Anda di halaman 1dari 6

Mencintai Rasulullah (antara yang BENAR dan yang SALAH KAPRAH) Oleh Ust.

Abu Jundi Ahlus Sunnah wal Jama'ah sepakat tentang wajibnya mencintai Nabi Muhammad SAW melebihi kecintaan terhadap seluruh makhluq. Bahkan mencintai Nabi Muhammad SAW merupakan bagian dari keimanan. Dari Shahabat Abdullooh bin Hisyam R.A, dia berkata; "Kami pernah bersama Nabi Muhammad SAW dan Beliau memegang tangan Umar bin al Khaththab, kemudian Umar berkata kepada Rasulullah ; "Wahai Rasulullah! Engkau lebih aku cintai dari segalanya, kecuali diriku", kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda : "Tidak, Demi Dzat Yang Menggenggam Jiwaku, (imanmu belum sempurna) hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri", kemudian Umar berkata kepada Rasulullah; "Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri", kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda : "Sekarang wahai Umar (kamu benar - benar beriman)". Shahih Bukhori, no. 2144-6632, cet. Pustaka Amani. Dari Shahabat Anas bin Malik R.A, ia berkata, Rasulullah bersabda : "Tidak sempurna iman seseorang diantara kalian, sebelum ia mencintaiku melebihi daripada cintanya kepada anaknya, bapaknya, dan manusia seluruhnya". Shahih Muslim, No. 35, cet. KBC Akan tetapi, dalam mencintai Nabi, tidak boleh Ghuluw (sikap berlebih - lebihan), "janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu" QS. An - Nisaa' (4) ayat 171. Namun harus sesuai dengan apa yang telah diperintahkan dan dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Keutamaan Mencintai Rasulullah "Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama sama dengan orang - orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu : Nabi - nabi, para shiddiiqqiin, orang - orang yang mati syahid, dan orang - orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik - baiknya." QS. An - Nisaa' (4) ayat 69. Surat ini turun ada Asbabun Nuzulnya (sebab turunnya), yaitu sebagaimana yang disebutkan oleh Aisyah R.A, ia berkata; "Seseorang telah datang kepada Nabi dan berkata; "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai daripada diriku, engkau lebih aku cintai daripada keluargaku dan hartaku, dan engkau lebih aku cintai daripada anakku. Sesungguhnya ketika aku berada dirumah, aku selalu teringat kepadamu dank arena tak tahan menunggunya, maka aku pun segera menemuimu dan melihatmu. Jika aku teringat akan kematian kita, aku mengetahui bahwa engkau akan masuk surga dan berada di tempat tertinggi bersama para Nabi, sedangkan jika aku masuk surga - aku khawatir tidak akan melihatmu." Mendengar hal itu, Nabi Muhammad SAW tidak menjawabnya - hingga malaikat Jibril turun lalu menyampaikan ayat diatas." Buku "Shahih Asbabun Nuzul", Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi'I, hal. 166, cet. Pustaka as Sunnah. Dari shahabat Anas bin Maluk R.A berkata : Ketika aku dan Rasulullah pada suatu ketika keluar dari masjid, tiba - tiba kami ditemui oleh seorang laki - laki di pintu masjid, lalu dia bertanya : "Ya Rasulullah, kapan terjadi hari kiamat?", Rasulullah

menjawab : "Apakah yang telah engkau persiapkan untuk itu?", Laki - laki itu kelihatannya menunduk, kemudian ia berkata : "Wahai Rasulullah, tidak banyak yang telah kusiapkan, baik itu berupa sholat (sunnah), puasa, dan shodaqoh melainkan aku sungguh - sungguh mencintai Allah dan Rasul-Nya", maka Rasulullah bersabda : "Engkau bersama siapa yang engkau cintai". Shahih Muslim, no. 2269, cet. KBC

Mencintai Rasulullah yang BENAR 1. Mengagungkan dan menghormati Nabi Penghormatan kepada Beliau semasa hidupnya adalah dengan mengagungkan sunnahnya dan pribadinya. Simaklah penuturan Urwah bin Mas'ud ketika dia diutus oleh orang - orang Quraisy untuk berunding dengan Nabi Muhammad SAW pada perjanjian Hudaibiyah. Dia berkata; "Demi Allah, kalau Rasulullah meludah dan jatuh di telapak tangan seseorang diantara mereka, digosokkannya ke muka dan kulitnya. Apabila Beliau memberi perintah, mereka cepat melakukan perintah itu. Apabila Beliau berwudhu', hampir - hampir mereka berkelahi berebutan air bekas wudhu' Beliau. Apabila Beliau bersabda, mereka merendahkan suara di sisi Beliau dan mereka tiada menunjukkan pandangan pada Beliau karena membesarkannya." Kemudian Urwah bin Mas'ud kembali menghadap para pembesar Quraisy seraya berkata : "Aku sudah pernah menemui raja Kisra, Kaisar, dan Najasyi - akan tetapi belum pernah aku melihat para pengikut mereka mengagungkan rajanya seperti pengagungan para Shahabat Muhammad kepada Muhammad". Shahih Bukhori, no. 1255, hal 85, cet. KBC Adapun setelah Beliau wafat dengan cara mengamalkan dan menjaga sunnahnya.. (tambahkan jg contoh2nya, yg sederhana aja, yg bisa kita amalkan sehari-hari) 2. Wajib membenarkan berita yang Beliau bawa / sampaikan, sekalipun sulit dicerna dengan akal

"Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)".
QS. An Najm (53) ayat

3-4

3. Wajib Ittiba' (mengikuti petunjuk Beliau), bukan Ibtida' (membuat perkara baru yang tidak pernah Beliau contohkan) "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." QS al Ahzab (33) ayat 21.

4. Wajib taat dengan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan


"Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka[321]" QS. An Nisaa' (4) ayat 80. 321. Rasul tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan tidak menjamin agar mereka tidak berbuat kesalahan. Dari Shahabat Abu Huroiroh R.A, bahwa dia pernah mendengar Rasulullah bersabda : "Apa yang telah aku larang untukmu, maka jauhilah, dan apa yang aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah semampumu". Shahih Muslim, no. 2170/1601, cet. Pustaka Amani Rasulullah ketika mengatakan "jauhilah/ tinggalkanlah apa yang telah aku larang", Beliau tidak menambahkan lafadz "semampumu". Sedangkan ketika mengatakan, "lakukanlah/ kerjakanlah apa yang aku perintahkan", Beliau menambahkan lafadz "semampumu".

Hal ini menunjukkan bahwa "Menjauhi larangan lebih berat daripada mengerjakan perintah. Sebab, menjauhi larangan tidak ada dispensasi untuk melanggar larangan, sedangkan jika melaksanakan perintah di kerjakan sesuai dengan kemampuan".

5. Membela dan menyebarkan Sunnah Beliau Rasulullah bersabda, "Islam datang dimulai dengan keterasingan, dan kelak ia akan kembali terasing, maka beruntunglah bagi orang - orang yang asing". Shahih Muslim, no. 118, cet. KBC Lalu siapakah orang asing yang dimaksud dalam hadist ini? Rasulullah telah menyebutkan cirri mereka : "Yaitu orang - orang yang memperbaiki sunnahku sesudah dirusak oleh manusia" HR. Tirmidzi no.2630, lihat buku "Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah", Ust. Yazid Jawas, hal. 13 cet. Pustaka at Taqwa. Shahabat Ibnu Mas'ud R.A berkata : "Sedikit (ibadah) diatas sunnah lebih baik daripada bersungguh - sungguh dalam bid'ah" HR. al Hakim, Shahih Targhib wa Tarhib, no. 41, cet. Pustaka Sahifa. 6. Memperbanyak membaca sholawat kepada Beliau
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi[1229]. Hai orangorang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya[1230]." QS al Ahzab (33) ayat 56. 1229. Bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan: Allahuma shalli ala Muhammad. 1230. Dengan mengucapkan perkataan seperti: Assalamu'alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu hai Nabi.

Mencintai Rasulullah yang SALAH KAPRAH 1. Mengunjungi kuburan Beliau secara khusus, Misalnya : orang yang berangkat haji/umroh ketika sampai di Madinah bukan mendahulukan sholat Tahiyatul Masjid, malah berebut untuk menziarohi kuburan Nabi atau sejak dari tanah air, ia niatkan haji/umroh untuk ziaroh ke kuburan Nabi. Hal ini bertentangan dengan hadist : Dari Shahabat Abu Huroiroh R.A berkata, Nabi bersabda : "Jangan susah susah melakukan perjalanan jauh melainkan untuk mengunjungi 3 (tiga) masjid : masjidku ini (Masjid Madinah), Masjidil Harom (di Makkah), dan Masjidil Aqsho (di Palestina)." Shahih Muslim no. 1314, cet. KBC Rasulullah tidak menyebutkan kuburannya, tetapi masjidnya. 2. Bertawassul kepada Nabi setelah meninggal dunia dengan memanggilnya atau dengan menyebut kemuliaannya. baca Shahih Bukhori, no. 551 - 1010, cet. Pustaka Amani (jelasin secara singkat arti tawassul, soalnya gk semua org ngrrti artinya) 3. Mengamalkan bid'ah dengan berdasar pada hadist palsu

Dari Shahabat Mughiroh R.A berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda : "Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak seperti berdusta atas salah seorang dari kalian, barangsiapa berdusta atas namaku maka hendaknya ia memilih tempat duduknya di neraka" HR. Muslim, Shahih Targhib wa Tarhib, no. 96, cet. Pustaka Sahifa

Dari Shahabat Mughiroh bin Syu'bah R.A, dari Nabi beliau bersabda : "Siapa saja yang menyampaikan sebuah hadits dariku, padahal ia melihat (mengetahui) hadits itu dusta, maka ia termasuk salah seorang dari dua pendusta itu" Shahih Sunan Tirmidzi, no. 2662, cet. Pustaka Azzam

4. Memuji Nabi secara berlebihan bahkan sampai pada tingkat kemusyrikan Hal ini jelas bertentangan dengan hadits; Dari Shahabat Umar R.A berkata, saya mendengar Nabi bersabda : "Janganlah kamu memuji/ memuliakan saya berlebihan sebagaimana orang orang Nashrani memuji (Isa) anak Maryam, sesungguhnya saya hamba Allah, maka katakanlah; Hamba Allah dan Rasul-Nya". Shahih Bukhori, no.1503, cet. KBC 5. Memperingati Maulid Nabi Adapun beberapa alas an dilarangnya memperingati Maulid Nabi adalah; a. Peringatan Maulid Nabi adalah bid'ah yang dibuat - buat dalam agama. Karena tidak ada satupun dari Nabi, berupa perkataan - perkataan dan keputusan Beliau, baik dalam hadits - hadits yang shahih maupun sirah Nabawi, yang memerintahkan kita untuk memperingati Maulid (hari jadi/hari kelahiran Beliau), apalagi al Qur'an. b. Orang yang paling cinta kepada Nabi, yang paling rela berkorban untuk Nabi, yang paling tahu sebab turunnya ayat, yang ta'lim / belajarnya berhadapan dengan Nabi, yaitu para Shahabat - tidak satupun diantara mereka, setelah Nabi wafat, mereka merayakan Maulid / hari ulang tahun Nabi. c. Allah memerintahkan kita untuk mengikuti Nabi, bukan memperingati Maulid Nabi.
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran (3) ayat 31). Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir." (QS. Ali Imran (3) ayat 32).

d. Dalam peringatan Maulid terdapat keyakinan bathil, yaitu bahwa ruh Nabi Muhammad dating menghadiri acara tersebut. Sehingga untuk menyambutnya, mereka berdiri dan memberikan ucapan selamat datang. Bukankah para Shahabat yang paling dekat dengan Nabi, yang paling tahu tentang sunnah, mereka tidak berdiri ketika Rasulullah datang, karena

mereka tahu Rasulullah tidak menyukai hal tersebut. baca Shahih Sunan Tirmidzi, no. 2754, cet. Pustaka Azzam e. Ditinjau dari tarikh (sejarah), bahwa Nabi tidak lahir pada tanggal 12 Robi'ul Awwal melainkan 9 Rabi'ul Awwal. Maka perayaan Maulid Nabi pada tanggal 12 Robi'ul Awwal tidak benar serta tidak ada dasarnya dari segi sejarah. Majmu' Fataawaa Ibnu Utsaimin, jilid 2, hal 297. 6. Menciptakan sholawat - sholawat bid'ah dan mengamalkannya 7. Beranggapan bahwa risalah Nabi hanya untuk bangsa Arab Padahal Allah berfirman : "Katakanlah : "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan kepadamu semua" QS. Al A'raaf (7) ayat 158.

Allah

8. Beranggapan bahwa Nabi mengetahui masalah ghoib, sehingga dapat memberi manfaat dan menolak mudhorot
Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." QS. Al A'raaf (7) ayat 188.

9. Merayakan atau mengagungkan bekas - bekas Nabi yang sama sekali tidak disyari'atkan untuk diagungkan Seperti beribadah di tempat - tempat tertentu yang menjadi sejarah perjalanan Nabi Muhammad SAW Semoga dengan keterangan ini, Allah SWT senantiasa member petunjuk kepada kita kaum muslimin ke jalan yang diridhoi Allah, menjadi hamba yang cinta kepada-Nya dan selalu mengikuti sunnah Nabi-Nya.