Anda di halaman 1dari 5

Wanita berkerudung Muhammadyah

Selasar malioboro
Pandangku lurus ke utara
Tertutup kusir duduk bersila

Terenyuh ku
Terpaku pada siluet samar
Wanita berkerudung muhammadyah

Tatap kosong
Melambungkan angan
Memecah mega
Pun tak ada guna

Jerit hati jika pilu


Tersayat
Buruk indah petikan gitar
Acuh ia
Kehidupan begitu nelangsa
Baginya.
Wanita berkerudung muhammadyah

Merintih tanpa suara


Pun menangis tanpa air mata.
Terengah lelah peduli apa kumpeni jogja?

Selasar malioboro
Ramah atau bersahabat dan hangat
Tak begitu anggapnya

Hanya daratan tanah


CiptaanNya, ujarnya
Dia yang mencengkram hidup
Mengendalikan denyut nadi.

Tanah jajahan
Hanya saksi bisu
Ribuan sarkasme ciptaan manusia
Habis ditelan. sendiri
Banyu pun tak sudi dibagi
Olehnya
Wanita berkerudung muhammadyah
Janggut putih

Cengkrama gadis kecil dengan kepangnya

Kapan janggut putih itu tampak lagi


Pada surya ia berkata.

Dasawarsa bagai roda


Hanya berputar tanpa lelah.
Waktu bagaikan tikaman belati karat
Tak luka.
Artinya mati.

Gadis kecil beranjak dewasa.


Lelah ia.
Tanya nya pada bayu,
Kemana perginya sang pujangga

Gadis kecil kini dewasa.


Tetap tak takluk ia pada masa.
Hanya sesekali peluh meredakan nafsunya
Inginnya batang hidung si janggut putih.

Tanpa suara
Diam bicara sama saja,
Hanya kehilangan satu oktaf ketika diam
Mubazir ribuan oktaf saat bicara.
Tak didapat jua.

Nanti,
Gadis kecil mulai senja
Pria berjanggut putih hanya angan tak berujung
Samudra airmata tak terbendung
Penantiannya akan cinta
Kini.
Sirna.

Jelas.

Hanya nisan yang ia punya


Tanda dewasa

Bejana hati mulai terbuka


Bertanya pada dewa
Apa itu tanda dewasa
Meraba lekuk hidup
Mencoba terka
Berharap guna
Hati berbisik
Tanda dewasa
Cinta
Jiwa berkata
Pun ia tak berupa
Lebih banyak makin gila
Lalu apa?
Birahi kah?
Pun banyak tak tentu
Bisa jadi dosa buat selangkangannya
Sedikt saja
Cedera

Pecah kepala.

Pejam mata
Tak berhenti bertanya
Rasa, ada atau tiada.
Tanda dewasa tak perlu kau tanya
Sampai sobek mulutmu.
Pun akhirnya surga neraka.
Ada yang mau bertanya?
Secarik kisah dari Jakarta

Ku kenal ia saat ku tak tahu rupaku


Tangannya terulur
Menarikku saat
Meraba dinding pengharapan
Berupaya jauh kunjung tak sampai

Kukenal ia saat ku mulai berupaya


Bila diam itu emas
Kuambil secanting darinya
Demi manjakan telingaku dengan desah nafasnya

Masa seakan mengejarku


Saat tangan ini meraihnya
Nya, yang tak mau kalah dengan angin Jakarta.

detik tak mau kalah dengan ku


secangkir tanah liat manis
ditumpahkannya pada palung hatiku
malam itu
dikursi sempit diatas balkon.

Saat lelah menyerangku.


Tersadar aku.
Diberikannya hati hangat
Dalam nampan yang dibawa jibril dari surga

Neraka jahanam seakan meneriakkan namaku


Letih ku, tanpa rayunya
Diam ku tanpa nafasnya
Ku sadar sendiri itu kosong.
Banyak celah.
Celah neraka.
Tak inginku merasanya.
Sekali lagi.
Atau berulang kali lagi.