Anda di halaman 1dari 128

STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG

(Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang)

Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056

2008 DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

Mila Fadilah Utami. F34103056. Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang). Di bawah bimbingan Dr. Ir. Muhammad Romli, MSc. St dan Dr. Ir. Suprihatin, Dipl.Ing. 2008.

RINGKASAN

Pengembangan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang memiliki prospek baik yang didukung oleh ketersediaan bahan baku, sarana dan prasarana pendukung, permodalan serta strategi pengembangan usaha. Usaha gula merah tebu milik Ibu Arini merupakan salah satu usaha di Kabupaten Rembang, yang dijadikan rujukan dalam pengembangan usaha gula merah tebu. Tujuan dari penelitian ini adalah menyusun strategi pengembangan usaha gula merah tebu dengan menganalisis aspek-aspek yang berkaitan, seperti analisis SWOT, aspek pemasaran, aspek teknis dan teknologis serta aspek finansial. Kajian peluang pengembangan usaha gula merah tebu dimulai dengan menentukan matriks internal eksternal. Berdasarkan hasil yang diperoleh, strategi yang dapat digunakan untuk usaha gula merah tebu adalah strategi integratif (integrasi horizontal). Strategi tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, mengembangkan teknologi dan fasilitas produksi melalui kerjasama dengan pihak lain. Pada analisis SWOT melalui analisis faktor internal dan eksternal, dihasilkan 4 alternatif strategi usaha yang dapat dilakukan, yaitu SO strategi, ST strategi, WO strategi dan WT strategi. Beberapa alternatif strategi yang dihasilkan antara lain meningkatkan kapasitas produksi dengan mutu yang baik, melakukan pengawasan bahan baku dan produk, meningkatkan pangsa pasar, dan menerapkan teknologi tepat guna. Keempat strategi tersebut dilakukan dengan saling mendukung. Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. Teknologi yang diterapkan pada pengembangan usaha

gula merah disesuaikan dengan kebutuhan usaha, kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya. Kondisi kegiatan produksi perusahaan yang biasanya dilakukan selama ini dianalisis dan dibandingkan dengan penerapan teknologi yang baru dalam kegiatan produksi gula merah tebu. Penerapan teknologi dalam upaya pengembangan usaha gula merah adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu, perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. Dalam basis waktu operasi satu hari, kapasitas produksi saat ini adalah 21 kwintal, sedangkan kapasitas produksi pada penerapan pengembangan usaha gula merah tebu adalah 28 kwintal. Kondisi saat ini membutuhkan total biaya investasi sebesar Rp 264,925,497,00 yang terdiri atas modal tetap Rp 218.025.000,00 dan modal kerja Rp 46,900,497,00. Sedangkan untuk penerapan pengembangan usaha Rp 364,761,801,00 yang terdiri atas modal tetap Rp 308.285.000,00 dan modal kerja Rp 56,476,801,00. Kriteria kelayakan investasi untuk masing-masing kondisi secara berurutan yaitu, NPV sebesar Rp 257.968.831,00 dan Rp 854.471.865,00; IRR sebesar 40,60 %. dan 51,12 %; Net B/C sebesar 1,97 dan 3,34; BEP sebesar Rp 195.968.791,00 atau 59.384 Kg/tahun dan Rp 158.721.400,00 atau 45.349 Kg/tahun; PBP sebesar 2,96 dan 1,89 tahun. Berdasarkan hasil tersebut, usaha gula merah tebu layak untuk dikembangkan dengan kedua kondisi, yaitu kondisi yang dilakukan saat ini dan kondisi penerapan pengembangan. Namun jika ditinjau dari indikator NPV, kondisi pengembangan usaha dengan menerapkan alternatif yang ada memiliki nilai NPV jauh lebih besar dibandingkan nilai NPV kondisi usaha saat ini. Sehingga pilihan terbaik untuk mengembangkan usaha gula merah tebu adalah penerapan alternatif pengembangan yang ada, yang didukung pula oleh kriteria investasi lainnya.

Mila Fadilah Utami. F3403056. The Development Study of Brown Cane Sugar Industry on Rembang District (Study Case on Pamotan Subdistrict, Rembang District). Supervised by Dr. Ir. Muhammad Romli, Msc. St. and Dr. Ir. Suprihatin, Dipl. Ing. 2008.

SUMMARY

The development of Brown sugar industry in District of Rembang has a good prospect supported by the availability of raw material resource, supporting facility, capitalization, and the development strategy. Brown cane sugar industry owned by Mrs. Arini is one of brown cane sugar industries in District of Rembang, which was chosen to be the reference in developing brown cane sugar industry. The aim of this research was to plan the development strategy of brown cane sugar industry by analyzing related aspects, such as SWOT analysis, marketing aspect, technical and technological aspect, and also the financial aspect. The study of brown cane sugar industry development prospect was started with deciding internal external matrix. From the obtained result, applicable strategy for brown cane sugar industry was Integrative strategy (Horizontal integration). The strategy was done by increasing product quality, extending market, developing technology and production facilities by cooperating with other instances. The SWOT analysis based on internal (Strengths and Weaknesses) and external (Opportunities and Threats) factors, gave four alternative strategies (SO, WO, ST and WT). Those strategies were increasing well-qualified production capacity, supervising on raw materials and products, increasing market share, and application effective technology. Those strategies were carried out supportively one to another. The company production activity which was used to be done was analyzed and compared with the application of new technology in producing brown cane sugar. The new technology application implied were the using of steam pan on cane sap cooking process, raw material conditioning (cane), and the staged

filtering of cane sap from extraction. Production capacity for the present condition was 2.1 tons per day and the development condition was 2.8 tons per day. Total investment required for the present condition was Rp.

264.925.497,00 which divided into Rp. 218.025.000,00 fixed cost, and Rp. 46.900.497,00 production cost. While for the development condition total investment required was Rp. 364.761.801,00, which divided into Rp. 308.285.000,00 fixed cost, and, Rp. 56.476.801,00 production cost. The criteria of investment feasibility for each condition in order were, NPV of Rp.

257.968.831,00 and Rp. 854.471.865,00; IRR of 40,60 % and 51,12 %; Net B/C of 1,97 and 3,34; BEP of Rp. 195.968.791,00 or 59.384 kgs/year and Rp. 158.721.400,00 or 45.349 kgs/year; PBP of 2,96 year and 1,89 year. Based on the results, brown cane sugar industry was feasible on both conditions. But if viewed from NPV indicator, the development condition had much better NPV than present condition. So the best choice for the brown cane sugar industry development was the development condition, which was supported by the other investment criteria.

STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG


(Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang)

Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056

SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor

2008 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

STUDI PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN REMBANG (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang)

SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor

Oleh : MILA FADILAH UTAMI F 34103056

Dilahirkan pada tanggal 05 April 1985 Di Pandeglang

Tanggal lulus : Januari 2008

Disetujui, Bogor, Januari 2008

Dr. Ir. Muhammad Romli, MSc. St Pembimbing Akademik I

Dr. Ir. Suprihatin, Dipl. Ing. Pembimbing Akademik II

PERNYATAAN

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang berjudul Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang (Studi Kasus di Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang) adalah hasil karya sendiri dengan arahan dosen pembimbing, kecuali yang dengan jelas rujukannya.

Bogor, Januari 2008

Mila Fadilah Utami F 34103056

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbilalamin, segala puji dan syukur bagi Allah SWT atas segala rahmat dan kasih sayang-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dalam rangka memenuhi tugas akhir di Departemen Teknologi Industri Pertanian. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, kepada keluarga dan para sahabatnya. Skripsi yang berjudul Studi Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang disusun berdasarkan penelitian yang telah penulis laksanakan di Kabupaten Rembang. Penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung hingga terselesaikannya tugas akhir ini, yaitu kepada : 1. Dr. Ir. Muhammad Romli, MSc. St., sebagai dosen pembimbing pertama yang berkenan membimbing dan mengarahkan penulis hingga terselesaikannya tugas akhir ini. 2. Dr. Ir. Suprihatin, Dipl. Ing., sebagai dosen pembimbing kedua yang telah memberikan bimbingan dan perhatiannya. 3. Dr. Ir. Yandra Arkeman, M. Eng., sebagai dosen penguji yang telah memberikan saran dan kritikan yang membangun dalam ujian dan penyusunan skripsi. 4. Keluarga besar Bapak Abdussalam (Mbah Kakung) dan Ibu Arini sebagai pemilik usaha gula merah tebu serta para pengusaha gula merah tebu yang berada di Kabupaten Rembang atas bantuan dan dukungannya selama melakukan penelitian. 5. Ayahanda tercinta H. Misri Ahmadi dan Ibunda tercinta (Alm) Hj. Lili Aliah, serta kelima saudara penulis (Aa dan Teteh) yang telah memberi doa, dukungan dan kasih sayang tanpa batas. 6. Sahabat sekaligus mitra selama penelitian di Rembang, Er-R yang telah memberikan dukungan dan kerjasama yang amat berharga.

7. Sahabat-sahabat penulis, Endang, Endah, Idesh, Dika, Umi, Mamin, Mayang wo, Ana, Bunda, Windi, Yuyu, Dita, Lucia, Naqoer, Mb Ida, Aa Ijey, Aa Indra, Aa Bayu, Aa Dudi, Mas Umam, Om Ucup, Da Hendrick, Bang Affan, Bung Amet, dan Bung Fardian. Terima kasih atas support yang amat berarti dan telah menjadi teman terbaik dalam berbagi. 8. Teman-teman TIN 40, atas dukungan, pengalaman dan kebersamaan selama ini. 9. Para Lawalata-Ers, atas dukungan, perhatian dan pengalaman yang begitu berharga. 10. Bapak dan Ibu Laboran serta seluruh staf Departemen TIN. 11. Popo Iskandar, ST yang selalu memberikan dukungan, perhatian dan ketegaran kepada penulis. 12. Seluruh pihak yang telah membantu penelitian ini.

Bogor, Januari 2008

Penulis

10

DAFTAR ISI

Halaman KATA PENGANTAR...................................................................................... i DAFTAR ISI..................................................................................................... iii DAFTAR TABEL............................................................................................. v DAFTAR GAMBAR........................................................................................ vi DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................... vii I. PENDAHULUAN...................................................................................... 1 A. LATAR BELAKANG.......................................................................... 1 B. TUJUAN............................................................................................... 2 II. TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 3 A. NIRA..................................................................................................... 3 B. GULA MERAH.................................................................................... 4 1. MUTU GULA MERAH................................................................. 6 2. PROSES PEMBUATAN GULA MERAH TEBU......................... 9 3. PERBAIKAN PROSES.................................................................. 11 C. USAHA KECIL.................................................................................... 12 D. KONSEP MANAJEMEN STRATEGIS.............................................. 13 1. PROSES MANAGEMEN STRATEGIS........................................ 14 2. SWOT............................................................................................. 15 3. ASPEK PEMASARAN.................................................................. 15 E. ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS............................................... 16 F. ASPEK FINANSIAL............................................................................ 17 III. METODOLOGI.......................................................................................... 18 A. KERANGKA PEMIKIRAN................................................................. 18 B. TATA LAKSANA................................................................................ 19 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................................. 24 A. KARAKTERISTIK WILAYAH.......................................................... 24 1. KARAKTERISTIK INDUSTRI..................................................... 27 2. ASPEK LEGALITAS..................................................................... 30

11

B. PROFIL USAHA GULA MERAH TEBU........................................... 32 1. ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS.........................................32 2. ASPEK PEMASARAN..................................................................39 3. ASPEK FINANSIAL......................................................................41 C. ANALISIS PENGEMBANGAN GULA MERAH TEBU................... 46 1. ANALISIS SWOT.......................................................................... 46 2. ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS.........................................57 3. ASPEK PEMASARAN.................................................................. 68 4. ASPEK FINANSIAL......................................................................71 V. KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................. 80 A. KESIMPULAN......................................................................... 80 B. SARAN..................................................................................... 82 DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 83 LAMPIRAN..................................................................................................... 86

12

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6. Komposisi Padatan dalam Nira Tebu ............................................ 4 Nilai Gizi Yang Terkandung Setiap 100 g Berbagai Jenis Gula ... 5 Perbandingan Gula Pasir dan Gula Merah .................................... 6 Spesifikasi Persyaratan Mutu Gula Merah Tebu .......................... 7 Jenis dan Sumber Data Untuk Penelitian ...................................... 19 Sebaran Perkebunan Tebu dan Potensi Pengembangannya di Kabupaten Rembang Taun 2005 .................................................... 24 Tabel 7. Luas Areal, Produksi, Produkstivitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 ................. 25 Tabel 8. Tabel 9. Harga Rata-Rata Komoditas Perkebunan Tahun 2006 .................. 28 Harga Jual Gula Tumbu dari Pengrajin ke Pedagang Pengumpul Tahun 2006 ................................................................. 40 Tabel 10. Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah

Tebu....................................................................................................42 Tabel 11. Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah

Tebu....................................................................................................43 Tabel 12. Total Investasi untuk Industri Gula Merah

Tebu....................................................................................................43 Tabel 13. Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu..................................44 Tabel 14. Perincian Laba Bersih........................................................................44 Tabel 15. Tingkat Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha............................................................................ 47 Tabel 16. Matriks IFE Industri Gula Merah Tebu..............................................49 Tabel 17. Matriks EFE Industri Gula Merah Tebu.............................................51 Tabel 18. Matriks Internal Eksternal................................................................. 52 Tabel 19. Matriks Analisis SWOT.....................................................................53 Tabel 20. Tingkat Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha.............................................................................68

13

Tabel 21. Kapasitas Produksi pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan....................................................................................73 Tabel 22. Komposisi Modal Tetap Kondisi Pengembangan

Usaha..................................................................................................74 Tabel 23. Komposisi Modal Kerja Kondisi Pengembangan Usaha....................75 Tabel 24. Total Investasi Kondisi Pengembangan Usaha....................................75 Tabel 25. Struktur Pembiayaan Kondisi Pengembangan Usaha ......................... 76 Tabel 26. Penilaian Laba Bersih Kondisi Pengembangan Usaha........................ 76 Tabel 27. Ringkasan Kondisi Saat ini dan Pengembangan Usaha Gula Merah................................................................................................. 79

14

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula merah Tebu.............................11 Gambar 2. Bahan Baku Usaha (Tebu)...................................................................25 Gambar 3. Proses Penggilingan.............................................................................33 Gambar 4. Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Berundak................................35 Gambar 5. Nira Tebu Yang Mulai Mengental.......................................................35 Gambar 6. Gula Merah Tebu.................................................................................36 Gambar 7. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Tumbu.........................37 Gambar 8. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur...........................38 Gambar 9 Distribusi Produk Gula Merah Tebu....................................................40 Gambar 10. Alat Penyaringan Nira Tebu.............................................................. 59 Gambar 11. Boiler dan Wajan Uap....................................................................... 60 Gambar 12. Proses Penggilingan........................................................................... 63 Gambar 13. Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Uap...................................... 64 Gambar 14. Pemasakan Nira dengan Wajan Uap................................................. 65 Gambar 15. Proses Penirisan Gula........................................................................ 66 Gambar 16. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur pada Skenario 2.................................................................................. 67

15

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1. Komposisi Modal Tetap Skenario 1..................................................86 Lampiran 2. Komposisi Modal Tetap Skenario 2..................................................87 Lampiran 3. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Skenario 1..........................................................................................88 Lampiran 4. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Skenario 2..........................................................................................89 Lampiran 5. Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung........................90 Lampiran 6. Perhitungan Biaya Bahan Baku........................................................91 Lampiran 7. Biaya Operasional pada Skenario 1..................................................92 Lampiran 8. Biaya Operasional pada Skenario 2..................................................94 Lampiran 9. Komposisi Modal Kerja dan Total Biaya Investasi Pada Skenario 1 dan 2.......................................................................96 Lampiran 10. Struktur Pembiayaan Neraca Pembayaran Kredit..........................97 Lampiran 11. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual pada Skenario 1..............99 Lampiran 12. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual pada Skenario 2.............100 Lampiran 13. Proyeksi Laporan Laba Rugi pada Skenario 1.............................. 101 Lampiran 14. Proyeksi Laporan Laba Rugi pada Skenario 2.............................. 103 Lampiran 15. Proyeksi Arus Kas pada Skenario 1.............................................. 105 Lampiran 16. Proyeksi Arus Kas pada Skenario 2.............................................. 107 Lampiran 17. Kriteria Investasi Skenario 1......................................................... 109 Lampiran 18. Kriteria Investasi Skenario 2......................................................... 110

16

I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Gula merupakan salah satu dari sembilan bahan pokok kebutuhan masyarakat. Kebutuhan ini semakin meningkat setiap tahunnya, yang tidak dapat diimbangi oleh tingkat produksi gula nasional. Data konsumsi gula nasional pada tahun 2005 sebesar 3,6 juta ton/ tahun, sementara produksi hanya sekitar 2,0 juta ton/ tahun (Tim Studi P3GI, 2005). Gula merah merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan gula di Indonesia. Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kabupaten Rembang mencapai 23.127.555 ton. Jumlah luas tanaman tebu Kabupaten Rembang 6.140,86 hektar, dengan luas potensi lahan kering sebesar 9.488 hektar. Hal ini menunjukkan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang memiliki potensi pengembangan yang besar. Namun, pengembangan usaha gula merah tebu ini menghadapi beberapa kendala antara lain keterbatasan modal dan aplikasi teknologi, serta rendahnya sumber daya manusia dalam penguasaan teknologi. Sebagian besar gula merah yang ditemui di pasar lokal cukup bervariasi, terutama dalam hal penampakan dan sifat fisiknya, yaitu warna, kadar abu dan kekerasannya. Keragaman mutu produk di pasaran dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu rendahnya teknologi proses yang digunakan, variasi bahan baku, dan kondisi proses pengolahan yang tidak konsisten. Menurut Rosby (2004), proses produksi gula merah yang selama ini dikerjakan menggunakan teknologi sederhana dan bersifat tradisional inilah yang menyebabkan hasil produksi gula merah sangat bervariasi. Gula merah di pasar Indonesia memiliki warna yang berbeda-beda, mulai dari kuning, merah, coklat, dan bahkan ada yang cenderung hitam. Demikian juga dengan kekerasan dan teksturnya, ada yang lembek dan ada pula yang sangat keras (Nurlela, 2002). Kualitas yang bervariasi inilah yang menyebabkan industri gula merah kurang berkembang dengan baik, bahkan kurang mampu bersaing menghadapi industri lain yang memproduksi bahan substitusi gula merah.

17

Selain warna dan kekerasan, tingginya kadar abu dalam gula merah juga menjadi kendala bagi perkembangan gula merah. Menurut Herman (1987), sebagian besar kotoran dalam gula berasal dari pengotoran oleh lingkungan (tanah, pasir, dan sebagainya) karena kurangnya perhatian terhadap kebersihan ruang pengolahan maupun peralatan yang digunakan. Selain itu pengotoran dapat terjadi secara alami dari bahan bakunya. Berdasarkan permasalahan tersebut diperlukan kajian mengenai studi pengembangan usaha gula merah tebu, dengan memperhatikan aspek-aspek yang terkait.

B. TUJUAN Penelitian ini bertujuan untuk : a. Menganalisis aspek-aspek yang berkaitan dengan pengembangan usaha gula merah tebu, yang mencakup analisis SWOT, aspek pemasaran, aspek teknis dan teknologis, serta aspek finansial. b. Menyusun strategi pengembangan usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang.

18

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. NIRA Nira tebu merupakan campuran dari beberapa komponen. Komposisi nira tebu tidak akan selalu sama, tergantung pada jenis tebu, kondisi geografis, tingkat kematangan, serta cara penanganan sebelum penebangan dan pengangkutan (Reece, 2003). Menurut Puri (2005), Nira merupakan cairan hasil penggilingan tebu yang berwarna coklat kehijauan. Nira tebu dalam keadaan segar terasa manis, berwarna coklat kehijau-hijauan dengan pH 5.5-6.0. Santoso (1993) menyatakan bahwa, nira sangat mudah mengalami kerusakan sehingga nira menjadi asam, berbuih putih, dan berlendir. Apabila nira telambat dimasak biasanya warna nira akan berubah menjadi keruh kekuningan, rasanya asam serta baunya menyengat. Kondisi dan sifat-sifat nira ini akan menentukan sifat dan mutu produk yang dihasilkan (Muchtadi,1992). Kerusakan nira banyak sekali macamnya, namun pada umumnya nira dikatakan rusak jika sukrosa dalam nira terinversi menjadi gula pereduksi yang terdiri dari glukosa dan fruktosa dalam perbandingan yang sama (Indeswari, 1986). Inversi sukrosa ini dapat disebabkan oleh suhu yang terlalu tinggi, derajat keasaman (pH) nira yang terlalu rendah atau tinggi dan aktivitas mikroorganisme (Soerjadi, 1979). Sebagian besar gula merah warnanya coklat sampai coklat kehitaman serta mudah lembek. Hal ini mungkin akibat terjadinya kegosongan selama proses pengolahan, disamping nira yang kurang baik (Herman, 1987). Pembentukan warna gula merah dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu kondisi bahan baku (nira) dan proses pembuatannya. Kondisi nira yang dimaksud adalah kondisi nira (segar atau asam) dan komposisi kimia nira (kadar air, protein, asam-asam organik, dan lemak). Sedangkan tahapan prosesnya adalah suhu proses, pengadukan selama pemasakan, serta kondisi kebersihan proses (sanitasi) dan alat-alat yang digunakan (Nurlela, 2002).

19

Menurut Poel et al. (1998) dalam Reece (2003), komposisi padatan terlarut yang terdapat di dalam nira tebu disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi Padatan Dalam Nira Tebu Komponen g/100g basis kering Bahan gula Sukrosa Glukosa Fruktosa Oligosakarida Garam Dari asam organik Dari asam anorganik Asam organik Asam karboksilat Asam amino Bahan-bahan organik bukan gula lainnya Protein Pati Polisakarida terlarut Lilin, lemak dan fosfolipid 0.5-0.6 0.001-0.18 0.03-0.50 0.04-0.15 75.0-94.0 70.0-90.0 2.0-4.0 2.0-4.0 0.001-0.05 3.0-4.5 1.5-4.5 1.0-3.0 1.5-5.5 1.1-3.0 0.5-2.5

B. GULA MERAH Gula merah adalah hasil olahan nira yang berbentuk padat dan berwarna coklat kemerahan sampai dengan coklat tua. Nira yang digunakan biasanya berasal dari tanaman kelapa, aren, lontar atau siwalan, dan tebu (Dachlan, 1984). Selain untuk konsumsi di tingkat rumah tangga, gula merah juga menjadi bahan baku untuk berbagai industri pangan seperti industri kecap, tauco, produk cookies, dan berbagai produk makanan tradisional (Santoso, 1993). Gula merah juga mulai dikonsumsi di berbagai negara baik sebagai konsumsi akhir maupun sebagai bahan baku dan bahan tambahan dalam suatu industri. Gula merah banyak

20

diminati di Jerman dan Jepang, industri perhotelan, supermarket, pabrik kecap ekspor, hingga pabrik anggur. (Warastri, 2006). Dilihat dari segi kesehatan, gula merah memiliki beberapa keunggulan dibandingkan gula putih (gula pasir). Nilai gizi gula merah ternyata lebih baik dibandingkan dengan gula pasir yang banyak dikonsumsi manusia saat ini. Utami (1996) menyatakan bahwa mengkonsumsi gula kristal putih sama saja dengan mengkonsumsi kalori kosong yang tidak memiliki manfaat nutrisi, para ahli gizi biasa menyebutnya dengan sumber kalori kosong. Pada gula pasir nilai kalorinya memang cukup tinggi, yaitu 364 per 100 gram, namun sebenarnya sudah tidak mengandung gizi lagi (Sarengat et al., 1981). Perbandingan nilai gizi yang terkandung dalam berbagai jenis gula dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Nilai Gizi yang Terkandung Setiap 100 g Berbagai Jenis Gula G.Kelapa (mg) 386.0 3.0 10.0 76.0 76.0 37.0 2.6 0.0 0.0 0.0 0.0 10.0 G.Aren (mg) 386.0 0.0 0.0 95.0 75.0 35.0 3.0 0.0 0.0 0.0 0.0 9.0 G.Merah Tebu (mg) 356.0 0.4 0.5 90.6 51.0 44.0 4.2 0.0 0.02 0.03 0.0 7.4 G. Pasir (mg) 364.0 0.0 0.0 94.0 5.0 1.0 0.1 0.0 0.0 0.0 0.0 5.4 Madu (mg) 294 0.3 0.0 79.5 5.0 16.0 0.9 0.0 9.0 0.0 04.0 20.0

Kalori Protein Lemak Hidrat arang Kalsium Fosfor Besi Vit. A Vit. B1 Vit. B2 Vit. C Air Sumber: Tan, 1980

Nilai kalori satu sendok makan gula merah dianggap sama dengan nilai kalori satu sendok makan gula putih, walaupun sebenarnya ada sedikit perbedaan. Seratus gram gula merah mengandung 373 kalori, sedangkan gula putih mengandung 396 kalori. Meskipun penampakan gula merah lebih padat dibandingkan gula putih, namun butirannya lebih kecil dan kalorinya lebih besar jika diukur berdasarkan volumenya. Gula merah dapat membantu mengurangi kram perut pada saat menstruasi, walaupun manfaat ini belum dapat dipercaya sepenuhnya (Pinder, 2006). Perbandingan antara gula pasir dan gula merah mengenai kandungan dan manfaatnya disajikan pada Tabel 3.

21

Tabel 3. Perbandingan Gula Pasir dan Gula Jawa (Gula Merah) VARIABEL Rasa Manis Glukosa Galaktomanan (berfungsi untuk kesehatan) Energi spontan (energi bisa langsung digunakan oleh tubuh) Antioksidan Lebih bermanfaat untuk diabetes Mengandung senyawa non-gizi yg bermanfaat untuk diabetes (penelitian terbaru yang belum dipublikasikan) Aroma khas nira Mengandung senyawa yg bermanfaat untuk kesehatan seperti yg ada dalam kelapa muda (peneliti Depkes RI, non publikasi) Aman dikonsumsi setiap hari sampai beberapa kali penyajian, karena bebas bahan pengkristal dan bahan pengawet Sumber: Nirasari, 2007 Gula Pasir Ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Gula Jawa Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada

Tidak ada

Ada

1. Mutu Gula Merah Mutu gula merah ditentukan terutama dari rasa dan penampilannya, yaitu bentuk, warna, kekeringan, dan kekerasannya. Gula yang berwarna lebih cerah dan agak keras lebih disukai serta memiliki harga jual lebih tinggi. Gula merah memiliki struktur dan tekstur yang kompak, tidak keras sehingga mudah dipatahkan, dan sekaligus terdapat kesan empuk (Santoso, 1993). Mutu gula merah tebu secara rinci dituangkan dalam SNI 01-6237-2000 yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN). Syarat mutu tersebut dapat dilihat pada Tabel 4. Gula merah hasil produksi pengrajin maupun yang didapatkan di pasaran pada umumnya dalam bentuk gula cetak dan mutunya beragam, ditinjau dari segi keawetan (daya simpan), warna, maupun kadar kotoran. Adanya keragaman warna dan kekerasan pada produk-produk gula merah di pasaran Indonesia dapat disebabkan oleh berbagai hal, yaitu rendahnya teknologi pengolahan, adanya variasi bahan baku (kondisi nira) maupun proses pengolahan yang tidak konsisten (Santoso, 1993).

22

Tabel 4. Spesifikasi Persyaratan Mutu Gula Merah Tebu No. 1 Keadaan - bau - rasa - warna - penampakan Bagian yang tak larut dalam % air, b/b 3 Air, b/b % 4 Gula (dihitung sebagai % sakarosa), b/b 5 Gula pereduksi (dihitung % sebagai glukosa), b/b 6 Bahan tambahan makanan pengawet - residu mg/kg - benzoat mg/kg 7 Cemaran logam - timbal (Pb) mg/kg - tembaga (Cu) mg/kg - seng (Zn) mg/kg - timah (Sn) mg/kg - raksa (Hg) mg/kg 8 Cemaran arsen mg/kg Sumber: Badan Standardisasi Nasional (2000) 2 Jenis uji Satuan Persyaratan Mutu I Mutu II Khas Khas Coklat muda sampai tua Tidak berjamur Maks 1.0 Maks 8.0 Min 65 Maks 11 Khas Khas Coklat muda sampai tua Tidak berjamur Maks 5.0 Maks 10.0 Min 60 Maks 14

Maks 20 Maks 200 Maks 2.0 Maks 2.0 Maks 40.0 Maks 40.0 Maks 0.03 Maks 0.1

Maks 20 Maks 200 Maks 2.0 Maks 2.0 Maks 40.0 Maks 40.0 Maks 0.03 Maks 0.1

Wirioatmodjo (1984) menyatakan bahwa sebagai komoditi pertanian, gula merah memiliki ciri daya simpannya relatif singkat karena mudah menyerap air sehingga mudah lembek. Mengenai warna, Herman (1987) mengungkapkan bahwa sebagian besar gula kelapa warnanya coklat sampai coklat kehitaman serta mudah lembek. Hal ini mungkin akibat terjadinya kegosongan selama proses pengolahan, disamping nira yang diolah kurang baik. a. Warna Gula Merah Gula merah yang warnanya lebih cerah dianggap memiliki kualitas yang lebih baik (Nurlela, 2002). Warna gula merah ditentukan oleh mutu nira yang digunakan. Nira yang telah terfermentasi mengandung asam dan gula pereduksi relatif tinggi. Menurut Shallenberg et al. dalam Nurlela (2002),

23

kandungan gula pereduksi berperan penting dalam proses pencoklatan pada gula merah. Hal ini dikarenakan gula yang siap melakukan reaksi pencoklatan adalah gula pereduksi, sedangkan gula nonpereduksi harus mengalami perubahan menjadi gula pereduksi terlebih dahulu. Reaksi pencoklatan nonenzimatis yang diduga terjadi pada proses pembuatan gula merah adalah reaksi maillard dan karamelisasi, yang disebabkan oleh keberadaan gula pereduksi, protein, dan lemak dalam nira. Reaksi maillard adalah reaksi yang terjadi antara asam amino dengan gula pereduksi apabila dipanaskan bersama-sama. Sedangkan reaksi karamelisasi adalah reaksi yang terjadi pada pemanasan gula dalam asam, basa, dan pemanasan tanpa air (Ozdemir, 1997). b. Kekerasan Gula Merah Kekerasan gula merah dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti mutu nira, kadar air, dan kadar lemak. Mutu nira berhubungan dengan jumlah sukrosa yang terdapat di dalamnya. Semakin baik mutu nira, jumlah sukrosa akan semakin tinggi dan gula merah yang terbentuk akan memiliki tekstur yang baik. Apabila sukrosa telah terinversi maka gula merah akan sulit mengeras. Air merupakan salah satu komponen yang berpengaruh terhadap keempukan gula. Semakin tinggi air maka kekerasan gula merah akan semakin rendah, sebaliknya keempukan gula akan semakin meningkat dengan meningkatnya kadar air dalam gula merah (Sudarmadji et al., 1989). Lemak juga berperan dalam menentukan keempukan gula merah. Molekul-molekul lemak di dalam gula merah membentuk globula-globula yang menyebar diantara kristal atau butiran gula sehingga kekerasan gula akan berkurang atau keempukannya akan bertambah (Santoso, 1993). c. Rasa Gula Merah Gula merah mempunyai nilai kemanisan mempunyai nilai kemanisan 10% lebih manis daripada gula pasir (Santoso, 1993). Nilai kemanisan ini terutama disebabkan oleh adanya fruktosa dalam gula merah yang memiliki nilai kemanisan lebih tinggi daripada sukrosa. Gula merah juga memiliki rasa sedikit asam karena adanya kandungan asam-asam organik di dalamnya.

24

Adanya asam-asam ini menyebabkan gula merah mempunyai aroma yang khas, sedikit asam, dan berbau karamel. Rasa karamel pada gula merah diduga disebabkan adanya reaksi karamelisasi akibat panas selama pemasakan (Nengah, 1990). d. Adsorpsi Air Gula merah memiliki sifat kering dan tidak terlalu kering, karena kadar air mempengaruhi keempukan gula merah. Kadar air yang terdapat pada gula merah adalah kurang dari 12%. Kadar air yang terlalu tinggi menyebabkan gula merah menjadi lembek dan cepat rusak (Dachlan, 1984). Penguraian sukrosa menjadi gula pereduksi disebabkan adanya aktivitas enzim invertase yang dihasilkan mikroba kontaminan atau akibat pemanasan dalam suasana asam yang terjadi selama pengolahan. Dikaitkan dengan sifat higroskopisnya, gula pereduksi akan menyebabkan peningkatan kadar air sehingga kekerasan gula menurun (Santoso, 1993).

2. Proses Pembuatan Gula Merah Tebu Definisi gula merah tebu menurut SNI 01-6237-2000 adalah gula yang dihasilkan dari pengolahan air atau sari tebu (Saccharum officinarum) melalui pemasakan dengan atau tanpa penambahan bahan makanan yang

diperbolehkan dan berwarna kecoklatan. Proses pembuatan gula merah tebu pada prinsipnya sama dengan pembuatan gula merah pada umumnya. Prinsipnya adalah proses penguapan nira dengan cara pemanasan sampai nira mencapai kekentalan tertentu kemudian mencetaknya menjadi bentuk yang diinginkan. Tahap awal pembuatan gula merah adalah proses penggilingan batang tebu untuk mengekstraksi nira semaksimal mungkin. Proses ini dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. Peralatan giling ini dibuat dari besi yang terdiri dari dua silinder bergerigi yang bergerak berlawanan arah sehingga batang tebu hancur karena terjepit diantara dua silinder. Dengan demikian nira tebu dapat terekstrak (Lesthari, 2006).

25

Nira yang telah terekstrak kemudian disaring dengan menggunakan kain penyaring untuk memisahkan kotoran-kotoran seperti potongan ranting, daun kering, dan serangga. Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 110 0C selama tiga sampai empat jam sambil dilakukan pengadukan. Suhu yang optimal untuk pemanasan nira adalah 110-1200C. Apabila suhunya terlalu tinggi, maka akan terjadi karamelisasi berlebihan sehingga gula yang dihasilkan dapat menjadi gosong. Pengadukan perlu dilakukan untuk mempercepat penguapan air dari nira dan untuk membentuk kristal gula yang kompak serta menghasilkan warna gula yang seragam (Sagala dalam Lesthari, 2006). Pada pemasakan dengan suhu tinggi ini kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok (Santoso, 1993). Buih-buih yang timbul selama proses dapat dikurangi dengan melakukan pengadukan terus menerus serta dapat ditambahkan parutan kelapa, minyak kelapa, atau kemiri yang dihaluskan. Bahan-bahan ini ditambahkan untuk menurunkan tegangan permukaan antara buih dan cairan nira (Palungkun, 1993). Pemanasan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono, 1986). Nira pekat yang telah masak kemudian dituangkan ke dalam cetakan yang telah dibasahi air untuk mempermudah pelepasan gula merah. Alat pencetakan gula merah umumnya adalah tempurung kelapa atau batang bambu (Dyanti, 2002). Proses pembuatan gula merah tebu secara ringkas disajikan pada Gambar 1.

26

Batang tebu

Bagase

Penggilingan

Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur

Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran

Penggumpalan

Pencetakan

Gula merah tebu Gambar 1. Diagram Alir Pembuatan Gula Merah Tebu

3. Perbaikan Proses Untuk memperoleh produk dengan mutu yang baik perlu diperhatikan mutu bahan baku, proses produksi, dan pengemasan produk (Sardjono, 1986). Menurut penelitian Nurlela (2002), pembentukan warna gula merah pada dasarnya sangat tergantung pada dua hal, yaitu kondisi bahan baku (nira) dan proses pembuatan gula merah. Kondisi bahan baku atau nira yang menghasilkan gula merah dengan warna coklat kekuningan, keras, dan kering adalah nira segar dengan kisaran pH antara 5.5 5.6.

27

Tahap-tahap proses yang mempengaruhi adalah suhu proses, pengadukan selama pemasakan, serta kondisi kebersihan proses (sanitasi) dan alat-alat yang digunakan. Warna produk (gula merah) memang sangat berpengaruh dalam persepsi konsumen tentang gula merah. Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk meningkatkan mutu dan mengurangi variasi mutu gula merah adalah perlu adanya cara pengolahan gula merah yang lebih baik, meliputi suhu dan waktu pengolahan; intensitas pengadukan; serta kebersihan alat. Menurut penelitian Yustiningsih (2006), proses penjernihan nira optimum dengan metode defekasi mampu menurunkan nilai kadar air sebesar 2.84%, kadar abu 37.43%, total kotoran 50.69%, kadar glukosa 76.58%, kadar protein 64.18%, dan kadar lemak 67.13%, serta meningkatkan kadar sukrosa sebesar 52.10%. Pada penelitian tersebut proses defekasi pada semua kombinasi suhu nira dan dosis kapur yang digunakan ternyata tidak berbeda nyata. Kombinasi suhu dan dosis kapur yang digunakan adalah 750C-0.033%, 290C-0.067%, 290C-0.100%, 750C-0.100%, 750C-0.067%. Yustiningsih menyarankan bahwa untuk aplikasi di Industri Gula Merah Tebu (IGMT), kombinasi yang digunakan adalah 29 0C-0.067% dengan alasan praktis dan efisien.

C. Usaha Kecil Menurut Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang usaha kecil, definisi industri kecil adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan, bertujuan untuk memproduksi barang ataupun jasa untuk diperniagakan secara komersial, yang mempunyai kekayaan bersih paling banyak Rp. 200 juta, dan mempunyai nilai penjualan per tahun sebesar Rp. 1 milyar atau kurang. Batasan mengenai skala usaha menurut BPS dilakukan berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja, yaitu : 1. Industri dan Dagang Mikro (ID Mikro) 2. Industri dan Dagang Kecil (ID Kecil) : 1-4 orang : 5-19 orang

3. Industri dan Dagang Menengah (ID Menengah) : 20-99 orang

28

4. Industri dan Dagang Besar (ID Besar)

: 100 orang ke atas

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tersebut, Departemen Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah membuat empat kelompok bidang usaha yang ada pada usaha kecil dan menengah (UKM), yaitu : 1. Bidang usaha perdagangan 2. Bidang usaha industri pertanian 3. Bidang usaha industri non pertanian 4. Bidang usaha aneka jasa Menurut Adiningsih (2004) permasalahan utama UKM, yaitu masalah finansial dan masalah manajemen. Masalah yang termasuk dalam masalah finansial diantaranya adalah : 1. Kurangnya akses ke sumber dana yang formal baik disebabkan oleh ketiadaan bank di pelosok maupun tidak tersedianya informasi yang memadai. 2. Bunga kredit untuk investasi maupun modal kerja yang cukup tinggi. 3. Banyak UKM yang belum bankable baik disebabkan belum adanya manajemen keuangan yang transparan maupun kurangnya kemampuan manajerial dan finansial. Masalah organisasi manajemen (non-finansial) antara lain : 1. Kurangnya pengetahuan atas teknologi produksi dan quality control yang disebabkan oleh minimnya kesempatan untuk mengikuti perkembangan teknologi serta kurangnya pendidikan dan pelatihan. 2. Kurangnya pengetahuan atas pemasaran yang disebabkan oleh terbatasnya informasi yang dapat dijangkau oleh UKM mengenai pasar, selain karena keterbatasan kemampuan UKM untuk menyediakan produk atau jasa yang sesuai dengan keinginan pasar. 3. Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) serta kurangnya sumber daya untuk mengembangkan SDM. 4. Kurangnya pemahaman mengenai keuangan dan akuntansi.

D. Konsep Manajemen Strategis Manajemen strategis didefinisikan sebagai seni dan ilmu pengetahuan untuk merumuskan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi keputusan lintas

29

fungsional yang membuat organisasi mampu mencapai tujuan-tujuannya (David, 2004). Menurut Jauch (1998), manajemen strategis merupakan arus keputusan dan tindakan yang mengarah pada perkembangan suatu strategi atau strategi-strategi yang efektif untuk membantu mencapai sasaran perusahaan. Manajemen strategis sangat penting bagi perkembangan perusahaan, baik besar maupun kecil. Pelaksanaan proses manajemen strategis secara signifikan dapat memperkuat pertumbuhan dan kemakmuran. Hal tersebut dikarenakan manajemen strategis dapat membantu perusahaan dalam melihat ancaman dan peluang di masa yang akan datang sehingga memungkinkan perusahaan untuk dapat mengantisipasi kondisi yang selalu berubah-ubah. Selain itu, manajemen strategis juga menyediakan sasaran serta arah yang jelas bagi masa depan perusahaan sehingga perusahaan yang mengembangkan sistem manajemen strategi mempunyai kemungkinan tingkat keberhasilan lebih besar daripada yang tidak menggunakan sistem manajemen strategi (Jauch, 1998).

1. Proses Manajemen Strategis Proses manajemen strategis adalah alur dimana penyusunan strategi menentukan sasaran dan menyusun keputusan strategi. Sesuai dengan pendapat David (2004), manajemen strategi terdiri dari tiga tahap, yaitu: 1. Perumusan atau Formulasi Strategi Perumusan strategi termasuk mengembangkan misi bisnis, mengenali peluang dan ancaman eksternal perusahaan, menetapkan kekuatan dan kelemahan internal, menetapkan sasaran jangka panjang, menghasilkan strategi alternatif dan memilih strategi tertentu untuk dilaksanakan. 2. Implementasi Strategi Tahap implementasi strategi yaitu mengimplementasikan pilihan dengan maksud mengalokasikan sumberdaya dan mengorganisirnya sesuai dengan strategi (Jauch, 1998). 3. Evaluasi Strategi Tahap evaluasi strategi berarti mengevaluasi hasil implementasi dan memastikan bahwa strategi yang telah disesuaikan dapat mencapai tujuan perusahaan (Jauch, 1998).

30

2. SWOT SWOT merupakan singkatan dari lingkungan internal Strengths dan Weaknesses serta lingkungan eksternal Opportunities dan Threats. Analisis SWOT adalah suatu cara untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis dalam rangka merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats) (Rangkuti, 1998). Salah satu keuntungan dari penggunaan analisis SWOT adalah kemudahan menganalisis kondisi yang mempengaruhi perusahaan dalam menentukan strategi untuk mencapai tujuannya (Rangkuti, 2000). Analisis SWOT didahului dengan mengidentifikasi faktor-faktor dari lingkungan eksternal dan internal yang dihadapi oleh suatu usaha. Analisa lingkungan eksternal meliputi peluang dan ancaman yang harus dihadapi perusahaan (Kotler, 1997). Peluang adalah potensi minat dan kebutuhan konsumen dimana perusahaan dapat menggarapnya secara menguntungkan. Ancaman adalah tantangan yang dapat mengakibatkan perusahaan sulit atau tidak dapat mencapai tujuannya (Kotler, 2005). Analisa lingkungan internal meliputi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Kekuatan adalah suatu kelebihan daya saing yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam merebut pasar. Sedangkan kelemahan merupakan faktor yang dapat membatasi pilihan perusahaan untuk mengembangkan strategi (Kotler, 1997). Faktor-faktor yang teridentifikasi tersebut disusun dalam suatu matriks internal eksternal. Matriks ini bertujuan untuk memperoleh strategi bisnis di tingkat korporat yang lebih detil. Parameter yang digunakan meliputi parameter kekuatan internal perusahaan dan pengaruh eksternal yang dihadapi (Rangkuti, 2000).

3. Aspek Pemasaran Pemasaran adalah proses sosial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan,

31

menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan pihak lain (Kotler, 2005). Bagi pemasaran produk barang, manajemen pemasaran akan dipecah atas 4 kebijakan pemasaran yang lazim disebut sebagai bauran pemasaran (marketing-mix) yang terdiri dari 4 komponen, yaitu produk, harga, distribusi, dan promosi (Umar, 2003). Menurut Kotler (2005), alat bauran pemasaran yang paling mendasar adalah produk yaitu tawaran berwujud dari perusahaan kepada pasar, yang mencakup mutu, rancangan, fitur, pemberian merek, dan pengemasan produk. Alat bauran pemasaran yang menentukan keberhasilan adalah harga. Tempat (distribusi) mencakup berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan agar produk dapat diperoleh dan tersedia bagi para pelanggan sasaran. Sedangkan promosi mencakup semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya ke pasar sasaran (Kotler, 2005). Sebagian besar produsen tidak menjual barang mereka secara langsung ke pemakai akhir. Antara peodusen dan pemakai akhir terdapat satu atau beberapa saluran pemasaran, serangkaian pemasaran yang melaksanakan berbagai fungsi (Kotler, 2004).

E. Aspek Teknis dan Teknologis Aspek teknis bertujuan untuk meyakini apakah secara teknis dan teknologis, perencanaan yang telah dilakukan dapat dilaksanakan secara layak atau tidak, baik pada saat pembangunan proyek atau operasional sacara rutin (Husnan dan Muhammad, 2000). Pada aspek teknis dan teknologis dipaparkan beberapa faktor diantaranya yaitu penentuan kapasitas produksi, serta pemilihan mesin, peralatan, dan teknologi untuk produksi. Kapasitas didefinisikan sebagai suatu kemampuan pembatas dari unit produksi untuk berproduksi dalam waktu tertentu. Beberapa kriteria pemilihan teknologi yang digunakan, yaitu kesesuaian dengan bahan baku yang digunakan untuk proses produksi, keberhasilan penggunaan teknologi di tempat lain, kemampuan tenaga kerja dalam mengimplementasikan teknologi, dan kemampuan mengantisipasi terhadap teknologi lanjutan (Umar, 2003).

32

F. Aspek Finansial Aspek finansial membicarakan tentang bagaimana menghitung

kebutuhan dana, baik kebutuhan dana untuk aktiva tetap maupun dana untuk modal kerja. Beberapa hal yang dibahas dalam analisis aspek finansial antara lain yaitu penentuan kebutuhan dan pengalokasian dana, sumber dana dan biaya modal, estimasi aliran kas proyek, serta kriteria penilaian investasi (Husnan dan Muhammad, 2000). Pada umumnya ada beberapa metode yang biasa dipertimbangkan untuk dipakai dalam penilaian aliran kas dari suatu investasi, yaitu metode Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Break Event Point (BEP), Pay Back Period (PBP), dan analisis sensitivitas (Gray et al., 1992).

33

III. METODOLOGI

A. KERANGKA PEMIKIRAN Gula merah merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan gula di Indonesia yang semakin meningkat setiap tahunnya. Upaya pengembangan terhadap usaha gula merah didukung pula oleh tingkat kebutuhan gula merah tebu bagi industri maupun konsumsi rumah tangga, ketersediaan bahan baku dan potensi lahan, volume produksi tebu, dan harga gula merah tebu lebih murah. Namun, pengembangan usaha gula merah tebu ini menghadapi beberapa kendala antara lain keterbatasan modal dan aplikasi teknologi, serta rendahnya kualitas sumber daya manusia dalam penguasaan teknologi. Pengembangan usaha gula merah tebu ini dilakukan dengan mengkaji aspek-aspek yang berkaitan, antara lain analisis SWOT, aspek pemasaran, aspek teknis dan teknologis, serta aspek finansial. Kualitas gula merah tebu yang bervariasi menyebabkan industri gula merah kurang berkembang dengan baik, bahkan kurang mampu bersaing menghadapi industri lain yang memproduksi bahan substitusi gula merah. Mutu gula merah tebu saat ini masih tergolong rendah dan bervariasi akibat dari teknologi dan kondisi proses produksi yang diterapkan tidak optimum. Oleh karena itu, untuk meningkatkan mutu gula merah tebu diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: Identifikasi faktor-faktor penyebab mutu gula merah tebu yang rendah dan bervariasi Verifikasi teknologi proses melalui kajian eksperimental untuk memperbaiki kualitas produk. Formulasi strategi pengembangan usaha gula tebu.

34

B. TATA LAKSANA 1. Pengumpulan Data dan Informasi Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui eksperimen, pengamatan langsung, dan wawancara atau pengisisan kuesioner. Wawancara dilaksanakan dengan pengolah, pedagang (distributor), konsumen, dan aparat setempat. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber yang mendukung, seperti Dinas Perindustrian Kabupaten Rembang, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang, Badan Pusat Statistik Kabupaten Rembang, dan Instansi-Instansi lain yang terkait, Lembaga Swadaya Informasi IPB, internet, dan literatur lainnya. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Adapun gambaran mengenai jenis dan sumber data yang akan digunakan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut.

Tabel 5. Jenis dan Sumber Data untuk Penelitian Pengembangan Industri Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Tahun 2007. Jenis Data I. Data Primer 1. Aspek teknis teknologis (bahan baku, bahan tambahan, alat, proses produksi), aspek pemasaran, kebutuhan finansial 2. Konsumsi gula merah tebu 3. Kualitas gula merah tebu II. Data Sekunder 1. Kondisi wilayah 2. Statistik industri gula merah Sumber Data Masyarakat pengolah gula merah tebu, petani tebu, pedagang (distributor).

Konsumen gula merah tebu Analisa laboratorium dari eksperimen di lapangan

hasil

4. Informasi lain 2. Analisis SWOT

Dinas Kehutanan dan Perkebunan Dinas Perindustrian, BPS, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang LSI, internet, jurnal, dan literatur lain

Analisis SWOT dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis dalam rangka merumuskan strategi yang sesuai bagi usaha gula merah tebu. Analisis diawali dengan mengidentifikasi berbagai faktor internal maupun eksternal yang terdapat pada usaha gula merah tebu. Dalam kasus ini usaha gula merah milik Ibu Arini yang berlokasi di Kecamatan Pamotan, Kabupaten

35

Rembang digunakan sebagai rujukan. Setiap unsur dari masing-masing faktor diberi bobot faktor (BF) sesuai tingkat kepentingannya dengan nilai total dari setiap faktor adalah satu.

3. Aspek Pasar dan Pemasaran Data dan informasi yang berkaitan dengan aspek pasar dan pemasaran diperoleh melalui wawancara dengan pengusaha gula merah tebu serta observasi lapang. Berdasarkan hal tersebut secara rinci ditentukan strategi pemasaran dan bauran pemasaran dalam pengembangan usaha gula merah tebu.

4. Aspek Teknis dan Teknologis Aspek teknis dan teknologis menganalisis data dan informasi yang diperoleh untuk kapasitas produksi dan tingkat aplikasi teknologi, pengadaan bahan baku, proses produksi.

5. Aspek Finansial Analisis aspek finansial bertujuan untuk menilai biaya-biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha dan berapa besar keuntungan yang akan diperoleh dari pengembangan usaha tersebut. Analisis aspek finansial juga membicarakan mengenai permodalan yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan jumlah dana. Kriteria kelayakan dalam analisis finansial antara lain NPV, IRR, Net B/C, BEP, dan PBP.

a. Net Present Value (NPV) Net Present Value (NPV) digunkan untuk mengetahui apakah suatu usulan proyek investasi layak dilaksanakan atau tidak dengan cara menghitung selisih antara nilai sekarang dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih (Gray et al., 1992). Perhitungan NPV perlu ditentukan terlebih dahulu tingkat bunga yang dianggap relevan. NPV dihitung dengan rumus :
NVP = Bt Ct (1 + i )t

36

Dimana : Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0, 1, 2, 3,..., n)

n = umur ekonomi proyek Berdasarkan nilai tersebut, terdapat tiga kriteria untuk menilai kelayakan investasi, yaitu : 1. Jika nilai NPV lebih besar dari nol, maka proyek atau industri tersebut menguntungkan atau layak dilaksanakan. 2. Jika nilai NPV sama dengan nol, maka proyek atau industri tersebut tidak untung tetapi juga tidak rugi, oleh karena itu keputusan yang diambil ditentukan secara subyektivitas. 3. Jika nilai NPV lebih kecil dari nol, maka proyek atau industri tersebut dianggap rugi karena penerimaan lebih kecil daripada biaya, sehingga lebih baik tidak dilaksanakan.

b. Internal Rate of Return (IRR)


Internal Rate of Return (IRR) merupakan tingkat bunga yang menyamakan present value dari aliran kas keluar dengan present value dari aliran kas masuk (Husnan dan Muhammad, 2000). Menurut Gray et al. (1992) menambahkan bahwa IRR adalah nilai discount rate sosial yang membuat NPV proyek sama dengan nol. Formulasi IRR secara sistematis (Gray et al., 1992) adalah :

(1 + i )
dimana :

Bt Ct
t

= 0 atau

(1 + i ) = (1 + i )
t

Bt

Ct

Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya sehubungan dengan proyek pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0, 1, 2, 3,..., n)

37

Pembanding IRR dalah tingkat suku bunga yang berlaku, sehingga kriteria IRR adalah : Jika nilai IRR lebih besar dibandingkan tingkat suku bunga yang berlaku, maka proyek layak untuk dilaksanakan. Jika nilai IRR sama dengan tingkat suku bunga yang berlaku, maka proyek masih layak untuk dilaksanakan namun tidak

menguntungkan. Jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku, maka proyek tidak layak untuk dilaksanakan.

c. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)


Gray et al. (1992) menjelaskan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) adalah angka perbandingan antara jumlah present value dari keuntungankeuntungan suatu proyek dibagi dengan biaya investasi pada awal dilaksanakannya suatu proyek. Nilai Net B/C dihitung dengan rumus :

B Ct NetB / C = t (1 + i )t
dimana :

/ investasi _ awal

Bt = penerimaan kotor pada tahun ke-t Ct = total biaya pada tahun ke-t i t = tingkat suku bunga = periode investasi (t = 0, 1, 2, 3,..., n)

n = umur ekonomi proyek Tiga kriteria Net B/C untuk menilai kelayakan investasi adalah : a. Jika nilai Net B/C lebih besar dari satu, maka proyek dinyatakan layak secara finansial sehingga dapat dilanjutkan. b. Jika nilai Net B/C sama dengan satu, maka proyek boleh dilaksanakan atau tidak. c. Jika nilai Net B/C kurang dari satu, maka proyek dinyatakan tidak layak secara finansial sehingga tidak dapat dilanjutkan.

38

d. Break Event Point (BEP)


Weston dan Copeland (1992) menjelaskan bahwa hubungan antara besarnya pengeluaran investasi dan volume yang diperlukan untuk mencapai profitabilitas disebut sebagai analisis impas (break event analysis). Analisis impas merupakan sarana untuk menentukan keadaan dimana penjualan akan impas menutup biaya-biaya.

BEP dirumuskan sebagai berikut :

BEP % =

BT x100% R BV

BEP( Rp.) =
dimana :

BT 1 (BV / R )

BT = jumlah biaya tetap tiap periode operasi R = hasil penjualan

BV = jumlah biaya variabel

e. Pay Back Period (PBP)


Pay Back Period (PBP) adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan aliran kas yang hasilnya merupakan satuan waktu (Umar, 2003). Apabila PBP ini lebih pendek daripada yang disyaratkan maka proyek dikatakan menguntungkan, sedangkan jika lebih lama maka proyek ditolak (Husnan dan Muhmmad, 2000). Rumus yang digunakan untuk menghitung PBP menurut Umar (2003) adalah sebagai berikut :

PBP =

Nilai _ investasi _ awal x1tahun Kas _ bersih

39

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. KARAKTERISTIK WILAYAH
Tanaman tebu merupakan tanaman perkebunan yang telah lama dibudidayakan di Kabupaten Rembang. Pengusahaan areal tebu rakyat di Kabupaten Rembang sampai akhir tahun 2005 seluas 4.398 ha yang tersebar di 12 wilayah kecamatan dengan sentra produksi di Kecamatan Pamotan, Sulang, Sumber dan Pancur yang ditinjau secara teknis relatif mempunyai kesesuaian lahan dan agroklimat. Luas lahan tebu dan potensi pengembangannya di Kabupaten Rembang dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Sebaran Perkebunan Tebu dan Potensi Pengembangannya di Kabupaten Rembang Tahun 2005

No
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Kecamatan
Rembang Sulang Sumber Bulu Gunem Pamotan Pancur Kaliori Sedan Kragan Sarang Lasem Sluke Sale Jumlah

Luas (Ha)
117 968 459 108 113 1.859 353 75 185 57 40 64 4.398

Potensi Lahan Pengembangan (Ha)


673 1.127 686 462 397 2.250 720 421 640 695 450 317 200 450 9.488

Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2005

Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kabupaten Rembang mencapai 23.127.555 ton dengan rata-rata rendemen 10 %. Luas areal tanaman tebu Kabupaten Rembang 6.140,86 hektar, dengan luas potensi lahan kering sebesar

40

9.488 hektar. Luas areal, Produksi, Produktifitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Luas areal, Produksi, Produktifitas dan Jumlah Petani Komoditas Tebu di Kabupaten Rembang Tahun 2006 No Kecamatan Luas Areal (Ha) Produksi Ton Rata-rata Produksi Kg/Ha 1.221,462 3.582 566,130 3.390 722,070 3.390 62,700 3.300 322,380 3.582 12.050,955 3.997 4.791,960 3.672 369,510 3.390 619,020 3.420 1.917,948 3.462 90,720 3.360 392,700 3.300 23.127,555 3.767 16.353,697 3.718 11.951,000 3.087 Jumlah Petani (KK) 92 61 189 6 38 1.235 503 29 52 439 10 47 2.701 1.994 1.984

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Sumber Bulu Gunem Sale Sarang Sedan Pamotan Sulang Kaliori Rembang Pancur Kragan Sluke Lasem Jumlah Tahun 2005 Tahun 2004

341 167 213 19 90 3.015 1.305 109 181 554 27 119 6.140 4.398 3.871

Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2006

Berdasarkan data statistik di atas, diperoleh kesimpulan bahwa perkebunan tebu rakyat cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya. Berdasarkan Tabel 6 dan 7 mengenai sebaran perkebunan tebu dan potensi pengembangannya tahun 2005 serta luas areal produksi, produktivitas dan jumlah petani komoditas tebu di Kabupaten Rembang tahun 2006, Kecamatan Pamotan memiliki tingkat produktifitas, potensi pengembangan dan kontribusi sebagai penghasil tebu yang paling besar di Kabupaten Rembang dibandingkan dengan Kecamatan lainnya. Pada umumnya varietas tebu yang digunakan dalam usaha tani tebu di Kabupaten Rembang adalah P5 851, P5 864 dan BZ 148. Jenis tebu yang ditanam disesuaikan dengan kondisi lahan di masing-masing daerah. Pada umumnya

41

kondisi lahan di Kabupaten Rembang merupakan lahan kering, termasuk lahan perkebunan tebu di Kecamatan Pamotan. Menurut Soentoro et al., (1999) produktifitas tebu lahan kering jauh lebih rendah dibandingkan dengan produktifitas tebu lahan sawah.

Gambar 2. Bahan Baku Usaha (Tebu)

Kecamatan Pamotan dilewati jalur alternatif menuju Surabaya, sehingga sering dilalui oleh kendaraan-kendaraan besar seperti truk barang. Kondisi jalan raya di Kecamatan Pamotan adalah jalan aspal yang dilalui angkutan Desa. Namun, kondisi jalan penghubung antar desa masih kurang memadai meskipun sudah diaspal. Akses transportasi menuju Kecamatan Pamotan (terutama menuju desa-desa penghasil gula merah tebu) agak sulit. Karena rata-rata frekuensi angkutan desa yang melintas kurang lebih 15-30 menit sekali dengan waktu operasi terbatas dari pagi hari hingga siang hari. Bus hanya melintasi desa yang berada di sepanjang jalan raya menuju Kecamatan Pamotan. Untuk memudahkan mobilitas penduduk di Kecamatan Pamotan, pada umumnya menggunakan sepeda motor milik pribadi. Bagi para pengusaha gula merah tebu, pada umumnya mereka menggunakan mobil untuk mengangkut bahan baku dan hasil produksi berupa gula merah tebu, baik gula merah tumbu maupun gula awur yang akan dijual. Perkembangan sarana komunikasi di Kecamatan Pamotan sudah cukup memadai. Televisi dan radio merupakan sumber informasi utama petani dan pengusaha gula merah tebu dalam mengetahui perkembangan dunia usaha. Penduduknya sudah banyak yang menggunakan alat komunikasi berupa telepon dan handphone, sebagai media komunikasi.

42

B. KARAKTERISTIK INDUSTRI 1. Sejarah dan Perkembangan


Industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan sudah dimulai sejak tahun 1980-an. Menurut Soentoro et al., (1999), salah satu upaya para petani tebu untuk mempertahankan dan meningkatkan pendapatannya dalam menghadapi depresi ekonomi, yang menyebabkan penurunan harga gula yang drastis pada awal tahun tiga puluhan adalah dengan mengolah sendiri tebu menjadi gula merah tebu. Pada saat itu banyak pabrik gula yang tutup sehingga produksi gula sangat merosot. Hingga saat ini industri gula merah tebu terus tumbuh dan berkembang. Bahkan gula merah tebu mulai dijadikan bahan substitusi gula pasir. Pada awalnya, proses penggilingan tebu menggunakan tenaga sapi, sehingga waktu yang diperlukan untuk menghasilkan gula merah tebu lebih banyak. Namun, pada akhir tahun 1980-an mulai terjadi alih teknologi. Salah satunya yaitu penggunaan mesin penggiling tebu yang digerakkan oleh mesin diesel berbahan bakar solar. Selain gula tumbu, terdapat beberapa PGT yang memproduksi gula awur (gula semut). Di Kabupaten Rembang, pengolahan nira tebu menjadi gula tumbu dan gula semut pada umumnya masih dilakukan dengan cara tradisional, yaitu dengan menggunakan wajan bertahap yang dipanaskan di atas tungku pembakaran berbahan bakar bagase. Proses pengolahan gula awur sedikit berbeda dengan pembuatan gula tumbu. Prosesnya memerlukan waktu lebih lama dan membutuhkan keuletan dalam membuatnya. Selain itu biaya produksinya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan gula tumbu. Namun di sisi lain harga jual gula awur lebih mahal dibandingkan dengan gula tumbu. Komoditas gula awur ini sebenarnya memberikan harga yang menjanjikan. Namun sedikit PGT yang melirik peluang tersebut, karena beberapa pertimbangan seperti yang telah disebutkan

sebelumnya. Daftar harga rata-rata komoditas perkebunan (gula merah dan gula putih) pada setiap bulan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan dapat dilihat pada Tabel 8.

43

Tabel 8. Harga Rata-rata Komoditas Perkebunan (Gula Merah dan Gula Putih) pada Setiap Bulan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan
Komoditas Mutu 1 Gula Merah Gula SHS1 Campuran 1 3300 6000 2 3300 6000 3 3300 6000 4 3300 6000 5 3400 6000 Harga (Rp) Pada Bulan ke6 7 8 9 3400 6000 3300 6000 3300 6000 3200 6000 10 3200 6000 11 3200 6000 12 3400 6000 Ratarata 3300 6000

Sumber : Data Statistik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Rembang Tahun 2006

Sedangkan menurut data primer yang diperoleh di lapangan, rentang harga gula awur tahun 2007 adalah Rp. 3.550,00-Rp. 4.200,00. Terdapat suatu fenomena yang seringkali terjadi pada PGT di Kabupaten Rembang, yaitu para pengusaha gula tumbu akan memproduksi gula tumbu bila harga gula pasir sedang mengalami penurunan. Sebaliknya, para pengusaha gula tumbu akan beralih menjual hasil tebunya ke PG, bila harga gula pasir sedang naik dan harga gula tumbu jauh di bawah harga gula pasir. Hal itu terjadi karena para pengusaha gula menganggap, jika tebunya dijual ke PG maka ia tidak perlu mengeluarkan biaya produksi (biaya giling dan upah tenaga kerja). Hasil panen tebu yang diperoleh selanjutnya akan digiling di Pabrik Gula (PG) menjadi gula pasir dan gula merah tebu. Terdapat sekitar 2-3 PG yang menjadi tujuan penjualan hasil panen petani tebu di Kabupaten Rembang, diantaranya yaitu PG Rendeng di Kudus, PG Trangkil di Pati dan PG lain di sekitarnya. Dengan perkiraan distribusi lahan pada tahun 2005 adalah PG Rendeng 1200 ha, PG Trangkil 800 ha, usaha gula tumbu (gula merah tebu) 2000 ha dan sisanya masuk ke PG lain. Sekitar tahun 1990-an pemerintah melalui Dinas Perkebunan melakukan kegiatan penyuluhan kepada petani tebu. Pada umumnya materi yang disampaikan adalah materi mengenai pengelolaan, perawatan, pengendalian, serta upaya meningkatkan produktifitas tanaman tebu. Namun, usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang ini kurang mendapat perhatian dan pemantauan dari pemerintah daerah. Sehingga perkembangannya tidak tercatat secara rutin dan rinci. Para pengolah dan pengusaha gula merah tebu melakukan kegiatan usahanya masing-masing, berdiri dan berkembang sendiri.

44

Diantara Pengusaha Gula Merah Tumbu (PGT) yang tersebar di beberapa kecamatan di Rembang, jumlah PGT yang paling banyak berada di Kecamatan Pamotan yaitu sebanyak 96 PGT. Masing-masing PGT memiliki 1-3 unit gilingan, bahan baku yang digunakan merupakan tebu yang berasal dari lahan milik pribadi dan menyewa lahan. Namun tidak sedikit pula yang menggunakan sistem beli tebu dari petani lain yang pada umumnya tidak memiliki unit gilingan. Pada tahun 2006 Pemerintah Kabupaten Rembang melakukan program pembangunan daerah, yaitu pembagian 4 kluster kawasan penghasil komoditas penting di Kabupaten Rembang. Salah satunya yaitu komoditas gula merah tumbu. Hal yang dilakukan dalam program tersebut adalah kegiatan

pendampingan terhadap usaha gula tumbu, yang dilakukan oleh suatu LSM. Dalam kegiatan pendampingan tersebut terdapat beberapa subprogram yang dilakukan, diantaranya yaitu : 1. Pembentukkan Paguyuban, berupa Asosiasi Pengusaha Gula Tumbu di Kabupaten Rembang dan Koperasi bersama 2. Revitalisasi Alat 3. Sosialisasi Sanitasi Lingkungan 4. Membentuk Network (Jejaring Pemasaran) 5. Mempromosikan Produk Gula Tumbu yang dihasilkan oleh para PGT lokal 6. Peningkatan Kualitas Kegiatan pendampingan ini baru berlangsung selama 1 tahun dan subprogram yang telah dilaksanakan yaitu pembentukan paguyuban. Rangkaian program ini diharapkan dapat mengangkat dan mengembvangkan usaha gula tumbu yang ada di Kabupaten Rembang. Data terakhir diperoleh, di Kabupaten Rembang terdapat kurang lebih 161 unit PGT, dimana setiap 1 unit mengolah minimal 10 ha bahan baku. Produk yang dihasilkan berupa gula merah tumbu, yang kemudian akan dijual ke berbagai industri yang berada di sekitar Rembang. Terdapat beberapa industri (pabrik) yang menggunakan gula tumbu sebagai bahan baku produksinya, misalnya industri makanan dan minuman (PT. Indofood, PT. ABC dan PT. Cap Orang Tua).

45

2.

Aspek Legalitas
Para pengusaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang lebih dikenal

dengan istilah PGT (Pengusaha Gula Tumbu). Berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja, industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan tergolong ke dalam industri kecil. Karena dalam pengelolaannya melibatkan 7-10 orang tenaga kerja. Usaha ini dilakukan secara perorangan yang bertujuan untuk memproduksi gula merah tebu sehingga termasuk ke dalam kelompok bidang usaha industri pertanian. Pada umumnya industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan masih belum memiliki badan hukum dan belum memiliki surat izin usaha dari Dinas Perindustrian Kabupaten Rembang, sehingga termasuk ke dalam perusahaan non direktori. Menurut BPS (2003), perusahaan non direktori adalah perusahaan atau usaha yang tidak memiliki status atau badan hukum dimana kegiatannya dilakukan di suatu bangunan dan tempat perlengkapannya tidak dipindahpindahkan. Pada umumnya kelompok usaha ini hanya memiliki SIUP (Surat izin Usaha Perdagangan) bahkan ada yang tidak mempunyai izin sama sekali. Permasalahan dalam perizinan bagi pengusaha adalah sulitnya pengurusan izin usaha dan membutuhkan biaya. Di Kecamatan Pamotan tidak semua industri gula merah tebu yang memiliki surat izin usaha, hanya beberapa industri saja yang memiliki SIUP. Terdapat pengusaha yang menganggap izin usaha tidak mempunyai fungsi yang nyata. Selain itu belum adanya sikap proaktif dari

pemerintahan terhadap industri gula merah tebu, seperti kegiatan penyuluhan bagi para pengrajin gula merah tebu, dan lembaga khusus untuk industri ini serta kurangnya pengetahuan dan informasi mengenai prosedur pendirian perusahaan. Surat izin usaha sangat penting jika seorang pengusaha ingin memperoleh berbagai fasilitas dari pemerintah, misalnya dalam hal bantuan permodalan dan jika terjadi persengketaan atau tuntutan. Dalam prakteknya, institusi permodalan memerlukan legalitas usaha dan jaminan untuk mengevaluasi calon nasabah dalam pemberian pinjaman kredit atau investasi. Oleh karena itu aspek legalitas suatu industri (usaha) perlu diperhatikan untuk mempertahankan dan

mengembangkan usahanya.

46

C. PROFIL USAHA GULA MERAH TEBU YANG DIGUNAKAN SEBAGAI RUJUKAN


Usaha gula merah tebu milik Ibu Arini merupakan salah satu usaha yang memproduksi gula merah tebu di Kabupaten Rembang, yang terletak di Desa Japerejo Kecamatan Pamotan. Pada tahun 1991, Ibu Arini mulai

membudidayakan tanaman tebu di lahan miliknya. Hingga saat ini luas lahan yang ditanami tebu 10 ha. Jenis tebu yang ditanam ada dua jenis, yaitu tebu 864 dan BZ 148. Usaha pembuatan gula merah tebu ini dimulai sejak tahun 1993. Pada awal produksinya, Ibu Arini membuat gula tumbu. Disebut gula tumbu karena gula yang dihasilkan dicetak dalam tumbu (wadah dari anyaman bambu). Pada awal usahanya terdapat dua unit pengolahan tebu, dimana setiap unit terdiri dari satu unit mesin penggiling tebu dan tungku pemasakan dengan sembilan kawah (wajan). Setelah beberapa tahun usaha tersebut berjalan, akhirnya Ibu Arini menambah satu unit pengolahan tebu. Mulai tahun 1998, Ibu Arini tidak lagi memproduksi gula tumbu, tetapi mulai memproduksi gula merah awur (gula semut). Pada umumnya musim giling tebu berlangsung selama 4 6 bulan, mulai bulan Juni/ Juli hingga September/ November. Produksi gula merah pada awal musim panen (JuniJuli) lebih rendah dibandingkan pada pertengahan atau akhir musim panen (Agustus September). Pada awal panen, rendemen tebu masih relatif rendah, yaitu berkisar 7 8%, selanjutnya rendemen akan terus meningkat dan rendemen pada puncak panen dapat mencapai 11 12%. Sebagian besar tebu yang diolah di usaha milik Ibu Arini adalah tebu jenis 864 yang telah mencapai umur panen, yaitu 8 12 bulan. Tebu 864 adalah tebu yang cocok ditanam di lahan sawah, namun juga mampu bertahan di lahan tadah hujan. Karakteristik lainnya yaitu memiliki anakan yang cukup banyak serta gula yang dihasilkan baik. Selama satu periode panen, penggilingan tebu milik Ibu Arini mampu mengolah 2000 ton tebu, yang berasal dari hasil panen 10 ha lahan tebu milik sendiri, 10 ha lahan sewa, dan sisanya membeli dari para petani lain.

47

1. Aspek Teknis dan Teknologis


Satu unit pengolahan tebu membutuhkan 4-5 orang pekerja dengan waktu kerja 12 jam per hari. Pembagian kerjanya adalah sebagai berikut, dua orang di bagian penggilingan, dua orang di bagian pemasakan, dan satu orang menjemur ampas tebu (bagase). Dalam satu hari kerja, satu unit pengolahan mampu mengolah 78 ton tebu (setara dengan luasan panen 0.120.13 ha). Pemasakan nira dari 78 ton tebu tersebut tidak dilakukan sekaligus, tetapi 45 kali pemasakan. Jika diambil asumsi rendemen rata-rata 10% maka pengrajin akan menghasilkan 78 kwintal gula merah tebu setiap harinya. Pada umumnya, pengrajin gula merah akan menjual hasil produksinya setelah gula mencapai 40 tumbu ( 5 ton), biasanya disebut dengan satu kali gulingan. Untuk memenuhi 40 tumbu tersebut diperlukan waktu sekitar 710 hari pengolahan. Proses pembuatan gula merah tumbu secara ringkas dapat dilihat pada Gambar 7. Sedikit berbeda dengan tahapan pembuatan gula tumbu, tahapan proses produksi gula merah awur milik Ibu Arini terdiri atas beberapa tahap. Seperti yang diuraikan dalam diagram alir pada Gambar 8. Tahapan pembuatan gula merah awur adalah sebagai berikut : a. Penggilingan tebu Tahap awal pembuatan gula merah adalah proses penggilingan batang tebu untuk mengekstraksi nira. Proses penggilingan tebu dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. Batang tebu hancur karena terjepit diantara dua silinder bergerigi, sehingga nira tebu dapat terekstrak. Nira yang keluar dari mesin giling ditampung di bak berbentuk segi empat yang dilengkapi dengan saringan kasar yang terbuat dari kawat. Kemudian nira hasil penyaringan awal tadi dialirkan ke sebuah wajan (yang digunakan untuk pemasakan namun tidak digunakan lagi) dengan posisi berada lebih rendah dari bak penyaringan pertama. Selanjutnya, nira yang ditampung dalam wajan dipindahkan ke dalam sebuah drum yang dilengkapi dengan kain penyaring dan terletak di atas bak penyaringan pertama.

48

Pemindahan nira dari wajan jke drum tadi dilakukan oleh pekerja di bagian penggilingan dengan menggunakan ember. Pada proses penampungan dan penyaringan nira dalam bak pertama kurang optimal karena pekerja seringkali tidak memasang kain penyaring dan kurang telaten membersihkan kotoran-kotoran yang tersaring. Sehingga kotoran-kotoran tersebut ikut mengalir dalam nira yang akan ditampung dalam wajan penampung ke dua. Karena wajan penampung tersebut berada di paling bawah tepatnya di atas permukaan tanah, maka debu dan kotoran (daun, ampas tebu) di sekitarnya masuk ke dalam wajan dan bercampur dengan nira.

Gambar 4. Proses Penggilingan b. Pemasakan nira Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 100-110 0C selama tiga sampai empat jam. Pada prinsipnya, proses pembuatan gula merah adalah proses penguapan nira dengan cara pemanasan sampai nira mencapai kekentalan tertentu (Ashari, 2003). Bahan bakar yang digunakan yaitu ampas tebu (bagas), yang diatur oleh seorang pekerja di bagian pemasakan. Pengaturan suhu pemasakan dilakukan berdasarkan intuisi dan kebiasaan pekerja. Dalam hal ini tidak bisa dilakukan pengecekan suhu pemasakan, sehingga kondisi pemasakan tidak dapat konsisten. Suhu pemasakan dapat meningkat dan menurun tanpa adanya pengecekan. Apabila suhunya terlalu tinggi, maka akan terjadi karamelisasi berlebihan sehingga gula yang dihasilkan dapat menjadi gosong (Sagala dalam Lesthari, 2006).

49

Pemasakan nira dilakukan di atas tungku yang terdiri dari sembilan wajan dengan diameter 90 cm. Kapasitas satu wajan pemasakan kurang lebih 70 liter nira, yang akan menghasilkan 150 kg gula merah tebu. Posisi wajan didesain miring (berundak-undak), agar uap panas merata sesuai dengan kebutuhan pemasakan nira di masing-masing wajan, selain itu agar pemindahan nira dari satu wajan ke wajan yang lain (dari wajan paling belakang ke wajan paling depan) menjadi lebih mudah. Penambahan kapur dilakukan pada saat nira berada dalam wajan, ketika nira mulai dipanaskan. Sedangkan minyak kelapa ditambahkan pada saat nira sudah mulai mendidih. Selama pemasakan tidak dilakukan pengadukan secara intensif, nira hanya mengalami pengadukan ketika dipindahkan dari wajan satu ke wajan yang berada di depannya. Pengadukan perlu dilakukan untuk mempercepat penguapan air dari nira dan untuk membentuk kristal gula yang kompak serta menghasilkan warna gula yang seragam (Sagala dalam Lesthari, 2006). Buih-buih yang timbul selama proses dapat dikurangi dengan melakukan pengadukan terus menerus (Palungkun, 1993). Pada awal pemasakan kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok yang terbuat dari kain kawat nyamuk. Penyaringan kotoran bersama buih di permukaan wajan tersebut dilakukan berkali-kali. Karena jika tidak dibuang gula merah yang dihasilkan menjadi berwarna hitam. Untuk menghindari bercampurnya buih nira dari wajan yang satu ke wajan yang lain, maka wajan ditutup dengan suatu penahan berbentuk silinder yang terbuat dari anyaman bambu. Proses pemasakan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. Untuk melihat apakah nira sudah matang, biasanya pekerja mengambil nira yang sudah mulai mengental (gulali) tadi dengan menggunakan serokan, kemudian

mengangkatnya. Jika gulali tersebut membentuk benang-benang gula, maka gulali tersebut sudah matang.

50

Gambar 5. Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Berundak c. Pengentalan Nira yang sudah mulai mengental tersebut masih tetap dipanaskan hingga nira yang telah menjadi gulali tersebut kental dan pekat, serta membentuk benang-benang gula. Kecukupan pemanasan sangat

mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono, 1985).

Gambar 6. Nira Tebu yang Mulai Mengental d. Penirisan Nira kental yang sudah matang dipindahkan ke dalam suatu bak berukuran besar berbentuk silinder, biasa disebut dengan meja. Sebelum gula dipindahkan, permukaan meja diberi Natrium Benzoat terlebih dahulu. Tujuan dari pemberian bahan kimia ini adalah untuk memperpanjang umur simpan gula awur (pengawetan). Cairan gula tersebut kemudian diaduk menggunakan serokan yang terbuat dari kayu. Pemindahan gula ke atas meja bertujuan untuk meniriskan gula sehingga menjadi padat. Kegiatan pengadukan tersebut

51

bertujuan untuk meratakan panas dalam bahan, sehingga dapat menghasilkan warna gula coklat kekuningan dan membentuk kristal gula yang halus. Pengadukan untuk meratakan panas, baik yang berasal dari bahan maupun wadah pengolahan. Sehingga reaksi Maillard dan Karamelisasi yang masih berlangsung dapat segera terhenti. Selain itu juga untuk mencegah pembentukan kristal gula yang berukuran besar dan kasar (Nurlela, 2002). e. Penyusukan Gula yang sudah padat dan mengkristal di atas meja, selanjutnya di susuk dengan alat penyusuk. Sehingga gula menjadi butiran-butiran halus (awur). f. Pengemasan Setelah proses penyusukan selesai, butiran-butiran gula tersebut di masukkan ke dalam karung plastik sebagai kemasan sekunder yang sebelumnya dilapisi kantung plastik sebagai kemasan primer. Selanjutnya karung-karung gula disimpan di brak dengan cara ditumpuk.

Gambar 7. Gula Merah Tebu

52

Batang tebu

Bagase

Penggilingan

Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur

Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran

Penggumpalan

Pencetakan pada Tumbu

Gula merah tebu Gambar 7. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Tumbu Berbahan Baku Tebu

53

Batang tebu

Bagase

Penggilingan

Nira Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur

Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran

Pengentalan Natrium Benzoat

Penirisan

Penyusukan

Gula merah awur Pengemasan

Gambar 8. Diagram Alir Pembuatan Gula Merah Awur Tebu

54

2. Aspek Pemasaran

Gula tumbu dan gula awur yang dihasilkan oleh para pengrajin gula merah tebu di Kabupaten Rembang, pada umumnya dipasarkan ke industri-industri pengguna gula merah. Industri tersebut menggunakan gula merah (gula awur dan tumbu) sebagai bahan baku produksinya. Oleh karena itu, gula merah yang dihasilkan tidak dicetak berukuran kecil seperti gula merah untuk konsumsi rumah tangga. Jadi, dalam pendistribusiannya sedikit terdapat perbedaan dengan gula merah untuk konsumsi rumah tangga. Dalam pendistribusian gula merah tumbu dan awur, tidak terdapat pedagang pengecer yang menjual produk ke tangan konsumen. Kisaran harga jual gula merah tebu dari pengrajin ke pengumpul adalah untuk gula awur Rp. 3.550,00-Rp. 4.200,00 dan gula merah tumbu Rp.2.600,00Rp. 3.600,00. Selisih harga antara gula awur dan gula tumbu adalah Rp.100,00Rp. 200,00. Sedangkan selisih harga antar kualitas gula merah adalah Rp. 100,00Rp. 150,00. Pada umumnya para pengusaha gula merah di Kecamatan Pamotan menjual produknya ke industri-industri besar melalui pengumpul besar, sebagai pihak ketiga. Meskipun terdapat pula PGT yang mencoba menjual langsung hasil produksinya ke luar kota, antara lain Rembang, Kudus, Pati, Semarang, Pasuruan, dan Yogyakarta. Mutu gula merah yang dihasilkan dari pengolahan milik Ibu Arini beragam, diantaranya gula dengan mutu baik, sedang dan jelek. Gula mutu baik dan mutu sedang dijual langsung ke PT. Remaja sebagai pengumpul besar, yang dipimpin oleh Pak Isyono atau yang lebih dikenal dengan nama Segyang. Sedangkan gula dengan mutu jelek biasanya dimasak kembali bersama dengan gulali baru yang sedang dimasak. Gula merah tersebut akhirnya akan dijual ke industri-industri besar yang menggunakan gula merah sebagai bahan baku produksinya. Gula mutu baik dan sedang biasanya dijual ke PT. ABC, PT. Indofood, PT. Cap Orang Tua, industri penghasil jenang (dodol), perusahaan kecap dan permen. Dimana setiap perusahaan memiliki standar mutu yang berbeda-beda.

55

Selain sebagai pengusaha gula merah yang menjual produknya ke PT. Remaja, Ibu Arini juga sebagai pengumpul menengah yang dipercaya oleh PT. Remaja sebagai tangan kanan perusahaan di wilayah Kecamatan Pamotan. Beliau bertugas mengumpulkan gula merah dari para pengrajin yang berada di wilayah Kecamatan Pamotan dan menyetorkan hasilnya ke PT. Remaja. Perusahaan yang bertindak sebagai salah satu pengumpul terbesar di Kabupaten Rembang dan penyuplai gula merah untuk berbagai industri ini memiliki gudang penyimpanan gula merah, yang terletak di Desa Japerejo, Kecamatan Pamotan. Gambaran distribusi gula merah tebu di Kabupaten Rembang dapat dilihat pada Gambar 9.
Pedagang pengumpul besar Industri

Pedagang pengumpul besar Pengrajin Pedagang pengumpul menengah Industri Industri

Industri

Gambar 9. Distribusi Produk Gula Merah Tebu (Gula Tumbu dan Awur)

Harga jual gula tumbu dari pengrajin ke pedagang pengumpul dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Harga Jual Gula Tumbu dari Pengrajin ke Pedagang Pengumpul (Tahun Giling 2006) Bulan Gula tumbu (Rp/kg) Awal Juni 3000 Pertengahan Juni 2900 Awal Juli 2800 Pertengahan Juli 2750 Akhir Juli 2700 Awal Agustus 2650 Pertengahan Agustus 2600 Awal September 2650 Pertengahan September 2700 Akhir Oktober 3000 Pertengahan Desember 3550 Sumber: Komunikasi Personal dengan Pengusaha Gula Merah Tebu

56

3. Aspek finansial
Aspek finansial membicarakan tentang bagaimana menghitung

kebutuhan dana, baik kebutuhan dana untuk aktiva tetap maupun dana untuk modal kerja. Beberapa hal yang dibahas dalam analisis aspek finansial antara lain yaitu penentuan kebutuhan dan pengalokasian dana, sumber dana dan biaya modal, estimasi aliran kas proyek, serta kriteria penilaian investasi (Husnan dan Muhammad, 2000).

a. Permodalan
Penyediaan permodalan dalam kegiatan dunia usaha bergerak melalui sejumlah tahapan pembiayaan. Pada tahapan awal, sumber pembiayaan umumnya berasal dari uang pribadi pemilik usaha serta berbagai sumber lain yang diupayakan oleh pemilik. Tahapan selanjutnya apabila perusahaan mulai tumbuh dan berkembang melampaui kemampuan pembiayaan pemilik, maka perusahaan mencari sumber pembiayaan lain seperti memanfaatkan bank sebagai sumber pembiayaan (Widi, 1997). Sumber modal usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang yaitu uang pribadi pemilik usaha dan pinjaman dari pihak lain, seperti bank, kerabat ataupun pihak lain yang dapat memberikan pinjaman modal usaha.

b. Biaya Investasi
Biaya investasi merupakan besarnya biaya yang diperlukan untuk membangun industri gula merah tebu. Biaya investasi dalam pendirian industri gula merah tebu terdiri atas modal tetap dan modal kerja. Modal tetap adalah semua biaya yang diperlukan dari tahap pra investasi sampai pabrik siap beroperasi. Modal tetap industri ini meliputi biaya perizinan dan pengadaan lahan, pendirian bangunan, pembelian mesin-mesin dan peralatan serta fasilitas penunjang. Modal tetap yang diperlukan untuk pendirian industri ini adalah Rp 218.025,000,00. Dengan komposisi biaya seperti terdapat pada Tabel 10. Komposisi modal tetap secara lengkap disajikan pada Lampiran 1.

57

Tabel 10. Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Lahan (m2) Bangunan Perizinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Jumlah 1100 Nilai (Rp.) 110.000.000 50.000.000 2.000.000 6.200.000 49.825.000

Total Modal Tetap

218.025.000

Modal kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi gula merah tebu pada waktu beroperasi pertama kali. Modal kerja merupakan gabungan dari biaya tetap (biaya tenaga kerja tidak langsung, depresiasi, pemeliharaan, administrasi dan telepon), biaya variabel (biaya bahan baku, kemasan, tenaga kerja langsung, bahan bakar dan listrik) dan persediaan kas. Persediaan kas dimaksudkan untuk menghindari kesulitan liquiditas yang disebabkan perubahan kondisi yang sudah diprediksikan sebelumnya. Besarnya modal kerja sangat tergantung pada biaya operasional pabrik, karena modal kerja akan dipergunakan untuk pembiayaan awal hingga pabrik bisa berproduksi. Dalam hal ini produk diasumsikan habis terjual setelah 10 hari produksi, sehingga biaya minimum yang diperlukan pada saat awal pabrik beroperasi setara dengan 10 hari biaya operasional. Komposisi modal kerja untuk industri gula merah tebu dapat dilihat pada Tabel 11.

58

Tabel 11. Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu No Komponen A. Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) Saat Ini 700.000 498.604 600.472 2.500.000 4.299.076 31.835.921 737.100 4.693.000 335.400 37.601.421 5.000.000 46.900.497

B.

C.

Total biaya investasi untuk industri gula merah tebu adalah Rp 264.925.497,00, seperti terlihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Modal Tetap Modal Kerja Total Investasi Sub Total (Rp.) 218.025.000 46.900.497 264.925.497

c. Sumber dan Struktur Pembiayaan


Biaya Investasi untuk pengembangan industri gula merah tebu berasal dari modal sendiri dan kredit perbankan. Debt to Equity Ratio (DER) keduanya adalah 50:50 yaitu 50 % modal sendiri dan 50 % berasal dari pinjaman bank. Bunga bank yang digunakan sebesar 18 %. Jangka waktu pengembalian modal tetap adalah sesuai dengan umur proyek yaitu sebesar 10 tahun. Sedangkan pengembalian modal kerja adalah selama 3 tahun. Struktur pembiayaan usaha gula merah tebu disajikan pada Tabel 13.

59

Tabel 13. Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu Jenis Kredit Modal Tetap Modal Kerja Jumlah Pinjaman (Rp) 109.012.500 23.450.249 132.462.749 Modal Sendiri (Rp) 109.012.500 23.450.249 132.462.749

Pembayaran pinjaman terhadap bank dilakukan dengan cara membayar angsuran pinjaman pokok dan bunga mulai tahun pertama. Perhitungan lengkap disajikan pada Lampiran 7.

d. Proyeksi Laba Rugi


Proyeksi laba rugi merupakan perhitungan penerimaan dan penjualan produk serta keseluruhan biaya yang dikeluarkan setiakp tahunnya selama jangka waktu tertentu. Perincian proyeksi laba rugi dapat dilihat pada Lampiran 13. Perincian laba bersih terdapat pada Tabel 14.

Tabel 14. Perincian Laba Bersih Tahun ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nilai (Rp.) 78.212.839 109.429.490 133.431.596 135.790.064 137.163.621 138.537.179 139.910.736 141.284.294 142.657.851 144.031.409

e. Kriteria Kelayakan Investasi


Kriteria kelayakan investasi meliputi Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Break Event Point

60

(BEP), dan Pay Back Period (PBP). Hasil penilaian dari kriteria-kriteria tersebut menentukan kelayakan pengembangan usaha gula merah tebu.

Net Present Value (NPV) Pada perhitungan NPV dengan Discount Factor (DF) 18 %, diperoleh NPV Rp 257.968.831,00. Nilai tersebut menunjukkan angka yang positif (lebih besar dari nol).

Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan suatu nilai suku bunga yang membuat NPV proyek sama dengan nol atau tingkat suku bunga yang menunjukkan jumlah nilai sekarang netto (NPV) sama dengan jumlah ongkos investasi proyek. Nilai IRR yang diperoleh adalah 40,60 %. Nilai ini lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 18 %.

Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan perbandingan antara keuntungan yang diperoleh terhadap biaya yang dikeluarkan. Net Benefit Cost Ratio yang diperoleh bernilai lebih dari 1 yaitu 1,97.

Break Event Point (BEP) Break Event Point (BEP) merupakan titik dimana total biaya produksi sama dengan pendapatan. BEP yang diperoleh yaitu Rp 195.968.791,00 atau 59.384 Kg/tahun. Titik impas tercapai pada saat produksi 63.969 Kg/tahun.

Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) merupakan jangka waktu pengembalian investasi suatu proyek. Hasil perhitungan menunjukkan nilai PBP sebesar 2,96 tahun.

61

D. ANALISIS PENGEMBANGAN USAHA GULA MERAH TEBU 1. Analisis SWOT


Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan usaha diidentifikasi dengan menyusun matriks internal dan eksternal. Matriks internal merupakan suatu metode untuk mengidentifikasi serta mengevaluasi kondisi internal suatu perusahaan. Faktor internal yang diamati yaitu kekuatan serta kelemahan dari perusahaan yang meliputi sumber daya manusia, teknologi proses yang akan digunakan, kegiatan operasional, lokasi pabrik, legalitas perusahaan, kegiatan pemasaran, kondisi keuangan, serta kebersihan dan kesehatan produk. Mariks eksternal digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi eksternal perusahaan yang terdiri dari peluang dan ancaman yang dihadapi. Lingkungan eksternal berhubungan secara tidak langsung dan di luar kendali perusahaan, yang meliputi kebijakan pemerintah, pesaing, pemasok bahan baku, pasar, ekonomi, sosial, dan teknologi. Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan langsung di pabrik gula merah tebu milik Ibu Arini, dapat dihasilkan beberapa faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan untuk kondisi internal serta beberapa faktor peluang dan ancaman untuk matriks eksternal perusahaan. Hasil identifikasi faktor dapat dilihat pada Tabel 15.

62

Tabel 15. Faktor Internal dan Eksternal Pengembangan Usaha Gula Merah Tebu

Faktor A. Internal
Kekuatan (Strengths) 1. Harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk gula lainnya 2. Proses produksi sederhana 3. Memanfaatkan tenaga kerja lokal 4. Memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis 6. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir Kelemahan (Weaknesses) 1. Teknologi manual dan sederhana 2. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Sanitasi pabrik dan produk tidak terjamin 4. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Belum berbadan hukum 6. Ketersediaan modal terbatas 7. Kualitas SDM yang rendah 8. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Produk belum distandarkan 11. Penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan

B. Eksternal
Peluang (Opportunities) 1. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3. Bahan baku mudah 4. Diversifikasi produk 5. Potensi pengembangan 6. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7. Popularitas gula merah masih dapat meningkat Ancaman (Threats) 1. Harga produk ditentukan oleh pasar 2. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4. Harga BBM naik 5. Tidak adanya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah

63

a. Matriks Evaluasi Faktor Internal (Matriks IFE)


Evaluasi terhadap faktor internal industri gula merah tebu dilakukan dengan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan. Faktor kekuatan yang dimiliki industri gula merah tebu antara lain harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk sejenis, proses produksi dan peralatan yang digunakan sederhana, memanfaatkan tenaga kerja lokal, memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas, kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis, lokasi pabrik cukup strategis, dan gula merah sebagai bahan substitusi gula pasir. Kelemahan yang dimiliki oleh industri gula merah tebu antara lain teknologi manual dan sederhana, proses produksi tidak konsisten, sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin, kesadaran terhadap keamanan produk rendah, belum berbadan hukum, ketersediaan modal terbatas, kualitas SDM yang rendah, tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan, bangunan pabrik tidak permanen, produk belum sesuai dengan SNI, dan penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan. Berdasarkan identifikasi faktor internal diperoleh total skor sebesar 2,816. Perhitungan secara kuantitatif terhadap identifikasi faktor internal dapat dilihat pada Tabel 16.

64

Tabel 16. Matriks IFE Industri Gula Merah Tebu

Faktor A. Internal Kekuatan (Strengths)


1. Harga gula merah tebu lebih murah dibandingkan produk gula lainnya 2. Proses produksi sederhana 3. Memanfaatkan tenaga kerja lokal 4. Memiliki langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi dibandingkan produk sejenis 6. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir

Bobot Faktor (BF)

Rating

Bobot * Rating

0.042 0.057 0.050 0.069 0.054 0.054 0.061 0.057 0.054 0.061 0.069 0.054 0.054 0.069 0.084 0.061 0.050

1 3 2 3 2 3 3 3 4 3 2 4 3 3 2 3 4

0.042 0.172 0.100 0.207 0.107 0.161 0.184 0.172 0.215 0.184 0.138 0.215 0.161 0.207 0.169 0.184 0.199

Kelemahan (Weaknesses)
1. Teknologi manual dan sederhana 2. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin 4. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Belum berbadan hukum 6. Ketersediaan modal terbatas 7. Kualitas SDM yang rendah 8. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Produk belum distandarkan 11.Penanganan diperhatikan bahan baku dan produk kurang

Total

1.000

2.816

65

b. Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (Matriks EFE)


Evaluasi terhadap faktor eksternal industri gula merah tebu dilakukan dengan mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi oleh industri gula merah tebu. Peluang yang dapat dimanfaatkan oleh industri gula merah tebu adalah kebutuhan gula merah semakin meningkat, ketersediaan lahan dan bahan baku, bahan baku mudah, diversifikasi produk, memiliki langganan, pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman), dan gula merah telah populer di masyarakat. Faktor ancaman yang dihadapi oleh industri gula merah tebu antara lain harga produk ditentukan oleh pasar, beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG), harga bahan baku di PG lebih tinggi, penampakkan produk yang kurang menarik, harga BBM naik, pajak dan ijin usaha, serta rendahnya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah. Berdasarkan identifikasi faktor eksternal industri gula merah tebu, didapatkan total skor sebesar 2,686. Perhitungan secara kuantitatif terhadap identifikasi faktor eksternal dapat dilihat pada Tabel 17.

66

Tabel 17. Matriks EFE Industri Gula Merah Tebu

B. Eksternal
Peluang (Opportunities)
1. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3. Bahan baku mudah 4. Diversifikasi produk 5. Potensi pengembangan 6. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7. Popularitas gula merah masih dapat meningkat

Bobot Faktor (BF)

Rating

Bobot* Rating

0.080 0.077 0.080 0.093 0.083 0.099 0.080 0.090 0.083 0.077 0.083 0.074

3 2 3 3 4 3 1 3 2 2 3 3

0.240 0.154 0.240 0.279 0.333 0.298 0.080 0.269 0.167 0.154 0.250 0.221

Ancaman (Threats)
1. Harga produk ditentukan oleh pasar 2. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4. Harga BBM naik 5. Tidak adanya perhatian pemerintah terhadap usaha gula merah

Total 1.000 2.686

67

Tabel 18. Matriks Internal-Eksternal (IE) TOTAL SKOR IFE 4,0 Tinggi Kuat 3,0 Rata-rata 2,0 Lemah 1,0

I
3,0 TOTAL SKOR EFE Sedang 2,0 Rendah

II

III

V
IV VI

VII
1,0

VIII

IX

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari matriks IFE dan EFE, dapat disusun matriks IE. Nilai yang didapat dari matriks IFE sebesar 2,816 dan hasil yang didapat dari matriks EFE sebesar 2,686 sehingga mendapatkan posisi pada sel V. Posisi ini menggambarkan bahwa industri gula merah tebu mengalami konsentrasi melalui integrasi horizontal dan mengalami stabilitas. Tujuannya yaitu menghindari kehilangan penjualan dan profit. Posisi industri gula merah tebu yang berada pada kuadran V dapat dikelola dengan menggunakan strategi pengembangan. Strategi pengembangan adalah kondisi dimana perusahaan melakukan upaya pengembangan produk yang telah ada. Strategi yang dapat digunakan pada kuadran ini adalah stability strategy atau integrasi horizontal. Perusahaan yang berada pada sel ini dapat melakukan peningkatan kualitas produk, perluasan pasar, pengembangan teknologi dan fasilitas produksi, melalui kerjasama dengan pihak lain.

68

Tabel 19. Matriks Analisis SWOT

Faktor Internal

Strengths (S)
1. Harga gula merah tebu lebih murah 2. Proses produksi sederhana 3. Tenaga kerja lokal 4. Langganan pengumpul yang tetap dan pasar yang jelas 5. Kandungan gizi gula merah lebih tinggi 6. Gula merah dapat digunakan sebagai bahan substitusi gula pasir

Weaknesses (W)
1.Teknologi manual dan sederhana 2. Kondisi proses produksi tidak konsisten 3. Sanitasi kondisi pabrik dan produk tidak terjamin 4. Kesadaran terhadap keamanan produk rendah 5. Belum berbadan hukum 6. Ketersediaan modal terbatas 7. Kualitas SDM yang rendah 8. Tidak ada inovasi dan aplikasi teknologi kemasan 9. Bangunan pabrik tidak permanen 10. Produk belum distandarkan 11. Penanganan bahan baku dan produk kurang diperhatikan

Faktor Eksternal Opportunities (O)


1. Kebutuhan gula merah semakin meningkat 2. Ketersediaan lahan dan bahan baku 3. Bahan baku mudah 4. Diversifikasi tebu 5. Potensi pengembangan 6. Pasar terbuka lebar (berkembangnya industri makanan dan minuman) 7. Popularitas gula merah masih dapat meningkat

Strategi SO
1. Meningkatkan kapasitas produksi 2. Memperluas daerah pemasaran 3. Meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan 4. Meningkatkan hubungan baik dengan pemasok bahan baku, pengumpul dan industri pengguna gula merah

Srategi WO
1. Menerapkan teknologi tepat guna dengan memperhatikan sanitasi dan keamanan produk 2. Melakukan perencanaan dan pengendalian produksi 3. Menerapkan tata cara kerja dan penanganan produk serta pemilihan bahan baku yang baik 4. Menerapkan goodhouse keeping 5. Membina SDM yang dimiliki 6. Meningkatkan kualitas produk 7. Memanfaatkan KUK

Threats (T)
1. Harga produk ditentukan oleh pasar 2. Beralihnya penyaluran tebu ke Pabrik gula (PG) 3. Harga bahan baku di PG lebih tinggi 4. Harga BBM (bahan penunjang produksi) naik 5. Tidak adanya perhatian pemerintah

Strategi ST
1.Mengatur pemasokan bahan baku dan jadwal produksi 2. Menerapkan sistem penjadwalan 3. Menbentuk kelompok usaha bersama

Strategi WT
1. 2. Mengurus perizinan usaha yang jelas Menjalin dan meningkatkan kerjasama dalam hal permodalan dan pemasaran

69

Berdasarkan analisis SWOT yang dihasilkan dari Tabel 19, terdapat empat skenario strategi yang dapat dilakukan. Keempat skenario strategi tersebut adalah strategi kekuatan dan peluang (strategi SO), strategi kekuatan dan ancaman (strategi ST), strategi kelemahan dan peluang (strategi WO), serta strategi kelemahan dan ancaman (strategi WT). 1. Strategi SO Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan yaitu dengan menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang sebesarbesarnya (Rangkuti, 2000). Strategi SO meliputi : Meningkatkan kapasitas produksi. Upaya peningkatan volume produksi dapat dilakukan, karena ketersediaan bahan baku dan harga tebu yang murah. Tujuan dari peningkatan kapasitas produksi untuk

mengembangkan perusahaan dan memenuhi kebutuhan pasar. Dapat dilakukan dengan menambah fasillitas dan peralatan produksi. Memperluas daerah pemasaran. Kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan menambah langganan pengumpul, industri pengguna gula merah, serta pedagang eceran. Daerah pemasarannya dapat diperluas ke kota-kota besar di Pulau Jawa, selain ke daerah di sekitar Rembang (Pati, Kudus, dan Semarang). Pemasaran produk gula awur dapat dilakukan secara langsung, untuk konsumsi rumah tangga. Meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menambah produksi gula awur yang harganya lebih mahal serta mengolah kembali produk yang tidak sesuai dengan standar kualitas. Misalnya dengan memanfaatkan gula merah awur sebagai bahan baku pembuatan kecap. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan keuntungan dan meminimalkan limbah yang dihasilkan. Meningkatkan hubungan kerjasama yang baik dengan pemasok bahan baku, pengumpul dan industri pengguna gula merah. Tujuannya yaitu untuk mengoptimalkan berjalannya sistem dalam suatu industri, mulai dari pemasokan bahan baku hingga pendistribusian ke industri maupun konsumen.

70

2. Strategi ST Strategi ini menggunakan kekuatan perusahaan untuk mengatasi ancaman yang mungkin terjadi. Strategi SO meliputi : Mengatur pemasokan bahan baku dan jadwal produksi. Usaha ini dilakukan agar tidak terjadi kelangkaaan bahan baku dan mendukung kelancaran proses produksi. Selain itu, sebagai salah satu cara untuk mengatasi perubahan harga gula merah akibat perubahan permintaan pasar. Pengaturan pemasokan bahan baku dilakukan dengan cara menetapkan jadwal pengiriman bahan baku, sehingga tidak ada waktu yang terbuang selama pengangkutan bahan baku. Pengaturan jadwal produksi dilakukan dengan cara menetapkan target produksi per harinya, mengoptimalkan pembagian kerja, dan mengefisienkan waktu kerja untuk mengurangi idle dalam kegiatan produksi. Menerapkan sistem penjadwalan distribusi produk. Upaya penerapan sistem penjadwalan dalam melakukan aktifitas perusahaan dapat dilakukan dengan menyusun rencana produksi, mulai dari produk telah dihasilkan kemudian didistribusikan, hingga penyimpanan dan pemasaran produk. Membentuk kelompok usaha bersama. Hal ini dilakukan untuk memperkuat posisi industri dalam segi penetapan harga, mempermudah akses pemasaran, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan para pengrajin gula merah tebu. 3. Strategi WO Strategi ini memanfaatkan peluang untuk mengatasi kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan. Strategi WO meliputi : Menerapkan teknologi tepat guna dengan memperhatikan sanitasi dan keamanan produk. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan alat dan mesin produksi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan perusahaan. Tujuan dari upaya ini adalah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan. Di samping itu untuk menjaga kontinyuitas produksi dan membuka kesempatan bagi perusahaan untuk dapat diterima oleh pasar.

71

Melakukan perencanaan dan pengendalian produksi. Salah satu tujuan dilakukannya usaha ini adalah untuk menjaga kelancaran kegiatan produksi dan tercapainya tujuan perusahaan. Dapat dilakukan dengan menyusun perencanaan kegiatan produksi yang akan dilakukan oleh perusahaan, pengontrolan dan pemantauan, serta pengendalian kegiatan produksi yang disesuaikan dengan target dan rencana yang telah ditetapkan dalam suatu perusahaan. Menerapkan tata cara kerja dan penanganan produk serta pemilihan bahan baku yang baik. Tujuan dari usaha ini antara lain memberikan kemudahan, kelancaran dan keamanan bagi para pekerja dalam melakukan aktifitas kerjanya, sehingga kegiatan produksi dapat berjalan lebih efisien dan kerusakan bahan baku maupun produk dapat dihindari serta diperoleh produk yang baik. Dapat dilakukan dengan cara menetapkan jadwal tebang disesuaikan dengan sifat tanaman tebu dan kandungan nira yang optimal, karena selama ini semua tebu yang ditebang dan masuk, langsung diterima untuk dilakukan penggilingan. Selain itu, kegiatan pengemasan dan penyimpanan produk yang baik, serta kegiatan pengolahan (pemasakan) yang optimal. Menerapkan goodhouse keeping. Penerapan goodhouse keeping dilakukan untuk mendukung terciptanya lingkungan pabrik yang nyaman dan aman, terjaganya kebersihan dan sanitasi lingkungan pabrik dan produk, serta kegiatan produksi dapat berjalan lebih efisien. Membina SDM yang dimiliki. Upaya ini diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan, agar menjadi lebih terampil, ulet, dan dapat bekerja efektif serta efisien. Menurut Syamsul dan Hendri (2003), menyatakan canggihnya dan rapinya sistem operasi sangat ditentukan oleh kemampuan SDM untuk memikirkannya, mengorganisasikannya, dan mewujudkannya dalam bentuk implementasi nyata. Meningkatkan kualitas produk. Peningkatan kualitas produk dapat dilakukan mulai dari penggunaan bahan baku yang berkualitas, proses pengolahan yang optimal, dan penggunaan teknologi yang sesuai. Tujuan

72

dari strategi ini adalah untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen, memperkuat posisi produk dan perusahaan, dan memperluas pangsa pasar. Memanfaatkan Kredit Usaha Kecil (KUK) yang disediakan oleh bank untuk modal dalam pengembangan usaha. Tahap awal yang dapat dilakukan adalah mengurus perijinan usaha, memperbaiki sistem manajerial dan keuangan, sehingga usaha tersebut memperoleh pinjaman modal untuk pengembangan usaha. 4. Strategi WT Strategi ini dilakukan untuk meminimalkan kelemahan yang dimiliki dan ancaman yang dihadapi oleh perusahaan. Strategi WT meliputi : Mengurus perizinan usaha yang jelas (legalisasi). Hal ini bertujuan untuk mempermudah kegiatan usaha, mempertahankan dan mengembangkan usaha, memperoleh berbagai fasilitas dari pemerintah, misalnya dalam hal bantuan permodalan dan jika terjadi persengketaan atau tuntutan. Menjalin dan meningkatkan kerjasama dalam hal permodalan dan pemasaran. Dilakukan dengan menarik investor untuk menambah bantuan permodalan dan akses pemasaran. Karena permasalahan yang seringkali terjadi pada pengusaha gula merah tebu adalah kekurangan modal.

2. Aspek Teknis dan Teknologis


Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. Teknologi yang akan diterapkan pada

pengembangan usaha gula merah ini disesuaikan dengan kebutuhan usaha, kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya. Penerapan teknologi yang dimaksud adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu, perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. Hal ini sebagai alternatif upaya pengembangan usaha gula merah tebu, terutama dalam peningkatan kualitas dan kuantitas.

73

a. Alternatif Upaya Pengembangan


Penggunaan bahan baku yang bersih, perlakuan proses penyaringan bertahap pada nira yang akan dimasak dan penggantian peralatan proses pengolahan wajan berundak dengan wajan uap bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk dan kapasitas produksi gula merah tebu. Hal itu menyebabkan produktifitas usaha gula merah tebu dapat meningkat. Peralatan dan mesin yang dibutuhkan seperti wajan uap dan boiler dapat dipesan dari bengkel, sedangkan peralatan penunjang lainnya dapat diperoleh di toko-toko peralatan.

a.1. Penggunaan Bahan Baku Yang Bersih


Penggunaan bahan baku yang bersih bertujuan untuk meningkatkan kebersihan (kualitas) gula yang dihasilkan. Bahan baku bersih yang dimaksud adalah tebu yang bersih dari daun-daun kering yang masih menempel di batang tebu, dibersihkan dengan arit atau pisau. Daun-daunan kering yang ikut tergiling dapat menyerap nira yang keluar, sehingga dapat menurunkan rendemen yang diperoleh. Selain itu ampas yang dihasilkan lebih banyak, yang dapat mengotori nira hasil gilingan.

a.2. Penyaringan Nira Secara Bertahap


Penyaringan nira dilakukan untuk meningkatkan kualitas gula merah yang dihasilkan. Penyaringan nira dilakukan untuk memisahkan dan membersihkan nira dari padatan-padatan dan kotoran yang ada pada nira hasil giling. Sebelum di masukkan ke dalam wajan, nira yang keluar dari mesin giling akan melalui beberapa kali proses penyaringan. Penyaringan pertama dilakukan dengan menggunakan saringan yang terbuat dari kawat besi, penyaringan yang kedua menggunakan kain saringan biasa,

penyaringan yang ketiga dan keempat berupa papan (flat) terbuat dari kawat besi yang dipasang di bak penampungan nira setelah keluar dari mesin giling (berbentuk segi empat). Untuk penyaringan kelima digunakan kain saringan biasa yang dipasang di atas drum penampung nira yang akan dialirkan ke wajan. Dan penyaringan keenam menggunakan saringan kawat besi, yang akan menyaring kotoran dan padatan dalam nira yang akan dimasak.

74

Gambar 10. Alat Penyaringan Nira Tebu

a.3. Wajan dengan Pemanasan Uap


Wajan yang dipergunakan untuk memanaskan dan memasak nira tebu menjadi gula merah berbentuk silinder dengan dasar melengkung (cembung). Wajan ini mampu menampung 700 liter nira tebu yang ditempatkan kira-kira setengah meter di atas permukaan tanah dengan tiga kaki sebagai penopang. Bagian dinding dan dasar wajan terdiri dari dua lapisan, diantara kedua lapisan itulah uap panas akan menyebar, menyelimuti dan memanaskan wajan. Selain itu, di bagian tengah wajan terdapat pipa stainless berbentuk spiral, yang memiliki fungsi sebagai saluran uap panas untuk memanaskan bahan. Di bagian bawah wajan terdapat klep (kran) yang berfungsi sebagai saluran output gula cair yang telah dimasak. Di samping wajan terdapat kran pengatur jumlah uap yang akan didistribusikan ke dalam da keluar wajan. Di bagian samping kiri wajan dilengkapi dengan termometer untuk mengecek suhu uap yang masuk ke wajan, dan alat pengukur tekanan dalam wajan (barometer). Uap panas yang keluar atau dibuang dari dalam wajan, selanjutnya dikondensasi oleh suatu alat pendingin (kondensor)

menghasilkan uap dan tetesan air. Air hasil kondensasi tersebut kemudian akan di reuse untuk memanaskan boiler kembali untuk proses pemasakan selanjutnya. Uap panas yang disuplai ke wajan diperoleh dari air dalam boiler yang dipanaskan dengan menggunakan bahan bakar ampas tebu (bagas). Air

75

tersebut berasal dari air sumur dengan bantuan mesin pompa air. Di bagian dinding luar boiler terdapat termometer, barometer dan alat pengukur volume air dalam boiler. Pada bagian belakang boiler terdapat kran yang berfungsi untuk mengatur masuknya air ke dalam boiler. Selain itu, di bagian atas boiler dipasang saluran keluar uap panas yang berlebih dan dapat berfungsi otomatis.

Gambar 11. Boiler dan Wajan Uap

a.4. Fasilitas Penunjang


Fasilitas penunjang lain yang digunakan dalam proses produksi gula merah tebu adalah tenaga listrik, bahan bakar solar dan oli, dan air sumur. Tenaga listrik yang dibutuhkan adalah untuk pengoperasian mesin pompa (tiga buah) dan penerangan pabrik. Bahan bakar solar dipergunakan untuk mengoperasikan mesin diesel (20 PK) sebagai penggerak mesin giling tebu. Kebutuhan solar adalah sebanyak 20 liter/ satu ton gula, dengan harga solar Rp. 4.500,00/ liter. Sedangkan oli dipergunakan sebagai pelumas mesin giling, dengan kebutuhan sebanyak 4 liter/ 6 ton gula. Air dipergunakan untuk menghasilkan uap panas dari dalam boiler. Karena menggunakan air sumur, maka tidak ada biaya khusus untuk penggunaan air. Kecuali air dalam sumur sedang tidak tersedia.

b. Bahan Baku
Bahan baku utama dalam industri gula merah di Kecamatan Pamotan adalah tanaman tebu. Varietas tebu yang digunakan dalam usaha tani tebu di Kabupaten Rembang adalah PS 851, PS 864 dan BZ 148. Bahan baku yang

76

digunakan merupakan tebu yang berasal dari lahan milik pribadi dan tebu yang berasal dari lahan sewa. Namun tidak sedikit pula yang menggunakan sistem beli tebu dari petani lain yang pada umumnya tidak memiliki unit gilingan. Tebu dipilih berdasarkan jenis tebu, kondisi batang, kondisi perkebunan, dan umur tanaman. Bahan baku yang belum cukup umur dan tidak memenuhi teknis pemeliharaan tanaman tebu akan menurunkan rendemen dan mutu produk gula merah tebu yang dihasilkan. Terdapat juga pengolah yang memilih bahan baku berdasarkan daerah penanaman tebu. Karena setiap daerah memiliki kondisi lahan yang berbeda-beda, misalnya jenis tanah dan kondisi pengairan. Sistem pembelian tebu yang dilakukan pengusaha industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan adalah berdasarkan bobot tebu yang dihitung dalam satuan Ton. Namun ada pula yang menggunakan sistem borongan dimana tebu dijual tidak berdasarkan bobot melainkan per luas areal. Kisaran harga tebu di Kecamatan Pamotan adalah Rp. 130.000,00-Rp. 150.000,00/ ton tebu. Produktivitas tebu per hektar lahan adalah sekitar 60-100 ton tebu, berdasarkan tabel 2 produksi tebu di Kecamatan Pamotan adalah sebesar 12.050,955 ton dengan rata-rata produksi per hektar 3.997 kg. Penebangan tebu dilakukan antara bulan Juni-November, dengan umur tebu 8-10 bulan.

c. Bahan Tambahan Pangan dan Penunjang Produksi


Bahan tambahan pangan adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk bahan pangan (Himpunan Alumni Fateta, 2005). Pada umumnya bahan tambahan yang digunakan dalam industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan adalah kapur (Ca(OH)2) baik berupa serbuk maupun larutan, minyak kelapa dan Natrium Benzoat. Pemberian dosis kapur, minyak kelapa dan Natium Benzoat dilakukan menurut perkiraan pembuat gula merah. Dosis kapur yang ditambahkan sekitar 250 gram yang dibagi-bagi ke dalam 9 wajan yang berisi nira, minyak kelapa yang ditambahkan kira-kira 40-50 ml /wajan.Sedangkan serbuk Natrium Benzoat sebanyak 50-100 gram.

77

Menurut Goutara dan Wijandi (1985), larutan kapur telah digunakan sebagai pengendap kotoran atau pemurnian nira. Selain itu penambahan kapur ke dalam nira dapat menetralkan pH nira. Minyak kelapa merupakan senyawa anti buih. Penambahan minyak kelapa dapat menurunkan tegangan permukaan larutan nira, sehingga memperlambat pembentukan buih yang dapat menyebabkan nira meluap dari wajan (Dachlan, 1984). Natrium Benzoat berguna sebagai bahan pengawet makanan.

d. Proses Produksi

d.1. Penggilingan tebu Batang tebu yang telah dipilih dan dibersihkan dimasukkan ke dalam mesin penggiling untuk mengekstraksi nira semaksimal mungkin. Proses penggilingan tebu dilakukan dengan menggunakan mesin giling yang digerakkan oleh diesel yang dihubungkan dengan sabuk transmisi atau belt. Mesin giling yang digunakan memiliki daya 20 pk, yang disesuaikan dengan jenis tebu berkulit keras. Nira yang keluar dari mesin giling ditampung di bak berbentuk segi empat yang dilengkapi dengan saringan kasar yang terbuat dari kawat. Selanjutnya nira akan melalui penyaringan kedua. penyaringan yang ketiga dan keempat berupa papan (flat) terbuat dari kawat besi yang dipasang di bak penampungan nira setelah keluar dari mesin giling (berbentuk segi empat). Kemudian nira hasil penyaringan tadi dialirkan ke sebuah wajan (yang digunakan untuk pemasakan namun tidak digunakan lagi) dengan posisi berada lebih rendah dari bak penyaringan pertama. Selanjutnya, nira yang ditampung dalam wajan dipindahkan ke dalam sebuah drum yang dilengkapi dengan kain penyaring, letak drum di atas bak penyaringan pertama. Pengangkutan nira dilakukan oleh pekerja di bagian penggilingan dengan menggunakan ember. Nira akhirnya memasuki penyaringan yang terakhir, yaitu sebelum masuk ke wajan.

78

Kotoran-kotoran dan padatan yang tersaring dalam setiap bak dan alat penyaring dibuang, sehingga tidak menumpuk dan akhirnya masuk ke bak selanjutnya serta diperoleh nira bersih.

Gambar 12. Proses Penggilingan

d.2. Pemasakan nira Nira hasil penyaringan dimasukkan ke dalam wajan kemudian dipanaskan pada suhu sekitar 110 0C selama kurang lebih tiga jam. Kapasitas satu wajan pemasakan kurang lebih 70 liter nira, yang akan menghasilkan 150 kg gula merah tebu. Hal pertama yang dilakukan adalah memasukkan air ke dalam boiler, setelah mencapai jumlah tertentu boiler pun mulai dipanaskan. Bahan bakar yang digunakan untuk memanaskan boiler adalah ampas hasil penggilingan tebu (bagas). Uap panas yang dihasilkan dari boiler tersebut yang digunakan untuk memanaskan wajan. Pemasakan nira dilakukan di atas wajan stainless yang berbentuk silinder dengan bentuk bagian dasar cembung. Wajan terdiri dari dua lapisan dinding, lapisan bagian luar dan bagian dalam. Uap panas akan menyebar dalam ruang diantara kedua lapisan tersebut. Di bagian tengah wajan terdapat pipa stainless berbentuk spiral, yang berguna untuk mengalirkan uap panas ke bahan dalam wajan. Wajan dilengkapi dengan alat pengukur temperatur dan tekanan, sehingga pekerja mengetahui dan mempermudah pengecekan suhu dan tekanan uap yang dialirkan dalam wajan. Uap panas yang didistribusikan ke dalam dan yang dikeluarkan dari wajan diatur dengan menggunakan kran yang ditempatkan di bagian belakang wajan. Pada aliran uap panas yang keluar dipasang kondensor, yang berguna untuk mengubah uap panas menjadi uap dan tetesan air. Kemudian air yang dihasilkan akan digunakan lagi (reuse)

79

untuk proses pemasakan berikutnya. Di bagian dasar wajan terdapat kran untuk mengeluarkan nira kental (gula) yang sudah matang. Air yang digunakan untuk menghasilkan uap panas dalam boiler berasal dari air sumur yang berada di dekat brak, dengan menggunakan mesin pompa air. Untuk mengatur air yang masuk ke dalam boiler digunakan kran. Boiler dilengkapi dengan alat pengukur tekanan, temperatur dan jumlah air dalam boiler. Selain itu dilengkapi pula dengan alat pembuang uap berlebih yang dipasang secara otomatis. Penambahan kapur dilakukan pada saat nira berada dalam wajan, ketika nira mulai dipanaskan. Minyak kelapa ditambahkan pada saat nira sudah mulai mendidih. Penambahan Natrium Metabisulfit dilakukan ketika nira sudah mulai matang. Pada awal pemasakan kotoran-kotoran halus akan terapung bersama dengan buih nira. Kotoran tersebut dibuang dengan menggunakan serok yang terbuat dari kain kawat nyamuk. Penyaringan kotoran bersama buih tersebut dilakukan berkali-kali hingga bersih. Karena jika tidak dibuang, gula merah yang dihasilkan menjadi berwarna hitam. Untuk menghindari keluarnya buih nira dari wajan, maka wajan ditutup dengan suatu penahan berbentuk silinder yang terbuat dari bahan seng. Proses pemasakan nira dihentikan jika nira sudah mulai pekat dan berwarna kecoklatan serta buih-buih nira sudah menurun. Untuk melihat apakah nira sudah matang, biasanya pekerja mengambil nira yang sudah mulai mengental (gulali) tadi dengan menggunakan serokan, kemudian mengangkatnya. Jika gulali tersebut membentuk benang-benang gula maka gulali tersebut sudah matang.

Gambar 13. Proses Pemasakan Nira dengan Wajan Uap

80

d.3. Pengentalan Nira yang sudah mulai mengental tersebut masih tetap dipanaskan hingga nira yang telah menjadi gulali tersebut kental dan pekat, serta membentuk benang-benang gula. Setelah nira mencapai tingkat kekentalan tertentu, pemanasan air dalam boiler dihentikan dan nira dalam wajan dikeluarkan. Kemudian dipindahkan ke sebuah meja kayu berbentuk silinder. Penyuplaian bahan bakar untuk menghasilkan uap panas harus terus dicek dan dikendalikan. Kecukupan pemanasan sangat mempengaruhi mutu gula merah yang dihasilkan. Apabila waktu pemanasan terlalu cepat maka gula merah yang dihasilkan akan lembek dan mudah meleleh (Sardjono, 1985).

Gambar 14. Pemasakan Nira dengan Wajan Uap

d.4. Penirisan Nira kental yang sudah matang dipindahkan ke dalam meja. Sebelum gula dipindahkan, permukaan meja diberi Natrium Benzoat terlebih dahulu. Tujuan dari pemberian bahan kimika ini adalah untuk memperpanjang umur simpan gula awur (pengawetan). Cairan gula tersebut kemudian diaduk menggunakan serokan yang terbuat dari kayu. Pemindahan gula ke atas meja bertujuan untuk meniriskan gula sehingga menjadi padat. Kegiatan pengadukan tersebut bertujuan untuk meratakan panas dalam bahan, sehingga dapat menghasilkan warna gula coklat kekuningan dan membentuk kristal gula yang halus. Pengadukan untuk meratakan panas, baik yang berasal dari bahan maupun wadah pengolahan. Sehingga reaksi Maillard dan Karamelisasi yang

81

masih berlangsung dapat segera terhenti. Selain itu juga untuk mencegah pembentukan kristal gula yang berukuran besar dan kasar (Nurlela, 2002).

Gambar 15. Proses Penirisan Gula

d.5. Penyusukan Gula yang sudah padat dan mengkristal di atas meja, selanjutnya di susuk dengan alat penyusuk. Kegiatan penyusukan dilakukan dengan telaten, sehingga dihasilkan butiran-butiran gula yang halus dan kering (awur).

d.6. Pengemasan Setelah proses penyusukan selesai, gula dimasukkan ke dalam karung plastik sebagai kemasan sekunder yang sebelumnya dilapisi kantung plastik sebagai kemasan primer. Setiap karung berisi 50 kg gula merah awur, ukuran seperti ini didistribusikan ke industri-industri pengguna gula merah. Selanjutnya karung yang telah diisi gula, bagian atasnya dijahit dengan menggunakan tali plastik untuk menutup kemasan. Karung-karung gula tersebut disimpan di suatu tempat (gudang) yang aman dan tertutup. Sedangkan, gula awur yang akan ditujukan untuk konsumsi rumah tangga, dapat dikemas dengan menggunakan kemasan berbahan polietilen (plastik) yang diseal berisi 250-1000 gram gula atau dikemas dengan toples plastik berlabel.

82

Batang tebu yang telah dibersihkan

Bagase

Penggilingan

Nira Penyaringan nira secara bertahap Penjernihan dengan pemanasan awal 70 0C Larutan kapur

Nira jernih Minyak kelapa Pemanasan 100-110 0C Buih dan kotoran

Pengentalan Natrium Benzoat

Penirisan

Penyusukan

Gula merah awur Pengemasan Gambar 16. Diagram Alir Proses Pembuatan Gula Merah Awur Tebu Menggunakan Wajan Uap dan Boiler

83

3. Aspek Pemasaran
Bauran pemasaran (marketing mix) adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus-menerus mencapai tujuan

pemasarannya di pasar sasaran. McCarthy mengklasifikasikan alat-alat itu menjadi empat kelompok yang luas yang disebut 4P pemasaran : produk (product), harga (price), tempat (place), dan promosi (promotion). Menurut Kotler (2005), alat bauran pemasaran yang paling mendasar adalah produk yaitu tawaran berwujud dari perusahaan kepada pasar, yang mencakup mutu, rancangan, fitur, pemberian merek, dan pengemasan produk. Tingkatan mutu produk gula merah tebu dibagi menjadi tiga kelompok yaitu mutu baik, sedang dan jelek. Penentuannya berdasarkan penilaian subjektif terhadap warna, rasa dan kekerasan oleh pengusaha. Tingkatan mutu tersebut dapat dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20. Tingkatan Mutu Gula Merah Tebu Berdasarkan Penilaian Objektif Pengusaha Mutu Baik Sedang Jelek Warna Cerah (kuning) Kemerahan Gelap (hitam) Manis Manis Manis pahit Sumber : Data Primer Harga jual gula merah sangat ditentukan oleh mutu dan kualitas gula merah yang dihasilkan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa kisaran harga jual gula merah tebu dari pengrajin ke pengumpul adalah untuk gula awur Rp 3.550,00-Rp 4.200,00 dan gula merah tumbu Rp 2.600,00-Rp 3.600,00. Selisih harga antara gula awur dan gula tumbu adalah Rp 100,00-Rp 200,00. Sedangkan selisih harga antar kualitas gula merah adalah Rp 100,00-Rp 150,00. Penerapan pengembangan teknologi di atas, diantaranya penggunaan wajan uap dan boiler dapat meningkatkan mutu gula merah yang dihasilkan. Hal ini akan mempengaruhi harga jual gula merah tebu menjadi lebih tinggi. Gula merah bermutu jelek dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kecap, Rasa Kekerasan Tekstur yang keras Tekstur agak lunak sedikit Tekstur lunak yang lebih

84

karena wajan uap yang digunakan dalam pemasakan nira juga dapat digunakan untuk pembuatan kecap. Harga jual gula merah pada awal panen cenderung naik, terjadi sekitar bulan Mei-Juni. Namun pada saat awal panen, rendemen dan tingkat produksinya masih rendah. Sedangkan pada masa puncak panen, harga cenderung turun. Puncak panen tebu terjadi pada bulan Juli-September, pada saat itu tingkat produksi gula merah tinggi. Ketika harga jual gula merah rendah, para pengusaha dan pengumpul besar biasanya melakukan

penyimpanan (penimbunan). Hal ini dilakukan dengan tujuan agar terhindar dari resiko kerugian akibat rendahnya harga produk dan untuk mendapatkan keuntungan. Biasanya gula merah yang disimpan tersebut akan di keluarkan/ dijual bila musim giling sudah lewat, atau ketika harga jual gula merah sedang naik dan diperkirakan menguntungkan. Harga gula merah tebu ditentukan oleh tingkat permintaan dan penawaran. Sehingga pada saat tidak musim panen sampai awal musim giling, harga gula merah tebu lebih tinggi dibandingkan pada saat musim panen raya tebu. Ketika adanya permintaan terhadap produk gula merah, pada saat penawaran produk gula merah sedikit atau karena belum musim panen tebu, harga gula merah tinggi. Sedangkan ketika tingkat penawaran tinggi dengan permintaan yang tetap, maka menyebabkan terjadinya penurunan harga gula merah. Distribusi gula merah relatif sederhana, pada umumnya para pengumpul mendatangi langsung ke pabrik-pabrik pengolahan gula merah tebu. Mereka akan membeli dan mengangkut produk setelah mencapai suatu terget tertentu. Biasanya gula merah akan diangkut bila telah mencapai 6 ton atau sekitar 40 tumbu. Sistem distribusi gula merah tebu dapat dilakukan pemutusan, yaitu para pengusaha gula merah tebu dapat langsung mendistribusikan produknya ke industri pengguna gula merah maupun konsumen tingkat rumah tangga melaui pedagang pengecer maupun koperasi. Hal ini dilakukan untuk memperkuat posisi perusahaan dan meningkatkan pendapatan para pengusaha. Secara umum pemanfaatan gula merah sebagai bahan pemanis dapat digolongkan menjadi dua bagian besar, yaitu permintaan langsung dan

85

permintaan antara. Permintaan langsung adalah permintaan yang berasal dari sektor rumah tangga, sedangkan permintaan antara adalah permintaan yang sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan industri (Syukur et al., 1999). Menurut Rachmat (1992), bahwa peranan pedagang pengumpul dalam seluruh mata rantai pemasaran gula merah sangat dominan. Bahkan dominasi pedagang pengumpul pada pasar gula merah telah mengarah pada struktur pasar monopsonistik. Seorang monopsonistik dalam pasar produk adalah pembeli tungga dari suatu produk (Bellante dan Jackson, 1990). Sebagian besar produsen tidak menjual barang mereka secara langsung ke pemakai akhir. Antara peodusen dan pemakai akhir terdapat satu atau beberapa saluran pemasaran, serangkaian pemasaran yang melaksanakan berbagai fungsi (Kotler, 2004). Struktur pasar yang terjadi adalah akibat skala usaha industri gula merah tebu yang kecil dan modal yang terbatas serta belum adanya koordinasi (kelompok atau koperasi). Sehingga posisi tawar menawar para pengusaha gula merah tebu menjadi lemah. Perusahaan dapat melakukan perluasan pasar, dengan mendistribusikan produknya ke wilayah di Pulau Jawa. Karena sebagian besar industri pengguna gula merah berada di Pulau Jawa. Kegiatan promosi selama ini jarang dilakukan oleh industri kecil, mereka melakukan kegiatan usahanya berdasarkan kebiasaan dan naluri. Promosi mencakup semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya ke pasar, serta

mendorong pembelian produk agar lebih cepat dan meningkat. Kegiatan promosi below the line dapat dilakukan untuk

mengkomunikasikan dan mempromosikan produk gula merah tebu. Kegiatan promosi ini tidak dilakukan secara terang-terangan, namun contohnya dengan menggunakan merek dan atribut yang diperlukan sebagai identitas produk, memajang produk, dan menggunakan kemasan yang menarik.

86

4. Aspek Finansial

Tujuan menganalisis finansial aspek keuangan suatu usaha adalah untuk menentukan rencana investasi atau usaha melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan pengeluaran dan pendapatan seperti ketersediaan dana, biaya modal, kemampuan untuk membayar kembali dana tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan menilai apakah usaha akan berkembang terus (Umar, 2003).

a. Permodalan
Penyediaan permodalan dalam kegiatan dunia usaha bergerak melalui sejumlah tahapan pembiayaan. Pada tahapan awal, sumber pembiayaan umumnya berasal dari uang pribadi pemilik usaha serta berbagai sumber lain yang diupayakan oleh pemilik. Tahapan selanjutnya apabila perusahaan mulai tumbuh dan berkembang melampaui kemampuan pembiayaan pemilik, maka perusahaan mencari sumber pembiayaan lain seperti memanfaatkan bank sebagai sumber pembiayaan (Widi, 1997). Terdapat beberapa kendala dalam penyaluran KUK, baik dari sisi pengusaha kecil maupun perbankan. Biasanya pengusaha kecil belum mampu memenuhi persyaratan teknis dari bank yang berkaitan dengan penyediaan jaminan dan perijinan. Sedangkan kendala dari sisi perbankan adalah tingginya resiko, terbatasnya sumber daya manusia dan jaringan kantor cabang bank. Kredit Usaha Kecil (KUK) adalah jenis pembiayaan dari bank untuk investasi dan atau modal kerja yang diberikan kepada nasabah untuk membiayai usaha yang produktif. Penerima KUK adalah perusahaan perseorangan, kelompok, koperasi, dan bentuk usaha lain seperti PT dan CV (Widi, 1997).

87

b. Asumsi-Asumsi
Asumsi-asumsi yang menjadi dasar perhitungan dalam analisis finansial antara lain : Analisis finansial ini dilakukan dengan biaya investasi untuk pendirian usaha baru. Umur ekonomi proyek ditetapkan selama 10 tahun. Proyek dimuulai pada tahun ke-0. Tingkat produksi untuk tahun pertama 65 persen, tahun kedua 85 persen, tahun ketiga hingga kesepuluh 100 persen. Nilai sisa mesin dan peralatan 10 % dari nilai awal. Nilai sisa bangunan pada masa akhir proyek 50 % dari nilai awal. Nilai tanah diasumsikan tetap (tidak menyusut). Depresiasi dihitung dengan metode garis lurus. Tingkat suku bunga 18 % per tahun. Persentase kredit terhadap modal sendiri (debt equity ratio) adalah sebesar 50 : 50. Pembayaran angsuran kredit investasi dan kredit modal kerja dimulai pada tahun ke 1, dengan jangka waktu pembayaran untuk kredit investasi selama 10 tahun dan kresit modal kerja selama 3 tahun. Biaya pemeliharaan 2 % dari harga awal. Biaya bahan baku sudah termasuk biaya kebun. Kapasitas produksi dengan basis 1 hari disajikan pada Tabel 21.

88

Tabel 21. Kapasitas Produksi Pengembangan Komponen a. Hari beroperasi b.. Lama operasi c. Produk akhir

pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi

Saat ini 180 hari/ tahun 12 jam/ hari

Pengembangan 180 hari/ tahun 12 jam/ hari

2.100 kg/ hari x 2.800 kg/ hari x Rp 3.300,00 = Rp Rp 3.500,00 = Rp 6.930.000,00 9.800.000,00

d. Kebutuhan bahan penunjang - Kapur - Minyak kelapa - Natrium Benzoat - BBM diesel - Oli - BBM kendaraan e. Kebutuhan bahan baku Tebu 3 kg/ hari 960 ml/ hari 2,4 kg/ hari 12 liter/ hari 0,45 liter/ hari 8 liter/ hari 4 kg/ hari 1.280 ml/ hari 3,2 kg/ hari 14 liter/ hari 0,45 liter/ hari 10 liter/ hari

(3 unit x 7.000 (4 unit x 7.000 kg/ kg/ hari/ unit) = hari/ 21.000 kg/ hari unit) =

28.000 kg/ hari

21.000 kg/ hari x 28.000 kg/ hari x Rp 230,00 = Rp Rp 230,00 = Rp 4.830.000,00 f. Harga jual produk g. Jumlah unit operasi Rp 3.300, 00/ kg 3 wajan 6.440.000,00 Rp 3.500,00/ kg 4 wajan

Besarnya pajak ditentukan berdasarkan UU no. 17 tahun 2000, yaitu sebagai berikut : Jika pendapatan < 50.000.000 maka 10 % x pendapatan 50.000.000 < pendapatan < 100.000.000 maka (10 % x 50.000.000) + (15 % x pendapatan 50.000.000) Jika pendapatan lebih dari 100.000.000 maka (10%x 50.000.000) + (15%x 50.000.000) + (30%xpendapatan 100.000.000)

89

c. Biaya Investasi
Biaya investasi merupakan besarnya biaya yang diperlukan untuk membangun industri gula merah tebu. Biaya investasi dalam pendirian industri gula merah tebu terdiri atas modal tetap dan modal kerja. Modal tetap adalah semua biaya yang diperlukan dari tahap pra investasi sampai pabrik siap beroperasi. Modal tetap industri ini meliputi biaya perizinan dan pengadaan lahan, pendirian bangunan, pembelian mesin-mesin dan peralatan serta fasilitas penunjang. Modal tetap yang diperlukan dalam penerapan alternatif pengembangan usaha gula merah tebu ini adalah Rp 308.285.000,00. Dengan komposisi biaya seperti terdapat pada Tabel 22. Komposisi modal tetap secara lengkap disajikan pada Lampiran 2.

Tabel 22. Komposisi Modal Tetap untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Lahan (m2) Bangunan Perizinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Jumlah 1100 Nilai (Rp.) 110.000.000 70.000.000 2.000.000 6.200.000 120.085.000

Total Modal Tetap

308.285.000

Modal kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi gula merah tebu pada waktu beroperasi pertama kali. Modal kerja merupakan gabungan dari biaya tetap (biaya tenaga kerja tidak langsung, depresiasi, pemeliharaan, administrasi dan telepon), biaya variabel (biaya bahan baku, kemasan, tenaga kerja langsung, bahan bakar dan listrik) dan persediaan kas. Persediaan kas dimaksudkan untuk menghindari kesulitan liquiditas yang disebabkan perubahan kondisi yang sudah diprediksikan sebelumnya. Besarnya modal kerja sangat tergantung pada biaya operasional pabrik, karena modal kerja akan dipergunakan untuk pembiayaan awal hingga pabrik bisa berproduksi. Dalam hal ini produk diasumsikan habis terjual setelah 10 hari produksi, sehingga biaya minimum yang diperlukan pada saat awal pabrik

90

beroperasi setara dengan 10 hari biaya operasional. Komposisi modal kerja untuk industri gula merah tebu dapat dilihat pada Tabel 23.

Tabel 23. Komposisi Modal Kerja untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) 700,000 826,522 839,039 2,500,000 4,865,561 42,429,140 982,800 2,808,000 391,300 46,611,240 5,000,000 56,476,801

Total biaya investasi industri gula merah tebu untuk penerapan alternatif upaya pengembangan adalah sebesar Rp 362.400.690,00 seperti terlihat pada Tabel 24.

Tabel 24. Total Investasi untuk Industri Gula Merah Tebu Komponen Sub Total (Rp.) Pada Skenario 2 Modal Tetap Modal Kerja Total Investasi 308.285.000 56,476,801 364,761,801

d. Sumber dan Struktur Pembiayaan


Biaya Investasi untuk pengembangan industri gula merah tebu berasal dari modal sendiri dan kredit perbankan. Debt to Equity Ratio (DER) keduanya adalah 50:50 yaitu 50 % modal sendiri dan 50 % berasal dari pinjaman bank. Bunga bank yang digunakan sebesar 18 %. Jangka waktu pengembalian modal

91

tetap adalah sesuai dengan umur proyek yaitu sebesar 10 tahun. Sedangkan pengembalian modal kerja adalah selama 3 tahun. Struktur pembiayaan usaha gula merah tebu disajikan pada Tabel 25.

Tabel 25. Struktur Pembiayaan Usaha Gula Merah Tebu Jenis Kredit Modal Tetap Modal Kerja Jumlah Pinjaman (Rp) 154,142,500 28,238,400 182,380,900 Modal Sendiri (Rp) 154,142,500 28,238,400 182,380,900

Pembayaran pinjaman terhadap bank dilakukan dengan cara membayar angsuran pinjaman pokok dan bunga mulai tahun pertama. Perhitungan lengkap disajikan pada Lampiran 7.

e. Proyeksi Laba Rugi


Proyeksi laba rugi merupakan perhitungan penerimaan dan penjualan produk serta keseluruhan biaya yang dikeluarkan setiap tahunnya selama jangka waktu tertentu. Perincian proyeksi laba rugi dapat dilihat pada Lampiran 14. Perincian laba bersih terdapat pada Tabel 26.

Tabel 26. Perincian Laba Bersih untuk Penerapan Pengembangan Usaha Tahun ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nilai (Rp. ) 190,446,493 259,826,509 312,643,573 315,771,782 317,713,977 319,656,173 321,598,368 323,540,564 325,482,759 327,424,955

92

f. Kriteria Kelayakan Investasi


Kriteria kelayakan investasi meliputi Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Break Event Point (BEP), dan Pay Back Period (PBP). Hasil penilaian dari kriteria-kriteria tersebut menentukan kelayakan pengembangan usaha gula merah tebu.

Net Present Value (NPV) Pada perhitungan NPV dengan Discount Factor (DF) 18 % diperoleh Rp 854.471.865,00 menunjukkan nilai yang positif (lebih besar dari nol), yang menandakan pengembangan tersebut layak untuk dilaksanakan.

Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan suatu nilai suku bunga yang membuat NPV proyek sama dengan nol atau tingkat suku bunga yang menunjukkan jumlah nilai sekarang netto (NPV) sama dengan jumlah ongkos investasi proyek. Nilai IRR-nya adalah 51,12 %. Nilai ini lebih tinggi dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 18 %, sehingga layak dilaksanakan.

Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan perbandingan antara keuntungan yang diperoleh terhadap biaya yang dikeluarkan. Nilai yang diperoleh yaitu 3,34 memiliki nilai lebih dari 1. Maka layak untuk dilaksanakan.

Break Event Point (BEP) Break Event Point (BEP) merupakan titik dimana total biaya produksi sama dengan pendapatan. BEP yang diperoleh yaitu Rp 158.721.400,00 atau 45.349 Kg/tahun. Titik impas tercapai pada saat produksi 45.349 Kg/tahun.

93

Pay Back Period (PBP) Pay Back Period (PBP) jangka waktu pengembalian investasi suatu proyek. Hasil perhitungan menunjukkan nilai PBP untuk penerapan alternatif pengembangan usaha gula merah tebu adalah 1,89 tahun. Hal ini berarti layak untuk dilaksanakan.

Eksistensi usaha di suatu daerah tertentu dapat mempengaruhi sisi sosial masyarakat di sekitarnya, pada akhirnya akan berpengaruh terhadap pola kehidupan masyarakat. Salah satunya yaitu terciptanya lapangan pekerjaan, sehingga dapat mengangkat perekonomian masyarakat (terutama masyarakat kecil) di sekitar perusahaan. Hal itu merupakan Intangible benefit bagi perusahaan, termasuk usaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang ini. Intangible benefit adalah keuntungan yang tidak dapat dinilai dengan uang atau suatu nilai. Selain itu, terdapat pula Intangible cost merupakan suatu biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan diluar biaya produksi sebagai suatu perwujudan tanggung jawab perusahaan kepada lingkungan sekitarnya, untuk memperkuat keberadaan suatu usaha. Salah satu contoh intangible cost dalam usaha gula merah tebu ini yaitu pemberian santunan kepada masyarakat kurang mampu yang berada di sekitar perusahaan dan kepada keluarga pekerja di usaha gula merah tebu. Aspek usaha yang dikaji yaitu aspek pemasaran, aspek teknis dan teknologis serta aspek finansial. Tabel 27 menunjukkan ringkasan perbedaan kondisi saat ini dan kondisi pengembangan usaha gula merah.

94

Tabel 27. Ringkasan Kondisi Saat ini dan Pengembangan Usaha Gula Merah No. Aspek Kondisi saat ini (Skenario 1) 1. Pemasaran
- Produk - Harga - Distribusi - Mutu gula yang diproduksi bervariasi (baik, sedang, dan jelek) - Harga produk lebih rendah (Rp 3.300,00) - Distribusi ke daerah Rembang, Pati, Kudus, Semarang, Pasuruan, dan Yogyakarta - Penjualan produk melalui pengumpul menengah dan besar - Konsumen industri - Promosi - Tidak dilakukan promosi - Mutu gula yang diproduksi menjadi lebih baik dan seragam (baik dan sedang) - Harga produk lebih tinggi (Rp 3.500,00) - Distribusi ke daerah di Pulau Jawa -Penjualan produk langsung ke industri - Konsumen industri dan rumah tangga - Promosi Below the line (pemberian atribut pada produk, pemajangan produk dan kemasan menarik)

Pengembangan (Skenario 2)

2.

Teknis dan teknologis


- Bahan baku - Proses pengolahan - Tidak ada pengawasan mutu bahan baku (tebu tidak bersih) - Kebersihan nira masih rendah -Proses pengolahan dilakukan secara tradisional (wajan - Dilakukan pemilihan dan pembersihan bahan baku - Dilakukan penyaringan nira secara bertahap - Proses pengolahan menggunakan wajan uap dan boiler - Bahan bakar bagas

berundak), pemasakan gula tidak konsisten - Bahan bakar bagas - Penyimpanan produk - Sanitasi pabrik - Penyimpanan produk di tempat terbuka - Sanitasi pabrik dan produk masih rendah NPV : Rp 257.968.831,00; IRR : 40,60 %; Net B/C : 1,97; BEP : Rp 195.968.791,00 (59.384 Kg/tahun); PBP : 2,96 tahun Modal : Rp 264.925.497,00; Produksi : 2.100 kg/hari

- Penyimpanan produk di gudang (tempat tertutup) - Sanitasi pabrik dan produk diperhatikan NPV : Rp 854.471.865,00; IRR : 51,12 %; Net B/C : 3,34; BEP : Rp 158.721.400,00 (45.349 Kg/tahun); PBP : 1,89 tahun Modal : Rp 364,761,801,00; Produksi : 2.800 kg/hari

3.

Finansial (Kriteria kelayakan investasi)

95

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Berdasarkan analisa kondisi karakterisik wilayah, Kecamatan Pamotan merupakan salah satu daerah sentra produksi tebu yang memiliki luas areal perkebunan tebu terbesar di Kabupaten Rembang yaitu 3.015 Ha. Volume produksi tebu pada tahun 2006 di Kecamatan Pamotan mencapai 12.050,955 ton. Kecamatan Pamotan memiliki tingkat produktifitas, potensi pengembangan dan kontribusi sebagai penghasil tebu yang paling besar di Kabupaten Rembang. Industri gula merah tebu di daerah tersebut tidak mengalami kendala ketersediaan bahan baku. Selain itu, industri gula merah tebu di Kecamatan Pamotan didukung pula dengan ketersediaan tenaga kerja (penduduk lokal), serta sarana dan prasarana lainnya. Mutu produk yang dihasilkan tidak seragam. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya variasi bahan baku, rendahnya teknologi pengolahan, pengawasan bahan baku dan produk, serta sanitasi dalam proses pengolahan. Penentuan tingkatan mutu produk gula merah tebu dengan klasifikasi baik, sedang dan jelek, dilakukan berdasarkan penilaian subjektif para pengusaha, yang meliputi warna, rasa dan kekerasan. Pengembangan usaha gula merah tebu dimulai dengan menentukan matriks internal eksternal. Berdasarkan hasil yang diperoleh, strategi yang dapat digunakan untuk usaha gula merah tebu ini adalah stability strategy atau integrasi horizontal. Strategi tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, pengembangan teknologi dan fasilitas produksi, melalui kerjasama dengan pihak lain. Pada analisis SWOT melalui analisis faktor internal dan eksternal, dihasilkan 4 alternatif strategi usaha yang dapat dilakukan, yaitu SO strategi, ST strategi, WO strategi dan WT strategi. Beberapa alternatif strategi yang dihasilkan antara lain meningkatkan kapasitas produksi dengan mutu yang baik, melakukan pengawasan bahan baku dan produk, meningkatkan pangsa

96

pasar, dan menerapkan teknologi tepat guna. Keempat strategi tersebut dilakukan dengan saling mendukung. Kapasitas produksi dalam pengolahan nira tebu menjadi gula merah tebu ditentukan oleh waktu produksi yang tersedia dan kemampuan mesin serta peralatan yang digunakan. Teknologi yang diterapkan pada

pengembangan usaha gula merah disesuaikan dengan kebutuhan usaha, kondisi finansial dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikannya. Kondisi kegiatan produksi perusahaan yang biasanya dilakukan selama ini dianalisis dan dibandingkan sedangkan penerapan teknologi yang baru dalam kegiatan produksi gula merah tebu. Penerapan teknologi dalam upaya pengembangan usaha gula merah adalah penggunaan wajan uap dalam proses pemasakan nira tebu, perlakuan terhadap bahan baku (tebu) dan nira hasil penggilingan tebu. Dalam basis waktu operasi satu hari, kapasitas produksi saat ini adalah 21 kwintal, sedangkan kapasitas produksi pada penerapan pengembangan usaha gula merah tebu adalah 28 kwintal. Kondisi saat ini membutuhkan total biaya investasi sebesar Rp 264,925,497,00 yang terdiri atas modal tetap Rp 218.025.000,00 dan modal kerja Rp 46,900,497,00. Sedangkan untuk penerapan pengembangan usaha Rp 364,761,801,00 yang terdiri atas modal tetap Rp 308.285.000,00 dan modal kerja Rp 56,476,801,00. Kriteria kelayakan investasi untuk masing-masing kondisi secara berurutan yaitu, NPV sebesar Rp 257.968.831,00 dan Rp 854.471.865,00; IRR sebesar 40,60 %. dan 51,12 %; Net B/C sebesar 1,97 dan 3,34; BEP sebesar Rp 195.968.791,00 atau 59.384 Kg/tahun dan Rp 158.721.400,00 atau 45.349 Kg/tahun; PBP sebesar 2,96 dan 1,89 tahun. Berdasarkan hasil tersebut, usaha gula merah tebu layak untuk dikembangkan dengan kedua kondisi, yaitu kondisi yang dilakukan saat ini dan kondisi penerapan pengembangan. Namun jika ditinjau dari indikator NPV, kondisi pengembangan usaha dengan menerapkan alternatif yang ada memiliki nilai NPV jauh lebih besar dibandingkan nilai NPV kondisi usaha saat ini. Sehingga pilihan terbaik untuk mengembangkan usaha gula merah tebu adalah penerapan alternatif pengembangan yang ada, yang didukung pula oleh kriteria investasi lainnya.

97

B. SARAN
1. Melakukan kerjasama terutama dalam hal investasi antara pengusaha dengan pemilik modal/ perbankan. 2. Melakukan investasi untuk penggunaan teknologi, seperti mesin dan alat penunjang produksi (skenario 2). 3. Perlu dilakukan kajian secara khusus mengenai penanganan dan pemanfaatan limbah yang dihasilkan oleh industri gula merah tebu.

98

DAFTAR PUSTAKA

Adiningsih, S. 2004. Regulasi Dalam Revitalisasi Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia. Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Jakarta. Ashari. 2005. Industri Gula Merah, Aternatif Usaha Petani Tebu di Kediri. Artikel. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi. Badan Standarisasi Nasional. 2000. SNI 01-6237-2000. Gula Merah Tebu. Badan Standarisasi Nasional, Jakarta. Bellante, D dan M. Jackson. 1990. Ekonomi Ketenagakerjaan. LPFE UI, Jakarta. Dachlan, M. A. 1984. Proses Pembuatan Gula Merah. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri, BBHIP, Bogor. David, F. 2006. Manajemen Strategis, edisi 10. Salemba Empat. Jakarta. Dyanti. 2002. Studi Komparatif Gula Merah Kelapa dan Gula merah Aren. Skripsi. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor. Goutara dan S. Wijandi. 1985. Dasar Pengolahan Gula 1. Agro Industri Press. Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. FATEMETA. IPB. Bogor. Gray, C., P. Simanjuntak. 1992. Pengantar Evaluasi Proyek. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Husnan, S., dan Muhammad. 2000. Studi Kelayakan Proyek. Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN, Yogyakarta. Indeswari, S. N. 1987. Penentuan Dosis Kapur dan Belerang pada Proses Pemurnian Nira Tebu di Pabrik Gula Mini Lawang. Laporan Penelitian. Universitas Andalas. Padang. Kotler, P. 2005. Manajemen Pemasaran Jilid 1. PT. Indeks Kelompok Gramedia. Jakarta. Kotler, P. 2005. Manajemen Pemasaran Jilid 1. PT. Indeks Kelompok Gramedia. Jakarta. Kotler, P. 1997. Manajemen Pemasaran Jilid 1. PT. Indeks Kelompok Gramedia. Jakarta. Maarif , S dan Hendri. 2003. Manajemen Operasi. Grasindo. Jakarta.

99

Muchtadi, T. R., dan Sugiyono. 1992. Ilmu Pengetahiuan Bahan Pangan. PAU Pangan dan Gizi IPB, Bogor. Nengah, I. K. P. 1990. Kajian Reaksi Pencoklatan Termal pada Proses Pembuatan Gula Merah dari Aren. Tesis. Program Studi Ilmu Pangan. Fakultas Pasca Sarjana. IPB. Bogor. Nurlela, E. 2002. Kajian Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Warna Gula Merah. Skripsi. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Ozdemir, M. 1997. Foods Browning and Its Control. Okyanus Danismanlik. http:/www.okyanusbigiambari.com/Bilim/Okyanus-BrowningInFoods. Pdf. Palungkun, R. 1993. Aneka Produk Olahan Kelapa. Swadaya. Jakarta. Puri, B. A. 2005. Kajian Pemurnian Nira Tebu dengan Membran Filtrasi dengan Sistem Aliran Silang (Crossflow). Skripsi. Departemen Teknologi Industri Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Rachmat, M. 1992. Pengusahaan Gula Kelapa Sebagai Suatu Alternatif Pendayagunaan Kelapa. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Pusat Penelitikan Sosial Ekonomi Pertanian. IPB. Bogor. Reece, N. N. 2003 Optimizing Aconitate Removal During Clarification. Thesis. Lousiana State University. USA. http:/etd.lsu.sde/docs/available Rangkuti, F. 2000. Analisis SWOT, Teknik Membedah Kasus Bisnis. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 1998. Analisis SWOT, Teknik Membedah Kasus Bisnis. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Santoso, H. B. 1993. Pembuatan Gula Kelapa. Kanisius, Jakarta. Sardjono. 1986. Pengembangan Peralatan untuk Pengembangan Serbuk Gula Merah. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri Hasil Pertanian, Bogor. Soejardi. 1979. Peranan Komponen Batang Tebu dalam Pabrikasi Gula. Lembaga Pendidikan Perkebunan Yogyakarta. Yogyakarta.

100

Sudarmadji, S., Bambang H., Suhardi. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Penerbit Liberty. Yogyakarta. Syukur. 1999. Industri Gula merah dan Pemanis Lainnya. Di dalam Ekonomi Gula Indonesia. Bibliografi. IPB. Bogor. Umar, H. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Utami, S dan Sumarno. 1996. Peranan Bahan Baku untuk Menghasilkan Gula Mutu Tinggi. Gula Indonesia Vol. XXI/2:22-25. Wirioadmodjo, B. 1984. Pergulaan di Indonesia dan Prospeknya di Masa Mendatang. Balai Penelitian Perusahaan Perkebunan Gula, Pasuruan.

101

Lampiran 1. Komposisi Modal Tetap Kondisi Saat Ini Harga/unit (Rp) 100,000 50,000,000 500,000 2,000,000 500,000 200,000 100,000 500,000 5,000,000 1,000,000 100,000 25,000 250,000 30,000 50,000 35,000 100,000 10,000,000 20,000 Sub Total (Rp) 110,000,000 2,000,000 50,000,000 500,000 2,000,000 1,000,000 600,000 600,000 1,500,000 15,000,000 1,000,000 600,000 675,000 1,500,000 180,000 300,000 210,000 300,000 30,000,000 60,000 218,025,000

No. Komponen Jumlah 1 Lahan (m2) 1,100 Perizinan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 1 Listrik 1 Instalasi Air/Pompa 2 Perlengkapan Kantor Meja 3 Kursi 6 Lemari 3 4 Mesin dan Peralatan Mesin Giling 3 Timbangan 250 Kg 1 Drum 6 Bumbung ( Penahan ) Bambu 27 Meja Penirisan 6 Serok 6 Ember 6 Sodet 6 Selang 3 Tungku 3 Alat Penyaring 3 Total Modal Tetap

102

Lampiran 2. Komposisi Modal Tetap Kondisi Pengembangan Harga/unit (Rp) 100,000 70,000,000 500,000 2,000,000 500,000 Sub Total (Rp) 110,000,000 2,000,000 70,000,000 500,000 2,000,000 1,000,000

No. Komponen Jumlah 1 Lahan (m2) 1100 Perizinan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 1 Listrik 1 Instalasi Air/Pompa 2 Perlengkapan Kantor Meja 3 Kursi 6 Lemari 3 4 Mesin dan Peralatan Mesin Giling 2 Timbangan 250 Kg 1 Drum 7 Bumbung Penahan 4 Meja Penirisan 4 Boiler 1 Wajan Uap 4 Alat Penyaring 4 Ember 4 Pipanisasi 7 Total Modal Tetap

200,000 100,000 500,000 5,000,000 1,000,000 100,000 45,000 250,000 25,000,000 20,000,000 20,000 50,000 275,000

600,000 600,000 1,500,000 10,000,000 1,000,000 700,000 180,000 1,000,000 25,000,000 80,000,000 80,000 200,000 1,925,000 308,285,000

103

Lampiran 3. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Kondisi Saat Ini No Komponen Nilai (Rp) 110,000,000 50,000,000 Umur Ekonomi (Tahun) Nilai Sisa Penyusutan / Tahun Pemeliharaan (Rp) 10,000,000 10,000 20,000 140,000 2,500,000 75,000 83,333 150,000 Biaya

1 Lahan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 500,000 Listrik 2,000,000 Instalasi Air/Pompa 1,000,000 Perlengkapan Kantor Meja 600,000 Kursi 600,000 Lemari 1,500,000 Sub Total 6,200,000 Mesin dan 4 Peralatan Mesin Giling 15,000,000 Drum 600,000 Bumbung Penahan 675,000 Meja Penirisan 1,500,000 Serok 180,000 Ember Stainless 300,000 Sodet 210,000 Selang 300,000 Tungku 30,000,000 Alat Penyaring 60,000 Timbangan 1,000,000 Sub Total 49,825,000 Total 216,025,000

(Rp) 110,000,000 10 25,000,000 6 6 6 50,000 1,500,000 100,000

10 6 10

60,000 60,000 150,000 1,920,000

2,400 2,400 8,000 182,800

54,000 90,000 135,000 587,333

10 6 3 10 3 10 10 6 7 3 10

1,500,000 60,000 67,500 150,000 18,000 30,000 21,000 30,000 3,000,000 6,000 100,000 4,982,500 141,902,500

204,000 8,400 5,400 18,000 1,800 3,000 1,800 2,700 360,000 600 20,000 625,700 10,808,500

1,350,000 90,000 202,500 135,000 54,000 27,000 18,900 45,000 3,857,143 18,000 90,000 5,887,543 8,974,876

104

Lampiran 4. Perhitungan Biaya Penyusutan dan Biaya Pemeliharaan Kondisi Pengembangan No. Komponen Nilai ( Rp ) 110,000,000 70,000,000 Umur Ekonomi (Tahun) Nilai Biaya Penyusutan

1 Lahan 2 Bangunan 3 Fasilitas Penunjang Telepon 500,000 Listrik 2,000,000 Instalasi Air/Pompa 1,000,000 Perlengkapan Kantor Meja 600,000 Kursi 600,000 Lemari 1,500,000 Sub Total 6,200,000 Mesin dan 4 Peralatan Mesin Giling 10,000,000 Drum 700,000 Bumbung Penahan 180,000 Meja Penirisan 1,000,000 Boiler 25,000,000 Wajan Uap 80,000,000 Alat Penyaring 80,000 Ember Stainless 200,000 Pipanisasi 1,925,000 Timbangan 250 Kg 1,000,000 Sub Total 120,085,000 Total

Sisa ( Rp ) Pemeliharaan /Thn ( Rp ) 110,000,000 10 35,000,000 14,000,000 3,500,000 6 6 6 50,000 2,000,000 100,000 10,000 20,000 140,000 75,000 0 150,000

10 6 10

60,000 60,000 150,000 2,420,000

2,400 2,400 8,000

54,000 90,000 135,000 504,000

10 6 7 10 10 10 3 10 10 10

1,000,000 70,000 18,000 100,000 2,500,000 8,000,000 8,000 20,000 192,500 100,000 12,008,500 159,428,500

136,000 9,800 800 12,000 400,000 300,000 800 2,000 38,500 20,000

15,102,700

900,000 105,000 23,143 90,000 2,250,000 7,200,000 24,000 18,000 173,250 90,000 10,873,393 14,877,393

105

Lampiran 5. Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan

Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Saat Ini Gaji 6 Bulan Operasi

Jabatan Tenaga Kerja Langsung Pekerja Produksi Borongan Harian Supir Penebang Tenaga Kerja Tdk Langsung Pimpinan Perusahaan

Jumlah Gaji/Orang/Hari Gaji/Bulan ( Rp ) ( Rp )

12 3 2 15

26,000 20,000 25,000 20,000

9,360,000 1,800,000 1,500,000 9,000,000

56,160,000 10,800,000 9,000,000 54,000,000 129,960,000

1 Total

70,000

2,100,000

12,600,000 142,560,000

Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Tidak Langsung Kondisi Pengembangan Gaji 6 Bulan Operasi

Jabatan Tenaga Kerja Langsung Pekerja Produksi Supir Penebang Tenaga Kerja Tidak Langsung Pimpinan Perusahaan

Jumlah

Gaji/Orang/Hari Gaji/Bulan ( Rp ) ( Rp ) 26,000 25,000 20,000 5,460,000 1,500,000 6,000,000

7 2 10

32,760,000 9,000,000 36,000,000 77,760,000

1 Total

70,000

2,100,000

12,600,000 90,360,000

106

Lampiran 6. Perhitungan Biaya Bahan Baku pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pegembangan No Komponen A. Bahan Baku 1 Tebu ( Kg ) 2 Bahan Penunjang Kapur ( Kg ) Minyak Kelapa (L) Na Benzoat Metabisulfit 3 Transportasi Bahan Baku Sub Total B. Bahan Kemasan 1 Kemasan Plastik 2 Kemasan Karung Sub Total C. Lain - Lain Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Total Kbthn/Bln Kbthn/Bln Biaya Biaya/Bln Kondisi 1 Kondisi 2 /Unit(Rp) Kondisi 1 630,000 90 29 72 840,000 120 38 96 Biaya/Bln Kondisi 2 Biaya/6 Bln Kondisi 1 Biaya/6 Bln Kondisi 2

230 144,900,000 193,200,000 869,400,000 1,159,200,000 2,500 7,000 8,000 225,000 202,020 576,000 1,032,000 300,000 268,800 768,000 1,290,000 1,350,000 1,800,000 1,212,120 1,612,800 3,456,000 4,608,000 6,192,000 7,740,000 881,610,120 1,174,960,800 5,292,000 15,120,000 20,412,000 7,056,000 20,160,000 27,216,000

1,260 1,260

1,680 1,680

700 2,000

882,000 2,520,000

1,176,000 3,360,000

1,548,000

1,806,000

9,288,000 10,836,000 9,288,000 10,836,000 911,310,120 1,213,012,800

Keterangan : Kondisi 1 adalah kondisi usaha saat ini Kondisi 2 adalah kondisi penerapan pengembangan usaha

107

Lampiran 7. Biaya Operasional pada Kondisi Usaha Saat Ini No Komponen 1 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12,600,000 8,974,876 10,808,500 32,383,376 573,046,578 13,267,800 84,474,000 6,037,200 676,825,578 2,500,000 2,500,000 711,708,954 2 12,600,000 8,974,876 10,808,500 32,383,376 Tahun Ke- (Rp) 3 12,600,000 8,974,876 10,808,500 32,383,376

4 12,600,000 8,974,876 10,808,500 32,383,376

5 12,600,000 8,974,876 10,808,500 32,383,376

749,368,602 881,610,120 881,610,120 881,610,120 17,350,200 20,412,000 20,412,000 20,412,000 110,466,000 129,960,000 129,960,000 129,960,000 7,894,800 9,288,000 9,288,000 9,288,000 885,079,602 1,041,270,120 1,041,270,120 1,041,270,120 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 919,962,978 1,076,153,496 1,076,153,496 1,076,153,496

108

Lanjutan Lampiran 7. No Komponen 6 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12,600,000 8,974,876 10,808,500 32,383,376 881,610,120 20,412,000 129,960,000 7 12,600,000 8,974,876 10,808,500 32,383,376 881,610,120 20,412,000 129,960,000 Tahun Ke- (Rp) 8 12,600,000 8,974,876 10,808,500 32,383,376 881,610,120 20,412,000 129,960,000

9 12,600,000 8,974,876 10,808,500 32,383,376 881,610,120 20,412,000 129,960,000

10 12,600,000 8,974,876 10,808,500 32,383,376 881,610,120 20,412,000 129,960,000

9,288,000 9,288,000 9,288,000 9,288,000 9,288,000 1,041,270,120 1,041,270,120 1,041,270,120 1,041,270,120 1,041,270,120 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 1,076,153,496 1,076,153,496 1,076,153,496 1,076,153,496 1,076,153,496

109

Lampiran 8. Biaya Operasional pada Kondisi Pengembangan No. Komponen 1 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12,600,000 14,877,393 15,102,700 42,580,093 2 12,600,000 14,877,393 15,102,700 42,580,093 Tahun Ke- (Rp) 3 12,600,000 14,877,393 15,102,700 42,580,093

4 12,600,000 14,877,393 15,102,700 42,580,093

5 12,600,000 14,877,393 15,102,700 42,580,093

763,724,520 998,716,680 1,174,960,800 1,174,960,800 1,174,960,800 17,690,400 23,133,600 27,216,000 27,216,000 27,216,000 50,544,000 66,096,000 77,760,000 77,760,000 77,760,000 7,043,400 9,210,600 10,836,000 10,836,000 10,836,000 839,002,320 1,097,156,880 1,290,772,800 1,290,772,800 1,290,772,800 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 884,082,413 1,142,236,973 1,335,852,893 1,335,852,893 1,335,852,893

110

Lanjutan Lampiran 8 No. Komponen 6 A Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Sub Total Variabel Bahan Baku Kemasan TK Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Over Head Sub Total Total 12,600,000 14,877,393 15,102,700 42,580,093 7 12,600,000 14,877,393 15,102,700 42,580,093 Tahun Ke- (Rp) 8 12,600,000 14,877,393 15,102,700 42,580,093

9 12,600,000 14,877,393 15,102,700 42,580,093

10 12,600,000 14,877,393 15,102,700 42,580,093

1,174,960,800 1,174,960,800 1,174,960,800 1,174,960,800 1,174,960,800 27,216,000 27,216,000 27,216,000 27,216,000 27,216,000 77,760,000 77,760,000 77,760,000 77,760,000 77,760,000 10,836,000 10,836,000 10,836,000 10,836,000 10,836,000 1,290,772,800 1,290,772,800 1,290,772,800 1,290,772,800 1,290,772,800 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 2,500,000 1,335,852,893 1,335,852,893 1,335,852,893 1,335,852,893 1,335,852,893

111

Lampiran 9. Komposisi Modal Kerja dan Total Biaya Investasi pada Kondisi Saat Ini dan Kondisi Pengembangan

Komposisi Modal Kerja Untuk 10 Hari ( 1X Operasi ) No Komponen A. Biaya Tetap TK Tidak Langsung Depresiasi Pemeliharaan Administrasi dan Telepon Sub Total Biaya Variabel Bahan Baku Kemasan Tenaga Kerja Langsung Bahan Bakar dan Listrik Sub Total Persediaan Kas Total Nilai (Rp) Saat Ini 700,000 498,604 600,472 2,500,000 4,299,076 31,835,921 737,100 4,693,000 335,400 37,601,421 5,000,000 46,900,497 Nilai (Rp) Penegembangan 700,000 826,522 839,039 2,500,000 4,865,561 42,429,140 982,800 2,808,000 391,300 46,611,240 5,000,000 56,476,801

B.

C.

Total Biaya Investasi Pada Skenario 1 dan 2 Harga/Unit Komponen Jumlah (Rp) Lahan (m2) Bangunan (m2) Perijinan Fasilitas Penunjang Mesin dan Peralatan Modal Kerja Total Investasi 1,100 100,000

Sub Total (Rp) Saat Ini 110,000,000 50,000,000 2,000,000 6,200,000 49,825,000 46,900,497 264,925,497

Sub Total (Rp) Pengembangan 110,000,000 70,000,000 2,000,000 6,200,000 120,085,000 56,476,801 364,761,801

112

Lampiran 10. Struktur Pembiayaan Neraca Pembayaran Kredit Struktur Pembiayaan Jenis Kredit Pinjaman (Rp) Modal Sendiri (Rp) Saat Ini Pengembangan Saat Ini Pengembangan Modal Tetap 109,012,500 154,142,500 109,012,500 154,142,500 Modal Kerja 23,450,249 28,238,400 23,450,249 28,238,400 Jumlah 132,462,749 182,380,900 132,462,749 182,380,900 Angsuran Untuk Modal Tetap (Rp) Kondisi Usaha Saat Ini Jumlah Angsuran Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 109,012,500 109,012,500 109,012,500 10,901,250 19,622,250 30,523,500 98,111,250 98,111,250 10,901,250 17,660,025 28,561,275 87,210,000 87,210,000 10,901,250 15,697,800 26,599,050 76,308,750 76,308,750 10,901,250 13,735,575 24,636,825 65,407,500 65,407,500 10,901,250 11,773,350 22,674,600 54,506,250 54,506,250 10,901,250 9,811,125 20,712,375 43,605,000 43,605,000 10,901,250 7,848,900 18,750,150 32,703,750 32,703,750 10,901,250 5,886,675 16,787,925 21,802,500 21,802,500 10,901,250 3,924,450 14,825,700 10,901,250 10,901,250 10,901,250 1,962,225 12,863,475 0

Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Angsuran Untuk Modal Kerja (Rp) Kondisi Usaha Saat Ini Jumlah Angsuran Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 23,450,249 23,450,249 23,450,249 7,816,750 4,221,045 12,037,794 15,633,499 15,633,499 7,816,750 2,814,030 10,630,779 7,816,750 7,816,750 7,816,750 1,407,015 9,223,764 0

Tahun 0 1 2 3

113

Lanjutan Lampiran 10 Angsuran Untuk Modal Tetap (Rp) pada Kondisi Pengembangan Angsuran Tahun Jumlah Kredit Pokok 0 154,142,500 1 154,142,500 15,414,250 2 138,728,250 15,414,250 3 123,314,000 15,414,250 4 107,899,750 15,414,250 5 92,485,500 15,414,250 6 77,071,250 15,414,250 7 61,657,000 15,414,250 8 46,242,750 15,414,250 9 30,828,500 15,414,250 10 15,414,250 15,414,250

Bunga 27,745,650 24,971,085 22,196,520 19,421,955 16,647,390 13,872,825 11,098,260 8,323,695 5,549,130 2,774,565

Pembayaran Sisa Kredit 154,142,500 43,159,900 138,728,250 40,385,335 123,314,000 37,610,770 107,899,750 34,836,205 92,485,500 32,061,640 77,071,250 29,287,075 61,657,000 26,512,510 46,242,750 23,737,945 30,828,500 20,963,380 15,414,250 18,188,815 0

Angsuran Untuk Modal Kerja (Rp) pada Kondisi Pengembangan Angsuran Tahun Jumlah Kredit Pokok Bunga Pembayaran Sisa Kredit 0 28,238,400 28,238,400 1 28,238,400 9,412,800 5,082,912 14,495,712 18,825,600 2 18,825,600 9,412,800 3,388,608 12,801,408 9,412,800 3 9,412,800 9,412,800 1,694,304 11,107,104 0

114

Lampiran 11. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual Kondisi Usaha Saat Ini Tahun Ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Biaya Tetap (Rp) 34,883,376 34,883,376 34,883,376 34,883,376 34,883,376 34,883,376 34,883,376 34,883,376 34,883,376 34,883,376 Biaya Variabel (Rp) 676,825,578 885,079,602 1,041,270,120 1,041,270,120 1,041,270,120 1,041,270,120 1,041,270,120 1,041,270,120 1,041,270,120 1,041,270,120 % Kapasitas Prod 65% 85% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Kapasitas Prod 245,700 321,300 378,000 378,000 378,000 378,000 378,000 378,000 378,000 378,000 Harga Pokok/Kg 2,897 2,863 2,847 2,847 2,847 2,847 2,847 2,847 2,847 2,847 Harga Jual/Kg (Rp) 3,300 3,300 3,300 3,300 3,300 3,300 3,300 3,300 3,300 3,300

Keuntungan 14% 15% 16% 16% 16% 16% 16% 16% 16% 16%

Penentuan Harga Pokok dengan Metode Full Costing Harga Pokok = Biaya Tetap + Biaya Variabel Kapasitas Produksi

115

Lampiran 12. Penentuan Harga Pokok dan Harga Jual Pada Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Tahun Ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Biaya Tetap (Rp) 45,080,093 45,080,093 45,080,093 45,080,093 45,080,093 45,080,093 45,080,093 45,080,093 45,080,093 45,080,093 Biaya Variabel (Rp) 839,002,320 1,097,156,880 1,290,772,800 1,290,772,800 1,290,772,800 1,290,772,800 1,290,772,800 1,290,772,800 1,290,772,800 1,290,772,800 % Kapasitas Prod 65% 85% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Kapasitas Prod 327,600 428,400 504,000 504,000 504,000 504,000 504,000 504,000 504,000 504,000 Harga Pokok/Kg 2,699 2,666 2,651 2,651 2,651 2,651 2,651 2,651 2,651 2,651 Harga Jual/Kg (Rp) 3,500 3,500 3,500 3,500 3,500 3,500 3,500 3,500 3,500 3,500

Keuntungan 30% 31% 32% 32% 32% 32% 32% 32% 32% 32%

Penentuan Harga Pokok dengan Metode Full Costing Harga Pokok = Biaya Tetap + Biaya Variabel Kapasitas Produksi

116

Lampiran 13. Proyeksi Laporan Laba Rugi Kondisi Usaha Saat Ini Uraian 1 A. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E. Laba Setelah Pajak 65% 245,700 810,810,000 810,810,000 32,383,376 676,825,578 709,208,954 19,622,250 4,221,045 23,843,295 77,757,751 8,974,876 86,732,627 8,519,788 78,212,839 2 85% 321,300 1,060,290,000 1,060,290,000 32,383,376 885,079,602 917,462,978 17,660,025 2,814,030 20,474,055 122,352,967 8,974,876 131,327,843 21,898,353 109,429,490 Tahun ke3 100% 378,000 1,247,400,000 1,247,400,000 32,383,376 1,041,270,120 1,073,653,496 15,697,800 1,407,015 17,104,815 156,641,689 8,974,876 165,616,565 32,184,970 133,431,596

4 100% 378,000 1,247,400,000 1,247,400,000 32,383,376 1,041,270,120 1,073,653,496 13,735,575 13,735,575 160,010,929 8,974,876 168,985,805 33,195,742 135,790,064

5 100% 378,000 1,247,400,000 1,247,400,000 32,383,376 1,041,270,120 1,073,653,496 11,773,350 11,773,350 161,973,154 8,974,876 170,948,030 33,784,409 137,163,621

117

Lanjutan Lampiran 13. Uraian 6 A. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E. Laba Setelah Pajak 7 Tahun ke8

10

100% 100% 100% 100% 100% 378,000 378,000 378,000 378,000 378,000 1,247,400,000 1,247,400,000 1,247,400,000 1,247,400,000 1,247,400,000 1,247,400,000 1,247,400,000 1,247,400,000 1,247,400,000 1,247,400,000 32,383,376 32,383,376 32,383,376 32,383,376 32,383,376 1,041,270,120 1,041,270,120 1,041,270,120 1,041,270,120 1,041,270,120 1,073,653,496 1,073,653,496 1,073,653,496 1,073,653,496 1,073,653,496 9,811,125 9,811,125 163,935,379 8,974,876 172,910,255 34,373,077 138,537,179 7,848,900 7,848,900 165,897,604 8,974,876 174,872,480 34,961,744 139,910,736 5,886,675 5,886,675 167,859,829 8,974,876 176,834,705 35,550,412 141,284,294 3,924,450 3,924,450 169,822,054 8,974,876 178,796,930 36,139,079 142,657,851 1,962,225 1,962,225 171,784,279 8,974,876 180,759,155 36,727,747 144,031,409

118

Lampiran 14. Proyeksi Laporan Laba Rugi Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha Uraian 1 A. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E. Laba Setelah Pajak 2 Tahun ke3

65% 85% 100% 100% 100% 327,600 428,400 504,000 504,000 504,000 1,146,600,000 1,499,400,000 1,764,000,000 1,764,000,000 1,764,000,000 1,146,600,000 1,499,400,000 1,764,000,000 1,764,000,000 1,764,000,000 42,580,093 42,580,093 42,580,093 42,580,093 42,580,093 839,002,320 1,097,156,880 1,290,772,800 1,290,772,800 1,290,772,800 881,582,413 1,139,736,973 1,333,352,893 1,333,352,893 1,333,352,893 27,745,650 5,082,912 32,828,562 232,189,025 14,877,393 247,066,418 56,619,925 190,446,493 24,971,085 3,388,608 28,359,693 331,303,334 14,877,393 346,180,727 86,354,218 259,826,509 22,196,520 1,694,304 23,890,824 406,756,283 14,877,393 421,633,676 108,990,103 312,643,573 19,421,955 19,421,955 411,225,152 14,877,393 426,102,545 110,330,764 315,771,782 16,647,390 16,647,390 413,999,717 14,877,393 428,877,110 111,163,133 317,713,977

119

Lanjutan Lampiran 14. Uraian 6 A. Penerimaan Tingkat Produksi Jumlah Produksi Penjualan Produk Total Penerimaan B. Pengeluaran Biaya Tetap Biaya Variabel Total Pengeluaran C. Pembayaran Bunga Bunga Modal Tetap Bunga Modal Kerja Total Pembayaran Bunga D. Laba Sebelum Pajak Penyusutan Laba Kena Pajak Pajak Penghasilan E. Laba Setelah Pajak 100% 504,000 1,764,000,000 1,764,000,000 42,580,093 1,290,772,800 1,333,352,893 13,872,825 7 100% 504,000 1,764,000,000 1,764,000,000 42,580,093 1,290,772,800 1,333,352,893 11,098,260 Tahun ke8 100% 504,000 1,764,000,000 1,764,000,000 42,580,093 1,290,772,800 1,333,352,893 8,323,695

9 100% 504,000 1,764,000,000 1,764,000,000 42,580,093 1,290,772,800 1,333,352,893 5,549,130

10 100% 504,000 1,764,000,000 1,764,000,000 42,580,093 1,290,772,800 1,333,352,893 2,774,565

13,872,825 416,774,282 14,877,393 431,651,675 111,995,503 319,656,173

11,098,260 419,548,847 14,877,393 434,426,240 112,827,872 321,598,368

8,323,695 422,323,412 14,877,393 437,200,805 113,660,242 323,540,564

5,549,130 425,097,977 14,877,393 439,975,370 114,492,611 325,482,759

2,774,565 427,872,542 14,877,393 442,749,935 115,324,981 327,424,955

120

Lampiran 15. Proyeksi Arus Kas pada Kondisi Usaha Saat ini Uraian A. Kas masuk 1. Laba bersih 3. Nilai sisa 4. Modal sendiri 5. Modal pinjaman Total kas masuk B. Kas keluar 1. Biaya modal tetap 2. Biaya modal kerja 3. Angsuran pinjaman Total kas keluar C. Arus kas bersih D. Arus kas awal tahun E. Arus kas akhir tahun 0 0 0 132,462,749 132,462,749 264,925,497 218,025,000 46,900,497 0 264,925,497 -264,925,497 0 -264,925,497 1 78,212,839 0 0 0 78,212,839 0 0 23,843,295 23,843,295 54,369,544 -264,925,497 -210,555,953 Tahun ke2 109,429,490 0 0 0 109,429,490 0 0 20,474,055 13,696,536 95,732,954 -210,555,953 -114,822,999 3 4 135,790,064 0 0 0 135,790,064 0 0 13,735,575 6,218,750 129,571,314 4,912,061 134,483,374 5 137,163,621 0 0 0 137,163,621 0 0 11,773,350 6,218,750 130,944,871 134,483,374 265,428,245

133,431,596 0 0 0 133,431,596 0 0 17,104,815 13,696,536 119,735,060 -114,822,999 4,912,061

121

Lanjutan Lampiran 15 Tahun ke8 141,284,294 0 0 0 141,284,294 0 0 5,886,675 6,218,750 135,065,544 531,438,660 666,504,203

Uraian A. Kas masuk 1. Laba bersih 3. Nilai sisa 4. Modal sendiri 5. Modal pinjaman Total kas masuk B. Kas keluar 1. Biaya modal tetap 2. Biaya modal kerja 3. Angsuran pinjaman Total kas keluar C. Arus kas bersih D. Arus kas awal tahun E. Arus kas akhir tahun

6 138,537,179 0 0 0 138,537,179 0 0 9,811,125 6,218,750 132,318,429 265,428,245 397,746,674

7 139,910,736 0 0 0 139,910,736 0 0 7,848,900 6,218,750 133,691,986 397,746,674 531,438,660

9 142,657,851 0 0 0 142,657,851 0 0 3,924,450 6,218,750 136,439,101 666,504,203 802,943,304

10 144,031,409 141,902,500 0 0 285,933,909 0 0 1,962,225 6,218,750 279,715,159 802,943,304 1,082,658,463

122

Lampiran 16 Proyeksi Arus Kas pada Penerapan Alternatif Pengembangan Usaha

Uraian A. Kas masuk 1. Laba bersih 3. Nilai sisa 4. Modal sendiri 5. Modal pinjaman Total kas masuk B. Kas keluar 1. Biaya modal tetap 2. Biaya modal kerja 3. Angsuran Pinjaman Total kas keluar C. Aliran kas bersih D. Aliran kas awal tahun E. Arus Kas Akhir Tahun

0 0 0 182,380,900 182,380,900 364,761,801 308,285,000 56,476,801 0 364,761,801 -364,761,801 0 -364,761,801

1 190,446,493 0 0 0 190,446,493 0 0 32,828,562 32,828,562 157,617,930 -364,761,801 -207,143,870

tahun ke2 259,826,509 0 0 0 259,826,509 0 0 28,359,693 28,359,693 231,466,816 -207,143,870 24,322,946

4 315,771,782 0 0 0 315,771,782 0 0 19,421,955 19,421,955 296,349,827 313,075,695 609,425,521

5 317,713,977 0 0 0 317,713,977 0 0 16,647,390 16,647,390 301,066,587 609,425,521 910,492,108

312,643,573 0 0 0 312,643,573 0 0 23,890,824 23,890,824 288,752,749 24,322,946 313,075,695

123

Lanjutan Lampiran 16
Tahun ke-

Uraian A. Kas masuk 1. Laba bersih 3. Nilai sisa 4. Modal sendiri 5. Modal pinjaman Total kas masuk B. Kas keluar 1. Biaya modal tetap 2. Biaya modal kerja 3. Angsuran Pinjaman Total kas keluar C. Aliran kas bersih D. Aliran kas awal tahun E. Arus Kas Akhir Tahun

6 319,656,173 0 0 0 319,656,173

7 321,598,368 0 0 0 321,598,368

8 323,540,564 0 0 0 323,540,564

9 325,482,759 0 0 0 325,482,759

10 327,424,955 159,428,500 0 0 486,853,455

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13,872,825 11,098,260 8,323,695 5,549,130 2,774,565 13,872,825 11,098,260 8,323,695 5,549,130 2,774,565 305,783,348 310,500,108 315,216,869 319,933,629 484,078,890 910,492,108 1,216,275,456 1,526,775,564 1,841,992,432 2,161,926,061 1,216,275,456 1,526,775,564 1,841,992,432 2,161,926,061 2,646,004,951

124

Lampiran 17 Kriteria Investasi Kondisi Usaha Saat Ini DF i = 18% 1.000 0.847 0.718 0.609 0.516 0.437 0.370 0.314 0.266 0.225 0.191 PV -264,925,497 46,075,885 68,753,917 72,874,454 66,831,442 57,237,210 49,014,919 41,969,261 35,932,589 30,761,024 53,443,628 257,968,831 DF PV i = 45 % 1.000 -264,925,497 0.690 37,496,237 0.476 45,532,915 0.328 39,275,103 0.226 29,311,420 0.156 20,429,065 0.108 14,236,798 0.074 9,920,404 0.051 6,911,949 0.035 4,815,339 0.024 6,808,258 -50,188,011

Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Bt-Ct -264,925,497 54,369,544 95,732,954 119,735,060 129,571,314 130,944,871 132,318,429 133,691,986 135,065,544 136,439,101 279,715,159 NPV Nilai 257,968,831 40.60 1.97 2.96

Akumulasi -264,925,497 -210,555,953 -114,822,999 4,912,061 134,483,374 265,428,245 397,746,674 531,438,660 666,504,203 802,943,304 1,082,658,463

Kriteria NPV IRR NET B/C PBP (Tahun)

BEP (Rp.) Atau

195,968,791 59,384 Kg/tahun

125

Lampiran 18 Kriteria Investasi untuk Alternatif Pengembangan Usaha DF i = 18% 1.000 0.847 0.718 0.609 0.516 0.437 0.370 0.314 0.266 0.225 0.191 PV -364,761,801 133,574,517 166,235,863 175,743,838 152,853,944 131,598,980 113,271,796 97,473,757 83,859,717 72,130,979 92,490,275 854,471,865 DF i = 45 % 1.000 0.690 0.476 0.328 0.226 0.156 0.108 0.074 0.051 0.035 0.024 PV -364,761,801 108,702,021 110,091,232 94,715,732 67,039,794 46,970,215 32,900,751 23,040,173 16,131,154 11,291,402 11,782,464 157,903,138

Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Bt-Ct -364,761,801 157,617,930 231,466,816 288,752,749 296,349,827 301,066,587 305,783,348 310,500,108 315,216,869 319,933,629 484,078,890 NPV

Akumulasi -364,761,801 -207,143,870 24,322,946 313,075,695 609,425,521 910,492,108 1,216,275,456 1,526,775,564 1,841,992,432 2,161,926,061 2,646,004,951

Kriteria NPV IRR NET B/C PBP (Tahun)

Nilai 854,471,865 51.12 3.34 1.89

BEP (Rp) atau

158,721,400 45,349 Kg/ tahun

126

Lampiran 19. Upaya yang Perlu Dilakukan Oleh Para Pengusaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang

Upaya yang perlu dilakukan oleh para pengusaha Gula Merah Tebu di Kabupaten Rembang, antara lain : 1. 2. 3. 4. Menetapkan tujuan perusahaan. Menyusun manajemen perusahaan dengan jelas dan sistematis. Mengurus perijinan usaha (legalitas). Memperkuat permodalan, dengan memanfaatkan KUK (Kredit Usaha Kecil) dan melakukan kerja sama dengan investor. 5. Melakukan perencanaan produksi (target produksi/ hari, waktu kerja, kapasitas produksi, jumlah tenaga kerja dan pembagian kerja, fasilitas produksi, pemasokan bahan baku dan jadwal tebang tanaman tebu) disesuaikan dengan modal yang dimiliki, perencanaan jadwal penyimpanan dan pemasaran produk. 6. Melakukan pelatihan bagi pekerja, tentang proses pengolahan nira tebu menjadi gula merah yang baik. 7. Menerapkan teknologi tepat guna dan aplikatif, misalnya menerapkan alternatif pengembangan yang telah dijelaskan di atas. 8. Pemilihan dan pengawasan tebu yang akan digunakan dalam kegiatan produksi (umur tebu, kandungan nira, dan kebersihan tebu). 9. Memperbaiki proses pengolahan, diantaranya melakukan pemisahan kotoran/ ampas dari nira dengan penyaringan nira secara bertahap, pembuangan kotoran dalam buih nira saat pemasakan nira dan mengatur suhu pemasakan agar konstan (suhu sekitar 110 0C). 10. Menjaga sanitasi dan kebersihan fasilitas dan peralatan produksi. 11. Melakukan pengawasan kegiatan produksi, terutama di bagian pemasakan. 12. Mengolah kembali gula dengan mutu rendah menjadi produk lain, misalnya digunakan sebagai bahan baku kecap. 13. Mengemas produk dengan plastik dan karung atau toples (untuk konsumsi rumah tangga) serta menyimpan produk di tempat tertutup (gudang).

127

14. Melakukan distribusi langsung ke industri pengguna gula merah dan memasarkan produk bagi konsumen rumah tangga. 15. Membentuk KUB (Kelompok Usaha Bersama) atau koperasi pengusaha gula merah tebu di Kabupaten Rembang.

128

Anda mungkin juga menyukai