Anda di halaman 1dari 22

KOMUNIKASI PASIEN

Komunikasi Apoteker dengan Pasien


Saat ini apoteker bisa melakukan kegiatan praktek di beberapa lingkungan pelayanan kesehatan. Pada tingkat komunitas, apoteker menyediakan sebuah cakupan yang luas pada pelayanan kefarmasian, termasuk informasi pelayanan kesehatan, untuk bermacam pasien. Beberapa pasien menerima tidak sesuai penyakitnya, sedangkan beberapa lainnya dibawah pelayanan dokter, menerima terapi obat untuk penyakit kronis. Orang lain biasanya sehat, tapi sekarang ini menerima pengobatan untuk kondisi medis jangka pendek. Disana mungkin beberapa pasien yang telah kembali kerumahnya setelah periode masuk rumah sakit dan mungkin membutuhkan pelayanan kesehatan di rumah sebelum mereka dapat berjalan. Yang lainnya yang tidak dapat berjalan atau harus ditempat tidur pada fasilitas pelayanan jangka pendek. Komunitas farmasis telah menjadi fokus dan sumber referensi untuk sebuah peningkatan isi informasi mengenai obat dan penggunaannya. Selama konsumen menjadi lebih sadar akan hak dan tanggungjawabnya, mereka mencari tidak hanya informasi obat yang diresepkan dan yang tidak diresepkan, tapi informasi penting untuk komponen lain kesehatan mereka sendiri dan kesehatan, kemanapun ini disarankan. Mereka memperoleh informasi ini dari media umum, dari penyedia pelayanan kesehatan mereka, termasuk dokter dan apoteker, dan melalui konsumen dan program grup bersifat umum. Apoteker yang praktek di rumah sakit dan institusi lainnya juga diharapkan untuk menjadi penyedia informasi mengenai obat yang digunakan seorang pasien ketika dibawah pelayanan mereka, seperti halnya obat obat yang digunakan sebelum dan sesudah di rawat di rumah sakit. Pasien yang dirawat di rumah sakit dberikan dosis obat mereka pada waktu yang khusus, tetapi ketika mereka keluar dari rumah sakit, mereka diharapkan bertanggung jawab untuk mengatur pengobatan mereka dan ingat untuk meminumnya pada waktu yang tepat. Pasien berkemungkinan besar mengikuti instruksi dokter ketika mereka mengerti terapi yang ditentukan. Apoteker rumah sakit bisa menjadi apoteker utama untuk menentukan pemahaman pasien mengenai regimen pengobatan mereka. Informasi terapi obat ini didukung dan diperluas oleh komunitas farmasis.

Dengan semakin besarnya tanggung jawab yang dipikul apoteker untuk menjalankan kemampuan profesional dan keputusan, kebutuhan komunikasi efektif menjadi meningkat sangat penting. Tapi aktivitas komunikasi ini agar apoteker berkemungkinan besar menemukan paling kurang yang sudah lazim, dan oleh karena itu hal yang paling sulit. Standar Asosiasi Farmasi Amerika untuk Praktek untuk Profesi Farmasi mengenal sejumlah aktivitas profesional dimana apoteker harus berkomunikasi efektif dengan pasien agar melakukan hal yang cukup untuk tanggung jawab profesinya: Mewawancarai pasien atau keluarganya untuk memperoleh informasi untuk masuk ke dalam catatan pasien, profil pasien, atau catatan kesehatan keluarga. Menetapkan dan menjelaskan lebih jauh pemahaman pasien tentang dosis Memberitahu pasien tentang obat yang potensial, atau kondisi berkaitan pengobatan, frekuensi dosis, dan metoda pemberian. kesehatan yang bisa timbul dari penggunaan obat untuk pasien yang akan mencari perawatan pengobatan lainnya. Konsultasi dengan pasien untuk mengidentifikasi dengan baik gejalaMenyerahkan pasien kepada penyedia pelayanan kesehatan lainnya dan / Mengajarkan pasien dalam penggunaan alat-alat pengobatan atau Memberitahu pasien mengenai masalah kesehatan personal (seperti gejala agar mempertimbangkan pengobatan sendiri. atau sumber kesehatan yang sesuai. pembedahan (seperti inhaler, colostomy bags, trusses). merokok, penyalahgunaan obat obatan). Berpartisipasi dalam program edukasi komunitas yang tepat dengan perawatan kesehatan dan obat-obatan yang (seperti

berhubungan

penyalahgunaan obat-obatan, alkoholisme, hipertensi). Komunikasi adalah tindakan berarti pertukaran informasi, ide, fikiran, dan perasaan. Jika ini benar-benar efektif, hasinya akan menimbulkan pemahaman bersama antara apoteker dan kliennya. Komunikasi melibatkan pemahaman tidak hanya kata yang diucapkan, tapi juga apa yang disampaikan melalui nada suara, kualitas suara, ekspresi wajah, postur tubuh, dan respon sikap lainnya. Petunjuk berikut diberikan untuk membantu apoteker pada proses belajarnya untuk berkomunikasi dengan pasien.

Komunikasi Sebagai Sebuah Proses


Tujuan dari semua komunikasi adalah pemahaman. Agar si B mengerti pesan yang dibuat oleh si A, si B harus lebih mengenal kata kata yang digunakan oleh si A dalam pesan. Si B akan mengerti si A jika maksud si B memberikan kepada pesan si A adalah maksud yang sama dengan si A berkaitan dengan pesan tersebut. Jadi, hanya ketika maksud pesan berada dalam keadaan yang biasa oleh kedua orang tersebut sehingga komunikasi yang efektif dapat terjadi. Pada dasarnya organisme manusia membuatnya sulit untuk mencapai titik ini berupa pemahaman antara dua orang (kesulitannya berkali-kali ketika lebih dari dua orang yang terlibat). Halangan utama pada komunikasi efektif adalah individu memiliki cara mereka sendiri membuat pengertian dunia mereka. Penafsiran masing-masing orang pada dasarnya berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri dan ini dipengaruhi oleh keadaan pribadi pada waktu tersebut. Persepsi seseorang mengenai maksud dasar sebuah pesan dari pandangan pribadi kenyataannya. Persepsi individual ini akan mempengaruhi keduanya cara pesan dikirimkan dan cara menerimanya. Orang akan memilih dan menafsirkan pesan yang mereka kirim dan menerima sesuai kepercayaaan mereka mengenai dunia dimana mereka tinggal. Ketika si B sebagai pembaca pesan, si A harus memilih sebuah bentuk untuk mengirimkan pesan itu. Jika si A memutuskan untuk mengirim pesan melalui kata yang diucapkan, berlawanan dengan kata yang ditulis, atau bentuk lainnya dari komunikasi, kemudian si A harus memilih kata-kata yang akan menyampaikan maksud pada kenyataannya, perasannya pada waktu tersebut dan persepsi si B. Sekali informasi telah ditulis dan dikirim, si A kehilangan kontrol pesan tersebut. Maksud dari pesan si A akan berasal dari tafsiran makna yang berasal dari poin tujuannya, si B. Tafsiran makna si B dari pesan si A akan ditentukan oleh tafsiran pribadi si B berdasarkan kenyataan, perasannya saat itu, dan pandangannya terhadap si A. Sejumlah respon yang diberikan oleh si B kepada pesan si A akan mencerminkan evaluasi ini dan menjadi hasil tafsiran makna si B sebelum mengirimkan pesan kembali. yang diniatkan untuk si B untuk menerimanya. Pilihan ini akan ditentukan oleh tafsiran si A

Sekali si A telah membaca pesan kembali si B dia bisa menentukan jika si B telah mengerti pesan tersebut. Jadi, respon si B terhadap tindakan si A merupakan umpan balik terhadap si A. Hal ini memberikan si A kesempatan untuk memperbaiki sejumlah kesalahan pahaman yang telah terjadi. Semua rangkaian komunikasi bisa digambarkan secara digram berikut : Penulis pesan Pesan Pesan (umpan balik) Pembaca pesan

Pembaca pesan

Penulis pesan

Komunikasi Profesional untuk Apoteker


Komunitas farmasis membangun hubungan praktek mereka dengan komunikasi yang bagus dan keahlian farmasi. Sebagian kecil apoteker, bagaimanapun, memiliki pelatihan formal dalam teori komunikasi atau pelatihan dalam praktek komunikasi. Mereka bisa oleh karena itu menemukan keterbatasan diri mereka secara kebetulan dan /atau percakapan sosial dan dengan enggan memulai dialog profesional sebenarnya dengan pasien. Agar jelas pemahaman mengenai kebutuhan pasien, apoteker harus mempelajari kapan dan bagaimana penggunaan komunikasi terhadap profesional, interview klinis. Agar memungkinkan pasien mengerti dan patuh dengan instruksi terhadap penggunaan obat yang tepat, apoteker harus bisa menyampaikan pesannya dengan jelas kepada pasien dan memastikan bahwa pasien mengerti resep penting lainnya dan informasi pelayanan kesehatan. Untuk menjaga kualitas dan keefektifan komunikasi mereka dengan pasien, apoteker perlu mengerti dan menghargai pengalaman yang bisa berhubungan dengan kehidupan pasien. Untuk beberapa orang, kesakitan hampir mewakili sebuah masa gawat. Keadaan sakit dengan stres bisa berdampak atau berperan dengan proses komunikasi.

Pemahaman Pasien : Pengalaman Keadaan Sakit

Seseorang bisa menghadapi pemisahan dari keluarga, kehilangan peran penting dalam lingkungan sosial, perubahan permanen tubuh, perasaan tidak berdaya, dan masa depan yang tak menentu. Untuk kebanyakan pasien, keadaan genting pada saat sakit menyebabkan masalah keraguan dan ketakutan yang umum berhubungan dengan penyakit. Ini agak sedikit mengherankan bahwa sejumlah orang yang mengalami penyakit fisik yang serius menghadapi satu atau beberapa hal yang adaptif berikut :
1.

Berhadapan dengan gejala penyakit- keadaan yang tidak nyaman bisa

menjadi masalah yang berkelanjutan, seperti, nyeri, kelemahan, pusing, inkontinen, kelumpuhan
2.

Berhadapan dengan rumah sakit atau lingkungan kerja dokter- kesibukan

lingkungan klinik, klinik dokter atau rumah sakit, dengan alat-alatnya yang canggih, praktisi yang sibuk, dan ekspresi nyeri, bisa mengganggu kebanyakan pasien.
3.

Perkembangan hubungan yang memadai dengan staf profesional-

mengajukan dan menjawab pertanyaan, meminta bantuan, nasihat, informasi, atau pengobatan tambahan untuk nyeri bisa menjadi sulit untuk pasien yang tidak familiar dengan komunikasi profesional.
4.

Memelihara keseimbangan emosi- walaupun ketidakramahaan rumah

sakit, kunjungan yang cepat, dan rasa nyeri dan tidak tentu dari penyakit, pasien harus mengatur perasaan atau rasa takut, kekurangan dan kekesalan.
5.

Memelihara kepuasan terhadap diri- perubahan dalam fungsi fisik dan

penampilan, kehilangan peran penting dalam lingkungan sosial, bisa mengubah perasaan tentang kemampuan individu dan sangat mempengaruhi kepercayaan diri.
6.

Memelihara hubungan dengan keluarga- sakit bisa memisahkan atau

menyebabkan ketergantungan. Pada tiap kasus, hubungan dengan teman dan rasa dicintai seseorang sangat penting.
7.

Persiapan terhadap masa depan yang tak terduga- kehilangan

penglihatan, anggota badan, atau kehidupan adalah kemungkinan yang harus dihadapi oleh orang yang sakit dan orang orang yang mencintainya. Pasien sering mengetahui adaptasi, ketakutan, dan keprihatinan dan hal yang mereka sembunyikan dengan tampilan marah, depresi, sikap yang tidak kooperatif, atau sikap yang selalu menuntut. Keahlian apoteker, pengetahuan dinamis tentang komunikasi dan beban stres pada pasien karena penyakit, bisa membantu pasien mengenali dan mengatasi begitu banyak emosi dan ketakutan (Lihat gambar 1).

STATUS KESEHATAN Lokasi Pengantaran Pelayanan Kesehatan Pengalaman Pasien dan Tugas Adaptif

KESEHATAN

PENYAKIT

KEPARAHAN PENYAKIT

Rumah
(dapat berjalan-akut atau kronis) Berhadapan dengan gejala penyakit Berhadapan dengan jasa dokter Berhadapan dengan lingkungan rumah sakit Berhadapan hubungan dekat dengan staf professional Menjaga keseimbangan emosi Menjaga kepuasan terhadap gambaran diri Menjaga hubungan dengan keluarga Persiapan untuk masa depan yang tak tentu

(rumah rumah)

Institusi sakit atau

perawat

Lokasi Pelayanan Farmasi Tugas Pelayanaan Kesehatan Farmasi

Komunitas 1. Nasihat tentang : pengobatan sendiri terhadap keluhan kecil persoalan kesehatan masyarakat 2. Penyerahan kepada profesional kesehatan lainnya, ketika perlu 1. Menjaga hubungan baik 2. memperlihatkan perhatian profesional terhadap kesehatan pasien

Institusi 1. Monitoring dan menasihati 1. Monitor penggunaan obat tentang: selama berada di institusi - obat bebas dan terapi resep 2. Penyediaan edukasi/instruksi - efek samping obat setelah berhenti menggunakan 2. Instruksi, monitoring, untuk obat kepatuhan 3. Penyerahan bila diperlukan

Tugas Komunikasi Apoteker

Kebutuhan Keterampilan Komunikasi

1. Interview pasien tentang 1. Menjaga peran membantu, kepribadian profesional pengobatan rutin 2. Mendapatkan informasi dari berbagai penyakit lainnya pasien tentang: faktor kehidupan yang riwayat pengobatan mempengaruhi kepatuhan sebelumnya faktor gaya hidup yang yang mempengaruhi kepatuhan 1. pendekatan untuk 1. Mengajukan pertanyaan 1. Kesensitifan terhadap kesehatan klien 2. Sensitif terhadap ketakutan pengalaman, ketakutan, pasien, kecemasan, pengalaman kecemasan pasien yang tidak di rumah sakit di rawat di rumah sakit

Gambar 1. Peran apoteker dalam pengalaman menangani penyakit

Untuk pasien dalam komunitas atau pelayanan kesehatan di rumah, pusat ketakutan yang umum berada di sekeliling ketidakmampuan dan keparahan penyakit. Sering pasien tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang apa yang terjadi dengan diri mereka. Bahkan setelah diskudi berulang kali dengan dokter mereka, banyak aspek dari penyakit mereka yang tetap tidak jelas dan ragu-ragu. Pada beberapa hal, ketakutan yang muncul bisa dengan mudah dikurangi dengan penjelasan yang simpel, penentraman hati kembali, dan bantuan yang positif dari profesional kesehatan primer dan pendukung. Untuk pasien di rumah sakit, kondisi selama di rumah sakit bisa menjadi pengalaman yang mengerikan. Ketakutan yang tidak diketahui bisa bermunculan. Dokter dan perawat yang sibuk, instrumen yang canggih, monitor elektronik, tabung, botol IV, tes labor, mesin X-Ray, pasien yang meninggal di ruangan sebelah, tangisan karena nyeri, penyakit teman sekamar yang serius, -semuanya bisa menjadi hal yang cukup menakutkan. Profesional kesehatan biasanya menenangkan pasien dalam hal ini. Kejadian gawat yang berlangsung secara rutin selama berlalunya hari adalah hal yang biasa terjadi. Hal ini sedikit mengherankan bahwa kecemasan berkembang ketika mereka berada di rumah sakit. Profesional kesehatan bisa tidak sensiif terhadap ketakutan tersebut. Kesadaran bahwa pasien bisa mengalami sejumlah ketakutan akan memudahkan usaha usaha untuk membuat mereka merasa lebih santai dan menghilangkan sebuah rintangan penting dalam komunikasi efektif. Banyak pasien takut akan rasa sakit. Selalu ingat hal ini dalam diskusi dengan pasien sebelum melakukan diagnosa atau prosedur pembedahan. Kecemasan pasien di bawah keadaan keadaan tersebut bisa menjadi begitu besar sehingga komunikasi efektif nyaris tidak mungkin. Pada banyak kasus, upaya penenteraman hati dan penjelasan mengenai apa yang sedang terjadi bisa membantu dalam mengurangi beberapa persangkaan dan kecemasan. Jangan pernah meremehkan ketakutan yang bisa muncul jika ada kemungkinan kecacatan. Beberapa pasien mungkin telah mengalami kecelakaan yang serius, menyebabkan kehilangan anggota gerak dan kerusakan lainnya yang permanen. Yang lainnya mungkin telah mengalami kerusakan jantung parah, membuat mereka cacat dalam pengertian gaya hidup mereka yang biasanya, aktifitas atau fungsi. Ketakutan mengenai tingkat kerusakan dan bagaimana mengatasinya adalah kenyataan. Perawat, terapis fisik, dan lainnya berperan penting dalam memperbaiki kepercayaan diri dan membantu penyesuaian pasien terhadap sejumlah kecacatan fisiknya. Sangat penting

untuk sadar bahwa sejumlah ketakutan muncul jika komunikasi efektif dengan sejumlah pasien ditetapkan. Ketakutan akan kematian adalah hal yang sangat umum pada kebanyakan pasien. Beberapa pasien tanpa sadar percaya bahwa rumah sakit adalah tempat dimana orang datang untuk meninggal. Pengetahuan keparahan dan tipe penyakit biasanya akan menjadi sebuah petunjuk dimana pasien sebagai kandidat untuk tipe ketakutan ini. Beberapa individu, meskipun hanya memiliki sebuah penyakit relatif ringan, akan memperlihatkan ketakutan akan kematian. Komunikasi efektif pada kasus ini adalah tugas yang penting untuk profesional kesehatan dan pasien. Upaya penentraman hati adalah alasan penting ketika diindikasikan, seperti halnya pernyataan untuk memperkuat kepercayaan diri pada dokter dan rumah sakit, sangat membantu dan direkomendasikan. Keberhasilan dan komunikasi efektif dengan sejumlah pasien akan menentukan tingkat kesungguhan gambaran perhatian atau berhubungan dalam bagian percakapan. Hal ini sangat penting untuk memiliki empati dengan sejumlah pasien, tetapi menjadi sama penting tidak melibatkan emosional melebihi bidang fungsi profesional seseorang. Kecemasan mengenai pembiayaan, pekerjaan dan masalah keluarga akan menjadi fikiran kebanyakan pasien. Hal itu harus di sadari bahwa hal itu dapat muncul. Beberapa pasien benar benar mengalami kelemahan karena proses penyakit mereka, atau keadaan fisik mereka saat itu, contohnya penggunaan IV, sebuah kateter di suatu bagian, traction atau pembalut gigi. Semua faktor faktor tersebut menghalangi komunikasi yang bagus. Beberapa pasien merasa malu, sadar sendiri, rendah hati, atau hal ekstrim lainnya, bahkan bosan ketika berada di rumah sakit. Hal tersebut merupakan faktor tambahan yang harus diketahui dan dipertimbangkan saat berkomunikasi dengan sejumlah pasien. Jika apoteker bisa memahami bagaimana faktor faktor tersebut mempengaruhi pasien, kemungkinan komunikasi efektif dengan pasien akan dapat ditingkatkan. Masing-masing pasien akan bereaksi berbeda terhadapa masing masing hal tersebut. Cara individu bereaksi akan ditentukan oleh latar belakang dan karakteristik pribadi seperti umur, kecerdasan, perkembangan emosi, kepercayaan religius, dan pengalaman penyakit sebelumnya. Masing masing faktor tersebut akan menentukan bagaimana menghadapi keadaan darurat. Pengamatan yang cermat pada reaksi adaptif pasien bisa menghaslkan banyak petunjuk untuk pemahaman penuh pasien dan, sehingga, untuk komunikasi yang lebih

efektif. Beberapa pasien tertentu, sebagai contoh, akan takut pada pengasingan profesional kesehatan dimana mereka tergantung. Perilaku ini sering ditemui oleh profesional kesehatan, oleh mereka dihormati sebagai pasien yang baik. Hal ini tidak selalu bermanfaat karena dapat menghalangi upaya untuk menemukan gejala seperti nyeri dan dengan demikian dapat menghalangi upaya peningkatan pengobatan pasien. Ada hal yang tidak dikeluhkan pasien tapi sebenarnya dapat membantu untuk menyatakn penyakitnya. Hal ini dapat dibantu dengan menanyakan mengenai apa yang dirasakan oleh pasien tersebut. Contohya, jika ditanyakan kepada pasien bagaimana perasaannya dan mereka akan menjawab baik. Kemudian ketika ditanyakan kepada pasien jika memiliki keluhan lain dan mereka akan menjawab tidak. Mungkin akan lebih efektif untuk memperlihatkan minat yang tulus dengan mulai bercakap-cakap dengan pasien untuk sementara waktu dan kemudian menanyakan secara spesifik mengenai rasa sakit atau gelaja lainnya yang mungkin menghalangi proses pengobatan. Pasien lainnya mungkin merespon terhadap penyakitnya dengan menjadi sangat lemah dan menuntut banyak perhatian. Pasien ini akan sangat sulit untuk dihadapi karena mereka membutuhkan banyak waktu dan perhatian. Dalam penanganan pasien seperti ini, penting untuk memberikan dorongan atau semangat kepada mereka sebanyak mungkin, penghargaan yang positif harus diberikan ketika pasien telah menunjukkan kemandirian. Jadwal harian tenaga kesehatan yang ada akan memungkinkan beberapa pasien untuk mengetahui bahwa mereka akan dapat bergantung pada seseorang. Pasien yang bereaksi seperti musuh atau tidak dapat bekerja sama juga membutuhkan perhatian dan pengertian. Ketakutan menjadi orang yang lemah dan orang yang hidupnya bergantung pada orang lain seringkali menyebabkan timbulnya sifat ini. Jika pasien tipe ini terlibat dalam perumusan bagian dari pengobatannya dan berpartisipasi dalam pemilihan pengobatannya, pasien ini akan menginginkan jaminan dari keputusannya. Contohnya, jika pasien menolak untuk meminum obatnya, hal ini penting untuk mencari tahu alasannya dan kemudian diskusikan alasannya. Tugas disini adalah tidak untuk meyakinkan melainkan untuk memotivasi. Motivasi berasal dari dalam diri dan jarang dapat dikontrol secara eksternal. Jelaskan kepada pasien bagaimana obat dapat meningkatkan hasil akhir (perbaikan dari penyakit) sesuai keinginan pasien, tidak bagaimana pasien harus menggunakan obatnya dalam sudut pandang seorang apoteker. Dengan kata lain, adanya pergeseran perhatian utama apoteker kepada pasien dalam rangka untuk memotivasi mereka. Meskipun dalam satu hal sangat sulit untuk tidak marah atau membantah pasien yang sulit untuk bekerja sama,

ada makna terhadap perilaku tersebut yang harus dimengerti untuk menentukan komunikasi yang efektif. Ada pasien yang menjadi depresi dan menjadi pendiam atau menyendiri ketika menghadapi penyakitnya. Pasien tipe ini mungkin enggan untuk membicarakan mengenai penyakitnya dan mengenai apa yang pasien ini rasakan karena hal tersebut secara emosional menyakitkan bagi mereka. Singkatnya, kunjungan yang sering dan mengobrol dengan pasien akan membantu dalam memberitahu mereka bahwa ada orang yang sungguh-sungguh dan sangat peduli terhadap apa yang mereka rasakan. Hal ini pada akhirnya akan mendorong pasien tersebut untuk membuka diri dan dapat membicarakan mengenai apa yang dirasakan sebenarnya. Tetapi, seperti yang telah disebutkan, bahaya dalam membicarakan apa yang dirasakan oleh pasien dapat mengurangi kecemasan yang ditutupinya atau malah dapat membuat pasien tersebut semakin buruk atau cemas. Ketika sistem pertahanan terancam tanpa adanya koordinasi yang menguatkan dari diri, ketika seseorang menjadi sadar adanya perasaan tidak dapat diterima, adanya konflik, atau perjuangan, hal ini pasti berbahaya memicu timbulnya sebuah krisis. Kecemasan mungkin bisa menjadi tidak terkendali dan menghancurkan ego, bahkan dapat memicu timbulnya psikosis. Dalam hal ini apoteker bertugas untuk membantu pasien dalam mendapatkan kembali rasa kepercayaan diri pasien. Dalam beberapa tahun terakhir, budaya kita menjadi semakin sadar akan masalah unik dari pasien yang menderita penyakit kronis. Fase berturut-turut penolakan atau penerimaan dari kematian serta perubahan pola tingkah laku, telah diidentifikasi. Menyadari perilaku ini akan memungkinkan untuk memberikan kenyamanan dan dukungan kepada pasien yang sedang sekarat. Terkadang tenaga kesehatan lebih tidak merasa nyaman dan tidak menginginkan untuk membicarakan tentang kematian dibanding pasien. Mereka mungkin tanpa sadar menolak karena hanya sedikit yang dapat mereka katakan. Sesungguhnya, hanya seseorang seperti apoteker yang dapat mendengarkan pasien dan memberikan dorongan untuk memperoleh kenyamanan besar bagi pasien. Singkatnya, dengan menanggapi pertanyaan dari pasien, mengklarifikasi kesalahpahaman, mempersiapkan diri pasien untuk kemungkinan perasaan atau kejadian yang mungkin timbul, apoteker dapat berbuat banyak untuk mengurangi ketidakpastian dari penyakit. Apoteker juga dapat membantu pasien dalam memberikan dorongan secara emosional dan keyakinan yang tepat. Secara emosi, pasien membutuhkan dorongan yang dilakukan secara berulang. Apoteker adalah orang yang dapat memberikan pemahaman

tegas kepada pasien untuk menjadi seseorang yang penting dalam upaya membantu pasien untuk mengatasi penyakit.

Apoteker sebagai Seorang Konselor


Ada beberapa kekhawatiran intrinsik terkait dengan apoteker yang harus menanyai pasiennya untuk memperoleh riwayat pengobatannya. Karena pada kecemasan tingkat tinggi merupakan hal yang bertentangan untuk melakukan suatu komunikasi yang baik, apoteker membutuhkan pengertian yang memungkinkan atas penyebab kecemasan pasien dan bagaimana untuk mengatasi hal tersebut. Yang pertama pada kecemasan ini yaitu krisis identitas. Apoteker harus memahami dirinya sendiri pada sebuah peran ketika secara langsung terlibat pada perawatan pasien. Peran sebagai seorang konselor biasanya adalah tugas dokter. Hal ini menjadi tidak biasa bagi seorang apoteker ketika menjadi seorang konsulen, untuk meringankan penyakit pasien, atau bahkan ketika tenaga kesehatan lainnya yang menanyakan mengapa seorang apoteker butuh untuk menanyai atau memberikan konseling pada pasien?. Sebuah penjelasan yang menempatkan bahwa keahlian professional apoteker adalah dalam mendiskusikan resep pengobatan, dan juga produk obat bebas, harus cukup sebagai jawaban yang valid. Ketika ditempatkan pada posisi ini, hal ini penting untuk menginformasikan pada yang lainnya mengenai pernyataan tujuan dari konseling seorang apoteker. Efektifitas dan dampak dari konseling akan tergantung kepada penyampaian yang baik pada seberapa nyaman apoteker dalam perannya, kualitas akan gampang dievaluasi oleh semua pihak, terutama bagi pasien. Kegelisahan akan mengurangi salah satu efektivitas dan menurunkan kenyamanan pasien. Kecemasan lainnya yang harus dihadapi oleh apoteker dalam konseling adalah kurangnya pengalaman. Apoteker tidak dilatih untuk menjadi seorang konselor yang professional. Hal ini harus diingat, bagaimana pun, sangat sedikit individu yang mulai sebagai konselor yang memiliki budi bahasa yang baik. Dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainnya membuat kesalahan kecil. Pada waktu tertentu ada beberapa pertanyaan penting yang terlupakan atau hal penting yang tidak dicatat. Beberapa pasien merupakan individu yang unik dan memiliki perbedaan kepribadian, hal ini akan muncul sebagai tantangan ketika dimulainya setiap konseling yang baru. Ikuti salah satu prinsip

konseling yang benar, maka kemahiran dan teknik akan meningkat seiring dengan meningkatnya penglaman. Kecemasan terakhir yang harus diperhatikan adalah memutuskan dengan yakin bahwa semua informasi telah diperoleh. Pada beberapa poin dalam konseling harus disimpulkan bahwa informasi yang cukup telah diperoleh untuk mengakhiri percakapan. Tujuan dari konseling adalah untuk memperoleh secara spesifik dan memilih masalah utama dari informasi terkait dengan pengobatan pasien. Ketika hal ini tercapai, tidak perlu mengkhawatirkan akhir dari proses konseling.

Pendekatan pada Pasien


Cara dari pendekatan konseling pada pasien menentukan besarnya ukuran kesuksesan atau kegagalan dalam konseling. Untuk memastikan bahwa konseling berjalan dengan lancar, apoteker disarankan untuk meluangkan sejenak dalam persiapan mental dalam pertukaran konseling berikutnya. Memastikan pertanyaan yang berurut digunakan dalam penyelidikan ilmiah yang nyata dan membangun kewaspadaan untuk mengamati komunikasi nonverbal pasien akan meningkatkan secara luas pengalaman pribadi dan kualitas utama dari konseling. Apoteker harusnya mempersiapkan untuk berurusan dengan beberapa bentuk personal atau perilaku yang aneh pada reaksi pasien terhadap penyakitnya. Pasien mungkin ada yang mengetahui semuanya, mencari saran, cemas, pemarah, musuh, merasa bersalah, depresi, bunuh diri, menjengkelkan, anti-semitis, pengeluh, agresif, profokatif, pemalu, negatif, pikun atau mungkin menampilkan beberapa suasana hati, emosi atau perilaku yang mungkin mempengaruhi reaksi apoteker kepada pasien dan pada akhirnya mempengaruhi kualitas konseling. Merupakan hal yang bijaksana untuk mengetahui hal mengenai pasien sebelum masuk ruang atau melakukan konsultasi yang kurang formal atau ruangan konseling. Tujuan ini paling mudah dicapai di rumah sakit, tetapi jarang hal tersebut memungkinkan saat pertemuan pertama pada ruang konsultasi. Pada situasi rumah sakit, riwayat pengobatan telah diperoleh oleh dokter dan dicatat dalam bagan. Sebagai tambahan, perawat mungkin telah melakukan kontak pada pasien secara langsung antarpribadi. Rekam medik dan beberapa diskusi sebelumnya

dengan tenaga kesehatan lainnya yang terlibat dalam perawatan pasien yang telah digali merupakan sumber informasi yang sangat penting. Status fisik pasien merupakan hal pertama yang ditentukan. Apakah pasien sadar, kooperatif, dalam keadaan kesakitan atau dalam keadaan kesulitan, dapat berfikir dengan jelas atau tidak komunikatif, apakah keadaan darurat atau elektif masuk. Hal tersebut dapat sia-sia untuk melakukan konseling pada pasien yang dalam keadaan nyeri akut, tidak kooperatif, sekarat atau setengah koma. Jika status keadaan pasien dapat menerima konseling dilakukan dengan benar, hal ini akan membantu untuk mengetahui kemungkinan diagnosis. Informasi ini akan memberikan indeks umum dari beberapa kemungkinan tingkat keparahan penyakit, prosedur diagnosa yang akan diikuti dan juga prognosis. Aspek emosi dan tingkah laku pasien terhadap penyakitnya telah disebutkan. Salah satunya dengan mencurigai pasien yang mengkhawatirkan hal pasien. Riwayat sosial pasien dan riwayat pekerjaan pasien harusnya perlu dicatat, karena proses konseling akan berbeda tergantung pada status pasien, apakah seorang pimpinan universitas atau hanya seorang supir taksi. Hal ini baik untuk mengkomunikasikan pada pasien sesuai dengan tingkat pendidikannya. Penggunaan bahasa yang seimbang dan tidak menggunakan istilah yang tidak dimengerti merupakan hal yang penting. Setelah mengetahui informasi umum pasien, apoteker siap untuk menemui pasien dan memulai proses konseling. Ada aturan yang lebih baik yang dapat diikuti ketika apoteker bertemu pertama kalinya dengan pasien dengan tidak melupakan memperkenalkan dirinya kepada pasien. Sikap yang bermartabat, tidak memperlihatkan kesombongan, bersikap tenang akan membantu proses penerimaan pasien dalam konseling. Setelah konseling berjalan sekitar lima menit, sebaiknya perlu diketahui apakah pasien dalam keadaan tenang, cemas, depresi atau tidak kooperatif. Hal yang penting untuk mengetahui bagaimana pasien merespon pertanyaan sehingga dapat mengetahui pendekatan yang dapat dilakukan. Jika apoteker telah memiliki persiapan pertanyaan yang cukup untuk mengumpulkan data yang tepat, proses konseling dapat dimulai. tidak pasti, mengkhawatirkan rasa nyerinya, ketidak mampuan, dalam keadaan sekarat hanya dengan sifat atau pembawaan dari kondisis

Penting bagi apoteker untuk teliti. Beberapa komunikasi pasien dan cara menunjukkan emosinya dengan cara nonverbal. Penglihatan yang kosong, tidak perhatian, kurang konsentrasi, atau pasien mengalami gangguan selama konseling secara signifikan berhubungan dengan emosi dan perilakunya terhadap penyakit yang diderita. Ada beberapa petunjuk lain, seperti postur tubuh, nada bicara dan perubahan suara, helaan nafas, nafas yang dalam, ekspresi wajah, gesture atau hanya diam saja. Cara berpakaian mungkin dapat memberikan gambaran suasana hati atau emosi pasien, terutama jika kebersihan yang buruk dan pasien terlihat acak-acakan. Intensitas cahaya dalam ruangan pasien, adanya kartu, bunga, televisi, radio dan pengunjung akan membantu indikator dalam komunikasi nonverbal. Jika beberapa komunikasi nonverbal ditemukan, atau merasakan bahwa hubungan interpersonal tidak berjalan dengan baik, sebaiknya sampaikan kepada pihak tenaga kesehatan lainnya yang terkait dengan proses perawatan pasien. Konsultasi pasien dengan tenaga kesehatan lain tersebut perlu diketahui untuk menanyakan jika memiliki pengalaman yang sama terhadap pasien tersebut. Hal ini dapat mengungkapkan informasi penting yang bermanfaat kepada setiap orang yang akan berurusan dengan pasien kedepannya.

Konseling
Konseling dapat didefinisikan sebagai percakapan serius dengan tujuan atau sasaran yang pasti. Sasarannya yaitu untuk memperoleh riwayat pengobatan yang lengkap pada pasien dan keuntungan bagi pasien dalam beberapa hal. Cara utama untuk mencapai sasaran ini adalah komunikasi yang efektif. Agar konseling berjalan dengan lancar, bagaimanapun, harus memahami salah satu struktur dan dimensi berikut: 1. Struktur dalam konseling Dalam konseling, seseorang dapat menggunakan salah satu pendekatan namun untuk tujuan pembelajaran akan membantu untuk menjadi agak dogmatis dan menampilkan tiga konsep dasar yang penting dalam konseling, yaitu:
a.

Konseling harus berfungsi setidaknya dalam dua dimensi utama yaitu

penyelidikan ilmiah dan pengalaman interpersonal. Apoteker harus menyiapkan dengan baik untuk penyelidikan ilmiah melalui pendidikannya selama kuliah, laboratorium dan dalam pelajaran khusus lainnya. Sayangnya, terlalu sering yang

tidak siap untuk fungsi dimensi yang menggambarkan sebagai pengalaman interpersonal. Hal ini, bagaimanapun, sangat penting dan tidak diragukan mempengaruhi kualitas data yang diperoleh dari pasien. Ada kemungkinan untuk ahli dalam bidang ilmiah, namun jika apoteker tidak sensitif terhadap sifat pasien atau tidak mampu untuk berurusan secara manusiawi, penyelidikan ilmiah dan pengumpulan data tidak akan menggambarkan keahliannya yang ilmiah. Banyak pengalaman selama bekerja sama dengan pasien di rumah sakit dan kemudian ketika mempresentasikan pasien kepada konsultan atau professor, akan merasa malu ketika bertemu professor yang memperoleh perbedaan atau setidaknya memperoleh riwayat yang lengkap. Sering, tentu saja, indikasi ini menunjukkan bahwa pasien tidak dapat diandalkan, tetapi dalam banyak kesempatan menunjukkan respon pasien terhadap konsultan klinis yang ahli dalam area hubungan interpersonal.
b.

Konsep kedua adalah bahwa konseling harus memiliki setidaknya dua

sasaran utama, yaitu apoteker dan pasien. Keahlian ilmiah harus cukup untuk mengtahui informasi yang spesifik sehingga dapat memperoleh rekomendasi yang membangun untuk pasien dan dokter. Sasaran kedua yang begitu jelas dan sederhana adalah konseling harus berguna bagi pasien, pada akhir konseling pasien harus merasakan bahwa telah menghabiskan waktu yang bermanfaat dan selama konseling pasien talah memperoleh sesuatu yang bermanfaat.
c.

Konsep ketiga adalah apoteker dapat dilihat dalam cara terstruktur yang

memiliki fase awal, fase menengah dan fase akhir. 2. Memulai proses konseling Fase pertama apoteker biasanya terlibat dalam kontak awal dengan pasien. Dalam kontak pertama banyak yang dapat dicapai. Setelah pengenalan, jelaskan kepada pasien mengenai tujuan dari konseling dan atas saran dari dokter. Pendidikan dan latar belakang status ekonomi mungkin dapat membuat proses konseling berjalan sulit karena apoteker ingin mengetahui dan mengapa. Hal penting untuk kesuksesan proses konseling untuk menjelaskan kepada pasien sejelas mungkin megenai tujuan konseling. Jika tidak, informasi yang diperoleh tidak dapat diandalkan. Terus terang, apoteker harus merasakan bahwa dirinya sebagai sudut pandang yang harus dihormati, sehingga apoteker akan memberikan informasi yang benar dan pertanyaan masih bersangkutan dan tidak bersifat kurang sopan.

Sebagai fase awal, seseorang harus mengobservasi status fisik dari seorang pasien. Apakah terdapat IV? Apakah ada yang sakit? Bagaimana kondisi fisiknya ? Sebagai tambahan, status emosional pasien harus dievaluasi. Banyak yang bisa dipelajari melalui observasi dari komunikasi nonverbal dengan pasien, ekpsresi wajah, postur, bahasa tubuh, dan modulasi vocal/suara. Nada suara, sebagai contoh, bisa mengkomunikasikan secara lebih jujur tentang apa yang dirasa dibanding apa yang diucapkan (berbicaralah sehingga saya bisa melihat anda, kata Socrates). Jika seorang apoteker merupakan seorang yang lihai, pesan yang tersembunyi yang mengungkapkan kondisi emosional pasien yang sebenarnya, dapat dideteksi. Apakah pasien tersebut pendiam? Kesal? Senang dengan wawancara ini? Depresi? Gelisah? Jika pasien cemas atau gelisah, perlu sedikit waktu untuk mengurangi kecemasan pasien, karena tingkat kecemasan yang tinggi akan berpengaruh pada keragu-raguan terhadap informasi yang diterima dari pasien. Jika pasien depresi, bisa dilakukan 3 kali interview selama 10 menit, dari pada 1 kali interview selama 30 menit. Ini adalah kenyataan bahwa pasien yang depresi memiliki kesulitan dalam berkonsentrasi dan kurang memiliki perhatian penuh dan jika seseorang bersikeras untuk melakukan wawancara selama 30 menit penuh, maka kualitas informasi yang didapat dari pasien akan semakin memburuk seiring berjalannya waktu. Selama fase awal ini, kecerdasan dari pasien harus dievaluasi serta kemampuan untuk memberikan sejarah yang reliabel. Gaya hidup juga penting. Apakah pasien ini merupakan tipe orang yang terbuka dan suka berbicara, tertutup, pasif dan pemalu? Jika pasien adalah tipe yang tertutup, maka apoteker harus berusaha keras untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Jadi kesimpulannya, pikiran pasien, emosi, dan perilaku dinilai. Seseorang harus berhati-hati terhadap reaksi pasien yang berhubungan dengan apoteker dan reaksi emosional dari pasien tersebut. Jika pengalaman di masa lalu telah dimiliki oleh dokter dan gambaran kekuasaan, maka pasien akan memaparkan semua yang bersifat positif. Jika, bagaimanapun, terdapat pengalaman buruk di masa lalu, pasien akan bereaksi negatif. Jika apoteker mengingatkan pasien tentang seseorang yang menyulitkan dimasa lalu, reaksi negative akan berkembang yang mengganggu usaha untuk membangun hubungan yang baik. Di akhir fase awal konseling ini, seseorang harus membuat hubungan baik dengan pasien sebagai seornag manusia. Pada poin ini seseorang sudah bisa masuk ke fase menengah yaitu konseling klinis. 3. Fase Menengah dari Konseling

Secara umum, sebagian besar dari konseling fase menengah ini melibatkan ilmu yang berkaitan dengan inkuiri (substansi dari pengetahuan inkuiri akan dibahas selanjutnya). Bagaimanapun seseorang harus melanjutkan mengevaluasi pasien secara interpersonal dan membuat penilaian sebagai seseorang yang melihat kesesuaian dalam gaya konseling ini.
4. Mengakhiri Konseling

Ketika inkuiri sudah terselesaikan, maka fase akhir pun dilakukan. Hal ini akan diberitahukan kepada pasien dengan cara mengingatkan pasien bahwa waktu hanya tinggal beberapa menit lagi. Pada saat ini pasien diperbolehkan untuk berkomentar tentang apa yang mereka pikir penting dan luput pada saat konseling berlangsung. Hal ini sering bisa menjadi poin penting diperolehnya informasi berharga dari para pasien. Para apoteker berpatokan pada panduan pertanyaan dan respon pasien akan sering kehilangan poin penting. Beberapa menit harus diambil untuk menyimpulkan kesan dan membuat rekomendasi, jika memungkinkinkan untuk diberikan kepada pasien. Pada poin ini dapat memberi manfaat kepada pasien. Jika hal ini dapat dilakukan, maka pasien akan berpikir bahwa waktu yang telah dihabiskan untuk wawancara telah memberi hasil yang baik bagi mereka. Jika sebuah diagnosa telah dipresentasikan, pasien diperbolehkan untuk mengekspresikan perasaan mereka tentang hal ini, dan apoteker pun harus meresponnya. Setelah semua dilakukan, maka konseling dapat diakhiri. Satu hal yang harus ditambahkan jika mungkin dan jika waktu mencukupi adalah, para pasien tetap harus diperhatikan sebagai seorang manusia. Hal ini bisa dilakukan dengan mengatakan pada pasien bahwa lain waktu apoteker akan melihat lagi apa yang dilakukan pasien.

Teknik Konseling Khusus


Selama fase awal dan hubungan baik yang terbangun dapat memulai percakapan dengan baik, maka ancaman tidak akan terlihat. Perkenalan yang positif dan jelas adalah penting, sehingga pasien dapat mengetahui nama dari apoteker dan tujuan konseling. Apoteker pun harus mengetahui cara pengucapan yang benar dari nama pasien tersebut. Kebebasan untuk menggunakan nama kecil dari pasien seharusnya tidak digunakan jika tanpa adanya permintaan dari pasien. Kesopanan dan respek yang penuh selalu menjadi hal yang sangat penting. Dengan mengatakan apa yang anda ketahui

tentang pasien sering memberikan kemudahan dalam diskusi tentang apa yang disenangi pasien, hal yang saling disukai, olahraga, cuaca, acara yang sedang berlangsung atau percakapan ringan lain yang memfasilitasi terbentuknya suasana santai dan hubungan baik. Fase menengah dari pengetahuan inkuiri membutuhkan tidak hanya rencana pemeriksaan melalui pertanyaan, tapi juga pilihan pertanyaan yang akan ditanyakan. Pertanyaan yang jelas akan memerikan keleluasaan. Hal ini membuat pasien merasa nyaman untuk berbicara, dan memberi kesempatan pada apoteker mendengar secara cerdik tentang hal-hal penting. ceritakan pada saya Ceritakan lebih lanjut pada saya, anda menyebutkan bahwa, seperti apa itu apa pendapat anda, apa yang bisa anda ucapkan kembali, apa yang anda catat tentang hal itu merupakan contoh kalimat pembuka dari pertanyaan yang jelas. Menfasilitasi komentar dengan cara apoteker bisa menyemangati pasien untuk menceritakan tanpa harus menyebutkan tempat atau topic pembicaraan. Contohnya dengan Apa yang terjadi kemudian, Bagaimana dengan hal itu, teruskan, ya saya mengerti, apakah itu benar, apa yang saudara maksud, saya belum mengerti, tadi anda menyebutkan Teknik pengulangan dan refleksi pada kondisi ini cukup baik untuk dilakukan. Hal itu mirip dengan cara memfasilitasi komentar dengan mendorong pasien meneruskan cerita tentang apa yang sedang dibahas. Contohnya sakit itu terjadi pada malam hari.terjadi pada malam hari, hidung saya selalu tersumbatselalu tersumbat. Pertanyaan langsung mungkin bisa dilakukan sebagai cara lain; bagaimanapun semuanya berguna untuk memperoleh informasi detail seperti tanggal, waktu dan data demografi penting dari pasien tersebut. Dalam sebuah konseling yang sukses, pasien bisa diajak berdiskusi dan apoteker tidak ragu terhadap pertanyaan yang telah disusun secara sistematis. Di akhir diskusi pada fase menengah ini, bisa jadi terdapat masalah yang belum bisa dijelaskan sepenuhnya oleh pasien. Apoteker harus menggunakan kesempatan ini untuk mencari tahu yang belum jelas tersebut dengan cara yang tidak membuat pasien merasa terancam. Akan sangat berguna dengan mengulang pertanyaan dengan kata-kata Apakah tadi anda mengatakan, Apakah tadi anda bermaksud, tadi anda mengatakan bahwa, saya hanya ingin memastikan, saya mengerti saat anda mengatakan. Beberapa pertanyaan ini dapat dilakukan dengan menjaga kesopanan sehingga pasien merasa bahwa ada masalah dengan validitas dan reliabilitas jawaban.

Fase akhir dari wawancara adalah penting, meskipun sejumlah besar pengetahuan inkuiri telah terpenuhi. Baik halnya jika kesimpulan dinyatakan secara lugas, terutama tentang informasi penting yang diperoleh dari hasil wawancara. Hal ini merupakan cara yang baik jika dilakukan dengan memberi kesempatan kepada pasien untuk mengkonfirmasi keterangan jika ada yang perlu ditambahkan atau dihilangkan. Hal ini juga memberi pasien perlakuan yang sopan. Hal ini merupakan cara yang baik untuk menceritakan apa yang diperoleh dari hasil wawancara kepada pasien, tentang aturan yang dipakai dalam wawancara ini. Hal yang bijaksana ketika pasien tau nama anda dan dimana bisa menghubungi anda. Bahasa tubuh seperti berjabat tangan akan membuat suasana menjadi lebih baik. Lebih baik jika membuat catatan selama konseling, karena hal ini akan memberi kesan bahwa apoteker menghargai setiap keterangan yang diberikan pasien. Terlalu banyak catatan akan membuat pasien terganggu konsentrasinya, merusak dinamika kepribadian, dan memberikan peluang terjadinya hal yang melenceng dari konseling. Apoteker pemula harus membawa catatan yang dibutuhkan untuk mencapai keakuratan dan berjuang untuk meningkatkan kemampuan di masa yang akan datang.

Riwayat Pengobatan
Riwayat pengobatan penting terhadap proses pengumpulan informasi pasien secara keseluruhan. Semua prinsip konseling harus digunakan. Pengetahuan inkuiri untuk sejarah pengobatan adalah hal khusus selama bertujuan untuk mengembangkan daftar pengobatan pasien saat ini dan masa lalu, untuk menentukan jika pasien memiliki alergi terhadap obat-obatan atau gejala yang merugikan dari jenis obat-obatan tertentu. Dengan persiapan sejarah pengobatan yang baik, apoteker dapat mempelajari resep yang biasa diberikan pada pasien sebagaimana keterangan yang diberikan pasien tentang obatobatan dan cara hidupnya selama ini. Pertanyaan langsung dan tidak langsung yang dilakukan sekaligus adalah yang paling efektif untuk sejarah pengobatan, sebagai contoh: Apakah anda bisa meminum aspirin? Seberapa sering anda mengkonsumsinya? Merk apa yang biasa anda beli? Apakah memberikan efek samping? Apakah anda sering sakit kepala? Apakah anda minum obat untuk menghilangkan sakit kepala, atau ada cara lain?

Ada banyak bentuk bertanyaan yang bisa dijadikan sebagai referensi. Beberapa pertanyaan yang bisa dipakai untuk mendapatkan informasi secara menyeluruh. Apoteker harus memilih pertanyaan dan format yang efisien terhadap waktu dan memberikan kenyamanan baagi pasien dan apoteker. Komponen dari pengetahuan inkuiri meliputi ketepatan demografi pasien, seperti nama lengkap, alamat, umur dan lain-lain. Mirip dengan wawancara medis, hal ini penting untuk membangun sejarah pengobatan pasien di masa lalu. Beberapa pasien akan terus membawa obat-obatan lama yang mereka konsumsi; sebagian lainnya hanya meminum saat dibutuhkan berupa pil besar bewarna putih dan pil kecil berwarna merah jambu. Dalam pertanyaan tidak langsung tentang pengobatan di masa lalu, hal ini dapat menentukan apakah pasien tau tentang obat yang mereka konsumsi dan efek yang mereka rasakan saat mengkonsmsi obat tersebut. Menyelipkan pertanyaan terselubung yang mengindikasikan penyempurnaan juga sangat berguna, seperti : Apakah anda merasa bahwa anda selalu menggunakan obat secara teratur? ,Bagaimana anda bisa sering salah dosis?,Apa alasan anda?. Dari beberapa masalah yang penting untuk mengembangkan sejarah pengobatan yang berkaitan dengan efektifitas dan efek samping. Apakah obat-obatan ini membantu saudara?, Bagaimana?, Apakah ada efek samping yang anda rasakan?,Apa saja efek samping tersebut?. Beberapa pasien tidak mempertimbangkan yang mereka konsumsi itu sebagai obat-obatan dan juga tidak mempertimbangkan semua obat-obatan selama wawancara. Apoteker harus menanyakan pertanyaan langsung berupa:Apa yang anda minum jika sedang flu, demam, sembelit, dan sakit perut? Untuk menentukan apakah pasien alergi terhadap suatu jenis obat tertentu, maka pertanyan langsung dan tidak langsung harus ditanyakan. Setelah pasien menerangkan alergi yang mereka rasakan dengan bahasanya sendiri, dan reaksi saat terjadi alergi (seperti: ruam, gatal-gatal, pusing, panas dingin dan sulit untuk bernafas). Terkadang perlu untuk menelisik daftar obat-obatan yang memiliki potensi alergi yang tinggi untuk digali lebih lanjut, seperti penicillin, aspirin, sulfas, vaccines, narkotik dan antibiotik lainnya. Wilayah lain yang diteliti dalam pengetahuan inkuiri termasuk racun, kimia, obat umum, seperti tembakau, alcohol dan akhirnya pertanyaan yang berpengaruh terhadap kemampuan pasien untuk menggunakan obat tersebut. Contoh pertanyaannya adalah :Apakah anda pernah mengkonsumsi obat milik orang lain?, Apakah anda pernah memberikan obat yang anda miliki untuk dikonsumsi oleh orang lain?,DImana

anda menyimpan obat-obatan di rumah?,Apakah anda memiliki system pengingat khusus untuk mengingatkan anda dalam mengkonsumsi obat?,Apakah anda selalu membawa obat-obatan bersama anda?,Siapakah dokter langganan anda?,Seberapa sering anda bertemu dengannya?, Kapan terakhir kali anda bertemu dengannya?,Apakah anda memiliki masalah saat mengkonsumsi obat (Jarak yang jauh)?,Apa yang anda lakukan jika kehabisan obat?,Apakah anda memiliki asuransi jaminan pengobatan?. Apoteker harus cukup fleksibel dalam memperoleh informasi dalam berbagai situasi dan lingkungan yang berbeda. Terlalu sering dalam rancangan farmasi, kualitas wawancara pengobatan terhambat oleh factor waktu, kurangnya privasi, atau situasi yang mengganggu lainnya. Wawancara yang singkat, dilanjutkan dengan percakapan telepon, atau mengatur waktu khusus untuk melanjutkan wawancara selanjutnya adalah cara yang cukup baik untuk dilakukan dan sering berhasil.

Pelaksanaan Konseling
Kajian dilanjutkan untuk mengindikasi kesesuaian pasien dengan resep terapi yang diberikan tidak terlalu baik. Satu alasan ketidaksesuaian pasien adalah karena mereka tidak memahami penyakit yang diderita dan efek pengobatan yang dapat mereka rasakan. Ahli farmasi harus berusaha memastikan bahwa pasien memiliki pemahaman dan benar-benar membutuhkan pengobatan. Waktu yang sesuai untuk ahli farmasi melakukan diskusi tentang pengobatan dan menanamkan pentingnya kecocokan selama konseling berlangsung. Pelaksanaan konseling tidak terbatas hanya dilakukan di ruangan rumah sakit, konseling juga bisa dilakukan di tempat sesuai dengan kesepakatan pasien dan ahli farmasi atau dalam lingkungan farmasi. Ruang lingkup pelaksanaan konseling adalah salah satu dasar pendidikan dan instruksi. Pelaksanaan komunikasi dalam suatu kesempatan waktu untuk berdikusi dengan pasien tentang apa yang terjadi sesuai dengan penyakit mereka. Diskusi harus mencakup manfaat yang menguntungkan untuk pengobatan yang akan dilanjutkan di masa yang akan datang. Pentingnya pengobatan harus secara terus menerus ditekankan dan dijelaskan termasuk tata cara pengobatan secara keseluruhan, terutama tentang kapan

dan bagaimana cara mengkonsumsi obat, apa efek samping, dan jenis obat yang kontradiktif. Pelaksanaan konseling yang berhasil harus menghasilkan pasien dengan tingkat kepercayaan diri dan kepercayaan bahwa apoteker adalah orang yang peduli dengan penyakitnya. Pasien seharusnya memiliki pemahaman tentang pengobatan dan pentingnya pengobatan tersebut. Jalur komunikai seharusnya dibangun, sehingga pasien dapat yakin bahwa ada perhatian dari seseorang yang memahami masalah obat-obatan jika terjadi kesalahan atau pertanyaan yang menjelaskan obat-obatan dan kebutuhan pengobatan di masa yang akan datang.

Anda mungkin juga menyukai