okulomotor mata yang sedang diperiksa refleks konsensual. keadaan ini disebut shadow test +. sehingga bayangan iris pada lensa besar dan keadaan ini disebut pseudopositif.1. mengecil serta terletak jauh di belakang pupil. Loupe Tehnik :  Sentolop disinarkan pada pupil dengan membuat sudut 45 derajat dari dataran iris. terjadi pada katarak immatur.  Dengan loupe dilihat bayangan iris pada lensa yang keruh. Makin sedikit lensa keruh pada bagian posterior makin besar bayangan iris pada lensa yang keruh tersebut. VII. Bila bayangan iris pada lensa terlihat besar dan letaknya jauh terhadap pupil berarti lensa belum keruh seluruhnya. terdapat pada katarak matur ( shadow test . RETINA VIII. Apabila bayangan iris pada lensa kecil dan dekat pupil berarti lensa sudah keruh total. Lampu sentolop 2. VI.

Memeriksa mata kanan pasien dengan mata kanan pemeriksa.5%. Alat : 1. demikian pula dengan mata kiri. 2. Keadaan berikut sebaiknya tidak dilakukan pelebaran pupil :  Bilik mata yang dangkal  Dengan tanda pupil setelah trauma kepala  Implan fiksasi pada iris  Pasien pulang mengendarai kendaraan sendiri Pasien menderita glaukoma sudut tertutup.memberikan refleks fundus. Pada posisi ini fokus terletak pada kornea atau lensa mata 200 . Gambaran fundus mata akan terlihat bila fundus diberi sinar.5% Perhatian Sebaiknya sebelum dilakukan pelebaran pupil dikur terlebih dahulu ukuran tekanan bola mata. Obat melebarkan pupil Dilakukan dengan obat Tropicamide 0. Oftalmoskop diletakkan 10 cm dari mata pasien. Oftalmoskop 2. Mula-mula diputar roda lensa oftalmoskop sehingga menunjukkan angka + 12 dioptri 3.1% ( Mydriatil ) Fenilefrin hidroklorida 2. Tehnik Diperiksa di kamar gelap : 1.

Sinar difokuskan pada papil saraf optik. Dilakukan pemeriksaan pada seluruh retina. dan pemeriksa dapat melihat keadaan makula lutea pasien 9. 8. 7.4. dots. Diperhatikan warna. lidah api. tepi dan pembuluh darah yang keluar dari papil saraf optik. blots  Edema retina  Edema makula Pembuluh darah retina  Rasio arteri dan vena  Perdarahan arteri dan vena  Mikroaneurisma vena 201 . 5. Papil saraf optik  Papiledema  Hilangnya pulsasi vena saraf optik  Ekskavasi papil saraf optik pada glaukoma  Atrofi saraf optik Retina  Perdarahan subhialoid  Perdarahan intra retina. 6. Selanjutnya oftalmoskop lebih didekatkan pada mata pasien dan roda lensa oftalmoskop diputar. Mata pasien diminta melihat sumber cahaya oftalmoskop yang dipegang pemeriksa. Nilai : Dapat dilihat keadaan normal dan patologis pada fundus mata. Bila ada kekeruhan pada kornea atau lensa mata akan terlihat bayangan hitam pada dasar yang jingga. sehingga roda lensa menunjukkan angka mendekati nol.

202 .

Pada tonometer Schiotz bila tekanan rendah maka beban akan mengindentasi lebih dalam dibanding bila tekanan bola mata tinggi. yaitu :  Digital (palpasi). Alat: 1. Ada 4 metode. metode ini kurang tepat karena dibutuhkan pengalaman dan sangat subjektif  Tonometri Schiotz. Obat tetes anestesi lokal ( tetrakain ) 2. Keseimbangan tekanan tergantung dari beban yang dipergunakan untuk menekan permukaan kornea. mendatarkan permukaan kornea  Tonometri Non Kontak /Air puff tonometry. sehingga akan mendapatkan perlawanan tekanan dari dalam bola mata. mempergunakan tekanan udara. Tonometer yang diletakkan pada permukaan kornea akan menekan bola mata ke dalam. kurang teliti. Tonometri Schiotz Merupakan tonometer indentasi atau menekan permukaan kornea dengan beban yang dapat bergerak bebas pada sumbunya. dibaca nilai tekanan pada skala busur yang berkisar antara 0-15 203 . Tonometer Schiotz Tehnik:  Pasien diminta melongarkan bajunya  Pasien tidur terlentang di tempat tidur  Teteskan mata dengan anestesi topikal  Tunggu sampai ras perih pada mata pasien menghilang  Kelopak mata pasien dibuka dengan telunjuk dan ibu jari  Pasien diminta mengacungkan ibu jarinya ke atas atau melihat ke langit-langit ruang pemeriksaan. memberi beban pada permukaan kornea  Tonometri Applanasi. Tonometri Tonometri adalah suatu metode untuk mengukur tekanan bola mata.IX.  Dasar tonometer schiotz diletakkan pada permukaan kornea  Setelah tonometer menunjukkan angka yang tetap.

Tehnik  Pasien dan pemeriksa duduk dengan berhadapan dengan jarak kira-kira 1 meter  Mata kiri pemeriksa ditutup dan mata kanan pasien ditutup  Mata kanan pemeriksa dan mata kiri pasien saling berpandangan  Sebuah benda diletakkan antara pasien dengan pemeriksa pada jarak yang sama  Benda mulai digerakkan dari perifer ke arah sentral sehingga mulai terlihat oleh pemeriksa.Nilai: Pembacaan skala dikonversi pada tabel untuk mengetahui tekanan bola mata dalam milimeter air raksa. Bila saat melihat benda oleh pasien dan pemeriksa sama.  Ditanyakan pada pasien apakah benda tersebut telah terlihat  Dilakukan berulang dari berbagai arah (atas.1. temporal). Uji Konfrontasi Dilakukan untuk melihat gangguan lapang pandang pasien dengan membandingkan lapang pandang pemeriksa. tapi bila pasien terlambat melihat berarti lapang pandangnya lebih sempit dibanding pemeriksa 204 . baik pada pemeriksa maupun pasien. Pemeriksaan lapangan pandang X. hal ini menunjukkan lapang pandang tidak mengalami gangguan. bawah nasal.  Pemeriksaan juga dilakukan pada mata satunya. X. Pemeriksaan ini sangat sederhana dan tidak memerlukan alat khusus.

Uji refleks cahaya kornea (hirscberg) · Menyiapkan alat : sentolop · Menyinarkan mata pasien dengan jarak 30 cm sebagai sinar fiksasi dengan mengarahkannya ke bagian tengah pangkal hidung (glabella) · Menilai refleks sinar pada kedua pupil mata b. Uji posisi otot mata luar · Menggerakkan objek ke segala arah untuk menilai kemampuan gerakan bola mata · Menilai : normal/parese · Meniali : normal/deviasi c. lagofthalmus.Cheklist Pemeriksaan Fisik Mata Skor No I Aspek yang dinilai Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stress sebelum melakukan pemeriksaan fisik : · Memberi penjelasan dengan benar. distrikiasis dan xantelasma b. mata lihat kedepan tanpa menggerakkan kepala melihat kejari pemeriksa yang digerakkan kesegala arah Kelopak mata a. 2. entropion. Inspeksi : · Melihat kedua bola mata ada/tidaknya : Ptosis. memeriksa apakah ada benda asing 0 1 2 II. lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan · Memberitahukan kemungkinan adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang timbul selama pemeriksaan dilakukan Pemeriksaan visus : mata kanan dan kiri (snellen chart) · Duduk jarak 6 m · Menutup mata sebelah– sbelah · Membaca snellen chart · Pinhole 1. Pemeriksaan segmen anterior Pemeriksaan segmen anterior a. 1. ektropion.5 mm · Laporkan hasil (sebelum dan sesudah pinhole) III. trikiasis. jelas. 205 . Uji konfrontasi · Menutup mata pada yang sejajar dengan pemeriksa. Uji eversi kelopak · Meminta pasien untuk melihat ke atas · Membalikkan kelopak mata atas/bawah ke atas/ kebawah dengan menggunakan tangan.

.2012 1 = dilakukan tetapi kurang sempurna 2 = dilakukan dengan sempurna Instruktur Cakupan penguasaan keterampilan: Skor total . injeksi siliar.. kelainan kornea : sikatriks.. Inspeksi :  Melihat kejernihan dari kornea....../48 x 100% = % 206 . infiltrat. refleks abnormal : putih/leukoria Keterangan: 0 = tidak dilakukan Banda Aceh............. injeksi konjungtiva atau kombinasi keduannya  Mencari kelainan yang terdapat pada konjungtiva : pterigium. skleritis Kornea a.. Menyiapkan alat : loup dan senter b. Inspeksi :  Melihat bola pendarahan di konjungtiva : perdarahan subkonjungtiva...3. 4 5 Konjungtiva a.... ulkus.... Refleks fundus :  Mendekatkan sentoloup direk 1-2 kaki dari mata pasie di kamar gelap  Menilai : refleks pupil normal : merah.. Uji refleks pupil : langsung & tak langsung b. Menyiapkan alat: loup & senter b... pinguecula.. benda asing Pupil a....... hiperemi.

2. ANATOMI KULIT DAN ADNEKSA KULIT KUKU RAMBUT Gambar 1. Penampang kulit. PEMERIKSAAN FISIK KULIT (SKIN PHYSICAL EXAM) TUJUAN BELAJAR : 1. I. kuku. Mahasiswa diharapkan mampu mendeskripsikan status dermatologis dengan tepat dan menghubungkannya dengan gejala kinis pasien sehingga dapat menentukan diagnosis banding dan diagnosis klinisnya. dan rambut 207 .11. Mahasiswa diharapkan mampu dan terampil dalam melakukan pemeriksaan lesi kulit dengan sistematis dan benar serta melakukan tes klinis dengan cara (teknik) yang benar.

lunula. Fungsi ekskresi 208 . dinding kuku (nail wall). Dermis:  Stratum papilare  Stratum retikulare Subkutis: terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya Adneksa kulit  Kuku: terdiri atas matriks kuku. akar kuku (nail root). dasar kuku (nail bed). II. mengandung melanin Stratum spinosum (stratum malphigi) Stratum basalis B. merupakan lapisan luar yang terdiri dari Stratum korneum (lapisan tanduk) Stratum lusidum Stratum granulosum (lapisan keratohialin) : berisi sedikit keratin sehingga kulit menjadi keras dan kering . FAAL KULIT 1. kelenjar sebasea. eponikium.Kulit merupakan lapisan terluar dari tubuh manusia yang terdiri atas : A. Fungsi proteksi 2. lempeng kuku (nail plate). Epidermis. alur kuku (nail groove). Fungsi absorpsi 3. hiponikium  Rambut: terdiri atas bagian yang terbenam dalam kulit (akar rambut) dan bagian yang berada di luar kulit (batang rambut)  Kelenjar : kelenjar ekrin dan apokrin.

ujung reseptornya terletak di dekat epidermis. pewarnaan gram. TAHAPAN DALAM MEMBUAT DIAGNOSIS DERMATOLOGIS Penegakkan diagnosis mudah dilakukan dengan memperhatikan tahap-tahap berikut: 1. sediaan langsung. Pemeriksaan penunjang (pemeriksaan KOH. Fungsi pembentukan pigmen 7.4. dan biomolekuler) 209 . Fungsi keratinisasi 8. Fungsi produksi vitamin D 9. tzank test. radiologis. Reseptor untuk rasa sakit ujungnya menjorok masuk ke daerah epidermis. Fungsi pengaturan suhu tubuh 6. Pendekatan terhadap pasien (anamnesis) 2. Pemeriksaan fisik kulit (tes klinis) 4. Pemeriksaan kelainan morfologi (deskripsi status dermatologis) 3. Reseptor untuk tekanan. imunofluoresensi. kulit dilengkapi dengan reseptor-reseptor khusus. Fungsi ekspresi emosi III. kultur. serologis. Reseptor untuk rangsang sentuhan dan panas. indeks bakteri dan indeks morfologi.     Badan Ruffini : panas Badan Krause: dingin Badan taktil Meissner dan Badan Ranvier: rabaan Badan Paccini: tekanan 5. ujungnya berada di dermis yang jauh dari epidermis. Fungsi pengindra (Sensori) : Sehubungan dengan fungsinya sebagai alat peraba. pemeriksaan histopatologis. pemeriksaan genetik.

symptoms atau gejala (pruritus. b. Harus ditanyakan tentang durasi (kapan lesi timbul. berurutan. produk topikal. perih. keparahan (sangat nyeri atau sangat gatal). evolusi (bagaimana perkembangan atau perubahan bentuk lesi ?) . Beberapa obat topikal dapat menyebabkan kelainan pada kulit baik lokal maupun sistemik. hubungan dengan menstruasi ataupun kehamilan. berlangsung berapa lama.dan mati rasa). dan kapan-kapan saja lesi muncul ?) . Keluhan tambahan Keluhan tambahan atau keluhan lain terkait keluhan utama dan keluhan pasien selain keluhan utama c. memburuk pada malam atau musim semi?) . Riwayat perjalanan penyakit a. periodisitas (apakah lesi konstan atau menetap). faktor pencetus eksaserbasi lesi (sinar matahari. 2. bahan kimia. lokasi lesi dan waktu atau sejak kapan lesi muncul. Riwayat pemakaian obat / drug history : Riwayat pemakaian obat sebelumnya termasuk penggunaan suplemen dan produk herbal. dan mencakup segala hal yang mendukung diagnosis utama dan menyingkirkan diagnosis banding. metal. Keluhan utama / chief complaint Keluhan utama terdiri dari keluhan subyektif maupun obyektif. musim dingin. Riwayat penyakit sekarang / present illness history Kronologis timbulnya keluhan atau lesi secara sitematis. Pada 210 .ANAMNESIS Hal-hal yang perlu ditanyakan pada saat melakukan anamnesis: 1. nyeri.

Riwayat penyakit dahulu / past medical history : Meliputi berbagai penyakit yang pernah diderita pasien sebelumnya baik penyakit kulit maupun penyakit sistemik lain seperti diabetes mellitus. PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan fisik dermatologis merupakan pemeriksaan tubuh pasien untuk menemukan adanya kelainan atau tanda klinis penyakit. tuberkulosis. olahraga. Riwayat kebiasaan sosial / social history : Data pribadi seperti umur pasien. 5. 4. personal higiene. hubungan dengan tetangga dan teman. merokok. Penyakit yang bersifat menular. adneksa kulit (rambut dan kuku). meliputi : pemeriksaan kulit. hubungan suami istri. Riwayat atopi. diet. hidung. dan genetalia) 211 . Penyakit dengan latar melanoma. hobi. Riwayat penyakit keluarga / family history : Riwayat keluarga yang terkait gangguan serupa atau penyakit lainnya. mulut.kasus dermatitis kontak alergika karena obat oles hendaknya ditelusuri penyakit awal (underlying disease) yang mendasari. pekerjaan. membrana mukosa (mata. xanthoma dan tuberous sklerosis. 3. Perlu ditanyakan respon terhadap pengobatan sebelumnya. hipertensi serta riwayat rawat inap dan riwayat operasi sebelumnya. belakang genetik.

Alat pembesar ( loupe ) 2. Kamera untuk dokumentasi 212 . 8. sifilis sekunder. Pisau skalpel nomor 15 untuk mengikis lesi atau nomor 11 untuk insisi lesi 9. Mistar untuk mengukur lesi 4. Kaca objek untuk pemeriksaan diaskopi. Sarung tangan.Hasil pemeriksaan harus dicatat dalam rekam medis. Flashlight / lampu senter untuk menerangi lesi 3. Pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis. kaarsvlek phenomen dan auspitz sign 5. memeriksa membrana mukosa. Kain kasa atau tissue dengan air untuk menghilangkan make up 7. harus digunakan saat pemeriksaan skabies. dan daerah genetalia. Kapas alkohol untuk menghilangkan sisik atau minyak pada permukaan kulit 6. mulai dari kepala dan berakhir pada anggota gerak (cranio – cauda) Alat-alat yang diperlukan untuk melakukan pemeriksaan fisik : 1. Lampu Wood (365 nm) untuk menilai fluoresensi 10.

regio inguinalis. Kulit abnormal ditemukan : flushing. temperatur. dan lesi (kerusakan kulit) DESKRIPSI STATUS DERMATOLOGIS Setelah melakukan inspeksi dan palpasi. konfigurasi. termasuk hygiene kulit. Teknik pemeriksaan fisik dengan cara inspeksi dan palpasi kulit Inspeksi kulit  Observasi tampilan keseluruhan pasien. pigmentasi yang tidak teratur  Observasi dan dokumentasikan kelainan kulit yang ditemukan Palpasi kulit:  Pergunakan jari-jari tangan untuk memeriksa lesi. susunan. keringat. jaundice. morfologi lesi. warna kulit dan variasinya. tekstur. vaskularisasi. injury (perlukaan)  Warna kulit dipengaruhi oleh ras. turgor.Lokasi atau Regio : tempat dimana terdapatnya lesi dan ditentukan berdasarkan lokasi anatomi tubuh manusia. regio umbilikalis. dan distribusi lesi) Terminologi lesi kulit a. ukuran. dan lain-lain b. regio pedis dekstra atau sinistra. regio sternalis. regio aksilaris. (tipe lesi. cyanosis.Sarung tangan dispossible dapat digunakan untuk melindungi pemeriksa ketika malakukan pemeriksaan luka  Pada palpasi. maka tentukan deskripsi status dermatologis berdasarkan TERMINOLOGI lesi kulit. contohnya regio frontalis. Tipe lesi : berdasarkan letaknya terhadap permukaan kulit dan berdasakan perjalanan penyakit 213 . jumlah. edema. periksa kelembaban kulit.

adalah kelainan kulit yang terjadi pada permulaan penyakit  Lesi primer yang sama rata dengan permukaan kulit : 1. dan batas-batasnya bisa berbeda dengan kulit norman (berbatas tegas) atau samar. Papula Bentuk peninggian kulit yang padat. 2.5 cm  Lesi primer lebih tinggi dari permukaan kulit 1. Bentuknya bervariasi. Patch Makula dengan ukuran yang lebih dari 0.Berdasarkan letaknya terhadap permukaan kulit Tabel 1. 214 . Makula Lesi datar pada kulit atau membran mukosa berupa perubahan warna tanpa perubahan konsistensi . Lesi padat tersebut disebabkan oleh infiltrat sel radang atau masa padat lainnya di epidermis atau dermis. Kelompok lesi berdasarkan letaknya terhadap permukaan kulit Lebih tinggi Papula Plak Nodul Kista Wheal/Urtikaria Skar Hipertrofi Lebih rendah Erosi Ulkus Atrofi Sama rata Makula Patch Perubahan permukaan Skuama Krusta Ekskoriasi Fisura Likenifikasi Berisi cairan Vesikel Bula Pustula Abses Pembuluh darah Purpura Telangiektasis Infark Berdasarkan perjalanan penyakit dan proses terbentuknya lesi : I. Lesi primer. Makula tidak dapat dipalpasi. ukuran kurang dari 0.5 cm.

Plak bisa juga bisa terbentuk akibat perluasan dan gabungan dari papul 3. Vesikel Peninggian kulit berisi cairan dengan ukuran kurang dari 0. Nodul bisa terletak di epidermis. 215 .5cm 3. dermis. mempunyai permukaan yang relatif lebih besar dibanding tingginya. Bula Peninggian kulit berisi cairan dengan ukuran lebih dari 0. Nodula Lesi yang menonjol. dapat pecah menjadi erosi. timbulnya cepat. dan subkutan 4. Plak Merupakan peninggian kulit yang berbentuk padat dengan diameter lebih dari 0. Bersifat gatal.  Lesi primer yang berisi cairan 1.5 cm. berbentuk padat. dan dapat teraba dengan diameter lebih dari 0. Pustula Seperti halnya vesikula tetapi isinya pus & berada diatas kulit yang beradang. pori-pori melebar. warna pucat. Urtika atau Wheal Peninggian kulit yang datar karena edema dermis bagian atas.5cm. dapat bergabung menjadi bula 2.2.5 cm. hilang setelah beberapa jam.

Lesi primer pada kelainan kulit 216 .Makula Patch Plak Papul Pustul Nodul Wheal Vesikel Bula Gambar 2.

akan berwarna merah kehitaman bila berasal dari darah. 2. Skar 217 . Secara klinis tampak adanya bintik perdarahan di kulit. Fisura Hilangnya kontinuitas (kesinambungan) kulit sehingga kulit pecah (diskontinuitas) tanpa kehilangan jaringan. Partikel epidermal dapat kering atau berminyak. 3. paralel dan menyilang serta dapat menimbulkan krusta kehitaman 4. Pada likenifikasi terjadi penebalan epidermis disertai perubahan kolagen pada bagian superfisial dermis. Eskoriasi Hilangnya jaringan sampai stratum papilare di dermis.  Lesi sekunder yang lebih tinggi dari permukaan kulit 1. Garukan yang tidak terkontrol dapat menghasilkan lesi yang panjang. Warnanya bervariasi putih keabu-abuan kuning atau coklat. Krusta Cairan tubuh yang mengering pada permukaan kulit. tipis ataupun tebal dan dilapisi massa keratin. Skuama Skuama adalah pengelupasan bagian paling luar dari stratum korneum. Sikatrik atau skar hipertrofi Pembentukan jaringan baru yang sifatnya lebih banyak mengandung jaringan ikat untuk mengganti jaringan yang rusak akibat penyakit atau trauma pada dermis yang lebih dalam. Likenifikasi Penebalan kulit disertai relief kulit yang makin jelas. darah dan eksudat purulen. warna kekuningan bila berasal dari serum. 5. dan kuning kehijauan berasal dari pus. Lesi sekunder : kelainan kulit yang terjadi selama perjalanan penyakit  Lesi sekunder akibat perubahan permukaan kulit 1. Warna krusta berbeda-beda. tergantung dari cairan yang keluar. Cairan tersebut bisa berasal dari serum. bila membesar disebut skar hipertrofi.II.

Rasa nyeri (dolent) pada perabaan dapat dirasakan pada ulkus mole (chancroid). 3. Erosi Hilangnya sebagian atau seluruh jaringan epidermis atau epitel mukosa. dasar dan isi. laserasi. Bisa atrofi disebut skar atrofi. dermis & subkutan. erosi tidak meninggalkan skar. Bila tumbuh sangat berlebihan. Erosi dapat terjadi akibat trauma. Berbeda dengan skar hipertrofi. yang bisa terletak di epidermis. misalnya garukan. misalnya pada ulkus durum (sifilis stadium I). Sikatriks atau skar atrofi Pembentukan jaringan baru yang sifatnya lebih banyak mengandung jaringan ikat untuk mengganti jaringan yang rusak akibat penyakit atau trauma pada dermis yang lebih dalam. dinding. akan teraba keras (indurasi).  Lesi sekunder yang lebih rendah dari permukaan kulit 1. Pengerasan karena sebukan sel radang di sekitar ulkus.hiperkeratotik biasanya berbentuk papula keras. yang mempunyai tepi. 218 . 4. lonjong. Meskipun erosi dapat menimbulkan infeksi sekunder. Sekitar ulkus dapat tenang atau terdapat tanda inflamasi akut/kronis (biasanya hiperpigmentasi). Ulkus Hilangnya jaringan yang melebihi stratum papilare. vesikel atau bula superfisial yang pecah dan nekrosis epidermis. Bentuk ulkus dapat bulat. keloid dapat meluas melampaui daerah luka awal. Kista Rongga berkapsul yang berisi cairan atau bahan-bahan semisolid (sel dan produknya seperti keratin). atau nodul. Tepi ulkus bisa datar atau tinggi. plak. 2. atau tidak beraturan. disebut keloid.

Skuama Krusta Likenifikasi Skar atropi Skar hipertropi Ekskoriasi Fisura Erosi Ulkus 219 .

miliaria. yaitu monomorf atau polimorf. Penyakit terdiri atas satu jenis lesi saja. 1. misalnya bula pada impetigo bulosa. misalnya terlihat 220 . Lesi monomorf makula eritematous pada psoriasisguttatae 2. maka jenis morfologi dapat dibedakan berdasarkan lesi yang terlihat. Gambar 4. Polimorf : Kelainan kulit pada satu saat terdiri atas bermacammacam morfologi (umumnya lebih dari 2). Lesi sekunder pada kelainan kulit Jenis Morfologi Berdasarkan pengelompokan penyakit (klinis). dan psioriasis gutata. moluskum kontagiosum.Kista Gambar 3. Monomorf : Kelainan kulit terdiri atas satu jenis morfologi.

Deskripsi tipe (morfologi) lesi Dalam mendeskripsikan tipe lesi primer dan sekunder harus disebutkan berurutan. Lesi polimorf berupa makula eritematous. oval. Bentuk  bulat.hitam. e. Gutata : Sebesar tetesan air (ukuran harus seragam) 4. Warna  sama dengan warna kulit. vesikel. Milier : sebesar kepala jarum pentol (ukuran terkecil). patch dan plakat harus mendeskripsikan: a. 5. bervariasi (multiform). 2. Numular : Sebesar uang koin/ logam 500 – 1000 rupiah. Lentikuler : Sebesar kepala jarum pentol (ukuran terkecil) 3. Ukuran kira-kira selebar telapak tangan dewasa. Lesi polimorfi dapat ditemukan misalnya pada dermatitis kontak alergi. Gambar 5. biru b. f. coklat. c. g. Permukaan  maserasi 221 . Ukuran: 1. ireguler. Garis tepi  reguler.varisela dan akne vulgaris. linear. Khusus untuk makula. papul. erosi kusta.eritema. anular. merah. ungu. papula. Plakat : Ukuran kira-kira selebar telapak tangan dewasa. vesikula. ekskoriasi dan krusta pada dermatitis atopik. d. erosi. Batas  tegas (sirkumskripta) atau tidak tegas (difus).

Contoh tepi lesi tidak tegas dapat dijumpai pada dermatitis atopik dan dermatitis seboroik. 222 . Psoriasis tipe plak dengan lesi batas tegas JUMLAH LESI : a. Herpetiformis : Beberapa versikel bergerombol disatu tempat menyerupai lesi herpes. Soliter ( tunggal) b. Multipel ( lebih dari satu ) SUSUNAN LESI Lesi-lesi ganda dapat tersusun berkelompok/clustered (herpetiformis. zosteriform) dan tersebar/scattered (diskret. Batas tidak tegas disebut difus. Gambar 6. herpes simpleks. disebut berbatas tegas atau sirkumskrip. Contoh lesi berbatas tegas adalah plak psoriasis. Contohnya adalah versikel bergerombol yang ditemukan pada dermatitis herpetiformis (Duhring disease). diseminata). Lesi berkelompok (cluster) : 1.Batas lesi Bila perbedaan lesi dan kulit sehat terlihat jelas dan nyata.

ada di mana-mana. A. B. Vesikula berkelompok mengikuti dermatom dengan susunan zosteriform pada pasien herpes zoster Lesi tersebar (scatter) 1. misalnya pada herpes zoster Gambar 8 . 223 . Contohnya pada varisela ditemukan lesi polimorfi tersebar diskret. Bula berkelompok dengan susunan herpetiform pada dermatitis herpetiformis (duhring disease) .A B Gambar 7. Diskret : Bila lesi tersebar satu persatu. Zosteriform : Lesi kulit yang mengikuti dermatom . Bula multipel dengan susunan herpetiform pada herpes simleks 2.

ataupun pada id reaction. 224 . Umbilicated vesiculae yang tersebar diskret 2. Gambar 10. Penyebaran diseminata dapat ditemukan.Gambar 9. Dermatophytid “id reaction” Tinea pedis yang menyebar diseminata ke telapak tangan berupa vesikula yang sangat gatal. mula-mula terdapat satu lesi kemudian menyebar ke bagian tubuh yang lain. Diseminata : Penjalaran dari satu lesi ke bagian badan yang lain. misalnya pada dermatitis kontak alergika disertai autosensitisasi.

bersisik. psoriasis tipe plak. Anular /Sirsiner : berbentuk cincin. atau berbeda warnanya (misalnya granuloma annulare. Bulat/Numular/Diskoid : berbentuk koin. baik menonjol.Gambar 11. Tinea korporis dengan konfigurasi anular 2.Lesi (erupsi makula dan papula) yang tersebar diseminata pada trunkal pasien id reaction akibat diaper dermatitis KONFIGURASI LESI 1. yang menunjukkan bahwa pinggir lesi berbeda dengan pusatnya. tinea corporis. lupus diskoid 225 . Gambar 12. eritema annulare sentrifugum). biasanya lesi bulat sampai lonjong dengan morfologi yang sama dari bagian tepi hingga ke sentral lesi (misalnya eksema numular.

Gambar 13. Gambar 14. Arkuata/ Arsiner : bentuk lengkung. sering sebagai akibat dari pembentukan tidak lengkap dari sebuah lesi annular (seperti urtikaria. Polisiklik : terbentuk dari lingkaran-lingkaran. . pada tinea korporis. Tinea kruris). Plak hiperpigmentasi pada dermatitis numularis 3. 226 . lupus eritematosus kutaneous subakut). cincin atau cincin inkomplit yang bergabung (seperti pada Tinea korporis. Lesi berbentuk ½ lingkaran. 4.

Gambar 16. bisa berlaku bagi sebuah lesi tunggal (seperti scabies burrow. berbatas tegas. Linear : menyerupai sebuah garis lurus. tepi polisiklik. sering menunjukkan kontaktan eksternal atau fenomena Koebner telah terjadi sebagai respon terhadap penggarukan.Gambar 15. Irisformis :Lesi kulit tersusun menyerupai iris mata. 5. Pada regio thorakalis anterior tampak plak eritematus. Bagian tengah dapat pula 227 . atau pigmentasi bleomycin) atau tatanan lesi ganda (seperti liken nitidus atau liken planus). Lesi dapat oval atau bulat dengan perbedaan warna. poison ivy dermatitis. dengan bagian tengah mengalami penyembuhan (central healing) pada tinea corporis. yaitu di bagian tengah lebih gelap dari pada bagian tepinya. terdiri dari papulae eritematus . aktif dan meninggi. Liken striatus dengan konfigurasi linear 6.

228 . contohnya dapat ditemukan pada kandidiasis kutis. cutis marmorata). Gambar 18. atau suatu lesi induk (ukuran besar) dikelilingi lesi serupa (satelit) yang berukuran lebih kecil. Korimbiformis : Lesi tersusun mirip seekor induk ayam dikelilingi anak-anaknya. Lesi satelit dengan konfigurasi korimbiformis pada kandidiasis intertriginosa 8. dengan cincin yang agak beraturan atau cincin parsial kulit yang jarang (misalnya livedo retikularis. Gambar 17.berbentuk vesikel/bula disekitarnya terbentuk halo. Retikular : Penampilannya mirip jaring. lesi target pada eritema multiforme 7. Contohnya adalah lesi target (irisformis) pada eritema multiformis.

Gambar 20. Konfigurasi serpiginosa pada cutaneous larva migrants 10. Konfigurasi retikular pada livido retikularis 9.Gambar 19. atau urtikaria). misalnya pada herpes simpleks. Konfluens : Dua atau beberapa lesi menyatu. Gambar 21. Bula konfluen pada herpes simpleks 229 . Ditemukan beberapa versikel menyatu. Serpiginosa : seperti atau mirip ular (seperti cutaneous larva migrans dimana larva bermigrasi dengan cara ini.

6. tidak perlu persis baik letak maupun ukurannya. Universal : Bila lesi ditemukan tersebar hampir diseluruh tubuh (90-100%). Unilateral : Lesi hanya ditemukan di satu sisi badan. bayi kolodion. Simetris :Bila lesi tersebar dikedua belahan. 3. penyakit leiner. Generalisata : Bila lesi tersebar ditemukan di setiap bagian tubuh. misalnya di torakal 4-5 sinistra. kanan dan kiri. Bilateral : Bila lesi tersebar dikedua belahan tubuh. Misalnya ditemukan pada eritroderma. Misalnya pada dermatitis atopik fase infantil dapat ditemukan plak di kedua pipi kiri dan kanan sama. 4. serta letaknya satu dan lainnya di tempat yang persis sama. abdomen. Penyebaran generalisata dapat ditemukan pada sindrom Stevens Johnson dan Varisela. Misalnya pada herpes zoster ditemukan lesi pada satu-dua dermatomal saja. Regional : Bila lesi terbatas. contoh lainnya pada dermatitis kontak alergik akibat kontak sandal jepit. hanya ditemukan di satu tempat saja. wajah. hanpir tidak ada kulit yang sehat. kanan dan kiri. Misalnya pada dermatitis herpetiformis Duhring. demikian pula bentuk dan besar persis sama. yaitu di skalp. 2. 230 . ekstremitas. dan iktiosis.DISTRIBUSI 1. punggung. Morbus Hansen tipe lepromatosa. Umumnya meliputi 50-90% luas permukaan tubuh. 5.

Distribusi lesi sesuai perjalanan penyakit 231 .Regional Simetris Bilateral Unilateral Generalisata Gambar 22.

Apakah ada nyeri atau tidak pada saraf. Pemeriksaan N. c) Terdapat struktur lain yaitu : V. PEMERIKSAAN SARAF PERIFER 1. dicari bentukan seperti kabel yang menyilang M. Auricularis magnus sinistra. Sternocleidomastoideus. Auricularis D/S. Jugularis yang teraba lebih lunak dan ada pulsasi. Sternocleidomastoideus berkontraksi dan N.PEMERIKSAAN KLINIS atau CLINICAL TEST PEMERIKSAAN KLINIS PADA MORBUS HANSEN A. Auricularis Magnus terdorong ke superfisial. Gambar 23. sedangkan saraf teraba seperti kabel. e) Kesimpulan : Terdapat/tidak terdapat penebalan/pembesaran N. b) Dilakukan perabaan dengan 3 jari pada 1/3 atas M. d) Lakukan pemeriksaan yang sama pada N. Auricularis magnus : a) Pasien di minta menoleh maksimal ke kiri sehingga M. Sternocleidomastoideus. Pemeriksaan Nervus Aurikularis magnus 232 .

jika tendon akan menjadi otot. Ulnaris (Singkap baju) a) Lengan pasien dalam posisi fleksi diletakkan di atas tangan pemeriksa. agar otot rileks sehingga saraf dapat dibedakan dengan tendon. Ulnaris D/S. dan telusuri ke atas dengan halus sambil melihat mimik/reaksi penderita apakah tampak kesakitan atau tidak.Apakah ada nyeri atau tidak pada saraf. 233 . f) Kesimpulan : Apakah ada penebalan/pembesaran N. c) Dibedakan dari tendon dengan cara meraba ke proksimal. Pemeriksaan N. e) Kemudian dengan prosedur yang sama untuk memriksa saraf ulnaris kiri (tangan kiri pemeriksa memegang lengan kiri penderita dan tangan kanan pemeriksa meraba saraf ulnaris kiri penderita tersebut). neuritis atau tidak.2. d) Dengan tekanan ringan gulirkan pada saraf ulnaris. b) Dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri pemeriksa mencari sambil meraba saraf Ulnaris didalam sulkus nervi ulnaris yaitu lekukan diantara tonjolang tulang siku olkranon dan tonjolan kecil di bagian medial (epicondilus medialis). namun bila saraf akan tetap teraba seperti kabel.

setelah menemukan tulang tersebut jari pemeriksa meraba saraf paraneous 1 cm ke arah belakang. dengan tangan kanan memeriksa kaki kiri penderita dan tangan kiri memeriksa kaki kanan. sebaiknya dalam posisi menggantung lebih rileks. Peroneus comunis/poplitea lateralis (bersamaan. 234 .Gambar 24. Pemeriksaan Nervus Ulnaris 3. Pemeriksaan N. b) Pemeriksa duduk di depan penderita. c) Pemeriksa meletakkan jari telunjuk dan jari tengah pada pertengahan betis bagian luar penderita sambil pelan-pelan meraba ke atas samapi menemukan tonjolan tulang (caput fibula). e) Kesimpulan :Apakah ada penebalan/pembesaran N. d) Dengan tekanan yang ringan saraf tersebut digulirkan bergantian ke kanan dan kiri sambil melihat mimik/reaksi penderita. Peroneus communis D/S. kedua kaki dalam keadaaan relaksassi. Apakah ada nyeri atau tidak pada saraf. celana di gulung ke atas) a) Pasien dalam posisi duduk.

Pemeriksaan Nervus Peroneus communis 4. Gambar 26. b) Dengan jari telunjuk dan tengah. pemeriksa meraba saraf Tibialis posterior di bagian belakang bawah dari mata kaki sebelah dalam (maleolus medialias) dengan tangan menyilang (tangan kiri pemeriksa memeriksa saraf tibialis kiri dan tangn kanan pemeriksa memeriksa saraf tibialis posterior kanan penderita). Tibialis posterior a) Pasien masih dalam duduk rileks. Pemeriksaan N. c) Dengan tekanan ringan saraf tersebut digulirkan sambil melihat mimik/reaksi dari penderita.Gambar 25. Pemeriksaan Nervus Tibialis posterior 235 .

(ujung jarum tegak. PEMERIKSAAN SENSIBILITAS 1. Gambar 27. Pemeriksaan rasa nyeri a) Menyapa pasien dan perkenalkan diri. e) Mata pasien ditutup. maka disimpulkan bahwa sensasi nyeri di daerah tersebut terganggu. lalu bergantian kedua ujung jarum tersebut ditempelkan pada daerah kulit yang dicurigai. pasien harus mengatakan mana yang tajam dan mana yang tumpul.B. f) Bila pada daerah yang dicurigai tersebut beberapa kali pasien salah menyebutkan rasa pada ujung jarum yang ditempelkan. d) Berikan penjelasan apa yang akan dilakukan sambil memperagakan dengan menekan jarum dengan ujung tajam pada kulit yang normal dan dengan pangkal tangkainya yang tumpul. Tes rasa nyeri menggunakan ujung jarum suntik yang disentuhkan pada lesi 236 . sampaikan tujuan pemeriksaan. jangan sampai berdarah). gentle. b) Penderita duduk berhadapan dengan pemeriksa. c) Tangan yang akan diperiksa diletakkan diatas meja/paha pasien atau bertumpu pada tangan kiri pemeriksa.

2. h) Penderita diminta menunjuk tempat yang terasa disentuh. 237 . e) Bila penderita merasakan sentuhan diminta untuk menunjuk tempat sentuhan tersebut dengan jari tangan yang lain. f) Tes diulangi sampai penderita mengerti dan kooperatif g) Penderita diminta menutup mata atau menoleh kearah berlawanan dari tangan yang diperiksa. d) Jelaskan pada penderita apa yang akan dilakukan padanya. i) Usahakan pemeriksaan titik-titik tersebut tidak berurutan (secara acak). maka tangan pemeriksa menyangga ujung-ujung jari tersebut sesuai lengkungan jarinya. b) Penderita duduk berhadapan dengan pemeriksa. Pemeriksaan rasa raba 1. c) Telapak tangan yang akan di periksa diletakkan di atas meja/paha penderita atu bertumpu pada tangan kiri pemeriksa sehingga semua ujung jari tersangga (tangan pemeriksa yang menyesuaikan diri dengan keadaan tangan penderita) misalnya claw hand. sambil memperagakan dengan sentuhan ringan dari ujung ballpoint pada lengannya dan satau atau dua titik pada telapak tangannnya. Pemeriksaan rasa raba pada tangan pada tangan a) Menyapa pasien dan perkenalkan diri. sampaikan tujuan pemeriksaan. j) Penyimpangan letak titik yang ditolerir ≤ 1 cm.

usahakan telapak kaki menghadap ke atas. b) Penderita duduk berhadapan dengan pemeriksa. 238 . c) Kaki kanan penderita diletakkan pada paha kiri. Pemeriksaan rasa raba kaki a) Menyapa pasien dan perkenalkan diri.2. d) Tangan kiri periksa menyanggah ujung kaki penderita. sampaikan tujuan pemeriksaan. i) Jarak penyimpangan yang bisa diterima maksimal 2. 3. f) Cara mengetes tersebut diulang. Bila penderita merasakan sentuhan tersebut. hingga penderita mengerti dan kooperatif.5 cm. b) Penderita duduk berhadapan dengan pemeriksa. e) Berilah penjelasan apa yang akan dilakukan sambil memperagakan dengan menyentuh ujung ballpoint pada telapak kaki tanpa lesi (penderita membuka mata). diminta penderita menunjuk tempat sentuhan tersebut. Pemeriksaan rasa raba di tubuh / kulit a) Menyapa pasien dan perkenalkan diri. h) Dengan ujung ballpoint pemeriksa menyentuh tangan penderita pada titik-titik tertentu di telapak tangan secara acak. g) Pada daerah yang menebal boleh sedikit menekan dengan cekungan berdiameter 1 cm. sampaikan tujuan pemeriksaan.

g) Kelainan-kelainan dikulit diperiksa secara bergantian dengan kulit yang normal disekitarnya untuk mengetahui ada tidaknya anestesi. ini dikerjakan dengan mata terbuka. maka pasien diminta menutup matanya . Tes raba menggunakan ujung kapas yang disentuhkan pada lesi 239 .c) Sepotong kapas yang dilancipkan dipakai untuk memeriksa rasa raba. ia harus menunjukkan kulit yang disentuh dengan jari telunjuknya. kalau perlu matanya ditutup dengan sepotong kain / karton. e) Sebelumnya kita menerangkan bahwa bilamana merasa tersentuh bagian tubuhnya dengan kapas. Gambar 28. d) Periksalah dengan ujung dari kapas yang dilancipi secara tegak lurus pada kelainan kulit yang dicurigai (dari tengah ke tepi lesi). f) Bilamana hal ini telah jelas.

b) Penderita duduk berhadapan dengan pemeriksa. d) Berikan penjelasan apa yang akan dilakukan sambil memperagakan dengan menyentuhkan ujung tabung reaksi yang berisi air panas (sebaiknya 40oC) dan air dingin (20oC) pada daerah kulit yang normal. untuk memastikan bahwa orang yang diperiksa dapat membedakan panas dan dingin. Pemeriksaan rasa suhu a) Menyapa pasien dan perkenalkan diri.3. f) Bila pada daerah yang dicurigai tersebut beberapa kali pasien salah menyebutkan rasa tabung yang ditempelkan. pasien tidak dapat membedakan dingin dan panas 240 . maka disimpulkan bahwa sensasi suhu di daerah terganggu. e) Mata pasien ditutup atau menoleh ke tempat lain. lalu bergantian kedua tabung tersebut ditempelkan pada daerah kulit yang dicurigai. sampaikan tujuan pemeriksaan. tersebut Gambar 29. c) Tangan yang akan diperiksa diletakkan dia tas meja/paha pasien atau bertumpu pada tangan kiri pemeriksa. Bila ada gangguan sensibilitas. Tes suhu menggunakan 2 tabung reaksi yang berisi air dingin dan air hangat.

Ketiga : timbul daerah kemerahan disekitar tempat goresan : timbul edema setelah beberapa menit 241 .Kedua . Dermographism pada pasien urtikaria PEMERIKSAAN KLINIS PADA DERMATITIS ATOPIK (White Dermographism) White dermographism. yaitu garis putih yang terjadi setelah goresan ( tidak mengikuti triple phenomena Lewis yang seharusnya ). . yaitu urtika atau wheal linear yang muncul akibat goresan Gambar 23 .PEMERIKSAAN KLINIS PADA URTIKARIA (TES DERMOGRAFISME) Menggores kulit dengan benda tumpul dilakukan guna menilai : dermographism.Pertama : timbul garis putih yang kemudian berubah menjadi kemerahan . hal tersebut dapat terlihat pada penderita dermatitis atopik. Dasar pemikiran adalah bahwa pada kulit normal bila digores dengan benda tajam maka .

garis merah yang terjadi tidak segera disusul dengan daerah kemerahan tetapi malah disusul warna putih pucat selama 2-3 menit. 242 . White dermographysm PEMERIKSAAN KLINIS PADA PSORIASIS VULGARIS Kaarsvlek phenomen (fenomena tetesan lilin) : dapat dibuktikan pada skuama berlapis. yang disebabkan oleh disebabkan ’pemenggalan’ papila dermis dan pelebaran serta berkelok-keloknya pembuluh darah. Autzpitz sign (tanda Auspitz) : bila penggoresan diteruskan akan tampak bintik-bintik perdarahan (pin point bleeding). Gambar 24. Koebner phenomen (fenomena Koebner) : lesi yang sama seperti lesi sebelumnya dapat timbul pada tempat trauma se-perti garukan. yaitu menggores skuama pada lesi dengan skapel/ pinggir kaca objek sehingga skuama akan berubah warnanya menjadi putih seperti lilin disebabkan oleh berubahnya indeks bias.Pada penderita dermatitis atopik. Tanda Auspitz ini lebih mempunyai nilai diagnostik. lokasi sunburn atau pembedahan.

yaitu cara memeriksa dengan menekan lesi kulit menggunakan benda transparan. juga warna apple jelly (kekuningan) dapat terlihat pada lupus vulgaris Bila terdapat kemerahan lakukan tes diaskopi  + (warna merah menghilang) = macula eritematous  (warna merah tidak menghilang) = purpura atau telangiektasis Gambar 26. digunakan untuk membedakan antara eritema (akibat vasodilatasi) dengan purpura (akibat ekstravasasi eritrosit).Gambar 25. Pemeriksaan fenomena tetesan lilin dan tanda auspitz B. A. Tes diaskopi 243 . Fenomena Koebner PEMERIKSAAN KLINIS PADA PURPURA : Tes Diaskopi Pemeriksaan secara diaskopi. misalnya kaca obyek atau spatel plastik.

untuk memeriksa memeriksa infeksi jamur dan bakteri pada kulit superfisial. Asboe hansen sign PEMERIKSAAN MENGGUNAKAN LAMPU WOOD Menggunakan lampu merkuri tekanan tinggi yang menghasilkan sinar UV (360 nm). menentukan area kulit hipopigmentasi atau amelanosit.TES KLINIS PADA BULLOUS DISEASE : Nikolsky sign Tanda Nikolski positif disebabkan oleh adanya akantolisis. (Nikolsky’s sign type 1). pertama dengan menekan dan menggeser kulit di antara dua bula dan kulit tersebut akan terkelupas. misalnya pada stevens johnson syndrome . B. A. Cara mengetahui tanda tersebut ada dua. menggambarkan derajat pigmentasi antara kulit normal dengan kulit yang ada lesinya. misalnya pada pemfigoid bulosa. pemvigus vulgaris Cara kedua dengan menekan bula maka bula akan meluas karena cairan di dalamnya mengalami tekanan. 244 . toxic epidermal necrolysis. (Nikolsky’s sign type 2 / asboe hansen sign). Nikolsky’s sign . Gambar 27.

Alat :Lampu Wood dan ruangan kedap cahaya. asam salisilat dan petrolatum : kuning 245 . rivalieri. Tinea favosa (Trichophyton schoenleinii) : biru suram / hijau suram (akibat metabolit pteridin). M. bahan kosmetik. dan menghasilkan pendaran warna tertentu. Obat topikal. Jarak lampu Wood dengan lesi yang akan diperiksa ±10-15cm. Infeksi pseudomonas : hijau (metabolit pioverdin atau fluoresein). Hasil positif palsu : salep dan krim dikulit atau eksudat : biru. kuning keermasan atau putih kebiruan (metabolit koproporfirin). Cara kerja : Kulit dan rambut yang akan diperiksa harus dalam keadaan sealamiah mungkin. Eritrasma (Corynebacterium minutissimum) : merah koral (metabolit porfirin). caris. sehingga menimbulkan indeks bias berbeda. eksudat harus dibersihkan terlebih dahulu karena dapat memberikan hasil positif palsu. Pemeriksaan harus dilakukan di dalam ruangan kedap cahaya agar perbedaan warna lebih kontras. Interpretasi : Tinea kapitis (M. audouinii. M. gypseum) hijau terang. M. Prinsip kerja : Sinar Wood diarahkan ke lesi akan dipantulkan berdasarkan perbedaan berat molekul metabolik organisme penyebab. lemak. Ferrugineum dan M. Lampu Wood diarahkan ke bagian lesi dengan pendaran paling besar/jelas. Pitiriasis versikolor: putih kekuningan. jingga. tetrasiklin. orange tembaga.

B. A. Fluoresen merah bata pada eritrasma. Wood lamp Gambar 29.Gambar 28. Fluoresen hijau pada tinea kapitis 246 . Fluoresen kekuningan pada pityriasis versikolor Gambar 28.

radiologis. pemeriksaan 247 . pemeriksaan genetik. pewarnaan gram. pemeriksaan imunohistokimia.PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan laboratorium (pemeriksaan KOH. dan biomolekuler) imunofluoresensi dan serologis. pemeriksaan sediaan langsung atau basah. Bacterial index dan Morphological index. biopsi kulit untuk pemeriksaan histopatologis. Tzank test. kultur.

Tes Klinis Tes klinis pada Morbus Hansen  Pemeriksaan saraf perifer o N. c. konfigurasi lesi. f. lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan  Memberitahukan kemungkinan adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang timbul selama pemeriksaan dilakukan Status dermatologis : Menggunakan kaca pembesar (loupe). Peroneus communis dextra/sinistra o N. b. Tibialis dextra/sinistra  Pemeriksaan sensibilitas o Rasa nyeri o Rasa raba o Rasa suhu Tes klinis pada bullous disease (SJS/TEN/Pemfigus vulgaris. jumlah lesi. Pemfigoid bulosa):  Nikolsky’s sign  Asboe Hansen sign/bullous spread phenomen Tes klinis pada Psoriasis vulgaris:  Kaarsvlek phenomen  Austpitz sign  Koebner phenomen Tes klinis pada Urtikaria: Tes Dermografisme Tes klinis pada Dermatitis atopik: Tes Dermografisme putih Tes klinis pada Purpura: Tes Diaskopi Skor 0 1 2 2. tipe lesi primer dan sekunder secara berurutan. susunan lesi. Ulnaris dextra/sinistra o N. Melaporkan deskripsi status dermatologis 3. d. Auricularis magnus dextra/sinistra o N.Cheklist Pemeriksaan Fisik Kulit Nama Mahasiswa: NIM: No 1. 248 . distribusi lesi. jelas. e. menentukan regio. Aspek yang dinilai Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stress sebelum melakukan pemeriksaan fisik:  Memberi penjelasan dengan benar. a.

. Pemeriksaan menggunakan lampu Wood : pada tinea kapitis. dengan perbaikan lebih dari 50 % 2 = dilakukan..... dengan perbaikan kurang dari 50% Cakupan penguasaan keterampilan : (Skor/Skor Total) x 100%.......% 249 .g. pityriasis versikolor.…………………2013 Instruktur Ket : 0 = Tidak dilakukan 1 = dilakukan. dan eritrasma SKOR YANG DIDAPAT SKOR TOTAL Banda Aceh.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->