Anda di halaman 1dari 35

FONON II SIFAT-SIFAT TERMAL Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendahuluan Fisika Zat Padat

DISUSUN OLEH : Abdul Rohim Benedictus Ryandi Novada Ian Arif Rahman Indah Novitasari Dinar Wahyu Febrianita (3215096545) (3215096550) (3215096535) (3215096526) (3215097723)

PENDIDIKAN FISIKA NON REGULER 2009 JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2012

KAJIANPUSTAKA A. Kapasitansi Panas Fonon


Kapasitas panas yang biasa kita kenal kapasitas panas pada volume konstan , yang lebih mendasar dari kapasitas panas pada tekanan konstan , yang

dimaksudkan pada eksperimen. Kapasitas panas pada volum konstan didefinisikan dimana U adalah energi dan T adalah temperatur. Kontribusi dari fonon terhadap kapasitas panas pada kristal disebut kapasitas panas kisi dan dilambangkan . T) dalam kristal mungkin ditulis

Energi total dari fonon pada temperature (

sebagai penjumlahan dari semua mode energi fonon , disini di kumpulkan dengan vektor gelombang K dan indeks polarisasi p.

Dimana

adalah daerah keseimbangan termal dari panjang vektor fonon K di turunkan dari fungsi distribiusi plank :

dan polarisasi P. bentuk

Dimana menyatakan rata rata titik keseimbnagn termal . grafik A dari dijelaskan oleh.

gambar 1. Plot dari fungsi distribusi plank . pada temperatur tinggi keadaannya mendekati linear pada temperatur . fungsi + , dimana tidak di plot . menerima tanda garis sebagai asimtot pada temperatur tinggi . tanda garis adalah batas dalam tinjauan klasik.

1. Distribusi Plack
Mengacu pada osilator harmonik identik pada titik keseimbangan termal. Perbandingan dari bilangan osilasi pada urutan keadaan kuantum eksitasi ke (n + 1) ke bilangan osilasi pada urutan keadaan kuantum ke n adalah

Dengan menggunakan faktor boltzman. Sehingga solusi dari bilangan osilator total pada keadaan kuantum ke n adalah ( ( ) )

Kita tahu bahwa rata-rata bilangan kuantum eksitasi dari sebuah osilator adalah

Jumlah dipersamaan (5) adalah

Dengan distribusi planck :

kita bisa menuliskan kembali persamaan (5) sebagai

2. Daftar Mode Normal


Energi dari pengumpulan osilator yang berfrekuensi termal didapatkan dari persamaan (1) dan (2) : pada kesetimbangan

Biasanya untuk menulis penjumlahan dari K bisa digunakan integral .jika kristal dalam bentuk mengakibatkan polarisasi pdalam rentang frekuensi

sampai + d , energinya adalah

Kapasitas panas bisa dicari dengan mendeferensiakan terhadap temperatur. Dengan memasukan X = / = / : dengan dinyatakan :

Masalah utamanya adalah menemukan D() , bilangan mode tiap jangkauan frekuensi. Funsi ini disebut kerapatan dari r kurang lebih jarang

Gambar 2. Garis elastis of N + 1 atom, dengan N = 10 , untuk kondisi ikatan . bahwa atom terakhir s = 0 dan s = 10 tidak berubah. Partikel yang bergeser di keadaan normal dari longitudinal atau tranversal pergeseran berbentuk sin

sKa. Bentuk ini secara otomatis memberikan nilai nol pada saat s = 0dan kita dapat memilih K untuk tiap pergeseran di akhir s = 10.

Gambar 3. Kondisi di ikatan sin sKa = 0 untuk s = 10 tidak terpenuhi jika memasukan K = /10a , 2/10a, 9/10a , dimana 10a adalah panjang garis L. mengacu gambar di ruang K. titik bukanlah atom melainkan hasil yang memenuhi K. dari N+1 partikel digaris , hanya N-1 yang diperbolehkan bergerak , dan pergerakan totalnya dapat dinyatakan dalam suku N-1 yang memenuhi nilai K . kuantisasi dari K tidak dapat dicari dengan mekanika kuantum tetapi dari pendekatan klasik kondisi ikatan dapat diselesaikan. Kerapatan dari keadaan . cara paaling mudah untuk menentukan rapat keadaan adalah menentukan penyebaran terhadap K pada arah kristal yang dipilih dengan caara penyebaran neutron yang tidak elastik lalu membuat analisa teorinya untuk meberikan penyebaran hubungan pada arah yang general dari D() kemungkinan bisa didapatkan.

3. Rapat Keadaan dalam Satu Dimensi


Mempertimbangkan masalah nilai batas untuk getaran dari garis satu dimensi dengan panjang L membawa N+1 partikel dengan pemisahan a. Kita menganggap bahwa partikel s = 0 dan s = N di akhir baris tetap. Setiap mode getaran normal dari polarisasi p memiliki bentuk gelombang berdiri. Dimana perpindahan oleh partikel s ( Dimana ) adalah

memiliki hubungan dengan K mendekati dispersi relasi.

Dari gambar 3 vektor gelombang K dibatasi oleh beberapa kondisi

Solusi dari

memiliki

Solusi untuk

memiliki

. Ini hilang pada setiap atom,

memungkinkan tidak ada gerak atom, karena

sehingga ada N-1 nilai bebas memungkinkan K pada persamaan 12. Jumlah ini sama dengan jumlah partikel diperbolehkan untuk bergerak. Setiap nilai memungkinkan K berhubungan dengan gelombang berdiri. Untuk satu baris dimensi ada satu modus untuk masing-masing interval, sehingga beberapa mode per rentang unit K adalah untuk dan 0 untuk .

Ada tiga polarisasi p untuk setiap nilai K: pada satu dimensi, dua diantaranya melintang dan satu yang lainnya membujur. Dalam tiga dimensi, polarisasi yang sederhana ini hanya untuk vector gelombang arah Kristal tertentu. Perangkat lain untuk mode operasi perhitungan yang sering digunakan yaitu sama-sama valid. Kita menganggap medium yang tak terbatas, tetapi memerlukan solusi periodik yang akan l;ebih besar dari nilai L, sehingga

Metode perhitungan diberikan dalam jumlah mode yang sama yaitu (per satu atom di berikan dari persamaan (12), tetapi yang kita miliki sekarang nilai keduanya plus dan minus K, dengan interval antara nilai-nilai berturut-turut k. untuk Untuk kondisi batas periodic nomor mode per kisaran unit k adalah

dan 0 sebaliknya. Situasi dalam kisi dua dimensi digambarkan

dalam gambar 6. Kita perlu mengetahui Jumlah modus pada adalah jumlah modus per kisaran satuan frekuensi. di dalam diberikan pada satu dimensi dengan

Kita bisa memperoleh kecepatan group terhadap K. Terdapat keanehan di dari hubungan dispersi adalah

setiap kali hubungan dispersi

horizontal yaitu setiap kali kecepatan kelompok adalah nol.

4. Rapat Kedaan dalam Tiga Dimensi


Kita menerapkan kondisi batas periodic di sel primitive dalam sebuah kubus

dengan panjang sisi L sehingga dapat di tentukan oleh kondisi [( Dimana )] {[ ]}

Karena itu ada sebuah nilai yang diperbolehkan K per volume ruang K, atau ( )

di dalam

Gambar 4 Mempertimbangkan N buah partikel dibatasi untuk meluncur pada cincin melingkar. Partikel dapat berosilasi jika dihubungkan dengan pegas elastic. Dalam modus normal untuk

perpindahan atom s akan menjadi bentuk atau . Ini adalah mode independen. Periodisasi geometris untuk semua s,

dari cincin tersebut memiliki syarat batas bahwa diperbolehkan adalah 0, , , dan

sehingga NKa harus dikalikan intergral 2. Untuk N= 8 nilai K yang . Nilai K= 0 tidak memiliki arti dalam berlaku untuk bentuk sin karena sin s0a = 0. Nilai bentuk cosinus karena sin

. Tiga nilai lain dari K

diperbolehkan untuk bentuk keduanya yaitu sin dan cos, memberikan total delapan mode yang memungkinkan untuk 8 partikel sehingga kondisi batas

periodic mengarah ke salah satu modus yang diperbolehkan per partikel, persis seperti kondisi batas tetap akhir pada gambar 3. Jika kita mengambil bentuk kompleks dari yaitu persamaan 14. , kondisi batas periodic akan mengarah pada 8 mode , , seperti pada

Gambar 5 Nilai yang memungkinkan untuk gelombang vektor K pada kondisi batas periodic di terapkan pada kisi linear periodisasi N= 8 atom dengan panjang L. K= 0 adalah solusi untuk bentuk mode yang seragam. Point special hanya mewakili satu persamaan karena , , , identik dengan

.sehingga dipebolehkan 8 mode dengan perpindahan s atom sebanding dengan 1, .

Gambar 6 Nilai yang diperbolehkan dalam ruang Forier dari gelombang fonon vektor K untuk kisi-kisi persegi adalah konstan, dengan kondisi batas periodic diterapkan selama persegi memiliki sisi L= 10a. Modus seragam di tandai dengan cross. Ada satu nilai yang di perbolehkan untuk K per luas sehingga dalam luas lingkaran .

jumlah titik yang di izinkan adalah

Memungkinkan nilai K per satuan volume ruang K. untuk polarisasi masingmasing dan untuk setiap cabang. Volume specimen adalah
. Jumlah mode

dengan vector gelombang kurang dari K ditemukan dari persamaan (18) menjadi ( ) kalinya volume sebuah bola yang berjari-jari K. sehingga

untuk setiap jenis polarisasi. Rapat keadaan untuk setiap polarisasi adalah

5. Rapat Keadaan Model Debye


Dalam pendekatan Debye kecepatan bunyi diambil sebagai konstanta untuk masing-masing tipe polarisasi, sebagaimana itu mungkin untuk kontinum elastik klasik. Hubungan dispersinya dapat ditulis seperti

dengan adalah konstanta kecepatan bunyi. Kerapatan keadaan (20) menjadi

Jika terdapat N sel primitif dalam contoh, total nomor ragam phonon akustiknya adalah N. Sebuah frekuensi pancung ditentukan oleh (19) seperti

Untuk frekuensi ini terdapat koresponden sebuah arus listrik gelombang vektor dalam K ruang:

Dalam ragaml Debye kita tidak diperbolehkan ragam vektor gelombangnya lebih besar dari KD. Nomor ragam dengan kebebasan dari kisi monoatomik. Energi termalnya (9) diberikan oleh ( ) ( )( ) membuang nomor derajat

Untuk masing-masing tipe polarisasi. Untuk singkatnya kita mengasumsikan bahwa kecepatan phonon adalah kebebasan polarisasi, sehingga kita mengalikan dengan faktor 3 untuk memperoleh Dimana and

Ketentuan Debye pada suhu mengungkapkan seperti

dalam kondisi

ditentukan oleh (23). Kita dapat

Germanium

Silikon

Sehingga total energi phononnya adalah ( ) Dimana N adalah nomor atom dalam sampel dan .

Kapasitas panas ditemukan paling sering dengan mudah dengan membedakan pertengahan persamaan (26) dengan ketidakpastian suhu. Kemudian ( ) kapasitas

Kapasitas panas Debye digambarkan pada gambar 7. Pada panasnya mendekati nilai klasik digambarkan pada gambar 8.

. Pengukuran nilai silikon dan germanium

6. Hukum T3 Debye
Pada suhu sangat rendah kita dapat mendekati (29) dengan membiarkan limit teratas sampai tidak terbatas. Kita mempunyai

Dimana jumlah melebihi untuk

ditemukan dalam tabel standar. Jadi , dan ( ) ( )

Yang mana adalah pendekatan Debye T3. Hasil penelitian untuk Argon digambarkan pada gambar 9. Pada suhu yang cukup rendah pendekatan T3 cukup baik: bahwa ketika hanya panjang gelombang ragam akustik dimunculkan secara termal. Hanya ada ragam yang mungkin dihilangkan seperti kontinum elastik dengan konstanta elastik makroskopik. Energi ragam panjang gelombang pendek (untuk yang pendekatan pasti ini) adalah terlalu tinggi bagi mereka untuk dipopulasikan secara penting pada suhu rendah. Kita mengetahui T3 dihasilkan oleh uraian sederhana (gambar 10). Hanya ragam kisi memiliki < kBT akan dikeluarkan menjadi beberapa sampai bernilai pada suhu rendah T. Eksitasi dari ragam ini akan menggunakan pendekatan klasik, masing-masing dengan sebuah energi sampai kBT, berdasarkan gambar 1. Dengan diikuti volum dalam ruang K, pecahannya ditempati oleh ragam eksitasi yaitu dari (T/D)3 atau (KT/KD)3 , dimana KT adalah vektor gelombang termal seperti KT = kBT dan KD adalah vektor gelombang arus listrik Debye. Jadi pecahan ditempati (T/ )3 dari total volum dalam ruang K. Terdapat 3N(T/)3 ragam eksitasi, masing-masing memiliki energi kBT. Energinya ~3N kBT (T/)3 dan kapasitas panasnya adalah ~12N kB (T/)3.

Untuk kristal sesungguhnya suhu pada pendekatan T3 cukup rendah. Itu dapat diperlukan dibawah T = /50 untuk mendapatkan kemurnian sifat T3. Pemilihan nilai diberikan pada tabel 1. Catatan, sebagai contohnya dalam alkali logam bahwa atom yang lebih berat memiliki terendah, karena kecepatan suara menurun sebagai peningkatan rapat massa.

7. Rapat Keadaan Model Einstein


Dengan menganggap bahwa pergerakan sejumlah N yang memiliki frekuensi sama (0)dan dalam 1 dimensi. Kerapatan keadaan model Einsten adalah , dimana fungsi deltanya berpusat pada 0. Energi termal sistem adalah

gambar 9. Temperatur rendah kapasitas panas argon padatan terhadap Temperatur3. Dalam grafik tersebut menggambarkan bahwa hasil eksperimen tersebut dapat dikatakan dengan Hukum Debye3 dengan = 92 K

gambar 10. Untuk mendapatkan sebuah penjelasan dari hukum debye3, kita dapat menganggap bahwa semua model ponon dari gelombang vektor yang kurang dari Kr memiliki energi termal klasik KbT dan jarak antara Kr dan debye tidak ada. Dari 3N kemungkinan mode, memiliki sejumlah ( ) ( ) karena ini adalah

perbandingan dari volume dalam bola dan volume luar bola. Energinya adalah dan kapasitas panas adalah

gambar11. Bandingkan hasil dari percobaan kapasitas panas dari intan dengan hasil perhitungan temperatur model kuantum awal Einsten, menggunakan karakteristik . Untuk mengubahnya ke satuan J/mol0,

dikalikan dengan 4,186 Jadi kapasitas panas dari pergerakan tersebut adalah

yang digambar pada gambar 11. Ini menunjukan hasil dari einsten untuk konstribusi dari pergerakan N identik menjadi kapasitas panas zat padat. Jika dalam 3 dimensi, maka kita sebut dengan 3N. Batas ketinggian suhu Cv menjadi 3N Kb, dan disebut juga hasil dulog dan petit. Pada tempertur rendah, kapasitas panas berkurang sebanyak yang

pada percobaan dari kontribusi ponon disebut juga T3, pada mode Debay diatas. Model Einsten ini biasanya digunakan untuk menghitung bagian optik ponon dari spektrum ponon.

8. Hasil Umum Untuk D ()


Kita mau mencari persamaan umum untuk D(). Jumlahnya bagian dari tiap unit bagian jarak frekuensi, diberikan dispersi relasi ponon ()K. Jumlah yang diijinkan dari K untuk setiap frekuensi ponon antara + d adalah ( )

Dimana integral tersebut sampai dengan volume kulit K yang dibatasi oleh 2 frekuensi ponon yang besarnya konstan, 1 permukaan dan 1 nya + d.

gambar12. Elemen dari daerah dS di ruang frekuensi yang konstan pada kulit K. Jadi volume antara 2 permukaan dari frekuensi yang tetap pada dan +d sama dengan | |. Elemen dari volume antara permukaan frekuensi tetap w dan +d pada penggambaran sebuah silinder dengan alas dS dan ketinggian maka

dan besar | Sehingga |

| dimana mempunyai ( |

| adalah besar dari kecepatan grup ponon. Sekarang kita

dan L3 adalah Volume kristal. Sehingga kerapatan D() adalah

gambar13. Besar

yang antara permukaan dan +d

gambar14. kerapatan menurut fungsi frekuensi dari (a) Debye padatan dan (b) Struktur kristal

Persamaan sebelumnya tersebut dapat menghitung besar ruang K. Hasilnya akan sama dengan teori ikat elektron. Ini sangat membantu untuk menghitung D() dari suatu titik dimana kecepatan grup ponon adalah nol.

B. Interaksi Kristal Anharmonik


Teori getaran Lattice hanya membahas Energi potensial pada bentuk kuadrat dalam interaksi perpindahan atom, diantara konsekuensinya adalah: 2 gelombang Lattice tidak berinteraksi Tidak ada expansi thermal Konstanta elastic adiabatic dan isothermal sama Konstanta elastisitas nya adalah tekanan bebas dan temperature Kapasitas panas menjadi konstan ketika berada pada temperature yang tinggi Tidak ada dari pernyataan di atas yang tepat dalam menjelaskan Kristal. Penyimpangan yang terjadi disandarkan pada neglect of anharmonic. Demonstrasi effect anharmonic adalah percobaan interaksi dua phonon untuk memproduksi phonon ketiga pada frekuensi 3 = 1 + 2. Shiren mendeskripsikan sebuah

experiment antara sebuah beam of longitudinal phonon pada frekuensi 9.20 GHz yang berinteraksi dengan Kristal MgO dengan sebuah parallel beam of longitudinal phonons dengan nilai 9.18 GHz. Interaksi kedua beam ini memproduksi beam of longitudinal phonon ketiga dengan nilai 18.38 GHz. Proses tiga phonon ini disebabkan oleh bentuk ketiga energy potensial Lattice. Bentuk khas nya mungkin saja berupa , dimana e adalah

komponen tegangan dan A merupakan konstanta. Gambaran mudah tentang wujud interaksi phonon yaitu: kehadiran sebuah phonon yang disebabkan sebuah periodic elastisitas tegangan yang memodulasi konstanta elastisitas Kristal dalam ruang dan waktu. Phonon kedua merasakan konstanta elastisitas dan menyebar untuk memproduksi phonon ketiga.

1. Ekspansi Termal
Energi potensial atom dengan perpindahan x dari posisi kesetimbangannya dapat dipresentasikan:

Dengan c,g,dan f bernilai positif. Bentuk x3 dipresentasikan sebagai asimetri mutual repulsion atom dan bentuk x4 sebagai pelembut getaran dengan amplitude yang besar. Dengan merata ratakan perpindahan menggunakan fungsi distribusi Boltzmann, akan memungkinkan kita untuk menemukan nilai x thermodinamika: menurut probabilitas

Dengan =

. Untuk perpindahan demikian, bahwa bentuk anharmonik

dalam energy itu kecil dalam perbandingan dengan KbT . Mungkin kita dapat memperluasnya dengan integral berikut

Maka expansi thermalnya adalah

C. Konduktivitas Termal
Koefisien K konductivitas termal padat didefinisikan dengan hubungan aliran keadaan mantap dari panas sebuah batang panjang dengan gradient suhu dT/dx;

, Dimana jv adalah flux energy thermal. Implikasi dari persamaan ini adalah proses transfer energy thermal secara acak. Dari teori kinetic gas kita mendapatkan sebuah pendekatan bentuk dari konduktivitas thermal:

Dimana C adalah kapasitas panas per satuan volume, v adalah rata-rata kecepatan partikel, dan l adalah mean free path tabrakan diantara partikel. Jika c adalah kapasitas panas sebuah partikel, kemudian bergerak dari temperature T + T ke temperature T, sebuah partikel tersebut akan melepaskan energy c T, dengan

Dimana t adalah waktu rata rata diantara tumbukan Energi net flux

untuk phonon dengan v konstan :

dengan l = vt dan C = nc. Maka K = Cvl

1. Resistivitas Termal untuk Gas Fonon


Phonon yang berarti free path l itu secara prinsip, ditentukan dengan 2 proses, yaitu penghamburan geometri dan penghamburan oleh phonon lain. Jika gaya gaya antar atom harmonic,maka tidak ada tumbukan mekanik diantara ponon ponon dan the mean free path akan dibatasi oleh tumbukan sebuah ponon dengan ikatan Kristal dan lattice imperfections. Dengan interaksi anharmonik Lattice, pasangan antara 2 phonon yang berbeda yang memiliki harga mean free path yang terbatas. Keadaan exact system anharmonik tidak terlalu lama seperti phonon. Teori pasangan efek anharmonik thermal resistivity memprediksi bahwa l proposional dengan 1/T pada temperature tinggi. Untuk mendefinisikan sebuah konduktivitas thermal, harus ada mekanisme dalam Kristal dimana distribusi phonon memungkinkan mencapai titik kesetimbangan thermal. Tanpa mekanika kita mungkin tidak dapat berbicara ponon di one end of crystal di titik keseimbangan termal di sebuah temperature T2 dan berakhir di temperature T1. TIdak cukup hanya dengan membatasi the mean free path, tetapi harus ada pembangunan sebuah lokasi kesetimbangan thermal dari distribusi phonon. Tabrakan phonon dengan ikatan Kristal tidak akan membuat kesetimbangan thermal, karena tumbukan tidak merubah energy phonon secara individual. Ini dapat ditandai ulang dengan proses tabrakan 3 phonon.

Tidak akan menuju kesetimbangan,tapi untuk reaksi halus total momentum gas phonon tidak akan berubah oleh tumbukan.

Ket gambar 16.a : aliran molekul gas dalam dalam keadaan menuju kesetimbangan di dalam tabung panjang terbuka dengan dinding tanpa gesekan. Diantara proses tumbukan elastistas molekul gas tidak merubah momentum atau energy flux gas karena setiap tumbukan kecepatan pusat massa dan energy yang menumbuk partikel partikel tidak berubah.

Ket gambar 16.b : definisi konduktivtas termal di dalm sebuah gas dapat disamakan dengan sebuah situasi dimana aliran tak bermassa diizinkan. Dengan sebuah pasangan pasangan tumbukan gradient suhu dengan above-average kecepatan pusat massa akan mengarah ke kanan. Sedangkan untuk belowaverage kecepatannya mengarah ke kiri. Sebuah kesetimbangan distribusi phonon pada temperature T bias menggerakkan Kristal dengan kecepatan yang tidak terdistribusi oleh persamaan di atas. Untuk setiap tabrakan phonon Dikoservasikan. Karena tumbukan J berubah dengan K1 K2 K3 = 0. Nk adalah banyaknya ponon yang memiliki gelombang vektor K.

Ket gambar 16.c: dalam sebuah Kristal kita mungkin dapat mengatur phonon phonon memimpin di one end. Di sini akan menjadi sebuah net flux phonon mengarah right end Kristal. Jika hanya proses N terjadi, momentum tumbukan flux phonon tidak berubah.

Ket gambar 16.d: dalam proses U, sebuah net besar merubah momentum dalam setiap tumbukan. Inisial net flux phonon akan cepat sekali rusak. The ends akan beraksi sebagai sumber dan sinks. Perpindahan net energi di bawah sebuah gradient temperature terjadi. Untuk sebuah distribusi dengan J tidak sama dengan 0 , tumbukan seperti (45) incapable menuju kesetimbangan thermal sempurna karena J tidak berubah. Jika memulai phonon panas sebuah rod turun dengan J tdaksama dengan 0 distribusi akan propagate kebawah rod dengan J tidak berubah. Hal ini bukanlah merupakan resistansi thermal.

2. Proses Umpklapp
Tiga phonon penting diproses menyebabkan resitivitas panas tidak dalam bentuk K1 + K2 = K3 dengan K yang konsevatif , tetapi dalam bentuk : K1+K2 = K3 + G (47)

Dimana G adalah vektor reciprocal lattice . proses ini ditemukan oleh pierls , yang dikenal dengan umklapp proses. Kita bisa menyebutnya G untuk semua momentum konservatif dalam kristal. Kita ambil contoh dari proses interaksi gelombang dalam kristal yang total vektor gelombangnya berubah sampai mendekati nol .

Gambar 17 (a) normal K1 + K2 = K3 dan (b) umklapp K1+K2=K3+G proses tumbukan fonon pada kisi persegi dua dimesi . kisi persegi pada tiap gambar mengacu pada daerah blillouin di ruang fonon K , daerah ini memuat semua kemungkinan nilai tidak tetap dari vektor gelombang fonon. Vektor K dengan arah tepat di tengah daerah yang direpresentasikan menyerap fonon pada proses tumbukan. Seperti kita tau di (b) bahwa arah proses umklapp dari komponen x fluks fonon cadangan. Vektor kisi balik G dinyatakan dengan panjang 2/a ,

dimana a adalah konstanta kisi dari kisi kristal , dan sejajar dengan sumbu Kx. Untuk semua proses , N atau U , energi harus kembali , jadi 1 + 2 = 3. Vektor. Proses serupa selalu mungkin dalam kisi priodik. Pendapat paling kuat untuk fonon : hanya berarti fonon palsu K pada daerah brillouin pertama , jadi tidak ada K yang dihasilkan pada tumbukan harus kembali ke daerah pertama dengan tambahan G . A tumbukkan dari dua fonon dengan hasil yang negatif dari Kx dapat dilakukan dengan proses umklapp (G tidak sama dengan 0) membuat ponon positif Kv . proses umklapp juga disebut U proses. Proses tumbukkan dengan G = 0 disebut normal proses atau N proses . pada temperatur tinggi T > semua fonon sedang tereksitasi karena T> ,

semua tumbukan lenting sempurna akan mengalami proses U dengan bantuan momentum tinggi yang terjadi dalam tumbukan. Dalam keadaan ini kita dapat memperkirakan resistivitas termal tanpa perbedaan secara tinjauan partikel antara proses N dan U , dengan anggapan awal tentang efect non linear kita dapat memperkirakannya untuk mendapatkan hambatan termal kisi sebanding dengan T pada temperatur tinggi. Energi dari fonon K1 , K2 cocok untuk terjadinya umklapp jika saat ,

karena baik fonon 1 ataupun 2 harus mempunyai gelombang vektor kisaran 1/2G sehingga tumbukkan (47) bisa mungkin terjadi. Jika kedua fonon mempunyai K rendah , sehingga energinyapun rendah , tidak mungkin tumbukan antara mereka gelombang vektornya keluar dari daerah pertama. Proses umklapp yang energinya konservatif , hanya cukup untuk proses normal. Pada temperature rendah memerlukan harga

bilangan fonon yang memenuhi dari energi tinggi 1/2

expetasi extrem sebagai exp(-/2T) , menurut faktor boltzman. bentuk eksponensial cocok dengan hasil eksperimen. Kesimpulannya , fonon bebas pada saat memasuki (42) itu adalah saat bebas untuk tumbukkan umklapp diantara fonon dan tidak untuk semua fonon

Gambar 18 : konduktivitas termal pada bahan kristal murni dari sodium flurida . setelah H. E jackton , C walker , dan T . F McNelly.

3. Ketidaksempurnaan
Efek geometri sangat penting untuk free path. Kita menganggap bahwa bagian kecil dari kristal dibatasi oleh massa isotopic terdapat dalam elemen kimia alami, kima pemurnian, ketidaksempurnaan pola-pola geometris dari molekul-molekul, dan struktur benda tak berbentuk. Pada temperatur rendah, rata-rata dari free path l menjadi sebanding dengan lebar spesimen uji, sehingga nilai dari l tersebut dibatasi oleh lebar spesimen uji, dan konduktivitas termalnya menjadi fungsi dari dimensi spesimen. Efek ini ditemukan oleh De Haaz dan Biermasz. Penurunan yang tajam pada konduktivitas termal dari kristal pada temperatur rendah dikarenakan oleh efek ukuran. Di temperatur rendah, proses umklapp menjadi tidak efektif dalam membatasi konduktifitas termal, dan efek ukurannya menjadi dominan seperti yang ditunjukkan pada gambar18. Dapat kita perkirakan free path ponon akan menjadi konstan, dengan diameter D spesimen, dapat kita lihat

C merupakan konduktivitas panas dimana T nya harus temperatur rendah. Efek ukuran akan mempengaruhi jika rata-rata free path dari ponon menjadi sebanding dengan diameter dari spesimen.

gambar19.

kristal dielektrik memiliki konduktivitas termal yang sama dengan logam. Al2O3 adalah salah satu kristal dielektrik yang mempunyai konduktivitas termal yang sama tingginya dengan metal (tergantung pada suhunya) yang nantinya akan dijelaskan pada chapter 6. Pada kasus yang lain, misalnya kristal sempurna, distribusi dari isotop pada elemen kimia sering menjadi mekanisme dalam proses bagian-bagian terkecil pada ponon. Distribusi acak dari massa isotopik akan mengganggu kerapatan seperti yang terlihat pada gelombang elastis. Bagian-bagian kecil pada substansisubstansi ponon saling terkait. Hasil Germanium dapat dilihat dari gambar19. Tingginya konduktivitas termal juga pernah didapatkan untuk Silikon dan Intan.