Anda di halaman 1dari 14

BAB 1 PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG MASALAH Pelaksanaan kurikulum KTSP mata pelajaran PAI membutuhkan pengembangan kurikulum yang mampu memberikan kontribusi maksimal dalam upaya menghadapi tantangan-tantangan kehidupan. Implikasinya, evaluasi kurikulum harus dilakukan. Hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan lebih lebih lanjut evaluasi dapat dugunakan untuk memahami dan membantu perkembangan siswa, memilih bahan, metode, dan alat bantu pelajar, serta menentukan cara penilaian.1[1] Evaluasi kurikulum merupakan salah satu bagian dari evaluasi pendidikan yang memusatkan perhatian pada program-program pendidikan untuk peserta didik.2[2] Kurikulum PAI memerlukan evaluasi sebagai bahan perbaikan dan penyempurnaan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat, yang berbarengan dengan lajunya perkembangan zaman dan tuntutan kehidupan. Evaluasi kurikulum dapt diketahui melalui dua dimensi: dimensi program pendidikan (kurikulum ideal yang disusun dalam bentuk kurikulum KTSP beserta pedoman pelaksanaan) dan dimensi pelaksanaan kurikulum disekolah (kurikulum aktual).3[3] B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas makalah ini rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apa yang dimaksud dengan Evaluasi Kurikulum PAI? 2. Pendekatan-pendekatan apauntuk melakukan efaluasikurikulum yang telah di ungkapkan oleh Ralp. Tyler?

3. Apa prinsip-prinsip dalam Evaluasi Kurikulum PAI? 4. Apa saja bentuk-bentuk pelaksanaan Evaluasi Kurikulum PAI? C. Tujuan Tujuan dari peyusunan makalah ini adalah untuk menggali pemahaman tentang Evaluasi Kurikulum PAI, agar kami selaku calon pendidik dapat memahami tentang Evaluasi Kurikulum PAI dan dapat mengembangkan untuk mewujudkan tujuan dari Pendidikan Agama Islam yang sesungguhnya. D. Kegunaan Kegunaan dari makalah ini adalah untuk memenuh tugas tersrtuktur mata kuliah Inovasi dan pengembangan Kurikulum PAI dan sebagai bahan diskusi kelas tentang pengembangan silabus PAI secara kontekstual.

BAB II PEMBAHASAN A. Evaluasi Kurikulum Evaluasi adalah langkah untuk menentukan keberasilan suatu kurikulum. Sekaligus menemukan kelemhan yang ada pada proses tersebut untuk diperbaiki. Evaluasi kurikulum dilakukan pada semua komponen kurikulum, yaitu tujuan, materi, metode, dan evaluasi itu sendiri. Komponen komponen ini mewarnai hasil evaluasi yang dilkaukan oleh karena itu, evaluasi merupkan komponen yang snagat penting untuk menilai sejauh mana

dan seberapa baik kurikulum dan proses pembelajran berjalan secara optimal tau tidak, sehingga akan diperoleh umapan balik tentang kurikulum atau pembelajaran.4[4] B. Pengertian Evaluasi Kurikulum Pemahaman mengenai pengertian evaluasi kurikulum dapat berbeda-beda sesuai dengan pengertian kurikulum yang bervariasi menurut para pakar kurikulum. Oleh karena itu penulis mencoba menjabarkan definisi dari evaluasi dan definisi dari kurikulum secara per kata sehingga lebih mudah untuk memahami evaluasi kurikulum.Pengertian evaluasi menurut joint committee, 1981 ialah penelitian yang sistematik atau yang teratur tentang manfaat atau guna beberapa obyek. Purwanto dan Atwi Suparman, 1999 mendefinisikan evaluasi adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliabel untuk membuat keputusan tentang suatu program. Rutman and Mowbray 1983 mendefinisikan evaluasi adalah penggunaan metode ilmiah untuk menilai implementasi dan outcomes suatu program yang berguna untuk proses membuat keputusan. Chelimsky 1989 mendefinisikan evaluasi adalah suatu metode penelitian yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan efektifitas suatu program. Dari definisi evaluasi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi adalah penerapan prosedur ilmiah yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan efektifitas suatu program.Sedangkan pengertian kurikulum adalah : a) Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Pasal 1 Butir 19 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). b) Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pembelajaran serta metode yang digunakan sebagai pedoman menyelenggarakan kegiatan pembelajaran (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 725/Menkes/SK/V/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di bidang Kesehatan.).

c)

Kurikulum pendidikan tinggi adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di perguruan tinggi (Pasal 1 Butir 6 Kepmendiknas No. 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa);

d)

Menurut Grayson (1978), kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out- comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran. Perencanaan tersebut disusun secara terstruktur untuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran (Materi di dalam kurikulum harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai;

e). Sedangkan menurut Harsono (2005), kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan. Dari pengertian evaluasi dan kurikulum di atas maka penulis menyimpulkan bahwa pengertian evaluasi kurikulum adalah penelitian yang sistematik tentang manfaat, kesesuaian efektifitas dan efisiensi dari kurikulum yang diterapkan. Atau evaluasi kurikulum adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliable untuk membuat keputusan tentang kurikulum yang sedang berjalan atau telah dijalankan. Evaluasi kurikulum ini dapat mencakup keseluruhan kurikulum atau masingmasing komponen kurikulum seperti tujuan, isi, atau metode pembelajaran yang ada dalam kurikulum tersebut.Secara sederhana evaluasi kurikulum dapat disamakan dengan penelitian karena evaluasi kurikulum menggunakan penelitian yang sistematik, menerapkan prosedur ilmiah dan metode penelitian. Perbedaan antara evaluasi dan penelitian terletak pada tujuannya. Evaluasi bertujuan untuk menggumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk bahan penentuan keputusan mengenai kurikulum apakah akan direvisi atau diganti. Sedangkan penelitian memiliki tujuan yang lebih luas

dari evaluasi yaitu menggumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk menguji teori atau membuat teori baru. Fokus evaluasi kurikulum dapat dilakukan pada outcome dari kurikulum tersebut (outcomes based evaluation) dan juga dapat pada komponen kurikulum tersebut (intrinsic evaluation). Outcomes based evaluation merupakan fokus evaluasi kurikulum yang paling sering dilakukan. Pertanyaan yang muncul pada jenis evaluasi ini adalah apakah kurikulum telah mencapai tujuan yang harus dicapainya? dan bagaimanakah pengaruh kurikulum terhadap suatu pencapaian yang diinginkan?. Sedangkan fokus evaluasi intrinsic evaluation seperti evaluasi sarana prasarana penunjang kurikulum, evaluasi sumber daya manusia untuk menunjang kurikulum dan karakteristik mahasiswa yang menjalankan kurikulum tersebut.5[5] C. Signifikasi Evaluasi Kurikulum Perubahan-perubahan kelembagaan dalam semua dimensi yang disebabkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pada gilirannya menyebabkan berkembangnya arus informasi dan komunikasi yang beraneka ragam. Macam-macam kebutuhan dan permintaan tersebut sudah tentu meminta pelayanan dan pemenuhan yang maksimal dari lembaga kependidikan sebagai penggodok kader-kader penerus bangsa (Sukamdinata,1999). Dalam konteks inilah peran evaluasi kebutuhan dan kelayakan kuroikulum menempati fokus perhatian yang penting dan perlu dilaksanakan secara cermat, teliti dan sistematik. Hough (1976) mengatakan bahwa mengadakan evaluasi apalagi memberikan kritik terhadap suatu kurikulum bukan hal yang mudah, tetapi memerlukan suatu kajian dan penelitianyang mendalam untuk menceramti fenomena-fenomena dan aspekaspek secra menyeluruh. Meskipun demikian, kegiatan evaluasi kurikulum tetap menarikdan penting untuk dilaksanakan. Menurut Sukmadinata (1999) evaluasi kurikulum pada dasarnya adalah suatu proses untuk mengecek keberlakuan kurikulum yang harus diterapkan dalam empat tahap,

yaitu, evaluasi terhadap tujuan, evaluasi terhadap pelaksanaan, evaluasi terhadap efektivitas, dan evalusi terhadap hasil.6[6] Evaluasi terhadap tujuan berkaitan dengan sasaran maupun arah yang akan dituju dan dicapai tujaun sumber dari harapan masyarakat bukan hanya sebuah rancangan kurikulum saja. Dalam evalausi itu perlu dipertimbnagkan adanya hambatan yang akan muncul dalam upaya mencapai tujuan tersebut. Materi kurikulum perlu dieavaluasi, yaitu berkaitan deangan relevansi materi pembelajaran dengan tujuan, sehingga dapat memberikan pengalaman belajar. Evaluasi juga dilakukan untuk mengetahui relevansi materi pembelajaran dengan perbedaan ataupun perkembangan individu secara psikologis, sehingga dapat terjadi perubahan perilaku yang optimal. Evaluasi dalam hal ini dilakukan dengan maksud mengetahui sampai sejauh mana proses dapat memberikan hasil berupa perubahan perilaku secara optimal.7[7] Evaluasi terhadap metode dilakukan untuk mengetahui efektivitas penggunaan metode dan strategi pembelajaran serta perbaikan peningkatan pada kekurangankekurangan yang muncul. Demikian pula terhadap komponen evaluasinya itu sendiri sehingga dapat diketahui apakah evaluasi yang dilakukan sudah tepat. Untuk melihat efektivitas kurikulum mencapai hasil yang optimal diperlukan evaluasi secara terus-menerus yang meliputi proses dan hasil kurikulum tujuan. Evaluasi proses adalah untuk mengetahui sejauh mana kurikulum sesuai dengan tujuan yang ditetapakan. Sedangkan evaluasi proses untuk mengetahui seberapa baik proses berjalan secara optimal sehingga dapat mencapai tujuan. Evaluasi sebagai suatu proses, dilakukan baik terhadap unsur tertentu maupun keseluruhan perangkat kurikulum dan dilakukan pula baik terhadap unsur tertentu maupun keseluruhna pelaksanaan kurikulum.

Untuk melaksanakn evaluasi kurikulum, dapat diguanakn pendekatan sebagaimana yang diungkapkan oleh Ralp. W. Tyler, yaitu meliputi: 1. Menentukan tujuan evaluasi. 2. Memilih, mengubah, atau menyusun alat evaluasi dan mengetahui obyaktifitas, realibilitas, dan validitas alat tersebut. 3. Menggunakan alat evaluasi untuk memperoleh data. 4. Membandingkan data yang diperoleh dengan hasil evaluasi sebelumnya yang memperolah data. 5. Menganalisis data untuk menentukan kekuatan dan kelemahan dari kurikulum dan kejelasan lasan dari kekuatan dan kelemahan tersebut. 6. Menggunakan data untuk membuat perubahan yang dianggap perlu dalam kurikulum. Suatu kurikulum perlu dievaluasi dan dikembangkan secara baik dan berkelanjutan. Evaluasi kurikulum tersebut dituntut agar berlandaskan dan mengacu kepada kebutuhan kebuthan esensial dalam lembaga kependidikan khiususnya dan lembaga kemasyaraktan pada umumnya. Untuk itu Tyler menyarankan sebelum menyusun kurikulum perlu mengadakan penelitian kepada peserta didik dan masyarakat pemakai kurikulum. D. Model Evaluasi Kurikulum Evaluasi Kurikulum Model CIPP Content, input, process dan product David Stuffebeam memperkenalkan model evaluasi CIPP seperti pada gambar berikut ini: Model Evaluasi kurikulum CIPP dari Stuffebeam KONTEKS Tujuan Metode Hubungan dan Pembuatan keputusan Menurut model ini, yang harus dievaluasi meliputi empat aspek, yaitu: 1. Evaluasi terhadap konteks context yaitu evaluasi tehadap keadaan yang melingkupi proses pembelajaran. MASUKAN PROSES HASIL

2.

Evaluasi terhadap masukan input, yaitu proses pengenalan terhdap keadaaan peserta sebelum proses dilakukan.

3. Evaluasi terhadap proses process. 4. Evaluasi terhadap hasil product E. Prinsip-Prinsip Evaluasi Kurikulum Dalam pelaksanaan evaluasi kadangkadang dipengaruhi oleh faktor subyektif guru. Bila ini terjadi maka hasil evaluasi tidak dapat menggambarkan keadaan sebenarnya dari hasil yang dicapai denagna demikian, bila diinginkan agar hasil evaluasi dapat menggambarkan keadaan sebenarnya dari hasil belajar atau hasil kurikulum, maka evaluasi perlu dilakukan secra obyektif. Berdasarkan penjelasan, dalam melakukan evaluasi kurikulum perlu dipegang prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Evaluasi mengacu kepada tujuan. 2. Evalusi bersifat komperhensif atau menyeluruh. 3. Evaluasi dilaksanakan secara obyektif. Tujuan sebagai Acuan dalam Evaluasi Agar evaluasi dapat sesuai dengan tujuan dan sasaran, maka evalusi harus mengacu pada. tujuan Tujuan sebagai acuan ini harus dirumuskan sehingga dengan jelas menggambarkan apa yang hendak dicapai. Bila tujuan itu ditetapkan dengan taksonomi Bloom, dapatlah dilakukan kajian tentang pengetahuan apa

yang telah dimiliki oleh siswa sebagai hasil belajar, keterampilan apa yang diperoleh, serta sikap bagaimana dimiliki. Untuk menetapkan alat menilai atau mngukurnya tentu memerlukan rincian lebih jauh Disini perlu ada kajian lebih mendalam tentang bentukbnetuk atau perjenjangan segi kognitif, afektif, dan psikomotor dari taksonomi. Prinsip lain dari penggunaan tujuan sebagai acuan dalam evaluasi adalah bahwa rumusan itu harus dapat menggambarkan bentuk perilaku yang dapat diukur. Tekanan utama dalam menentukan bobot sasaran dalam evaluasi banyak ditentukan oleh bentuk kurikulum yang diterapj\kan Tentu saja pada bentuk subjek centered, berbeda dengan

activity ataupun life curriculum Hal ini juga merupakan salah satu kajian dasar dalam evaluasi Seluruh Bahan Harus Dicakup dalam Evaluasi Bila tujuan itu menentukan luas banyak bahan, akibtany akan bnayak sekali bahan yang harus dinilai dalam rangka pencapaian tujuan Mungkinkah ini dilakukan Kemungkinannya ada dua macam ; 1. Melakukan evaluasi dengan butir soal sebnyak-banyaknya sesuai dengan banyaknya tujuan atau bahan secara kuantitatif 2. Dapat diambil sampel yang mewakili bentuk bentuk tujuan tertentu Hasil Sebenarnya merupakan Dasar Kajian Berdasarkan pada ketiga prinsip diatas, ternyata pelaksanaan evaluasi merupakan suatu kegiatan yang sangat besar artinya, dalam pengembangan kurikulum agar data yang diperoleh itu dapat dijadikan dasar feedback dalam kurikulum, maka alat yang digunakan dalam evaluasi harus memenuhi kriteria: 1. Alat evaluasi harus sesuai dengan sasaran yang hendak dicapai 2. Alat yang digunakan harus valid 3. Alat yang digunakan harus terandalkan 4. Alat evalusai harus signifikan Keempat kriteria diatas dapat dicapai bila alat yang digunakan bersifat baku standardized F. Bentuk Bentuk pelaksanaan Evaluasi Kurikulum Dilihat dari pelaksanaan dan tujuan, evaluasi kurikulum dapat dibedakan kedalam dua macam, yaitu: 1. Evaluasi formatif, yakni evaluasi yang dilaksanakan selama kurikulum itu digunakan dengan tjujan untuk menjadi dasar dalam perbaikan Evaluasi ini dapat dilaksanakan terhadap pelaksanaan peketpaket program atau masing masing mata pelajran dari suatiu kurikulum atau terhadap pelaksanaan kurikulum secara keseluruhan. 2. Evaluasi sumatif, yakni evaluasi yang dilkasanakan diakhir pelaksanaan kurikulum, seperti evaluasi kurikulum SD dilaksanakan setelah selesai enam tahun kurikulum

dilaksanakan, dengan tujuan unutk mengetahui keberhasilan pelaksanaan kurikulum tersebut. G. Teknik teknik pelaksanaan kurikulum 1. Teknik bukan test 2. Teknik tes Teknik bukan tes umumnya menggunakan alat-alat seperti: a) Wawancara b) Angket c) Pengamatan atau Observasi d) Daftar cek atau Check List e) Skala penilaian

Teknik tes biasanya digunakan untuk menilai hasil kurikulum, yang berupa hasil belajar siswa tes dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu lisan, tes tertulis, dan tes perbuatan H. Evaluasi pembelajaran Evalusi kurikulum dalam arti terbatas, yaitu evaluasi terhadap pembelajran secara keseluruhan termasuk didalamnya pembelajaran PAI, yang meliputi evaluasi terhadap: a. Keterampilan Tujuan pembelajaran b. Kejelasan indikator pembelajaran c. Rauang lingkup indikator tujuan pembelajaran d. Kejelasan tingkatan indikator e. Alokasi waktu f. Kualifikasi pengajaran g. Pemilihan materi pembelajaran Beberapa indikator evaluasi materi pembelajaran, diantaranya: 1. Kesesuaian materi pembelajaran dengan tujuan pembeljaran atau kompetensi yang hendak dicapai

2. Kesesuaian matteri pembelajran dnegan krakteristik peserta didik 3. Kesesuaian materi pembelajaran dengan karakterisrik mata pelajaran 4. Efisiensi penyampaian materi pembelajaran terkait waktu 5. Kulifikasi pengajar 6. Penggunaan metode pembelajran

Kesesuain metode pembelajaran yang digumakan dengan tujuan pembelajaran Kesesuaian metode pembelajaran yang digunakan dengan materi pembelajaran Kesesuaian metode pembelajarn dengan karakteristik peserta didik. Efisiensi penggunaan metode pembelajran dengan waktu yang tersedia Kualifikasi pengajar Penggunaan Sumber Belajar termasuk media pembelajaran Beberapa indikator evaluasi sumber belajar, diantaranya: 1. Kesesuaian penggunaan sumber belajar dan media pembelajaran 2. Kesesuain penggunaan sumber belajr dan media pembelajaran dengan materi pembelajran 3. Kesesuain penggunaan sumber belajar dan media pembelajaran yang digunakan 4. Efisiensi penggunaan sumber belajar dan media pembelajaran 5. Kualifikasi penganjar Pelaksanaan evaluasi Kesesuaian penggunaan instrumen evalusi dengan tujuan pembelajaran. Hal -hal yang berhubungan dengan kejelasan prosedur evalusi awal, evalusi proses, dan maupun evaluasi akhir. Kesesuain intrumen evaluasi dengan kebutuhan Evaluasi Program Pendidikan Agama islam Pelaksanaaan kurikulum KTSP mata pelajaran PAI membutuhkan pengembangan kurikulum yang mampu memberikan kontribusi maksimal dalam upaya menghadapi tantangan-tantangan kehidupan. Implikasinya, evaluasi

kurikulum harus dilakukan. Hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan lebih lanjut. semata dirasakan oleh anak didik atau sekolah, maka penilaian bukan hanya dilakukan oleh sekolah, tetapi juga oleh pemakai lulusan 3. Penilaian ini bertujuan untuk melihat kesesuaian kurikulum ideal dan pelaksanaan program atau kurikulum aktual yang di implementasikan guru PAI di depan kelas. Guru PAI sebagai pelaksana kurikulum berkepentingan melakukan evaluasi kurikulum dengan melakukan penilaian hasil belajar peserta didik untuk melihat sejauhmana keberhasilan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Selanjutnya, hasil penilaian dianalisa untuk mengetahui keefektifan program yang telah dikembangkan. Informasi yang diperoleh menjadi umpan balik bagi pelaksanaan dan pengembangan kurikulum lebih lanjut. Sesungguhnya hasil evaluasi kurikulum sangat berguna bagi guru, karena dapat dijadikan petunjuk untuk memperbaiki, menyempurnakan, dan mengembangkan kurikulum mata pelajaran yang menjadi tanggungjawabnya untuk itu evaluasi kurikulum harus dilaksanakan secara berkelanjutan dan merupakan bagian integral dari tugaas guru sebagai pelaksana kurikulum di satuan pendidikan. Evaluasi kurikulum berkisar pada kesesuaian antara yang seharusnya dilaksanakan dengan yang telah dilaksanakan. Untuk mengetahui keefektifan pelaksanaan kurikulum yang dilakukan guru, kepala sekolah melalui monitoring pelaksanaan kurikulum dapat menghimpun dan menganalisis data yang diperlukan untuk perbaikan dan penyempurnaan kurikulum mendatang. Oleh karena itu, evaluasi kurikulum yang dilakukan guru PAI terkait dengan kinerja kepala sekolah yang tugasnya sebagai administator dan supervisor disekolah, bertanggung jawab melaksanakan evaluasi terhadap program sekolah dalam rangka pelaksanaan kurikulum KTSP sebagai pembelajaran menyeluruh. Pelaksanaan kuriulum PAI dalam pembelajaran dimaksudkan untuk memberikan pelayanan terhadap peserta didik dengan membantu memecahkan masalah mereka agar pertumbuhan dan perkembangan berjalan secara optimal. Untuk itu, kurikulum pembelajaran harus dikembangkan, direncanakan, dan dianalisis sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, kondisi sosial budaya masyarakat setempat, dan kondisi peserta didik.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Evaluasi adalah langkah untuk menentukan keberhasilan sutu kurikulum. Sekaligus menemukan kelemahan yag ada pada proses tersebut untuk diperbaiki. Evaluasi kurikulumdilakukan pada semua komponen kurikululum, yaitu tujuan, materi, metode,dan evaluasi itu sendiri. Signifikasi Evaluasi Kurikulum Berdasarkan penjelasan, dalam melakukan evaluasi kurikulum perlu dipegang prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. 2. 3. Evaluasi mengacu kepada tujuan. Evalusi bersifat komperhensif atau menyeluruh. Evaluasi dilaksanakan secara obyektif. Prisip-prinsip evaluasi kurikulum:

1. 2. 3. 4.

Menurut Sukmadinata (1999) Evaluasi kurikulum pada dasarnya adalah suatu proses untuk mengecek keberlakuan kurikulum yang harus diterapkan dalam empat tahap, tahap: Evaluasi tehadap tujuan atau kopetensi Evaluasi terhadap pelaksanaan Evaluasi terhadap efektifitas Evalusai te hadap hasil B. Saran Dalam peyusunan makalah ini masih bayak sekali terdapat kekurangan terutama dalam penulisan materi dan isi dari materi makalah ini,untuk itu saran kami butuhkan.

Daftar Pustaka Daryanto. Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta. 2008 Furchan, Arief dk. Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Di Perguruan Tinggi Agama Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar . 2005 Munir. Kurikulum Berbasis Teknologi komunikasi dan Informasi. Bandung; Alfabeta. 2010 Ali,Muhamad. Pengembangan kurikulum Di Sekolah. Bandung: Sinar Baru. 1992 Rahmat,Raharjo.Inovasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam, Pengembangan Kurikulum dan pembelajaran. Yogyakarta; Magnum Pustaka.2008 http: //id. Shvoong. com / Social- Sciences/ education/ 218845- Evaluasi- Kurikulum-pendidikan-Agama.

[1] Dr. Rahmat Raharjo, M. Ag.Inovasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam:hal.159-160 [2] Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah(Bandung:Sinar

Baru,1991),hlm. 127 [3] Ibid., hlm. 132 [4] Dr. Munir, M.I.T.Kurikulum Berbasis Tekhnologi Informasi dan Komunikasi.Alfabeta.(Bandung.2010)hlm.106 [5] http://id.shvoong.com/Social-Sciences/Education/2188645-Evaluasi-kurikulum-Pe-ndidikanAgama/ [6] Arief Furchan, Ph.D.dkk.Pengembangan Kurikiulum Berbasis Kompetensi di Perguruan Tinggi Agama Islam(Yogyakarta:Pustaka Belajar,2005)hlm.103-104 [7] Dr. Munir,M.I.T.loc cit.hlm.106