Anda di halaman 1dari 2

Pinus atau tusam termasuk famili Pinaceae, tumbuh tersebar di dataran tinggi di Indonesia.

Tumbuhan jenis ini mempunyai sifat pioner yaitu dapat tumbuh baik pada tanah yang kurang subur seperti padang alang-alang. Saat ini terdapat kurang lebih 105 jenis pinus yang tersebar di benua Amerika, Asia, dan Eropa. Mirov (1958) mengatakan bahwa di Asia terdapat sekitar 28 jenis pinus, di mana 3 7 jenis terdapat di Asia Tenggara (Myanmar, Kamboja, Vietnam, Laos, Thailand, dan Kempulauan Mindanau). Jenis pinus yang terdapat di Asia Tenggara antara lain jenis Pinus merkusii, Pinus kaysia, dan Pinus insularis. Di Indonesia pinus dapat tumbuh pada ketinggian 200-2.000 m dpl. Pertumbuhan optimal dicapai pada ketinggian antara 400-1.500 m dpl. Tinggi pohon dapat mencapai 20-40 m dengan diameter 100 cm dan batang bebas cabang 2-23 m. Pinus tidak berbanir, kulit luar kasar berwarna coklat kelabu sampai coklat tua, tidak mengelupas dan beralur lebar serta dalam. Pohon pinus berbunga dan berbuah sepanjang tahun, terutama pada bulan Juli-November. Bii yang baik kulitnya kering kecoklatan, bentuk bijinya bulat, padat dan tidak berkerut. Kayu pinus berwarna coklat-kuning muda. Kayu pinus bermanfaat untuk konstruksi, korek api, pulp, dan kertas serat panjang. Dari kayu pinus ini dapat dihasilkan getah yang dapat diolah menjadi terpentin dan gondorukem. Getah merupakan hasil dari proses fisiologis pohon, oleh karena itu berbagai faktor yang mempengaruhi proses fisiologis pohon akan mempengaruhi jumlah produksi getah yhang dihasilkan (Suharlan, A dan Herbagung, 1983). Getah pinus digolongkan sebagai oleoresin yang merupakan cairan asam asam resin dalam terpentin yang metes keluar apabila pohon jenis daun jarum tersayat atau pecah. Getah Pinus tersusun atas 66% asam resin, 25% terpentin, 7% bahan netral yang tidak mudah menguap, dan 2% air (Kramer dan Kozlowsky, 1960) Untuk mendapatkan getah penus, dapat dilakukan beberapa cara. Getah pinus dapat diperoleh melalui pelukaan atau penyadapan. Sumantri (1991) mengatakan bahwa penyadapan pohon pinus dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu melukai sampai kayu atau hanya sampai kambiumnya. Soepardi (1955) mengatakan bahwa dinding sel yang mengelilingi saluran getah memiliki tekanan sebesar 70 atm yang menyebabkan getah keluar saat disadap. Getah pinus berasal dari saluran resin yang terdapat dalam sistem logitudinal dan radial yang secara berkala akan saling berpotongan dimana saluran resin tersebut dikelilingi oleh jaringan epitel yang memiliki fungsi sebagai penghasil dan penyalur getah. Untuk mendapatkan getah pinus dalam jumlah yang banyak untuk membuat minyak pinus, diperlukan pengetahuan tentang faktor yang mempengaruhi produktivitas getah pinus. Faktor tersebut diantaranya yaitu Faktor biologi pohon (diameter, tajuk, dan tinggi pohon, jenis pohon, umur pohon,), faktor tinggi tempat tumbuh dan lingkungan ( Tinggi tempat tumbuh, sifat tanah, cuaca dan iklim), dan juga faktor perlakuan terhadap pohon ( sistem penyadapan, kekerasan penjarangan). Stimulansia dapat digunakan untuk meningkatkan produksi getah pinus. Stimunlansia merupakan bahan kimia yang digunakan untuk meningkatkan produksi getah dalam proses penyadapan yang dapat merangsang proses metabolisme di dalam sel dan jaringan lainnya. Riyanto (1980) mengatakan bahwa pengaruh dari penggunaan stimulansia dalam proses penyadapan adalah sebagai berikut : 1. Saluran getah akan terhidrolisir sehingga tekanan dinding banyak berkurang yang berakibat getah keluar lebih banyak

2. Sel sel parenkim akan terhidrolisis yang mengakibatkan cairan sel akan keluar dan diserap oleh getah sehingga getah yang encer semakin banyak dan keluar melebihi normal. 3. Asam merupakan penyangga sehingga getah sukar membentuk rantai sikliknya dan tetap dalam bentuk aldehid sehingga getah encer tetap dan keluar melebihi normal. Gondorukem adalah hasil dari getah pohon pinus yang telah dibersihkan dari residu proses destilasi (penyulingan) uap getah pinus,dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat sabun, resin, dan cat, dan dijual dalam bentuk padatan. Hasil destilasinya menjadi terpentin. Terpentin berasal dari bahasa Yunani terebinthine, yang merupakan salah satu dari nama spesies pohon. Di Indonesia, pada umumnya terpentin diambil dari getah pohon Pinus Merkusii. Bentuknya berupa cairan (fluid) jernih. Terpentin merupakan pelarut yang kuat sehingga banyak digunakan sebagai pelarut bahan baku dalam industi kimia. Kegunaan lainnya yaitu sebagai bahan baku industri kosmetik, minyak cat, antiseptik, kamfer, farmasi dan contra iritan. Aroma terpentin harum seperti minyak kayu putih, karena keharumannya itulah terpentin digunakan untuk bahan pewangi lantai atau pembunuh kuman yang banyak dijual di pasaran. Pada bahan baku pembuatan parfum, minyak esensial dari getah pinus ini diekstrak sehingga bisa menghasilkan terpinol yaitu alfa-terpinol merupakan salah satu dari 3 jenis alkohol isomer beraroma harum. Terpineol bisa bermanfaat untuk kesehatan yaitu untuk relaksasi bila digunakan sebagai bahan campuran minyak pijat. Aromanya yang harum dijadikan minyak pijat aromaterapi karena saat dioleskan ke kulit akan terasa relaksasinya jika digunakan dengan dosis sesuai aturan. Dapat pula digunakan untuk bahan makanan namun bukan dalam bentuk getahnya, melainkan dari gum rosin yang telah diesterfikasi dengan gliserol dibawah atmosfir nitrogen menjadi gum rosin ester, salah satu bahan tambahan pembuatan permen karet sehingga menjadi kenyal dan lentur. Bahan ini aman untuk dikonsumsi karena sudah diuji oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (anonim 2012).

Sumber : Anonim.2012. Getah Pinus Malino. http://www.pustakasekolah.com/getah-pinus-malino.html. 22 Februari 2013. Kramer,PJ and T.T. Kozlowsky.1960. Physiology fo Trees, McGraw-Hill Book Company. New York London Tomnto. Mirov N.T.1958. The Genus Pinus. The Ronald Press Company. New York Soepardi, R. 1955. Pinus Merkusii di Tanah Gayo, Rimba Indonesia. 4 (6-7-8): hal 265-280. Suharlan A., Herbagung. 1983. Pertumbuhan Pinus di Berbagai Daerah Indonesia. Simposium Pengusahaan Hutan Pinus; Jakarta, 27-28 Juli 1983.hlm 191-200. Sumantri I. 1991. Perbaikan Sistem Penyadapan Getah Pinus untuk Meningkatkan Hasil Getah, Duta Rimba No. 135-136/XVIII/199. Hal : 53-57. Suharlan, A. dan Herbagung. 1983. Pertumbuhan Pinus di Berbagai Daerah Indonesia. Simposium Pengusaha Hutan Pinus, tanggal 27-28 Juli di Jakarta. Hal: 191-200. Riyanto, T. W. 1980. Sedikit Tentang Penaksiran Hasil Getah Pinus Merkusii Jungh et de Vriese. Duta Rimba. Hal:12-17.