Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Patologi anatomi ialah spesialisasi medis yang berurusan dengan diagnosis penyakit berdasarkan pada pemeriksaan kasar, mikroskopik, dan molekuler atas organ, jaringan, dan sel dengan pengecatan khusus dan imunohistokimia yang dimanfaatkan untuk memvisualisasikan protein khusus dan zat lain pada dan di sekeliling sel Histopatologi adalah cabang biologi yang mempelajari kondisi dan fungsi jaringan dalam hubungannya dengan penyakit dan merupakan salah satu pertimbangan dalam penegakan diagnosis adalah melalui hasil pengamatan terhadap jaringan yang diduga terganggu. Histopatologi dapat dilakukan dengan mengambil sampel jaringan (misalnya seperti dalam penentuan kanker payudara) atau dengan mengamati jaringan setelah kematian terjadi. Dengan membandingkan kondisi jaringan sehat terhadap jaringan sampel dapat diketahui apakah suatu penyakit yang diduga benar-benar menyerang atau tidak. Ilmu ini dipelajari dalam semua bidang patologi, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Biologi sel atau disebut sitologi adalah ilmu yang mempelajari sel. Sitologi berasal dari bahasa Yunani yaitu cytos dan logos. Cytos berarti sel dan logos berarti ilmu. Hal yang dipelajari dalam biologi sel mencakup sifat-sifat fisiologis sel seperti struktur dan organel yang terdapat di dalam sel, lingkungan dan antaraksi sel, daur hidup sel, pembelahan sel dan fungsi sel (fisiologi), hingga kematian sel. Hal-hal tersebut dipelajari baik pada skala mikroskopik maupun skala molekular, dan sel biologi meneliti baik organisme bersel tunggal seperti bakteri maupun sel-sel terspesialisasi di dalam organisme multisel seperti manusia.

Dengan demikian, sitologi merupakan ilmu biologi yang mempelajari seluk beluk susunan serta fungsi bagian-bagian yang ada pada sel makhluk hidup. Histologi adalah ilmu biologi yang mempelajari seluk beluk susunan serta fungsi bagian-bagian yang ada pada jaringan makhluk hidup. Histologi adalah bidang biologi yang mempelajari tentang struktur jaringan secara detail menggunakan mikroskop pada sediaan jaringan yang dipotong tipis. Histologi dapat juga disebut sebagai ilmu anatomi mikroskopis. Bidang biologi ini amat berguna dalam keakuratan diagnosis tumor dan berbagai penyakit lain yang sampelnya memerlukan pemeriksaan histologis.

I.2 Rumusan Masalah


Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah bagaimana tahapan pemeriksaan dari sitologi dan histologi.

I.3 Batasan Masalah


1. Pengertian Sitologi dan histologi 2. Penerimaan, identifikasi, dan deskripsi jaringan yang akan diperiksa 3. Pemotongan gross jaringan 4. Prossesing jaringan 5. Pembuatan blok paraffin 6. Pemotongan blok paraffin 7. Pembuatan dan pengecatan preparat histology 8. Penerimaan dan persiapan pasien pemeriksaan sitologi 9. Pemeriksaan FNAB dan Pap Smear 10. Sekret dan cairan tubuh 11. Pengecatan sitologi

I.4

Tujuan Penulisan
1. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sitohistoteknologi.

2.

Mengetahui pengertian sitologi dan histologi serta tahapan

pemeriksaannya.

I.5

Metode Penulisan
Adapun metode pembahasan yaitu berdasarkan pencarian, pengumpulan

terhadap segala sumber yang dapat dijadikan resensi, baik sumber yang berbentuk hardcopy seperti buku ataupun sumber yang berbentuk softcopy seperti artikel di internet. Selain itu, penulisan makalah berdasarkan dari praktikum yang telah dilakukan.

BAB II PEMBAHASAN

II.1 Jaringan Jaringan adalah suatu susunan dari pada sel-sel sedemikian rupa yang berhubungan erat antara satu dengan lainnya yang membentuk suatu lapisan. Jaringan mempunyai fungsi sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Sebagai pelindung terhadap jaringan di sebelah dalamnya Sebagai penghasil kelenjar baik eksokrin maupun endokrin Sebagai penerima rangsang. Sebagai alat keluar dan masuknya zat-zat tertentu,misalnya

jaringan kulit dapat memasukkan oksigen tetapi mengeluarkan CO2, H2O berupa keringat dan juga kelenjar lemak. Macam-Macam Jaringan : 1. Jaringan Epitel Jaringan epitel adalah jaringan yang terdiri dari lapisan-lapisan sel yang menutupi berbagai organ. Terbagi 5, yaitu : Jaringan epitel pipih dan lapisan tunggal, misalnya pada pembuluh darah, usus, dsb. Jaringan epitel pipih dan lapisan banyak, misalnya pada permukaan kulit rongga mulut, rongga hidung, dsb. Jaringan epitel kubus yang terdapat pada saluran kelenjar ludah,tyroid, saluran urine dan pada ginjal. Jaringan epitel kubus bersilia yang terdapat pada saluran pernapasan, saluran spermatozoa

Jaringan epitel silindris yang terdapat pada selaput lendir usus dan pada lambung. 2. Jaringan Penunjang

Jaringan penunjang adalah jaringan kartilago / tulang rawan terdiri dari zat kondrin. Fungsinya sebagai pelindung dan melancarkan gerakan. Terbagi 6, yaitu : Jaringan tulang terdiri dari zat CaCO3, dan Ca3( PO4)2. Fungsinya sebagai penyangga, kekuatan penyangga otot-otot. Jaringan ikat, terdiri dari tendon / otot-otot dan ligamen. Fungsinya untuk mengikat antara organ-organ dan pelindung. Jaringan Lemak terdiri dari lemak. Fungsinya sebagai pelindung dan cadangan makanan. Jaringan darah dan getah bening terdiri dari darah dan getah bening. Fungsinya sebagai pelindung / antibodi, sebagai transportasi O2, CO2, sari-sari makanan. Jaringan otot, terdiri dari otot-otot polos, otot-otot lurik /serat lintang, otot-otot jantung. Fungsinya untuk aktivitas dan berkontraksi. Jaringan syaraf terdiri dari sel-sel syaraf (badan sel neurit/ akson dan dendrit). Fungsi akson meneruskan rangsang sedangkan dendrit menerima rangsang.

II.2 Pemeriksaan Histologi


Benjolan atau tumor yang terletak dipermukaan tubuh seperti di leher atau payudara atau tempat lainnya dan dapat diraba oleh penderita sendiri dapat merupakan salah satu gejala kanker. Pada tumor yang secara klinis jinak, maka tumor dapat langsung diangkat. Untuk yang ukuran kecil, tumor dapat diangkat seluruhnya, sedangkan untuk ukuran besar maka tumor hanya diambil sebagian untuk contoh pemeriksaan. Tumor yang sudah diangkat, baik secara klinis, jinak, maupun ganas harus diperiksakan ke dokter patologi anatomi dan demi keakuratan diagnosis tumor dan berbagai penyakit lain, memerlukan pemeriksaan histologis, untuk dapat

dipastikan jenisnya. Hasil pemeriksaan patologi anatomi (PA) dengan cara seperti inilah yang dijadikan golden standart atau diagnosis pasti suatu tumor. Tahapan pemeriksaan Histologi: a. Penerimaan dan identifikasi jaringan b. Deskripsi jaringan yang akan diperiksa c. Pemotongan gross jaringan d. Prossesing jaringan e. Pembuatan blok paraffin f. Pemotongan blok paraffin g. Pembuatan preparat histologi h. Pengecatan preparat histology A. Penerimaan dan Identifikasi Jaringan Dalam hal ini, jaringan yang menjadi bahan pemeriksaan yaitu jaringan serviks, jaringan kuret (endometrium), uterus, dan jaringan leher sebelah kanan. Endometrium adalah lapisan terdalam pada rahim dan tempatnya menempelnya ovum yang telah dibuahi. Di dalam lapisan Endometrium terdapat pembuluh darah yang berguna untuk menyalurkan zat makanan ke lapisan ini. Saat ovum yang telah dibuahi (yang biasa disebut fertilisasi) menempel di lapisan endometrium (implantasi), maka ovum akan terhubung dengan badan induk dengan plasenta yang berhubung dengan tali pusat pada bayi. Pada suatu fase dimana ovum tidak dibuahi oleh sperma, maka kurpus luteum akan berhenti memproduksi hormon progesteron dan berubah menjadi korpus albikan yang menghasilkan sedikit hormon diikuti meluruhnya lapisan endometrium yang telah menebal, karena hormon estrogen dan progesteron telah berhenti diproduksi. Pada fase ini, biasa disebut menstruasi atau peluruhan dinding rahim. Uterus atau rahim ialah suatu organ yang memiliki rongga, dipenuhi oleh jaringan otot, memiliki dinding yang tebal, bentuknya mirip buah pir, terdapat di antara kandung kencing dan rektum. Rahim ini berfungsi sebagai

tempat tertanam dan berkembangnya ovum atau sel telur yang sudah dibuahi, tempat janin berkembang selama masa hamil. Uterus ini merupakan bagian dalam alat kelamin wanita selain tuba falopi dan ovarium Persiapan bahan pemeriksaan: Bahan pemeriksaan (jaringan) yang baru diambil, dicuci terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam pemeriksaan makroskopi jaringan. Simpan jaringan di dalam wadah tertutup berisi formalin.

B. Deskripsi Jaringan yang Akan Diperiksa Cara mendeskripsi jaringan yang baik untuk diperiksa, yaitu 1. volume atau ukuran 2. warna 3. konsistensi 4. kekenyalan atau keadaan jaringan 5. kelainan-kelainan yang ada Cara pelabelan jaringan untuk dilakukan prossesing jaringan 1. No. urut pemeriksaan 2. Jenis pemeriksaan 3. Nama rumah sakit 4. Tahun C. Pemotongan Gross Jaringan 1. Lakukan pemeriksaan makroskopis jaringan - ukuran panjang - lebar, tinggi - volume - warna

- konsistensi - jumlah potongan 2. cope 3. Pemotongan dipilih bagian yang kelainan dan mewakili, kemudian bahan pemeriksaan dipotong dengan ukuran maksimal 2 x 3 cm, dengan ketebalan 2 mm. 4. dan tutup 5. Masukkan cassette tadi ke dalamalat citadel 2000 untuk processing jaringan. D. Prossesing jaringan 1. Pengambilan Jaringan Cara pengambilan jaringan umumnya dilakukan pada mahluk yang masih hidup/ yang masih sehat/ segar, yang mempunyai bagian tubuh yang sehat ataupun yang mengalami gangguan kesehatan terutama pada bagian-bagian tertentu dari suatu organ. Mahluk hidup tersebut,yang bersangkutan harus dibius baik lokal maupun keseluruhan untuk menghilangkan rasa sakit yaitu dengan kloroform atau diethyl eter sesuai dengan dosis yang diperlukan. 2. Pencucian Cairan yang dinggunakan untuk proses pencucian jaringan yaitu NaCl 0,85% fisiologis steril ( 0,90 %). Tahap-tahap pencucian adalah sebagai berikut : 1) Ketika jaringan baru diambil dari mahluk yang bersangkutan keadaannya masih kotor terutama banyak mengandung darah,demikian juga jaringan yang berlebihan harus dibuang dan dibersihkan. 2) Selanjutnya jaringan tersebut dikeluarkan dan dimasukan ke dalam tabung yang kedua yang juga masih membuang sisa-sisa darah serta memotong bagian jaringan yang tidak dikehendaki karena kemungkinan Masukkan ke dalam cassette processing, diberi label Potong jaringan secara melintang menjadi beberapa

terlalu tebal dengan perhitungan supaya cairan fiksasi pada proses berikutnya dapat masuk ke dalam jaringan. 3) 4) Jaringan yang sudah dibentuk sedemikian rupa dicuci lagi pada Pada proses pencucian yang terakhir ini yaitu pada tabung keempat, tabung yang ketiga, sehingga jaringan betul-betul bersih. hasil jaringan yang dicuci sudah meyakinkan di bandingkan dari pada sebelumnya, untuk dilanjutkan ke proses yang berikut. 3. 1. Fiksasi Untuk menghentikan dan membunuh proses metabolisme secara tepat dan

Tujuan fiksasi adalah sebagai berikut : diusahakan agar jaringan tersebut sedikit mengalami perubahan dari keadaan semula karena di dalam jaringan tersebut,terjadi proses hydrophilic (penyusutan air) sehingga jaringan menjadi lebih jelas. 2. 3. 4. Untuk mencegah terjadinya autolisis ( penyusutan sel ) Untuk merubah indeks refraksi jaringan agar sama dengan kaca sediaan Untuk menaikkan daya pewarnaan jaringan dengan menggunakan bahan

yang dipergunakan. yang bersifat mordant ( tajam, bau kahas,dan polar dan dapat menerobos /masuk sel-sel pada jaringan )sehingga komponen dari jaringan yang difiksasi menjadi baik. Tahap-tahap proses fiksasi : 1. 2. Harus memilih resep / formula dari cairan fiksasi dengan memahami Untuk cairan volumenya harus cukup yaitu kurang lebih 20 kali lipat sifat cairan fiksasi yang digunakan. dari voleme jaringan yang difiksasi agar seluruh bagian jaringan terendam. 3. Tempat fiksasi harus luas dan diperhitungkan kedalamannya sehingga bentuk jaringan yang direndam atau yang difiksasi tidak mengalami perubahan bentuk.

4. 5.

Lebar maupun tebalnya jaringan yang difiksasi harus diperhatikan Waktu yang dibutuhkan pada saat fiksasi harus benar-benar cukup

sehubungan dengan daya tembus cairan fiksasi baik. artinya tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lama. Macam-macam Cairan Fiksasi : 1. Cairan fiksasi tunggal : Formalin / Formaldehide Alkohol / Etanol Asam pikrin Beberapa senyawa kimia yang bersifat mordant, Contoh : FeCl2,formalin, asam pikrinik,fosfotungstic acid, dsb. 2. Cairan fiksasi majemuk Yaitu cairan beberapa zat kimia yang saling mendukung agar tujuan dari pada fiksasi tercapai, contoh : Formalin Saline Larutan Zenker Larutan Helly Larutan Orth Larutan Carmoy Larutan Bouin Larutan Allen Larutan Regand Larutan Gilson Larutan A.F.A Larutan Warcester

4. Proses Pencucian Istilah pencucian sebenarnya dapat diartikan secara luas.Walaupun ada perbedaan paendapat oleh bangsa inggris, sehingga dibedakan atas 3 macam yaitu: a. Rushing Yaitu proses pencucian yang sifatnya memberikan superficial (bagian permukaan) dan berlangsung sebentar saja.Air yang digunakan diusahakan hanya mengaliri permukaan jaringan dengan tujuan untuk membuang cairan yang tidak diperlukan misalnya mencelupkan atau menyiram air dengan hati-hati. b. Soaking Yaitu proses pencucian sedikit lebih teliti karena merendamkan jaringan ke dalam cairan yang mengandung mordant. Cairan tidak perlu diganti karena waktu perendamannya sangat terbatas. c. Washing Yaitu proses pencucian memerlukan waktu yang lama dan cairan yang di gunakan selalu di gantidengan tujuan untuk membuang bahan-bahan yang tidak di gunakan. Caranya :

Dapat merendam jaringan tetapi cairannya harus diganti. Dengan cara praktis yaitu dengan menggunakan air mengalir dengan kecepatan air diatur.

Dalam larutan pertama pada proses pencucian untuk melakukan pembersihan jaringan-jaringan yang akan dicetak atau di blok ada 3 macam yaitu:

Pencucian sebelum difiksasi Tujuannya adalah untuk membuang kotoran-kotoran dan jaringan yang tidak diperlukan dengan larutan NaCl fisiologis 0,9 %

Pencucian sesudah fiksasi

Pencucian mutlak harus dilakukan apabila menggunakan larutan fiksasi berupa garam-garam berat misalnya Mercuri clorida, Calium bikromat, dsb.

Pencucian sesudah diwarnai Pencucian ini perlu dilaksanakan dan sedikit intesif karena warna yang ada pada jaringan perlu dikurangi supaya daya affinitas jaringan semakin jelas.

5. Dehidrasi Yaitu suatu proses untuk menarik air dari jaringan dengan menggunakan bahan kimia tertentu, yang mempunyai syarat yaitu: a. Mampu mengusir air dari jaringan,kemudian menggatikannya b. Bahan-bahan dehidrasi harus dapat digantikan dengan clearing agent Tidak boleh mengganggu jaringan yang telah difiksasi misalnya, tidak boleh menjadi lunak,menjadi keras,dan rapuh. Dehidrasi harus dilakukan secara seksama dan sebaiknya dilakukan secara bertahap,karena jika terjadi kesalahan pada proses dehidrasi akibatnya jaringan menjadi buruk di dalam deretan teknik parafin. Di dalam deretan tenik parafin dehidrasi umumnya dilakukan satu kali yaitu setelah proses pencucian namun apabila proses pewarnaan terlalu tebal, dehidrasi juga bisa dilakukan, apabila waktu fiksasi jaringan bentuk daripada jaringan yang bersangkutan terlalu besar atau terlalu tebal. Sehingga tidak dapat diletakan di dalam kaca sediaan maka jaringan tersebut di anggap rusak. Bahan-bahan yang digunakan untuk cairan dehidrasi antara lain :

Alkohol 100% (alkohol absolut) Alkohol 95-96 % Alkohol 70 %

Persyaratan untuk bahan-bahan dehidrasi :

Mudah didapat

Dipandang dari segi ekonomisnya harganya murah Mudah dimanfaatkan Di dalam proses dehidrasi cairan yang paling cocok dan sering digunakan adalah alkohol 70 %,sehingga sering disebut sebagai stooping point karena jaringan yang didehidrasi akan terjamin dan tidak mengalami kerusakan walaupun batas waktu dehidrasi terlewati. Beberapa patokan yang perlu diperhatikan agar proses dehidrasi berhasil baik yaitu:

Waktu yang dibutuhkan harus cukup Bahan dehidrasi berbanding material atau jaringan yaitu 20:1 Kadar bahan dehidrasi harus tepat. 6. Clearing Untuk membuat material atau jaringan menjadi transparan atau tembus cahaya dibandingkan dengan sebelumnya. 7. Infiltrasi Untuk mengusahakan agar material atau jaringan menjadi menyusut karena mengeluarkan sisa-sisa dehidrasi dan sisa-sisa clearing agent sedangkan bahan-bahan yang dipergunakan untuk proses infiltrasi harus dipertimbangkan sifat-sifatnya terutama temperature yang digunakan harus tertentu, yaitu 45, 54, 56, 58C, pada temperature 57-59C. 8. Pembuatan blok paraffin (embedding / pencetakan) Prosedur Kerja: Letakkan cassette berisi jaringan yang sudah diproses dari Pindahkan cassette ke bagian depan tissue Storage Tank Citadel 2000 ke dalam tissue Storage Tank dan buka penutup cassette dan yang paling sering dipergunakan pada temperature 58C. Dan yang akan dipakai kali ini

Pilih dan ambil wadah stainless (base mold) dari mold

storage oven untuk memblok sesuai ukuran jaringan, letakkan di area hotspot, kemudian isi dengan paraffin sesuai volume Ambil jaringan dari cassette dengan pinset dan letakkan Pindahkan base mold ke area Cold spot dan susun Tutup base mold dengan cassette penutup, tekan bagian Tambahkan paraffin lagi didalam base mold tersebut jaringan sesuai posisi seharusnya atas base mold menggunakan pinset.

apabila paraffin tidak sampai ke permukaan Berikan etiket keterangan pasien dipermukaan base mold Letakkan base mold tersebut ke Calling surface Setelah lilin mengeras, keluarkan blok jaringan dari base

mol, bersihkan pinggiran blok jaringan dari sisa paraffin yang melekat Blok jaringan selanjutnya dip roses dengan microtome.

9. Pemotongan blok paraffin Prosedur kerja: Potong blok paraffin jaringan dengan menggunakan Pilih potongan yang layak, halus, rata, licin dan tidak putus Ambil bagian yang layak tersebut, masukkan dalam tissue Dengan menggunakan slide, ambil potongan tersebut dan Setelah air kering, letakkan diatas Hotplate agar air benarBeri etiket dengan cara menulis nomor pada slide sesuai microtome

Flotation bath yang berisi air keringkan benar kering dengan nomor yang tertera pada cassette

Preparat selanjutnya diproses dengan pengecatan yang yang

diinginkan. E. a. jarum b. c. belakang jarum untuk menghilangkan lipatan d. e. sebentar dan beri etiket f. hanya potongan jaringannya saja Cara pembuatan sediaan atau preparat histologis disebut mikroteknik. Pembuatan sediaan dari suatu jaringan dimulai dengan operasi, biopsi, atau autopsi. Ilmu yang mempelajari pewarnaan jaringan disebut histokimia. Lalu letakkan diatas hotplate hingga sisa paraffin meleleh dan yang tersisa Gunakan objek glass untuk mengambil hasil potongan jaringan Keringkan Lalu pindahkan Jika terdapat atau letakkan keatas permukaan air pada alat waterbath lipatan pada potongan jaringan tersebut, gunakan bagian Pembuatan preparat histology Ambil hasil pemotongan blok jaringan yang bagus dengan menggunakan

11. Pengecatan preparat histology Untuk pengecatan preparat histology menggunakan Pengecatan Hematoxilin Eosin caranya yaitu: 1) Xylol I 2) Xylol II selama 10 menit selama 10 menit

3) Xylol III 4) Dilap dan bersihkan sekitar jaringan 5) Alkohol absolut 6) Alkohol 95% 7) Alkohol 80% 8) Alkohol 70% 9) Air mengalir 10) Tiriskan 11) Mayer hematoxilin 12) Air mengalir 13) Bluing 14) Tiriskan 15) Eosin 16) Air 17) Alkohol 70% 18) Alkohol 80% 19) Alkohol 95% 20) Alkohol absolut 21) Dilap dan keringkan 22) Clearing (xylol) I 23) Clearing (xylol) II 24) Clearing (xylol) III 25) Mounting (entelan)

selama 10 menit selama 2 menit selama 2 menit selama 2 menit selama 2 menit selama 3 menit selama 15 menit selama 7 menit selama 5 menit sebanyak 1 celup sebanyak 3 celup sebanyak 3 celup sebanyak 3 celup sebanyak 3 celup sebanyak 3 celup selama 5 menit selama 5 menit selama 5 menit

Tahapan prossesing jaringan secara singkat, yaitu: 1) 2) Fiksasi Dehidrasi Alkohol 70% selama 1,5 jam Alkohol 80% selama 1,5 jam Alkohol 95% selama 1,5 jam Buffer Formalin 10% selama 2 jam.

3) Clearing 4)

Alkohol absolut I

selama 1 jam

Alkohol absolut II selama 1 jam Alkohol absolut III selama 1,5 jam Xylol I selama 1 jam Xylol II selama 1,5 jam Xylol III selama 1,5 jam Paraffin I Paraffin II selama 1,5 jam selama 1,5 jam

Infiltrasi Paraffin suhu 57-59C

II.2

Pemeriksaan Sitologi Adapun prinsip pemeriksaan sitologi adalah memeriksa sampel sel yang

terlepas (eksfoliasi) atau yang dilakukan aspirasi, dimana untuk hasil yang akurat harus memperhatikan antara lain pengambilan sampel, pengolahan sel di laboratorium dan pemeriksa dalam hal ini dokter spesialis patologi anatomic Dalam menghadapi kanker, pemeriksaan sitologi termasuk pelayanan deteksi dini. Tindakan paling tepat dalam menghadapi kanker adalah melakukan pencegahan primer yaitu mengenal faktor resiko dan bahaya penyebab kanker kemudian menghindarinya, dan pencegahan sekunder adalah melakukan deteksi kanker sedini mungkin salah satunya adalah pemeriksaan sitologi kemudian dilakukan terapi adekuat. Dengan melaksanakan pencegahan tersebut secara terpadu, diharapkan angka morbiditas dan mortalitas akibat kanker dapat diturunkan. Tahapan pemeriksaan Sitologi a. Penerimaan dan persiapan pasien b. Pengambilan sampel ( Pap Smear atau FNAB ) c. Pengambilan/ penerimaan bahan secret dan cairan tubuh d. Pengolahan sampel e. Pembuatan preparat

f. Pengecatan preparat Pemeriksaan FNAB dan Pap Smear

a. Biopsy)

FNAB

(Fine

Needle

Aspiration

FNAB ialah suatu tindakan memeriksa suatu bagian tubuh dengan cara menyuntikkan sebuah jarum yang halus (lebih kecil dari jarum suntik biasa) ke bagian yang membenjol, lalu melakukan aspirasi (penyedotan) untuk mengambil isi benjolan itu. Selanjutnya bahan hasil sedotan itu dikirim ke dokter Ahli Patologi untuk diperiksa. Dokter Ahli Patologi akan menentukan jenis penyakit pada benjolan itu. Setelah itu dokter anda akan memberikan obat atau cara pengobatan yang sesuai dengan penyakit. Bagian tubuh yang dapat dijadikan sampel FNAB, yaitu: kelenjar leher kelenjar gondok kelenjar liur payudara atau tumor dimana saja

Kondisi dari sampel FNAB memiliki makna yang sangat penting untuk menentukan apakah hasil tersebut mengandung sel kanker atau tidak. Apabila sampel yang dihasilkan dari benjolan tersebut tampak bersih, sedikit berwarna, kehijauan atau kecoklatan, putih, kuning, atau pada kasus yang sangat jarang mengandung darah, pada kebanyakan kasus kemungkinan besar ini berasal dari tumor yang jinak atau bukan kanker. Sedangkan sampel yang mengandung darah mengindikasikan sampel tersebut mengandung sel kanker dan dianalisis lebih lanjut. Prosedur pemeriksaan FNAB: b. 25 G ) Siapkan jarum ( biasanya berukuran 22 atau

c.

Bersihkan bagian yang akan dilakukan

aspirasi. ( Seorang wanita yang akan melakukan aspirasi pada payudara, sebaiknya tidak menggunakan bedak, deodoran, lotion, atau parfum dibawah lengan atau pada payudara sebelum pemeriksaan d. yang nantinya dapat mengganggu gambaran pemeriksaan mikroskopis ). Raba bagian yang terdapat benjolan, apabila benjolan dapat diraba maka pemeriksa akan memasukkan jarum halus tersebut ke daerah benjolan tersebut. Apabila benjolan tidak dapat diraba, prosedur FNAB akan dilakukan dengan panduan dari system pencitraan yang lain seperti mammografi atau USG e. jarum tersebut. f. g. Hasil sampel yang diperoleh diratakan pada Lakukan pengecatan sitologi, biarkan kering, gelas obyek kemudian dibiarkan kering lalu periksa dibawah mikroskop dengan oil imersi. Keuntungan dan manfaat pemeriksaan FNAB antara lain: metode cepat. jarum yang dipakai halus, tidak ada bahaya atau komplikasinya, Setelah jarum dimasukkan ke dalam bagian payudara yang tidak normal, maka dilakukan penghisapan melalui

Tidak menyebabkan perdarahan dan tidak menimbulkan bekas pada kulit, bila dilakukan dengan benar FNAB sangat baik untuk mengkonfirmasi kista payudara dan setelah dilakukan pemeriksaan, pasien dapat langsung melakukan aktivitasnya seperti biasa. Bila hasilnya suatu infeksi atau peradangan, maka dokter anda Benjolan karena infeksi kuman tbc tentu membutuhkan pengobatan dapat memberikan obat yang sesuai. berbeda dengan infeksi kuman lain.

Bila suatu kista, maka isi cairannya dapat di keluarkan sehingga

benjolan mengempes. Bila suatu tumor jinak, maka dapat direncanakan untuk operasi bersama dokter Ahli Bedah. Bila suatu tumor ganas, maka dapat direncanakan tindakan pengobatan bersama tim onkologi ( tim yang terdiri atas dokter dokter spesialis yang mendalami bidang kanker ). Diagnosis kanker dapat lebih cepat diketahui, terutama pada kanker payudara dan kanker thyroid, sehingga usaha pengobatannya dapat lebih cepat dan lebih tepat diberikan. Operasi yang tepat dapat dilakukan, mungkin disusul dengan dan/atau obat obatan kemoterapi. Makin cepat radioterapi

diagnosisnya, makin cepat pengobatannya, makin bagus hasilnya Kerugian prosedur FNAB antara lain: hanya mengambil sangat sedikit sampel dari jaringan sehingga hanya dapat menghasilkan diagnosis berdasarkan keadaan sel (diagnosis sitologi). Hal ini menyebabkan penilaian yang diambil tidak komplit karena tidak dapat dibandingkan dengan keadaan jaringan di sekitarnya.

b. Pemeriksaan Pap Smear


Pap Smear merupakan pemeriksaan sederhana yang dikembangkan oleh Dr. George N. Papanicalaou untuk penapisan awal dari gejala kanker leher rahim. Pap smear merupakan pemeriksaan sitologi eksfoliative dengan memeriksa sel-sel epitel cervix yang lepas. Pemeriksaan ini lebih mudah, murah, sederhana, aman dan akurat. Di negara maju, skrinning Pap Smear terbukti dapat menemukan lesi prakanker, menurunkan insiden dan menurunkan angka kematian akibat kanker serviks sampai 70-80%. Pap Smear adalah pemeriksaan usapan mulut rahim untuk melihat sel-sel mulut rahim (serviks) di bawah mikroskop.

Pap Smear adalah tes skrining untuk mendeteksi dini perubahan atau abnormalitas dalam serviks sebelum sel-sel tersebut menjadi kanker. Pemeriksaan ini dilakukan di atas kursi pemeriksaan khusus ginekologis. Tes Pap ini sangat dianjurkan untuk dilakukan setiap untuk setiap tahun pada wanita yang sudah berkeluarga terutama pada wanita yang sudah melahirkan Ada 2 macam Pap Smear, yaitu: 1) 2) Pap Smear konvensional Sitologi serviks berbasis cairan

Teknik pemeriksaan Pap smear Dua hari menjelang pemeriksaan, ibu dilarang melakukan senggama maupun memakai obat-obatan yang dimasukkan ke dalam liang senggama. Waktu yang baik untuk pemeriksaan adalah beberapa hari setelah selesai menstruasi. Terlebih dahulu mengisi informed consent dan formulir Pap Smear secara lengkap dan sesuaikan dengan nomor urut pengambilan. Ibu dalam posisi litotomi, pasang spekulum vagina tanpa menggunakan pelicin, dan tanpa melakukan periksa dalam sebelumnya. Setelah portio tampak, maka spatula dimasukkan ke dalam kanalis servikalis, lalu spatula diputar 180 searah jarum jam. Spatula dengan ujung pendek diusap 360 pada permukaan serviks. Lendir yang didapat dioleskan pada objek glass berlawanan arah jarum jam. Apusan hendaknya dilakukan sekali saja, lalu difiksasi atau direndam dalam larutan alkohol 96% selama 30 menit. Sediaan dapat dikirim secara basah (tetap direndam dalam alkohol) atau dikirim secara kering dengan mengeringkan sediaan setelah direndam dalam alkohol. Selanjutnya sediaan tadi dikirim ke Ahli Patologi Anatomi untuk diperiksa. Kesalahan yang sering terjadi : 1. Sediaan apus terlalu tipis, hanya mengandung sedikit sel. 2. Sediaan apus terlalu tebal dan tidak merata, sel bertumpuk-tumpuk sehingga menyulitkan pemeriksaan

3. Sediaan apus telah kering sebelum difiksasi (terlalu lama diluar, tidak segera direndam di dalam cairan fiksatif). 4. Cairan fiksatif tidak memakai alkohol 96 %. Petunjuk untuk penapisan :

Pemeriksaan tes Pap dilakukan setelah 2 tahun aktif dalam aktifitas seksual. Interval penapisan. Wanita dengan tes Pap negatif berulang kali diambil setiap 2 tahun, sedang wanita dengan kelainan atau hasil abnormal perlu evaluasi lebih sering.

Pada usia 70 tahun atau lebih tidak diambil lagi dengan syarat hasil 2 kali negatif dalam 5 tahun terakhir.

Persiapan pasien sebelum pemeriksaan pap smear:

Waktu pemeriksaan minimal 2 minggu setelah menstruasi dimulai dan sebelum menstruasi berikutnya Berikan informasi yang jujur mengenai riwayat penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual apabila pernah Anda derita Hubungan intim tidak boleh dilakukan dalam 24 jam sebelum pemeriksaan dilakukan Pembilasan vagina dengan berbagai macam cairan kimia tidak boleh dilakukan dalam 24 jam sebelum pemeriksaan Hidari obat-obatan yang dimasukkan ke dalam vagina dalam 48 jam sebelum pemeriksaan dilakukan Bila Anda sedang minum obat tertentu, informasikan pada dokter atau petugas laboratorium karena beberapa jenis obat bisa mempengaruhi hasil analisis sel.

kemungkinan hasil pemeriksaan Pap Smear

Infeksi

Infeksi paling sering bersarang di mulut rahim. Sebagian dikenali dengan keluhan keputihan. Sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mendapat pengobatan. Bila perlu dilakukan Pap Smear ulang 6 bulan kemudian untuk melihat dan mengevaluasi apakah radang sudah sembuh.

ASCUS ( Atypical Squamous Cells of Undetermined Significance ) Artinya ada sedikit kelainan di sel-sel leher rahim yang belum jelas, maka perlu dilakukan pemeriksaan Pap Smear setiap 6 bulan selama 2 tahun, atau untuk memastikan dilanjutkan dengan pemeriksaan HPV DNA.

Karsinoma intra-epitelial Lingkup kelainannya dari displasia hingga neoplasia. Displasia adalah kelainan pre-kanker yang bersifat reversible, namun bila tidak diobati dapat berlanjut ke keganasan.

Karsinoma invasif Pada tahap ini kanker telah menyebar luas, penyembuhan menjadi jauh lebih sulit.

Alat-alat yang digunakan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Spekulum cocor bebek Spatula ayre Cyto brush Object glass Handscoen Kapas Kasa

Prosedur pemeriksaaan Pap Smear, yaitu: 1. pasien dibaringkan dalam posisi litotomi 2. cuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir 3. keringkan tangan dengan handuk bersih 4. gunakan sarung tangan dengan benar 5. bersihkan vulva dan perineum dengan kasa kering

6. ambil spekulum cocor bebek (sesuaikan dengan ukuran yang dibutuhkan) dengan tangan kanan dan masukkan ke dalam introitus vagina dengan posisi lebar spekulum pada sumbu vertikal (anteroposterior). 7. setelah ujung spekulum melewati introitus, dorong spekulum sampai pangkalnya, kemusian gagang spekulum diputar (90 derajat) ke arah bawah 8. introitus vagina diregangkan dengan cara membuka spekulum sedemikian rupa sehingga lumen vagina, portio dan forniks terlihat jelas, kemudian spekulum dikunci pada posisi tersebut 9. ambil spatula ayre, kemudian ujung yang pendek dimasukkan ke dalam ostium uteri eksterna dan dilakukan usapan searah jarum jam (diputar 360 derajat) 10. bahan hasil usapan tadi dihapuskan pada object glass yang telah disediakan 11. ambil cyto brush, kemudian dimasukkan ke dalam kanalis servikalis dan dilakukan usapan berputar searah jarum jam (360 derajat) 12. bahan hasil usapan tadi juga dihapuskan pada object glass sebelumnya pada tempat yang berbeda dengan cara diputar kembali berlawanan arah dengan jarum jam (sebaliknya) 13. lepaskan spekulum cocor bebek yang terpasang pada introitus vagina 14. buka sarung tangan, letakkan dalam larutan desinfektan 15. cuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir, kemudian keringkan dengan handuk bersih 16. beri label pada sampel, kirim ke laboratorium. Hasil pap smear normal menunjukkan hasil negatif, yaitu tidak adanya sel-sel serviks yang abnormal. Sedangkan hasil pap smear abnormal dibagi menjadi 3 hasil utama : 1. Jinak (bukan kanker), dokter umumnya menterapi sebagai infeksi dan melakukan kontrol ulang dalam 4-6 bulan untuk mengulang pap smear; atau hanya melakukan kontrol ulang saja.

2. Prekanker (menunjukkan beberapa perubahan sel abnormal), biasanya dilaporkan sebagai sel atipik atau displasia serviks. Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kolposkopi dan biopsi. Kurang dari 5% hasil pap smear menemukan dysplasia serviks. Walaupun hingga saat ini, penyebabnya belum diketahui, beberapa faktor risiko telah diidentifikasi, yaitu : partner seks lebih dari satu, memulai aktivitas seksual sebelum usia 18 tahun, memiliki anak sebelum usia 16 tahun, menderita Penyakit Menular Seksual (PMS), terutama infeksi HIV atau Human Papilloma Virus. 3. Ganas (kemungkinan kanker) Secret dan Cairan Tubuh Macam-macam bahan secret dan cairan tubuh yang sering dijadikan sample pemeriksaan sitologi, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. Sputum Pus Urine Lcs Cairan Pleura

Pembuatan preparat sitologi dengan sampel urine, yaitu: a. sediaan apus digunakan centrifuge kecepatan 2600 rpm dibuang tetes saja ambil endapan dengan clinipete letakkan diatas objek glass sebanyak 1 setelah dicentrifuge, cairan yang jernih centrifuge selama 15 menit dengan masukkan urine kedalam tabung siapkan alat dan bahan yang akan

ujung di tetesan objek glass papinocolou b. sediaan obat nyamuk rpm Pengecatan Sitologi Pengecatan sitologi ada 2 macam, yaitu : 1.

ambil objek glass lain dan letakkan sisi tarik tetesan urine hingga ke sisi ujung keringkan dan lakukan pengecatan

siapkan alat dan bahan yang akan digunakan masukkan urine kedalam tabung centrifuge centrifuge selama 15 menit dengan kecepatan 2600 setelah dicentrifuge, bagian yang jernih dibuang ambil endapan dengan clinipete letakkan diatas objek glass jangan diteteskan buat lingkaran seperti obat nyamuk keringkan dan lakukan pengecatan papinocolou

Pengecatan Diff Quick untuk FNAB, caranya; Fiksasi methanol Tiriskan Eosin Tiriskan Methylene blue Celupkan dalam air Tiriskan selama 3 menit sebanyak 5-7 celup selama 3 menit selama 3 menit

2. caranya:

Pengecatan Papanicolou untuk secret dan cairan tubuh, Fiksasi alcohol 96% Cuci air mengalir HE (hematoxilin) Cuci air mengalir Bluing Alkohol 96% Alkohol 96% OG Alkohol 96% Alkohol 96% EA50 Alkohol 96% Alkohol 96% Keringkan Clearing (xylol) I Clearing (xylol) II Mounting (entelan) selama selama 1 menit 1 menit selama 30 menit selama 5 menit selama 5-7 menit selama 5 menit selama 2 menit sebanyak 10 celup sebanyak 10 celup selama 5 menit

selama 10 menit selama 10 menit selama 15 menit selama 10 menit selama 10 menit

BAB III PENUTUP


Kesimpulan Pemeriksaan sitologi termasuk pelayanan deteksi dini dalam menghadapi kanker yang diharapkan angka morbiditas dan mortalitas akibat kanker dapat diturunkan. Pemeriksaan sitologi meliputi pemeriksaan Pap smear, FNAB ( Fine Needle Aspiration Biopsy ), secret dan cairan tubuh. Tahap pemeriksaaan sitologi: a. b. c. d. e. dan papinocolou ) Pemeriksaan histology sangat penting dalam kaitan dengan diagnosis penyakit karena salah satu pertimbangan dalam penegakan diagnosis adalah melalui hasil pengamatan terhadap jaringan yang diduga terganggu. Tahap pemeriksaan Histologi: a.Penerimaan dan identifikasi jaringan b. d. Deskripsi jaringan yang akan diperiksa Prossesing jaringan c.Pemotongan gross jaringan e.Pembuatan blok paraffin penerimaan dan persiapan pasien pengambilan sample Pengolahan sampel pembuatan sediaan / preparat pengecatan sitologi ( pengecatan Diff quick

f. Pemotongan blok paraffin g. h. Pembuatan preparat histologi Pengecatan preparat histology ( pengecatan HE )

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Patologi_anatomi http://id.wikipedia.org/wiki/Histopatologi http://id.wikipedia.org/wiki/Histologi http://nusaindah.tripod.com/tipspapsmear.htm http://id.wikipedia.org/wiki/Pap_smear http://www.alhamsyah.com/blog/articles/pap-smear.html http://id.wikipedia.org/wiki/Endometrium http://www.lusa.web.id./penyakit-menular-seksual http://www.medistra.com http://woman-webmd.com http://en.wikipedia.org/wiki/Screening_%28medicine%29 http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Illu_cervix.jpg

LAMPIRAN
Pemeriksaan Histologi

Pemeriksaan Sitologi FNAB ( Fine Needle Aspiration Biopsy )

Pap Smear

End Can ViraNor ocer dida l l mal vica orgacyto squ nis path amo us heli ade ms ic arci pap ct a on a pap test.

noc on a effe epit nomtest. con al sistecell nt s in withpre herpmen es opa sim usal plex wo viru men s on a pap test.

Atrophic squamous cells in postmenopausal women

Normal endocervical cells should be present into the slide, as a proof of a good quality sampling

the cytoplasms of squamous epithelial cells Infestation by Trichomonas melted out; many Dderlein bacilli can be seen vaginalis