Anda di halaman 1dari 28

Golongan Darah

Golongan Darah
Pertama kali diterangkan oleh Karl Landsteiner Saat ini diketahui >400 Ag eritrosit dalam 24 gol darah Ag pd permukaan eritrosit biasanya dideteksi dg reaksi sel darah merah dg antisera yg telah diketahui. Ag eritrosit tersusun dalam sist gol darah, diantaranya: sistem ABO, Rh, Lewis, Kell dan Duffy. Sistem ABO terpenting, disusul sistem Rh dg Ag D yg merupakan imunogen kuat

Sistem H dan ABO


Gol darah A B O AB Antigen A B A dan B Antibodi Anti-B Anti-A Anti-A, Anti-B, Anti-AB -

Sistem Rhesus
Anti Rh (D) Positif Negatif Positif Kontrol Rh Negatif Negatif Positif Tipe Rh D+ D- (d) Harus diulang atau diperiksa dengan Rh (D) typing (saline tube test)

TRANSFUSI DARAH

Transfusi Darah
Definisi : Klasifikasi: Proses pemindahan -Transfusi homolog: dr darah orang darah atau komponen lain darah dari donor ke -Transfusi autolog: dari darah resipien sendiri
Prinsip: transfusi Bahan yang ditransfusikan: kompenen Darah (Whole Blood) darah/derivat plasma Komponen darah sesuai dg yg -Komponen darah seluler dibutuhkan -Komponen plasma
Sumber:ipd,hematologi klinik ringkas, hematologi-onkologi anak, kapita selekta

Whole Blood
Berisi eritrosit, leukosit, trombosit dan plasma 1 unit darah 450 ml dg antikoagulan sbyk 63 ml Di Indo: satu kantong 250 ml, antikoagulan 37mL/ satu kantong 350 mL, antikoagulan 49 mL Darah dapat disimpan pd suhu 4-6C sampai 35 hari. Darah simpan trombosit dan faktor pembekuan (terutama faktor labil) sudah menurun jumlahnya. Klasifikasi: - Fresh blood : darah yg disimpan < 6 jam, masih lengkap mengandung trombosit dan faktor pembeku. - Stored blood : darah yg disimpan > 6 jam

Indikasi: untuk meningkatkan jml eritrosit dan vol plasma dlm waktu bersamaan, mis kehilangan darah akut/transfusi tukar. KI: pasien anemia normovolemik/ yg bertujuan meningkatkn eritrosit. Dosis & Cara pemberian: -tergantung keadaan klinis pasien -dewasa: 1 unit darah lengkap akan meningkatkan Hb sekitar 1 g/dL atau Ht 3-4%. -anak: darah lengkap 8mL/kg akan meningkatkan Hb sekitar 1 g/dL. -pemberian sebaiknya melalui filter darah dengan kecepatan tetesan tergantung keadaan klinis pasien, namun setiap unitnya sebaiknya diberikan dlm 4 jam

Komponen darah seluler


a. Preparat sel darah merah - Packed red cell(PRC) : sel darah merah pekat berisi eritrosit, trombosit, leukosit & sdkt plasma. Darah dipekatkan sehingga Ht mencapai 70-80% yang berarti menghilangkan 125-150 ml plasma dari satu unitnya. Vol 150-300 mL, tergantung besar kantung darah. Punya kemampuan oksigenasi seperti whole blood. PRC merupakan pilihan utama untuk anemia. Pemberian disesuaikan dg kondisi klinis pasien. Diberikan dengan filter standar. Dapat menyebabkan hipervolemik jk dbrikan dlm jumlah banyak waktu singkat. - Washed red cell = leucocyte platelet and plasma poor RBC. Ht 70-80% dg vol 180 mL. Preparat ini berguna untuk mencegah reaksi febris (demam), dan alergi. Dapat diberikan untuk AIHA & mengurangi sensitisasi thdp antigen leukosit.

b. Konsentrat trombosit: Vol 50 mL dari 450mL whole blood, teknik sentrifugasi. Preparat ini dipakai untuk mengatasi keadaan trombositopenia berat (<50.000/L)-mis leukimia akut, anemia aplastik atau ITP, atau trombositopati kongenital/didapat. Transfusi iv pakai filter darah standar. Dosis: 1 unit/10kgBB, biasanya perlu 5-7 unit pada dewasa. c. Konsentrat granulosit: 1 U mengandung sekitar 1.0x10 granulosit, sjmlh limfosit, trombosit, 25-50 mL sel darah merah, dan mungkin sedikit hidroksietil starch dg vol 200-300 mL. Suhu simpan 20-40C, harus segera ditansfusikan. Dipakai untuk leukopenia berat dengan netrofil <0,5x10/L. Pemberian dengan filter darah standar, min 4 hr baru memperlihatkan hasil.

Komponen plasma
a. Five percent albumin solution/plasma protein fraction: Preparat tersedia: larutan Albumin 25% dan 5%, lar fraksi protein plasma 5%. Preparat ini dipakai utk penggantian vol plasma pd luka bakar, kedaruratan abdomen & trauma jaringan luas. Pemberian tidak perlu filter. Dosis 500mL (10-20mL/kgBB pd anak) untuk mengatasi syok. Pd pasien luka bakar dosis dberikan sampai kadar protein plasma 5.2g/dL atau lebih tinggi. Albumin tidak digunakan untuk jangka panjang, dan hipoalbuminemia kronik. b. Fresh frozen plasma: mengandung plasma & faktor koagulasi labil (F.V & F.VIII). Vol sekitar 200-250 mL. Preparat ini dibuat dr donor tunggal shg risiko penularan hepatitis rendah. Untuk mengganti faktor koagulasi, setelah transfusi masif, peny hati dan DIC, untuk menghentikan efek warfarin, pd purpura trombositopenia trombotik. Diberikan dalam 6 jam setelah pencairan dg filter darah standar. Plasma harus cocok gol ABOnya dg sel darah merah pasien, tidak perlu cross match. Dosis sbg pengganti faktor koagulasi 10-20 ml/kg (4-6 U untuk dewasa) dapat meningkatkan faktor koagulasi 20-30%, dapat pula meningkatkan F.VIII 2%. ES: menggigil, demam, hipervolemik.

c.

Cryoprecipitate: mengandung F.VIII (80-100 U), 40-70% faktor von willebrand, 20-30% F.XIII, fibronectin, dan fibrinogen 150250mg. Digunakan untuk Hemofilia A, vWD, sumber fibrinogen pd acute defibrination syndrom d. Lyophilized F.VIII concentrate: terapi hemofili A. dibuat dr pooled plasma shg ada risiko penularan HIV dan hepatitis e. Lyophilized F.IX-protrombin komplex konsentrat: mengandung protrombin, F.IX, F.VII, dan F.X. untuk hemofilia B f. Fibrinogen: untuk DIC g. Rh immunoglobulin: 2 sediaan: im dan iv. iv dosis 120g dan 300g untuk supresi imun thdp Ag D dan pengobatan ITP. im dosis 300g dan 50g . Mencegah peny hemolitik pada BBL karena Antigen Rh. Indikasi dan dosis: Sebelum persalinan, bumil Rh (-) 50g IM RhIG dlm 12 minggu kehamilan. Dosis penuh setelah 12 mgg kehamilan/setelah dilakukan amniosentesis. Pasca persalinan, wanita Rh (-) dg bayi Rh (+) diberi 300g RhIG im / 120g iv. Pemberian hendaknya dlm 72 jam pasca partus.

h. Immunoglobulin - Berisi IgG dg sdkt IgA dan IgM - 2 sediaan: im dan iv - IMIG: pemberiannya perlu waktu 4-7 hr untuk mencapai kadar puncak dlm plasma, dosis maks yg dpt dberikan dibatasi massa otot, nyeri. Untuk profilaksis. Berupa lar steril dg konsentrasi protein 16.5 g/dL - IVIG: cepat mencapai puncak plasma begitu diinfuskan - waktu paruh IMIG dan IVIG bervariasi antara 18-32 hr - Indikasi: profilaksis Ab scr pasif pd orang yg rentan thdp peny tertentu dan sbg terapi pengganti pd org immunodefisiensi primer (Sindrom Wisskot Aldrich) IVIG dapat dgnkn sbg immunomodulator pd pasien dg kel autoimun, trombositopenia pd HIV, purpura pasca transfusi dan Sindrom Guillan-Barre. Juga untuk infeksi serta profilaksis GVHD pada pasien penerima cangkok SST

- KI: riwayat def IgA/ terjadinya reaksi anafilaksis berat terhadap plasma. - Dosis dan cara pemberian: tergantung indikasi, karakter pasien serta sediaan yg digunakan.
ITP dan peny autoimun lain: IV 400mg/kg/hr selama 2-5 hr atau 0.8-1.0 g/kg/hr selama 1-2 hr Def immunoglobulin kongenital: -IM: 0.7 mL/kg/bln -IV: 200-800 mg/kg/bln Profilaksis Hepatitis A: IM 0.02-0.04 mL/kg Hepatitis B: 0.06 mL/kg IM diulang satu bulan Varicella zooster: 1 vial (2.5 mL)/10 kg (maks 5 vial) IM diberikan dlm 72 jam pascapaparan CMV: -Profilaksis: 100-150 mg/kg -Pengobatan infeksi: 200mg/kg iv

Indikasi transfusi plasma:


1. 2. 3. 4. 5. 6. Defisiensi faktor pembekuan DIC Mengatasi efek warfarin berlebih Koagulopati dilusional Perdarahan pada penyakit hati TTP

Indikasi transfusi eritrosit:


Indikasi Anemia simtomatik (pusing, takikardi, takipnue, sianosis) Kehilangan darah >15% vol darah
Anemia hipoproliferatif kronik Penyakit sel sabit

Transfusi Guidelines Indikasi jelas

Mungkin indikasi tranfusi, terutama jika perdarahan akan berlanjut Mungkin perlu tranfusi periodik Mungkin perlu transfusi selama krisis atau untuk mencegah krisis

Prosedur Transfusi Darah:


1. Penentuan gol darah ABO dan Rh. Harus sama donor dan resipien 2. Pemeriksaan untuk donor terdiri atas: -Penapisan (screening) thdp Ab dlm serum donor dg tes antiglobulin indirek (tes Coombs indirek) -Te serologik untuk hepatitis (B&C), HIV, sifilis (VDRL), dan CMV 3. Pemeriksaan untuk resipien (Cross match): -Major side cross match: serum resipien diinkubasikan dengan RBC donor untuk mencari Ab dalam serum resipien -Minor side cross match: mencari Ab dalam serum donor.

4. Pemeriksaan klerikal (identifikasi): Memeriksa dg teliti dan mencocokkan label darah resipien dan donor. 5. Prosedur pemberian darah, yaitu: -hangatkan darah perlahan -catat nadi, tensi, suhu dan respirasi sebelum transfusi -pasang infus dengan infus set darah (memakai alat penyaring) -pertama diberi lar. NaCl fisiologik -pada 5 menit pertama pemeberian darah-beri tetesan pelan2awasi adanya urtikaria,bronkophasme, rasa tidak enak, menggigil. Selanjutnya awasi tensi, nadi, suhu dan respirasi 6. Kecepatan transfusi, yaitu: - untuk syok hipovolemik: beri tetesan cepat - normovolemi: beri 500ml/6 jam - pada anemia kronik, penyakit jantung dan paru beri tetesan perlahan 500 ml/24 jam atau beri diuretika (furosemid) sblm transfusi

Cross Match
Prosedur plg penting sblm dlkkn transfusi. Tujuan: menyeleksi darah yg tepat utk resipien & deteksi Ab iregular resipien dlm serum yg akan mempengaruhi ketahanan hidup dr eritrosit donor setelah transfusi Major cross match: dlkkan pd tes pratransfusi, mggnkn metode yg akan menunjukkan antibodi aglutinasi, sensitisasi, dan hemolisis, juga tes antiglobulin. Minor cross match: tdk dlkkn pratransfusi, dilakukan sbg tes rutin pd darah donor stlh pengumpulan darah. Kombinasi prosedur dapat dilakukan untuk uji cocok silang: teknik salin, albumin, enzim, antiglobulin direk dan indirek. Uji cocok silang harus mendeteksi sebagian besar Ab resipien yg dpt bereaksi dg eritrosit donor. Uji cocok silang tidak menjamin sel darah donor tetap hidup/ mencegah imunisasi resipien, tidak mendeteksi kesalahan penggolongan ABO, Rh typing, atau semua Ab irregular pd resipien serum

Risiko Transfusi
55% demam Menggigil tanpa demam 14% Reaksi alergi terutama urtikaria 20% Hepatitis serum (+) 6% Reaksi hemolitik 4% Overload sirkulasi 1%

Komplikasi Transfusi/Reaksi Transfusi


I. Reaksi Segera a. Rx hemolitik akbt lisis eritrosit donor oleh ab dlm serum resipien b. reaksi febril karena Ab terhadap leukosit atau trombosit c. Rx sensitivitas paru dan bronkophasme krn Ab terhadap leukosit d. Rx alergik anafilaktoid terhadap suatu Ag protein dalam plasma e. Endotoksinemia akbt transfusi memakai darah yg terkontaminasi kuman gram negatif f. Edema paru karena volume overload g. Reaksi keracunan sitras h. reaksi akibat transfusi masif Reaksi lambat a. Reaksi hemolitik lambat b. penularan infeksi: Hepatitis B dan C, CMV, malaria dan sifilis c. graft versus host disease

II.

Reaksi Hemolitik Akut akibat transfusi


Rx hemolitik akut terjadi dlm 24 jam stlh transfusi Sebagian terjadi krn kesalahan identifikasi Patogenesis: -terjadi hemolisis intravaskuler masif akibat Ab IgG/IgM dg aktivasi komplemen, mis Ab ABO -terjadi hemolisis ekstravaskuler akbt Ab IgG thdp faktor rhesus

Gejala Reaksi Segera:


Gejala timbul akibat terjadi hemolisis intravaskular akut dan gagal ginjal akut: 1. Fase syok hemolitik: -timbul segera/ 1-2 jam setelah transfusi -urtikaria, nyeri pinggang, flushing, sakit kepala, nyeri dada, sesak napas, muntah, menggigil, febris, hipotensi sampai syok. Dapat terjadi hemoglobinemia, bilirubinemia, ikterus atau DIC 2. Fase oliguria: timbul akibat acute tubular necrosis yg dapat menimbulkan gagal ginjal akut (GGA) 3. Fase diuresis: timbul setelah sembuh dr GGA

Tindakan pada Reaksi Hemolitik Akut: 1. Segera hentikan transfusi. Kerusakan berbanding langsung dg jumlah darah yg masuk. Ganti infus set 2. Berikan tindakan penanggulangan (lihat dlm terapi) 3. Ambil contoh darah penderita, periksa adanya hemoglobinemia 4. Ambil serum antara lain: -satu dikirim kembali ke PMI untuk pemeriksaan ulang golongan darah dan pemeriksaan serologik -satu lagi kirim ke lab klinik untuk pemeriksaan bilirubin, hemoglobinemia, dan methemalbunemia. 5. Serahkan kembali sisa darah ke PMI untuk pemeriksaan kembali golongan darah dan serologik 6. Periksa adanya hemoglobinuria 7. Setelah 8-10 jam, ambil contoh darah kedua untuk pemeriksaan kembali bilirubin dan methalbuminemia

Terapi:
Pertahankan tekanan darah dan perfusi ke ginjal, dg: 1. Berikan infus plasma expander. Dextran, plasma atau NaCl fisiologik. Pertahankan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa 2. Forced diuresis: pemberian furosemid atau manitol 3. Hidrocortison 100 mg in dan anti histamin 4. Jika terjadi anemia berat, beri transfusi darah yg cocok dg pengawasan ketat 5. Atasi GGA, seperti biasa. Jika perlu dialisis

Reaksi Hemolitik Lambat akibat tranfusi


Terjadi setelah 1 hr sampai bbrp minggu Timbul krn hemolisis ekstravaskuler dg penurunan kadar Hb dan peningkatan bilirubin I dlm serum Rx timbul krn adanya Ab (IgG) yg tdk terdeteksi pd pemeriksaan pretransfusi. Sering bersifat silent, atau timbul gejala berupa anemia dan ikterus ringan dan uji DAT (+) Sering tidak memerlukan terapi. Cukup observasi, kecuali jk terjadi anemia dan ikterik berat

Reaksi Febris Non Hemolitik


Reaksi febris umumnya timbul krn Ab dlm serum resipien thdp leukosit donor Preventif: Leukocyte depleted PRC Reaksi febris dapat terjadi krn reaksi thdp protein plasma oleh krn adanya sitokin akibat darah disimpan. Gejala reaksi febris: demam yg timbul segera setelah transfusi berjalan, sering disertai menggigil. Reaksi ini harus dibedakan dengan demam krn bakteremia krn pemberian tranfusi yg terkontaminasi bakteri Terapi simtomatik : antipiretik dan hidrokortison

Reaksi Alergi
Dapat terjadi dlm bentuk: - gatal2 -urtikaria -syok anafilaktik Syok anafilaktik dijumpai pd resipien yg def. IgA, dlm serum timbul Ab anti IgA akbt sensitisasi transfusi sblmnya. Pd tranfusi ulangan maka dpt trjdi rx Ag-Ab yg menimbulkan reaksi anafilaksis Terapi alergi: hidrokortison/antihistamin Syok anafilatik harus diberi adrenalin dan lakukan tindakan untuk mengatasi syok anafilaktik