Anda di halaman 1dari 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

2.2 Epidemiologi

Hanya 2 dari setiap 10.000 orang terkena osteomyelitis. Baik orang dewasa maupun anak-anak dapat terinfeksi walaupun dengan carayang berbeda. Insidensi dari spinal osteomielitis adalah 1 dari 450.000 pada tahun 2001. Namun, insidensinya meningkat berkenaan dengan pemakaian obat intravena, meningkatnya rata-rata umur pada populasi, dan meningkatnya infeksi nasokomial berhubugan dengan pemakaian instrument intravascular. Angka kejadian osteomielitis karena trauma sebanyak 47% dari keseluruhan kejadian osteomielitis. Penyebab lain dari osteomielitis termasuk insuffisiensi vascular, terbanyak disebabkan oleh diabetes mellitus sebanyak 34% dan 17% disebabkan oleh infeksi yang menyebar melalui darah. Osteomielitis yang terjadi karena luka yang tidak baik penyembuhannya terjadi sebanyak 1,8-6,4% dari angka kejadian

osteomielitis. Sekitar 20% dari kasus osteomielitis menyebar melalui darah, yang lebih sering terjadi pada laki-laki dengan hal alasan yang belum diketahui.

2.3 Faktor Risiko

Beberapa kondisi dan kebiasaan tertentu dapat memperlemah imun system sehingga insidensi osteomyelitis meningkat, diantaranya: diabetes mellitus, penyakit sickle cell, HIV atau AIDS, penyakit rheumatoid arthritis, penggunaan obat intravena, alkohol, dan penggunaan steroid dalam jangka waktu

lama.operasi tulang, termasuk panggul dan lutut, juga menjadi salah satu penyebab infeksi

2.4 Kalsifikasi

Osteomyelitis dapat diklasifikasikan menurut beberapa klasifikasi, dantaranya adalah: 1. Berdasarkan etiologi Piogenik (supuratif), penyebabnya adalah: a. stafilokokus b. streptokokus c. gono-kokus d. salmonela Non piogenik / spesifik, penyebabnya adalah: a. Jamur b. Virus c. TBC 2. Berdasarkan perjalanan penyakit

Akut Osteomyelitis dikatakan akut apabila terdapat tanda-tanda radang seperti dolor, kalor, rubor, tumor dan functio laesa. Biasanya terjadi pada 1 sampai dengan 3 hari pertama, dan belum didapatkan nekrosis tulang. Kronik Osteomyelitis dikatakan kronis apabila tidak terdapat tanda radang akut, dan telah didapatkan adanya nekrosis tulang, serta fistula dan sequestrum yang merupakan tempat bersarangnya kuman. Tidak didapatkan batasan waktu yang jelas untuk menentukan suatu osteomyelitis kronis. 3. Berdasarkan mekanisme terjadinya
Hematogen

Perkontinuitatum / kontak langsung Organisme penyebab sampai ke tulang secara langsung misalkan pada ulkus kronis tibia, post fraktur terbuka dan komplikasi dari operasi tulang.

2.5 Patofisiologi

1. Osteomyelitis Hematogen Osteomielitis hematogen pada dasarnya adalah penyakit pada tulang yang sedang tumbuh. Insidensinya lebih tinggi pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan. Tulang yang paling sering terkena adalah tulang

panjang, yaitu femur, tibia, humerus, radius, ulna, dan fibula. Bagian tulang yang terkena adalah metafisis. Awalnya terdapat fokus infeksi pada daerah metafisis, yang berasal dari bakteriemi yang masuk ke dalam sistem vaskuler tulang. Aliran darah yang banyak tetapi lambat melalui daerah trabekula metafise sehingga memungkinkan bakteri tersangkut dan bersarang di daerah metafise, sehingga akan menimbulkan fokus inflamasi dengan gejala hiperemis dan edema. Karena tulang bukan jaringan yang dapat berekspansi, maka tekanan dalam tulang yang meningkat dapat menyebabkan nyeri yang hebat. Infeksi dapat pecah ke subperiost, kemudian menembus subkutis dan menyebar menjadi selulitis, atau menjalar melalui rongga subperiost ke diafisis. Infeksi juga dapat pecah ke bagian tulang diafisis melalui kanalis medularis. Penjalaran subperiosteal ke arah diafisis akan merusak pembuluh darah yang ke arah diafisis sehingga menyebabkan nekrosis tulang yang disebut sekuester. Periost akan membentuk tulang baru yang menyelubungi tulang yang mati, tulang baru itu disebut involukrum. 2. Osteomielitis Perkontinuitatum / Kontak Langsung Pada osteomielitis kontak langsung umumnya disebabkan oleh adanya trauma, terutama pada patah tulang terbuka dan kominutif yang disertai cedera jaringan lunak yang luas dengan nekrosis. Biasanya pecahan tulang yang terlepas pada trauma akan menjadi sekuester. Hematom pada patah tulang yang disertai dengan jaringan nekrotik merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri sehingga akan menyebabkan infeksi.

Pada osteomielitis kontak langsung, biasanya akan diperberat dengan adanya pemasangan bahan osteosintesis berupa sekrup, pelat, pin, prostesis atau kawat. Benda asing tersebut merupakan pengahalang bagi tubuh untuk mengatasi infeksi yang sedang terjadi, maka dari itu akan memperjelas gejala yang timbul pada osteomielitis kontak langsung.

2.6 Anatomi

2.7 Diagnosis

Untuk menentukan diagnosis dapat digunakan aspirasi, pemeriksaan scintigrafi, biakan darah, dan pemeriksaan pencitraan. Aspirasi dilakukan untuk memperoleh pus dari subkutis, subperiost, atau lokus radang di metafisis. Untuk pungsi tersebut, digunakan jarum khusus untuk member tulang. Pada skintigrafi dipakai teknetium 99. Sensitivitas pemeriksaan ini terbatas pada minggu pertama dan sama sekali tidak spesifik. Pada minggu kedua, gambaran radiologis mulai menunjukan destruksi tulandan reaksi periosteal pembentukan tulang baru. Pemeriksaan laboratorium tidak khas, hanya ditemukan peningkatan leukosit dan laju endap darah.

2.8 Diagnosis Banding

1. Artritis Piogenik Akut Pada artritis piogenik akut perbedaannya adalah perubahan tulang terbatas hanya pada permukaan sendi dan epifisis. 2. Rematik Akut Pada rematik akut biasanya tidak didapatkan gejala berupa pembengkakan. 3. Ewings Sarcoma Lokasinya pada diafisis, tampak pembentukan tulang baru yang ekstensif dan destruktif, reaksi periosteal bersifat lamellar atau spikula/radier yang simetris.

2.9 Tanda dan Gejala

Proses terjadinya osteomyelitis akut berkembang cepat selama 7 sampai 10 hari. Gejala osteomyelitis akut dan kronis tidak jauh berbeda. Gejala pada osteomyelitis akut dan kronik sangat mirip, diantaranya: demam, iritabilitas, rasa letih, mual, kemerahan dan nyeri pada tulang yang terkena dan berkurangnya pergerakan. Osteomyelitis hematogen akut pada dasarnya adalah penyakit pada tulang yang sedang tumbuh. Anak lelaki tida kali lebih sering daripada anak perempuan. Tulang yang sering terkena adalah tulang panjang dan tersering femur diikuti oleh tibia, humerus, radius, ulna, dan fibula. Bagian tulan yang sering terkenan adalah bagian metafisis dan pennyebabtersering adalah staphylococcus aureus. Mulamula terdapat fokus infeksi di daerah metafisis , lalu terjadi hyperemia dan udem. Karena tulang bukan daerah yang bisa berekspansi, tekanan dalam tulang yang meningkat ini bisa menyebabkan nyeri lokal yang hebat. Biasanya osteomyelitis akut disertai dengan gejala seperti septisemia, seperti febris, malaise, dan anoreksia. Infeksi dapat pecah ke subperiost ke diafisis. Infeksi juga dapat pecah ke bagian tulang diafisis melalui kanalis medularis. Penjalaran subperiosteal kearah diafisis akan merusak pembuluh darah yang ke diafisis sehingga menyebabkan nekrosis tulang yang disebut sekuester. Periost akan membentuk tulang baru yang menyelubungi tulang mati tersebut yang disebut involukrum.

Pada awal penyakit gejala seperti febris, anoreksia dan malaise menonjol, sedangkan gejala lokal seperti pembengkakan serta kesukaran gerak dari ekstremitas yang terkena, merupakan gejala osteomielitis homogen akut. Pada saat ini, diagnosis harus ditentukan berdasar gejala klinis, untuk memberikan pengobatan yang adekuat. Diagnosis lebih jelas bila didapatkan selulitis subkutis.

2.10 Penatalaksanaan

Begitu diagnosis secara klinis ditentukan, ekstremitas yang terkena diistirahatkan dan segera berikan antibiotic. Bila dengan terapi intensif selama 24 jam tidak dapapati perbaikan, antibiotic parenteral dimasukan selama 2 minggu, kemudian dilanjutkan secara oral paling sedikit empat minggu.Penanganan yang cepat dan tepat dapat penting dalam osteomielitis. Identifikasi dari penyebab bakteri penting untuk menentukan pemberian antibiotik. Penyulitnya berupa kekambuhan yang dapat mencapai 20%, cacat berupa destruksi sendi, gangguan pertumbuhan karena kerusakan cakram epifisis, dan osteomielitis kronik. Osteomielitis akut yang tidak diterapi secara adekuat akan berkembang menjadi osteomielitis kronik. Pada osteomielitis kronik dilakukan sekuesterektomi dan debrideman serta pemberian antibiotikyang sesuai dengan hasil kultur dan tes resistensi. Debrideman berupa pengeluaran jaringan nekrotik di dinding ruang sukuester dan penyaliran. Pada fase ekut, subakut, atau kronik dini biasaya involukrum belum cukup kuat untuk menggantikan tulang asli yang menjadi

sekuester. Oleh karena itu, ekstremitas yang terkena harus dilindungi dengan gips untuk mencegah patah tulang patologik dan debrideman serta sekuestrektomi ditunda sampai involukrum menjadi kuat. Selama menunggu pembedahan, dilakukan penyaliran darah dan pembilasan. Cara yang paling baik untuk mencegah osteomielitis adalah dengan menjaga kebersihan. Segera cuci luka sampai bersih dengan air yang mengalir dan tutup dengan plester steril. Bila memliki riwayat osteomielitis kronik, pastikan rajin kontrol ke dokter agar osteomielitis tidak terulang kembali. Bila mempunyai riwayat diabetes, kaki harus dijaga dan menghindari infeksi. Lebih cepat kita mengobati osteomielitis, lebih baik. Pengobatan akut osteomielitis dini mencegah terjadinya osteomielitis kronik. Disampig rasa nyeri dan ketidaknyamanan karena infeksi berulang, osteomielitis yang terkontrol mempunyai kesempatan untuk sembuh lebih besar.

2.11 Prognosis