Anda di halaman 1dari 3

Ringkasan Kasus Jika suatu perusahaan terdaftar di pasar modal, etika yang ditemukan adalah keadilan terhadap pemegang

saham minoritas di bursa. Sebagai contoh kasus akuisisi Internal Perusahaan Salim Group pada bulan Juli 1992 yaitu akuisisi Indocement terhadap Bogasari yang ditenggarai terjadi karena adanya niat-niat yang menyimpang dari emiten. Kala itu Bogasari yang mencapai laba tahunan sebesar Rp 65 milyar dibeli seharga Rp 1,1 trilyun. Dalam kasus ini, tentu yang dirugikan adalah pemilik saham minoritas karena adanya pengurangan deviden akibat dari peningkatan asset dan beban depresiasi. Selain itu, dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pemilik saham minoritas tidak punya hak untuk menolak akuisis ini. Pemerintah pun tak luput dirugikan dalam hal ini dalam hal sektor penerimaan pajak akibat peningkatan penyusustan.

Wujud dari masalah etika bisnis dapat dicirikan oleh adanya faktor-faktor: (1) berkaitan dengan hati nurani, standar moral, atau nilai terdalam dari manusia, (2) karena masalahnya rumit, maka cenderung akan timbul perbedaan persepsi tentang sesuatu yang buruk atau tidak buruk; membahagiakan atau menjengkelkan, (3) menghadapi pilihan yang serba salah, contoh Akuisisi internal Indocement terhadap Bogasari ; pilihannya kalau mau dapat untung harus tetap menjalankan akuisisi internal tersebut namun tetap dibayangi masalah etika yaitu merugikan pemegang saham minoritas dan merusak nama Bursa karena ketidaktransparanan. (4) kemajemukan faktor-faktor yang harus dipertimbangkan. (Sumber: Julianto, 2011) Is it legal? Dengan dikeluarkannya Surat oleh Ketua Bapepam kepada seluruh emiten dengan nomor S-456/PM/1991 yang berisikan persyaratan yang harus dipenuhi dalam pembelian saham atau penyertaan pada perusahaan lain, kegiatan akuisisi menjadi semakin sering dilakukan oleh perusahaan-perusahaan publik.

Hal yang menjadi perhatian pada saat itu adalah bahwa peraturan yang diterapkan belum cukup untuk melindungi kepentingan publik terutama untuk transaksi akuisisi yang mengandung benturan kepentingan, seperti transaksi akuisisi internal. Yang terjadi pada saat itu adalah pada akuisisi internal, pengambil keputusan mulai dari rencana sampai dengan

pelaksanaan transaksi berada pada pihak yang sama sehingga menyebabkan adanya benturan kepentingan.

Peraturan yang berlaku pada saat itu adalah bahwa keputusan boleh tidaknya suatu transaksi dilakukan ditentukan oleh suara terbanyak pada RUPS, sedangkan suara terbanyak dimiliki oleh pemegang saham utama yang memang berkepentingan dengan transaksi-transaksi tersebut (Hendriyan, 2011).

Jadi menurut pendapat kami akuisisi internal yang dilakukan oleh PT Indocement terhadap PT Bogasari pada Juli 1992 secara hukum legal karena belum terdapat peraturan yang secara khusus mengatur tentang akuisisi internal.

Is it balanced? Menurut kami, kedua perusahaan tersebut mengambil keputusan secara tidak fair karena pengambilan keputusan tersebut hanya melibatkan pemegang saham mayoritas dalam RUPS terkait dengan akuisisi PT Bogasari Flour Mills oleh PT Indocement tahun 1992. Keputusan ini tentunya hanya menguntungkan bagi pemegang saham mayoritas dan emiten itu sendiri, sementara pemegang saham minoritas dan pemerintah dirugikan atas keputusan ini. Emiten yang mengakuisisi tersebut akan diuntungkan karena memiliki tambahan modal yang diperoleh dari PT Bogasari. Hal ini berdampak pada posisi keuangan PT Indocement yang terlihat lebih kuat pasca akuisisi, sehingga PT Indocement akan lebih mudah untuk mendapatkan modal tambahan ataupun dalam pengajuan utang. Sementara pemegang saham minoritas secara tidak langsung dirugikan oleh akuisisi tersebut karena harga saham perusahaan tempat dia berinvestasi akan sangat fluktuatif sekali sehingga merugikan investasinya, deviden yang akan diterima pun jumlahnya akan berkurang. Dalam kasus ini, manajemen puncak yang sekaligus pemegang saham mayoritas cenderung mempermainkan harga saham di bursa. Selain itu, pemegang saham minoritas yang tentu kalah dalam hak suara mau tidak mau menerim keputussan akuisisi internal ini. Akibat dari akuisisi yang dilakukan, nilai aset (tetap) perusahaan menjadi besar sehingga akan memperbesar biaya penyusutan yang berdampak pada menurunya beban pajak yang

harus ditanggung oleh perusahaan bersangkutan. Pemerintah dirugikan karena penerimaan pajaknya menjadi lebih kecil. Selain itu, keputusan akuisisi internal ini juga merugikan para kompetitor lain dalam industri makanan. Karena hal tersebut, pangsa pasar kompetitor menjadi lebih sempit dan memungkinkan Salim Group untuk melakukan monopoli terhadap industri makanan (gandum). Perlu diingat, Salim Group membeli sebagian besar saham PT. Bogasari dari BULOG dengan harga murah. Padahal seperti yang kita ketahui BULOG merupakan satusatunya importir gandum pada masa itu.

How will it make feel about myself? Dilihat dari perspektif pembuat keputusan mereka mungkin akan merasa bangga dengan keputusan mereka karena seolah-olah terdapat peningkatan kinerja mereka. Dengan demikian akan memperkokoh perusahaan itu sendiri secara finansial. Sementara bila ditinjau dari situasi pada saat itu, Salim Group memiliki hubungan baik dengan penguasa Orde Baru sehingga pembuat keputusan tidak terlalu khawatir media akan mengekspos hal itu kepada masyarakat secara negatif. Hal ini tentunya membuat decision maker tetap merasa nyaman dengan keputusan yang telah diambil.

Kesimpulan