Anda di halaman 1dari 27

BAB I STATUS PASIEN

I.

IDENTITAS PASIEN Nama pasien Umur Jenis kelamin Alamat Pekerjaan Status perkawinan Agama Suku Tanggal rawat di RS Tanggal pemeriksaan : Ny. S : 64 tahun : perempuan : 1/1 Coper Ponorogo : Ibu Rumah Tangga : kawin : Islam : Jawa : 5 Desember 2012 : 5 Desember 2012

II.

ANAMNESIS Riwayat penyakit pasien diperoleh secara autoanamnesis A. Keluhan Utama : Badan lemas B. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke IGD RS dr.Hardjono Ponorogo dengan keluhan badan lemas. Keluhan ini sudah dirasakan sejak 2 hari SMRS, buat berdiri badan terasa berat sehingga pasien hanya bisa tiduran. Sebelumnya pasien dirawat di Puskesmas Jetis selama 3 hari karena nyeri ulu hati. Pasien mengeluhkan ada nyeri ulu hati (+) kurang lebih sejak 6 bulan yang lalu. Nyeri ulu hati dirasakan menjalar ke seluruh dinding perut, terasa perih (+), kembung, mual (+), pusing kemeng (+), muntah (+) 3 x sehari SMRS berupa cairan yang bercampur dengan makanan yang dimakan. Setiap kali merasakan nyeri pasien selalu mengkonsumsi obat

yang dibeli di apotek, yaitu Ranitidine serta obat yang pasien lupa namanya. Keluhan nyeri berkurang setelah pemberian obat. Pasien mengeluhkan nafsu makan menurun, makan sehari hanya sedikit tidak sampai 1 piring, dengan frekuensi makan sering, konsumsi air dalam 1 hari tidak lebih dari setengah liter. Pasein tidak bisa tidur karena keluhan ini 1 bulan SMRS. BAK terasa ayang-anyangan, BAK bisa tapi susah keluar, dengan frekuensi lebih dari 6 x sehari, nyeri saat BAK (+), nyeri sampai ke pinggang, darah (-), panas (+) berwarna keruh (-). BAB normal, konsistensi padat warna kuning coklat. Nyeri dada (-), sesak (-), leher tegang (-).

C. Riwayat Penyakit Dahulu 1. Riwayat Hipertensi 2. Riwayat Diabetes Melitus 3. Riwayat Penyakit Ginjal 4. Riwayat Penyakit Liver 5. Riwayat Penyakit Jantung 6. Riwayat Atopi 7. Riwayat maag 8. Riwayat Operasi 9. Riwayat Opname keluhan sakit perut 10. Riwayat Trauma D. Riwayat penyakit keluarga 1. Riwayat sakit seperti pasien 2. Riwayat alergi 3. Riwayat DM 4. Riwayat hipertensi 5. Riwayat penyakit jantung : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal
2

: disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : diakui : disangkal : diakui 5 bulan yang lalu dengan

: disangkal

6. Riwayat penyakit paru

: disangkal

E. Riwayat pribadi 1. Merokok 2. Konsumsi jamu 3. Konsumsi minuman berenergi 4. Konsumsi alkohol 5. Makan tidak teratur 6. Obat bebas 7. Minum kopi 8. Batuk lama : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : diakui : diakui : disangkal : disangkal

III. PEMERIKSAAN FISIK A. Keadaan umum B. Kesadaran C. Vital Sign Tekanan darah Nadi RR Suhu D. Kulit Ikterik (-), purpura (-), acne (-), turgor cukup, hiperpigmentasi (-), bekas garukan (-), kulit kering (-), kulit hiperemis (-) E. Kepala Bentuk mesocephal, rambut warna hitam, mudah rontok (-), luka (-) F. Mata Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), perdarahan subkonjungtiva (/-), pupil isokor dengan diameter 4 mm/4 mm, reflek cahaya (+/+) normal, oedem palpebra (-/-), strabismus (-/-).
3

: sedang : compos mentis, GCS E4V5M6 : 120/70 mmHg (berbaring, pada lengan kanan) : 82 x/menit ( isi dan tegangan cukup), irama reguler. : 22 x/menit tipe thoracoabdominal : 37.2 0C per aksiler

G. Hidung Nafas cuping hidung (-), deformitas (-), darah (-/-), sekret (-/-) H. Telinga Deformitas (-/-), darah (-/-), sekret (-/-) I. Mulut Sianosis (-), gusi berdarah (-), kering (-), stomatitis (-), mukosa pucat (-), lidah tifoid (-), papil lidah atropi (-), luka pada tengah bibir (-), luka pada sudut bibir (-). J. Leher Leher simetris, deviasi trakea (-), JVP R0, pembesaran kelenjar limfe (-) K. Thorax : a. Paru Inspeksi : kelainan bentuk (-), gerakan pernafasan simetris kanan kiri, retraksi intercostae (-), ketinggalan gerak (-). Palpasi :

Ketinggalan gerak Depan Belakang -

Fremitus Depan N N N Perkusi : Depan S S S S S S N N N Belakang N N N Belakang S S S S S S N N N

S : sonor Auskultasi : Suara dasar vesikuler Depan + + + Suara tambahan Belakang + + + + + + + + + : wheezing (-/-), ronkhi (-/-)

b. Jantung -

Inspeksi Palpasi Perkusi

: ictus cordis tidak tampak. : ictus kordis tidak kuat angkat : batas jantung.

Batas kiri jantung : Atas : SIC II linea parasternalis sinistra. Bawah : SIC V linea midclavicula sinistra.

Batas kanan jantung Atas : SIC II linea parasternalis dextra Bawah : SIC IV linea parasternalis dextra

Auskultasi gallop (-)

: Bunyi jantung I-II murni, reguler, bising(-),

L. Abdomen: a. Inspeksi : dinding abdomen lebih tinggi dari dinding dada, caput medusa (-), venektasi (-), distended (-). b. c. Auskultasi : peristaltik (+) normal 8 x/menit, metallic sound (-). Perkusi : timpani, pekak alih (-), undulasi (-), hepatomegali (-),

splenomegali (-) d. Palpasi : hepar dan lien tidak teraba membesar, defans

muskular (-), nyeri tekan epigastrium (+), nyeri tekan suprapubik (+)

e.

Nyeri Tekan: + + + ++ + + + + +

M. Pinggang : nyeri ketok kostovertebrae (-/-)

N. Ekstremitas a. Clubing finger tidak ditemukan, palmar eritema (-) b. Edema dan pitting edema ekstrimitas (-), akral hangat (+)

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG A. Pemeriksaan darah rutin (tanggal 5 Desember 2012) Pemeriksaan WBC Lymph # Mid# Gran# Lymph% Mid% Gran% Hb Eritrosit Hematokrit Indeks Eritrosit MCV MCH MCHC 81.8 25.6 31.3 fl Pg % 82-95 27-31 32-36 Hasil 10.2 1.2 0,9 8,1 11.9 8,5 79.6 12.8 4.99 40.8
3

Satuan 10 uL 103 uL 103 uL 103 uL % % % gr/dl 106 uL %

Nilai Normal 4.0-10.0 0,8-4 0,1-0,9 2-7 20-40 0.7-1.4 50-70 11,0-16,0 3,50 5,50 37-50

Trombosit

205

103 uL mg/dl

100-300 <140

Gula Darah Sewaktu 100

B. Pemeriksaan laboratorium (tanggal 5 Desember 2012) Pemeriksaan DBIL TBIL SGOT SGPT ALP Gama GT TP ALB GLB Urea Creatinin UA Chol TG HDL LDL Hasil 0,37 1,38 43 45 296 38 7.7 4.6 3,1 28.03 0,85 3.2 236 76 36 185 Satuan mg/dl mg/dl UI UI mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl g/dl mg/dl mg/dl g/dl mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl Nilai Normal 0-0,35 0.2-1.2 0-38 0-40 98-279 8-34 6.6-8.3 3.5-5.5 2-3,9 10-50 0.7-1.2 2.4-5.7 140-200 36-165 35-150 0-190

C. Pemeriksaan EKG ( tanggal 5 Desember 2012)

Interpretasi EKG : Frekuensi: 88x/menit Ritme: reguler Jenis irama: sinus Aksis : deviasi ke kanan (Lead I (-), aVF (+))

Morfologi gelombang : Gelombang P selalu diikuti gelombang QRS dan T Interval PR 0,16 detik Gelombang QRS 0,08 detik

D. Pemeriksaan USG abdomen (tanggal 8 Desember 2012)

Kesimpulan : USG abdomen normal

E. Pemeriksaan Urine Lengkap (9 Desember 2012) Berat jenis pH sedimen 1.015 6 Eritrosit 1-2 Leukosit 2-3 Epitel 5-6 Bakteri/jamur F. Pemeriksaan Endoskopi (5 September 2012) 1.010-1.020 4.6-8.0 0-1 /plp 0-2 /plp 0-2 /plp +/+

10

Antrum : congested mucosa Pylorus : hemorrhagic mucosa Kesimpulan : gastritis Erosi

G. Pemeriksaan Urine Lengkap ( 13 Desember 2012) Makroskopis : Warna : kuning tua Kejernihan : Jernih Berat jenis : 1,015 pH : 7,0 Mikroskopis : Eritrosit : 3-4 /lp Leukosit : 1-2/lp Epitel : 1-2 /lp

V.

RESUME/ DAFTAR MASALAH (yang ditemukan positif) A. Anamnesis 1. 2. 3. 4. 5. Keluhan utama badan lemas Kembung, Nyeri ulu hati (+), menjalar ke dinding perut, perih Mual (+), muntah (+), pusing (+), nafsu makan menurun Riwayat maag (+) BAK anyang-anyangan, frekuesi lebih dari 6x, nyeri saat BAK (+),nyeri sampai ke pinggang, terasa panas (+),

B. Pemeriksaan Fisik 1. Vital Sign Tekanan darah : 120/80 mmHg (berbaring, pada lengan kanan) Nadi RR : 82 x/menit ( isi dan tegangan cukup), irama reguler. : 22 x/menit tipe thoracoabdominal
11

Suhu 2.

: 37.2 0C per aksiler

Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Abdomen Palpasi : nyeri tekan epigastrium (+), nyeri tekan supra pubik (+)

3.

Pemeriksaan Penunjang 5 Desember 2012 Pemeriksaan Hasil 236 79,6 Satuan mg/dl % Nilai Normal 140-200 50-70

CHOL granulosit

4. Pemeriksaan USG abdomen: Kesimpulan : Normal 5. Pemeriksaan Urine Lengkap : Eritrosit 1-2 plp Leukosit 2-3 plp Epitel 5-6 plp Bakteri/jamur (+) 6. Pemeriksaan Endoskopi : Antrum : congested mucosa Pylorus : hemorrhagic mucosa Gastritis Erosi

VI. ASSESMENT/ DIAGNOSIS KERJA 1. 2. 3. Gastritis Erosi ISK Dislipidemia

12

VII. POMR (Problem Oriented Medical Record ) Daftar masalah


1. badan lemas, kembung, mual (+),muntah (+), pusing (+), nafsu mkan menurun, nyeri ulu hati menjalar ke dinding perut terasa perih6 bln SMRS. Riwayat Maag (+). Nyeri tekan epigastrium (+) Pemeriksaan Endoskopi : antrum :congested mucosa, pylorus :hemorrhagic mucosa, kes : gastritis erosi Kultur 2. BAK anyanganyangan dan sulit keluar, Gangguan kemih ISK kuman sensitivitas bakteriologi

Problem
Dyspepsia fungsional ( gastritis H.pylori, idiopatik ) Dyspepsia organic (ulkus gaster, gastritis kronis)

Assesment
Gastritis erosi

Planning Diagnosa
Urea Breat Test Tes CLO

Plannning Terapi
Inf. Pz fl 16 tts Inj. Ranitidine 2x1 amp Inj ondancentron 3x 1 amp Lansoprazol 30 mg cap 0-0-1 Antacid tab 3x1

Planning Monitori ng
Klinis

Cefadroxil 3x500mg

Klinis UL

13

frekuwensi lebih dari 6x, nyeri saat BAK (+), nyeri sampai ke pinggang, terasa panas (+), Nyeri supra pubik (+) DL :WBC 10.2

s USG urologi IVP

103 uL.
UL : leukosit 2-3 plp, epitel 5-6 plp, bakteri (+), jamur (+) Granulosit 79,6% hiperkoleste 3. Chol 236 mg/dl Hiperkolesterole mia rolemia Simvastatin 10 mg 0-0-1 Diet rendah lemak Klinis kimia darah : kadar lipid (chol,TG, HDL,LDL

FOLLOW UP Tanggal 6 Desember 2012 S: perut kembung, terasa sakit diseluruh lapang perut ,panas. bAK anyanganyangan, mual (+), muntah (+) O: Keadaan umum: sedang Tanggal 7 Desember 2012 S: perut kembung, terasa sakit diseluruh lapang perut , bAK anyang-anyangan,. mual (+), muntah (-),mumet (+) O: Keadaan umum: sedang
14

Kesadaran: Compos Mentis Vital Sign: TD: 110/80 mmHg S: 37,3C N: 78 x/menit RR: 18x/menit Abdomen : Nyeri epigastrium, A: susp. Fatty Liver P: Infus Pz fl 20 tpm Inj. Ondancentron 3x1amp Inj.Ranitidin 2 x 1 amp Lansoprazol 0-01 Antacid tab 3x1 Simvastatin 10mg 0-0-1 Diet rendah TKTP rendah lemak Pro: USG abdomen Tanggal 8 Desember 2012 S: perut masih kembung, terasa sakit diseluruh lapang perut , BAK anyanganyangan,. mual (-), muntah (-) O: Keadaan umum: sedang Kesadaran : compos mentis Vital Sign: TD: 110/70 S: 37,2C N: 80 x/menit RR: 20 x/menit Nyeri tekan epigastrium (+), nyeri tekan dinding abdomen dan supra pubik. A: susp. Fatty liver P: Infus Pz fl 20 tpm Inj. Ondancentron 3x1amp Inj.Ranitidin 2 x 1 amp Lansoprazol 0-01 Antacid tab 3x1

Kesadaran : Compos Mentis Vital Sign: TD: 110/70mmHg S: 36,9C N: 72 x/menit RR: 22x/menit Abdomen : nyeri epigastrium, nyeri supra pubik (+) A: Susp fatty liver P: Infus Pz fl 20 tpm Inj. Ondancentron 3x1amp Inj.Ranitidin 2 x 1 amp Lansoprazol 0-01 Antacid tab 3x1 Simvastatin 10mg 0-0-1 Tanggal 9 Desember 2012 S: perut kembung, terasa sakit diseluruh lapang perut , BAK anyang-anyangan, terasa panas walaupun sudah dipasang selang . mual (-), muntah (-), tidak bisa tidur O: Keadaan Umum: sedang Kesadaran: Compos Mentis Vital Sign : TD: 110/80 mmHg S: 36,8C N: 80x/menit RR: 22 x/menit Nyeri tekan epigastrium (+), cairan ascites warna kuning bening, darah (-), nanah(-) A: susp. Fatty Liver P: Infus Pz fl 20 tpm Inj. Ondancentron 3x1amp

15

Simvastatin 10mg 0-0-1 Vit B complex 3x1

Tanggal 10 Desember 2012 S: perut kembung, terasa sakit diseluruh lapang perut , BAK anyang-anyangan, terasa panas. mual (-), muntah (-), BAB normal, sulit tidur O: Keadaan umum: sedang Kesadaran : compos mentis Vital Sign: TD: 140/80 S: 37,0C N: 84 x/menit RR: 22 x/menit Nyeri tekan epigastrium (+), nyeri tekan dinding abdomen. A: Gastritis Erosi P: Infus Pz fl 20 tpm Inj. Ondancentron 3x1amp Inj.Ranitidin 2 x 1 amp Lansoprazol 0-01 Antacid tab 3x1 Simvastatin 10mg 0-0-1 Vit B Complex 3x1 Alprazolam 0,5mg 0-0-1 Tanggal 12 Desember 2012 S: perut kembung, diisi makan terasa mau muntah,perut terasa seperti di ulek-ulek. Ndredek, BAK banyak setelah dilepas selangnya

Inj.Ranitidin 2 x 1 amp Lansoprazol 0-01 Antacid tab 3x1 Simvastatin 10mg 0-0-1 Vit B Complex 3x1 Tanggal 11 desember 2012 S: Makan sedikit, perut kembung, terasa sakit diseluruh lapang perut , BAK anyang-anyangan, terasa panas walaupun sudah dipasang selang O: Keadaan umum: baik Kesadaran : compos mentis Vital Sign: TD: 120/80 S: 36,7C N: 84 x/menit RR: 19 x/menit Nyeri tekan epigastrium (+), nyeri tekan dinding abdomen. A: Gastritis Erosi P: Infus Pz fl 20 tpm Inj. Ondancentron 3x1amp Inj.Ranitidin 2 x 1 amp Lansoprazol 0-01 Antacid tab 3x1 Simvastatin 10mg 0-0-1 Vit B Complex 3x1 Alprazolam 0,5mg 0-0-1 Lepas DC Tanggal 13 Desember 2012 S: BAK anyang-anyangan, kadang keluar kadang tidak, perut terasa diulek-ulek. Mumet (+) O:

16

O: Keadaan umum: baik Kesadaran : compos mentis Vital Sign: TD: 140/80 S: 36,8C N: 88 x/menit RR: 22 x/menit Nyeri tekan epigastrium (+), nyeri tekan dinding abdomen. A: Gastritis Erosi

Keadaan umum: baik Kesadaran : compos mentis Vital Sign: TD: 150/80 S: 36,7C N: 84 x/menit RR: 20 x/menit Nyeri tekan epigastrium (+), nyeri tekan dinding abdomen. A: Gastritis Erosi P: Infus Pz fl 20 tpm Inj. Ondancentron 3x1amp Inj.Ranitidin 2 x 1 amp Lansoprazol 0-01 Antacid tab 3x1 Simvastatin 10mg 0-0-1 Vit B Complex 3x1 Alprazolam 0,5mg 0-0-1 Cefadroxil 3x500mg

P: Infus Pz fl 20 tpm Inj. Ondancentron 3x1amp Inj.Ranitidin 2 x 1 amp Lansoprazol 0-01 Antacid tab 3x1 Simvastatin 10mg 0-0-1 Vit B Complex 3x1 Alprazolam 0,5mg 0-0-1 Tanggal 14 Desember 2012 S : BAK sudah mulai normal, tidak panas dan nyeri, anyang2an berkurang. Perut masih terasa kembung. Mual (-), muntah (-) O: Keadaan umum: baik Kesadaran : compos mentis Vital Sign: TD: 150/80 S: 36,8C N: 88 x/menit RR: 20 x/menit A : Gastritis Erosif P: ranitidine 150 mg tab 2x1 Cefadroxil 3x 500mg Lansoprazol 30mg 0-0-1 Simvastatin 10x1mg Antasida tab 3x1 Alprazolam 0,5mg 0-0-0,5

17

BAB II PEMBAHASAN

A. GASTRITIS EROSIF Pada pasien di atas didapatkan sindrom dyspepsia yaitu mengeluhkan nyeri ulu hati, terasa perih, terasa kembung, disertai mual dan muntah. Pada pemeriksaan fisik diemukan nyeri tekan epigastrium (+). Sindrom dyspepsia merupakan kumpulan keluhan atau gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak atau sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan. Dispepsia berasal dari bahasa Yunani "-" (Dys-), berarti sulit , dan "" (Pepse), berarti pencernaan. Sindrom/ kumpulan gejala berupa mual, muntah, kembung, nyeri ulu hati, sendawa, rasa terbakar, rasa penuh ulu hati dan cepat merasa kenyang. Secara umum dyspepsia dibagi menjadi empat yaitu: dyspepsia akibat tukak, dyspepsia akibat gangguan motilitas, dyspepsia akibat refluks dan dyspepsia tidak spesifik. a. Pada dyspepsia gangguan motilitas, keluhan yang paling menonjol adalah perasaan kembung, rasa penuh ulu hati setelah makan, cepat merasa kenyang disertai sendawa. b. Pada dyspepsia akibat refluks, keluhan yang menonjol berupa nyeri ulu hati dan rasa seperti terbakar, harus disingkirkan adanya pasien kardiologis. c. Pasien tukak memberikan ciri seperti nyeri ulu hati, rasa tidak nyaman, disertai muntah. Pasien mengeluhkan lemas karena intake makanan pasien kurang (nafsu makan menurun), karena sehari tidak lebih dari 1 piring, walaupun frekuensi makan sering. Pasien juga mengeluhkan muntah yang dapat memperparah keadaan umum pasien.

18

Berdasarkan atas kebiasaan pribadi didapatkan bahwa pasien memiliki kebiasaan makan yang tidak teratur. Pasien juga mengkonsumsi obat ( tidak tahu nama obatnya) setiap kali mengeluhkan nyeri di ulu hati.
Faktor Pencetus : Stress Fisik Makan tidak teratur Konsumsi obat mis; OAINS, alkohol

Sel parietal kelenjar Lambung berkurang

Mengiritasi Mukosa lambung Edema, hiperemisk, erosi superfisial

ASIMTOMATIK

Kerusakan kelenjar Atrofi mukosa Faktor intrinsic Asam berkurang Mal absorbsi Vit. B12 Anemia Pernisiosa

Ulserasi Superfisial Memperbaiki diri sendiri Hemoragi

Nyeri Gangren / Perforasi Jaringan Parut Obstruksi Pirolus Kegawatan

Mual, Muntah, Anoreksia Kurang cairan dan Kurang nutrisi

Diagnosis : Pada pasien di atas dilakukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan USG abdomen yang hasilnya adalah normal, serta dilakukan pemeriksaan Endoskopi yang hasilnya pada antrum gaster : congested

mucosa dan pada pylorus : hemorrhagic mucosa. Kesimpulan pemeriksaan Endoskopi adalah gastritis Erosi.

19

Gastritis adalah suatu keadaan peradangan / perdarahan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronik, difus atau local (Price & Wilson, 2006). Diagnosis gastritis erosif ditegakkan berdasarkan pengamatan klinis, pemeriksaan penunjang (radiologi dan endoskopi), dan hasil biopsy untuk pemeriksaan kuman H. pylori (Tarigan, P. 2007). Pemeriksaan endoskopi memudahkan diagnosis tepat erosive. Dengan endoskopi memungkinkan visualisasi dan dokumentasi fotografik sifat ulkus, ukuran, bentuk dan lokasinya dan dapat menjadi dasar referensi untuk penilaian penyembuhan. Pemeriksaan endoskopi merupakan Gold Standar untuk gastritis erosive. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan pada pasien di atas adalah

pemeriksaan radiologi yang nantinya didapatkan gambaran niche atau crater. Pemeriksaan tes CLO/PA untuk menunjukkan apakah ada infeksi H. pylori dalam rangka eradikasi kuman. Penatalaksanaan : Terapi pada gastritis erosif terdiri dari terapi non-medikamentosa, medikamentosa dan operasi. Tujuan dari terapi adalah menghilangkan keluhan, menyembuhkan atau memperbaiki erosi, mencegah kekambuhan dan mencegah komplikasi. a. Terapi non-medikamentosa Istirahat (stress dan kecemasan memegang peranan penting dalam peningkatan asam lambung). Diet (menghindari makanan yang merangsang pengeluaran asam lambung) b. Terapi medikamentosa 1. Antasid 20-150 ml/hari Golongan obat ini mudah didapat dan murah. Antasid akan menetralisir sekresi asam lambung. Antasid biasanya mengandung Na bikarbonat, Al(OH)3, Mg(OH)2, dan Mg triksilat. Pemberian antasid jangan terusmenerus, sifatnya hanya simtomatis, unutk mengurangi rasa nyeri.
20

2.

Antagonis reseptor H2 Golongan obat ini banyak digunakan untuk mengobati dispepsia organik atau esensial seperti tukak peptik. Obat yang termasuk golongan antagonis respetor H2 antara lain simetidin, roksatidin, ranitidin, dan famotidin.

3.

Penghambat pompa asam (proton pump inhibitor = PPI) Golongan obat ini mengatur sekresi asam lambung pada stadium akhir dari proses sekresi asam lambung. Obat-obat yang termasuk golongan PPI adalah omeperazol, lansoprazol, dan pantoprazol.

4. Prostaglandin Mekanisme kerja dengan mengurangi sekresi asam lambung, menambah sekresi mukus, bikarbonat dan menambah aliran darah mukosa serta pertahanan dan perbaikan mukosa. Biasanya digunakan sebagai penangkal ulkus gaster pada pasien yang menggunakan OAINS. 5. Suktrafat Mekanisme kerja kemungkinan melalui pelepasan kutup alumunium hidroksida yang berkaitan dengan kutub positif molekul protein membentuk lapisan fisikokemikal pada dasar ulkus, yang melindungi dari asam dan pepsin. Efek lain membantu sintesis prostglandin dan menambah sekresi bikarbonat dan mukus, meningkatkan daya pertahanan dan perbaikan mukosa.

A. INFEKSI SALURAN KEMIH Berdasarkan anamnesis yang diperoleh dari pasien diatas, pasien mengeluhkan BAK anyang-anyangan sulit keluar, frekuwensi lebih dari 6 x sehari, nyeri saat BAK (+), terasa panas (+), nyeri sampai ke pinggang serta nyeri suprapubik (+). Pemeriksaan fisik abdomen pada palpasi diperoleh nyeri tekan suprapubik (+). Gejala dan tanda tersebut merupakan manifestasi klinis dari infeksi Saluran Kemih (ISK).
21

Infeksi saluran kemih adalah suatu infeksi yang melibatkan ginjal, ureter, buli-buli, ataupun uretra. Infeksi saluran kemih (ISK) adalah istilah umum yang menunjukkan keberadaan mikroorganisme (MO) dalam urin (Sukandar, E., 2004). Penyebab terbanyak adalah bakteri gram-negatif termasuk bakteri yang biasanya menghuni usus kemudian naik ke sistem saluran kemih. Dari gram negatif tersebut, ternyata Escherichia coli menduduki tempat teratas kemudian diikuti oleh Proteus sp.,Klebsiella sp.,Enterobacter sp., dan Pseudomonas sp. Lokasi infeksi yang diderita pasien di atas merupakan ISK bagian bawah, berdasarkan atas gejala klinis ISK sesuai dengan bagian saluran kemih yang terinfeksi sebagai berikut : a. Pada ISK bagian bawah, keluhan pasien biasanya berupa rasa sakit atau rasa panas di uretra sewaktu kencing dengan air kemih sedikit-sedikit serta rasa tidak enak di daerah suprapubik. Polakisuria, nokturia, disuria, dan stanguria. b. Pada ISK bagian atas dapat ditemukan gejala sakit kepala, malaise, mual, muntah, demam, menggigil, rasa tidak enak, atau nyeri di pinggang. Presentasi klinis ISK bawah tergantung dari gender : a. Perempuan Sistisis adalah presentasi klinis ISK disertai dengan bakteriuria bermakna. Sindrom Uretra Akut ( SUA) adalah presentasi klinis tanpa ditemukan mikroorganisme (steril). b. Laki-laki Presentasi klinis ISK bawah pada laki-laki mungkin sistisis, prostatitis, epididimis dan uretritis. Presentasi klinis ISK atas : a. Pielonefritis akut (PNA) adalah proses inflamasi parenkim ginjal yang disebabkan infeksi bakteri. b. Pielonefritis kronis (PNK) mungkin akibat lanjut dari infeksi bakteri berkepanjangan atau infeksi sejak masa kecil. Obstruksi saluran kemih dan
22

ferluks vesikoureter dengan atau tanpa bakteriuria kronis sering diikuti pembentukan jaringan ikat parenkim ginjal. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada pasien tersebut untuk menunjang menegakkan diagnosis infeksi saluran kemih adalah urinalisis, hasilnya yaitu : a) Leukosit 2-3 plp b) Epitel 5-6 plp c) Bakteri/jamur (+) Terjadi peningkatan leukosit yang menandakan telah terjadi infeksi. Didukung adanya bakteri dan jamur (positif) pada hasil pemeriksaan Urinalisis. Pada ISK pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosis, antara lain: a. Urinalisis Untuk pengumpulan spesimen, dapat dipilih pengumpulan urin melalui urin porsi tengah, pungsi suprapubik, dan kateter uretra. Urin yang dipergunakan adalah urin porsi tengah (midstream). Cara terbaik dalam pengumpulan spesimen adalah dengan cara pungsi suprapubik

(Drdjebrut's Blog, 2009). Pada urinalisis, yang dinilai adalah sebagai berikut: 1) Eritrosit Ditemukannya eritrosit dalam urin (hematuria) dapat merupakan penanda bagi berbagai penyakit glomeruler maupun non-gromeruler, seperti batu saluran kemih dan infeksi saluran kemih. 2) Piuria Piuria atau sedimen leukosit dalam urin yang didefinisikan oleh Stamm, bila ditemukan paling sedikit 8000 leukosit per ml urin yang tidak disentrifus atau setara dengan 2-5 leukosit per lapangan pandang besar pada urin yang di sentrifus. Infeksi saluran kemih dapat dipastikan bila

23

terdapat leukosit sebanyak > 10 per mikroliter urin atau > 10.000 per ml urin . 3) Silinder Silinder dalam urin dapat memiliki arti dalam diagnosis penyakit ginjal, antara lain: silinder eritrosit, sangat diagnostik untuk glomerulonefritis atau vaskulitis ginjal ; silinder leukosit bersama dengan hanya piuria, diagnostik untuk pielonefritis; silinder epitel, dapat ditemukan pada nekrosis tubuler akut atau pada gromerulonefritis akut; silinder lemak, merupakan penanda untuk sindroma nefrotik bila ditemukan bersamaan dengan proteinuria nefrotik. 4) Kristal Kristal dalam urin tidak diagnostik untuk penyakit ginjal. 5) Bakteri Bakteri dalam urin yang ditemukan dalam urinalisis tidak identik dengan infeksi saluran kemih, lebih sering hanya disebabkan oleh kontaminasi. b. Bakteriologis 1) Mikroskopis, pada pemeriksaan mikroskopis dapat digunakan urin segar tanpa diputar atau pewarnaan gram. Bakteri dinyatakan positif bila dijumpai satu bakteri lapangan pandang minyak emersi. 2) Biakan bakteri, pembiakan bakteri sedimen urin dimaksudkan untuk memastikan diagnosis ISK yaitu bila ditemukan bakteri dalam jumlah bermakna, yaitu: Kriteria untuk diagnosis bakteriuria bermakna Pengambilan spesimen Aspirasi supra pubik Jumlah koloni bakteri per ml urin > 100 cfu/ml dari 1 atau lebih organisme patogen Kateter > 20.000 cfu/ml dari 1 organisme patogen

24

Urine bag atau urin porsi tengah c. Tes Kimiawi

> 100.000 cfu/ml

Beberapa tes kimiawi dapat dipakai untuk penyaring adanya bakteriuria, diantaranya yang paling sering dipakai adalah tes reduksi griess nitrate. Dasarnya adalah sebagian besar mikroba kecuali enterococci mereduksi nitrat. d. Tes Plat Celup (Dip-Slide) Penentuan jumlah kuman/mL dilakukan dengan membandingkan pola pertumbuhan kuman yang terjadi dengan serangkaian gambar yang memperlihatkan pola kepadatan koloni antara 1000 hingga 10.000.000 cfu per mL urin yang diperiksa. e. Radiologis dan pemeriksaan penunjang lainnya Pemeriksaan radiologis pada ISK dimaksudkan untuk mengetahui adanya batu atau kelainan anatomis yang merupakan faktor predisposisi ISK. Pemeriksaan ini dapat berupa foto polos abdomen, pielografi intravena, demikian pula dengan pemeriksaan lainnya, misalnya ultrasonografi dan CT Scan (Drdjebrut's Blog, 2009). Penatalaksanaan pada pasien ISK Pada ISK yang tidak memberikan gejala klinis tidak perlu pemberian terapi, namun bila sudah terjadi keluhan harus segera dapat diberikan antibiotika. Uji sensitivitas antibiotik menjadi pilihan utama dalam penentuan antibiotik yang dipergunakan. Antibiotika yang diberikan berdasarkan atas kultur kuman dan tes kepekaan antibiotika. Antibiotik yang sering dipergunakan untuk terapi ISK, yaitu: a. Amoxicillin 20-40 mg/kg/hari dalam 3 dosis. Sekitar 50% bakteri penyebab ISK resisten terhadap amoxicillin. Namun obat ini masih dapat diberikan pada ISK dengan bakteri yang sensitif terhadapnya.

25

b. Kloramfenikol 50 mg/kg berat badan sehari dalam dosis terbagi 4, sedangkan untuk bayi premature adalah 25 mg/kg berat badan sehari dalam dosis terbagi 4. c. Co-trimoxazole atau trimethoprim 6-12 mg trimethoprim/kg/hari dalam 2 dosis. Sebagian besar ISK akan menunjukkan perbaikan dengan cotrimoxazole. Penelitian menunjukkan angka kesembuhan yang lebih besar pada pengobatan dengan cotrimoxazole dibandingkan amoxicillin. d. Cephalosporin seperti cefixime atau cephalexin 1-2 gr dalam dosis tunggal atau dosis terbagi (2 kali sehari) untuk infeksi saluran kemih bagian bawah (sistitis) sehari. Cephalexin kira-kira sama efektif dengan cotrimoxazole, namun lebih mahal dan memiliki spectrum luas sehingga dapat mengganggu bakteri normal usus atau menyebabkan

berkembangnya jamur (Candida sp.) pada anak perempuan. Sulfonamide dapat menghambat baik bakteri gram positif dan gram negatif. Secara struktur analog dengan asam p-amino benzoat (PABA). Biasanya diberikan per oral, dapat dikombinasi dengan Trimethoprim, metabolisme terjadi di hati dan di ekskresi di ginjal. Sulfonamide digunakan untuk pengobatan infeksi saluran kemih dan bisa terjadi resisten karena hasil mutasi yang menyebabkan produksi PABA berlebihan. Trimethoprim mencegah sintesis THFA, dan pada tahap selanjutnya dengan menghambat enzim dihydrofolate reductase yang mencegah pembentukan tetrahydro dalam bentuk aktif dari folic acid. Diberikan per oral atau intravena, di diabsorpsi dengan baik dari usus dan ekskresi dalam urine, aktif melawan bakteri gram negatif kecuali Pseudomonas spp. Biasanya untuk pengobatan utama infeksi saluran kemih. Trimethoprim dapat diberikan tunggal (100 mg setiap 12 jam) pada infeksi saluran kemih akut.

26

DAFTAR PUSTAKA

Drdjebrut's Blog, 2009. Pengambilan bahan urin dan urinalisa secara umum Available from: http://drdjebrut.wordpress.com/tag/urinalisis/ [Accesed on 25 February 2011] Enday Sukandar, 2007. Infeksi Saluran Kemih Pasien Dewasa. In: Aru W.Sudoyo, Bambang Setiyohadi, Idrus Alwi, Marcellus Simadibrata K, Siti Setiati, ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta, Indonesia: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UI, 553557. Hirlan, 2006, Gastritis, dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Suyono, S. (ed), Balai Penerbit FKUI, Jakarta. Lindes, G., 2006. Gangguan Lambung dan Duodenum, dalam Patofisiologi. Jakarta: EGC McGuigan, J., 2000. Ulkus Peptikum dan Gastritis, dalam Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Jakata: EGC Naber KG, Bergman B, Bishop MC, Johansen TEB, Botto H, Lobel B (ed). European Association of Urology : Guidelines on Urinary and Male Genital Tract Infections. 2001, 11-29 Tierney, L., dkk.2002. Diagnosis dan Terapi Kedokteran Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Salemba Medika

27