Anda di halaman 1dari 533

HIBAH PENGEMBANGAN COURSE CONTENT PROGRAM HIBAH KOMPETISI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

PERANCANGAN IRIGASI DAN DRAINASE INTERAKTIF BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI

Dedi Kusnadi Kalsim Budi Indra Setiawan Asep Sapei Prastowo Erizal

BAGIAN

DEPARTEMEN

FAKULTAS

: TEKNIK TANAH DAN AIR

: TEKNIK PERTANIAN

: TEKNOLOGI PERTANIAN

2

TEKNIK IRIGASI DAN DRAINASE

2 TEKNIK IRIGASI DAN DRAINASE BAGIAN TEKNIK TANAH & AIR MEI 2006 DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS
2 TEKNIK IRIGASI DAN DRAINASE BAGIAN TEKNIK TANAH & AIR MEI 2006 DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS

BAGIAN TEKNIK TANAH & AIR

2 TEKNIK IRIGASI DAN DRAINASE BAGIAN TEKNIK TANAH & AIR MEI 2006 DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS

MEI 2006

DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Kampus IPB Darmaga PO BOX 220 Bogor, Tilp: (0251) 627.225, Fax: (0251) 627.739. E-mail: dedkus@telkom.net

Teknik Irigasi dan Drainase

3

1. Tinjauan Drainase

Deskripsi Singkat

Mata

Kuliah/Praktikum

Teknik

Irigasi

dan

Pengertian, tujuan dan ruang lingkup irigasi dan drainase. Keperluan air untuk tanaman, kebutuhan air irigasi tanaman, hujan efektif, konsep efisiensi irigasi. Kualitas air untuk irigasi. Sistem dan perencanaan berbagai jenis metoda irigasi:

irigasi permukaan, bawah permukaan, curah dan tetes. Pompa air untuk irigasi: sistem dan perencanaan, analisis biaya pompa. Pengelolaan operasonal dan pemeliharaan jaringan irigasi. Prinsip drainase dalam pengembangan lahan. Drainase permukaan dan bawah permukaan.

Kegunaan mata kuliah/ praktikum

Kuliah dan praktikum MK Teknik Irigasi dan Drainase memberikan dasar perencanaan irigasi dan drainase untuk pengembangan lahan pertanian. Beberapa contoh perancangan dengan data aktual berdasarkan pengalaman profesional dosen pengajarnya diberikan untuk memberikan pengalaman rancangan sehingga mahasiswa dapat menerapkannya sesudah lulus dan bekerja di bidang pengembangan lahan dan air.

Tujuan Instruksional Umum

Setelah mengikuti kuliah dan praktikum MK ini, mahasiswa mampu: (a) menerangkan sistem irigasi dan drainase serta permasalahannya di Indonesia, (b) menghitung keperluan air irigasi untuk suatu pola tanam tertentu dan merancang sistem irigasinya, (c) menerangkan kelemahan/keunggulan pada irigasi permukaan, curah dan tetes, (d) menggunakan dan mengaplikasikan software CROPWAT untuk perencanaan sistem irigasi usahatani agribisnis, (e) merancang sistem irigasi pompa untuk usahatani agribisnis, (f) menjelaskan permasalahan dalam aplikasi drainase permukaan dan bawah permukaan.

Teknik Irigasi dan Drainase

Garis Besar Perkuliahan :

 

GBPP MK Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 322)

 
       

Estimasi

   

No

Tujuan Instruksional Khusus

Pokok Bahasan

Kuliah

Sub-Pokok Bahasan

Waktu

(menit)

Daftar

Pustaka

Dosen

1

Memahami: (a) silabus MK dan cara penilaian; (b) pengertian, ruang lingkup dan tujuan irigasi dan drainase; sistem irigasi/drainase, data statistik dan permasalahan irigasi/drainase di Indonesia; (c) peranan irigasi terhadap ketahanan pangan

Pendahuluan

1.Penjelasan : (a) deskripsi MK, (b) tujuan, (c) materi kuliah/praktikum, (c) cara penilaian 2.Pengertian, ruang lingkup dan tujuan irigasi /drainase, irigasi permukaan, irigasi curah, irigasi tetes, irigasi bawah permukaan (underground irrigation, sub- irrigation) 3.Sistem irigasi/drainase, data statistik dan permasalahan irigasi/drainase di Indonesia, peran irigasi dalam ketahanan pangan

20

3,12

DK

40

40

2

Mahasiswa mampu: (a) memilih metoda untuk menghitung kebutuhan air irigasi untuk berbagai jenis tanaman pada suatu kondisi iklim tertentu di suatu daerah; (b) membedakan kebutuhan air untuk tanaman padi dan non-padi

Kebutuhan air irigasi untuk tanaman non- padi dan padi

1.Berbagai metoda Perhitungan Evapotranspirasi tanaman Acuan (ETo) 2.Penentuan koefisien tanaman 3.Pendugaan hujan efektif 4.Pendugaan kebutuhan air tanaman (ETc) dan keperluan air irigasi 5.Khusus perhitungan kebutuhan air irigasi untuk tanaman padi

30

2,4,6,11

DK

10

 

20

20

20

3

Memahami tentang: (a) neraca lengas tanah di lahan beririgas; (b) perhitungan lama dan selang irigasi; (c) pendugaan pengurangan produksi akibat stress kekurangan air; (d) kemampuan dan kelemahan software CROPWAT

Prediksi pengurangan produksi akibat stress kekurangan air

1. Pengenalan kemampuan dan kelemahan software CROPWAT, pengembangan software

30

4,5,19

DK

2. Neraca lengas tanah di derah perakaran tanaman di lahan beririgasi

20

 

3. Lama dan selang irigasi

20

4. Pendugaan pengurangan hasil akibat kekurangan air

30

4

Memahami tentang: (a) konsep efisiensi irigasi; (b) cara perhitungan dan beberapa data efisiensi irigasi , (b) pengukuran debit, (c) usaha peningkatan efisiensi irigasi

Efisiensi irigasi dan pengukuran debit

1.Konsep efisiensi irigasi dan cara perhitungannya 2.Beberapa metoda pengukuran debit: (a) langsung; (b) kecepatan dan luas penampang; (c) bangunan ukur:

thompson, cipolletti, cut throat, parshal flume, pintu romijn

30

2,3,12,15

DK

70

 

2

5

Memahami tentang: (a) Beberapa sistem pemberian air irigasi dalam irigasi permukaan; (b) Beberapa parameter design

Irigasi Permukaan

1.Beberapa metoda pemberian air irigasi permukaan: (a) furrow, (b) border, (c) flooding. 2.Hubungan antara tekstur tanah, luas dan debit 3.Cara pemberian air irigasi dan kesesuaiannya untuk padi dan non-padi: (a) kontinyu, (b) berkala (intermittent)

30

3,15,17

DK

30

40

6

Memahami nama bangunan, gambar dan fungsinya di jaringan irigasi dan drainase. Memahami kriteria penilaian kualitas air untuk irigasi dan kepekaan tanaman terhadap beberapa parameter kualitas air

Sistem Jaringan

1.Bendung dan bendungan 2.Head work: (a) bangunan sadap, (b) spill way, (c) sediment trap, (d) pintu penguras, (e) kolam olakan (stilling basin) 3.Jaringan utama (primer), sekunder, tersier, kwarter 4.Bangunan bagi, bangunan ukur 5.Penilaian kualitas air untuk irigasi

20

3,10

DK

Irigasi/Drainase

30

Kualitas air irigasi

20

 

20

10

7

Memahami, membuat konstruksi dan pemeliharaan sumur. Memahami perhitungan dan penerapan dalam irigasi pompa. Memahami perhitungan biaya air pompa dan perencanaan untuk agribisnis tanaman hortikultura beririgasi

Pemanfaatan airtanah Irigasi pompa

1. Metoda konstruksi sumur

20

9,16

DK

2. Jenis pompa untuk irigasi dan drainase. Pompa Hidram: prinsip kerja, kurva karakteristik, efisiensi

20

 

3. Total head, statik head, gesekan, major losses, minor losses. Hubungan total head, debit, daya dan efisiensi

20

4. Perhitungan eknonomi pompa: biaya tetap, biaya tak- tetap, biaya total

10

 

5. Pemilihan diameter pipa optimum. Perencanaan dan instalasi pompa untuk irigasi

10

8

Memahami perhitungan modulus drainase, puncak limpasan dan dimensi saluran terbuka

Drainase permukaan

1.Perhitungan modulus drainase untuk padi sawah dan non-padi, kurva DDF 2.Perhitungan puncak limpasan 3.Perhitungan dimensi saluran 4.Kriteria kecepatan minimum dan maksimum

20

8,10

DK

20

 

40

20

9

Memahami perhitungan spasing, diameter pipa dan slope pada drainase bawah-permukaan

Drainase bawah

1. Rumus spasing untuk aliran steady dan non-steady

30

7,13

DK

permukaan

2. Sistem jaringan drainase bawah-permukaan

30

3. Latihan perhitungan spasing, diameter dan slope

40

10,

Mampu menerangkan tentang pengertian

Teknologi Irigasi

1. Teknologi irigasi curah, kelebihan dan kelemahannya

20

14

PR

11

dan komponen irigasi curah, serta uniformity dan efisiensi irigasi curah. Merancang irigasi curah

Curah

2. Uniformity dan Efisiensi irigasi curah

30

3. Komponen irigasi curah: (a) Stasiun Pompa, (b) Jaringan perpipaan, (c) Spesifikasi sprinkler

50

Teknik Irigasi dan Drainase

3

       

4. Rancangan irigasi curah

100

 

12,

Mampu menerangkan tentang pengertian

Teknologi Irigasi Tetes

1. Teknologi tetes, kelebihan dan kelemahannya

2 0

14

PR

13

dan komponen irigasi tetes, uniformity dan efisiensi irigasi tetes. Merancang irigasi tetes

2. Uniformity dan Efisiensi irigasi tetes

30

 

3. Komponen irigasi tetes: (a) Stasiun Pompa, (b) Jaringan perpipaan, (c) Spesifikasi emitter

50

 

4. Rancangan irigasi tetes

100

Garis Besar Praktikum:

 
 

GBPP MK Teknik Irigasi dan Drainase (TEP 322)

 
       

Estimasi

 
 

No

Tujuan Praktikum

Pokok Bahasan

Praktikum

Sub-Pokok Bahasan

Waktu

(menit)

Tempat

Praktikum

Dosen

1.

Mahasiswa mendiskusikan dan menentukan topik permasalahan nasional yang berkaitan dengan keirigasian dan drainase

Masalah nasional

1. PKPI (Perubahan Kebijakan Pengelolaan Irigasi)

150

Ruang kuliah

DK,

keirigasian

2. Agraria

AN

3. Corporate Farming

 

4. Irigasi Mandiri

5. PP 77 tahun 2001

6. Crops and Drops, FAO, 2000 (ada 11 topik bahasan yakni (a) World water resources, (b) Agriculture’s use of water, (c) Production and food security, (d) Overuse and misuse, (e) Floods and droughts, (f) The future, (g) People and water, (h) Improving rainfed production, (i) Improving policies, (j) Towards a better future)

2.

Mahasiswa mampu memilih metoda untuk menghitung kebutuhan air tanaman acuan pada suatu kondisi data iklim tertentu di suatu daerah Mahasiswa mampu : menghitung keperluan air irigasi untuk suatu pola tanam tertentu

Kebutuhan air irigasi

1.Diberikan data iklim, latitude, altitude 2.Menghitung ETo dengan CROPWAT dan IWAN 3.Membandingkan hasilnya dan menganalisisnya 4.Tentukan pola tanam tertentu dalam setahun 5.Tentukan metoda hujan efektif yang digunakan 6.Hitung keperluan air irigasi

150

Ruang

DK,

Komputer

AN

3

Mahasiswa memahami hubungan antara selang irigasi, lama irigasi, jumlah air irigasi terhadap prediksi hasil dan efisiensi irigasi

 

Penjadwalan irigasi

1. Tentukan tekstur tanah tertentu

150

Ruang

DK,

2. Tentukan cara penjadwalan tertentu

Komputer

AN

3. Analisis prediksi hasil

4. Berapa efisiensi irigasi

Teknik Irigasi dan Drainase

4

     

5. Bagaimana kalau tanpa irigasi atau tadah hujan ?

     

4

Mahasiswa faham tentang: (a) Beberapa sistem pemberian air dalam irigasi permukaan; (b) Beberapa parameter design

Pengelolaan irigasi di petak tersier berdasarkan studi kasus

1. Ditentukan satu petak tersier di DI tertentu: iklim, luas dan tekstur tanah

150

Ruang

DK,

Komputer

AN

2. Ketersediaan debit air pada MT2 dan MT3 di pintu sadap tersier

   

3. Tentukan jenis tanaman yang akan diusahakan Rancang (a) jumlah blok rotasi irigasi, (b) selang irigasi, (c) lama irigasi, (d) debit air irigasi

5

Mengetahui nama bangunan, gambar dan fungsinya di jaringan irigasi dan drainase

Sistem Jaringan Irigasi/Drainase Utama

1. Pengamatan lapangan jaringan utama irigasi

150

Bendung

DK,

2. Menggambar bangunan bendung, pelimpah, sadap, kantong lumpur, bangunan bagi, bangunan ukur

Empang

AN

6

Mengetahui bangunan di jaringan tersier

Jaringan irigasi/drainase tersier

1. Menggambar bangunan sadap tersier, saluran tersier, box bagi

150

Jaringan

DK,

irigasi

AN

 

2. Pengukuran debit di saluran secara langsung dengan pelampung dan current meter, bangunan ukur

Semplak

3. Permasalahan di petak tersier

7

Mengetahui jenis-jenis pompa dan cara perhitungan head loss

Irigasi pompa

1. Pengenalan jenis-jenis pompa

150

Leuwi Kopo

DK,

2. Perhitungan head loss pada pipa, klep dll

AN

8

Mampu mengerjakan uji pompa

Irigasi pompa

Penentuan kurva karakteristik pompa

150

Leuwi Kopo

DK,

AN

9

Mampu menghitung modulus drainase Mampu menghitung spasing, diameter pipa dan slope pada drainase bawah-permukaan

Drainase permukaan Drainase bawah permukaan

1. Analisis DDF dari data hujan harian menggunakan RAINBOW

3 x 50

Lab

DK,

Komputer

AN

2. Menghitung modulus drainasi untuk padi sawah dan non-padi

   

3. Latihan perhitungan spasing, diameter dan slope

10,11

Mampu menerangkan komponen irigasi dan model konstruksi irigasi curah, serta pengukuran uniformity dan perhitungan efisiensi irigasi curah

Teknologi Irigasi Curah

1. Pengenalan komponen irigasi curah: (a) Stasiun pompa, (b) Jaringan perpipaan , (c) Spesifikasi sprinkler

150

Leuwi Kopo

PR, AN

2. Perhitungan uniformity dan efisiensi irigasi curah

150

12,13

Mampu menerangkan komponen irigasi dan model konstruksi irigasi tetes, serta pengukuran uniformity dan perhitungan efisiensi irigasi tetes

Teknologi Irigasi Tetes

1.Pengenalan komponen irigasi tetes: (a) Stasiun

150

Leuwi Kopo

PR, AN

 

pompa, (b) Jaringan perpipaan , (c) Spesifikasi emitter

2.

Perhitungan uniformity dan efisiensi irigasi curah

150

Teknik Irigasi dan Drainase

Susunan Bahan Ajar

Bahan Kuliah

No

Pokok Bahasan Kuliah

1

Pendahuluan

2

Kebutuhan air irigasi untuk tanaman non-padi dan padi

3

Prediksi pengurangan produksi akibat stress kekurangan air

4

Efisiensi irigasi dan pengukuran debit

5

Irigasi Permukaan

6

Sistem Jaringan Irigasi/Drainase

7

Kualitas air irigasi

8

Pemanfaatan airtanah dan Irigasi pompa

9

Drainase permukaan

10

Drainase bawah permukaan

11

Teknologi Irigasi Curah

12

Teknologi Irigasi Tetes

Bahan Praktikum

No

Pokok Bahasan Praktikum

1

Masalah nasional keirigasian

2

Kebutuhan air irigasi

3

Penjadwalan irigasi

4

Pengelolaan irigasi di petak tersier berdasarkan studi kasus

5

Sistem Jaringan Irigasi/Drainase Utama

6

Jaringan irigasi/drainase tersier

7

Irigasi pompa

8

Drainase permukaan dan Drainase bawah permukaan

9

Teknologi Irigasi Curah

10

Teknologi Irigasi Tetes

Petunjuk Bagi Mahasiswa Untuk Menggunakan Bahan Ajar

Setelah mempelajari bahan ajar pada setiap topik bahasan, anda harus berusaha untuk mengerjakan latihan soal yang tersedia dalam topik itu. Untuk melihat seberapa jauh pengerjaan soal latihan, anda dapat menceknya dengan kunci jawaban yang tersedia. Klarifikasi hasil hitungan dapat ditanyakan ke dosen yang bersangkutan lewat e-mail. Bahan ajar dicuplik dari beberapa diktat kuliah yang sudah tersedia. Untuk lebih mendalami materi kuliah diharapkan anda membaca buku acuan yang tersedia di perpustakaan IPB atau di perpustakaan pribadi masing-masing dosen.

Bagi mereka yang ingin tahu lebih banyak tersedia beberapa teks file dalam pdf yang diambil dari internet. File tersebut disusun untuk setiap Topik dan disimpan dalam Folder File Tambahan sesuai dengan topik Kuliah. Di dalam Folder File Tambahan

2

juga tersedia Software CROPWAT-WIN dan RAINBOW-WIN yang digunakan dalam analisis.

Dalam File Tambahan juga terdapat judul beberapa film dalam bentuk CD tersedia di koordinator MK ini. Judul film tersebut: (a) Cultivating the Northern Dream (18 menit), (b) Agricultural Kingdom in Hokkaido, Japan (43 menit); (b) Berilah Aku Air (45 menit). Bagi mereka yang ingin menambah wawasan dapat menghubungi dosen koordinator untuk meminjam copy dari film-film tersebut.

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 1. Pendahuluan Pengantar Kuliah - dkk

1

Topik 1. Pendahuluan Pengantar Kuliah

Kuliah - dkk 1 Topik 1. Pendahuluan Pengantar Kuliah Pendahuluan Tujuan instruksional khusus, mahasiswa memahami:

Pendahuluan

Tujuan instruksional khusus, mahasiswa memahami:

(a)

Pengertian, ruang lingkup dan tujuan irigasi dan drainase

(b)

Bagaimana kondisi sistem irigasi dan drainase yang ada di Indonesia

(c)

Data statistik dan permasalahan irigasi/drainase di Indonesia

(d)

Bagaimana peranan irigasi terhadap ketahanan pangan

(e)

Bagaimana permasalahan air secara nasional dan internasional

Bahan Ajar

Bahan Ajar terdiri dari:

(1) Paper dari beberapa referensi mengenai keirigasian di Indonesia (2) Beberapa paper pada Seminar Nasional Ketahanan Pangan di UNILA, Bandarlampung 15-17 November 2007 terdiri dari: (a) Ditjen Tanaman Pangan, (b) Ditjen Peternakan, (c) Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, (d) Bulog, (e) Pidato Menteri Pertanian. (3) Irrigation History of Indonesia (dalam bentuk file pdf) (4) Paper dari FAO, 2000. Crops and Drops terdiri dari 11 topik bahasan yakni (a) World water resources, (b) Agriculture’s use of water, (c) Production and food security, (d) Overuse and misuse, (e) Floods and droughts, (f) The future, (g) People and water, (h) Improving rainfed production, (i) Improving policies, (j) Towards a better future). (5) Film dokumenter dalam bentuk VCD dari Jepang berjudul The Agricultural Kingdom in Hokkaido, Japan. Bahan ajar no 2, 3, 4, 5 dan lainnya ada di File Tambahan Topik 1

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 1. Pendahuluan Pengantar Kuliah - dkk

2

1. Tinjauan Historis Pembangunan Irigasi di Indonesia Mewujudkan kembali Irigasi Masyarakat, Effendi Pasandaran dan Suparmono. Rabu 12 Desember 2001, Kanpus Departemen Pertanian. Ditjen. Bina Sarana Pertanian Deptan dengan Masyarakat Peduli Air.

Pembangunan irigasi di Hindia Belanda dimulai dengan adanya kelaparan karena gagal panen tahun 1848/49 sekitar 200.000 orang meninggal dunia di Demak (Van der Giessen, 1946), sehingga pada tahun 1859 dibangun bendung Glapan di S. Tuntang mengairi 12.000 ha.

Awal abad ke 20 lahir “politik etis” yang intinya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pribumi diprogramkan 3 hal yakni: (1) IRIGASI, (2) EDUKASI dan (3) TRANSMIGRASI.

Tahun 1885 dibentuk Departemen BOW (Burgerlijke Openbare Werker) cikal bakal Departemen Pekerjaan Umum

Tahun 1905 dibentuk Departement van Landbouw, cikal bakal Departemen Pertanian. Selain irigasi yang dibangun pemerintah pada tahun 1914, sudah ada sawah beririgasi yang dibangun masyarakat seluas 2/3 dari total sawah beririgasi.

 

Periode tahun

Areal irigasi yang selesai dibangun (ha)

Laju pembangunan (ha/tahun)

1880

– 1910

225.000

7.500

1910

– 1930

375.000

18.750

1930

– 1940

470.000

47.000

1945

Kemerdekaan RI

 

S/d 1960

Irigasi terlantar

 

Pelita I 1969-1974

Rehabilitasi irigasi, perluasan irigasi skala besar dan kecil

Tabel. Lahan Irigasi di Jawa (ha) dari tahun 1914 – 1925

Jenis Irigasi

 

1914

1918

1925

Irigasi permanen

 

578.524

548.000

1.040.000

Irigasi

dalam

fase

187.237

300.000

183.000

konstruksi

Irigasi dalam fase persiapan

470.641

471.000

505.000

Sawah beririgasi

 

1.518.099

1.400.000

2.840.000

Irigasi masyarakat

 

939.575

852.000

1.800.000

Sumber: Handbook of the Netherlands East Indies, 1916, 1920, 1930.

Apakah benar pembangunan irigasi besar-besaran di Jaman Belanda telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat seperti tujuan semula politik etis? Ada dua pendapat:

(a) Meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena adanya peningkatan produksi padi/palawija, perbaikan fasilitas transport, air minum, air mandi dan untuk ternak (b) Tidak ada peningkatan hasil padi, yang jelas penduduk meningkat tajam, tahun 1880 penduduk Jawa 19,5 juta dan pada tahun 1930 menjadi 41,7 juta jiwa (0,44 juta/tahun atau 2,28%).

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 1. Pendahuluan Pengantar Kuliah - dkk

3

Prinsip-prinsip Pengelolaan Irigasi ada dua prinsip utama (Hasselman, 1904):

(a)

Pekalen Regeling: sistem pengelolaan yang didasarkan pada pola tanam (cultuur plan) yang ditetapkan sebelumnya. Pengelolaan air irigasi diperlukan untuk mendukung terlaksananya pola tanam yang dikehendaki, suatu prinsip klasik tentang azas KEGUNAAN

(b)

Pategoean Regeling: mengadopsi prinsip pengelolaan air pada daerah irigasi yang dibangun masyarakat sendiri yaitu alokasi air berdasarkan KESAMAAN KESEMPATAN, sedangkan pola tanam diserahkan sendiri pada masyarakat.

Untuk kepentingan kolonial maka dipilih yang pertama dengan turunannya sistem Golongan, sistem Pasten dll.

Sejak Pelita I:

(a)

Komitmen rehabilitasi dan perluasan irigas dipacu oleh kepentingan mencapai swasembada beras, dengan bantuan kredit lunak dari IDA (International Development Agency)

(b)

Pada kurun waktu 1969-1984: Areal Irigasi seluas 3,4 juta hektar dalam kondisi rusak menjadi 5,0 juta hektar kondisi baik. Intensitas Pertanaman padi meningkat dari 100% menjadi 145%. Produktivitas naik lebih dari 2 kali lipat (2 ton GKG/ha – 4,3 ton GKG/ha). Swasembada beras dicapai tahun 1984 – 1993, sejak tahun 1994 mulai lagi impor beras sekitar 2 –2,5 juta ton/tahun

Perkembangan Ekspor-Impor Beras

3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 19 84 1986 1988 1990 1992 1994
3500
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
19
84
1986
1988
1990
1992
1994
1996
1998
20
-500
-1000
Ribu
ton beras

Tahun

00

Impor ( ribu ton) Ekspor (ribu ton) Import-Eksport

Impor ( ribu ton)

Impor ( ribu ton) Ekspor (ribu ton) Import-Eksport

Ekspor (ribu ton)

Impor ( ribu ton) Ekspor (ribu ton) Import-Eksport

Import-Eksport

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 1. Pendahuluan Pengantar Kuliah - dkk

4

(c) World Bank (1983): beberapa kontribusi terhadap kenaikan produksi beras adalah (a) Air Irigasi 16%, (b) Verietas unggul 5%, (c) Teknologi pemupukan, pestisida dll 4%, (d) Interaksi 75%. Bagaimana menghitungnya?

Beberapa penyebab kenapa swa-sembada beras tidak dapat dipertahankan (1984-1993):

(a)

Kenaikan jumlah penduduk sekitar 2% per tahun

(b)

Naiknya konsumsi beras sekitar 0,6% per tahun dari 110 kg/kapita/tahun (1967) menjadi 130 kg/kapita/tahun (1997)

(c)

Kebijakan nilai tukar rupiah yang overvalued terhadap dollar, sehingga harga impor komoditas pertanian menjadi lebih murah daripada produksi dalam negeri

(d)

Nilai Tukar Petani menurun

Tahun

Harga Traktor

Harga Beras

Equivalent harga traktor terhadap beras (ton)

(Rp/unit)

(Rp/ton)

1973

1.750.000

100.000

17,5

1997

19.000.000

420.000

45,2

(e)

Perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi non-pertanian sekitar 5.000 –20.000 ha/tahun, terutama di Jawa.

(f)

Perkembangan pembentukan P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air) yang cenderung “top down” dengan adopsi standard rancangan bangunan irigasi dan kelembagaan P3A versi birokrasi irigasi

(g)

Sebagian besar sistem irigasi yang dibangun masyarakat ikut terkooptasi menjadi sistem irigasi berwawasan pemerintah, akibatnya melemahkan dinamika internal dan meningkatkan ketergantungan (memperlemah pemberdayaan) pada pemerintah.

(h)

Disadari sejak tahun 1990, biaya OP (Operasi dan Pemeliharaan) tidak memadai lagi, sehingga terjadi penurunan peformansi jaringan irigasi. Untuk itu dilakukan Penyerahan Irigasi Kecil (PIK) di bawah 500 ha kepada P3A. Perhitungan PCI JICA tahun 2000 AKNOP 1 : US$ 15-20/ha/tahun, APBN dan APBD (1999/2000): Rp 71.000/ha/tahun.

Inpres no 3/1999: PKPI (Pembaharuan Kebijakan Pengelolaan Irigasi):

1. Pengaturan kembali tugas dan tanggung jawab Lembaga Pengelola Irigasi

2. Pemberdayaan P3A

3. Penyerahan pengelolaan irigasi pada P3A

4. Pembiayaan pengelolaan irigasi

5. Keberlanjutan sistem pertanian beririgasi

1 AKNOP: Angka Kebutuhan Nyata Operasi dan Pemeliharaan

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 1. Pendahuluan Pengantar Kuliah - dkk

2. Irigasi di Indonesia

5

Irigasi adalah suatu usaha manusia untuk menambah kekurangan air dari pasokan hujan untuk pertumbuhan tanaman yang optimum. Drainase adalah suatu usaha manusia untuk membuang kelebihan air yang merugikan tanaman.

Peranan irigasi dalam meningkatkan dan menstabilkan produksi pertanian tidak hanya bersandar pada produktifitas saja tetapi juga pada kemampuannya untuk meningkatkan faktor-faktor pertumbuhan lainnya yang berhubungan dengan input produksi. Irigasi mengurangi resiko kegagalan panen karena ketidak-pastian hujan dan kekeringan, membuat unsur hara yang tersedia menjadi lebih efektif, menciptakan kondisi kelembaban tanah optimum untuk pertumbuhan tanaman, serta hasil dan kualitas tanaman yang lebih baik.

Metoda penggunaan air irigasi untuk tanaman dapat digolongkan ke dalam: (a) irigasi permukaan (surface irrigation), (b) irigasi bawah-permukaan tanah (sub-surface irrigation), (c) irigasi curah (sprinkler), dan (d) irigasi tetes (drip atau trickle irrigation). Irigasi curah dan tetes disebut juga irigasi bertekanan (pressurized irrigation). Pemilihan metoda irigasi tersebut tergantung pada: (a) air yang tersedia, (b) iklim, (c) tanah, (d) topografi, (e) kebiasaan, dan (f) jenis dan nilai ekonomi tanaman.

Pada irigasi permukaan berdasarkan perbedaan status kelembaban tanah dan keperluan air tanaman dibedakan menjadi dua hal yakni: (a) irigasi padi sawah dan (b) irigasi untuk tanaman bukan-padi sawah (upland crops).

Di Indonesia sebagian besar irigasi termasuk pada irigasi permukaan. Irigasi bertekanan

sprinkler dan tetes banyak digunakan di perusahaan agro-industri. Irigasi curah pada perkebunana tebu, kopi, nenas, bawang, dan jagung. Irigasi tetes pada pertanian rumah kaca untuk melon, cabai, bunga krisyan, dan sayuran.

Akhir-akhir ini berkembang di masyarakat suatu teknologi budidaya sawah yang hemat air, hemat biaya, dan berproduksi tinggi yakni suatu teknologi yang disebut dengan SRI (system of rice intensification). SRI dikembangkan sejak tahun 1980 oleh Fr. Henri de Laulanie, S.J, seorang pendeta Perancis yang bertugas di Madagaskar sejak tahun 1961. Sebelum tahun 1999 SRI hanya dikenal dan dipraktekkan di Madagaskar saja. Sekarang

ini dicobakan di hampir 50 negara dengan hasil produksi SRI sekitar 7 ~ 10 ton Gabah

Kering Panen (GKP)/ha.

Bagaimana peranan Irigasi terhadap ketahanan pangan?

Beras adalah makanan pokok rakyat Indonesia yang sampai sekarang masih belum mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Dengan usaha keras revolusi hijau swasembada beras pernah terjadi pada tahun 1984-1993. Mulai tahun 1994 Indonesia kembali menjadi negara importir beras. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya dana untuk operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi, sehingga kinerja jaringan irigasi menurun.

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 1. Pendahuluan Pengantar Kuliah - dkk

6

Bagaimana potensi produksi dan kebutuhan konsumsi beras?

Data areal padi beririgasi, IP 2 dan produksi beras tahun 2002 tercantum pada Tabel 1. Data produksi dan impor beras tercantum pada Tabel 2. Kebutuhan konsumsi beras pada tahun 2001 sekitar 28,538 juta ton beras 3 , sedangkan produksi nasional sekitar 25,270 juta ton beras, sehingga masih diperlukan impor sekitar 3,268 juta ton beras.

Tabel 1. Areal padi beririgasi dan produksi beras di Indonesia tahun 2002 4

   

Luas

 

Ton

   

Pulau

Sawah

irigasi (Ha)

tanam

(Ha)

CI

GKG/

Ha

Ton

GKG/tahun

Ton

Beras/tahun

Sumatera

2.087.939

2.674.589

1,28

3,92

10.487.732

5.243.866

Jawa

3.336.302

5.260.857

1,58

5,31

27.921.999

13.960.999

Bali+NTB+NTT

413.377

527.965

1,28

4,46

2.356.484

1.178.242

Kalimantan

885.397

699.619

0,79

3,08

2.157.158

1.078.579

Sulawesi

937.084

1.201.876

1,28

4,2

5.053.888

2.526.944

Maluku+ Papua

td

22.629

 

3,02

68.339

34.169

INDONESIA

7.660.099

     

48.045.601

24.022.800

Tabel 2. Rerata produksi, impor, dan ketergantungan beras

Keterangan

1995-1997

1998-2001

Produksi beras (ton)

25.037.117

25.269.727

Impor beras (ton)

1.503.000

3.268.000

Rasio ketergantungan (%)

6,0

12,9

Konsumsi (ton)

26.540.117

28.537.727

CI adalah cropping intensity atau intensitas pertanaman (IP) yakni luas areal tanam dalam setahun dibagi dengan luas areal irigasinya. Di daerah irigasi seharusnya IP lebih besar dari 1 karena mampu bertanam baik pada MH maupun pada MK.

Nilai IP yang relatif kecil diduga disebabkan oleh belum efisien nya pengelolaan air irigasi di Indonesia. Cara budidaya padi model konvensional memerlukan jumlah air yang besar (1.000-2.000 mm/musim atau 10.000 ~ 20.000 m 3 air per hektar). Perbaikan pengelolaan air dan sistim budidaya padi hemat air, memungkinkan untuk meningkatkan IP dan produktivitas. Jika kita mampu meningkatkan IP 10% dan tingkat produktivitas meningkat 20%, maka hasil produksi beras nasional dari areal beririgasi sudah mencukupi kebutuhan pangan nasional seperti pada Tabel 3. Produksi beras yang akan dicapai dari daerah beririgasi saja sekitar 30,921 juta ton, sudah mencukupi kebutuhan nasional bahkan surplus sekitar 2,383 juta ton beras.

Selain penggunaan air masih boros dan pengelolaan air yang kurang efisien, juga ketersediaan air semakin berkurang akibat dari perubahan iklim global maupun kerusakan DAS di daerah hulu. Pengelolaan air yang kurang efisien disebabkan oleh

2 IP (Indeks Pertanaman) = Luas tanam setahun/luas oncoran 3 Angka konsumsi beras nasional jika dihitung berdasarkan jumlah penduduk 200 juta jiwa, dan menggunakan data konsumsi per kapita per tahun 145,31 kg (Susenas, 2005) atau 139,15 kg (Menko Perekonomian), maka angka konsumsi beras nasional per tahun berkisar antara 27,830 ~ 29,062 juta ton.

4 Sumber: Statistical Yearbook of Indonesia, 2003

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 1. Pendahuluan Pengantar Kuliah - dkk

7

kurangnya dana pemerintah untuk pemeliharaan dan operasional sehingga infratruktur irigasi/drainase terdegradasi dan setiap tahun kemampuan irigasi semakin berkurang.

Tabel 3. Prediksi hasil beras di daerah beririgasi dengan kenaikan IP 10%, dan kenaikan produksi 20%

     

Luas

     

Pulau

Sawah irigasi

(Ha)

CI

tanam

(ha)

ton

gkg/ha

ton

gkg/tahun

ton beras/tahun

Sumatera

2.087.939

1

2.881.356

 

13.553.898

6.776.949

,38

4,704

Jawa

3.336.302

1

5.604.987

 

35.714.979

17.857.490

,68

6,372

Bali+NTB+NT

 

1

       

T

413.377

,38

570.460

5,352

3.053.103

1.526.552

Kalimantan

885.397

0

788.003

 

2.912.460

1.456.230

,89

3,696

Sulawesi

937.084

1

1.293.176

5,04

6.517.607

3.258.803

,38

Maluku+ Papua

td

 

24.892

3,624

90.208

45.104

INDONESIA

7.660.099

 

11.162.875

 

61.842.256

30.921.128

Indonesia Tak (Lagi) Kaya Sumber Lahan Pertanian 5 . Kenapa Indonesia masih mengimpor pangan? (kedelai, jagung, beras, gula dll). Umumnya kita masih beranggapan bahwa Indonesia luas lahannya dan subur. Tetapi kenyataannya Indonesia hanya memiliki lahan pertanian basah 7,8 juta ha dan lahan kering 6,43 juta ha (Tabel 4). Jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya, maka rerata luas lahan pertanian per jumlah penduduk hanya 354 m 2 untuk lahan basah, dan 646 m 2 jika dimasukan juga lahan pertanian kering (Tabel 5). Angka ini terkecil dibandingkan dengan negara lainnya. Negara-negara pertanian di dunia umumnya memiliki ketersediaan lahan pertanian per kapita di atas 1.000 m 2 . Maka jelaslah kenapa Indonesia selalu kekurangan pangan. Kebijakan perluasan lahan pertanian merupakan suatu keharusan kalau ingin swasembada pangan. Hanya dengan menambah luas lahan pertanian baru itulah kekurangan produksi pangan nasional dapat diatasi secara berkelanjutan. Upaya yang lain adalah penyelesaian sementara atau program tambal sulam.

Tabel 4. Komposisi Lahan Pertanian Basah Indonesia

   

Luas lahan (ha)

   

Tipe Lahan

   

Bali, NTT,

Kaliman-

Sulawe-

P

 

Sumatera

Jawa

NTB

tan

si

apua

?

Total

Irigasi teknis

321.234

1.516.252

84.632

24.938

262.144

 

2.209.200

Irigasi semi teknis

257.771

402.987

173.364

33.297

121.402

 

988.821

Irigasi pedesaan

455.235

615.389

92.070

189.326

234.933

 

1.586.953

Sawah tadah hujan

550.440

777.029

68.380

339.705

279.295

 

2.014.849

Rawa lebak

288.661

776

29

323.556

2.179

 

615.201

Pasang surut

230.621

4.144

72

97.603

884

 

333.324

Jumlah

2.103.962

3.316.577

418.547

1.008.425

900.837

0

7.748.348

5 Sumber: Kompas 21/9/2005. Sumarno (Mantan Dirjen Hortikultura, Deptan). Indonesia Tak (Lagi) Kaya Sumber Lahan Pertanian.

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 1. Pendahuluan Pengantar Kuliah - dkk

Sumber: Statistik Pertanian, Departemen Pertanian 2004

Teknik Irigasi dan Drainase

8

Topik 1. Pendahuluan Pengantar Kuliah - dkk

9

Tabel 5. Perbandingan Luas Lahan Pertanian dengan Jumlah Penduduk dan Luas Lahan per Kapita

 

Luas Lahan

Jumlah

Luas Lahan

Negara

Pertanian

(ribuan ha)

Penduduk

(ribuan)

per

Kapita

(m

2 )

Argentina

33.700

37.074

 

9.090

Australia

50.304

19.153

 

26.264

Bangladesh

8.085

123.406

 

655

Brasil

58.865

171.796

 

3.426

Kanada

45.740

30.769

 

14.866

Cina

143.625

1.282.172

 

1.120

India

161.750

1.016.938

 

1.591

Indonesia (1)

7.780

220.000

 

354

Thailand

31.839

60.925

 

5.226

Amerika Serikat

175.209

285.003

 

6.148

Vietnam

7.500

78.137

 

960

Indonesia (2)

14.210

220.000

 

646

Sumber: FAO, 2004 (1): Lahan sawah irigasi+non irigasi (2): Lahan sawah + lahan kering (6,43 juta ha) Lahan perkebunan dan kehutanan tidak dimasukkan

Kondisi sekarang (2005) lahan sawah irigasi dan non-irigasi luasnya 7,8 juta ha, lahan kering (tanaman pangan) luasnya 6,4 juta ha. Idealnya lahan sawah 15 juta ha, dan lahan kering (tanaman pangan) 20 juta ha. Sehingga total 35 juta ha dan rasionya menjadi 1.591 m 2 per kapita seperti India.

Jika digunakan jumlah tenaga kerja di sektor pertanian yakni 12.396.778 petani lahan basah dan 1.918.429 petani lahan kering (data masih dipertanyakan akurasinya?), maka rasio luas lahan pertanian sawah per petani sekitar 0,63 ha/petani lahan sawah; dan 3,35 ha/petani lahan kering. Jika digunakan total lahan pertanian dan total petani, maka rerata 0,99 ha lahan pertanian/petani. Kalau lahan sawah menjadi 15 juta ha dan lahan kering menjadi 20 juta ha, maka rerata pengusahaan lahan sawah menjadi 1,2 ha/petani lahan sawah dan lahan kering menjadi 10,4 ha/ petani lahan kering.

Beberapa isu penting keirigasian adalah: (a) Gagal Panen Akibat Kekeringan di Daerah Irigasi, (b) Teknologi Irigasi Hemat Air, (c) Degradasi DAS dan Pengaruhnya Terhadap Ketersediaan Air, (d) Kontribusi/Kompensasi Hilir-Hulu, (e) Nilai Ekonomi Air Kaitannya Dengan Biaya OP, (f) Conjuctive Use Air Permukaan-Air Tanah, (g) Stabilitas Lahan Pertanian Beririgasi

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 1. Pendahuluan Pengantar Kuliah - dkk

Penutup

Beberapa pertanyaan:

10

(1) Peranan irigasi terhadap pertanian dicirikan dengan naiknya produktivitas dan intensitas pertanaman padi sesudah adanya irigasi. Akan tetapi data di Kalimantan (Tabel 1) menunjukkan bahwa intensitas tanam padi untuk daerah irigasi hanya 0,76. Apa yang menyebabkan hal tersebut? (2) Apa artinya angka tersebut dari segi efisiensi alokasi dana pembangunan? (3) Kenapa produksi beras Tabel 1 lebih kecil daripada produksi beras pada Tabel 2? (4) Apa tujuan irigasi (5) Apa tujuan drainase (6) Di Indonesia dikenal klasifikasi irigasi teknis, setengah teknis dan irigasi desa. Parameter apa yang mencirikan klasifikasi tersebut? (7) Apa yang dimasud dengan: (a) irigasi permukaan, (b) irigasi bawah permukaan, (c) irigasi curah, (d) irigasi tetes (8) Berapa hektar minimum luas pengusahaan petani untuk menjamin tingkat kesejahteraan yang layak? Bagaimana cara menghitungnya? (9) Apa yang dimaksud dengan (a) Intensitas Pertanaman (Cropping Intensity), (b) Luas tanam, (c) Luas panen (10)Berapa hektar rerata luas pengusahaan petani di Indonesia sekarang ini? (11)Bagaimana peran irigasi dalam usaha ketahanan pangan (12)Bagaimana masalah keirigasian di Indonesia sekarang ini (13)Aspek apa yang dicakup dalam pengelolaan sumberdaya air (14)Aspek apa yang dicakup dalam pengelolaan air irigasi (15) Apa peranan irigasi dalam pencapaian swa-sembada beras di tahun 1984-1993? Kenapa Indonesia mulai mengimpor beras lagi sejak tahun 1994? (16)Pada waktu penjajahan Belanda awal abad 20 muncul politik etis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pribumi. (a) Program apa saja dalam politik etis tersebut? (b) Bagaimana relevansinya dengan kondisi sekarang? (17)Apa isi Inpres no 3 tahun 1999 tentang Pembaharuan Kebijakan Pengelolaan Irigasi (PKPI)? (18) Saudara sudah melihat VCD tentang pembangunan pertanian lahan gambut di Hokkaido Jepang. (a) Apa kunci keberhasilan pengembangan lahan gambut di Hokkaido? (b) Bandingkan dengan kegagalan proyek pengembangan lahan gambut sejuta hektar di Kalimantan Tengah?

Kunci Jawaban:

(1) Pilihan Jawaban: (a) Kemungkinan salah data, (b) daerah beririgasi kurang baik operasionalnya, (c) Budaya penduduk Kalimantan adalah budaya kebun dan hutan. (2) Pembangunan irigasi di Kalimantan adalah sesuatu pemborosan karena masyarakatnya belum terbiasa untuk budidaya tanaman pangan intensif (3) Pada Tabel 2 termasuk juga lahan sawah tadah hujan (4) Irigasi: untuk memasok kekurangan air dari hujan agar tanaman tumbuh optimum (5) Drainase: untuk membuang kelebihan air agar tanaman tumbuh optimum

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 1. Pendahuluan Pengantar Kuliah - dkk

11

(6) Irigasi teknis: debit dapat diukur dan diatur. Irigasi setengah teknis: debit dapat diatur tak dapat diukur. Irigasi desa: debit tak dapat diukur dan diatur. (7) Irigasi permukaan: air irigasi diberikan lewat permukaan tanah. Irigasi bawah permukaan: air irigasi diberikan lewat bawah permukaan tanah. Irigasi curah: air irigasi diberikan dari atas permukaan tanah meniru hujan. Irigasi tetes: air irigasi diberikan menetes ke daerah perakaran tanaman. (8) Gunakan beberapa angka parameter: (a) Tingkat pendapatan layak keluarga petani (Rp/ha/bulan); (b) Tingkat produksi padi (ton GKG/ha/MT); (c) Harga jual petani (Rp/kg GKG); (d) Biaya produksi (benih, pupuk, upah tenaga kerja, air irigasi, sewa tanah) Rp/ha/MT; (e) Pendapatan bersih petani (Rp/ha/MT); (f) Hitung luas minimum pengelolaan setiap petani (ha) (9) Intensitas Pertanaman (IP) padi di suatu daerah irigasi adalah jumlah luas tanaman padi (ha) setiap MT dalam setahun dibagi dengan luas irigasi atau oncoran (ha). Luas tanam: adalah total areal tanam dalam setahun. Luas panen adalah total areal panen dalam setahun, angkanya lebih ecil atau sama dengan luas tanam. Jika luas panen < luas tanam berarti ada areal yang puso (gagal panen) karena hama, penyakit, banjir, atau kekeringan. Istilah IP harus disertai dengan komoditasnya, sebagai contoh IP padi, IP palawija dan lain sebagainya. (10)Sekitar 1/3 ha per keluarga petani (11)Dengan irigasi dan pengelolaan air yang baik maka IP dapat meningkat, produktivitas (ton GKG/ha) meningkat. Total produksi dalam setahun adalah perkalian dari luas sawah beririgasi dikalikan dengan IP dikalikan dengan produktivitas. Total produksi juga akan meningkat sehingga ketersediaan pangan per kapita juga akan meningkat. (12) Terjadi penurunan kinerja di daerah irigasi yakni penurunan IP dan produktivitas. Penurunan IP disebabkan oleh 2 faktor yakni: (a) menurunnya debit sungai pada MK karena kondisi DAS nya rusak, dan (b) menurunnya efisiensi jaringan irigasi karena tidak mencukupinya biaya OP dari pemerintah. (13)Pengelolaan sumberdaya air mencakup tiga aspek yakni (a) Pendayagunaan sumberdaya air, (b) Konservasi sumberdaya air, dan (c) Pengendalian daya rusak (14)Pengelolaan air rigasi mencakup dua aspek yakni (a) pengoperasian, dan (b) pemeliharaan (15)Sejak Pelita I:

a. Komitmen rehabilitasi dan perluasan irigas dipacu oleh kepentingan mencapai swasembada beras, dengan bantuan kredit lunak dari IDA (International Development Agency)

b. Pada kurun waktu 1969-1984: Areal Irigasi seluas 3,4 juta hektar dalam

kondisi rusak menjadi 5,0 juta hektar kondisi baik. Intensitas Pertanaman padi meningkat dari 100% menjadi 145%. Produktivitas naik lebih dari 2 kali lipat (2 ton GKG/ha – 4,3 ton GKG/ha).

c. World Bank (1983): beberapa kontribusi terhadap kenaikan produksi beras adalah (a) Air Irigasi 16%, (b) Verietas unggul 5%, (c) Teknologi pemupukan, pestisida dll 4%, (d) Interaksi 75%. Bagaimana menghitungnya? Kenapa swa-sembada beras tidak dapat dipertahankan?:

(a) Kenaikan jumlah penduduk sekitar 2% per tahun (b) Naiknya konsumsi beras sekitar 0,6% per tahun dari 110 kg/kapita/tahun (1967) menjadi 130 kg/kapita/tahun (1997)

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 1. Pendahuluan Pengantar Kuliah - dkk

12

(c)

Kebijakan nilai tukar rupiah yang overvalued terhadap dollar, sehingga harga impor komoditas pertanian menjadi lebih murah daripada produksi dalam negeri

(d)

Nilai Tukar Petani menurun

(e)

Perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi non-pertanian sekitar 5.000 –20.000 ha/tahun, terutama di Jawa.

(f)

Perkembangan pembentukan P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air) yang cenderung “top down” dengan adopsi standard rancangan bangunan irigasi dan kelembagaan P3A versi birokrasi irigasi

(g)

Sebagian besar sistem irigasi yang dibangun masyarakat ikut terkooptasi menjadi sistem irigasi berwawasan pemerintah, akibatnya melemahkan dinamika internal dan meningkatkan ketergantungan (memperlemah pemberdayaan) pada pemerintah.

(h)

Disadari sejak tahun 1990, biaya OP (Operasi dan Pemeliharaan) tidak memadai lagi, sehingga terjadi penurunan peformansi jaringan irigasi. Untuk itu dilakukan Penyerahan Irigasi Kecil (PIK) di bawah 500 ha kepada P3A.

Perhitungan PCI JICA tahun 2000 AKNOP 6 : US$ 15-20/ha/tahun, APBN dan APBD (1999/2000): Rp 71.000/ha/tahun. (16)Politik Etis pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke 20: (a) Irigasi, (b) Edukasi, (3) Transmigrasi. Apakah program ini masih relevan sekarang? (17) Inpres no 3/1999: PKPI (Pembaharuan Kebijakan Pengelolaan Irigasi):

a. Pengaturan kembali tugas dan tanggung jawab Lembaga Pengelola Irigasi

b. Pemberdayaan P3A

c. Penyerahan pengelolaan irigasi pada P3A

d. Pembiayaan pengelolaan irigasi

e. Keberlanjutan sistem pertanian beririgasi

Daftar Pustaka

1. Kompas 21/9/2005. Sumarno (Mantan Dirjen Hortikultura, Deptan). Indonesia Tak (Lagi) Kaya Sumber Lahan Pertanian.

2. Statistical Yearbook of Indonesia, 2003

3. Balitbang Departemen Pertanian, 2003. Kebijakan Perberasan dan Inovasi Teknologi Padi. Puast Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.

4. Kasryno, Faisal; Effendi Pasandaran; Achmad M. Fagi (eds), 2004. Ekonomi Padi dan Beras Indonesia. Balitbang Departemen Pertanian.

5. FAO, 2000. Crops and Drops (pdf file)

6. VCD The Agricultural Kingdom in Hokkaido

6 AKNOP: Angka Kebutuhan Nyata Operasi dan Pemeliharaan

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 2. Kebutuhan Air Irigasi - dkk

1

Topik 2. Kebutuhan Air Irigasi Untuk Tanaman Non-Padi dan Padi

2. Kebutuhan Air Irigasi Untuk Tanaman Non-Padi dan Padi Pendahuluan Tujuan Instruksional Khusus: Mahasiswa mampu:

Pendahuluan

Tujuan Instruksional Khusus: Mahasiswa mampu: (a) memilih metoda untuk menghitung kebutuhan air irigasi untuk berbagai jenis tanaman pada suatu kondisi iklim tertentu di suatu daerah; (b) membedakan kebutuhan air untuk tanaman padi dan non- padi.

Pokok bahasan:

(a)

Berbagai metoda Perhitungan Evapotranspirasi tanaman Acuan (ETo)

(b)

Penentuan koefisien tanaman

(c)

Pendugaan hujan efektif

(d)

Pendugaan kebutuhan air tanaman (ETc) dan keperluan air irigasi

(e)

Khusus perhitungan kebutuhan air irigasi untuk tanaman padi

Bahan Ajar

Bahan Ajar terdiri dari: (1) Air yang diperlukan tanaman dan pemakaian air, (2) Irigasi padi sawah, (3) Penelitian SRI (System of Rice Intensification). Pada File Tambahan

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 2. Kebutuhan Air Irigasi - dkk

2

Kuliah Topik 2, tercantum: (a) Software dan manual program CROPWAT-win, (b) D.K. Kalsim, 2007. Rancangan Operasional Sistim Irigasi untuk Pengembangan SRI. Seminar KNI-ICID 24 November 2007, Bandung, (c) Deficit Irrigation, paper FAO, 2003, dalam bentuk pdf.

1. Air yang Diperlukan Tanaman dan Pemakaian Air

Penggunaan konsumtif adalah jumlah total air yang dikonsumsi tanaman untuk penguapan (evaporasi), transpirasi dan aktivitas metabolisme tanaman. Kadang-kadang istilah itu disebut juga sebagai evapotranspirasi tanaman. Jumlah evapotranspirasi kumulatif selama pertumbuhan tanaman yang harus dipenuhi oleh air irigasi, dipengaruhi oleh jenis tanaman, radiasi surya, sistim irigasi, lamanya pertumbuhan, hujan dan faktor lainnya. Jumlah air yang ditranspirasikan tanaman tergantung pada jumlah lengas yang tersedia di daerah perakaran, suhu dan kelembaban udara, kecepatan angin, intensitas dan lama penyinaran, tahapan pertumbuhan, tipe dedaunan.

Terdapat dua metoda untuk mendapatkan angka penggunaan konsumtif tanaman, yakni (a) pengukuran langsung dengan lysimeter bertimbangan (weighing lysimeter) atau tidak bertimbangan (Gambar 1a dan 1b), dan (b) secara tidak langsung dengan menggunakan rumus empirik berdasarkan data unsur cuaca.

Secara tidak langsung dengan menggunakan rumus empirik berdasarkan data unsur cuaca, pertama menduga nilai evapotranspirasi tanaman acuan 1 (ETo). ETo adalah jumlah air yang dievapotranspirasikan oleh tanaman rumputan dengan tinggi 15~20 cm, tumbuh sehat, menutup tanah dengan sempurna, pada kondisi cukup air. Ada berbagai rumus empirik untuk pendugaan evapotranspirasi tanaman acuan (ETo) tergantung pada ketersediaan data unsur cuaca, antara lain: metoda Blaney-Criddle, Penman, Radiasi, Panci evaporasi (FAO, 1987). Akhir-akhir ini (1999) FAO merekomendasikan metoda Penman-Monteith untuk digunakan jika data iklim tersedia (suhu rerata udara harian, jam penyinaran rerata harian, kelembaban relatif rerata harian, dan kecepatan angin rerata harian. Selain itu diperlukan juga data letak geografi dan elevasi lahan di atas permukaan laut.

Selanjutnya untuk mengetahui nilai ET tanaman tertentu maka ETo dikalikan dengan nikai Kc yakni koefisien tanaman yang tergantung pada jenis tanaman dan tahap pertumbuhan. Nilai Kc tersedia untuk setiap jenis tanaman.

ETc = Kc

ETo

/1/

Keperluan air untuk ETc ini dipenuhi oleh air hujan (efektif) dan kalau tidak cukup oleh air irigasi. Keperluan air irigasi atau KAI dinyatakan dengan persamaan:

KAI = ETc

He

/2/

Hujan efektif (He) adalah bagian dari total hujan yang digunakan untuk keperluan tanaman. Perhitungan ETo dan daftar nilai Kc ada dalam program CROPWAT.

Hujan Efektif

1 Evapotranspirasi tanaman acuan (Reference crop evapotranspiration)

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 2. Kebutuhan Air Irigasi - dkk

3

FAO mengumpulkan beberapa metoda metoda empirik untuk menghitung hujan efektif untuk non-padi antara lain 2 :

a. Nilai persentase tertentu dari hujan bulanan (fixed percentage): P eff = a x P tot , biasanya nilai a = 0,7 – 0,9

b. Hujan andalan (dependable rain) didefinisikan sebagai hujan dengan peluang terlewati tertentu: peluang terlewati 80% menggambarkan kondisi tahun kering,

50% kondisi tahun normal dan 20% kondisi tahun basah. Secara empirik menurut AGLW/FAO:

P ef = 0.6 * P mean - 10; untuk P mean < 60 mm/bulan

P ef = 0.8 * P mean - 25; untuk P mean > 60 mm/bulan

c. Rumus empirik yang dikembangkan secara lokal, biasanya dikembangkan dengan rumus umum sebagai berikut:

P eff = a P mean + b untuk P mean < Z mm P eff = c P mean + d untuk P mean > Z mm Konstanta a, b, c dan d dikembangkan berdasarkan penelitian secara lokal. Hujan bulanan dengan peluang terlewati tertentu (misalnya 75%), untuk beberapa daerah sudah mempunyai persamaan linier antara hujan bulanan rata-rata dengan hujan bulanan dengan peluang terlewati tertentu. Untuk Indonesia, Oldeman, L.R. (1980) menyatakan bahwa hujan peluang terlewati 75% (Y) dapat dinyatakan dengan persamaan: Y = 0,82 X - 30, dimana X = rata-rata hujan bulanan. Hujan

efektif untuk tanaman padi adalah 100% dari Y, sedangkan untuk palawija 75% dari

Y.

d. USBR (United State Bureau of Reclamation) :

P ef = P mean x (125 - 0.2 P mean )/125; untuk P mean < 250 mm

P ef = 125 + 0.1 x P mean ; untuk P mean > 250 mm

0.1 x P m e a n ; untuk P m e a n > 250

Gambar 1a. Lisimeter bertimbangan

2. Irigasi Padi Sawah

Gambar 1b. Lisimeter tak-bertimbangan

Pengelolaan air irigasi padi sawah sangat penting untuk memaksimumkan pemanfaatan pengembangan teknologi budidaya padi. Dasar utama dalam pengelolaan air tersebut

2 Martin Smith, 1991. CROPWAT (ver.5.7): Manual and Guidelines. FAO

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 2. Kebutuhan Air Irigasi - dkk

4

adalah pengetahuan tentang kondisi air yang optimum dalam kaitannya dengan tahap pertumbuhan padi dan beberapa metoda untuk mendapatkan kondisi optimum tersebut.

Keperluan air irigasi untuk tanaman padi

Seringkali dikatakan bahwa irigasi tanaman padi di sawah adalah merupakan suatu proses penambahan air hujan untuk memenuhi keperluan air tanaman. Tanaman padi sawah memerlukan air cukup banyak dan menginginkan genangan air untuk menekan pertumbuhan gulma dan sebagai usaha pengamanan apabila terjadi kekurangan air. Di daerah tropik walaupun pada musim hujan, sering terjadi suatu perioda kering sampai 3 minggu tidak turun hujan. Pada situasi tersebut diperlukan air irigasi untuk menjamin pertumbuhan tanaman padi yang baik. Pada umumnya tinggi genangan air adalah sekitar 50 - 75 mm untuk padi varietas unggul (HYV) 3 , sedangkan untuk varietas lokal antara 100 - 120 mm. Maksimum genangan air pada HYV adalah sekitar 15 cm. 4

Apabila laju evaporasi sekitar 2 - 6 mm/hari dan perkolasi atau rembesan sekitar 6 mm/hari, maka lapisan genangan air tersebut akan mencapai nol pada selang waktu 4 sampai 15 hari, apabila tidak ada hujan dan air irigasi. Apabila situasi tersebut berlanjut sampai beberapa minggu terutama pada masa pertumbuhan tanaman yang peka terhadap kekeringan maka akan terjadi pengurangan produksi.

Suatu tetapan konversi keperluan air biasanya dinyatakan dengan mm/hari yang dapat dikonversi ke suatu debit kontinyu pada suatu areal yakni 1 l/det/ha = 8,64 mm/hari atau 1 mm/hari = 0,116 l/det/ha 5 .

Pengolahan tanah

atau 1 mm/hari = 0,116 l/det/ha 5 . Pengolahan tanah 3 HYV: High Yielding Variety (varietas
3 HYV: High Yielding Variety (varietas unggul) 4
3
HYV: High Yielding Variety (varietas unggul)
4

Terdapat beberapa metoda yang berbeda dalam perhitungan keperluan air tanaman dan umumnya perhitungan tersebut tidak mencakup keperluan air selama pengolahan tanah. Sebagai contoh suatu metoda yang direkomendasikan oleh FAO hanya didasarkan pada evapotran- pirasi tanaman acuan, faktor tanaman, pertimbangan semua kehilangan air irigasi dan hujan efektif. Keperluan air selama pengolahan tanah padi sawah umumnya menentukan puncak keperluan air irigasi pada suatu areal irigasi.

Beberapa faktor penting yang menentukan besarnya keperluan air selama pengolahan tanah adalah sebagai berikut :

(1) Waktu yang diperlukan untuk

Berdasarkan penelitian di IRRI (International Rice Research Institute), Los Banos, Filipina

5 1liter =10 -3 m 3 ; 1 ha = 10 4 m 2 ; 1 hari = 24 jam = 24 x 60 x 60 detik

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 2. Kebutuhan Air Irigasi - dkk

pengolahan tanah yakni:

5

(a)

perioda waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pengolahan tanah

(b)

pertambahan areal pengolahan tanah dalam suatu grup petakan sawah yang

sangat tergantung pada ketersediaan tenaga kerja manusia, hewan atau traktor. (2) Volume air yang diperlukan untuk pengolahan tanah, yang tergantung pada:

(a)

lengas tanah dan tingkat keretakan tanah pada waktu mulai pengolahan tanah

(b)

laju perkolasi dan evaporasi

(c)

kedalaman lapisan tanah yang diolah menjadi lumpur.

Beberapa hasil penelitian di Bali dan Sumatera menunjukkan keperluan air yang cukup besar antara 18 - 50 mm/hari (2,1 – 5,8 l/det/ha) dengan total keperluan air sekitar 400 - 900 mm 6 .

Perioda pengolahan tanah

Kondisi sosial dan tradisi yang ada serta ketersediaan tenaga kerja manusia, hewan atau traktor di suatu daerah sangat menentukan lamanya pengolahan tanah. Pada umumnya perioda yang diperlukan setiap petakan sawah untuk pengolahan tanah (dari mulai air diberikan sampai siap tanam) adalah sekitar 30 hari. Sebagai suatu pegangan biasanya sekitar 1,5 bulan diperlukan untuk menyelesaikan pengolahan tanah di suatu petak tersier. Pada beberapa kasus di mana alat dan mesin mekanisasi tersedia dalam jumlah yang cukup, perioda tersebut dapat diperpendek sampai sekitar 1 bulan. Total perioda pengolahan tanah di suatu daerah irigasi biasanya antara 1,5 sampai 3 bulan tergantung pada jumlah golongan 7 yang dipakai.

3 bulan tergantung pada jumlah golongan 7 yang dipakai. Volume air yang diperlukan untuk pengolahan tanah

Volume air yang diperlukan untuk pengolahan tanah Keperluan air selama pengolahan tanah mencakup keperluan untuk menjenuhkan tanah dan suatu lapisan genangan yang diperlukan segera setelah tanam. Rumus di bawah ini dapat digunakan untuk menduga keperluan air pada waktu pengolahan tanah:

untuk menduga keperluan air pada waktu pengolahan tanah: S = [S(a) - S(b)] x N x

S = [S(a) - S(b)] x N x d x 10 -4 + Fl +

Fd

/3/

di mana S: keperluan air pengolahan lahan (mm), S(a): lengas tanah sesudah pelumpuran (%), S(b): lengas tanah sebelum pelumpuran (%), N: porositas tanah (%), d: kedalaman lapisan tanah yang dilumpurkan (mm), Fl : kehilangan

6 Binnie and Partners Ltd

7 Sistim golongan disebut juga staggering

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 2. Kebutuhan Air Irigasi - dkk

6

air selama pelumpuran (mm), Fd: tinggi genangan di petakan sawah setelah tanam (mm). Meskipun rumus tersebut cukup akurat untuk menghitung keperluan air akan tetapi beberapa parameter sering terjadi beragam di lapangan. Dengan demikian seringkali keperluan air pengolahan tanah diduga dari pengalaman di lapangan. Untuk tanah bertekstur liat berat tanpa retakan, keperluan air diambil sebesar 250 mm. Jumlah ini mencakup untuk penjenuhan, pelumpuran dan juga 50 mm genangan air setelah tanam. Apabila lahan dibiarkan bera untuk waktu yang cukup lama (misal 1,5 bulan) sehingga tanah retak-retak, jumlah air yang diperlukan sekitar 300 mm. Untuk tekstur yang lebih ringan angka tersebut akan lebih besar dari angka di atas.

Debit yang diperlukan

Laju penambahan areal pada waktu pengolahan tanah di suatu jalur petakan-petakan sawah yang mendapat pasok air dari satu inlet secara kolektif dalam suatu petak tersier, akan menentukan besarnya debit yang diperlukan. Terdapat 3 konsep tentang laju pertambahan areal pengolahan tanah dalam suatu kelompok petakan sawah yakni :

(a)

Debit yang masuk ke inlet konstan selama pengolahan tanah (I mm/hari = konstan)

(b)

Laju pertambahan areal lahan yang diolah konstan (dy/dt dalam ha/hari = konstan)

Laju pertambahan areal lahan yang diolah mengikuti kurva distribusi Gauss atau yang lainnya dengan nilai maksimum pada pertengahan perioda pengolahan lahan (T) atau dy/dt = maksimum pada t = ½ T. Kasus yang pertama akan diuraikan di sini dan dikenal sebagai metoda pendekatan dari van de Goor dan Ziljstra. Konsep tersebut mengatakan bahwa suatu debit konstan diberikan pada suatu bagian dari unit tersier selama pengolahan tanah. Selama perioda tersebut diasumsikan air akan mengalir mengisi petakan-petakan sawah secara progresif. Sementara itu petakan yang lebih rendah akan terisi melalui limpasan dari petakan di atasnya setelah penuh. Diasumsikan bahwa petakan di atasnya secara kontinyu diisi air untuk memenuhi kehilangan air akibat perkolasi dan evaporasi (Gambar 2 dan Gambar 7).

Dengan demikian pada tingkat awal, keperluan air adalah untuk penjenuhan tanah dan mempertahankan suatu genangan lapisan air, sedangkan pada ahir perioda pengolahan tanah mempertahankan lapisan genangan air adalah merupakan faktor yang dominan (the topping up requirement). Dengan demikian bagian areal unit tersier yang sedang diolah (A ha) menerima volume air pada perioda waktu dt sebesar I A dt, dengan debit sebesar I. Dari jumlah air tersebut sebagian (M y dt) digunakan untuk mempertahankan lapisan air di lahan yang telah dijenuhkan (y ha), sedangkan sisanya (S dy) digunakan untuk menjenuhkan areal baru sebesar dy ha.

I A dt = M y dt + S dy

/4/

M : topping up requirement (mm/hari); I: laju pemberian air (mm/hari); T: lama perioda pengolahan lahan dari mulai awal pemberian air sampai tanam (hari); S: jumlah air yang diperlukan untuk menjenuhkan tanah dan menciptakan lapisan genangan air (mm).

Persamaan tersebut dapat ditulis sebagai berikut :

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 2. Kebutuhan Air Irigasi - dkk

=

S

dy

I A

M y

t

=

S

dy

 

=

 

I A

 

M y

C =

S

M

T

=

S

ln

 

I

 

M

I

M

 

MT

 

M e

S

 

I

=

 

MT

 

e

S

1

M

e

k

/9/

 

e

k

1

ln(I A) , maka

S

dt

/4/, maka

M

t =

ln(

I A

M y

)

+

C

S

I A

M

I A

=

M y

MT

ln

I

I

M

S

pada t = 0 -----> y = 0 , maka

pada t = T ----> y = A , maka

maka

I

I

M

=

e

MT

S

, maka ln

/8/

dan akhirnya

Apabila k = MT/S; maka I

=

/5/

/6/

/7/;

7

Pada persamaan /9/ dapat dilihat bahwa A tidak mempengaruhi I. Untuk berbagai nilai S, T dan M (evaporasi dan perkolasi) maka besarnya I dengan menggunakan rumus di atas dapat dilihat pada Tabel 1. Umumnya keperluan air pengolahan tanah berkisar antara 1,5 – 1,7 l/det/ha untuk nilai M antara 5 - 8 mm/hari dan S = 300 mm dengan T = 30 hari.

Keperluan air untuk pesemaian

Areal pesemaian umumnya antara 2% - 10% dari areal tanam. Lama pertumbuhan antara 20 - 25 hari. Jumlah keperluan air di pesemaian kurang lebih sama dengan penyiapan lahan. Sehingga keperluan air untuk pesemaian biasanya disatukan dengan keperluan air untuk pengolahan tanah.

disatukan dengan keperluan air untuk pengolahan tanah. Gambar 2. Skhematisasi laju pengaliran air pada formula van

Gambar 2. Skhematisasi laju pengaliran air pada formula van de Goor dan Zijlstra

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 2. Kebutuhan Air Irigasi - dkk

8

Keperluan air pada berbagai tahap pertumbuhan tanaman

Tahap pertumbuhan padi dibagi menjadi: (a) pesemaian (10-30 hss) 8 (seedling atau juvenile period), (b) periode pertumbuhan vegetatif (0-60 hst), (c) periode reproduktif atau generatif (50-100 hst) dan (d) periode pematangan (100-120 hst) (ripening period) (Gambar 3)

Periode pesemaian Periode ini merupakan awal pertumbuhan yang mencakup tahap perkecambahan benih serta perkembangan radicle (akar muda) dan plume (daun muda). Selama periode ini air yang dikonsumsi sedikit sekali. Apabila benih tergenang cukup dalam pada waktu cukup lama sepanjang periode perkecambahan, maka pertumbuhan radicle akan terganggu karena kekurangan oksigen.

Pertumbuhan vegetatif Periode ini merupakan periode berikutnya setelah tanam (transplanting) yang mencakup (a) tahap pemulihan dan pertumbuhan akar (0-10 hst), (b) tahap pertumbuhan anakan maksimum (10-50 hst) (maximum tillering) dan (c) pertunasan efektif dan pertunasan tidak efektif (35-45 hst). Selama periode ini akan terjadi pertumbuhan jumlah anakan.

Segera setelah tanam, kelembaban yang cukup diperlukan untuk perkembangan akar- akar baru. Kekeringan yang terjadi pada peiode ini akan menyebabkan pertumbuhan yang jelek dan hambatan pertumbuhan anakan sehingga mengakibatkan penurunan hasil. Pada tahap berikutnya setelah tahap pertumbuhan akar, genangan dangkal diperlukan selama periode vegetatif ini. Beberapa kali pengeringan (drainase) membantu pertumbuhan anakan dan juga merangsang perkembangan sistim akar untuk berpenetrasi ke lapisan tanah bagian bawah. Fungsi respirasi akar pada periode ini sangat tinggi sehingga ketersediaan udara (aerasi) dalam tanah dengan cara drainase (pengeringan lahan) diperlukan untuk menunjang pertumbuhan akar yang mantap. Selain itu drainase juga membantu menghambat pertumbuhan anakan tak-efektif (non- effective tillers).

Tabel 1. Kebutuhan air untuk penyiapan lahan padi sawah (mm/hari)

Evaporasi +

 

T = 30 hari

   

T = 45 hari

 

Perkolasi

S = 300 mm

S = 250 mm

S = 300 mm

S = 250 mm

M

I

I

I

I

I

I

I

I

mm/hari

mm/hari

lt/det/ha

mm/hari

lt/det/ha

Mm/hari

lt/det/ha

mm/hari

lt/det/ha

5,0

12,7

1,47

11,1

1,28

9,05

1,10

8,4

0,97

5,5

13,0

1,50

11,4

1,32

9,08

1,13

8,8

1,02

6,0

13,3

1,54

11,7

1,35

10,1

1,17

9,1

1,05

6,5

13,6

1,57

12,0

1,39

10,4

1,20

9,4

1,09

7,0

13,9

1,61

12,3

1,43

10,8

1,25

9,8

1,13

7,5

14,2

1,64

12,6

1,46

11,1

1,28

10,1

1,17

8,0

14,5

1,68

13,0

1,50

11,4

1,32

10,5

1,22

8,5

14,8

1,71

13,3

1,54

11,8

1,36

10,8

1,25

9,0

15,2

1,76

13,6

1,57

12,1

1,41

11,2

1,30

9,5

15,5

1,79

14,0

1,62

12,5

1,45

11,6

1,34

10,0

15,8

1,83

14,3

1,65

12,9

1,48

12,0

1,39

10,5

16,2

1,88

14,7

1,70

13,2

1,53

12,4

1,44

11,0

16,5

1,91

15,0

1,73

13,6

1,57

12,8

1,48

8 hss: hari setelas semai; hst: hari setelah tanam

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 2. Kebutuhan Air Irigasi - dkk

9

Periode reproduktif (generatif) Periode ini mengikuti periode anakan maksimum dan mencakup tahap perkembangan awal malai (panicle primordia) (40-50 hst), masa bunting (50-60 hst)(booting), pembentukan bunga (60-80 hst) (heading and flowering). Situasi ini dicirikan dengan pembentukan dan pertumbuhan malai.

Pada sebagian besar dari periode ini dikonsumsi banyak air. Kekeringan yang terjadi pada periode ini akan menyebabkan beberapa kerusakan yang disebabkan oleh terganggunya pembentukan panicle, heading, pembungaan dan fertilisasi yang berakibat pada peningkatan sterilitas sehingga mengurangi hasil.

Periode pamatangan (ripening atau fruiting) Periode ini merupakan periode terakhir dimana termasuk tahapan pembentukan susu (80-90 hst) (milky), pembentukan pasta (90-100 hst) (dough), matang kuning (100-110 hst) (yellow ripe) dan matang penuh (110-120 hst) (full ripe). Selama periode ini sedikit air diperlukan dan secara berangsur-angsur sampai sama sekali tidak diperlukan air sesudah periode matang kuning (yellow ripe). Selama periode ini drainase perlu dilakukan, akan tetapi pengeringan yang telalu awal akan mengakibatkan bertambahnya gabah hampa dan beras pecah (broken kernel), sedangkan pengeringan yang terlambat mengakibatkan kondisi kondusif tanaman rebah.

Pada periode vegetatif jumlah air yang dikonsumsi sedikit, sehingga kekurangan air pada periode ini tidak mempengaruhi hasil secara nyata asalkan tanaman sudah pulih dan sistim perakarannya sudah mapan. Tahapan sesudah panicle primordia, khususnya pada masa bunting, heading dan pembungaan memerlukan air yang cukup. Kekurangan air selama periode tersebut menghasilkan pengurangan hasil tak terpulihkan. Dengan demikian perencanaan program irigasi di areal dimana jumlah air irigasinya terbatas untuk menggenangi sawah pada seluruh periode, prioritas harus diberikan untuk memberikan air irigasi selama periode pemulihan dan pertumbuhan akar serta seluruh periode pertumbuhan reproduktif.

Jumlah konsumsi air dan hasil padi

Jumlah air yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman padi dari mulai tanam sampai panen tergantung pada berbagai faktor yakni: (a) lengas tanah tahap awal, (b) jenis dan kesuburan tanah, (c) lama periode pertumbuhan, (d) metoda kultur-teknik, (e) topografi, (f) varietas tanaman dan lain-lain.

Penelitian di IRRI 9 (1970) selama musim kemarau tahun 1969 memperlihatkan bahwa jika total jumlah air yang dikonsumsi antara 750 mm~1000 mm, tidak memperlihatkan perubahan hasil yang nyata. Tetapi jika lebih kecil dari 550 mm, maka tidak ada hasil yang didapat (Gambar 4). Di Taiwan hasil penelitian pada musim hujan memperlihatkan penurunan hasil yang cukup nyata jika jumlah air yang dikonsumsi tanaman kurang dari 600 mm. Di Jepang, Iyozaki (1956) melaporkan bahwa keperluan air untuk mendapatkan hasil optimum adalah antara selang 20 mm sampai 30 mm per hari. Jumlah ini dapat dipertimbangkan optimum pada kondisi pemupukan berat dan teknik pemeliharaan intensif. Varietas unggul umumnya tidak memperlihatkan penurunan hasil pada kedalaman genangan sampai 15 cm. Di atas kedalaman genangan tersebut diduga akan terjadi penurunan hasil akibat dari pelemahan culms dan pengurangan jumlah anakan.

9 IRRI: International Rice Research Institue di Filipina

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 2. Kebutuhan Air Irigasi - dkk

10

Pengelolaan air terkendali juga memperlihatkan pengurangan pertumbuhan gulma. Williams (1969) memperlihatkan dengan genangan 15 cm, pertumbuhan rumput- rumputan dan teki-tekian (sedges) akan tertekan, tetapi pada genangan 7,5 cm beberapa gulma berdaun lebar dan teki-tekian tumbuh dengan baik. Sebagai kesimpulan, lingkungan air pada tanaman padi adalah relatif kritis pada kondisi di bawah jenuh tetapi relatif toleran terhadap genangan air pada kedalaman antara 10 ~ 15 cm. Di atas kedalaman tersebut akan terjadi pengurangan hasil.

Metoda pemberian air pada padi sawah Terdapat dua metoda pemberian air untuk padi sawah yakni: (a) Genangan terus- menerus (continuous submergence) yakni sawah digenangi terus menerus sejak tanam sampai panen; (b) Irigasi terputus atau berkala (intermittent irrigation) yakni sawah digenangi dan dikeringkan berselang-seling. Permukaan tanah diijinkan kering pada saat irigasi diberikan.

Keuntungan irigasi berkala adalah sebagai berikut: (a) menciptakan aerasi tanah, sehingga mencegah pembentukan racun dalam tanah, (b) menghemat air irigasi, (c) mengurangi masalah drainase, (d) mengurangi emisi metan 10 , (e) operasional irigasi lebih susah. Keuntungan irigasi kontinyu adalah: (a) tidak memerlukan kontrol yang ketat, (b) pengendalian gulma lebih murah, (c) operasional irigasi lebih mudah.

Evapotranspirasi Tanaman

Evapotranspirasi tanaman dapat diketahui dengan cara pengukuran dan pendugaan. Metoda pendugaan evapotranspirasi acuan (ETo) dapat digunakan apabila data iklim di daerah tersebut tersedia. Berbagai metoda pendugaan ETo menurut FAO adalah: (a) Thornthwaite, (b) Blaney dan Criddle, (c) Radiasi, (d) Panci evaporasi, dan (d) Penman.

Akhir-akhir ini (1999) FAO merekomendasikan metoda Penman-Monteith untuk digunakan jika data iklim tersedia (suhu rerata udara harian, jam penyinaran rerata harian, kelembaban relatif rerata harian, dan kecepatan angin rerata harian. Selain itu diperlukan juga data letak geografi dan elevasi lahan di atas permukaan laut. Evapotranspirasi tanaman acuan (reference crop evapotranspiration, ETo) didefinisikan sebagai evapotranspirasi dari tanaman rumput berdaun hijau, tinggi sekitar 15 cm, tumbuh sehat, cukup air, dan menutupi tanah dengan sempurna.

Evapotrasnpirasi tanaman untuk tanaman tertentu dihitung dengan persamaan: ETc = kc x ETo, dimana ETc: evapotranspirasi tanaman tertentu (mm/hari), ETo:

evapotranspirasi tanaman acuan (mm/hari), kc: koefisien tanaman yang tergantung pada jenis dan periode pertumbuhan tanaman. Nilai koefisien tanaman untuk tanaman padi disarankan menggunakan data dari FAO juga, karena nilai kc padi dari beberapa literatur di Indonesia umumnya menggunakan pendugaan evapotranspirasi tanaman acuan dengan metoda yang berlainan. Koefisien tanaman padi yang disarankan oleh Departemen Pekerjaan Umum dan FAO tercantum pada Tabel 2 .

10 Penelitian di Taiwan: emisi metan pada genangan kontinyu (28.85±3.25 g/m 2 ; rerata laju emisi 9.54±1.07 mg m -2 h -1 ) lebih besar daripada intermittent (rerata 15.27±1.46 g/m 2 ; rerata laju emisi 5.39±0.56 mg m -2 h -1 ). Sumber: Shang-Shyng Yang, Hsu-Lan Chang, 2000 (National Taiwan University). Effect of green manure amendment and flooding on methane emission from paddy fields. Chemosphere – Global Change Science, 3 (2001) 41-49. Pergamon. Elsevier Science Ltd.

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 2. Kebutuhan Air Irigasi - dkk

Tabel 2. Koefisien tanaman padi (kc)

11

Selama penyiapan

Varietas Unggul Baru

Varietas Lokal

Lahan

1,20

1,20

Setengah bulanan sesudah tanam

0,5

1,20

1,20

1,0

1,27

1,20

1,5

1,33

1,32

2,0

1,30

1,40

2,5

1,30

1,35

3,0

0

1,24

3,5

 

1,12

4,0

 

0

Perkolasi dan Rembesan

Pada lahan yang baru dibuka laju perkolasi biasanya sangat tinggi sekitar 10 mm/hari atau lebih. Pada proses pelumpuran, koloid partikel liat akan mengendap ke lapisan bawah pada kedalaman lapisan olah (sekitar 20 cm) membentuk suatu lapisan tanah. Sesudah puluhan tahun pengolahan tanah dengan pelumpuran biasanya lapisan kedap (lapisan tapak bajak) 11 akan terbentuk sehingga laju perkolasi berkurang menjadi sekitar 1 - 3 mm/hari pada tekstur liat berat. Sedangkan pada tanah bertekstur ringan kadang-kadang masih cukup tinggi sekitar 10 mm/hari.

Pada kondisi tersebut laju perkolasi merupakan aspek dominan dalam penentuan jumlah keperluan air. Rembesan (seepage) didefinisikan sebagai kehilangan air melalui galengan yang disebabkan oleh lubang tikus, ketam atau retakan tanah pada galengan. Apabila lahan relatif datar dan genangan air di petakan sawah relatif sama, maka rembesan cenderung mengecil. Pada lahan miring dengan teras bangku maka kehilangan karena rembesan sangat tinggi (sekitar 20 mm/hari). Petakan sawah tertinggi harus diairi secepat mungkin dan laju pembuangan air di petakan terendah harus secepat mungkin.

pembuangan air di petakan terendah harus secepat mungkin. Gambar 4. Hasil padi IR-8 sebagai fungsi jumlah

Gambar 4. Hasil padi IR-8 sebagai fungsi jumlah air yang digunakan (Reyes R., 1960. IRRI, Los Banos, Filipina)

11 Lapisan bajak disebut juga lapisan keras (hardpan) atau plow sole

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 2. Kebutuhan Air Irigasi - dkk

12

Topik 2. Kebutuhan Air Irigasi - dkk 12 Gambar 3. Periode pertumbuhan padi sawah dan pemakaian

Gambar 3. Periode pertumbuhan padi sawah dan pemakaian air

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 2. Kebutuhan Air Irigasi - dkk

13

Pengukuran jumlah air yang dikonsumsi tanaman

Untuk menentukan jumlah air yang dikonsumsi tanaman dapat digunakan berbagai metoda sebagai berikut: (a) metoda tangki pengamatan, (b) percobaan petakan di lapangan, dan (c) metoda inflow-outflow (keseimbangan air).

Metoda tangki pengamatan

Beberapa drum dipasang di sawah (Gambar 5). Masing-masing terdiri dari 3 buah drum yakni: (a) drum A adalah tangki dengan dasar terbuka berisikan tanaman untuk mengukur penggunaan air konsumtif dan perkolasi (E+T+P), (b) Drum B adalah tangki dengan dasar terbuka tanpa tanaman untuk mengukur evaporasi dan perkolasi (E+P), dan (c) drum C dengan dasar tertutup tanpa tanaman untuk mengukur evaporasi (E).

Dengan demikian: Transpirasi = A – B; Perkolasi = B – C; Evapotrasnpirasi = A – (B –

C)

Percobaan petakan di lapangan

Pengukuran konsumsi air dengan petakan-petakan sawah di lapangan pada areal irigasi yang seragam umumnya lebih dapat diandalkan hasilnya dibandingan dengan pengukuran pada drum. Ukuran petakan lapangan bervariasi dengan bentuk dan variasi petakan sawah pada areal yang mewakili. Tiang ukur miring (sloping gages) dipasang untuk pengamatan tinggi muka air harian (Gambar 6). Jika petakan yang diamati cukup banyak, maka hasil yang didapat akan lebih teliti. Pematang sekeliling petakan harus tertutup dan kedap air untuk menghindari bocoran, inflow (IR atau GI) atau outflow (DR atau GO).

bocoran, inflow (IR atau GI) atau outflow (DR atau GO). Keperluan air harian di petakan, diperoleh

Keperluan air harian di petakan, diperoleh dengan membagi total kedalaman air yang terukur tiang ukur miring segera sesudah hujan atau sesudah irigasi dengan jumlah hari yang diperlukan untuk mengeringkan petakan.

Metoda keseimbangan air (inflow-outflow)

Metoda ini terdiri dari pengukuran air yang masuk dan yang keluar dari petakan terpilih. Keseimbangan air dapat ditulis sebagai berikut (Gambar 6):

RN + IR + GI = DR + GO + ET +

WD + P

/10/

dimana RN: hujan, IR: inflow air permukaan (irigasi), DR: outflow air permukaan (drainase), GI: lateral inflow airtanah dangkal, GO: lateral outflow airtanah dangkal, ET: evapotranspirasi, WD: perubahan simpanan (storage), P: perkolasi.

Dengan cara lain maka:

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 2. Kebutuhan Air Irigasi - dkk

IR – DR = ET + (GO – GI) +

WD + P – RN

/11/

14

Selama musim kemarau RN diasumsikan nol, maka dapat diasumsikan GO = GI. Jika WD diasumsikan konstan, maka jumlah air yang dikonsumsi D = ET + P = (IR – DR). Jumlah tersebut menggambarkan keperluan air untuk evapotranspirasi tanaman ditambah dengan perkolasi. Perkolasi dapat dipisahkan dari D dengan menghitung ET dengan persamaan empirik.

dari D dengan menghitung ET dengan persamaan empirik. Gambar 5. Metoda pengamatan tangki lisimeter untuk tanaman

Gambar 5. Metoda pengamatan tangki lisimeter untuk tanaman padi

Gambar 6. Neraca Air di petakan sawah
Gambar 6. Neraca Air di petakan sawah

Hujan efektif

Hujan efektif adalah bagian dari total hujan yang secara langsung memenuhi keperluan air untuk tanaman. Hujan efektif untuk padi sawah merupakan aspek yang masih dipertentangkan, sehingga asumsi hujan efektif dalam perencanaan proyek masih

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 2. Kebutuhan Air Irigasi - dkk

15

beragam. Hujan efektif untuk sawah tadah hujan hampir 100%, sedangkan pada sawah beririgasi dimana genangan dipertahankan penuh secara kontinyu maka hujan efektif dapat dikatakan nol. Pada kenyataannya efektifitas hujan pada petakan sawah merupakan sesuatu yang kompleks dan tergantung pada: (a) karakteristik hujan, apakah hujan terjadi dengan interval waktu teratur atau sangat beragam; (b) keragaman tinggi genangan air di petakan-petakan sawah, dan (c) metoda pemberian air irigasi apakah kontinyu atau berkala.

Pada daerah irigasi dengan topografi begelombang sampai miring, pemberian air irigasi ke petakan sawah umumnya dilakukan dari saluran kwarter masuk ke petakan sawah tertinggi kemudian setelah petakan tersebut cukup mendapat air, maka air melimpas ke petakan di bawahnya. Petakan-petakan sawah yang mendapat air dari satu inlet membentuk suatu jalur (inlet group) (Gambar 7). Limpasan air ke petakan bawah dibuat dengan jalan memotong galengan di petakan atas pada elevasi tertentu sehingga limpasan terjadi dengan sendirinya apabila genangan yang diinginkan di petakan atas telah dicapai. Sistim irigasi ini disebut dengan pemberian air dari petak ke petak (plot to plot irrigation).

Dalam situasi debit air berkurang dari rencana maka petakan sawah atas masih mendapatkan air secara penuh sedangkan yang di bawah tidak mendapatkan air. Jadi apabila jumlah air irigasi diperhitungkan dengan hujan efektif (misalnya 30% dari keperluan tanaman), maka 30% petakan bawah akan tidak memperoleh air irigasi sampai hujan betul-betul terjadi. Apabila hujan turun maka akan terjadi limpasan dari petakan atas dan mengisi petakan bawah, akan tetapi kemungkinan pada waktu itu tanaman di petakan bawah telah mengalami cekaman (stress) kekurangan air.

Ketergantungan terhadap hujan di petakan bawah dapat ditanggulangi dengan menggunakan persentase hujan efektif yang lebih kecil dan menerima kenyataan bahwa sebagian hujan yang akan terbuang cukup besar. Apabila pemberian air dilakukan secara rotasi (giliran) maka hujan efektif akan lebih besar dari pada pemberian air kontinyu. Efektifitas hujan akan lebih besar apabila selang waktu rotasi tersebut menjadi lebih lama, akan tetapi selang waktu rotasi dibatasi oleh jumlah hari di mana genangan di petakan sawah akan kembali nol (biasanya 5 sampai 10 hari). Efektifitas hujan pada daerah irigasi berkisar antara 100% pada sawah tadah hujan dan 0% pada irigasi teknis sempurna. Hujan efektif untuk padi sawah beririgasi dalam mm/hari umumnya diduga sebesar 70% dari hujan tengah bulanan dengan perioda ulang 5 tahun (dalam mm/hari) selama pengolahan lahan, dan 40% sesudah tanam sampai panen.

Pergantian lapisan genangan air

Pada waktu pemupukan genangan air diturunkan sampai ketinggian tertentu (macak- macak). Kemudian sesudah pemupukan air dipertahankan macak-macak beberapa hari sambil dilakukan penyiangan (merumput). Setelah itu lapisan genangan air secara berangsur-angsur ditambah sampai mencapai tinggi genangan yang dikehendaki. Dengan demikian tambahan air irigasi pada proses itu harus diperhitungkan.

Umumnya untuk HYV tinggi genangan sekitar 70 mm. Pengeringan pada waktu pemupukan mengakibatkan genangan sekitar 10 - 20 mm (macak-macak). Dengan demikian diperlukan sekitar 50 mm air untuk mengembalikan ke genangan semula. Waktu yang diperlukan untuk pergantian air tergantung pada varietas padi, perioda

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 2. Kebutuhan Air Irigasi - dkk

16

tumbuh dan kebiasaan lokal. Cukup beralasan dalam perencanaan untuk mengasumsikan 3 kali pengeringan, yakni (a) pada waktu tanam, (b) 1 bulan sesudah tanam pada waktu masa anakan, dan (c) 2 bulan sesudah tanam pada waktu pembentukan malai. Biasanya pengisian air kembali sesudah tanam diperhitungkan dalam perhitungan keperluan air untuk pengolahan tanah. Lama waktu pengisian kembali setebal 50 mm air biasanya diasumsikan memerlukan waktu sekitar ½ bulan, jadi laju pengisian adalah sebesar 3,3 mm/hari.

Keperluan Air Neto untuk suatu "inlet group"

Pada umumnya suatu kelompok petakan sawah menerima air dari saluran kwarter atau tersier melalui suatu inlet yang digunakan secara kolektif. Satu jalur terdiri dari beberapa petani pemilik petakan sawah (lihat Gambar 7). Jumlah petani dalam satu inlet kolektif tergantung pada: (a) ukuran petakan sawah, (b) kerapatan jaringan distribusi dalam unit tersier, (c) luas garapan setiap petani, dan (d) topografi. Umumnya satu jalur terdiri dari 5 sampai 25 petani dengan total luasan antara 1 - 10 ha. Pada suatu kasus dimana hanya satu usahatani dalam satu jalur, maka jalur tersebut menjadi suatu farm inlet. Keperluan air neto untuk suatu jalur dapat dihitung dengan pendekatan bertahap dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang berbeda dalam penentuan keperluan air tanaman di petakan sawah seperti penyiapan lahan, pengisian lapisan air, pergantian air dan hujan efektif. Tahapan waktu 10 atau 14 hari diperlukan untuk membuat tabel perhitungan.

Suatu contoh perhitungan keperluan air neto untuk suatu jalur dengan awal kegiatan 1 Nopember, 16 Nopember dan 1 Desember disajikan dalam Tabel 3, 4 dan 5.

Perhitungan pada tabel tersebut didasarkan pada data setengah bulanan evapotranspirasi dan setengah bulanan hujan dengan perioda ulang 5 tahun. Beberapa pertimbangan lainnya adalah:

(a) Pengolahan tanah

o

lama pengolahan tanah, T = 30 hari

o

Keperluan air untuk pengolahan tanah pertama (MT1) pada ahir musim kemarau, S(1) = 300 mm

o

Keperluan air untuk pengolahan tanah kedua (MT2) pada ahir musim hujan, S(2) = 250 mm

o

Debit yang diperlukan (I) selama pengolahan tanah (dari Tabel 1)

(b) Topping up requirement: keperluan air untuk mempertahankan genangan

 

o

koefisien tanaman kc untuk HYV (dari Tabel 2)

o

perkolasi dan rembesan P+S = 2 mm/hari

(c)

Pergantian lapisan air setelah pengeringan:

 

o

waktu drainase petakan sawah 1 dan 2 bulan setelah tanam

o

lama pengisian kembali ½ bulan, WLR = 3,3 mm/hari

(d)

Hujan efektif :

 

o

faktor hujan efektif selama pengolahan tanah, r = 0,7

o

faktor hujan efektif selama tahap pertumbuhan, r = 0,4

(e)

Tahap pematangan padi dan pemberaan :

o

pematangan mulai dari 2,5 bulan setelah tanam bulan

berlangsung selama 0,5

o

sawah diberakan selama ½ bulan setelah panen.

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 2. Kebutuhan Air Irigasi - dkk

17

Topik 2. Kebutuhan Air Irigasi - dkk 17 Gambar 7. Jalur irigasi (inlet group) pada irigasi

Gambar 7. Jalur irigasi (inlet group) pada irigasi plot to plot

Untuk menghindari keperluan air puncak pada suatu periode, maka areal dalam satu daerah irigasi dibagi menjadi beberapa golongan dengan beda awal tanam sekitar ½ bulanan. Pada contoh ini Golongan I dimulai MT1 pada 1 Nopember, dan MT2 pada 16 Maret; Golongan II mulai MT1 pada 16 Nopember, dan MT2 pada 1 April; Golongan

III mulai MT1 pada 1 Desember, dan MT2 pada 16 April.

Dari Tabel 3, 4, dan 5 dapat dilihat bahwa keperluan air terbesar terjadi pada pengolahan tanah di awal musim tanam sekitar 1,4 ~ 1,5 lt/det/ha. Keperluan untuk pengolahan tanah pada MT2 (1,1 lt/det/ha) lebih kecil daripada MT1 (1,5 lt/det/ha), disebabkan karena total keperluan untuk pengolahan tanah (terutama untuk penjenuhan) lebih kecil yakni 250 mm pada MT2 dan 300 mm pada MT1. Air irigasi neto selama pertumbuhan tanaman berkisar antara 0,61 ~ 0,75 lt/det/ha, akan tetapi air irigasi yang

diperlukan setelah pengeringan sawah berkisar antara 1,08 ~ 1,17 lt/det/ha. Total jumlah

air irigasi yang diperlukan per musim tanam di jalur inlet adalah sekitar 958 mm (9.580

m 3 /ha) pada MT1, dan 809 mm (8.090 m 3 /ha) pada MT2.

Teknik Irigasi dan Drainase

Topik 2. Kebutuhan Air Irigasi - dkk

18

Tabel 3. Air irigasi neto yang diperlukan di jalur irigasi (Golongan 1: awal pengolahan tanah MT1: 1 November, MT2: 16 Maret)

Data

P (mm/hari) = 2

 

Seteng

Evapotransirasi

Keperluan air (mm/hari) untuk

Hujan efektif

Air di inlet neto

ah

 

(mm/hari)

Topp-

Pe-ngo

Pergan

(mm/hari)

 

nWN

Bulana

 

ing up

lahan

tian air

n

ETo

kc

ETc

M

I

WLR

P

r

Pe

(mm/

(l/det/

(1:5)

hari)

ha)

1-Nov

5.1

1.20

6.12

8.12

14.60

 

2.50

0.7

1.75

12.85

1.49

16

5.1

1.20

6.12

8.12

14.60

 

2.90

0.7

2.03

12.57

1.46

1-Dec

4.7

1.20

5.64

7.64

   

3.40

0.4

1.36

6.28

0.73

16

4.7

1.27

5.97

7.97

   

3.20

0.4

1.28

6.69

0.78

1-Jan

4.3

1.33

5.72

7.72

 

3.30

2.60

0.4

1.04

9.98

1.16

16

4.3

1.30

5.59

7.59

   

3.00

0.4

1.20

6.39

0.74

1-Feb

4.8

1.30

6.24

8.24

 

3.30

3.50

0.4

1.40

10.14

1.18

16

4.8

matang

0.00

   

4.20

   

0.00

0.00

1-Mar

4.9

 

0.00

0.00

   

4.90

   

0.00

0.00

16

4.9

1.20

5.88

7.88

13.00

 

5.10

0.7

3.57

9.43

1.09

1-Apr

4.5

1.20

5.40

7.40

12.60

 

5.50

0.7

3.85

8.75

1.02

16

4.5

1.20

5.40

7.40

   

5.00

0.4

2.00

5.40

0.63

1-May

4.2

1.27

5.33

7.33

   

4.60

0.4

1.84

5.49

0.64

16

4.2

1.33

5.59

7.59

 

3.30

4.30

0.4

1.72

9.17

1.06