P. 1
Filariasis

Filariasis

|Views: 42|Likes:
Dipublikasikan oleh Na Marina

More info:

Published by: Na Marina on Mar 07, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/24/2013

pdf

text

original

EPIDEMIOLOGI FILARIASIS DI DESA SUNGAI RENGIT KECAMATAN TALANG KELAPA KABUPATEN BANYUASIN TAHUN 2006 Santoso1, Ambarita L.P.

1, Oktarina R., 1 M. Sudomo2
2

Loka Litbang P2B2 Baturaja Puslitbang Ekologi dan Status Kesehatan Jakarta

1

EPIDEMIOLOGY FILARIASIS IN SUNGAI RENGIT VILLAGE, DISTRICT TALANG KELAPA, BANYUASIN REGENCY 2006
Abstract. Study on the epidemiology of filariasis in Sungai Rengit Village, Talang Kelapa District, Banyuasin Regency has been conducted in 2006. The objectives of the study were to identify the prevalence of microfilaria rate (Mf rate), the vector, prevalence among annimals (zoonosis), Knowledge Attitude and Practice (KAP) of the community filariasis. The number of people examined were 401 people and out of this number 9 people were mf positive. The Mf rate was 2.24% and the density was 5.69 per 20 mm³. Periodicity study was done in 6 positive persons. Blood was taken from each patient every 2 hours in 24 hours. The highest density was 16.43 per mm³ found in 1 patient. While the highest mean of Mf at 24.00 (3.29 mf per 20 mm³). According to the analysis it was found that the parasite was nocturnally periodic in 4 patients and nocturnally sub periodic in 2 patients. Examination on 1,174 mosquitos found no filarial larvae. The most abundant mosquitos was Mansonia uniformis (868). Examination on 11 cats resulted negative for microfilaria. Result of environment observation, shown that most of the cases lived near survey areas, which are apparently the habitat of Mansonia spp. Result of the KAP study shown that most of the respondents have lack of knowledge on filariasis, symptoms, transmission, prevention as well as the theraphy. Keyword: Epidemiology Filariasis, periodicity, microfilaria, vector, KAP

PENDAHULUAN Filariasis merupakan salah satu penyakit tertua dan paling melemahkan yang dikenal dunia. Filariasis limfatik diidentifikasikan sebagai penyebab kecacatan menetap dan berjangka lama terbesar kedua di dunia setelah kecacatan mental. Di Indonesia, filariasis menyebabkan kerugian ekonomi yang utama bagi penderita dan keluarganya. Selain itu juga menimbulkan dampak psikologis bagi penderitanya, yaitu mereka yang hidup dengan gejala kronis akan menderita karena diasingkan keluarganya dan masyarakat, juga meng-

alami kesulitan mendapatkan suami atau istri dan menghambat keturunan.(1) Filariasis (penyakit kaki gajah) di Kabupaten Banyuasin sampai dengan tahun 2005 masih menjadi masalah kesehatan dengan masih terdapatnya daerahdaerah dengan penderita kronis dan Microfilaria Rate (Mf rate) yang berkisar antara 0–7,6%. Jumlah kasus klinis filariasis di wilayah Kab. Banyuasin dari tahun 20022005 tercatat sebanyak 125 kasus yang tersebar di 11 kecamatan.(2) Saat ini pemerintah daerah setempat dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin telah

Kemudian dilakukan penghitungan terhadap kepadatan larva filaria setiap jamnya dengan melakukan pengamatan secara mikroskopis untuk masing-masing slide sehingga diketahui gambaran periodisitas parasit filariasis dalam darah sampel.(7) Evaluasi kegiatan pengobatan massal juga perlu diteliti untuk menilai keberhasilan kegiatan pengobatan filariasis yang sudah dilakukan. BAHAN DAN CARA Penelitian dilakukan di Dusun I Desa Sungai Rengit Kecamatan Talang Kelapa.00 WIB. Penangkapan nyamuk dilaksanakan . Untuk mengendalikan vektor perlu diketahui perilaku dan habitat vektor tersebut.(9. Seperti telah diketahui bahwa filariasis di Kabupaten Banyuasin disebabkan oleh cacing Brugia malayi. nyamuk tertangkap dan diperiksa sebanyak 1.(4. Sampel penelitian untuk Survey Darah Jari (SDJ) sebanyak 401 orang. biologik maupun sosial budaya. kucing diperiksa 11 ekor. 5) Berdasarkan hal tersebut. Pemeriksaan dilakukan di laboratorium Loka Litbang P2B2 Baturaja.174 ekor.00-24.(3) Secara epidemiologis dapat dikatakan bahwa filariasis melibatkan banyak faktor yang sangat kompleks yaitu cacing filaria sebagai agen penyakit. Di samping itu juga perlu diketahui Pengetahuan Sikap dan Perilaku (PSP) masyarakat tentang filariasis untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi program P2 Filariasis dalam melaksanakan kegiatan pengobatan massal. Pemutusan rantai penularan dapat dilakukan dengan cara pengendalian nyamuk sebagai vektor filarisis. Berdasarkan latar belakang di atas maka perlu dilakukan penelitian tentang filarisis menyangkut vektor dan zoonosis (binatang yang bertindak sebagai reservoar filariasis) sehingga upaya eliminasi filariasis dapat dilakukan dengan metode yang tepat sesuai dengan kondisi lingkungan baik lingkungan fisik. Filariasis brugia merupakan penyakit zoonosis yang dapat menginfeksi hewan selain manusia yaitu: kera (Macaca fascicularis). Penangkapan nyamuk metode landing collections di dalam dan luar rumah. Pengambilan darah dilakukan terhadap seluruh penduduk desa pada seluruh golongan umur dengan menggunakan tabung kapiler non heparin. biologik dan sosial. manusia sebagai inang dan nyamuk dewasa sebagai vektor serta faktor lingkungan fisik.(8) Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka eliminasi filarisis adalah dengan cara memutuskan rantai penularannya. Pemeriksaan dilakukan selama 24 jam dengan interval 2 jam sehingga diperoleh 12 slide per orang. maka untuk menekan angka Microfilaremia perlu mempertimbangkan aspek epidemiologi. lutung (Presbythis cristatus) dan kucing (Felis catus) sedangkan anjing (Canis fascicularis) adalah reservoar untuk Dirofilaria immitis.00-14. Hal kedua yang penting adalah untuk mengetahui periodisitas dari B. (8) Pengukuran periodisitas dilakukan terhadap penderita mikrofilaria berdasarkan hasil SDJ. malayi di Kabupaten Banyuasin juga merupakan zoonosis.(6) Sampai sejauh ini belum diketahui apakah B. pemeriksaan periodisitas dilakukan pada 6 orang penderita filariasis.menetapkan wilayah kerja Puskesmas Sembawa dan Puskesmas Betung sebagai daerah percontohan eliminasi penyakit kaki gajah. 10. Pemeriksaan dimulai pukul 16. malayi.00 WIB. 11) Pemeriksaan SDJ dilakukan pada malam hari mulai pukul 19. yaitu faktor sosial ekonomi dan perilaku penduduk setempat.

Pemeriksaan dilakukan terhadap kucing yang tertangkap untuk mengetahui kemungkinan adanya zoonosis. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa angka mikrofilaria (Mf rate) di Desa Sungai Rengit masih cukup tinggi (2. Hal ini disebabkan karena pada saat kegiatan SDJ sebagian besar penduduk yang dewasa masih berada di kebun dan tidak pulang pada saat kegiatan SDJ dilaksanakan.29%. Pemetaan kasus penyakit kaki gajah dan tempat perindukan nyamuk vektor.00 WIB. . jenis kelamin dan kepadatan parasit di Desa Sungai Rengit: (Tabel 2).24%). Hal ini menunjukkan bahwa Desa Sungai Rengit Kabupaten Banyuasin masih merupakan daerah endemis filariasis (Mf rate >1%) walaupun pada tahun 1998 pernah dilakukan pengobatan massal. Pemetaan dilakukan dengan cara observasi (penjelajahan wilayah) dan pemetaan. Selain itu juga dilakukan holding terhadap beberapa nyamuk yang tertangkap.79 dan Mf rate sebesar 2. Penangkapan nyamuk dengan light trap di kandang ternak/semak-semak/pohon dilakukan di luar rumah dengan memasang light trap di pohon dan di kandang ternak sepanjang malam. Jumlah yang positif microfilaria sebanyak 9 orang (Mf rate 2.semalam suntuk pukul 18. Menurut informasi yang diperoleh dari Kadus I diketahui bahwa masih banyak penduduk yang berusia >30 tahun belum memeriksakan diri untuk diambil sediaan darahnya. Berikut data hasil pemeriksaan parasit (Tabel 1). tempat perindukan nyamuk dan lain-lain akan digambar secara manual dalam bentuk peta. Agustus. Berikut distribusi hasil pemeriksaan sediaan darah filarial berdasarkan RT.24%) dengan kepadatan parasit antara 2-15 parasit/20 mm3 (seluruhnya spesies Brugia malayi). Kasus tersebut seluruhnya merupakan kasus baru berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan selama penelitian dan seluruh kasus yang ditemukan tersebut belum menunjukkan adanya gejala klinis (belum ada pembekakan). Selanjutnya diperiksa di laboratorium untuk mengetahui adanya mikrofilaria dalam tubuh kucing. Sementara berdasarkan hasil pengambilan darah selama 4 kali (Juni. Penangkapan nyamuk yang hinggap pada orang baik di dalam maupun di luar rumah selama 40 menit dilakukan oleh 6 orang (3 di dalam 3 di luar rumah). Berdasarkan Tabel 1 terlihat bahwa sebagian besar penduduk yang diperiksa adalah golongan umur <30 tahun. Objek-objek seperti rumah. sungai.00–06. diambil darahnya dengan tabung kapiler sebanyak 20 mm3. umur. Juli. Kucing digendong kemudian pada telinga dibuat tusukan dengan lancet.24%) dari 401 orang yang diperiksa slidenya. HASIL Survey Darah Jari (SDJ) Pengambilan darah dilakukan sebanyak 4 kali dengan jumlah penduduk yang diperiksa sebanyak 401 orang. Sementara pada tahun 1998 di desa Sungai Rengit telah dilakukan SDJ terhadap 172 orang dan ditemukan 5 orang yang positif mikrofilaria dengan kepadatan parasit rata-rata 5. kandang ternak. Seluruh nyamuk yang tertangkap dibedah baik secara massal maupun individual untuk mengetahui adanya larva filaria di dalam tubuh nyamuk. Oktober 2006) di Desa Sungai Rengit diperoleh jumlah positif microfilaria sebanyak 9 orang (2. mata air. Data PSP masyarakat tentang filariasis diperoleh dengan melakukan wawancara terhadap responden terpilih dengan menggunakan kuesioner terstruktur.

hal ini terlihat dengan masih terjadinya penularan kasus filariasis dengan ditemukannya kasus positif yang baru berdasarkan hasil SDJ yang dilakukan.9 20.694 63 1 Subjek I 31 2 Subjek II 25 3 Subjek III 75 3 Subjek IV* 35 3 Subjek V* 40 3 Subjek VI* 39 4 Subjek VII 47 5 Subjek VIII 50 7 Subjek IX Kepadatan rata-rata mikrofilaria * Tinggal serumah (keluarga) Kegiatan pengobatan massal yang pernah dilakukan di Desa Sungai Rengit kurang memberikan dampak terhadap penurunan kasus filariasis. Bila dilihat dari proporsi yang positif mikrofilaria berdasarkan jenis kelamin dan golongan umur ternyata sebagian besar adalah laki-laki dengan usia rata-rata di atas 30 tahun (hanya 1 orang yang perempuan dan 1 orang usia <30 tahun).Tabel 1. Distribusi Hasil Pemeriksaan Darah Menurut Umur dan Jenis Kelamin Selama 4 Kali Pengambilan (Juni-Oktober 2006) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nomor Subyek RT Umur (Tahun) Jenis Kelamin Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Perempuan Laki-laki Laki-laki Laki-laki Jumlah Mf per 20 mm³ 2 4 2 3 12 3 13 15 2 5. Distribusi Penduduk Yang Diperiksa Darahnya Menurut Golongan Umur Selama 4 Kali Pengambilan (Juni-Oktober 2006) No 1 2 3 4 5 6 Golongan Umur 0-10 tahun 11-20 tahun 21-30 tahun 31-40 tahun 41-50 tahun >50 tahun Total Juni 22 32 22 15 5 18 114 Juli 13 13 7 4 2 5 44 Agustus 30 12 29 28 11 10 120 Oktober 19 25 24 23 14 18 123 Jumlah 84 82 82 70 32 51 401 Persen (%) 20. dapat diambil suatu kesimpulan bahwa di desa Sungai Rengit masih terjadi penularan penyakit (penularan setempat).0 12. Hal ini didukung dengan kondisi lingkungan di .7 100 Tabel 2.4 17. Sementara bila dilihat menurut tempatnya. Apabila dihubungkan dengan teori tentang transmisi penyakit kaki gajah bahwa seseorang dapat terinfeksi penyakit kaki gajah apabila mendapat gigitan nyamuk vektor selama ribuan kali. maka jumlah kasus terbanyak di RT 3 sebanyak 4 kasus (44. diantaranya kurangnya kesadaran masyarakat untuk minum obat atau kurangnya pengawasan dari petugas kesehatan/kader setempat sehingga banyak masyarakat yang tidak mau minum obatnya karena merasa tidak sakit. Kegagalan pengobatan massal yang dilakukan kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal.4 20.5 8.44%) dengan 3 diantaranya mempunyai hubungan keluarga dan tinggal serumah.

00 2.00 10.579 2. Kepadatan Mikrofilaria pada Subyek I Kepadatan Mikrofilaria 18.50 2.00 4.428 1. Periodisitas Parasit Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap 401 sediaan darah diperoleh 9 orang yang menderita filariasis. 02 . 00 04 .00 14.50 0.4 Jam Pemeriksaan Grafik 2.00 20.000 1.414 1.0 0 14 .00 18. .071 12.464 2.059 1.00 1.745 3.1891.Desa Sungai Rengit khususnya di RT 1. 00 .00 WIB) dengan interval waktu selama 2 jam sehingga diperoleh masingmasing 12 sediaan darah/orang. 00 00 00 Jam Pemeriksaan 00 10 .00 12.91 2.00 6.732 8. 20 .00 1.161 2.00 12 .00 06.950 00 00 00 06 .00 16.991 3.00 00.381 1.00 22. RT 2 dan RT 3 merupakan daerah rawa yang banyak tanaman airnya sehingga menjadi tempat perindukan yang potensial bagi nyamuk Mansonia yang merupakan vektor utama penyakit filariasis di Sumatera Selatan.899 5.0 0 18 .00 2. selanjutnya dilakukan pemeriksaan terhadap 6 orang yang positif untuk mengetahui periodisitas parasit di wilayah Desa Sungai Rengit.00 14.185 2.00 08.347 2.00 10.00 02.366 4.248 8.366 8.50 Kepadatan Parasit 3. Grafik 1.00 00 16 .00 04.00 12.00 16. Berikut grafik hasil pemeriksaan terhadap 6 orang selama 24 jam: (Grafik 1 dan 2). 16.00 8.50 1. Pemeriksaan dilakukan selama 24 jam (jam 16. Kepadatan Parasit Rata-rata Pada 6 Subyek Selama 12 Kali Pemeriksaan 3.00 0.432 14. 08 . 22 .00 0.238 3.00-14.

00 WIB sebesar 4.828 2.414 0.00 0. menunjukkan bahwa pada subjek I ternyata selama 12 kali pemeriksaan sediaan darah selalu ditemukan adanya mikrofilaria.Berdasarkan Grafik 1 terlihat kepadatan rata-rata mikrofilaria yang tertinggi pada Subjek I sebesar 5. Puncak kepadatan mikrofilaria dari 6 subjek penelitian ternyata bervariasi.00 Kepadatan Mikrofilaria 3.0 0 10 .472 mikrofilaria per 20 mm³.50 1.50 0.00 2.288 per 20 mm³.00 WIB tidak ditemukan adanya mikrofilaria.0 3.0 0.0 06 . 5.00 1.00 WIB dan pukul 14.000 0 12 .546 per 20 mm³ dan terendah pada subjek VI sebesar 1.00-02. Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap 6 subjek penelitian ternyata diketahui bahwa mulai jam 22.432 mikrofilaria per 20 mm³ dan terendah pada pukul 10. Hal ini menunjukkan bahwa puncak aktivitas mikrofilaria terjadi pada 22.00-02. Sedangkan kepadatan rata-rata mikrofilaria secara keseluruhan sebesar 1.0 04 . Grafik 3 menunjukkan bahwa mikrofilaria pada Subjek II baru ditemukan pada pukul 18.00 WIB dengan kepadatan 16. 3.00 WIB tidak ditemukan mikrofilaria tetapi pada pukul 12.00 WIB.464 2.00 WIB.464 2.00 WIB semuanya ditemukan adanya mikrofilaria.0 00 . Sementara mulai pukul 08. Grafik 2.450 1.414 mikrofilaria per 20 mm³.00 WIB ternyata ditemukan kembali adanya mikrofilaria. Selanjutnya pada pukul 10.00 WIB tidak ditemukan adanya mikrofilaria tetapi pada pukul 08.00 WIB dan pukul 04.000 0 08 . Sementara kepadatan mikrofilaria per orang per jam dapat dilihat pada grafik berikut: (Grafik 2.414 1.00 WIB dengan puncak kepadatan mikrofilaria terjadi pada pukul 22. 6 & 7). Kepadatan Mikrofilaria pada Subyek II 4.0 0.0 0 Jam Pemeriksaan .0 02 .450 3.414 1.00-14.0 14 .00 WIB ternyata ditemukan kembali adanya mikrofilaria.986 per 20 mm³.00 WIB sebesar 1. Hal ini menunjukkan bahwa mikrofilaria pada subjek I bersifat sub periodic nokturna artinya mikrofilaria bisa terdapat dalam darah tepi pada malam dan siang hari.50 2. Pada Grafik 4 terlihat bahwa mikrofilaria pada subjek III baru ditemukan pada pukul 20. Sementara pada pukul 06. 4. Hal ini berarti bahwa mikrofilaria pada Grafik 3.50 3.0 20 .00 WIB dengan puncak kepadatan mikrofilaria pada pukul 00.00 0 16 .0 22 .000 0 0 0 0 0 0 0 18 . Puncak kepadatan mikro- filaria pada subjek I terjadi pada pukul 06.414 1.

Subjek V memiliki periodisitas yang hampir sama dengan Subjek III dan Subjek IV seperti yang ditunjukkan pada Grafik 6.000 0.50 0. 00 .00 22.00 2.464 4.000 0.50 3.000 00 00 00 00 00 00 00 00 00 12 .50 1.00 14.243 2.00 Jam Pemeriksaan Grafik 5.000 0. 18 .00 04.00-04.000 0. 16 .000 0.00 10.414 1.50 2.Grafik 4.732 1.828 7.00 WIB dengan kepadatan 7.00 Kepadatan Mikrofilaria 6.472 3.00 2. 00 .732 4. hampir sama dengan periodisitas pada Subjek III.732 0.00 1. Kepadatan Mikrofilaria pada Subyek III 5.00 Jam Pemeriksaan subjek III mempunyai periodisitas nokturna artinya bahwa mikrofilaria hanya terdapat dalam darah tepi pada malam hari.00 12.00 06. 22 . 20 . Berdasarkan grafik tersebut maka mikrofilaria pada Subjek IV juga mempunyai periodisitas nokturna artinya mikrofilaria hanya terdapat dalam darah tepi pada malam hari.00 WIB dengan puncaknya pada pukul 20. Mikrofilaria ditemukan pada Subjek V mulai pukul 18. Mikrofilaria mulai ditemukan pada Subjek IV pada pukul 16.00 08.00 20. Puncak kepadatan parasit ditemukan pada 14 .481 0.0000.000 0.00 00.000 16.071 mikrofilaria per mm³. 04 .00 5.00-06. Kepadatan Mikrofilaria pada Subyek IV 8.00 3.0000.00 WIB.414 3.000 1.00 0.899 4.071 6.00 0. 02 .00 7.00 1. Periodisitas Subjek IV pada Grafik 5. 08 .00 1.00 18. 00 10 .50 4.00 4.00 Kepadatan Mikrofilaria 4.00 3.464 1. 06 .00 02.00 0.

000 0.000 3.00 08.00 WIB ditemukan kembali adanya mikrofilaria.450 1.000 0.00 12.50 1.00 18. Berdasarkan Grafik 7.000 16.00 20.000 0.50 0.00 WIB dengan kepadatan mikrofilaria 2.00 0.50 1.00 Kepadatan Mikrofilaria 2.000 16.50 2.414 2.000 0.00-02.000 0.00 02.414 2.50 0.00 10.00 04.50 3.pukul 06.000 0.00 0.000 1.000 0.00 1.00 WIB mikrofilaria tidak ditemukan dan pada pukul 06. Kemudian pada pukul 20.00 14.732 1.00 08.000 0.873 Jam Pemeriksaan Grafik 7.732 0.00 Jam Pemeriksaan . Kepadatan Mikrofilaria pada Subyek VI 3.000 2.00 10.50 2.00 14. Mulai pukul 08.00 WIB ditemukan kembali adanya mikrofilaria dalam darah tepi Subyek VI.00 22.00 1.414 1.000 0. Sifat mikrofilaria pada Subjek V sama dengan Subjek III dan Subjek IV yaitu periodisitas nokturna karena mikrofilaria hanya ditemukan pada darah tepi pada waktu malam hari.50 4.00 WIB tidak ditemukan kembali adanya mikrofilaria dalam darah tepi Subyek VI.450 2.00 WIB dengan puncak kepadatan mikrofilaria terjadi pada pukul 02. Kepadatan Mikrofilaria pada Subyek V 4.00 18.00 02.00 2.00 20.732 1.00 Kepadatan Mikrofilaria 3. Tetapi pada pukul 04.00 22.00 2.00 06. terlihat bahwa mikrofilaria pada Subjek VI juga mempunyai periodisitas nokturna.450 per cu mm.00 WIB tidak ditemukan adanya mikrofilaria dan selanjutnya pada pukul 22.00 04.00 00.00 1.000 0.00 06.00 12.00 00. Grafik 6.00-14.00 0.00 WIB. Mikrofilaria mulai ditemukan pada pukul 18.

menunjukkan jumlah nyamuk yang tertangkap per jam.3% responden pernah melihat orang dengan gejala filariasis.). . Sebagian besar responden tidak tahu cara penularan filariasis (59.0020. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata tidak ditemukan adanya mikrofilaria dalam darah kucing.9% responden mengatakan filariasis merupakan penyakit keturunan sementara 11. Berikut data hasil penangkapan nyamuk selama 3 kali penangkapan: (Grafik 8) Grafik 9. Hal ini karena sebagian besar mereka tinggal di dekat sumber penular penyakit serta tinggal di lingkungan yang merupakan tempat perindukan vektor utama filariasis di Sumatera Selatan (Ma. Zoonosis (Pengambilan darah hewan) Pengambilan darah hewan dilakukan terhadap 11 ekor kucing (Felis catus) untuk melihat kemungkinan adanya infeksi mikrofilaria terhadap hewan (zoonosis).Vektor Filariasis Jumlah nyamuk yang tertangkap selama 3 kali penangkapan sebanyak 1. kelembaban pada saat itu adalah 83%. Jumlah nyamuk yang tertangkap sebanyak 18 ekor. Kasus positif filariasis sebagian besar tinggal di dekat rawa yang banyak ditumbuhi tanaman air yang merupakan habitat nyamuk Mansonia. Selain dilakukan penangkapan nyamuk dengan metode landing collection juga dilakukan penangkapan nyamuk resting indoor/outdoor selama 6 jam (pukul 18. Pengambilan darah hewan dilakukan pada malam hari bersamaan dengan kegiatan SDJ.00 WIB dengan jumlah nyamuk tertangkap sebanyak 158 ekor. Pemetaan kasus dan tempat perindukan nyamuk Berdasarkan hasil pemeriksaan SDJ yang telah dilakukan ternyata kasus positif filariasis memiliki risiko yang cukup tinggi untuk tertular filariasis.6%). Sebanyak 29. Pengetahuan. Namun berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan ternyata tidak ditemukan adanya larva filaria dalam tubuh nyamuk. namun pada saat pelaksanaan survey hanya diperoleh 81 responden. Sikap dan Masyarakat terhadap filariasis Perilaku Responden yang harus diperoleh untuk mengetahui PSP masyarakat tentang filariasis seharusnya sebanyak 91 responden. 11 ekor Cullex.74%) yang telah dinyatakan sebagai vektor filariasis di wilayah Sumatera Selatan. Darah kucing diambil melalui telinga dengan cara menggunting bagian ujung telinga kucing kemudian darah yang ke luar ditempelkan pada slide. Berikut peta kasus filariasis dan tempat perindukan nyamuk di Desa Sungai Rengit: (Gambar 1.156 terdiri dari 15 spesies dengan jumlah terbanyak adalah nyamuk Mansonia uniformis (74. Puncak kepadatan nyamuk terjadi pada jam 19. Pengetahuan responden mengenai penyakit kaki gajah/filariasis dari hasil wawancara tertadap 81 penduduk Desa Sungai Rengit menunjukkan bahwa sebagian besar reponden belum pernah mendengar istilah filariasis/penyakit kaki gajah (55. Namun setelah dilakukan holding selama 12 hari nyamuk yang masih hidup tinggal 9 ekor (8 ekor Culex. 4 ekor Mansonia dan 2 ekor Armigeres.6% responden tahu tentang gejala filariasis dan 38.3%). terdiri dari 4 spesies: 1 ekor Annopheles. Setelah dilakukan pembedahan secara individu ternyata tidak ditemukan larva filaria dalam tubuh nyamuk.00 WIB).1 % responden mengatakan bahwa filariasis tidak dapat disembuhkan.00-24. Penangkapan hanya dilakukan 1 kali. uniformis). Nyamuk yang tertangkap selanjutnya di pelihara (holding) selama 12 hari. 1 ekor Armigeres). sedangkan 4.

01.22.00 03.00 21.00 04.gellidus 7 Cx.00 01. Spesies Nyamuk Tertangkap Di Sungai Rengit (JuniOktober 2006) 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 Ma.03.00.00 22.00.00 05.00.Grafik 8.hyrcanus group 1 Cx.00 24.23.24.20.uniformis Cx.04.00.anulata 15 Cx.indiana 10 Cx.00.05.00 20.bitaeniorhynchus 1 An.00.00.annulifera 2 An.fuscocephalus 2 Ma.00 02.00.00 06.02.tritaeniorhynchus 11 Ma.00 Jam Penangkapan 80 147 158 134 115 97 72 66 77 90 68 52 bahwa >90% responden memiliki sikap positif dalam mendukung kegiatan pemberantasan filariasis.quinquefasculatus Ar.0019. Perilaku responden yang berhubungan dengan filariasis .00.barbumbrosus Spesies Nyamuk Grafik 9.subaltus 864 Jumlah Nyamuk Sikap responden terhadap upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit kaki gajah/filariasis berdasarkan hasil wawancara dan hasil analisis diketahui Jumlah Nyamuk 95 76 27 Ma.00.00 23.19. Jumlah Nyamuk Tertangkap Per Jam di Sungai Rengit (Juni-Oktoer 2006) 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 18.dives/bonneae 27 Ma.21.spp 9 Cx.hutchinsoni 9 Cx.00.

Dinkes Prop. 2004. 5. Loka Litbang P2B2 Baturaja. Gadjah Mada University Press. Soekidjo. David A. Stanley Lemenhow dkk. Diagnostik Parasitologi Kedokteran. PT Gramedia Pustaka Utama. Depkes RI. 2003. Stephen R. Edisi 2. Teknik Sampling. Banyuasin..1% responden yang mengaku pernah minum obat untuk pencegahan filariasis.C. Penerbit Buku Kedokteran. Buku Pegangan Alat Bantu Untuk Eliminasi Filariasis.&Dewi A.G. Bhisma. Rekapitulasi Laporan Program P2 Filariasis Tahun 20022005.2% masyarakat mengaku sering ke luar rumah pada malam hari. Sebanyak 4. Yogyakarta. 1990.berdasarkan hasil wawancara ternyata diketahui bahwa masih ada masyarakat yang berobat ke dukun bila ada anggota keluarga yang sakit (3. 2005. DAFTAR RUJUKAN 1. Metodologi Penelitian Kesehatan. 7. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Yth.4%) responden tidak bersedia disemprot rumahnya untuk pencegahan filariasis dengan alasan bau dan penyemprotan tidak mengurangi jumlah nyamuk. Jakarta. 2004. Ditjen PPM & PL. Sedangkan 59. Buku 1-7. Infeksi yang Ditularkan dari Hewan ke Manusia. Hanya 11. Alih bahasa: Dr. Cetakan II. dkk. NTT..S. Jakarta. Zoonosis. Prinsip dan Metode: Riset Epidemiologi. Dinkes Prop. M. Sudomo. APU selaku konsultan penelitian. 9. Rineka Cipta Jakarta. 11. Akhmad Saikhu. 6. Pengantar Epidemiologi. Faizati Karim. Jakarta. Bapak Mujahidin selaku pemegang progam filariasis Dinkes Kab..P.9% responden tidak bersedia diambil darahnya dengan alasan takut dan sakit. Dr. dkk. MScPH selaku Kepala Loka Litbang P2B2 Baturaja.7%). Pedoman Progam Eliminasi Penyakit Kaki Gajah (Filariasis) di Indonesia. 2002. Depkes RI. Jakarta. SKM.B. Jakarta. Yogyakarta. NTT.. Budiarto. .P. Pemberdayaan PSM dalam Penemuan Tersangka Filarisis di Desa Rimbaterap Kabupaten Banyuasin. Jack M.E.: dr. Suwandi Subki selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin. Sugiarto. Notoatmodjo. Tool Kit Handbook. 2. dr. 4. 2003. Gadjah Mada University Press. Besar Sampel dalam Penelitian Kesehatan. Dinkes Kabupaten Banyuasin. Sebanyak 6 (7. Robby Makimian M. 1995. Lynne S. Murti. Bell J. 10. Penerbit Buku Kedokteran. 1996.P. Dinkes Kabupaten Banyuasin. 8. 2006. MPH selaku Kepala Puslitbang Ekologi dan Status Kesehatan. 3.. Upaya yang paling banyak dilakukan untuk menghidari gigitan yaitu dengan menggunakan obat nyamuk bakar. Ambarita L. 1997. Penerbit Buku Kedokteran.

Habitat vektor 20 1+ Rawa RT 1 1+ 3+ 1+ 10 RT 2 10 10 RT 3 1+ 10 Kadus 10 10 Rumah penderita filariasis Kebun/hutan RT 5 10 10 10 RT 6 10 RT 6 10 10 10 RT 7 1+ 1+ 10 RT 4 10 RT 4 10 RT 5 Kebun/hutan 10 Kuburan RT 8 RT 9 RT 10 RT 7 Keterangan: Jalan Aspal Jalan Tanah Jalan Setapak Sungai + 10 Rumah Penduduk Sekolah Rumah Penderita Filariasis Mushola Gambar 1. Peta Kasus Filariasis dan Tempat Perindukan Vektor di Desa Sungai Rengit .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->