Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Material dan Energi Indonesia Vol. 01, No. 02 (2011) 109 – 117 © Jurusan Fisika FMIPA Universitas Padjadjaran

ESTIMASI RAPAT MASSA BERDASARKAN ANOMALI MIKROGRAVITY 4D UNTUK DAERAH GEOTERMAL KAMOJANG-GARUT

EDDY SUPRIYANA , ASEP HARJA, KUSNAHADI SUSANTO

Program Studi Geofisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Padjadjaran Jl. Raya Bandung-Sumedang KM 21 Jatinangor 45262

Abstrak. Metoda 4-D gaya berat, merupakan salah satu cara untuk memonitoring kondisi reservoar panas bumi. Dengan teknik ini perubahan nilai rapat massa yang merupakan akumulasi dari sebaran nilai titik massa fluida pada pore space reservoir dapat diestimasi. Penelitian ini dilakukan di daerah panas bumi Kamojang untuk memonitor distribusi injeksi air pada reservoar di kedalaman tertentu. Pengukuran dilakukan dalam dua perode sehingga dapat dihitung perbedaan nilai gaya berat dalam domain waktu. Metode untuk mengestimasi perubahan rapat massa adalah dengan menggunakan dekonvolusi rapat massa dengan fungsi Green. Hasil penelitian pada variasi kedalaman 1000 meter sampai dengan 2000 meter diperoleh nilai perubahan rapat massa dalam kurun waktu 3 Bulan adalah berkisar antara + 0.75 gr/cc sampai dengan – 0.75 gr/cc. Nilai perubahan rapat positif mengindikasikan adanya pergerakan fluida yang mengisi pore space pada saat proses injeksi dan perubahan rapat massa negatif mengindikasikan sebaliknya pada saat proses produksi.

Kata kunci : Gaya berat 4D, perubahan rapat massa, geotermal

Abstract. 4D gravity method is one of the ways to monitor geothermal reservoir condition. By using this method, density changes which is an accumulation of fluid mass distribution of pore space reservoir can be estimated. The research project location was Kamojang Geothermal to monitor water injection distribution of reservoir at certain depth. The monitoring was done in two period in order to calculate the changes of weight in time domain. Deconvolution of density and Green function is used for estimation of density changes. The result showed that depth variation between 1000 meter until 2000 meter during 3 mount lead to density change about +0.75 gr/cc to -0.75 gr/cc. Positive changes of density indicated a fluid movement into pore space when injected and negative change indicated fluid movement out of pore spece during production process.

Keywords : 4D gravity method, changes of density, geothermal

1. Pendahuluan

Pengembangan energi terbarukan (renewable energy) panas bumi di Indonesia untuk keperluan listrik selama 25 tahun kebelakang masih sangat kecil, yaitu sekitar 4% dari energi campur nasional. Padahal Indonesia memiliki cadangan energi panas bumi yang sangat besar mencapai 20.000 MWe atau sekitar 40 % dari cadangan panas bumi dunia. Bila saja enegi panas bumi ini dapat dioptimalkan, maka dapat menunda net oil importer dalam jumlah yang cukup besar dan mendukung divesifikasi energi primer (Sudarman: 2003). Di pihak lain, Kyoto Protocol dengan Clean Development Mechanism (CDM) sebagai produknya, dipandang apresiatif terhadap konservasi sumberdaya energi bersih lingkungan yang dimiliki oleh energi terbarukan, termasuk panas bumi.

Pemanfaatan panas bumi untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) merupakan energi altenatif yang ramah lingkungan, dan merupakan hasil kegiatan magmatik. Kedalaman reservoar

email : e.supriyana@phys.unpad.ac.id

109

110

Eddy Supriyana dkk

panas bumi diperoleh dari bor dan dapat dilakukan korelasi kedalaman dari beberapa data bor tersebut, sehingga dapat dijadikan sebagai informasi awal untuk menentukan model kedalaman berdasarkan data rekaman permukaan (data : gravity, MT, geolistrik). Informasi kedalaman reservoar panas bumi tersebut akan memudahkan untuk melakukan analisa gerakan fluida, dimana gerakan fluida tersebut berhubungan linear dengan energi, dan mempengaruhi produksi uap panas bumi sebagai pembangkit tenaga listrik.

Monitoring atau pemantauan merupakan kegiatan untuk mengetahui aktivitas panas bumi di dalam reservoar dalam selang waktu tertentu. Aktivitasnya dapat berupa migrasi fluida, baik itu air, uap, atau udara (dry air). Untuk selang waktu yang relatif pendek, cadangan uap panas bumi pada reservoar kurang begitu berpengaruh disebabkan masih sedikit eksploitasinya, namun jika terjadi eksploitasi panas bumi secara besar-besaran, maka akan menyebabkan kekurangan maupun kekosongan energi panas bumi. Seperti yang kita ketahui bahwa energi yang berasal dari panas bumi merupakan energi yang tidak terbarukan, artinya dalam waktu yang lama secara berangsur akan hilang (loss). Namun demikian salah satu usaha yang dapat memperpanjang keberadaan sumber panas bumi tersebut, dilakukan Injeksi air pada area Geotermal. Sehingga akan muncul pertanyaan “kemana arah fluida (air/uap air) yang diinjeksikan tersebut” , pertanyaan berikutnya akan muncul “sifat fisika batuan apa yang dapat menjelaskan gerakan fluida” atau “dengan pendekatan matematika apa untuk menjelaskan gerakan fluida[1].

Eksplorasi tersebut dimaksudkan untuk melakukan estimasi gerakan fluida air atau uap panas dalam kurun waktu tertentu [2]. Sedangkan tujuan dari eksplorasi ini adalah untuk memperhitungkan kapan terjadi kekosongan fluida berdasarkan perubahan rapat massa (ρ), saturasi air/uap (Sf) atau porositas (Φ) [3].

2.

Eksperimen

2.1.

Observasi Microgravity 4D Geotermal Kamojang.

Pada observasi Microgravity 4D dilakukan pengukuran gaya berat pada 73 titik ukur (benchmark) [4]. Masing–masing benchmark tersebut memiliki elevasi yang nilainya beragam mulai dari 864.753 m.asl. sampai dengan 1700.500 m.asl. Seluruh benchmark tersebut dibangun tersebar bergantung pada lokasi dimana terjadinya perubahan pada reservoar yang akan diamati karena perubahan gaya berat akibat operasi pembangkit tenaga listrik di areal Kamojang. Benchmark acuan yang digunakan adalah PG 55 yang terletak sekitar 4.5 km jauh dari area geotermal, sehingga induksi akibat eksploitasi terhadap perubahan gaya berat tidak akan terjadi. Gravimeter Lacoste & Romberg tipe D-117 yang dilengkapi tambahan peralatan Basicmeter unit digunakan untuk mengukur gaya berat sebagai perbedaan relatif gaya berat terhadap benchmark acuan.

Bila gravimeter diletakan pada suatu titik posisi (koordinat) tertentu, maka nilai gaya berat yang terukur akan merepresentasikan kondisi bawah permukaan di titik koordinat tersebut [5]. Sehingga metoda gaya berat ini salah satunya dapat digunakan untuk memonitor perubahan massa yang terjadi di bawah permukaan tanpa melihat dan menentukan jenis massa tersebut [6]. Pada studi kasus di lapangan Geotermal Kamojang, pengukuran gaya berat ini dilakukan untuk memonitor perubahan massa yang terjadi akibat dari produksi energi panas bumi (Geotermal) dan reinjeksi fluida ke reservoar.

Sebuah data bisa dikatakan valid jika telah memenuhi kaidah atau batasan-batasan serta aturan- aturan yang telah disepakati bersama. Validitas data gaya berat presisi dapat ditelusuri dengan melihat seberapa besar penyimpangan drift (koreksi apungan) terhadap batasan-batasan gaya berat

Estimasi Rapat Massa Berdasarkan Anomali Mikrogravity 4D Untuk Daerah Geotermal Kamojang-Garut

111

(menurut Kingstone Morrison, 1995, maksimal di sekitar 10 mikrogal). Pengikatan pada titik bencmark yang dianggap tetap dan berada di luar daerah produksi (PG 55).

Anomali gaya berat yang digunakan pada penelitian adalah data hasil monitoring gaya berat yang diukur pada bulan Nopember 2005 (Periode II), Desember 2005 (Periode III), dan Januari 2006 (Periode IV) di area Geotermal Kamojang. Data gaya berat hasil pengamatan tersebut dihitung perubahannya dengan perioda setiap satu bulan, sehingga diperoleh harga anomali gaya berat untuk masing masing perioda tersebut, yaitu Nopember – Desember 2005, Desember 2005 – Januari 2006, dan Nopember 2005 – Januari 2006.

2.2. Perubahan rapat massa antar waktu

Interpretasi data medan gravitasi dilakukan baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Interpretasi kualitatif dilakukan dengan melihat pola kontur medan gravitasi absolut, sedangkan interpretasi kuantitatif dilakukan dengan cara pemodelan terhadap peta sebaran rapat massa (∆ρ). Dari pemodelan ini dapat diduga struktur bawah permukaan sesuai dengan nilai rapat massa di kedalaman masing-masing lapisan batuan pada reservoar.

Berdasarkan sebaran nilai rapat massa (∆ρ) di atas, kemudian diinversi sehingga nilai ∆ρ ini dapat mengindikasikan sebaran dan saturasi air atau uap (S a ) lewat persamaan:

1)

∆ρ(t’-t) = ρ 1 - ρ o = Ф (ρ uap ρ a ) ; kondisi reservoar dimana fluida 1 diganti total oleh fluida 2

2)

∆ρ(t’-t) = ρ 1 - ρ o= Ф (ρ uap ρ a )(S uap – 1) ; sebagian fluida 1 diganti oleh fluida 2, Dimana :

S uap = 1 – S a

3)

∆ρ(t’-t) = ρ 1 - ρ o = Ф ρ uap (S uap -1) ; pengurangan volume fluida 1.

Jika diambil satu contoh dengan menggunakan persamaan ∆ρ(t’-t) = ρ 1 - ρ o= Ф (ρ f ρ g )(S g – 1) dimana fluida pertama adalah hidrokarbon dengan rapat massa ρ f = 0.88 gr/cc dan fluida dua adalah uap ρ g = 0.252 gr/cc, maka kontras rapat massa ρ untuk 30% porositas Ф dan 20% saturasi S g , adalah - 0.15 gr/cc untuk sebagian fluida pertama diganti oleh fluida dua, dan ∆ρ(t’-t) = ρ 1 - ρ o = Ф (ρ f ρ g ) = 0.19 gr/cc untuk seluruh fluida pertama diganti oleh fluida dua.

Pada kenyataan di lapangan, gaya berat base line kadang-kadang tidak bisa diamati, atau pengukuran medan gravitasi presisi dimulai pada t’. Artinya bahwa pengukuran pertama dilakukan setelah penambahan fluida dua atau saat pengukuran fluida pertama berlangsung penambahan fluida dua.

3.

Hasil dan Pembahasan

3.1.

Perubahan Medan Gravitasi (g)

Untuk menentukan ketelitian data lapangan di tentukan titik pangkal lapangan di area Geotermal Kamojang [7]. Titik pangkal tersebut adalah BM PG 55 terletak pada koordinat 07°10’48.1’’ LS dan 107° 48’26.9”, sedangkan kondisi fisik lahannya tidak mengalami perubahan nilai gaya berat setelah dilakukan pengukuran berulang antara DG-0 – PG 55 – DG-0 - PG 55 – DG-0. Perubahan medan gravitasi berdasarkan hasil pengukuran microgravity sebanyak 3 kali pengukuran dengan selang waktu tertentu, dengan uraian sebagai berikut:

112

a) Periode 1-2.

Eddy Supriyana dkk

Interval pengukuran selama 16 hari, diperoleh kontur anomali g dengan kisarannya antara -0.06 sampai 0.09 mGal. Kontur anomali tersebut membentuk bulatan anomali tinggi dan cekungan, Di blok Tengah di PG 08A menerus kearah PG 72A dan membelok kearah PG 25 dan PG 18. Demikian juga disekitar PG 24, PG 29 dan PG 99A yang mengalami buatan anomali tinggi mencapai 0.08 mgal. Dari kedua blok tersebut diatas mencirikan adanya pengaruh perubahan masa sangat dominan, dimana pengaruh perubahan tersebut dari alam (hujan) atau buatan (injeksi). Sedangkan di blok Barat (blok Ciharus) mengalami penurunan mencapai – 0.01 mgal hal tersebut terkandung adanya pengaruh perubahan massa relatif kecil, sehingga blok tersebut kesulitan di perkirakan sebagai daerah yang potensi sebagai sumur produksi. Mengenai blok Danau Pangkalan melihat perubahan konturnya masih bisa diharapkan sebagai daerah produksi dengan batasan konturnya mancapai 0.05 mGal.

b) Periode 2-3.

Interval pengukuran selama 18 hari, diperoleh kontur anomali g dengan kisarannya antara -0.050 sampai 0.090 mgal. Kontur tersebut membentuk cekungan dan tinggian anomali yang menempati dari blok tengah kearah tenggara. Cekungan anomali disekitar PPG 11 mencapai -0.035 mgal diduga adanya pengurangan perubahan massa selama kurun waktu 18 hari. Sedangkan dibagian timur sekitar PG 21, PG 22 dan PG 28 membentuk tinggian anomali mencapai 0.055 mgal, di perkirakan adanya perubahan massa yang mungkin berasal dari alam (hujan) atau buatan (injeksi). Melihat dari perubahan nilai dari kedua blok tersebut diatas menunjukkan adanya sifat yang kontradiktif. Hal tersebut perlu dievaluasi melalui distribusi saturasi uap air yang berkembang di kedua blok tersebut. Pengurangan perubahan masa tersebut menerus sampai PG 55 (Titik Pangkal Lapangan), sehingga kesulitan untuk memprediksikan untuk injeksi. Di blok Ciharus dan blok Barat terjadi pola penambahan kuat medan gravitasi kearah nilai yang tak berhingga.

c) Periode 1-3.

Interval pengukuran selama 34 hari, diperoleh kontur anomali g berkisar antara -0.09 sampai 0.09 mgal. Pola anomali tersebut membentuk dua blok tinggian anomali sekitar PG 29 dan PG 99A dibagian timur dan PG 08A dibagian barat ayang dipisahkan oleh cekungan anomali di sekitar PPG 11. Tinggian anomali mencapai 0.09 mgal sedangkan cekungan mencapai -0.09 mgal. Pola tinggian anomali yang mencerminkan adanya perubahan massa seperti halnya pada pengukuran priode II – I. yang membedakan adalah bahwa cekungan anomali tersebut menerus dan memanjang kearah selatan memotong bagaian barat Danau Pangkalan. Sedangkan di sekitar blok Ciharus kondisinya hampir sama dengan pengukuran priode II-I.

3.2. Perubahan Rapat Massa (∆ρ)

Berdasarkan pola sebaran data g pada periode 1-2, periode 2-3 dan periode 1-3 diperoleh sebaran nilai perubahan rapat massa (∆ρ) yang memberikan informasi sebagai berikut :

1)

Pada kedalaman reservoar 1000 m, diduga sebagai body atas reservoar.

2)

Pada kedalaman reservoar 1500 m, diduga sebagai body tengah reservoar.

3)

Pada kedalaman reservoar 2000 m, diduga sebagai body bawah reservoar atau zona basement (buffer reservoar) area produksi Geotermal Kamojang.

Adapun analisa kualitatif dari pola sebaran nilai rapat massa (∆ρ) untuk masing-masing periode pada kedalaman reservoar 1000 m, 1500 m, 2000 m, secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut:

Estimasi Rapat Massa Berdasarkan Anomali Mikrogravity 4D Untuk Daerah Geotermal Kamojang-Garut

a)

Periode 1-2 Kedalaman Reservoar 1000 m

113

Hubungan antara perubahan medan gravitasi (g) dengan perubahan rapat massa (∆ρ) secara empiris diperoleh dari fungsi Green sebagai bentuk linier dengan variasi nilainya sesuai dengan pola sebarannya. Hal ini ditunjukkan dari hasil yang divisualisasikan pada kontur sebaran ∆ρ periode 1-2 (Gambar 3-1a). Diperlihatkan pada blok Utara – Timur area produksi (Pasir Cilutung – Kawah Wekang) dan di Blok Barat sampai Blok Ciharus mempunyai pola cekungan dari perubahan rapat massa (∆ρ). Sedangkan di Blok Tengah – Timur polanya tidak kontras dengan blok Utara – Selatan yang mengalami kenaikan dari pola perubahan anomali. Sementara itu terjadi penurunan perubahan rapat massa, seperti halnya terjadi pada sumur produksi 43, 44, 50 dan 11.

Berdasarkan peta sebaran rapat massa (∆ρ) ini juga terlihat di posisi Blok Barat – Ciharus atau di sekitar sumur produksi 63, 73, 74 atau di PG 91, PG 92 terjadi pengurangan rapat massa, begitupun di posisi Blok Selatan – Timur (PG 43, PG 85, PG 104, PG 105) terjadi pengurangan rapat massa (Gambar 1.a).

DELTA RHO PERIODE II - I (16 Hari)

9213000

9212000

9211000

9210000

9209000

9208000

9207000

9206000

Elevasi 400 m ASL

(1000 m @Surface) PG-59 PG-C PG-46 PG-D PG-97A PG-96A PG-58 PG-60A PG-Z PG-38 PG-37 PG-Y
(1000
m @Surface)
PG-59
PG-C
PG-46
PG-D
PG-97A
PG-96A
PG-58
PG-60A
PG-Z
PG-38
PG-37
PG-Y
PG-88 PG-33
PG-80
PG-75A
PG-89 PG-32
PPG-83
PG-76A
PG-99A PG-93
PG-87
PG-29 PG-24
PG-28
PG-85
PG-39
PG-06A
PG-22
PG-91
PPG-11
PG-81
PG-19
PG-21
PG-92
PG-18
PPG-27A
PG-25
PG-72A PPG-7
PG-15
PPG-70
PG-77A
PPG-16 PG-14
PG-04
PG-71A
PG-41A
PG-09
PPG-20 PG-71
PG-42
PG-104
PG-02
PG-56 PG-57A
PPG-12
PG-01
PG-105
PG-65
PPG-43
PG-107
PG-106
PG-44
PG-67
PG-47A
PG-49A
PG-48A
PG-52A
PG-50
PG-54A
PG-55
806000
807000
808000
809000

Gambar 1-a

gr/cc

Elevasi -100 m ASL (1500 m@ Surface) PG-59 9213000 PG-C PG-46 PG-D PG-97A PG-96A 9212000
Elevasi -100 m ASL
(1500 m@ Surface)
PG-59
9213000
PG-C
PG-46
PG-D
PG-97A
PG-96A
9212000
PG-58
PG-60A
PG-Z
PG-38
PG-37
9211000 PG-Y
PG-88 PG-33
PG-80
PG-75A
PG-89 PG-32
PPG-83
PG-76A
PG-99A PG-93
PG-87
PG-29 PG-24
9210000
PG-28
PG-85
PG-39
PG-06A
PG-22
PG-91
PPG-11
PG-81
PG-19
PG-21
PG-92
PG-18
PPG-27A
PG-25
PG-72A PPG-7
PG-15
9209000
PPG-70
PG-14
PG-77A
PPG-16
PG-04
PG-71A
PG-41A
PG-09
PPG-20 PG-71
PG-42
PG-104
PG-02
PG-56 PG-57A
PPG-12
PG-01
PG-105
9208000
PG-65
PPG-43
PG-107
PG-106
PG-44
PG-47A
PG-67
9207000
PG-49A
PG-48A
PG-52A
PG-50
PG-54A
9206000
PG-55
806000
807000
808000
809000

Gambar 1 - b

gr/cc

Elevasi -600 m ASL (2000 m @Surface) PG-59 9213000 PG-C PG-46 PG-D PG-97A PG-96A 9212000
Elevasi -600 m ASL
(2000 m @Surface)
PG-59
9213000
PG-C
PG-46
PG-D
PG-97A
PG-96A
9212000
PG-58
PG-60A
PG-Z
PG-38
PG-37
9211000 PG-Y
PG-88 PG-33
PG-80
PG-75A
PG-89 PG-32
PPG-83
PG-76A
PG-99A PG-93
PG-87
PG-29 PG-24
9210000
PG-28
PG-85
PG-39
PG-06A
PG-22
PG-91
PPG-11
PG-81
PG-19
PG-21
PG-92
PG-18
PPG-27A
PG-25
PG-72A PPG-7
PG-15
9209000
PPG-70
PG-77A
PPG-16 PG-14
PG-04
PG-71A
PG-41A
PG-09
PPG-20 PG-71
PG-42
PG-104
PG-02
PG-56 PG-57A
PPG-12
PG-01
PG-105
9208000
PG-65
PPG-43
PG-107
PG-106
PG-44
PG-67
PG-47A
9207000
PG-49A
PG-48A
PG-52A
PG-50
PG-54A
9206000
PG-55
806000
807000
808000
809000

Gambar : 1 - c

gr/cc

Gambar 1. Sebaran perubahan rapat massa disetiap kedalaman pada antar-waktu 16 hari

Kedalaman Reservoar 1500 m

Pola sebaran perubahan rapat massa (∆ρ) di kedalaman reservoar 1500 m adalah relatif berubah dan yang relatif sama adalah nilai ∆ρ disetiap pola sebaran yang mengecil seolah reservoarnya menyempit seperti leher botol. Blok Tengah–Timur juga mengalami perubahan ∆ρ yang mengecil. Sementara yang mengalami pengurangan massa relatif sama seperti di kedalaman Reservoar 1000 m (Gambar 1.b).

Kedalaman Reservoar 2000 m

Pola sebaran perubahan rapat massa (∆ρ) di kedalaman reservoar 2000 m nampak relatif berubah yang diikuti dengan perubahan nilai rapat massa (∆ρ) disetiap pola sebaran rapat massanya yakni menjadi membesar / melebar. Hampir di setiap posisi seperti di kedalaman reservoar 1000m dan

114

Eddy Supriyana dkk

1500m kecuali pada posisi Blok Barat – Ciharus atau disekitar PG97, PG92 atau sumur produksi 63, 73, 74 tidak mengalami perubahan yang berarti, malah di kedalaman reservoar ini, nilai ∆ρ menyempit / mengecil. (Gambar 1.c).

b) Periode 2-3

DELTA RHO PERIODE III - II (18 Hari)

Elevasi 400 m ASL (1000 m @ Surface) Elevasi -100 m ASL (1500 m @
Elevasi 400 m ASL
(1000 m @ Surface)
Elevasi -100 m ASL
(1500 m @ Surface)
PG-59
PG-59
9213000
9213000
PG-C
PG-C
PG-46
PG-46
PG-D
PG-D
PG-97A
PG-97A
gr/cc
PG-96A
PG-96A
9212000
9212000
PG-58
PG-58
PG-60A
PG-60A
PG-Z
PG-38
PG-Z
PG-38
0.65
PG-37
PG-37
PG-Y
0.55
PG-Y
9211000
9211000
PG-88 PG-33
PG-88 PG-33
0.45
PG-80
PG-80
PG-75A
PG-89 PG-32
PPG-83
PG-75A
PG-89 PG-32
PPG-83
PG-76A
PG-76A
PG-99A PG-93
0.35
PG-99A PG-93
PG-87
PG-29 PG-24
PG-87
PG-29 PG-24
9210000
PG-28
PG-85
9210000
PG-39
PG-06A
0.25
PG-28
PG-85
PG-39
PG-06A
PG-22
PG-22
PG-91
PPG-11
PG-81
PG-91
PPG-11
PG-19
PG-21
PG-81
PG-19
PG-21
PG-92
0.15
PG-18
PPG-27A
PG-92
PG-18
PPG-27A
PG-25
PG-25
PG-72A PPG-7
PG-15
0.05
PG-72A PPG-7
PG-15
9209000
PPG-70
9209000
PPG-70
PG-77A
PG-77A
PPG-16 PG-14
PPG-16 PG-14
PG-04
-0.05
PG-71A
PG-04
PG-41A
PG-71A
PG-09
PG-41A
PPG-20 PG-71
PG-09
PPG-20 PG-71
PG-42
PG-104
PG-02
PG-42
PG-104
PG-56 PG-57A
-0.15
PG-02
PG-56 PG-57A
PPG-12
PPG-12
PG-01
PG-105
PG-01
PG-105
9208000
9208000
-0.25
PG-65
PG-65
PPG-43
PPG-43
PG-107
PG-107
-0.35
PG-106
PG-44
PG-106
PG-44
PG-67
PG-47A
PG-67
PG-47A
-0.45
9207000
PG-49A
9207000
PG-49A
PG-48A
-0.55
PG-48A
PG-52A
PG-52A
PG-50
PG-50
PG-54A
PG-54A
9206000
9206000
PG-55
PG-55
806000
807000
808000
809000
806000
807000
808000
809000
Gambar : 2 - a
Gambar : 2 - b

gr/cc

0.75

0.65

0.55

0.45

0.35

0.25

0.15

0.05

-0.05

-0.15

-0.25

-0.35

-0.45

-0.55

-0.65

Elevasi -600 m ASL (2000 m @ Surface) PG-59 9213000 PG-C PG-46 PG-D PG-97A PG-96A
Elevasi -600 m ASL
(2000 m @ Surface)
PG-59
9213000
PG-C
PG-46
PG-D
PG-97A
PG-96A
9212000
PG-58
PG-60A
PG-Z
PG-38
PG-37
PG-Y
9211000
PG-88 PG-33
PG-80
PG-75A
PG-89 PG-32
PPG-83
PG-76A
PG-99A PG-93
PG-87
PG-29 PG-24
9210000
PG-28
PG-85
PG-39
PG-06A
PG-22
PG-91
PPG-11
PG-81
PG-19
PG-21
PG-92
PG-18
PPG-27A
PG-25
PG-72A PPG-7
PG-15
9209000
PPG-70
PG-14
PG-77A
PPG-16
PG-04
PG-71A
PG-41A
PG-09
PPG-20 PG-71
PG-42
PG-104
PG-02
PG-56 PG-57A
PPG-12
PG-01
PG-105
9208000
PG-65
PPG-43
PG-107
PG-106
PG-44
PG-67
PG-47A
9207000
PG-49A
PG-48A
PG-52A
PG-50
PG-54A
9206000
PG-55
806000
807000
808000
809000

Gambar : 2 - c

gr/cc

0.70

0.60

0.50

0.40

0.30

0.20

0.10

0.00

-0.10

-0.20

-0.30

-0.40

-0.50

-0.60

-0.70

Gambar 2. Sebaran perubahan rapat massa disetiap kedalaman pada Antar-waktu 18 hari

Kedalaman Reservoar 1000 m

Blok Utara – Timur terlihat perubahan yang berkurang nilai rapat massa yang relatif kecil di PPG 83 dan sekitarnya, pertambahan nilai rapat massa terjadi di sekitar PG21, PG22, PG 28 atau disekitar sumur produksi : 12, 14. Kemudian terlihat perubahan positif nilai rapat massa yang cukup significant adalah disekitar Blok Barat – Ciharus arahnya bergeser ke Timur sedangkan di Blok Barat – Ciharus terjadi pengurangan rapat massa.

Blok Tengah di sekitar D, Pangkalan (PG 01 – PPG11) (PG 02, PG 04, PG 07, PG 09, PG 15 dan sekitarnya) terlihat mengalami pengurangan rapat massa. Blok Selatan – Timur juga mengalami pengurangan rapat massa yang terletak disekitar PG 49A, PG 54A dan sekitarnya (Gambar 2.a).

Kedalaman Reservoar 1500 m

Pola sebaran perubahan rapat massa (∆ρ) di kedalaman reservoar 1500 m relatif berubah dengan pola sebaran perubahan rapat massa (∆ρ) di kedalaman reservoar 1000m. Hanya saja perubahan nilai rapat massanya yang relatif sama dengan kondisi reservoar yang mengecil / menyempit.

Blok Utara – Timur mengalami pengecilan / penyempitan (lihat di PPG 83 dan sekitarnya), blok Barat – Ciharus bagian Barat sedikit melebar, blok Barat – Ciharus Arah ke Timur terlihat relatif sama dengan di kedalaman Reservoar 1000 m, dan blok Tengah (sekitar D. Pangkalan) relatif sedikit menyempit jika dibandingkan terhadap perubahan rapat massa di kedalaman reservoar (1000 m) dengan nilai ∆ρ sama (Gambar 2.b).

Estimasi Rapat Massa Berdasarkan Anomali Mikrogravity 4D Untuk Daerah Geotermal Kamojang-Garut

Kedalaman Reservoar 2000 m

115

Blok Utara – Timur pola sebaran perubahan rapat massa (∆ρ) mengalami peleberan bentuk, hampir sama di kedalaman reservoar pada kedalaman 1000m (di kedalaman reservoar 1000m mengalami penyempitan / mengecil) dengan perubahan nilai positip mengecil. Blok Barat – Ciharus bagian Barat juga relatif sama dengan pola sebaran rapat massa dikedalaman reservoar 1000 m yakni sedikit melebar kembali. Blok Barat – Ciharus arah ke Timur relatif sama dengan pola sebaran ∆ρ di kedalaman reservoar sebelumnya dan di kedalaman reservoar 2000 m ini pola konturnya lebih rapat dan sedikit mengecil / menyempit. Blok Tengah (sekitar D. Pangkalan) untuk di sekitar PG 01, pola sebaran ∆ρ melebar begitupun di PG 11, PG 04 juga pola sebarannya melebar. (Gambar 2.c).

c) Periode 1-3

Elevasi 400 mASL (1000 m @Surface) PG-59 9213000 PG-C PG-46 PG-D PG-97A PG-96A 9212000 PG-58
Elevasi 400 mASL
(1000 m @Surface)
PG-59
9213000
PG-C
PG-46
PG-D
PG-97A
PG-96A
9212000
PG-58
PG-60A
PG-Z
PG-38
PG-37
PG-Y
9211000
PG-88 PG-33
PG-80
PG-75A
PG-89 PG-32
PPG-83
PG-76A
PG-99A PG-93
PG-87
PG-29 PG-24
9210000
PG-28
PG-85
PG-39
PG-06A
PG-22
PG-91
PPG-11
PG-81
PG-19
PG-21
PG-92
PG-18
PPG-27A
PG-25
PG-72A PPG-7
PG-15
9209000
PPG-70
PG-77A
PPG-16 PG-14
PG-04
PG-71A
PG-41A
PG-09
PPG-20 PG-71
PG-42
PG-104
PG-02
PG-56 PG-57A
PPG-12
PG-01
PG-105
9208000
PG-65
PPG-43
PG-107
PG-106
PG-44
PG-67
PG-47A
9207000
PG-49A
PG-48A
PG-52A
PG-50
PG-54A
9206000
PG-55
806000
807000
808000
809000

Gambar : 3 - a

DELTA RHO PERIODE III - I (34 Hari)

gr/cc

Elevasi -100 m ASL (1500 m @Surface)

9213000

9212000

9211000

9210000

9209000

9208000

9207000

9206000

PG-59 PG-C PG-46 PG-D PG-97A PG-96A PG-58 PG-60A PG-Z PG-38 PG-37 PG-Y PG-88 PG-33 PG-80
PG-59
PG-C
PG-46
PG-D
PG-97A
PG-96A
PG-58
PG-60A
PG-Z
PG-38
PG-37
PG-Y
PG-88 PG-33
PG-80
PG-75A
PG-89 PG-32
PPG-83
PG-76A
PG-99A PG-93
PG-87
PG-29 PG-24
PG-28
PG-85
PG-39
PG-06A
PG-22
PG-91
PPG-11
PG-81
PG-19
PG-21
PG-92
PG-18
PPG-27A
PG-25
PG-72A PPG-7
PG-15
PPG-70
PG-77A
PPG-16 PG-14
PG-04
PG-71A
PG-41A
PG-09
PPG-20 PG-71
PG-42
PG-104
PG-02
PG-56PG-57A
PPG-12
PG-01
PG-105
PG-65
PPG-43
PG-107
PG-106
PG-44
PG-47A
PG-67
PG-49A
PG-48A
PG-52A
PG-50
PG-54A
PG-55
806000
807000
808000
809000

Gambar : 3 - b

gr/cc

Elevasi -600 m ASL (2000 m@Surface) PG-59 9213000 PG-C PG-46 PG-D PG-97A PG-96A 9212000 PG-58
Elevasi -600 m ASL
(2000 m@Surface)
PG-59
9213000
PG-C
PG-46
PG-D
PG-97A
PG-96A
9212000
PG-58
PG-60A
PG-Z
PG-38
PG-37
PG-Y
9211000
PG-88 PG-33
PG-80
PG-75A
PG-89 PG-32
PPG-83
PG-76A
PG-99A PG-93
PG-87
PG-29 PG-24
9210000
PG-28
PG-85
PG-39
PG-06A
PG-22
PG-91
PPG-11
PG-81
PG-19
PG-21
PG-92
PG-18
PPG-27A
PG-25
PG-72A PPG-7
PG-15
9209000
PPG-70
PG-77A
PPG-16 PG-14
PG-04
PG-71A
PG-41A
PG-09
PPG-20 PG-71
PG-42
PG-104
PG-02
PG-56 PG-57A
PPG-12
PG-01
PG-105
9208000
PG-65
PPG-43
PG-107
PG-106
PG-44
PG-67
PG-47A
9207000
PG-49A
PG-48A
PG-52A
PG-50
PG-54A
9206000
PG-55
806000
807000
808000
809000

Gambar : 3 - c

gr/cc

Gambar 3. Sebaran perubahan rapat massa disetiap kedalaman pada Antar-waktu 34 hari

Kedalaman Reservoar 1000 m

Pola sebaran rapat massa (∆ρ) pada periode ini relatif sama dengan pola sebaran rapat massa (∆ρ) pada periode 1-2 karena data sebaran perubahan kuat medan gravitasi (g) di lapse 1 terangkat kembali.

Dengan rentang waktu & lapse ini (34 hari) dapat memberikan informasi berdasarkan perubahan pola sebaran rapat massa yang sedikit berbeda dengan periode 1-2 yakni di Blok Barat – Ciharus Arah Timur (PG 91, PG 92) bergerak ke arah Blok Tengah (D. Pangkalan / PPG 11, PG 06A) dan terlihat adanya pengurangan nilai rapat massa.

Blok Barat – Ciharus bagian Selatan juga mengalami perubahan penambahan rapat massa yang kecil (PG 41A, PG 42, PG 57, PG 56). Blok Utara – Timur pola sebaran rapat massa dengan perubahan menaik nilainya. Blok Selatan – Timur terlihat ada penurunan rapat massa (PG 47A, PG 104, PG 108). (Gambar 3.a)

116

Eddy Supriyana dkk

Kedalaman Reservoar 1500 m

Di Blok Utara – Timur pola sebaran perubahan rapat massa (∆ρ) rapat dan menyempit dengan

nilai rapat massa positif . Terlihat di bagian tengahnya di dominasi dengan nilai rapat massa positif

membesar. Area Reservoar ini mempunyai pola sebaran rapat massa mengarah ke selatan dengan penambahan rapat massa.

Blok Tengah (di sekitar D. Pangkalan / PG 064, PG 44 dan sekitarnya) mengalami penurunan nilai perubahan rapat massa dan di bagian tengah di dominasi nilai rapat massa positif, dan pola sebarannya sedikit melebar jika dibanding dengan di kedalaman Reservoar 1000m. Blok Barat – Ciharus, pola sebaran rapat massa didominasi oleh nilai rapat massa yang positif dengan perubahan. Blok Selatan – Timur, mempunyai pola sebaran rapat massa mirip dengan pola sebaran

rapat massa di Blok Tengah yakni perubahan rapat massanya berkurang dari positif ke negatif dan

di bagian Tengahnya di dominasi oleh nilai rapat massa yang positif atau bahkan 0 gr/cc.

Sementara di Blok Timur (sekitar kawah Wakang) pola sebaran rapat massanya mempunyai nilai

yang berkurang ke arah negatif (Gambar 3.b).

Kedalaman Reservoar 2000 m

Di blok Utara – Timur pola sebaran rapat massa (∆ρ) melebar dengan nilai rapat massa positif dan

menyebar ke arah bagian Selatan menuju kawah Pojok, kawah Berecek di PG 39, PG 81, PPG 27A, PPG 70 sampai PPG 77A, PG 14 dengan kisaran nilai rapat massa (+0,25 s.d. +0,45) gr/cc. Lebih kecil jika dibandingkan dengan di kedalaman reservoar 1500m (diduga dekat dengan

sumber panas / sesuai dengan proses konveksi sehingga ρ mengecil ).

Blok Tengah (sekitar D. Pangkalan / PG 06A, PG 44 dan sekitarnya) mengalami penurunan rapat massa ke arah negatif, dan dibagian dalamnya / tengah sedikit menyempit pola sebarannya jika dibandingkan dengan di kedalaman reservoar 1500m. Di Blok Barat – Ciharus maupun di Blok Selatan – Timur karakter dan pola sebaran dari nilai rapat massanya realtif sama dengan pola sebaran dari nilai rapat massa di kedalaman reservoar sebelumnya (1000m dan 1500m) (Gambar

3.c).

4. Kesimpulan

Berdasarkan sebaran rapat massa ∆ρ untuk setiap periode dan variasi kedalaman memunculkan harga sebaran rapat massa ∆ρ di kedalaman 1000m > ∆ρ di kedalaman 1500m, dan sebaran rapat massa ∆ρ di kedalaman 1500m > ∆ρ di kedalaman 2000m (∆ρ 1000m > ∆ρ 1500 >∆ρ 2000m ) hal ini diprediksikan bahwa ∆ρ  di kedalaman reservoar 2000m diprediksikan lebih dekat dengan sumber panas Area Geotermal Kamojang (peristiwa konveksi).

Indikasi bentuk reservoar Area Geotermal Kamojang berdasarkan pola sebaran rapat massa ∆ρ di kedalaman reservoar 1000m pola sebarannya melebar, di kedalaman reservoar 1500m pola sebaran ∆ρ menyempit namun kemudian pola sebaran ∆ρ di kedalaman 2000m melebar kembali jadi membentuk seperti cendawan.

Di Blok Utara – Timur terlihat adanya desakan dari suatu anomali (di perkirakan secara fisik

adalah uap panas (Hot Water) atau pengaruh recharge yang diinjeksikan oleh sumur injeksi Kmj 55) sehingga diperkirakan over load.

Estimasi Rapat Massa Berdasarkan Anomali Mikrogravity 4D Untuk Daerah Geotermal Kamojang-Garut

117

Daftar Pustaka

1. J.H. Schön, Seismic Exploration, Physical Properties of Rocks, Fundamentals Theory and Principles of Petrophysics, Pergamon, Vol. 18 (1996).

2. W.G.A. Kadir, ”Metoda Gravity 4D dalam Monitoring Reservoar Hidrokarbon dan Air Tanah”, Kumpulan Makalah HAGI, Geoforum Bandung (2002).

3. W.G.A. Kadir, ”Survey Medan gravitasi 4 Dimensi dan Dinamika Sumber Bawah Permukaan; Suatu Pendekatan Teoritis”, Proceeding HAGI XXIV, Surabaya (1999).

4. M.Y. Kamah, dkk., Sub Dinas Operasi Eksplorasi Panas Bumi, Divisi Panasbumi Dit. EP- Pertamina, , Laporan Survei Gravitasi Presisi Perioda 99 – 00, Lapangan Produksi Panasbumi Kamojang Jawa Barat, Tidak Diterbitkan Untuk Umum (2000).

5. J.L. Hare, J.F. Fergusson, C.L.V. Aiken, J.L. Brady, ”The 4-D Microgravity Method for Waterflood Surveillance : A Model Study for The Prudhoe Bay Reservoir Alaska”, Geophysics, 64 (1999), 78-87.

6. A. G. Camacho, F.G. Montesinos, R. Vieira, ”Gravity Inversion by Means of Growing Bodies”, Jurnals Geophysics 65 (2000), 95 – 101.

7. E. Supriyana, ”Estimasi Distribusi Rapat Massa dan Saturasi Air Berdasarkan Anomali Mikrograviti 4D dan Applikasinya Untuk Daerah Geotermal Kamojang-Garut”, Thesis Magister Program Pascasarjana UI. (2004).