Anda di halaman 1dari 2

BETHESDA STROKE CENTER

LITERATUR

Hipertensi dan Stroke

Hipertensi merupakan faktor risiko stroke yang paling konsisten dari berbagai penelitian terdahulu. Seseorang disebut mengalami hipertensi apabila tekanan darahnya lebih dari 140/90 mmHg, atau lebih dari 135/85 mgHg pada individu yang mengalami gagal jantung, insufisiensi ginjal, atau diabetes melitus. Hipertensi merupakan faktor risiko stroke yang paling penting, meningkatkan risiko stroke 2 4 kali lipat, tidak tergantung pada faktor risiko lainnya. Peningkatan tekanan sistolik maupun diastolik berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi. Untuk setiap kenaikan tekanan diastolik sebesar 7,5 mmHg maka risiko stroke meningkat 2 kali lipat. Apabila hipertensi dapat dikendalikan dengan baik maka risiko stroke turun sebanyak 28 38%. Pada umur belasan tahun maka sebenarnya telah terjadi pertumbuhan plaque di dinding arteri karotis dan sistem vertebrobasilaris, berkembang secara perlahan lahan tetapi progresif. Peningkatan tekanan darah akan lebih mempercepat terjadinya plaque, lapisan endotel pembuluh darah akan rusak dan kemudian memudahkan terjadinya ruptur / pecahnya plaque tadi yang kemudian terbentuklah trombus. Trombus tadi dapat menyumbat pembuluh darah secara lokal atau pecah menjadi emboli dan kemudian ikut aliran darah masuk ke dalam sistem serebrovaskular. Hipertensi juga dapat memecahkan pembuluh darah otak dan terjadilah perdarahan intraserebral, intraventrikular, maupun subaraknoidal. Antara 90 95% latar belakang terjadinya hipertensi belum diketahui secara jelas. Namun demikian hipertensi dapat dideteksi dengan mudah, dan biasanya dapat dikendalikan / diobati. Pada sebagian besar kasus, hipertensi tidak menimbulkan gejala

dikendalikan / diobati. Pada sebagian besar kasus, hipertensi tidak menimbulkan gejala www.strokebethesda.com 1

www.strokebethesda.com

BETHESDA STROKE CENTER

LITERATUR

(silent disease); sekitar 32% penderita hipertensi tidak menyadari bahwa mereka mengalami hipertensi. Pengendalian hipertensi dapat dilakukan melalui dua pendekatan, ialah pengendalian gaya hidup (lifestyle) dan pemberian obat antihipertensi. Pengendain gaya hidup meliputi (a) mempertahankan berat badan normal untuk dewasa dengan perhitungan body mass index 20 25 kg/m 2 , (b) mengurangi asupan garam, kurang dari 6 gram garam dapur atau kurang dari 2,4 gram Na + /hari, (c) tidak minum alkohol, atau minum alkohol kurang dari 3 unit/hari bagi laki laki dan kurang dari 2 unit bagi perempuan, (d) olahraga erobik 30 menit/hari, jalan cepat lebih baik daripada angkat besi, (e) makan buah dan sayur, pilih yang segar dan murah harganya, dan (f) mengurangi konsumsi lemak baik yang jenuh maupun yang tidak jenuh. Di samping itu, pemeriksaan rutin perlu pula diperhatikan dan dilaksanakan secara teratur, antara lain pemeriksaan fisik dan tekanan darah, pemeriksaan laboratorium (protein dan darah dalam urin, kreatinin dan elektrolit dalam darah, gula darah terutama dalam keadaan puasa, profil lipid meliputi trigliserida dan kolesterol LDL dan HDL), serta pemeriksaan elektrokardiogram. Pengembangan dan penelitian obatobat antihipertensi terus dilakukan di seluruh dunia, baik penelitian dasar maupun klinik / aplikatif. Ada yang menarik perhatian, ialah bahwa di antara sekian banyak obat antihipertensi yang ada dan telah diteliti maka golongan angiotensin converting enzyme inhibitors mempunyai daya proteksi yang tinggi terhadap penyakit kardiovaskular yang didasari oleh hipertensi. Obat ini mempunyai daya proteksi pada dinding arteri melalui mekanisme pengurangan stres oksidatif dan penurunan tanggapan proliferatif dan inflamasi yang keduanya menghambat terjadinya plaque aterosklerotik pada dinding arteri. Lebih jauh tentang pencegahan stroke dengan mengobati hipertensi dapat dilihat pada makalah Prof. dr. Harsono, SpS(K) dalam seminar stroke RS Bethesda XII.

www.strokebethesda.com