Anda di halaman 1dari 28

Migrain adalah nyeri kepala berdenyut yang kerapkali disertai mual, muntah.

Penderita biasanya sensitif terhadap cahaya, suara, bahkan bau-bauan. Sakit kepala ini paling sering hanya mengenai satu sisi kepala saja, kadang-kadang berpindah ke sisi sebelahnya, tetapi dapat mengenai kedua sisi kepala sekaligus. Migrain kadang kala agak sulit dibedakan dengan sakit kepala jenis lain. Sakit kepala akibat gangguan pada sinus atau akibat ketegangan otot leher mempunyai gejala yang hampir sama dengan gejala migrain. Migrain dapat timbul bersama penyakit lain misalnya asma dan depresi. Penyakit yang sangat berat, misalnya tumor atau infeksi, dapat juga menimbulkan gejala yang mirip migrain. Namun kejadian ini sangat jarang. Ada berapa macam migrain? Migrain dibagi dalam dua golongon besar yaitu :

Migrain Biasa (migrain tanpa aura) : Kebanyakan penderita migrain masuk ke dalam jenis ini. Migrain biasa ditandai dengan nyeri kepala berdenyut di salah satu sisi dengan intensitas yang sedang sampai berat dan semakin parah pada saat melakukan aktifitas. Migrain ini juga disertai mual, muntah, sensitif terhadap cahaya, suara, dan bau. Sakit kepala akan sembuh dalam 4 sampai 72 jam, sekalipun tidak diobati. Migrain Klasik (migrain dengan aura ) : Pada jenis klasik, migrain biasanya didahului oleh suatu gejala yang dinamakan aura, yang terjadi dalam 30 menit sebelum timbul migrain. Migrain klasik merupakan 30% dari semua migrain.

Tipe migrain yang lain meliputi : Migrain Haid, yaitu migrain yang terjadi beberapa hari sebelum haid, selama haid, atau sesudah haid. Biasanya wanita yang mengalami migrain ini mengetahui bahwa migrain yang dideritanya berhubungan dengan siklus haidnya. Migrain haid dapat berbentuk migrain biasa atau pun migrain klasik. Migrain Komplikasi, yaitu migrain yang disertai gejala gangguan sistem saraf, misalnya rasa baal dan geli, kesulitan berbicara atau mengerti pembicaraan, ketidakmampuan menggerakkan lengan atau kaki. Pada migrain komplikasi, gejala syaraf tetap bertahan walaupun migrain telah sembuh. Apa penyebab migrain? Penyebab pasti migrain masih belum begitu jelas. Diperkirakan, adanya hiperaktiftas impuls listrik otak meningkatkan aliran darah di otak, akibatnya terjadi pelebaran pembuluh darah otak serta proses inflamasi. Pelebaran dan inflamasi ini menyebabkan timbulnya nyeri dan gejala yang lain, misalnya mual. Semakin berat inflamasi yang terjadi, semakin berat pula migrain yang diderita. Telah diketahui bahwa faktor genetik berperan terhadap timbulnya migrain. Apa saja gejala migrain?

Gejala Awal Satu atau dua hari sebelum timbul migrain, penderita biasanya mengalami gejala awal seperti lemah, menguap berlebih, sangat menginginkan suatu jensi makanan (mislanya coklat), gampang tersinggung, dan gelisah. Aura Aura hanya didapati pada migrain klasik. Biasanya terjadi dalam 30 menit sebelum timbulnya migrain. Aura dapat berbentuk gangguan penglihatan seperti melihat garis yang bergelombang, cahaya terang, bintik gelap, atau tidak dapat melihat benda dengan jelas. Gejala aura yang lain yaitu rasa geli atau rasa kesemutan di tangan. Sebagian penderita tidak dapat mengucapkan kata-kata dengan baik, merasa kebas di tangan, pundak, atau wajah, atau merasa lemah pada satu sisi tubuhnya, atau merasa bingung. Penderita dapat mengalami hanya satu gejala saja atau beberapa macam gejala, tetapi gejala ini tidak timbul bersamaan melainkan bergantian. Suatu gejala aura biasanya menghilang saat nyeri kepala atau gejala aura yang lain timbul. Namun kadang-kadang gejala aura tetap bertahan pada permulaan sakit kepala. Sakit kepala dan gejala penyerta Penderita merasakan nyeri berdenyut pada satu sisi kepala, sering terasa dibelakang mata. Nyeri dapat berpindah pada sisi sebelahnya pada serangan berikutnya, atau mengenai kedua belah sisi. Rasa nyeri berkisar antara sedang sampai berat. Gejala lain yang sering menyertai nyeri kepala antara lain :

Kepekaan berlebihan terhadap sinar, suara, dan bau Mual dan muntah Gejala semakin berat jika beraktifitas fisik

Tanpa pengobatan, sakit kepala biasanya sembuh sendiri dalam 4 sampai 72 jam. Gejala Akhir Setelah nyeri kepala sembuh, penderita mungkin merasa nyeri pada ototnya, lemas, atau bahkan merasakan kegembiraan yang singkat. Gejala-gejala ini menghilang dalam 24 jam setelah hilangnya sakit kepala. Apa yang dapat mencetuskan migrain? Migrain dapat dicetuskan oleh makanan, stres, dan perubahan aktivitas rutin harian, walaupun tidak jelas bagaimana dan mengapa hal tersebut dapat menyebabkan migrain. Pencetus migrain antara lain :

Konsumsi makanan tertentu seperti coklat, MSG, dan kopi Tidur berlebihan atau kurang tidur Tidak makan Perubahan cuaca atau tekanan udara Stres atau tekanan emosi Bau yang sangat menyengat atau asap rokok

Sinar yang sangat terang atau pantulan sinar matahari.

Siapa saja yang menderita migrain? Sekitar 28 juta orang di AS menderita migrain. Di seluruh dunia, migrain mengenai 25% wanita dan 10% pria. Wanita dua sampai tiga kali lebih sering terkena migrain dibanding laki-laki. Migrain paling sering mengenai orang dewasa (umur antara 20 sampai 5o tahun), tetapi seiring bertambahnya umur, tingkat keparahan dan keseringan semakin menurun. Migrain biasanya banyak mengenai remaja. Bahkan, anak-anak pun dapat mengalami migrain, baik dengan atau tanpa aura. Resiko mengalami migrain semakin besar pada orang yang mempunyai riwayat keluarga penderita migrain. Bagaimana mendiagnosis migrain? Dokter akan menanyakan riwayat kesehatan dan gaya hidup penderita dan melakukan pemeriksaan fisis. Tidak ada tes laboratorium yang dapat mendukung penegakan diagnosis migrain. Migrain kadangkala sulit untuk didiagnosis karena gejalanya dapat menyerupai gejala sakit kepala lainnya. Sebagai contoh, beberapa orang didiagnosis dengan sakit kepala akibat gangguan sinus, padahal sebenarnya mereka menderita migrain. Dokter anda mungkin menggunakan kriteria International Headache Society untuk mendiagnosis migrain. Anda didiagnosis migrain jika anda mengalami 5 atau lebih serangan sakit kepala tanpa aura (atau 2 serangan dengan aura) yang sembuh dalam 4 sampai 72 jam tanpa pengobatan dan diikuti dengan gejala mual, muntah, atau sensitif terhadap sinar dan suara. Dokter anda akan memeriksa gejala yang anda alami dan memutuskan apakah anda perlu menjalani pemeriksaan lanjutan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain yang menyebabkan sakit kepala anda. Tes tersebut antara lain :

MRI atau CT Scan, yang dapat digunakan untuk menyingkirkan tumor dan perdarahan otak. Punksi Lumbal, dilakukan jika diperkirakan ada meningitis atau perdarahan otak.

Bagaimana pengobatan migrain? Pada tahap awal anda dapat menggunakan antinyeri yang dapat dibeli bebas tanpa resep, seperti parasetamol, atau obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) seperti aspirin, ibuprofen, atau natrium naproxen, untuk mengurangi gejala migrain. Dokter biasanya menganjurkan untuk lebih dahulu menggunakan NSAID untuk melihat apakah obat ini mampu mengurangi nyeri sebelum memberikan obat anti migrain golongan lain yang harus dibeli dengan resep, yang mempunyai banyak efek samping.

Anda juga dapat mencoba mengurangi frekuensi timbulnya migrain dengan mengenali dan menghindari pencetus yang dapat menyebabkan migrain. Jenis-jenis obat migrain antara lain : Anti Migrain digunakan untuk menghentikan serangan migrain, meliputi :

Anti-Inflamasi Non Steroid (NSAID), misalnya aspirin, ibuprofen, yang merupakan obat lini pertama untuk mengurangi gejala migrain. Triptan (agonis reseptor serotonin). Obat ini diberikan untuk menghentikan serangan migrain akut secara cepat. Triptan juga digunakan untk mencegah migrain haid. Ergotamin, misalnya Cafegot, obat ini tidak seefektif triptan dalam mengobati migrain. Midrin, merupakan obat yang terdiri dari isometheptana, asetaminofen, dan dikloralfenazon. Kalau di Indonesia dijumpai kombinasi antara asetaminofen (parasetamol) dan profenazon.

Pencegah Migrain digunakan untuk mencegah serangan migrain, meliputi :


Beta bloker, misalnya propanolol Penghambat Kanal Kalsium, yang mengurangi jumlah penyempitan pembuluh (konstriksi) darah Antidepresan, misalnya amitriptilin, antidepresan trisiklik, yang terbukti efektif untuk mencegah timbulnya migrain. Antikonvulsan

Jika migrain yang anda derita ringan sampai sedang, anda hanya perlu antinyeri yang dijual bebas untuk menghilangkan gejala. Jika migrain anda sedang sampai berat, anda perlu antimigrain yang dibeli dengan resep. Jika anda sering mengalami serangan migrain, dokter mungkin menyarankan untuk meminum obat pencegah migrain. Beberapa obat pencegah migrain dapat menimbulkan efek samping ringan sampai berat pada beberapa penderita. Penderita yang mempunyai gangguan jantung atau tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol sebaiknya tidak mengkonsumsi obat ini. Pasien yang berumur lebih dari 65 tahun, obat pencegah migrain tidak dianjurkan. Biasanya anda perlu mencoba beberapa jenis obat sebelum anda menemukan salah satu yang paling cocok dengan anda. Jika anda mengalami mual atau muntah sebagai efek samping pengobatan antimigrain, dokter anda juga biasanya meresepkan obat anti mual muntah seperti proklorperazin atau metoklopramid, untuk mengurangi gejala tersebut. Walaupun obat-obatan biasanya merupakan pengobatan utama migrain, terapi pelengkap biasanya dapat membantu mengurangi gejala dan frekuensi serangan migrain. Terapi pelengkap antara lain :

Akupuntur, yaitu dengan menusukkan jarum yang sangat halus ke kulit pada titik tertentu untuk menimbulkan aliran energi di sekujur tubuh. Tindakan ini dapat membantu relaksasi otot dan mengurangi nyeri kepala. Teknik Relaksasi, yang dapat membantu mengurangi stres dalam kehidupan sehari-hari.

Apa yang dilakukan jika terapi tidak membawa hasil? Jika migrain tidak sembuh walaupun sudah mendapat pengobatan, perlu untuk merubah jenis obat. Jika belum sembuh juga, tes tambahan seperti MRI atau CT Scan perlu dilakukan untuk menyingkirkan penyebab lain. Apa yang dapat anda lakukan di rumah? Ada beberapa cara yang dapat anda lakukan di rumah untuk mengurangi frekuensi serangan dan mengurangi gejala, misalnya mengurangi stres dan mengenali pencetus migrain, kemudian menghindarinya.

Atasi stres yang anda alami, karena migrain lebih sering terjadi pada masa-masa stres. Mengikuti latihan relaksasi untuk mengunragi ketegangan otot. Menyediakan obat antinyeri yang dapat dibeli bebas di toko obat. Buatlah catatan harian mengenai sakit kepala anda. Hal ini dapat membantu anda untuk mengenali pencetus, kemudian menghindarinya. Dari catatan ini juga dapat diketahui apakah migrain anda semakin sering atau bertambah berat. Jika anda memperkirakan bahwa migrain yang anda alami mempunyai hubungan depresi atau kecemasan, cobalah minta pertolongan untuk mengatasi depresi dan kecemasan ini. Berkurangnya depresi dan kecemasan terkait dengan berkurangnya frekuensi serangan migrain.

Bagaimana cara mencegah migrain? Cara terbaik untuk mengatasi migrain adalah dengan menghindarinya. Dengan mengenali dan menghindari pencetus, jumlah serangan dan tingkat keparahan migrain dapat dikurangi. Memang, beberapa pencetus di luar kemampuan kita untuk mengontrolnya, tetapi ada beberapa diantaranya yang dapat kita hindari. Hal-hal berikut dapat membantu anda untuk mencegah migrain :

Mengenali pencetus migrain dengan membuat buku harian Tidur dan beraktifitas secara teratur Makan teratur, dan menghindari makanan yang dapat mencetuskan migrain Mengatasi stres Menghindari asap rokok, baik sebagai perokok aktif maupun pasif

Pencegahan dapat pula dilakukan dengan obat-obatan, walaupun dapat terjadi efek samping dari ringan sampai sedang. Obat ini juga biasanya agak mahal. Tetapi, obat ini

kadangkala efektif untuk mencegah dan mengurangi keparahan migrain, sehingga memperbaiki kualitas hidup. Siapa saja yang beresiko tinggi menderita migrain?

Mempunyai keluarga yang menderita migrain Wanita, tiga kali lebih sering dibanding pria. Remaja atau dewasa muda Menderita depresi, gangguan cemas, asma, atau epilepsi.

MIGRAINE Migraine adalah nyeri kepala rekuren, idiopatik, yang bermanifestasi sebagai serangan serangan yang berlangsung antara 4 72 jam. Ciri ciri nyeri kepala yang khas besifat unilateral, berdenyut denyut, dengan intensitas nyeri dari sedang hingga berat dan diperburuk oleh aktifitas fisik rutin dengan fotofobia atau fonofobia. ETHIOLOGI Lokasi nyeri kebanyakan sesisi, tetapi dapat pula seluruh kepala, dan yang paling sering didaerah pelipis, temporal, dapat pula di frontal dan oksipital. Dapat pula nyeri dimulai dari temporal atau oksipital kemudian menjalar ke daerah lain atau seluruh kepala. ( Dr. Sidiarto. M, Nyeri Kepala menahun ) PATHOGENESIS Biarpun migraine sudah dikenal sejak lama, tidak banyak yang diketahui tentang pathogenesisnya. Kemajuan teknologi telah berubah banyak, sehingga salam abad terakhir ini banyak diketahui hal hal yang terjadi disekitar dan selama serangan migraine. Ada dua pendapat yaitu pengamat kelompok teori vasogen yang beranggapan bahwa serangan migraine disebabkan oleh perubahan aliran darah dikepala, sedangkan pengamat teori neurogen beranggapan bahwa perubahan primer pada serangan migraine terjadi pada jaringan otot sendiri. KLASIFIKASI MIGRAINE Klasifikasi migraine yang digunakan sekarang adalah klasifikasi yang dikeluarkan oleh International Headache Society ( HIS 1988 ), yaitu : 1. Migraine a. Migraine tanpa aura ( migraine without aura ) Sebelum disebut mgraine umum atau hemi krania simplek Deskripsinya adalah nyeri kepala idioplastik berulang dengan lama serangan 4 jam sampai 72 jam. Karakteristik yang khas berupa lokasi unilateral, kualitas berdenyut. b. Migraine dengan aura ( migraine with aura )

Sebelum disebut dengan migraine klasik, migraine oftalmik, migraine hemiplegi, migraine afasia, migraine komplikata. Deskripsinya adalah kelainan idioplastik yang berulang, lokasi di cortek cerebra atau batang otak, timbul secara bertahap dalam waktu 5 20 menit. c. Migraine oftalmoplegi ( oftalmoplegie migraine ) Adalah serangan nyeri kepala berulang disertai paresis satu atau lebih dari syaraf kranials untuk mata, tanpa adanya lwsi intra kranial. d. Migraine Retina. Adalah serangan skotoma atau buta monokuler yang berulang yang berlangsung kurang dari 1 jam dengan atau tanpa nyeri.

Migrain
More than 29.5 million Americans suffer from migraine, with women being affected three times more often than men. Lebih dari 29,5 juta orang Amerika menderita migrain, dengan perempuan yang terkena dampak tiga kali lebih sering dibandingkan pria. This vascular headache is most commonly experienced between the ages of 15 and 55, and 70% to 80% of sufferers have a family history of migraine. Ini sakit kepala vaskular yang paling sering dialami antara usia 15 dan 55, dan 70% sampai 80% penderita memiliki riwayat keluarga migrain. Less than half of all migraine sufferers have received a diagnosis of migraine from their healthcare provider. Kurang dari separuh dari semua penderita migrain telah menerima diagnosis migrain dari penyedia kesehatan mereka. Migraine is often misdiagnosed as sinus headache or tension-type headache. Migrain sering misdiagnosed sebagai sakit kepala sinus atau ketegangan-jenis sakit kepala. Many factors can trigger migraine attacks, such as alteration of sleep-wake cycle; missing or delaying a meal; medications that cause a swelling of the blood vessels; daily or near daily use of medications designed for relieving headache attacks; bright lights, sunlight, fluorescent lights, TV and movie viewing; certain foods; and excessive noise. Banyak faktor yang dapat memicu serangan migrain, seperti perubahan siklus tidur-bangun; hilang atau menunda makan; obat yang menyebabkan pembengkakan pembuluh darah; penggunaan sehari-hari sehari-hari atau dekat obat yang dirancang untuk menghilangkan serangan sakit kepala, cahaya terang, sinar matahari, lampu neon, TV dan menonton film, makanan tertentu, dan kebisingan yang berlebihan. Stress and/or underlying depression are important trigger factors that can be diagnosed and treated adequately. Stres dan / atau depresi yang mendasari adalah faktor pemicu penting yang dapat didiagnosis dan diobati secara memadai. Migraine characteristics can include: karakteristik Migraine dapat termasuk:

Pain typically on one side of the head Nyeri biasanya pada satu sisi kepala

Pain has a pulsating or throbbing quality Rasa memiliki kualitas berdenyut atau berdenyut Moderate to intense pain affecting daily activities Sedang sampai rasa sakit mempengaruhi kegiatan sehari-hari Nausea or vomiting Mual atau muntah Sensitivity to light or sound Sensitivitas terhadap cahaya atau suara Attacks last four to 72 hours, sometimes longer Serangan terakhir empat sampai 72 jam, kadang-kadang lebih lama Visual disturbances or aura Visual gangguan atau aura Exertion such as climbing stairs makes headache worse Pengusahaan seperti memanjat tangga membuat sakit kepala parah

Approximately one-fifth of migraine sufferers experience aura, the warning associated with migraine, prior to the headache pain. Sekitar seperlima dari aura pengalaman penderita migrain, peringatan berkaitan dengan migrain, sebelum sakit kepala. Visual disturbances such as wavy lines, dots or flashing lights and blind spots begin from twenty minutes to one hour before the actual onset of migraine. Gangguan visual seperti garis bergelombang, titik atau lampu berkedip dan bintik-bintik buta mulai dari dua puluh menit sampai satu jam sebelum timbulnya migrain sebenarnya. Some people will have tingling in their arm or face or difficulty speaking. Beberapa orang akan memiliki kesemutan di lengan atau muka atau kesulitan berbicara. Aura was once thought to be caused by constriction of small arteries supplying specific areas of the brain. Aura pernah dianggap disebabkan oleh penyempitan arteri kecil penyediaan wilayah-wilayah tertentu di otak. Now we know that aura is due to transient changes in the activity of specific nerve cells. Sekarang kita tahu bahwa aura adalah karena perubahan transien dalam aktivitas sel saraf tertentu. The pain of migraine occurs when excited brain cells trigger the trigeminal nerve to release chemicals that irritate and cause swelling of blood vessels on the surface of the brain. Rasa sakit migrain terjadi bila sel-sel otak bersemangat memicu saraf trigeminal untuk melepaskan zat kimia yang mengganggu dan menyebabkan pembengkakan pembuluh darah di permukaan otak. These swollen blood vessels send pain signals to the brainstem, an area of the brain that processes pain information. Ini pembuluh darah bengkak mengirim sinyal rasa sakit ke otak, daerah otak yang memproses informasi nyeri. The pain of migraine is a referred pain that is typically felt around the eye or temple area. Rasa sakit dari migren adalah sakit dimaksud yang biasanya dirasakan di sekitar mata atau area candi. Pain can also occur in the face, sinus, jaw or neck area. Nyeri dapat juga terjadi pada wajah, sinus, rahang atau daerah leher. Once the attack is full-blown, many people will be sensitive to anything touching their head. Setelah serangan itu penuh ditiup, banyak orang akan peka terhadap apa pun menyentuh kepala mereka. Activities such as combing their hair or shaving may be painful or unpleasant. Kegiatan seperti menyisir rambut atau pencukuran mungkin menyakitkan atau tidak menyenangkan. Diagnosis of migraine headache is made by establishing the history of the migrainerelated symptoms and other headache characteristics as well as a family history of similar

headaches. Diagnosis migrain dibuat dengan membentuk sejarah gejala migrain yang berhubungan dan karakteristik sakit kepala lainnya serta riwayat keluarga sakit kepala yang serupa. By definition, the physical examination of a patient with migraine headache in between the attacks of migraine does not reveal any organic causes for the headaches. Menurut definisi, pemeriksaan fisik pasien dengan migrain di antara serangan migrain tidak mengungkapkan penyebab organik untuk sakit kepala. Tests such as the CT scan and MRI are useful to confirm the lack of organic causes for the headaches. Tes seperti CT scan dan MRI berguna untuk mengkonfirmasi penyebab kurangnya organik untuk sakit kepala. There is currently no test to confirm the diagnosis of migraine Saat ini tidak ada tes untuk mengkonfirmasi diagnosis migrain

Treatment Pengobatan
Many factors may contribute to the occurrence of migraine attacks. Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya serangan migren. They are known as trigger factors and may include diet, sleep, activity, psychological issues as well as many other factors. Mereka dikenal sebagai faktor pemicu dan mungkin termasuk pola makan, tidur, aktivitas, masalah-masalah psikologis serta faktor lainnya. The use of a diary to record events that may play a role in causing the headaches can be useful for you and your healthcare provider. Penggunaan buku harian untuk merekam peristiwa yang mungkin memainkan peran dalam menyebabkan sakit kepala dapat berguna untuk Anda dan penyedia layanan kesehatan Anda. Avoidance of identifiable trigger factors reduces the number of headaches a patient may experience. Menghindari faktor pencetus diidentifikasi mengurangi jumlah pasien sakit kepala mungkin pengalaman. Healthful lifestyles including regular exercise and avoidance of nicotine may also enhance migraine management. Gaya hidup sehat termasuk olahraga teratur dan menghindari nikotin juga dapat meningkatkan manajemen migrain. Non-pharmacological techniques for control of migraine are helpful to some patients. teknik non-farmakologi untuk mengontrol migrain sangat membantu untuk beberapa pasien. These include biofeedback, physical medicine, and counseling. Ini termasuk biofeedback, obat fisik, dan konseling. These, as with most elements of migraine, need to be individualized to the patient. Ini, seperti kebanyakan elemen migrain, perlu individual kepada pasien. Acute Akut The Food and Drug Administration (FDA) has approved three over-the-counter products to treat migraine. Administrasi Makanan dan Obat-obatan (FDA) telah menyetujui tiga produk over-the-counter untuk mengobati migrain. Excedrin Migraine (a combination of aspirin, acetaminophen and caffeine) is indicated for migraine and its associated symptoms. Excedrin Migrain (kombinasi aspirin, acetaminophen dan kafein) diindikasikan untuk migren dan gejala terkait. Advil Migraine and Motrin Migraine Pain, both ibuprofen medications, are approved to treat migraine headache and its pain. Advil dan Motrin Migraine Migraine Pain, kedua obat ibuprofen, yang disetujui untuk mengobati migrain dan sakitnya.

The use of other prescription anti-inflammatory agents may be effective for some migraines. Penggunaan agen resep lainnya anti-inflamasi mungkin efektif untuk beberapa migrain. These agents may have gastrointestinal side effects, which limit their use since larger than normal doses may be required to treat the migraine attack. Agen ini mungkin memiliki efek samping gastrointestinal yang membatasi penggunaan mereka sejak lebih besar dari dosis normal mungkin diperlukan untuk mengobati serangan migren. Migraine-specific therapies are designed specifically to treat migraine attacks. Migrain terapi khusus dirancang khusus untuk mengobati serangan migrain. Ergotamine preparations are no longer readily available. persiapan Ergotamin tidak lagi tersedia. Dihydroergotamine (DHE) may be used for self-injection. Dihydroergotamine (DHE) dapat digunakan untuk diri injeksi. DHE is also available as the nasal spray Migranal. DHE juga tersedia sebagai pancuran Migranal hidung. A combination product containing isometheptene (Midrin) is not usually effective for migraine. Sebuah produk yang mengandung kombinasi isometheptene (Midrin ) biasanya tidak efektif untuk migrain. Sumatriptan (Imitrex), a 5-HT agonist, is available in self-injectable, nasal spray and rapidly-dissolving tablet forms. Sumatriptan (Imitrex ), suatu agonis 5-HT, tersedia dalam diri injeksi, semprot hidung dan cepat-bentuk tablet larut. Other 5-HT agonists are almotriptan (Axert), naratriptan (Amerge, rizatriptan (Maxalt), zolmitriptan (Zomig), frovatriptan (Frova) and eletriptan (Relpax). All are available in tablet form. Both rizatriptan and zolmitriptan are available in an orally disintegrating tablet (Maxalt-MLT and Zomig-ZMT), which can be taken without water. Zomig also comes in a nasal spray. agonis 5-HT lainnya adalah almotriptan (Axert ), naratriptan (Amerge , rizatriptan (Maxalt ), zolmitriptan (Zomig ), frovatriptan (Frova ) dan eletriptan (Relpax ) Semua tersedia dalam bentuk tablet.. rizatriptan Kedua dan zolmitriptan tersedia dalam lisan disintegrasi tablet (Maxalt-MLT dan Zomig-ZMT), yang dapat diambil tanpa air. Zomig juga datang di semprot hidung. Abortive medications are most effective when taken early in an attack, while the pain is still mild and before skin sensitivity increases. obat gagal yang paling efektif bila diambil dalam serangan awal, sementara rasa sakit itu masih ringan dan sebelum meningkatkan sensitivitas kulit. The goal is complete relief of pain and associated symptoms, allowing the sufferer to quickly return to normal functioning. Tujuannya adalah bantuan lengkap dari rasa sakit dan gejala, memungkinkan penderita untuk segera kembali ke fungsi normal. Some attacks may not be eliminated by abortive therapy, yet the patient requires painrelieving measures. Beberapa serangan itu tidak mungkin dihilangkan dengan terapi yang gagal, namun pasien memerlukan tindakan menghilangkan rasa sakit. Due to the severity of the headaches, some patients may require a narcotic analgesic, but if the patient is experiencing frequent migraine attacks habituating analgesics should be avoided. Karena tingkat keparahan dari sakit kepala, beberapa pasien mungkin memerlukan analgesik narkotika, namun jika pasien sering mengalami serangan migrain habituating analgesik harus dihindari. Butorphanol (Stadol) is available for intranasal administration and is not typically associated with dependency problems, but may result in dependency if used regularly for pain relief. Butorphanol (Stadol ) tersedia untuk administrasi intranasal

dan tidak biasanya dikaitkan dengan masalah ketergantungan, namun dapat menyebabkan ketergantungan jika digunakan secara teratur untuk menghilangkan rasa sakit. Alternative medical treatments with medications belonging to the group known as the Phenothiazines have proven useful as non-analgesic options for treating severe migraine headaches. Alternatif perawatan medis dengan obat-obatan yang termasuk dalam kelompok yang dikenal sebagai fenotiazin telah terbukti bermanfaat sebagai pilihan non-analgesik untuk mengobati sakit kepala migrain parah. Patients with prolonged migraine attacks lasting more than 24 hours are experiencing status migraine and corticosteroids may be used in these cases due to their anti-inflammatory effects. Pasien dengan serangan migren yang berkepanjangan yang berlangsung lebih dari 24 jam mengalami migrain status dan kortikosteroid dapat digunakan dalam kasus-kasus karena efek anti-inflamasi.

Preventive Pencegah
If patients have frequent migraine attacks, if the attacks do not respond consistently to migraine specific acute treatments, or if the migraine specific medications are ineffective or contraindicated because of other medical problems, then preventive medications should be given to reduce the migraine frequency and improve the response to the acute migraine medicines. Jika pasien mengalami serangan migrain sering, jika serangan tidak menanggapi secara konsisten untuk migrain akut perawatan khusus, atau jika obat tertentu migrain tidak efektif atau kontraindikasi karena masalah medis lainnya, maka obat pencegahan harus diberikan untuk mengurangi frekuensi migrain dan meningkatkan respons terhadap obat migrain akut. Cost considerations also may lead to increased use of preventive medications. pertimbangan biaya juga dapat menyebabkan peningkatan penggunaan obat pencegahan. The FDA has approved four drugs for migraine prevention. FDA telah menyetujui empat obat untuk pencegahan migrain. These include propranolol (Inderal), timolol (Blocadren), topiramate (Topamax) and divalproex sodium (Depakote). Ini termasuk propranolol (Inderal ), natrium timolol (Blocadren ), topiramate (Topamax ) dan divalproex (Depakote ). These have had many years of use and make up the majority of the items considered 'first line' therapy for migraine prevention. Ini telah bertahun-tahun menggunakan dan menjadi mayoritas dari barangbarang dianggap 'baris pertama' terapi untuk pencegahan migrain. Amitriptyline, which is an antidepressant, may also be very effective as a migraine preventive. Amitriptyline, yang merupakan antidepresan, mungkin juga akan sangat efektif sebagai preventif migrain. All migraine preventive medications require that adequate doses of the medicine be given for a sufficient length of time to determine the effectiveness. Semua obat preventif migrain mengharuskan dosis obat yang memadai harus diberikan untuk waktu yang cukup panjang untuk menentukan efektivitasnya. Titration of the doses may be needed to reduce adverse effects to medicines. Titrasi dosis yang mungkin diperlukan untuk mengurangi efek samping untuk obat-obatan. There are a host of alternative choices for patients whose headaches do not respond to the first line medications. Ada berbagai pilihan alternatif bagi pasien yang sakit kepala tidak menanggapi obat baris pertama. These include calcium channel blockers, NSAIDs, a variety of antidepressants and several miscellaneous medications. Ini termasuk blocker saluran kalsium, NSAID, berbagai obat-obatan antidepresan dan beberapa hal lain.

Biofeedback Biofeedback
As an alternative to drug therapy, this training uses special equipment that monitors physical tension to teach the patient how to control the physical processes that are related to stress. Sebagai alternatif untuk terapi obat, pelatihan ini menggunakan peralatan khusus yang memantau ketegangan fisik untuk mengajar pasien bagaimana untuk mengendalikan proses fisik yang terkait dengan stres. Once familiar with this technique, people can use it, without the monitoring equipment, to stop an attack or reduce its effects. Setelah terbiasa dengan teknik ini, orang bisa menggunakannya, tanpa peralatan pemantauan, untuk menghentikan serangan atau mengurangi dampaknya. Self-hypnosis exercises are also taught to control both muscle contraction and the swelling of blood vessels. Self-hypnosis latihan juga diajarkan untuk mengontrol kedua kontraksi otot dan pembengkakan pembuluh darah. This patient-directed therapy, with the clinician serving as a guide or teacher, should be practiced daily. Terapi ini pasien-diarahkan, dengan dokter melayani sebagai panduan atau guru, harus dilakukan setiap hari. Children have an excellent response to biofeedback training, since they are open to new methods, learn quickly and have not become firmly entrenched in a chronic pain pattern. Anak-anak memiliki respons yang sangat baik untuk pelatihan biofeedback, karena mereka terbuka untuk metode baru, belajar dengan cepat dan belum menjadi tertanam kuat dalam pola nyeri kronis. 1) SARAF OLFAKTORIUS (N.I) Sistem olfaktorius dimulai dengan sisi yang menerima rangsangan olfaktorius. Sistem ini terdiri dari bagian berikut: mukosa olfaktorius pada bagian atas kavum nasal, fila olfaktoria, bulbus subkalosal pada sisi medial lobus orbitalis. Saraf ini merupakan saraf sensorik murni yang serabut-serabutnya berasal dari membran mukosa hidung dan menembus area kribriformis dari tulang etmoidal untuk bersinaps di bulbus olfaktorius, dari sini, traktus olfaktorius berjalan dibawah lobus frontal dan berakhir di lobus temporal bagian medial sisi yang sama. Sistem olfaktorius merupakan satu-satunya sistem sensorik yang impulsnya mencapai korteks tanpa dirilei di talamus. Bau-bauan yang dapat memprovokasi timbulnya nafsu makan dan induksi salivasi serta bau busuk yang dapat menimbulkan rasa mual dan muntah menunjukkan bahwa sistem ini ada kaitannya dengan emosi. Serabut utama yang menghubungkan sistem penciuman dengan area otonom adalah medial forebrain bundle dan stria medularis talamus. Emosi yang menyertai rangsangan olfaktorius mungkin berkaitan ke serat yang berhubungan dengan talamus, hipotalamus dan sistem limbik. 2) SARAF OPTIKUS (N. II) Saraf Optikus merupakan saraf sensorik murni yang dimulai di retina. Serabut-serabut saraf ini, ini melewati foramen optikum di dekat arteri optalmika dan bergabung dengan saraf dari sisi lainnya pada dasar otak untuk membentuk kiasma optikum. Orientasi

spasial serabut-serabut dari berbagai bagian fundus masih utuh sehingga serabut-serabut dari bagian bawah retina ditemukan pada bagian inferior kiasma optikum dan sebaliknya. Serabut-serabut dari lapangan visual temporal (separuh bagian nasal retina) menyilang kiasma, sedangkan yang berasal dari lapangan visual nasal tidak menyilang. Serabutserabut untuk indeks cahaya yang berasal dari kiasma optikum berakhir di kolikulus superior, dimana terjadi hubungan dengan kedua nuklei saraf okulomotorius. Sisa serabut yang meninggalkan kiasma berhubungan dengan penglihatan dan berjalan di dalam traktus optikus menuju korpus genikulatum lateralis. Dari sini serabut-serabut yang berasal dari radiasio optika melewati bagian posterior kapsula interna dan berakhir di korteks visual lobus oksipital. Dalam perjalanannya serabut-serabut tersebut memisahkan diri sehingga serabut-serabut untuk kuadran bawah melalui lobus parietal sedangkan untuk kuadaran atas melalui lobus temporal. Akibat dari dekusasio serabut-serabut tersebut pada kiasma optikum serabutserabut yang berasal dari lapangan penglihatan kiri berakhir di lobus oksipital kanan dan sebaliknya. 3) SARAF OKULOMOTORIUS (N. III) Nukleus saraf okulomotorius terletak sebagian di depan substansia grisea periakuaduktal (Nukleus motorik) dan sebagian lagi di dalam substansia grisea (Nukleus otonom). Nukleus motorik bertanggung jawab untuk persarafan otot-otot rektus medialis, superior, dan inferior, otot oblikus inferior dan otot levator palpebra superior. Nukleus otonom atau nukleus Edinger-westhpal yang bermielin sangat sedikit mempersarafi otot-otot mata inferior yaitu spingter pupil dan otot siliaris. 4) SARAF TROKLEARIS (N. IV) Nukleus saraf troklearis terletak setinggi kolikuli inferior di depan substansia grisea periakuaduktal dan berada di bawah Nukleus okulomotorius. Saraf ini merupakan satusatunya saraf kranialis yang keluar dari sisi dorsal batang otak. Saraf troklearis mempersarafi otot oblikus superior untuk menggerakkan mata bawah, kedalam dan abduksi dalam derajat kecil. 5) SARAF TRIGEMINUS (N. V) Saraf trigeminus bersifat campuran terdiri dari serabut-serabut motorik dan serabutserabut sensorik. Serabut motorik mempersarafi otot masseter dan otot temporalis. Serabut-serabut sensorik saraf trigeminus dibagi menjadi tiga cabang utama yatu saraf oftalmikus, maksilaris, dan mandibularis. Daerah sensoriknya mencakup daerah kulit, dahi, wajah, mukosa mulut, hidung, sinus. Gigi maksilar dan mandibula, dura dalam fosa kranii anterior dan tengah bagian anterior telinga luar dan kanalis auditorius serta bagian membran timpani.

6) SARAF ABDUSENS (N. VI) Nukleus saraf abdusens terletak pada masing-masing sisi pons bagian bawah dekat medula oblongata dan terletak dibawah ventrikel ke empat saraf abdusens mempersarafi otot rektus lateralis. 7) SARAF FASIALIS (N. VII) Saraf fasialis mempunyai fungsi motorik dan fungsi sensorik fungsi motorik berasal dari Nukleus motorik yang terletak pada bagian ventrolateral dari tegmentum pontin bawah dekat medula oblongata. Fungsi sensorik berasal dari Nukleus sensorik yang muncul bersama nukleus motorik dan saraf vestibulokoklearis yang berjalan ke lateral ke dalam kanalis akustikus interna. Serabut motorik saraf fasialis mempersarafi otot-otot ekspresi wajah terdiri dari otot orbikularis okuli, otot buksinator, otot oksipital, otot frontal, otot stapedius, otot stilohioideus, otot digastriktus posterior serta otot platisma. Serabut sensorik menghantar persepsi pengecapan bagian anterior lidah. 8) SARAF VESTIBULOKOKLEARIS (N. VIII) Saraf vestibulokoklearis terdiri dari dua komponen yaitu serabut-serabut aferen yang mengurusi pendengaran dan vestibuler yang mengandung serabut-serabut aferen yang mengurusi keseimbangan. Serabut-serabut untuk pendengaran berasal dari organ corti dan berjalan menuju inti koklea di pons, dari sini terdapat transmisi bilateral ke korpus genikulatum medial dan kemudian menuju girus superior lobus temporalis. Serabutserabut untuk keseimbangan mulai dari utrikulus dan kanalis semisirkularis dan bergabung dengan serabut-serabut auditorik di dalam kanalis fasialis. Serabut-serabut ini kemudian memasuki pons, serabut vestibutor berjalan menyebar melewati batang dan serebelum. 9) SARAF GLOSOFARINGEUS (N. IX) Saraf Glosofaringeus menerima gabungan dari saraf vagus dan asesorius pada waktu meninggalkan kranium melalui foramen tersebut, saraf glosofaringeus mempunyai dua ganglion, yaitu ganglion intrakranialis superior dan ekstrakranialis inferior. Setelah melewati foramen, saraf berlanjut antara arteri karotis interna dan vena jugularis interna ke otot stilofaringeus. Di antara otot ini dan otot stiloglosal, saraf berlanjut ke basis lidah dan mempersarafi mukosa faring, tonsil dan sepertiga posterior lidah. 10) SARAF VAGUS (N. X) Saraf vagus juga mempunyai dua ganglion yaitu ganglion superior atau jugulare dan ganglion inferior atau nodosum, keduanya terletak pada daerah foramen jugularis, saraf vagus mempersarafi semua visera toraks dan abdomen dan menghantarkan impuls dari dinding usus, jantung dan paru-paru.

11) SARAF ASESORIUS (N. XI) Saraf asesorius mempunyai radiks spinalis dan kranialis. Radiks kranial adalah akson dari neuron dalam nukleus ambigus yang terletak dekat neuron dari saraf vagus. Saraf aksesoris adalah saraf motorik yang mempersarafi otot sternokleidomastoideus dan bagian atas otot trapezius, otot sternokleidomastoideus berfungsi memutar kepala ke samping dan otot trapezius memutar skapula bila lengan diangkat ke atas. 12) SARAF HIPOGLOSUS (N. XII) Nukleus saraf hipoglosus terletak pada medula oblongata pada setiap sisi garis tengah dan depan ventrikel ke empat dimana semua menghasilkan trigonum hipoglosus. Saraf hipoglosus merupakan saraf motorik untuk lidah dan mempersarafi otot lidah yaitu otot stiloglosus, hipoglosus dan genioglosus. II. 3. PEMERIKSAAN SARAF KRANIALIS. a. Saraf Olfaktorius (N. I) Saraf ini tidak diperiksa secara rutin, tetapi harus dikerjakan jika terdapat riwayat tentang hilangnya rasa pengecapan dan penciuman, kalau penderita mengalami cedera kepala sedang atau berat, dan atau dicurigai adanya penyakit-penyakit yang mengenai bagian basal lobus frontalis. Untuk menguji saraf olfaktorius digunakan bahan yang tidak merangsang seperti kopi, tembakau, parfum atau rempah-rempah. Letakkan salah satu bahan-bahan tersebut di depan salah satu lubang hidung orang tersebut sementara lubang hidung yang lain kita tutup dan pasien menutup matanya. Kemudian pasien diminta untuk memberitahu saat mulai terhidunya bahan tersebut dan kalau mungkin mengidentifikasikan bahan yang di hidu. b. Saraf Optikus (N. II) Pemeriksaan meliputi penglihatan sentral (Visual acuity), penglihatan perifer (visual field), refleks pupil, pemeriksaan fundus okuli serta tes warna. i. Pemeriksaan penglihatan sentral (visual acuity) Penglihatan sentral diperiksa dengan kartu snellen, jari tangan, dan gerakan tangan. Kartu snellen Pada pemeriksaan kartu memerlukan jarak enam meter antara pasien dengan tabel, jika tidak terdapat ruangan yang cukup luas, pemeriksaan ini bisa dilakukan dengan cermin. Ketajaman penglihatan normal bila baris yang bertanda 6 dapat dibaca dengan tepat oleh setiap mata (visus 6/6)

Jari tangan Normal jari tangan bisa dilihat pada jarak 3 meter tetapi bisa melihat pada jarak 2 meter, maka perkiraan visusnya adalah kurang lebih 2/60. Gerakan tangan Normal gerakan tangan bisa dilihat pada jarak 2 meter tetapi bisa melihat pada jarak 1 meter berarti visusnya kurang lebih 1/310. ii. Pemeriksaan Penglihatan Perifer Pemeriksaan penglihatan perifer dapat menghasilkan informasi tentang saraf optikus dan lintasan penglihatan mulai dair mata hingga korteks oksipitalis. Penglihatan perifer diperiksa dengan tes konfrontasi atau dengan perimetri / kompimetri. Tes Konfrontasi - Jarak antara pemeriksa pasien : 60 100 cm - Objek yang digerakkan harus berada tepat di tengah-tengah jarak tersebut. - Objek yang digunakan (2 jari pemeriksa / ballpoint) di gerakan mulai dari lapang pandang kahardan kiri (lateral dan medial), atas dan bawah dimana mata lain dalam keadaan tertutup dan mata yang diperiksa harus menatap lururs kedepan dan tidak boleh melirik kearah objek tersebut. - Syarat pemeriksaan lapang pandang pemeriksa harus normal. Perimetri / kompimetri - Lebih teliti dari tes konfrontasi - Hasil pemeriksaan di proyeksikan dalam bentuk gambar di sebuah kartu. iii. Refleks Pupil Saraf aferen berasal dari saraf optikal sedangkan saraf aferennya dari saraf occulomotorius. Ada dua macam refleks pupil. Respon cahaya langsung

Pakailah senter kecil, arahkan sinar dari samping (sehingga pasien tidak memfokus pada cahaya dan tidak berakomodasi) ke arah salah satu pupil untuk melihat reaksinya terhadap cahaya. Inspeksi kedua pupil dan ulangi prosedur ini pada sisi lainnya. Pada keadaan normal pupil yang disinari akan mengecil. Respon cahaya konsensual Jika pada pupil yang satu disinari maka secara serentak pupil lainnya mengecil dengan ukuran yang sama. iv. Pemeriksaan fundus occuli (fundus kopi) Digunakan alat oftalmoskop. Putar lensa ke arah O dioptri maka fokus dapat diarahkan kepada fundus, kekeruhan lensa (katarak) dapat mengganggu pemeriksaan fundus. Bila retina sudah terfokus carilah terlebih dahulu diskus optikus. Caranya adalah dengan mengikuti perjalanan vena retinalis yang besar ke arah diskus. Semua vena-vena ini keluar dari diskus optikus. v. Tes warna Untuk mengetahui adanya polineuropati pada n. optikus. c. Saraf okulomotoris (N. III) Pemeriksaan meliputi ; Ptosis, Gerakan bola mata dan Pupil 1. Ptosis Pada keadaan normal bila seseorang melihat ke depan maka batas kelopak mata atas akan memotong iris pada titik yang sama secara bilateral. Ptosis dicurigai bila salah satu kelopak mata memotong iris lebih rendah dari pada mata yang lain, atau bila pasien mendongakkan kepal ke belakang / ke atas (untuk kompensasi) secara kronik atau mengangkat alis mata secara kronik pula. 2. Gerakan bola mata. Pasien diminta untuk melihat dan mengikuti gerakan jari atau ballpoint ke arah medial, atas, dan bawah, sekligus ditanyakan adanya penglihatan ganda (diplopia) dan dilihat ada tidaknya nistagmus. Sebelum pemeriksaan gerakan bola mata (pada keadaan diam) sudah dilihat adanya strabismus (juling) dan deviasi conjugate ke satu sisi. 3. Pupil Pemeriksaan pupil meliputi : i. Bentuk dan ukuran pupil

ii. Perbandingan pupil kanan dan kiri Perbedaan pupil sebesar 1mm masih dianggap normal iii. Refleks pupil Meliputi pemeriksaan : 1. Refleks cahaya langsung (bersama N. II) 2. Refleks cahaya tidak alngsung (bersama N. II) 3. Refleks pupil akomodatif atau konvergensi Bila seseorang melihat benda didekat mata (melihat hidungnya sendiri) kedua otot rektus medialis akan berkontraksi. Gerakan kedua bola mata ini disebut konvergensi. Bersamaan dengan gerakan bola mata tersebut maka kedua pupil akan mengecil (otot siliaris berkontraksi) (Tejuwono) atau pasien disuruh memandang jauh dan disuruh memfokuskan matanya pada suatu objek diletakkan pada jarak 15 cm didepan mata pasien dalam keadaan normal terdapat konstriksi pada kedua pupil yang disebut reflek akomodasi. d. Saraf Troklearis (N. IV) Pemeriksaan meliputi 1. gerak mata ke lateral bawah 2. strabismus konvergen 3. diplopia e. Saraf Trigeminus (N. V) Pemeriksaan meliputi; sensibilitas, motorik dan refleks 1. Sensibilitas Ada tiga cabang sensorik, yaitu oftalmik, maksila, mandibula. Pemeriksaan dilakukan pada ketiga cabang saraf tersebut dengan membandingkan sisi yang satu dengan sisi yang lain. Mula-mula tes dengan ujung yang tajam dari sebuah jarum yang baru. Pasien menutup kedua matanya dan jarum ditusukkan dengan lembut pada kulit, pasien ditanya apakah terasa tajam atau tumpul. Hilangnya sensasi nyeri akan menyebabkan tusukan terasa tumpul. Daerah yang menunjukkan sensasi yang tumpul harus digambar dan pemeriksaan harus di lakukan dari daerah yang terasa tumpul menuju daerah yang terasa tajam. Juga dilakukan dari daerah yang terasa tumpul menuju daerah yang terasa tajam.

Juga lakukan tes pada daerah di atas dahi menuju belakang melewati puncak kepala. Jika cabang oftalmikus terkena sensasi akan timbul kembali bila mencapai dermatom C2. Temperatur tidak diperiksa secara rutin kecuali mencurigai siringobulbia, karena hilangnya sensasi temperatur terjadi pada keadaan hilangnya sensasi nyeri, pasien tetap menutup kedua matanya dan lakukan tes untuk raba halus dengan kapas yang baru dengan cara yang sama. Pasien disuruh mengatakan ya setiap kali dia merasakan sentuhan kapas pada kulitnya. 2. Motorik Pemeriksaan dimulai dengan menginspeksi adanya atrofi otot-otot temporalis dan masseter. Kemudian pasien disuruh mengatupkan giginya dan lakukan palpasi adanya kontraksi masseter diatas mandibula. Kemudian pasien disuruh membuka mulutnya (otototot pterigoideus) dan pertahankan tetap terbuka sedangkan pemeriksa berusaha menutupnya. Lesi unilateral dari cabang motorik menyebabkan rahang berdeviasi kearah sisi yang lemah (yang terkena). 3. Refleks Pemeriksaan refleks meliputi - Refleks kornea a. Langsung Pasien diminta melirik ke arah laterosuperior, kemudian dari arah lain kapas disentuhkan pada kornea mata, misal pasien diminta melirik kearah kanan atas maka kapas disentuhkan pada kornea mata kiri dan lakukan sebaliknya pada mata yang lain. Kemudian bandingkan kekuatan dan kecepatan refleks tersebut kanan dan kiri saraf aferen berasal dari N. V tetapi eferannya (berkedip) berasal dari N.VII. b. Tak langsung (konsensual) Sentuhan kapas pada kornea atas akan menimbulkan refleks menutup mata pada mata kiri dan sebaliknya kegunaan pemeriksaan refleks kornea konsensual ini sama dengan refleks cahaya konsensual, yaitu untuk melihat lintasan mana yang rusak (aferen atau eferen). - Refleks bersin (nasal refleks) - Refleks masseter Untuk melihat adanya lesi UMN (certico bultar) penderita membuka mulut secukupnya (jangan terlalu lebar) kemudian dagu diberi alas jari tangan pemeriksa diketuk mendadak dengan palu refleks. Respon normal akan negatif yaitu tidak ada penutupan mulut atau positif lemah yaitu penutupan mulut ringan. Sebaliknya pada lesi UMN akan terlihat penutupan mulut yang kuat dan cepat.

f. Saraf abdusens (N. VI) Pemeriksaan meliputi gerakan mata ke lateral, strabismus konvergen dan diplopia tandatanda tersebut maksimal bila memandang ke sisi yang terkena dan bayangan yang timbul letaknya horizonatal dan sejajar satu sama lain. g. Saraf fasialis (N. VII) Pemeriksaan saraf fasialis dilakukan saat pasien diam dan atas perintah (tes kekuatan otot) saat pasien diam diperhatikan : Asimetri wajah Kelumpuhan nervus VIII dapat menyebabkan penurunan sudut mulut unilateral dan kerutan dahi menghilang serta lipatan nasolabial, tetapi pada kelumpuhan nervus fasialis bilateral wajah masih tampak simetrik Gerakan-gerakan abnormal (tic facialis, grimacing, kejang tetanus/rhisus sardonicus tremor dan seterusnya ). Ekspresi muka (sedih, gembira, takut, seperti topeng) - Tes kekuatan otot 1. Mengangkat alis, bandingkan kanan dan kiri. 2. Menutup mata sekuatnya (perhatikan asimetri) kemudioan pemeriksa mencoba membuka kedua mata tersebut bandingkan kekuatan kanan dan kiri. 3. Memperlihatkan gigi (asimetri) 4. Bersiul dan menculu (asimetri / deviasi ujung bibir) 5. meniup sekuatnya, bandingkan kekuatan uadara dari pipi masing-masing. 6. Menarik sudut mulut ke bawah. - Tes sensorik khusus (pengecapan) 2/3 depan lidah) Pemeriksaan dengan rasa manis, pahit, asam, asin yang disentuhkan pada salah satu sisi lidah. - Hiperakusis Jika ada kelumpuhan N. Stapedius yang melayani otot stapedius maka suara-suara yang diterima oleh telinga pasien menjadi lebih keras intensitasnya.

h. Saraf Vestibulokokhlearis (N. VIII) Ada dua macam pemeriksaan yaitu pemeriksaan pendengaran dan pemeriksaan fungsi vestibuler 1) Pemeriksaan pendengaran Inspeksi meatus akustikus akternus dari pasien untuk mencari adanya serumen atau obstruksi lainnya dan membrana timpani untuk menentukan adanya inflamasi atau perforasi kemudian lakukan tes pendengaran dengan menggunakan gesekan jari, detik arloji, dan audiogram. Audiogram digunakan untuk membedakan tuli saraf dengan tuli konduksi dipakai tes Rinne dan tes Weber. - Tes Rinne Garpu tala dengan frekuensi 256 Hz mula-mula dilakukan pada prosesus mastoideus, dibelakang telinga, dan bila bunyi tidak lagi terdengar letakkan garpu tala tersebut sejajar dengan meatus akustikus oksterna. Dalam keadaan norma anda masih terdengar pada meatus akustikus eksternus. Pada tuli saraf anda masih terdengar pada meatus akustikus eksternus. Keadaan ini disebut Rinne negatif. - Tes Weber Garpu tala 256 Hz diletakkan pada bagian tengah dahi dalam keadaan normal bunyi akan terdengar pada bagian tengah dahi pada tuli saraf bunyi dihantarkan ke telinga yang normal pada tuli konduktif bunyi tedengar lebih keras pada telinga yang abnormal. 2) Pemeriksaan Fungsi Vestibuler Pemeriksaan fungsi vestibuler meliputi : nistagmus, tes romberg dan berjalan lurus dengan mata tertutup, head tilt test (Nylen Baranny, dixxon Hallpike) yaitu tes untuk postural nistagmus. i. Saraf glosofaringeus (N. IX) dan saraf vagus (N. X) Pemeriksaan N. IX dan N X. karena secara klinis sulit dipisahkan maka biasanya dibicarakan bersama-sama, anamnesis meliputi kesedak / keselek (kelumpuhan palatom), kesulitan menelan dan disartria(khas bernoda hidung / bindeng). Pasien disuruh membuka mulut dan inspeksi palatum dengan senter perhatikan apakah terdapat pergeseran uvula, kemudian pasien disuruh menyebut ah jika uvula terletak ke satu sisi maka ini menunjukkan adanya kelumpuhan nervus X unilateral perhatikan bahwa uvula tertarik kearah sisi yang sehat. Sekarang lakukan tes refleks muntah dengan lembut (nervus IX adalah komponen sensorik dan nervus X adalah komponen motorik). Sentuh bagian belakang faring pada setiap sisi dengan spacula, jangan lupa menanyakan kepada pasien apakah ia merasakan

sentuhan spatula tersebut (N. IX) setiap kali dilakukan. Dalam keadaaan normal, terjadi kontraksi palatum molle secara refleks. Jika konraksinya tidak ada dan sensasinya utuh maka ini menunjukkan kelumpuhan nervus X, kemudian pasien disuruh berbicara agar dapat menilai adanya suara serak (lesi nervus laringeus rekuren unilateral), kemudian disuruh batuk , tes juga rasa kecap secara rutin pada sepertinya posterior lidah (N. IX). j. Saraf Asesorius (N. XI) Pemeriksaan saraf asesorius dengan cara meminta pasien mengangkat bahunya dan kemudian rabalah massa otot trapezius dan usahakan untuk menekan bahunya ke bawah, kemudian pasien disuruh memutar kepalanya dengan melawan tahanan (tangan pemeriksa) dan juga raba massa otot sternokleido mastoideus. k. Saraf Hipoglosus (N. XII) Pemeriksaan saraf Hipoglosus dengan cara; Inspeksi lidah dalam keadaan diam didasar mulut, tentukan adanya atrofi dan fasikulasi (kontraksi otot yang halus iregular dan tidak ritmik). Fasikulasi dapat unilateral atau bilateral. Pasien diminta menjulurkan lidahnya yang berdeviasi ke arah sisi yang lemah (terkena) jika terdapat lesi upper atau lower motorneuron unilateral. Lesi UMN dari N XII biasanya bilateral dan menyebabkan lidah imobil dan kecil. Kombinasi lesi UMN bilateral dari N. IX. X, XII disebut kelumpuhan pseudobulbar. II.4. KELAINAN YANG DAPAT MENIMBULKAN GANGGUAN PADA NERVUS CRANIALIS. 1) Saraf Olfaktorius. (N.I) Kelainan pada nervus olfaktovius dapat menyebabkan suatu keadaan berapa gangguan penciuman sering dan disebut anosmia, dan dapat bersifat unilatral maupun bilateral. Pada anosmia unilateral sering pasien tidak mengetahui adanya gangguan penciuman. Proses penciuman dimulai dari sel-sel olfakrorius di hidung yang serabutnya menembus bagian kribiformis tulang ethmoid di dasar di dasar tengkorak dn mencapai pusat penciuman lesi atau kerusakan sepanjang perjalanan impuls penciuman akan mengakibatkan anosmia. Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan penciuman berupa: Agenesis traktus olfaktorius Penyakit mukosa olfaktorius bro rhinitis dan tumor nasal

Sembuhnya rhinitis berarti juga pulihnya penciuman, tetapi pada rhinitis kronik, dimana mukosa ruang hidung menjadi atrofik penciuman dapat hilang untuk seterusnya. Destruksi filum olfaktorius karena fraktur lamina feribrosa. Destruksi bulbus olfaktorius dan traktus akibat kontusi countre coup, biasanya disebabkan karena jatuh pada belakang kepala. Anosmia unilateral atau bilalteral mungkin merupakan satu-satunya bukti neurologis dari trauma vegio orbital. Sinusitas etmoidalis, osteitis tulang etmoid, dan peradangan selaput otak didekatnya. Tumor garis tengah dari fosa kranialis anterior, terutama meningioma sulkus olfaktorius (fossa etmoidalis), yang dapat menghasilkan trias berupa anosmia, sindr foster kennedy, dan gangguan kepribadian jenis lobus orbitalis. Adenoma hipofise yang meluas ke rostral juga dapat merusak penciuman. Penyakit yang mencakup lobus temporalis anterior dan basisnya (tumor intrinsik atau ekstrinsik). Pasien mungkin tidak menyadari bahwa indera penciuman hilang sebaliknya, dia mungkin mengeluh tentang rasa pengecapan yang hilang, karena kemampuannya untuk merasakan aroma, suatu sarana yang penting untuk pengecapan menjadi hilang. 2) Saraf Optikus (N.II) Kelainan pada nervus optikus dapat menyebabkan gangguan penglihatan. Gangguan penglihatan dapat dibagi menjadi gangguan visus dan gangguan lapangan pandang. Kerusakan atau terputusnya jaras penglitan dapat mengakibatkan gangguan penglihatan kelainan dapat terjadi langsung pada nevrus optikus itu sendiri atau sepanjang jaras penglihatan yaitu kiasma optikum, traktus optikus, radiatio optika, kortek penglihatan. Bila terjadi kelainan berat makan dapat berakhir dengan kebutaan. Orang yang buta kedua sisi tidak mempunyai lapang pandang, istilah untuk buta ialah anopia atau anopsia. Apabila lapang pandang kedua mata hilang sesisi, maka buta semacam itu dinamakan hemiopropia. Berbagai macam perubahan pada bentuk lapang pandang mencerminkan lesi pada susunan saraf optikus. Perubahan tersebut seperti tertera pada gambar 1. Kelainan atau lesi pada nervus optikus dapat disebabkan oleh: 1. Trauma Kepala 2. Tumor serebri (kraniofaringioma, tumor hipfise, meningioma, astrositoma) 3. Kelainan pembuluh darah

Misalnya pada trombosis arteria katotis maka pangkal artera oftalmika dapat ikut tersumbat jug. Gambaran kliniknya berupa buta ipsilateral. 4. Infeksi. Pada pemeriksaan funduskopi dapat dilihat hal-hal sebagai berikut: a. Papiledema (khususnya stadium dini) Papiledema ialah sembab pupil yang bersifat non-infeksi dan terkait pada tekanan intrakkranial yang meninggi, dapat disebabkan oleh lesi desak ruang, antara lain hidrocefalus, hipertensi intakranial benigna, hipertensi stadium IV. Trombosis vena sentralis retina. b. Atrofi optik Dapat disebabkan oleh papiledema kronik atau papilus, glaukoma, iskemia, famitral, misal: retinitis pigmentosa, penyakit leber, ataksia friedrich. c. Neuritis optik. 3) Saraf Okulomotorius (N.III) Kelainan berupa paralisis nervus okulomatorius menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak ke medial, ke atas dan lateral, kebawah dan keluar. Juga mengakibatkan gangguan fungsi parasimpatis untuk kontriksi pupil dan akomodasi, sehingga reaksi pupil akan berubah. N. III juga menpersarafi otot kelopak mata untuk membuka mata, sehingga kalau lumpuh, kelopak mata akan jatuh ( ptosis) Kelumpuhan okulomotorius lengkap memberikan sindrom di bawah ini: 1. Ptosis, disebabkan oleh paralisis otot levator palpebra dan tidak adanya perlawanan dari kerja otot orbikularis okuli yang dipersarafi oleh saraf fasialis. 2. Fiksasi posisi mata, dengan pupil ke arah bawah dan lateral, karena tak adanya perlawanan dari kerja otot rektus lateral dan oblikus superior. 3. Pupil yang melebar, tak bereaksi terhadap cahaya dan akomodasi. Jika seluruh otot mengalami paralisis secara akut, kerusakan biasanya terjadi di perifer, paralisis otot tunggal menandakan bahwa kerusakan melibatkan nukleus okulomotorius. Penyebab kerusakan diperifer meliputi; a). Lesi kompresif seperti tumor serebri, meningitis basalis, karsinoma nasofaring dan lesi orbital. b). Infark seperti pada arteritis dan diabetes.

4) Saraf Troklearis (N. IV) Kelainan berupa paralisis nervus troklearis menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak kebawah dan kemedial. Ketika pasien melihat lurus kedepan atas, sumbu dari mata yang sakit lebih tinggi daripada mata yang lain. Jika pasien melihat kebawah dan ke medial, mata berotasi dipopia terjadi pada setiap arah tatapan kecuali paralisis yang terbatas pada saraf troklearis jarang terjadi dan sering disebabkan oleh trauma, biasanya karena jatuh pada dahi atu verteks. 5) Saraf Abdusens (N. VI) Kelainan pada paralisis nervus abdusens menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak ke lateral, ketika pasien melihat lurus ke atas, mata yang sakit teradduksi dan tidak dapat digerakkan ke lateral, ketika pasien melihat ke arah nasal, mata yang paralisis bergerak ke medial dan ke atas karena predominannya otot oblikus inferior. Jika ketiga saraf motorik dari satu mata semuanya terganggu, mata tampak melihat lurus keatas dan tidak dapat digerakkan kesegala arah dan pupil melebar serta tidak bereaksi terhadap cahaya (oftalmoplegia totalis). Paralisis bilateral dari otot-otot mata biasanya akibat kerusakan nuklear. Penyebab paling sering dari paralisis nukleus adalah ensefelaitis, neurosifilis, mutiple sklerosis, perdarahan dan tumor. Penyebab yang paling sering dari kelumpuhan otot-otot mata perifer adalah meningitis, sinusistis, trombosis sinus kavernosus, anevrisma arteri karotis interva atau arteri komunikantes posterior, fraktur basis kranialis. 6) Saraf Trigeminus (N. V) Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan pada nerus trigeminus antara lain : Tumor pada bagian fosa posterior dapat menyebabkan kehilangan reflek kornea, dan rasa baal pada wajah sebagai tanda-tanda dini. Gangguan nervus trigeminus yang paling nyata adalah neuralgia trigeminal atau tic douloureux yang menyebabkan nyeri singkat dan hebat sepanjang percabangan saraf maksilaris dan mandibularis dari nervus trigeminus. Janeta (1981) menemukan bahwa penyebab tersering dari neurolgia trigeminal dicetuskan oleh pembuluh darah. Paling sering oleh arteri serebelaris superior yang melingkari radiks saraf paling proksimal yang masih tak bermielin. Kelainan berapa lesi ensefalitis akut di pons dapat menimbulkan gangguan berupa trismus, yaitu spasme tonik dari otot-otot pengunyah. Karena tegangan abnormal yang kuat pada otot ini mungkin pasien tidak bisa membuka mulutnya. 7) Saraf Fasialis (N. VII)

Kelainan yang dapat menyebabkan paralis nervus fasialis antara lain: Lesi UMN (supranuklear) : tumor dan lesi vaskuler. Lesi LMN : - Penyebab pada pons, meliputi tumor, lesi vaskuler dan siringobulbia. - Pada fosa posterior, meliputi neuroma akustik, meningioma, dan meningitis kronik. - Pada pars petrosa os temporalis dapat terjadi Bells palsy, fraktur, sindroma Rumsay Hunt, dan otitis media. Penyebab kelumpuhan fasialis bilateral antara lain Sindrom Guillain Barre, mononeuritis multipleks, dan keganasan parotis bilateral. Penyebab hilangnya rasa kecap unilateral tanpa kelainan lain dapat terjadi pada lesi telinga tengah yang meliputi Korda timpani atau nervus lingualis, tetapi ini sangat jarang. Gangguan nervus fasialis dapat mengakibatkan kelumpuhan otot-otot wajah, kelopak mata tidak bisa ditutup, gangguan air mata dan ludah, gangguan rasa pengecap di bagian belakang lidah serta gangguan pendengaran (hiperakusis). Kelumpuhan fungsi motorik nervus fasialis mengakibatkan otot-otot wajah satu sisi tidak berfungsi, ditandai dengan hilangnya lipatan hidung bibir, sudut mulut turun, bibir tertarik kesisi yang sehat. Pasien akan mengalami kesulitan mengunyah dan menelan. Air ludah akan keluar dari sudut mulut yang turun. Kelopak mata tidak bisa menutup pada sisi yang sakit, terdapat kumpulan air mata di kelopak mata bawah (epifora). Refleks kornea pada sisi sakit tidak ada. 8) Saraf Vestibulokoklearis Kelainan pada nervus vestibulokoklearis dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan keseimbangan (vertigo). Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan pada nervus VIII antara lain: Gangguan pendengaran, berupa : - Tuli saraf dapat disebabkan oleh tumor, misal neuroma akustik. Degenerasi misal presbiaksis. Trauma, misal fraktur pars petrosa os temporalis, toksisitas misal aspirin, streptomisin atau alkohol, infeksi misal, sindv rubella kongenital dan sifilis kongenital. - Tuli konduktif dapat disebabkan oleh serumen, otitis media, otoskleroris dan penyakit Paget. Gangguan Keseimbangan dengan penyebab kelainan vestibuler

- Pada labirin meliputi penyakit meniere, labirinitis akut, mabuk kendaraan, intoksikasi streptomisin. - Pada vestibuler meliputi semua penyebab tuli saraf ditambah neuronitis vestibularis. - Pada batang otak meliputi lesi vaskuler, tumor serebelum atau tumor ventrikel IV demielinisasi. - Pada lobus temporalis meliputi epilepsi dan iskemia. 9) Saraf Glosofaringeus (N. IX) dan Saraf Vagus (N. X) Gangguan pada komponen sensorik dan motorik dari N. IX dan N. X dapat mengakibatkan hilangnya refleks menelan yang berisiko terjadinya aspirasi paru. Kehilangan refleks ini pada pasien akan menyebabkan pneumonia aspirasi, sepsis dan adult respiratory distress syndome (ARDS) kondisi demikian bisa berakibat pada kematian. Gangguan nervus IX dan N. X menyebabkan persarafan otot-otot menelan menjadi lemah dan lumpuh. Cairan atau makanan tidak dapat ditelan ke esofagus melainkan bisa masuk ke trachea langsung ke paru-paru. Kelainan yang dapat menjadi penyebab antara lain : Lesi batang otak (Lesi N IX dan N. X) Syringobulbig (cairan berkumpul di medulla oblongata) Pasca operasi trepansi serebelum Pasca operasi di daerah kranioservikal 10) Saraf Asesorius (N. XI) Gangguan N. XI mengakibatkan kelemahan otot bahu (otot trapezius) dan otot leher (otot sterokleidomastoideus). Pasien akan menderita bahu yang turun sebelah serta kelemahan saat leher berputar ke sisi kontralateral. Kelainan pada nervus asesorius dapat berupa robekan serabut saraf, tumor dan iskemia akibatnya persarafan ke otot trapezius dan otot stemokleidomastoideus terganggu. 11) Saraf Hipoglossus (N. XII) Kerusakan nervus hipoglossus dapat disebabkan oleh kelainan di batang otak, kelainan pembuluh darah, tumor dan syringobulbia. Kelainan tersebut dapat menyebabkan gangguan proses pengolahan makanan dalam mulut, gangguan menelan dan gangguan

proses pengolahan makanan dalam mulut, gangguan menelan dan gangguan bicara (disatria) jalan nafas dapat terganggu apabila lidah tertarik ke belakang. Pada kerusakan N. XII pasien tidak dapat menjulurkan, menarik atau mengangkat lidahnya. Pada lesi unilateral, lidah akan membelok kearah sisi yang sakit saat dijulurkan. Saat istirahat lidah membelok ke sisi yang sehat di dalam mulut.