Anda di halaman 1dari 7

TUGAS PENGANTAR PENELITIAN

PROBLEMATIKA PENGEMBANGAN USAHA FOTOKOPI SEBAGI UPAYA PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT DAN ALTERNATIF PEMECAHANNYA

Nama: Muhammad Kemal Jayadi No : 21 Kelas : X-A

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam problematika dunia saat ini, masalah ekonomi saat ini sudah tidak dapat dipungkiri lagi. Angka pengangguran dari tahun ke tahun dinilai semakin meningkat. Perusahaan besar sudah sangat kesulitan untuk membuka lowongan pekerjaan bagi mereka yang sedang belum memiliki profesi. Untuk mengatasi problem ekonomi masyarakat terutama masyarakat menegah kebawah dan untuk mengatasi pengangguran maka beberapa kalangan masyarakat lebih memilih untuk membuka usaha baru yang lebih menjanjikan dibanding harus mencari pekerjaan. Sebagai salah satu contoh konkret dari pengembangan sektor usaha kecil adalah pada aktivitas masyarakat di beberapa tempat di Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Propinsi DIY dalam membuka usaha fotokopi yang secara langsung dapat meningkatkan pendapatan keluarga pengusaha fotokopi karena jasa fotokopi dinilai lebih menguntungkan karena umumnya jasa perfotokopian sangat diperlukan oleh kalangan pelajar dan mahasiswa.

B. Rumusan Masalah
Permasalahan yang dibahas salam karya ilmiah ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimana aktivitas masyarakat pada usaha fotokopi di Desa Maguwoharjo? 2. Sejauh mana peranan aktivitas usaha fotokopi dalam memberikan kontribusi meningkatkan perekonomian masyarakat? 3. Bagaimana aplikasi ekonomi para pengusaha fotokopi dalam menjalankan usaha fotokopi tersebut? 4. Apa saja permasalahan yang dihadapi oleh para pengusaha fotokopi dan bagaimana pemecahannya?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui aktivitas masyarakat pada usaha fotokopi di Desa Maguwoharjo. 2. Untuk mengetahui peranan aktivitas usaha fotokopi dalam memberikan kontribusi guna peningkatan ekonomi masyarakat. 3. Untuk mengetahui aplikasi ekonomi para pengusaha dalam menjalankan usaha fotokopi. 4. Untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh para pengusaha fotokopi dan dan mencari alternatif pemecahan masalahnya.

D. Manfaat Penelitian
Karya ilmiah ini diharapakn dapat berguna untuk : 1. Memberikan gambaran secara umum tentang aktivitas masyarakat dalam usaha kecil dalam upaya memberikan kontribusi terhadap ekonomi masyarakat. 2. Memberikan gambaran secara umum tentang permasalahan yang sering dihadapi oleh para pengusaha fotokopi. 3. Memberikan sumbangan pemikiran kepada para pengusaha dalam mengatasi permasalahan dan kendala yang dihadapi. 4. Memberikan sumbangan pemikiran kepada masyrakat dalam membuka usaha khususnya dalam usaha fotokopi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Kategori Usaha Kecil atau Industri Kecil
Secara otentik, pengertian usaha kecil diatur dalam Bab I Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil. Yaitu: "kegiatan ekonomi masyarakat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih atau hasil pendapatan tahunan, serta kepemilikan, sebagaimana yang ditentukan dalam Undang-Undang ini". Pengertian disini mencakup usaha kecil informal, yaitu usaha yang belum di daftar, belum dicatat, dan belum berbadan hukum, sebagaimana yang ditentukan oleh instansi yang berwenang. Dalam perkembangannya, terdapat istilah usaha mikro, usaha menengah dan usaha usaha bersar. Dimana, perbedaan dari usaha-usaha tersebut dapat dilihat dari kriteria-kriteria usahanya, jenis usahanya, produk barang dan jasa yang dihasilkan dari usaha tersebut. Perbedaan usaha kecil dengan usaha lainnya, seperti usaha menengah dan usaha kecil, dapat dilihat dari:

1. usaha kecil tidak memiliki sistem pembukuan, yang menyebabkan pengusaha kecil tidak memiliki akses yang cukup menunjang terhadap jasa perbankan. 2. terbatasnya kemampuan pengusaha kecil dalam mengembangkan usahanya, seperti: untuk tujuan ekspor barang-barang hasil produksinya. 3. bahan-bahan baku yang diperoleh untuk kegiatan usahanya, masih relatif sulit dicari oleh pengusaha kecil. Secara umum bentuk usaha kecil adalah usaha kecil yang bersifat perorangan, persekutuan atau yang berbadan hukum dalam bentuk koperasi yang didirikan untuk meningkatkan kesejahteraan para anggota, ketika menghadapi kendala usaha. Dari bentuk usaha kecil tersebut, maka penggolongan usaha kecil di Indonesi adalah sebagai berikut: 1. Usaha Perorangan. merupakan usaha dengan kepemilikan tunggal dari jenis usaha yang dikerjakan, yang bertanggung jawab kepada pihak ketiga/pihak lain. maju mundurnya usahanya tergantung dari kemampuan pengusaha tersebut dalam melayani konsumennya. harta kekayaan milik pribadi dapat dijadikan modal dalam kegiatan usahanya.

2. Usaha Persekutuan. penggolongan usaha kecil yang berbentuk persekutuan merupakan kerja sama dari pihak-pihak yang bertanggung jawab secara pribadi terhadap kerja perusahaan dalam menjalankan bisnis. Secara umum, kriteria pengusaha kecil diatur dalam Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995, yaitu: (a) Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000,- (dua ratus juta), tidak termasuk tanah dan bagunan tempat usaha. (b) Memiliki hasil penjualan tahunan, paling banyak Rp 1 M. (c) Milik Warga Negara Indonesia (WNI). (d) Berdiri sendiri, tidak memiliki anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi. (e) Berbentuk usaha perorangan, badan usaha tidak berbadan hukum atau badan usaha berbadan hukum dalam bentuk koperasi. Dalam ayat (2), berbunyi: "kriteria sebagaimana yang disebutkan dalam huruf (a) dan (b), nilai nominalnya dapat diubah sesuai dengan

perkembangan perekonomian, yang ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah".

B. Posisi Usaha Kecil atau Industri Kecil dalam Struktur Perekonomian Indonesia
Usaha kecil merupakan usaha yang integral dalam dunia usaha nasional yang memiliki kedudukan, potensi, dan peranan yang signifikan dalam mewujudkan tujuan pembangunan nasional pada umumnya dan pembangunan ekonomi pada khususnya. Selain itu, usaha kecil juga merupakan kegiatan usaha dalam memperluas lapangan pekerjaan dan memberikan pelayanan ekonomi yang luas, agar dapat mempercapat proses pemerataan dan pendapatan ekonomi masyarakat. Kedudukan UKM dalam perekonomian Indonesia paling tidak dapat dilihat dari : (a). Kedudukannya sebagai pemain utama dalam kegiatan ekonomi di berbagai sektor; (b). Penyedia lapangan kerja yang terbesar; (c). Pemain penting dalam pengembangan kegiatan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat; (d). Pencipta pasar baru dan inovasi; serta (e).Sumbangan dalam menjaga neraca pembayaran sumbangannya dalam menghasilkan ekspor. melalui

Posisi penting ini sejak dilanda krisis tidak semuanya berhasil dipertahankan sehingga pemulihan ekonomi belum optimal. Meskipun demikian secara keseluruhan tetap saja, bahwa pada tahun 1998 selama puncak krisis pertumbuhan ekonomi yang negatif 13,4% telah mengakibatkan kelesuan perkembangan unit usaha yang ada. Pada saat itu bahkan terjadi pengurangan jumlah unit usaha yang diperkirakan sebanyak 2,95 juta unit lebih (BPS dan KMKUKM, 2001). Hal ini membuktikan betapa sulitnya melakukan suatu switching dalam jangka yang pendek, apabila faktor sumberdaya manusia yang berintikan penguasaan teknologi dan faktor kemampuan manajerial dari tenaga kerja rendah. Selanjutnya perjalanan perekonomian Indonesia selama lima tahun sejak dilanda krisis memang cukup menarik untuk dilihat dalam kerangka

mengidentikifikasi kekuatan UKM karena karakter fleksibilitasnya ternyata tidak cukup menjadi satu-satunya pertimbangan untuk membuat lompatan, ketika faktor lainnya tidak mendukung. Hal ini antara lain karena usaha kecil yang ada harus fleksibel karena mereka terpaksa harus hidup, sehingga ketika dihadapkan pada tantangan baru batas maksimal kemampuannya untuk melakukan penyesuaian segera nampak dan tidak mampu bertahan terus dalam kegiatan yang sama. Kadangkadang harapan yang dibebankan kepada UKM juga terlampau berat, karena kinerjanya semasa krisis yang mengesankan. Disamping pangsa relatif yang membesar yang diikuti oleh tumbuhnya usaha baru juga memberikan harapan baru. Sebagaimana diketahui selama tahun 2000 telah terjadi tambahan usaha baru yang cukup besar dimana diharapkan mereka ini berasal dari sektor modern/besar dan terkena PHK kemudian menerjuni usaha mandiri. Dengan demikian mereka ini disertai kualitas SDM yang lebih baik dan bahkan mempunyai permodalan sendiri, karena sebagian dari mereka ini berasal dari sektor keuangan/perbankan.

BAB III METODE PENELITIAN


A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilaksanakan dengan tujuan memperoleh gambaran secara nyata terhadap fenomena yang ada pada masyarakat yang diteliti, yaitu para pengusaha fotokopi.

B. Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan mengambil lokasi di wilayah yang terdapat banyak usaha fotokopi dibuka yakni di Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Propinsi DIY. Subjek dalam penelitian ini adalah para pengusaha para pengusaha fotokopi di wilayah tersebut. Adapun metode penentuan sampel yang digunakan adalah simple random sampling (acak sederhana).

C. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Metode wawancara (interview), yaitu dengan cara mengadakan wawancara secara langsung kepada para responden dan beberapa informan yang telah ditentukan. Metode dokumentasi, yaitu dilakukan dengan cara mengumpulkan data yang bersumber dari berbagai dokumen. Studi pustaka, yaitu dengan melakukan kajian terhadap berbagai literaturyan1g sesuai dengan penelitian ini.