Anda di halaman 1dari 42

1 PERANAN GURU DALAM PEMBINAAN AKHLAK MURID SD NEGERI 1 SIMPANG BALIK

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana S-1 Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh Rasmayanti 211020953

PROGRAM KUALIFIKASI FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI AR-RANIRY DARUSSALAM BANDA ACEH 2012

2 DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah . B. Rumusan Masalah .. C. Tujuan Penelitian D. Manfaat Penelitian .. E. Kajian Pustaka. F. Defenisi Operasional G. Landasan Teori H. Metode Penelitian 1 5 5 6 7 8 9 14

BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian dan Syarat-Syarat Seorang Guru .. B. Fungsi Dan Peran Guru di Dalam Kelas. A. Pengertian Akhlak dan Bentuknya.. B. Peran Pendidikan Dalam Pembentukan Akhlak /Prilaku BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian B. Sumber Data .. C. Teknik Pengumpulan Data D. Instrumen Pengumpulan Data .. E. Analisa Data .. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian . B. Pembahasan.. C. Hasil Penelitian. D. Analisa Penelitian.. BAB V PENUTUP Kesimpulan .. A. Saran DAFTAR KEPUSTAKAAN

LAMPIRAN JUDUL CADANGAN 1. MENINGKATKAN MOTIVASI MINAT BELAJAR AGAMA SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL DI SD NEGERI 1 SIMPANG BALIK 2. HUBUNGAN MINAT DAN TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA DENGAN BELAJAR AGAMA SISWA DI SD NEGERI 1 SIMPANG BALIK 3. PROBLEMA YANG DIHADAPI GURU-GURU SEKOLAH DASAR MENERAPKAN KBK DALAM PEMBELAJARAN AGAMA (Suatu Studi Pada Sekolah Dasar Kecamatan Wih Pesam Bener Meriah)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Seperti diketahui bahwa lapangan pendidikan di mana pekerjaan mendidik berlangsung dalam masyarakat modern ini tidak hanya keluarga, tetapi di sekolahpun pendidikan tetap dilaksanakan oleh guru-guru yang bersangkutan. Sekolah merupakan follow up (lanjutan) dari pendidikan dalam keluarga anak. Sekolah bahkan dianggap sebagai sistem pendidikan formal, artinya

diselenggarakan atas dasar peraturan dan syarat-syarat tertentu, tujuan serta alatalat tertentu pula. Dalam kegiatan pembelajaran terjadi suatu proses komunikasi yang bersifat pedagogis antara pendidik dan anak didik atau antara guru dan murid. Dengan adanya komunikasi tersebut terwujudlah proses belajar dan mengajar yang diarahkan dalam ruang lingkup tujuan intruksional yang hendak dicapai. Salah satu komponen sebuah lembaga pendidikan adalah guru, keberadaan guru mutlak diperlukan dalam sebuah proses pembelajaran, ketika disebut pendidikan maka secara otomatis (dengan sendirinya) unsur guru sudah ada didalamnya. H.M Arifin menyatakan bahwa guru-guru yang menjalankan

5 tugasnya sudah tentu harus sanggup menjadi dirinya sebagai sarana penyampaian cita-cita kepada anak yang telah diamanatkan kepadanya.1

Oemar Malik mengjelaskan bahwa: Profesionalisme berkembang sesuai dengan kemajuan masyarakat modern. Hal ini menuntut beraneka ragam spesialisasi yang sangat diperlukan dalam masyarakat yang semakin kompleks. Masalah profesi kependidikan sampai sekarang masih banyak diperbincangkan. Program pendidikan guru yang serasi dan memudahkan pembentukan guru yang berkualifikasi profesional, serta dapat dilaksanakan secara efesien dalam kondisi sosial kultural masyarakat Indonesia.2 Penjelasan Oemar Malik di atas jelas bahwa profesi guru, merupakan sebuah profesi yang menuntut kemampuan seseorang untuk menekuni bidang tersebut, sehingga apabila guru memiliki kemampuan sebagai seorang guru, maka besar kemungkinan dan bahkan bisa dipastikan tujuan pendidikan dapat tercapai yakni terciptanya anak didik yang memiliki pengetahuan, kebaikan akhlak/sikap, dan keterampilan serta religiusitas dan kemampuan bermasyarakat.3 Jika dikemukakan apa saja yang menjadi faktor guru memiliki kompetensi profesional, akan ditemukakan berbagai jawaban, sebab berbagai pihak akan mengemukakan alasan-alasan yang dapat diterima secara rasional. Alasan-alasan yang dikemukakan sesuai dengan parameter yang digunakan dan juga dari berbagai pengalaman, peristiwa atau hasil penelitian dan juga dari orang-orang yang memiliki kompeten dan otoritas untuk mengemukakannya.

1 H.M. Arifin, Hubungan Timbal Balik, Pendidikan agama di Lingkungan Sekolah dan Keluarga, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hal. 121. 2 Oemar Malik, Pendidikan Guru, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hal. 1. 3 Sukadi, Guru Powerfull, (Bandung: Qalbu, 2008), hal. Ix.

6 Perlu disadari bahwa siswa disekolah adalah bahagian dari masyarakat Islam yang menjadi tanggung jawab utama guru agama Islam, banyak faktor penyebab mengapa guru agama Islam lebih terfokus kepada tanggung jawab institusional (persekolahan) ketimbang tanggung jawab kemasyarakatan (umat Islam). Dengan demikian tugas guru khususnya guru agama Islam adalah tugas yang berat. Dalam Undang-Undang RI pasal No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen disebutkan bahwa Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan Nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakqa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, serta menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab.4 Apa yang tertulis dalam Undang-Undang RI di atas juga senada dengan apa yang dikemukan oleh Ngalim Purwanto bahwa tujuan pendidikan ialah membentuk manusia yang susila, manusia yang cakap, membentuk warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab.5 Substansi (hakikat), dari kata profesionalisme adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk mengajar.6 Bahkan bila ditelaah secara mendalam lagi bahwa kata profesional berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahliah khusus.7 Dari kutipan tersebut maka seorang guru selayaknya adalah orang yang memiliki kompetensi di bidangnya, sehingga dapat
Dalam Undang-Undang RI No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen dan Dalam Undang-Undang RI No. 120 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas, hal. 5-6. 5 Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007), hal. 22. 6 Muhammad Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007), hal. 14. 7 Muhammad Uzer Usman, Menjadi Guru , hal. 14.
4

7 dijamin tujuan pendidikan dapat tercapai dengan eksistensinya sebagai seorang pengajar. Hal ini dipertegas lagi dalam Undang-Undang RI No. 14 Tahun 2005 pasal 1 dan 2 bahwa guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga professional dan keprofesional tersebut dibuktikan dengan sertifikat sebagai seorang pendidik.8 Suatu pekerjaan yang bersifat profesional memerlukan beberapa ilmu yang secara sengaja harus dipelajari dan kemudian diaplikasikan bagi kepentingan umum. Atas dasar pengertian ini, ternyata pekerjaan profesional berbeda dengan pekerjaan lainnya karena suatu profesi memerlukan kemampuan dan keahlian khusus dalam melaksanakan profesinya. Hal di atas sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Muhammad Uzer Usman bahwa syarat sebuah profesi itu mencakup adanya keterampilan atas dasar konsep dan ilmu pengetahuan, adanya keahlian dalam bidang tertentu, pendidikan keguruan yang khusus dan memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan.9 Dengan demikian sesuatu yang dikatakan profesional adalah suatu pekerjaan yang secara sengaja dan dipersiapkan dengan matang untuk menjadi profesi khusus bagi orang yang menjalankan profesi tersebut atau dengan kata lain pekerjaan sebagai guru sebagai suatu profesi khusus tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang tanpa persiapan khusus pula. Namun dewasa ini baik di sekolah formal dan non formal banyak orang yang menjadi guru tanpa prosedur keguruan sehingga kualitas mengajarnyapun tidak maksimal. Atau sebaliknya kendati ia (guru) tersebut dididik khusus di

Dalam Undang-Undang RI No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen dan Dalam Undang-Undang RI No. 120 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas, hal. 5. 9 Muhammad, Menjadi .,hal. 15.

8 bidang keguruan (LPTK), namun belum sepenuhnya menguasai kompetensi profesional sebagai seorang guru. Peranan seorang guru sebagaimana telah diuraikan di atas tidak sepenuhnya dimiliki dan dikuasai oleh guru Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 1 Simpang Balik, sehingga dapat mempengaruhi minat, semangat para siswanya dalam belajar. Seharusnya seorang guru harus menguasai, harus memiliki profesionalisme dalam mengajar khususnya pendidikan agama Islam. Karena hal ini penting untuk diketahui maka penulis akan mengadakan penelitian dengan judul: Peranan Guru Dalam Pembinaan Akhlak Murid SD Negeri 1 Simpang Balik.

B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana peranan guru dalam pembinaan akhlak murid SD Negeri 1 Simpang Balik? 2. Apa upaya yang ditempuh guru dalam pembinaan akhlak murid SD Negeri 1 Simpang Balik?

C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui peranan guru dalam pembinaan akhlak murid SD Negeri 1 Simpang Balik.

9 2. Untuk mengetahui upaya yang ditempuh guru dalam pembinaan akhlak murid SD Negeri 1 Simpang Balik.

D. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini penulis rangkum menjadi dua yaitu manfaat secara teoritis dan manfaat secara praktis 1. Secara Teoritis a. Penelitian memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka pengembangan ilmu pendidikan terutama dikaitkan dengan hal-hal yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa b. Penelitian ini merupakan salah satu momen bagi peneliti untuk menuangkan ide-ide dan gagasan-gagasan di bidang pendidikan. c. Penelitian ini sebagai bahan informasi sekaligus sebagai bahan perbandingan antara konsep dan implementasi terhadap

profesionalisme guru agama di SD Negeri 1 Simpang Balik. 2. Secara Praktis a. Bagi guru, penelitian ini sebagai bahan introspeksi bagi guru untuk meningkatkan profesionalisme sebagai seorang pengajar dan tolak ukur untuk mengetahui sejauhmana kinerja yang telah mereka lakukan sebagai seorang pengajar. b. Bagi siswa, sebagai bahan masukan agar siswa lebih meningkatkan dan agar lebih aktif belajar Pendidikan Agama Islam, dengan aktifnya mereka belajar Pendidikan Agama Islam, maka secara

10 otomatis kecintaan mereka terhadap Agama Islam akan meningkat pula c. Bagi peneliti sebagai salah satu sarana untuk menjalin silaturahmi dan komunikasi dengan komunitas lembaga pendidikan dan sekaligus sebagai syarat akademik untuk mendapat gelar sarjana.

E. Kajian Pustaka Kajian dibawah ini merupakan beberapa hasil penelaahan peneliti terhadap beberapa referensi yang membahas tentang media dan komunikasi yaitu sebagai berikut: 1. Hadnah (2008) dalam skripsinya berjudul Profesionalisme Guru Agama Dalam Memotivasi Siswa Belajar di SMP Negeri 16 Takengon menyebutkan bahwa: Profesionalisme guru sangat diperlukan dalam memotivasi siswa belajar agama, seperti kemampuan seorang guru membaca kondisi psikologis siswa apakah tipe siswa yang menyukai pelajaran ama ataua tidak dengan mengetahui kondisi psikologis siswa, maka guru tau apa yang harus ia lakukan dalam mengajar di kelas terhadap siswa bersangkutan.10 2. Pitra (2008) dalam skripsinya berjudul: Profesionalisme Guru Dalam Mengevaluasi Kegiatan Belajar menyebutkan bahwa evaluasi merupakan salah satu tolak ukur yang dijadikan untuk mengetahui apakah kegiatan belajar mengajar yang dilakukan sebelumnya telah berhasil atau tidak, dengan mengetahui hasil dari evaluasi tersebut maka guru dapat mengetahui apa yang harus ia lakukan. 11 Dari kutipan di atas jika dirangkum kesimpulanya ialah sebagai berikut, guru memegang peran penting dalam sebuah lembaga pendidikan termasuk dalam hal menciptakan peserta didik yang berkualitas, dengan keberadaan motivasi

10 Hadnah, Skripsi: Profesionalisme Guru Agama Dalam Memotivasi Siswa Belajar di SMP Negeri 16 Takengon, (Takengon: STAI Gajah Putih, 2009), hal. 32. 11 Pitra, Skripsi: Profesionalisme Guru Dalam Mengevaluasi Kegiatan Belajar , (Takengon: STAI Gajah Putih, 2008), hal. 12.

11 siswa, prestasi dan semangat belajar siswa dapat dibina dan dikembangkan sesuai tujuan.

F. Defenisi Operasional Defenisi di bawah ini merupakan gambaran darii sub kosa kata yang terdapat pada judul, yang diambil dan merujuk dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, kamus pendukung, pendapat tokoh dan pendapat peneliti sendiri yaitu sebagai berikut: 1. Peran dalam akmus Bahasa Indonesia artinya sesuatu yang jadi bagian atau yang memegang pimpinan yang terutama12. Peran menurut Suardi adalah adanya aktivitas seseorang terhadap suatu hal13. Menurut penulis peran adalah seseorang atau, kelompok, institusi yang memiliki bagian dalam suatu kegiatan. 2. Guru Pendidikan Agama Islam. Dalam kamus Guru ialah orang yang kerjanya mengajar.14 Sedangkan guru pendidikan agama Islam adalah orang yang kerjanya mengajarkan ilmu agama kepada murid yang menjadi peserta didiknya. Menurut Sukadi guru adalah orang yang mempunyai keahlian khusus dan memiliki keterampilan sebagai seorang guru, seorang guru harus memiliki kepribadian sebagai seorang pendidik, dengan demikian apabila ia telah memiliki kepribadian sebagai pendidik maka dengan sendirinya peserta didik akan betah mengikuti seluruh rangkaian
WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1982), hal. 735. 13 Suardi, Propaganda dan Peran Pemerintah Dalam Partai, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hal. 76. 14 Wjs. Poerwadarminta, Kamus,,hal. 86.
12

12 kegiatan proses belajar mengajar bersamanya, dan tentu momen inilah yang sangat diharapkan.15 3. Akhlak adalah Budi pekerti, kelakuan atau pendidikan.16 Akhlak menurut Asmaran sifat-sifat yang dibawa manusia sejak lahir yang tertetanam dalam jiwanya dan selalu ada padanya.17 Menurut Peneliti akhlak adalah budi pekerti atau tingkah laku yang baik dan terpuji sesuai dengan norma agama dengan menggunakan pembelajaran tematik.

15

Sukadi, Guru Powerfull, (Bandung: Qalbu, 2006), hal. 32. Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Depdikbud, 2006), hal. 16. Asmaran, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: Rawali Pers, 2006), hal. 1.

16 17

13

BAB II LANDASAN TEORI

A. Pengertian dan Syarat-Syarat Seorang Guru 1. Pengertian Guru Guru dalam Undang-Undang RI No 14 Tahun 2005 pada Bab 1 ayat 1 diartikan adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.1 Dalam konteks penelitian penulis guru yang dimaksud adalah pada jenjang pendidikan menengah. Menjadi profesional, berarti menjadi ahli dalam bidangnya. Dan seorang ahli, tentunya berkualitas dalam melaksanakan pekerjaannya. Akan tetapi tidak semua Ahli dapat menjadi berkualitas. Karena menjadi berkualitas bukan hanya persoalan ahli, tetapi juga menyangkut persoalan integritas dan personaliti. Dalam perspektif pengembangan sumber daya manusia, menjadi profesional adalah satu kesatuan antara konsep personaliti dan integritas yang dipadupadankan dengan

Undang-Undang RI No 4 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, hal. 2.

14 skil atau keahliannya. Seorang guru yang professional menurut Sri Esti Wuryani Djiwandono harus mengerti : a. Psikologi siswa pada umur-umur yang berbeda dan prinsip-prinsip belajar dan modifikasi b. Prosedur khusus untuk menambah keefektifan untuk mengajr mereka dikelas. Seorang dokter kata Sri, selain tahu biologi, kimia, anatomi dan fisiolagi tetapi juga harus tahu bagaimana dan dimana bagian tubuh yang harus dipotong. Demikian juga seorang guru, selain harus tahu perkembangan kognitif, motivasi, dan psiologi sosial, ia juga harus tahu bagaimana mengajarkan mata pelajaran dan bagaimana memotivasi serta mengatur siswa.2 Seorang guru juga dituntut untuk terus lebih baik, agar mengarah kepada hal tersebut guru harus memberi informasi, yang penting mengenai proses yang melibatkan belajar, mengorganisasi, mengingat, berfikir menyelesaikan masalah dan menjadi kreatif. Seorang guru juga perlu untuk memberikan gambaran dan uraian yang strategis dan praktis untuk memudahkan proses belajar mengajar. Ketika disebutkan guru sudah pasti terbayang sosok mengajar, oleh karenanya tidak boleh tidak guru harus menyadari peran pentingnya dalam menumbuh suburkan regenerasi yang berkualitas yang siap pakai, sekali lagi penulis katakan bahwa guru dalam mengajar perlu untuk mampu merangsang minat belajar siswa sebisa-bisanya. Jadi dalam proses belajar mengajar ada keberhasilan ditandai dengan bangkit dan hidupnya semangat belajar siswa dengan cara metoda, keilmuan guru yang mengajar dan mendidiknya. Guru merupakan komponen paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan, yang harus mendapat perhatian sentral, pertama dan utama. Figur yang satu ini akan senantiasa menjadi sorotan
2

Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, Jakarta, 2006),

hal.1.

15 strategis ketika berbicara masalah pendidikan, karena guru selalu terkait dengan komponen manapun dalam sistem pendidikan. Guru memegang peran utama dalam pembangunan pendidikan. Khususnya yang di selenggarakan secara formal di sekolah. Guru juga sangat menentukan keberhasilan peserta didik, terutama dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar. Guru merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, upaya perbaikan apapun yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan memberikan sumbangan yang signifikan tanpa didukung oleh guru yang professional dan berkualitas. Dengan kata lain, perbaikan kualitas pendidikan harus berpangkal dari guru dan berujung pada guru pula.Guru mempunyai peran yang sangat strategis dalam upaya mewujudkan tujuan pembangunan nasional, khususnya di bidang pendidikan, sehingga perlu dikembangkan sebagai tenaga profesi yang bermartabat dan profesional. Katanya, guru merupakan titik sentral dari peningkatan kualitas pendidikan yang bertumpu pada kualitas proses belajar mengajar. Tetapi, mengapa peningkatan profesionalisme guru tidak dilakukan secara sungguhsungguh. Padahal guru profesional akan menghasilkan proses dan hasil pendidikan yang berkualitas dalam rangka mewujudkan manusia Indonesia yang cerdas dan kompetitif.3 2. Syarat-Syarat Guru Jabatan guru dikenal sebagai suatu pekerjaan profesional, artinya jabatan ini memerlukan suatu keahlian khusus. Sebagaimana orang menilai bahwa dokter, insinyur, ahli hukum, dan sebagainya sebagai profesi tersendiri maka gurupun
3

Mulyasa, Standar Kompetensi Sertifikasi Guru, (Bandung : Rosda Karya, 2007), hal. 5.

16 adalah profesi tersendiri. Pekerjaan itu tidak bisa dikerjakan oleh sembarang orang tanpa memiliki keahlian sebagai guru. Banyak orang yang pandai berbicara tertentu, namun orang demikian belum tentu bisa disebut sebagai seorang guru, ada perbedaan yang prinsipil antara seorang guru yang profesional dengan guru yang tidak profesional. Sama halnya seorang petani sayur-sayuran, yang bukan yang bukan profesional tidak akan mengerti bagaimana menggunakan pupuk dan mengetahui bagaimana memelihara tanaman itu agar tumbuh dengan subur. Sebaliknya seorang petani sayuran yang profesional dia mengetahui dengan jelas tentang masalah penanaman sayur-sayuran itu, sehingga hasil sayurannya akan lebih baik daripada petani yang pertama. Sementara itu, dalam Undang-Undang RI No 14 Tahun 2005 disebutkan bahwa profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut: 1. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme 2. Memiliki komitmen untuk untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia 3. Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas 4. Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan 5. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja 6. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat 7. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan 8. Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.4
4

Undang-Undang RI No 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, hal. 6.

17

B. Fungsi Dan Peran Guru di Dalam Kelas Peranan guru artinya keseluruhan tingkah laku yang harus dilakukan Guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai Guru. Dalam keseluruhan proses pendidikan khususnya proses pembelajaran di sekolah dan madrasah, Guru memegang peran utama dan amat penting. Khususnya Guru pendidikan agama Islam, harus bisa menjadi uswatun hasanah bagi anak didiknya. Perilaku Guru dalam proses pendidikan akan memberikan pengaruh bagi pembinaan perilaku dan kepribadian anak didiknya. Oleh karena itu, perilaku Guru hendaknya dapat dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat memberikan pengaruh baik kepada para anak didiknya. Mengenai apa peranan Guru itu ada beberapa pendapat dalam Sardiman yaitu: 1. Prey Katz menggambarkan peranan Guru sebagai komunikator, sahabat yang dapat memberikan nasehat-nasehat, monivator sebagai pemberi inspirasi dan dorongan, pembimbing dalam pengembangan sikap dan tingkah laku serta nilai-nilai, orang yang menguasai bahan yang diajarkan. 2. Havighurt menjelaskan bahwa peranan guru di sekolah sebagai pegawai dalam hubungan kedinasan, sebagai, sebagai bawahan terhadap atasannya, sebagai mediator dalam hubungannya dengan anak didik, sebagai pengatur displin, evaluator dan pengganti orang tua. 3. James W. Brown, mengemukakan bahwa peranan guru antara lain: menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencanakan dan mempersiapkan pelajaran sehari-hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa.5 Beberapa pendapat di atas maka secara rinci akan diuraikan beberapa peranan Guru dalam proses pembelajaran yaitu: 1. Guru sebagai pengajar
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo, Persada, 1986), hal.43-44.
5

18 Guru bertugas memberikan pengajaran di dalam sekolah (kelas), ia menyampaikan pelajaran agar murid memahami dengan baik semua pengetahuan yang telah disampaikan itu. Selain dari itu ia juga berusaha agar terjadi perubahan sikap, keterampilan, kebiasaan, hubungan sosial, apresiasi, melalui pengajaran yang diberikannya. Untuk mencapai tujuan-tujuan itu maka guru perlu memahami sedalam-dalamnya pengetahuan yang akan menjadi tanggung jawabnya dan menguasai dengan baik metode dan teknik mengajar.6 Melalui peranannya sebagai pengajar, guru diharapkan mampu mendorong siswa untuk senantiasa belajar dalam berbagai kesempatan melalui berbagai sumber dan media. Guru hendaknya mampu membantu setiap siswa untuk secara efektif dapat mempergunakan berbagai kesempatan dan berbagai sumber. Hal ini berarti bahwa guru hendaknya mengembangkan cara dan kebiasaan belajar yang sebaik-baiknya. Selanjutnya sangat diharapkan guru dapat memberikan fasilitas yang memadai sehingga siswa dapat belajar secara efektif. 2. Guru sebagai pembimbing Guru berkewajiban memberikan bantuan kepada murid agar mereka mampu menemukan masalahnya sendiri, mengenal diri sendiri dan

mmenyesuaikan diri dengan lingkungannya. Murid-murid membutuhkan bantuan guru dalam hal mengatasi kesulitan-kesulitan pribadi, kesulitan pendidikan, kesulitan dalam hubungan sosial dan lain-lain. Oleh karena itu, guru perlu memahami dengan baik tentang teknik bimbingan kelompok, penyuluhan individual, teknik evaluasi, psikologi kepribadian, psikologi belajar sehingga

Departemen Agama RI, Wawasan Tugas Guru dan Tenaga Kependidikan, (Jakarta: Direktorat Jenderal kelembagaan Agama Islam, 2005), hal. 72.

19 dapat dipahami bahwa pembimbing yang terdekat dengan murid adalah guru. Sebagai pembimbing dalam belajar, guru diharapkan mampu untuk: b. Mengenal dan memahami setiap siswa baik secara individu maupun kelompok. c. Memberikan penerangan kepada siswa mengenai hal-hal yang diperlukan dalam proses belajar. d. Memberikan kesempatan yang memadai agar setiap siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan pribadinya. e. Membantu setiap siswa dalam mengatasi masalah-masalah pribadi yang dihadapinya. f. Menilai keberhasilan setiap langkah kegiatan yang telah dilakukannya.7 Untuk itu para guru hendaknya memahami prinsip-prinsip bimbingan dan menerapkannya dalam proses belajar mengajar. 3. Guru sebagai pemimpin Peranan Guru sebagai pemimpin menurut kualifikasi tertentu, antara lain kesanggupan menyelenggarakan kepemimpinan seperti merencanakan,

melaksanakan, dan mengorganisasi Guru berkewajiban mengadakan supervise atas kegiatan belajar murid, membuat rencana pengajaran bagi kelasnya, mengadakan manajemen belajar sebaik-baiknya, melakukan manajemen kelas. Dengan kegiatan manajemen ini guru menciptakan lingkungan belajar yang serasi, menyenangkan, dan merangsang dorongan pada siswa.8 4. Guru sebagai pribadi Sebagai individu yang berkecimpung dalam pendidikan, guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik agar disenangi oleh murid-muridnya, oleh orang tua siswa, dan oleh masyarakat. Karena itu guru
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hal. 100. 8 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007) hal. 124.
7

20 wajib memupuk sifat-sifat pribadinya sendiri dan mengembangkan sifat-sifat pribadi yang disenangi oleh pihak luar. Tegasnya bahwa setiap guru perlu sekali memiliki sifat-sifat pribadi, baik untuk kepentingan jabatannya maupun untuk kepentingannya sebagai warga negara masyarakat.9 5. Guru sebagai ilmuan Guru dipandang sebagai orang yang paling berpengetahuan. Guru bukan saja berkewajiban menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya kepada murid, tetapi juga berkewajiban mengembangkan pengetahuan itu dan terus menerus memupuk pengetahuan yang telah dimilikinya. Dalam abad ini, dimana pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesat, guru harus mengikuti dan menyesuaikan diri dengan perkembagan tersebut. Banyak cara yang bisa dilakukan, misalnya: belajar sendiri, mengadakan penelitian, mengikuti kursus, mengarang buku dan membuat tulisan-tulisan ilmiah sehingga peranannya sebagai ilmuan terlaksana dengan baik.10 6. Guru sebagai pendidik Guru adalah seorang pendidik yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi peserta didik dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin.11 Jadi, pendidik merupakan orang kedua yang harus dihormati dan dimuliakan setelah orang tua, guru menggantikan peran orang tua dalam mendidik anak-anak ketika berada di sekolah adalah tepat apabila ada pepatah mengatakan, orang tua adalah guruku di rumah dan guru adalah orang
9

Departemen Agama RI, Wawasan Tugas Guru, hal. 74. Departemen Agama RI, Wawasan Tugas Guru,hal. 74. 11 Mulyasa, Menciptakan pembelajaran , hal. 37.
10

21 tuaku di sekolah. Dengan demikian, sudah sepantasnya kita menghargai dan memuliakan para pendidik setperti halnya memuliakan para orang tua kita. 7. Guru Sebagai Pelatih Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan sehingga menuntut guru bertindak sebagai pelatih karena tanpa adanya latihan seorang peserta didik tidak akan mampu menunjukkan penguasaan kompetesi dasar dan tindakan mahir dalam berbagai keterampilan yang dikembangkan sesuai dengan materi standar.oleh karena itu, Guru harus berperan sebagai pelatih yang bertugas melatih peserta didik dalam pembentukan kompetisi dasar sesuai dengan potensi masing-masing hal.12 8. Guru Sebagai Pengelola Kelas Dalam peranannya sebagai pengelola kelas (learning manager), guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Pengawasan terhadap belajar lingkungan itu turut menentukan sejauhmana lingkungan tersebut menjadi lingkungan belajar yang baik.13 Sebagai menejer guru bertanggungjawab memelihara lingkungan fisik kelasnya agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan mengarahkan atau membimbing proses-proses intelektual dan sosial di dalam kelasnya. Dengan demikian guru tidak hanya memungkinkan siswa belajar, tetapi juga mengembangkan kebiasaan bekerja dan belajar secara efektif di kalangan siswa. Peran guru sebagai pendidik
12 13

Mulyasa, Menciptakan Pembelajaran Kreatif hal. 42. Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru, hal. 10.

22 merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan tugas-tugas pengawasan dan pembinaan serta tugas-tugas yang

berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Adapun tugas-tugas guru di sekolah adalah: 1. Tugas Guru Sebagai Perencana Peranan guru sebagai perancana dalam pembelajaran terpadu adalah guru merencanakan suatu kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan bersama anak didik. Bentuk-bentuk perencanaan dalam proses pembelajaran adalah: a) Perencanaan Tahunan Dalam perencanaan tahunan sudah ditetapkan dan disusun kemampuan keterampilan dan pembiasaan-pembiasaan yang diharapkan dicapai oleh anak didik dalam satu tahun. Perencanaan tahunan dan semester juga memuat tematema yang sesuai dengan aspek perkembangan anak dan minat anak serta sesuai dengan lingkungan sekolah setempat. Perencanaan tahunan dibuat bersama antara guru-guru dan kepala sekolah. b) Perencanaan Semester Perencanaan semester merupakan program pembelajaran yang

berisijaringan tema, bidang pengembangan, kompetensi dasar, hasil belajar dan indikator yang ditata secara urut, serta sistematis, alokasi waktu yang diperlukan untuk setiap jaringan tema dan sebarannya kedalam semester I dan semester II. c) Perencanaan Mingguan (Satuan Kegiatan Mingguan)

23 Perencanaan mingguan disusun dalam bentuk satuan kegiatan mingguan (SKM). SKM merupakan penjabaran dari perencanaan semester yang berisi kegiatan-kegiatan dalam rangka mencapai indikator yang telah direncanakan dalam satu minggu sesuai dengan keluasan pembahasan tema dan sub tema.

d) Perencanaan Harian (Satuan Kegiatan Harian) Perencanaan harian disusun dalam bentuk satuan kegiatan harian (SKH). SKH merupakan penjabaran dari satuan kegiatan mingguan (SKM). SKH memuat kegiatan-kegiatan pembelajaran, baik yang dilaksanakan secara individual, kelompok, maupun klasikal dalam satu hari. SKH terdiri atas kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Sedangkan menurut Kostelnik langkah-langkah penyusunan perencanaan pembelajaran terpadu adalah sebagai berikut : a. Menuangkan ide kedalam tulisan, masukkan beberapa kegiatan yang berkaitan dengan tema kedalam rencana kita. Pertimbangkan waktu untuk melaksanakannya dan siapkan kegiatan-kegiatan yang tidak berhubungan dengan tema untuk memberikan kesempatan kepada anak yang tidak menyukai atau tidak tertarik dengan tema yang telah ditetapkan. b. Periksa rencana pembelajaran tersebut, pastikan bahwa paling sedikit ada tiga jenis kegiatan yang berhubungan dengan tema dalam satu hari. Pastikan dalam satu minggu seluruh aspek perkembangan yang akan dicapai sudah tercantum dan akan dilaksanakan. c. Jika dalam perencanaan kita terdapat kerjasama dengan ahli lain seperti dokter, guru musik, guru tari maka pastikan bahwa kita telah menyampaikan isi tema yang akan kita terapkan pada kegiatan pembelajaran agar kegiatan yang akan dilakukan dalam bidang tersebut dapat mendukung dan sejalan dengan kegiatan pembelajaran yang akan kita laksanakan. d. Persiapkan bahan, alat, media, narasumber dan sarana prasarana. e. Organisasikan kegiatan dengan baik sehingga setiap anak dapat terfokus pada tema. f. Pastikan bahwa dalam rencana kita seluruh konsep, istilah, fakta dan prinsip telah dikembangkan dengan baik dan kegiatan yang akan dilaksanakan cukup bervariasi.

24 g. Ciptakan suasana tematik dalam kelas.14

2. Tugas Guru Sebagai Pelaksana Setelah rencana pembelajaran selesai disusun maka tugas guru selanjutnya adalah melaksanakan apa yang telah direncanakan dalam kegiatan pembelajaran dikelas. Agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif, sebaiknya guru memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut: a) Kembangkan rencana yang telah kita susun dan

perhatikan kejadian atau peristiwa spontan yang ditunjukkan oleh anak terhadap materi yang dipelajari pada hari itu. b) Melaksanakan penilaian terhadap minat dan pemahaman

anak mengenai tema tersebut dengan menggunakan pengamatan, wawancara, diskusi kelompok maupun contoh hasil kerja anak. c) Bantu anak untuk memahami tentang isi dan proses

kegiatan pembelajaran. d) Lakukan percakapan dengan anak tentang hal-hal yang

berkaita dengan tema sehingga kita dapat mengetahui seberapa jauh pemahaman anak tentang tema yang dipelajari pada hari itu. Bantu dan doronglah anak untuk memuaskan rasa ingin tahunya tentang hal-hal yang ingin diketahuinya dengan cara menjawab pertanyaannya atau

memberikan kesempatan pada anak untuk mencari dan menemukan

http://blog.unila.ac.id/hairuddin/2009/10/29/peran-guru-dalam-prosespendidikan/?//// ,diakses pada hari sabtu tanggal 27 Mei 2012.

14

25 e) timbal balik.15 3. Tugas Guru Sebagai Evaluasi (Evaluator) Tugas guru sebagai evaluator adalah melakukan penilaian terhadap proses kegiatan belajar dan penilaian hasil kegiatan. Penilaian dilakukan secara observasi dan pengamatan terhadap cara belajar anak baik individual atau kelompok. Tujuan penilaian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan yang dicapai oleh anak. Evaluasi harus mampu memperdayakan guru, anak dan orang tua. Guru sebagai evaluator harus melihat penilaian sebagai suatu kesempatan untuk menggambarkan pengalaman anak didik serta sebagai alat untuk mengetahui kemajuan proses maupun belajar anak didik. Adakan kerjasama dengan orang tua atau keluarga secara

Setelah mempelajari dan memahami penjelasan mengenai peranan guru, tampaklah bahwa tugas dan tanggung jawab seorang guru tidaklah mudah dalam kegiatan pembelajaran terpadu. Evaluasi merupakan salah satu komponen yang memiliki peran yang sangat penting dalam suatu rangkaian kegiatan pembelajaran. Melalui evaluasi bukan saja guru dapat mengumpulkan informasi tentang berbagai kelemahan dalam proses pembelajaran sebagai umpan balik untuk perbaikan selanjutnya, akan tetapi juga dapat melihat sejauh mana siswa telah mampu mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, dalam pembelajaran guru juga harus berperan sebagai evaluator.
15

http://blog.unila.ac.id/hairuddin/2009/10/29/peran-guru-dalam-prosespendidikan/?//// ,diakses pada hari sabtu tanggal 27 Mei 2012 jam 10.00 wib.

26 a. Evaluasi harus dilaksanakan terhadap semua aspek perkembangan siswa, baik aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik. b. Evaluasi harus dilakukan secara terus menerus dengan menekankan kepada evaluasi hasil dan evaluasi proses. c. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen penilaian. d. Evaluasi harus dilakukan secara terbuka dengan melibatkan siswa sebagai evaluasi.16 Dalam fungsinya sebagai penilai hasil belajar siswa, guru hendaknya terus menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa. Dengan penilaian guru dapat mengetahui keberhasilan penguasaan siswa terhadap pelajaran, serta ketepatan dan keefektifan metode mengajar. Sehubungan dengan fungsinya sebagai pengajar, pendidik, dan pembimbing maka diperlukan adanya berbagai peranan pada diri guru, peranan guru ini akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diterapkan dalam berinteraksi baik dengan siswa, sesama guru, maupun dengan staf lainnya. Dari berbagai kegiatan interaksi belajar mengajar dapat dipandang sebagai sentral bagi peranannya, sebab baik disadari atau tidak bahwa sebagian dari waktu dan perhatian guru banyak di curahkan untuk menggarap proses belajar mengajar dan berinteraksi dengan siswanya. Dengan demikian, tugas Guru di sekolah ada tiga yaitu sebagai perencana, pelaksana dan evaluasi. Guru harus dapat menjadikan dirinya orang tua kedua, ia harus mampu menarik simpati dari siswa sehingga menjadi idola para siswa.

C. Pengertian Akhlak dan Bentuknya

16

Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Rosda Karya, 2007), hal. 11-

12.

27 Akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, terpuji dan tercela tentang perkataan dan perbuatan manusia lahir dan batin. Dengan perkataan lain ilmu akhlak meliputi: 1. Menjelaskan arti baik dan buruk 2. Menerangkan apa yang seharusnya dilakukan 3. Menunjukan jalan untuk melakukan perbuatan 4. Menyatakan tujuan di dalam perbuatan.17 Sementara menurut Toto Suryana bahwa akhlak adalah aspek behavioral, tingkah laku yaitu gambaran tentang prilaku yang seyogianya dimiliki seorang muslim dalam rangka hubungan dengan Allah SWT, hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan dengan alam.18 Banyak kita lihat di abad moderen ini perkembangan yang tidak diiringi oleh kemajuan iman dan takwa, hal ini terlihat pada buruknya akhlak para insan di abad ini, walaupun banyak kita melihat orang yang rajin mengerjakan shalat tapi pada saat yang bersamaan ia melakukan kemungkaran terhadap kedua orang tuanya dan juga terhadap tetangganya. Tentu fenomena seperti ini

menggambarkan sebuah kondisi shalat yang tidak berbobot alias rapuh. Dimana shalat dan amalnya yang lain tidak dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar. Padahal Allah SWT dan Rasulnya banyak menasehatkan umat manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua dan tetangga kenapa Allah dan rasulnya memerintahkan demikian, tentang hal ini semuanya ada hikmahnya. Bagi kita umat manusia kita hanya meyakini apa yang diperintahkan untuk selanjutnya
Barmawie Umary, Materi Akhlak, (Bandung: Ramadhani, 2006), hal. 1. Toto Suryana, Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi, (Jakarta: Tiga Mutiara, 2008), hal. 73.
18 17

28 diamalkan, dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu penulis akan membahas tentang orang yang paling berhak dihormati dan berbuat baik kepada tetangga. Perilaku adalah merupakan perbuatan/tindakan dan perkataan seseorang yang sifatnya dapat diamati, digambarkan dan dicatat oleh orang lain ataupun orang yang melakukannya. Perilaku mempunyai beberapa dimensi: a. Fisik, dapat diamati, digambarkan dan dicatat baik frekuensi, durasi dan intensitasnya b. Ruang, suatu perilaku mempunyai dampak kepada lingkungan (fisik maupun sosial) dimana perilaku itu terjadi c. Waktu, suatu perilaku mempunyai kaitan dengan masa lampau maupun masa yang akan datang.19 Perilaku diatur oleh prinsip dasar perilaku yang menjelaskan bahwa ada hubungan antara perilaku manusia dengan peristiwa lingkungan. Perubahan perilaku dapat diciptakan dengan merubah peristiwa didalam lingkungan yang menyebabkan perilaku tersebut. Perilaku dapat bersifat covert ataupun overt a. Overt artinya nampak (dapat diamati dan dicatat) b. Covert artinya tersembunyi (hanya dapat diamati oleh orang yang melakukannya).20 Fokus pengubahan perilaku kepada perilaku yang dapat diamati (perilaku overt). Pengubahan perilaku adalah suatu bidang psikologi yang berkaitan dengan analisa dan pengubahan perilaku manusia. a.Analisa artinya mengidentifikasi hubungan fungsional antara lingkungan dengan perilaku tertentu untuk memahami alasan suatu perilaku terjadi b. Pengubahan berarti mengembangkan dan mengimplementasikan prosedur pengubahan perilaku untuk

19 20

Suryanto, Prilaku Manusia, Diakses dari http. Blog.Unair, com. 02.02.2011. Suryanto, Prilaku Manusia, Diakses dari http. Blog.Unair, com. 02.02.2011.

29 membantu orang merubah perilakunya (merubah peristiwa-peristiwa lingkungan yang mempengaruhi perilaku).21 Dalam sebuah buku yang berjudul Perilaku Manusia Leonard F. Polhaupessy, menguraikan perilaku adalah sebuah gerakan yang dapat diamati dari luar, seperti orang berjalan, naik sepeda, dan mengendarai motor atau mobil. Untuk aktifitas ini mereka harus berbuat sesuatu, misalnya kaki yang satu harus diletakkan pada kaki yang lain. Jelas, ini sebuah bentuk perilaku. Cerita ini dari satu segi. Jika seseoang duduk diam dengan sebuah buku ditangannya, ia dikatakan sedang berperilaku. Ia sedang membaca. Sekalipun pengamatan dari luar sangat minimal, sebenarnya perilaku ada dibalik tirai tubuh, didalam tubuh manusia.Dalam buku lain diuraikan bahwa perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk hidup)yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai aktifitas masing-masing. Sehingga yang dimaksu perilaku manusia, pada hakikatnya adalah tindakan atau aktifitas manusia darimanusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati pihak luar. Seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme,
21

Suryanto, Prilaku Manusia, Diakses dari http. Blog.Unair, com. 02.02.2011.

30 dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori skiner disebut teori SORatau Stimulus Organisme Respon. Skiner membedakan adanya dua proses. a. Respondent respon atau reflexsive, yakni respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu. Stimulus semacam ini disebut electing stimulation karena menimbulkan respon-respon yang relatif tetap. Misalnya : makanan yang lezat menimbulkan keinginan untuk makan, cahaya terang menyebabkan mata tertutup, dan sebagainya. Respondent respon ini juga mencakup perilaku emosinal misalnya mendengar berita musibah menjadi sedih atau menangis, lulus ujian meluapkan kegembiraannya ddengan mengadakan pesta, dan sebagainya b. Operant respon atau instrumental respon, yakni respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforcing stimulation atau reinforce, karena memperkuat respon. Misalnya apabila seorang petugas kesehatan melaksanakan tugasnya dengan baik (respon terhadap uraian tugasnya atau job skripsi) kemudian memperoleh penghargaan dari atasannya (stimulus baru), maka petugas kesehatan tersebut akan lebih baik lagi dalam melaksanakan tugasnya.22 2. Bentuk Akhlak/Prilaku Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu : a. Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dakam bentuk terselubung atau tertutup (covert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan/ kesadaran, dan sikap yang terjadi belumbisa diamati secara jelas oleh orang lain b. Perilaku terbuka adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek (practice).27 3. Domain Akhlak/Perilaku Di atas telah dituliskan bahwa perilaku merupakan bentuk respon dari stimulus (rangsangan dari luar). Hal ini berarti meskipun bentuk stimulusnya
22 27

Suryanto, Prilaku Manusia, Diakses dari http. Blog.Unair, com. 02.02.2011. Suryanto, Prilaku Manusia, Diakses dari http. Blog.Unair, com. 02.02.2011.

31 sama namun bentuk respon akan berbeda dari setiap orang. Faktor-faktor yang membedakan respon terhadap stimulus menurut Suryanto disebut determinan perilaku. Determinan perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu: a. Faktor internal yaitu karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat bawaan misalnya : tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dan sebagainya b. Faktor eksternal yaitu lingkungan, baik lingkungan fisik, fisik, ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering menjadi faktor yang dominanyang mewarnai perilaku seseorang.28 Domain prilaku yaitu cakupan-cakupan atau hal-hal yang termasuk kedalam katagori yang dikatakan prilaku, karena ada juga yang tidak termasuk kedalam prilaku lalu orang mengatakannya sebagai prilaku. 4. Proses Tejadinya Akhlak/Perilaku. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Roger yang penulis yang penulis akses dari internet mengungkapkan bahwa: Sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui setimulus (objek) terlebih dahulu.29 a. Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus b. Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi c. Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru d. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.30 Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini didasari oleh pengetanhuan, kesadaran, dan sikap yang positif maka

Suryanto, Prilaku Manusia, Diakses dari http. Blog.Unair, com. 02.02.2011. Roger, Prilaku Manusia, Diakses dari: http///www.com. Prilaku Manusia. Hari Senin 9 Maret 2011. Pukul. 10: 00. Wib. 30 Roger, Prilaku Manusia, Diakses dari: http///www.com. Prilaku Manusia. Hari Senin 9 Maret 2011. Pukul. 10: 00. Wib.
29

28

32 perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan atau bersifat langgeng Menurut Sri Esti Djiwandono prilaku seseorang juga ditentukan oleh kondisi ekxternalnya, seperti lingkungan keluarga, masyarakat dan pendidikan yang ia jalani selama ia hidup, semua kondisi eksternal di atas akan membentuk prilaku baru semakin banyak kondisi eksternal ia alami maka semakin berubah kea rah yang baik prilaku seseorang.31

D. Peran Pendidikan Dalam Pembentukan Akhlak /Prilaku Pendidikan merupakan kebutuhan mendasar bagi kehidupan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang terbaik dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya. Pendidikan berlangsung kapan saja dan dimana saja agar menjadi manusia yang beradap selama manusia itu hidup, sejak ia dilahirkan hingga ajal tiba, sejak bayi hingga dewasa. Walaupun lingkungan umum dan alam sekitar diorganisir dapat mendidik manusia, namun pendidikan non-formal (pendidikan pasantren salafiah) sangat dibutuhkan oleh manusia karena pendidikan non-formal adalah salah satu lembaga untuk menciptakan manusia-manusia yang berbudi luhur dan berakhlak mulia. Agama merupakan landasan dan pedoman penting bagi manusia dalam mengarungi kehidupan dan menggapai kebahagiaan duniaakhirat. Melalui pendidikan agama di pesantren ditanamkan ajaran luhur tentang keimanan sebagai dasar beramal, akhlak yang mulia sebagai dasar pengembangan kepribadian, dan syari'ah untuk melaksanakan ajaran agama yang benar sebagaimana tuntunan agama itu sendiri.

31

Sri Esti Djwandono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 2006), hal. 71.

33 Oleh karena itu, pendidikan agama merupakan salah satu penentu bagi pengembangan sikap dan kepribadiaan yang luhur. Hal itu juga penting dalam rangka mendukung pelaksanaan pendidikan agama Islam. Tujuan pendidikan yaitu "Untuk membangun dan memajukan lembaga pendidikan yang dapat melahirkan manusia yang cerdas, beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia".23 Hal tersebut sejalan dengan tujuan pendidikan Nasional yaitu: Mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yakni yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian mandiri dan mantap serta bertanggung jawab terhadap kemasyarakatan dan kebangsaan.33 Zakiyah Daradjat menguraikan ruang lingkup pendidikan agama Islam sebagai berikut : Meliputi seluruh aspek kehidupan manusia sesuai dengan misi agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Karena itu, ajaran agama merupakan pedoman pokok yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dengan manusia dengan sesamanya dan makhluk lain, dengan lingkungan fisik dan budaya, bahkan dengan alam semesta ini.34 Sedangkan H.M. Arifin mengemukakan tentang ruang lingkup pendidikan agama Islam sebagai berikut: Mencakupi seluruh bidang kehidupan ummat manusia di dunia ini dimana manusia akan mampu menjadikan dunia ini sebagai suatu tempat untuk menanamkan benih-benih amaliah yang akan dipetik pada hari akhirat nanti, maka pembentukan sikap dan nilai-nilai amaliah akan dapat dibentuk dalam pribadi manusia secara efektif bilamana dilakukan dengan suatu

PERDA Provinsi Daerah Istimewa Aceh No.5 Tahun 2000, Tentang Pelaksanaan Syari'at Islam Pasal 13 ayat 1. 33 Undang-Undang RI No 20 Tahun 2004 Tentang Sisdiknas, hal. 87. 34 Zakiah Daradjat, Metodik Khsusus Pendidikan Agama Islam , hal. 59.

2332

34 proses kependidikan yang berjalan atas keaedah-kaedah ilmu pengetahuan kependidikan.35 Karena itulah diharapkan agar adanya keseimbangan dalam diri anak didik sendiri antara ilmu dan keimanan sebagai landasan beramal. Artinya, ilmu perlu sebagai bekal anak didik dalam mengarungi kehidupan dunia dan iman sebagai nilai yang menuntun dan sekaligus membentengi kepribadiannya. Maka untuk mencapai keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi perlu adanya keseimbangan antara keimanan dan ilmu pengetahuan. Apabila keduanya sudah seimbang maka manusia akan memperoleh kedudukan yang mulia, baik di dunia maupun di akhirat. Nilai-nilai Kecerdasan moral yang ditanamkan pada diri anak didik akan menjadi dasar-dasar kebudayaan yang melekat pada kepribadian anak didik sebagai hasil dari proses pendidikan yang dialaminya. karena itulah dalam menumbuhkan dan mengembangkan kecerdasan moral, khususnya melalui proses pembelajaran, kemampuan dalam mengatur dan melaksanakan sistem pendidikan yang tepat dan benar sesuai pembelajaran yang dikelolanya sangat di perlukan. Jadi, melalui pembelajaran pendidikan agama Islam diharapkan para peserta didik akan mendapatkan pembinaan sehingga prilaku mereka benar-benar Islami dan sesuai dengan Al-quran dan Hadist, diharapkan moral murid akan menjadi lebih baik akhirnya tertanam dalam dirinya. Keberhasilan perkembangan moral baru berarti bila dimilikinya emosi dan prilaku yang mencerminkan kepedulian terhadap orang lain untuk saling berbagi, bantu membantu, mengasihi, tenggang rasa dan kesediaan untuk mematuhi aturan-aturan.
35

HM. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), hal. 13.

35

BAB III METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan studi kasus yang diarahkan untuk

mendeskripsikan dan menganalisis secara mendalam tentang peranan guru agama dalam pembinaan akhlak membentuk kepribadian siswa SD Negeri 1 Simpang Balik. Oleh karena itu pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Pemilihan model ini didasarkan pada fokus penelitian yang menuntut penelitian melakukan eksplorasi untuk memahami dan menjelaskan masalah yang diteliti melalui hubungan yang intensif dengan sumber data. Dalam penelitian ini, peneliti hanya menentukan kelompok responden yang dijadikan subjek penelitian, sedangkan individu-individu subbjek sengaja tidak ditentukan. Hal ini dimaksud untuk memelihara keterbukaan terhadap masukan informasi baru dari kelompok responden tertentu. Maksudnya sepanjang

36 individu itu berasal dari kelompok responden yang menjadi sasaran penelitian ini, maka data dan inpformasinya selalu terbuka untuk didengar oleh peneliti. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan eksplanatif. Dimana kualitatif itu ada yang bersifat interaktif dan noninteraktif. Kualitatatif interaktif mencakup metode, etnografis, historis, fonomenologis, studi kasus, teori dasar dan studi krisis. Kualitatif noninteraktif meliputi metode: analisis konsep, analisis kebijakan dan analisis historis. Metode ilmiah yang dipakai dalam ilmu tertentu sangat tergantung pada objek formal ilmu yang bersangkutan. Untuk memahami peranan guru agama dalam pembinaan akhlak membentuk kepribadian siswa SD Negeri 1 Simpang Balik, diperlukan suatu pendekatan atau metode yang utuh dan terpadu. Metode yang ditempuh adalah metode deskriftif. Pendekatan kualitatitif berusaha memahami dan menafsirkan suatu makna peristiwa interaksi perilaku manusia dalam situasi tertentu menurut persfektif sendiri. Lebih rinci Bogdan dan Biklen sebagaimana dikutif Lexy.J. Moleong, mengajukan lima karakteristik penelitian kualitatif yaitu: a. b. c. d. e. Mempunyai latar alamiah sebagai sumber langsung Manusia sebagai alat atau instrumen pendidikan Bersifat deskriftif analitik Lebih mementingkan proses dari pada hasil semata Menganalisa data secara induktif.24 biasa

B . Sumber Data 1. Data Primer

24

Moleong, Metode penelitian Kualitatif ( Bandung: Remaja Rosda Karya, 2009), hal. 8-

10.

37 Data primer merupakan data utama dalam penelitian ini, adapun yang menjadi data primer diperoleh dari guru agama SD Negeri 1 Simpang Balik 2 orang yang menjadi informan penelitian. 2. Data Sekunder Data sekunder merupakan data pendukung yang melengkapi data primer, adapun yang menjadi data sekunder dalam penelitian ini penulis peroleh dari kepala sekolah dan siswa serta buku-buku yang terkait dengan penelitian ini, majalah, Koran, jurnal, tabloid, dan juga versi elektornik (internet, televisi).

C. Tehknik Pengumpulan Data Adapun tehnik pengumpulan melalui observasi (pengamatan), dan wawancara dan dokumentasi (pengumpulan arsip). a. Observasi (Pengamatan) Observasi adalah metode pengumpulan melalui pengamatan baik secara langsung atau tidak langsung, dimana peneliti mencatat informasi yang penulis lihat secara langsung di lapangan untuk memperoleh data tentang materi apa yang diajarkan guru agama, media yang digunakan guru, frekwensi mengajar guru agama. Jenis observasi dalam penelitian ini ialah non participant, instrumen yang penulis gunakan ialah checklist. b. Wawancara Untuk mengetahui informasi secara akurat maka penulis mengadakan wawancara dengan siswa, kepala sekolah dan guru agama SD Negeri 1 Simpang Balik. Jenis wawancara yang penulis gunakan ialah wawancara terstruktur,

38 adapun hal yang penulis wawancarai ialah apakah guru agama menggunakan media mengajar, pengunaan buku paket, kemampuan guru memotivasi siswa blajar. Instrumen yang penulis gunakan dalam wawancara ialah pedoman wawancara, kertas, pulpen dan penghapus. c. Dokumentasi Dokumentasi dalam penelitian ini yaitu arsip-arsip tentang sejarah SD Negeri 1 Simpang Balik, keadaan guru, keadaan siswa, letak geografis dan lainlain yang nantinya akan penulis tempatkan dibagian awal pada Bab IV.

D. Instrumen Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, penulis menggunakan instrumen yaitu alat bantu yang penulis gunakan untuk mengumpulkan data, dalam rangka menunjang atau mendukung keberhasilan kegiatan pedoman wawancara. Alat bantu tersebut berupa daftar-daftar pertanyaan yang akan ditanyakan sebagai catatan penulis, serta alat tulis untuk menulis jawaban yang penulis terima dari informan. Hal di atas sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto bahwa dalam penelitian, diperlukan alat bantu untuk mendukung terlaksananya wawancara, dimana wawancara tersebut memerlukan sebuah pedoman yang dalam hal ini adalah pedoman wawancara.

E. Tehnik Analisa Data

39 Analisis data dilakukan secara terus menerus dan dilakukan secara bersamaan dokumentasi dengan proses pengumpulan dan wawancara. data, yang terkumpul melalui ini, peneliti akan

Berdasarkan pendapat

mengadakan analisis data pada saat pengumpulan data sampai pengumpulan data selesai. Hal ini dilakukan agar fenomena yang di teliti dapat didiskripsikan secara utuh, objektif dan sistematis. Adapun langkah-langkah dalam penulisan datanya adalah : 1. Reduksi data, dalam hal ini peneliti memilih dan memilah data yang relevan dengan tujuan data yang relevan akan dianalisis, sedangkan data yang kurang relevan akan disisihkan (tidak dianalisis) 2. Penyajian data setelah data direduksi, langkah berikutnya adalah penyajian data yang meliputi :a. identifikasi, b. klasifikasi, c. penyususnan, d. penjelasan data secara sistematis, objektif dan menyeluruh, e. pemaknaan. 3. Penyimpulan yaitu, peneliti menyimpulkan hasil penelitian

berdasarkan katagori dan makna temuan.

40

DAFTAR KEPUSTAKAAN Ahmad Tafsir, 2007, Epistemologi untuk Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: FakTar. IAIN Sunan Gunung Djati. Barmawie Umary, 2006, Materi Akhlak, Bandung: Ramadhani. Depag RI, 2008, Al-quran dan Terjemashnya, Jakarta: Depag RI. Depag RI, Kapita Selekta Pengetahuan Agama Islam, Jakarta: Depag RI. H.M. Arifin, 1976, Hubungan Timbal Balik, Pendidikan agama di Lingkungan Sekolah dan Keluarga, Jakarta: Bulan Bintang. Hermanto, 2001, Pendidikan Modern, Jakarta: Bina Aksara. Hynermen, 2001, Guru dan Faktor Keberhasilan Pendidikan, Yogyakarta: Surya Kencana. Jalaluddin, Ali Ahmad Zen, tt, Kamus Ilmu Jiwa dan Pendidikan, Surabaya: AlMaarif. Kartini, 2003, Telaah Atas Kemampuan Guru Memanajemen Kelas, Jakarta: Rineka Cipta.

41 M. Shaleh, dkk, 1999, Memaknai Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta. Muhammad Uzer Usman, 2007, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Remaja Rosda Karya. Mulyasa, 2007, Standar Kompetensi Sertifikasi Guru, Bandung : Rosda Karya. Nana Sudjana, 2006, Profesi dan Keterampilan Guru, Jakarta: Rineka Cipta. Ngalim Purwanto, 2007, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: Remaja Rosda Karya. Oemar Malik, 2009, Pendidikan Guru, Jakarta: Bumi Aksara. Pusat Bahasa, 2008, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Ramayulis, 2008, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Kalam Mulia. Ridwan, dkk, tt, Kamus Ilmiah Populer, Jakarta: Pustaka Indonesia. Sadirman, 1998, Ilmu Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta. Santika, Profesi Guru, Diambil dari http//www.com. Profesi Guru pada tanggal 23 Agustus 2010. Sri Esti Wuryani Djiwandono, 2003, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Gramedia. Suharsimi Arikunto, 2006, Prosedur Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta. Toto Suryana, 2008, Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi, Jakarta: Tiga Mutiara. Undang-Undang RI No 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen Undang RI No. 120 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas. Zainul Mutaqin, 2005, Lembaran Netral Beragama Memaknai Agama dan Beragama, Jakarta: Fima Rodheta.

42