Anda di halaman 1dari 22

Ekologi Hewan

Implikasi Bagi Pengelolaan Kehutanan dan Konsesi


Kelompok 6: Anastasia ervina Andri maulidi Astra arpianto Ayu wulandari Syarifuddin

Rekomendasi bagi para pengelola hutan


Perencanaan yang matang sebelum kegiatan penebangan Meminimalkan kerusakan selama kegiatan penebangan dan kegiatan lain yang terkait Meminimalkan dampak dan ancaman tak langsung

Perencanaan yang matang sebelum kegiatan penebangan


Perencanaan hendaknya mempertimbangkan upaya perbaikan areal yang rusak dan melibatkan kajian yang menyeluruh dari lahan-lahan yang ada di sekelilingnya serta ancaman yang mungkin timbul. Sebagai contoh, di beberapa tempat, jalur penahan api (irebreaks) lebih penting dibandingkan dengan efek tepi (ekoton) yang dapat ditimbulkan oleh jalur penahan api tersebut. Dalam beberapa hal, tepian hutan diidentiikasi sebagai relung yang disukai oleh beberapa spesies spesiik tertentu. Seluruh faktor tersebut harus menjadi bahan pertimbangan dan dipertimbangkan.

Sarana dan Prasarana Jalan Daerah Lindung Mempertahankan kompleksitas dan keragaman habitat Mempertahankan sumberdaya yang penting Kegiatan pasca penebangan

Meminimalkan kerusakan selama kegiatan penebangan dan kegiatan lain yang terkait

Sarana dan Prasarana Jalan


1. Basecamp penebangan harus ditempatkan secara strategis, sejauh mungkin dari zona hutan yang tidak ditebang, terutama zona-zona yang ditujukan untuk manfaat bagi satwa liar (sangat dianjurkan); 2. Jalan harus ditempatkan setidaknya 100 m dari sungai (Elias et al. 2001) (sangat dianjurkan); 3. Jalan dan jalan sarad harus direncanakan secara detail dengan tujuan meminimalkan kerusakan tajuk (DFID 1999) (wajib).

Lanjutan
1. Jalan sarad harus direncanakan sebelum kegiatan penebangan (DFID 1999, Elias et al. 2001) (wajib); 2. Jalan sarad harus dirancang sependek mungkin dengan mengikuti kontur lahan (sangat dianjurkan). Jalan sarad ini harus dibangun dengan menghindari daerah yang curam, lembah yang sempit, rawa, dan tanah yang tidak stabil dan meminimalkan jumlah penyeberangan sungai (sangat dianjurkan) (Elias et al.2001);

Lanjutan

Gambar . Jalan untuk kegiatan penebangan sering kali memiliki lebar yang berlebihan, meningkatkan efek fragmentasi hutan dengan membatasi pergerakan satwa dan meningkatkan tingkat sedimentasi dan erosi. (Foto oleh Rob Fimbel)

Daerah Lindung
Daerah perlindungan dan koridor penghubung harus dikelola dengan cara sebagai berikut (berdasarkan Elias et al. 2001): a) Tidak dibolehkan melakukan penebangan pohon dalam daerah lindung dan daerah penyangganya (wajib); b) Akses bagi alat berat dilarang, kecuali bila jalan yang direncanakan melintasi daerah tersebut. Seluruh jalan dan penyeberangan badan air harus dirancang dengan baik dan sungai dilindungi secara hatihati (sangat dianjurkan); c) Tidak ada penggalian atau sisa penggalian jatuh/terbuang ke dalam daerah lindung (sangat dianjurkan); d) Tidak ada limbah penebangan yang dibuang ke arah daerah lindung, terutama ke arah badan air (sangat dianjurkan); e) Pohon harus ditumbangkan tidak ke arah daerah penyangga dan sungai (sangat dianjurkan);

Meminimalkan kerusakan di daerah produksi


Mengurangi kerusakan-kerusakan kecil yang biasanya ada di sepanjang jalan sarad dan tempat pengumpulan kayu umumnya dapat mengurangi dampak kegiatan penebangan terhadap vertebrata. Daerah yang terbuka biasanya ditumbuhi oleh tanaman merambat dan kemudian oleh spesies pionir. Umumnya, spesies pionir ini bukan sumber makanan yang baik bagi satwa pemakan buah. Sebagian besar mamalia pohon (arboreal) dipengaruhi oleh lebarnya rumpang antara tajuk. Pada daerah dengan lapisan tanah yang sangat tipis atau bagian hutan dengan tanah berpasir putih, disarankan untuk tidak menebang pohon meskipun keuntungan ekonominya mungkin tinggi, karena lahan ini umumnya tidak mampu menumbuhkan kembali vegetasi apa pun. Di Kalimantan daerah seperti ini umumnya ditemukan di daerah- daerah hutan Kerangas.

Lanjutan
Bila terdapat spesies penting yang langka dan sensitif terhadap gangguan, teknik pengangkutan kayu dengan kabel yang dilakukan di atas pohon dapat dipertimbangkan (dianjurkan). Menjaga agar gangguan terhadap tanah dan lantai hutan seminimum mungkin, karena banyak invertebrata, reptilia, dan amibia memanfaatkan tanah tersebut sebagai tempat berlindung (Fimbel et al. 2001) (sangat dianjurkan)

Mempertahankan kompleksitas dan keragaman habitat


Pohon gerowong harus dipertahankan sebanyak mungkin karena pohon ini menyediakan lubang yang penting bagi vertebrata untuk berkembang biak, bersarang, dan menyimpan makanan (wajib) Tunggak kayu yang busuk sering digunakan oleh spesiesspesies satwa seperti tupai, Beruang Madu (Ursus malayanus), luntur, cekakak hutan, dan kirik-kirik hutan (sangat dianjurkan); Penyiapan lokasi untuk regenerasi hutan dengan pembakaran harus dihindarkan (sangat dianjurkan) karena hal ini dapat menurunkan heterogenitas habitat dan menghancurkan banyak sumberdaya dan habitat mikro yang digunakan oleh satwa invertebrata (Ghazoul & Hill 2001);

Lanjutan
Daerah dengan batuan terjal merupakan tempat bersarang dan beristirahat berbagai jenis satwa, termasuk reptilia, burung (raptor, walet/kapinis) dan mamalia berukuran kecil, selain itu daerah ini juga merupakan tempat berlindung dari satwa pemangsa (Bernard 2004). Bila gua tertentu merupakan habitat bagi spesies langka serta terancam punah dan/atau dilindungi, harus dipertimbangkan pelarangan untuk memasuki gua tersebut dan meniadakan pembangunan jalan dan sarad di daerah sekitarnya. Bila ada gua yang merupakan sumber sarang burung misalnya, bekerja sama dengan stakeholders setempat, gua-gua tersebut harus dilindungi sebagai zona yang tidak boleh ditebang (sangat dianjurkan)

Mempertahankan sumberdaya yang penting


Mempertahankan sebanyak mungkin pohon-pohon buah, terutama pohon yang berbuah sepanjang tahun yang sangat penting bagi satwa pemakan buah yang hidup di tajuk selama periode tidak ada buah (Leighton & Leighton 1983; Lambert 1991) (sangat dianjurkan). Beringin (Ficus spp.) sangat penting bagi satwa liar karena pohon ini menyediakan buah-buahan sepanjang tahun dan memenuhi kebutuhan nutrisi (lihat OBrien et al. 1998a). Harus dilakukan upaya untuk melestarikan sebanyak mungkin bangsa beringin ini, berapa pun umurnya (wajib/perlu perubahan peraturan)

Kegiatan pasca penebangan


Setelah petak tebangan selesai, beberapa jalan angkutan harus ditutup (meskipun hanya sementara saja), sehingga satwa dapat bermigrasi tanpa gangguan dan mengurangi tekanan perburuan (sangat dianjurkan). Harus ada rehabilitasi sistematis pasca penebangan untuk tempat pengumpulan kayu serta penyeberangan sungai, terutama untuk mengurangi erosi tanah. Bilamana jalan atau tempat pengumpulan kayu tidak lagi digunakan dalam daur panen yang akan datang harus ada upaya untuk menghutankan kembali daerah tersebut (wajib/perlu perubahan peraturan)

Meminimalkan dampak dan ancaman tak langsung


Perburuan dan ekstraksi Kebakaran Spesies eksotik Hewan peliharaan/ternak Lalu lintas Polusi

Perburuan dan ekstraksi


Seperti halnya di sebagian besar hutan tropis, produktivitas hutan di Borneo terbatas untuk kelangsungan kegiatan eksploitasi. Perburuan yang dikaitkan dengan pembalakan, memberikan tekanan tambahan terhadap hidupan liar dan komponen keanekaragaman hayati yang lain. Diperlukan serangkaian peraturan yang tegas dan jelas mengenai perburuan dan perdagangan satwa liar di wilayah konsesi hutan.

Kebakaran
Kebakaran yang terjadi pada tahun 1997 dan 1998 yang telah merusak wilayah hutan yang sangat luas di Kalimantan Timur (Siegert et al. 2001) menunjukkan bahwa api dapat menyebabkan kerusakan hebat pada hutan dan hidupan liar, terutama bila dikaitkan dengan praktek penebangan hutan yang buruk .

Lanjutan

Kebakaran yang terjadi pada tahun 1997 dan 1998 yang telah merusak wilayah hutan yang sangat luas di Kalimantan Timur (Siegert et al. 2001) menunjukkan bahwa api dapat menyebabkan kerusakan hebat pada hutan dan hidupan liar, terutama bila dikaitkan dengan praktek penebangan hutan yang buruk .

Spesies eksotik
Konsesi penebangan hutan harus memantau spesies eksotik yang ada di wilayahnya dan harus secara aktif menyingkirkan spesies-spesies tersebut sebelum menimbulkan masalah bagi hidupan liar dan regenerasi hutan. Spesies dan genera yang dikenal sebagai penyebab masalah ini harus dicegah secara aktif (sangat dianjurkan)

Hewan peliharaan seperti sapi, anjing, dan kucing bisa menjadi ancaman besar atau sumber penyakit bagi satwa liar yang asli, baik secara langsung (contoh Clarke & Pacin 2002, May & Norton 1996) atau tidak langsung. Knapen (1997) melaporkan adanya penyakit menular mulut dan kuku yang membunuh sebagian besar populasi sapi di Borneo Tenggara antara 1871 dan 1872 sebelum kemudian penyakit ini menyebar ke populasi Babi Berjenggot. Penyakit ini menyebar hingga mencapai Kahayan Hulu dan Sungai Kapuas di Kalimantan Tengah. Pada tahun1878, penyakit ini menyerang kembali, dan pada awalnya menyerang populasi sapi dan kemudian membunuh populasi babi dalam jumlah yang besar. Epidemi yang lain dilaporkan oleh Nieuwenhuis (1907, Vol 1, p.196), yang mengungkapkan bahwa selama perjalanannya ke Borneo bagian tengah di tahun 1894, babi jarang ditemui, karena baik populasi liarnya di alam dan populasi yang diternakkan mati oleh penyakit menular di Borneo bagian tengah di tahun 1888 dan 1889. Penularan rabies dan penyakit kurap dari anjing peliharaan ke satwa liar begitu juga halnya dengan sejumlah penyakit burung yang ditularkan oleh ayam peliharaan merupakan ancaman yang lain terhadap spesies-spesies asli (lihat Butler et al. 2004).

Hewan peliharaan/ternak

Lalu lintas
Lalu lintas perlu diatur. Batas kecepatan kendaraan tidak hanya mengurangi jumlah satwa yang tergilas kendaraan tetapi juga jumlah terjadinya kecelakaan (dianjurkan)

Polusi
Seluruh buangan (sampah) di daerah camp dan bengkel harus dibersihkan dan seluruh sampah padat harus dibuang ke dalam lubang dan dibakar (Elias et al.2001). Sampah tidak boleh dibuang ke badan air. Seluruh buangan, termasuk sampah, sampah padat, minyak, dan bahan-bahan kimia, bila tidak bisa lagi digunakan kembali harus dibuang secara ramah lingkungan di luar lokasi (sangat dianjurkan).