Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM SOFTWARE TENAGA LISTRIK

ANALISA KARAKTERISTIK PEMUTUSAN PENGAMAN


DENGAN MENGGUNAKAN METODE STAR VIEW

Disusun guna melengkapi persyaratan nilai mata kuliah software tenaga listrik

Disusun oleh : 1) 2) 3) 4) Annisa Herawati Farikha Himawati Luthfi Wira Putra Rizky Nuladhani (3.39.10.0.00) (3.39.10.0.00) (3.39.10.0.19) (3.39.10.0.21)

PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK NEGERI SEMARANG

2012

ANALISA KARAKTERISTIK PEMUTUSAN PENGAMAN


I. Tujuan Adapun tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat : 1. 2. 3. 4. Menggunakan software aplikasi ETAP 6.0.0 dengan baik Merangkai suatu rangkaian system listrik Melakukan simulasi gangguan atau hubung singkat dan menganalisa Memahami karakteristik pengaman OCR, Fuse, dan CB

pengamannya.

II. Pendahuluan Di dalam rangkaian elektronik atau rangkaian listrik, sekering (fuse) berfungsi sebagai pengaman, yaitu ketika terjadi kelebihan arus listrik. Cara kerja fuse, jika dalam sebuah sistem rangkaian elektonik atau rangkaain listrik terjadi arus lebih maka sekering (fuse) akan putus sehingga arus listrik tidak lagi mengalir dalam sistem tersebut untuk mengamankan komponen lain. Kelebihan arus tersebut dapat disebabkan karena adanya hubung singkat atau karena kelebihan beban output. Banyak terjadi kebakaran karena hubung singkat akibat sekering tidak berfungsi, rusak, atau bahkan karena tidak dipasang sama sekali. Satuan fuse adalah mA (mili Ampere) dan A (Ampere). Fuse dengan nilai limit 500 mA akan putus ketika dialiri arus lebih dari 500 mA, demikian juga jika fuse 15 A akan putus jika dialiri arus lebih dari 15 A. Jika sebuah fuse tidak putus ketika dialiri arus lebih dari nilai yang tercantum (I Output > I Fuse Limit), fuse tersebut harus segera diganti karena kemungkinan rusak dan dapat membahayakan. Perhatikan gambar disamping. R Beban akan berjalan normal (On) ketika saklar (S1) ditutup karena arus listrik akan mengalir dari sumber tegangan (V) menuju fuse dan R Beban. Jika saklar (S1) dibuka maka R Beban akan mati karena tidak ada arus yang mengalir.

Apabila suatu saat terjadi hubung singkat pada output atau R beban berlebih (lebih dari nilai arus limit fuse), maka fuse akan putus, akibatnya R Beban tidak akan bekerja (Off) dan sumber tegangan tidak akan rusak. Pada rangkain listrik R Beban tersebut dapat berupa lampu, televisi, radio, mesin cuci, setrika, dan perangkat lain yang menggunakan sumber tegangan AC. Sedangkan pada rangkain elektronika R Beban dapat berupa lampu neon kecil, LED, buzzer, speaker, motor DC, atau sebuah sistem elektronik lain yang merupakan output atau beban sumber tegangan DC.

Simbol Sekering (Fuse)

Miniature Time Delay Fuse Digunakan untuk melindungi perangkat elektronik dengan nilai limit 300 mA 250 V Circuit Breaker atau Sakelar Pemutus Tenaga (PMT) adalah suatu peralatan pemutus rangkaian listrik pada suatu sistem tenaga listrik, yang mampu untuk membuka dan menutup rangkaian listrik pada semua kondisi, termasuk arus hubung singkat, sesuai dengan ratingnya. Juga pada kondisi tegangan yang normal ataupun tidak normal. Pada waktu pemutusan atau penghubungan suatu rangkaian sistem tenaga listrik maka pada PMT akan terjadi busur api, hal tersebut terjadi karena pada saat kontak PMT

dipisahkan , beda potensial diantara kontak akan menimbulkan medan elektrik diantara kontak tersebut, seperti ditunjukkan pada gambar 1.

Gambar 3.1 Pembentukan Busur Api Arus yang sebelumnya mengalir pada kontak akan memanaskan kontak dan menghasilkan emisi thermis pada permukaan kontak. Sedangkan medan elektrik menimbulkan emisi medan tinggi pada kontak katoda (K). Kedua emisi ini menghasilkan elektron bebas yang sangat banyak dan bergerak menuju kontak anoda (A). Elektronelektron ini membentur molekul netral media isolasi dikawasan positif, benturanbenturan ini akan menimbulkan proses ionisasi. Dengan demikian, jumlah elektron bebas yang menuju anoda akan semakin bertambah dan muncul ion positif hasil ionisasi yang bergerak menuju katoda, perpindahan elektron bebas ke anoda menimbulkan arus dan memanaskan kontak anoda. Ion positif yang tiba di kontak katoda akan menimbulkan dua efek yang berbeda. Jika kontak terbuat dari bahan yang titik leburnya tinggi, misalnya tungsten atau karbon, maka ion positif akan akan menimbulkan pemanasan di katoda. Akibatnya, emisi thermis semakin meningkat. Jika kontak terbuat dari bahan yang titik leburnya rendah, misal tembaga, ion positif akan menimbulkan emisi medan tinggi. Hasil emisi thermis ini dan emisi medan tinggi akan melanggengkan proses ionisasi, sehingga perpindahan muatan antar kontak terus berlangsung dan inilah yang disebut busur api. Rele arus lebih OCR memproteksi instalasi listrik terhadap gangguan antar fasa. Sedangkan untuk memproteki terhadap gangguan fasa tanah digunakan rele Rele Arus Gangguan tanah atau Ground Fault Relay (GFR). Prinsip kerja GFR sama dengan

OCR, yang membedakan hanyalah pda fungsi dan elemen sensor arus. OCR biasanya memiliki 2 atau 3 sensor arus (untuk 2 atau 3 fasa) sedangkan GFR ahnya memiliki satu sensor arus (satu fasa ). Waktu kerja rele OCr maupun GFR tergantung nilai setting dan karakteristik waktunya (lihat posting saya mengenai hal ini disini). Elemen tunda waktu pada rele ini pada 2, yaitu elemen low set dan elemen high set. elemen low set bekerja ketika terjadi gangguan dengan arus hubungsingkat yang relatif kecil, sedangkan elemen high set bkerja ketika terjadi gangguan dengan arus hubung singkat yang cukup besar.

Gambar grafik karakteristik waktu tunda rele OCR Pada gamabr diatas, elemen low set disetting dengan menggunakan karakteristik inverse. Sedangkan elemen high set menggunakan karateristik definite. Pembantukan kurva waktu tunda rele dimaksudkan agar ketika terjadi gangguan dengan arus hubung singkat yang cukup besar (dalam grafik di atas ketika terjadi gangguan dengan arus > 2400A) maka rele akan segera memerintahkan Pemutus tenaga (PMT) untuk trip. Rele OCR dan GFR dipasang sebagai alat proteksi motor, trafo, penghantar transmisi, dan penyulang. Posting kali ini menulsi tentang OCRdan GFR sebagai proteksi trafo dan penyulang. Sebagai alat proteksi maka penggunaa rele harus memenuhi persyaratan proteksi yaitu : cepat, selektif, serta handal. Rele harus disetting sedemikian rupa sehingga dapat bekerja secepat mungkin dan meminimalkan bagian dari sistem yang harus padam. Hal ini diterapkan dengan cara mengatur waktu kerja rele agar bekerja lambat ketika terjadi arus gangguan kecil, dan bekerja semakin cepat apabila arus gangguan semakin besar, hal ini disebut karakteristik inverse. Karakteristik inverse dibedakan menjadi 4 seperti yang saya tulis dalam posting saya terdahulu, yaitu SI-VIEI-LTI.

Gambar koordinasi waktu kerja rele Pada gambar diatas, terlihat bahwa rele yang berada dipangkal berfungsi sebagai pengaman cadangan bagi rele yang berada didepannya. semakin jauh letak gangguan dari pangkal, maka arus gangguan akan semakin kecil, maka rele di pangkal akan bekerja lebih lama dari pada rele yang di depannya ketika terjadi gangguan yang berada di ujung. Oleh karena itu disusun aturan penyetaln rele OCR

kaidah setting ocr trafo dan penyulang

kaidah setting gfr trafo dan penyulang Pada dasarnya relay arus lebih adalah suatu alat yang mendeteksi besaran arus yang melalui suatu jaringan dengan bantuan trafo arus. Harga atau besaran yang boleh melewatinya disebut dengan setting. Macam-macam karakteristik relay arus lebih : a. Relay waktu seketika (Instantaneous relay) b. Relay arus lebih waktu tertentu (Definite time relay) c. Relay arus lebih waktu terbalik (Inverse Relay)

Relay Waktu Seketika (Instantaneous relay) Relay yang bekerja seketika (tanpa waktu tunda) ketika arus yang mengalir melebihi nilai settingnya, relay akan bekerja dalam waktu beberapa mili detik (10 20 ms). Dapat kita lihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 1. Karakteristik Relay Waktu Seketika (Instantaneous Relay). Relay ini jarang berdiri sendiri tetapi umumnya dikombinasikan dengan relay arus lebih dengan karakteristik yang lain. Relay arus lebih waktu tertentu (definite time relay). Relay ini akan memberikan perintah pada PMT pada saat terjadi gangguan hubung singkat dan besarnya arus gangguan melampaui settingnya (Is), dan jangka waktu kerja relay mulai pick up sampai kerja relay diperpanjang dengan waktu tertentu tidak tergantung besarnya arus yang mengerjakan relay, lihat gambar dibawah ini.

Gambar 2. Karakteristik Relay Arus Lebih Waktu Tertentu (Definite Time Relay). Relay arus lebih waktu terbalik. Relay ini akan bekerja dengan waktu tunda yang tergantung dari besarnya arus secara terbalik (inverse time), makin besar arus makin kecil waktu tundanya.

Karakteristik ini bermacam-macam dan setiap pabrik dapat membuat karakteristik yang berbeda-beda, karakteristik waktunya dibedakan dalam tiga kelompok : Standar invers Very inverse Extreemely inverse

Gambar 3. Karakteistik Relay Arus Lebih Waktu Terbalik (Inverse Relay). III. Daftar Peralatan 1. Software Instalasi Tenaga Listrik ETAP 6.0.0 2. Laptop IV. Data Praktikum 4.1. Rangkaian Operasi Star Sequence

4.2. Simulasi Hubung Singkat/ Gangguan pada bus 3

4.3. Short Circuit Summary Report

IV.6.

Grafik Pengaman (star1)

V.

Analisis Data 5.1. Analisa simulasi gangguan pada bus 2

Ketika disimulasikan gangguan pada bus 2, CB 4, Fuse, dan CB 3 mengalami trip secara berurutan berdasarkan letak terdekat dari letak terdekat hingga terjauh dari gangguan. Selain itu juga berdasarkan setting waktu dari masing-masing pengaman, yaitu 0.01 0.07 secon pada arus 19,624 KA untuk CB4, 0.267 0.413 secon untuk waktu pemutusan Fuse 1 pada arus 0,755 kA. OCR 2 trip pada 5.948 secon pada arus 0.755 kA. OCR memerintahkan CB3 untuk trip pada 6.032 secon selisih 0.0833 secon dari kerja OCR2. 5.2. Analisa Karakteristik Pengaman 1) CB 5 Pada CB5 yang terletak setelah bus 2 dengan rating 10kA, dengan tegangan nominal 0,48 kV, dengan batasan trip antara 300-1300 A. Berdasarkan grafik diatas, pada arus 0 sampai dengan arus 1000A CB 5 masih bekerja secara normal. Setelah memasuki nilai 1000 A ( 10x100) 1300 (13x100) A CB5 mengealami kondisi critical/ hendak trip membutuhkan waktu selama 0.02-0.03 seconds. Kemudian pada arus 3000A sampai 20kA membutuhkan waktu selama 0.75 seconds untuk pecah atau rusak sehingga tidak dapat digunakan kembali. 2) CB 4

Pada CB4 yang terletak sebelum bus 2 dengan rating 42 kA dengan tegangan nominal 0,6 kV dengan batasan 3) 4) 5) VII. KESIMPULAN VIII. REFERENSI http://www.linksukses.com/2011/12/cara-kerja-sekering-fuse.html http://dunia-listrik.blogspot.com/2008/10/circuit-breaker-sakelar-pemutus.html CB 3 Fuse OCR 2