Anda di halaman 1dari 7

Pendidikan dan Realitas Sosial Oleh: Adi Surya * Alumnus FISIP Unpad Banjarmasinpost.co.

id - Senin, 28 Februari 2011 | 01:15 Wita | Dibaca 181 kali | Komentar (0)

Krisis Pangan Jangan Anggap Remeh Spirit Kepemimpinan Rasulullah Negara dan Intoleransi Beragama Mewaspadai Politik Singgasana

BAGAIMANA refleksi hasil pendidikan di Indonesia? Ada sebuah anekdot yang cukup lucu sekaligus ironis untuk menggambarkannya. Konon, ketika seorang anak di Cina ditanya citacitanya, mereka menjawab, Aku ingin menguasai software. Ketika anak-anak dari India ditanya dengan pertanyaan yang sama, mereka menjawab, Aku ingin menguasai hardware. Akan tetapi ketika kita bertanya pada anak di Indonesia tentang ingin jadi apa kelak, muncul jawaban nowhere (tidak ke mana-mana). Selama ini, banyak orang terjebak dalam pandangan bahwa pendidikan adalah suatu proses yang tidak merdeka dari penjejalan teori tanpa daya kritisi yang kuat. Perkembangan ilmu menjadi stagnan, dan pada akhirnya tidak cukup mampu untuk menjawab permasalahan kontemporer pada masyarakat. Hakikat ilmu dan pendidikan direduksi sedemikian rupa menjadi ajang peraihan gelar formal tanpa dibarengi dengan kecerdasan yang lengkap. Sebuah pertanyaan seharusnya menggantung di depan jendela berpikir kita, untuk apa sebenarnya pendidikan jika masalah kemanusiaan tetap bercokol di muka bumi? Sudah lama teori pisah ranjang dengan realitas. Teori-teori begitu nyaman bersemedi di menara intelektual yang jauh dari harapan bisa membumi. Jurang ilmu eksakta dan sosial menjadi makin jauh. Itu adalah indikasi bahwa seharusnya sudah sejak lama sistem pendidikan kita mengalami perubahan. Fokus sistem pendidikan yang berlangsung hingga kini telah keliru. Ujian-ujian di bangku pendidikan sudah terlalu banyak dipenuhi oleh pertanyaan apa, padahal pertanyaan mengapa dan bagaimana ditinggalkan. Pertanyaan model apa menghasilkan generasi hafalan. Sedangkan model apa, mengapa dan bagaimana menghasilan generasi yang punya nalar membongkar, mencari dan menyelesaikan sebuah masalah. Paradigma baru itulah yang mampu menciptakan perubahan untuk menciptakan lulusan sekolah yang cemerlang. Materi dalam kurikulum yang sudah ada harus dilengkapi dengan pemahaman mengenai aspek lain yang penting seperti sikap kritis, lingkungan, korupsi, multikulturalisme. Mengintegrasikan realitas sosial ke dalam praktik pendidikan akan membuat keluaran pendidikan tidak sekadar menghafal dan tahu lebih banyak informasi pengetahuan, tetapi juga

sanggup memberi nilai praktis atas informasi yang diperolehnya. Meminjam ungkapan Paulo Freire (1972), mengajar bukan sekadar memindahkan pengetahuan dengan hafalan. Mengajar tidak dapat direduksi sebagai mengajar untuk mengajar, tetapi mengajar akan berfungsi bila siswa belajar untuk belajar (learn to learn). Artinya, siswa sanggup belajar alasan dan tujuan dari objek dan isi yang dipelajari. Untuk mengimplementasikan tujuan dibutuhkan metode pendekatan, yakni menekankan interaksi antara anak dan lingkungan. Perubahan dimaknai sebagai hasil rekayasa timbal balik antara lingkungan dan anak. Oleh karena itu, kita tidak cukup hanya mendidik anak di bangku sekolah. Tetapi juga menggunakan sumber yang ada dalam lingkungan untuk membantu perubahan perilaku. Dalam hal ini kita bisa mengidentifikasi dua sistem sumber, yakni sistem sumber informal yang terdiri dari teman sebaya dan orangtua. Kemudian sistem sumber institusional seperti pihak sekolah, aparat pemerintahan desa dan pihak terkait lainnya. Semua sistem sumber bergabung bersama sebagai kelompok kerja yang disebut sistem pelaksana perubahan. Di dalamnya kita melakukan assestment (diagnosa) permasalahan dan masukan bagi pembelajaran yang akan dilakukan. Di antara berbagai sistem sumber, yang mendapat porsi terbesar setelah sekolah ada pada orangtua, di mana anak pertama kali mendapatkan sosialisasi dan penanaman nilai-nilai untuk pertama kalinya. Selama program, orangtua dilibatkan dalam memantau dan juga ikut serta merangsang perubahan perilaku anak. Di samping itu metode hadap masalah yang akan dijalankan mengandung prinsip-prinsip seperti, memperlakukan peserta didik sebagai orang yang mempunyai potensi, menghormati keunikan individu, belajar sambil bermain, fokus pada kekuatan yang dimiliki, memfasilitasi bukan menggurui secara searah (dialogis), menghormati pendapat, memberi penghargaan dan hukuman yang mendidik, kerja sama, berorientasi pada pemecahan masalah dan prisip setiap anak bertanggung jawab dalam dirinya. Metode hadap masalah itu bertujuan agar anak-anak mengerti apa dan bagaimana pelajaran yang dipelajari bisa digunakan secara praktis di kehidupan sehari-hari. Selama mengajar, pendidik akan lebih banyak berperan sebagai fasilitator yang mencoba menggali potensi anak-anak didik untuk mengeluarkan pendapat. Diharapkan semua anak tidak takut berpendapat. Pengajaran juga akan terdiri dari tugas-tugas yang menyenangkan dengan penilaian tidak hanya pada hasil ujian melainkan dari keseluruhan pengetahuan, keterampilan dan sikap anak didik. Kita harus menciptakan imej bahwa sekolah itu menyenangkan. Karena pola pengajaran kebanyakan menggunakan metode satu arah dan disertai hukuman. Maka, sangat wajar, sekolah dimaknai sebagai kegiatan mencari nilai semata dan agar terhindar dari hukuman.

Memang penyadaran, pencerahan, pemberdayaan dan perubahan perilaku bukan proses satu atau dua tahun. Banyak tantangan yang akan dihadapi. Kita sedang bekerja dengan dan bukannya bekerja untuk manusia yang mempunyai daya cipta. Proses belajar merupakan proses seumur hidup. Namun, kita juga tidak cukup hanya melempar kata. Kita harus tetap mengayun langkah. Karena, bagaimana pun perjalanan seribu mil tidak akan ada jika tidak dimulai dari langkah pertama.

Krisis Pangan Jangan Anggap Remeh Oleh: Jusman Dalle * Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Banjarmasinpost.co.id - Rabu, 23 Februari 2011 | 01:45 Wita | Dibaca 156 kali | Komentar (0)

Optimalkan Lahan Tidur El Nino Berkah bagi Rawa Lebak Petani Sejati di Era Feodalistik El Nino Ancam Ketahanan Pangan

PERSERIKATAN Bangsa Bangsa (PBB) melalui salah satu organisasinya, yaitu Food and Agriculture Organization (FAO) mengeluarkan warning kepada dunia akan ancaman krisis pangan akibat perubahan ekstrim iklim satu dekade terakhir. Harga pangan dunia akan melonjak pada 2011. Lonjakan harga itu akan melebihi lonjakan harga yang terjadi pada 2008. Padahal, krisis dunia yang ditandai dengan mahalnya harga pangan pada 2008 telah menyebabkan kerusuhan di sejumlah negara. Selain dari perubahan iklim global yang mempengaruhi produksi, indikasi mulai terjadinya krisis pangan dapat kita analisa dari merangkaknya harga pangan. Harga cabai rawit yang biasanya tak lebih dari Rp 25.000 per kilogram, tiba-tiba meroket tajam hingga tembus pada angka Rp 100.000 lebih per kilogramnya. Itu baru kebutuhan pangan sekunder, sementara harga kebutuhan pokok seperti beras juga merangkak naik. Selama ini, Badan Urusan Logistik (Bulog) sebagai lembaga pemerintah yang mengurusi kebutuhan pangan nasional setiap tahun mengandalkan impor beras dari Thailand dan Vietnam. Namun kali ini sepertinya harus mengisap jempol, karena pemerintah Vietnam dan Thailand sendiri telah mengumumkan tidak akan melakukan ekspor beras untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan pangan nasional mereka. Perubahan iklim dunia menurunkan produktivitas pangan di kedua negara tersebut. Karena, pada dasarnya perubahan iklim dan aktivitas perekonomian mempunyai hubungan yang saling memengaruhi.

Indonesia dengan bentangan alam dari Sabang sampai Merauke yang subur dan bergelar zamrud khatulistiwa, juga dikenal sebagai negeri agraris. Sebagian besar masyarakat bertumpu pada pertanian. Namun kini predikat negeri agraris harus ditinjau kembali. Menurut data BPS, jumlah petani di Indonesia mencapai 44 persen dari total angkatan kerja di Indonesia, atau sekitar 46,7 juta jiwa. Dari luasnya lahan pertanian yang mencapai 21 juta hektare, berarti satu orang petani rata-rata hanya menggarap lahan seluas 0,4 hektare. Sangat sempit. Di sisi lain, lahan pertanian terus berkurang 27 ribu hektare per tahun, sehingga turut memengaruhi penurunan produk pangan secara keseluruhan selain padi, seperti kedelai dan jagung. Dengan pertumbuhan jumlah penduduk 1,3 persen per tahun, jika tidak ada langkah cepat, maka suatu saat terjadi kelangkaan pangan. Terjadinya kelangkaan pangan itu akan berakibat pada apa yang disebut multiple crisis. Ada beberapa krisis yang mungkin terjadi, yaitu merebaknya gizi buruk (krisis kesehatan), inflasi yang tajam karena kenaikan harga pangan (krisis ekonomi), serta lemahnya kepercayaan publik pada pemerintah yang tidak mampu mengelola kebutuhan masyarakatnya (krisis politik). Krisis pangan yang mengulminasi menjadi krisis politik, baru-baru ini dapat kita saksikan dari revolusi di Tunisia. Akibat mahalnya harga pangan, seorang warga akhirnya protes kepada pemerintah dengan cara membakar diri setelah gerobak jualan sayurnya dibongkar petugas keamanan. Sontak, aksi membakar diri itu kemudian memicu bara kemarahan di seantero Tunisia yang sebelumnya memang sudah memendam kemarahan akibat prakiek korupsi dan diktator Presiden Ben Ali. Integritas pemerintahan Ben Ali pun rontok, terjadi revolusi. Tidak pernah selesainya persoalan politik dan hukum di negeri ini yang terus menuai kritik dari berbagai kelompok masyarakat hingga tokoh agama, bisa saja dilokalisasi dengan intrik tingkat elite. Tetapi permasalahan pangan adalah masalah seluruh rakyat Indonesia, ketika terjadi kelangkaan, maka seluruh rakyat hingga yang tidak paham persoalan politik sekali pun akan kompak melakukan protes. Rakyat mau makan apa untuk bisa bertahan hidup? Rakyat membayar pakai apa ketika harga tidak terjangkau? Seperti teori kebutuhan Abraham Maslow, bahwa ketika basic needs dalam hal ini pangan tidak terpenuhi, maka orang akan memberontak karena merasa terancam. Persoalan basic need adalah persoalan security and safety, sebuah jaminan keamanan hidup. Petualangan politik sejumlah parpol dan politisi yang terus mencari kesalahan pemerintah di tengah peliknya masalah negeri ini, bisa makin memperkuat delegitimasi pemerintah di mata rakyat. Rakyat yang perutnya kosong akan mudah terprovokasi.

Dasar pemikiran dua filsafat politik yaitu Marxisme dan Anarkisme sedikit banyak beririsan. Pada praktik kapitalisme yang menguasai sektor vital kehidupan rakyat, sementara di sudut kehidupan lain rakyat hidup di bawah standar kesejahteraan bahkan dengan perut kosong. Maka pada titik tersebut, puncak kemarahan rakyat sebagai ekspresi depresi sosial akan diartikulasikan dalam bentuk pemberontakan. Karena masalah ketimpangan sosial muncul dari tatanan sosial yang buruk, maka negaralah yang harus bertanggung jawab. Krisis pangan merupakan persoalan perut lebih dari 230 juta rakyat Indonesia. Tidak bisa diselesaikan dengan politik pencitraan, apalagi sekadar angka-angka dari data statistik. Rakyat merasakan langsung betapa beratnya desakan kebutuhan ekonomi, khususnya pangan, bahkan untuk sekadar mengepulkan dapur. Sebelum semuanya itu menjadi kenyataan, maka berharap pemerintah memiliki political will, mengambil langkah cepat untuk menyelamatkan Indonesia dari ancaman krisis. Semoga!

Petani Sejati di Era Feodalistik Banjarmasinpost.co.id - Sabtu, 12 Desember 2009 | 00:55 Wita | Dibaca 75 kali | Komentar (0) Oleh: Dr Ir Ismed Setya Budi MS ANCAMAN kelaparan lebih menakutkan dibanding akibat bahaya keamanan pangan. Untuk itu berupaya meningkatkan produktivitas tanaman dengan menghalalkan segala cara. Kondisi seperti itulah yang menjadi angin segar bagi distributor bibit unggul, pupuk dan pestisida sintetis serta masuknya berbagai teknologi dari luar yang memberikan janji manis, melupakan kearifan lokal yang ada. Era revolusi hijau yang ditandai dengan penggunaan bibit unggul, pupuk dan penggunaan pestisida beracun, terbukti mampu membius badan dunia FAO untuk mengakui keberhasilan Indonesia menjadi negara swasembada beras. Namun kesuksesan itu hanya bersifat sementara, karena setelah itu berbagai musibah bermunculan yang mengakibatkan negara makin terpuruk. Petani kehilangan jati diri karena ketergantungan terhadap bibit unggul, pupuk dan pestisida yang dari waktu ke waktu makin besar. Pemerintah pun kesulitan untuk memenuhi subsidi pupuk dan pestisida yang kian besar pada APBN. Lebih mengkhawatirkan lagi, makin terkurasnya sumber daya alam sebagai bahan baku pembuatan pupuk dan pestisida sintetis. Untuk mengatasi kemerosotan kesuburan tanah akibat dampak negatif pupuk sintetis dan makin bertambah beratnya serangan organisme pengganggu (hama dan/atau penyakit akibat timbulnya kekebalan), petani berusaha meningkatkan dosis pupuk dan pestisida agar produktivitas tanaman

tetap tinggi. Pemaksaan petani di era modern seperti menanam varietas unggul anjuran yang dikemas dalam berbagai subsidi, petani jadi terlena dengan menggunakan pupuk dan pestisida murah secara leluasa tanpa terasa jadi beban produksi. Namun, peningkatan keuntungan petani karena perubahan kebiasaan dari penggunaan bibit lokal ke bibit unggul, ternyata tidak bisa bertahan lama untuk dinikmati. Berbagai masalah mulai bermunculan, seperti makin rusaknya kesuburan dan struktur tanah, timbulnya berbagai organisme pengganggu baru yang lebih ganas serta dampak racun pestisida bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Pemerintah pun mulai berpikir ulang setelah menyadari bahwa subsidi pupuk dan pestisida menjadi beban berat bagi devisa. Akibat subsidi dikurangi, harga pestisida dan pupuk melambung bahkan kelangkaan pun mulai terjadi. Petani mulai mengurangi penggunaan pestisida dan pupuk, sehingga produksi tanaman pun tidak maksimal. Produktivitas jauh berkurang. Di saat petani terpuruk, kapitalis makin bermain untuk mengatur segalanya. Sistem kapitalis sudah terbukti menghantarkan petani sejati menderita. Mereka terpaksa menjual lahan kepada tuan tanah atau petani berdasi karena tidak mampu lagi menyiapkan modal usaha yang makin mahal, tidak sebanding dengan keuntungan yang didapat. Selanjutnya mereka menjadi buruh tani atau petani penggarap. Kepahitan hidup di zaman seperti sekarang ini, memaksa petani dengan suka cita menjual lahannya yang masih tersisa. Akibatnya petani tak berlahan meningkat dan ujung-ujungnya mereka mengambil jalan pintas mengadu nasib ke kota. Hubungan feodal makin subur karena didukung kondisi makin maraknya kebebasan atas kepemilikan lahan garapan. Hubungan buruhmajikan makin berkembang untuk menciptakan buruh sejati pada sektor pertanian kecil, dan berlanjut menjadi buruh industri pertanian besar. Inilah contoh dampak kebijakan keliru yang hanya mengejar produktivitas tanpa memperhatikan aspek ekologis dan sosial masyarakat. Lantas, bagaimana menolong petani sejati di era feodalistik seperti sekarang ini? Itu dilema krusial dengan fakta bahwa petani sejati komonitasnya besar dan kontribusinya juga primer bagi pemenuhan hajat hidup manusia. Tapi kita tidak berpikir untuk menjaga kelestariannya. Petani sejati dibiarkan tanpa perlindungan yang jelas. Padahal seharusnya mereka itu terbebas dari intervensi luar. Proses dehumanisasi perlu diakhiri karena akan menyuburkan sistem pertanian feodalistik. Di mana petani kebanyakan tidak lagi memiliki lahan, tapi sebagai petani penggarap pada tanah yang dimiliki tuan tanah.

Akibat suburnya feodalistik, berbagai subsidi pertanian menjadi salah sasaran, tidak menyentuh petani sejati tapi dinikmati tuan tanah yang umumnya orang kota yang memiliki lahan garapan. Sungguh tragis, petani yang miskin menjadi tambah miskin, sedangkan petani berdasi makin kaya. Perlu segera kebijakan untuk mewujudkan sistem kepemilikan lahan abadi guna menjamin keberlanjutan produksi pertanian. Lebih mendesak, mengurangi ketergantungan petani pada kegiatan usaha tani dengan input dari luar, seperti penyediaan bibit unggul, pupuk dan pestisida sintetis. Akibat bibit unggul yang selalu dibeli, petani tidak lagi mampu menyiapkan bibit. Padahal pengembangan dan penggunaan varietas lokal tidak kalah dibanding varietas unggul produk luar asal kemandirian petani dibina dengan teknologi maju yang mendukung kearifan lokal. Saatnya tradisi fundamen bagi petani untuk mengontrol kehidupan pertaniannya dapat dukungan pemerintah agar kemandirian petani sejati yang memiliki pengetahuan kearifan lokal secara kultural, ekonomi, dan politik tetap terpelihara. Saatnya petani sejati kembali menjadi tuan di negeri sendiri, bukan terjajah oleh berbagai kebijakan. Petani sejati dapat dicapai melalui kegiatan pertanian lestari yang sungguh-sungguh, karena terbukti mampu menjamin keamanan terhadap manusia dan lingkungan serta aktivitasnya menguntungkan secara ekonomis untuk jangka panjang secara berkelanjutan. Kebijakan yang tepat untuk kembali ke alam dengan penerapan sistem pertanian organik perlu dukungan semua pihak. Kesadaran petani bahwa produk pertanian yang mengandung bahan kimia berbahaya dari pupuk dan pestisida sintetis akan menyengsarakan kita semua. Saatnya untuk kembali ke alam dengan pemakaian pupuk organik dan pestisida alami. Kita tunggu antisipasi instansi terkait agar nasib petani tidak makin terpuruk. * Staf ahli DPRD HSS