P. 1
BAB II

BAB II

|Views: 203|Likes:
Dipublikasikan oleh amaryblossom
laporan kerja praktek pertamina
laporan kerja praktek pertamina

More info:

Published by: amaryblossom on Mar 07, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/25/2015

pdf

text

original

Laporan Umum

Kerja Praktek PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan Februari-April 2011

BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Singkat PT.PERTAMINA (Persero) Bahan Bakar Minyak atau BBM merupakan kebutuhan masyarakat banyak yang sangat vital. Salah satu tugas PT.PERTAMINA adalah menyediakan dan melayani kebutuhan BBM bagi masyarakat luas. Tugas PERTAMINA ini didasari oleh UUD 1945 pasal 33 dan UU No. 8 Tahun 1971, yaitu melaksanakan pengusahaan minyak dan gas bumi dengan memperoleh hasil yang sebesarbesarnya bagi kemakmuran rakyat dan negara. Minyak dan gas bumi merupakan salah satu sumber devisa negara yang memegang peran penting dalam pembangunan nasional. Usaha pengeboran minyak di Indonesia pertama kali dilakukan oleh Jan Raerink pada tahun 1871 di Cibodas, dekat Majalengka (Jawa Barat), akan tetapi usaha tersebut mengalami kegagalan. Kemudian dilanjutkan oleh Aeilko Jan Zijkler yang melakukan pengeboran di Telaga Tiga (Sumatera Utara) dan pada tanggal 15 Juni 1885 berhasil ditemukan sumber minyak yang komersial dan pertama di Indonesia. Sejak itu berturut-turut ditemukan sumber minyak bumi yang lain, yaitu di Kruka (Jawa Timur) pada tahun 1887, Ledok Cepu (Jawa Tengah) pada tahun 1901, Pamusian Tarakan pada tahun 1905, dan di Talang Akar Pendopo (Sumatera Selatan) tahun 1921. Penemuan-penemuan dari penghasil minyak lain mendorong keinginan maskapai perusahaan asing seperti Royal Deutche Company, Shell, Stanvac, Caltex, dan maskapai lainnya untuk turut serta dalam usaha pengeboran minyak di Indonesia. Setelah kemerdekaan, terjadi beberapa perubahan dalam pengelolaan perusahaan minyak di Indonesia. Pada tanggal 10 Desember 1957, atas perintah Mayjen Dr. Ir. Soetowo, PT EMTSU diubah menjadi PT Perusahaan Minyak Nasional (PT PERMINA). Kemudian dengan PP No. 198/1961, PT PERMINA dilebur menjadi PN PERMINA. Pada tanggal 20 Agustus 1968, atas Usulan rektor UI, Prof. Dr. Ir. Sumantri Brodjonegoro sebagai Menteri Pertambangan, Soeharto mengeluarkan dekrit pelaksanaan penyatuan PN Permina dan PN Pertamin

Program Studi Teknik Kimia-Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru

II-1

Laporan Umum

Kerja Praktek PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan Februari-April 2011

menjadi PN Pertamina (berdasarkan PP No. 27/1968). Soeharto menetapkan pimpinan PN Pertamina dengan Ibnu Sutowo sebagai Dirut. Pada tanggal 15 September 1971 PN Pertamina berubah nama menjadi Pertamina. Pertamina berubah menjadi PT Pertamina pada tanggal 17 September 2003. Sekarang status PT Pertamina berubah menjadi Persero. Usaha PT Pertamina meliputi kegiatan hulu (eksplorasi dan eksploitasi), pengolahan hasil tambang minyak dan gas bumi, serta kegiatan hilir (pendistribusian) di Indonesia. Pada tanggal 9 Oktober 2008, PT. PERTAMINA (Persero) Unit Pengolahan V berganti nama menjadi PT. PERTAMINA (Persero) Refinery Unit V. PT Pertamina merupakan satu-satunya perusahaan minyak nasional yang berwenang mengelola semua bentuk kegiatan di bidang industri perminyakan di Indonesia. Hingga sekarang PERTAMINA telah mempunyai tujuh buah kilang. Tabel 2.1 Nama Kilang PERTAMINA dan Kapasitasnya
NAMA KILANG RU-I RU-II PANGKALAN BRANDAN KAPASITAS

5 MBSD 170 MBSD 145,6 MBSD 348 MBSD 260 MBSD 125 MBSD 10 MBSD

DUMAI DAN SUNGAI PAKNING

RU-III PLAJU DAN SUNGAI GERONG RU-IV CILACAP RU-V BALIKPAPAN RU-VI BALONGAN RU-VII KASIM-SORONG

Gambar 1.1 Perubahan Logo Pertamina Tugas utama PERTAMINA adalah: a. Menyediakan dan menjamin pemenuhan BBM

Program Studi Teknik Kimia-Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru

II-2

Laporan Umum

Kerja Praktek PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan Februari-April 2011

b. Sebagai sumber devisa negara c. Menyediakan kesempatan kerja sekaligus pelaksanaan alih teknologi dan ilmu pengetahuan Sasaran utama pengadaan dan penyaluran BBM dalam menunjang pembangunan nasional adalah tersedianya BBM dalam jumlah yang cukup dengan kualitas yang memenuhi spesifikasi, suplai yang berkesinambungan, terjamin, dan ekonomis. Pemenuhan kebutuhan BBM merupakan tugas yang cukup berat karena peningkatan kapasitas pengolahan minyak yang dimiliki PERTAMINA tidak berjalan seiring dengan lonjakan konsumsi BBM yang dibutuhkan masyarakat. Kendala yang dihadapi dalam meningkatkan kapasitas pengolahan minyak dalam negeri adalah konsumsi minyak yang meningkat sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir ini sebagai dampak pesatnya kegiatan pembangunan. Di samping itu, kilang-kilang minyak yang dioperasikan menggunakan teknologi yang cukup tertinggal dan tidak efisien. Oleh karena itu, dalam pembangunan kilang-kilang baru dan memperluas kilang-kilang lama diterapkan teknologi baru yang berwawasan lingkungan. Dalam mengoperasikan kilang-kilang dalam negeri, tiga kebijakan utama selalu mendasari langkah PERTAMINA, yaitu kepastian dalam pengadaan, pertimbangan ekonomi, pengadaan, dan keluwesan pengadaan. 2.2 Sejarah PERTAMINA RU-V Balikpapan Pendirian kilang minyak PERTAMINA RU V Balikpapan dilatarbelakangi ditemukannya sumber minyak mentah (crude oil) di daerah Sanga-sanga pada tahun 1897. Menyusul kemudian ditemukan sumber-sumber minyak lain di

Tarakan (1899), Samboja (1911), dan Banyu (1922). Penemuan sumber-sumber crude tersebut mendorong didirikan Kilang Balikpapan I yang sekarang dikenal dengan kilang lama. Namun kilang lama Balikpapan I sekarang sudah

diperbaharui sehingga memiliki teknologi setara dengan kilang Balikpapan II. Kegiatan perminyakan di Balikpapan diawali dengan pengeboran minyak di Balikpapan yang merupakan realisasi kerja sama antara J.H. Menten dengan

Program Studi Teknik Kimia-Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru

II-3

Laporan Umum

Kerja Praktek PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan Februari-April 2011

Firma Samuel & Co. Pada tahun 1896 Mr. Adams dari Samuel & Co di London mengadakan penelitian di Balikpapan dan menyimpulkan bahwa daerah ini memiliki cadangan minyak yang cukup besar. Penemuan ini mendorong

dilakukannya pengeboran pada tanggal 10 Februari 1897 dan menemukan minyak yang cukup komersial untuk diusahakan. Pada seminar sejarah tanggal 1 Desember 1984 disepakati bahwa peristiwa pengeboran minyak ini (10 Februari 1897) merupakan hari jadi kota Balikpapan. Keberadaan kegiatan produksi migas di Balikpapan telah memicu perkembangan kota Balikpapan. Pembangunan sarana kilang dan sarana penunjang seperti perkantoran, perumahan, jalan dan sebagainya memberikan multiplier effect bagi pembangunan kota Balikpapan. Disamping itu, adanya industri migas diikuti pula dengan kehadiran tenaga kerja, adanya industri jasa seperti perdagangan, transportasi, perbankan, perhotelan, dan industri lainnya. Perkembangan ini memberikan dasar yang baik terhadap pertumbuhan Balikpapan yang semula bertumpu pada ekonomi agraris beralih pada ekonomi industri dan perdagangan.

Gambar 2.2 Perkembangan Kota Balikpapan Secara kronologis, perkembangan Kilang Minyak PERTAMINA RU V Balikpapan adalah sebagai berikut:

Program Studi Teknik Kimia-Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru

II-4

Laporan Umum

Kerja Praktek PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan Februari-April 2011

Tabel 2.2. Perkembangan Kilang RU V Balikpapan Masa Peristiwa 1897 – 1922 Ditemukannya beberapa sumber minyak mentah di beberapa tempat di Kalimantan Timur 1922 Unit Penyulingan Minyak Kasar (PMK) I didirikan oleh perusahaan minyak BPM 1946 Rehabilitasi PMK I, karena mengalami kerusakan akibat PD II 1949 HVU I selesai didirikan dengan kapasitas 12 MBSD 1950 Wax Plant dan PMK I selesai didirikan, dengan kapasitas produksi 110 ton/hari dan 25 MBSD 1952 Unit PMK II selesai didirikan. Dibangun oleh PT. Shell Indonesia dan didesain ALCO dengan kapasitas 25 MBSD 1954 Modifikasi PMK III, sehingga memiliki kapasitas 10 MBSD. Mulai tahun 1985 PMK III tidak beroperasi 1973 Modifikasi wax plant, kapasitas 175 ton/hari April 1981 Kilang Balikpapan II mulai dibangun dengan hak paten proses dari UOP Inc Nov 1981 Penetapan kontraktor utama, yaitu Bechtel International Inc. dari Inggris dan konsultan supervisornya adalah PROCON Inc. dari Amerika Serikat Nov 1983 Kilang Balikpapan II diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia (Presiden Soeharto) 5 Des 1997 Proyek Up-grading Kilang Balikpapan I, mencakup CDU V dan HVU III, diresmikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Nov 2003 Perubahan status PERTAMINA dari BUMN menjadi Perseroan Terbatas 23 Juni 2005 Proyek pembangunan Flare Gas Recovery System dan Hydrogen Recovery System diresmikan 9 Okt 2008 PT. PERTAMINA (Persero) Unit Pengolahan V berganti nama menjadi PT. PERTAMINA (Persero) Refinery Unit V 2.3. Gambaran Singkat tentang Kilang Balikpapan Pembangunan kilang dimulai tahun 1899 oleh Shell Transport & Trading Ltd. Selanjutnya pada tahun 1922 kilang minyak Balikpapan I didirikan. Kilang mengalami kerusakan berat karena perang dunia II dan pada tahun 1948 kilang direhabilitasi. Pada tahun 1952, unit distilasi kedua dibangun dan selanjutnya pada tahun 1954 unit distilasi ketiga dibangun. Unit distilasi I, II, III beserta HVU I (High Vacuum Unit) tersebut dikelompokkan menjadi area kilang Balikpapan I. Menurut desainnya kilang Balikpapan mengolah total 260 MBSD minyak mentah.

Program Studi Teknik Kimia-Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru

II-5

Laporan Umum

Kerja Praktek PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan Februari-April 2011

Kilang RU V Balikpapan adalah kilang yang dikhususkan untuk memenuhi kebutuhan BBM di Indonesia bagian timur. Namun pada kasus-kasus insidental, produksi BBM dari kilang PERTAMINA RU V Balikpapan juga didistribusikan ke daerah-daerah lain yang juga membutuhkan. Kilang Balikpapan terdiri dari kilang lama dan kilang baru. Pada daerah kilang lama terdiri dari :  Unit Penyulingan Kasar I (PMK I)  Unit Penyulingan Kasar II (PMK II)  Unit Penyulingan Hampa I (HVU I)  Pabrik Lilin (Wax Plant)  Dehydration Plant (DHP)  Effuent Water Treatment Plant (EWTP)  Crude Distillation Unit V (CDU V)  High Vacuum Unit III (HVU III) Sejalan perkembangan kebutuhan BBM di Indonesia, kilang Balikpapan I di-upgrade pada tahun 1995 dan mulai dioperasikan pada tahun 1997 dengan menggantikan fungsi unit PMK I, PMK II, dan HVU I menjadi CDU V dan HVU III. Kapasitas produksi minyak mentah di kilang Balikpapan I adalah 60 MBSD. Jadi kilang Balikpapan I terdiri dari CDU V, HVU III, Wax Plant, Dehydration Plant (DHP), dan Effuent Water Treatment Plant (EWTP). Kilang Balikpapan II mulai dibangun pada tahun 1980 dan resmi berprestasi mulai tanggal 1 November 1983. Kilang Balikpapan II memiliki kapasitas desain 200 MBSD yang terdiri dari : a) Hydroskimming Complex (HSC) yang meliputi  Crude Distillation Unit IV (CDU IV), Plant 1  Naptha Hydrotreater (NHT), Plant 4  Platformer Unit, Plant 5  LPG Recovery Unit, Plant 6  Sour Water Stripper Unit (SWS), Plant 7  LPG Treater Unit, Plant 9 b) Hydrocracking Complex (HCC) yang meliputi  High Vacuum Unit II (HVU II), Plant 2

Program Studi Teknik Kimia-Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru

II-6

Laporan Umum

Kerja Praktek PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan Februari-April 2011

   

Hydrocracking Unibon (HCU II), Plant 3 Hydrogen Plant, Plant 3 Hydrogen Recovery Plant, Plant 38 Flare Gas Recovery, Plant 19

Dengan kapasitas dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2.3 Unit Proses dan Kapasitas di RU V No. 1 2 3 4 5 6 Plant Crude Distillation Vacuum Distillation Hydrocracker NHT Platformer LPG Recovery Wax Plant Jumlah 2 Unit 2 Unit 2 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit Kapasitas 260 MBSD 106 MBSD 55 MBSD 20 MBSD 534 Ton/hari 150 Ton/hari

Pembangunan Kilang Balikpapan II dilatarbelakangi oleh keinginan pemerintah untuk mengembangkan Indonesia Timur karena selama waktu tersebut pembangunan sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Indonesia bagian barat dan untuk mengurangi subsidi BBM, dimana dalam RAPBN tahun 1981/1982 terungkap bahwa subsidi terbesar yang dikeluarkan pemerintah adalah subsidi BBM. Subsidi yang besar tersebut disebabkan oleh kenaikan harga minyak

mentah dan produksi BBM dalam negeri belum mencukupi. Pada mulanya, kilang Balikpapan di desain untuk mengolah minyak mentah yang berasal dari lapangan minyak lokal yaitu lapangan minyak Attaka, Badak, Bekapai, Handil, Sepinggan, dan Tanjung. Namun ketika cadangan minyak

mentah di tempat tersebut mulai menipis maka untuk memenuhi pasokan kilang, pada saat ini kilang Balikpapan mengolah minyak mentah dari lapangan lain seperti Arjuna, Belida, Duri, Minas, dan Widuri. Selain itu, kilang Balikpapan mampu mengolah minyak yang didatangkan dari luar negeri seperti Arabian Superlight (Saudi Arabia), Bachho (Vietnam), Jabiru (Australia), Sarir (Libya), Tapis (Malaysia) dan lain-lain. Kilang ini dirancang untuk mengolah campuran minyak Handil (60%) dan Bekapai (40%), namun dengan terbatasnya cadangan

Program Studi Teknik Kimia-Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru

II-7

Laporan Umum

Kerja Praktek PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan Februari-April 2011

minyak-minyak tersebut kilang Balikpapan II saat ini mengolah berbagai macam campuran minyak yang spesifikasinya mendekati minyak Handil dan Bekapai. Kilang ini mengolah minyak mentah menjadi produk-produk yang siap dipasarkan. Produk tersebut meliputi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Non Bahan Bakar Minyak (NBBM). Produk jadi yang mampu diproduksi kilang ini adalah LPG, premium, avtur, kerosin, gas oil, fuel oil, dan naphta.

2.4. Visi dan Misi 2.4.1 PERTAMINA a) Visi Menjadi perusahaan minyak nasional kelas dunia. b) Misi Menjalankan usaha inti minyak, gas dan bahan bakar nabati secara terintegrasi berdasarkan prinsip-prinsip komersial yang kuat. c) Tata Nilai Dalam mencapai visi dan misinya, PERTAMINA berkomitmen untuk menerapkan tata nilai sebagai berikut :  Clean (Bersih) Dikelola secara profesional, menghindari benturan kepentingan, tidak menoleransi suap, menjunjung tinggi kepercayaan dan integrasi. Berpedoman pada asas-asas tata kelola koorporasi yang baik.  Competitif (Kompetitif) Mampu berkompetisi dalam skala regional maupun internasional, mendorong pertumbuhan melalui investasi, membangun budaya sadar biaya dan menghargai kinerja.  Confident (Percaya Diri) Berperan dalam pembangunan ekonomi nasional, menjadi pelopor dalam reformasi BUMN dan membangun kebanggaan bangsa.  Customer Focused (Fokus pada pelanggan)

Program Studi Teknik Kimia-Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru

II-8

Laporan Umum

Kerja Praktek PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan Februari-April 2011

Berorientasi pada kepentingan pelanggan dan berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan.  Commercial (Komersial) Menciptakan nilai tambah dengan orientasi komersial, mengambil keputusan berdasarkan prinsip-prinsip bisnis yang sehat.  Capable (Berkemampuan) Dikelola oleh pemimpin dan pekerja profesional dan memiliki talenta dan penguasaan teknis tinggi, berkomitmen dalam

membangun kemampuan riset dan pengembangan. 2.4.1 PERTAMINA RU V BALIKPAPAN a) Visi Menjadi kilang yang unggul dan terpercaya di kawasan Asia Pasifik pada tahun 2017 (Profit pada tahun 2013). b) Misi Mengelola minyak dan gas bumi menjadi produk BBM dan Non-BBM untuk memasok kebutuhan daerah Indonesia bagian timur dan Asia Pasifik secara selektif. Dalam operasinya, secara selektif memanfaatkan keahlian dan kemampuan inti (core competent) yang dimiliki sebagai sumber pendapatan tambahan. TUJUAN a. Memenuhi dan memuaskan kebutuhan stakeholder. b. Menghasilkan keuntungan optimal. c. Menjadi unit usaha yang unggul bersaing dan berkembang. Dalam melaksanakan usahanya selalu berdasarkan kepada tata nilai:      Berwawasan lingkungan Profesionalisme Kebanggaan pegawai Penerapan teknologi secara efektif dan efisien Keadilan, kejujuran, keterbukaan dan dapat dipercaya.

Program Studi Teknik Kimia-Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru

II-9

Laporan Umum

Kerja Praktek PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan Februari-April 2011

2.5. Arti Lambang PERTAMINA Lambang baru

1. Elemen logo yang berbentuk huruf P yang secara keseluruhan merupakan presentasi bentuk panah, dimaksudkan sebagai PERTAMINA yang bergerak maju dan progresif. 2. Warna yang berani menunjukkan langkah besar PERTAMINA dan aspirasi perusahaan akan masa depan yang lebih positif dan dinamis, dimana :  Warna Merah Yang melambangkan keuletan dan ketegasan serta keberanian dalam menghadapi berbagai macam kesulitan.  Warna Hijau Yang melambangkan sumber daya energi yang berwawasan

lingkungan.  Warna Biru Yang melambangkan handal, dapat dipercaya, dan bertanggung jawab. 3. Tulisan PERTAMINA dengan pilihan huruf yang mencerminkan kejelasan dan transparasi serta keberanian dan kesungguhan dalam bertindak sebagai wujud positioning PERTAMINA baru. 2.6. Lokasi Pabrik Kilang minyak PT. PERTAMINA (Persero) RU V terletak di kota Balikpapan provinsi Kalimantan Timur, tepatnya di tepi teluk Balikpapan berdiri tahun 1922. Lokasi kilang Balikpapan yang berdekatan dengan laut

mempermudah transportasi produk dan bahan baku keluar maupun menuju kilang. Selain itu, sumber air laut sebagai air proses ataupun utilitas dengan mudah diperoleh. Kilang PERTAMINA RU V terletak di teluk Balikpapan dengan luas area 2,50 hektar. Pemilihan teluk Balikpapan sebagai kawasan kilang dilakukan atas dasar :

Program Studi Teknik Kimia-Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru

II-10

Laporan Umum

Kerja Praktek PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan Februari-April 2011

a. Tersedianya pasokan minyak mentah yang cukup banyak dari kawasan sekitarnya. b. Lokasinya strategis untuk pendistribusian hasil produksi terutama ke kawasan Indonesia Bagian Timur. c. Tersedianya sarana pelabuhan untuk kepentingan distribusi minyak mentah dan hasil produksi.

2.7. Bidang Usaha PT. PERTAMINA (Persero) mempunyai bidang usaha migas dan panas bumi di sektor hulu dan sektor hilir. 1. Kegiatan Hulu Kegiatan sektor hulu PT. PERTAMINA (Persero) adalah mempertahankan dan meningkatkan produksi minyak, gas, dan panas bumi. Sasaran kegiatan hulu adalah menemukan cadangan baru dan meningkatkan resource serta

mengembangkan panas bumi sebagai sumber energi alternatif. Selain berkonsentrasi di dalam negeri, kegiatan sektor hulu secara bertahap mulai mengembangkan kegiatannya di luar negeri melalui kerjasama dengan Irak dan Vietnam. Sedangkan kerjasama dengan Negara Asia lain dalam pengkajian. Produksi minyak dan gas bumi PT. PERTAMINA (Persero) dan mitra tahun 2001 sebesar 105.894 BOPD dan 806 MMSCFD. Produksi PT. PERTAMINA (Persero) operasi sendiri dihasilkan dari Daerah Operasi Hulu (DOH) NAD, Sumatera bagian utara, tengah, dan selatan, Jawa bagian barat, timur, Kalimantan serta Papua. Produksi panas bumi PT. PERTAMINA (Persero) dan mitra tahun 2001 sebesar 45.276.320 Wme dan energi listrik yang dihasilkan sebesar 5.909,7 GWh. Produksi PT. PERTAMINA (Persero) operasi sendiri dihasilkan dari area panas bumi Kamojang-Jawa Barat, Sibayak-Sumatera Utara, dan LahendongSulawesi Utara. 2. Kegiatan Hilir a. Bidang Pengolahan Kegiatan pengolahan adalah upaya memproses minyak mentah dan gas bumi, mengusahakan tersedianya produk-produk minyak dan bahan bakar minyak

Program Studi Teknik Kimia-Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru

II-11

Laporan Umum

Kerja Praktek PT Pertamina (Persero) RU V Balikpapan Februari-April 2011

(BBM), non BBM maupun bahan baku untuk kebutuhan industri dalam negeri serta melayani pemasaran luar negeri. Perangkat kilang yang digunakan adalah kilang minyak, kilang gas, dan kilang petrokimia yang keseluruhannya dioperasikan secara optimal, ekonomis, dan efisien. Tujuan bidang pengolahan adalah memenuhi dan memuaskan kebutuhan stakeholder, menghasilkan keuntungan optimal, dan menjadi unti usaha yang unggul, bersaing, dan berkembang. b. Bidang Pemasaran dan Niaga Kegiatan pemasaran dan niaga mencakup upaya pembekalan dan pemasaran distribusi produk-produk BBM serta perluasan pemasaran non-BBM untuk kebutuhan dalam negeri dalam jumlah yang cukup, mutu yang baik, serta tepat waktu, dan sejalan dengan kebijaksanaan pemerintah dan pembangunan nasional. Kebutuhan BBM dalam negeri saat ini mencapai lebih dari 49,5 juta kilo liter yang disalurkan melalui : transit, instalasi, seafed depot, inland depot, pilot filling station dan SPBU. Penyaluran BBM di pulau Jawa selain melalui angkutan udara dan laut, selain itu digunakan saluran pipa karena biaya lebih murah juga dari segi keselamatan lebih handal. c. Bidang Perkapalan Untuk memelihara kehandalan distribusi BBM dalam negeri sebagai penunjang industri dipersiapkan armada transportasi laut yang handal dan ekonomis. Dengan meningkatnya kebutuhan BBM, maka muatan yang diangkut melalui laut ikut meningkat. PT. PERTAMINA (Persero) menggunakan armada tanker baik kapal milik sendiri maupun kapal carter untuk mengangkut minyak mentah dan BBM sejumlah 72.471.000 LT (long ton/tahun). Dalam meningkatkan mutu dan

pelayanan di bidang transportasi laut, bidang perkapalan telah memiliki standar keselamatan yang ditentukan oleh International Safety Management Code (ISMCode) yaitu berupa Document of Complience (DOC) serta Safety Management Certificate (SMC), Standard of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers (STWC) serta mengikuti ketentuan Marine Pollution (MARPOL) dan Safety of Life at Sea (SOLAS).

Program Studi Teknik Kimia-Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru

II-12

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->