Anda di halaman 1dari 3

L.I 2 Inhalasi dan Nebulisasi pada Anak Nebulisasi merupakan terapi inhalasi yang menggunakan alat nebulizer.

Awalnya terapi ini hanya dilakukan pada kasus asma, tetapi seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan beberapa penelitian menunjukkan terapi ini juga bermanfaat dalam mengatasi masalah saluran nafas lainnya. Pada anak dengan riwayat atopi keluarga, dapat terjadi hiperreaktivitas bronkus (HRB) dengan atau tanpa retensi lendir/sputum. Kondisi ini sangat mengganggu, bahkan anak dapat muntah karena kesulitan mengeluarkan dahak/lendir ataupun terbangun dari tidur karena batuk. Kasus lainnya seperti rhinitis alergi, croup, bronkiolitis, pneumonia, aspirasi, maupun penyakit paru menahun juga memberikan respon positif pasca nebulisasi. Tindakan ini dapat ditujukan untuk mengencerkan lendir, melebarkan (dilatasi) bronkus dan megatasi proses radang (inflamasi) yang langsung ke target organ sesuai dengan indikasi dan jenis obat yang dipilih. Nebulizer adalah alat yang digunakan untuk merubah obat dari bentuk cair ke bentuk partikel aerosol.bentuk aerosol ini sangat bermanfaat apabila dihirup atau dikumpulkan dalam organ paru. Efek dari pengobatan ini adalah untuk mengembalikan kondisi spasme bronkus. Terapi inhalasi lainnya yang berupa obat hirupan dalam bentuk bubuk kering Dry Powder Inhaler (DPI). Contoh obat-obat ygng termasuk DPI antara lain Spinhaler, Rotahaler, Diskhaler, Easyhaler, dan Turbuhaler. Dibandingkan nebulizer, baik DPI maupun MDI memerlukan edukasi cara pemakaian sehingga umumnya dianjurkan untuk anak usia sekolah. B. JENIS NEBULIZER Disposible nebulizer, sangat ideal apabila digunakan dalam situasi kegawatdaruratan/ ruang gawat darurat atau di rumah sakit dengan perawatan jangka pendek. Apabila nebulizer di tempatkan di rumah dapat digunakan beberapa kali lebih dari satu kali , apabila dibersihkan setelah digunakan. Dan dapat terus dipakai sampai dengan 2 minggu apabila dibersihkan secara teratur. Re-usable nebulizer dapat digunakan lebih lama sampai kurang lebih 6 bulan. Keuntungan lebih dari nebulizer jenis ini adalah desainnya yang lebih komplek dan dapat menawarkan suatu perawatan dengan efektivitas yang ditingkatkan dari dosis pengobatan. Keuntungan kedua adalah dapat direbus untuk proses desinfeksi. Digunakan untuk terapi setiap hari Prosedur PERSIAPAN ALAT : 1. 2. 3. Normal Salin Air biasa Obat untuk bronchodilator antara lain : ventolin, dexamethasone

4. 5.

Tabung oksigen lengkap dengan : sungkup nebulizer, slang O2, Manometer

PERSIAPAN PASIEN : 1. 2. Pasien/keluarga diberi penjelasan tentang hal-hal yang akan dilakukan Pasien diatur sesuai kebutuhan

PELAKSANAAN : 1. 2. 3. Perawat cuci tangan Mengisi air pada humidifaier sampai batas lever Mengisi pada tempat manometer sungkup nebulizer dengan normal salin dan bronchodilator : seperti ventolin atau (sabutamol) atau kadang diberi dexamethasone pada status asmatikus. Memasang masker pada pasien flowmeter dibuka (identifikasi adanya asap) Observasi pasien (sesuai kebutuhan) Selesai dilakukan tindakan pasien dirapikan Alat-alat dibereskan dan dikembalikan Perawat cuci tangan

4. 5. 6. 7. 8. 9.

Indikasi Nebulisasi atas indikasi seperti yang disampaikan sebelumnya, ditujukan untuk meredakan masalah pada saluran pernafasan sesegera mungkin. Pada kasus asma dalam serangan, bila pasca nebulisasi membaik dan sesak berkurang maka tidak perlu diulang. Pengulangan tindakan itu dikerjakan berdasarkan baik tidaknya respons pasca nebulisasi. Jika responsnya kurang baik, maka dapat diulang 15-30 menit kemudian. Serangan yang sudah reda perlu dikontrol agar tidak berulang dengan obatobatan yang diminum (oral). Tidak semua masalah pada saluran nafas perlu dilakukan nebulisasi. Pada kasus HRB yang ringan tidak perlu dilakukan tindakan ini. Nebulisasi dilakukan umumnya bertujuan untuk mengencerkan lendir, melebarkan saluran napas bronkus (dilatasi bronkus) dan mengurangi proses radang. Pada keluhan batuk keras tanpa disertai retensi lendir dan tidak sesak tentunya tidak diperlukan nebulisasi. Tindakan ini juga tidak untuk terapi hidung buntu ataupun pilek.

Obat-obatan. Umumnya diberikan larutan garam fisiologis sebagai pelarutnya selain bahan aktif berupa obat-obatan. Jenis obat untuk nebulisasi terdiri dari golongan -agonis, antikolinergik dan golongan steroid. Golongan -agonis antara lain Berotec, Ventolin, dan Bricasma. Golongan antikolinergik yaitu Ipratropium bromide (Atrovent) dan golongan steroid dapat mengandung budesonide (Pulmicor) dan fluticason (Flixotide). Selain itu juga ada obat merupakan gabungan antara -agonis dan antikolinergik yaitu salbutamol dan ipratropium (Combivent UDV). Adanya kekhawatiran obat steroid melalui nebulisasi lebih berbahaya daripada steroid oral tentunya tidak beralasan. Steroid dalam nebulisasi tidak menimbulkan efek samping seperti steroid oral yang mengganggu kardiovaskuler, saluran cerna , mata dan metabolik. Dalam nebulisasi, dosis steroid sangat kecil dibandingkan oral sehingga hanya sedikit sekali yang beredar di dalam darah dan karena itu efek samping menjadi minimal. Dari penelitian-penelitian juga menunjukkkan bahwa pemberian steroid inhalasi aman digunakan dalam jangka panjang.

Manfaat Nebulisasi Manfaat nebulisasi tentu saja sangat tergantung pada efektifitas alat, tekhnik penggunaan dan pemilihan obat-obatan. Deposisi obat yang masuk ke saluran nafas setelah nebulisasi ditujukan untuk mengencerkan lendir, mampu melebarkan (dilatasi) saluran nafas dan mengatasi proses radang. Pada kasus-kasus tertentu dibutuhkan tindakan tambahan berupa fisioterapi pada dada seperti alat penggetar (vibrator), tepukan (tap) ataupun pemanasan (radiation). Untuk pemilihan tindakan yang lebih jauh, biasanya dokter rehabilitasi medik dapat turut berperan agar manfaat nebulisasi diperoleh maksimal. Nebulisasi cukup efektif karena sedikit memerlukan koordinasi dan beberapa jenis obat dapat dicampur menjadi satu. Kurangnya informasi mengenai manfaat terapi inhalasi yang diperoleh para orangtua, petugas kesehatan, bahkan pada dokter berhubungan dengan peningkatan morbiditas dan lamanya pengobatan anak dengan masalah pada saluran nafas. Dokter yang tidak mengikuti perkembangan dan perubahan konsep mengenai tatalaksana penyakit pada saluran nafas, tidak mempunyai ketrampilan praktis penggunaan alat-alat untuk terapi inhalasi, sehingga ada dokter yang melarang pasien yang sudah menggunakan terapi ini. Memang sangat dibutuhkan komunikasi, informasi dan edukasi lebih detil mengenai tatalaksana ini, sehingga pemahaman mengenai topik ini baik pada orangtua maupun dokter dapat seiring.