Anda di halaman 1dari 15

STATUS PSIKIATRI

IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Usia Agama Suku Pendidikan Pekerjaan Status Pernikahan Alamat : Tn. EES : Laki-laki : 33 tahun : Katolik : Riau : SMK : Tidak bekerja : Menikah, memiliki 2 orang anak. : Jakarta Utara

Pasien mulai dirawat di RSCM tanggal 25 Januari 2011 I. RIWAYAT PSIKIATRI Data diperoleh dari :

Autoanamnesis pada tanggal 25 Januari 2011 4 Februari 2011 Alloanamnesis dengan Tn R, kakak pasien, 36 tahun, SMA, Riau, Wiraswasta, pada tanggal 27 Januari 2011 dan 1 Februari 2011 Catatan Rekam Medis pasien

A. Keluhan Utama Pasien marah-marah tanpa sebab dan memukul tetangga sejak 1 minggu sebelum dirawat di RSCM. B. Riwayat Penyakit Sekarang Sejak tahun 2009 pasien berhenti bekerja dari perusahaan pembuatan kardus di Batam. Pasien sudah 2 bulan bekerja di perusahaan tersebut (sebelumnya pasien bekerja sebagai satpam di perumahan selama 3 tahun dan berhenti karena mendapat pekerjaan yang baru). Menurut pasien, ia berhenti bekerja karena ia merasa tidak nyaman lagi bekerja di sana. Pasien yakin teman-teman kerjanya sering membicarakan sesuatu yang buruk tentang dirinya dibelakang pasien dan tidak menyukai pasien. Pasien yakin beberapa temannya berusaha melakukan kejahatan terhadap pasien dengan melakukan ilmu hitam yang pasien katakan seperti voodoo.
1

Sehingga hal ini membuat pasien tidak kerasan bekerja dan akhirnya memutuskan berhenti bekerja. Setelah tidak bekerja, hidup pasien tergantung pada istrinya yang bekerja di perusahaan elektronik di Batam. Selain dengan istri, pasien juga tinggal dengan mertua. Pasien sering bertengkar dengan istrinya, yang menurut pasien disebabkan oleh sifat istri yang keras dan cara berbicara istri yang kasar, walaupun demikian pasien tetap beranggapan bahwa istrinya sebenarnya baik. Selain itu pasien sering bertengkar dengan mertuanya terutama mertua laki-laki. Menurut pasien mertua lakilakinya tidak menyukai pasien, apalagi saat itu pasien tidak memiliki pekerjaan dan waktunya banyak dihabiskan di rumah saja. Pasien merasa dirinya dimusuhi istri dan mertuanya sehingga pasien lebih senang menyendiri dan mengurung diri. Pasien juga yakin penyebab pertengkaran mereka karena hawa rumah yang panas sehingga mempengaruhi jiwa penghuni rumahnya. Akhir tahun 2009, pasien diminta mertuanya membereskan barang-barangnya dan pergi dari rumah. Menurut pasien hal ini dilakukan karena mertua kesal pasien belum juga mendapat pekerjaan dan sering bertengkar dengan istrinya. Adik pasien mengatakan seperginya pasien dari rumahnya, pasien pergi ke rumah pamannya di Pekanbaru. Ketika pasien datang, paman sangat terkejut karena pasien dalam keadaan lusuh tak terawat dan berperilaku aneh seperti pasien sering tertawa dan senyum sendiri, bicara kacau dan tidak nyambung, sering melamun dan menyendiri. Saat itu paman berusaha memberikan pekerjaan pada pasien yaitu dengan meminta pasien membantunya berdagang, tetapi pasien tidak dapat melakukannya. Melihat kondisi pasien yang semakin parah, paman berinisiatif mengirim pasien ke Jawa Tengah dengan tujuan memasukan pasien ke pesantren. Pasien dibelikan tiket bis dan setibanya di Jawa dijemput oleh keluarga. Menurut pasien selama di pesantren pasien tidak menjalani kegiatan yang seperti orang lain lakukan seperti belajar mengaji dan sholat. Pasien berada di pesantren karena sedang diobservasi oleh pesantren dengan alasan yang pasien sendiri tidak tahu. Karena masalah biaya pasien keluar dari pesantren tersebut. Sejak keluar pesantren sekitar bulan Februari 2010, pasien tinggal bersama kakaknya di Jakarta Utara. Menurut kakak pasien sebenarnya ia sendiri berat untuk menampung pasien, tapi ia kasihan melihat pasien. Karena kakak pasien belum memiliki rumah sendiri dan hanya menyewa kamar maka pasien disewakan sebuah
2

kamar tidak jauh dari tempat kakaknya tinggal. Selama tinggal di Jakarta, kondisi pasien semakin memburuk. Pasien semakin sering terlihat bicara dan tertawa sendiri, tidak mau mandi, tidak dapat melakukan pekerjaan membantu kakaknya di tempat menjahit. Menurut pasien, ia mendengar suara orang bercakap-cakap yang isinya mengomentari dirinya atau kadang-kadang berisi lelucon. Selain itu suara-suara tersebut berisi kata-kata yang tidak baik/kotor. Pasien merasa dimusuhi dan dikucilkan oleh orang-orang sekitarnya. Orang-orang membicarakan dirinya dan dapat membaca pikirannya. Kakak pasien pernah membawa pasien berobat ke Bengkel Rohani di Bekasi. Di sana pasien diberi pengobatan alternatif berupa bekam dan akupuntur. Setelah menjalani beberapa kali pengobatan, gejala pasien tidak berkurang sehingga kakak pasien memindahkan pasien ke pesantren di Cibodas. Di sana pasien diberikan pengobatan dengan minum air yang sudah dibacakan doa. Biaya yang dikeluarkan oleh kakak pasien cukup mahal sehingga keluarga mengalami kesulitan biaya. Kakak tidak dapat membayar biaya pengobatan pasien sehingga pasien dikeluarkan dari pesantren. Pasien pulang sendiri ke rumah kakaknya di Jakarta dengan sisa uang yang ia miliki dan menumpang mobil satu bulan sebelum dirawat di RSCM. Menurut kakak pasien, setelah pulang dari pesantren kondisi pasien semakin bertambah parah. Pasien lebih senang menyendiri, sering marah tanpa sebab yang jelas, bicara dan tertawa sendiri. Memaki tetangganya tanpa sebab yang jelas. Marahmarah dan berteriak-teriak sendiri. Satu minggu sebelum dirawat, pasien semakin sering marah-marah dan memukul orang-orang yang sedang lewat di depan rumahnya. Pada malam hari pasien sulit tidur meskipun sebenarnya pasien merasa lelah dan mengantuk, dan tampak bicara serta tertawa-tawa sendiri. Keluarga pasien berusaha mengatasi keluhan sulit tidurnya dengan memberikan obat CTM dan vitamin penambah darah. Tetapi tindakan tersebut tidak membuat pasien tenang. Dua hari sebelum dirawat pasien tiba-tiba memukul orang yang sedang sholat di masjid dan memaki orang-orang yang lewat depan rumahnya. Hal ini membuat warga sekitar marah kepada pasien dan akan memukul pasien. Karena khawatir keadaan pasien akan membahayakan orang sekitarnya maka keluarga membawa pasien berobat ke UGD RSCM.

Selama perawatan pasien tampak sering menyendiri, tertawa dan bicara sendiri. Pasien juga mengatakan yakin ada roh yang masuk ke tubuhnya yang ia rasakan dari dada kanannya. Roh tersebut mengendalikan dirinya, sehingga jika roh itu masuk pembicaraan dan tertawanya dikendalikan oleh roh tersebut. Mulai perawatan hari ke 6 tampak lebih rapih, memakai baju dimasukan ke celana, menggunakan ikat pinggang. Sandal pasien jika di kamar diletakan di dalam plastik dan kemuadian disimpan di laci mejanya. Pasien mengatakan alasan ia melakukan itu supaya rapih dan tidak mengotori lacinya. Selama ini pasien menyukai keteraturan dan kerapihan, yang menurut pasien awalnya terbiasa dari kebiasaan dan aturan yang ditetapkan oleh orang tua, paman dan bibi yang mengasuhnya. Pasien tidak pernah mengalami perasaan gembira berlebihan, yang diikuti peningkatan energi dan aktivitas, pengurangan kebutuhan tidur. Pasien juga tidak pernah mengalami perasaan sedih yang mendalam diikuti rasa tak berguna, putus asa, hilang nafsu makan dan keinginan untuk mengakhiri hidup. Tidak didapatkan riwayat adanya trauma kepala, demam, kejang dan kondisi medis umum lainnya sebelum pasien mengalami gejala-gejalanya saat ini.

C. Riwayat Penyakit Dahulu 1. Riwayat Gangguan Psikiatri Pasien belum pernah mengalami gejala seperti ini sebelumnya, maupun riwayat pengobatan psikiatri sebelumnya. 2. Riwayat Gangguan Medis Pasien tidak pernah menderita penyakit medis yang berat atau hingga menjalani perawatan di rumah sakit 3. Riwayat Penggunaan Alkohol dan Zat lain Pasien mulai merokok sejak awal kali bekerja setamat SMK sampai dengan 1 bulan yang lalu sebanyak 3-4 batang perhari. Saat ini pasien tidak merokok lagi. Ketika ditanyakan alasan berhenti merokok pasien mengatakan karena tidak ada yang memberinya rokok, biasanya pasien tidak pernah membeli sendiri rokok tetapi selalu
4

diberi oleh teman. Sehingga walau pasien memiliki uang ia tidak pernah membeli rokok. Selama tahun 2006-2008, pasien pernah mengunakan pil ectasy dan minum alkohol seperti Black Label dan bir. Awalnya pasien diajak oleh teman-teman kerjanya. Pasien sendiri tidak pernah membeli sendiri tetapi selalu diberi oleh teman, sehingga pasien hanya kadang-kadang saja menggunakannya. Pasien tidak ingin bermasalah dengan teman-temannya. Pasien terakhir kali minum ectasy dan alkohol 2 tahun yang lalu. Pasien tidak pernah menggunakan ganja, shabu maupun zat psikoaktif lainnya. D. Riwayat Kehidupan Pribadi. 1. Masa Prenatal dan Perinatal Pasien anak ke lima dari tujuh bersaudara. Pasien merupakan anak yang diharapkan. Kondisi ibu pada saat mengandung pasien dalam keadaan sehat. Pasien lahir cukup bulan dengan berat badan yang cukup (pasien dan kakak tidak ingat secara pasti berat badan lahirnya) dan langsung menangis. Kelahirannya ditolong oleh bidan desa. 2. Masa Kanak Awal (0-3 tahun) Pasien tumbuh dan berkembang seperti anak seusianya. Pasien diasuh oleh kedua orang tuanya. Sejak kecil pasien hanya minum susu formula karena ibu pasien sibuk membantu ayah berkerja di penambangan emas tradisional. Pasien tidak ingat apakah ia pernah mendapatkan ASI dan sampai usia berapa tahun. Sejak kecil pasien tinggal di Rengat, Riau Daratan. Saat pasien berusia 2 tahun lahir adik pasien (anak ke 6) dan saat pasien berusia 3 tahun lahir adik bungsu pasien (anak ke 7) yang meninggal segera setelah dilahirkan. Karena ibu sibuk bekerja dan mengurus rumah tangga, pengasuhan pasien dilakukan oleh kakak-kakak pasien, terutama kakak perempuan pasien (Ny.D) yaitu anak ketiga orang tuanya. Menurut kakak pasien karena saat itu mereka masih kecil sehingga pengasuhan terhadap pasien kurang maksimal seperti jika mereka menangis kakak memarahi dan memukul mereka, dan jika pasien dan saudaranya ketahuan bertengkar maka ayah akan memarahi mereka sepulang bekerja bahkan sampai memukul dengan sabuk. Beda usia mereka masingmasing sekitar 1-2 tahun.
5

3.

Riwayat Masa Kanak Pertengahan (4-11 tahun) Pada masa ini pasien tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lain. Pasien mengatakan kadang takut terhadap kakak-kakaknya walaupun hubungan mereka sebenarnya cukup baik. Sejak masuk SD, pasien pulang dan pergi sekolah hanya bersama kakak-kakaknya. Pasien tidak pernah merasa cemas dan takut berpisah dengan orang tuanya. Di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggalnya pasien memiliki banyak teman. Di sekolah, pasien termasuk anak yang berprestasi dan selalu mendapat peringkat sembilan besar di sekolahnya. Walau memiliki banyak teman tetapi tidak ada yang pasien anggap akrab, mereka bersama hanya untuk belajar kelompok. Saat pasien kelas IV SD (berusia 10 tahun), ayah pasien meninggal dunia karena sakit dengan keluhan batuk darah. Satu bulan kemudian ibu meninggal dengan penyakit yang sama. Sejak kedua orang tuanya meninggal pasien terpisah dengan kakak-kakaknya. Keempat kakak pasien dimasukan ke Panti Asuhan sedangkan pasien dan adiknya tinggal dan disekolahkan oleh adik ibu pasien di Batu Sangkar. Saudara ayah dan ibu pasien merasa tidak sanggup jika mengasuh semua saudara pasien. Pasien pernah berhenti sekolah selama 3 bulan sebelum akhirnya pasien bersekolah di Batu Sangkar. Di tempat yang baru pasien tidak mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan prestai belajar pasien tetap baik. Sejak saat itu pasien tidak pernah bertemu dengan kakak-kakaknya. Suami bibi pasien bekerja di Karang Taruna dan bibi pasien bekerja sebagai guru. Keluarga bibi pasien tersebut memiliki tiga orang anak yang usianya di atas usia pasien. Pasien seusia dengan anak bungsu mereka. Selama diasuh oleh keluarga bibinya, pasien tidak pernah mengalami perbedaan perlakuan. Paman dan bibinya sangat sayang kepada pasien dan adiknya. Menurut pasien, paman dan bibinya memiliki sifat yang keras dan disiplin dalam mendidik anak-anaknya termasuk pasien.

4.

Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja Pasien sekolah SMP di Batu Sangkar. Pasien merupakan anak yang aktif mengikuti kegiatan di sekolah. Pasien aktif dalam kegiatan pramuka. Prestasi belajar pasien saat SMP selalu di atas rata-rata. Setamat SMP pasien melanjutkan ke SMK dan memilih jurusan sosiologi atas keinginan pasien sendiri.

Selama tinggal bersama dengan bibi dan paman pasien kehidupan pasien sangat teratur. Paman dan bibi cukup keras dalam mendidik pasien maupun anakanaknya. Segala sesuatu terjadwal dan pasien harus patuh terhadap jadwal tersebut. Paman dan bibi juga menuntut kerapihan, mereka sangat marah jika pasien tampak tidak berpakaian rapih, kamar berantakan dan rumah dalam keadaan tidak rapih. Menurut pasien tidak ada bedanya tinggal bersama orang tua ketika mereka masih ada dan tinggal bersama bibi saat itu. Sejak dulu ayah dan ibu pasien juga menanamkan keteraturan dan mereka sama kerasnya dalam mendidik. Pasien akhirnya terbiasa dengan keteraturan dan menurut pasien sudah menjadi bagian kehidupannya seharihari. Walau menurut pasien, bibi dan pamannya baik tetapi pasien sangat takut kepada mereka dan merasa sungkan. Mereka tidak pernah memukul pasien, tetapi jika ada hal yang mereka tidak suka maka mereka akan berbicara keras dan kasar. Pasien merasa tidak nyaman jika mengungkapkan sesuatu atau bercerita kepada mereka. Pasien khawatir jika yang pasien ungkapkan tidak sesuai dengan mereka maka mereka akan marah. Jika memiliki masalah maka pasien sering bercerita kepada saudara lainnya yang rumahnya tidak jauh dari rumah paman dan bibinya, yang seusia pasien. Walaupun demikian pasien jarang menceritakan masalahnya karena pasien tidak ingin membebani saudaranya tersebut. Menurut pasien, hanya kepada saudaranya itu pasien dapat menceritakan masalahnya. Jika memiliki masalah pasien lebih senang menyimpannya sendiri. Jika paman dan bibi marah pada pasien atas perbuatan yang sebenarnya tidak dilakukan pasien maka pasien tidak pernah membantah dan biasanya pasien hanya mendengarkan dan kemudian pergi setelahnya, walaupun sebenarnya pasien merasa kesal tapi pasien tidak ingin memperpanjang masalah. 5. Riwayat Masa Dewasa 1. Riwayat Pendidikan Pasien bersekolah di SDN 037 di daerah Rengat Riau dan pernah berhenti sekolah beberapa bulan sesudah orang tuanya meninggal, kemudian pindah ke SD di Batu Sangkar. Pasien melanjutkan sekolah di SMP Batu Sangkar. Prestasi pasien saat SD dan SMP baik dan di atas rata-rata. Setamat SMP pasien melanjutkan sekolah ke

SMK Tabat Patah di Sumatra Barat atas kemauan pasien sendiri. Pasien tetap tinggal bersama paman dan bibinya hingga tamat sekolah SMK.
2. Riwayat Pekerjaan.

Setamat SMK pasien tidak melanjutkan pendidikan karena alasan biaya. Saat itu pasien ingin merantau ke Pekanbaru untuk bekerja, tetapi ketika pasien mengungkapkan hal itu pada paman dan bibinya mereka tidak setuju. Akhirnya pasien pergi dari rumah pamannya secara diam-diam. Pasien ke kota dan tinggal bersama saudaranya selama beberapa hari. Karena pasien tidak betah dan menyesal akhir pasien kembali ke Batu Sangkar, , tetapi tidak lagi tinggal dengan paman dan bibinya dengan alasan pasien takut paman dan bibi marah dan pasien juga merasa malu. Selama di Batu Sangkar pasien menginap di rumah saudaranya yang lain. Akhirnya atas ajakan teman, pasien pergi ke Batam. Kakak pasien yang tinggal di Jawa Tengah datang ke Batu Sangkar dengan tujuan akan mengajak pasien tinggal dan bekerja bersamanya. Tetapi setibanya di Batu Sangkar paman pasien mengatakan adik pasien sudah pergi dari rumah paman tanpa diketahui tujuannya. Yang paman tahu pasien pergi karena dipengaruhi temannya. Awalnya pasien bekerja sebagai security di sebuah perumahan selama 3 tahun. Kemudian pasien bekerja di perusahaan swasta. Terakhir pasien bekerja di perusahaan pembuat kardus pada bagian perakit dan penagihan. Pasien berhenti dari perusahaan tersebut pada tahun 2008 karena pasien merasa tidak nyaman lagi bekerja di perusahaan tersebut. 3. Riwayat Perkawinan Pasien menikah dengan istrinya pada awal tahun 2008. Ia mengenal istrinya karena mereka bertetangga saat kos di Batam. Mereka sempat berpacaran selama 7 bulan. Pasien dan istri berbeda keyakinan. Pasien akhirnya pindah ke agama Katolik dan menikah secara Katolik di gereja. Sejak menikah pasien sering berselisih dengan istri. Menurut pasien hal ini disebabkan karena istri pasien adalah orang yang keras dan kasar. Sejak tahun 2009 pasien diusir oleh mertuanya. Istri sedang mengandung anak ke 2 saat pasien pergi. Sejak saat itu pasien tidak pernah bertemu dengan istri dan anak-anaknya lagi. Saat ini mereka tinggal di Medan bersama mertua pasien. Pasien masih berhubungan dengan istri melalui telepon, walau jarang dilakukan.
8

4.

Riwayat Agama Pasien dibesarkan dalam lingkungan agama Islam. Saat masih tinggal dengan paman pasien taat menjalankan ibadahnya. Tetapi ketika di Batam pasien mulai sering meninggalkan ibadah dengan alasan pekerjaannya. Pada tahun 2008 pasien memutuskan pindah ke agama Katolik karena pasien akan menikah dengan istrinya yang beragama Katolik. Setelah beragama Katolik pasien tidak aktif dalam kegiatan gereja. Selama perawatan pasien mengatakan ia beragama Kristen katolik, tetapi pasien sering terlihat menjalankan sholat ketika waktu sholat tiba. Ketika ditanya alasan pasien menjalankan sholat pasien hanya tersenyum dan tertawa. Setiap kali ditanyakan apakah pasien pernah merasa menyesal pindah keyakinan pasien tidak pernah menjawab tetapi pasien hanya diam dan kemudian tertawa. 5. Riwayat Psikoseksual Sebelum menikah, pasien pernah berpacaran sebanyak tiga kali. Pacar pasien yang terakhir berasal dari Sydney Australia. Pasien pertama kali berhubungan seksual dengan pacar terakhir pasien. 6. Aktivitas Sosial Selama tinggal di Batam pasien jarang mengikuti kegiatan sosial atau kemasyrakatan. Pasien hanya berkumpul dengan teman-teman kerjanya untuk mengobrol, minum dan merokok bersama. Walaupun demikian pasien mengatakan tidak memiliki teman akrab.

7.

Riwayat Pelanggaran Hukum Pasien belum pernah menjalani hukuman atau melakukan tindakan yang melanggar hukum,
E. Riwayat Keluarga

Pasien adalah anak ke lima dari tujuh bersaudara. Adik terakhir pasien meninggal setelah dilahirkan. Pasien merasa lebih dekat dengan ibu dibandingkan
9

dengan ayah karena menurut pasien, ibu lebih jarang marah dan kadang membela pasien. Sedangkan ayah menurut pasien sering memukul dengan sabuk jika pasien melakukan kesalahan ataupun bertengkar dengan saudara-saudaranya. Orang tua pasien cukup disiplin dan keras dalam mendidik anak-anaknya. Setelah ayah dan ibu pasien meninggal, pasien diasuh oleh paman di bibinya dari pihak ibunya. Pasien tinggal disana bersama dengan adik kandung pasien dan ketiga anak dari keluarga pamannya. Menurut pasien, ia paling dekat dengan adiknya tersebut. Saat ini kakak-kakak pasien tinggal di Jakarta, Bekasi dan Cibodas. Adik pasien juga sudah berkeluarga dan tinggal di Batam. Selama pasien tinggal di Batam, hubungan pasien dan adiknya sangat dekat, ketika pasien menikah, hanya adiknya tersebut yang datang. Sejak sakit pasien tinggal di rumah kakak pasien yang bekerja dengan membuka jasa penjahit pakaian. Tidak ada anggota keluarga pasien lainnya yang mengalami gangguan jiwa. Genogram Keluarga:

Bibi yang mengasuh pasien setelah ibunya

Tn R,36 tahun Wirausaha Jakarta

Ps, Tn E,33 tahun Tidak bekerja , Semper

Tn D,31 tahun Karyawan Tinggal di Batam 10

Keterangan :
= pasien = perempuan = laki-laki = tinggal serumah

F.

SITUASI KEHIDUPAN SEKARANG Pasien saat ini tinggal bersama kakak ke empat pasien di daerah Semper. Kakak pasien sudah berkeluarga tetapi belum memiliki anak. Sehari-hari kakak dan istrinya bekerja sebagai penjahit. Saat ini kakak pasien sedang mengalami kesulitan ekonomi karena usahanya sedang sepi. Kakak merasa berat terhadap biaya pengobatan pasien. Sebenarnya kakak sudah berusaha mengurus surat keterangan tidak mampu untuk biaya pengobatan pasien tetapi belum berhasil. Hal ini disebabkan pasien tidak memiliki KTP Jakarta. Sedangkan KTP daerah asalnya juga tidak ada. Kakak pasien merasa keberatan terhadap harga obat yang diberikan selama pasien dirawat dan minta diganti dengan obat yang murah saja. Saat ini kakak bingung memikirkan biaya pengobatan pasien dan kehidupan pasien selanjutnya.
G.

Persepsi dan Harapan Keluarga Kakak menduga pasien mengalami gangguan ini akibat beban hidup yang ia

hadapi cukup berat dan mungkin juga ini akibat dari perbuatannya yang pergi begitu saja dari rumah paman yang selama ini telah merawat pasien. Kakak berharap kondisi pasien cepat membaik sehingga pasien dapat segera keluar dari perawatan. Dengan demikian tidak banyak mengeluarkan biaya. Kakak juga berharap pasien dapat berobat dengan fasilitas yang diberikan pemerintah (Gakin/SKTM). H. Persepsi dan Harapan Pasien Pasien mengatakan saat ini ia berada di RSCM karena dibawa oleh keluarga . Pasien tidak memahami alasan keluarga membawa pasien kerena menurut pasien ia hanya mondar-mandir. Pasien mengatakan bahwa yang ia alami selama ini seperti ia
11

yakin ada roh yang masuk ke tubuhnya, tidak membuat dirinya terganggu. Karena menurut pasien roh tersebut hanya ingin minta tolong. Pasien tidak merasa takut dengan roh tersebut. Selama ini yang marah, berbicara atau tertawa bukan dirinya tetapi roh yang kadang masuk ke dalam dirinya dan mengendalikan dirinya. Pasien ingin kehidupannya kembali seperti dulu, dapat bekerja dan berkumpul dengan keluarga.
III.

STATUS MENTAL (tanggal 25 Januari 2011) 1. Deskripsi umum Penampilan Seorang laki-laki sesuai dengan usia, perawatan diri kurang, memakai beberapa lapis kaos dan kemeja dan dua lapis celana jeans. Pada celana jeans terdapat robekan-robekan dan pada saku celana terdapat rantai pendek. Memakai gelanggelang pada kedua tangan dan pergelangan kaki. Berpenampilan nyentrik dengan rambut pendek terkuncir pada bagian belakang. Perilaku dan Psikomotor Tenang. Pasien dapat duduk selama wawancara. Perilaku halusinatorik (+). Sikap terhadap pemeriksa Pasien bersikap tidak kooperatif 2. Mood dan Afek Mood Afek : disforik : tumpul, tidak serasi

3. Pembicaraan Pembicaraan tidak spontan, hanya menjawab pertanyaan dengan jawabanjawaban singkat yang diakhiri dengan tertawa-tawa sendiri. Neologisme (+) volume suara kecil, intonasi tidak jelas. 4. Gangguan Persepsi Terdapat halusinasi auditorik berupa suara roh 4-5 orang laki-laki, perempuan, bencong dan lesbi. Suara-suara tersebut membicarakan pasien, mentertawakan pasien. Kadang-kadang berisi kata-kata kotor. (commenting-discussing) 5. Pikiran Proses dan Bentuk Pikir Asosiasi longgar
12

Isi Pikir Terdapat waham rujukan dimana pasien mengatakan bahwa orang-orang memiliki niat jahat terhadap dirinya, sering membicarakan sesuatu yang jelek tentang dirinya. Thought insertion, thought broadcasting. 6. Sensorium dan Kognisi Kesadaran Compos mentis Orientasi Waktu Tempat Orang : baik, pasien mengetahui hari, tanggal dan tahun saat diwawancara. : baik, pasien mengetahui bahwa ia berada di bangsal perawatan jiwa di RSCM : baik, pasien mengenali dokter yang merawat dan dokter penanggung jawab dirinya. Daya Ingat Daya ingat jangka panjang : baik, pasien dapat mengingat kembali tempat dan tanggal lahirnya Daya ingat jangka sedang Daya ingat jangka pendek Daya ingat segera : baik, pasien dapat mengingat kejadian ketika pasien dibawa ke RSCM. : baik, pasien dapat mengingat menu sarapan beberapa jam sebelumnya. : kurang, pasien tidak dapat menyebutkan kembali tiga kata yang disebutkan pemeriksa dengan lengkap. Konsentrasi dan Perhatian Baik. Pasien dapat mengikuti proses wawancara dengan baik. Pasien tidak dapat melakukan perhitungan 100-7-7-7-7-7 dengan benar. Kemampuan membaca dan menulis Pasien dapat membaca dan menulis baik. Kemampuan visuospasial Pasien dapat mengenali ruangan bangsal perawatan pria dengan baik. Pikiran abstrak
13

Baik, pasien dapat menyebutkan perbedaan diantara dua benda seperti beda apel dan jeruk, serta mengerti arti panjang tangan dan peribahasa seperti ada udang dibalik batu. Intelegensia dan Kemampuan informasi Intelegensia dan kemampuan informasi sesuai dengan tingkat pendidikan pasien. 7. Kemampuan pengendalian impuls Saat wawancara, kemampuan pengendalian impuls baik. Saat sebelum masuk rumah sakit, pengendalian impuls kurang. Terlihat dari perilaku pasien yang marah-marah dan memukuli tetangga yang lewat di depan rumahnya 8. Daya nilai dan tilikan Daya nilai sosial dan uji daya nilai: Baik Penilaian realita: Terganggu Tilikan: Derajat 1 9. Taraf dapat dipercaya Pasien cukup dapat dipercaya.

14

2009 2 HARI smrs 31 thn Curiga dibicarakan buruk dan dijahati teman kantor. berhenti kerja Sering bertengkar dengan istri karena rumah yang hawa panas tidak didoakan sebelum dibangun. Akhir 2009, diusir mertua, pindah Pekanbaru. Tidak bisa bekerja Perilaku aneh. tertawa-tawa

2010 31 thn Pindah ke Jawa Tengah (kakak pasien) Masuk pesantren Tidak mau ikut belajar mengaji dan sholat. Masalah biaya keluar

Feb 2010

AKHIR 2010

1 MINGGU smrs

Tinggal bersama kakak di Jakarta Utaraa. Kondisi memburuk sering mengurung diri, bicaratertawa sendiri, tidak mau mandi, tidak bekerja. Mendengar suara orang bercakap membicarakan dirinya, mengomentari. Isi lelucon atai kata-kata kotor. Merasa dimusuhi dan dikucilkan oleh orang sekitar

Dibawa ke bengkel rohani terapi bekam dan akupuntur Dibawa ke Cibodas diberi air yanhg didoakan karena mahal, pasien dikeluarkan dan pulang sendiri ke rumah kakak di Jakarta Kondisi semakin parah Marah-marah tanpa sebab, berteriak-teriak

Semakin sering marah-marah Memukul orang yang lewat di depan rumah. Malam hari tidak bias tidur (sebenarnya mengantuk) Bicara dan tertawa-tawa sendiri. Keluarga memberikan CTM dan obat penambah darah supaya bias tidur

Memukul orang yang sedang sholat di masjid Memaki orang lewat Memicu kemarahan warga.

15 Tidak dibawa ke RS krn masalah biaya

Anda mungkin juga menyukai