Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG Besi dan baja merupakan material yang sangat diperlukan pada peradaban modern. Permintaan besi dan baja semakin tinggi seiring dengan kemajuan pembangunan di negara berkembang, pesatnya pertumbuhan pada teknologi transportasi, teknologi pertanian dan mesin. Indonesia merupakan salah satu negara yang terus mengembangkan pembangunan pada sektor transportasi, bangunan dan pertanian. Permintaan besi dan baja semakin tinggi tiap tahunnya. Berdasarkan data kementrian Perindustrian konsumsi baja nasional tahun 2009 mencapai angka 6,6 juta ton, dan hanya butuh waktu 2 tahun, konsumsi baja meningkat 100%, yaitu pada tahun 2011 konsumsi baja mencapai 12 juta ton, sedangkan produksi baja lokal hanya 3,5 juta ton pada 2009 dan 8 juta ton pada 2012 dan sisanya berasal dari impor. Untuk membantu menutupi angka impor baja Indonesia, akan dibangun pabrik baja lokal baru pada 2015, dengan menggunakan pasir besi sebagai bahan baku. Pasir besi merupakan bahan mineral yang bercampur dengan magnetit, titaniferous, limonit, hematit, kuarsa dll. Pasir besi dapat dengan mudah ditemukan di beberapa pantai di wilayah Jawa (bagian selatan), yaitu di pantai di Lumajang, Cilacap, Yogyakarta.

Sumber: Kementrian ESDM RI, 2008 Gambar 1.1 Peta penyebaran pasir besi di Indonesia

I-1

Kabupaten bagian barat provinsi Y, memiliki potensi cadangan pasir besi yang cukup besar di Indonesia. Area yang mengandung pasir besi mencapai 60.000 Ha dengan ukuran sebesar kerikil atau 2mm. Karakteristik pasir besi bagian barat mempunyai kadar Fe sekitar 50%, yang mengandung bahan pengotor seperti titanium dan vanadium. I.2. BAHAN BAKU DAN PRODUK Bahan baku pembuatan pig iron adalah: pasir besi, kokas dan batu kapur. 1. Pasir besi Untuk memperoleh besi dan baja diperlukan kadar besi yang tinggi. Berikut komposisi pasir besi. Tabel 1.1 Komposisi pasir besi di Indonesia Komponen Fe2O3 SiO2 Al2O3 CaO TiO2 V2O5 Pasir % Berat 60,23 19,7 7,3 3,03 5,92 0,62 3,2

Sumber: Situs Resmi Pemerintah kabupaten Lumajang

Kebanyakan bijih besi terdiri dari extractable minerals atau orebody dan extraneous rocky material atau gangue. Bagian extractable ini terdiri dari senyawa oksida. Secara teknis, besi murni (96 98% Fe) direduksi dari bijih besi pada blast furnace. Gangue merupakan bakal dari slag, produk samping dari blast furnace. Senyawa oksida pada orebody biasanya berupa hematite (Fe2O3), magnetite (Fe3O4) dll. Kandungan besi pada hematite sangat tinggi, secara teoritis hematite mengandung 70% Fe dan 30% O2. Berikut sifat-sifat dari hematite: 2. Kokas Kokas merupakan batubara yang telah dikarbonasi. Fungsi kokas pada proses blast furnace adalah sebagai sumber energi panas, dan pemasok unsur karbon (C). I-2 Appearance Melting Point Density : Bubuk merah kecoklatan : 1565C : 5,24 g cm-3

Kokas yang digunakan mengandung unsur karbon > 82%. Komposisi kokas yang digunakan saat ini mengandung 96% unsur C dan sisanya berupa ash. 3. Batu kapur Batu kapur berfungsi sebagai flux, campuran aliran untuk merendahkan titik lebur gangue dari bijih besi. Berikut komposisi penyusun batu kapur dan sifat-sifat dari batu kapur yang digunakan: Tabel 1.2 Komposisi Batu kapur Komponen CaCO3 Al2O3 SiO2 Fe2O3 % berat 97,79 0,87 0,67 0,67

Tabel 1.3 sifat fisik Batu kapur Sifat Appereance Melting point Density % berat Bubuk berwarna putih 825 oC 2,83 g cm-3

I.3. ANALISA PASAR Konsumsi besi dan baja di Indonesia meningkat setiap tahunnya untuk pembangunan. Akan tetapi, besi dan baja lokal tidak hanya dikonsumsi dalam negeri, ada yang diekspor keluar. Berikut data ekspor besi dan baja Indonesia 2006 2010. Tabel 1.4 Data Ekspor Baja dan Besi Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 Ekspor (ton) 1.553.406 1.408.553 1.547.410 1.144.116 1.150.674

Sumber: Badan Pusat Statistik

I-3

Besi dan baja merupakan produk akhir olahan dari pig iron. Maka dari itu, naiknya angka ekspor besi dan baja akan membuat angka penjualan pig iron naik. Peningkatan angka ekspor diperkirakan akan terus naik, seperti diperlihatkan pada gambar berikut.
1,800,000 1,600,000 1,400,000 1,200,000 1,000,000 800,000 600,000 400,000 200,000 0 0 1 2 3 4 5 6 y = 121532x + 996237

y = jumlah ekspor x = tahun ke-

Gambar I.1 Grafik Ekspor Baja dan Besi dari Tahun 2006 (Tahun 1) sampai Tahun 2010 (Tahun 5) Dari grafik tersebut diperoleh persamaan garis lurus: y = 121.532x 996.237. Pada tahun 2015 (tahun ke-9), ekspor besi dan baja mencapai 2 juta ton. Direncanakan pabrik ini akan didirikan pada tahun 2015, dengan melihat ekspor besi dan baja pada tahun tersebut, pabrik ini akan dibangun dengan kapasitas 300000 ton atau sekitar 7% dari ekspor besi dan baja Indonesia untuk mengcover kebutuhan besi dan baja lokal yang diekspor. I.4. LOKASI PABRIK Pabrik pig iron ini akan didirikan di Kecamatan X, Kabupaten bagian barat, Provinsi Y. Lokasi tersebut dipilih setelah mempertimbangkan faktor-faktor berikut: 1. Persediaan Bahan Baku Kecamatan X memiliki cadangan pasir besi paling besar di Kabupaten bagian barat dengan luas area yang mengandung pasir besi mencapai 5.650 Ha. Untuk ketersediaan kokas, akan diperoleh dari sumber lokal yang berada di pulau Jawa. Dan untuk batu kapur, banyak terdapat di daerah Kabupaten bagian timur dengan luas area yang mengandung batu kapur sebesar 250 Ha. Seperti terlihat pada tabel berikut: I-4

Tabel 1.5 Potensi Pertambangan di Kabupaten Bagian barat No 1. 2. 3. 4. 5. Jenis tambang Diorit Pasir dan batu Batu kapur Batu Apung Pasir besi Potensi areal (Ha) 490 145,75 250 915 5438,83 Kecamatan B Kecamatan D Kecamatan C Kecamatan A Kecamatan X Lokasi

2. Persediaan air Air merupakan utilitas yang sangat penting untuk proses yang berjalan pada suatu pabrik. Supply air untuk pabrik pig iron ini berasal dari sungai. 3. Tenaga kerja Untuk tenaga buruh kerja pabrik ini, akan diambil dari masyarakat sekitar. Dan untuk tenaga kerja dengan keahlian khusus akan diambil dari perguruan tinggi atau institusi tertentu di Indonesia umumnya dan pulau Jawa secara khusus. 4. Karakteristik Lokasi Kabupaten Bagian barat Propinvinsi Y ini sebelah selatan berbatasan dengan laut. Dimana pasir pantainya kaya akan kandungan besi. Daerah tempat pabrik pig iron akan dibangun relatif dekat dengan pantai. Akan tetapi, di daerah yang akan dibangun pabrik tersebut merupakan daerah pertanian. 5. Transportasi Sarana transportasi di Kecamatan X, Kabupaten bagian barat, Provinsi Y sudah tergolong bagus. Sudah terdapat jalan raya untuk akses pengangkutan hasil pabrik atau pun bahan baku pabrik. 6. Pemasaran Pig iron merupakan bahan baku untuk pembuatan besi dan baja. Di Indonesia sudah banyak pabrik yang membuat besi dan baja, misalnya saja, Krakatau steel dan Hunnil. Saat ini krakatau steel sedang membicarakan proyek pembuatan blast furnace, I-5

sebelum proyek itu berjalan, krakatau steel akan jadi pasar yang sangat potensial. Pabrik besi dan baja lainnya banyak terdapat di daerah di Pulau Jawa sehingga untuk distribusi pig iron tidak akan membutuhkan biaya yang besar.

I-6