P. 1
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan. Satu Visi Membumikan Kebijakan.

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan. Satu Visi Membumikan Kebijakan.

|Views: 148|Likes:
Buku ini diterbitkan oleh Waspola bersama dengan Pokja AMPL Nasional pada tahun 2009, sebagai bagian penerapan 'manajemen pengetahuan'. Diharapkan dengan demikian akan terjadi proses berbagi pengetahuan diantara pemangku kepentingan.
Buku ini diterbitkan oleh Waspola bersama dengan Pokja AMPL Nasional pada tahun 2009, sebagai bagian penerapan 'manajemen pengetahuan'. Diharapkan dengan demikian akan terjadi proses berbagi pengetahuan diantara pemangku kepentingan.

More info:

Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/08/2013

pdf

text

original

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Satu Visi Membumikan Kebijakan, Sebuah Pembelajaran

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan
Satu Visi Membumikan Kebijakan, Sebuah Pembelajaran

Diterbitkan oleh: Proyek Penyusunan Kebijakan dan Rencana Kegiatan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan 2009

WASPOLA

BAPPENAS

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Satu Visi Membumikan Kebijakan, Sebuah Pembelajaran

Pengarah

: Budi Hidayat Gary Swisher : Sofyan Iskandar : Oswar Mungkasa : Iip D Yahya, Alma Arif, Wiwit Heris

Supervisor Editor Tim Penulis

Foto dan Desain : Wiwit Heris dan Agus Santosa Kontributor : Dormaringan Saragih, Purnomo, Nasthain Gasba, Nugroho Tomo, Subari , Husein Pasaribu, Bambang Pujiatmoko, Syarifudin, Agus Priyatna, Nur Apriatman, Udi Maadi, Ardi Adji

Diterbitkan oleh : WASPOLA Edisi Pertama : April 2009

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

i

KATA PENGANTAR
Atas rahmat dan karuniaNya, akhirnya dokumentasi pembelajaran dari pengalaman lapangan WASPOLA (Water Supply and Sanitation Policy Formulation and Action Planning Project) bisa diselesaikan dengan baik. Disadari bahwa banyaknya masukan dan saran selama proses penyusunan buku ini, merupakan bentuk perhatian dan apresiasi dari berbagai pihak terkait proses fasilitasi di lapangan yang telah berjalan selama empat tahun ini. Untuk itu terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan gagasan, saran maupun dukungan moril.

ii

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Tulisan disajikan secara ringan, melalui berbagai sumber informasi, data dan fakta yang diperoleh selama kunjungan lapangan. Buku ini terdiri dari 5 (lima) bab yang mengupas bagaimana perjalanan “membumikan” kebijakan, pola pendekatan fasilitasi, membangun harmonisasi pusat dan daerah, pengalaman empat daerah dan pembelajaran yang didapat, serta catatan kritis untuk perbaikan ke depan. Selain itu juga dilengkapi dengan contoh sukses (best practices) daerah mitra kerja WASPOLA. Diharapkan dari dokumentasi pembelajaran ini, pembaca bisa mencermati sejauh mana potret keberhasilan dan kelemahan pendekatan fasilitasi yang dilakukan. Buku ini masih jauh dari sempurna, karenanya masukan dan saran membangun dari semua pihak tentu memberikan kontribusi bagi perbaikan sehingga menjadikannya lebih bermakna. Akhir kata, sekecil apapun manfaat yang didapat, semogalah buku ini mampu menumbuhkan semangat perubahan dihati pembaca dan menjadi inspirasi pembangunan AMPL yang lebih baik, terutama pelayanan kepada masyarakat miskin ke depan.

( Tim Penyusun)

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

iii

Didedikasikan kepada mereka, narasumber dan inspirator buku ini. Fadel Mohammad (Gubernur Provinsi Gorontalo), Winarni Monoarfa (Kepala Bapppeda Provinsi Gorontalo), Rusman Zakaria (Pokja AMPL Provinsi Gorontalo), Arto Naue (Ketua DPRD Kabupaten Gorontalo), Isman Uge (Pokja AMPL Provinsi Gorontalo) dan seluruh masyarakat Desa Olimo’o Gusmal Dt. Rj. Lelo (Bupati Solok, Sumatera Barat), Hilda Osmiati Urbans (Ketua DPRD Kabupaten Solok), Gemala Ranti (Pokja AMPL Sumatra Barat), Mardan ( Pokja AMPL Kabupaten Solok), Ety Herawati (Ketua BPPA Jorong Kampung Baru, Solok) Siti Qomariah (Bupati Pekalongan, Jawa Tengah), Agung T. Prabowo dan Sudardi (Pokja AMPL Jawa Tengah) Hilman Nitiamidjaya (Sekda Provinsi Banten), Taufik Nuriman (Bupati Kabupaten Serang), Karimil Fatah (Ketua Bappeda Provinsi Banten), Nuryanto (Pokja AMPL Banten), Ida Nuraida (Pokja AMPL Kabupaten Serang), Anwar Rusdi (Pokja AMPL Kabupaten Lebak) Basah Hernowo, Oswar Mungkasa dan Nugroho Tri Utomo (Direktorat Permukiman dan Perumahan Bappenas), Handy Legowo (Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Ditjen. Cipta Karya, Departemen PU), Raymond M (Direktorat Pengembangan Air Minum, Ditjen. Cipta Karya, Deartemen PU), Zainal Nampira (Direktorat Penyehatan Lingkungan, Ditjen Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes), Rheida Pramudy dan Helda Nusi (Direktorat Fasilitasi dan Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup, Ditjen Bina Bangda, Depdagri), Rewang Budiyana dan Togap Siagian (Direktorat Sumberdaya Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna, Ditjen PMD, Depdagri)

iv

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

SAMBUTAN DEPUTI BIDANG SARANA DAN PRASARANA BAPPENAS
Syukur Alhamdulillah, Allah SWT berkenan memberikan rahmat dan ridhoNya kepada kita semua dalam menjalankan amanah sebagai mahkluk yang diberi tanggungjawab untuk mengelola salah satu bidang pembangunan yang sangat penting, yaitu air minum dan penyehatan lingkungan (AMPL). Sektor ini menjadi kebutuhan vital bagi semua orang dan berpengaruh terhadap aspek pembangunan lainnya. Tetapi dalam kenyataan ternyata tidak mudah menjadikan air minum dan penyehatan lingkungan menjadi prioritas pembangunan baik di tingkat pusat maupun daerah. Walaupun demikian berbagai upaya pembangunan AMPL terus digulirkan dan diperbaiki untuk meningkatkan pelayanan yang lebih optimal kepada masyarakat. Dari pembelajaran pembangunan AMPL, disadari bahwa pendekatan yang lebih banyak mengandalkan aspek fisik tanpa mengoptimalkan partisipasi masyarakat akan berakibat pada rendahnya keberlanjutan karena tidak adanya rasa memiliki dari masyarakat. Kondisi ini mendorong Pemerintah Indonesia menginisiasi perubahan dalam pendekatan pembangunan AMPL menjadi seoptimal mungkin melibatkan masyarakat yang tertuang dalam 11 Prinsip Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat. Proses penyusunan tersebut dilaksanakan melalui WASPOLA (Water Supply and Sanitation Policy Formulation and Action Planning Project) yang didanai oleh AusAID dan dikelola oleh WSP-EAP, World Bank. Sampai saat ini, implementasi kebijakan melalui fasilitasi WASPOLA telah menjangkau 9 propinsi dan 63 kabupaten/kota serta telah menunjukkan hasil positif. Berkaca pada pengalaman implementasi kebijakan AMPL diberbagai daerah, baik di propinsi maupun kabupaten/kota ditemukan banyak pengalaman unik, terutama bagaimana proses menerapkan aspek kebijakan menjadi aksi nyata dalam pelayanan publik ini.
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

v

Karenanya patutlah dihargai upaya untuk mendokumentasikannya dalam bentuk buku pembelajaran ini. ”Pengalaman adalah guru yang terbaik”, pengalaman WASPOLA ini menarik untuk dipelajari karena telah memberi warna baru dalam pendekatan reformasi AMPL dan harmonisasi pusat dan daerah, setidaknya dalam relasi antara Kelompok Kerja AMPL Daerah dan Kelompok Kerja AMPL Nasional. Termasuk juga menjembatani komunikasi donor dengan daerah dalam konteks pembangunan AMPL. Diharapkan dengan kumpulan pembelajaran ini, daerah dampingan WASPOLA maupun daerah lainnya mendapatkan inspirasi untuk melakukan perubahan- kearah yang lebih positif. Diharapkan juga hasil pembelajaran ini dapat terinternalisasi dalam proses pengambilan keputusan pembangunan AMPL oleh pemangku kepentingan. Hal ini tentu akan memberi nilai positif terhadap upaya Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam pencapaian tujuan ketujuh pembangunan milenium (MDG), yaitu mengurangi separuh proporsi penduduk yang belum mendapat akses air minum dan sanitasi yang layak, pada tahun 2015. Ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pimpinan daerah dari provinsi maupun kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo, Jawa Tengah, Sumatera Barat dan Banten. Tak lupa semua pihak yang turut membantu terbitnya buku ini, terutama penyusun dan kontributor yang berasal dari Kelompok Kerja AMPL Nasional, propinsi maupun kabupaten/kota, serta tim WASPOLA atas segala kerja keras dan inisiatifnya untuk terwujudnya buku ini Jakarta, 1 April 2009

Dedy Supriadi Priatna Deputi Bidang Sarana dan Prasarana, BAPPENAS

vi

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

DAFTAR ISI
Kata Pengantar Sambutan Daftar Isi Daftar Singkatan Testimoni Ringkasan Sajian ii v vii x 1 4

Bab I Satu Visi Membumikan Kebijakan 1.1 Konstruksi Lahirnya Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (AMPL-BM)

9

1.2 Pihak-pihak yang Terlibat 1.4 Implementasi Kebijakan Nasional 1.5 Manfaat Adanya Kebijakan Bab II Mendekati Dengan Komitmen 2.1 Pola Pendekatan WASPOLA 2.2 Tawaran WASPOLA 2.2.1 Diseminasi Kebijakan sekaligus Penguatan Kapasitas 2.2.2 Implementasi Kebijakan 2.3 Dukungan WASPOLA Bab III Membangun Harmonisasi Pusat dan Daerah 3.1 Potret Pokja AMPL Nasional 3.2 Harmonisasi dengan Daerah 3.3. Strategi Komunikasi Kebijakan 3.4 Sinergi Pelaku Sektor AMPL 3.5 Sinkronisasi Donor dan Kemitraan Proyek AMPL
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

14 15 18 21 21 23 23 27 30 33 33 34 37 39 41

vii

Bab IV Penyegaran Kembali dengan Cara Pandang Baru 4.1 Banten, Isu AMPL Menembus Semua Lini 4.1.1 Sosok Penggerak atau Kampiun 4.1.2 Melibatkan Berbagai Pihak 4.1.3 MURI untuk Jamban Sehat 4.2 Sumatera Barat, Kesinambungan Sebagai Kata Kunci 4.2.1 Dari WSLIC ke AMPL 4.2.2 Tiga Pilar Solok 4.2.3 Menularkan “ AMPL-isme “

43 44 45 46 48 50 51 52 54

4.3 Gorontalo, Komunikasi Cair Menciptakan Lingkungan Kondusif 56 4.3.1 Komunikasi yang Cair 4.3.2 Bappeda yang Berperan 4.3.3 Relasi Eksekutif –Legislatif 4.4 Jawa Tengah, Melebur Ego Sektoral Menjadi Kebersamaan 4.4.1 Sinkronisasi Program 4.4.2 Membangun Hubungan Personal dan Institusional 4.5 Olimoo’o, Salah Satu Potret Desa AMPL-BM 4.5.1 Ketemunya Ruas dan Buku, AMPL dan Kebutuhan Masyarakat 4.5.2 Prinsip Kebijakan “dibumikan” 4.5.2 Gotong Royong Membangun sarana AMPL Bab V AMPL “ Never Ending Story” 5.1 Rangkuman Pembelajaran Daerah 5.2 Catatan Kritis untuk Perbaikan ke Depan 65 67 69 75 75 84 57 59 60 61 63 64 65

viii

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Daftar Pustaka Lampiran : A. B. C. D. E. Sekilas Memahami Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM Tahapan Penyusunan Renstra di Daerah Kompilasi Pengalaman Terbaik Pokja AMPL SK Pokja AMPL Sulawesi Tenggara Peta Wilayah Kemitraan dan Kerjasama dengan Proyek Lain

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

ix

DAFTAR SINGKATAN
AMPL-BL AMPL-BM APBD APBN APFI AusAID BAPEDALDA BAPPEDA BAPPENAS BAPPPEDA BAPPPPEDA BAWASDA BAZ BKD BKKBN BPM BPPA BPR BPS CLTS CWSH DAK DAU DEP. DEPDAGRI DEPKES DEPKEU DEPKIMPRASWIL DEPSOS DIKLAT DIKNAS DINKES DINSOS DIRJEN DISDIK Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Lembaga Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah Anggaran Pembangunan dan Belanja nasional Aliansi Pendorong Fakta Integritas Australian Agency for International Development Badan Pengelolaan Dampak Lingkungan Daerah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Badan Perencanaan Percepatan Pembangunan Ekonomi Daerah Badan Perencanaan dan Percepatan Pembangunan dan Pengawasan Ekonomi Daerah Badan Pengawasan Daerah Badan Amil Zakat Badan Keuangan Daerah Badan Koordinasi Kependudukan dan Keluarga Berencana Badan Pemberdayaan Masyarakat Badan Pengelola Pemakai Air Bank Perkreditan Rakyat Badan Pusat Statistik Community-Led Total sanitation Community Water Supply, Sanitation and Health Project Dana Alokasi Khusus Dana Alokasi Umum Departemen Departemen Dalam Negeri Departemen Kesehatan Departemen Keuangan Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah Departemen Sosial Pendidikan dan Latihan Pendidikan Nasional Dinas Kesehatan Dinas Sosial Direktur Jenderal Dinas Pendidikan

x

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

DISTAMBEN DIT. DITJEN DPRD ESDM FISRA FPR dan LH Ha IATPI IPAL ISSDP JATENG JUKLAK JUKNIS KAB KIMPRASWIL/PU Kimtaru KLH KKN LAPAU LPM LSM MCK MDGs MONEV MTV MURI

Dinas Pertambangan dan Energi Direktorat Direktorat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Energi dan Sumber Daya Mineral Fisik dan Sarana Fasilitasi Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup Hektar Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia Instalasi Pengolahan Air Limbah Indonesia Sanitation Sector and Development Program Jawa Tengah Petunjuk Pelaksanaan Petunjuk Teknis Kabupaten Permukiman dan Prasarana Wilayah/Pekerjaan Umum Permukiman dan Tata Ruang Kementerian Lingkungan Hidup Kuliah Kerja Nyata Lembaga Pemantau Penyalur Aspirasi Umat Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Lembaga Swadaya Masyarakat Mandi Cuci Kakus Millennium Development Goals Monitoring dan Evaluasi Meals Tips and Valet Musium Rekor Indonesia

MUSRENBANGDES Musyawarah Perencananaan Pembangunan Desa MUSRENBANGNAG Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nagari NTT PAMSIMAS PCI PDAM PEMDA PEMKAB PERBUB PERDA PERDES Nusa Tenggara Timur Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat Project Concern International Perusahaan Daerah Air Minum Pemerintah Daerah Pemerintah Kabupaten Peraturan Bupati Peraturan Daerah Peraturan Desa

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

xi

PERGUB PHBS PILKADA PKK PLH PLP PLSDN PMD POKJA PP PP dan PL PROLEGDA PU RANPERDA RENSTRA REPELITA RPJMD RRI SANIMAS SDA SDM Sekda SK SKPD SMS SOE SOSBUD STBM SUBDIT SUMBAR TARKIM TKPK TUPOKSI UPS WASPOLA WSLIC WSP-EAP

Peraturan Gubernur Pendidikan Hidup Bersih dan Sehat Pemilihan Kepala Daerah Program Kesejahteraan Keluarga Penyuluh Lingkungan Hidup Penyehatan Lingkungan Pemukiman Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lingkungan Hidup dan Energi Pembangunan Masyarakat dan Desa Kelompok Kerja Peraturan Pemerintah Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Proses Legislasi Daerah Pekerjaan Umum Rancangan Peraturan Daerah Rencana Strategis Rencana Pembangunan Lima Tahun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Radio Republik Indonesia Sanitasi oleh Masyarakat Sumber Daya Alam/Sumber Daya Air Sumber Daya Manusia Sekretaris Daerah Surat Keputusan Satuan Kerja Perangkat Daerah Short Messaging Service Statement of Expenditure Sosial Budaya Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Sub Direktorat Sumatera Barat Tata Ruang dan Permukiman Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Tugas Pokok dan Fungsi Unit Pengelola sarana Water Supply and Sanitation Policy Formulation and Action Planning Water Supply and Sanitation for Low Income Comunity Water and Sanitation Program-East Asia and the Pacific

xii

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

RINGKASAN SAJIAN
Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (biasa disingkat menjadi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM) lahir dari proses pembelajaran pemerintah Indonesia dari pengalaman sebelumnya, bahwa masalah mendasar pembangunan AMPL sejak tahun 1970 adalah tidak berkelanjutannya fungsi sarana yang dibangun. Pengalaman ini mendorong Pemerintah Indonesia melakukan perubahan (reformasi) pembangunan AMPL, agar pembangunan yang dilakukan dapat berguna dan berkelanjutan dengan berinisiatif menyusun kebijakan bersifat nasional yang dapat menjadi acuan pelaksanaan pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan. Penyusunan kebijakan tersebut dilaksanakan melalui proyek Indonesia Water Supply and Sanitation Policy Formulation and Action Planning atau lebih dikenal sebagai WASPOLA. Tujuan Penyusunan Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM adalah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan yang berkelanjutan. Buku ini menggambarkan mengenai proses perubahan (reformasi), tantangan dan hambatan yang melingkupinya selama proses “pembumian” Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM, bagaimana pola pikir dan persepsi yang berkembang dari masingmasing pelaku di daerah, siapa saja yang terlibat, bagaimana komitmennya, kelembagaan yang mengimplementasikan kebijakan, dukungan dan kontribusi semua pihak terkait, regulasi yang disediakan, inovasi dan penguatan kapasitas yang dikembangkan, dukungan penganggaran dan keberlanjutan implementasinya, baik ditingkat pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota, sekaligus pemerintah desa/kelurahan, dan pemangku kepentingan lain. Pada bab I diuraikan secara singkat bagaimana Kebijakan Nasional AMPL –BM disusun sampai dengan proses adopsi dan implementasi di daerah. Kunci keberhasilannya di uraikan
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

xiii

pada bab II yang mengupas pendekatan fasililitasi yang dipergunakan tim WASPOLA, termasuk terobosan lokal yang secara spesifik ditawarkan tim WASPOLA sehingga daerah bersedia mengoperasionalisasikan kebijakan dalam pembangunan daerah. Disisi lain harus diakui bahwa harmonisasi pusat dan daerah menjadi pilar penting untuk menyangga keberlangsungan reformasi tersebut dan ini dikupas dalam bab III. Sejak awal pemerintah melalui Pokja AMPL Nasional menunjukkan konsistensinya dalam mengawal implementasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM di daerah, melalui upaya terobosan strategis dalam mengkomunikasikan kebijakan, membangun sinergi semua pelaku dan semua unsur pemangku kepentingan melalui Jejaring AMPL, serta mengkoordinasikan kegiatan donor di tingkat pusat agar terjadi pemerataan pembangunan AMPL di daerah. Penghormatan dan memperhatikan potensi dasar keragaman antardaerah, adalah salah satu prinsip dalam pelaksanaan pembangunan otonomi daerah berdasarkan Undang-Undang Otonomi Daerah. Kebijakan ini diimplementasikan dengan menghargai prinsip pembangunan tersebut. Untuk itu dalam bab IV diuraikan berbagai pembelajaran penting yang telah berkembang di beberapa daerah mitra kerja WASPOLA seperti Provinsi Gorontalo, Sumatera Barat, Banten, dan Provinsi Jawa Tengah, yakni 4 (empat) dari 9 (sembilan) provinsi dampingan WASPOLA, representasi keterwakilan dari berbagai keragaman kondisi, potensi, budaya, geografis di Indonesia. Provinsi Gorontalo misalnya, secara proaktif mengaitkan pembangunan AMPL dengan capaian target MDGs bidang AMPL dan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karenanya pembangunan bidang AMPL-pun memperoleh prioritas utama. Sementara di Jawa Tengah pelaksanaan Kebijakan Nasional dilihat sebagai penyegaran kembali dengan cara pandang baru atas model pembangunan yang selama ini telah diterapkan. Tidak kalah penting, Provinsi Banten telah mampu meleburkan ego sektoral dalam melaksanakan pembangunan AMPL. Program AMPL telah

xiv

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

mengatasi hambatan birokrasi, mencairkan koordinasi, menjadi pengikat kegiatan dan menciptakan jejaring (networking) dalam konteks kerjasama antar instansi dan pemangku kepentingan di daerah. Seperti Provinsi Gorontalo, Provinsi Banten-pun optimis akan mampu mencapai target MDGs 2015. Provinsi Sumatra Barat menitik beratkan kesinambungan dan koordinasi antarproyek menjadi kunci keberhasilan. Sekalipun dibentuk belakangan, kedudukan Pokja Provinsi ini cukup kuat dalam mengawal isu AMPL, sekaligus menularkan AMPL-isme kepada pemimpin daerah di kabupaten/kota di wilayahnya. Pembangunan air minum bahkan dipandang sangat strategis di Kabupaten Solok, karenanya diangkat sebagai isu politik yang nyatanya mampu mengantarkan Ketua Pokja AMPL Kabupaten Solok menjadi Bupati Solok. Komitmennya pun jelas, bahwa di akhir masa jabatannya, prosentase masyarakat yang menikmati air bersih harus meningkat atau semakin tinggi. Tidak kalah menarik, di Kabupaten Gorontalo anggota Pokja AMPL yang menjadi champion atau kampiun memfokuskan diri pada penguatan kualitas dan kemampuan pengelolaan air minum di desa. Mereka rajin bertemu masyarakat untuk mendengar dan memberi masukan atas berbagai masalah pembangunan AMPL. Mereka juga banyak mengalokasikan waktu untuk melakukan kunjungan ke desa, dan itu dilakukan secara sukarela. Kabupaten Pekalongan di Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Serang dan Pandeglang di Provinsi Banten, memiliki catatan tersendiri. Di Pekalongan, Bupati menunjukkan perhatian kuat terhadap pembangunan AMPL. Pembangunan bidang AMPL terus meningkat dengan bantuan dari provinsi maupun pusat yang diparalelkan dengan peningkatan peran serta masyarakat. Sementara di Kabupaten Serang, kemampuan menembus semua lini menjadi ciri yang menonjol. Forum Musrenbangdes (Musyarawah Perencanaan dan Pembangunan Desa), jambore PKK, Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa, mengakomodasi isu dan program AMPL. Kerjasama dengan LSM, Universitas, dan masyarakat termasuk kelompok perempuan, dibangun
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

xv

dengan baik. Di Kabupaten Pandeglang, capaian yang gemilang justru di bidang sanitasi lingkungan dengan fokus pembangunan jamban untuk keluarga miskin. Di Kabupaten Gorontalo, ada desa Olimoo’o yang difasilitasi Pokja AMPL Kabupaten untuk secara konsisten menerapkan Kebijakan Nasional. Hasilnya memang berbeda dari pendekatan model lama. Sarana dan layanan air bersih di desa ini berkelanjutan dan berguna secara efektif. Jawa Tengah, tepatnya Desa Panti Anom, Kabupaten Pekalongan, masyarakat sangat antusias berpartisipasi membangun sarana air minum yang mereka sebut dengan PDAM Desa. Pembangunan sarana air minum ini telah berhasil memecahkan masalah pemenuhan kebutuhan air yang dihadapi selama ini. Kini sarana itu dikelola secara terstruktur dengan sistem iuran yang dipatuhi bersama. Berbagai inovasi telah dilakukan daerah selama proses membumikan kebijakan, antara lain penyusunan Rencana Strategis Pembangunan AMPL (Renstra AMPL), penegasan isu dan program dalam RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah), dan penerapan Kebijakan Nasional dalam membangunan infrastuktur di tingkat desa, dan lain-lain, yang secara umum muaranya kepada terwujudnya pembangunan sarana dan prasarana pembangunan AMPL yang berguna, efektif dan berkelanjutan. Dalam bab V yang merupakan bab terakhir buku ini, dirangkum semua pembelajaran tersebut. Diharapkan dari pembelajaran yang didapat WASPOLA akan menjadi inspirasi bersama dalam pembangunan AMPL-BM kedepan, walaupun masih banyak kendala dan kekurangan yang musti dikritisi bersama. *****

xvi

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

TESTIMONI

Kebijakan Nasional AMPL di Mata Daerah
”Ketika menetapkan capaian target MDGs Provinsi Gorontalo, saya memilih bidang air minum sebagai prioritas pembangunan untuk mengentaskan kemiskinan….Air minum sangat penting dan harus ditangani tersendiri.” (Ir. Fadel Muhammad, Gubernur Gorontalo, wawancara di Jakarta,).
Fadel Mohammad
Gubernur Gorontalo

Senada dengan hal itu Gusmal, Bupati Solok menyatakan bahwa “Dengan kecukupan air minum, masyarakat akan sehat. Sedangkan masyarakat yang sehat akan mampu bekerja lebih produktif, penghasilan warga akan meningkat dan dengan sendirinya akan mampu membiayai pendidikan anak-anaknya” Air minum dan penyehatan lingkungan atau biasa disebut AMPL, nampaknya dinilai oleh Fadel Muhamamad dan Gusmal, sebagai salah satu variabel yang menentukan terwujudnya kesejahteraan rakyat. Salah satu hal yang menarik adalah kepekaan mereka melihat bahwa AMPL bisa menjadi titik sentuh yang tepat untuk membangkitkan keterlibatan masyarakat dalam melaksanakan pembangunan. Air adalah kebutuhan vital semua orang, karenanya apabila dilakukan pendekatan secara tepat maka semua orang akan merasa berkepentingan dengan hal tersebut. Gusmal sangat sadar bahwa partisipasi masyarakat adalah potensi penting yang masih tersembunyi, sementara pada fihak lain pemerintah daerah memiliki keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia. Dengan menempatkan pemerintah sebagai fasilitator, ditunjang dengan visi dan misi daerah yang jelas, capaian pembangunan dengan sendirinya dapat menjadi lebih optimal. Menurut Gubernur Gorontalo, yang kerap dipanggil dengan nama Fadel itu, air minum merupakan salah satu infrastruktur strategis pemerintahan daerahnya disamping pangan dan energi yang cukup. Jika pembangunan ketiga komponen strategis tersebut berhasil, maka bidang bidang lainnya, seperti: kesehatan dan pendidikan akan ikut terangkat dengan sendirinya. Program air
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Gusmal Dt. Rj. Lelo
Bupati Solok

Gemala Ranti
Pokja AMPL Sumatera Barat

Ida Nuraida
Pokja Kabupaten Serang

1

minum yang dicanangkan Fadel, sudah merupakan satu paket dengan program penyehatan lingkungan. Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL), menjadi paket komplit dengan konsep berbasis masyarakat. Melalui program SANIMAS (Sanitasi oleh Masyarakat) yang dikoordinasikan oleh Pokja AMPL Provinsi dan Pokja Kabupaten Gorontalo, warga perkotaan di Gorontalo menampakkan kesungguhannya dalam menangani sanitasi. Begitu pula dengan penyediaan air minum, dimana sejak provinsi ini diresmikan pada tahun 2000, warga di pedesaan, sesuai dengan kondisi alam dan kemampuan pengelolaannya, sudah mulai memperoleh kemudahan akses. Pembangunan AMPL secara politik juga mempunyai nilai jual yang sangat tinggi. Karenanya tidak mengherankan apabila bidang air minum diangkat menjadi isu kampanye dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) sebagaimana yang terjadi di Solok, Sumatera Barat. Gusmal Dt. Rj. Lelo S.E.MM, mantan Ketua Pokja AMPL Kabupaten Solok, sudah membuktikannya. Gusmal mengangkat isu AMPL sebagai salah satu dari tiga program unggulan yang patut diperjuangkan, selain pendidikan dan ekonomi. Di Kabupaten Solok, pemenuhan kebutuhan air minum dari waktu ke waktu mengalami peningkatan. Sebelumnya warga yang terlayani hanya 9% pada tahun 2000, kini meningkat menjadi 38%. Hanya 12% yang terlayani PDAM. Penerapan Kebijakan Nasional yang menekankan masyarakat sebagai pengambil keputusan dari seluruh proses pembangunan, diharapkan akan mampu memecahkan masalah pemenuhan kebutuhan air minum. “Semakin masyarakat terlibat dalam pembangunan, aparat pemerintah semakin diringankan tugasnya, dan akan semakin efektif dalam berperan sebagai fasilitator yang akan memfasilitasi sejauh dan sebesar yang diperlukan” jelas Ida Nuraida anggota Pokja AMPL Kabupaten Serang, Provinsi Banten ketika ditemui penulis dalam suatu lokakarya AMPL. Bagi Ida, melaksanakan sosialisasi Kebijakan Nasional adalah ”ibadah”. Dikatakan seperti itu, karena AMPL yang berbasis masyarakat merupakan program untuk menolong masyarakat

2

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

miskin agar menjadi sehat dan sejahtera melalui pemenuhan kebutuhan air minum. Karena itu, menurut Ida, pada saat implementasi lapangan mutlak diperlukan komitmen moral, sehingga aparat yang bekerja harus memiliki dedikasi yang tinggi. Dalam bahasa Gemala Ranti, salah seorang anggota Pokja AMPL Provinsi Sumatera Barat, “Program AMPL bukanlah lahan untuk cari-cari tambahan uang. Program ini lebih untuk meningkatkan kapasitas pribadi, membuka wawasan, dan memberi kemampuan menggali pikiran diri sendiri dan orang lain terutama masyarakat yang kita layani.” Adanya gubernur yang menganggap penting pembangunan AMPL, bupati yang peduli pada peningkatan angka pengguna air minum, dan aparat yang sepenuhnya menyadari pentingnya pembangunan AMPL berbasis masyarakat (AMPL-BM), tentu tidak muncul begitu saja. Hal tersebut terbentuk karena ada kebijakan yang diluncurkan, lalu ditangkap oleh gubernur yang visioner, diaplikasikan oleh bupati yang peduli, dan difasilitasi oleh aparat yang gigih bekerja tanpa pamrih. Dan dengan demikian Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat menjadi semangat dalam aksi pembangunan AMPL di daerah.

*****

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

3

4

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

BAB I

SATU VISI MEMBUMIKAN KEBIJAKAN
1.1 Konstruksi Lahirnya Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (AMPL-BM)
Selama 30 tahun lebih sejak REPELITA I, pengalaman pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan (AMPL) lebih banyak diwarnai cerita kelam. Cukup banyak investasi yang telah ditanam untuk membangun sarana air minum dan penyehatan lingkungan melalui berbagai proyek pembangunan baik yang dilakukan oleh pemerintah, lembaga donor, maupun lembaga swadaya masyarakat, tetapi cakupan pelayanan masih saja rendah. Banyak sarana terbangun yang rusak selang beberapa saat setelah diserah terimakan, air tidak mengucur setelah pembangunan selesai, sarana sanitasi yang akhirnya tidak berfungsi, dan yang tidak kurang penting sebagian besar sarana itu ternyata tidak tepat sasaran bahkan sulit diakses oleh kelompok yang paling membutuhkan, yaitu masyarakat miskin. Fakta ini membuktikan, bahwa kita mampu melakukan pembangunan namun belum mampu mengelola keberlanjutan pembangunan.
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

5

Rendahnya keberlanjutan sarana yang dibangun tersebut dikarenakan pendekatan pembangunan AMPL yang diterapkan pada masa itu masih bersifat top down dan tidak partisipatif. Hal tersebut berakibat pada tidak adanya rasa memiliki terhadap sarana yang dibangun karena masyarakat tidak dilibatkan dalam seluruh proses pembangunannya. Masyarakat tidak memiliki keterampilan teknis untuk melakukan pemeliharaan sebab tidak dilatih untuk menguasai teknologi dari sarana yang diberikan. Pola pikir sebagian besar masyarakat masih memandang air hanya sebagai benda sosial, sehingga untuk mendapatkannya tidak memerlukan pengorbanan atau biaya apapun. Sementara dilain pihak belum tersedia kebijakan dan peraturan perundangan yang mengatur pemanfaatan potensi tersembunyi yang dimiliki masyarakat. Pengalaman ini mendorong Pemerintah Indonesia untuk melakukan perubahan (reformasi) dalam melaksanakan pembangunan AMPL, agar pembangunan yang dilakukan dapat berhasil guna dan berkelanjutan. Akhirnya dengan hibah dari Pemerintah Australia, pada tahun 1998 Pemerintah Indonesia berinisiatif menyusun kebijakan yang bersifat nasional yang dapat menjadi pedoman dalam melaksanakan pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan. Inisiatif tersebut direalisasikan melalui WASPOLA (Indonesia Water Supply and Sanitation Policy and Action Planning Project) yang dikelola oleh Bank Dunia melalui Water and Sanitation Program for East Asia (WSP-EAP). Salah satu referensi penting dalam menyusun Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL BM ini adalah hasil Konferensi Internasional mengenai Lingkungan dan Pembangunan yang dilaksanakan di Rio de Janeiro pada tahun 1992. Didalam konferensi tersebut di sepakati untuk menerapkan prinsip Dublin dalam melaksanakan pembangunan air minum, yang kemudian dikenal dengan Prinsip Dublin-Rio. Pertama, air adalah sumber daya yang terbatas dan rentan, penting untuk menyokong kehidupan, pembangunan, dan lingkungan. Kedua, pembangunan dan pengelolaan air harus berdasarkan pendekatan partisipatif, menyertakan pengguna, perencana, dan pembuat kebijakan pada semua tingkatan. Ketiga, perempuan memainkan peran utama dalam penyediaan, pengelolaan, dan perlindungan air.

6

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Keempat, air memiliki nilai ekonomi dalam seluruh penggunaannya, dan harus dianggap sebagai benda ekonomi. Tujuan Penyusunan Kebijakan Nasional Pembangunan AMPLBM adalah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan yang berkelanjutan. Secara khusus bertujuan agar tercipta, (1) keberlanjutan, meliputi keberlanjutan aspek pembiayaan, teknik, lingkungan hidup, kelembagaan, dan sosial. (2) penggunaan efektif, prasarana dan sarana yang tersedia tepat tujuan dan sasaran, layak dimanfaatkan serta memenuhi standar teknis kesehatan dan kelembagaan, juga memperhatikan perubahan perilaku masyarakat serta kemampuan masyarakat untuk mengelola prasarana dan sarana. Prasarana dan sarana AMPL yang dibangun juga secara mudah dimanfaatkan oleh masyarakat secara setara, tanpa membedakan tingkat sosial, jenis kelamin, suku, agama, dan ras.

Gambar 1.1

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

7

Konsekuensi dari kebijakan tersebut adalah terjadinya perubahan paradigma dan pendekatan dari yang tadinya bersifat elitis, teknokratis menjadi populis, partisipatif dengan melibatkan semua pemangku kepentingan, yang bertumpu pada partisipasi masyarakat, yakni menempatkan masyarakat sebagai pengambil keputusan dan penentu keberlanjutan pembangunan. Sementara disisi yang lain mengubah peran pemerintah yang dahulu hanya sebagai penyedia menjadi juga berfungsi sebagai fasilitator dalam proses pembangunan di wilayahnya. Setelah melalui berbagai kajian, uji coba berbagai topik yang relevan dengan substansi kebijakan, dan kemudian mendiskusikannya kembali dengan berbagai pihak terkait, pada tahun 2003 dokumen Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat atau yang biasa disingkat sebagai Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM dapat tersusun yang terdiri dari 11 butir-butir kebijakan.

8

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

11 Butir Kebijakan Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat
1. Air Merupakan Benda Sosial dan Benda Ekonomi Air merupakan kebutuhan pokok manusia yang jumlahnya terbatas. Selain itu untuk mendapatkan atau memudahkan pemenuhannya perlu pengorbanan waktu, tenaga, dan beaya. Pilihan yang Diinformasikan sebagai Dasar dalam Pendekatan Tanggap Kebutuhan Masyarakat pengguna berhak memperoleh informasi mengenai alternatif pelayanan termasuk resiko dan keuntungannya, sehingga mereka dapat memilih jenis pelayanan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya Pembangunan Berwawasan Lingkungan Keberlanjutan pelayanan air minum sangat tergantung pada kelestarian sumber air. Kegiatan ekonomi yang tidak memperhatikan aspek lingkungan dalam jangka panjang akan merugikan masyarakat itu sendiri

2.

3.

4. Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Pembangunan AMPL harus memiliki dampak pada perubahan perilaku masyarakat yang lebih bersih dan sehat. Upaya perubahan perilaku ditempuh melalui pendidikan formal maupun informal yang diberikan sejak usia dini. 5. Keberpihakan pada Masyarakat Miskin Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan mengutamakan pada memberikan pelayanan untuk masyarakat miskin. Peran Perempuan dalam Pengambilan Keputusan Seluruh proses pembangunan AMPL harus menyertakan perempuan sebagi pengambil keputusan dan pengelola sarana yang dibangun . Akuntabilitas Proses Pembangunan Seluruh proses pembangunan harus dipertanggungjawabkan baik dari aspek fisik, administrasi, dan keuangan.

6.

7.

8. Peran Pemerintah sebagai Fasilitator Penerapan prinsip tanggap kebutuhan menuntut perubahan peran pemerintah dari penyedia (provider) menjadi fasilitator. Hal ini akan mendorong masyarakat untuk lebih mandiri. 9. Peran Aktif Masyarakat Dalam melaksanakan pembangunan AMPL perlu adanya mekanisme yang demokratis sehingga masyarakat bisa berperan secara aktif dalam pengambilan keputusan maupun pengelolaan dan pemeliharaan prasarana dan sarana 10. Pelayanan Optimal dan Tepat Sasaran Prasarana dan sarana AMPL yang dibangun harus sesuai dengan permasalahan yang dihadapi masyarakat, dan haurus mudah diakses oleh semua anggota masyarakat, utamanya kelompok miskin. 11. Penerapan Prinsip Pemulihan Biaya Biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan sarana, harus terpulihkan dan bisa dipergunakan untuk memperbaharui dan mengembangkan sarana lebih lanjut.

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

9

1.2 Pihak-pihak yang Terlibat
Persetujuan Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM pada tahun 2003, ditandatangani oleh Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas Ir. E. Suyono Dikun, PhD, IPM, Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Prof. dr. Umar Fahmi Achmadi, MPH., Ph.D, Dirjen Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Ir. Budiman Arif, Dirjen Bina Pembangunan Daerah Departemen Dalam Negeri Drs. Seman Widjojo, Msi., Dirjen Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Depdagri Dr. Ardi Partadinata, Msi., dan Dirjen Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah Departemen Keuangan Dr. Machfud Siddik, MSc. Seiring waktu, Kementerian Lingkungan Hidup mulai terlibat dalam Pokja AMPL, sehingga pada masa sekarang enam departemen telah menjadi pelaku kunci proses reformasi dan implementasi Kebijakan Nasional di Indonesia. Pejabat eselon dua dari masingmasing departemen memainkan peran strategis agar kegiatan WASPOLA berjalan sesuai agenda. Pengorganisasiannya dilakukan oleh Bappenas, dalam hal ini Direktorat Permukiman dan Perumahan. Selama proyek berlangsung, dukungan dana diperoleh dari AusAID, sedangkan dalam pengelolaannya dilakukan oleh WSP-EAP yaitu Divisi Program Air and Sanitasi dari Bank Dunia (World Bank), melalui para fasilitatornya yang memiliki pengetahuan dan kemampuan fasilitasi untuk merancang proses agar reformasi kebijakan sungguh-sungguh terjadi dan menjadi bagian arus utama pembangunan. Dalam pelaksanaannya, kemitraan antara pemerintah Republik Indonesia dengan AusAID dan WSPEAP/World Bank ini diwadahi melalui WASPOLA.

10

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Untuk mendukung pekerjaan besar tersebut, Pemerintah pusat membentuk unit kerja yang disebut sebagai Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) di tingkat nasional. Dalam kesehariannya, Pokja AMPL Nasional dan tim WASPOLA bekerjasama dengan prinsip kemitraan. Kebutuhan akan sumber daya disediakan oleh kedua belah pihak. Peran Pokja AMPL Nasional adalah menjadi pelaku perubahan sekaligus narasumber dalam pembangunan sektor AMPL baik di pusat maupun daerah. Transfer pengetahuan global ke situasi lokal (Indonesia) yang mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal, menjadi agenda penting dalam proses diskusi. Transformasi reformasi kebijakan ke daerah kemudian menjadi agenda bersama yang didesain bersama oleh Pokja AMPL Nasional dan WASPOLA.

1.3 Implementasi Kebijakan Nasional
Pada tahun 2004, dimulailah perjalanan “membumikan“ (baca: mengimplementasikan) Kebijakan Nasional melalui proses adopsi dan operasionalisasi di daerah. Esensi dari keberadaan kebijakan ini adalah sebagai acuan dalam pelaksanaan pembangunan sektor AMPL bagi pemangku kepentingan. Dalam upaya operasionalisasi kebijakan di daerah, WASPOLA memberikan bantuan teknis kepada daerah yang berminat mengoperasionalisasikan kebijakan, khususnya dalam penyusunan renstra pembangunan AMPL daerah. Proses penjaringan minat yang dilakukan bersifat pendekatan tanggap kebutuhan. Artinya, daerah yang dipilih adalah yang benar-benar berminat dan menunjukkan komitmennya dalam rangka operasionalisasi kebijakan. Komitmen ini dibuktikan dengan surat minat yang ditandatangani oleh pimpinan daerah (Bupati/Walikota) atau pimpinan/pejabat pengambil keputusan di tingkat provinsi (Kepala Bappeda/ Sekretaris Daerah/Gubernur). Proses fasilitasi menekankan pentingnya partisipasi seluruh mitra kerja daerah, khususnya pokja daerah dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan bersama. Kegiatan yang dikembangkan dalam proses fasilitasi daerah dapat dikategorikan dalam: Pertama, pendalaman Kebijakan Nasional, yang ditujukan untuk meningkatkan pemahaman pemangku kepentingan (stakeholders) daerah mengenai nilai penting dan relevansi Kebijakan Nasional

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

11

bagi pemecahan masalah pembangunan AMPL di daerah, dan bagaimana penerapannya untuk memperbaiki kinerja pembangunan AMPL. Pendalaman kebijakan tersebut meliputi kajian keberlanjutan sarana AMPL di daerah, pengelolaan data dan informasi AMPL di daerah, investasi dan alternatif pendanaan dan diikuti dengan penilaian diri (self assesment). Berbagai contoh kegiatan antara lain: lokakarya partisipatif, studi kasus, dan diskusi tematik mengenai keberhasilan dan kegagalan pembangunan AMPL, serta pengembangan rencana kerja dan strategi pembangunan AMPL daerah. Sasaran kegiatan ini tidak saja anggota Pokja daerah, tetapi juga pelaku dan pengambil keputusan politik. Untuk kepentingan itu, pelibatan anggota legislatif dalam diskusi dan dialog pendalaman Kebijakan Nasional sangat positif dan bermanfaat. Tujuannya adalah membangun komitmen dan optimalisasi tujuan, terutama dukungan yang bersifat politis terhadap tatanan ataupun aspek penting dalam pembangunan AMPL, yaitu dukungan kelembagaan, pembiayaan, dan regulasi. Tatanan aspek kelembagaan, tentu mengharuskan adanya instansi yang bertanggung jawab secara jelas dalam proses pengembangan kebijakan dan implikasinya. Pembentukan Pokja menjadi alternatif yang rasional untuk menjembatani kepentingan sekaligus menjadi media koordinasi dan kerjasama antarinstansi di daerah, baik dalam rangka peningkatan kapasitas dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan AMPL. Tatanan aspek pembiayaan, memerlukan ketersediaan, alokasi dan pemanfaatan anggaran untuk pembiayaan kegiatan, baik untuk hal yang bersifat fisik maupun non fisik, termasuk pelatihan. Tatanan aspek regulasi memerlukan perangkat hukum jelas untuk memayungi proses reformasi dan operasionalisasi Kebijakan Nasional, baik dalam jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang. Terpenuhinya ketiga tatanan tersebut mutlak memerlukan dukungan dari pihak legislatif . Dalam konteks pendalaman ini, mitra kerja daerah diajak juga memahami kaitan dan relevansi Kebijakan Nasional dengan regulasi terkait, misalnya Peraturan Pemerintah No 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum; peran dan pengaruh komitmen global pemerintah dalam MDGs;

12

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

strategi dan langkah praktis dalam mengintegrasikan substansi kebijakan nasional ke dalam sistem perencanaan pembangunan daerah, misalnya RPJM, SKPD sektor; implementasi prinsip Kebijakan Nasional dengan pengembangan program berbasis masyarakat disamping program investasi pembangunan AMPL yang dikelola oleh lembaga, misalnya PDAM. Kedua, penyusunan rencana pembangunan AMPL di daerah, dengan membangun kesepakatan penyusunan rencana pembangunan AMPL–BM dan diikuti dengan penyusunan dokumen renstra (rencana strategi) AMPL-BM. Dalam penyusunan renstra, daerah telah menerapkan pendekatan partisipatif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan antara lain dengan sosialiasi, maupun dialog atau konsultasi publik. Renstra Pembangunan AMPL–BM yang telah dilegalisasi ini kemudian menjadi acuan SKPD untuk melaksanakan pemantauan dan evaluasi pembangunan AMPL di daerah. Hasil pemantauan dan evaluasi menjadi sarana untuk mendapatkan tanggapan atau umpan balik untuk perbaikan kinerja pembangunan AMPL, termasuk dalam hal ini pemantapan rencana kerja Pokja AMPL ke depan. Diakhir program pada tiap tahun selama masa pendampingan, diselenggarakan Lokakarya Konsolidasi Hasil Pelaksanaan Kebijakan. Review bersama/pemantauan ini sangat penting dalam menilai keberhasilan pelaksanaan rencana kerja. Diharapkan dengan demikian daerah akan terdorong secara konsisten melaksanakan kebijakan. Ketiga, membangun kemandirian. Pada tahap ini, diharapkan kelompok kerja daerah dapat melanjutkan kegiatan yang telah dirintis selama masa pendampingan. Kegiatan tersebut harus merujuk kepada dokumen perencanaan yang telah disepakati. Bagi daerah yang telah memiliki rencana strategis AMPL, diharapkan dapat melanjutkan kegiatannya mengacu kepada renstra tersebut. Tolok ukur kinerja daerah dalam melaksanakan kebijakan Nasional secara garis besar bisa dilihat dari tiga hal berikut : Pertama, dukungan politis dari pimpinan daerah yang cukup kuat. Indikasi ini dapat ditunjukkan dengan adanya keterlibatan pejabat
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

13

teknis dalam kegiatan-kegiatan pelaksanaan kebijakan serta bentuk legalitas terhadap kelembagaan kelompok kerja (pokja) melalui SK pimpinan daerah, penyusunan Rencana Strategi (renstra) Pembangunan AMPL, dan lebih lanjut adanya legalitas dalam rangka memastikan Renstra AMPL ditindak lanjuti dalam program pembangunan. Legalisasi renstra bisa berupa Peraturan Bupati (Perbub), atau diupayakan untuk masuk dalam Prolegda (Proses Legalisasi Daerah) sebagai proses penetapan rancangan peraturan daerah (Ranperda) menjadi Perda. Kedua, kelembagaan yang menandai kuatnya fungsi dan peran Pokja AMPL. Indikasi ini ditunjukkan dalam bentuk inisiatif dan inovasi pokja dalam upaya memastikan pelaksanaan kebijakan benar-benar dilaksanakan dalam kerangka keberlanjutan pembangunan AMPL melalui mekanisme koordinasi dan evaluasi kegiatan. Ketiga, dukungan pembiayaan yang memadai. Kondisi ini ditunjukkan dalam bentuk alokasi dana operasional Pokja, mobilisasi berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung operasionalisasi renstra pembangunan AMPL.

1.4 Manfaat Adanya Kebijakan
Lahirnya Kebijakan Nasional ternyata membuat Pemerintah lebih serius mengelola pembangunan AMPL, termasuk menyatakan kepada pihak donor yang berhubungan dengan pembangunan AMPL agar mengadopsi Kebijakan Nasional. Ini menjadi daya tawar pemerintah Indonesia dengan negara donor, dalam bahasa Basah Hernowo (pada waktu itu menjabat Direktur Permukiman dan Perumahan, Bappenas) dikatakan “Kita bisa sampaikan kepada mereka, inilah kebijakan nasional kita. Kalau mau kita negosiasi, kalau tidak, sorry, thank you for your help. Dengan cara seperti ini kita akan lebih fokus.” Basah Hernowo dan juga Pokja AMPL Nasional berharap agar pembangunan AMPL di Indonesia sungguh-sungguh dapat didanai oleh Pemerintah, melalui APBN dan APBD maupun sumber lain yang bukan berasal dari hutang luar negeri. Akan tetapi hal itu tampaknya masih sulit terwujud karena masih besarnya

14

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

kesenjangan pendanaan. Pengalaman menunjukkan alokasi anggaran untuk AMPL dari berbagai sumber di luar hutang luar negeri hanya berkisar 4 (empat) triliun rupiah per tahun, sementara jika mengikuti target MDGs kebutuhan ideal pembangunan AMPL per tahun adalah 10 sampai 14 trilyun. Menurut Basah Hernowo, selain pemerintah pusat mencari dana dari lembaga donor yang mau menerima Kebijakan Nasional, Pokja AMPL Nasional dituntut bisa menerangkan kepada pemerintah daerah mengenai pentingnya pembangunan AMPL sehingga anggaran AMPL dalam APBD meningkat. Basah mencontohkan, “Daripada beli kendaraan dinas baru, lebih baik anggaran AMPL yang dinaikkan, misalnya dari kurang 3 persen APBD menjadi 8 persen. Kalau pemerintah daerah mau tapi beralasan tidak punya uang, maka pemerintah pusat bisa membantu mencari jalan untuk berbagi beban itu.” Sebagai sebuah pegangan, Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM pada akhirnya memang kembali pada keputusan pemerintah daerah untuk menerima atau menolaknya, atau menerima dengan berbagai penyesuaian sesuai kondisi, karakteristik, dan kebutuhan masing-masing daerah. Maka pada tataran implementasi di lapangan, ada yang menjadikannya sebagai target pencapaian MDGs, ada juga yang menetapkan sebagai program unggulan daerah, namun tetap diikat dengan tujuan yang sama, yakni memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap akses AMPL. Pengalaman fasilitasi di daerah, sebagai langkah awal, menunjukkan sangat penting kiranya membangun visi bersama di depan, sehingga antara pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya mempunyai kesamaan pandangan melaksanakan pembangunan AMPL. Seiring berjalannya waktu, tim fasilitator WASPOLA yang banyak berinteraksi dengan pejabat dan masyarakat di daerah menjadi berperan sebagai ujung tombak dalam proses implementasi kebijakan di daerah. Sejak tahun 2004 sampai dengan 2007 implementasi kebijakan terlaksana di 63 kabupaten /kota pada 9 provinsi. Dari proses ini terdapat sejumlah pembelajaran yang bisa dirujuk, yang kemudian dituangkan dalam buku ini.

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

15

16

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

BAB II

MENDEKATI DENGAN KOMITMEN
2.1 Pola Pendekatan WASPOLA
Sebagai orang Sulawesi Selatan, Nasthain Gasba relatif menguasai karakter masyarakat di kepulauan Sulawesi. Semua kota besar di Sulawesi sudah dikunjunginya. Sebelum menjadi fasilitator WASPOLA, dia telah malang melintang bersama LSM internasional memfasilitasi masyarakat. Tak kurang dari 11 tahun pengalaman telah menjadikannya profesional di bidang pengembangan masyarakat dengan kegiatan berupa studi dan pelatihan di bidang sosial, pendidikan, dan teknis sarana air bersih dan sanitasi. Maka ketika bergabung sebagai fasilitator WASPOLA pada tahun 2004, pengalaman tersebut sudah lebih dari cukup di bidang AMPL. Namun, ketika ditugaskan ke Gorontalo, Nasthain berpikir keras mencari cara, agar mudah diterima di provinsi itu. Selalu saja ada hal baru yang harus dipahami, untuk mempermudah pelaksanaan tugas baru. Menjadi akrab dengan kondisi sosial dan menyiapkan diri belajar beberapa kosa kata dan logat bicara orang Gorontalo, menjadi bagian penting. Hal lain yang tak kalah pentingnya, mempelajari karakter pemerintahan setempat untuk memulai strategi pendekatan yang tepat. Mengingat bahwa mitra utama fasilitator WASPOLA ini adalah pemerintah daerah, yang pada umumnya birokratis dan hirarkis.
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

17

Tantangan lainnya adalah bagaimana menyatukan berbagai dinas atau SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) terkait, yang terbiasa kerja sektoral menjadi lebur dalam suatu wadah koordinasi. Tidak jarang terjadi perbedaan pendapat dari masing-masing SKPD, tetapi Nasthain memandang ini wajar dalam suatu proses. Beberapa kali pertemuan informal dan lokakarya, pada akhirnya kebersamaan terbangun. Masing-masing SKPD mulai mampu menempatkan perannya masing-masing dalam Kelompok Kerja (Pokja) AMPL. Dari pengalaman dua fasilitator sebelumnya di Gorontalo, Agus Priatna dan Alma Arif, Nasthain juga belajar bahwa fungsi fasilitator tidak sekedar konsultan. Lebih jauh dari itu, seorang fasilitator adalah teman yang mau berbagi waktu, mau mendengar sekaligus belajar dari mitra kerja daerah. Hasilnya tak banyak hambatan berarti. Komunikasi yang dibangun membuat semua urusan dapat berjalan lancar, tanpa ada batas hirarki sosial. Pendeknya, komunikasinya menjadi cair. Demikianlah kira-kira gambaran tim WASPOLA saat pertama kali masuk ke daerah yang akan difasilitasi. Syarifuddin yang bertugas di Sumatera Barat menambahkan bahwa ciri khas, sosial dan geografis, setiap daerah menjadi tantangan bagi tim untuk menemukan cara komunikasi dan pendekatan yang efektif. Membentuk suasana ”rumah sendiri” (at home) harus dibangun sedemikian rupa. Hambatan birokratis harus bisa dipecahkan dengan pertemanan dan kekeluargaan dengan mereka yang disiapkan menjadi kampiun AMPL di daerah ( baca: anggota Pokja AMPL di daerah). Tim WASPOLA yang datang ke daerah sebagai profesional dibekali dan memiliki kemampuan membangun pendekatan yang lentur. Bagi fasilitator WASPOLA, membangun komunikasi harus terjadi dalam berbagai waktu dan kesempatan. Kemampuan ini menjadi kekuatan untuk berinteraksi secara formal maupun informal. “Terkadang kami memulai pembicaraan di warung kopi,” kata Alma Arif, fasilitator yang kini bertugas di Provinsi NTT. “Sebelum acara dimulai, biasanya saya mengajak mitra kerja untuk bertemu malam harinya. Mereka senang karena bisa menyampaikan dan bertanya berbagai hal dan saya menjadi pendengar yang baik,”

18

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

ujar Bambang Pujiatmoko yang cukup lama memfasilitasi Pokja Provinsi Jawa Tengah. “Karena intensitas yang tinggi, hubungan dengan mitra di daerah bisa menjadi seperti saudara. Hal ini benar-benar sangat memudahkan tugas saya di lapangan,” papar fasilitator untuk wilayah Banten, Agus Priatna. Selain pembentukan komunikasi yang cair, apresiasi terhadap tim WASPOLA juga terbentuk karena komitmennya terhadap proses penganggaran yang efisien dan transparan. Independensi pendanaan memungkinkan WASPOLA tidak menjadi beban untuk mitra di daerah. Sikap itu tumbuh dan dijiwai oleh muatan Kebijakan Nasional, yang mendorong semangat transparansi dan kejujuran. Karena kepercayaan seperti itulah hubungan yang terjalin kemudian tidak lagi dibatasi kepentingan kedinasan semata, tetapi juga berkembang pola hubungan yang familiar dan hangat. Tim WASPOLA selalu berusaha menjauhkan sikap kepura-puraan, sebab prinsip kebijakan AMPL juga sangat menekankan pada aspek ”keikhlasan” aparat daerah dalam membangun prasarana dan sarana AMPL.

2.2 Tawaran WASPOLA
Apa sebenarnya yang ditawarkan WASPOLA melalui fasilitasi?. Ada dua hal pokok yang ditawarkan, yaitu reformasi kebijakan pembangunan AMPL dan komitmen pembangunan yang fokus pada kebutuhan masyarakat. Reformasi kebijakan diawali di tingkat pusat dan diimplementasikan ke daerah dengan pintu adopsi kearifan lokal yang dibuka lebar. Implementasi kebijakan bertujuan untuk memfasilitasi, mendukung, dan meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam melaksanakan dan memantau pelaksanaan kebijakan AMPL.

2.2.1 Diseminasi Kebijakan Melalui Fasilitasi Partisipatif
Sebagai suatu pegangan bagi para pelaku pembangunan AMPL, diseminasi kebijakan menjadi sangat penting untuk diupayakan
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

19

penyebarluasannya, agar dapat dipahami dan diterapkan oleh daerah. Diseminasi ini menjadi kewajiban pemerintah, dalam hal ini Pokja AMPL Nasional. Melalui proyek WASPOLA, diseminasi dilakukan di tingkat pusat yang diperuntukkan bagi para pejabat departemen terkait, lembaga donor, perguruan tinggi, dan para pelaku lain di tingkat nasional. Juga dilakukan untuk pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota. Pada tingkat daerah, provinsi dan kabupaten/kota juga melakukan diseminasi untuk wilayahnya masing-masing sesuai dengan kebutuhannya. Kegiatan-kegiatan di daerah ini dikoordinasikan oleh Pokja AMPL Daerah yang didukung oleh Pokja AMPL Nasional. Diseminasi yang dilakukan tim WASPOLA tidak mengandalkan pendekatan searah dengan sekedar menyampaikan apa itu kebijakan Nasional, tetapi lebih diutamakan penguatan kapasitas dengan mitra daerah dan menemukan nilai-nilai penting melalui pembelajaran bersama. Langkah diseminasi diawali dengan mengembangkan pemahaman mitra kerja mengenai isu pembangunan AMPL di daerah. Mitra kerja diajak berpikir bersama untuk mengidentifikasi persoalan atas pembangunan AMPL yang tidak berkelanjutan dan tidak efektif, yang terjadi di daerahnya. Proses ini memberikan dampak yang signifikan dan efektif kepada pemangku kepentingan atas esensi Kebijakan Nasional dan kaitannya dengan realitas isu pembangunan AMPL di daerah mereka. Melalui lokakarya partisipatif, peserta mendiskusikan dan menemukan akar masalahnya. Proses ini memberikan pemahaman terhadap pentingnya penerapan pendekatan tanggap kebutuhan, partisipasi aktif masyarakat, partisipasi perempuan, tidak transparannya proses pembangunan, dan sebagainya dalam pembangunan AMPL. Intinya proses internalisasi jauh lebih penting daripada sekedar membangun pemahaman tanpa diikuti dengan aksi. Dukungan pimpinan daerah merupakan kunci penting dalam diseminasi kebijakan, dan hal ini sangat disadari oleh tim WASPOLA. Maka diawal proses diseminasi program dilakukan melalui sosialisasi kepada pimpinan daerah, biasa disebut roadshow kebijakan, yang dilakukan bersama Pokja AMPL Nasional. Tujuan utama roadshow selain untuk memperkenalkan Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM, adalah penggalangan dukungan pimpinan daerah untuk memberikan ruang perubahan

20

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

pembangunan AMPL di daerahnya melalui pembentukan kelompok kerja AMPL dengan anggota dari berbagai dinas/SKPD terkait yang nantinya akan difasilitasi oleh tim WASPOLA. Dalam prosesnya perjalanan roadshow ini banyak memberikan manfaat untuk dukungan implementasi kebijakan kedepan terutama dari sisi kelembagaan dan peraturan. Pendekatan partisipatif tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi tim WASPOLA konsisten menerapkan dalam kegiatannya. Dalam lokakarya maupun pelatihan, sangat dihindari model yang elitis dan satu arah, semua diskusi di lakukan dengan model dua arah dan dialogis. Peserta yang kebanyakan terdiri dari para birokrat, pertama-tama heran dan canggung ketika dalam diskusi kelompok tidak menggunakan kursi, tetapi diajak ’melantai’ atau duduk dilantai. Hal ini dimaksudkan agar para birokrat mulai terbiasa dengan perannya sebagai fasilitator yang sesungguhnya. Bukan kursi yang diperlukan, tetapi komitmen untuk berempati terhadap situasi masyarakat dan semangat melayani, itu yang diperlukan. Metode partisipatif yang digunakan adalah metode metaplan, yaitu memetakan gagasan/pendapat bersama-sama. Tim WASPOLA menggunakan intempel atau apa yang disebut stickycloth, dimana peserta semuanya harus berbagi pendapat dengan menuliskan pada kertas metaplan sehingga semua berpartisipasi. Metode ini menjadi penting, mengingat tidak semua peserta mempunyai keterampilan berbicara di depan umum, apalagi masyarakat. Dengan metode ini semua peserta harus menyumbangkan pendapatnya. Tidak ada jawaban yang benar dan salah, karena metode ini menganggap semua orang mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah. Ini adalah konsekuensi pendekatan partisipatif, memberikan ruang yang luas kepada semua peserta untuk terlibat tanpa membedakan label kedudukan dan pangkat. Pertama-tama banyak peserta dibuat heran dengan lokakarya yang kegiatannya ’tempel menempel’. Bahkan sering terdengar kelakar, kalau tidak tempel menempel bukan WASPOLA. Tetapi konsistensi pendekatan tidak bisa ditawar lagi. Lambat laun dalam proses di lapangan akhirnya Pokja AMPL daerah mulai merasakan manfaat metode
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

21

diskusi partisipatif ini dan sudah fasih menerapkan dalam kegiatan fasilitasi di daerah. Metode ini pada dasarnya juga memperlihatkan peran fasilitator bukanlah peran konsultan yang tahu segalagalanya tetapi justru membuat semua orang berpendapat dan merumuskan bersama-sama itulah intinya partisipasi. Tidak jarang pula dilakukan dinamika kelompok atau ice breaking untuk mencairkan suasana, dari formal menjadi informal yang menjadi pintu masuk untuk memulai kebersamaan dan membangun solidaritas antar peserta. Dalam perjalanan fasilitasi selama kurun waktu 2004-2007, terjadi perubahan dalam prosesnya. Pada tahun pertama yang merupakan uji coba, kegiatan dilakukan di kabupaten sebagai basis kegiatan, tanpa keterlibatan provinsi. Pada tahun kedua, kegiatan fasilitasi dilakukan di kabupaten dengan melibatkan provinsi sebagai pendamping kabupaten. Pada tahun ketiga, fasilitasi difokuskan di tingkat provinsi dan provinsi melakukan fasilitasi kepada kabupaten. Pada tahun keempat, melanjutkan pola pendekatan tahun ketiga yang lebih mengedepankan peran provinsi dalam pendampingan kabupaten/kota. Sedangkan peran pemerintah pusat lebih fokus kepada peningkatan kapasitas kelompok kerja provinsi dengan membekali pengetahuan dan keterampilan dasar dalam fasilitasi implementasi Kebijakan Nasional. Penerimaan Kebijakan Nasional tersebut harus terwujud dalam bentuk meningkatnya kinerja pembangunan AMPL, yang sedikitnya mencakup tiga aspek kunci yaitu: kelembagaan, regulasi dan pembiayaan.

22

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Road Map Diseminasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM

2.2.2 Penguatan Kapasitas Mitra Kerja Daerah
Dalam melaksanakan kegiatan implementasi kebijakan, WASPOLA lebih menekankan pada peningkatan kapasitas mitra kerja daerah. Langkah pertama yang dilakukan adalah menawarkan Kebijakan Nasional sebagai acuan pembangunan AMPL daerah dalam rangka mencapai pembangunan AMPL yang berkelanjutan. Pendekatan konvensional yang cenderung memandang dan mengutamakan asas formal melalui penerbitan surat keputusan atau surat edaran tentang pemberlakuan suatu kebijakan pemerintah pusat, tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang utama. Kesediaan daerah untuk menjadi mitra dalam melaksanakan kebijakan lebih merupakan hasil dari proses fasilitasi.
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

23

Melalui proses pendampingan di lapangan, tim WASPOLA berusaha mengadvokasi mitra daerah sehingga muncul inisiatif dari daerah sendiri untuk melaksanakan legislasi kebijakan di daerah. WASPOLA lebih menitikberatkan bahwa esensi dari adopsi kebijakan adalah terbentuknya kapasitas pengelola untuk menerjemahkan kebijakan sesuai konteks, kebutuhan, dan tujuan pembangunan daerah itu sendiri. Dengan berbagai pendekatan, salah satunya menggunakan metode metaplan yang lazim dipakai dalam teknik fasilitasi partisipatif, pemerintah daerah yang merupakan ujung tombak pembangunan AMPL bukan hanya dibuka dan diperluas wawasannya untuk menerima Kebijakan Nasional, tetapi juga benar-benar memahami perannya sebagai fasilitator serta memiliki kemampuan menjabarkannya menjadi berbagai strategi pembangunan dan program yang berkelanjutan dalam bentuk kegiatan yang lebih operasional. Peran Pokja AMPL sebagai fasilitator di daerah ternyata mampu memicu beberapa orang untuk tampil menjadi champion atau kampiun pelaksanaan program pembangunan AMPL. Kampiun adalah seseorang atau sekelompok orang yang menjadi garda terdepan dari sebuah program pembangunan AMPL, baik di tingkat masyarakat, pemerintahan ataupun institusi lainnya. Diharapkan melalui wadah Pokja AMPL yang bersifat ad hoc dan pembentukannya berdasar SK dari kepala daerah ini, akan bermunculan para kampiun baik dari kabupaten/kota maupun provinsi. Anggota Pokja AMPL daerah tentu sangat membutuhkan penguatan kapasitas yang terpadu sehingga nantinya mampu menjalankan peran dan fungsinya sebagai fasilitator pembangunan AMPL. Penguatan kapasitas ini meliputi proses perubahan pemahaman (paradigma) terhadap pembangunan AMPL yang diikuti dengan perubahan sikap dalam hal ini kesepakatan dan komitmen melaksanakan, serta ketrampilan memfasilitasi pelaksanaan kebijakan di lapangan. Serangkaian lokalatih disiapkan sebagai menú di tingkat nasional maupun di daerah untuk proses penguatan kapasitas tersebut meliputi Lokalatih Pelaksanaan Kebijakan, Penyusunan Rencana Strategi (Renstra) AMPL dan beberapa pelatihan pendukung lainnya meliputi pelatihan

24

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

keterampilan fasilitasi seperti, MPA (Methodology for Participatory Assesment), dan CLTS (Community-Led Total Sanitation). Lokakarya pertama yang wajib diikuti oleh daerah adalah Lokakarya Pelaksanaan Kebijakan dimana terjadi proses pembelajaran kepada Pokja AMPL untuk memperoleh kesamaan pemahaman mengenai pokok kebijakan dan strategi operasionalisasi di daerah berdasarkan kondisinya. Lokakarya ini akan membantu daerah dalam mengembangkan arah dan strategi keberlanjutan pembangunan AMPL di daerah. Kemampuan menyusun Renstra (rencana strategi) AMPL mutlak harus dimiliki oleh semua daerah dampingan WASPOLA. Pelatihan ini menjadi menu wajib dan langsung diselenggarakan di daerah sehingga sesuai dengan konteksnya. Dengan demikian daerah memiliki kerangka tindak menuju keberlanjutan pembangunan AMPL, yang meliputi rumusan visi dan misi pembangunan AMPL, rumusan isu strategis AMPL dan program strategis dalam rangka mengatasi isu tersebut, dan matriks renstra AMPL Daerah. Penguatan sumber daya lokal adalah kunci keberlanjutan pembangunan sehingga mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar fasilitasi menjadi faktor pendukung dalam penerapan di lapangan. Pelatihan keterampilan fasilitasi membantu mitra kerja daerah baik Pokja AMPL maupun institusi terkait lainnya dalam mentransformasi substansi kebijakan pembangunan AMPL di daerahnya. Semakin banyak fasilitator handal semakin besar peluang daerah untuk berkembang. Dalam pembangunan AMPL, tidak jarang terjadi dominasi dalam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat (biasanya kelompok elit) yang seringkali tidak menguntungkan bagi kelompok lain, khususnya masyarakat miskin. Tidak jarang bantuan yang datang ke desa atau pelayanan yang ada di desa akhirnya tidak dapat dinikmati oleh kelompok miskin. Demikian juga dengan kelompok perempuan. Karenanya diperlukan suatu pendekatan yang dapat memberikan kesetaraan akses bagi seluruh lapisan masyarakat
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

25

(miskin, kaya, perempuan, laki-laki), dalam proses pengambilan keputusan. Metode ini disebut dengan MPA yaitu Methodology for Participatory Assessment. MPA sangat bermanfaat untuk memperkuat kapasitas Kelompok Kerja AMPL daerah dalam memfasilitasi kebijakan di daerah masing-masing. Aktivitas partisipatifnya menjadi semangat untuk memotivasi kepedulian dan rasa kepemilikan masyarakat terhadap program kebijakan yang diterapkan. Salah satu tawaran WASPOLA yang lain adalah metode CLTS yang saat ini telah menjadi salah satu pilar program pembangunan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) -- gerakan sanitasi total yang dipimpin masyarakat--merupakan pendekatan pemberdayaan masyarakat untuk analisis keadaan dan risiko pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh praktik buang air besar di tempat terbuka. Dengan demikian terjadi perubahan cara pandang dan menginisiasi perilaku sanitasi tanpa mengandalkan subsidi dari luar. Saat ini STBM telah banyak diterapkan di berbagai daerah. Titik bidik dari semua pelatihan atau kegiatan tersebut diatas, adalah memperkuat kapasitas sumber daya manusia, mendorong kapasitas sumber daya pelaku, kelembagaan dan mengembangkan sistem yang mengoptimalkan partisipasi semua pemangku kepentingan dalam pembangunan.

2.3 Dukungan WASPOLA
WASPOLA dalam perkembangannya berlangsung dalam dua tahap, yaitu : tahap pertama yang dikenal sebagai WASPOLA 1, dilakukan pada tahun 1998-2003, yang berfokus pada kajian dan pengembangan kebijakan di tingkat nasional. Sedangkan tahap kedua atau WASPOLA 2 (2004-2008) yang menekankan pada implementasi kebijakan dan diseminasi, yang dikembangkan melalui empat komponen kegiatan, yaitu: Pertama, Implementasi Kebijakan (Policy Implementation) yang merupakan langkah lanjutan dari WASPOLA 1. Dengan fokus pada proses fasilitasi operasionalisasi Kebijakan Nasional baik untuk tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten. Substansi materinya adalah pendalaman Kebijakan Nasional, pemahaman permasalahan pembangunan AMPL di daerah, kajian lapangan keberhasilan dan kegagalan pembangunan AMPL, diskusi tematik hasil kajian

26

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

lapangan, pengelolaan data base AMPL, penyusunan Rencana Strategis Pembangunan AMPL (Renstra AMPL) daerah, serta pengembangan kerja mandiri untuk kegiatan lanjutan pada tahun berikutnya. Kedua, Reformasi kebijakan (Policy Reform), dengan fokus pada pengembangan kebijakan pembangunan sektor AMPL yang dikelola secara kelembagaan. Kajian dan arah kebijakan lebih cenderung pada pengaturan kelembagaan. Materinya meliputi kajian dan penyusunan kebijakan, pembelajaran pengelolaan institusional. Kerjasama antarsektor menjadi faktor kunci untuk merealisasikan gagasan ini, yang menginginkan adanya reformasi pendekatan pembangunan dan peningkatan kapasitas pengelolaan sektor AMPL di tingkat penyelenggaraan, terutama di perkotaan. Ketiga, Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management) dengan fokus untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan dan mengembangkan inisiatif penyelenggaraan reformasi dan perubahan pola pikir. Dilakukan melalui berbagai kegiatan pengkajian, diseminasi, uji coba, kemitraan dan kerjasama, pengelolaan informasi dan data, komunikasi dan studi banding. Inisiatif studi banding dikembangkan melalui pertukaran pengalaman antardaerah, antarprovinsi maupun antarnegara. Sedangkan kegiatan strategi komunikasi untuk pembangunan AMPL dilakukan melalui proses uji coba, pelatihan, produksi media dan pendampingan di lapangan untuk memperkuat kapasitas pelaku dalam merancang strategi komunikasi yang tepat sasaran untuk mendorong akselerasi pembangunan AMPL. Keempat, Manajemen Proyek (Project Management), merupakan bagian yang memfokuskan pada penyelenggaraan dan dukungan keuangan dan administrasi pengelolaan program secara keseluruhan. Termasuk koordinasi dan komunikasi dengan Pokja AMPL, Pokja Provinsi dan Pokja Kabupaten, serta mitra strategis di tingkat nasional, daerah dan internasional. Keempat komponen tersebut bekerja secara terintegrasi satu sama lain dalam pelaksanaannya, terutama mendukung komponen implementasi kebijakan di tingkat nasional dan daerah. Prosesnya memerlukan pendampingan yang intensif dan waktu yang tidak sedikit. Tim WASPOLA belajar dari pengalaman lapangan yang
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

27

acapkali berbenturan dengan sistim birokrasi yang rumit, belum lagi dengan karakteristik daerah yang sangat bervariasi dan motivasi mitra kerja yang beragam. Hal itu sangat memerlukan fleksibilitas waktu dan tenaga dari seorang fasilitator. Kerja seorang fasilitator tidak cukup hanya mengandalkan keahlian di bidangnya, diperlukan pendekatan lain yang lebih manusiawi yaitu komitmen. Dan komitmen yang dimiliki tim fasilitator itu sendirilah, yang menjadi kunci motivasi tumbuhnya komitmen dari mitra kerja daerah. Nampaknya sesuatu yang sangat idealis, tetapi ini adalah realita yang didapat di lapangan.

28

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

BAB III

MEMBANGUN HARMONISASI PUSAT DAN DAERAH
Bangunan komunikasi dalam proses fasilitasi WASPOLA sengaja tidak dibuat dalam bentuk yang kaku. Namun esensi tranformasi pemahaman antarpemangku kepentingan tetap terjadi. Hal ini terbangun secara alami dan mampu menjembatani kekakuan hubungan birokrasi. Hal tersebut juga nampak dalam semangat kerja Kelompok Kerja AMPL Nasional, sehingga membantu upaya dalam rangka membangun harmonisasi pusat dan daerah.

3.1. Potret POKJA AMPL Nasional
Pokja AMPL Nasional, yang nota bene adalah penggagas reformasi dan implementasi Kebijakan Nasional itu sendiri, ternyata tidak mengambil posisi sebagai orang yang tahu segalanya, tetapi secara cermat mendengar ide dan curahan hati mitra daerah yang selanjutnya mendiskusikan jalan keluarnya. Mendengar langsung dari masyarakat juga adalah perilaku perubahan yang ditampilkan oleh Pokja AMPL.
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

29

Pokja AMPL Nasional mulai dikenal tahun 1998 pada saat dimulainya penyusunan Dokumen Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM, kiprah dan keatifannya sangat dirasakan sejak tahun 2002. Baru pada tahun 2005, ditebitkan Surat Keputusan (SK) Tim Koordinasi Pembangunan AMPL Tingkat Nasional. Pokja AMPL adalah wadah untuk melakukan koordinasi, dialog dan sinergi peran pelaku dalam upaya mengawal dan mempengaruhi proses pembangunan AMPL-BM sesuai dengan prinsip Kebijakan Nasional AMPL-BM. Saat ini lima departemen secara aktif ikut serta dalam Pokja AMPL Nasional, diwakili oleh direktorat terkait, yaitu: Direktorat Permukiman dan Perumahan Bappenas; Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Bappenas; Direktorat Bina Program, Ditjen Cipta Karya, Dep.Pekerjaan Umum; Direktorat Pengembangan Air Minum, Direktorat Jendral Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum; Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan dan Permukiman, Ditjen. Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum; Direktorat Penyehatan Lingkungan Ditjen Departemen Kesehatan; Direktorat Sumber Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna, Ditjen. Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Departemen Dalam Negeri; Direktorat Fasilitasi Lingkungan Hidup dan Penataan Ruang, Ditjen. Pembangunan Daerah, Departemen Dalam Negeri; dan Asisten Deputi Urusan Pengendalian dan Pencemaran Limbah Domestik dan Usaha Kecil, Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup. Fungsi koordinasi Pokja AMPL Nasional dilakukan oleh Bappenas. Karena besarnya kegiatan yang harus dilaksanakan, Pokja AMPL Nasional pada saat ini lebih memerankan sebagai pusat informasi dan dukungan kapasitas dalam pembangunan AMPL secara luas. Pokja AMPL Nasional sangat berperan dalam menjalin kerjasama dan berkoordinasi dengan berbagai pihak yang potensial, baik lembaga donor, LSM internasional, proyek besar, dan lain-lain. Walaupun demikian kepentingan daerah tetap menjadi agenda utama Pokja AMPL Nasional.

3.2 Harmonisasi dengan Daerah
Mengawal implementasi Kebijakan Nasional di daerah merupakan peran yang secara konsistensi dijalankan Pokja AMPL Nasional.

30

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Hal ini dilakukan karena tanggap terhadap kebutuhan daerah yang masih memerlukan kehadiran pihak pusat. Karenanya, dalam kenyataan, Pokja AMPL Nasional menjadi dan harus sering naikturun pegunungan untuk melihat perkembangan proses fasilitasi WASPOLA dalam implementasi kebijakan di daerah. Disadari kemudian bahwa ini merupakan salah satu jalan untuk membangun hubungan harmonis dengan daerah, sehingga tercipta empati dan solidaritas satu sama lain. Perjalanan memutari punggung gunung terjal yang dihiasi tebing curam seperti tak berujung, menjadi bagian pemandangan perjalanan yang lazim di lakukan anggota Pokja. Tuntutan tugas dan komitmen untuk melihat secara langsung tanggapan dan prakasara masyarakat dalam pembanguan AMPL, mengharuskan mereka bersabar. Oswar Mungkasa dari Pokja AMPL Nasional mengatakan, “Biasanya kecemasan sepanjang perjalanan itu berganti semangat dan kebanggaan ketika melihat bagaimana Kebijakan Nasional dilaksanakan dan semangatnya diwujudnyatakan di desa-desa terpencil,. Tentu saja, ini berlangsung karena di daerah telah ada Pokja Daerah“. Hal tersebut terjadi pada saat rombongan Oswar Mungkasa hampir tersesat mengitari jalanan berliku di salah satu desa di kabupaten Gorontalo. Kehadiran Pokja Nasional di daerah, dirasakan benar manfaatnya oleh para fasilitator kabupaten, baik Pokja AMPL Daerah maupun tim WASPOLA, dan lebih-lebih masyarakat. ”Upaya kita benardihargai” kata Rusman, Pokja AMPL Kabupaten Gorontalo. Kehadiran Pokja Nasional, setidaknya menyemangati Pokja Daerah dan komunikasi menjadi lebih lancar antara daerah dan Nasional. Memang ada risiko lain yaitu adanya ekspektasi aparat daerah terhadap WASPOLA dan Pokja AMPL Nasional menjadi semakin tinggi. Keberhasilan fasilitasi daerah dan hubungan harmonis fasilitator WASPOLA dengan Provinsi dan Kabupaten/kota, tidak terlepas dari dukungan penuh Pokja AMPL Nasional. Ini juga terbina dan menguat antara Pokja Daerah dan Pusat. Tidak sekedar komunikasi birokrasi formal, namun komunikasi personal yang juga cair. Sebagai pemilik program, Pokja AMPL Nasional tidak saja memberi dukungan penuh dalam aspek administrasi saja, misalnya surat
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

31

menyurat dan undangan ditandatangani oleh Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas, tetapi juga secara aktif mewarnai substansi atau mengisi materi fasilitasi berbagai acara lokakarya di daerah, termasuk membantu penyediaan anggaran yang sejak tahun 2004 terus meningkat dari tahun ke tahun. Komitmen anggota Pokja AMPL Nasionalpun juga diwujudkan dengan kesediaan meluangkan waktu khusus mendampingi Pokja AMPL daerah dalam melakukan audiensi dan road show untuk memperkuat penggalangan dukungan dari pimpinan daerah maupun legislatif, proses advokasi di berbagai daerah melalui talk show di media massa dan sebagainya. Sangat terasa partisipasi dari tokoh penting yang terlibat dalam program WASPOLA, setidaknya terlihat dari level direktur (eselon II) di masing-masing departemen yang terlibat pada waktu itu, antara lain Basah Hernowo, Arum Atmawikarta (Bappenas), Joko Muryanto, Susmono, Poedjastanto (Dep PU), Johan Susmono, Sofjan Bakar (Depdagri), Hening Darpito dan Wan Alkadri (Depkes). Sementara pada tataran teknis ada Oswar Mungkasa, Nugroho Tri Utomo, Maraita Listyasari, Pungkas AB, Hadiat (Bappenas), Indar Parawansa, Rheida Pramudhi, Helda Nusi, Rewang Budiyana, Togap Siagian (Depdagri), Savitri Rusdiyanti, Rina Agustin, Tamin MZ Amin, Bambang Purwanto, Essy Assiah, Raymond Marpaung, Handy B. Legowo, Kati Andraini, Endang Setyaningrum (Dep PU), Supriyanto, Zainal Nampira, Ismael, Sutjipto, Djoko Wartono 1 (Depkes), dan Iim Ibrahim (LH) ). Mereka secara bersama-sama atau terpisah, dengan bersungguhsungguh mendampingi fasilitator WASPOLA, terutama di awal musim fasilitasi. Dengan kehadiran anggota Pokja AMPL yang mewakili pemerintah pusat itu, para pengambil kebijakan di daerah, baik eksekutif maupun legislatif, menjadi lebih mudah memahami dan menerima Kebijakan Nasional. Untuk “membidik” pengambil kebijakan tertinggi di daerah, kehadiran anggota Pokja itu menjadi mutlak. Apalagi, Pokja AMPLlah yang kemudian akan menindaklanjuti pembangunan setelah program WASPOLA berhenti atau berganti. Dengan kehadiran mereka di daerah pada awal fasilitasi, setidaknya dapat memperoleh gambaran mengenai daerah bersangkutan. Informasi langsung ini sangat penting untuk memudahkan pemetaan
1) Beberapa pejabat telah pindah tugas atau pensiun

32

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

di tingkat pusat sehingga dapat menentukan modus intervensi yang tepat bagi masing-masing daerah. Selain itu, juga untuk memudahkan dalam menemukan modus yang hendak diterapkan di daerah dampingan baru. Kehadiran anggota Pokja Nasional di daerah dan keinginan untuk tinggal lebih lama, kerap dihadapkan pada keterbatasan waktu dan banyaknya daerah yang harus dikunjungi. Dengan dampingan yang berjumlah 9 provinsi dan terdiri dari 63 kabupaten/kota, sementara anggota Pokja Nasional sangat terbatas, tentu tidak mudah untuk selalu bisa hadir di semua daerah itu. Namun, itulah yang kiranya menjadi pekerjaan rumah bagi Pokja AMPL Nasional, yakni menyiasati agar daerah dampingan selalu merasa didampingi sekalipun tanpa kehadiran yang bersifat fisik. Di sinilah mungkin peran teknologi komunikasi bisa dioptimalkan.

3.3 Strategi Komunikasi Kebijakan
Menyadari tingginya permintaan akan fasilitasi Kebijakan, Pokja AMPL Nasional-pun mengembangkan strategi penyebarluasan dan pengkomunikasian kebijakan. Pilihannya antara lain mengembangkan majalah PERCIK yang diterbitkan setiap triwulan. Majalah ini menjadi media informasi berbagai persoalan dan program yang sedang berlangsung di seputar AMPL. Dalam perjalanannya majalah ini boleh disebut sebagai media paling komprehensif menjelaskan persoalan AMPL di Indonesia. Informasi yang disajikan sangat membantu pembaca dan publik untuk memahami kondisi dan perkembangan informasi mengenai seluk-beluk AMPL di Indonesia. Selain itu, majalah ini juga di terbitkan dalam versi bahasa Inggris. Manfaat PERCIK dirasakan bagi Pokja Daerah sebagai sarana komunikasi dan penyebaran informasi, berbagi pengalaman, menampilkan inovasi dan praktek terbaik AMPL sebagai pembelajaran di daerah. Disamping itu Pokja AMPL dari Sumatera Barat, Gemala Ranti menyatakan bahwa, “Percik diharapkan menjadi wadah interaksi sehingga terjadi networking dari berbagai pihak di sektor ini, dan terutama tetap ada komunikasi pusat dengan daerah yang rutin”.

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

33

Namun dalam perjalanannya ternyata satu media saja tidak cukup. Derasnya kebutuhan dan kecepatan penyebarluasan informasi, mengharuskan Pokja AMPL menyediakan perangkat informasi yang bersifat selalu terbarui (up to date), antara lain melalui situs dan surat elektronik. Dan menyadari bahwa tidak semua isu AMPL dapat dimuat di majalah, diberikanlah layanan informasi online melalui www.ampl.or.id. Dalam situs tersebut disediakan ruang interaktif yang melibatkan publik secara luas. Masyarakat, terutama para pegiat AMPL di daerah, bisa bertanya atau berbagi pengalaman dengan jaringan mitra di seluruh Indonesia. Arsip situs tersebut memuat pula berbagai artikel, berita, buku, dan informasi lain menyangkut AMPL. Untuk segmen yang berbeda, juga disediakan media informasi berupa leaflet, poster, booklet, buku pegangan, spanduk, book mark dan sebagainya. Untuk lebih meningkatkan interaksi diantara pokja AMPL daerah dan juga turut membantu penyebaran informasi kegiatan pokja AMPL daerah diluncurkanlah situs pokja AMPL daerah, yang bisa diakses di http://daerah.ampl.or.id Hal menarik lainnya adalah milis AMPL atau surat elektronik yang bersifat informal. Milis ini makin hari makin banyak anggotanya, baik pelaku sektor maupun awam. Para pejabat, tenaga ahli, LSM, akademisi, swasta maupun masyarakat saling berdialog, mengangkat permasalahan, saling berbagi dan memberikan solusi satu sama lain. Ruang dunia maya yang sangat informal dan akrab, tetapi sangat dirasakan manfaatnya dalam membangun kebersamaan. Tentu saja upaya ini semakin memperluas ruang publik AMPL. Sedangkan bagi daerah yang belum memungkinkan internet, dilakukan juga pendokumentasian isu dan kegiatan AMPL melalui news letter, sehingga proses informasi dan sharing knowledge di sektor ini terus berjalan. Terobosan lain yang sangat dihargai oleh kalangan daerah, adalah terbitnya PERCIK YUNIOR. Media yang disajikan untuk remaja dan anak-anak itu dianggap mampu mensosialisasikan persoalan AMPL secara komunikatif sejak dini. Dengan kehadiran PERCIK YUNIOR, para aktivis AMPL daerah merasa punya rujukan yang praktis dalam sosialisasi PHBS. “Paling tidak, saya bisa memulai kampanye PHBS kepada anak-anak saya sendiri,” kata Nuryanto dari Pokja Banten. “Saya tidak harus banyak bicara tetapi cukup

34

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

memberikan PERCIK YUNIOR. Anak saya sangat antusias membacanya.” Dalam setiap pameran maupun lokakarya yang diadakan di daerah, PERCIK YUNIOR selalu habis tak tersisa.

3.4 Sinergi Pelaku AMPL
Selain upaya di atas, Pokja AMPL dan WASPOLA membidik celah lain yang saat ini masih memprihatinkan. Tidak mudah mempercepat proses perbaikan kinerja AMPL, apalagi fakta memperlihatkan bahwa sampai dengan tahun 2005 isu AMPL masih saja menjadi isu pinggiran, sehingga belum menjadi perhatian dari pengambil keputusan. Indikasi tersebut terlihat jelas dari hasil studi review pembiayaan AMPL 2003-2005, anggaran pembangunan AMPL hanya berada pada kisaran 0,01 % sampai dengan 1,37% dari belanja APBD. Maka tidak mengherankan apabila sampai saat ini lebih dari 100 juta penduduk Indonesia yang tersebar di 30 ribu desa tidak memiliki akses air. Cakupan layanan air minum di Indonesia menurut data Susenas 2008, secara keseluruhan baru mencapai 57,96 %, di pedesaan 52,10% dan perkotaan 56,79% dan baru 18,3 % yang terlayani dengan sistim air minum perpipaan (PDAM). Sedangkan cakupan pelayanan sanitasi adalah sekitar 69,34 % (termasuk lobang tanah), angka tersebut lebih banyak di perkotaan sebesar 81,78% dan di pedesaan baru sekitar 59,96% yang terlayani. Bukan persoalan pendekatan yang top down saja yang menjadi penyebab permasalahan AMPL. Tetapi disisi lain kebijakan pemerintah belum terpadu, banyak program sering tumpang tindih, sedangkan para pemangku kepentingan yang peduli terhadap AMPL masih berjalan sendiri-sendiri. Basah Hernowo mantan Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas mengatakan, “Everybody concern, tetapi nobody concern.“ Situasi ini kalau terus berlangsung ya tidak akan terjadi peningkatan kinerja AMPL yang cepat, semua melakukan upaya tetapi seperti berjalan di tempat. Pokja AMPL memandang bahwa suatu tantangan bisa dilihat baik sebagai penghalang maupun sebagai peluang. Oswar Mungkasa

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

35

menjelaskan situasinya “Untuk memperbaiki koordinasi pelaku sektor AMPL dan membangun kekuatan bersama yang lebih besar tidak cukup hanya dengan Pokja AMPL. Dibutuhkan sinergi yang lebih luas dan itu memerlukan suatu wadah”. Ditambahkan pula bahwa, “Mengatasi permasalahan ini hanya melalui pemerintah tentu sangat sulit dan memakan waktu yang lama”. Untuk menjawab tantangan tersebut WASPOLA dan Pokja AMPL Nasional, yang kemudian dalam pelaksanaannya didukung lembaga lain yaitu Jaringan Air dan Sanitasi (JAS), berinisiatif untuk mempertemukan semua pemangku kepentingan di tingkat Nasional. Awal bulan Februari tahun 2007 dilakukan lokakarya mengenai potensi Jejaring, sinergi yang bisa dilakukan bersama dan manfaat bagi pemangku kepentingan. Berbagai instansi dari lembaga pemerintah, proyek, LSM, perguruan tinggi, PDAM, asosiasi profesi, organisasi masyarakat dan media massa yang representatif mewakili seluruh pemangku kepentingan berkumpul untuk mendiskusikan bersama gerakan apa yang bisa membantu mempercepat perbaikan kinerja pembangunan AMPL. Gagasan yang kemudian muncul dalam pertemuan tersebut, adalah suatu kebutuhan yang sama yaitu wadah yang dapat mengkomunikasikan kebutuhan dan kepentingan dari berbagai pihak sehingga setiap pihak bisa saling berkontribusi dan saling bersinergi untuk memperbaiki kinerja pembangunan AMPL. Maka mulailah bergulir gagasan membentuk Jejaring AMPL yang bersifat inklusif diantara semua pemangku kepentingan yang ingin terlibat. Kesungguhan ini dilanjutkan dengan pertemuan yang lebih intensif pada bulan Juli dan Agutus 2007 yang lalu, dan akhirnya menghasilkan visi, misi, konsep dan arahan strategis Jejaring AMPL ke depan. Pada tanggal 8 Oktober 2007 sekitar 40 lembaga menyatakan kesepakatan bersama untuk pembentukan Jejaring AMPL yang terbuka dan independen. Jejaring AMPL berperan sebagai mediator dalam mensinergikan potensi dari berbagai pemangku kepentingan, pusat informasi, tukar pengalaman dan pengetahuan, pendukung kajian bagi solusi atas permasalahan AMPL serta penyebar informasi, teknologi, metodologi dan praktek terbaik AMPL di Indonesia, termasuk nantinya berkontribusi kepada pembangunan AMPL di daerah.

36

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

3.5 Sinkronisasi Donor dan Kemitraan Proyek
Salah satu tolak ukur keberhasilan dari sisi kelembagaan Pokja AMPL adalah kuatnya fungsi dan peran Pokja AMPL Nasional. Indikasi ini ditunjukkan dalam bentuk inisiatif dan inovasi Pokja dalam upaya mengkoordinasi donor dan proyek melalui kegiatan Pokja AMPL, sehingga tidak terjadi tumpang tindih yang nantinya akan membingungkan daerah pelaksana. Dari pengalaman lalu menunjukkan bahwa ada beberapa proyek yang dilakukan di salah satu wilayah, padahal ada wilayah lain yang juga membutuhkan belum pernah difasilitasi proyek AMPL sama sekali. Mekanisme koordinasi dan evaluasi kegiatan yang terpadu ini nampak mulai intensif dilaksanakan. Pada akhirnya nanti diharapkan koordinasi yang baik meningkatkan kinerja pelayanan AMPL yang lebih merata, terutama daerah-daerah miskin yang belum tertangani. Beberapa kegiatan lembaga donor dan LSM seperti PLAN Indonesia dan UNICEF sudah diintegrasikan dibawah POKJA AMPL Nasional. Demikian juga proyek yang dikerjakan dari berbagai departemen seperti SANIMAS, PAMSIMAS, CWSHP, WSLIC2, Pro Air kemudian STBM dan CTPS dan sebagainya telah menjadi bagian dari proses perbaikan koordinasi bersama. Secara substansial tim WASPOLA aktif terlibat, sehingga memungkinkan terjadinya sharing knowledge dalam ‘memaknai’ Kebijakan Nasional di lapangan dan tentu dimaksudkan untuk terjadinya replikasi yang berkelanjutan. Sebagai salah satu bagian dari exit strategy, berbagi pengalaman seyogyanya jangan terhenti, karena merupakan sumber pembelajaran yang bernilai. Maka jejaring AMPL adalah langkah strategis untuk keberlanjutan pembangunan AMPL, sekaligus upaya percepatan pemenuhan target akses dan cakupan pelayanan AMPL di Indonesia. Menyorot peran Pokja AMPL Nasional yang kian hari kian menunjukkan eksistensinya, tampaknya Pembangunan AMPL di Indonesia benar-benar akan bisa diwujudkan secara berkelanjutan
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

37

dan berkesinambungan. Pada sisi lain tidak diingkari bahwa operasionalisasi Kebijakan Nasional yang dirancang untuk memecahkan masalah pembangunan AMPL di Indonesia, merupakan pertaruhan pada tingkat akhir. Apabila operasionalisasi Kebijakan Nasional sampai ke tingkat yang paling konkrit di daerah masih juga mengalami kegagalan, habis sudah harapan untuk bisa mengangkat harkat dan martabat masyarakat miskin melalui pembangunan AMPL, sebab apa yang dilakukan kini sudah merupakan kerja habis- habisan.

*****

38

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

BAB IV

PENYEGARAN KEMBALI DENGAN CARA PANDANG YANG BARU
Program pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan bagi daerah bukanlah sesuatu yang baru. Sebelum fasilitator WASPOLA mensosialisasikan Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM, setiap daerah telah melaksanakan pembangunan AMPL dengan berbagai macam nama hanya kadar pendekatannya yang berbeda. “Fasilitasi WASPOLA itu semacam penyegaran kembali dengan cara pandang yang baru,” kata Agung T. Prabowo dari Pokja AMPL Jateng. Hasil fasilitasi yang dilakukan WASPOLA di empat daerah yang dikunjungi dalam rangka penulisan buku ini terlacak melalui berbagai cara baik dengan wawancara, pengamatan, dan sebagainya. Berikut ini adalah proses pembelajaran di empat daerah yang mewakili empat provinsi dan satu potret AMPL-BM di desa Olimoo’o. Tentu keempat daerah ini tidak dapat merepresentasikan semua daerah dampingan, tetapi paling tidak dapat memberikan gambaran singkat bagaimana spirit kebijakan diimplementasikan dalam pembangunan AMPL.
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

39

4.1 Banten: Isu AMPL Menembus Semua Lini
Wajah warga Desa Sindanglaya Kecamatan Sobang Kabupaten Lebak, sekarang tampak lebih cerah. Mereka bisa mandi dua kali sehari, mengambil air wudlu pada saat tiba waktu shalat, menyiram tanaman, dan memberi minum hewan peliharaan. Sebelum 2006, semua itu masih menjadi mimpi. Setidaknya satu jam waktu terbuang di pagi hari dan satu jam di waktu siang atau sore, hanya untuk mendapatkan air bersih. Mereka harus berjalan melalui jalan setapak dan pematang sawah lebih dari satu kilometer untuk menuju sumber air. Lalu mereka mengantri dan membuang waktu dengan mengobrol sampai tiba giliran menggunakan air. Mesjid desa dengan sendirinya sering kosong, apalagi di waktu Subuh, sebab warga kesulitan untuk mengambil wudlu. Bagi mereka, tak terbayangkan bagaimana air bisa mengalir ke rumah. Kondisi geografis yang berbukit-bukit dan jalanan naik-turun, membuat mereka pasrah menadah curah hujan untuk mengairi sawah dan ladang. Sobang memang terletak di daerah tertinggi, tepat di jantung Kabupaten Lebak. Kini air mengalir lancar di rumah mereka. Mesjid menjadi lebih penuh oleh warga yang shalat berjamaah. Bapak-bapak punya waktu cukup untuk bekerja. Ibu-ibu bisa lebih memerhatikan lingkungan rumah. Anak-anak dapat berangkat sekolah tepat waktu. Semua itu karena mereka mau terlibat dalam program pembangunan air bersih sekalipun harus mengeluarkan tenaga dan dana yang cukup banyak bagi ukuran ekonomi mereka. Dari dana stimulan sebesar 75 juta rupiah mereka membayar iuran untuk menutupi sisa kebutuhan dana yang mencapai 25 juta rupiah. Begitu pula dengan tenaga. Mereka bekerja siang-malam selama hampir seminggu untuk memasang pipa air sepanjang tiga kilometer, dari sumber di atas bukit dan dialirkan ke penampungan umum lalu ke masing-masing rumah. Itulah gambaran program AMPL di Lebak, Banten. Berkat fasilitasi dari Pokja Kabupaten yang dimotori Anwar Rusdi, warga Sindanglaya bisa lebih produktif dibanding sebelumnya. “Disini memang masih ada yang kurang, yaitu pembangunan di bidang penyehatan lingkungan belum di prioritaskan. Saat ini

40

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

fokus pembangunan lebih pada penyediaan air. Pokja Kabupaten memahami benar bahwa kemampuan warga masih terbatas”. Kata Anwar menjelaskan. “Pada tahap selanjutnya, kami akan mengajak mereka untuk menggarap sanitasinya dengan model CLTS,” papar Anwar bersemangat. Implementasi lapangan memang sangat bergantung pada tanggapan dan kesanggupan warga. Di Sindanglaya, kampiun atau champion seperti Anwar harus bekerja dua kali, untuk penyediaan air minum dan kemudian untuk peyehatan lingkungan. Namun, itulah harga dari konsep berbasis masyarakat yang sangat menekankan faktor tanggap kebutuhan. Warga Sindanglaya baru merasa butuh air, sementara untuk penyehatan lingkungan, mereka harus berupaya lebih lanjut untuk menyadarkan masyarakat. Proses penyadaran seperti itu tentu memerlukan waktu dan tidak boleh dilakukan dengan upaya pemaksaan.

4.1.1 Sosok Penggerak atau Kampiun
Banten menghadapi dua hal krusial paska reformasi 1998, otonomi daerah dan pembentukan provinsi baru. Memang ada kebanggaan tersendiri “terlepas” dari Jawa Barat, tetapi di fihak lain juga ada kekosongan SDM di hampir semua lapisan birokrasi. Kekurangan SDM itu memunculkan berbagai keputusan pragmatis, dari mulai melakukan merger antar instansi, sampai penghapusan lembaga yang tidak didukung SDM sama sekali. Pelimpahan wewenang dan kekuasaan kepada kabupaten telah memutus rantai komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah provinsi. Di tengah kondisi yang dilematis seperti itulah WASPOLA memulai fasilitasinya di Provinsi Banten. Pada tahun pertama, program AMPL yang ditawarkan berjalan lamban. Ini terjadi karena fasilitator WASPOLA “salah masuk” dalam mengawali program, yaitu dengan langsung mendatangi mitra kerja di tingkat kabupaten. Pilihan tersebut membuat mitra kerja di tingkat provinsi merasa tidak dilibatkan. Menyadari kesalahan itu, pada tahun kedua WASPOLA mengganti fasilitator dan memulai langkah kegiatannya melalui provinsi. Bagai gayung bersambut, program diterima di tingkat provinsi. Tidak lama setelah merubah strategi pendekatan pada tahun ke-2, WASPOLA mulai menemukan sosok penggerak
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

41

yang diharapkan bisa menjadi kampiun kelompok kerja, seperti Nuryanto dan Iswahyudi. Keduanya pejabat di Bappeda dengan dua latar belakang yang saling mendukung. Nuryanto pernah bekerja pada Dinas Pekerjaan Umum, sedangkan Iswahyudi dulunya adalah penyuluh pertanian. Di Bappeda keduanya menempati pos yang juga dapat saling mengisi, yaitu subdit fisik dan sarana serta subdit sosial dan kebudayaan.

4.1.2 Komitmen Daerah
Status Banten sebagai Provinsi, kini telah memasuki tahun ketujuh, dengan tiga pilar pembangunan yaitu revitalisasi kawasan, pembangunan ekonomi bertumpu pada pertanian, dan pemberdayaan. Pemerintah Banten ingin mewujudkan provinsi yang mandiri, maju, dan sejahtera. Di Banten, seperti diakui Sekretaris Daerah Hilman Nitiamidjaya, tingkat kemiskinan dan pengangguran masih sangat tinggi. Oleh karena itu, pemerintah provinsi sangat mendukung program AMPL-BM. Program ini dinilai layak untuk dikembangkan karena implementasinya tidak rumit. Di Provinsi Banten pada tahun 2004, satu satunya Kabupaten yang mengikuti program ini adalah Kabupaten Lebak. Kini semua kabupaten di Provinsi Banten telah mengikutinya dengan capaiannya masing-masing. Komitmen Provinsi Banten untuk melaksanakan operasionalisasi Kebijakan Nasional, sedikitnya ditunjukkan oleh dua aspek, yakni diterbitkannya SK Pokja AMPL, dan alokasi anggaran untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Anggota Pokja Provinsi menyadari bahwa sesungguhnya pelaksanaan kegiatan AMPL di Banten merupakan indikasi bahwa daerah tersebut dikategorikan miskin. “Kami menyadari hal itu”, kata Kepala Bappeda Provinsi Banten Drs. Karimil Fatah, MM. M.Sc. Dikatakan lebih lanjut bahwa: ”Kami menginginkan, agar Pemda bukan saja bertindak sebagai fasilitator, tetapi bisa melaksanakan beberapa kegiatan percontohan sehingga target program ini bisa tercapai. Dari aspek manajemen, kami sudah cukup bagus. Sudah ada tim, SDM, fasilitas, dan Renstra juga sudah siap. Tinggal implementasinya. Kami ingin membangun semacam PDAM desa. Pengelolaannya oleh masyarakat sendiri dengan cakupan 50-100 rumah. Pemerintah provinsi nanti akan membantu jaringan pipanya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa dilaksanakan di lima lokasi di setiap kabupaten dan kota, tambahnya.

42

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Untuk meningkatkan capaian pembangunan AMPL di Banten, menurut Hilman, koordinasi harus di intensifkan, baik koordinasi dari tingkat pusat ke provinsi dan dari tingkat provinsi ke kabupaten, serta koordinasi sampai ke tingkat masyarakat. Lebih lanjut Hilman memaparkan bahwa program AMPL ini diharapkan bisa mencairkan hambatan birokrasi. Selama ini hambatan birokrasi terjadi dari tingkat pusat hingga ke daerah. Terlebih lagi Provinsi Banten sebagai provinsi baru yang dibentuk dalam era otonomi daerah, sehingga sangat tidak mudah untuk mengkoordinasikan program yang seharusnya dapat bersinergi. Dalam melaksanakan pembangunan, sesungguhnya ada kebutuhan untuk melakukan sinkronisasi dan sinergi yang menyertakan semua sektor. Dalam hal ini pembangunan di bidang AMPL sudah berhasil memulainya dan diharapkan akan menjadi satu program pembangunan yang dapat memacu terjadinya sinergi dan sinkronisasi di bidang pembangunan lainnya. Hal ini terlihat dari kemauan dan apa yang telah dilakukan oleh aparat di tingkat kabupaten yang bersedia mengadopsi program dan mengalokasikan anggaran untuk sektor ini. Program pembangunan AMPL tersebut bisa menjadi faktor perekat untuk melakukan koordinasi dalam melaksanakan pembangunan, sedangkan pada pihak lain koordinasi baru bisa dilaksanakan apabila ego sektoral bisa dicairkan. Manakala ego sektoral masih tetap dikedepankan, maka penanganan berbagai masalah yang timbul akan selalu dilakukan dengan pendekatan kelembagaan, mengedepankan kekuasaan, sehingga pengelolaan juga akan bersifat sentralistis. Akibatnya pelaksanaan koordinasi akan menjadi terkendala. mencairkan koordinasi, menjadi pengikat kegiatan, dan menciptakan networking. Kalau terpaku pada tupoksi, program ini tak akan berjalan. Saya berharap pola kerja seperti AMPL tersebut dapat menjadi acuan dalam penerapan “Program AMPL telah mengatasi hambatan birokrasi, program lain di Banten,” jelas Hilman.“Saya optimis dengan kerja keras semua pihak, target MDGs 2015 di bidang AMPL bisa tercapai. Sekarang masyarakat yang sudah terlayani air minum mencapai 53,6% dan untuk penyehatan lingkungan 46%. Lima tahun ke depan, pemerintah provinsi akan mengintegrasikan programprogram lain untuk mempercepat capaian pembangunan AMPL di semua wilayah provinsi” tambahnya dengan mantap.
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

43

Sementara bagi Bupati Serang Drs. A. Taufik Nuriman, MM. MBA, program AMPL sangat penting karena masalah pemenuhan kebutuhan air sangat berat untuk diatasi sendirian oleh pemerintahan kabupaten. Oleh karena itu, sebagai kepala daerah ia sangat mendukung dan berharap agar bisa dilaksanakan sampai tingkat implementasi. Dari aspek birokrasi, ia akan mempermudah semua urusan administasi yang berkaitan dengan AMPL sehingga aparat teknis dapat bekerja optimal. “Pemkab berusaha membantu agar masyarakat bisa menikmati air bersih, terutama di musim kering. Kini Pemkab telah berusaha dengan berbagai cara dan itu bisa terlaksana karena bantuan masyarakat juga. Untuk daerah tertentu yang rawan air Pemkab telah membantu dengan mobil tanki. Alhamdulillah, masyarakat dan pemerintah di sini bisa saling membantu,” tutur Taufik. Setiap daerah memang lain-lain tantangannya. Ada yang bisa secara langsung melibatkan partisipasi masyarakat tetapi ada yang memang harus dibantu oleh pemerintah karena medan yang sangat sulit. Untuk daerah seperti ini, Pemda Serang ikut turun tangan, yakni dengan melakukan pengeboran dan mengolahnya menjadi air bersih. Akan tetapi, menurut Bupati Taufik, lebih murah jika ada program perpipaan karena biaya awal pengeboran dan pemeliharaannya sangat tinggi. Pipanisasi ini lebih cocok untuk di Serang. Sumber airnya bisa diambil dari enam kawasan danau yang ada, jelas Taufik

4.1.3 MURI untuk Jamban Sehat
Kata sinergi itu menjadi niscaya dalam suasana kerja yang dibangun oleh Pokja AMPL Banten. Setiap ada kesempatan, anggota Pokja Provinsi selalu mendorong Pokja kabupaten agar capaian program AMPL terus meningkat. Seperti yang dilakukan Nuryanto, anggota Pokja Provinsi yang kebetulan tinggal di Pandeglang. Melihat kinerja Pokja Pandeglang yang kurang memuaskan, Nuryanto tertantang untuk memotivasinya dengan upaya di luar kedinasan. Sebelumnya ia sudah berusaha mendorong secara struktural melalui Pokja Provinsi tetapi hasilnya kurang memuaskan. Ia lalu mencari upaya lain, di antaranya ialah menyambungkan komunikasi antara Pokja kabupaten dengan LSM yang memiliki perhatian pada AMPL.

44

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Nuryanto sangat terkesan oleh keberhasilan kampanye jamban sehat yang dilakukan PCI (Project Concern International), salah satu LSM yang termasuk mapan di Banten dan berkantor di Pandeglang. Dalam tempo satu tahun, melalui program CLTS, PCI mampu mendorong pembangunan jamban sehat bagi keluarga miskin sebanyak 1.700 buah. Sesuai konsep yang dikembangkan CLTS Pembangunan jamban itu bahkan tanpa subdisi dari pemerintah. Setelah berkomunikasi dengan tim WASPOLA, Nuryanto mengusulkan agar prestasi itu di sampaikan ke Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan melibatkan PCI, Pokja kabupaten, dan Pemda Pandeglang. Sementara Pokja Provinsi dan WASPOLA menjadi pendukung pengusulan itu. Apalagi proses transformasi CLTS kepada PCI itu difasilitasi oleh tim WASPOLA juga. Proses pengusulan rekor itu kemudian berhasil mencairkan hubungan berbagai pihak yang terkait dengan pembangunan AMPL, termasuk PCI yang selama ini rupanya punya kendala dalam berkomunikasi dengan Pemda dan Pokja AMPL kabupaten. Pengusulan pembangunan jamban sehat oleh warga miskin itu ternyata menarik perhatian pengelola MURI. Tanpa proses berbelit, sebuah rekor baru telah dicatat: PEMBANGUNAN JAMBAN KELUARGA SEHAT TERBANYAK DALAM SETAHUN, TANPA SUBSIDI. Upacara penyerahan piagam MURI dilaksanakan bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Pandeglang pada 1 April 2007. Penetapan rekor itu telah menjadi kado istimewa bagi masyarakat Pandeglang.

4.2 Sumatera Barat: Kesinambungan sebagai Kata Kunci
“Saya bercita-cita, di akhir masa jabatan saya, prosentasi masyarakat yang menikmati air bersih sudah semakin tinggi,” ujar Bupati Kabupaten Solok Gusmal Dt. Rj. Lelo. “Saya selalu berkomitmen terhadap pembangunan kesehatan. Bahkan saya berusaha membatasi perdagangan air bersih, karena saya tidak mau masyarakat kehilangan air gara-gara dibisniskan.” Komitmen Bupati Gusmal terhadap sektor AMPL memang tak diragukan. Dialah bupati yang secara jujur mengakui bahwa kemenangannya dalam Pilkada, antara lain karena mengangkat
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

45

isu AMPL sebagai tema kampanye. Di Kabupaten Solok pada tahun 2000, masyarakakat yang terlayani sarana air bersih baru 9%. Solok berada pada peringkat kedua dari bawah untuk gizi buruk se-Sumatra Barat. Pada 2007, angkanya meningkat menjadi 38%. Pencapaian itu tak lepas dari peran Bupati Gusmal yang seolah identik dengan pembangunan AMPL di Solok. Saat masih menjabat Kepala Bappeda, Gusmal mengupayakan agar Solok mendapat program WSLIC 2. Sekalipun dengan datangnya program itu Solok digolongkan sebagai daerah tertinggal, Gusmal tak peduli, yang penting masyarakat mendapatkan air bersih. Bersama semua jaringan mitra, ia mendorong sektor yang berhubungan dengan air bersih menyusun program dan menggolkan setiap unit kerja yang diajukan kepada Pemda. Dalam program WSLIC 2, Gusmal menjadi Ketua Tim Koordinasi Kabupaten. Dia secara aktif melakukan sosialisasi ke masyarakat, bagaimana menyelesaikan permasalahan dan memfasilitasi mereka agar mau menyediakan tanah. Dengan upayanya itu, Solok dapat melaksanakan program WSLIC di 75 desa dalam kurun waktu 5 tahun. “Saya bersama kawan-kawan selalu mengejar peluang program air bersih dari provinsi atau pusat,” tambah Gusmal. Menurutnya, kalau air bersih sudah bisa melayani seluruh masyarakat, maka mereka akan sehat. Mereka akan bekerja dan karenanya bisa menyekolahkan anak-anaknya. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang produktif. Melalui pembangunan AMPL berbasis masyarakat, diharapkan bisa tumbuh usaha rumah tangga yang menggunakan air bersih sebagai bahan baku, sehingga pada giliran selanjutnya akan terbangun ekonomi kerakyatan. Apabila mereka kekurangan dana, atau modalnya kecil, mereka bisa mengakses BPR, Koperasi, dan dana BAZ, yang selalu siap membantu. Dengan air bersih, menurut Gusmal, orang juga akan jadi bersih dan sehat badannya. Dengan sehat itulah mereka bisa meningkatkan kualitas kerjanya.

4.2.1 Dari WSLIC ke AMPL
Di jorong Kampung Baru, nagari Gantung Ciri, kecamatan Kubung, keberhasilan WSLIC 2 bisa dijejaki. Sebelum program WSLIC

46

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

dilaksanakan, di desa ini hanya ada dua rumah yang memiliki jamban. Setelah program dimulai dan air mengalir, pemilik jamban menjadi 38, lalu meningkat menjadi 80 rumah. Menurut Eti Herawati, Ketua Badan Pengelola Pemakai Air (BPPA) Jorong Kampung Baru, anggota membuat dan menyepakati bersama aturan pemakaian air dan perawatan sarana. Selain kesediaan membayar biaya pemasangan sambungan rumah, anggota baru disyaratkan sudah memiliki bak penampungan air dan jamban. Secara telaten, Eti dan pengurus lain menarik iuran bulanan dari warga sehingga pemeliharaan sarana dapat dilakukan. Obsesi Eti sekarang adalah memenuhi kebutuhan air untuk jorong lain. Ia ingin meningkatkan sambungan hingga mencapai 200 rumah. Karena sumber air yang ada dianggap kurang, kini ia bersama jajaran pengurus BPPA sedang mengupayakan sumber air yang baru. Oleh Mardan, salah seorang anggota Pokja AMPL Solok, ia disarankan agar mengajukan permohonan itu kepada Wali Nagari, agar di prioritaskan untuk dibahas dalam musyawarah perencanaan pembangunan nagari (Musrenbangnag). “Tetapi tanah yang digunakan untuk penampungan air, tetap harus disediakan oleh warga” tegas Mardan, “Pemda Kabupaten Solok tidak mungkin bisa memenuhi semuanya,” tambahnya. Dengan demikian, di jorong ini, paket AMPL bisa dilaksanakan dengan baik dan terbukti masih bisa bertahan setelah tujuh tahun. Papan nama WSLIC-2 masih kokoh berdiri. Prinsip kebijakan AMPL dan strategi pelaksanaannya, bisa dilihat di jorong ini beberapa tahun sebelum program AMPL secara resmi diujicobakan. Keberhasilan itu sangat ditunjang oleh peran Pemda dan aparat yang memrioritaskan sektor AMPL. Keberhasilan di jorong Kampung Baru, juga menjadi fakta sebuah program yang berkesinambungan. Setelah program WSLIC-2 selesai, monev tetap bisa dilakukan melalui program AMPL. Menurut Mardan, apapun nama programnya tidak menjadi masalah, asalkan Pemda berkomitmen kepada kepentingan rakyat. “Sekarang, semua program yang berkaitan dengan air bersih dan sanitasi, berada dalam koordinasi Pokja AMPL,” jelas Mardan.

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

47

4.2.2 Tiga Pilar Solok
Ketika program AMPL ditawarkan pada 2003, Gusmal menjadi Ketua Pelaksana Pokja AMPL Solok. Jabatannya lalu merangkak naik sebagai sekretaris daerah. Ia menjadi salah seorang penentu di balik kesuksesan Bupati Gamawan Fauzi yang kemudian terpilih sebagai gubernur Sumatera Barat. Maka ketika ia terpilih menjadi Bupati Solok periode 2005 – 2010, program AMPL pun semakin berkembang. Tak salah kalau Gusmal disebut sebagai pejabat karier yang menggunakan sektor AMPL sebagai basis isu politiknya. Menurut Gusmal, pembangunan kesehatan adalah sektor utama pembangunan. Di dalamnya air bersih menjadi komponen utama di samping pola keluarga berkualitas, yakni keluarga berencana yang berpendidikan. Air bersih sangat berpengaruh pada pola kesehatan masyarakat. Dengan air bersih, masyarakat akan terbiasa untuk hidup sehat. Untuk menghindari perdebatan dengan DPRD, Gusmal memasukkan tiga isu sentral ke dalam RPJMD dan menjadi Perda sehingga tidak ditolak oleh DPRD. Ketiga isu itu pula yang menjadi pilar pembangunan Solok, yakni pendidikan, ekonomi kerakyatan, dan kesehatan. “Saya buat dengan Perda, karena jika dibuat Perbup, DPRD akan melihat itu sebagai program saya dan karenanya bisa dipatahkan. Dengan Perda, maka ketiganya menjadi program bersama,” papar Gusmal. Ketiga sektor itu bisa berjalan baik karena mendapat dukungan DPRD. Hal yang diperdebatkan hanya berkisar pada lokasi program, untuk plafon dana dan angkanya tidak dipersoalkan lagi. Dengan dukungan penuh ini, banyak program pembangunan air bersih dilaksanakan di Solok. Dukungan kepada tiga pilar itu, menurut Ketua DPRD Hilda Osmiati Ubani, didasarkan pada niatan bekerja untuk kepentingan rakyat. Hal itu tak lepas juga karena sebagian besar anggota DPRD Kabupaten Solok berlatar belakang pendidikan yang merata. Mereka bersepakat dalam satu kerangka pemikiran bahwa untuk menghasilkan manusia unggulan, bermuara dari kesehatan. Dan unsur terpenting di dalamnya adalah ketersediaan air bersih. “Kami menganggap air ini penting, karena SDA kami tidak banyak, kata Hilda. Kalau tidak mengandalkan

48

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

mutu SDM, lama-lama SDA kami akan habis. Dalam pembahasan program, kami melalui komisi B dan C, selalu bertukar pikiran bersama Pemda. Kami berkomitmen mengawal prioritas tiga pilar itu. Kalau ketiganya berhasil, akan menjadi keberhasilan eksekutif dan legislatif”. Hilda mengibaratkan Pemda dan DPRD itu seperti suami-istri. Apa yang dikeluhkan istri, tentu suami harus tahu, begitu pula sebaliknya. Apapun kebijakan yang dilaksanakan eksekutif, asal transparan, pasti didukung DPRD. Dengan demikian antara Pemda dan DPRD tidak ada lagi rahasia. “Transparansi itu menjadi salah satu dasar bagi kita untuk menjalankan roda pembangunan di kabupaten ini. Pemerintahan itu dijalankan oleh eksekutif dan legislatif, jadi kedudukan kami sejajar,” jelas Hilda. Hubungan baik eksekutif legislatif itu tak lepas dari manajeman “pertemanan” yang diterapkan di Solok. Artinya, setiap aparat menganggap pihak lain sebagai teman. Selepas jam kerja kantor, misalnya, para kepala dinas berkumpul di rumah dinas bupati. Mereka berdiskusi ringan sambil minum kopi. “Kami berteman dan membuat sinergi antara birokrat, DPRD, LSM, akademisi, dan organisasi kemasyarakatan”, papar Gusmal dengan bangga. Dari pertemuan cair seperti itulah instruksi bupati yang biasanya formal dan terkesan “memerintah”, dapat diterima dan dilaksanakan lebih baik karena disampaikan secara informal dalam suasana pertemanan. “Kontak per SMS pun bagi saya sudah cukup,” kata Gusmal. Hubungan cair dengan LSM dibuktikan Gusmal dengan menyetujui Elyunus, Direktur LSM LAPAU, sebagai koordinator ADFI. Selama eksekutif dan legislatif benar, tidak ada alasan bagi kami untuk tidak mendukung. Akan tetapi kalau ada yang menyimpang, sampai ke mana pun kami kejar, tegas Elyunus

4.2.3 Menularkan ”AMPL-isme”
Akselerasi progam AMPL di Kabupaten Solok, tak lepas dari peran koordinasi Pokja AMPL Provinsi Sumatra Barat. Sekalipun dibentuk belakangan, kedudukan Pokja provinsi cukup strategis dalam mengawal isu AMPL. Pokja provinsi dapat membantu sosialisasi AMPL ke kabupaten/kota yang lain. Juga dapat mendorong kepedulian pemimpin daerah kepada AMPL melalui berbagai lomba, seperti pemilihan Kota Sehat. Sebuah kota sehat
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

49

meniscayakan pembangunan AMPL yang baik dan benar. Oleh karena itu, dorongan agar Pemda dapat meraih kota sehat, sekaligus sebagai dorongan untuk membangun AMPL. Dengan demikian AMPL bisa masuk dari berbagai sisi, dari sisi kesadaran pemimpin seperti di Kabupaten Solok, atau melalui rangsangan memenangkan sebuah perlombaan tingkat nasional. Menyadari kemungkinan adanya tumpang tindih program yang datang dari pusat, Pokja AMPL secara aktif ikut melahirkan Pergub mengenai Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Sumatra Barat dan menjadi salah satu anggotanya. Menurut anggota Pokja AMPL Youlius Honesty, “Melalui tim ini, semua urusan yang berkaitan dengan kemiskinan, termasuk AMPL, dikoordinasikan agar terjadi kesinambungan program. Jenis program, alokasi anggaran, pemilihan lokasi program, bisa dibicarakan bersama di dalam tim ini.” Di Kabupaten Solok, program WSLIC-2 memang bisa berlanjut ke AMPL, tetapi di tempat lain belum tentu bisa, oleh sebab itu keberadaan tim tersebut sangat diperlukan. Program yang berkaitan dengan bidang AMPL seperti PAMSIMAS dan SANIMAS, juga dibawah koordinasi tim. Tim ini menjadi semacam jaminan terlaksananya prinsip keberlanjutan sebagaimana tercantum dalam Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM. Jika di tempat lain mutasi anggota Pokja AMPL menjadi kendala, di Sumatera Barat dipandang sebagai “berkah”. Kalau seorang aparat ada yang pindah, ia akan melakukan sosialisasi AMPL-isme yang dipahaminya kepada rekan-rekan di tempat kerjanya yang baru. Maka akan semakin banyak orang yang tahu AMPL, bahkan orang yang bukan bidangnya pun dapat mengetahui dengan baik. “Semakin banyak orang yang tahu dan menangani AMPL, maka akan semakin bagus,” kata Gemala Ranti, salah seorang anggota Pokja AMPL Sumatra Barat. Diakui Ranti, AMPL bukan program biasa yang berujung pada proyek pembangunan fisik. Ia merasakan ada internalisasi nilai yang diperoleh selama mengikuti lokakarya AMPL yang dilaksanakan oleh WASPOLA dan Pokja AMPL Nasional, antara lain terciptanya pola komunikasi antar aparat yang lebih cair. Ia juga merasakan peningkatan kemampuan dalam menggali

50

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

pemahaman orang lain, menuangkan pikiran sendiri, lebih fokus pada pekerjaan, dan menciptakan nuansa baru dalam memandang suatu persoalan. Metode pelatihan WASPOLA bisa ia kembangkan pula pada kegiatan-kegiatan lain di kantor. Bahkan untuk kehidupan sehari-hari pun, hasil pelatihan itu bisa memberikan banyak hal sehingga ia bisa lebih mengukur kemampuannya sendiri. “Sebenarnya AMPL itu sudah berlangsung di Sumatra Barat tetapi masih tumpang tindih”, jelas Ranti. “Yang penting sekarang adalah merubah mindset kita bahwa apa yang sudah ada ini bisa kita upayakan bersama. Kita bisa kejar AM-nya dengan program A, lalu PL-nya dengan program B. Bagi saya, AMPL-isme itu lebih pada perubahan pola pikir,” tampah Ranti penuh semangat. Dengan terserapnya pola pikir AMPL-isme, apa pun nama programnya, pembangunan sektor AMPL dapat berkelanjutan. Setiap orang dan setiap program dapat disentuh faktor AMPLnya. Secara kelembagaan, di Sumatera Barat, Pokja AMPL mengawalnya dengan ikut serta dalam TKPK. Aparat daerah sekarang memang bisa lebih inovatif, mengantisipasi kemungkinan perubahan kebijakan dari pusat. Istilah “penanggulangan kemiskinan”, menjadi pilihan yang strategis. Sampai kapan pun, selama di Indonesia masih ada orang miskin, istilah itu tetap akan menjadi program unggulan setiap rezim pemerintahan. Melalui TKPK, Pemda Sumatra Barat sudah tuah sakato (seia sekata) dalam menanggulangi kemiskinan warganya secara berkesinambungan. Tanpa kesinambungan, pembangunan warga miskin memang hanya akan berhenti sebagai wacana. Begitu pula program AMPL, hanya bisa dirasakan manfaatnya oleh warga miskin jika dibangun secara berkelanjutan, baik oleh aparat daerah maupun aparat pusat.

4.3 Provinsi Gorontalo: Komunikasi yang Cair Menciptakan Iklim Kondusif
Kelompok Kerja AMPL Kabupaten Gorontalo secara proaktif melakukan koordinasi pelaksanaan program SANIMAS. Hal itu dimungkinkan karena selaku koordinator Kelompok Kerja, BAPPEDA berkomitmen agar semua program dari pusat yang berhubungan dengan AMPL bisa dikoordinasikan oleh Pokja Kabupaten.
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

51

Bagi Rusman Zakaria, salah seorang kampiun AMPL di Kabupaten Gorontalo, program SANIMAS menjadi tantangan baru. Sebelumnya ia lebih banyak menyebarkan gagasan AMPL di pelosok desa, seperti di Desa Olimoo’o Kecamatan Batudaa Pantai. Sosialisasi SANIMAS menjadi pembuktian bagi Rusman, apakah pola pendekatan yang ditransformasikan oleh WASPOLA bisa diterapkan juga di wilayah perkotaan. Rusman yang selalu tertantang mensosialisasikan program AMPL di wilayah baru, berhasil membuktikannya. Pada tahun 2006, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Program SANIMAS di Kelurahan Kayu Bulan Kecamatan Gorontalo, diresmikan oleh Bupati David Bobihoe. Menurut Rusman, pendekatan personal yang merupakan langkah standar fasilitator WASPOLA pada proses awal sosialisasi program, sangat menentukan keberhasilan kerjasama pada tahap selanjutnya. Rusman menerapkan langkah-langkah standar itu dan menyesuaikannya dengan kondisi setempat. Menurutnya, pendekatan di Olimoo’o dan Kayubulan sudah pasti berbeda, sehingga memerlukan suatu inovasi. Olimoo’o adalah daerah pantai sedangkan Kayubulan masuk wilayah perkotaan. Akan tetapi prinsip pendekatannya tetap sama, yakni berempati pada masalah AMPL yang menjadi kebutuhan pokok warga. Sekalipun dalam pelaksanaannya program SANIMAS menurunkan fasilitator dan panduan pelaksanaan tersendiri, Rusman tidak merasa diabaikan. Ia dengan telaten membantu fasilitator yang ditugaskan agar cepat at home di Kayubulan. “Kalau perlu, dia sampai dapat jodoh di Kayubulan,” seloroh Rusman. Warga bisa cepat menerima kehadiran fasilitator itu karena didampingi oleh pegawai kabupaten yang mereka percaya. Sebagai hasil, dalam waktu singkat warga menyetujui memberikan kontribusi dalam bentuk tanah untuk lokasi IPAL. Program SANIMAS sangat menekankan pada keikutsertaan masyarakat dalam seluruh proses pembangunan. Bagai gayung bersambut, masyarakat Kayubulan dengan antusias terlibat dalam perencanaan hingga pembangunan dan perawatan. Di atas IPAL yang dibangun di tengah pemukiman warga, terbentang ruang publik yang bisa digunakan berbagai kegiatan masyarakat, termasuk tempat bermain anak-anak. Dengan demikian, warga tidak merasa kehilangan tanah melainkan merasa tanah mereka lebih bermanfaat bagi kepentingan bersama.

52

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Prestasi yang dicapai bukannya tanpa pengorbanan. Rusman memang banyak mengalokasikan waktu untuk kunjungan ke desa/kelurahan binaan. Tidak ada tambahan penghasilan atau keuntungan yang bersifat materi, tetapi ia merasakan kepuasan batin. “Kalau saya ke daerah dan melihat masyarakat puas atas program yang telah dilaksanakan rasanya bahagia sekali. Semua kepenatan akibat tumpukan pekerjaan kantor bisa hilang. Di setiap desa atau kelurahan itu saya merasa seperti di rumah sendiri,” jelas Rusman tanpa bermaksud menyombongkan diri.

4.3.1 Komunikasi yang Cair
Kebebasan berinovasi yang dilakukan Rusman, tak lepas dari iklim birokrasi di lingkungan pemerintah daerah Kabupaten Gorontalo. Program AMPL memang meniscayakan komunikasi yang cair yang mensyaratkan adanya keterbukaan antarpihak, kesediaan melakukan kompromi dengan menurunkan semangat ego sektoral, kemauan duduk bersama, yang semuanya itu diawali melalui komunikasi yang cair. Cairnya komunikasi di Gorontalo tak lepas dari kepemimpinan Fadel Mohammad yang kini memasuki periode kedua. Berangkat dari misi membangun Gorontalo yang mandiri, produktif, dan berjiwa relijius, reformasi birokrasi berlangsung sangat mencengangkan di provinsi yang baru berusia tujuh tahun itu. Budaya birokrasi yang berbelit dan rumit ditanggulangi dengan komunikasi cair, misalnya melalui layanan pesan singkat (SMS). Sifat birokrasi yang elitis, dirubah menjadi populis dalam melayani kepentingan masyarakat. Untuk mendukung misi itu, dicanangkan lima budaya kerja yaitu: inovasi, teamwork, kesejahteraan, kepercayaan masyarakat, dan kecepatan kerja. Kelima hal itu terpampang di semua kantor pemerintahan, menjadi pengingat semangat kerja bagi para aparatnya. “Kami sekarang merubah orientasi program dari yang semula berorientasi proyek, dirubah menjadi berorientasi kepada masyarakat,” jelas Kepala BAPPPEDA Provinsi Gorontalo Winarni Monoarfa. Orientasi ini selaras dengan semangat AMPL yang berbasis masyarakat. Bukanlah suatu kebetulan apabila tawaran program APML-BM diterima dengan baik di provinsi ini.
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

53

Apalagi masalah utama di Gorontalo adalah kemiskinan, dan kemiskinan itu diakui sangat berhubungan erat dengan air. Ketersediaan air baik secara kualitas maupun kuantitas, diakui Pemda masih sangat kurang. Berdasarkan data BPS, Gorontalo berada pada peringkat ke 3 terendah. Kini, dengan adanya beberapa program seperti AMPL, cakupan telah meningkat mencapai 40%, yang membuat peringkatnya jadi naik. Soal air ini sangat penting karena curah hujan di Gorontalo terhitung rendah. Tak salah jika dalam menyusun target capaian MDGs, Pemda berkomitmen meningkatkan ketersediaan air minum dan kualitas lingkungan. Pada tahun 2005, berdasar data BPS penduduk miskin di Gorontalo 29,68% dan masih termasuk 10 terbawah secara nasional. Secara prosentase penduduk miskin masih berada di atas rata-rata nasional yang berkisar pada angka 15,48%. Karena jumlah masyarakat miskin cukup tinggi, pemda berpandangan bahwa cara yang harus dilakukan adalah melibatkan masyarakat dalam penyusunan program pembangunan. Sampai sejauh ini, usulan yang paling sering mengemuka adalah di bidang pelayanan kesehatan dan pendidikan. Di Gorontalo kebijakan Nasional AMPL dapat diterapkan, karena aparat di tingkat eksekutif maupun legislatif memiliki komitmen yang sama, yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat. “Dengan memiliki pimpinan yang pro kepentingan rakyat, kami enjoy menjalankan program AMPL ini,” kata Isman Uge, salah seorang anggota Pokja AMPL Provinsi Gorontalo. Menurut Isman, masalah yang mengganggu dalam melaksanakan koordinasi adalah perbedaan cara pandang mengenai data. Di Provinsi Gorontalo, antarinstansi yang terkait dengan pembangunan AMPL sudah menyepakati bahwa data yang digunakan adalah data Pokja AMPL yang dihimpun berjenjang dari kabupaten/kota. Masalah timbul ketika data tersebut ditolak oleh salah satu departemen pusat karena beda maksud dan tafsir berkaitan dengan ”data”. ”Ketika di daerah sudah berhasil menyinergikan antar instansi dan ada kemauan untuk sharing data, justru salah satu instansi dari pusat yang notabene tergabung dalam Pokja Pusat AMPL, mementahkan kembali sinergi yang sudah terbangun itu,” papar Isman. ”Kami sangat berharap

54

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

agarantar instansi terkait yang menangani AMPL di pusat benar-benar dapat bersinergi, sehingga tidak membingungkan dan menyia-nyiakan capaian dan komitmen aparat di daerah,” tambah Isman.

4.3.2 Peran BAPPPEDA
Di Gorontalo salah satu hal yang menarik adalah kuatnya peran dan kedudukan BAPPPEDA. Berbeda dari daerah lain BAPPPEDA Gorontalo merupakan kependekan dari Badan Perencanaan dan Percepatan Pembangunan Ekonomi Daerah. “Gubernur memiliki political will untuk menempatkan BAPPPEDA sebagai lembaga yang sangat powerfull. Dengan posisi ini kami bisa lebih mudah melakukan koordinasi termasuk program AMPL”, jelas Winarni Monoarfa, Kepala BAPPPEDA Provinsi Gorontalo. Sejalan dengan hal itu Gubernur Fadel menjelaskan, “Dalam pemerintahan itu ada dua yang merupakan awal dan ujung yang harus dijaga. Awalnya adalah BAPPPEDA sedangkan ujungnya adalah Bawasda. BAPPPEDA membuat perencanaan sedangkan Bawasda melakukan pengawasan agar tidak terjadi penyelewengan uang rakyat. Saya memberi fungsi dan peran besar karena perencanaan yang baik adalah setengah dari pelaksanaan pekerjaan. Dengan kekuasaan yang besar itu, kesinambungan program seperti AMPL bisa dilakukan.” Setiap lembaga di Gorontalo menyelenggarakan pertemuanpertemuan informal secara regular, misalnya di lingkungan BAPPPEDA dibentuk forum BAPPPEDA yang beranggota kepalakepala BAPPPEDA kabupaten dan kota. Pertemuan dilaksanakan dua bulan sekali dengan tujuan mengkoordinasikan program, melakukan evaluasi, dan menampung saran agar masalah yang ada bisa segera dipecahkan bersama. Program semacam AMPL bisa diakselerasi melalui forum seperti ini.

4.3.3 Relasi Eksekutif-Legislatif
Keberhasilan program AMPL di Gorontalo tidak terlepas dari komitmen pemerintah daerah setempat untuk menciptakan pemerintahan yang bersih. Sebagaimana dijelaskan Bupati Gorontalo, David Bobihoe, “Pemerintahan yang bagus bisa
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

55

terwujud kalau dikelola oleh pemerintahan yang bersih. Langkah penting yang saya utamakan adalah menetapkan dulu kebijakan tunjangan bagi seluruh aparat, sebab kalau ditekan untuk bekerja keras sementara kesejahteraanya rendah, mereka tidak mungkin bisa berkonsentrasi.” Kebijakan David mendapat tanggapan sepadan dari DPRD Kabupaten Gorontalo. Fenomena ini sangat menarik, sebab latar belakang partai politik bupati dan mayoritas anggota DPRD berbeda dan berlawanan semasa proses Pilkada. Hubungan eksekutif dan legislatif dalam rangka menunjang kebijakan publik, khususnya terkait dengan AMPL, bisa tergambar pada realisasi APBD. Pada saat reses, anggota DPRD terjun langsung ke daerah pemilihannya untuk merekam apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Dari kunjungan itu ternyata banyak usulan yang berkaitan dengan lingkungan dan kesehatan. Pada APBD 2006, misalnya, terdapat beberapa program yang diprakarsai DPRD. Maka eksekutif dan legislatif sepakat untuk memasukkan usulan tersebut ke dalam APBD. “DPRD-pun sangat peduli terhadap persoalan AMPL,” tegas Arto Naue, Ketua DPRD Kabupaten Gorontalo. “Melalui program AMPL ini masalah kesehatan dan lingkungan bisa diatasi. Kalau air dan lingkungan tidak bersih, kemudian datang wabah, maka satu kampung bisa kejangkitan. Makanya kita dukung sekali program ini. Kalau bicara tentang rakyat, apalagi menyangkut kesehatan dan lingkungan, kami ingin berada di depan. Walaupun dinamika hubungan legislatif dan eksekutif memanas dalam konteks politik, tetapi untuk kepentingan rakyat kami bisa bekerjasama dengan baik,” tambah Arto. Niat tulus untuk mendahulukan kepentingan rakyat dan kemajuan daerah, menjadi titik temu berbagai perbedaan antara eksekutif dan legislatif. Anggota DPRD yang juga dipilih secara langsung oleh rakyat, memikul beban untuk mementingkan kepentingan rakyat. Sebagai wakil rakyat mereka setiap saat siap digugat, “Apa yang anda lakukan untuk rakyat?”. Untuk menjawab gugatan itu, DPRD meminta kepada pihak eksekutif agar tidak ngotot dengan rancangan program yang dibuat, melainkan disinkronisasikan dengan aspirasi masyarakat yang masuk melalui para anggota DPRD. “Di sinilah titik temunya. Kemana angin bertiup ke situ kapal berlayar” ujar Arto seraya berkias.

56

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

4.4 Jawa Tengah: Melebur Ego Sektoral Menjadi Kebersamaan
“Kalau kembali ke tupoksi, program seperti AMPL-BM ini susah untuk diwujudkan,” kata Budi Dibyo, anggota Pokja AMPL Kabupaten Pekalongan Provinsi Jawa Tengah. Ungkapan jujur Budi itu tidak mengada-ada. Proses pelibatan masyarakat dalam pembangunan AMPL, mengharuskan aparat kabupaten menambah jam kerja. Maklum, pertemuan dengan warga ratarata dilakukan malam hari, sebab pagi hingga sore hari warga pergi ke sawah atau berdagang. “Kami terbiasa bekerja lembur”, timpal Slamet yang juga anggota Pokja. Kerja keras Budi dan kawan-kawan tidaklah sia-sia. Mereka berhasil mendapatkan DAK air bersih untuk 18 desa pada 2006 dan 23 desa pada 2007, dengan rata-rata sambungan pipa sepanjang dua kilometer. Dengan pelibatan masyarakat sejak proses perencanaan, sarana AMPL yang terbangun diharapkan dapat lebih terawat dan dapat dimanfaatkan lebih lama. Hasil kerja tanpa lelah itu lalu menjadi kebanggaan ketika lima lokasi DAK air bersih di Pekalongan, dijadikan kasus studi lapangan peserta Lokakarya Nasional AMPL pada Februari 2007. Pekalongan adalah kabupaten tertua dalam dunia perdagangan. Kain batik khas pekalongan sampai sekarang masih menjadi produk unggulan yang menyerap tenaga kerja sampai 20% dari penduduk Pekalongan. Kabupaten yang beribukota di Kajen ini terdiri dari 19 kecamatan serta 283 desa dan kelurahan. Dari 19 kecamatan itu, enam terletak di wilayah perkebunan dan perhutanan, empat bersebar di daerah pesisir, sedangkan lainnya ada di tengah, diantara kedua zone tersebut. Persoalan AMPL menjadi masalah di Pekalongan. Di selatan, wilayah perkebunan dan perhutanan, tadinya merupakan wilayah penyimpan air dengan lingkungan yang nyaman. Namun karena hutan di wilayah selatan ditebang secara berlebihan pada saat hujan air yang meresap ketanah berkurang dan air yang mengalir di permukaan (run off) menjadi keruh karena erosi. Karena air

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

57

yang meresap berkurang maka di musim kemarau terjadilah kekeringan yang sangat, sehingga wilayah selatan kekurangan air. Air di daerah tengah juga sangat diperlukan oleh sektor pertanian, tetapi buangan limbah batik menjadi masalah besar. Sementara di daerah pesisir, mereka juga mengeluhkan air bersih, karena airnya asin. Maka Pemda Pekalongan membuat perencanaan di bidang air dan lingkungan secara menyeluruh, melalui adopsi Program AMPL-BM ini. Dari tahun ke tahun pembangunan di bidang AMPL ini terus meningkat dengan bantuan dari pemerintah pusat dan provinsi. Pada 2005 Kabupaten Pekalongan memperoleh kucuran dana sebasar Rp. 650 juta dan pada 2006 naik menjadi Rp. 1,5 miliar. “Tentunya partisipasi masyarakat harus lebih besar lagi”, ujar Bupati Pekalongan Dra. Siti Qomariah, MA. “Dengan adanya program AMPL-BM, peran serta masyarakat itu jadi lebih mengena dan terbukti tanggapannya cukup baik” tambahnya. Pokja Pekalongan telah membuktikan bahwa pemahaman yang benar atas prinsip kebijakan AMPL, sangat penting dalam pembangunan AMPL, dari mana pun sumber dananya berasal. Alokasi DAK yang biasanya bersifat topdown, ternyata bisa disalurkan dengan melibatkan partisipasi masyarakat, seiring dengan kebijakan AMPL-BM

4.4.1 Sinkronisasi Program
Bagi aparat Provinsi Jawa Tengah, pelibatan masyarakat dalam pembangunan bukanlah suatu hal yang baru karena diwarnai semangat gotong royong yang sudah menjadi budaya setempat. Demikian halnya dalam konteks AMPL, sebelum Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM itu diluncurkan, sudah ada beberapa komunitas warga yang mampu mengatasi persoalan AMPL dengan berbagai kreativitasnya seperti PDAM desa, tetapi sifatnya masih sangat terbatas. Ketika AMPL-BM ditawarkan, maka tak heran kalau program tersebut bisa diterima dengan baik. “Apapun program dari pusat, pada dasarnya akan diterima oleh daerah”, ujar Agung T. Prabowo, anggota Pokja AMPL Provinsi Jateng. “Aparat daerahlah yang kemudian mensinkronisasikan program tersebut sesuai dengan kondisi setempat,” tambah Agung. Dalam penerapan program AMPL-BM di Jateng, Bappeda sebagai koordinator bersepakat dengan dinas terkait

58

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

sebagai anggota tim koordinasi, untuk menjadikan Kebijakan Nasional sebagai payung utama pembangunan AMPL. Maka apapun nama kegiatan yang ditawarkan pusat, prinsip dan strategi AMPL-BM menjadi landasan utama. Dalam pandangan Agung, kalau Pemerintah Pusat memberi perhatian yang lebih pada sektor AMPL ini, laju program ini akan lebih cepat. Menurutnya, masalah AMPL bukan hanya soal air dan lingkungan tetapi jauh lebih luas lagi. “Agak susah kalau koordinasi di tingkat pusat, dalam hal ini Bappenas, hanya membatasi pada Sub Perumahan dan Pemukiman saja. Sementara persoalan lingkungan belum terwadahi,” jelas Agung. Diakuinya, ada persoalan lebih besar yang seharusnya di bidik oleh pusat, terutama sinergi antar instansi yang tidak bisa diatasi oleh pemerintah daerah karena setiap instansi itu memiliki kaitan langsung ke pusat. Kalau pusat bisa menyelesaikan persoalan politis-birokratis itu, pemerintah provinsi bisa fokus pada pengelolaan sistem air, dan pemerintah kabupaten yang mengurus proses pada tingkat masyarakat. Kalau bisa demikian, program AMPL-BM menjadi lebih terstruktur. Jika mengikuti proses seperti yang ditawarkan WASPOLA selama ini, progam memang bisa berjalan tetapi memakan waktu terlalu lama karena pemerintah daerah memiliki banyak keterbatasan. Satu hal yang dikhawatirkan Agung adalah lepasnya momen kesadaran pada pentingnya AMPL-BM ini, akibat tumpukan program dari pusat yang tidak mungkin diabaikan oleh aparat daerah. Sampai 2007, di Jawa Tengah sudah 11 kabupaten yang mengikuti program AMPL-BM. Angka tersebut dicapai secara bertahap. Proses dimulai dengan membuat ranking AMPL tingkat provinsi, kemudian kabupaten/kota dengan ranking paling rendah ditawari untuk ikut program AMPL-BM. Satu per satu kabupaten/kota, secara berurutan dari bawah, menjadi peserta AMPL-BM.

4.4.2 Membangun Hubungan Pribadi dan Institusional
Bahwa fasilitasi WASPOLA sudah berhasil, hal itu tidak diragukan lagi. Anggota Pokja Provinsi dan Kabupaten/Kota di Jawa Tengah mengakui hal itu. Pola pendekatan WASPOLA telah merubah sikap apriori antarsektor terkait AMPL menjadi lebih partisipatif”, kata anggota Pokja Jateng Sukotjo. Akan tetapi,
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

59

meminjam istilah Anung Sugihartono, keberhasilan itu masih pada tataran personal interest dan belum mencapai institusional interest. Keberhasilan seperti ditampilkan Pokja Pekalongan misalnya, lebih sebagai keberhasilan personal dan belum menjadi trade mark institusi. Hal itu memang memerlukan proses panjang. “Tantangannya ialah bagaimana agar pimpinan suatu institusi dapat menginstitusikan personal, dan personal yang ada di dalamnya berperilaku sebagai institusi itu. Hal ini sungguh bukan persoalan yang mudah,“ jelas Anung. Akan tetapi diakui pula bahwa personal interest itu sudah merupakan modal yang baik, sebab sebuah intitusi juga terdiri dari sejumlah personal. Kalau personal interest bisa meluas tentu pada gilirannya akan tercapai suatu institutional interest. Oleh karena itu, keberhasilan AMPL-BM sangat bergantung pada konsistensi pemerintah pusat. Semangat daerah yang sudah menguat, bisa menghilang begitu saja manakala pemerintah pusat tidak mampu menjaga koordinasi yang sejauh ini sudah bagus ditampakkan melalui Pokja AMPL Nasional.

4.5 Olimoo’o: Sebuah Potret Desa AMPL-BM
Gambaran desa nelayan yang kumuh akan langsung sirna begitu memasuki gerbang desa Olimoo’o. Kecemasan setelah melalui jalanan yang naik-turun dan curam, sedikit mengendur. Jalan lurus yang membelah desa tampak bersih sekalipun belum diaspal mulus. “Ini masih Indonesia, Pak!” seloroh Wardoyo anggota Pokja AMPL Gorontalo. Di balik bukit yang seolah tak ada habisnya dalam tiga jam perjalanan dengan kecepatan 10 - 20 km per jam, ternyata ada kehidupan yang menakjubkan. Pagar rumah dari bambu berjajar rapi. Bentuknya beragam tetapi enak dilihat. Jika menengok ke arah utara, tampak tebing tinggi dengan pepohonan lebat. Jika menoleh ke selatan, tampak air laut yang biru sejauh mata memandang. Sebuah desa yang diapit tebing dan laut. Itulah Olimoo, desa pertama di Gorontalo yang memiliki Peraturan Desa untuk Pengelolaan Sumber Air Desa. Tak salah kalau desa ini menjadi salah satu Desa percontohan AMPL. Olimoo berada di wilayah Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten dan Provinsi Gorontalo.

60

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

4.5.1 Ketemunya Ruas dan Buku, AMPL danKebutuhan Masyarakat
Pada tembok pagar balai desa terbaca slogan, Disiplin Nafasku, Prestasi Tujuanku, Persatuan dan Kesatuan di atas Segalanya. Itulah kiranya pegangan warga Olimoo’o. Setelah pemekaran pada 23 Januari 2004, dua setengah tahun berselang desa berpenduduk 721 jiwa itu meraih juara 1 lomba desa tingkat Provinsi Gorontalo. Semangat huyula atau gotong royong warga masih sangat kuat, seiring dengan percepatan pembangunan provinsi yang dipacu oleh Bupati David Bobihoe Akib dan Gubernur Fadel Mohammad. Pilihan pada 23 Januari sebagai hari jadi desa, bukan tanpa alasan. Warga ingin mewarisi semangat revolusioner pahlawan nasional asal Gorontalo Nani Wartabone, yang memproklamirkan kemerdekaan dari penjajah Belanda pada 23 Januari 1942, tiga tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh SukarnoHatta. Semangat revolusioner itulah salah satu modal yang menjadi api semangat warga dalam memacu pembangunan di desa mereka. Melihat jumlah penduduknya, mungkin ada yang menganggap bahwa kemajuan desa itu wajar saja karena warganya sedikit. Namun, jika melihat hasil dari semangat huyula yang mereka usung, anggapan itu tak beralasan. Jumlah penduduk bukan satusatunya faktor penentu, tetapi tingkat partisipasi masyarakatlah yang lebih menentukan. Warga Olimoo’o membuktikan hal itu. Dalam 25 hari mereka merampungkan gedung PKK secara swadaya. Dari stimulan 67 juta Rupiah untuk pembangunan sarana AMPL, warga menghimpun dana partisipasi tak kurang dari 29,5 juta Rupiah. Begitu pula dalam membangun balai desa, perluasan sarana wajib belajar 9 tahun, dan lain-lain. Di bawah pimpinan Ayahanda Hasanudin Ahmad, Olimoo’o berpacu dengan waktu. Hampir semua warga pada usia produktif telah bebas buta huruf. Kini tinggal sedikit manula yang tetap gigih mengikuti program belajar sistem paket. Tak mau kalah dengan Bupati Gorontalo David Bobihoe, yang membuat kontrak kinerja dengan seluruh kepala desa, Hasanudin membuat kontrak yang sama dengan semua kepala dusun di wilayahnya. Dengan demikian ia tahu persis perkembangan setiap warga,
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

61

siapa saja yang masih tergolong miskin, berapa yang kuliah di kota, siapa yang berdagang, bertani, dan menjadi nelayan. Ia punya tabel perencanaan untuk setiap tahun disertai evaluasi hasil kinerja tahun sebelumnya. “Kalau urusan perempuan, silakan tanya langsung kepada Ketua PKK, urusan sosial kepada Ketua LPM, jangan semua ditanyakan kepada saya nanti dikiranya saya mengada-ada,” kata Hasanudin dengan polos disertai tertawa lepasnya yang khas. Lalu dengan lancar masing-masing sektor perangkat desa Olimoo’o memberikan penjelasan. Tak ada kesan acara sudah diatur. Semua terasa alami, ungkapan mereka lugas, apa adanya. UPS AMPL (Unit Pengelola Sarana AMPL) dipegang oleh Latipa Ahmad, didampingi sekretaris dan bendahara yang juga perempuan. Hanya bagian teknis saja yang dipegang laki-laki. Bekerja sama dengan Ketua PKK, Latipa berhasil mensosialisasikan program AMPL ke semua warga Olimoo’o. Dalam bahasa Hasanudin, program AMPL-BM yang ditawarkan di desanya ibarat, “Saling ketemu ruas dan buku.” Sebagai benih, program AMPL sedang dicarikan lahan subur untuk ditanami. Sebagai desa baru, Olimoo’o tengah mencari program andalan untuk memacu pembangunan. Klop. Benih AMPL tumbuh subur di ladang Olimoo’o. Semua tahapan program AMPL dilalui dengan baik. Prinsip kebijakan AMPL-BM, sesuai dengan kadarnya, tampak beroperasi di desa yang memiliki luas 1.800 ha itu. Progam AMPL diakui oleh warga telah mendorong percepatan pembangunan di desanya. Bersanding dengan program PKK, AMPL secara meyakinkan telah menciptakan desa Olimoo’o sebagai kawasan nelayan yang bersih, terpelajar, dan penuh harapan.

4.5.2 Prinsip Kebijakan “dibumikan”
Bagaimana prinsip Kebijakan Nasional bisa beroperasi atau ”dibumikan” di Olimoo’o? Kesediaan warga untuk menanggung kekurangan kebutuhan dana pembangunan sarana tersebut dan kesediaan membayar iuran pada setiap bulannya, menunjukkan pengertian pada air sebagai benda ekonomi. Dalam sosialisasi program, Pokja Kabupaten Gorontalo yang digawangi oleh Rusman Zakaria, memilih daerah sesuai pengajuan proposal yang masuk dalam Musrenbangdes. Pilihan pada Olimoo’o didasarkan

62

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

pada kebutuhan mendesak warga akan air minum. Setelah melihat kondisi alam setempat, Pokja menawarkan pilihan teknologi yang hendak diterapkan, sampai akhirnya disepakati sistem gravitasi yang menggunakan sumber air di wilayah atas desa. Dengan demikian, pilihan yang diinformasikan menjadi dasar dalam pendekatan yang bersifat tanggap kebutuhan. Setelah program berjalan, dirasakan perlu adanya jaminan perlindungan terhadap sumber air. Oleh karena itu, disepakati suatu Peraturan Desa mengenai Pengelolaan Sumber Daya Air yang menitikberatkan kepada perlindungan bersama atas kekayaan alam, terutama air. Kesadaran ini menjadi bukti berlangsungnya pembangunan berwawasan lingkungan. Mereka juga melakukan penghijauan hutan agar daya serap air tidak berkurang. Menyadari tidak semua warga desa berkecukupan, warga yang mempunyai kelebihan dana membantu penyediaan sarana AMPL bagi yang miskin. Untuk sementara, setiap dua rumah warga miskin, dibangun satu sarana AMPL. Jelas bahwa pembangunan AMPL di Olimoo’o menampakkan keberpihakan pada masyarakat miskin. Lalu dengan keberadaan perempuan sebagai ketua, sekretaris, dan bendahara UPS AMPL, maka peran perempuan dalam pengambilan keputusan menjadi sangat signifikan. Ketangguhan dan keuletan perempuan juga terbukti pada pengumpulan iuran bulanan. Secara periodik, setiap dua bulan, diadakan pertemuan besar untuk membahas berbagai perkembangan pembangunan desa, termasuk di dalamnya masalah AMPL. Akuntabilitas proses pembangunan, secara sadar telah dilakukan warga sehingga dapat selalu melakukan pengendalian dan bisa segera memberikan koreksi ketika ada penyimpangan. Sebelum pertemuan itu, khusus untuk sektor AMPL, warga bisa melihat perkembangan dan informasi melalui Lensa AMPL di papan pengumuman yang dipampang di balai desa. Sikap kepala desa yang terbuka dan Pokja Kabupaten yang sabar menunggui setiap proses sosialisasi AMPL, menandakan peran pemerintah sebagai fasilitator, sudah berjalan dengan baik. Warga merasa mendapat ruang yang cukup untuk berkreasi, berpendapat, dan berbuat yang terbaik demi kemajuan desanya.
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

63

Sementara peran aktif masyarakat bisa dilihat dari tingginya partisipasi dalam pembangunan sarana fisik AMPL, pengumpulan dana untuk menggenapi dana stimulan pemerintah, iuran bulanan, kemauan untuk melakukan perawatan sarana, dan lain-lain. Dalam proses memberikan pelayanan yang optimal dan tepat sasaran, UPS AMPL bekerjasama dengan pengurus PKK. PKK merasa terbantu oleh UPS karena program mereka dapat direalisasikan, sebaliknya UPS merasa dibantu oleh PKK dalam berinteraksi dengan warga. PKK Olimoo’o misalnya, memiliki program kebersihan lingkungan dan penyediaan jamban sehat yang sesuai dengan program AMPL. Organisasi PKK yang memiliki otoritas untuk menggerakkan warga, mendorong mereka untuk membangun jamban sehat. Sementara UPS AMPL yang sudah mendapat binaan dari Pokja Kabupaten mengenai jamban sehat, memberikan semacam asistensi teknik dalam pembangunnya. Demikian pula dalam persoalan air minum, UPS AMPL dibantu pengurus PKK dalam sosialisasi program terutama kepada kelompok ibu-ibu. Terlebih lagi di desa itu, air minum memang menjadi kebutuhan bersama yang selama ini menjadi problem bersama pula. Iuran Rp. 2.000 per bulan yang dijalani warga secara suka rela, menandakan pemahaman yang baik bahwa untuk mendapatkan air minum dan merawat sarananya, mereka harus menerapkan prinsip pemulihan biaya. Mereka sadar sepenuhnya bahwa pemerintah tidak mungkin memenuhi semua hal bagi rakyatnya, termasuk dalam sektor AMPL. Dengan ketersediaan sarana air minum dan terciptanya lingkungan sehat itu, pendidikan perilaku hidup bersih dan sehat, lebih mudah dimasyarakatkan. Dengan ketersediaan sarana, pendidikan tersebut dapat langsung disampaikan dengan praktik dan keteladanan.

4.5.3 Gotong Royong Membangun Jamban
Lahirnya Perdes AMPL di Olimoo’o, merupakan wujud kesadaran akan pentingnya aturan bersama yang disepakati. Mereka telah mengembangkan kerangka peraturan, agar partisipasi warga sesuai dengan kapasitas dan kebutuhannya. Warga tidak hanya berpikir untuk masa sekarang, mereka berharap sumber air yang ada bisa dinikmati oleh anak-cucu kelak. Dengan Perdes ini, warga telah menyusun norma, standar, pedoman, dan manual dalam

64

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

pembangunan AMPL. Selain itu, Perdes juga menjadi jaminan untuk peningkatkan pelestarian dan pengelolaan lingkungan. Sudah muncul pula pemikiran di tengah warga, untuk dapat menyalurkan kelebihan debit air dari sumber yang ada ke desa tetangga. Pencarian sumber air baru juga sudah mulai diwacanakan. Dorongan utama mereka lebih bersifat sosial, yakni agar warga desa lain juga dapat menikmati air layak minum dengan mudah. Secara persuasif, Pokja Kabupaten menjelaskan bahwa hal itu bisa menjadi investasi buat desa. Meningkatkan investasi tentu sesuatu yang diidamkan pengurus desa. Persoalannya kembali kepada kesepakatan antardesa, sebab Perdes yang telah dibuat baru mengikat warga Olimoo’o saja. Selain sebagai investasi, wacana itu juga menjadi upaya pengembangan motivasi masyarakat. Di samping itu, Pokja Kabupaten juga tengah menyiapkan fasilitasi AMPL untuk desadesa lain dengan menjadikan Olimoo’o sebagai model. Hal ini akan menjadi investasi nama baik yang membuat warga Olimoo’o terpacu untuk selalu menjaga apa yang telah mereka raih. Dasar sosial itu pula yang telah ditunjukkan warga ketika mereka memberi akses penggunaan sarana AMPL itu kepada warga satu desa yang tergolong miskin. Upaya khusus pada masyarakat yang kurang beruntung itu dilakukan dengan membangunkan satu jamban untuk dua rumah. Rencana pengurus UPS ke depan adalah membangun satu jamban untuk setiap rumah dengan alokasi dana dari kas UPS dan sumber dana yang lain. Kesepakatan iuran sebesar 2.000 Rupiah per bulan per kepala keluarga, tidak lahir begitu saja. Dengan pembagian hasil 40% untuk pemeliharaan, 40% untuk kas desa, dan sisanya untuk pengurus, mereka sudah menghitung bahwa angka tersebut akan memadai. Melalui rapat desa, pengelola UPS dibantu oleh LPM, telah berusaha menerapkan pilihan pembiayaan kepada warga sehingga mereka tahu penggunaan dana setelah terkumpul. Misalnya soal biaya pemeliharaan yang tidak setiap bulan digunakan, akan menjadi kas UPS yang bisa dipantau oleh warga. Sementara itu, desa juga mendapat bagian untuk menambah pembiayaan pembangunan pada sektor di luar AMPL.

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

65

UPS Olimoo’o dengan sendirinya telah memerankan diri sebagai PDAM untuk tingkat desa. Secara struktural, UPS itu berada di bawah LPM dan pengurusnya ditetapkan oleh SK Kepala Desa. UPS menjadi kepanjangan pemerintah desa dalam pengelolaan AMPL. Keberadaan UPS yang berperan sebagaimana PDAM tersebut telah menjadi bagian dari promosi perubahan pendekatan dari batasan administrasi menjadi pendekatan sistem. Rapat desa yang berlangsung dua bulan sekali, dimanfaatkan warga untuk membahas berbagai persoalan, termasuk AMPL. Forum ini menempatkan warga sebagai pengambil keputusan dari berbagai program yang ditawarkan oleh pengurus desa. Melihat hasil yang ada sejauh ini, terutama dengan lahirnya Perdes AMPL, aspirasi masyarakat tersalurkan dengan baik. Mereka dapat terlibat pada seluruh tahapan perencanaan, pembangunan, dan pemeliharaan sarana AMPL. Pada rapat seperti ini pula warga bisa berbagi pengalaman. Menyangkut AMPL, warga yang telah mengikuti studi banding ke pengelolaan air minum desa di Bandung, membagikan hasil pengamatannya kepada warga lain sehingga bisa dibahas untuk kemudian dicarikan cara yang tepat agar dapat diterapkan di Olimoo’o. Proses ini merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat. Mereka menjadi tahu bagaimana perencanaan, pembangunan, dan pemeliharaan itu dilakukan. Lalu mereka mencari cara yang sesuai dengan kemampuan masing-masing juga dengan kondisi alamnya, sebab tidak mungkin apa yang dilakukan warga Cibodas Bandung serta merta diterapkan di Olimoo’o. Forum ini juga dapat dijadikan wahana untuk meningkatkan kualitas pengelolaan dan meningkatkan kepedulian masyarakat pengguna. Juga untuk mengembangkan pola pemantau dan evaluasi. Sejauh ini, sarana AMPL yang ada terpelihara dengan baik. Semuanya masih baru dan waktulah yang akan menguji kesungguhan warga dalam memeliharanya. Secara faktual, memang belum ada tantangan berarti dalam pemeliharaan sarana yang ada. Akan tetapi, sekalipun ada bagian teknis di dalam struktur kepengurusan UPS, warga memiliki komitmen untuk bergotong royong manakala tenaga dan pikiran mereka dibutuhkan. Hal itulah yang sudah mereka perlihatkan ketika pembangunan

66

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

sarana dilakukan. Mereka terlibat mulai dari pemasangan pipa hingga pembangunan jamban di setiap rumah. Dari forum rapat desa itulah lahir kesepakatan menyangkut pembangunan sarana AMPL, mencakup pengurus UPS, teknologi perpipaan yang digunakan, dan cara pemeliharaan. Studi banding keluar daerah bisa disebut sebagai proses penelitian, keinginan untuk berbagi air dengan warga desa lain bisa disebut sebagai proses pengembangan, dan pilihan pada teknologi perpipaan menandakan bahwa Pokja Kabupaten telah melakukan diseminasi pilihan teknologi. *** Sewaktu meninggalkan Olimoo’o, mobil yang ditumpangi rombongan fasilitator WASPOLA serta Pokja Provinsi dan Kabupaten Gorontalo, sempat melorot turun lebih dari 10 meter karena jalan yang licin dan terjal. Anggota rombongan terkesiap dan kawan yang tertidur terbangun karena kaget. Tetapi pemandangan indah kawasan Batudaa Pantai segera menghibur kami kembali. Pemandangan tampak naik turun, kadang melihat tebing yang hijau, kadang lautan luas yang tampak membiru. Hati kami menjadi tenang lagi sambil coba mencerna pelajaran sangat berharga dari warga Olimoo’o. Rasa syukur terselip di hati kami bahwa semangat dan kesadaran pada pembangunan AMPL-BM telah menjangkau desa yang terletak jauh di pelosok Gorontalo ini. Tanpa disadari, di Olimoo’o kami menemukan harapan tentang Indonesia masa depan. Bukan untuk MDGs 2015 semata, melainkan untuk masa depan anak-cucu bangsa ini. Bahkan di desa itulah kami menemukan sisi Indonesia yang seolah telah ‘hilang’: gotong royong, keramahtamahan, ketulusan, semangat membangun bersama, kepercayaan kepada pemimpin, dan kecintaan kepada rakyat. Mereka tidak mengada-ada ketika menempelkan jargon Disiplin Nafasku, Prestasi Tujuanku, Persatuan dan Kesatuan di atas Segalanya. Dari spirit huyula warga Olimoo’o itulah mudah-mudahan kejayaan Indonesia bisa dijejaki kembali dan pada saatnya dapat diwujudkan. ****
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

67

68

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

BAB V

”AMPL,NEVER ENDING STORY” 5.1. Rangkuman Pembelajaran
Dari pengalaman keempat daerah, hampir semua daerah menunjukkan bahwa implementasi Kebijakan Nasional AMPL Berbasis Masyarakat sebagai pintu masuk untuk keberlanjutan pembangunan AMPL. “Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM disusun untuk mereformasi pengalaman masa lalu sehingga efektifitas dan keberlanjutan pembangunan AMPL menjadi terwujud dalam kenyataan bukan sekedar wacana”, demikian dikatakan oleh Agung T.Prabowo Pokja AMPL Provinsi Jawa Tengah. Fasilitasi WASPOLA melalui lokakarya, lokalatih, diskusi, dan asistensi di lapangan yang dikemas berbeda dari sebelumnya juga telah meningkatkan minat aparat daerah pada isu AMPL. “Dulu kami tidak tahu apa-apa soal pembangunan sarana air, sebab urusan kami semata mata hanya kesehatan,” jelas Jumian, anggota Pokja Pekalongan yang berasal dari Dinkes. “Padahal soal kesehatan sangat bergantung pada kualitas air. Dengan adanya Pokja AMPL, kami bisa duduk bersama menyelesaikan masalah AM dan PL secara bersama pula,” tambahnya. Di beberapa daerah dampingan WASPOLA, Dinas Pendidikan juga dilibatkan karena menyadari pentingnya sosialisasi PHBS, apalagi dalam setiap pembangunan sarana pendidikan, pasti terdapat MCK.
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

69

Dari hasil pengalaman ke empat daerah di atas, terlihat antara lain beberapa catatan pembelajaran baik dari sisi pembelajaran dari Pokja AMPL daerah, pendekatan fasilitasi di lapangan, dukungan dari pusat termasuk munculnya para kampiun di daerah yang mampu mendorong akselerasi implementasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM. Adapun indikator dari keberhasilan WASPOLA dapat terlihat dari beberapa hal yang terekam sebagai berikut.

5.1.1 Melebur Ego Sektoral melalui Kelompok Kerja
“Masalah AMPL ini harus kita ungkit, kita keroyok, dan kita kejar bersama,” papar Gemala Ranti penuh semangat. Di mata mantan anggota Pokja Provinsi Sumbar ini, AMPL-isme yang digulirkan selama ini telah berhasil merubah cara pandang mengenai bagaimana seharusnya melaksanakan pembangunan AMPL, membangun komunikasi yang cair antaraparat daerah, membawa nuansa baru bagaimana mensosialisasikan program pemerintah, mengenalkan cara menggali dan menuangkan pikiran, cara membangun suasana kerja, dan cara mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Lebih jauh lagi Gemala menjelaskan, “Program AMPLBM ini menjadi bekal yang berharga untuk pensiun kelak. Saya tidak bingung lagi akan berbuat apa nanti, karena persoalan AMPL adalah lahan pengabdian yang tak akan pernah habis.” Ada beberapa instansi yang dinilai penting oleh suatu daerah namun di daerah lain tidak dinilai demikian. Sebagian daerah mengikutsertakan PDAM, Distamben, Bapedalda, PLH, dan BPM. Bahkan ada daerah yang menilai masalah AMPL lebih dominan sebagai masalah sosial-budaya sehingga dipandang perlu melibatkan Dinsos. Ada pula daerah yang memasukkan Perguruan Tinggi dan LSM sebagai anggota Pokja. Tentu saja, Bappeda (bidang Fisra, Ekonomi, dan Sosbud), Dinas PU (bidang Kimtaru/Tarkim dan Cipta Karya), dan Dinkes, menjadi pilar utama Pokja Daerah. Hal lain yang juga penting adalah kesediaan antarSKPD untuk berbagi data, dimana selama ini sangat jarang terjadi. Dengan wadah Pokja AMPL Daerah, antarSKPD melakukan sinkronisasi berbagai data AMPL sehingga bisa dihasilkan data bersama.

70

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Program AMPL diakui merupakan program yang utuh dan terintegrasi, melintasi batas-batas sektoral. Fasilitator WASPOLA mengedepankan pendekatan persuasi untuk memotivasi aparat daerah untuk membahas masalah pembangunan AMPL di daerahnya. Satu hal yang penting untuk dicatat ialah bahwa aparat di daerah kini menyadari sepenuhnya bahwa problem AMPL memang harus diatasi secara bersamasama. Kebersamaan itu dengan sendirinya dapat menghilangkan ego sektoral yang menghambat akselerasi pembangunan dan memasung aspirasi masyarakat. Dengan demikian, secara ringkas dapat dijelaskan bahwa program AMPL-BM telah mampu menghilangkan dikotomi yang selama ini terjadi, dan telah mengintegrasikan pembangunan sarana air dengan kesehatan lingkungan di daerah. Semua pihak yang berkepentingan untuk membangun sektor AMPL demi kesejahteraan rakyat, dapat duduk bersama menyelesaikan masalah tersebut melalui Pokja AMPL, melebur ego sektoral dan mencairkan kebekuan birokrasi.

5.1.2 Pembangunan AMPL menjadi Prioritas dengan Penyusunan Renstra di Daerah
Fasilitasi WASPOLA dianggap telah membantu mitrakerja daerah dalam memahami Kebijakan Nasional AMPL, membuat kegiatan yang terjadwal baik, dan mendampingi proses sosialisasinya dengan capaian yang terukur, mulai dari lokakarya hingga tersusunnya Renstra Pembangunan AMPL di daerah. Memang dalam keluaran proyek WASPOLA tidak menyebut target secara eksplisit untuk legalisasi Renstra, tetapi dalam prosesnya diserahkan kepada inisiatif daerah untuk mengembangkan sendiri konsep legalisasi Renstra. Legalisasi Renstra dalam tingkatan paling tinggi saat ini adalah Peraturan Bupati (Perbub), demikian capaian dari beberapa kabupaten dari empat provinsi tersebut dalam buku ini. Bahkan sudah mulai muncul wacana, bahwa Renstra nantinya akan masuk Prolegda (Proses Legalisasi Daerah) sebagai proses rancangan peraturan daerah (Ranperda). Tetapi walaupun demikian pada dasarnya bagi sebagian daerah
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

71

keseluruhan dokumen Renstra dianggap sudah legal. Mengapa demikian, hal ini berdasar (i) Kata pengantar dalam Renstra diberikan oleh Bupati secara resmi; (ii) Sebagian besar Renstra ditanda tangani oleh pemerintah daerah dan dikirim kepada pemerintah pusat dalam hal ini Bappenas u/p Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas. “Nah dengan demikian Renstra Pembangunan AMPL sudah tinggi aspek legalisasinya” demikian ditegaskan oleh Nuryanto mantan Pokja AMPL Banten yang waktu itu termasuk salah satu kampiun di Povinsi Banten. Tantangan atau permasalahan yang dihadapi adalah jika legalisasi Renstra ini hanya dalam tataran Peraturan Bupati, maka masih terbuka ruang pertanyaan dalam proses penganggaran oleh legislatif. Lain halnya apabila legalisasi Renstra sudah sampai pada tingkat perda, maka pihak legislatif tidak bisa mempersoalkannya. “Jika dibuat perbup, DPRD akan melihat itu sebagai program saya dan karenanya bisa dipatahkan. Dengan Perda, maka ketiganya menjadi program bersama,” papar Gusmal, Bupati Solok. Dari pengalaman tersebut diatas, Pokja AMPL daerah belajar semakin menyadari apabila aspek legal renstra semakin tinggi, maka tentu akan semakin mempermudah aspek penganggaran. Akan tetapi semua menyadari perlunya upaya keras untuk menjadikan AMPL menjadi isu prioritas sehingga nantinya menjadi PERDA. Semua menyadari dibutuhkan perjuangan yang panjang.

5.1.3 Mendorong Strategi Peningkatan Anggaran Pembangunan AMPL di Daerah
Upaya untuk meningkatkan anggaran AMPL di daerah, saat ini tetap menjadi tantangan yang berat. Apalagi penganggaran pembangunan AMPL yang spesifik ”berbasis masyarakat”. Seperti diungkapkan dalam bab sebelumnya, dari hasil Studi Review Pembiayaan AMPL 2003-2005, anggaran pembangunan AMPL hanya berkisar 0,01 % sampai 1,37% dari belanja APBD. Jalur yang selama ini dilakukan Pokja AMPL sesuai aturan yang ada, adalah usulan dari SKPD-SKPD yang diilhami dari Renstra Pembangunan AMPL yang sudah disusun. Tetapi seiring dengan

72

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

waktu, beberapa inisiatif baru telah muncul dari daerah. Beberapa provinsi dengan kapasitas yang telah dimilikinya mulai mengapresiasi Renstra, salah satunya dengan cara memberikan insentif berupa block grant kepada kabupaten/kota yang telah mempunyai renstra AMPL. Block grant ini berasal dari beberapa sumber, baik yang murni AMPL maupun dana yang disatukan dengan sektor lain. Provinsi Jawa Tengah, Sumatera Barat dan Banten telah memberikan block grant (dari anggaran yang ada) dalam bentuk hibah kepada beberapa kabupaten/kotanya. Kabupaten Sawah Lunto misalnya menerima hibah dari provinsi Sumatera Barat yang waktu itu mengalokasikan dana Rp. 500 juta untuk kabupaten/kota, dimana komponen utamanya adalah AMPL. Selain itu, upaya lain yang telah dikembangkan adalah upaya menyatukan dengan dana dari sektor lain, misal memasukkan indikator pelayanan AMPL melalui dana penanggulangan kemiskinan. Tidak kalah menariknya adalah terobosan Kabupaten Serang dengan mencari pendanaan AMPL dari proyek luar, yaitu dengan UNESCAP. Kabupaten Kebumen saat ini tengah melaksanakan semacam block grant kepada desa-desa yang mereka klasifikasikan sebagai desa rawan air minum melalui program pilot. Sampai dengan saat ini 27 desa sedang melaksanakan program AMPL, dengan mengajukan perencanaan pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat dengan mengikutsertakan kontribusi yang jelas dari desa/masyarakat setempat. Tidak penting darimana dana itu berasal tetapi bagaimana prinsip melibatkan masyarakat, itu yang lebih penting.

5.1.4 Menjembatani Berbagai Pihak Dalam Satu Meja
Kerjasama pemerintah dan pihak donor dalam program WASPOLA, menjadi jawaban dari kebutuhan terhadap tenaga fasilitator profesional yang dapat menjembatani pemerintah pusat/daerahdonor dan masyarakat maupun lembaga swadaya masyarakat. Di beberapa daerah seperti Banten, Sumbar, dan Gorontalo fasilitator WASPOLA dapat mempertemukan LSM dan Pemerintah di satu meja untuk menyepakati kerjasama di bidang AMPL. LSM tidak lagi berteriak dari luar pagar tetapi dapat mendorong partisipasi semua pihak dari dalam. Keterlibatan itu mempercepat
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

73

pemahaman semua pihak terhadap kondisi khas daerah dan program dapat segera dilaksanakan. Pengalaman panjang pemerintah membuktikan bahwa penyeragaman pendekatan atau standarisasi suatu program tidak lagi bisa dipertahankan. Fasilitator profesional dapat membantu pemerintah menemukan pendekatan yang tepat di daerah yang berbeda-beda. Masalahnya adalah bagaimana agar pemerintah dapat mempertahankan dan memperbanyak fasilitator profesional itu. Kalau keberadaan fasilitator menjadi kebutuhan yang mutlak selama program berlangsung, maka hal itu harus ditetapkan sejak awal sehingga tidak ada skenario penyapihan, bahwa fasilitator hanya membuka jalan dan pada akhirnya aparat pemerintah yang akan melanjutkan program. Skenario penyapihan sampai saat ini masih menjadi pemahaman umum di antara tim WASPOLA. Oleh karena itu, Pokja AMPL Nasional dan tim WASPOLA harus membicarakan masalah ini agar kesinambungan program dapat terjaga.

5.1.5 Mendorong Munculnya Kampiun AMPL
Pendekatan WASPOLA yang lebih mengarah pada komunikasi interpersonal yang cair dengan Pokja AMPL di daerah, ternyata berhasil menyeleksi aparat daerah yang memiliki integritas, memiliki kepedulian pada kepentingan masyarakat, dan memiliki motivasi tinggi untuk memajukan daerah. Pendekatan WASPOLA dalam memfasilitasi dinilai telah mampu meningkatkan kapasitas pribadi aparat di daerah, yakni dalam cara menggali dan menuangkan pikiran, dan cara baru dalam memandang suatu persoalan. Hal ini tak lepas dari metode pendekatan partisipatif dan personal yang diterapkan oleh fasilitator WASPOLA. Dengan meningkatnya wawasan tersebut aparat daerah yang terlibat merasa dapat meningkatkan kapasitas diri di tempat kerjanya dan siap menjadi kampiun atau champion. Pola pendekatan yang dilakukan WASPOLA telah melahirkan kreativitas daerah untuk dapat bersikap luwes dalam berkomunikasi antaranggota Pokja, tanpa melangkahi aturan birokrasi sehingga akselerasi program dapat dilakukan. Fakta tersebut merupakan pembelajaran bahwa program AMPL dapat berjalan baik, manakala komunikasi antar instansi yang

74

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

terlibat dapat berlangsung secara cair. Sebaliknya jika antar instansi masih terdapat hambatan komunikasi, program AMPL berjalan sangat lambat bahkan dalam kasus yang ekstrim mengakibatkan terjadinya kemacetan program .

5.1.6 Menciptakan Regenerasi Fasilitator AMPL
Satu hal yang menjadi keluhan hampir semua anggota Pokja Daerah ialah tidak optimalnya fasilitasi yang diberikan untuk daerah mereka. Selalu muncul harapan agar ada fasilitator yang tinggal di setiap kabupaten, atau setidaknya di setiap ibukota provinsi. Bagi sejumlah daerah, kunjungan fasilitator WASPOLA ke daerah masih sangat kurang. Masalahnya, aparat daerah memiliki tupoksi tersendiri, oleh karena itu urusan AMPL menjadi beban kerja tambahan. Keberadaan fasilitator di daerah, diperlukan untuk selalu mengingatkan dan membantu komunikasi antarinstansi terkait, juga komunikasi daerah dengan pusat. Sekalipun sarana komunikasi sudah sedemikian lengkap dan canggih, masih ada saja kesulitan dari Pokja Daerah untuk berkomunikasi langsung dengan Pokja Nasional. Mungkin faktor daerah-pusat dan persoalan mental masih menjadi kendala. Kehadiran fasilitator WASPOLA paling tidak dianggap mampu menjembatani kesulitan komunikasi itu. Tetapi menyadari bahwa tim WASPOLA tidak selamanya dapat dihadirkan sesuai harapan Pokja Daerah, telah ada suatu upaya yang dilakukan, yakni mengangkat para kampiun di daerah yang dinilai mumpuni, sebagai fasilitator, di luar tupoksinya sebagai PNS dan anggota Pokja Daerah. Apalagi sebagian dari para kampiun itu sudah dalam masa persiapan pensiun. Menjadi fasilitator program AMPL tentu akan membuat mereka lebih produktif pada masa pensiunnya nanti. Pokja AMPL Nasional dan Daerah kemudian dapat menyepakati suatu aturan agar kampiun yang ditetapkan sebagai fasilitator itu mendapatkan hak-hak atas keterlibatan profesionalnya. Hal lain yang telah dilakukan dan terlihat hasilnya di lapangan adalah proses cloning (baca regenerasi) dari pemangku kepentingan yang lain, mengingat persoalan mutasi bagi aparat daerah masih menjadi ancaman keberlanjutan program.
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

75

Di beberapa daerah, aktivis LSM, akademisi, ataupun pers setempat telah terbukti berkomitmen menyukseskan program AMPL dengan menjadi fasilitator. Pada akhirnya, kebutuhan akan hadirnya fasilitator bisa ditanggulangi sehingga ketergantungan kepada fasilitator WASPOLA sedikit demi sedikit bisa dikurangi. Menjadi kewajiban moral bagi para fasiltator WASPOLA yang sudah berpengalaman, untuk melakukan alih ilmu pengetahuan dan keterampilannya kepada para fasiltator daerah yang memang dirancang untuk menggantikan peran mereka. Dalam hal ini Pokja Pusat diharapkan dapat memfasilitasi proses alih pengetahuan dan keterampilan tersebut agar dapat berjalan dengan baik. Apabila kebutuhan fasilitator di daerah bisa terpenuhi maka keberlanjutan dan intensitas pembangunan AMPL dengan pendekatan demand responsive bisa lebih terjaga. Selama ini pengembangan wilayah dampingan untuk melaksanakan kebijakan nasional memang selalu menghadapi kendala ”keterbatasan jumlah fasilitator” yang pada ujungnya adalah ”keterbatasan dana” yang dialokasikan. Akan tetapi bila melihat komitmen pemerintah yang sangat kuat untuk mencapai MDGs di bidang AMPL, seharusnya masalah tersebut bisa di bicarakan dan dipecahkan di tingkat penentu kebijakan di Pusat. Apalagi tim WASPOLA selama ini selalu berpegang pada asumsi bahwa kemiskinan bukanlah hambatan untuk melaksanakan pembangunan AMPL. Artinya, keterbatasan dana itu bisa diatasi dengan kebersamaan semua fihak yang benar benar menginginkan kebijakan AMPL-BM dapat menyebar lebih luas, dan tidak kurang pentingnya, masyarakat mau berpartisipasi dalam seluruh proses pembangunan.

5.1.7 Dukungan Pusat yang lebih Komprehensif
Satu indikator lain yang mengemuka ialah keterlibatan departemen/kementerian yang lebih terpadu di tingkat pusat, sebagaimana yang telah diterapkan di daerah. Harapan ini tak lain agar terjalin koordinasi antara dinas yang terlibat dalam Pokja AMPL di daerah dengan departemen/kementerian di tingkat pusat.

76

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Pada daerah pemekaran, dari tingkat provinsi hingga desa, konsep AMPL-BM cenderung diterima dengan sangat baik. Bisa dimaklumi, daerah pemekaran memerlukan konsep pembangunan mutakhir untuk melakukan percepatan pembangunan, dan AMPL-BM dinilai sebagai salah satu kebijakan yang bisa diadopsi. Memang, tidak semua daerah pemekaran menunjukkan grafik yang selalu menaik, terutama diakibatkan oleh pola mutasi yang sulit diprediksi sehubungan dengan keterbatasan SDM di daerah pemekaran baru. Dukungan yang sangat dirasakan daerah adalah konsistensi kehadiran Pusat di daerah baik dalam kegiatan-kegiatan di lapangan maupun roadshow kepada Pimpinan Daerah yang baru dilantik. Hal ini ternyata menjadi pembelajaran yang penting dalam menciptakan kerjasama yang lebih dialogis antara pusat dan daerah karena terjadi proses mendengarkan dan keterbukaan satu sama lain untuk mengupayakan perbaikan dari kedua belah pihak. Diungkapkan juga oleh Pokja Daerah, konsistensi upaya lintas koordinasi berbagai proyek dibawah payung AMPL di tingkat Nasional menjadi inspirasi daerah dalam mengintegrasikan berbagai proyek agar lebih terkoordinasi dengan baik dan tidak menimbulkan tumpang tindih kegiatan di lapangan.

5.1.8 Kontinuitas Mempermudah Proses Transformasi
Suasana kerja pada Pokja Nasional AMPL, diakui oleh beberapa anggotanya sudah cukup ideal. komunikasi antaranggota terjalin secara cair, misalnya untuk mengkomunikasikan suatu persoalan cukup dengan SMS, tidak perlu pertemuan khusus yang didahului oleh surat menyurat. Capaian itu karena relasi antaranggota terjalin dalam waktu cukup lama dalam menangani persoalan, yakni AMPL. Pada akhirnya, faktor manusia sangat menentukan dalam keberlangsungan sebuah program. Sistem dan aturan main memang penting untuk disepakati tetapi manusia yang menjadi pelaksananya juga tidak bisa diabaikan. Tidak bisa disamaratakan bahwa kalau sistim bagus, siapa pun orangnya, maka program pasti berjalan. Keberlangsungan proyek WASPOLA bisa dipertahankan karena di Pokja AMPL Nasional terdapat pejabat yang secara terus menerus mengawal programsekalipun pewakilan dari departemen yang menjadi
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

77

anggotanya berganti-ganti orang. Begitu pula pada koordinasi program WASPOLA, sekalipun fasilitator silih berganti, tetapi karena terdapat beberapa orang yang sama yang tetap bekerja untuk program ini, maka semangat dari prinsip kebijakan AMPL tetap dapat ditransformasikan dan implementasi tetap bergulir.

5.2 Catatan Kritis untuk Langkah ke Depan
“Sebenarnya, apa yang dibawa oleh proyek WASPOLA itu adalah hal yang sudah ada sejak lama. Melibatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan adalah keharusan aparat pemerintah, tetapi bagaimana bentuk partisipasi yang tepat itu yang perlu dibenahi”. Demikian dikatakan hampir oleh semua nara sumber dari berbagai daerah yang difasilitasi WASPOLA. Menurut mereka, bahwa hal itu tidak berjalan, disebabkan oleh banyak faktor. Pertama, aparat terikat oleh tenggat waktu yang harus dipenuhi sebagai bukti keberhasilan suatu program dan dikejar untuk membuat laporan, sementara partisipasi masyarakat sangat tergantung pada kesadaran dan tidak bisa dipaksakan. Kedua, aparat cenderung menganggap dirinya tahu semua persoalan masyarakat dengan demikian dapat memutuskan secara sepihak mengenai apa yang mereka perlukan. Ketiga, masyarakat pada dasarnya senang menerima bantuan tanpa harus repot-repot mengeluarkan tenaga dan biaya. Banyak pendapat yang disampaikan sesuai dengan latar belakang dan pengalaman masing-masing. Beberapa catatan kritis untuk perbaikan kedepan yang disampaikan dibawah ini, dirangkum dari pengalaman melaksanakan proyek fisik, legalisasi kebijakan, maupun pengalaman WASPOLA dalam melaksanakan fasilitasi di daerah yang perlu dibenahi .

5.2.1 Keterkaitan Kebijakan dengan Proyek Fisik
Ada kebimbangan dari Pokja AMPL daerah, karena kebijakan Nasional AMPL tidak dengan tegas diikuti oleh proyek fisik, misalnya untuk percontohan, tak jarang membuat mitra kerja

78

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

daerah kesulitan menjelaskannya terutama kepada pihak legislatif, terkait dengan penganggaran. Program percontohan ini dinilai penting agar semua pihak di daerah bisa memahami maksud kebijakan itu secara utuh, demikian tanggapan dari Pokja AMPL daerah. Menurut Pokja AMPL Provinsi Banten, pada tingkat implementasi, diperlukan semacam panduan yang standar sehingga Pokja AMPL daerah tidak meninggalkan pekerjaan rumah bagi pengembangan program selanjutnya. Dalam kasus implementasi di Lebak, misalnya, diperoleh fakta adanya sumber air yang tidak terlindungi (terbuka), pemasangan sambungan pipa air yang salah, dan lain-lain. Proyek WASPOLA dianggap punya tanggungjawab moral untuk mengawal program AMPL ini hingga ke tingkat implementasi, bahkan sampai menjadi gerakan nasional. Kalau WASPOLA tidak akan mengawal program hingga ke tataran fisik, harus dijelaskan pihak mana yang akan melakukan hal itu. Sangat tidak diharapkan, program AMPL-BM ini berhenti pada tataran kebijakan yang pada akhirnya hanya akan menjadi “monumen” juga, sesuatu yang sejak awal justru selalu dikritisi. Semua anggota Pokja Daerah mengharapkan agar pemahaman kebijakan yang sudah sangat baik ini tidak terputus di tengah jalan oleh berbagai sebab yang berada di luar kapasitas proyek. Diharapkan pihak Pusat mampu mengsinkronkan proyek-proyek fisik dengan Kebijakan Nasional.

5.2.2 Pentingnya Legalisasi Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM
Keberlanjutan program AMPL, tak dapat dipungkiri, sangat bergantung pada kesinambungan sistim birokrasi. Dengan demikian, pola pendekatan personal yang sudah dirintis WASPOLA, dapat dipertahankan seiring dengan peningkatan legalitas Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM. Maka pada gilirannya, pembangunan AMPL-BM dapat berjalan karena sudah ada acuan yang mengikat di tingkat nasional dan dilaksanakan dengan pendekatan yang cair di daerah. Sementara daerah lama, dengan kapasitas aparat sudah merata, gagasan pembangunan AMPL-BM sebagaimana yang diinginkan di dalam Kebijakan Nasional, lebih dipermasalahkan dari aspek
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

79

kekuatan hukumnya. “Bagi aparat daerah seperti kami, mekanisme penganggaran itu berjalan mengacu pada aturan yang berlaku,” jelas Sudardi, anggota Pokja Jateng. “Kekurangan dari Kebijakan Nasional itu pada aspek legalnya, karena belum bisa dijadikan acuan penganggaran yang bisa disepakati eksekutif dan legislatif. Memang, sekarang dengan inovasi anggota Pokja bisa mengganggarkan dana untuk mendukung kegiatan AMPL, tetapi nilainya tidak signifikan”. Menurut Sudadi, kalaupun ada daerah yang mampu mengalokasikan dana untuk AMPL, lebih karena kemampuan pendekatan personal aparat, bukan karena aturan yang mengikat. Dalam konteks tertentu, seperti untuk menjalin komunikasi agar lebih cair, pendekatan personal sangat penting, tetapi dalam kaitan struktural, kekuatan hukum Kebijakan Nasional mutlak harus ditingkatkan. Dengan status hukum yang jelas, sosialisasi kebijakan AMPL akan menjadi lebih mudah”. Terkait peningkatan status hukum kebijakan nasional, Pokja AMPL Provinsi Jateng melihatnya dari dua sisi. Pertama, sampai saat ini belum ada kepastian sejak kapan Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM itu diberlakukan, apakah sifatnya mengikat atau sekedar himbauan. Memang, tidak ada yang bisa menjamin jika kebijakan itu dilegalkan, misalnya menjadi SKB Menteri, akan dijalankan oleh daerah. Senada dengan hal tersebut Pokja AMPL Provinsi Banten menegaskan keberlanjutan program ini tentu bergantung juga pada komitmen dari pusat, sebab ada hal-hal yang dapat dilaksanakan oleh Pokja Daerah sesuai tupoksi mereka, namun ada juga hal yang menuntut keterlibatan Pokja Pusat. Misalnya soal status hukum dari kebijakan nasional AMPL. Payung hukum itu sangat penting sebab program AMPL bersifat lintas sektoral. Sangat diharapkan pula adanya goodwill pusat untuk dapat mengkoordinasikan semua departemen/lembaga yang berkaitan dengan AMPL, agar pada tingkat penerapan di daerah tidak melahirkan kebijakan yang tumpang tindih. Adanya sinergi di tingkat pusat dapat menjadi acuan dan pegangan yang pasti bagi Pokja Daerah. Secara khusus, Pokja Banten berharap agar Departemen ESDM, Diknas, Sosial, Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan UPW, dapat segera bergabung dalam program AMPL.

80

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Oleh karena itu, status hukum menjadi penting, setidaknya untuk dijadikan acuan yang pasti dalam pelaksanaan AMPL di daerah, terutama terkait dengan penganggaran. Menurut Sudardi, “Kalau DPRD menolak alokasi untuk AMPL, Pokja Daerah cenderung tidak bisa melakukan ‘perlawanan’, sebab Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM belum bisa dijadikan acuan dasar hukum untuk penganggaran”. Kedua, status hukum Kebijakan Nasional tetap seperti sekarang, hanya risikonya kembali kepada waktu yang terbatas yang dibutuhkan untuk sosialisasi. Pada kenyataan ini, pendekatan struktural itu menjadi perlu dalam konteks kewenangan, yakni kewenangan atas sumber daya dan otoritas. “Sebaiknya memang dilegalkan, tapi yang lebih penting adalah bagaimana agar interes personal bisa menjadi komitmen institusional. Dan hal itu akan jadi lebih nyaman kalau ada payung hukum yang jelas”, kata Agung T. Prabowo anggota Pokja AMPL Jateng. Pada dasarnya, Pokja AMPL Jateng, melalui Bappeda sebagai koordinator, berkomitmen untuk mengawal isu kebijakan AMPLBM, terutama menghindari tumpang tindih program sejenis dari pusat dan lembaga donor. Namun, diharapkan legalitas Kebijakan Nasional mendapat prioritas perhatian Pokja Pusat agar kebijakan tersebut lebih mengikat dan memudahkan operasionalisasi di daerah. Memang diakui bahwa tidak ada jaminan kalau Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM sudah jadi undang-undang, hal itu akan dijalankan oleh semua pemerintah daerah. Sebagaimana nasib, banyak undang-undang yang tidak berjalan sesuai harapan. Akan tetapi, adanya aturan yang mengikat itu, setidaknya dapat menjadi legitimasi bagi para kampiun dan penggerak AMPL dalam bertindak. Kekuatan pendekatan personal sangat terbatas dan tergantung pada individu. Seorang anggota Pokja bisa sewaktuwaktu pensiun, dimutasi, atau menjalani pendidikan. Padahal, apapun yang terjadi, program AMPL harus terus berjalan.

5.2.3 Persoalan Mutasi Menjadi Kendala Serius
Dalam kenyataan pendampingan di lapangan, satu masalah yang cukup pelik untuk dipecahkan adalah persoalan mutasi anggota
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

81

Pokja AMPL. Tidak jarang di suatu daerah yang Pokja AMPLnya demikian dinamis dan solid, ketika terjadi mutasi maka terjadi kemacetan program. Bangunan komunikasi personal yang telah dibangun terhambat dan akhirnya harus mulai dari awal lagi. Tidak jarang untuk kesekian kalinya tim WASPOLA harus melakukan pendekatan dan mensosialisasikan kembali kepada tim Pokja yang baru tersebut. Pengalaman di beberapa tempat juga mengindikasikan bahwa pergantian anggota Pokja kemudian juga menghambat tindak lanjut pemrosesan Rentra AMPL yang telah diselesaikan kedalam RPJM daerah dikarenakan ketidaktahuan anggota yang baru. Hal ini sangat dirasakan sebagai ancaman terhadap keberlanjutan program, karena Pokja AMPL adalah motor penggerak atau fasilitator utama di daerah. Untuk mengantisipasi hal tersebut, perlu ditinjau kembali kemungkinan memperluas keanggotaan diluar birokrasi yang berpotensi strategis untuk keberlanjutan program. Sampai saat ini beberapa daerah mengikut sertakan pihak luar seperti universitas dan LSM di dalam keanggotaan Pokja mengingat idealnya Pokja AMPL dapat dimaknai secara luas dan inklusif. Namun sejauh pengalaman WASPOLA hal tersebut tergantung dari inisiatif daerah masing-masing. Tetapi seringkali dalam beberapa situasi, faktor aturan birokrasi menjadi variabel penting yang menentukan partisipasi berbagai fihak yang berasal dari luar birokrasi. Upaya lain yang dapat dilakukan di daerah adalah dibentuknya forum atau Jejaring dimana keanggotaanya lebih inklusif mewakili semua unsur pemangku kepentingan. Dengan adanya forum atau Jejaring ini di daerah, Pokja AMPL sebagai entitas akan lebih fleksibel dan setara dengan LSM, Proyek, Perguruan Tinggi untuk mendorong bersama proses keberlanjutan ke depan.

5.2.4 Mengutamakan Langkah Kreatif dan Inovatif dalam Pencapaian Solusi
Walaupun usaha WASPOLA untuk penguatan kapasitas kelembagaan di daerah terus dilanjutkan, tetapi usaha untuk mendorong Pokja Daerah agar bisa mengambil langkah-langkah

82

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

kreatif dan inovatif dalam mencari solusi masalah AMPL, belum terlalu kuat. Beberapa Pokja AMPL daerah berpendapat, fasilitator WASPOLA baru sebatas membuka wawasan dan berbagi pengalaman dari berbagai daerah, dan tidak menentukan suatu daerah harus melakukan ini-itu. Mungkin bagi daerah tertentu, arahan yang tegas itu diperlukan sehingga mitra kerja di daerah tersebut dapat segera menentukan langkah yang harus diambil. Fasiltator WASPOLA diakui mampu menjalin relasi yang sangat baik, bersifat kekeluargaan dengan aparat daerah, tetapi pada awalnya kebanyakan dimulai pada tingkat staf. Tidak semua staf daerah dampingan WASPOLA, mampu mempengaruhi kebijakan pimpinan, bahkan masih terdapat staf yang merasa kesulitan bagaimana berkomunikasi dengan pimpinan. Maka sangat diharapkan upaya mendorong advokasi lebih intensif untuk mempengaruhi pimpinan daerah, melibatkan kepala dinas terkait, sampai dengan legislatif . Fasilitator WASPOLA sebaiknya juga mampu mencairkan komunikasi di daerah yang mempunyai problem budaya dan politik yang akut. Karena kebuntuan komunikasi itu, kebutuhan warga terhadap sektor AMPL di daerah tersebut menjadi terhambat. Artinya, diperlukan strategi komunikasi dan advokasi yang lebih intensif pada daerah-daerah yang bermasalah, serta pendampingan dan perlakuan yang berbeda dibandingkan dengan daerah yang cenderung tidak bermasalah secara budaya dan politik.

5.2.5 Memperbaharui Metode Lokakarya
Sejumlah anggota Pokja Daerah merasakan terdapat beberapa hal yang perlu diperbaharui dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh tim WASPOLA, misal dalam lokakarya atau rakornas. Mungkin karena faktor kebosanan dan keletihan, fasilitator WASPOLA terkadang kurang bisa memaksimalkan forum tersebut agar peserta mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru sebanyak-banyaknya. Masih ada kesan penyelenggaraan kegiatan dilakukan secara terburu-buru sehingga target yang diharapkan belum bisa ditangkap secara utuh oleh peserta. Bagi peserta lama, kegiatan yang dilaksanakan cenderung seperti sebuah rutinitas belaka, sementara bagi peserta baru tidak ada
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

83

forum yang memandu mereka untuk segera “dapat terlibat” dalam kegiatan yang dilaksanakan. Kemudian setelah kegiatan berlangsung, belum ada mekanisme pemantauan sejauh mana hasil-hasil yang disepakati di dalam kegiatan itu, dapat dilaksanakan di daerah masing-masing. Untuk itu sangat dibutuhkan upaya pembaharuan dari metode lokakarya, sehingga daerah lebih bisa memaksimalkan forum lokakarya selain ajang berbagi antardaerah maupun pusat, juga mendapat wawasan atau ilmu yang baru terkait dengan pembangunan AMPL dengan berbagai aspek yang berkaitan dengan keberlanjutan, termasuk dalam hal ini akses dan informasi teknologi di bidang AMPL.

5.2.6 Intensitas Pemantauan dan Evaluasi Perlu Ditingkatkan
Secara umum, Pokja Daerah berharap agar monitoring dan evaluasi (monev) oleh Pokja AMPL Nasional dapat dilakukan secara intensif sehingga keberlanjutan program dapat dipertahankan sesuai dengan asas keberlanjutan yang ditawarkan program ini sejak awal. Dalam pandangan Pokja AMPL Daerah, masih ada kerancuan mengenai siapa yang sebenarnya harus melakukan monev. Pada umumnya Pokja Daerah memiliki ekspektasi berlebihan kepada WASPOLA, karena intensitas pertemuan dengan WASPOLA memang lebih tinggi dibanding dengan Pokja Nasional. Dari alur inilah muncul harapan agar lembaga semacam WASPOLA terus berlanjut. Bagi mereka, yang diperlukan adalah intensitas aktifitas monevnya, bukan lembaganya, sebab soal kelembagaan di Pusat tidak menjadi kewenangan mereka. Diharapkan agar pendampingan oleh WASPOLA dapat dilanjutkan sampai program AMPL ini benar-benar terimplementasikan, atau, setidaknya, fasilitator yang benar-benar memahami kondisi daerah dampingan terus dilibatkan dalam melaksanakan monev meskipun keberadaan WASPOLA sebagai lembaga sudah berakhir. Dengan demikian, program ini tidak berhenti hanya sampai tersusunnya Renstra AMPL yang disahkan oleh pejabat daerah, tetapi sampai pada implementasi di tataran masyarakat sesuai capaian ideal sebagaimana yang dikehendaki dengan disusunnya Kebijakan Nasional.

84

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

5.2.7 Informasi Hasil P emantauan dan Evaluasi Sebagai Acuan Kerja
Mitra kerja daerah juga cenderung tidak mengetahui bagaimana hasil pemantauan dan evaluasi dari kegiatan proyek WASPOLA yang dilaksanakan di daerahnya. Intinya informasi laporan secara timbal balik menjadi penting. Selama ini yang terjadi ialah laporan kegiatan di daerah dibawa oleh fasilitator ke pusat, sementara daerah sendiri kalau tidak aktif menanyakan tidak tahu apa yang dilaporkan itu. Pokja AMPL daerah mengharapkan bisa belajar lebih banyak melalui laporan yang diberikan untuk proses perbaikan. Mengetahui hasil evaluasi, itu dinilai sangat penting oleh Pokja AMPL Daerah untuk dijadikan acuan kerja selanjutnya. Sejauh ini belum ada mekanisme yang mengatur agar mitra kerja daerah dapat mengakses hasil monev WASPOLA. Pertanyaannya, menjadi kewajiban siapakah menyediakan akses monev itu ke daerah, tim WASPOLA atau Pokja Nasional? Pada dasarnya, pola pendekatan dalam proyek WASPOLA cukup berhasil mensinergikan aparat pada tingkat tertentu untuk membangun progam AMPL-BM. Namun, untuk meningkatkan sinergi pada tingkat aparat yang lebih tinggi, diperlukan penyempurnaan strategi pendekatan dan variasi metode fasilitasi. Tim WASPOLA juga ditantang untuk mampu mewujudkan program AMPL yang berkesinambungan. Terlepas dari perubahan nama program karena satu dan lain hal, diharapkan pokok dan prinsip kebijakan pembangunan AMPL-BM dapat terus dipertahankan.

5.2.8 Entitas yang Berbeda, tetapi Sinergi Fungsi
Pihak-pihak yang terlibat dalam program AMPL pada awalnya punya kecenderungan menganggap bahwa WASPOLA dan Pokja Nasional adalah dua entitas yang berbeda. Jika seorang fasilitator datang ke daerah maka ia dengan segera dikenali sebagai WASPOLA. Sebaliknya jika seorang anggota Pokja Nasional yang datang, ia segera dikenali sebagai Pokja Nasional. WASPOLA adalah tim proyek dan Pokja AMPL Nasional adalah perwakilan dari pemerintah pusat.
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

85

Padahal, kalau mencermati sejarah pogram ini, WASPOLA adalah sebuah proyek dengan dana bantuan negara Australia yang dikelola oleh Worldbank melalui WSP-EAP yang di dalamnya aparat pemerintah dan fasilitator/konsultan swasta bekerjasama. Akan tetapi setelah berlangsung selama 4 tahun ini, salah kaprah atau dualisme kebijakan yang seolah membedakan secara tegas antara keduanya mulai terkikis. Penataan organisasi dan pembagian tugas yang lebih tegas berangsur dapat menyelesaikan persoalan ini sehingga tidak terjadi lagi pemahaman yang kurang tepat itu, dan keduanya dapat bekerja lebih terbuka serta solid. Mungkin apabila nantinya ada proyek semacam ini, perlu adanya semacam struktur organisasi yang menjelaskan peran masingmasing pendukung program ini. Misal dalam kasus monev dan kampanye publik, tim WASPOLA bisa membantu Pokja Nasional dalam proses pemantauan dan evaluasi kinerja Pokja Daerah karena intensitas mereka yang tinggi dalam berhubungan dengan pelaku AMPL di daerah. Sebaliknya Pokja Nasional bisa membantu tim fasilitator/konsultan dalam kampanye program secara lebih intensif dan masif karena mereka punya akses untuk menggerakkan media massa. ***** Pada dasarnya, proyek WASPOLA adalah sebuah pelayanan dari pemerintah pusat atas bantuan negara donor yang melibatkan fasilitator/konsultan swasta, untuk kepentingan masyarakat Indonesia. Dengan demikian, keterbukaan semua pihak untuk terus menerus memperbaiki pelayanan tersebut dengan belajar dari realitas di lapangan, itulah yang harus selalu dilakukan. “AMPL adalah never ending story,” kata Wakil Kepala Bappeda Jateng Anung Sugihantono. Memang, selama orang masih membutuhkan air minum dan lingkungan yang sehat, program AMPL tetap penting untuk dilaksanakan, sampai kapanpun. Sekalipun proyek WASPOLA selesai, prinsip kebijakan, semangat pengelolaan, dan pelajaran yang dapat diambil selama sewindu proyek ini berlangsung, dapat diteruskan ke proyek sejenis. Dengan komitmen tersebut, target MDGs di bidang AMPL, bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan.

86

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

DAFTAR PUSTAKA
Bappenas, Kumpulan Regulasi Terkait Air Minum dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta 2007 Bappenas, Dokumen Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat, Jakarta 2003 Bappeda, Kabupaten Solok, Profil Kabupaten Solok, Solok 2007 Badan Pusat Statistik Kabupaten Solok, Solok Regency in Figures, Solok 2005 Departemen Pekerjaan Umum, Data SPAM (Sistim Penyediaan Air Minum), Jakarta 2006 Departemen Kesehatan, Ditjen P2PL, Materi Diskusi dalam Rangka Hari Air Sedunia, Jakarta 2007 Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan, Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan di Indonesia, Pembelajaan dari Berbagai Pengalaman, Jakarta 2008 Nugroho, Riant, Kebijakan Publik, Formulasi – Implementasi – Evolusi, Jakarta 2003 UNDP, Seminar Millenium Development Goals (MDG’s), Jakarta 2005 Sinambela, Lijan, Poltak, Reformasi Pelayan Publik, Teori – Kebijakan – Implementasi, PT Bumi Aksara, Jakarta2006 SUSENAS, Data Air Minum dan Penyehatan Lingkungan, Jakarta 2004 Waspola, Laporan Reguler Kegiatan WASPOLA , Artikel Lesson Learned AMPLdari Sumatra Barat, Jakarta 2006 Waspola, Laporan Reguler Kegiatan WASPOLAKumpulan Artikel Lesson Learned dari beberapa Daerah, 2006 Waspola, Laporan Implementasi Kebijakan Nasional Air Minum dan Penyehatan Lingkungan, Jakarta 2007

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

87

Lampiran :
1. Sekilas Memahami Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL-BM 2. Tahapan Penyusunan Renstra di Daerah 3. Kompilasi Pengalaman Terbaik Pokja AMPL 4. SK Pokja AMPL Sulawesi Tenggara 5. Peta Wilayah Mitra WASPOLA 6. Peta Wilayah Kerjasama WASPOLA Dengan Proyek Lain 7. Alamat Pokja AMPL Propinsi dan Kabupaten/ Kota

88

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Lampiran A Sekilas Memahami Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL –Berbasis Masyarakat 1. Perlunya Pembaruan Kebijakan
Perlunya pembaruan kebijakan sektor AMPL di Indonesia adalah dalam rangka a) meningkatkan akses layanan AMPL yang berkelanjutan bagi masyarakat, b) mengurangi in-efisiensi pembangunan, c) meningkatkan keterpaduan antarlembaga dalam pelaksanaan pembangunan AMPL dan, d) memberdayakan masyarakat. a. Meningkatkan akses layanan AMPL yang berkelanjutan Rendahnya cakupan layanan AMPL, rendahnya akses pelayanan untuk kelompok miskin, dan tingginya angka prevalensi penyakit menular yang berbasis air dan lingkungan, merupakan akibat dari jumlah dan mutu pelayanan AMPL yang statis atau tidak meningkat, tidak berkembang dan tidak berlanjut. Malahan di beberapa tempat ditemukan, justu golongan masyarakat miskin membayar lebih mahal dibandingkan masyarakat mampu. Oleh karena itu, pembaruan kebijakan menjadi penting agar terjadi perbaikan kondisi, sehingga akan tercipta Indonesia yang lebih sejahtera. b. Mengurangi In-efisiensi Pembangunan Investasi pemerintah telah banyak dilakukan di sektor AMPL yang berasal dari berbagai sumber pendanaan, kendati demikian para pengguna belum mendapatkan layanan yang sesuai kebutuhan. Sarana AMPL yang terbangun kerap kali tidak berfungsi optimal, tidak bertahan lama, dan tidak sesuai kebutuhan masyarakat. Keadaan seperti ini semakin menambah catatan investasi yang sia-sia. Apalagi bila sumber dana berasal dari pinjaman, maka beban pemerintah akan semakin meningkat. Pembaruan kebijakan merupakan langkah penting untuk mengatasi persoalan ini, sehingga investasi dapat dikelola secara lebih efisien dan tepat guna serta lebih menjamin terjadinya keberlanjutan. c. Meningkatkan Keterpaduan Antarlembaga Disadari bahwa pembangunan sektor AMPL memerlukan peran para pihak secara terintegrasi, namun sering kali berjalan secara parsial. Di tingkat pusat, masingmasing departemen memiliki program “blue print” pembangunan AMPL
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

89

dan kebijakan yang berjalan sendiri-sendiri. Kerap ditemukan inskonsistensi pemahaman terhadap kebijakan pusat dan daerah atau sebaliknya. Di lain pihak, diketahui peran LSM, swasta dan lembaga semakin meningkat namun cenderung mengembangkan pendekatan sendiri-sendiri. Pembaruan kebijakan, menjadi langkah penting untuk mengarahkan pola pembangunan AMPL yang berkelanjutan dengan konsisten dan terintegrasi. d. Memberdayakan Masyarakat Kebijakan ini menempatkan calon pengguna atau penerima manfaat menjadi pihak penentu dalam proses pembangunan AMPL. Pengalaman menunjukkan bahwa masyarakat pada hakekatnya mampu mengemban peran tersebut, namun ruang untuk itu masih terbatas. Oleh karena itu, Pemerintah harus menjadi pihak yang mendorong dan memfasilitasi terciptanya kesempatan masyarakat sebagai pengambil keputusan dalam pembangunan AMPL. Ruang yang diberikan akan membuka peluang partisipasi masyarakat dari berbagai aspek, termasuk peran dalam pembiayaan. Bila hal ini dapat diciptakan, maka beban pendanaan Pemerintah dapat dikurangi. Konsekuensinya diperlukan pembaruan kebijakan untuk merubah paradigma pendekatan pembangunan dari paradigma sekedar ”proyek” menjadi program yang berkelanjutan. Kesempatan yang diberikan ini akan membuka peluang partisipasi masyarakat yang lebih besar dalam pembangunan AMPL, khususnya pengelolaan yang berbasis masyarakat.

2. Mengapa Berbasis Masyarakat
a. Masyarakat sebagai Penentu Keberlanjutan Dua pendekatan yang membawa konsekuensi berbeda dalam pembangunan AMPL adalah supply driven dan demand driven. Dalam supply driven calon penerima manfaat bersifat pasif atau sebagai obyek, artinya hanya sebagai penerima sarana setelah dibangun. Sedangkan proyeknya sendiri dilakukan oleh pihak lain di luar penerima manfaat. Dari berbagai pengalaman, pendekatan ini hanya cocok untuk situasi darurat dan mendesak, misalnya karena bencana. Sedangkan pada demand driven, masyarakat ditempatkan sebagai pemegang peran utama atau subyek, pembangunan yang dilaksanakan atas dasar keputusan masyarakat sendiri untuk menjawab kebutuhan masyarakat. b. Merupakan Pilihan Terbaik untuk Keberlanjutan Dalam rangka efektifitas, efisiensi dan keberlanjutan pembangunan di masyarakat, kebijakan ini merupakan pilihan terbaik dengan pertimbangan:

90

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

• Semakin terbatasnya investasi pemerintah, Selama ini pembangunan lebih berfokus pada penyediaan fasilitas daripada pelayanan. Disamping itu, masyarakat sudah terbiasa menerima sarana gratis. Selain juga, sektor ini kurang mendapatkan dukungan politis. • Efisiensi dan efektifitas, serta keberlanjutan seiring dengan tuntutan desentralisasi/otonomi pembangunan. Disamping itu adanya tuntutan agar peran pemerintah dari penyedia harus berubah menjadi fasilitator, koordinator, dan pendukung. • Kelompok masyarakat yang belum mendapatkan pelayanan dari lembaga penyedia AMPL, misalnya PDAM, masih cukup besar baik dalam segi kuantitas maupun penyebarannya. • Pemberian kesempatan berpartisipasi mendorong terbukanya potensi tersembunyi yang dimiliki masyarakat, khususnya potensi pembiayaan dan kemampuan pengelolaan.

3. Tujuan Kebijakan
Kebijakan disusun dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan yang berkelanjutan. Secara khusus bertujuan meningkatkan keberlanjutan dan penggunaan efektif dalam pembangunan AMPL di Indonesia. Keberlanjutan pembangunan AMPL mencakup aspek kelembagaan, sosial, pembiayaan, teknologi dan lingkungan. Penggunaan efektif dimaksudkan pembangunan AMPL yang tepat tujuan, tepat sasaran, layak dimanfaatkan, memenuhi standar teknis, kesehatan, kelembagaan, dan memperhatikan perubahan perilaku masyarakat serta kemampuan masyarakat untuk mengelola prasarana dan sarana.

4. Karakteristik Kebijakan Nasional AMPL Berbasis Masyarakat
Dalam implementasinya kebijakan ini merupakan; • Arahan umum pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dan berbagai pihak dalam pelaksanaan pembangunan AMPL • Merupakan “resep” dalam rangka keberlanjutan pembangunan AMPL. Sebagai resep kebijakan ini dapat dijadikan jalan menuju keberlanjutan pembangunan AMPL • Memerlukan penjabaran lebih lanjut dalam bentuk strategi dan program serta kegiatan yang konkrit • Membuka peluang dalam adopsi dan penerapannya sesuai kondisi setempat dan kearifan lokal

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

91

5. Prinsip Kebijakan (11 pokok Kebijakan)
Dalam upaya mewujudkan tujuan pembangunan AMPL yang berkelanjutan, dokumen kebijakan mencakup 11 pokok Kebijakan dan 16 strategi pelaksanaan. Sebelas pokok kebijakan adalah merupakan arahan umum bagi daerah yang dalam pelaksanaanya perlu diterjemahkan secara operasional disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik daerah. Sebelas pokok kebijakan dan enam belas strategi pelaksanaanya adalah sebagai berikut; • Air Merupakan Benda Sosial dan Benda Ekonomi • Pilihan yang Diinformasikan sebagai Dasar dalam Pendekatan Tanggap Kebutuhan • Pembangunan Berwawasan Lingkungan • Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat • Keberpihakan pada Masyarakat Miskin • Peran Perempuan dalam Pengambilan Keputusan • Akuntabilitas Proses Pembangunan • Peran Pemerintah Sebagai Fasilitator • Peran Aktif Masyarakat • Pelayanan Optimal dan Tepat Sasaran • Penerapan Prinsip Pemulihan Biaya

6. Strategi Pelaksanaan Kebijakan
Sebelas pokok kebijakan dilengkapi dengan enam belas strategi pelaksanaan. Dalam pelaksanaannya di daerah, dapat pula dipilih sesuai dengan karakteristik dan permasalahan serta kewenangan daerah. Intisari dari enam belas strategi dimaksud adalah sebagai berikut: • • • • • • • • • Mengembangkan kerangka peraturan. Meningkatkan investasi Menerapan pilihan-pilihan pembiayaan Menempatkan kelompok pengguna dalam pengambilan keputusan Meningkatkan kemampuan masyarakat Menyusun norma, standar, pedoman dan manual Mengkonsolidasikan penelitian, pengembangan, dan diseminasi Mengembangkan motivasi masyarakat Meningkatkan pelestarian dan pengelolaan lingkungan

92

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

• Merubah pendekatan dari pendekatan berdasarkan batasan administrasi menjadi pendekatan sistem • Meningkatkan kualitas pengelolaan • Meningkatkan kepedulian masyarakat pengguna • Mendorong upaya khusus pada masyarakat yang kurang beruntung • Mengembangkan pola pemantauan dan evaluasi • Melakukan monitoring dan evaluasi dalam semua tingkatan • Mengembangkan dan menyebarluaskan indikator kinerja Untuk memperoleh gambaran secara rinci mengenai strategi kebijakan nasional dapat dibaca dalam dokumen Kebijakan Nasional AMPL Berbasis Masyarakat.

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

93

Lampiran B Tahapan Penyusunan rencana strategis (renstra) AMPL-BM di daerah dibagi dalam tiga tahapan sebagai berikut: 1. Persiapan
• Pembentukan panitia inti/khusus Panitia inti penyusunan Renstra AMPL-BM sebaiknya adalah anggota Pokja AMPL-BM ditambah beberapa elemen mitra kerja yang terkait, misalnya pihak perguruan tinggi/akademisi, LSM, dan lain-lain. Panitia inti ini akan lebih baik jika ditetapkan dalam bentuk Surat Keputusan Pimpinan Daerah. Dalam SK ini diatur hal-hal diantaranya mengenai masa kerja tim, institusi yang terlibat, tugas dan tanggung jawabnya serta pembiayaan pendukungnya. • Pembuatan kerangka Acuan/TOR penyusunan renstra AMPL-BM Semua hal yang berkaitan dengan perencanaan, proses dan finalisasi penyusunan Renstra diharapkan terurai secara jelas dalam TOR, termasuk perihal pendanaan • Pemutakhiran data AMPL Kegiatan paling awal panitia penyusunan Renstra AMPL-BM adalah melakukan pemutakhiran data AMPL-BM. Jika terjadi hambatan, minimal yang harus disepakati dalam proses ini adalah adanya kesepahaman bersama tentang definisi cakupan dan akses AMPL diantara pelaku utama AMPL di daerah. Utamanya antara Dinkes, PU dan Bappeda Dalam rangka pemutakhiran data AMPL ini kegiatan lain yang bisa dilakukan adalah Rapat/Pertemuan Koordinasi, Kajian Lapangan sukses dan gagal dalam pembangunan AMPL, serta dialog publik dan menjaring aspirasi masyarakat. • Review hasil lokakarya pendalaman kebijakan AMPL-BM Review terhadap hasil Lokakarya Pendalaman Kebijakan AMPL sangat penting untuk dilakukan, hal ini direalisasikan bersamaan dengan pemutakhiran data sebagai bahan awal dalam melakukan identifikasi pelaku AMPL, klarifikasi mandat, perumusan draft visi misi dan nilai AMPL-BM

94

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

2. Pelaksanaan
• Lokakarya I (Sosialisasi dan Mobilisasi) Lokakarya I, dimaksudkan untuk mensosialisasikan bahwa Pemda segera akan melakukan penyusunan Renstra AMPL secara partisipatif. Sejalan dengan itu diharapkan terjadi mobilisasi peran dari berbagai elemen stakeholders agar terlibat aktif dalam penyusunan Renstra AMPL-BM. (1 hari efektif) • Perumusan Rancangan Visi-Misi-Nilai Perumusan draf visi-misi-nilai Renstra dilakukan panitia inti, dimulai dari penidentifikasian pemangku kepentingan AMPL secara tajam serta klarifikasi mandat baik tertulis maupun tidak terhadap pentingnya daerah mempunyai Visi-Misi-Nilai Renstra AMPL-BM (7 hari efektif) • Lokakarya II (Pembahasan Draft Visi-Misi-Nilai) Lokakarya pembahasan rancangan visi-misi-nilai, dilakukan agar rancangan yang ada tidak hanya buatan panitia penyusun tetapi merupakan hasil segenap elemen pemangku kepentingan (partisipatif). Hasil pembahasan rancangan wajib dikonsultasikan kepada pimpinan daerah untuk mendapat masukan dan persetujuan. Penting untuk diingat bahwa rancangan visi-misi-nilai harus sejalan dengan visi-misi-nilai daerah yang tercantum dalam RPJM daerah atau dokumen Pemda lainnya, artinya tidak boleh bertentangan (1 hari efektif). • Perumusan Rancangan Isu Strategis dan Rumusan Strategi Perumusan isu strategis dilakukan dengan cara melakukan analisa SWOT yang dikomparasi dengan hasil pernyataan visi-misi-nilai serta hasil review pendalaman kebijakan AMPL. Hal ini berarti isu strategis hanya bisa didapatkan dari hasil analisa SWOT. Jika isu startegis sudah ditemukan selanjutnya yang harus dilakukan adalah perumusan strategi, yang dimulai dari perumusan tujuan strategis, visi praktis, kebijakan strategis, program strategis dan kegiatan strategis serta rumusan indikator/ukuran (14 hari efektif). • Lokakarya III (Pebyebarluasan Rancangan Rumusan Isu Strategis dan Rumusan Strategi) Lokakarya pembahasan draft rumusan isu strategis dan strategi dilakukan untuk meminta masukan dari segenap elemen stakeholders terhadap rumusan draft. Jika lokakarya terlaksana secara efektif maka dapat dikatakan proses penyusunan Renstra AMPL-BM sudah selesai.
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

95

3. Paska Penyusunan
• Legalisasi Diharapkan legalisasi dokumen Renstra paling tidak melalui peraturan Bupati (Perbub). Legalisasi dianggap penting agar mempermudah daerah dan masyarakat dalam mewujudkan Renstra AMPL-BM • Sosialisasi Sesuai dengan dokumen Renstra yang telah disepakati bersama, diharapkan setiap daerah dapat mengimplementasikannya sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Sebagai langkah awal dilaksanakan proses Sosialisasi terlebih dahulu.

96

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Lampiran C Kompilasi Pengalaman Terbaik Pokja AMPL 1. Pokja AMPL Nasional : “ Menggulirkan AMPL menjadi isu seksi”
Pokja AMPL Nasional telah memberikan contoh yang nyata untuk direplikasi di daerah. Konsistensi, kepedulian, dan keteguhan pada komitmen dari anggota Pokja yang jumlahnya cukup banyak (kurang lebih 40 orang) membuat personil Pokja bersedia bekerja keras bahu membahu meskipun mereka berasal dari berbagai institusi pemerintah, yaitu: Bappenas, Departemen PU, Departemen Kesehatan, Departemen Dalam Negeri, dan Departemen Keuangan, yang sejak awal terlibat langsung didalam kegiatannya, ditambah Kementerian Lingkungan Hidup dan beberapa personel LSM internasional dan lembaga donor, yang bergabung belakangan. Bisa dikatakan pokja AMPL Nasional bermula dari himpunan yang relatif tidak berbentuk yang hanya terdiri dari beberapa personil yang memiliki kepedulian, sampai berkembang lebih lanjut menjadi lembaga yang berbentuk, dan memiiliki berbagai kegiatan yang sangat terstruktur dan berskala cukup besar. Pokja Nasional bisa dikatakan berkembang pesat bagai bola salju, membesar melebihi apa yang diharapkan para inisiator dan para donor. Ada beberapa kegiatan yang pantas di catat, yaitu : Pertama: menyusun Kebijakan Nasional AMPL-BM dan sekaligus mengoperasionalisasikannya di daerah, Kedua: membentuk jejaring AMPL yang melibatkan pemangku kepentingan luas yaitu: universitas, LSM Internasional, LSM lokal, lembaga dibawah PBB, dan sebagainya. Ketiga: penyebarluasan informasi kegiatan pokja dalam memecahkan permasalahan pembangunan AMPL pada umumnya melalui berbagai media seperti : website AMPL, mencetak dan menyebarluaskan majalah percik , percik yunior, dan news letter. Keempat: Tidak kurang penting, Pokja Nasional berhasil membangun kemitraan dengan media baik berbagai penerbitan koran, stasiun radio serta beberapa televisi swasta nasional. Intensitas dan skala kegiatan yang semakin mendalam dan membesar, membuat lembaga donor semakin memerlukan dan mempercayai sehingga kegiatan konsultasi dengan Pokja AMPL merupakan tahapan yang mulai di perhitungkan. Terakhir tetapi tidak kurang pentingnya, anggaran di bidang AMPL dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah meningkat. Bisa dikatakan Pokja AMPL Nasional berhasil mencuatkan AMPL menjadi isu seksi yang menarik berbagai fihak.

2. Pokja Propinsi Bangka Belitung “ Mengusik kebijakan melalui advokasi media massa”
Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

97

Propinsi Bangka Belitung menghadapi masalah yang sangat serius berkenaan dengan rusaknya sumber air minum karena penambangan liar rakyat (penambangan konvensional). Kegiatan penambangan liar di provinsi tersebut telah menggurita dan sedikit banyak melibatkan elit sosial, politik, ekonomi dan pemerintahan, sehingga upaya penanggulangannya dirasakan sebagai beban yang sangat berat. Terobosan cerdas dilakukan Pokja AMPL Propinsi Bangka Belitung melalui penggalangan kemitraan dengan para jurnalis muda yang memiliki idealisme melalui strategi advokasi media massa. Berbagai dampak negatif penambangan liar berkali kali di muat di media seperti Bangka Post. Pemuatan berita tersebut telah mengusik Pemerintah Pusat untuk ikut campur tangan, memberikan perhatian khusus agar permasalahan penambangan liar dan dampak negatif yang ditimbulkan segera di tanggulangi.

3. Kabupaten Rote Ndao “Renstra AMPL, Kunci Mendapatkan Dukungan Legislatif ”
Kabupaten di ujung Selatan Indonesia ini mempunyai pengalaman yang perlu dicatat berkenaan dengan pentingnya penyusunan Renstra. Pertama, bahwa rencana strategis pembangunan AMPL berbasis masyarakat di presentasikan di depan anggota dewan dan mendapat dukungan penuh untuk dilaksanakan lebih lanjut. Kedua, rencana strategis tersebut telah di operasionalisasikan lebih lanjut menjadi rencana pembangunan AMPL di tingkat desa, dimana pada tahun anggaran 2008 pokja telah memfasilitasi penyusunan rencana pembangunan AMPL di 8 desa dari 8 kecamatan. Penyusunan rencana pembangunan AMPL di tingkat desa masih akan di lanjutkan untuk desa lainnya pada tahun anggaran selanjutnya. Ketiga, Pokja Rote Ndao memprioritaskan pembangunan perlindungan sumbersumber air. Kini, dari 110 sumber air yang sudah di identifikasi, 19 diantaranya telah dibangun perlindungan dengan kontrukksi beton dan diberi perlindungan atap. Pembangunan sarana perlindungan mata air tersebut dibarengi dengan penghijauan di wilayah tangkapan air, sehingga kedepan Rote Ndao akan mampu memenuhi kebutuhan air meski di musim kemarau, dan tidak akan terjadi banjir di musim hujan.

4. Kabupaten Kebumen “Menggerakkan Masyarakat Melalui Media Rakyat”
Sangat mengesankan apa yang dilakukan Pokja AMPL Kabupaten Kebumen. Dalam rangka mengoptimalkan peran serta masyarakat–termasuk kaum perempuan–Pokja AMPL Kebumen telah menerapkan strategi komunikasi dengan menggunakan berbagai media rakyat. Sebelumnya Pokja AMPL Kebumen dengan

98

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

difasilitasi sekretariat WASPOLA melaksanakan pelatihan strategi komunikasi bagi pemangku kepentingan luas, yaitu: anggota Pokja AMPL, LSM lokal, perguruan tinggi, reporter media massa (radio MasFM, InFm, dan Ratih TV) dan aparat Kecamatan dan Desa. Di luar dugaan, partisipasi sangat tinggi yang nampak dari hasil evaluasi yang telah dilakukan Pokja AMPL Kebumen. Dalam upaya meningkatkan peran serta masyarakat, berbagai media baik visual yaitu : cergam dan poster, audio yaitu : radio masFM, dan In FM, serta audio visual yaitu : televisi dan teater rakyat, di gunakan untuk sebesar mungkin menumbuhkan kesadran masyarakat, merubah sikap dan perilaku, serta mengoptimalkan partisipasi dalam pembangunan AMPL. Salah satu kegiatannya adalah penyelenggaraan Hari Air Dunia yang disinergikan dengan Hari Pers Nasional pada tahun 2009.

5. Propinsi Sulawesi Tenggara “Pelibatan Kelompok Strategis ke Dalam Struktur Pokja”
Ketika di daerah lain upaya memasukkan komponen stakeholders dari luar instansi pemerintah kedalam struktur POKJA masih dalam wacana, Propinsi Kendari telah memulainya. Berbagai fihak yang dilibatkan dalam organisasi Pokja adalah Universitas Tadulako, STIKES, PKK, dan LSM Yascita yang sekaligus juga mengelola Kendari TV, dan Radio Suara Alam. Komponen pemangku kepentingan dari luar instansi pemerintah tersebut aktif mengikuti berbagai kegiatan dan juga banyak memberi inspirasi bagi kiprah Pokja. Sementara kerjasama dengan PKK Provinsi sudah terbangun secara intensif, dan sudah pula melaksanakan berbagai kegiatan. Sebagai contoh, PKK Propinsi memasang 2 (dua) baliho berukuran besar dengan tema PHBS, dimana gambar Ibu Gubernur terpampang sebagai latar depan, sedangkan pesan yang disampaikan adalah cuci tangan pakai sabun (CTPS). Radio Suara Alam dan Kendari TV sudah memiliki kepedulian terhadap masalah lingkungan di Propinsi Kendari, termasuk masalah Pendidikan Hidup Bersih dan Sehat serta masalah pemenuhan kebutuhan air minum melalui berbagai tayangan kreasi mereka sendiri. STIKES aktif dalam berbagai kegiatan dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masalah AMPL sebab pendiri dan komponen staf pengajarnya sebagian memang berasal dari dinas kesehatan Propinsi. Hal menarik lainnya adalah kegiatan Ibu PKK yang aktif melakukan roadshow ke desa dalam rangka penyebarluasan pesan PHBS kepada masyarakat desa.

6. Kabupaten Pekalongan, “Mengawinkan Dana Antar Proyek Untuk AMPL”
Kabupaten Pekalongan memilih melakukan terobosan berani dalam menanggulangi kendala pelaksanaan pembangunan AMPL. Keterbatasan dana,

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

99

tidak berarti bahwa pembangunan AMPL yang memang memerlukan biaya besar tidak bisa dilaksanakan. Pokja AMPL-BM Kabupaten Pekalongan ”melirik” dana DAK, meskipun ada ketentuan bahwa dana DAK hanya bisa dialokasikan untuk pembangunan fisik. Masalah yang muncul adalah ” dari mana dana untuk memfaslitasi masyarakat diadakan?”. Sebagaimana diketahui secara luas bahwa pembangunan AMPL adalah pembangunan berbasis masyarkat dimana proses menumbuhkan kesadaran dan mengoptimalkan peran serta masyarakat merupakan bagian yang utama. Disinilah kreatifitas dan keberanian Pokja AMPL Kabupaten Pekalongan nampak nyata. Untuk keperluan berbagai kegiatan penyadaran dan optimalissi peran serta masyarakat tersebut Pokja AMPL mengalokasikan dana–diluar dana pendamping–melalui APBD. Dari tahun 2006 sampai 2008 alokasi dana fasilitasi masyarakat tersebut selalu meningkat selaras dengan semakin meningkatnya alokasi DAK untuk pembangunan AMPL-BM.

7. Propinsi Banten, “Meraih MURI Award untuk Sanitasi”
Meski berstatus sebagai Propinsi baru, Pokja AMPL-BM Banten berhasil membuat gebrakan di bidang sanitasi lingkungan. Masalah sanitasi lingkungan memang merupakan masalah serius di beberapa wilayah di Propinsi ini. Di Kabupaten Pandeglang, sebagai contoh, wabah penyakit menular berbasis lingkungan seperti diare, ispa, dan penyakit kulit seringkali terjadi. Bekerjasama dengan LSM internasional PCI (Project Concern International) yang sangat peduli pada pemberdayaan masyarakat, Pokja Propinsi Banten melakukan pelatihan CLTS (Community-Led Total Sanitation) untuk pemangku kepentingan luas, termasuk Universitas Tirtayasa. Tenaga terlatih keluaran pelatihan tersebut selanjutnya melakukan pemicuan di desa yang menghadapi masalah serius di bidang kesehatan lingkungan. Hasilnya sungguh luar biasa. Dalam waktu kurang dari satu tahun, masyarakat desa di Kabupaten Pandelang berhasil membangun jamban rumah tangga secara mandiri sekitar 2000 buah. Peristiwa yang sangat fenomenal tersebut, memperoleh perhatian dari Yayasan Muri (Museum Rekor Indonesia), yang mengabadikan peristiwa yang belum pernah terjadi di Indonesia tersebut kedalam Museum Rekor Indonesia.

8. Jejaring AMPL ” Menghimpun Potensi yang Tersebar Menjadi Satu Kekuatan”
Dengan diprakarsai oleh Pokja AMPL Nasional, WASPOLA dan JAS (Jaringan Air dan Sanitasi) sejumlah pelaku pembangunan AMPL berhimpun di Bappenas untuk menginisiasi pembentukan Jejaring AMPL. Kemudian berbagai kegiatan dilaksanakan yang pada akhirnya berujung pada dideklarasikannya Jejaring AMPL

100

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

oleh 47 lembaga pada bulan Oktober 2007 di Jakarta. Jejaring AMPL dibentuk karena keprihatinan dari berbagai pihak mengenai lambatnya capaian hasil pembangunan AMPL, dimana sebagian dari mereka merasa telah berbuat banyak namun tidak mempunyai pengaruh yang siginifikan sehingga AMPL belum menjadi arus utama pembangunan. Melalui Jejaring, berbagai potensi yang masih menyebar disatukan untuk secara bersama-sama membangun kekuatan besar yang memiliki daya dobrak untuk menembus kebuntuan-kebuntuan yang selama ini menjadi masalah bersama para pelaku AMPL baik dari kalangan lembaga internasional, aparat pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, dan mass media yang mempunyai komitmen untuk pemecahan masalah bersama tersebut. Berbagai komponen yang tergabung dalam jejaring tersebut secara bersama-sama menyusun gugus tugas, seperti gugus tugas air minum, sanitasi, persampahan dan kesehatan. Setiap 3 (tiga) bulan dilakukan rapat anggota, maupun berbagi pengalaman melalui seminar dan pelatihan yang dilaksanakan bersama-sama baik tenaga maupun biaya. Setelah kegiatan Jejaring berjalan selama lebih kurang 1,5 tahun, ternyata bukan hanya tujuan bersama yang bisa diwujudkan, akan tetapi juga memberikan hasil ikutan yang luar biasa. Beberapa hasil ikutan tersebut antara lain isu-isu AMPL mulai bergulir, membesar, dan memilki daya tarik untuk diangkat sebagai berita di media massa. Jejaring AMPL bisa diterima sebagai komunikator lintas sektor dan menjadi mediator dengan lembaga-lembaga donor. *****

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

101

102

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

103

104

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

105

106

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

107

100Ā BT

110Ā BT

120Ā BT

130Ā BT

CWSH Kab. Sambas CWSH Kab. Sanggau

CWSH Kab. Katingan CWSH Kab. Kotawaringin Timur CWSH Kab. Barito Timur CWSH Kab. Barito Selatan CWSH Kab. Pulangpisau CWSH Kab. Kualakapuas WES - Unicef Kab. Luwu Utara WES - Unicef Kab. Barru

CWSH Kab. Sarolangun Bangko
10Ā LU

CWSH Kab. Ketapang CWSH Kab. Sintang CWSH Kab. Landak CWSH Kab. Kapuas Hulu

Indonesia Water Supply and Sanitation Policy Formulation and Action Planning Project
10Ā LU

THAILAND
CWSH Kab. Muara Bungo Tebo

CWSH Kab. Tanjung Jabung Barat

FILIPINA

LAUT CINA SELATAN
CWSH Kab. Muaro Jambi
BANDA ACEH

CWSH Kab. Batanghari

PETA WILAYAH KERJASAMA WASPOLA DENGAN PROYEK LAIN
LEGENDA :

S A M U D EUnicef A R WES BRUNAI DARUSSALAM
Kab. Soppeng WES - Unicef Kab. Takalar WES - Unicef Kab. Selayar

PASIFIK
WES - Unicef Kab. Raja Ampat WES - Unicef Kab. Sorong WES - Unicef Kab. Sorong Selatan

Batas Antar Negara Batas Propinsi Batas Kabupaten Ibukota Provinsi Daerah Kerja WSLIC2, Pelatihan Kebijakan dan Renstra 2005 Daerah Kerja CWSH, Pelatihan Kebijakan dan Renstra 2005 Daerah Kerja WES-Unicef Pelatihan Kebijakan dan Renstra 2008

Prov. Nanggroe Aceh Darussalam

K

MEDAN

E

MALAYSIA BARAT
K A

P.

N

A

T

U

N

A

S E L A T M A L A

P. Simeuleu

Prov. Sumatera Utara

MALAYSIA TIMUR

LAUT

SULAWESI

P. Morotai

SINGAPURA
TANJUNG PINANG

P. Nias

PEKANBARU

Prov. Sumatera Barat
PADANG

Prov. Riau

Prov. Riau Kepulauan

Prov. Kalimantan Timur
PONTIANAK

Prov. Gorontalo

MANADO

Prov. Sulawesi Utara

TERNATE

P. Halmahera

WES - Unicef Kab. Manokwari
P. Waigeo

GORONTALO SAMARINDA PALU

Prov. Kalimantan Barat
T

P. Bangka P. Siberut

Prov. Jambi

JAMBI PANGKAL PINANG

Prov. Bangka-Belitung

Prov. Kalimantan Tengah
PALANGKARAYA

Prov. Sulawesi Barat
MAMUJU BANJARMASIN

Prov. Sulawesi Tengah

LAUT MALUKU
P. Peleng

Prov. Maluku Utara

P. Biak
P. Salawati P. Misool

WES - Unicef Kab. Biak

S E
P. Belitung
PALEMBANG

SORONG

LA K A R IM A

Kep. Sula P. Obi
LAUT SERAM

P. Yapen

P. Buru

Prov. Irian Jaya Barat

JAYAPURA

Prov. Bengkulu
BENGKULU

Prov. Sumatera Selatan Prov. Lampung

WSLIC2 Kab. Pasaman
P. Enggano

Prov. Kalimantan Selatan

Prov. Sulawesi Tenggara Prov. Sulawesi Selatan

BANDAR LAMPUNG

Kep. Seribu

WSLIC2 Kab. Solok

SERANG

Daerah Khusus Ibukota Jakarta
JAKARTA

WSLIC2 Kab. Belitung

TA

KENDARI
P. Wowoni

P. Buru

LAUT

JAWA

Prov. Maluku

AMBON

WSLIC2 Kab. Sampang WSLIC2 Kab. Pamekasan
Kep. Kangean

P. Buton

UJUNGPANDANG

Prov. Papua

KEP. KARIMUN JAYA P. Bawean

Prov. Banten

SEMARANG BANDUNG

WSLIC2 Kab. Pesisir Selatan

WSLIC2 Kab. Bojonegoro WSLIC2 Kab. Lamongan

Prov. Jawa Barat

Prov. Jawa Tengah Prov. Daerah Istimewa Jawa Timur Yogyakarta
YOGYAKARTA

WSLIC2 Kab. Sumenep

WES - Unicef Kab. Buru WES - Unicef Kab. Seram Bagian Barat
LAUT FLORES
KEP. ALOR

WES - Unicef Kab. Seram Bagian Timur WES - Unicef Kab. Puncak Jaya WES - Unicef Kab. Maluku Tengara Barat WES - Unicef Kab. Alor

SURABAYA

P. Wetar

Prov. Bali
DENPASAR

MATARAM

10Ā LS

WSLIC2 Kab. Sawahlunto Sijunjung

Prov. Nusa Tenggara Barat

Prov. Nusa Tenggara Timur
KUPANG

KEP. SOLOR

TIMOR LORO SAE

LAUT

ARAFURA
10Ā LS

WSLIC2 Kab. Ponorogo

WES - Unicef Kab. Jaya Wijaya WES - Unicef Kab. Jayapura
P. Marchinbar

P. Roti

LAUT

TIMOR

WES - Unicef Kab. Belu
P. Melville P. Croker

WSLIC2 Kab. Mojokerto

SAMUDERA
CWSH Kab. Bengkulu Utara CWSH Kab. Rejang Lebong WSLIC2 Kab. Kediri WSLIC2 Kab. Blitar

HINDIA

WSLIC2 Kab. Bondowoso WSLIC2 Kab. Jember WSLIC2 Kab. Proboliggo WES - Unicef Kab. Dompu WES - Unicef Kab. Sumbawa WES - Unicef Kab. Lombok Tengah WES - Unicef Kab. Lombok Barat
Tg. Londonderry

WES - Unicef Kab. Timor Tengah Selatan
P. Bathrust

WES - Unicef Kab.Sikka

AUSTRALIA
WES - Unicef Kab. Ende WES - Unicef Kab. Rote Ndao WES - Unicef Kab. Sumba Timur
0 50 100 150 Km
U

Teluk Carpentaria

Sekretariat : Jl. Cianjur No.4, Jakarta 10310 Telp./Fax. : (62-21) 314 2046 E-mail : waspola1@cbn.net.id Website : www.waspola.org, www.ampl.or.id

CWSH Kab. Bengkulu Selatan

WSLIC2 Kab. Malang

WSLIC2 Kab. Lumajang

100Ā BT

110Ā BT

120Ā BT

130Ā BT

140Ā BT

Membangun Komitmen Reformasi Sektor Air Minum dan Sanitasi

109

100Ā BT

110Ā BT

120Ā BT

130Ā BT

140Ā BT

Kab. Wajo 2006 Kab. Sidrap 2008 Kab. Soppeng 2006 Kab. Pangkep 2004
10Ā LU

Kab. Pohu Wato 2005 Kab. Boalemo 2006 Kota Gorontalo 2006
10Ā LU

Kab. Musi Banyuasin 2003

Indonesia Water Supply and Sanitation Policy Formulation and Action Planning Project

Kab. Bangka Barat 2005

THAILAND
Kab. Pasaman 2008 Kab. Bangka Tengah 2006

Kab. Gowa 2006

FILIPINA

Kab. Gorontalo 2004 Kab. Bone Bolango 2005

PETA WILAYAH PENERIMA BANTUAN PROGRAM WASPOLA
LEGENDA :

LAUT CINA SELATAN
Kab. Bangka Induk 2006 Kab. Je'ne Ponto 2006

Kab. Limapuluh Koto 2008
BANDA ACEH

SAMUDERA

PASIFIK

Batas Antar Negara Batas Propinsi Batas Kabupaten Ibukota Propinsi

Prov. Nanggroe Aceh Darussalam

K

MEDAN

E

P.

MALAYSIA BARAT
L A K

N

A

T

Kab. Bangka Selatan 2004 Kab. Belitung 2008

U

Kota Pangkal Pinang 2005
N A
T M A A

BRUNAI DARUSSALAM

S E L A

P. Simeuleu

Prov. Sumatera Utara

MALAYSIA TIMUR
Kab. Belitung Timur 2008

LAUT

SULAWESI

P. Morotai

Daerah Lokasi Proyek Fasilitas Kebijakan 2003

SINGAPURA
TANJUNG PINANG

P. Nias

PEKANBARU

Kota Bukit Tinggi 2006 Kota Payakumbuh 2005
P. Siberut

Prov. Sumatera Barat
PADANG

Prov. Riau

Prov. Riau Kepulauan

Prov. Kalimantan Timur
PONTIANAK

Prov. Gorontalo

MANADO

Prov. Sulawesi Utara

TERNATE

P. Halmahera P. Waigeo

GORONTALO SAMARINDA PALU

Prov. Kalimantan Barat
T

Prov. Jambi Prov. Bengkulu
BENGKULU

JAMBI

P. Bangka
PANGKAL PINANG

Prov. Bangka-Belitung

Prov. Kalimantan Tengah
PALANGKARAYA

Prov. Sulawesi Barat
MAMUJU BANJARMASIN

Prov. Sulawesi Tengah

LAUT MALUKU
P. Peleng

Prov. Maluku Utara

Fasilitas Kebijakan 2004

P. Biak
P. Salawati P. Misool

Fasilitas Kebijakan 2005 Fasilitas Kebijakan 2006
JAYAPURA

S E LA K A R IM

SORONG

Kep. Sula P. Obi
LAUT SERAM

P. Yapen

Kab. Padang Pariaman 2008

P. Belitung
PALEMBANG

Prov. Sumatera Selatan Prov. Lampung

Kab. Tangerang 2006

Kab. Tanah Datar 2005 Kab. Solok 2003
P. Enggano

Kota Tangerang 2005
Kep. Seribu

LAUT

JAWA

Kab. Takalar 2005

Prov. Kalimantan Selatan

Prov. Sulawesi Tenggara Prov. Sulawesi Selatan

Kab. Konawe 2006

P. Buru

Prov. Irian Jaya Barat

Fasilitas Kebijakan 2008

A TA

KENDARI
P. Wowoni

P. Buru

P. Buton

Kab. Kolaka 2008

Prov. Maluku

AMBON

Prov. Papua

BANDAR LAMPUNG

SERANG

Daerah Khusus Ibukota Jakarta
JAKARTA BANDUNG

Kab. Batang 2008
KEP. KARIMUN JAYA

UJUNGPANDANG

Kab. Konawe Selatan 2006 Kab. Bulukumba 2008

Prov. Banten

Prov. Jawa Tengah

P. Bawean

Kep. Kangean

Kab. Rembang 2008

LAUT
P. Wetar
KEP. ALOR

Kab. Pesisir Selatan 2006 Kab. Sawahlunto Sijunjung 2004 Kota Sijunjung 2008 Kota Cilegon 2006

SEMARANG SURABAYA

Prov. Jawa Barat Daerah Istimewa Yogyakarta
YOGYAKARTA

Kab. Buton 2008

BANDA

Prov. Jawa Timur

Prov. Bali
DENPASAR

MATARAM

Kab. Selayar 2005 LAUT FLORES
Prov. Nusa Tenggara Timur
KEP. SOLOR

Kab. Grobongan 2005 Kab. Subang 2003 Kab. Brebes 2006 Kab. Pemalang 2006 Kab. Klaten 2008 Kab. Wonosobo 2008 Kab. Purbalingga 2006

Prov. Nusa Tenggara Barat

TIMOR LORO SAE

LAUT TIMOR
P. Melville P. Croker

ARAFURA
10Ā LS

10Ā LS

KUPANG

P. Roti

LAUT

Kab. Pandeglang 2005

Kab. Sumba Timur 2003 Kab. Bima 2006

Kab. Timor Tengah Selatan 2006
P. Bathrust

P. Marchinbar

SAMUDERA
Kab. Serang 2006 Kab. Cilacap 2006 Kab. Pekalongan 2005

HINDIA

Kab. Kebumen 2004 Kab. Lombok Barat 2004

Kab. Rote Ndao 2006
Tg. Londonderry

Kab. Dompu 2006 Kab. Sumbawa 2005

AUSTRALIA
U

Kab. Lebak 2004

Kab. Lombok Tengah 2006

Teluk Carpentaria

Sekretariat : Jl. Cianjur No.4, Jakarta 10310 Telp./Fax. : (62-21) 314 2046 E-mail : waspola1@cbn.net.id Website : www.waspola.org, www.ampl.or.id

Kab. Lombok Timur 2005
100Ā BT 110Ā BT 120Ā BT

Kab. Sumbawa Barat 2008
130Ā BT

0

50

100

150 Km

140Ā BT

Membangun Komitmen Reformasi Sektor Air Minum dan Sanitasi

108

No Provinsi/Kabupaten/Kota

Alamat

Telephone/Fax

1

Pokja AMPL Provinsi Sumatera Barat Pokja AMPL Kabupaten Bukit Tinggi Pokja AMPL Kabupaten. Tanah Datar Pokja AMPL Kabupaten Sawahlunto Sijunjung Pokja AMPL Kabupaten Solok

Jl. Khatib Sulaiman No.1 Padang 25128 Jl. Jend. Sudirman No. 27-29, Bukit Tinggi. Jl. Pagaruyung, Batusangkar 27281 Jl. Jend. Sudirman, No. 17, Muaro Sijunjung 27451

Telp: (0751) 7054374 Fax : (0751) 7055676 Telp: (0752) 22383 Fax: (0752) 32767 Telp:(0752) 73250 Fax: (0752) 73250 Telp/fax: (0754) 20087

2

3

4

5

Komp. Pekantoran Bupati Jl. Kayu Aro Sukarami Km 20 Solok. Sumatera Barat Jl. Raya Sago Painan

Telp: (0755) 31161

6

Pokja AMPL Kabupaten Pesisir Selatan Pokja AMPL Kota Payakumbuh Pokja AMPL Kabupaten Pasaman

Telp: (0756) 7464131 Fax: (0756) 21414

7

Jl. H. Riky. Rasuna Said Payakumbuh 26213 Jl. Sudirman No.40, Lubuk Sikaping Sumatera Barat Jl. Moh. Syafei, Pariaman Sumatera Barat Jl. Pahlawan No. 5 Payakumbuh, Sumatera Barat Jl. Prof. M. Yamin SH, Sawahlunto 27511

Telp/fax: (0752) 92779/93279 Telp: (0753) 20179 Fax: (0753) 20281

8

9

Pokja AMPL Kabupaten Padang Pariaman Pokja AMPL Kabupaten Lima Puluh Kota

Telp/Fax: (0751) 91195

10

Telp/Fax: (0752) 92033

11

Pokja Ampl Kota Sawahlunto Pokja AMPL Provinsi Bangka Belitung

Telp: (0754) 62200 Fax: (0754) 61009

12

Kom. Pemerintahan Propinsi Telp: (0717) 439335 Kepulauan Bangka Belitung, Fax : (0717) 432389 Kel. Air Itam,Pangkal Pinang 33149,

13

Pokja AMPL Kabupaten Bangka

Jl. Jend. A. Yani, Sungai Liat Bangka, Bangka Belitung Jl. Tanjung Kalian (eks SDN 93) Muntok Bangka Barat Bangka Belitung Komplek Perkantoran Terpadu Pemerintahan Bangka Selatan Gunung Namak, Toboali Bangka Belitung Jl. Raya By Pass. Koba Bangka Belitung Jl. Basuki Rachman Bukit Intan, Pangkal Pinang, Bangka Belitung Kantor Pemerintah Kab. Belitung Timur, Manggar. Bangka Belitung Jl. A. Yani, Tanjung Pandan Bangka Belitung Pusat Pemerintahan Banten Jl. Palima Pakupatan Propinsi Banten, KP3B Serang, 42112 Jl. RM. Nataatmaja No. 5 Rangkas Bitung Jl. A. Yani No. 1 Pandeglang, Banten Jl. Veteran No. 1, Serang, 42112 Komp.Perkantoran Tigaraksa Jl. H. Somawinata Blok C No 1 Tangerang,Banten

Telp/fax: (0717) 95474

14

Pokja AMPL Kabupaten Bangka Barat

Telp/fax: (0716) 22305

15

Pokja AMPL Kabupaten Bangka Selatan

Telp/fax: (0718) 41666

16

Pokja AMPL Kabupaten Bangka Tengah Pokja AMPL Kota Pangkal Pinang

Telp: (0718) 61704 Fax : (0718) 61707 Telp/fax: (0717) 422092

17

18

Pokja AMPL Kabupaten Belitung Timur

Telp/Fax: (0719) 91105

19

Pokja AMPL Kabupaten Belitung Pokja AMPL Provinsi Banten

Telp/Fax: (0719) 21666

20

Telp/fax: (0254) 210909/205986

21

Pokja AMPL Kabupaten Lebak Pokja AMPL Kabupaten Pandeglang Pokja AMPL Kabupaten Serang Pokja AMPL Kabupaten Tangerang

Telp/fax: (0252) 201431

22

Telp/fax: (0253) 201449

23

Telp/fax: (0254) 201952

24

Telp/fax: (021) 5994156

25

Pokja AMPL Kota Serang

Jl. Veteran No. 1 Kota Serang, Banten Gedung Pusat Pemerintahan Jl. Satria Sudirman No. 1 Tangerang 151111 Jl. Pemuda No. 127 – 133 Semarang 50132

Telp/Fax:(0254) 201952

26

Pokja AMPL Kota Tangerang

Telp/fax: (021) 55764955

27

Pokja AMPL Provinsi Jawa Tengah

Telp: (024) 3515591, 3587877 Fax: (024) 355298 Telp/fax: (0282) 542153

28

Pokja AMPL Kabupaten Cilacap Pokja AMPL Kabupaten Purbalingga Pokja AMPL Kabupaten Kebumen Pokja AMPL Kabupaten. Grobogan Pokja AMPL Kabupaten Pekalongan Pokja AMPL Kabupaten Brebes Pokja AMPL Kabupaten Wonosobo Pokja AMPL Kabupaten Klaten

Jl. Kauman No. 28 B Cilacap 53212 Jl. Jambu Karang No. 8 Purbalingga 53311 Jl. Veteran No. 2, Kebumen 54316 Jl. S. Parman No. 23, Purwodadi Grobogan 58111 Jl. Nusantara No. 1. Kajen. Pekalongan. 51128 Jl. Jend. Sudirman 159, Brebes 52212 Jl. Merdeka No1, Wonosobo Gedung Pemda II lt 2 Jl. Pemuda No. 294, Klaten 57424 Jl. Jend. Gatot Subroto No. 8, Rembang 59211 Jl. R.A. Kartini No.1. Batang 51211

29

Telp: (0281) 891271 Fax: (0281) 895194 Telp/fax: (0287) 381570/381423 Telp/fax: (0292) 422304/421084 Telp/fax: (0285) 381789

30

31

32

33

Telp/fax: (0283) 671821

34

Telp/fax: (0286) 321183

35

Telp : (0272) 321046

36

Pokja AMPL Kabupaten Rembang Pokja AMPL Kabupaten Batang

Telp/fax: (0295) 692042

37

Telp/fax: (0285) 392131

38

Pokja AMPL Kabupaten Pemalang Pokja AMPL Prov. Nusa Tenggara Barat Pokja AMPL Kabupaten Lombok Barat Pokja AMPL Kabupaten Sumbawa Pokja AMPL Kabupaten Lombok Timur Pokja AMPL Kab. Lombok Tengah Pokja AMPL Kabupaten Bima Pokja AMPL Kabupaten Dompu Pokja AMPL Kab. Sumbawa Barat Pokja AMPL Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pokja AMPL Kabupaten Rote-Ndao

Jl. Surohadikusumo No. 1, Pemalang 52312 Jl. Flamboyan No.2. Mataram Jl. Soekarno-Hatta Gerung Lombar 83121 Jl. Garuda, Sumbawa Besar 84312 Jl. Prof. Soepomo No. 12 Selong 83611 Jl. Gajah Mada Praya, Praya 83511 Jl. Gatot Subroto, No.3 Raba, Bima 84111 Jl. Baringin, Dompu 84211 Jl. Unru No. 1. Taliwang 84111 Jl. El Tari No. 52, Kupang 85111 Jl. Sidik Senter Bumi Sasando Permailakuning. BAA Nusa Tenggara Timur Jl. Jend. A. Soeharto No. 42, Waingapu - 87112 Jl. Gunung Mollo No. 47, Soe 85511

Telp/fax: (0284) 321364

39

Telp/fax: (0370) 632437 Pes 124 Telp/fax: (0370) 681037

40

41

Telp/fax: (0371)23657

42

Telp/fax: (0376) 21750/22109 Telp: (0370) 653906 Fax: (0370) 655508 Telp/fax: (0374) 43338

43

44

45

Telp: (0373) 21020 Fax: (0373) 21543 Telp/fax: (0370) 631581

46

47

Telp: (0380) 832868 Fax: (0380) 833462 Telp/fax: (0380) 871432

48

49

Pokja AMPL Kabupaten Sumba Timur Pokja AMPL Kab. Timor Tengah Selatan

Telp/fax: (0387) 61383

50

Telp/fax: (0388) 21692

51

Pokja AMPL Provinsi Gorontalo

Komp. Perkantoran Gubernur Telp: (0435) 831587 Gorontalo Jl. Sapta Marga, Kelurahan Botu, Kec. Kota Timur Kota Gorontalo - 96211 Jl. Merdeka Marisa, Tilamuta. Gorontalo Jl. Nani Wartabone No. 55 Suwawa, Gorontalo Jl. Jend. A. Yani No. 3, Gorontalo – 96111 Kantor Pemerintahan. Kab. Pahuwoto - Marisa Gorontalo Jl. Arief Rahman Hakim No. 37 Gorontalo 961115 Jl. Jend. Uripsumaharjo No.269 Makassar 90241 Jl. Lanto Dg Pasewang No. 34, Bontosungu, Jeneponto Jl. Jend. Sudirman No. 26, Takalar - 92212 Jl. Rusa, Sengkang 90911 Jl. Salatungo, Watan Soppeng Telp/fax: (0443) 211112

52

Pokja AMPL Kabupaten Boalemo Pokja AMPL Kabupaten Bone Bolango Pokja AMPL Kabupaten Gorontalo Pokja AMPL Kabupaten Pahuwato

53

Telp/fax: (0435) 8703596

54

Telp/fax: (0435) 881528

55

Telp/fax: (0443) 210454

56

Pokja AMPL Kota Gorontalo Pokja AMPL Provinsi Sulawesi Selatan Pokja AMPL Kabupaten Jeneponto

Telp/fax: (0435) 830412

57

Telp/fax: (0411) 453869/453208 Telp/fax: (0419) 21072

58

59

Pokja AMPL Kabupaten Takalar Pokja AMPL Kabupaten Wajo Pokja AMPL Kabupaten Soppeng

Telp/fax: (0418) 21058

60

Telp/fax: (0485) 21617

61

Telp/Fax: (0484) 21342/21046

62

Pokja AMPL Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan

Jl. Sultan Hasanuddin, Pangkajene 90611,

Telp/fax: (0410) 21103

63

Pokja AMPL Kabupaten Selayar Pokja AMPL Kabupaten Bulukumba Pokja AMPL Kab. Sidenreng Rappang

Jl. A. Yani No. 1, Benteng 92812 Jl. Jend. Sudirman No.1. Bulukumba 92511 Jl. Jend. Sudirman No. 326 Sindenreng – 91611. Sulawesi Selatan Jl. Drs. Abdullah Silondae No.8. Kendari - 93111 Sulawesi Tenggara Jl. Poros Kendari Tinang Gea Andoolo No.3. Kab. Bombana Sulawesi Tenggara Jl. Inolobunggadue No.1 Unaaha, Kab. Konawe, Sulawesi Tenggara Jl. Pemuda No. 118, Kolaka 93517 Jl. Dayanu Ikhsanuddin No. 96 Bau Bau Buton, Sulawesi Tenggara Jl. Dewi Sartika No. 2, Subang 41211 Jl. Kol. Wahid Hudin VIII No. 257, Sekayu, Sumatera Selatan

Telp/fax : (0414) 21070/21463 Telp/fax: (0372) 81765

64

65

Telp/Fax: (0421) 91363

66

Pokja AMPL Provinsi Sulawesi Tenggara

Telp/fax: (0401) 323366/321094

67

Pokja AMPL Kabupaten Konawe Selatan

Telp/fax: (0401) 391042

68

Pokja AMPL Kabupaten Konawe

Telp/fax: (0408) 21090/21005

69

Pokja AMPL Kabupaten Kolaka Pokja AMPL Kota Bau Bau

Telp/fax: (0402) 2826139

70

Telp/fax: (0401) 2321301

71

Pokja AMPL Kabupaten Subang Pokja AMPL Kab. Musi Banyuasin

Telp : (0260) 420551

72

Tel. : (0714) 322849

etidak berkelanjutannya fungsi sarana yang dibangun di masyarakat adalah masalah klasik pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan sejak di era tahun 1970. Hal tersebut sudah seharusnya menjadi pembelajaran bagi semua pihak untuk melakukan perubahan (reformasi) agar pembangunan yang dilakukan dapat berguna dan berkelanjutan. Pemerintah RI telah menyusun kebijakan bersifat nasional yang dapat menjadi acuan pelaksanaan pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan. Penyusunan kebijakan tersebut dilaksanakan melalui proyek Indonesia Water Supply and Sanitation Policy Formulation and Action Planning atau lebih dikenal sebagai WASPOLA. Kebijakan Nasional Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat, yang diluncurkan pada tahun 2003 tersebut telah diimplementasikan di 9 provinsi dan 72 kabupaten/kota. Pendekatan komitmen yang ditawarkan, antara lain melalui penguatan kapasitas mampu mendorong Kelompok Kerja (Pokja) AMPL menjadi menjadi ujung tombak dalam mengimplementasikan Kebijakan Nasional AMPL di daerah. Bagi daerah hal ini menjadi suatu proses penyegaran kembali dengan cara pandang yang baru. Komunikasi yang cair dan intensif menjadi kunci keharmonisan antara pusat dan daerah, yang pada akhirnya mewujudkan terjadinya sinergi dengan berbagai pihak pemangku kepentingan lainnya. Buku Membangun Komitmen Reformasi Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan ini, pada dasarnya menyajikan sebuah pembelajaran bagaimana upaya membumikan Kebijakan Nasional menjadi suatu visi bersama. Tak hanya sekedar menggambarkan proses perubahan (reformasi), tetapi juga tantangan dan hambatan yang melingkupinya selama proses “pembumian” Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL. Buku ini juga mengupas bagaimana pola pikir dan persepsi yang berkembang dari masing-masing pelaku di daerah, siapa saja yang terlibat, bagaimana komitmennya, kelembagaan yang mengimplementasikan kebijakan, dukungan dan kontribusi semua pihak terkait, regulasi yang disediakan, inovasi dan penguatan kapasitas yang dikembangkan, dukungan penganggaran dan keberlanjutan implementasinya, baik ditingkat pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota, sekaligus pemerintah desa/kelurahan, dan pemangku kepentingan lain. Semoga dari pembelajaran ini, dapat menjadi bagian dari upaya pencerahan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan pelayanan AMPL yang berkelanjutan

K

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->