Fisiologi kortikosteroid

Toras parlindungan

lalu bergerak menuju nukleus dan berikatan dg kromatin.2. MEKANISME KERJA • Kortikosteroid bekerja dg mempengaruhi kecepatan sintesis protein. kmd bereaksi dg reseptor protein yg spesifik dlm sitoplasma sel jaringan dan membentuk kompleks reseptor-steroid. hormon ini bersifat katabolik. . Kompleks ini mengalami perubahan konformasi. Molekul hormon memasuki sel jaringan melalui membran plasma secara difusi pasif di jaringan target. misalnya sel limfoid dan fibroblas. hormon steroid merangsang transkripsi dan sintesis protein spesifik: pd jaringan lain.3. • pd beberapa jaringan. lkatan ini menstimulasi transkripsi RNA dan sintesis protein spesifik. misalnya hepar. Induksi sintesis protein ini merpkan perantara efek fisiologik steroid.

maka dikatakan bhw korteks adrenal berfungsi homeostatik. umumnya potensi sediaan alamiah maupun yg sintetik. FAAL DAN FARMAKODINAMIK • Kortikosteroid mempengaruhi metabolisme kh. otot lurik. dan mempengaruhi juga fungsi sistem kardiovaskular. protein dan lemak. artinya: penting bagi organisme utk dapat mempertahankan diri dlm menghadapi perubahan lingkungan. .4.2. ditentukan oleh besarnya efek retensi natrium dan penyimpanan glikogen di hepar atau besarnya khasiat anti-inflamasinya. • Meskipun kortikosteroid mempunyai berbagai macam aktivitas biologik. sistem saraf dan organ lain. ginjal. Karena fungsi kortikosteroid penting utk kelangsungan hidup organisme.

• Efek yg lebih cepat timbulnya ialah pengaruh hormon thd mitokondria hepar. • Metabolisme karbohidrat dan protein. • dlm hepar glukokortikoid merangsang sintesis enzim yg berperanan dlm proses glukoneogenesis dan metabolisme asam amino.6-difosfatase. fruktosa-1. dan glukosa 6-fosfatase. di mana sintesis piruvat karboksilase sbg katalisator pembentukan oksaloasetat dipercepat. antara lain terjadi peningkatan enzim fosfoenolpiruvat-karboksikinase. tetapi membutuhkan waktu beberapa jam. Pembentukan oksaloasetat ini merpkan reaksi permulaan sintesis glukosa dr piruvat.Pengaruh kortikosteroid thd fungsi dan organ tubuh adalah sbg berikut : • METABOLISME. yg mengkatalisis sintesis glukosa. Rangsangan sintesis enzim ini tdk timbul dg segera. .

• Metabolisme karbohidrat dan protein . . Peninggian penyimpanan glikogen di hepar setelah pemberlan glukokortikoid diduga akibat aktivasi glikogen sintetase di hepar.. • Penggunaan glukokortikoid utk jangka lama dapat menyebabkan peninggian glukagon plasma yg dapat merangsang glukoneogenesis. Keadaan ini dapat pula merpkan salah satu penyebab bertambahnya sintesis glukosa..

• Metabolisme lemak. terjadi gangguan distribusi lemak tubuh yg khas. sebaliknya lemak di daerah ekstremitas akan menghilang. Sel lemak di ekstremitas bila dibandingkan dg sel lemaktubuh. dan lebih sensitif thd efek lipolitik hormon lain yg diinduksi oleh glukokortikoid. kurang sensitif thd insulin. • pd penggunaan glukokortikoid dosis besar jangka panjang atau pd sindrom Cushing. yg kadarnya meningkat akibat hiperglikemia yg ditimbulkan oleh glukokortikoid. . Lemak akan terkumpul secara berlebihan pd depot lemak. leher bagian belakang {buffalo hump). • Salah satu hipotesis yg menerangkan keadaan di atas ialah sbg berikut: jaringan adiposa yg mengalami hipertroti pd sindroma Cushing bereaksi thd efek lipogenik dan antilipolitik insulin. daerah supraklavikula dan juga di muka (moon face).

5%) akan direabsorpsi oleh tubuli ginjal: jumlah ini diperlukan utk mempertahankan keseimbangan Na* dan ini identik dg 24. pd hipokortisisme terjadi keadaan sebaliknya: hiponatremia. hampir seluruh Na+ yg difiltrasi glomerulus (± 99. hipokalemia. • Mineralokortikoid dapat meningkatkan reabsorpsi ion Na serta ekskresi K+ dan H+ di tubuli distal.KESEIMBANGAN AIR DAN ELEKTROLIT. pd hiperkortisisme terjadi : retensi Na yg disertai ekspansi volume cairan ekstrasel. dan alkalosis.000 mEq Na*. dg dasar mekanisme inilah. volume cairan ekstrasel berkurang dan hidrasi sel. . hiperkalemia. • Terjadinya pengeluaran Na* yg berlebihan melalui ginjal pd insufisiensi adrenal dapat diterangkan sbg benkut : pd keadaan normal dg diet normal.

• Desoksikortikosteron merpkan mineralokortikoid yg pertama disintesis dan digunakan utk pengobatan pasien penyakit Addison. . • Dosis tunggal dapat meningkatkan reabsorpsi Na+ dan ekskresi K+ Sesudah pemberian beberapa hari pd hewan utuh atau hewan yg di adrenalektomi. efek retensi Na+ lenyap dan terjadi keseimbangan Na+ kembali. tetapi K+ tetap diekskresi walaupun terjadi hipokalemia. Hormon ini hampir tdk mempunyai efek glukokortikoid. Secara kualitatif pengaruhnya thd elektrolit sama dg aldosteron tetapi secara kuantitatif potensinya hanya 1/30 aldosteron. Pemberian sediaan ini dlm dosis besar dan terus menerus akan menimbulkan polidipsia dan poliuria.

• Hiperkortisisme akibat sekresi kortisol berlebihan atau karena pemberian kortisol dosis besar terus menerus. Kelemahan otot yg timbul pd keadaan ini disebabkan oleh berkurangnya masa jaringan otot. hal ini mungkin disebabkan karena hormon tersebut dapat menambah kecepatan filtrasi glomeruli. sesekali menyebabkan alkalosis hipoklorernik yg tdk berat. Berlawanan dg aldosteron. Keadaan ini menunjukkan bhw efek kortisol thd keseimbangan air dan elektrolit tdk sekuat aldosteron. . oleh karena itu penggunaan kortisol datam waktu singkat biasanya tdk menambah sekresi asam. Selain itu kortisol juga dapat meningkatkan sekresi tubuli ginjal.• Kortisol dapat menyebabkan retensi Na+ dan meningkatkan ekskresi K+. tetapi efek ini jauh lebih kecil drpd aldosteron. jadi bukan karena kehilangan K+. kortisol pd keadaan tertentu dapat meningkatkan ekskresi Na+.

Bila keadaan ini didiarnkan akan timbul hipotensi dan akhirnya kolaps kardiovaskular. jantung mengecil dan curah jantung menurun. • Pengaruh tdk langsung ialah thd keseimbangan air dan elektrolit.• SISTEM KARDIOVASKULAR. • Gangguan sistem kardiovaskular yg timbul pd insufisiensi adrenal atau pd hiperkortisisme sebenarnya sangat kompleks dan belum semua diketahui dg jelas. pembuluh darah kecil akan kehilangan tonus vasomotornya. respons vasomotor pembuluh darah kecil berkurang. terjadi pengurangan volume yg diikuti peninggian viskositas darah. . Kortikosteroid dapat mempengaruhi sistem kardiovaskular secara langsung maupun tdk langsung. • Defisiensi kortikosteroid dapat menyebabkan hal-hal sbg berikut: permeabilitas dinding kapiler meninggi. arteriol dan miokard. pd hewan yg di adrenalektomi. misalnya pd hipokortisisme. Pengaruh langsung steroid thd sistem kardiovaskular antara lain pd kapiler.

Tetapi apabila hormon ini berlebihan. • pd insufisiensi adrenal atau pasien penyakit Addison. Disfungsi otot ini terutama disebabkan gangguan sirkulasi. Desoksikortikosteron kurang efektif utk memperbaiki fungsi otot. . dibutuhkan kortikosteroid dlm jumlah cukup. sedangkan gangguan metabolisme karbohidrat dan keseimbangan elektrolit merpkan faktor yg tdk besar peranannya. Hal ini terbukti dg menetapnya gangguan fungsi otot meskipun kadar efektrolit dan glukosa normal. Pemberian transtusi atau kortisol dapat mengembalikan kapasitas kerja otot. pd keadaan ini tdk terjadi kerusakan otot maupun sambungan saraf otot.• OTOT RANGKA. terjadi penurunan kapasitas kerja otot rangka shg mudah timbul keluhan cepat lelah dan lemah. timbul gangguan fungsi otot rangka tersebut. • utk mempertahankan otot rangka agar dapat berfungsi dg baik.

depresi dan cepat tersinggung bahkan psikosis. sedangkan desoksikortikosteron tdk efektif. Gejata tersebut dapat diatasi degan kortisol. EEG dan kepekaan otak pd mereka yg sedang menggunakan kortikosteroid terutama utk waktu lama atau pd pasien penyakit Addison. • Penderita penyakit Addison dapat menunjukkan gejala apatis. sistem sirkulasi dan keseimbangan elektrolit. . Pengaruh tdk langsung disebabkan efeknya pd metabolisme karbohidrat. • Kortikosteroid dapat mempengaruhi susunan saraf pusat baik secara tdk langsung maupun langsung. Adanya efek steroid pd susunan saraf pusat ini dapat dilihat dr timbulnya perubahan mood.• SUSUNAN SARAF PUSAT. meskipun hal yg terakhir ini belum dapat dipastikan. tingkah laku.

. • Glukokortikoid juga dapat meningkatkan jumlah leukosit polimortonukiear. eosinofil. Sebaliknya jumlah sel limfosit. normositik yg ringan.• ELEMEN PEMBENTUK DARAH. hal ini terbukti dr seringnya timbul polisitemia pd sindrom Cushing. Penurunan limfosit dlm sirkulasi dapat mencapai 70% setelah pemberian dosis tunggal kortisol. monosit dan basofil dlm darah dapat menurun sesudah pemberian glukokortikoid. monosit dan eosinofil tampaknya lebih banyak disebabkan karena redistribusi sel drpd akibat destruksi sel. hal ini terjadi 4 sampai 6 jam sesudah pemberian dan berlangsung kira-kira 24 jam. dan monosit sampai lebih dr 90%. karena mempercepat masuknya sel-sel tersebut ke dlm darah dr sumsum tulang dan mengurangi kecepatan berpindahnya sel dr sirkulasi. • Glukokortikoid dapat meningkatkan kadar hemoglobin dan jumlah sel darah merah. Sebaliknya pasien penyakit Addison dapat mengalami anemia normokromik. Penurunan limfosit.

. Karena gejala inflamasi ini sering digunakan sbg dasar evaluasi terapi inflamasi. infeksi. mekanik atau alergen. • Penggunaan klinik kortikosteroid sbg antiinflamasi merpkan terapi paliatif. tetapi juga mungkin menimbulkan reaksi yg tdk diingini. • Kortisol dan analog sintetiknya dapat mencegah atau menekan timbulnya gejala inflamasi akibat radiasi. dlm hal ini penyebab penyakit tetap ada hanya gejalanya yg dihambat. maka pd penggunaan glukokortikoid kadang-kadang terjadi masking effect. Sebenarnya hal inilah yg menyebabkan obat ini banyak digunakan utk berbagai penyakit.• EFEK ANTI-INFLAMASI. zat kimia. bahkan sering disebut life saving drug. dr luar penyakit nampaknya sudah sembuh tetapi infeksi di dlm masih terus menjalar.

• JARINGAN LIMPOID DAN SISTEM IMUNOLOGI. Sistem komplemen nampaknya tdk dipengaruhi. • Glukokortikoid dan ACTH dapat mengatasi gejala klinik reaksi hipersensitivitas. . • pd insufisiensi korteks adrenal terjadi peningkatan masa jaringan limfoid dan limfositosis. yg timbul setelah jangka lama. pasien sindrom Cushing menunjukkan timfositopenia dan masa jaringan timfoid berkurang. Hal ini diduga berhubungan dg perubahan kecepatan pembentukan atau pengrusakan sel pd hiperatau hipokortisisme kronik. Belum dapat dipastikan apakah dosis terapi kortikosteroid mempunyai efek yg berarti pd liter antibodi lgG atau lgE yg berperanan pd reaksi alergi dan reaksi autoirnun.

pd beberapa jaringan. thd tulang. karena efek antagonisnya thd kerja hormon pertumbuhan di perifer. dapat menghambat pertumbuhan. • Penggunaan glukokortikoid pd anak utk waktu lama. . Efek ini berhubungan dg besarnya dosis yg dipakai. Meskipun demikian. Hal inilah yg mungkin sering menyebabkan kegagalan fungsi hormon pertumbuhan bila digunakan bersama-sama kortikosteroid.• PERTUMBUHAN. pd beberapa pasien tinggi badan normal juga tdk dapat dicapai. terutama di otot dan tulang. glukokortikoid dapat menghambat maturasi dan proses pertumbuhan memanjang. glukokortikoid menghambat sintesis dan menambah degradasi protein dan RNA. dapat terjadi pertumbuhan yg cepat bila pengobatan jangka lama dihentikan. sbg kompensasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful