Anda di halaman 1dari 3

PELUANG DAN TANTANGAN PRODUKSI HORTIKULTURA KUBIS DALAM PENINGKATAN KESEJAHTERAAN HIDUP DI INDONESIA Oleh : Nurfathya Dwi Prasanti

A. (105040201111040/B)

Secara harfiah hortikultura diartikan sebagai usaha membudidayakan tanaman buahbuahan, sayuran dan tanaman hias (Janick, 1972), dan menurut GBHN, selain buah-buahan, sayuran dan tanaman hias, yang termasuk dalam kelompok hortikultura adalah tanaman obatobatan. Dalam hortikultura, tidak hanya mengembangkan teknis-teknis dan teknologi dalam pengembangannya, namun juga membutuhkan seni karena banyak dari komoditas hortikultura yang bernilai seni dan dapat memperindah lingkungan. Hortikultura sendiri merupakan penghasil utama vitamin, protein, dan mineral yang berasal dari nabati. Oleh karena itu prospeknya sangat cerah untuk dikembangkan di Indonesia yang notabenenya adalah negara agraris. Peranan hortikultura sendiri selain penghasil bahan pangan adalah antara lain : a. Memperbesar devisa negara (ekspor), b. memperluas kesempatan kerja, c. meningkatkan pendapatan petani, d. pemenuhan kebutuhan keindahan dan kelestarian lingkungan. Hortikultura di Indonesia adalah komoditas yang memiliki masa depan cerah dan memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif dalam pemulihan perekonomian di Indonesia di masa mendatang. Banyak negara-negara yang sangat tergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan akan komoditas hortikultura karena sempitnya lahan atau iklim yang kurang mendukung. Salah satu negara yang dapat memenuhi kebutuhan ekspor maupun dalam negeri sendiri adalah Indonesia. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki daya dukung sumber daya alam yang tinggi sehingga potensi yang dimiliki juga sangat besar untuk pengembangan sejumlah komoditas hortikultura karena sejumlah wilayah di Indonesia mempunyai karakteristik dan kondisi agroekologi yang mendukung untuk dikembangkannya komoditas hortikultura. Pengembangan hortikultura di Indonesia kebanyakan masih dalam skala perkebunan rakyat yang dipelihara secara tradisional oleh petani sendiri dan komoditas yang dikembangkan masih terbatas. Namun dalam beberapa tahun belakangan ini produktivitas komoditas hortikultura di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup baik dilihat dari kenaikan angka ekspor yang dicapai yaitu hingga 30%. Terjadinya peningkatan tersebut dapat dikatakan bahwa petani hortikultura di Indonesia sangat responsif terhadap permintaan pasar baik dalam negeri maupun luar negeri. Untuk pengembangan usaha agribisnis dalam hal ini adalah komoditas hortikultura, harus memiliki keunggulan dibandingkan dengan komoditas pertanian lainnya karena dalam satu luas lahan yang kecil dapat memberikan keuntungan yang besar. Pada tahun 2011, Singapura meminta Indonesia untuk mengekspor produk-produk hortikultura dalam jumlah tak terbatas, baik sayuran maupun buah-buahan (Kompasiana, 2011). Meningkatnya jumlah ekspor di Indonesia disebabkan oleh pembatasan ekspor

hortikultura yang dilakukan China terhadap Singapura itu sendiri. Selain itu, Singapura memilih Indonesia berdasarkan pertimbangan kedekatan geografis sehingga produk hortikultura yang memang busuk bisa terjaga kesegarannya. Beberapa komoditas utama hortikultura yang diekspor Indonesia ke Singapura antara lain adalah kubis, nanas, kentang, polong-polongan, cabai merah, bawang merah, jamur, selada, sayuran, dan lain-lain. Namun komoditas yang paling diminati dan paling banyak diekspor adalah kubis. Pada tahun 2010, ekspor kubis ke Singapura mencapai lebih dari 10 juta kilogram senilai US$ 3.055.491. Singapura memang paling meminati kubis diantara komoditas lainnya. Komoditas lain yang diminati setelah kubis adalah cabai, kentang, dan alpukat. Kubis merupakan komoditas hortikultura yang banyak dapat ditemui di Indonesia terutama di dataran tinggi. Seperti yang sudah dikemukakan di depan bahwa alasan mengapa Singapura meminta Indonesia untuk mengekspor produk hortikulturannya adalah antara lain karena jarak antara Singapura dan Indonesia yang tidak terlalu jauh sehingga kesegaran produk hortikultura dapat tetap terjaga. Seperti yang kita ketahui bahwa produk hortikultura adalah produk yang sangat mudah busuk apabila tidak ditangani dengan benar atau salah penanganan dalam hal pasca panennya yang merupakan masalah utama dalam usaha agribisnis hortikultura. Kubis yg dibudidayakan di Indonesia ada dua jenis yaitu jenis semusim dan jenis dwimusim. Jenis semusim lebih mudah dikembangkan di Indonesia karena dapat tumbuh, berbunga, dan berbiji didaerah tropis tanpa memerlukan periode pendinginan terlebih dahulu. Lain halnya dengan jenis dwimusim yang memerlukan periode musim dingin untuk merangsang pembungaan. Jenis dwimusim inilah yang banyak diminta oleh pasar konsumen karena kropnya lebih keras/padat dan kualitasnya lebih bagus daripada kubis semusim. Namun pengembangan kubus dwimusim di Indonesia masih mengalami kesulitan dari sisi pemuliaan karena terkendala oleh benih yang masih harus impor serta ketidakmampuan kubis jenis ini untuk berbunga secara alami. Sebagai sumber karbohidrat, kalori, dan protein, pengembangan komoditas kubis ini memiliki prospek yang sangat besar. Kebutuhan kubis cenderung mengalami peningkatan dari waktu ke waktu seiring dengan pertambahan penduduk yang berbanding lurus dengan permintaan pasar dan seiring dengan kesadaran masyarakat akan gizi bagi kesehatan. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka perlu diadakan upaya pembinaan oleh pemerintah atau swasta yang bersangkutan kepada petani secara intensif sehingga seluruh sentra produksi dapat meningkatkan produktivitasnya. Pengembangan komoditas hortikultura tidak bisa hanya dengan mengandalkan sisi produksinya saja, namun juga terpadu harus dapat mengembangkan subsistem penganganan pasca panen, pengolahan hasil dan pemasaran serta subsistem pendukung seperti halnya infrastruktur, perbenihan, distribusi, pemodalan, dan lain-lain. Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam pengembangan komoditas hortikultura adalah melalui penumbuhan dan pengembangan sentra-sentra produksi komoditas melalui perluasan areal tanam dengan memanfaatkan sumberdaya alam secara arif dan bijaksana; penyediaan dan penerapan teknologi produksi, pemilihan dan penggunaan agro input yang seminimal mungkin dan ramah lingkungan sehingga dapat menghasilkan hasil yang maksimal. Untuk pengembangan

sentra serta penanganan pasca panen, ada baiknya Indonesia melirik dan mencontoh negara lain yang teknologi penanganan pasca panennya sudah maju. Contohnya adalah negara Korea Selatan. Dalam hal penanganan pasca panen, Korea Selatan sudah melakukannya dalam skala industri. Produk produk hasil pertanian diolah sedemikian rupa serta dikemas kedap udara agar lebih awet ketika dipasarkan. Tantangan selanjutnya adalah persaingan dengan negara-negara lain seperti Thailand, China, bahkan Israel yang dapat menyulap gurun pasir sebagai penghasil apel, anggur, jeruk, dan sebagainya. Maka dari itu, kesadaran akan prospek komoditas hortikultura yang sangat cemerlang ini harus didukung oleh kesadaran dan preferensi semua lapisan masyarakat yang bersangkutan mengenai pengembangan komoditas hortikultura ini dari mulai petani sendiri, sampai dengan ke pemerintah.