Anda di halaman 1dari 14

1

Jika Notaris Merangkap Jadi Makelar Tanah http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol18121/jika-notaris-merangkapjadi-makelar-tanah Kamis, 05 December 2007 Notaris Feny Sulifadarti dituding melanggar etika profesi notaris oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor. Tidak hanya berperan ganda, Fenny juga menggelapkan sejumlah data tanah dalam akta jual beli.

Majelis Hakim Pengadilan Tipikor menuding notaris proyek pengadaan tanah Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Feny Sulifadarti melanggar etika profesi notaris. Tuduhan itu ditenggarai karena Fenny berperan ganda dalam proses penjualan tanah tersebut. Fenny mengaku berperan sebagai kuasa penjual dan pembuat akta jual beli tanah "Menurut etika, profesi saudara tidak benar. Kalau dibawa ke sidang, saudara bisa kena, ujar Majelis Hakim Mansyurdin Chaniago dalam persidangan dengan terdakwa Sugiyo Prasojo (Kepala Sub Bagian Rumah Tangga) dan Hieronimus Abdul Salam (Sekretaris Utama Bapeten), di Pengadilan Tipikor, Rabu (5/12) Mansyurdin menegaskan, seorang notaris tidak boleh menjadi pihak dalam akta yang dibuatnya. Sebaliknya, notaris boleh menjadi kuasa penjual dengan syarat akta jual beli itu dibuat oleh notaris lain. Untuk menghindari hal itu, makanya saudara membuat surat kuasa dibawah tangan kan, tegas Mansyurdin

Menanggapi tudingan itu, Fenny menyatakan bahwa itu adalah kemauan dari pemberi kuasa. Menurutnya, pemilik tanah, Komarudin dan Lasiman, meminta dirinya untuk menjual tanah mereka dengan harga sama dengan Indrawan Lubis. Mungkin mereka lebih percaya pada notaris, terangnya. Fenny mengaku tidak pernah kenal mereka sebelumnya. Lasiman yang berada diruang sidang langsung membantah pernyataan Fenny. Tidak benar Pak Hakim., Saya tidak pernah meminta! tegasnya. Sebelumnya, dalam kesaksiannya, Lasiman membeberkan bahwa Fenny yang menawarkan jasa untuk menjadi kuasa penjual. Hal senada juga diutarakan oleh Komarudin. Fenny yang menawarkan, katanya saat memberikan kesaksian. Komarudin mengaku awam soal penjualan tanah, karena itu ia menerima tawaran Fenny. Saya orang kampung, yang penting beres saja, terangnya. Mendengar hal itu, Fenny bersikukuh dialah yang benar. Terserah kalau mereka tidak mengakui, tapi saya sudah disumpah, kilahnya. Tidak hanya itu, Fenny juga mengaku menerima uang penjualan tanah dari pihak Bapeten. Anehnya, uang sebesar Rp19 miliar, tidak langsung diberikan kepada pemilik tanah. Fenny langsung memotong uang tersebut dengan dalih untuk membayar pajak-pajak dan fee buat dirinya. Mereka (pemilik tanah, red) maunya begitu, katanya. Fenny menerangkan fee yang dia terima selaku kuasa penjual notaris sebesar Rp312 juta. Uang itu digelontorkan untuk biaya pembuatan akta jual beli plus pengurusan izin lokasi. Majelis Hakim Mansyurdin terkejut mendengar penjelasan Fenny. Kok besar sekali, katanya. Padahal, menurut Fenny biaya notaris itu hanya

satu persen dari nilai jual. Notaris yang beroperasi diwilayah Bogor itu membenarkan hal itu. Sisanya untuk biaya pengurusan, tegasnya. Namun, ia tidak merinci besarnya biaya pengurusan. Ia berdalih pengurusan itu dilakukan anak buahnya. Belum dilaporkan pada saya, katanya. Sementara itu untuk biaya pajak, Fenny menerangkan biaya pajak yang dikenakan terdiri dari pajak penjual, pembeli dan pajak waris. Semua sudah saya laporkan kepada pemilik tanah, terangnya. Namun, setelah dikonfrontir dengan Komarudin dan Lasiman, keduanya membantah hal itu. Keduanya menerangkan Fenny tidak pernah menunjukan bukti pembayaran pajak kepada mereka. Ketua Majelis Hakim Sutiyono langsung membuat perhitungan sendiri. Setelah saya hitung jauh diatas yang diterima penjual tanah, katanya. Ternyata ini disebabkan karena Fenny menjual tanah tersebut jauh diatas harga tanah yang diterima pemilik tanah. Komarudin dan Lasiman mengaku tanahnya hanya dihargai sebesar Rp170.000 per meter. Apalagi dari nilai itu, mereka berjanji menyisihkan Rp20.000 untuk Jejen, calo tanah. Komarudin, atas tanah seluas 3165 m2 hanya menerima pembayaran sebesar Rp500 juta. Ijab kabulnya memang segitu, katanya. Komarudin mengaku tidak mengetahui deal yang dilakukan Fenny kepada Bapeten. Luas tanah yang tertuang dalam akta jual beli pun tidak sesuai dengan girik milik Komarudin. Dalam akta jual beli hanya disebutkan tanah seluas 3100 m2. Yang 65 meter saudara kemanakan, tanya hakim Sutiyono. Fenny berdalih karena berbentuk girik maka luas tanahnya ditulis kurang lebih 3100 meter. Namun, ternyata, hakim Sutiyono mengungkap

dalam Surat Kuasa Pengambilan Uang tanah Komarudin juga tertulis kurang lebih 3165 meter Yang lebih mencengangkan, Komarudin dan Lasiman mengaku mereka menandatangani kuitansi kosong. Namun hal ini dibantah Fenny. Saya tidak pernah memberikan kuitansi kosong dan saya sudah bacakan," tegasnya. Terkait dengan penandatanganan akta jual beli, Fenny selaku notaris tidak pernah mempertemukan pihak penjual dan pembeli untuk menandatangani akta. Saya sudah membacakan akta dihadapan para pihak, terangnya. Hanya, para pihak tidak menghadap bersamaan, tapi terpisah. Mendengar jawaban Fenny yang kontradiktif, majelis hakim berkali-kali memperingatkan Fenny. Terserah saudara, saudara itu saksi, saksi wajib menerangkan yang benar dan tidak boleh berbohong, kata Sutiyono. Fenny tetap cuek dengan peringatan hakim. Fenny bahkan menantang kedua pemilik tanah untuk membuktikan keaslian tanda tangan mereka ke Bareskrim. Buktikan di Bareskrim saja, katanya. Hakim Mansyurdin pun geram. Menurutnya, sebagai pejabat umum pembuat akta harusnya Fenny bertindak profesional. Jangan jadi makelar tanah, tandasnya.

http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol18121/jika-notaris-merangkapjadi-makelar-tanah ANALISA

Analisis Kasus Berdasarkan kasus diatas telah dapat dibuktikan bahwa Notaris tersebut melakukan pelanggaran, tidak hanya terhadap UU Jabatan Notaris tetapi juga Kode Etik Notaris. Etika Kepribadian Notaris menyebutkan bahwa Notaris wajib: a. b. memiliki moral, akhlak serta kepribadian yang baik; menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat

Jabatan Notari; c. jawab. Dengan menjadi kuasa penjual Notaris Feny Sulifadarti tersebut sudah bertindak tidak menghormati dan tidak menjunjung tinggi harkat dan martabat Jabatan Notaris, serta tidak bertindak jujur, dan tidak penuh rasa tanggang jawab. Hal itu terlihat jelas karena pada kenyataannya bahwa seyogyanya seorang Notaris tidak boleh menjadi kuasa penjual, tetapi ia mengingkari hal tersebut dengan cara membuat Surat Kuasa dari penjual kepada dirinya selaku kuasa penjual secara di bawah tangan. Selain itu, sikap tidak jujur Notaris tersebut juga terlihat dalam hal ia memberikan kuitansi kosong untuk ditanda tangani oleh penjual. bertindak jujur, mandiri, tidak berpihak, penuh rasa tanggung

Majelis Pengawas merupakan institusi yang berwenang menjatuhkan sanksi terhadap Notaris. Dalam menjatuhkan sanksi adminstratif, Majelis Pemeriksa Wilayah Jawa Timur dengan Putusan Nomor W.10-19AMPW.V.2005, tanggal 12 Mei 2005 yang telah menjatuhkan sanksi dan memutuskan serta mengusulkan kepada MPP melalui MPW agar Notaris JS yang berkedudukan di Surabaya unruk diberhentikan dengan tidak hormat dari jabatan Notaris karena melanggar Pasal 16 ayat (1) huruf a UUJN. JS selaku Notaris telah melakukan pengingkaran atas tanda tangan para pihak (penjual) di hadapannya, dan pengingkaran atas tanda tangan para pihak (penjual) yang tercantum dalam Minuta akta yang bersangkutan yang ditandatangani oleh para pihak dihadapannya. Pengingkaran atau penyangkalan tersebut dilakukan oleh Notaris JS di dalam persidangan pengadilan. Atas dasar dan alasan serta situasi batin apa yang ada pada diri Notaris JS sehingga melakukan pengingkaran seperti itu, yang berakibat merugikan dirinya sendiri dan merugikan pembeli.

Kasus tersebut berawal ketika Notaris JS atas permintaan LT, RC, dan JC selaku ahli waris dari TJ (penjual) menjual sebidang tanah kepada BT (pembeli), dan keinginan para pihak tersebut dibuatkan dalam Akta Ikatan

Jual Beli Nomor 64, dan Kuasa Jual Nomor 65, kedua akta tertanggal 19 Juli 1996. Kemudian antara penjual dan pembeli terjadi sengketa, penjual melaporkan pembeli kepada kepolisian, dan BT menjadi tersangka kemudian menjadi terdakwa.

Dalam kedudukan sebagai saksi dalam perkara pidana tersebut, pada kesaksian yang pertama Notaris JS telah bersaksi dan menerangkan bahwa para pihak menghadap diriny dan menandatangani kedua kata tersebut dihadapannya. Pada kesaksian yang berikutnya setelah Notaris JS ditahan Kepolisian Daerah Jawa Timur selama 23 hari, Notaris JS bersaksi kembali dan menerangkan bahwa para pihak tersebut tidak pernah menghadap dirinya dan tidak menandatangani kedua akta tersebut di hadapannya. Dengan kata lain, Notaris JS mengingkari dan menyangkal kehadiran penjual dan pembeli tersebut di hadapannya dan tanda tangan dilakukan di hadapannya, ketidaktegasan Notaris JS dalam memberikan kesaksian elah membuat pembeli merasa dirugikan. Kemudian pembeli mengadukan tindakan JS tersebut ke Majelis Pengawas Wilayah Notaris Jawa Timur.

Majelis Pemeriksa Notaris yang dibentuk oleh MPW Jawa Timur berdasarkan hasil pemeriksaannya menilai bahwa Notaris JS telah melanggar Pasal 16 ayat (1) huruf a UUJN, yaitu bertindak tidak jujur, tidak seksama, tidak mandiri, berpihak, dan tidak menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum. Hal itu termasuk dalam kategori melakukan pelanggaran berat terhadap kewajiban dan larangan jabatan, dalam hal ini Notaris JS dalam kesaksiannya telah mengingkari dan menyangkal kehadiran dan tanda rangan para pihak di hadapannya. Majelis Pemeriksa Wilayah Notaris Jawa Timur memutuskan dan mengusulkan kepada MPP melalui MPW

agar Notaris JS yang berkedudukan di Surabaya untuk diberhentikan dengan tidak hormat dari jabatan Notaris.[38]

Putusan tersebut oleh Terlapor.Pembanding (Notaris JS) kemudian diajukan banding ke MPP dan dalam putusan MPP No. 01/B/MJ.PPN/2005 tanggal 20 Desember 2005 memutuskan permohonan banding dari Notaris JS dinyatakan tidak dapat diterima, dengan alasan tenggang waktu untuk mengajukan banding telah lampau. Dengan demikian, usulan MPW Jawa Timur tetap berlaku untuk Notaris JS dan putusan tersebut diajukan oleh Menteri.

Dalam putusan tersebut menurut hemat penulis, sebaiknya sebelum menjatuhkan sanksi administratif berupa mengusulkan untuk pemberhentian dengan tidak hormat Notaris JS, ditempuh dulu penjatuhan sanksi berupa teguran lisan atau tertulis, untuk kemudian mengusulkan pemberian sanksi pemberhentian sementara 3 (tiga) bulan sampai dengan 6 (enam) bulan dan selanjutnya mengusulkan untuk pemberhentian dengan tidak hormat dari jabatannya. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada yang bersangkutan untuk membela diri dan memperbaiki diri. Tapi dalam hal ini Majelis Pemeriksa menilai bahwa pelanggaran yang dilakukan oleh Notaris JS sangat berat, sehingga diusulkan untuk dijatuhi sanksi pemberhentian tidak hormat dari jabatannya.

Dari hasil wawancara yang dilakukan pada Wasilah Achmad Sungkar, S.H. dinyatakan bahwa penerapan Kode Etik sudah baik dan efektifitasnya juga pas, artinya dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya Notaris

telah melakukan pekerjaannya dengan baik sehingga apabila terjadi pelanggaran maka diselesaikan secara internal dan bersifat kekeluargaan

10

Kasus Notaris Wahyudi Dilaporkan ke Mabes Ngendon di Polrestabes Terkait Perkara Budi Said Selasa, 19 April 2011 | 02:31 WIB

TERKAIT: Budi Said Dipaksa Bayar Rp 447,6 M Bukti Menguat, Budi Said Layak Diadili Kejaksaan Mandeg, Polisi Jalan Terus Bos Plasa Marina Diistimewakan Uang Beli Penahanan Budi Said MERASA tidak pernah mendapat pemberitahuan tentang perkembangan penyidikan terhadap tersangka notaris Wahyudi Susanto di Polrestabes Surabaya. Pihak Sally Paduli melalui kuasa hukumnya Herry Kairupan meminta perlindungan hukum ke Mabes Polri Jakarta. Permohonan tersebut ditujukan pada Kapolri, Kabareskrim, Kadivkum dan Kadivpropam Mabes Polri serta Kapolda Jatim. Dalam suratnya, Herry menjelaskan berdasarkan informasi tanggal 17 Desember 2010 telah dilakukan gelar perkara di Satreskrim Polrestabes Surabaya oleh tim pengawasan penyidikan Bareskrim Polri. Hasilnya telah

11

menetapkan notaris Wahyudi Suyanto sebagai tersangka dalam perkara dugaan tindak pidana melepaskan benda yang telah disita oleh Pengadilan Negeri (PN) Surabaya dalam perkara perdata No.488/PDT/G/1999/PN.Sby. Sejak tanggal surat Kadivkum Polri NO B/4327/XI/2010 tanggal 26 November 2010 sampai tanggal 12 April 2011 klien kami belum pernah mendapat pemberitahuan tentang perkembangan penyidikan terhadap tersangka notaris Wahyudi Suyanto, ucap Herry yang dihubungi kemarin.

Padahal, lanjut Herry, perkara Budi Said sendiri sudah dinyatakan lengkap dan telah dilimpahkan kepada kejaksaan negeri (Kejari) Surabaya pada 1 Maret 2011 sebagai pelimpahan tahap 2. Untuk diketahui notaris Wahyudi adalah notaris yang membuat akta hak tanggungan kasus atas tersangka Budi Said. Karena itu dalam pengembangan kasus Budi Said dan sesuai petunjuk jaksa dalam P19 Notaris Wahyudi oleh penyidik Satreskrim Polrestabes Surabaya telah ditetapkan sebagai tersangka dengan sangkaan membuat akta palsu sebagaimana dimaksud dalam pasal 266, 231 jo pasal 55 dan 56 KUHP.

Untuk itu, Herry meminta agar petinggi Mabes Polri memerintahkan penyidik Satreskrim Polrestabes memberikan informasi hasil perkembangan penyidikan terhadap notaris Wahyudi dan bila pemeriksaan telah selesai agar berkas perkara beserta tersangkanya segera dilimpahkan pada jaksa penuntut umum. Sehingga mempunyai kepastian hukum sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku, tegas Herry.

12

Sedangkan mengenai perkara Budi Said yang sejak 1 Maret 2011 telah dinyatakan P21 dan hingga saat ini masih ngendon dikejaksaan. Herry Kairupan akan mengirimkan surat pada kejaksaan agung. Secepatnya kita akan kembali melaporkan perkara ini ke Kejagung. Demi kepastian hukum, ucap Herry.

Sesuai ketentuan KUHAP, maka JPU harus segera melimpahkan perkara ini ke PN Surabaya. Tidak ada alasan JPU menunda atau menghentikan penuntutannya, imbuhnya.

Dijelaskannya, sesuai pasal 231 KUHP, menyangkut melepaskan benda yang disita oleh pengadilan padahal berdasarkan putusan PN Surabaya No 488/Pdt.G/1999/PN.Sby yang diperkuat oleh putusan PK MA No.635/PK/PDT.G/2008. tanah tersebut diletakkan sita jaminan. Perbuatan tersangka memenuhi unsur pasal 231 artinya perbuatannya telah dijalankan dengan diselesaikannya perbuatan yang dilarang undang-undang. Tersangka juga memenuhi unsur-unsur Pasal 266, tandasnya. Nbd

13

14

JAKARTA,

KOMPAS.com

Komisi

Pemberantasan

Korupsi

(KPK)

menjadwalkan pemeriksaan empat notaris dalam penyidikan kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) terkait proyek simulator ujian surat izin mengemudi (SIM) yang menjerat Inspektur Jenderal Djoko Susilo, Rabu (30/1/2013). Keempat notaris itu dimintai keterangan sebagai saksi. "Diperiksa sebagai saksi untuk DS (Djoko Susilo)," kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Informasi KPK Priharsa Nugraha. Keempat notaris itu adalah Toto Susmono Hadi, Buntario Tigris Darmawa, Aryanti Artisari, dan Bernadette Wirastuti. Mereka diperiksa karena dianggap tahu soal aset Djoko Susilo. Selain empat notaris, KPK menjadwalkan pemeriksaan kerabat Djoko, Dipta Anindita. Wanita yang disebut sebagai ibu rumah tangga itu diketahui memenuhi panggilan pemeriksaan KPK hari ini. KPK menetapkan Djoko sebagai tersangka TPPU berkaitan dengan

kepemilikan asetnya. Nilai pencucian uang yang diduga dilakukan Djoko tersebut mencapai Rp 45 miliar. Modus pencucian uang dilakukan, antara lain, melalui pembelian aset berupa properti, baik tanah maupun lahan, dan diatasnamakan kerabat serta orang dekat Djoko. Informasi yang diperoleh Kompas dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebutkan, nilai aset yang diperoleh sejak tahun 2012 mencapai Rp 15 miliar. Sementara nilai aset yang diduga diperoleh sejak Djoko menjabat Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya sebesar Rp 30 miliar. Nilai aset ini belum termasuk yang berupa sejumlah lahan di Leuwinanggung, Tapos, Bogor, dan Cijambe, Subang.

Anda mungkin juga menyukai