Anda di halaman 1dari 24

EKSPLORASI MIGAS DAN PANAS BUMI

Menentukan Sebaran Panas Bumi dalam Kaitan dengan Kontrol Struktur MAKALAH

DISUSUN OLEH : M.Aji Fardani Abdul Latif Tirsa Awuy Angga Cahya Putra Eka Almas Yuslim Kundari

JURUSAN S1 TEKNIK PERMINYAKAN SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MINYAK DAN GAS BUMI BALIKPAPAN 2012

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Secara singkat geothermal didefinisikan sebagai panas yang berasal dari dalam bumi. Sedangkan energi panas bumi adalah energi yang ditimbulkan oleh panas tersebut. Panas bumi menghasilkan energi yang bersih (dari polusi) dan berkesinambungan atau dapat diperbarui. Sumberdaya energi panas bumi dapat ditemukan pada air dan batuan panas di dekat permukaan bumi sampai beberapa kilometer di bawah permukaan. Bahkan jauh lebih dalam lagi sampai pada sumber panas yang ekstrim dari batuan yang mencair atau magma. Untuk menangkap panas bumi tersebut harus dilakukan pemboran sumur seperti yang dilakukan pada sumur produksi minyakbumi. Sumur tersebut menangkap air tanah yang terpanaskan, kemudian uap dan air panas dipisahkan. Uap air panas dibersihkan dan dialirkan untuk memutar turbin. Air panas yang telah dipisahkan dimasukkan kembali ke dalam reservoir melalui sumur injeksi yang dapat membantu untuk menimbulkan lagi sumber uap. Saat ini panas bumi (geothermal) mulai menjadi perhatian dunia karena energi yang dihasilkan dapat dikonversi menjadi energi listrik, selain bebas polusi. Beberapa pembangkit listrik bertenaga panas bumi telah terpasang di mancanegara seperti di Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Italia, Swedia, Swiss, Jerman, Selandia Baru, Australia, dan Jepang. Amerika saat ini bahkan sedang sibuk dengan riset besar mereka di bidang geothermal dengan nama Enhanced Geothermal Systems (EGS). EGS diprakarsai oleh US Department of Energy (DOE) dan bekerja sama dengan beberapa universitas seperti MIT, Southern Methodist University, dan University of Utah. Proyek ini merupakan program jangka panjang dimana pada 2050 geothermal merupakan sumber utama tenaga listrik Amerika Serikat. Program EGS bertujuan untuk meningkatkan sumber daya geothermal, menciptakan teknologi terbaik dan ekonomis, memperpanjang life time sumur-sumur produksi, ekspansi sumber daya, menekan harga listrik geothermal menjadi seekonomis mungkin, dan keunggulan lingkungan hidup. Program EGS telah mulai aktif sejak Desember 2005 yang lalu.

Panas yang ada di dalam bumi ini berperan besar pada dinamika bumi atau proses yang terjadi di planet bumi ini. Panas dapat berpindah secara konduksi, konveksi dan radiasi. Perpindahan panas secara konduksi disebabkan interaksi atomik atau molekul penyusun bahan tersebut dalam mantel. Perpindahan panas secara konveksi diikuti dengan perpindahan massa. Kedua proses inilah yang sangat dominan di dalam bumi. Pada kedalaman 100-300 km di bawah permukaan bumi, suhu pada mantel bumi dapat melelehkan batuan dan membentuk magma yang cair atau cair sebagian. Magma yang terkumpul dalam dapur magma dapat naik sebagian melalui zona lemah. Penyebaran gunung api di dunia 95% terletak di batas lempeng. Indonesia yang kaya akan wilayah gunung berapi, memiliki potensi panas bumi yang besar. Sekitar 54% potensi panas bumi di dunia berada di wilayah indonesia. 1.2. Tujuan Apliaksi geologi esplorasi pada lapangan panasbumi, penekanannya pada membantu mengidentifikasi sumber struktur / sistem geologi serta geotermal. Pendekatan tersebut dapat dituangkan dalam bentuk peta geologi panasbumi. Dengan memahami metoda pemetaan tersebut, peserta didik diharapkan dapat membantu para ahli dalam menentukan kemungkinan daerah potensial panasbumi.

BAB II
DAERAH PANAS BUMI
Energi panasbumi - geothermal energy - dapat ditemui dibanyak tempat dimuka bumi ini. Namun daerah panasbumi yang memiliki temperatur tinggi sehingga dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tidak tersedia dibanyak tempat. Untuk mengetahui lebih jauh tentang daerah daerah panasbumi yang memiliki temperatur tinggi, kita akan mengacu pada teori tektonik lempeng. Teori ini menjelaskan tentang pergerakan lempeng bumi (crust) yang sudah dipercaya kebenarannya oleh para ilmuwan kebumian.

2.1 Teori tektonik lempeng


Hipotesa sains tentang adanya pergerakan lempeng bumi dicetuskan oleh ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener pada tahun 1915. Namun tiga abad sebelumnya, yaitu pada akhir abad ke-15, seorang cartographer berkebangsaan Belanda, Abraham Ortelius pernah membuat gambar kartun yang memperlihatkan kecocokan antara tepi-tepi daratan Amerika Utara dan Amerika Selatan dengan Eropa dan Afrika. Ia beranggapan bahwa daratan-daratan itu menjadi terpisah karena gempa bumi dan banjir. Tapi patut disayangkan, saya belum menemukan gambar kartun-nya Abraham Ortelius. Sementara Gambar 1.1 memperlihatkan penyatuan daratan dunia karya cartographer lainnya yaitu Antonio Snider Pelligrini yang dibuat pada tahun 1858. Wegener menyebut ide hipotesanya dengan sebutan continental drift (pergerakan benua). Ia beranggapan bahwa 200 juta tahun yang lalu seluruh benua di bumi ini pernah bersatu dalam sebuah daratan supercontinent yang sangat besar sekali yang disebut Pangea1. Kata Pangaea berasal dari bahasa yunani yang artinya satu bumi2. Pangaea mulai terpecah sejak 200 juta tahun yang lalu dan terus bergerak perlahan-lahan sampai dengan hari ini, sebagaimana yang diperlihatkan pada Gambar 2.2. Untuk mendukung hipotesa tersebut, Wegener berusaha mengumpulkan contoh-contoh batuan dan fosil dari benua yang telah terpisah-pisah itu kemudian mencocokkannya.

Gambar 2.1: Kartun perubahan bentuk muka bumi. Kiri: sebelum berpisah. Kanan: setelah berpisah

Gambar 2.2: Continental drift, sebuah hipotesa tentang bagaimana perubahan bentuk benua sejak 200 juta tahun yang lalu, dicetuskan oleh Wegener pada tahun 1912

2.1.1. Bukti dari formasi batuan

Wegener berargumen bahwa sebelum Pangaea terpecah pastilah terdapat struktur batuan yang menyatu seperti misalnya gugusan pegunungan. Setelah Pangaea terpecah menjadi beberapa benua, struktur batuan tersebut juga ikut terpecah. Namun tentu saja struktur batuan yang terbawa oleh satu benua akan tetap sama dengan struktur benua yang dibawa oleh benua yang lain. Dia meneliti struktur batuan di Gunung Appalachian, USA, yang ternyata mirip dengan struktur batuan di Greenland dan Eropa. Yang menarik, usia batuan dari dua benua yang terpisah tersebut sama-sama berumur lebih dari 200 juta tahun yang lalu. Fakta ini mendukung hipotesa Wegener bahwa dulunya memang seluruh benua pernah bersatu dalam superbenua, Pangaea. 2.1.2. Bukti dari fosil Wegerner juga mengumpulkan bukti keberadaan Pangaea dari fosilfosil hewan dan tumbuhan yang hidup benua yang telah terpisah. Apa hasilnya? Ia menemukan fosil hewan Cynognathus dan di Afrika dan di Amerika selatan. Padahal hewan-hewan tidak punya kemampuan untuk berenang mengarungi samudra Atlantik yang begitu luas yang memisahkan benua Afrika dan benua Amerika. Selain Cynognathus, Wegener juga mendapat dukungan dari penemuan fosil Lystrosaurus di India (Asia) dan Afrika timur. Binatang ini juga tidak punya kehebatan berenang melintasi samudra Hindia. Demikian juga fosil reptil air tawar yaitu Mesosaurus yang ditemukan di Afrika selatan, Amerika selatan dan Antartika utara. Mungkinkah reptil air tawar mampu bermigrasi menyebrangi lautan yang asin airnya? Itulah dua kepingan bukti saintifik yang mengarah pada kesimpulan memang dulunya seluruh benua ini pernah bersatu dalam Pangaea, sebagaimana hipotesa Wegener. Kita harus akui kalau dia orang hebat, lantaran mampu mengumpulkan bukti-bukti yang meyakinkan. Selain dua bukti itu, masih ada satu bukti lagi yang disodorkan Wegener. Bukti apa lagi ya?

2.1.3. Bukti dari iklim cuaca Latar belakang Wegener adalah meteorologist atau ahli iklim dan cuaca. Dia telah mempelajari kondisi iklim cuaca zaman purba dan hubungannya dengan tumbuhan yang bisa hidup pada iklim tersebut. Adalah Glossopteris, sebuah fosil tumbuhan yang tersebar luas di muka bumi ini. Ia ditemukan di Amerika selatan, Afrika selatan, Antartika dan India. Wegener yakin bahwa Glossopteris hanya mungkin tumbuh di daerah equator atau khatulistiwa. Artinya Wegener mau bilang kepada kita bahwa dulunya itu tanaman Glossopteris berada di satu benua yang sama yang terletak di kawasan khatulistiwa. Jadi tanaman ini tidak mungkin bisa tumbuh di Antartika, nah kalau sekarang fosil tanaman ini begitu melimpah ditemukan di Antartika (Gambar 2.3), maka dulunya posisi benua Antartika kemungkinan besar pernah berada di kawasan khatulistiwa.

Gambar 2.3: Peta sebaran struktur batuan dan fosil dan berbagai benua yang mendukung hipotesa Wegener 1.3. Magma Tahukah anda, mengapa ada letusan gunung api yang meledak begitu dahsyat, dan mengapa ada letusan gunung api yang berlangsung tenang dan kalem? Itu tergantung dari komposisi magma yang terkandung di perut gunung

tersebut. Untuk memahami perbedaan sifat letusan gunung api, anda harus mengerti bagaimana batuan itu meleleh dan akhirnya membentuk magma. Magma adalah lelehan massa batuan yang bercampur dengan gas terlarut bertemperatur sangat tinggi. Di dalam laboratorium, kebanyakan batuan harus dipanaskan hingga mencapai suhu antara 800C sampai 1200C agar bisa meleleh. Padahal kalau di alam, temperatur setinggi itu hanya terdapat di perbatasan antara mantel bumi bagian luar (upper mantle) dan kerak bumi (crust). Semakin masuk kedalam bumi, tekanan akan semakin meningkat. Dalam skala laboratorium telah dibuktikan bahwa ketika tekanan semakin meningkat, maka titik leleh masa batuan juga semakin meningkat. Jadi batuan yang bisa meleleh pada suhu 1100C di laboratorium atau permukaan bumi, maka ia baru akan meleleh pada suhu 1400C ketika berada dikedalaman 100 km. Sampai disini ada 2 faktor yang mempengaruhi proses terbentuknya magma, yaitu temperature dan tekanan. Tetapi kedua faktor itu bukan faktor penentu apakah gunung api akan meletus secara tenang dan kalem atau akan meledak dahsyat. Yang menjadi faktor penentu adalah pertama, jumlah kandungan gas terlarut didalam magma, dan kedua, jumlah kandungan silica didalam magma. Jenis gas yang biasanya terlarut didalam magma adalah vapor3 (H2O), karbon dioksida (CO2), sulfur dioksida (SO2)dan hidrogen sulfida (H2S). Vapor (H2O) merupakan jenis gas terlarut yang paling banyak dikandung oleh magma. Kehadiran vapor (H2O) akan menurunkan titik leleh material penyusun mantel bumi, sehingga material mantel bumi lebih cepat dan lebih mudah meleleh menjadi magma. Lalu bagaimana pengaruh jumlah kandungan silika didalam magma? Jumlah kandungan silika didalam magma akan menentukan viskositas magma. Viskositas adalah sifat fisis fluida yang menjelaskan kemampuan fluida untuk mengalir. Fluida dengan viskositas tinggi lebih sulit mengalir dibandingkan dengan fluida ber-viskositas rendah. Kandungan silika yang tinggi didalam magma mengakibatkan magma memiliki viskositas yang tinggi pula. Akibatnya ia sulit mengalir dan cenderung menumpuk semakin tebal. Karena sulit mengalir, maka ia mampu menangkap banyak gas sehingga menyebabkan letusan dahsyat. Sementara kandungan silica yang rendah membuat magma lebih mudah mengalir, tidak sempat menangkap gas, sehingga letusannya akan berlangsung kalem dan tidak akan meledak dahsyat. Berdasarkan kandungan

silikanya, magma diklasifikasikan kedalam 3 jenis, yaitu magma basalt, magma andesit, dan magma rhyolit (Tabel 1.1) Tabel 1.1: Jenis-jenis magma berdasarkan kandungan senyawa silika Jenis
Basalt Andesi t Rhyolit

Senyawa Silikat
42-52% 52-66% > 66%

Contoh Lokasi
Kepulauan Hawaii Pegunungan Andes dan gunung api di Indonesia Taman nasional Yellowstone dan gunung api di Indonesia

Densitas magma lebih kecil dibanding batuan yang melingkupinya. Oleh karena itu magma cenderung bergerak ke atas menerobos celah-celah batuan yang memungkinkan untuk dilewati. Peristiwa dimana magma menerobos celahcelah batuan disebut intrusi magma. Seiring dengan pergerakan magma ke atas, tekanan yang dirasakan magma akan semakin berkurang. Hingga sampai pada batas tertentu, tekanan tersebut tidak sanggup lagi mengikat gas-gas yang semula terlarut didalam magma. Akibatnya gelembung-gelembung gas segera terbentuk di magma; dan dia akan bergerak lebih cepat ke atas sampai akhirnya ia terbebas dari lelehan magma4. Fenomena ini dapat menjelaskan mengapa ada perbedaan komposisi kimia antara magma dan lava. Lava adalah magma yang dimuntahkan gunung api dan mengalir di lereng gunung. Tentunya, kandungan gas pada lava sudah jauh berkurang dibandingkan ketika ia masih berada di dalam bumi sebagai magma.

Gambar 1.4: Mekanisme pembentukan magma dan jenis letusan yang diakibatkannya.

BAB III
MODEL GEOLOGI DAERAH PANAS BUMI

Energi panasbumi adalah energi panas alami dari dalam bumi yang ditransfer ke permukaan bumi secara konduksi dan konveksi. Secara umum perubahan kenaikan temperatur terhadap kedalaman di kerak bumi adalah sekitar 30C/km. Jika diasumsikan temperatur rata-rata permukaan bumi adalah 15C, maka di kedalaman 3 km, temperaturnya akan mencapai 105C.Akan tetapi temperatur tersebut kurang menguntungkan dari sisi ekonomis untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi panasbumi. Dari pandangan ini, maka menjadi jelas bahwa sumber energi panasbumi yang potensial dan bernilai ekonomis tentunya hanya berada di lokasi tertentu dengan kondisi geologi yang khas. Bagaimana cara mencari daerah yang potensial? Pengamatan yang mudah adalah dengan mencari keberadaan manifestasi panasbumi. Jika di suatu lokasi ditemukan fumarole dan mata air panas, maka sudah pasti dibawahnya ada sumber panasbumi yang membuat temperatur air tanah meningkat dan membuatnya keluar ke permukaan tanah sebagai mata air panas. Dari sudut pandang geologi, sumber energi panasbumi berasal dari magma yang berada didalam bumi. Ia berperan seperti kompor yang menyala. Magma tersebut menghantarkan panas secara konduktif pada batuan disekitarnya. Panas tersebut juga mengakibatkan aliran konveksi fluida hydrothermal1 di dalam pori-pori batuan. Kemudian fluida hydrothermal ini akan bergerak ke atas namun tidak sampai ke permukaan karena tertahan oleh lapisan batuan yang bersifat impermeabel. Lokasi tempat terakumulasinya fluida hydrothermal disebut reservoir, atau lebih tepatnya reservoir panasbumi. Dengan adanya lapisan impermeabel tersebut, maka hydrothermal yang terdapat pada reservoir panasbumi terpisah dengan groundwater4 yang berada lebih dangkal. Berdasarkan itu semua maka secara umum sistem panasbumi terdiri atas tiga elemen: (1) batuan reservoir, (2) fluida reservoir, yang berperan menghantarkan

panas ke permukaan tanah, (3) batuan panas (heat rock) atau magma sebagai sumber panas (Goff and Cathy, 2000). Bab ini akan membahas model geologi yang terdapat pada sistem panasbumi. 3.1. Model Geologi Sistem Panas Bumi Kondisi geologi sumber-sumber energi panasbumi yang telah ditemukan di dunia saat ini amat beragam. Namun menurut Marini (2001), secara garis besar bisa dikelompokan kedalam dua model geologi daerah panasbumi, yaitu: sistem magmatik volkanik aktif sistem selain magmatik volkanik aktif5 Daerah panahbumi bertemperatur tinggi (lebih dari 180 C) yang bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, sebagian besar terdapat pada sistem magmatik volkanik aktif. Sementara, pemanfaatan energi panasbumi untuk pemanfaatan-langsung (direct use) bisa diperoleh dari kedua sistem tersebut.

Gambar 3.1: Peta sebaran daerah volkanik aktif di Indonesia dan zona tumbukan lempeng benua Eurasia dan Indo-Australia (Hochstein and Sudarman, 2008) Sistem magmatik volkanik aktif yang bertemperatur tinggi umumnya terdapat di sekitar pertemuan antara lempeng samudra dan lempeng benua.

Posisi Indonesia tepat berada di batas antara lempeng Eurasia dan IndoAustralia6. Oleh karena itu, menurut catatan Volcanical Survey of Indonesia (VSI) yang dirilis tahun 1998, di Indonesia terdapat 245 daerah prospek panasbumi (Gambar 3.1).

Gambar 3.2: Penampang vertikal sistem magmatik-volkanik aktif, DiPippo(2007) Gambar 2.2 memperlihatkan penampang vertikal model geologi daerah magmatik volkanik aktif. Akibat tumbukan antara lempeng samudra (oceanic crust) dan lempeng benua (continental crust), lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng benua. Temperatur tinggi di kerak bumi menyebabkan lempeng samudra meleleh. Lokasi lelehan (zone of partial melting) tersebut diperkirakan berada pada kedalaman 100 km dari permukaan bumi diantara kerak bumi dan bagian luar mantel bumi. Densitas lelehan biasanya lebih rendah dari sumber asalnya sehingga lelehan tersebut cenderung bergerak naik ke atas menjadi magma. Hampir tidak pernah ditemukan magma yang berbentuk cair (liquid) murni. Semua magma merupakan lelehan batuan panas dengan campuran yang begitu kompleks antara silikat cair dan kristal mineral ditambah gas, karbon dioksida serta senyawa beracun lainnya. Proses kristalisasi bisa jadi terbentuk dari komposisi liquid-nya atau bisa juga berasal dari mineral batuan yang terbawa oleh pergerakan lelehan magma saat naik ke permukaan. Ketika magma mendekati permukaan bumi, ia menyebabkan letusan volkanik. Magma yang

sudah dimuntahkan ke permukaan bumi disebut lava. Wujud lava masih berupa lelehan batuan panas yang akhirnya menjadi dingin secara perlahan dan membentuk batuan beku volkanik dipermukaan tanah. Alternatif lainnya, magma terperangkap di dalam bumi dan perlahan menjadi dingin membentuk batuan beku yang seiring berjalannya waktu akan tersingkap oleh erosi. Oleh karena itu, komposisi magma dapat ditentukan oleh komposisi batuan beku. Akan tetapi karena proses volkanik melibatkan unsurunsur gas yang terkandung di magma mengakibatkan komposisi batuan beku tidak selalu sama dengan komposisi magma aslinya.

Gambar 3.3: Penampang vertikal sistem hidrotermal-volkanik di daerah zona aktif gunung api andesit. Marini(2001) 2.3. Fluida panasbumi

Asal-usul fluida hydrothermal pada sistem volkanik aktif diperlihatkan oleh Gambar 3.3. Kandungan H2O yang tinggi pada batas antara lempeng benua dan lempeng samudera di sekitar zona penunjaman yang bertemperatur sangat tinggi memicu terjadinya fenomena partial melting yang merupakan cikal-bakal fluida panasbumi. Sementara, lapisan sedimen terdehidrasi, yang ikut terbawa ke dalam zona penunjaman, juga ikut meleleh sehingga memperkaya kandungan komponen fluida panasbumi tersebut. Fluida panasbumi kemudian bergerak ke atas menerobos kerak bumi sambil terus bereaksi dengan batuan yang dilewatinya sehingga makin menambah kandungan komponen di dalamnya. Fluida panasbumi yang paling dekat dengan magma, biasanya mengandung uap air, CO2, SO2, H2S dan HCl. Variasi konsentrasi masing masing kandungan itu tergantung pada perbedaan magmatic volatile dan tingkat degassing magma. Penyerapan gas-gas tersebut ke dalam sirkulasi air tanah bagian dalam mendorong terbentuknya fluida panasbumi yang bersifat asam dan sangat reaktif. Tingkat ke-asam-an fluida panasbumi berangsur-angsur berkurang ke arah netral seiring interaksi dirinya dengan permukaan batuan dimana kationkation ikut terbawa oleh aliran fluida panasbumi. Ketika fluida panasbumi terus bergerak ke atas, tekanannya makin berkurang hingga mencapai kondisi boiling, yaitu kondisi dimana fluida panasbumi mendidih mengeluarkan gelembung gasgas. Zona tempat terjadinya fenomena boiling disebut boiling zone. Disinilah terjadi pemisahan antara fase liquid dan fase gas pada fluida panasbumi. Fluida fase gas akan lebih mudah menerobos menuju ke permukaan bumi menjadi fumaroles10 di sekitar puncak dan lereng gunung api. Namun fase gas yang tidak bisa menerobos ke permukaan akan bercampur dengan air tanah membentuk steam-heated acid-sulfate water. Sisa fluida panasbumi yang masih berada di posisi dalam akan mengalir secara lateral dimana ia akan bercampur dengan air meteorik sampai mencapai pH netral dan keluar permukaan sebagai mata air yang kaya unsur chloride-nya. Pada awal abad ke-19, telah diperoleh kesimpulan bahwa kandungan gas di dalam magma sangat berperan untuk mendorong magma naik ke permukaan dan menyebabkan letusan yang dahsyat. Bermacam-macam gas bisa melarut kedalam lelehan magma sebagaimana karbon dioksida bisa melarut di dalam air soda. semua gas yang terperangkap di dalam magma diistilahkan sebagai

volatile components atau magmatic volatiles karena semua gas itu cenderung membentuk gelembung-gelembung gas pada tekanan yang relatif rendah.

Gambar 2.4: Model konseptual panasbumi sistem batuan beku muda yang terdapat di andesitic stratovolcano. Reservoir panasbumi bertemperatur 200 Cdengan kedalaman 1,5 km, sementara kedalaman batuan intrusi (intrusive rocks)berkisar antara 2 - 10 km. Dimensi lateral dari reservoir hingga outflow dapat melebihi 20 km

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1. Geothermal Geothermal didefinisikan sebagai panas yang berasal dari dalam bumi. Sedangkan energi panas bumi adalah energi yang ditimbulkan oleh panas tersebut. Panas bumi menghasilkan energi yang bersih (dari polusi) dan berkesinambungan atau dapat diperbarui. Sumberdaya energi panas bumi dapat ditemukan pada air dan batuan panas di dekat permukaan bumi sampai beberapa kilometer di bawah permukaan. Bahkan jauh lebih dalam lagi sampai pada sumber panas yang ekstrim dari batuan yang mencair atau magma. Untuk menangkap panas bumi tersebut harus dilakukan pemboran sumur seperti yang dilakukan pada sumur produksi minyakbumi. Sumur tersebut menangkap air tanah yang terpanaskan, kemudian uap dan air panas dipisahkan. Uap air panas dibersihkan dan dialirkan untuk memutar turbin. Air panas yang telah dipisahkan dimasukkan kembali ke dalam reservoir melalui sumur injeksi yang dapat membantu untuk menimbulkan lagi sumber uap. . Dewasa ini, Geothermal dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan. Salah satu pemanfaatan energi geotermal adalah sebagai sumber energi untuk pembangkit tenaga listrik. Jika dibandingkan dengan pembangkit listrik bahan bakar minyak konvensional, pembangkit listrik tenaga geotermal memberikan dampak negatif yang minimum terhadap lingkungan. Jenis sumber energi ini hanya menghasilkan 5% dari total gas rumah kaca yang dihasilkan oleh pembangkit listrik bahan bakar minyak. Selain itu pembangkit listrik geotermal memiliki urutan pengolahan yang lebih ringkas yang berada di dalam sistem yang tertutup, sehingga lebih sedikit menghasilkan polutan dan limbah kimiawi yang berbahaya. Geotermal dihasilkan dari proses peluruhan unsur-unsur radioaktif yang terdapat di Inti bumi. Suhu pada bagian inti bumi dapat melebihi suhu

permukaan matahari sehingga dapat menjadi sumber energi yang sangat besar. Geotermal sebagai salah satu jenis energi panas dapat berpindah melalui proses konduksi, konveksi maupun radiasi. Di dalam bumi, semakin rendah konduktivitas suatu materi, maka materi tersebut akan cendrung menyerap energi panas yang ada, sehingga jika suhu telah melewati titik lebur, maka materi tersebut akan mengalami peluruhuan akibat panas. Hal ini terjadi pada bagian inti luar hingga mantel bumi bagian bawah. Mulai dari mantel bumi bagian atas hingga litosfer, energi panas yang berasal dari inti bumi tersebut mulai berkurang karena adanya proses pelepasan energi berupa aktivitas gunung api dan perpindahan panas dengan cara konduksi. Pada prinsipnya, energi geotermal yang dapat dimanfaatkan berasal dari kedua proses tersebut. Geothermal dapat diklafikasikan atas : hydrothermal energy, geopressured energy dan magma energy, yang terbentuk dari hasil konsentrasi panas yang dimiliki bumi di bawah permukaan oleh beberapa proses geologi, keterdapatannya hanya pada bagian-bagian tertentu dunia. Earth energy adalah energi panas yang terbentuk dikedalaman yang relatif dangkal pada landaian temperatur normal.

4.2. Kaitan Penyebaran Panas Bumi dengan Struktur Bumi


Secara garis besar bumi ini terdiri dari tiga lapisan utama (Gambar 4.1), yaitu kulit bumi (crust), selubung bumi (mantle) dan inti bumi (core). Kulit bumi adalah bagian terluar dari bumi. Ketebalan dari kulit bumi bervariasi, tetapi umumnya kulit bumi di bawah suatu daratan (continent) lebih tebal dari yang terdapat di bawah suatu lautan. Di bawah suatu daratan ketebalan kulit bumi umumnya sekitar 35 kilometer sedangkan di bawah lautan hanya sekitar 5 kilometer. Batuan yang terdapat pada lapisan ini adalah batuan keras yang mempunyai density sekitar 2.7 - 3 gr/cm3.

Gambar 4.1. Susunan Lapisan Bumi Di bawah kulit bumi terdapat suatu lapisan tebal yang disebut selubung bumi (mantel) yang diperkirakan mempunyai ketebalan sekitar 2900 km. Bagian teratas dari selubung bumi juga merupakan batuan keras. Bagian terdalam dari bumi adalah inti bumi (core) yang mempunyai ketebalan sekitar 3450 kilometer. Lapisan ini mempunyai temperatur dan tekanan yang sangat tinggi sehingga lapisan ini berupa lelehan yang sangat panas yang diperkirakan mempunyai density sekitar 10.2 - 11.5 gr/cm3. Diperkirakan temperatur pada pusat bumi dapat mencapai sekitar 60000F. Kulit bumi dan bagian teratas dari selubung bumi kemudian dinamakan litosfir (80 - 200 km). Bagian selubung bumi yang terletak tepat di bawah litosfir merupakan batuan lunak tapi pekat dan jauh lebih panas. Bagian dari selubung bumi ini kemudian dinamakan astenosfer (200 - 300 km). Di bawah lapisan ini, yaitu bagian bawah dari selubung bumi terdiri dari materialmaterial cair, pekat dan panas, dengan density sekitar 3.3 - 5.7 gr/cm3. Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa tipis dan kaku (Gambar 2.2). litosfer sebenarnya bukan merupakan permukaan yang utuh, tetapi terdiri dari sejumlah lempeng-lempeng

Gambar 2.2. Lempengan-lempengan Tektonik Lempeng-lempeng tersebut merupakan bentangan batuan setebal 64 145 km yang mengapung di atas astenosfer. Lempeng-lempeng ini bergerak secara

perlahan-lahan dan menerus. Di beberapa tempat lempeng-lempeng bergerak memisah sementara di beberapa tempat lainnya lempeng-lempeng mendorong dan salah saling satu diantaranya akan menujam di bawah lempeng

lainnya (lihat Gambar 4.3). Karena panas di dalam astenosfere dan panas akibat gesekan, ujung dari lempengan tersebut hancur meleleh dan mempunyai temperatur tinggi (proses magmatisasi).

Gambar 4.3. Gambaran Pergerakan Lempengan-lempengan Tektonik (Wahl, 1977) Adanya material panas pada kedalaman beberapa ribu kilometer di bawah permukaan bumi menyebabkan terjadinya aliran panas dari sumber panas tersebut hingga ke pemukaan. Hal ini menyebabkan tejadinya perubahan temperatur dari bawah hingga ke permukaan, dengan gradien temperatur ratarata sebesar 300C/km. Di perbatasan antara dua lempeng (di daerah penujaman) harga laju aliran panas umumnya lebih besar dari harga rata-rata tersebut. Hal ini menyebabkan gradien temperatur di daerah tersebut menjadi lebih besar dari gradien tempetatur rata-rata, sehingga dapat mencapai 70-800C/km, bahkan di suatu tempat di Lanzarote (Canary Island) besarnya gradien temperatur sangat tinggi sekali hingga besarnya tidak lagi dinyatakan dalam 0C/km tetapi dalam 0C/cm. Pada dasarnya sistem panas bumi terbentuk sebagai hasil perpindahan panas dari suatu konduksi dan sumber panas ke sekelilingnya yang terjadi secara secara konveksi. Perpindahan panas secara konduksi terjadi

melalui batuan, sedangkan perpindahan panas secara konveksi terjadi karena adanya kontak antara air dengan suatu sumber panas. Perpindahan panas secara konveksi pada dasarnya terjadi karena gaya apung (bouyancy). Air karena gaya

gravitasi selalu mempunyai kecenderungan untuk bergerak kebawah, akan tetapi apabila air tersebut kontak dengan suatu sumber panas maka akan terjadi perpindahan panas sehingga temperatur air menjadi lebih tinggi dan air menjadi lebih ringan. Keadaan ini menyebabkan air yang lebih panas bergerak ke atas dan air yang lebih dingin bergerak turun ke bawah, sehingga terjadi sirkulasi air atau arus konveksi.

Gambar 4.4. Perpindahan Panas Di Bawah Permukaan Terjadinya sumber energi panas bumi di Indonesia serta karakteristiknya dijelaskan oleh Budihardi (1998) sebagai berikut. Ada tiga lempengan yang berinteraksi di Indonesia, yaitu lempeng Pasifik, lempeng India-Australia dan lempeng Eurasia. Tumbukan yang terjadi antara ketiga lempeng tektonik tersebut telah memberikan peranan yang sangat penting bagi terbentuknya sumber energi panas bumi di Indonesia. Tumbukan antara lempeng IndiaAustralia di sebelah selatan dan lempeng Eurasia di sebelah utara mengasilkan zona penunjaman (subduksi) di kedalaman 160 - 210 km di bawah Pulau Jawa-Nusatenggara dan di kedalaman sekitar 100 km (Rocks et. al, 1982) di bawah Pulau Sumatera. Hal ini menyebabkan proses magmatisasi di bawah Pulau Sumatera lebih dangkal dibandingkan dengan di bawah Pulau Jawa atau Nusatenggara. Karena perbedaan kedalaman jenis magma yang dihasilkannya berbeda. Pada kedalaman yang lebih besar jenis magma yang dihasilkan akan lebih bersifat basa dan lebih cair dengan kandungan gas magmatik yang lebih tinggi sehingga menghasilkan erupsi gunung api yang lebih kuat yang pada akhirnya akan menghasilkan endapan vulkanik yang lebih

tebal dan terhampar luas. Oleh karena itu, reservoir panas bumi di Pulau Jawa umumnya lebih dalam dan menempati batuan volkanik, sedangkan reservoir panas bumi di Sumatera terdapat di dalam batuan sedimen dan ditemukan pada kedalaman yang lebih dangkal. Lokasi keterdapatan energi geotermal berkaitan erat dengan posisi tektoniknya. Sumber energi geotermal yang ada saat ini pada umumnya berada di batas antar lempeng; di sepanjang busur magmatis; hotspot; rift dan; pematang tengah samudra. Berdasarkan posisi tektonik tersebut dapat ditentukan beberapa tipe sistem geotermal yang terdapat di alam, yaitu sistem Magmatic hydrothermal; sistem Tectonics deep circulation; sistem Geopressured, dan; sistem Magma Tap. Magmatic hydrothermal dan Magma Tap adalah sistem geotermal yang melibatkan sumber panas langsung dari aktivitas gunung api, sedangkan sistem Tectonics deep circulation dan Geopressured lebih berhubungan dengan perpindahan energi dengan cara konduksi. Selain sistem geotermal alami tersebut, juga terdapat sistem geotermal yang direkayasa seperti Hot dry rock (HDR) dan Enhanced Geothermal System (EGS). Kedua tipe ini melibatkan proses rekayasa sifat fisik batuan agar lebih ideal menjadi reservoar geotermal melalui proses pembuatan rekahan secara hidrolik untuk meningkatkan porositas dan permeabilitas batuan. Dari sudut pandang geologi, suatu sistem geotermal, khususnya sistem geotermal yang alami harus memenuhi kriteria tertentu agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan. Kriteria-kriteria tersebut diantaranya adalah: adanya sumber panas; terdapatnya batuan reservoar yang baik dengan permeabilitas tinggi; adanya batuan tudung (caprock) untuk menjaga tekanan; adanya air sebagai medium pembawa energi panas, dan; memiliki mekanisme recharging yang dapat diandalkan.

BAB V
KESIMPULAN

Geothermal didefinisikan sebagai panas yang berasal dari dalam bumi. Sedangkan energi panas bumi adalah energi yang ditimbulkan oleh panas tersebut. Panas bumi menghasilkan energi yang bersih (dari polusi) dan berkesinambungan atau dapat diperbarui. Sumberdaya energi panas bumi dapat ditemukan pada air dan batuan panas di dekat permukaan bumi sampai beberapa kilometer di bawah permukaan. Bahkan jauh lebih dalam lagi sampai pada sumber panas yang ekstrim dari batuan yang mencair atau magma. Untuk menangkap panas bumi tersebut harus dilakukan pemboran sumur seperti yang dilakukan pada sumur produksi minyakbumi. Sumur tersebut menangkap air tanah yang terpanaskan, kemudian uap dan air panas dipisahkan. Uap air panas dibersihkan dan dialirkan untuk memutar turbin. Air panas yang telah dipisahkan dimasukkan kembali ke dalam reservoir melalui sumur injeksi yang dapat membantu untuk menimbulkan lagi sumber uap. Adanya material panas pada kedalaman beberapa ribu kilometer di bawah permukaan bumi menyebabkan terjadinya aliran panas dari sumber panas tersebut hingga ke pemukaan. Hal ini menyebabkan tejadinya perubahan temperatur dari bawah hingga ke permukaan, dengan gradien temperatur ratarata sebesar 300C/km. Di perbatasan antara dua lempeng (di daerah penujaman) harga laju aliran panas umumnya lebih besar dari harga rata-rata tersebut. Hal ini menyebabkan gradien temperatur di daerah tersebut menjadi lebih besar dari gradien tempetatur rata-rata, sehingga dapat mencapai 70-800C/km, bahkan di suatu tempat di Lanzarote (Canary Island) besarnya gradien temperatur sangat tinggi sekali hingga besarnya tidak lagi dinyatakan dalam 0C/km tetapi dalam 0C/cm. Pada dasarnya sistem panas bumi terbentuk sebagai hasil perpindahan panas dari suatu konduksi dan sumber panas ke sekelilingnya yang terjadi secara secara konveksi. Perpindahan panas secara konduksi terjadi

melalui batuan, sedangkan perpindahan panas secara konveksi terjadi karena adanya kontak antara air dengan suatu sumber panas. Perpindahan panas secara konveksi pada dasarnya terjadi karena gaya apung (bouyancy). Air karena gaya gravitasi selalu mempunyai kecenderungan untuk bergerak kebawah, akan tetapi apabila air tersebut kontak dengan suatu sumber panas maka akan terjadi perpindahan panas sehingga temperatur air menjadi lebih tinggi dan air menjadi lebih ringan. Keadaan ini menyebabkan air yang lebih panas bergerak ke atas dan air yang lebih dingin bergerak turun ke bawah, sehingga terjadi sirkulasi air atau arus konveksi. Lokasi keterdapatan energi geotermal berkaitan erat dengan posisi tektoniknya. Sumber energi geotermal yang ada saat ini pada umumnya berada di batas antar lempeng; di sepanjang busur magmatis; hotspot; rift dan; pematang tengah samudra. Berdasarkan posisi tektonik tersebut dapat ditentukan beberapa tipe sistem geotermal yang terdapat di alam, yaitu sistem Magmatic hydrothermal; sistem Tectonics deep circulation; sistem Geopressured, dan; sistem Magma Tap. Magmatic hydrothermal dan Magma Tap adalah sistem geotermal yang melibatkan sumber panas langsung dari aktivitas gunung api, sedangkan sistem Tectonics deep circulation dan Geopressured lebih berhubungan dengan perpindahan energi dengan cara konduksi. Selain sistem geotermal alami tersebut, juga terdapat sistem geotermal yang direkayasa seperti Hot dry rock (HDR) dan Enhanced Geothermal System (EGS). Kedua tipe ini melibatkan proses rekayasa sifat fisik batuan agar lebih ideal menjadi reservoar geotermal melalui proses pembuatan rekahan secara hidrolik untuk meningkatkan porositas dan permeabilitas batuan.

DAFTAR PUSTAKA
http://cs426ah.wordpress.com/2012/04/21/sifat-kemagnetan-dalambatuan/ http://psdg.bgl.esdm.go.id/index.php? option=com_content&view=article&id=922:survei-aliran-panas-daerahpanas-bumi-lainea-kabupaten-konawe-selatan-provinsi-sulawesitenggara&catid=56:artikel-lapangan-psdg&Itemid=611 http://psdg.bgl.esdm.go.id/index.php? option=com_content&view=article&id=432&Itemid=437 http://www.bgl.esdm.go.id/publication/index.php/dir/article_downl oad/410